hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Alex Point of View.

Hadir kedatangan singkat lebih mujarab daripada obat

Hari pertama menghadapi siklus rut bulanan tentu sudah biasa. Tapi siklus bulan ini di tempat yang gue baru terbiasa, sulitnya luar biasa.

Katanya orang kalo lagi rut atau heat tingkat setresnya naik. Maka dari itu yang menghadapi siklus harus pinter-pinter atur waktu biar gak tertekan. Susah mau ngapa-ngapain, anggota tubuh sensitif tapi positifnya emang ada waktu istirahat lebih dari sekedar hari libur. Dan simpang siur orang yang sudah hidup bersama dengan mate-nya, siklus bulanan jadi menyenangkan.

Kalau kita ngomongin pasal sex, siapa yang gak seneng kan ya.

Gue di hari pertama ini bener-bener tersiksa. Satu karena ini bukan kamar gue biasanya. Kamar ini lebih sempit dari yang punya gue di Amerika. Gak ada hal-hal yang bisa diperbuat, gak ada hiburan kayak game atau buku yang bisa dibaca. Intinya berada di kamar ini aja udah bikin tertekan.

Kedua karena gue lagi pusing sampai gue kurang aware sama tanda-tanda mau siklus. These past few month hidup gue berasa lagi ikut balap sepeda bmx di gunung. Naik turun sampai mual sendiri, mana gak nemu garis finish-nya. Ya kerjaan, ya masalah pribadi, ya masalah asmara.

Ketiga karena Henry. Henry gimana ya kabarnya hari ini? Gue jujur belum berani kirim pesan ke cowok itu lagi semenjak berantem kemarin malem. Iya lima puluh persen dari marahnya si omega karena keteledoran gue. Tapi kalo dipikir-pikir Henry ada selfish-nya.

Ketiga faktor tersebut saling berinteraksi membentuk sebuah senjata yang mematikan. Biasanya gue menjalani siklus rut layaknya hidup biasa cuma terbatas ruang. Tapi hari ini gue cuma bisa tiduran di ranjang, belum makan, belum mandi, belum buka laptop buat cek kerjaan. Mana perut mual banget gegara nyium feromon sendiri yang semakin lama semakin pekat.

Ditengah-tengah kesengsaraan gue menghadapi siklus paling menyiksa ini cuma wajah Henry yang mondar-mandir di kepala gue. Gue kangen, gue pengen ketemu terus ngobrol. At least gue sama dia balik in good terms lagi.

Tok Tok

Seriously? Ini harus sekarang ngetok pintu? Pak Lee ini gimana kan udah gue bilang jangan ganggu dan jangan biarin orang lain ganggu. Katharina? Sobat gue satu itu paling tau pas gue lagi rut gak mau diganggu.

Tok Tok

Gue menggeram marah, udah bukan kesel lagi. Karena sumpah ini duduk aja rasanya gak sanggup. Namun gue tetep berdiri sebab gue merasa orang di balik pintu pantang pulang sebelum dibuka.

Waktu gue buka kayak ada yang nyemprot muka gue sambil bilang SURPRISE MOTHERFUCKER. Gue pasang muka bego kebingungan sedangkan cowok yang datang berdiri canggung sambil batuk-batuk.

Shit, Henry!

“You're a mess indeed.” Gumamnya setelah melihat keadaan gue.

Gue senyum kecut, ya gimana ya sayang gue begini juga salah satunya karena lo. Lo doang nih yang bikin gue uring-uringan.

Gue persilahkan dia masuk dan dia kayaknya datang ke sini emang niat buat duduk bentar bukan cuma numpang lewat.

“Alex, kamu mau bunuh kita berdua pakai feromon kamu ya?” Henry masih batuk-batuk kayaknya semakin intens pas pintu gue tutup kembali. Kayaknya omega dia udah mulai gak nyaman. Tapi Henry termasuk kuat kontrolnya, kalo orang lain udah pasti detik pertama pintu dibuka langsung terjadi adegan dewasa.

Alex itu sekarang kayaknya mulai punya titik lemah baru. Selain keluarga dan temen deket gue, Henry masuk tiba-tiba, gak ada yang ngundang tapi berhasil menggeser top prioritas gue.

Henry adalah titik kelemahan gue. Terbukti sekarang gue yang akhirnya duduk di sebelahnya cuma mandangin dia mengeluarkan jurus melas. Henry yang ngelihat aja jadi iba, padahal masalah kemarin pasti buat dia kecewa berat. Iya, kita punya poin masing-masing dan gak ada yang bener juga salah. Kita semua bener cuma butuh saling memahami aja.

Cowok gue menghela napas, sepertinya ya udah pasrah gitu mau marah ya gak tega. Dia usap wajah kucel gue lembut terus jarinya seolah menari di rambut gue yang berantakan. Dia benerin di situ agak lama, pokoknya sampai keliatan wajah gue mendingan bagi orang yang belum mandi.

“Udah makan kamu?” Tanya dia dan jelas gue menggeleng lemah.

“Nafsu makan gak kalau sekarang?” Aduh lucunya.

Masalah lapar ya kalau ditanya pasti lapar tapi Henry peka banget, gue nafsu gak makan dikeadaan kayak gini? Betul, jawabannya tentu nggak.

“Aku bawain kamu makanan. Tapi karena kamu lagi gak enak badannya disimpan aja buat nanti pas udah baik.” Dia menjelaskan panjang lebar. Sekarang kayaknya gue nafsu makan tapi bukan makanan yang dibawa melainkan makan yang bawa. Perhatian banget cowok gue sialan!

Dia tiba-tiba beranjak, gue buru-buru ambil lengannya gue genggam erat-erat. “Mau kemana? Masa langsung pulang? Di sini aja temenin aku!” Pinta gue.

“Aku mau simpen makanan di kulkas dulu biar gak basi.” Katanya.

“Terus pulang setelahnya?” Beneran deh gue kayak cowok desperate banget, kayak nanti kalau Henry keluar dari pintu selanjutnya gue gak bakal liat dia lagi. Yang ditanya senyum geli, heran liat kelakuan gue yang mirip bayi.

“Memang kamu mau aku setelah ini gimana?” Dia balik tanya lebih tepatnya menggoda. Gue gak segan menjawab, “Di sini aja temenin aku. Aku butuh kamu di samping aku. Aku kangen banget sama kamu. Aku pengen kamu temenin aku tidur, kita pelukan di sini sampek capek.” Udah setelah ini keputusannya gue pasrah.

Henry diem, menimang-nimang dalam benaknya keputusan apa yang harus dia ambil. Terus, dia ketik sesuatu di gawainya lalu diletakkan sembarangan di meja tamu sesudahnya.

“Ya udah, sini ayok pelukan sampai capek.”

Satu malam itu kita habiskan waktu cuma rebahan sambil pelukan. Beneran cuma Henry yang pakai lengan gue sebagai bantal dan lengan kita yang lain saling merengkuh di pinggang. Kita cerita, apa aja hingga ceritanya jadi semakin sedih gue bagian yang bercandain. Gak ada nafsu yang ikut ambil andil, yang ada cuma ada gue dan Henry. Biarlah masalah kemarin jadi pembahasan nanti. Yang penting sekarang gue mau menikmati momen hari ini.


