hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Cast : Jiang Da Hai as Aheng Li Pei En as A Li

TRIGGER WARNING ; HARSH WORDS, AGE GAP, NON-CONSENSUAL SEXUAL CONTENT 🔞

ACT I. PESISIR MISKIN. Kamar sempit, sumuk bukan main, cat tembok sudah banyak gugur kalah lomba dengan jaman. Mana dalamnya hanya rangkaian kayu, bukan bata atau beton kayak pondasi rumah pada umumnya. Duduk anak muda, laki-laki dibalur keringat di dahi. Menetes pula hingga leher, jatuh pula hingga punggung.

Basah akhirnya kaus coklat muda yang dikenakan. Warnanya jadi coklat tua di punggung. Kain yang menyampir pundak bercampur warna putih bekas keringat semalam mengering juga bolong-bolong. Menandakan kaus belel yang Ia kenakan sudah lelah menghadapi perang dengan air dan matahari.

Belia itu sedang menghadapi buku tebal usang pula koyak halaman. Harus hati-hati jika di balik. Mejanya menghadap jendela yang dibuka setiap pagi, menggantikan bau apek kamar lusuhnya jadi bau asin pesisir. Wajahnya diterpa sinar matahari langsung dari tempatnya muncul peraduan. Rambut depannya bergerak perlahan dihembus kipas angin yang bunyinya kayak tikus sekarat, penuh debu satu serikat, dan banyak karat. Yang penting masih bisa nyala, setidaknya bisa menyeka setengah keringat.

Sederhana, namun sederhana begitu kamarnya serupa cendikiawan. Banyak buku bukan sekedar hiasan, banyak dari tumpukannya selesai dia baca. Tempelan di dinding triplek bukan poster klub sepak bola kesukaan, atau cewek anime seksi dari serial hentai, tetapi kertas catatan penting buku baru yang dia baca, juga informasi dari internet yang boleh dia dapat dari komputer sekolah terbatas yang hanya bisa diakses satu siswa per-30 menitnya. Ia miskin harta tidak miskin ilmu.

“A Li! A Li!” Panggil paruh baya wanita dari luar kamarnya. Muda lelaki empu nama A Li melepaskan empat matanya dari kalimat terakhir halaman yang Ia baca. Tepat sekali selesai.

“Nggih, buk!” (Iya, ibu!) Balasnya sembari merapihkan meja yang semalam suntuk berantakan. Minggu depan sudah ujian akhir kelulusan. Sebentar lagi A Li lulus dari 12 tahun wajib sekolah.

Kacamatanya di lepas, ditaruh hati-hati di atas meja. Gak bisa dilipat, karena gagangnya sudah pakem, dilakban karena jatuh dan patah sekali. A Li berdiri, mata polosnya menyipit kala menatap ufuk yang selalu jadi pemandangannya sejak Ia membuka mata pertama kali. A Li menghirup napasnya dalam-dalam, merasakan bau asin bercampur asap badek, menandakan aktifitas pesisir sudah dimulai sepenuhnya. Jendela yang Ia biarkan terbuka ditutup kembali, jika tidak bau urea yang dihasilkan dari proses pengasapan ikan pe bergumul di dalam kamarnya yang minim sirkulasi.

“A Li! Ayo leh, maem disek!” (A Li, Ayo nak, makan dulu!) Panggil ibu sekali lagi. Ibu ada di belakang rumah, tapi suaranya jelas terdengar saking rumahnya hanya terbuat dari gedek dan triplek.

Bapak sudah ada di kursi ruang tengah waktu A Li keluar kamar. Menikmati satu piring nasi, yang hanya punya lauk ikan asin, oseng daun semanggi, dan sambal. Lahap sekali, sambil nonton tv tabung yang gambarnya tinggal separuh, gak lupa disuguhi kopi. Biasanya bapak cuma pakai kaus kutang dan sarung, tapi hari ini bapak sudah rapih pakai baju batik, satu-satunya di lemari. Biasanya bapak pakai cuma di hari raya atau waktu ke acara juragan kapal.

A Li masuk dapur. Kegiatan pertama waktu masuk dapur rumah pesisir sudah pasti batuk-batuk sebab masaknya masih pakai tungku kayu. Biar hemat, sekalian nyala buat mulai ngasap ikan yang baru dapat dari nelayan yang datang sore kemarin. Kompor gas ada, cuman harus irit. Ada ibuk lagi duduk di meja makan, tangannya sibuk pegang besek isi ikan asin yang hari ini mau dijual. Dipilih yang bagus, dipisahkan dari yang retak, yang cuil. Yang jelek disimpan untuk lauk besok. Begitulah hidup sehari-hari di rumah miskin di pesisir.

“Bapak sampun rapi menika ajeng pundi toh, buk?” (Bapak sudah rapi begitu mau kemana, ibu?) A Li duduk, menyiapkan piringnya untuk sarapan. Isi lauknya sama seperti punya bapak. Tangannya yang bebas masuk ke besek kerupuk ikan yang belum di goreng, kebiasaan.

Ibuk gak berhenti dari kegiatan pilah ikan asin. Hanya tersenyum yang bikin A Li makin curiga. A Li dari tempat duduknya juga belum sadar bahwa ibuk juga sudah rapih pakai jarik dan kebaya merah muda dari jaman beliau masih gadis. Rambutnya juga disanggul sederhana, tapi rapih. Gak seperti ibuk biasanya yang cuma pakai daster, atau jarik lawas, rambutnya dicepol biasa, pakai karet bungkus nasi.

“Buk?! Pripun toh? Kok mboten mangsuli kula. Malah pun mesem mawon loh.” (Ibu?! Gimana sih? Kok gak jawab aku. Malah senyum saja loh.) Tutur A Li kesal.

Selesai ikan asinnya dipisahkan, ibuk baru berikan perhatian pada A Li yang wajahnya merengut. Tangan A Li, ibuk keluarkan dari besek kerupuk ikan, digenggam, diusap penuh kasih sayang. Buat A Li berhenti dari acara menyantap daun semanggi terakhirnya.

“Leh, awakmu kan ajeng lulus sekolah. Anak lanang e bapak sama ibuk, mung siji-sijine. Purun nggih dikenalno juragan e bapak.” (Nak, kamu kan sebentar lagi lulus sekolah. Anak laki-laki bapak sama ibu, hanya satu-satunya. Mau ya dikenalkan juragannya bapak.) Kata ibu dengan suara lembut, hati-hati. Takut anak lanangnya salah arti.

“Maksud ibuk kados pundi, nggih?” (Maksud ibu gimana, ya?)

Nafas berat ibuk hembuskan, jantungnya mulai berdetak gelisah. Keputusan diskusi semalaman dengan bapak berat. Ibuk maupun bapak juga mengerti betul mimpi A Li yang selalu dia jabarkan siang malam. Mimpi yang siapapun gak boleh halangi. Bahkan keadaan hidupnya sekalipun.

“Gini loh, leh. Bapak sama ibu punya rencana buka lapak di pasar besar. Jualan ikan asin, ikan asap, sama kerupuk. Jadi bapak harus pinjam modal untuk buka kios di sana sama Abah Lim. Sebagai gantinya bapak kerja nanti upah hariannya dipotong sampai hutang lunas. Ibuk hitung yo ndak cukup buat kita kebutuhan sehari-hari, hasil jualan kalau di sini cukup buat makanㅡ”

“Terus aku kuliahnya gimana, buk?!” Sahut A Li. Suaranya dibuat tinggi, memotong penjelasan ibuk.

Setelah lulus dari SMA, A Li hanya tau kuliah. Sebab itu anak ini belajar tanpa kenal lelah dari kelas satu. Agar namanya terus menetap di peringkat satu. Diikuti doa dengan harapan suatu saat Tuhan memberinya jalan untuk kuliah dengan biaya minimal bahkan kalau bisa diberi beasiswa. Gak perlu jauh di luar negeri, A Li hanya butuh keluar dari kamarnya yang sumuk juga lembab. A Li mau udara paginya hirup bau lain bukan bau garam. A Li mau baju-bajunya bau wangi detergen bukan bau ikan asap. A Li mau kaki-kakinya berjalan cepat di atas lantai marmer bukan terseok pasir penuh sampah juga luka akibat kulit kerang.

A Li muak bersyukur setiap hari hanya makan lauk ikan asin atau ikan laut kecil yang boleh bapak dapat dari sisa sortir. A Li mau keluar dari neraka yang menurut orang-orang adalah tanah surga. Sebab, A Li tau bukan kehidupan laut ini yang orang-orang mimpikan setelah pensiun, bukan rumah gubuk di pesisir yang bisa hanyut kapan saja kala ombak besar datang jangankan tsunami.

“A Li...” Pinta ibuk memanggil namanya putus asa. Raut wajahnya dibuat sesedih mungkin agar sang anak prihatin dan menyerah. “Ibuk janji, kalau kios di pasar besar berhasil, kamu kuliah. Ibuk sama bapak akan usahakan. Tapi sekarang, kamu tolong bantu ibuk sama bapak dulu yo, leh.” Lanjutnya.

Ya Allah rasanya A Li mau menangis sekarang. Bahkan mata merahnya saja tidak tertutup hanya dengan dia pakai kacamatanya. Mandi sudah wangi, bajunya pakai yang paling bagus dan rapih. A Li juga bingung mengapa hanya untuk bertemu salah satu juragan kapal bapak, mereka bertiga harus berdandan serba ekstra. Padahal ujung-ujungnya A Li kerja jadi anak buah kapal sederhana. Bergumul dengan amis ikan, asin air laut, dan bau kecut teman-teman yang lain.

Rumah hanya ditutup rapat pintunya. Gak ada maling di sekitar sini, maling takut sama pemuda pantai yang hobi mabuk siang bolong. Bawa parang, kadang celurit mereka. Bertiga jalan terburu-buru menuju bibir pantai tempat kapal-kapal pengangkut ikan bersandar, tempat dimana para juragan berkumpul kalau gak layar. Tangan A Li diseret ibuk yang terus-menerus ngomel sebab A Li jalannya lambat sekali, sedangkan bapak fokus pimpin jalan sembari menghisap rokoknya.

Sampai mereka di depan salah satu kapal lumayan besar. A Li dan ibuk disuruh bapak menunggu di bawah, sembari bapak naik ke atas untuk lapor sama juragan. Ibuk benahi posisi jariknya agar jatuh rapih, juga kembennya yang melorot. Ibuk bantu A Li selanjutnya, memastikan kemejanya gak lungset, bebas dari kotoran meskipun warnanya sudah mangkak, menguning. Rambutnya juga ditata lagi agar rapih setelah pakai minyak rambut punya bapak.

A Li tatap lamat-lamat dan Ia jauh mengorek ingatannya, kapal ini asing. A Li belum pernah lihat yang sebesar ini. A Li tau betul kapal kerja bapak, milik Abah Lim. Kapalnya sedang, warnanya dominan hijau, kayu-kayunya hampir lapuk, layarnya beberapa sobek, dan tempat sandarnya ada di ujung selatan tempatnya berdiri. Kapal satu ini harus naik pakai papan kayu cukup tinggi untuk sampai geladak, cat kayunya mulus, warnanya biru-putih, ada sekoci kecil di pinggir badannya. Juragan mana maksud bapak ini?

Kepala bapak muncul dari balik geladak kapal, semakin jelas kala bapak mendekati pintu turunan. Diikuti pria paruh baya tinggi, masih tua bapak-ibuk, tapi gak muda juga. Mungkin masuk umur 40 awal. Badannya bugar, bukan gendut, berkumis seperti juragan-juragan pada umumnya. Hanya topinya saja yang membuat beliau berhak dijuluki juragan.

Suara ketukan sepatu beliau beradu dengan papan kayu, syahdu sekali. Maklum sepatu bukan murah punya. Jelas, mata A Li bersinar terkena pancaran kilau ujung sepatu kulit hitam juragan. Pakaiannya juga A Li pasti gak paham kalau diberitahu merk-nya. Maklum, A Li gak pernah tau mall. Dari bawah, empat mata A Li amati lamat-lamat calon juragannya, terakhir, pandangannya jatuh tepat di kedua mata dewasa juragan yang berdiri di hadapannya.

Tiga detik saja, A Li seketika gugup diberi senyum juragan. Senyuman rupawan, namun ada hint nakal di matanya yang tak memutus tatapannya pada A Li. A Li menunduk, tak sopan menatap juragan seterang itu.

“Juragan, ngapunten kula mengganggu waktunipun kagungan juragan.” (Juragan, mohon maaf saya mengganggu waktu milik juragan.) Bapak bersuara, memakai bahasa sesopan mungkin dihadapan juragan.

Juragan tersenyum, “Halah, koyok karo sopo ae.” (Halah, kayak sama siapa aja.) Balas juragan. Beliau menyalakan satu batang rokok yang beliau ambil dari saku celana kainnya.

“Dados menika, juragan, jaler kula saking ingkang kula sanjang kala wingi. Saking ingkang kula janjikaken dhateng juragan.” (Jadi ini, juragan, anak laki-laki yang saya katakan kemarin. Yang sudah saya janjikan kepada juragan.) Jelas bapak tak dihiraukan juragan.

Juragan masih sibuk berdiri, bersama rokoknya yang makin dihisap semakin kecil, membiarkan abunya jatuh ke atas pasir pantai. Juragan masih sibuk menatap A Li yang menunduk dari ujung rambut sampai pangkal kuku kaki. Telinganya berdengung, membuatnya tuli sejenak, bahkan suara hiruk pikuk aktifitas pesisir, suara debur ombak yang mulai tinggi, maupun teriakan anak-anak yang mulai nampak setelah pulang dari sekolah tak mengganggunya sama sekali.

“Jadi kapan aku isok nggowo anakmu, lik?” (Jadi kapan aku bisa bawa anakmu, pak?) Tanya juragan, tidak ada obrolan lain selayaknya calon pekerja dan pemilik. Cukup dengan diamati, juragan sudah cocok mau bawa A Li naik kapalnya yang besar.

“Laut benjing saged, juragan. Nggih benjing kula siapkaken A Li.” (Melaut besok bisa, juragan. Baik besok saya siapkan A Li.) Jawab bapak mantab, semangat. Namun membuat hati A Li sakit, layaknya ditusuk kail pancing, perih.

Bahkan untuk hal seperti ini saja A Li dilarang berpendapat. Bapak yang sudah tentukan. A Li seperti barang yang begitu gampang diserahkan. Ya Allah, A Li ingin kabur nanti malam apa boleh diijinkan?


ACT II. BAHARI SEJAHTERA. Matahari muncul dari peraduan, begitu ayu warna langit dibuat. Gelap perlahan hilang, ditelan sinar. Kicau burung camar menemani hari baru A Li di atas deburan ombak berangsur tenang. Deru kapal masih berisik meskipun hijau pesisir sudah lama tak nampak.

Hanya air yang mengelilingi. Kapal besar yang Ia tumpangi mendadak jadi kecil beradu dengan samudra. Angin kencang berhembus menerpa badannya yang kurus. Membenarkan kacamatanya berkali-kali, takut jatuh, tenggelam dalam palung.

Cuaca hari ini cerah, berbeda sekali dengan suasana hatinya yang tak kunjung membaik. Sakit hatinya masih bersarang, mengetahui di depan matanya sendiri bapak menjualnya terang-terangan pada juragan. Luka di hatinya makin meradang, kala A Li harus pergi dari kamar lusuh, satu-satunya tempat paling aman untuk menggapai mimpi-mimpinya, yang ternyata menjadi tempatnya juga untuk mengubur mimpi sejenak. Dini hari pukul tiga, A Li untuk pertama kali pergi dari rumah. Bukan untuk kuliah, namun menceburkan diri dalam air asin yang senantiasa membuat tubuhnya basah.

Bukan ini yang A Li mau. Harusnya, jemari terampil A Li digunakan untuk meraut pensil bukan memasang kail. Tangan A Li hanya terbiasa merajut halaman buku koyak bukan merajut jala. Otaknya cerdasnya A Li gunakan untuk selesaikan rumus matematika bukan mengukur panjang tali tampar. Bahkan A Li bukan sering lagi terhuyung, sebab berat jaring pukat cincin tak sepadan dengan besar badannya.

A Li ini laki-laki, mau sekali menangis. Namun Ia sadar di atas Kapal 'Bahari Sejahtera' tidak ada ruang untuk menitihkan air mata. Hanya ada ruang untuk keringat dan kerja keras. A Li butuh 3 hari saja untuk bertahan, sebelum Ia bisa kembali bertemu dengan buku ajarnya.

“Li! A Li!” Teriak serang, sang mandor geladak dari kejauhan. Kapal telah tender di tengah laut, manufer propeler, atau baling-baling kapal mati tanda tercapai sudah lokasi tebar pukat.

Hiruk pikuk anak buah kapal yang sibuk memindahkan jaring pukat cincin dalam sekoci membuat A Li minim pendengaran. Serang Bandar mendekat, seperti biasa bersama cerutu yang gak pernah surut. Perut buncit kelebihan gula tak membuatnya terhuyung jalan di atas geladak yang mulai bergoyang akibat ombak besar. Mendatangi A Li yang sibuk di dekat haluan.

“A Li!” Serang Bandar menepuk pundak A Li yang tengah membungkuk. Empunya berjengit kaget.

“Oh- nggih, wonten napa, pak?” (Oh-ya, ada apa, pak?) Balas A Li. Meletakkan jala bagiannya sembari mengelap telapak tangannya yang habis bau amis.

Serang Bandar menggerakkan kepalanya, dagunya maju menunjuk bagian atas anjungan. “Diceluk juragan. Kono diparani disek!” (Dipanggil juragan. Sana didatangi dulu!)