`hjkscripts.


Henry Point of View.

Melihat indahnya dunia siapa yang tergoda. Bagi beberapa manusia itu hal yang biasa. Namun tidak bagiku yang merupakan sebuah asa. Walau hanya satu jalan berujung bukan seluruh pemandangan setiap negara.

Inilah aku para pencari bahagia. Keluar dari sesak penjara mencari secerca cahaya. Inilah aku para pencari bahagia. Berjalan dikerumuni manusia dengan keingintahuan dan tawa. Inilah aku para pencari bahagia. Jemari tertaut dengan sang belahan jiwa.

Alex adalah belahan jiwa. Memang kita tidak mendeklarasikan secara kata namun gestur sudah menjelaskan semua.

Satu dua kali bertemu Alex ternyata tak cukup waktu untuk mengenal utuh dirinya. Alex dengan beribu cerita. Alex yang hidupnya banyak berkelana. Alex yang lingkungannya banyak suka cita daripada sengsara.

Mendengarkan ceritanya yang begitu banyak aku terkesima. Bagaimana bisa ada manusia yang satu hari ke lain hari punya berbeda cerita. Bagaimana bisa ada manusia yang satu hari saja bisa berpindah satu lokasi ke lokasi lainnya. Bagaimana bisa ada manusia yang menganggap rumah hanya tempat tidur dan berkumpul sebuah keluarga.

Alex itu pengacara, katanya semua orang Amerika takut sama dia. Alex itu punya julukan anjing gila sebab dia menangani kasusnya dengan tidak biasa. Alex itu sudah biasa dikelilingi manusia. Hampir satu dunia tunduk pada pesonanya. Tetapi kalau boleh sombong Alex itu akulah pemiliknya.

Iya hampir satu dunia, bahkan pangeran sepertiku juga. Meskipun pertemuan pertama kurang sempurna, dia dan sifat menyebalkannya. Tapi Alex punya seribu satu pesona untuk menggoda jika yang lain gugur jua.

Lantas aku jatuh pada banyak pesonanya. Dia dan senyum jahilnya, dia dan mata indah serta lentik bulu matanya, dia dan tutur kata penuh motivasinya, serta dia dan segala kebaikan yang dia punya.

Kita berdua kini tengah berlari menghindari hujan yang tiba-tiba datang menyerang jalanan Arsene. Aku tertawa menikmati sensasi menggelitik ketika butir air kecil-kecil menerpa rupa. Alex menarikku dalam pandu badannya menuju salah satu kafe untuk berlindung.

Kita basah tetapi aku tertawa, berterima kasih pada Alex bahwa ini menyenangkan. Inilah yang paling aku favoritkan dari seribu pesonanya, yaitu gestur tubuhnya. Bagaimana jari-jari panjangnya dengan sabar membantu mengusap sisa air yang masih tertinggal di satu muka. Lalu miliknya berkelana menuju helaian rambut yang telah acak bentuknya, caranya dia menata yang mencuat jadi turun tertata, Terakhir dia akan menyampirkan rambutku di belakang telinga.

Alex aku tau manusia tidak ada yang sempurna. Namun apa yang dia bawa dalam dirinya menjadi pelengkap dalam penyempurna. Dia yang berjanji membawakan suka cita, dia yang berkata semuanya akan baik-baik saja, dia yang menjamin asalkan aku bersamanya aku akan aman sentosa.


`hjkscripts.


Alex Point of View.

Sore-sore gini gue udah berdandan rapi. Membawa bunga bak seorang priyayi. Gue sesekali melihat jam tangan terus senyum kayak orang gila. Sebenernya gue sampai lebih awal, gak mau bikin cowok gue nunggu di proper date pertama kita.

Gemerisik dedaunan di belakang gue menjadi sebuah tanda. Mereka juga ada menjadi saksi bagaimana tidak ada kebebasan di dalam kastil meskipun dia seluas samudra. Buktinya kala papan kayu penutup digeser munculah sosok pemuda. Pemuda yang hidup sesak di sana, melangkah keluar butuh udara.

“Oh for god sake this hole!” Umpat dari bibir manisnya menjadi awal daripada sebuah ucapan sapa.

Gue mengamati dengan diam gerak-gerik Henry. Bagaimana dia membersihkan pakaiannya dari debu, lalu mengeluarkan gawainya untuk berkaca. Gue terkekeh kala dia tak sadar memajukan bibirnya, berdecak kesal ketika rambut yang puluhan jam dia tata jadi berantakan.

Ekhem!

Tubuhnya terperanjat kecil mendengar suara gue. Gue menaikkan tangan, berkontribusi membantu benerin rambutnya.

“Ganteng banget sampe rambutnya ditata begini mau ketemu sama siapa sih?” Gue menggoda.

Henry, cowok ini masukin gawainya lagi dalam saku. Terus dia kasih senyum lucu sampai keliatan gigi putihnya yang rapih. “Pacar.” Jawabnya polos. Ini gimana ya maksudnya? Gue yang niat menggoda malah kalah sebab digoda.

“Emang kita pacaran?” Gue counter balik, menyembunyikannya diri gue yang udah salting parah dibilang pacar sama Henry.

“Oh bukan ya?”

Tolong gue gak tau bakal sanggup jalan seharian sama Henry mode pacar gemes kayak gini. “Belum. Orang pacaran waktu ketemu sama pacarnya wajib ciuman dulu.” Gue senyum jahil, mana korbannya geleng-geleng kepala juga terkekeh. Gue sadar Henry nggak sepolos itu.

Tetapi Henry gak menolak, gak menganggap bahwa pernyataan gue cuma akal-akalan anjing gila yang lagi dimabuk cinta. He tilting his head, coming closer to mine where he put his lips wrapping my lower lips and i wrap his upper side. I grab his nape, deepen our kiss while i crushed his sofly.

Gue merasakannya sensasi intim yang kita bangun semakin kokoh ketika salah satu anggota tubuh kita menyentuh satu sama lain. Rasa dari bibirnya yang gue belum rasakan kembali sejak malam penuh birahi masih sama membuat gue gila.

Henry senyum malu-malu, kelihatan banget dari rona pipinya yang berubah dari pucat menuju merah muda, nampak kontras dengan warna kulitnya.

“I- I brought you flowers too.” Memasuki momentum yang bagus, gue berikan juga bunga sederhana yang gue petik sembarangan entah dari kebun punya siapa.

“Thanks!”

“So.. Your Highness, shall we?”

“Of course.”


Satu hari ini gue belajar banyak tentang Henry. Bukan dari cerita sedihnya melainkan sifat-sifat aslinya. Meskipun gue masih pengen nangis waktu dia cerita gimana menyenangkannya sesuatu yang kita anggap itu biasa. Tetapi Henry bisa hidup sampai sekarang karena berpegangan dengan alasan-alasan sederhana.