Lelaki berumur kini berpaling, diikuti A Li tepat jalan di belakang. Beda dengan Serang Bandar yang jalan seperti di atas aspal. A Li harus meraih satu demi satu kotak kayu atau apapun yang bisa dipegang untuk membuat badannya tetap tegak. Bau amis segar selalu tercium ketika dirinya melewati geladak tengah, sebab di bawahnya terdapat ruang palka, tempat untuk menyimpan hasil tangkapan. Lalu, baunya berganti dengan campuran oli dan solar ketika melewati ruang mesin di bawah geladak buritan.

Serang Bandar berhenti tepat di bawah tangga buritan. Mempersilahkan A Li melanjutkan perjalanannya sendiri menuju anjungan. A Li naik takut-takut, beberapa kali melihat ke bawah meskipun Serang Bandar telah hilang dari pandangan. Anjungan atas ada dua ruangan, ruangan depan milik awak kapal. Sedangkan, ruangan yang pintunya tepat di ujung tangga adalah ruang pribadi Juragan Aheng.

A Li cukup dibekali dengan sopan santun. Mengetuk pintu ruangan juragan dengan lembut. Masuk suara lantang juragan, berdengung dalam gendang telinga. A Li membuka, membungkukkan badannya sempurna. Duduk bersimpuh di bawah kaki juragan yang tengah menikmati kopi luwak di atas meja kerjanya.

“A Li, juragan.” Kepalanya menunduk, memperkenalkan dirinya, membuat tanda bahwa eksistensinya sudah hadir.

Luput dari pandangan yang muda, Juragan Aheng menghidupkan senyumnya. Meletakkan cangkir kopi sisa letek kembali di lepek, menutup mulut cangkirnya rapih. Beranjak beliau, pindah dari bangku kerja menuju tempat tidur yang berderit ketika di naiki. Pandangannya sekarang lebih jelas nampak A Li yang bersimpuh di depannya.

“Gimana kerja kapal? Berat?” Tanya juragan sembari menyulut satu batang rokok yang A Li gak pernah lihat bungkusnya di warung pesisir. Pasti mahal harganya.

“Mboten, juragan. Inggih dereng terbiasa mawon.” (Tidak, juragan. Ya belum terbiasa saja.) Timpal A Li malu-malu. Berada di ruangan sempit. Hanya berdua mendengarkan deru napas satu sama lain membuat A Li mendadak dadanya sesak, gak nyaman.

Apalagi ketika Juragan Aheng menamatkan satu batang rokoknya. Lalu, beliau beranjak mensejajarkan tubuhnya sama, sederajat dengan A Li. Mengamati pemuda itu dengan intensi tak dapat terdefinisi. Melabuhkan tangan yang uratnya berkontraksi di pipi anyep milih A Li. Menjelajah pada tiap sudut kulitnya yang lain meskipun masih tertutup helai kain.

“Padahal tadi pagi saya sudah bilang kamu ndak usah toh ikut kerja sama anak-anak. Lihat kamu itu, wajah ayune, bagus e dadi lusuh. Bau wangi kamu hilang, jadi bau kecut, amis. Padahal baumu tadi pagi saya sampai melayang dibuatnya.” Dialog Juragan Aheng dideklarasikan dengan suara kecil, saking kecilnya sampai harus mendekatkan bibirnya di depan daun telinga A Li.

Empunya telinga bergidik merinding. Bulu kuduknya naik, darahnya berdesir lebih cepat menghantarkan panas yang membuat badannya mendadak anget. Hingga dua pipinya keluar semburat kemerahan.

Jemari-jemari makin tertaut, meremas satu sama lain di sela-sela selangkangan kala deru napas hangat Juragan Aheng menusuk permukaan tengkuknya. Juragan Aheng lantas menghirup napas dalam-dalam di sana, seolah menggali bau alami A Li yang mungkin masih tersisa di tengah keringat dan amis bergumul.

Badannya berjengkat kecil, atas afeksi tiba-tiba yang disalurkan tangan nakal sang juragan. Sepasang matanya menutup rapat, membiarkan pasang kacamata terbuka, menjadi saksi bisu perlakuan bejat sang juragan terhadap tubuhnya. Seluruh syarafnya kaku, otaknya melambat beku. Padahal, jemari juragan sudah sampai di atas kancing bajunya. Membuka satu persatu penuh nafsu. Mengusap permukaan dadanya yang nampak, tak tertutup kutang. Punggung terhimpit dengan besi dingin, tidak ada celah untuk lari.

“A Li..” Panggil juragan. Kepalanya pusing, suara juragan makin samar dalam pendengarannya. A Li takut, bahkan air matanya sudah tergenang di pelupuk, siap jatuh untuk mohon ampun.

“A Li.. tubuh kurus begini mana cocok kerja keras jadi anak buah kapal saya. Kulit halus, tanpa cacat begini cocok berdiri di samping saya. Jadi pendamping saya, layani saya, warisi keturunan saya, harta saya.” Demi Tuhan A Li makin dibuat pening dengan maksud juragan.

A Li hanya anak laki-laki dari keluarga miskin yang dijual bapak ke juragan untuk jadi anak buah kapal. Namun, perlakuan juragan sejak pertama kali bertemu seolah ada niat lain. Bapak berhutang kepada Abang Lim, anehnya A Li harus bekerja untuk Juragan Aheng. Kedatangan A Li dini hari tadi disambut langsung oleh Juragan Aheng, diperkenalkan kapalnya, layaknya A Li adalah pemilik selanjutnya. Juragan bilang A Li hanya perlu naik kapal dalam tiga hari, tidak perlu ikut bekerja siapkan pukat. Lantas ini, sentuhan Juragan Aheng sebebas, seolah beliau adalah pemilik A Li.

“A Li.. buka matamu!” Dagu si pemuda diangkat. Iri sekali Juragan Aheng dengan lantai besi bisa lihat wajah rupawan A Li meskipun kotor sana sini akibat kerja kasar.

A Li membuka matanya, dua bagian yang Juragan Aheng suka sejak pertama kali melihatnya. Mata sendu, bulat malu-malu. Mata yang selalu bergerak enggan menatap mata tajamnya. Juragan Aheng tau dirinya tak kalah rupawan di atas umurnya yang hampir 40. Mata polos seperti milik A Li pasti jatuh jua terpesona akan parasnya. Maka dari itu mereka selalu ingin lari. Namun di sini, di kamarnya sendiri, hanya berdua di ruangan sempit minim udara, dua bola mata A Li tertangkap bulat-bulat, terkurung dalam pandangan milik Juragan Aheng.

“A Li,” Panggil juragan. Jantung A Li berhenti dibuat suara lembutnya. Juragan bisa nampak bagaimana A Li susah susah menelan air liurnya sendiri. “Memaksa kamu menerima mani saya dalam tubuh kamu bukan cara saya buat kamu jadi milik saya. Bapakmu memang sepakat dengan saya, tetapi saya tetap beri kamu kebebasan untuk lari dari saya. Saya ingin lihat seberapa jauh kamu bisa lari dari saya. Pula saya yakin, kamu pasti kembali ke saya. Saya yakin kamu akan cari saya, inginkan saya sebesar saya inginkan kamu.”

Keluar dari ruangan neraka juragan, A Li berlari. Seperti kata juragan A Li terus berlari, sejauh mungkin menghilangkan ingatannya akan wajah juragan, suara-suara menggoda juragan yang masih menari dalam gendang telinga. Berlari, dan A Li hanya dapat berhenti hingga capai ujung buritan. Kabur tidak mungkin, menceburkan dirinya ditelan samudra adalah pilihan konyol.

A Li hanya mampu mengeratkan genggamannya pada besi di sekitarnya. Menahan guncangan emosi dalam dirinya yang tengah meledak-ledak ingin diletuskan. Mengakumulasi sebagian dalam rupa butiran air mata yang akhirnya luruh di pipinya yang merah merekah. A Li ingin teriak, mengadukan amarahnya kepada ombak yang terus pecah saat menabrak badan kapal. Seolah mereka tau bagaimana kalutnya A Li saat ini. Pada faktanya, A Li hanya sanggup menyimpan gumpalan rasa sakit dalam hatinya sendiri, membuatnya sesak, penuh, sampai napasnya hilang. Memukul dadanya sendiri berharap gumpalan itu hilang bersama aliran darah.

Maka A Li terjebak dalam kesedihan yang mungkin akan menggerogoti tubuh kurusnya. Diselimuti suara ombak, dan beralaskan langit yang bisa hilang kala malam, mengambil satu persatu mimpi dan harapan. Meninggalkan A Li sendirian, yang tersisa untuknya hanya raga.


ACT III. SASI PURNAMA. Dinginnya malam, hembus angin kencang seolah menampar wajah rupawan berkali-kali. Membuatnya tetap sadar, berada di dalam realita membingungkan. Harus di jalani, meskipun semakin dipikir membuat pening. Semakin dirasa membuat hatinya berdarah.

Jutaan cara pilihan mati, berada di kapal perikanan, terguncang badan di tengah haluan ombak samudra. A Li hanya cukup memilih satu saja. Dari yang paling sakit, mengenaskan, atau membunuh perlahan, lambat, menidurkan dirinya selama-lamanya.

Namun, suhu laut yang makin turun derajat. Angin laut yang terus menyentuh permukaan kulitnya. Menyadarkan bahwa masih ada sisa kewarasan milik A Li. Meskipun hanya secerca, sedikit saja yang membuat A Li memilih tidak tidur. Duduk di kursi tepat di atas palka, tanpa alas kaki, tanpa jaket. Hanya dirinya yang polos dengan satu lapis pakaian dan kacamata yang senantiasa bertengger di hidung bangirnya.

A Li memang belum mau mati. Hanya saja mempertahankan sisa kewarasannya membuat dirinya jadi gila. Syaraf tubuh layak surup. Padahal suhu tubuhnya menurun banyak. Bahkan telapak kaki polos yang menempel tepat di kayu palka yang berisi ton ikan segar dan es batu tak Ia rasa.

Mata sendunya tetap begitu sejak siang. Kantungnya semakin dalam sebab kurang istirahat. Air matanya telah banyak keluar, hingga betapa pedih sakit di hati mereka tak ingin keluar lagi. Hanya basah, menggenang di pelupuk, membuat bola matanya merah, hidungnya pun begitu.

Memandang kosong matanya ke laut kelam. Bergantian menatap langit legam bertabur bintang, juga bulan purnama yang hadir. Mereka seolah memanggil-panggil A Li untuk berdoa tambah giat. Menjadi penyemangat bahwa harapan hidup A Li masih ada. Mimpi-mimpinya masih tersimpan jauh di sana dan A Li harus hidup untuk menggapainya.

Namun, kala kepalanya lelah melongok ke atas dan beralih ke depan, A Li kembali pada dunianya yang mendadak kopong. Gelap di depan sana, A Li gak bisa nampak apapun selain gulita. Memberi kesempatan bagi memori untuk memutar potongan puzzle di otak. Bagaimana struktur wajah Juragan Aheng dengan berbagai ekspresi menggoda. Bagaimana beliau berbisik tentang sebuah fakta. Bagaimana wajah bapak dan ibuk hadir tersisa. Maka A Li mulai sendu kembali, menutup matanya sebelum kepalanya semakin pusing, mengambil napas dalam-dalam dan dihembuskan sekeras mungkin.

Berteman dengan malam pula sunyi, setidaknya A Li masih punya ruang sendiri. Seperti di kamarnya, kamar reot miliknya. Tetapi A Li sadar, di atas kapal ini, yang bukan miliknya, Ia tidak sendiri. Akan ada seseorang yang datang mengusik ketenangan.

Hadir dalam telinganya suara langkah. Seseorang dengan sepatu, bukan anak buah kapal, bukan pula Serang Bandar, atau para awak. Suara merdu ketukan sepatu yang beradu dengan kayu geladak, A Li hafal sekali. A Li enggan menoleh, membiarkan egoisme memakannya hidup-hidup. Habis sudah rasa sungkan, rasa hormat terhadap manusia ini.

Bahkan, hingga tersampir selimut tebal membungkus badan kurus dinginnya, A Li tetap pada pendirian. Bulan purnama hari ini lebih indah daripada biasanya yang Ia saksikan di pesisir.

Tetapi sayang, A Li berhadapan dengan Juragan Aheng. Saudagar cerdik yang habis beliau dikupas tuntas mengenai bisnis jual beli. Proses tarik-ulur, tawar-menawar menurutnya menyenangkan dan menyebalkan dalam satu prosesi. Membuat hatinya berdebar gak karuan. Kepalanya keliling tujuh putaran, memikirkan strategi apa yang akan digunakan untuk memerangkap targetnya.

“Malam ini lebih dingin dari biasanya. Hebat sekali kamu duduk termenung di sini sendiri menentang alam.” Dialog tak terjawab. Juragan Aheng hanya mampu tersenyum maklum. Berlutut dirinya, membuat tubuh jangkung sejajar dengan wajah kosong A Li yang masih dengan sengaja tak mengindahkan kehadiran juragan.

Kaki A Li disentuh, hati-hati sekali. Meskipun begitu tubuhnya bereaksi, terperanjat kecil akibat telapak tangan hangat menyentuh kulitnya yang hampir mati beku. A Li menunduk, kaget jelas melihat Juragan Aheng, pemilik kapal, pemegang kekuasaan tertinggi telah berlutut di bawah kakinya, menyentuh kaki-kaki kurusnya yang kotor.

Juragan mendongak, bertemu akhirnya dengan mata sendu paling disuka. Beliau tersenyum, semakin lebar lihat wajah bodoh A Li. Memastikan pula A Li tidak berontak pun menolak kaki-kakinya disentuh tanpa permisi. Dipakaikan kaki A Li, sepatu milik juragan jarang beliau pakai. Terlalu besar, tapi asal kaki kurus itu tidak beradu dengan dingin, juragan jadi tenang.

“Masih dua hari lagi. Di tengah laut tidak ada mantri. Jangan sakit saya nanti susah hati.” Ujar juragan sembari beranjak.

Juragan tidak pergi, melainkan duduk di samping A Li. Dibenahi sedikit, selimut yang beliau sampirkan sendiri agar maksimal fungsinya. A Li menggeliat, menggeser badannya memenuhi ruang kosong tersisa. Menghadirkan gelak tawa dari juragan yang menangkap gestur A Li menggemaskan. Juragan tidak marah, Ia mengerti betul A Li masih syok atas pernyataannya siang tadi.

Kedatangan juragan duduk di sini jelas bukan hanya untuk menggoda A Li. Membuat pemuda yang baru berusia legal semakin takut dan membencinya. Juragan mengeluarkan secarik kertas, diberikan kepada A Li dan berkata, “Pegang erat-erat, nanti terbang tertiup angin.”

Atensi A Li mulai terbeli. Kini tubuhnya memutar, menghadap juragan yang duduk di sebelahnya. Menatap secarik kertas di tangan juragan dan wajah rupawan bergantian. A Li tetap mengambilnya, tanpa ragu-ragu. Ia buka, Ia baca seksama. Mencari jawaban, kepingan terakhir untuk menyelesaikan puzzle paling susah dalam hidupnya.

“Itu surat perjanjian antara bapakmu dan Abah Lim.” Juragan bersuara, menjelaskan kepada A Li agar tidak ada salah paham lagi. “Abah Lim itu paklik saya, adiknya bapak. Saya dulu melaut di pantai selatan, sebelum usaha saya bergeser hingga pantai utara, rumahmu. Saya yakin kamu baru melihat saya.” Lanjutnya.

“Lantas napa inggih, juragan, hubungan bapak dan juragan? Napa inggih, juragan, saya dumugi dipunsade bapak dhateng juragan?” (Lantas apa, juragan, hubungan bapak dan juragan? Kenapa, juragan, saya sampai dijual bapak kepada juragan?)

“Saya dengar cerita tentang bapakmu dari Abah Lim. Pekerja paling lama ikut beliau. Rajin sekali, kata beliau anak lanangnya ingin kuliah di kota. Tapi akhir-akhir ini bapakmu salah kaprah, suka ambil jalan pintas. Waktu saya datang pertama kali di pantai utara, saya lihat bapakmu bermandi miras, terjerembab judi di gubuk pemuda. Beliau makin banyak hutang, uangnya habis sampai Abah Lim bingung beri nasehatnya. Akhir cerita hutangnya menggunung, Abah Lim ndak bisa bantu.”

“Saya bilang bisa bantu, tapi beliau bingung bagaimana kembalikan hutangnya nanti. Beliau kasih kamu dan surat itu sebagai jaminan. Beliau jual kamu untuk kerja, diperas keringatnya. Namun, ketika saya melihat kamu pertama kali, saya ndak ingin kamu bekerja layaknya anak buah kapal. Tanganmu halus, wajahmu dirawat apik, bau tubuhmu wangi, bersih, tanpa cacat, kamu nurut sekali. Tidak pantas jadi pesuruh, pantasnya duduk cantik jadi permaisuri. Saya rawat, saya manjakan, saya bahagiakan. Saya sudah jadi bujangan, lama sekali sampai hampir 40 tahun. Jika saya tidak gunakan sedikit kekuasaan, kapan saya punya pendamping?”

A Li tergugu lagi. Matanya memerah lagi, hidungnya mengeluarkan isakan kembali. Menghadapi surat di genggaman, beserta fakta yang baru saja Ia serap bak jatuh tertimpa tangga pula. Bapak yang membuatnya jadi begitu. Namun dalam pikiran A Li saat ini hanya ada rasa bersalah. Egoisme A Li yang ingin menjadi elite membuat bapak harus bekerja keras, sampai stres, dan akhirnya terjatuh dalam lubang kelam kehidupan.

Harusnya A Li sama saja dengan teman-temannya. Memupuk mimpi serendah mungkin. Sekolah, main, lulus, dan ikut kapal juragan. Bukan ambisi, dapat nilai tertinggi, sebab dia pasang mimpi jauh di atas langit. A Li harusnya sadar diri, keluarganya miskin. Bukan orang berada yang selalu punya jalan menuju angkasa. A Li hanya punya kaki, yang bisa digunakan untuk naik ke kapal. Kapal yang hanya berjalan lurus mengikuti arah ombak, berapa lama pun berputar hanya jutaan air yang Ia dapat genggam. A Li tidak punya pesawat, atau roket untuk terbang menggapai mimpinya.

“A Li..” Panggil Juragan Aheng lembut. Mengulurkan dua telapaknya, membekap pipi merah sedingin kutub utara milik A Li. Kepalanya yang tertunduk, diarahkan untuk menatap mata juragan.

“Ikutlah bersama saya! Jadi pendamping saya. Saya akan wujudkan mimpi-mimpi kamu bahkan yang tak pernah kamu mimpikan.”

Malam itu, kalimat terakhir Juragan Aheng seolah menyihir nurani dan pikiran A Li. Mencuci otaknya dari banyak memori buruk yang menerobos masuk terus menerus. Suara tulusnya seolah menjadi obat mujarab yang menyembuhkan luka di hati. Terakhir, bibir hangat sang juragan yang bersarang di dahinya, menjadi sebuah energi baru yang menguatkan tekad harapan hidup bagi A Li.


ACT IV. KALA OMBAK MENERJANG. A Li layaknya perawan terserang sihir. Tatapan kosong, isi kepala melayang tinggal melompong, kaki-kaki jalan nyelonong. Hati tidak berontak, syaraf nurut kayak orang gak punya otak.

Bercakap dengan Juragan Aheng, kewarasannya sedikit kembali menuju permukaan. Meskipun, fakta yang beliau beberkan membuat lukanya semakin dalam. Namun, kalimat reasurasi setelahnya sekilas menenangkan. Bagi si miskin seperti A Li, diiming-imingi kebesaran dunia siapa yang tak suka.

Pemuda ini baru sadar berada di luar kapal tengah malam dingin luar biasa. Jari-jari tangan sampai kaki kaku, hampir tersandung dia baru sadar kaki polosnya sudah nyaman dalam pelukan sepatu. Dan ajakan Juragan Aheng untuk ikut masuk dalam ruang istirahat dituruti tanpa syarat. A Li bahkan tak masalah, ketika jemarinya tertaut dengan milik juragan yang lebih besar. Merasakan bagaimana aliran darah hangat yang menjalar membuat miliknya ikut nyaman.

A Li kira juragan hanya mengantarnya sampai ruangan awak. Merelakan tubuh kurusnya dihimpit dengan badan bau kecut dan abab getir pula amis sebab jarang sikat gigi. Seperti sebuah janji, A Li pantas jadi permaisuri, yang harus dipuja puji layaknya dewa dewi. Maka A Li ditarik kembali, berjalan beberapa langkah hingga sampai pintu yang tadinya memulai derita.

Jantungnya amat berdebar. Kuduknya berdiri, menari-nari meskipun kepalnya menunduk lagi-lagi. Di ruangan sempit ini seolah A Li dilarang lancang melihat benda-benda pribadi juragan. Banyak dosa ketika dia menelusuri kehidupan juragan. Kamarnya hangat, ada mesin pemanas, beda sekali dengan ruangan awak yang dingin seperti palka. Tidak ada bedanya antara ruangan manusia dan penyimpanan ikan. Tubuh A Li seolah mencair, selamat dari hipotermia.

Satu badan tegap, mengkaku lagi. Kepalanya semakin tertunduk sampai hampir terbentur alas baja kala si pemuda merasakan kemeja katun mahal juragan jatuh menyentuh ujung kakinya. Menyisahkan kulit punggungnya yang dapat A Li saksikan dari ujung mata. Matanya terkatup, kala pula ujung matanya menangkap tangan berurat juragan mulai melucuti celana bahan dari pinggangnya. Menyisahkan hanya kekar polos juga celana dalam.

Juragan duduk di atas dipan, suara deritnya bikin pekak telinga. Beliau diam di sana, telanjang bulat juga telanjang pengelihatan. Juragan saat ini adalah satu persona yang berbeda. Butuh waktu tiga menit saja, dari geladak hingga anjungan. Kini beliau menatap A Li yang masih berdiri di depannya. Bukan dengan mata iba tapi dengan pandangan memuja. Dibekali senyum nakal juga birahi yang membuncah.

“Sini! Jangan takut!” Pintanya seduktif. Menepuk ruang kosong dipan yang tersisa.

A Li meneguk liurnya, entah berapa kali sudah. Beruntung memang juragan, bagus nian pilihan juragan. A Li mendekat meskipun dengan ragu-ragu, tetapi pemuda itu mendekat, duduk, nurut. Dipan kecil berderit, bersamaan dengan senyum bangga Juragan Aheng muncul. Sempit, dua pasang paha saling bersentuhan, namun juragan tak sama sekali keberatan.

Juragan memutar tubuh polosnya, menghadap A Li seluruhnya. Memberikan setiap afeksi dan tutur reasurasi bahwa malam ini mereka akan bersenang-senang dan hari esok akan merubah hidup A Li. Tangan beliau terulur, jatuh di atas puncak kepala A Li yang masih belum mau tegap. Diusap kepalanya, lalu disisir rambut A Li yang tebal, masih halus pintar pemiliknya merawat diri. Telapak besarnya bergerilya turun ke pipi, terakhir ke dagu. Diangkat, ibu jarinya bisa menggapai bibir ranum bentuk hati. Diusap belah bibir bawah, kenyal seperti jeli. Juragan Aheng semakin tak sabar mencicipi.

Juragan Aheng adalah orang baik-baik. Bukan manusia cabul minim tata krama. Ibadahnya dijamin belum pernah bolong. Tetapi beliau juga lelaki, bujang lapuk pula. Ditawari laki-laki, menawan, dan nurut begini mana bisa dia tolak. Urusan cinta biarkan Tuhan yang atur bagaimana. Urusan puas birahi, ijinkan dia berkawan dengan setan yang senantiasa membisikkan kegilaan semalam.

Dalam benak pemuda, gerakan sensual di bibirnya sangat aneh. Anomali yang mungkin tidak pernah muncul dalam mimpinya. Ibu jari asing perlahan mengusap, konstan, detik kemudian bibirnya ditekan, membuatnya menganga. A Li mangap kayak orang goblok menyambut ibu jari sebesar indukan tongkol menginvasi dalam mulutnya. Memijat gusi juga pipinya dari dalam. Menekan lidahnya menghadirkan rasa asin yang membuatnya ketagihan. Liurnya luruh, mata Juragan Aheng mengikuti tanpa berkedip bagaimana tetesan kini berhenti tepat di tengkuk A Li.

Tengkuk si pemuda ditarik mendekat. Mensejajarkan bibir yang senyumnya membuat A Li banyak terpikat. Bibir yang baru-baru ini berhasil memanipulasi satu set organ tubuh A Li sehingga pemuda itu patuh menyerahkan dirinya pada laki-laki yang akan membawanya ke awan. Dicium tengkuknya, disesap luruh air liurnya, tidak jijik, bahkan Juragan Aheng mengulurkan lidahnya, menggelitik tengkuk A Li hingga empunya bergidik geli.

Bunyi kecipak berkali-kali menjadi satu-satunya suara yang masuk dalam gendang telinga masing-masing. Sebab A Li adalah remaja malu-malu yang menyimpan suara indahnya, sekuat tenaga Ia tahan berhenti di dada. Menggigit bibirnya, membiarkan matanya merem melek akibat sensasi sentuhan.

Lantas leher A Li ditinggalkan saat kanvas polos kini sudah penuh dengan maha karya abstrak monokromatik. Juragan tegap, menatap A Li dengan dadanya yang masih naik turun. Nafas beliau berantakan, mata dikuasai nafsu kini mengunci milik A Li. Memancarkan sebuah pernyataan bahwa malam ini A Li akan menjadi miliknya dan A Li tidak bisa kabur dari sisinya.

Ujung kaus tipis A Li diremat hingga tak berbentuk. Seolah juragan meminta ijin untuk membukanya, mengenal A Li sampai akar. A Li bergeming polos, jatuh sudah dia tercebur dalam iris legam milik juragan yang tak berkedip menatap dirinya. Pelan-pelan, menahan nafsu juragan melucuti kaus belel A Li, menyajikan Juragan Aheng tubuh polos tanpa cacat.

Juragan mendorong A Li, hati-hati sekali. Dikelabui setan begini, juragan masih menyisakan sedikit akal nurani. Menegakkan prinsip bahwa yang berada di bawah kungkungannya kini bukan sekedar pelacur yang cuma mau dipuaskan. Di bawahnya kini bukan lonte yang jago dalam urusan ranjang. A Li adalah calon pendampingnya. Seseorang yang akan dia rawat sepenuh hati, seseorang yang mungkin suatu saat bisa dia cintai.

“A Li cantikku, manisku..” Tutur Juragan Aheng kala menyaksikan A Li terlentang dalam pandunya. Mata bulat sendu yang menatap polos. Tubuh tanpa cacat yang mulai diselimuti keringat. Kalau malam masih amat panjang, Juragan Aheng akan membacakan seluruh kata-kata pujian untuk memuja paras A Li saat itu juga.

“Boleh mas cium bibir indahmu?”

Maka detik itu juga dunia A Li hancur lebur. Kurus badan itu menggeliat akan sentuhan. Tak menolak kala bibir bentuk hati dikecup lamat, ditekan nikmat, dicumbu maha dasyat. A Li bukan ahli maksiat, namun naluri hasrat menyeretnya untuk menjadi liar gak karuan. Naluri muda mudi yang tak akan pernah bisa diartikan dalam semua bahasa. Bagaimana tangan A Li terangkat, bergelung manja mengapit leher juragan. Hilang warasnya sebab bisa-bisanya Ia menekan tengkuk juragan tanpa permisi, seolah juragan adalah makan malamnya hari ini.

Jemari liar juragan tak pernah diam. Bukan menghitung nilai uang tapi memelintir puting yang lebih berharga daripada berlian. Menarik gemas hingga tegang empunya. Mencoba memacu desah indah yang beliau belum dengar suaranya. Lepas juga tautan, menyisahkan benang panjang persatuan. Juragan turun, mencumbu tiap detail lekuk tubuh yang diciptakan sempurna dari Tuhan yang sedang bahagia.

UUUHHHHMM... AHHHHH...

Lidah menjulur, menyapa pucuk gundukan yang mengaktifkan suara bangsat. Patah pula prinsip laki-laki saudagar terjerembab dalam laknat. Juragan menggigit nakal pentil A Li, dibalas gestur menggeliat yang terlihat seperti ajakan untuk dicumbu. Suhu hangat dalam ruangan sempit tidak membantu, keringat banyak turun bergumul jadi satu.

Tegang bukan main ketika Juragan Aheng sampai pada tubuh inti. Diperhatikan sejenak bentuknya tanpa berkedip. Miliknya juga sama, ngaceng hebat di bawah sana. Tak perlu disentuh siapa-siapa. Hanya melihat tubuh telanjang A Li yang sebentar lagi akan disetubuhi.

Juragan meraba, dari pangkal hingga ujungnya. Memunculkan suara desisan yang menjadi melodi penyemangat. Juragan pula menggenggam batang kontol tegang. mengusap jahil kepalanya yang memancar merah muda. Sudah basah, banyak cairan keluar dari lubang kecil yang kini disapa dengan papila. Rasanya khas, dikecap nikmat tanpa jijik juragan. A Li sampai mematung, pipinya merah merona. Terlentang di antara dunia dan neraka sebab surga tidak menerima manusia penuh nafsu bangsat seperti dirinya.

A Li hanya mampu berpegang erat dengan kain yang menjadi alasnya bersetubuh. Meremasnya kasar melampiaskan tiap getaran aneh yang baru Ia rasakan tatkala disentuh juragan. A Li memekik tatkala syarafnya merasakan adanya sengatan listrik akibat ulah lidah brengsek juragan yang menari membasahi lubang senggama sang pemuda.

Berkedut dia, memanggil-panggil yang seharusnya menyapa Ia. Juragan beranjak, sejajar kembali dua pasang matanya dengan juragan. “Mas masuk boleh?” Bisiknya. A Li beruntung sebab masih bisa mendengar meskipun kewarasan telah diambil alih setan.

A Li mengangguk, yakin sekali, tanpa ragu. Karena setelah apa yang terjadi malam ini pun tidak ada yang akan mengambilnya lebih dari ini. A Li tidak punya harta untuk ditukar, tidak punya keterampilan untuk diperas, A Li hanya punya dirinya sendiri. Hatinya sakit karena juragan, maka juraganlah yang harus bertanggung jawab. Menjadi obat penawar yang akan menyembuhkan utuh sosoknya.

Jika juragan mampu memberikan segalanya untuk A Li. Jika juragan berjanji akan menghidupkan mimpi-mimpinya. Maka A Li akan serahkan sisa hidupnya mengabdi pada juragan.

Meskipun A Li harus memekik kesakitan saat kontol biadab Juragan Aheng mencoba menerobos sisa harga diri yang Ia jaga. Meskipun A Li harus tersedu saat digenjot tanpa tata krama, mengorbankan tetes darah senggama. Meskipun A Li harus pasrah membuka kakinya saat juragan mendorong tubuh mereka dalam kesatuan tanpa celah. Meskipun A Li harus mendesah antara nikmat dan derita dihajar tanpa punya belas kasih.

AHHHHH.. HHMMNN.. SHHH.. AHHH.

“Ju- jura.. gan.. ssa...kit..”

“Am..pun.. ju.. ju-juragan.”

Pintanya pasrah. Pun begitu A Li kadang menganga membiarkan juragan menginvasi mulutnya, memerangi lidahnya, menggigit daerah kekuasaannya. A Li hilang arah, sebab semakin panjang malam tubuhnya semakin panas. Lubang senggamanya seakan menikmati tiap dorongan. Juragan Aheng gila, dan beliau menambatkan kontolnya, membawa A Li pula menari-nari di atas api neraka kekal.

Menghujani A Li dengan jutaan kalimat bualan, memastikan A Li tetap bersamanya. Meskipun birahi sudah mencapai puncak, hingga tubuh lengketnya bangun dari kematian. Lengan-lengan berurat semakin mencuat, menggenggam pinggang A Li rapat. Menggerakkan pinggulnya semakin hebat. Memompa sesuatu yang meronta ingin keluar dari lubang kecil diujung penis yang tertanam di lubang senggama.

Beliau meraung, kepalanya menengadah ke atas. Memamerkan suara dominan, jumawa terhadap langit semesta bahwa malam ini adalah puncak pesta kemenangannya. Dan luruhnya cairan putih yang disebut pejuh dalam lubang A Li, diikuti getaran kenikmatan dan desahan penuh kelegaan, menjadi penutup malam sebelum matahari terbit dari peraduan.


ACT V. ARAH JALAN PULANG. Burung camar terbang di atas Bahari Sejahtera. Seperti pengawal kendaraan kerajaan. Mesin kapal berdengung memecah satu persatu ombak yang datang menghadang. Tak membiarkan adanya penghalang kapal yang bergerak menuju arah pulang.

Sinar matahari sore memancar. Semburat jingga menyelimuti langit. Udara berhembus kencang meskipun intensitasnya mulai berkurang kala mata memandang sudah nampak dermaga pelabuhan.

Tiga hari sudah hidup mengadu pada lautan. Mengumpulkan ton ikan-ikan. Pula mengungkap cerita rumit yang berakhir dengan jeritan. Patut bersyukur pada Tuhan, bahwa A Li masih hidup bertahan.

Pemuda kini berdiri di haluan. Bersandar lengannya pada besi yang agak karatan. Menatap di depannya yang mulai nampak daratan. Ingin menjadi yang pertama untuk berlari menuju peraduan.

Akhirnya dia bisa pulang. Menjemput serpihan akhir yang hilang. Kini akhirnya A Li punya kesempatan untuk bertemu bapak dan ibuk, menagih keseluruhan cerita, menepis salah paham, dan mungkin setelah ini hidupnya akan lebih baik daripada sebelumnya.

A Li masih berdiri di haluan. Mengisi memorinya yang sempat melayang dengan pemandangan matahari terbenam. Menyibukkan dirinya dengan menghitung detik-detik matahari mulai hilang dari pandangan. Tak peduli kawan-kawan tengah sibuk bersiap menurunkan muatan. A Li hanya ingin pulang.

Sedangkan juragan berdiri di anjungan. Sejajar dengan A Li di bawah sana. Memperhatikan pemuda yang kini menjadi miliknya. Menghidupkan satu batang cerutu tanpa memalingkan satu detik pun pandangnya dari A Li. Seolah takut A Li punya pikiran konyol di detik terakhir mereka akan sampai daratan.

Juragan Aheng bisa saja mendekat, tanpa rasa malu menjadi bincang-bincang hangat. Toh suara desahannya juga siapapun bisa dengar. Lantunan persetubuhannya dengan A Li memang sengaja dia sebarkan, memberi tanda A Li tidak boleh diganggu, dipegang, atau dimiliki siapapun. Namun, Juragan Aheng tau A Li butuh waktu sendiri. Menjernihkan otak ruwet berisi bobrok rumah tangga juga kontol besar yang memenuhi senggama semalam suntuk.

Kapal sandar dengan selamat selama kurang lebih 1 jam harus berputar menunggu slot parkiran. Hari sudah hampir gelap ketika muatan terakhir telah diturunkan. A Li kini beranjak, membuang napas terakhirnya di atas Bahari Sejahtera. Menuju pintu geladak yang sudah terpasang papan, siap turun menapak pasir pantai yang Ia rindukan.