Salah satunya adalah Henry seneng banget sama buku, dari kecil dia habisin waktu emang mostly di dalam kamar atau perpustakaan palace buat baca. Katanya buku jadi salah satu faktor dia buat tetep waras hidup. Apalagi sama buku-buku yang masih on going yang dia sendiri belum tau akhir ceritanya dan dia juga gak tau kapan si author rilis versi lanjutannya.

Henry juga suka tanaman, apalagi bunga. Mendiang ibunya dulu cuma anak tukang kebun di desa sebelum dia ngejar mimpinya menuju ibu kota dan ketemu ayahnya di universitas. Meskipun ibunya resmi jadi anggota keluarga kerajaan, kesederhanaan masih melekat pada dirinya dan Henry orang yang paling banyak menuruni sifat ibunya. Selama mendiang Lady Catherine hidup, beliau dan Henry berhasil menanam ratusan bunga. Bunga yang sampai saat ini dia jaga dan Henry berjanji akan terus jaga.

Last but not least, Henry itu punya banyak mimpi yang dia tata sedemikian rupa dalam tembok kamar yang tak seluas bumantara. Salah satu mimpinya adalah melihat dunia luar yang belum pernah dia lihat hingga usianya dipaksa tutup di empat belas. Lucunya, dia yang pemilik negara ini belum pernah berkunjung ke Arsene Market.

Waktu kita sampai di jalanan Arsene, Henry gak berhenti senyum. Kepalanya bergerak kesana kemari seolah gak mau terlewat satu scene pun yang terjadi di tengah khalayak. Inilah kali pertama pangeran yang ada ditiadakan melihat sebagian kecil dunia. Kerumunan massa ini yang membuat dirinya hidup sepertinya sedia kala.

“Alex balon sekarang bentuknya aneh-aneh tapi lucu.”

“Alex ada banyak yang jualan ice cream saya sampai bingung mau beli yang mana.”

“Alex yang ini namanya apa? Kalau yang itu apa?”

“Alex ayo lihat kesana!”

Alex, Alex, dan Alex gue suka mendengarkan nama gue diserukan dari bibirnya dengan suara bahagia. Suara ini bukan miliknya yang penuh takut dan duka.

Henry oh Henry gue bukan dewa melainkan manusia biasa. Gue masih pria yang penuh salah dan dosa. Gue masih Alex si anjing gila bukan si sempurna. Serta gue yang mulai saat ini akan terus berusaha buat lo bahagia.

Henry oh Henry bila nanti ada kalanya gagal. Bila nanti ada satu tetes air mata yang tanggal. Gue harap mohon dimaafkan. Sebab Alex punya lo ini yang masih banyak kekurangan.


`hjkscripts.


Bunga cempaka harum mewangi Baru ditanam oleh pak tani Buat adik yang kakak sayangi Tolong maafkan kakakmu ini

Pintu dibuka nampak sosok wanita. Wanita cantik berbalut gaun tak sempurna. Dia yang tengah berkaca. Mengumbar senyum tanpa langsung bertatap mata.

Beatrice namanya, satu-satunya perempuan tersisa dalam keluarga. Perempuan yang dididik keras karena diasuh pria. Meskipun begitu hatinya masih selembut benang sutra. Dia adalah satu-satunya penyelamat Henry yang hampir kehilangan nyawa.

Jika Henry banyak diam, maka Beatrice yang akan menjadi mulutnya. Jika Henry banyak menerima, maka Beatrice yang memberikan ganjarannya. Jika Henry disalahkan, maka Beatrice yang membela.

Beatrice adalah Henry versi berani dan dewasa.

“Hi” “Hei, hen.”

Henry mendekat, mengamati Beatrice yang tengah berdandan. “You looks amazing” Pujinya.

Beatrice tentu tersipu, siapa yang tidak jika dipuji begitu. Meskipun Henry adalah kakak kandungnya tapi mulut Henry masihlah mulut lelaki.

“Bisa bantu resletingkan gaunku?” Pintanya. Beatrice menyampirkan helai rambutnya yang panjang ke samping bahu.

Biasanya Beatrice akan dibantu beberapa maid untuk menyiapkan diri. Namun hari ini pasti sengaja. Alex benar, sibling problems won't last forever.

Henry membantu Beatrice dengan resleting gaunnya. Menutup punggu menawan itu dengan baik. Henry tidak bohong jika hari ini Beatrice terlihat sempurna.

“Hen?” Beatrice berpaling, berputar seratus delapan puluh derajat sejajar dengan dirinya. Sulit kata yang akan diungkapkan, begitu banyak mungkin sampai dia tak sanggup mengatakan. Berakhir, Beatrice hanya memeluk Henry erat... erat sekali.

Pelukan satu ini bukan gestur biasa. Pelukan satu ini mengandung jutaan makna. Beatrice merindukan Henry dan hangatnya seolah berkata Beatrice amat menyayangi Henry. Beatrice memohon maaf pada Henry dan sesaknya seolah berkata dia menyesal akan apa yang dia perbuat pada Henry.

“Aku minta maaf” Ungkapnya. “Aku minta maaf, i was selfish to you.” Lanjutnya.

“Aku minta maaf, seharusnya aku gak begitu sama kamu. Bukan kamu yang salah, tapi aku yang egois. Aku menginginkan Alex sampai berfikir dia harus menjadi milikku sendiri meskipun dia sebenarnya milik kamu. Aku harusnya bahagia kan? Aku yang selama ini menginginkan kamu setidaknya punya satu kebahagiaan.”

Tak apa, tak apa sayangku Beatrice. Semuanya akan baik-baik saja.

Henry memilih tak menjawab melainkan semakin memeluk adik tersayangnya erat. Apa yang terjadi biarlah terjadi. Sebab hidup hanya bisa mengakui kesalahan bukan berharap mengulang kejadian dan memperbaiki diri untuk masa depan nanti.


`hjkscripts.


Pangeran ini memang lahir tidak sempurna. Pangeran ini memang lahir tak sesuai keinginan dua orang tua. Pangeran ini yang lahir untuk terbelenggu dalam tahta.

Katharina membawa tiga cangkir teh, membaginya perlahan sebab isinya nyarih penuh. Ketiganya berkumpul di kamar Alex, empunya juga sudah menitipkan pesan pada Pak Lee agar jangan ada yang menganggu dulu untuk beberapa waktu ke depan. Dia tak lupa menutup segala akses yang ada.

Dalam bilik sederhana ini mereka akan mendengar sebuah cerita. Bukan hanya dongeng atau mitos belaka, melainkan sebuah fakta.

Henry duduk di tepi kasur bersama Katharina yang sudah dia setujui pula untuk bisa mendengar kisahnya. Sedangkan Alex memilih duduk di lantai, tepat di bawah Henry. Dia tidak ingin melewatkan segala perubahan ekpresi dari emosi yang nantinya terjadi. Alex ingin juga merasakan sendiri, meskipun berat tapi setidaknya Henry tidak sendiri, ada dia yang mengerti.

“Pertama saya berterima kasih sama kamu dan minta maaf karena sudah merepotkan kamu untuk berlari menuju tempat yang saya sendiri gak tau.” Kalimat pertamanya. Alex tersenyum ringan, mengusap lengan Henry menyampaikan tanpa suara bahwa Alex tak masalah soal itu.