Dua langkah terakhir, A Li berhenti sejenak. Menunggu di bawah sudah Juragan Aheng mengulurkan tangan panjang. A Li tersenyum di bawah sinar matahari yang tinggal sedikit lagi benar-benar hilang. Buat hati sang juragan menghangat sebab ini pertama kali senyum tulus A Li diberikan hanya untuknya.

A Li menerima uluran telapak tangan Juragan Aheng yang tidak pernah dingin. Menggamit lengannya kala kakinya telah seluruhnya jatuh di atas pasir. Juragan Aheng pamit, menitipkan bisnisnya sebentar pada Serang Bandar yang sibuk berniaga dengan pengepul yang datang berkerumun. Menghantarkan A Li pulang pada orang tuanya, menyelesaikan masalah hingga selesai sampai akarnya. Sebelum, A Li resmi menjadi miliknya.

Tibalah A Li sampai depan rumah. Gubuk tempatnya lahir aneh. Lampunya padam, pintunya tertutup depan belakang. Tidak ada cahaya, tidak ada uap yang mengepul dari arah dapur, temboknya dingin, lantainya kotor. A Li mendekat, meninggalkan juragan yang memilih bergeming membiarkan A Li bernostalgia dengan tanah kelahiran. Namun, selama apapun A Li mengetuk pintunya, seberapa kencang A Li berteriak memanggil penghuninya, tetap kehampaan yang menjawab.

“A Li, leh!” Sosok ibu, rumahnya tepat beberapa meter di samping rumah. Beliau berlari cepat-cepat. Terengah-engah tatkala berhasil sejajar dengan A Li sebelum berbicara, “Akhirnya kamu pulang juga. Ini, ibuk nyuruh budhe antar ini kalau kamu kembali dari melaut.” Finalnya.

Sebuah surat, sudah lusuh. A Li baca di tempat, hati-hati sekali. Mencerna satu persatu kata yang ditulis sedikit berantakan, sebab ibuk sama bapak tidak ada yang lulus sekolah dasar. Namun A Li sangat paham apa yang coba mereka utarakan, rasakan, dan keputusan apa yang mereka akhirnya lakukan.

A Li berbalik, menatap Juragan Aheng yang senantiasa berdiri menunggunya di bawah lampu jalan. Satu-satunya cahaya yang menyinari rumahnya selain rembulan. Menarik A Li berjalan kembali menuju dekap pelukan dadanya yang bidang.

Ibuk dan bapak pergi, meninggalkan A Li sendiri. Ibuk dan bapak ingkar janji, bukan mau dirikan kios ikan asin tetapi melarikan diri. Ibuk dan bapak berhenti bertanggung jawab terhadap A Li.

“Tega bapak ibuk sama saya, mas. Saya ditinggal sendirian, tidak punya rumah untuk pulang.” Adunya disela tangis.

Juragan mengusap punggung A Li yang bergetar, merapatkan bahunya, mendekap tubuh kurus A Li semakin dalam. “Kamu tidak sendiri, kan ada mas. Kamu bukan tunawisma, kan ada mas.”

Dihapus air mata A Li menyisakan isakan lucu. Dicubit pelan pipinya oleh juragan hingga semburat merah muncul menggemaskan.

“Sudah jangan menangis. Biarkan mas yang bikin kamu tersenyum. Biarkan mas yang bantu wujudkan cita-cita kamu. Biarkan mas yang jadi rumah kamu, tempat kamu pulang.”

Assalamualaikum, A Li.

Bersama surat yang ibuk tulis, bapak dan ibuk haturkan banyak kata maaf kepada A Li, anakku tersayang. Maafkan kami berdua yang dosa ini telah memilih menelantarkan, lepas tanggung jawab. Maafkan ibuk bapak yang memilih mundur dan ingkar terhadap janji untuk penuhi cita-cita. Kami titipkan A Li pada saudagar yang mampu membahagiakan kamu. Biarkan ibuk dan bapak menanggung semua dosanya. Semoga A Li senantiasa dilindungi Allah dan para pemujanya.

Bapak & Ibuk.


`hjkscripts.


cast : Euro as Yuro Son Yuke as Son van Yuken Peter Deriy as Putra

TRIGGER WARNING ; HARSH WORDS, WORDS DEGRADING, SEXUAL CONTENT 🔞

Apartemen rusuh, genteng usang, kayu lapuk, bertebaran debu. Belakang tembok bantaran sungai, tempat warga buang sampah sampai dibuat mampet. Tempat anak kecil adu menyelam bersama mani dan hajat. Bersebrangan dengan rel kereta yang suara deru roda dan lonceng uap bikin pekak semalaman.

Tangga-tangga lawas dari seng yang bolong, entah siapa yang peduli. Temboknya tertutup semen murahan yang habis dibeberapa sisi terkikis jaman. Nampak batu-bata, beberapa hilang diambil penghuni yang butuh ganjal pintu unitnya yang juga sengkleh. Lubangnya cukup untuk tempat sembunyi balita yang suka kabur dari emak yang bawa piring isi nasi dan kuah bakso.

Sudah tidak ada yang bisa tolong apartemen dengan umur bangunan hampir 30 tahun. Rongsokan begini, penghuninya penuh, rukun. Ada yang datang masih culun, gak ngerti tata adab kota besar. Tapi sekarang sudah gendong anak dua. Semua macam manusia ada, semua pejuang rupiah dari kalangan bawah yang uang digitnya gak pernah lebih dari seratus ribu perhari.

Cuma apartemen ini yang bisa nolong badan capek dari shift malam panjang. Cuma apartemen ini yang sedia dibayar lima ratus ribu per bulan. Cuma apartemen ini yang boleh dibayar nunggak, soalnya bisa tiap hari rentenir mampir buat nagih materi ke para penghuni. Cuma apartemen ini, meskipun asal usul absah surat bangunan dipertanyakan. Peduli setan, buktinya sudah puluhan tahun mereka hidup dengan nyaman.

Dok! Dok! Dok!

“Ro! Yuro! Iki aku, Putra!” (Ro! Yuro! Ini aku, Putra!)

Sudah siang, lewat adzan dzuhur. Masjid kampung seberang sungai belum selesai baca doa setelah adzan. Laki-laki jangkung, pakai kutang, celana jeans pendek, sobek-sobek alami karena saking sering dia pakai. Dia lari dari lorong tangga ke unit paling ujung. Suara sandal jepitnya menggema satu lantai saking tipisnya tembok yang terbuat dari triplek untuk sekat.

Berisik, tangan beratnya gak berhenti gedor-gedor pintu kayu tipis. Panik sampai gak peduli ada mbak-mbak cantik, pakai setelan seksi keluar dari balik pintunya sendiri. Baru pulang si mbak dari kerja malam. Matanya masih setengah terpejam, garuk-garuk lehernya sampai merah, marah juga sama kelakuan tetangga sebelah.

“Mas, mbok biasa ae lek ndodok pintu. Aku iku ngantuk, butuh turu!” (Mas, tolong biasa aja kalau ketuk pintu. Aku ini ngantuk, butuh tidur!) Teriaknya geram. Wajah ngantuknya gak bisa nutupi kalau dia juga marah.

“Gak isok, Mbak Devi! Iki penting! Wes sampean lek turu yo turu! Ojok ngurusi aku!” (Gak bisa, Mbak Devi! Ini penting! Sudah, kamu kalau mau tidur ya tidur! Jangan urusi aku!) Putra, nama lelaki jangkung menjawab. Sama pakai suara tinggi, sebab dia sama gak sabarnya, sama sebalnya karena sohib yang dia panggil gak segera menjawab panggilannya.

“Ohh, asu!” (Ohh, anjing!) Mbak Devi menggerutu, kakinya nyentak tanah sampai tali lingerie murahnya turun dari bahu, keliatan separuh payudara yang dari tadi ikut naik turun. Sebelum, dia pasrah dan nutup pintu sembari dibanting keras.

“Lonte.” Gumam Putra kecil. Padahal matanya hampir ngelantur liat buah dada yang dikit lagi utuh bulat. Tapi, prinsipnya masih teguh. Dia datang, lari-lari dari lantai bawah ke lantai 5 buat sampaikan pesan penting. Desas-desus warga yang suara napasnya saja terdengar dari balik pintu kamar mandi pas dia lagi setor harian.

“Ro! Asu! Sek turu jancok iki!” (Ro! Anjing! Masih tidur bajingan ini!) Teriaknya sekali lagi sebelum pintu yang suara deritnya bikin sakit telinga terbuka.

Empunya setengah bugil, matanya sipit khas baru bangun tidur. Ditambah reflek nguap di depan muka temannya, minim adab, hilang sopan santun. Empunya sama, laki-laki muda, gak terlalu pendek, juga gak jangkung seperti Putra, tapi badannya bongsor, otot-otot yang bersemayam dibalik kulit sawo matang membuat lelaki ini sering dilirik penghuni apartemen, apalagi kumis tipis yang memang dia berdayakan, dia cukur biar gak seberapa lebat, menambah daya tariknya.

Putra mengerlingkan matanya, udah males lihat kebiasaan kawannya yang wajib bangun di atas jam 12 siang. Ya siapa suruh jadi orang sok jagoan, minta semua jam shift malam di minimarket stasiun yang buka 24 jam dia yang handle. Yuro, panggilan lelaki belel ini hidupnya sudah menyatu sama kalong, pagi tidur, malam ngeluyur.

Unit punya Yuro ini awalnya gudang. Tipe ruangannya paling kecil, gak ada dapur pribadi. Kamar mandi saja baru dibuatkan sederhana waktu Yuro datang 5 tahun yang lalu. Ventilasi udara minim, jendela boleh dapat dari bobol triplek, diakali pakai sekat kayu sisa, ditutupi kain seadanya. Gak ada kaca, tapi siapa juga yang iseng mau masuk ke kamar Yuro.

Pengap, bau kecut, sisanya campuran dari debu dan sisa makanan, agak pesing juga. Tapi, Putra udah biasa. Bau penghuni di apartemen ini dasarnya sama, bau apek, bau keringat, bau orang-orang susah. Tinggal gimana satu persatu individu berusaha nutupi pakai parfum yang katanya dupe punya pramugari-pramugara Garuda. Pada akhirnya, pulang dari cari nafkah balik ke setelan semula, soalnya cuma parfum harga 30 ribu, gak tahan seharian.

Laki-laki jangkung itu duduk semaunya sendiri, kaki kotornya ikut naik di atas sofa lapuk, satu-satunya barang inventaris apartemen yang gak dibuang waktu gudang dirombak. Diikuti Yuro yang sudah pakai baju lekbong, nemu di lantai. Lelaki itu minum sebentar buat basahi tenggorokannya yang kering kerontang. Terus dia ikutan duduk di kursi kayu buatannya sendiri, gak lupa buat sulut satu batang rokok, dihembuskan napasnya kasar, dibuang tinggi-tinggi asapnya sampai langit-langit.

“Awakmu rene kayak wong gendeng butuh opo?” (Kamu kesini kayak orang gila butuh apa?) Yuro bertanya kepada Putra yang sudah separuh tiduran di sofa sambil petik gitar.

“Apartemen ini mau digusur. Pihak KAI minta tanahnya buat bikin ituloh, jalannya kereta nanti ada dua arah.” Jelasnya pakai nada gusar, sama seperti suara petikan gitar yang nadanya dibuat sesedih mungkin.

“Krungu tekan sopo kon?” (Dengar dari siapa kamu?)

Gitar ditaruh, badan Putra terangkat jadi duduk kembali. Serius dia, hidup dan matinya ini. “Iku awakmu mudun deloken dewe! Ada surat pemberitahuan dari KAI di tempel ndek tembok depan!” (Itu kamu turun lihat sendiri! Ada surat pemberitahuan dari KAI di tempel di tembok depan!) Sahutnya dengan napas memburu, mimik mukanya makin merah tanda dia sebal bukan main.

“Juragan?” Tanya Yuro. Putra menggeleng lemah.

“Belum kelihatan orangnya. Mangkanya aku kesini ini mau minta tolong ke kamu toh, Ro. Kamu kan kenal sama juragan. Tolong tanya gimana solusinya. Kita ini manusia-manusia susah semua. Gak punya tempat tinggal lagi selain apartemen ini. Bertahun-tahun, ngadunya ya di sini.”

Yuro gak jawab, melainkan mematikan putung rokoknya yang sudah di batas ujung. Lalu, tanpa pikir dua kali dia sulut satu batang yang lain.

Juragan yang disebut Putra ini panggilan dari penghuni kepada laki-laki hampir setengah abad, pemilik apartemen. Lelaki dewasa kaya yang sepertinya sudah enggan membawa sepatu puluhan juta menginjakkan kakinya di tanah kumuh. Lelaki yang mungkin sudah tidak peduli akan keadaan apartemen, berapa penghuninya, berapa penghasilan biaya sewa. Namun, bagi penghuni yang belum bertemu secara langsung degan Juragan, dia adalah dewa penyelamat.

Satu kali Yuro bertatap langsung dengan Juragan, yang mana tidak semua penghuni seberuntung dia. Kala itu Yuro baru datang dari kabupaten, pertama kali jadi anak rantau. Jauh-jauh ke Surabaya cuma demi bekerja di minimarket yang mungkin di kabupatennya ada. Tapi kata ibuk, namanya rezeki memang gak tau datang darimana, harus dikejar.

Yuro capek, bajunya basah dari keringat, hawa kota metropolitan gak mendukung meskipun sayup-sayup remaja masjid mulai ngaji hampir menginjak maghrib. Remaja yang dulu kurus hampir pingsan karena lelah juga lapar. Kayak film-film romansa, di penghujung kepalanya yang mendadak pening, juga mandi keringat dingin, dia nabrak paruh baya yang lagi hisap rokok linting.

Lokasinya di depan rumah makan khas nusantara besar. Tempatnya disewa untuk acara yang gak tau tujuannya apa. Singkat cerita Yuro ditolong sama lelaki dengan setelan jas, kalau di film-film hollywood, yang seperti itu tugasnya kalau gak bodyguard ya agen rahasia. Yuro dikasih minum, dikasih rokok yang bikin semangatnya kembali bugar. Layaknya hubungan laki-laki dengan sesamanya, Yuro cerita banyak. Lagi cari tempat tinggal buat tunjang hidupnya yang baru dimulai kembali.

Dipertemukan mereka, kayak nganten yang baru naik pelaminan. Yuro diantar ketemu Juragan. Masuk ke dalam pesta dengan pakaian kusut juga muka kumuh. Sampailah dia dengan suatu persetujuan, gak perlu adegan drama, gak perlu syarat, gak perlu jual diri. Yuro dapat sisa ruangan di apartemen lawas, mana kebetulan dekat dengan tempat kerjanya.

Satu kali, dan Putra menganggap pertemuan tidak sengaja dengan Juragan adalah sebuah kedekatan yang patut disyukuri.

[Kula nuwun, Juragan. Sugeng siang, kula menika Yuro.]

[(Permisi, Juragan. Selamat siang, ini Yuro.)]


Pagi ini cerah, hari Sabtu pula. Yuro rela buka mata dari shift malamnya, gak tidur demi kehidupannya bisa berlangsung. Siapa yang sangka, Putra saya terkaget menganga. Nomor Juragan yang Yuro simpan bertahun-tahun di gawai jadulnya menuai jawab dan harap. Juragan ingat Yuro entah bagaimana memori lelaki berumur itu bekerja. Yuro diundang datang kediaman Juragan.

Lima tahun bagi Yuro, baru kali ini matanya lihat luas Kota Surabaya yang katanya orang indah. Tau sendiri dia bentuk bunga tabebuya yang bisa tumbuh di bulan tertentu. Jalannya rapih, gedungnya elit juga tinggi, lingkungannya bersih, gak seperti daerah apartemen yang dia lihat. Injak tai kucing termasuk beruntung daripada injak tai manusia. Sayangnya Yuro gak ada waktu kayak anak muda skena yang hobinya nongkrong-nongkrong minum kopi dari pagi buta. Hidup Yuro isinya ya kerja malam, tidur siang buat hemat pengeluaran makan. Biar cukup hidupi ibuk di kabupaten.

Sudah sepuluh menit lamanya Yuro berdiri di depan pagar besi tinggi. Sudah sepuluh menit juga Yuro sampai di kediaman Juragan, namun dia belum siap masuk. Memilih sulut satu batang rokok dulu, dia habiskan, buang putungnya sembarangan, sebelum dia panggil satpam dan dipersilahkan masuk.

Rumah Juragan kelewatan apik, bangunan masih asli bekas milik kompeni dari jaman Belanda. Kokoh, kuat, tahan banting, sama seperti pemiliknya, Juragan Son van Yuken. Hampir 50 tahun, tubuhnya gagah, dadanya bidang, rambutnya lebat ditata klimis pakai belah kanan, lengkap dengan kulitnya yang pucat khas turunan londo. Yang kurang cuma kakinya, harus sangga pakai tongkat. Tongkatnya juga gak mungkin biasa, dasarnya jati, pernis mulus, ujung pegangannya pakai muncung burung rangkong Kalimantan, asli. Entah bagaimana cara beliau dapat. Kedatangan Yuro menghadap tuan bukan mau jadi KPK, melainkan tamu yang minta belas kasihan.

Rumah sebesar ini, bikin Yuro celingak-celinguk. Merasa gak pantes sama dandannya yang kayak mau datang wawancara kerja. Padahal ya kemejanya sudah minta di setrika sama Mbak Devi, tapi tetep gak bisa menutupi aura susah yang sudah jadi akar hidupnya. Semakin ke dalam Yuro semakin penasaran, rumah sebesar ini isinya cuma suara napas sama debar jantungnya yang berantakan. Gak ada suara wanita atau anak kecil lagi lari-lari bahagia. Yuro dihadapkan sama ruang tamu, ada sofa hadap televisi, juga satu sofa yang beda sendiri. Letaknya membelakangi lukisan besar gambar lelaki yang menyerupai pemilik rumah.

Yuro mendadak kagok, dua tangannya menangkup, menempel di depan pahanya. “Juragan, sugeng enjing. Kula menika Yuro, ingkang menyurati Juragan saking ndalu.” (Juragan, selamat pagi. Ini saya Yuro, yang menghubungi Juragan semalam.)

Juragan Yuken tersenyum. Senyum yang melintas dari memori jauh milik Yuro. Senyum wibawa, sanggup tanpa nampak gigi satupun, menambah kesan bijaksana dan betapa baik juragan satu ini. Senyum yang Yuro ingat, Ia dapatkan lima tahun lalu, kala pertama kali mereka saling adu tatap.

“Juragan..” Juragan terkekeh geli sembari melepas cerutu mahal yang habis dihisap.

“Nggih. Ngapunten Juragan Yuken.” (Iya, mohon maaf Juragan Yuken.)

“Ada apa kamu kemari? Siapa namamu? Sudah lama toh? Masih simpan nomor saya? Tapi saya ini ingatannya luas. Ingat saya sama kamu itu.”

Yuro diam begitu lama, gugup juga dia yang badannya berotot kayak preman. Berdiri tegap, kepalanya lebih sering menunduk, menghitung berapa luas satu lantai keramik rumah Belanda itu. Tidak berani langsung bersitatap dengan Juragan Yuken yang kini perhatian penuh sama pemuda lusuh dari kursi kebesarannya.

“Ngapunten, Juragan. Kulanipun mriki kagungan maksud mundhutaken priksa sabab penggusuran apartemen dening KAI. Leres napa mboten, nggih? Penghunipun menika resah mangke mboten kagungan dalem malih.” (Mohon maaf, Juragan. Saya kesini punya maksud menanyakan perihal penggusuran apartemen oleh KAI. Benar atau tidak, ya? Para penghuni jadi resah nanti tidak punya rumah lagi.) Jelas Yuro panjang lebar, sehalus mungkin, sehati-hati mungkin dari pemilihan bahasa yang diambil. Takut salah, takut menyinggung Juragan Yuken yang sangat beradab dan penuh tata krama.

Bukan jawaban, melainkan Juragan Yuken mengambil tongkatnya lalu berdiri. Berdendang begitu lantai berketuk dengan tongkat dan sepatu kulit buaya. Hingga mata Yuro yang menunduk dapat melihat kilau sepatu pantofel milik Juragan sampai di depan sepatu ala kadarnya.

Juragan Yuken mengangkat tongkatnya, membiarkan tubuhnya ditopang dengan dua kakinya saja. Dingin rasanya kala ujung muncung rangkong Kalimantan tiba mengambil dagu Yuro yang jatuh di lantai. Diangkat dia, hingga wajahnya sejajar dengan milik Juragan, agak menengadah sedikit sebab tinggi Juragan Yuken. Meninggalkan hanya kastanya saja yang berbeda jauh.

Senyum itu kembali lagi, kali ini tepat pandangan manik mata Yuro menangkap tiap detik bibir itu diangkat dengan sengaja. Ada ribuan wibawa, namun dari dekat begini membuat manik Yuro bergetar sebab dicecar dengan satu gestur angkuh yang ikut menguar.

“Saya sudah ndak peduli apartemen itu lagi, kalau mereka mau, kenapa saya harus halangi?” Titahnya dengan suara halus, pelan, namun menekan. Dagu Yuro dilepas dari muncung rangkong Kalimantan, membiarkannya kembali jatuh menatap bumi.

“Nyuwun Ngapunten, Juragan Yuken. Kami butuh tempat tinggal, saya butuh tempat tinggal.” Yuro memohon takut-takut.

“Kalau itu saya ndak peduli toh. Saya ini tuan tanah, pebisnis. Saya bukan dermawan atau pengurus panti sosial.”

Hening, Yuro kalah telak dalam lomba adu argumen. Kali ini pribumi kalah dilindas. Memang bisa apa orang miskin seperti dirinya dihadapan si tuan tanah yang dipuja-puji pejabat. Tanah itu jelas ilegal, sebuah fakta tak terelakkan kalau pemilik mau ambil, harusnya mereka-mereka yang menumpang pasrah dihempaskan jua.

Detik-detik berlangsung, Yuro hanya tinggal menunggu waktu suara tegas Juragan Yuken yang memerintahkan si rakyat jelata dibawa keluar oleh pengawal. Namun, hingga menit berlalu tidak terjadi apa-apa. Yuro tak berani melihat ke depan. Dimana Juragan Yuken masih setia berdiri dihadapannya, jarak 10 meter saja.

Juragan Yuken asik sekali, menggerakkan bola matanya dari atas ke bawah, dari ujung kaki, hingga helai rambut milik Yuro. Juragan Yuken suka sekali dengan manusia-manusia seperti Yuro. Baunya menyenangkan, dia sudah cium dari si pemuda masih di depan pagar rumah besarnya. Pemuda lugu, dengan tatapan pasrah, yang dibenaknya cuma tau minta-minta, dikasihani tuan. Juragan Yuken suka menolong, tetapi beliau bukan Tuhan yang hanya butuh dibalas doa-doa pujian terhadap namanya.

“Saya tau kalian semua butuh tempat tinggal, namun masalahnya hanya satu. Rumah saya hanya sisa satu kamar. Kalau hanya kamu, saya sanggup jadi Tuhan Maha Penolong.” Kata Juragan Yuken. Matanya masih sama, berbinar semakin cerah menatap lelaki di hadapannya yang dia tau gestur sedikit rileks.

“Tapi ya saya sama seperti Gusti Pangeran yang butuh imbal balik. Sanggup kamu beri kepada saya?”

Yang Yuro tau hanya dia yang tidak menolak pula tidak mengiyakan. Yang Yuro tau jantungnya berdegup berantakan, darahnya berdesir hebat melewati nadi-nadinya yang mencuat. Yang Yuro sadar bahwa hatinya ternyata sudah punya pilihan. Yang Yuro sadar otaknya mulai patuh terhadap pilihan hatinya. Dan Yuro tau juga sadar bahwa tubuhnya bergerak mengikuti Juragan Yuken yang berjalan sembari mengetuk-ketuk tongkat seirama dengan detak jantungnya, menuju semakin dalam rumah bangunan Belanda. Seperti mangsa bodoh yang masuk dalam kandang harimau secara sukarela.


Yuro dibawa ke ruangan, kamar lebih tepatnya. Namun kecil, luasnya hampir sama dengan seluruh bagian apartemen miliknya. Gelap, minim cahaya. Bau debu terhempas masuk dalam indra penciuman Yuro yang tidak terganggu sama sekali. Sudah biasa, malah lebih parah unit apartemennya daripada kamar kecil ini.

Juragan Yuken meraih saklar lampu. Bukan putih terang yang memancar, tetapi kuning remang. Mirip sama suasana rumahnya di kabupaten waktu malam. Ruangan kecil ini hanya dihiasi satu bohlam, membuat matanya mengerjap, membantu pupilnya menyesuaikan cahaya yang masuk. Meskipun kecil, kamar ini dihiasi perabotan serba jati, bukan seperti miliknya, kayu lapuk. Dipannya juga ditutupi kelambu, kainnya halus tidak ada lubang.

Ada bau wangi menyengat menganggu hidung Yuro, tatkala Juragan Yuken selesai mematikan pemantik api di atas dupa dikelilingi kembang tujuh rupa yang telah menyala. Sangat tradisional, kalau di kabupaten, pejabat kaya raya seperti Juragan Yuken sudah pasti dipercaya memelihara Gundik, istri tak kasat mata yang mampu berikan dia harta dan tahta.

Yuro baru sadar dan menyesal. Kamar kosong pula bersih terawat, dupa juga kembang tujuh rupa, harta dan tahta yang entah datang darimana.

Apakah ini yang dimaksud imbal balik, dengan nyawa, sebagai tumbal?

Juragan Yuken melempar tongkat kebanggaannya. Memasukkan tangannya pada dua saku celana satin jatuh yang membuat kakinya semakin nampak jenjang. Dia berjalan, mendekati Yuro yang mematung ketakutan. Tegap, tidak gontai, menjelaskan bahwa tongkat muncung rangkong Kalimantan itu hanya sebagai hiasan kewibawaan, penanda bahwa dia adalah sang penguasa. Baik di luar sana, apalagi di dalam kamar temaram hanya berisi dua insan yang napasnya mulai tak beraturan.

Merinding bulu kuduk Yuro, badannya sampai terjengkat kala pundaknya disentuh oleh jemari hangat milik sang Juragan. Bersemayam mereka, berkelana menjajaki leher hingga tengkuk menggoda lawan. Yuro terpaku, seperti boneka mainan. Bibir bungkam, mata terpejam, kaki tangan seolah dijerat sehingga dia tidak bisa melawan.

Ada alasan mengapa Yuro seperti manusia lumpuh. Pertama, sabuk isi belati Juragan Yuken yang masih menggantung di pinggang tuan. Kedua, dekorasi kamar yang berhias celurit dan selaras seolah mengancam nyawanya. Terakhir, rasa penasaran miliknya sendiri.

Juragan Yuken berhenti tepat di belakang punggung tegang Yuro. Meletakkan dagunya tepat di pundaknya yang kokoh terlatih. Juragan Yuken suka aroma pemuda ini. Aroma keringat ketakutan, bercampur dengan jejak asap tembakau murahan yang menempel, bergaul menjadi satu. Pemuda patuh, pemuda yang tak menolak, pemuda yang akan menjadi miliknya.

Dibalikkan badan Yuro, meninggalkan lengan besarnya bersandar di pinggang berisi empu pemuda. Bergerilya jemarinya, mengelus punggung milik pemuda, juga melintas di atas puncak gunung yang membuat yang lebih muda mengernyit. Naik dua jemarinya, menangkup pipi merah Yuro. Diangkat kepalanya yang sejak tadi beradu tanah, memaksa Yuro membuka mata dan menghadapi takdirnya.

Dua belah bibir bersatu, ringan, hanya dikecup yang dewasa, memancarkan sinyal defensif milik si pemuda. Refleks tubuhnya membalas, lompat melepaskan diri dari kungkungan tangan buas. Dua matanya terbuka, menatap milik Juragan Yuken dengan ekspresi goblok. Otaknya kosong, sehingga syaraf tubuhnya mati kaku.

Hati Yuro menjerit sakit, kala tubuhnya disentuh tanpa persetujuan. Namun, kamar temaram kurang sirkulasi ini bikin kepalanya pusing, bikin pikirannya lumpuh. Yuro patuh atas ajakan Juragan Yuken yang lagi-lagi menautkan dadanya, bergesekan tanpa ruang udara dengan miliknya. Hanya dibatasi kain yang masih menempel berantakan. Yuro menutup matanya kembali kala wajah bajingan milik Juragan Yuken mendekat, membagi napas hangat dengan dirinya sebelum menjamah bibir pucat yang bangsatnya malah menganga.

Terbahak sang Juragan dalam benaknya, merayakan kemenangan. Hari ini akan berlangsung sangat panjang dan penuh erangan.

Bukan main usahanya waktu muda, sekolah sampai dapat dua gelar sarjana. Bersakit-sakit dahulu, sebelum jadi saudagar kaya yang punya kuasa kemudian. Sebab Yuken tumbuh dengan ambisi, manusia ini tidak suka penolakan. Sebab itu Yuken harus sukses, biar dirinya bisa atur sesuka hatinya, dapat semua yang Ia inginkan. Yuken suka orang miskin, mudah didapatkan, mudah diatur, mudah dimanipulasi.

Lihat Yuro, pemuda yang semakin terlena akan sentuhan di bibirnya. Yuro tidak lagi menolak, pasrah kala bibirnya ditekan kuat, digigit manja, dan sesap nikmat. Juragan Yuken gak peduli asal usul bibir orang miskin yang entah apa masuk dalam mulutnya. Juragan Yuken hanya suka bagaimana dia menuntun si pemuda untuk membuka bibirnya lebih lebar, menuntut si pemuda membalas jamahnya, menginvasi lidah hingga rongga-rongga mulut dalamnya.

Juragan Yuken suka orang miskin, sebab Yuro pasrah ketika bibirnya dibikin menganga hanya untuk diludahi. Pula, ibu jari yang kali ini ikut berdiskusi, menerobos masuk dalam rongga mulut Yuro, berinteraksi dengan lidah si pemuda, hingga luruh air ludah sampai lewat telinga.

Yuro tau ini semua anomali, kesalahan besar jika dia tidak berteriak minta berhenti. Namun, sebagian tubuhnya merasa nyaman. Sentuhan kurang ajar Juragan Yuken memancing kegilaannya. Bahkan Yuro terhempas pasrah, seolah tubuhnya seringan kapas tatkala Juragan Yuken melemparnya ke atas kasur empuk beralas dipan jati. Kainnya bersih, wangi, yang mana Yuro gak pernah dapati seumur hidup. Badannya nyaman terlentang, meskipun jemari bangsat sang Juragan mulai melucuti satu persatu helai kain yang melapisi tubuhnya.

Pikirannya melayang, warasnya hilang digantikan angan-angan menjadi putra kerajaan yang hidup nyaman dalam semalam. Biarkan Yuro menikmati perannya, menikmati mimpi indah yang belum tentu hari esok dia dapatkan kembali. Meskipun tubuhnya harus ditunggangi Juragan yang sama tanggalnya Ia punya pakaian. Di atas alas sutra, di atas kokoh jati yang menopang dua lelaki yang tengah bercumbu manja, mereka setara. Lepas derajat, tidak ada baju yang harganya berbeda, sepatu yang lebih berkilau, tidak ada aksesoris tanda kejayaan. Hanya ada tubuh telanjang, dilapisi kulit yang datang dari sama Sang Pencipta.

Ahhh..Hhhh..Shh..

Suara bangsat mulai mengalun, tidak ada ketakutan, tidak ada ancaman. Semua dilakukan murni atas pilihan.

“Kamu milik siapa?” Juragan Yuken bertanya, mengisi tangki kepercayaan dirinya. Meskipun telinganya sudah turun menari-nari diiringi musik syahdu yang keluar dari napas Yuro. Meskipun tatapan sange milik Juragan telah menangkap potret ekspresi goblok Yuro yang membuat birahinya semakin meningkat. Meskipun tangan nakalnya terus bergerak meremas pantat Yuro. Meskipun bibir dan lidahnya enggan berhenti menggoda kontol si pemuda yang basah karena maninya sendiri. Juragan Yuken tumbuh dengan rasa tidak puas.

“Lacur goblok! Taunya cuma desah! Jawab, kamu punya siapa?!” Satu tangan Juragan Yuken mendarat di pipi Yuro. Memancarkan warna merah menyala. Yuro gak kesakitan, seolah tamparan itu adalah pemantik yang menghidupkan nafsu dalam dirinya.

“Mi.. mi-milik Juragan Yuken. Sahaya milik Juragan seorang.” Cicitnya malu-malu. Nafasnya juga tercekat sebab Juragan Yuken menambah gerakan mengurut di batang penis Yuro semakin berantakan.

Yuro hilang ditelan birahi, kepalanya kosong, yang dia tau hanya cari kepuasan, cari pelepasan. Satu badannya menjadi hangat, lubang senggamanya mendadak gatal, kedat kedut minta digagahi segera. Yang dia tau badannya lagi-lagi basah sama pipisnya sendiri, dadanya naik turun. Yuro menggigit bibirnya malu. Malu sekali apalagi Juragan Yuken gak segan kulum kontolnya yang masih tegang, membersihkan maninya yang menetes. Dari pangkal penis, naik ke perutnya yang penuh lekuk tegas dari hasil kerja kerasnya, menelusuri belah dadanya, terakhir Juragan Yuken lagi-lagi menjamah bibirnya, menggoda kumis tipis kebanggaan Yuro yang masih bisa dia bawa saat bercinta.

Yuro gila, maka Juragan Yuken layaknya iblis yang membisikkan kata-kata yang membuat Yuro jadi gila. Yuro hilang arah, maka Juragan Yuken adalah setan yang menyesatkannya. Yuro masuk neraka, maka Juragan Yuken adalah dajjal yang menyambutnya di dalam neraka.

Juragan Yuken adalah dajjal yang menyeretnya masuk dalam api kekal. Juragan Yuken akan tertawa, menyajikan sentuhan-sentuhan bajingan yang membuat tubuh Yuro terbakar. Juragan Yuken akan terbahak, menghujani isi kepala kopong yang membuat tubuh Yuro meleleh. Juragan Yuken akan terpingkal, menghujam senggama milik Yuro, membiarkan pemuda itu melebur jadi satu bersamanya. Menemaninya menjadi raja iblis yang selalu patuh akan perintahnya.

Dibalik tubuh Yuro yang lengket bukan main. Bermandi entah peluh milik siapa. Juragan Yuken siap pada posisinya, meludahi tangan bangsatnya sedikit, dioles sensual di atas kelopak bunga yang masih mengatup, membasahi agar mekar dengan sempurna, berbinar matanya kala temu tatap dengan lubang senggama si pemuda yang masih belum ada pemiliknya. Bahkan empunya saja belum tentu pernah melihat bagaimana lubang itu masih rapat, berkedut memanggil-panggil laras bajingan yang ingin memuaskannya.