“Maaf sekali lagi, tapi saya gak bisa kontrol rasa takut saya. Saya biarkan rasa itu bebas dan itu sampai pada kamu karena kita adalah mate.”

Henry berhenti sejenak mengamati ekpresi dua orang pendengar. Debaran jantungnya kacau tak karuan. Dia sebenarnya tak yakin juga akan mengatakan hal itu, namun kala melihat Alex yang ada di bawah kakinya adalah anggukan yang dia dapatkan.

Lalu Henry menarik napas, semakin berat rasanya bibir saat akan memasuki maksud intinya. Lidahnya kelu, kalimat yang sudah dirinya susun rapih dalam pikiran jatuh berantakan menimbulkan kegugupan.

“Did you ever hear about rumors on street that the second prince named Henry died at his 14th caused by Malaria?”

Sunyi, kesunyian ini membuat Henry semakin takut. Ini adalah kali pertama Henry menceritakan kisah nyatanya pada seseorang dan Henry tau apa resiko yang dia ambil. Seorang pangeran harus mendahulukan kepentingan kerajaan daripada dirinya sendiri. Tetapi Henry melanggarnya.

Henry ingin kuat, Henry ingin mencari dan mengais sisa-sisa alasan untuknya agar tetap hidup. Alex adalah kepingan terakhir. Alex adalah hasil yang dia dapatkan dari keringat dan jari-jari kotor yang hampir habis sebab puluhan tahun terus mengais. Henry ingin menggunakan Alex dan kesempatan terakhir yang dia harapkan akan hadirnya lelaki itu untuk bahagia walaupun sebentar sebelum dia mati.

Sebab Henry ingin mati dan dikenang selamanya dalam hati bukan sekedar menangis sebentar di atas permukaan peti. Henry ingin mati di antar oleh seseorang yang mencintai dan berharap dia yang akan terus datang, setiap tahun mengganti bunganya yang telah mati. Henry ingin mati dan menanti seseorang di surga yang akan datang pada suatu hari nanti.

“Pangeran itu bernama Henry. Your Highness Prince Henry Arthur Hanover-Stuart. Pangeran yang mendapat julukan pangeran dalam hati rakyatnya. Pangeran yang kelahirannya ditunggu dan dirayakan. Pangeran yang hidup selalu diserukan namanya. Namun dalam fakta Pangeran Henry hanyalah pangeran yang terbelenggu dalam tahta.”

“ㅡ dan pangeran itu adalah saya.”

“Saya yang kelahirannya memang didamba. Saya yang masa kecilnya dipuja. Pemimpin kerajaan haruslah seorang alpha laki-laki dan hari itu dunia saya berubah menjadi neraka. Sayaㅡ”

Alex bangkit. Dia peluk dan dekap erat-erat meletakkan kepala Henry bersandar pada bahunya saat Henry semakin kacau bercerita ditengah isak pilunya. Fakta Henry adalah seorang pangeran jadilah cerita nanti yang akan dia pikirkan. Kali ini dia hanya ingin lelaki ini tenang entah ceritanya sudah atau belum selesai. Persetan lengkapnya, Alex sudah cukup mendengarkan. Sebab Alex juga tak mampu, hanya dari cerita dia sudah tak mampu.

“Henry oh Henry! Maafkan aku yang datang terlambat.” Sesalnya.

Alex semakin menyesal. Dia mengakui dan memohon ampun pada Henry sebab ikut berkontribusi menambah deritanya. Lantas Alex berjanji apapun yang terjadi nanti, dia akan membantu Henry. Karena saat ini Alex menyuarakan deklarasi bahwa dirinya berdiri di samping Henry. Menggenggam tangannya erat hingga mati.


`hjkscripts.


Alex Point of View.

Sejak kejadian dini hari gue belum tidur sama sekali. Harus berlari di malam hari untuk menyelamatkan lelaki ini. Dia ini lelaki dengan segudang rahasia. Dia ini lelaki yang sulit bukan main ditebak isi pikirannya.

Gue harus menunggu lebih lama lagi ketika kita berdua sampai di pondok tempat tinggal gue di sini. Gue bisa lihat gimana lelah badan dia pun gue juga demikian. Akhirnya gue memutuskan untuk sabar, seenggaknya dia udah janji buat cerita. Kita udah janji buat ngobrol. Gue pinjemin satu set lengkap baju santai dan pukul setengah tiga pagi kita berbaring di kasur yang sama.

Hanya Henry yang tidur, udah capek banget keliatannya. Bahkan dalam tidurnya dia gak tenang, gue bisa lihat beberapa kali dahinya mengernyit.

Fuck!

Gue gak bisa bohong semakin penasaran apa yang lagi cowok ini bawa dalam bebannya.

Dini hari ini gue kejebak overthinking tentang Henry. Gue berakhir terjaga sambil ngeliatin dia yang tidur. Sesekali juga, gue usap kepalanya waktu ekpresi tenangnya berubah.

Henry oh Henry! Jangan takut kita akan baik-baik aja di sini.

Pagi ini dia bangun dengan dengan wajah yang masih capek tapi lebih segar daripada kemarin. Tunggu! Kita harus sabar sedikit lebih lama lagi. Setelah ini, sebentar lagi gue pasti bakal tau faktanya.

Sekarang Henry ada di ruangan Pak Lee, tentunya sama orang tua itu juga. Gue gak dilarang gabung tapi gue kayaknya paham kalo sesi ini khusus buat mereka berdua. Gue ngawasin aja, gak berniat nguping juga jadi gue berdiri agak jauh dari pintu terbuka.

Dari tempat gue berdiri gue memandangi. Henry kini tengah bercerita, selebihnya Pak Lee jadi pendengar dan pemberi gestur menengkan. Henry terus berbicara dari datar ekpresi hingga berubah seketika. Entah apa ceritanya tapi kali ini dia menunduk, bahunya bergetar, hingga Pak Lee harus peluk dia layaknya sosok anak.

Henry menangis, pilu sekali sampai nusuk ulu hati. Gue gak dengar ceritanya, gue gak denger suara tragisnya. Gue jauh tapi seolah Henry juga melibatkan gue di sana, dia berhasil nyeret gue buat mengaduk-adu perasaan yang gue punya.

Detik ini gue beneran gak mau denial, gue beneran gak mau membuang pemikiran yang menurut gue kurang make sense tentang hubungan gue dan Henry.

Henry itu takdir gue. Gue alpha dan dia omega milik gue. Kita itu mate dan kita secara sengaja gak sengaja udah ngelakuin ritual mating yang menjadi tanda kalau kita sekarang menjadi satu, kalau kita telah menemukan dan menerima kehadiran satu sama lain. Gue dan Henry telah membangun jembatan yaitu koneksi.

Henry sedih gue bisa merasakan, pun sebaliknya.

Henry marah gue bisa merasakan, pun sebaliknya.

Henry bahagia gue bisa merasakan, pun sebaliknya.