AHHH SHHHH

“Tenang, tenang. Kamu milik saya.” Juragan Yuken sampaikan kalimat reasurasi penuh nada egois tinggi.

Lengannya yang bebas mengangkat pinggang Yuro, memastikan lubangnya nampak jelas. Lelaki paruh baya kini mengurut kontol tegangnya sendiri, diputar menggoda sedikit membuat empunya lubang bergidik geli. Kepala Yuro semakin pusing, jari-jarinya meremas kuat-kuat alas sutra hingga kusut. Bibirnya meringis, menyuarakan rasa sakit yang belum pernah Ia bayangkan hingga detik ini. Detik dimana kontol tegang sempurna milik Juragan Yuken meruntuhkan lubang senggama si bujang lapuk.

Sakit sekali, tetapi rektum miliknya malah berkedut, menghisap kontol tanpa pengaman Juragan Yuken dalam lubangnya yang hangat. Memastikan milik sang Tuan nyaman di dalam pandunya.

Pantas saja Yuro tak tergoda payudara Mbak Devi yang sering sengaja wanita itu umbar untuk dirinya. Pantas saja kontolnya gak mau ngaceng meskipun dengar suara desahan Mbak Devi yang lagi digenjot pelanggan di siang bolong. Sebab bukan itu yang Yuro mau. Bukan payudara Mbak Devi, tapi tangan berurat sang Juragan yang sedang meremas pinggangnya. Bukan memek Mbak Devi, tapi kontol panjang besar milik Juragan yang menghujam lubang senggamanya.

Yuro meraung, patuh digagahi sang Juragan ternyata bukan jalan sesat, melainkan pilihan hidup yang dia cari selama jadi bujang lapuk. Dorongan penuh nafsu sang Juragan yang tengah menghajar lubangnya sampai lecet adalah jawaban dari pikiran-pikiran remaja Yuro yang mulai masuk fase dewasa. Dan hentakan terakhir kontol sang Juragan yang membiarkan pejuhnya memenuhi rektumnya yang menganga adalah Yuro yang menemukan jati diri sesungguhnya.

Bibir Yuro terangkat kala lemas tubuhnya jatuh menyentuh alas sutra. Dihimpit pula punggungnya dengan dada milik Juragan yang masih enggan membiarkan lubangnya bebas. Di dalam kamar remang-remang, di hari yang masih jatuh siang bolong, bersama sayup-sayup napas yang saling bersahutan, dengan peluh juga basah pejuh, dua lelaki sampai pada tujuannya.

“Yuro..” Panggil Juragan Yuken. Baru ini, setelah melalui ritual persetubuhan, Juragan Yuken sudi menyebut namanya.

“Tinggalah di sini bersama saya.” Pintanya.

Yuro tersenyum di sela-sela matanya yang mulai berat. Napasnya sudah kembali teratur, tinggal bau khas persetubuhan yang masih bergumul hebat dengan wangi dupa milik Juragan.

“Tinggal di sini bersama saya. Karena kamu mulai detik ini adalah milik saya.”


`hjkscripts.


Sheng Shao Yu mempersiapkan dirinya ketika suara ceria dari anak laki-laki tunggalnya terdengar dari luar pintu utama. Diikuti langkah berat juga suara angkuh, yang isinya cuma tau berdebat. Huasheng dan Huayong telah tiba di rumah.

“Papap!” Pekik Huasheng senang kala melihat sang papap sudah duduk manis di sofa ruang keluarga, tidak fokus pada laptop atau gawainya.

“Huayong, turun! Turun!” Pinta si kecil pada Huayong yang masih setia menopang badan Huasheng dalam peluknya. Mata Huayong mengerling jengkel, sudah biasa. Ini bukan tanda tidak cinta, namun tanda kasih luar biasa.

Xiao Huasheng berlari ke arah Sheng Shao Yu. Menunjukkan medali perak yang dia dapatkan dari lomba lari estafet di sekolah dasar, dalam rangka memperingati hari anak bersama orang tua. Hanya medali perak, tapi senyum Huasheng tidak ada hentinya.

“Papap lihat! I sama Huayong dapat medali perak!” Tunjuknya bangga.

Lelaki dewasa mengamati medalinya, ikut senang tentu saja. “Wahh hebat, juara berapa?” Sheng Shao Yu menanggapi.

“Juara dua!” Sahut Huasheng dengan nada sedikit memekik. Jemarinya ikut maju menunjukkan angka dua. “I sama Huayong juara dua. Ah Shen sama Didi Wenlang juara satu! I senang sekali papap.” Jelasnya lucu.

Sudah berapa kali Huayong mengerlingkan matanya jengkel. Mendengarkan putra semata wayangnya juga musuhnya bangga dapat juara dua. Sangat melukai jati dirinya sebagai pemegang puncak rantai manusia saja.

“Huayong, you kalau lari biasa aja, enggak usah pakai kekuatan. Kata guru i kalau lomba harus adil. I tau you hebat sekali dan cepat sekali tapi kasihan orang tua teman-teman i enggak ada yang sekuat you.”

“Harusnya bisa gue juara satu. Lo aja gak mau diajak menang.” Huayong menyerah. Berjalan melewati Huasheng sembari mengusap rambut anaknya gemas. Menempatkan badannya di sebelah suaminya yang masih berinteraksi dengan sang anak.

“Enggak apa-apa, Huayong. Ini namanya menang adil. Lebih menyenangkan.” Memang kalau Huasheng, lebih memilih kalah dalam apapun tapi tidak dengan mendebat Huayong.

“Papap, tadi seru sekali. Teman-teman i yang enggak dapat juara juga senang.”

“Oh yaa?? Kenapa bisa begitu?”

“Iya, karena Huayong. Huayong bikin mereka senang. Huayong panggil ice cream, coklat, dan balon. Semua dapat, enggak ada yang kalah.”

Sheng Shao Yu tersenyum mendengarnya. Menengok ke arah suaminya yang masih duduk dengan wajah sok dingin, namun juga malu karena dapat pujian dari musuh bebuyutan yang dia buat sendiri. Dua pasang mata keduanya bertemu, milik Sheng Shao Yu berbinar bangga seolah mengatakan good job, baby kepada Huayong.

Karena Sheng Shao Yu dan hanya Sheng Shao Yu juga Xiao Huasheng yang tau bahwa Huayong hebat. Huayong bukan si manusia cepat, kuat, menakutkan seperti monster kata orang-orang. Huayong juga punya hati yang hangat. Huayong mencintai keluarga kecilnya seperti dia menjaga nyawanya sendiri.


`hjkscripts.


Jika hal buruk terjadi pada Shen Lele. Pertama Shen Wenlang pasti akan menyalahkan dirinya sendiri. Kedua dia akan gila kena depresi. Terakhir, dia akan mati bunuh diri. Terdengar hiperbola, namun baginya, bayaran akan nyawa Gao Tu dan Shen Lele setara dengan kematian.

Gao Tu gak bisa menyuarakan argumen tinggi sebab telinga suami sudah mati. Menelusuri jalan tol ramai kayak orang sinting ke arah Malang. Harusnya Shen Wenlang sadar, jika mereka meninggal kecelakaan maka Shen Lele akan jadi yatim piatu detik ini juga.

Namun, Gao Tu mengerti, Shen Wenlang sangat marah kini. Ketakutan konyol semalam suntuk untuk mengizinkan anaknya pergi ke alam bebas bukan lagi sekedar mimpi buruk. Cukup satu telepon, dan Shen Wenlang seketika henti jantung.

Longsor terjadi tepat setelah cuaca buruk yang tiba-tiba datang di hari cerah menyelimuti kaki Gunung Arjuna. Longsor terjadi tepat di lereng atas lokasi camp, dimana Shen Lele dan sebagian kelompok pendaki berteduh mencari keamanan.

Napas Shen Wenlang memburu, bergerak dengan kakinya yang terburu-buru. Tidak mengindahkan kehadiran Gao Tu yang setia di sisinya, tak acuh bahwa di tengah-tengah suasana mencekam lokasi kejadian bukan dia saja yang gundah dan ketakutan. Gao Tu adalah seorang papa omega, mendengar Shen Lele dalam bahaya jelas menyiksa batinnya berkali-kali lebih berat tak peduli bagaimana dia hampir kehilangan nyawa ketika anak itu mencoba merobek perutnya.

Namun, Shen Wenlang adalah mantan orang gila. Bagi dia, pulangnya Gao Tu dan Shen Lele dalam rumah yang Ia bangun kembali merupakan obat kewarasan. Dan skenario kehilangan kembali tidak ada dalam skripsi yang dia tulis ulang. Janjinya pasti, usahanya tiada henti.

Shen Wenlang badannya sibuk mondar-mandir, mengikuti dari satu orang ke orang lain yang memakai seragam dominan oranye, tak peduli bahwa tim penyelamat sama sibuknya dengan jalan pikirannya. Iblis Shen Wenlang mengambil raganya, berkata hingga memaki pekerja dengan nada tinggi-tinggi. Tak seorang pun dari anggota kepolisian yang mampu menarik tubuhnya menuju zona aman, bahkan Gao Tu menyerah hanya dengan melihatnya.

“Shen Wenlang!” Sistem motorik tubuhnya henti seketika. Seakan dia patuh dengan suara satu itu. Huayong datang, lengkap dengan wajah angkuhnya dan Sheng Shao Yu yang akan selalu bersama dirinya.

Dua lelaki berseragam bisa bekerja kembali, memindahkan tubuh kalut Shen Wenlang menuju pinggir, bergabung dengan keluarga korban yang sama harap-harap sabar. Gao Tu menerima suaminya kembali, memastikan lelaki jangkung kini berdiri tenang di belakang garis polisi.

Kala regu penyelamat datang dari arah gapura pendakian, semua suara serentak senyap. Semua pasang mata tertuju pada rangkaian manusia yang berjalan berurutan di belakang pemandu. Satu detik, dua detik, dan teriakan lega, tangisan haru pecah begitu saja kala hati yang lama terpisah menemukan rumahnya kembali. Shen Wenlang itu tinggi, namun dagunya tak henti-henti terangkat, matanya mengabsen tiap wajah yang turun.

“Papap!”

Dan remaja laki-laki yang berlari menuju arah Shen Wenlang membuat darahnya berdesir, jantungnya berdegup tak beraturan, dan napasnya berantakan. Dua tangannya terangkat, namun sayang remaja laki-laki itu tidak jatuh dalam pelukannya. Dekapannya masih kosong, hampa.

Shen Wenlang gagu, semakin panik, otaknya carut marut. Kupingnya berdengung sakit, kepalanya semakin pusing ketika anak laki-laki itu, Huasheng, memilih menggeleng kala nama Shen Lele disebutkan. Shen Wenlang percaya bahwa Huasheng akan melindungi Shen Lele bagaimana pun caranya. Harusnya Shen Lele berjalan tepat di belakang Huasheng, Harusnya Shen Lele juga sama berdiri di depannya, Harusnya Shen Lele sudah ada bersamanya saat ini. Harusnya... dan bukan rangkaian pendaki yang habis, meninggalkan gapura pendakian kosong melompong.

“Papa Tu...” Huasheng bersama rasa bersalahnya masuk ke pelukan Gao Tu yang tersenyum lega. Gao Tu memang rajanya menyembunyikan pesakitan dalam hatinya. Menyambut remaja yang tinggi sudah lebih beberapa centi dari tubuhnya. Gao Tu tidak menuntut petunjuk apapun, bagaimana kejadiannya, bagaimana keadaan anak laki-lakinya. Melainkan memberi dekapan hangat, kalimat syukur penuh lega. Huasheng sama seperti Shen Lele, anaknya.

“Maaf papa, I enggak tau gimana, kejadiannya cepat. I sudah pegang tangan Ah Shen, tapi I enggak tau kenapa Ah Shen udah enggak ada. Iㅡ”

“Ssst... It's okay, sayang. Bukan salah kamu. Kita berdoa terus, supaya Lele cepet ketemu. Kamu tenang, kamu istirahat di sini.”


Butuh waktu tiga tahun bagi Shen Wenlang untuk punya perasaan seorang ayah bagi Shen Lele. Shen Wenlang dan Shen Lele adalah orang asing dengan ikatan darah sebelum jadi ayah dan anak. Bahkan kepulangan Gao Tu dan pernikahannya dengan Gao Tu tidak serta merta mengubah statusnya dengan Shen Lele sebagai orang asing.

Tahun pertama adalah yang tersulit. Shen Lele jelas menolaknya. Bukan salah Gao Tu jika lelaki dewasa itu tak mengenalkan sosok Shen Wenlang dalam dunia Gao Lele. Gao Tu adalah papa, dan Gao Qing lebih dari seorang bibi, dia adalah kepala keluarga di mata Gao Lele. Tahun kedua adalah puncak kebodohannya kembali, mungkin mencintai Gao Tu seutuhnya cukup untuk membuatnya bahagia tak peduli Shen Lele menganggap dirinya apa. Tahun ketiga, Shen Wenlang mulai sadar bahwa dia kurang berusaha, karena keluarganya sekarang sudah lengkap dan harus dipertahankan.

“Didi.”

“Shen Wenlang, Shen Lele itu berbeda.”

“Didi!”

“Thermal blanket! Suhunya terus menurun, detak jantungnya mulai melambat. Cepat!”

“DIDI!”

Rasanya ruh Shen Wenlang ditarik dari ambang kematian dan suara anaknya, Shen Lele, yang menjadi malaikat penyelamat. Sudah dua hari Shen Wenlang duduk di sofa rumah sakit, mendengarkan musik dari monitor pasien yang dia harap tak berubah nadanya. Matanya terpejam namun dia tak pernah tidur. Seolah mati segan, hidup juga tak sanggup.

“Didi...” Suara lemah itu kembali mengalun. Memanggil jabatan yang telah dia anut dan dapatkan dengan susah payah.

Hanya tiga kali alpha Shen Wenlang menangis dalam siksa hidupnya. Pertama, ketika kepala keluarga keji di hidup Shen Wenlang remaja berkata, bahwa papa omeganya pergi meninggalkan dia. Dunia runtuh seketika sebab sumber kasih sayang yang tersisa untuk menopang hidupnya sudah hilang.

Kedua, saat Gao Tu kembali dalam pelukannya, setelah memutuskan untuk pergi menyerah akan cintanya. Membawa seluruh sisa kewarasan Shen Wenlang bersama angin yang menampar wajah bodohnya.

Ketiga, air mata Shen Wenlang jatuh di rumah mewah Sheng Shao Yu. Bersama Huasheng kecil yang coba menenangkan. Shen Wenlang hilang sopan santun, menerobos rumah besar itu bak miliknya sendiri, mengganggu rapat dua perusahaan besar yang tengah berlangsung. Dan untuk pertama kali, Sheng Shao Yu melimpahkan rasa iba, memberikan reasurasi semalam suntuk, bersama Huayong yang diam, tanpa kata kutukan. Seakan semua orang tau bahwa dia sedang jatuh di palung paling dalam, dan Shen Wenlang tidak berharap seseorang mendorongnya sampai inti bumi sekalian.

“Bapak Shen Wenlang, Shen Lele itu berbeda.”

“Keterlambatan dalam tumbuh kembang dari anak Shen Lele ada beberapa kemungkinan, salah satunya dia tidak mendapatkan shooting pheromones sejak dalam kandungan hingga awal kelahiran.”

Kata-kata itu muncul dari psikolog yang dia bayar sendiri atas kesadarannya. Semenjak datang, hubungan ayah dan anak sangat sulit. Shen Lele enggan mengerti posisi Shen Wenlang, dan Shen Wenlang yang bingung memposisikan diri menjadi seorang ayah dalam satu malam.

Tembok asing di antara keduanya sudah sulit ditembus, ditambah anomali yang muncul di tubuh Shen Lele menambah tingkat kesulitannya. Shen Lele punya lack pheromones disorder yang membuatnya lebih lemah berkembang daripada alpha tingkat tinggi seharusnya. Shen Lele tidak punya percaya diri, emosinya tidak terkontrol, badannya tidak sekuat alpha pada umumnya.

Shen Wenlang adalah korban runtuh keluarganya sendiri. Maka sejak dia mendengar Shen Lele memanggilnya Didi di tahun ketiga mereka berusaha, Shen Wenlang berjanji, seluruh dunia akan dia berikan untuk Ndoro. Shen Wenlang akan memastikan hidup Ndoro dalam asupan cinta selalu.

“Ndoro..”

“Didi.. Papa..”

Empat kali air mata Shen Wenlang tumpah dan itu terjadi dini hari. Mata sayu Shen Lele yang kembali terbuka, menuntun Shen Wenlang kembali ke dunia. Shen Wenlang jatuh bersimpuh di samping ranjang, tangannya menggenggam erat-erat milik Shen Lele hingga sang anak mampu merasakan basah butiran bahagia.

Shen Lele ditemukan 3 jam pasca evakuasi, hampir tertimbun tanah seluruhnya. Kalau saja pada waktu itu Shen Lele tak sadar dari hipotermia yang membuatnya kehilangan kesadaran, tim penyelamat akan menghentikan sejenak proses evakuasi karena bumi Arjuna kembali diguyur hujan.

“Didi, Lele bikin didi sama papa khawatir ya? Harusnya aku dengerin didi ya? Harusnya aku gak usah ikut pergi ya? Didi harusnya aku sadar kalau kondisi aku beda ya?” Terlalu banyak sebenarnya kata-kata yang diungkapkan Shen Lele dalam satu tarikan napas. Yang hanya anak itu tau, ketika doa-doa yang dihaturkan dalam nada sesak, sebelum kepalanya kembali berat, dan matanya menutup rapat, kalimat didi dan wajah papa muncul di dalam kepalanya. Shen Lele berjanji, kala matanya terbuka dan melihat kedua orang tuanya lagi, dia harus minta maaf.

“Didi, papa, Lele minta maaf ya.” Katanya lirih.

“Ndoro..” Sahut Shen Wenlang serak di sela-sela tangis. “Didi gak tau harus apa waktu ndoro belum muncul sama yang lain. Didi takut sekali ndoro gak pulang ke rumah. Didi gak menyesal kasih ndoro izin untuk pergi. Tapi didi bingung gimana caranya sembuh setelah ini.”

Shen Wenlang sudah pernah ditinggalkan oleh papanya. Shen Wenlang sudah pernah ditinggalkan Gao Tu, cintanya. Tetapi, Shen Wenlang gak pernah kebal dengan perasaan takut akan ditinggalkan. Shen Wenlang benci sendirian.

“Didi, kan anaknya sudah kembali. Baik-baik saja, bisa bareng-bareng sama kamu terus setelah ini. Kejadian hari ini kan musibah, gak ada yang tau kapan dan gimana datangnya.” Gao Tu jelas sama kalutnya, sama takutnya, sama copot jantungnya ketika Shen Lele digotong tak sadarkan diri. Tetapi, jika bukan dia yang mencoba untuk teguh, keluarganya bisa hancur hari ini.

Shen Wenlang berdiri, mengusap hidungnya yang merah sekali. Mata sembabnya bergantian menatap Ndoro dan si Cintaku lamat-lamat. Kepala keluarga yang masih banyak belajar kini mengambil tangan Gao Tu, membawanya bersatu dengan milik anaknya yang lemas. Dia usap satu persatu, merasakan bagaimana hangat suhu dan nadinya yang berdenyut konstan, menandakan bahwa dunianya masih berputar.

“Ndoro... Cintaku... tolong temani didi sampai kapanpun ya. Didi manusia banyak kurangnya, tapi didi berusaha terus untuk bahagianya keluarga didi. Didi sayang sekali sama Ndoro dan Cintaku. Karena Ndoro dan Cintaku satu-satunya dunia yang didi punya.”


`hjkscripts.


Huayong adalah salah satu korban dari jutaan kasus kerusakan rumah tangga. Keluarganya rumit, sesak, bikin gila. Huayong ini sudah gila, namun psikiater gak ada yang berani diagnosis dirinya.

Papanya sudah terlanjur malu, ketika dokter memutuskan bahwa Huayong ini anomali. Gak ada anak yang lahir sama seperti dia setelah dunia melalui evolusi besar-besaran. Huayong adalah Enigma. Feromon terlampau hebat, mengintimidasi, tidak terkontrol. Jauh dari manusia alpha. Kata mereka Huayong adalah mesin pembunuh.

Huayong tidak paham arti sedih, apa itu menangis? Huayong tidak pernah tau rasa sakit. Huayong tidak punya belas kasih. Bahkan berhadapan dengan makhluk kecil yang wajahnya menyerupai setengah dirinya, tidak ada dalam kamus perjalanan hidup.

Lelaki dewasa ini salah telah belajar sendiri. Mencintai Sheng Shao Yu mengikuti nurani, dia jatuh terlampau dalam. Mencintai Sheng Shao Yu sebagai makhluk anomali berarti membiarkan apapun bisa terjadi, termasuk memunculkan keajaiban di antara keluarga bahagia kecilnya yang hanya berisi dua orang.

“Itu hadiah dari gue, buat lo.” Huayong meletakkan bingkisan rapih, bahkan indah di depan anaknya, Huasheng.

Huasheng meletakkan iPad-nya, memberikan perhatian serta tatapan bingung pada Huayong yang berdiri angkuh di depannya. “Huayong, ini coklat? you beli buat i?” Matanya berbinar, ada rasa bahagia menelusuri hati kecilnya.

“Iyalah, kan gue janji ganti lo punya coklat.”

Satu detik kemudian mimik bersinar milik Huasheng silih berganti dengan perasaan sedih yang muncul tiba-tiba. Huayong bingung, mana lagi sikapnya yang salah.

“Apa yang kurang? Gue beli sama di toko kayak papap lo kemarin. Gue pergi ke HK sendiri. Gue ambil pakai gue punya tangan, bayar gue punya duit. Gue gak suruh orang.” Jelas Huayong panjang lebar.

“Huayong enggak marah lagi sama i? Maaf, Huayong pergi karena i. You jangan pergi seperti kemarin lagi tanpa bilang i. I sedih dan bingung kalau you enggak pulang.”

Lelaki dewasa kini tertegun. Tiada kata yang bisa dia katakan. Shen Wenlang dan Sheng Shao Yu bilang Huasheng sangat mirip dengannya, pembuat drama ulung, dan dia merasa pernyataan satu itu bukan tidak salah.

“This little devil is so damn good, making that dramatic scene.”

Huayong meletakkan telapaknya di atas kepala yang menunduk sedih. Mengusap rambut tebal, bertekstur lembut sama seperti miliknya.

“Udah, lo jangan kayak gini. Gue gak akan pergi. Gue gak akan biarin lo hidup bahagia sama papap lo.” Katanya sombong. Namun, kalimat itu membuat binar si kecil kembali.

“Huayong, terima kasih sudah sayang sama i.“

“Ya.”

“I juga sayang sama you.” Tentu saja kalimat satu itu tidak terucap diantara hubungan dua manusia ini.


`hjkscripts.


Bagi Little Peanut, kepulangan Sheng Shao Yu adalah kebahagiaan. Sheng Shao Yu bukan hanya orang tua, namun dia adalah tiga per empat hidupnya, dunia indahnya, bagian tiap hembusan napasnya. Sheng Shao Yu adalah alasan dia bisa berjalan setiap hari. Alasan dia bisa makan dengan lahap, tidur dengan nyenyak, dan berangkat sekolah dengan semangat.

Seluruh badan kecil kini dia kerahkan seluruhnya. Menghujani sang papap dengan berjuta afeksi, seolah lelaki dewasa ini takut hilang lagi. Sheng Shao Yu bahkan tidak diberi kesempatan untuk menurunkan kopernya. Larangan bibi untuk tidak menggangu sang papap ogah diindahkan.

“Oh, my Little Peanut.” Gumam yang dewasa, sembari mengangkat tubuh kecil dalam gendongannya.

“Papap, i kangen sekali sama you. I enggak bisa tidur, mau dibacakan cerita sama you. Makanannya enggak enak kalau bukan you yang suapi i.”

Oh, that little dramatic brat.

Namun, semakin diucapkan, Huasheng semakin yakin bahwa kedatangan Sheng Shao Yu seperti sebuah kesalahan. Dunia si anak kecil tidak mungkin setenang ini. Tidak ada yang mencubit pipinya hingga merah. Tidak ada yang menanggapi kata-katanya dengan nada angkuh. Tidak ada yang menatap tingkah lakunya dengan mata jengkel.

“Mana Huayong?” Mata si kecil terangkat, meneliti setiap celah di antara dua bodyguard sibuk yang tengah membawa barang-barang papap-nya.

“Your dad ain't coming home.” Sheng Shao Yu menjelaskan. Menggantung, tidak ada alasan panjang lebar.

Huasheng menggerakkan otaknya, mengais berbagai macam opsi dalam memori kecilnya, menyusun hipotesa tentang alasan absensi Hua Yong setelah kepergiannya sejak minggu lalu. Hua Yong tidak pernah sibuk, selain menyibukkan diri bertengkar dengan dirinya, memperebutkan papap.

“Kenapa enggak pulang?” Cicit Huasheng mulai takut. Bagi Huasheng, Hua Yong adalah musuh dalam selimut paling menyebalkan. Namun Hua Yong bukan seseorang yang harus dia singkirkan keberadaannya.

“He didn't say a word. Aku disuruh pulang sendiri.” Sheng Shao Yu menanggapi. Menurunkan putranya yang semakin berat, setelah mereka masuk kamar utama. “Why don't you call him? Satisfy your curiosity.” Lanjutnya.

Pernyataan yang dibuat Sheng Shao Yu tidak membantu. Merusak susunan hipotesa positif, menjadi kekhawatiran tidak berdasar dari pikiran si kecil. Carut marut, isinya adalah salah dan menyalahkan.

Hua Yong marah atas insiden coklat adalah hipotesa paling cocok yang bisa menguatkan lembaran paper-nya saat ini. Kemarahan pasal coklat memang valid menurut si kecil. Namun, kehilangan Hua Yong bukan balasan yang dia inginkan.

Hua Yong, where are you?


`hjkscripts.


TRIGGER WARNING ; SEXUAL CONTENT, HARSH WORDS 🔞

Fairbanks, Alaska

Khaotung gak pernah tau kalau datang ke Alaska bakal sejauh, sesusah, dan secapek ini. Kenapa ya kok kepikirannya Alaska waktu First nanya? Malam itu mereka gabut banget, juga dalam keadaan lega semua-muanya telah kembali normal. Tentu saja kecuali hubungan mereka berdua, berubah jauh lebih baik daripada yang dia bayangkan.

“Aurora aku belum pernah lihat sih.” Jawab Khaotung asal malam itu, dan voila! suaminya mewujudkan semuanya.

It's Fairbanks, tempat wisata seasonal yang gak setiap hari bisa dikunjungi. Mana kalau datang juga harus nunggu momen yang tepat. Belum tentu bisa liat fenomena aurora di keadaan dunia yang udah banyak berubah ini. The people, the weather, the infrastructure. Gosh!

Rumah yang di sewa First nampak nyaman, meskipun secara look sederhana. Jenis kabin gitu, ada penghangat yang masih tradisional, ngandelin kayu bakar. Pemiliknya sih bilang, kalau gak usah khawatir buat nambahin kayunya sampai besok pagi. Jadi First sama Khaotung bisa leha-leha menghilangkan jetlag yang gak kelar-kelar ini.

Berada di atas sofa besar, dengan First yang memeluk Khaotung dari belakang. Khaotung anteng, gak tidur. Tetapi, sorot matanya sibuk ngeliatin kayu-kayu yang lagi terbakar di depannya. Mereka berdua gak ada yang mau sukarela buat berdiri sekedar unpacking, atau mikir makan apa malam hari ini, atau paling gak nyari hiburan di saluran televisi Alaska.

Hei, mereka lagi liburan kan? Ya, mereka benar-benar liburan. Liburan dari tekanan pikiran masing-masing. Merdeka dari optimisme diri mereka sendiri. Mau jadi manusia lemas, letih, lesu, lungai aja.

First sampai gak sadar udah berapa lama dia melayangkan kecupan di ubun-ubun Khaotung. Menggelitik dirinya sendiri di antara rambut-rambut halus Khaotung yang wanginya masih semerbak bunga cherry blossom. Wangi, nyaman banget, konyolnya, First gabut usap-usap kulit kepalanya sendiri, terus dicium. Biar gak minder, takut bau kecut juga tapi Khaotung nahan-nahan.

Terus gak tau juga gimana, kecupan yang First lagi salurkan berjalan runut. Dari atas semakin turun, semakin turun, dan turun hingga tengkuknya. Khaotung masih bergeming nyaman, meskipun cowok yang di belakangnya mulai gerak gelisah. Tangan kekarnya melingkari Khaotung seksama, bikin sesak tapi Khaotung sengaja gak mau bereaksi dulu.

Cowok jangkung kini tengah menjamahi tengkuk Khaotung yang tertutup helai-helai rambut juga sempitnya jarak. Basah, bikin Khaotung merinding, sensasi kasar papila yang bergesekan sama kulitnya mulai memacu debaran jantungnya yang semula konstan. First ini kurang ajar, dia tak segan menggigit sesekali, membuat Khaotung mau gak mau mulai mengaduh sakit, bereaksi yang membuat suaminya senyum kemenangan.

Badannya yang lebih kecil seakan terkunci, gak bisa kabur, hanya bisa menggeliat tak nyaman. Bibir First Kanaphan pindah dari satu titik ke titik lainnya jika sudah muncul bercak merah-merah, seolah sedang berada dalam perlombaan buat cupang terbanyak dalam waktu singkat. Gak ada ampun, kupingnya ketutup sama birahi yang tiba-tiba datang di tengah hawa dingin.

Kala kanvas putihnya tercoreng noda semua, First mulai beranjak, membalik tubuh Khaotung semaunya, terlentang di bawah kungkungannya. First senyum tengil, seakan meminta izin. Nafsunya sudah muncul, sange tiba-tiba dan disini gak ada alasan buat nolak, harusnya.

Dahi Khaotung mengkerut, menatap sebal First Kanaphan yang telah berubah jadi serigala brengsek. First dalam mode ini bebal, ditolak makin kasar, tapi dituruti juga kayak dajjal. Bisikan-bisikan sensualnya mencuci otak Khaotung, menyuruh syaraf berfikirnya untuk membuang rasional, kewarasan, dan akal sehatnya. Pelan-pelan Khaotung di seret ke neraka, dibakar di atas api yang berkobar, hingga habis dilalap tak tersisa. Hilang bersama kenikmatan.

Mata suaminya berbinar kala Khaotung tidak berkata apapun. Ia anggap bukan sebuah penolakan. Bibir Khaotung disambar, ditekan hingga tak ada rongga yang membantu Khaotung bernafas. Laki-laki penuh birahi itu mengambil bibir atasnya, menariknya pelan seolah itu adalah permen kenyal dengan taburan gula. First menggigitnya menggoda sebelum dilepas, melahap bibir bawahnya bergantian. Bibir Khaotung anyep, dingin tapi hangat, hangat namun dingin.

Khaotung terlena, terbuai akan fitnah bedebah yang terus memberinya stimulasi memabukkan. Khaotung melayang, matanya tertutup, dagunya mendongak memberi akses suaminya untuk terus mengusir kewarasannya. Khaotung hilang jati diri di tengah hutan belantara yang menyesatkan. Khaotung dikekang dalam penjara tubuh yang terus menekan bagian bawahnya.

Mata cantiknya terbuka beberapa kali, bersamaan bibirnya yang melengguhkan suara biadap yang membuat suaminya makin menari di atas tubuhnya. Halus pula licin, sesekali lidah First terantuk tonjolan yang dapat mengaktifkan suara-suara menyenangkan bagi telinganya. Benda lunak itu berputar, meninggalkan bekas basah juga getaran tak nyaman bagi sang pemilik tubuh. Kadang Ia mengecup, meninggalkan bekas-bekas abadi tanda kepemilikan. Khaotung menggigit bibirnya yang hampa ditinggal pemiliknya, berisik karena dibiarkan bebas sejenak. Khaotung menutupnya malu-malu kala dia rasa suaranya makin laknat.

First Kanaphan bangkit dari tenggelam dalam samudra kenikmatan. Merasa belum puas dengan begitu banyaknya tanda maksiat dan tak berdayanya tubuh Khaotung berantakan. First melepaskan kemejanya, Ia benahi dahulu kepala Khaotung agar matanya tersorot ke arahnya. First ingin dilihat, ingin dipuja karena karyanya begitu sempurna. Wajahnya dibuat menggoda, Khaotung menelan ludahnya yang telah tercampur dengan milik suaminya. Laki-laki brengsek di atasnya ini pasti akan membunuhnya sebentar lagi, Ia tak akan segan mengubur tubuh Khaotung dengan keringat dan spermanya.

First duduk tepat di atas selangkangan Khaotung yang lurus mengikuti panjang sofa. Kayak gigolo, mesum, laki-laki di atasnya dengan semangat mulai menggerakkan pinggangnya. Memberikan reaksi aneh yang muncul dari gesekan antar alat kelamin. Khaotung pusing tujuh keliling, pasal kontolnya yang harus tegang ditindih suami gobloknya. Rasanya sakit, ngilu, bercampur geli, juga sesak.

Khaotung gak bisa bernafas, nafasnya tercekat, dadanya sesak. Otaknya dibuat bingung, kepalanya makin cenat-cenut. Salahkan First Kanaphan dan birahinya yang tolol. Khaotung habis, kaku, terkekang, First menjatuhkan kembali tubuh polosnya, menghimpit perut Khaotung yang rasanya ada gelembung meletup-letup, bibir laki-laki itu meraup kembali bibirnya tanpa ampun, sampai kebas, sedangkan pinggangnya, kontolnya, gak berhenti bergerak menggesek miliknya yang diam membisu.

Ingatkan Khaotung untuk menghukum balik dewa kematian yang brengseknya adalah suaminya. Jikalau Khaotung mati akibat bersenggama dengan sang suami, arwah penasarannya akan datang menghantui, menyetubuhi First Kanaphan di sisa kehidupannya, sampai gila, sampai mati, dan berdansa dengannya di alam baka.

Uughhnm... ahhhhhm... Hhmmmnnn... Geramnya. Khaotung menggeliat, mencari celah sedikit saja agar ada udara yang masuk dalam pori-pori kulit yang seluruhnya telah basah akan keringat. Mencoba melepaskan dirinya yang diujung tanduk kala merasakan cairan precum keluar dari lubang kontolnya. Khaotung mau bebas, terkencing-kencing merasakan pelepasan pertamanya.

Tetapi First Kanaphan gila itu malah menggenggam batang miliknya, diremas gak kira-kira, dia pikir itu tongkat kayu yang keras. Ia mengangkat pinggangnya, menggerakkan tangannya, mengocok penis suaminya yang akhirnya bisa berdiri tegas. Kasar, tanpa belas kasihan, matanya menyalang puas menatap Khaotung bagaikan mangsa yang berteriak pasrah diujung kematiannya.