Maka hal yang harus gue lakukan agar kita berdua berhenti tersiksa dengan perasaan negatif yang timbul dari salah satu yang mana dalam konteks hari ini adalah Henry. Jalan satu-satunya gue, Alex harus bahagiakan dia dan gue yakin Henry pasti akan mengusahakan hal yang sama.


`hjkscripts.


Melenggang dari satu ke satu tempat hiburan malam, Alex kebingungan. Hampir satu bulan berjalan dia belum pernah mencoba. Ini adalah kali pertama menjadi saksi mata betapa liar kawula muda. Namun tujuan Alex bukan untuk mengisi nafsu dan kekosongan.

Alex mencari Henry, sedikit menyesal karena punya firasat buruk tentang lelaki itu hingga membuatnya susah tidur. Di atas ranjangnya, memandang tinggi langit-langit hanya ada wajah sayu Henry dan debaran tak enak dari jantungnya.

That night surely brought so much changes to his life. Especially about Henry and their connection.

Alex itu pria keras but a simple and common man's behavior. Alex itu hidupnya lurus, lebih memilih menjalani hidupnya yang begini. Jarang ada hambatan selain dari sisi pekerjaannya yang sulit, jarang ada kesedihan sebab menurutnya hidup terlalu menyenangkan untuk bersedih.

Tetapi belakangan ini Alex merasakan dirinya sedikit melakonis. Ada beberapa kali waktu dia bersedih entah karena apa. Perasaan itu tiba-tiba menyerang kala Alex hanya duduk sendiri, menikmati capuccino hangat dan pemandangan yang tak berubah sejak dia tinggal di pondok. He feels like he walks on miserable life.

Pada satu tempat lagi yang Alex masuki begitu kacau di dalamnya. Seolah terserang badai barang pecah belah habis berantakan.

“Omega gila, bisa bisanya dia keluar waktu heat begitu.” Maka Alex berdiri pada tempat yang tepat.

Lo dimana? Gue ada di tempat yang lo maksud.

Saya ada di kamar. Salah satu kamar, di sini ada banyak kamar.

Kala dia mendengar namanya diserukan Alex berhenti. Dia memanggil sekali lagi sembari mengetuk pintu yang menghalangi. Rasa lega menyelimuti ketika pintu terbuka menghadirkan sosok lelaki. Dia adalah Henry, takdirnya yang dicari.

Alex menutup rapat lagi daun pintu agar aromanya terjebak dalam belenggu. Entah apa yang dialami lelaki dihadapannya hingga bisa terjebak di tempat yang tak seharusnya. Alex mengamati Henry, dari kepala hingga ujung kuku. Semuanya aman, hanya saja bajunya kotor dan ada bekas air mata.

“Oh for god sake, Hen. What do you think you did?” Alex melampiaskan kekhawatirannya bercampur perasaan lega. Sedangkan Henry mengangguk, bingung atas keputusan yang telah Ia buat.

“Fucking shit...” Cicit Alex lirih sembari membuang napasnya kasar. Refleks dia menarik Henry dalam pelukannya. “It's okay, you'll be fine with me.” Bisiknya tepat pada telinga Henry kala Alex bisa merasakan detak jantung lelaki dalam rengkuhannya berirama inkonsisten. Henry pasti bingung, kacau, dan amat ketakutan.

Henry beringsut dalam dekapan Alex, membiarkan seluruh beban yang dia bawa dilimpahkan sejenak pada bahu kokohnya. Daripada merasa bersalah telah membuat Alex terkena masalah karena dirinya, dia lebih merasa bersyukur dan aman. Nanti, mungkin setelah mereka keluar dari sini Henry akan mengucapkan beribu kata terima kasih dalam seluruh bahasa di dunia.

Hampir dia menangis lagi, sebab Henry tidak pernah ada di posisi ini. Dia hanyalah manusia putus asa yang tak punya pegangan apa-apa. Dia hanyalah lelaki rapuh yang butuh seseorang untuk mengasuh. Dia hanyalah pangeran penuh kesedihan yang terkadang butuh sebuah pelukan.

Jahatnya dia baru bisa merasakan. Kejamnya dia bukannya keluarganya. Kasarnya Alex hanyalah seseorang yang baru dia kenal yang tak sengaja menjadi takdirnya. Sedihnya Henry sendiri belum tau apakah Alex belum tahu, pura-pura tidak tahu, atau bahkan tidak ingin tahu. Pilunya Henry saat ini sangat menginginkan Alex untuk dirinya tanpa tahu apa Alex juga menginginkan dia.

“Alex, ada sesuatu yang ingin aku bagi sama kamu.”

“Tell me. Tell me everything about you, Henry.”

Alex menatap wajah Henry, lebih tepatnya pada iris biru sang lelaki. Kedua telapaknya dia letakkan sedikit meremas lengan berisi milik Henry. Tatapan Alex seolah menuntut sebuah janji. Henry seperti dikunci, dia tidak bisa lari, sebelum memuntahkan semua informasi tentang dirinya. Apapun, tidak boleh ada kebohongan.

“Tapi pertama-tama kita pergi dari sini. Let's get home!” Usulnya.

Alex melepaskan jaket kulitnya, menyisakan dia dan kaos tipis saja. Tanpa permisi, Alex memakaikan pada Henry. Dia teringat tentang bagaimana ayahnya memakaikan apapun yang berbau khas miliknya pada ibu presiden ketika terserang heat di waktu yang kurang tepat.

“Setahu gue cara ini bisa nyamarin bau feromon lo. Am I right? Gue juga gak yakin sih.” Alex ketawa renyah karena dia sendiri hanya melihat ayahnya tanpa bertanya teori fakta.

“Ntar kalo gak bener, tinggal gue tonjok aja alpha yang kurang ajar di luar satu-satu.” Dia bercanda sedikit mencairkan suasana. Well, sukses buat Henry ketawa geli.

“Alright, you ready?” “Sure.” “Let's get you home!”

“Tungguㅡ” Henry menghentikan Alex dari langkahnya. “Ya?” “Kamu bilang mau bawa saya pulang. Tapi saya baru saja kabur dari rumah. Saya gak punya rumah, Alex.”

Lelaki yang lebih tinggi beberapa sentimeter saya itu tersenyum, lagi-lagi mengunci manik Henry meyakinkan di bahwa Henry harus percaya dan ikut saja.

“I'm your home, Henry. Wherever place that I will take you there, it will always be your home. Because I'm your home.”


`hjkscripts.


Aku ini manusia yang lahir entah apa guna. Aku manusia tempat salah dan dosa. Aku ini manusia yang bersalah atas segalanya.

Bersama teh hangat yang mengalir dari teko menuju cangkir. Bersama pula kue kering yang tepat sebagai pendamping. Mempersembahkan seorang lelaki yang penuh beban dalam pikir. Serta perempuan ayu yang siap mendengarkan keluhan dengan kuping.

Henry menyesap air teh beberapa kali berharap tubuhnya menjadi rileks. Sayang sekali organ dan pusat kendali enggan berkontribusi. Otaknya terlalu bingung, acap kali salah mengirim sinyal menghadirkan reaksi yang tak berarti. Henry berbicara dalam hati, seolah memotivasi kinerja dalam diri bahwa dia harus berhasil menyampaikan informasi secara tertata dan rapi, mudah dipahami sehingga tak menimbulkan sakit hati.

“Bea... akuㅡ”

Huff... It's going to be long journey.

Kedua tangan Henry menghangat ketika Beatrice dengan lembut meletakkan miliknya di sana. Getaran yang terjadi sebab rasa gugup berhenti dengan sendirinya. Henry menutup mata, meyakinkan sekali lagi bahwa dia harus berani. Beatrice deserved to know everything.

Fakta Beatrice tertarik dengan Alex membuat ini semakin sulit. Sebab Henry tahu bagaimana adik perempuannya menabur senyum semanis serbuk madu kala mendeskripsikan parasnya. Henry bisa melihat binar matanya bergelimang berlian kala memandang sosoknya. Meskipun Beatrice sadar bahwa Alex bukan takdirnya.

“It's okay, Hen.” Henry semakin tercekat sesaat dia melihat wajah Beatrice. Belum siap dia menerima perubahan ekpresinya nanti. Dia selalu ingin Beatrice tersenyum bahagia secara leluasa, bukan terpaksa ketika harus memahami fakta.

“Beatrice aku minㅡ”

“HENRY!!!”

Suasana hangat yang susah payah dibangun runyam seketika. Entah berapa newton gaya yang digunakan hingga berhasil mematahkan salah satu engsel pintu. Itu Philip yang selalu berjalan dengan aura dingin.

Henry belum siap, meskipun begitu dia harus siap kala tubuhnya ditarik paksa berdiri satu lawan satu kakak tertuanya dengan dua tangan kuat Philip meremas sisi kerah pakaianya. Dia memasang wajah bingung, di satu sisi hanya amarah yang berkobar hebat mendapati yang menurutnya penyebab dari semakin kacaunya istana malah mengadakan pesta minum teh.

“You! Sudah berapa kali aku bilang jangan macam-macam.” Ujarnya dingin. Kata perkata diungkapkan dengan tekanan.

Henry bungkam, perasaan dalam dirinya campur aduk berantakan. Entah dia harus minta dikasihani atau menjawabnya pula dengan emosi. Henry muak dan takut secara bersamaan.

“DIAM KAMU? DIAM KAMU HENRY??? SEMUA YANG MEREKA TUDUHKAN BENAR KAN?! JAWAB!” Philip melepaskan genggamannya. Terhempas kuat tubuh Henry di atas ranjang.

Beatrice kosong, otaknya kopong melihat adegan emosional dihadapannya. Entah apa yang dia tahu, entah apa yang mereka maksud. Yang dia yakini adalah keluarga ini mungkin sedang berada di ujung tanduk.

“Kamu! Sudah berapa kali aku peringatkan jangan pernah keluar, jangan pernah terlihat! Kamu masih seorang pangeran, DAN PANGERAN HARUSㅡ”

“OH FOR GOD SAKE PHILIP I'M DYING!”

Malam ini Henry menyerah. Pangeran ini bukan manusia kuat melainkan manusia lemah yang berusaha mengais sisa-sisa tenaga untuk bertahan hidup ditengah susah. Pangeran ini lelah menjalani harinya tertatih. Maka malam hari ini pada detik ini dia mengibarkan bendera putih.

“I'm dying, Philip...” Lirihnya lemah. Air mata yang turun satu demi satu adalah representasi dari jutaan molekul emosi yang tertahan ribuan hari. “You never know how it's suffocating inside. Like they would killing me any day if i say i want to die.”

“Ini melelahkan, Philip. Hari demi hari hidup rasanya seperti mendekat menuju jalan masuk neraka. Mereka bakar aku, dari dalam menggerogoti organ hingga urat nadi hingga habis tak bersisa lalu dia akan membakar luarnya hingga habis menjadi abu. Dan kamu, orang-orang di dalam rumah ini, orang-orang di luar sana hanya akan menangis sejenak lalu lupa ingatan hari berikutnya.”

“Lalu bagaimana dengan rasa sakit yang aku alami? Dia akan ada terus menerus berjalan bersamaku seperti bayangan. Bahkan bayangan ikut menguburkan ku dengan dia di dalam tanah. DIA IKUT AKU KE DALAM TANAH, PHILIP!”

Malam ini seorang pangeran menyerah, memilih ikut emosi membalas segala sakit hati dengan menyakiti. Malam ini seorang pangeran menyerah, berlinang air mata sembari membela diri. Malam ini juga seorang pangeran menyerah, melenggang pergi membawa rapuh tubuhnya melarikan diri.


`hjkscripts.


Alex Point of View

Beginilah aslinya si anjing gila.

Gue bernama Alex yang sedang duduk memeluk dua kaki sembari bersandar memindai angkasa. Sesekali tangan bergerak mengambil camilan dan minuman pemanis suasana. Disinilah gue dan berbagai kacau jalan pikiran. Hanya ada gue, sahabat gue, dan kelemahan.

Gue bernama Alex lelaki dengan sejuta manusia. Sejak dini siapapun ingin dekat dengan dia. Namun apadaya benar kata pepatah. Waktu adalah alat yang paling tepat untuk menyaring siapa yang tulus.

Gue si lelaki 27 tahun ini memang bergelimang koneksi, tapi soal sahabat hanya satu nama yang ada dipikiran maupun hati. Katharina, ya si cewek ini.

Cewek ini yang temani hari-hari seorang Alex yang sibuk kesana-sini. Cewek ini yang selalu sabar kala Alex sedang dilalap emosi. Cewek ini yang banyak meninggalkan berbagai mimpi. Cewek ini juga orang yang paling gue sayangi.

Bicara soal rasa suka, gue jelas pernah suka sama dia. Well gak ada hubungan laki-laki dan perempuan yang hanya sebatas seorang sahabat. Salah satunya akan ada yang jatuh, dan itu terjadi sama gue. Gue jatuh sedangkan dia gak pernah ikut jatuh, dia malah mengulurkan tangannya buat bantu gue berdiri dan bilang, jangan jatuh lagi.

“Jadi lo mau mulai cerita darimana?” Katharina bergabung dengan tangan membawa dua lagi botol berembun. Dia berikan satu dan menegak yang lain.

Gue sebenernya juga bingung mau mulai darimana. Kejadian kemarin sampai tertampar fakta hari ini terlalu penuh bagi kapasitas otak gue yang tiap hari diisi masalah. Kejadian ini gak sesuai sama tujuan mom berangkatin gue kesini.

Di tempat ini gue bisa belajar mengontrol emosi.

Di tempat ini gue bisa bernapas dan menenangkan diri.

Di tempat ini gue akan keluar sebagai lelaki yang lebih baik lagi.

Tapi kenyataannya gue malah kacau. Tentang kerjaan yang harus gue jalani dari jauh, tentang Pak Lee dan kelasnya yang sampai sekarang gue belum naik ke tingkat selanjutnya, dan lagi ini tentang Henry. Henry Fox yang masih terlalu abu-abu buat gue yang ternyata mungkin adalah mate gue.

“Lo ingetkan tadi siang gue cerita tentang gue hooked up sama seseorang dari palace?” Gue memulai cerita dengan hati-hati.

Katharina mengangguk tanda paham konteks yang akan kita bahas. “Iya, terus?”

“Namanya Henry Fox, Kath. Cowok yang pernah gue cerita ikut kelas di Pak Lee juga. Gue sebenernya juga kaget, Kath. Satu karena dia cowok, dua karena dia omega male kayak apa yang gue anggap selama ini dongeng bukan lagi dongeng melainkan kenyataan.” Gue meneguk air dalam botol genggaman gue, mengatur napas sejenak sembari menata kosa kata yang akan gue keluarkan setelah ini.

Sedangkan Katharina belum saatnya berkomentar, matanya menatap ke depan sambil sesekali mengangguk. Tatapannya kosong namun telinganya bekerja keras seolah menelaah cerita gue.

“Tapi Kath, mengesampingkan dua alasan itu yang masih membuat gue bingung itu ini, ada banyak hal yang gue gak tau dari dia. Oke, gue tau butuh banyak waktu buat mengenal satu individu tapi Henry ini rasanya aneh, kayak semua tentang dia itu adalah sebuah pertanyaan sulit yang entah kapan ketemu jawabannya. Yang gue tau cuma dia yang selalu ketakutan, dia yang berhati-hati, dan dia yang penuh kesedihan.” Selesai gue mengungkapkan.

Kita diam, gue ya menunggu Katharina dan Katharina mungkin masih kesulitan mencari secerca solusi.

“Pertama,” Katharina bersuara. Mengalihkan pandang matanya dari sana menuju milik gue. “Lo nyesel ga waktu tau dia mate lo?” Tanya dia.

Jujur gue gak tau gimana jawabnya. “Gue suka sama dia as a person. Gue menikmati malam kemarin dan memutuskan untuk ambil inisiatif terlebih dahulu. Gue khawatir sama dia, tentang kejadian kemarin dan luka dipunggungnya. Gue sangat ketakutan atas cerita dari masa lalu tentang dia yang hampir mati mungkin karena kebodohan gue. Gue sangat mau ketemu lagi sama dia dan talked it out more. Dalam pikiran gue isinya cuma tentang Henry dan kebingungan. Tapi tentang menerima dia sebagi takdir gue seutuhnya, gue belum bisa pastiin.”

Katharina senyum hampir terkekeh geli, lalu dia mengangguk. Gue gak tau maksudnya apa.

“And I'll assume that as nope. Alex jawabannya cuma perkara waktu. Lo sama dia tuh punya hubungan baik, tinggal gimana lo sama dia figured out apa yang akan kalian lakuin setelah ini. Your story has begin. Kalo lo bingung tentang dia ya tinggal tanya, simple as that dan kalian akan mengerti satu sama lain karena yang punya hidup yang paling tau kenapa takdir jodohin lo sama dia. Kalo dari sumber yang gue baca ya gimana caranya sayang kalo gak mau saling kenal.”


`hjkscripts.


TRIGGER WARNING ; 18+ SENSUAL CONTENT🔞

THE BALL ㅡ 2023 SOUTHMINSTER PALACE, MAC

Selalu ada udang di balik sisi batu. Bukan cacing juga kaki seribu. Dipaksa pergi dulu berontak tak mau. Ternyata ini maksud takdir, akhirnya aku menemukan kamu.

Dia adalah lelaki yang tengah melangkah dengan amarah. Dia lelaki yang tengah bertarung dengan hati nurani. Dia lelaki yang tengah dilanda rasa kecewa. Pun dia lelaki yang tengah bersedih karena juga seorang lelaki.

Alex namanya beserta kaki jenjang dibalut pantofel berkilau kala beradu dengan lantai. Dia yang tak punya rasa lelah meskipun terus berjalan melalui hektar tanah. Dia dan dongkol dan juga beribu kalimat tanya. Ini semua karena lelaki itu, yang sekarang dia juga kurang yakin apakah nama yang disebut dari bibir merah muda lalu adalah benar.

Bibir itu yang membuat Alex penasaran setengah mati kala pertama bertemu. Bantalan kenyal sedikit basah yang sedang melengkung senyum membuat pemiliknya nampak lucu. Bahkan ketika dia menampilkan senyum paksa, berganti antara mengerucut dan senyum datar. Bibir itu yang membuat Alex ingin memiliki urusan antara dua bibir.

Bibir itu yang Alex ingin damba kala hubungannya mungkin berjalan lebih baik daripada sekedar nama. Bagaimana bisa mengeluarkan kata-kata penuh dusta.

Alex sampai di depan kamar berdekatan tangga. Menengok kanan kiri memastikan ruangan ini tepat sesuai. Alex bingung, mengapa jantungnya berdegup ragu ketika hanya bersekat pintu. Padahal sebelumnya amarah dalam diri meletup-letup layaknya lava Gunung Merapi. Dia tak siap, rangkaian tubuhnya belum diberi komando harus bagaimana akan bersikap nanti.

Tok Tok

“Henry?” Alex memanggil namanya. Lama jawaban dari dalam membuat keyakinan Alex naik satu tingkat bahwa nama itu bukan juga miliknya.

“HENRY?!” Alex menggertak sekarang. Ia meninggikan suara berharap lelaki di dalamnya tersudut dan berakhir menyambut kedatangannya.

Lagi hanya hening menjawab. Alex sungguh tak ada waktu dan kesabaran penuh untuk melakukan hal ini. Jadi dia meyakinkan diri, menggapai kenop pintu berlapis emas dan menggenggamnya erat sebelum suara menyapa gendang telinganya, “Alex” Katanya.

“Gue masuk sekarang.” Titahnya bukan sebuah pertanyaan.

“Sebelum kamu buka pintu,” Suara Henry terdengar lagi dari baliknya seolah mencegah Alex membuka lebih jauh. “Sebelum kamu buka pintu, kamu harus yakin bahwa kamu siap terima yang akan kamu dapat setelah ini.” Lanjutnya.

Alex dilema, semakin dibuat bingung dengan kalimat Henry. Namun Alex pantang mundur. Dia membuka pintu jati itu perlahan sembari menahan napasnya. “Henry?” Ucapnya menyebut lagi nama seseorang yang dia ragukan.

Dia melihatnya, sosok lelaki yang hanya itu dia bisa yakini. Lelaki yang sedang duduk di ujung kasur besar dengan posisi memunggungi.

Kala Alex melepaskan napasnya saat itulah dia menyesali kedatangannya.

BRAK!

“THE FUCK HENRY? LO LAGI RUT?” Teriaknya.

Sial! Tangan Alex gemetar melepaskan diri dari kenop pintu. Bukan hanya itu, kaki-kakinya lemah kala sisa aroma dari dalam kamar terhirup lagi dalam indra penciumannya, merasuk perlahan pada urat syarafnya. Celakanya aroma itu mampu membangkitkan birahi alphanya.

“Shit! Shit!Jangan sekarang.” Alex mendesis, berbicara pada dirinya sendiri mencegah alphanya memberontak keluar.

“Alex, are you okay?” Suara Henry khawatir. “Alex, look im so sorry saya bukan bermaksud menipu atau bagaimana. Saya bisa jelaskan semuanya sama kamu tapi saya butuh waktu, sebab ini bukan masalah kecil yang bisa kamu genggam sendiri. Kenyataan ini juga cukup sulit bagi saya.”

Alex tentu mendengarkan ditengah kesulitan menahan diri. Penjelasan Henry tutur demi tutur yang entah mengapa dia tangkap bernada sedih. Ada emosi tersendiri, marah, kesal, pasrah menjadi satu. Alex seolah diikat kuat dengan tali sepanjang kalimat persuasif penuh janji. Jika Henry berjanji maka Alex akan percaya dan menunggu untuk ditepati.

Alex menghembuskan napasnya berat. “Oke,” Ujarnya lirih. “Gue akan tunggu. Tapi gue punya satu pertanyaan.”

“Saya akan jawab.” “Tapi gue mau lo lihat mata gue ketika menjawabnya.”

Inilah si anjing gila hobinya adalah terjun mencari lubang neraka. Padahal dia sendiri paham, sedikit saja feromon Henry bisa menghapus sisa kewarasan. Sekali lagi, inilah si anjing gila yang suka berkelana dengan insting daripada norma. Dia sudah disini bersama Henry dan bayangan.

Pintu terbuka mempersembahkan seorang pria. Pria itu kini menatap berani tepat pada maniknya. Henry itu bahaya, hanya berdiri berselimut feromon beserta mata sayu sudah membuatnya gila.

“Tentang nama lo,” Alex berhenti sejenak untuk meneguk air ludahnya. “Apa juga termasuk sandiwara yang lo buat?”

Henry menggeleng, matanya masih bergeming menatap garis pandang yang sama. “Henry Fox. Itu benar nama saya.”

“So...” Alex satu langkah mendekat pada Henry yang masih berdiri diambang pintu. “Henry Fox, huh?” Satu lagi langkah hingga dia berdiri hanya berjarak jengkal.

Nakal tangannya terangkat dan bertengger pada pinggang Henry yang berisi. Kelima jari itu bergerilya, bergerak abstrak di atas permukaan kulit berlapis katun. Dia mendorong, menuntun Henry semakin masuk membawa Henry pada remang cahaya di dalamnya. Dia juga menutup pintu, meninggalkan keramaian dunia.

“Jadi ini alasan lo nggak mau kasih tau merek parfum yang lo pakai? Jawabannya tentu gak ada karena lo gak pakai apapun. Bau feromon lo, gue suka.”

Alex lemah, menempatkan sebagian berat beban kepalanya di atas pundak milik Henry. Dihirup banyak-banyak feromon yang semakin gencar menguar hingga kepalanya pusing tak karuan.

Henry menjengit kala lehernya bergesekan dengan dingin ujung hidung bangir milik Alex. Namun dia menikmati bagaimana inkonsisten napas lelaki itu. Bagaimana tubuhnya merespon dengan perasaan geli, terkadang hangat hingga membangkitkan nafsu birahi.

“Alex...” Henry mendesis memanggil nama pria yang tanpa permisi mulai mengecup lehernya. Dia pria yang lupa akan ajaran tata krama yang semakin berani menginvasi cuping hingga tengkuknya.

Henry itu benci pria tak beretika, tetapi dalam keadaan lemah seperti hari ini yang dia butuhkan hanya sebuah sentuhan.

Henry kini melayang tak terlihat menembus awan kala punggungnya menyatu dengan tilam. Dia dan ketidakwarasannya hanya mampu bergerak gelisah berharap lebih dari sebuah kecup cium. Alex ini siapa? Hingga akal sehatnya dibuat hilang. Wangi tubuhnya harum serta menenangkan.

Dialah si pria alpha dengan bentuk kepemimpinan sempurna.

Lelaki ini yang tengah menanggalkan satu persatu kancing dengan sabar. Bukan lelaki beringas meskipun diselimuti nafsu liar. Lelaki ini yang tengah menatap Henry dari atas lemah tubuh pasrahnya. Menikmati paras frustasinya dengan padangan memuja. Lelaki ini yang tengah tersenyum kala Henry membuka mata. Yang akhirnya bertanya apakah kegiatan yang semakin tak senonoh ini patut untuk dilanjutkan, dan Henry tentu menjawab Iya.

Dunia disekitar mereka mendadak berputar suka-suka. Menyaksikan betapa gila dua lelaki bercumbu di atas ranjang saling menyerukan nama. Menanggalkan status sosial hanya untuk memuaskan nafsu birahinya.

Alex mengecup dada sekokoh bidang. Berhenti sejenak mengambil alih dua puting yang sudah menegang. Dia tersenyum sebab rancau suara Henry adalah tanda kemenangan.

Henry kelabakan, pusing tujuh keliling menikmati tiap sentuhan. Bagaimana komando pria di atasnya absolut tanpa celah. Seluruh tubuhnya dijamah hingga tak ada yang bisa Henry lakukan selain mendesah. Alex itu luar biasa besar, menggerakkan miliknya perlahan konstan hingga semakin brutal saat mendekati ujung garis kenikmatan. Tubuh keduanya semakin bersatu dalam guyur keringat jutaan afeksi, merancau dengan suara-suara kacau seolah memberi pujian betapa hebat keduanya, hingga lenguhan panjang dan getaran tubuh kenikmatan menjadi tanda bahwa keduanya telah sampai di atas nirwana.

Bukan Alex yang terlalu profesional, hanya saja Henry adalah pangeran yang belum mengerti beringasnya dunia luar. Henry memang tak sepolos itu menjadi manusia, namun Henry belum sepenuhnya mengerti rasa aslinya. Bagaimana unik tubuh manusia menyuarakan aspirasi atas sentuhan yang diterima. Bagaimana seluruh organ tubuh bekerja amat cepat pun jantung berdebar memompa darah sekencang mungkin seiring berkurangnya oksigen dalam tubuh. Bersetubuh itu melelahkan, namun euforianya menakjubkan.

Alex mengubah posisinya, membuat Henry kini berada di atas. Dia bangun dari posisi terlentang, memangku Henry di atas pahanya.

“The fuck Henry, you're so fucking tempting yet beautiful from every angle.” Bisiknya sensual sembari memberi sebuah lumatan panjang pada bibir prianya yang terbuka.

Tangan Henry dia letakkan pada dada berhias rambut yang menjadi tanda kematangannya. Merasakan bagaimana dada itu bergerak naik turun dan bergetar akibat debaran jantung. It's so overwhelming for Henry dan dia baru menyadari bahwa Alex adalah yang ditakdirkan untuknya.

Adalah dia yang selama ini Henry cari. Sosok yang begitu dia damba meskipun terperangkap di dalam penjara istana. Setidaknya dia tau dia punya Alex, entah bagaimana dunia mengatur jalan hidupnya kelak.


`hjkscripts.