AHHHHH HHMMM SSHHHH JAAANGGAHHH!! Dan First tersenyum bangga, menadah cairan yang keluar tanpa rasa jijik. Menyebarkan kebiadabannya ke sekujur tubuhnya, dimasukkan sisanya dalam mulut bangsatnya sendiri, dibagi dermawan dengan pemiliknya sendiri. Bau khas menusuk hidung Khaotung, rasanya bercampur dengan saliva, Khaotung menelannya semua. Lengket, basah, meninggalkan benang panjang kala First meninggalkan bibirnya.

First akhirnya melepaskan Khaotung dalam kebebasan bersyarat. Membiarkan mangsanya bernapas sejenak sebelum dia siksa dalam kegelapan. Membiarkan Khaotung merasakan kenikmatan sengatan yang masih bersisa, merasakan desiran darahnya yang tak kunjung melambat, debaran jantungnya yang berisik gak karuan, dibarengin denyut kepalanya yang menghantam kewarasannya, juga cairan air mani yang melenggang bebas deras di paha hingga kakinya.

Khaotung indah tak berdaya dan First Kanaphan tidak punya belas kasihan. First Kanaphan sudah habis digerogoti nafsu, dibisiki kemungkaran yang membuat dirinya berbelok sendiri menjajahi neraka persetubuhan. Khaotung pasrah, jika tubuhnya dipakai bagai pelacur semata dia akan terima. Toh faktanya dia juga berteriak minta dilecehkan.

Khaotung dipaksa berbalik, memperlihatkan punggungnya yang berkilau. Masih bersih belum terjamah. First membantu suaminya, mencari gaya yang ada di kamus kamasutra yang sudah dia hafal di luar kepala. Khaotung dibuat menungging tanpa busana di atas sofa dan First berdiri di depannya bak penilaian kontes hewan peliharaan tercantik.

First melayangkan telapaknya, menggerayangi tiap jengkal kulit Khaotung yang dingin. Gerakannya sensual, kadang nakal, hingga Khaotung sendiri menggeliat. Kakinya bergetar, tubuhnya tegang, kepalanya mendongak kala tangan besar suaminya sengaja berbuat kasar menampar pipi pantatnya. Merah menggoda, First gila dibuatnya.

Bongkahan kenyal itu diremas, kayak bikin adonan roti, dibuka tutup hingga nampak belahannya yang merah malu-malu. First ludahi sedikit lubang yang masih mengkerut, dibasahi, dielus pelan membuat empunya kurang nyaman. Lalu, First naik tepat di belakangnya. Menyetarakan derajat kontolnya dengan rumah singgahnya. Sudah basah, terlihat menggoda, berkedut seolah mengundang First datang bertandang.

Kepala penis ditekan, Khaotung gemetar, jari-jari kakinya mulai bergerak berantakan. Dia bisa rasakan sakitnya kala kontol panjang tegang bajingan tak memberinya jeda untuk bernapas dan bersiap. Khaotung menggigiti bibirnya sendiri, meremas permukaan datar yang gak membantu mengurangi rasa perihnya.

Namun First menggeram kenikmatan, menutup matanya di udara merasakan kontolnya perlahan masuk, dilahap, dan diremas kuat. Dia bergerak, masih lambat mengatur temponya, masih menikmati sensasi kemenangannya. First Kanaphan kini bak seorang raja yang pulang dengan rasa bahagia, menunggang kuda yang lelah pulang ke istananya setelah menang perang di negeri orang.

Lelaki itu bergerak, memacu gerakannya konstan. Tangan nakalnya tak bisa diam, telinganya dikelilingi suara syahdu patah-patah dari sorak sorai pendukung yang mencintainya. Berteriak kepuasan, menjerit agar sang raja terus menjamahnya, mengagungkan namanya berkali-kali seolah dia adalah dewa kemenangan yang harus dipuja-puja.

Raja Kanaphan semakin gila kekuasaan, bijaksananya ditukar nafsu semata. Bergerak brutal menghujam pedangnya tanpa ampun. Dia si raja dermawan yang berubah menjadi penjajah. Tubuh Khaotung dijajah tanpa sisa, miliknya semua, tiada satupun orang boleh menjamah selain dirinya. Bahkan Khaotung sendiri tidak punya hak atas tubuhanya. Khaotung hanya pasrah, meraung mohon ampun kepada kedap udara. Sedangkan sang raja di belakangannya menutup telinga.

Keduanya tegang, kala hampir diujung pelepasan. Khaotung makin panik, gusar, jari jemarinya meraba-raba cari pegangan. Kakinya gemetar, dengkulnya pasti merah. First layaknya orang kerasukan, wajahnya udah tolol, yang di kepalanya cuma ewein lubang suaminya sampai lecet, sampai dia denger Khaotung nangis minta ampun, sampai Khaotung lemes dan akui kalau First hebat.

Cowok itu gak berhenti menghentakkan kontol di lubang suaminya yang udah kebas, menganga. Gak peduli cairan sperma yang udah sampai ujung minta ditembakkan. Dan tubuh Khaotung terhentak hebat, suaranya udah putus asa, teriak kesakitan hingga menetes air mata. Minta diampuni sama tuannya.

Terakhir badan Khaotung jatuh bersama kepalanya, terkapar di atas sofa. Mengais sisa-sisa udara yang masih tersisa di medan tempur yang sudah hancur berantakan. Perutnya kejang, mual, mau muntah. Kalau First gak nahan pahanya, Khaotung pasti jatuh ke lantai. Suaminya udah pasrah, menunggu First dan kontolnya yang masih setia tertancap, merasakan aliran hangat dalam lubang senggama, dan kekosongan saat batang laknat akhirnya pergi dari peraduan. Untungnya, Khaotung masih bernyawa, dan dia gak tau harus bersyukur atau bagaimana.

First Kanaphan beranjak, bertelanjang dada bergerilya di sekitar kabin. Membuka satu persatu pintu yang belum mereka jamah. Khaotung habis tenaga, masih setia di sikap yang sama. Terlentang tak berdaya, bagai hidup segan mati jangan dulu. Matanya dia paksa buat terjaga, tapi sistem tubuhnya mati total.

Langkah ringan suaminya terdengar, siluet tanpa busana hadir di hadapannya. Udah, dia gak sanggup yang mau marahin buat pake minimal boxernya. Liat kontolnya yang tergantung bebas aja sebel, gak napsu saking capeknya. Yang Khaotung tau adalah, badannya udah direngkuh sama bed cover, tebal, hangat, dan rasa kantuk itu mulai menyerang.

Detik-detik selanjutnya Khaotung cuma ngeliatin tingkah First dari sorot matanya aja. Dia yang pake baju, terus ngatur suhu api unggun, dan ke dapur ambil segelas air hangat, ditaruh gitu aja di meja depan Khaotung terlentang. Terus Khaotung denger pintu halaman belakang kabin dibuka, ada bau nikotin yang semerbak ke dalam kabin karena diterpa angin dingin.

“Nya, kamu gak akan percaya sama yang aku lihat sekarang.” First ngomong, agak kenceng biar Khaotung denger.

“Liat, Nya! Aurora!” Timpanya lagi semangat.

Sumpah Khaotung yang mulai ngantuk ada geramnya juga. Dia gak bisa berdiri, berlari ke halaman belakang buat lihat apa yang lagi bajingan mesum itu lihat. Dan ini semua ulah First Kanaphan. Cowok itu ngejek banget batin Khaotung.

First sesap batang nikotinnya lagi, menghembuskan asapnya beserta beban-bebannya. Dia biarkan seluruh hal negatif hilang ikut angin Alaska.

“Makasih ya, Nya udah bertahan sama aku. Meskipun kita mulai semuanya dari situasi yang gak baik, tapi aku bahagia kita tetep bisa bersama. Aku masih gak percaya kalau sekarang, hubungan kita berdiri di atas cinta kita berdua. Mama kamu pasti seneng, Nya. Ibu sama ayahku juga pasti sayang banget sama kamu kalau mereka masih ada.” Kalimatnya panjang sembari matanya sibuk melihat awan dengan fenomena warna.

“Aku sayang banget, Nya sama kamu. Aku cinta banget sama kamu.” Finalnya.

Dan puisi cinta First Kanaphan tidak terbalas malam itu. Namun, First gak sedih, manusia yang baru kembali akal sehatnya terkekeh menyadari kebodohannya. Menyerang Khaotung secara brutal di hari pertama bulan madu sungguh tidak ada dalam bucket list-nya.

Ya Tuhan, mati kamu besok hingga lima belas hari kedepan, First Kanaphan!


`hjkscripts.


Mix marah, Earth tau betul. Maka dia gak bisa lagi nerusin angkat barbel. Paling nggak buat belakangan ini, otot-ototnya bukan prioritas. Earth mandi, kelimpungan, lari sana-sini gak takut kepeleset soalnya dia gak nyadar kalo badannya masih basah. Omelan Gawin gak sampek di telinganya.

Earth cuma mau bersiap diri, sopan hanya dalam waktu hitungan menit. Ternyata, saking buru-burunya dia gak sengaja pake kemeja batik dan celana denim. Nyaut jaket kulitnya dan helm full face. Oh iyaa, Earth balik lagi, masih dipelototi Gawin yang ada di dapur, kunci motor! Setelah itu Earth ngilang dari balik pintu, ninggalin Gawin sendiri di apartemen bersama bau parfum khas bapak-bapaknya.

Di jalan, Earth sempat mikir sih. Kenapa ya dia jadi begini, dijadikan budak cinta sama cowok yang harusnya jadi pilihan terakhir kalo ditanya siapa member EXIT yang bakal dipacari. Asbun, mulutnya sengak, songong dikit, that rich brat kid. Kalo sama Boom yang sama-sama tajir melintir, jelas Earth bakal milih Boom.

Tapi ya sayang, hatinya suka deg degan, berisik banget ngasih racun-racun yang bisa ngendaliin pikiran Earth pas lagi di dekat Mix, apalagi pas cowok itu lagi ngomelin dia, lagi maki-maki dia, lagi ngatain dia goblok, babi, anjing. Terakhir, Earth paling gak tahan pas lagi tidur sama dia. Di kasur besar yang sebenarnya cukup buat badan bongsornya. Earth sering hampir kelepasan, kalo aja dia gak inget bokap Mix galak.

Earth kira rasa suka dia yang perlahan tumbuh ini bakal ada selamanya sama dia, disimpen aja sampek gak tau kapan. Nyatanya, Mix mulai jatuh, mulai mempertimbangkan, mulai penasaran, dan mulai minta pertanggungjawaban. Karena Earth udah masuk terlalu dalam di dunia Mix, selain papi dan papanya.

Kenapa bukan Boom aja ya, kalem, positif, lemah lembut kalau ngomong. Haha percuma juga sih, mau Mix atau Boom, Earth itu gak ada apa-apanya. Manusia banyakinsecure, ya materi, ya nasib. Tapi barusan, Mix nyadarin kalo semua yang lagi dia usahakan gak serta merta tentang materi. Toh ya Mix gak pernah nuntut dia beliin sesuatu yang sesuai standar hidupnya, gak pernah minta diajak makan ke tempat yang sesuai sama gaya hidupnya.

Jatohnya cuma ngomong doang, nyablak aja. Cowok itu gak minta diwujudkan sungguhan, sebisanya, sekuatnya. Cuman, Earth Pirapat terlalu nganggep serius. Sebab dia juga lagi proses naikin taraf keluarganya, naikin derajat dirinya, begitu pula sama Mix. Dia pengen sama Mix tanpa mengubah tatanan hidup cowok itu.

Laju motor gede yang dia beli dari hasil jerih payahnya gebuk drum udah sampai di depan rumah Mix. Gede, minimalis sih tapi minimalisnya orang kaya. Di dalem perumahan gede, kluster-kluster gitu, rumahnya di jaga satpam bukan hansip atau bapak-bapak main karambol. Itupun satpamnya lagi nonton tv lcd, kerjaannya cuma nyegat, minta ktp, dan buka gerbang pakai tombol otomatis.

Rumahnya gak ada yang pake pager, apalagi cuma dibatesin kayu. Nyebutnya car port, jelas kegunaannya buat nyimpen mobil, bukan kayak di desanya Earth, halaman luas buat jemur padi. Earth taruh aja motornya sembarangan, gak perlu di masukin ke garasi apalagi sampai ke ruang tv. Gak bakal ilang, aman. Terus, cowok keker itu ambil langkah panjang biar cepet sampai di depan pintu.

Butuh dua menit aja setelah bel dibunyikan, kasih alarm ke pemilik rumah kalo di depan ada tamu. Dan PAS! Yang keluar Mix sendiri, kaget, bergeming, pula ada kelegaan karna kedatangan Earth secepat burung elang ada dua kemungkinan. Pertama, Earth mau nyuruh Mix sabar dan bear with him aja atau Kedua, Earth mau pastikan hubungan di antara mereka.

Mix ngajak Earth buat duduk di beranda belakang rumahnya. Mereka duduk di ayunan, sebelahan, gak ada jarak antara paha. Mata keduanya fokus ke kaki yang lagi sibuk sendiri. Gak ada yang mau ngadepin ekspresi lawan bicaranya. Mix berhenti ayun-ayunin kaki-kakinya kala kelingking Earth Pirapat berani nyentuh kelingking Mix yang tepat ada di sampingnya. Dia melingkarkan dan Mix gak ada penolakan.

Mix hari ini diem banget, gak asbun, gak ngomel kayak di pesan beberapa menit lalu. Dia malah deg degan, baru kali ini dia bisa ngerasain debaran yang super aneh, bikin mual soalnya perutnya kayak banyak kupu-kupu lagi terbang. Apalagi setelah denger kalimat pertama Earth yang keluar langsung dari mulutnya.

“Aku sayang sama kamu, Siw.” Katanya. Nadanya datar, gak ada logat medok atau intonasi jahil yang bikin segala percakapan sama cowok itu gak serius. Kali ini Earth gak lagi bercanda, dia mau utarakan apa yang harus diutarakan.

“Aku sayang kamu tapi aku gak bisa bikin kamu sengsara.” Lanjutnya.

Mix udah hela napas panjang, berat lagi, kayak tadi terbang tinggi terus tiba-tiba dilepas gitu aja. Dia mulai khawatir kalo Earth nyerah sebelum berusaha. Tapi Mix gak ngomel, gak marahin Earth, dia juga gak menahan Earth biar berhenti mikirin hal-hal yang berkaitan sama kesenjangan sosial di antara mereka.

“Aku memang bukan papi kamu atau papa kamu. Tapi aku yakin papi dan papa kamu yang berhasil besarin kamu, usahain semuanya yang terbaik buat kamu sampai sekarang udah jadi standar hidup kamu dan aku gak mau kamu ngerasain perubahan yang drastis kalau sama aku. Bukan, seenggaknya ya aku harus usahakan seminimal mungkin.” Earth, Mix beneran deh udah pasrah, lemes, punggungnya yang tegang jadi jatuh.

“Aku sayang sama kamu, iya. Tapi aku gak bisa miliki kamu sekarang. Karena aku cuma punya diriku sendiri, aku gak punya apa-apa lagi. Kalau Exit bubar percaya diriku habis saat itu juga. Aku gak bisa kan bawa badan dan motor itu doang ke papimu? Aku ini orangnya realistis, Siw. Maaf aku gak bisa jadi cowok yang ada di buku novel romantis apa di drama korea yang optimis.”

“Kalo Exit gak bubar?” Sahut Mix. Sumpah suaranya Mix udah kedengaran frustasi, jadi hopeless romantic, dia gak percaya diri kayak biasanya.

“Aku butuh kepastian kamu, Earth. Either you take me as yours or make both of us suffer-”

“Aku pasti datang ke kamu. Asal kamu tunggu dan gak capek sama aku. Aku akan datang ke rumah kamu, menghadap ke papi kamu.” Jawab Earth lantang akhirnya, ada sedikit percaya diri yang hadir kembali.

Namun sayang Exit bukan hanya milik mereka berdua. Ada empat orang lain yang mereka gak bisa ganggu gugat keputusannya.

“Kalo Exit milih bubar...” Mix kasih kemungkinan terakhir.

Kelingking Earth gak lagi ngasih afeksi lewat milik Mix. Malah seluruh telapak tangannya berani ambil alih seluruhnya. Dia remas tangan Mix yang lembut, wangi, dan lebih kecil daripada punya dia. Di remas pelan kasih kekuatan, menyebarkan kepercayaan.

“Aku juga pasti datang ke kamu. Tapi tolong maklumi aku ya kalau lebih lama. Karena aku bakal usaha lagi dari nol.” Finalnya.

Terakhir, Mix cuma mampu tersenyum puas, meskipun disembunyikan dalam tundukan kepalanya. Tapi sungguh inilah yang Mix harapkan, gak peduli sampai kapan, gak peduli berapa lama. Mix hanya butuh kepastian.


`hjkscripts.


TRIGGER WARNING ; SEXUAL CONTENT, HARSH WORDS, WORDS DEGRADING 🔞

Gawin gak bisa nahan nafsunya lagi waktu Podd baru saja melangkah melewati pintu masuk apartemen. Lelaki lebih tua itu lesu, capek, mata sayunya terbelalak kala badannya ditarik paksa. Badan apik kekarnya dibalut kemeja yang wanginya sudah bercampur dengan bau jalan dan keringat, semakin candu, bikin pusing kepalang.

Gak ada perlawanan sama sekali, sebab yang dipikirkan kepala lelaki masuk akhir 30 tahun kini hanya pulang dan rebahan sama pacarnya yang jutek. Namun, yang dia dapati adalah lengannya ditarik, punggungnya dipaksa bercengkrama dengan dinding keramik dingin, dikungkung rapat. Dia berdiri, diantara birahi dan benda mati.

Bibir ranum Mas Podd dingin karena hawa luar. Disambar habis, disesapi seksama, diciumi berkali-kali dengan gerakan rusuh. Cowok keturunan Jawa kini coba kembali dalam pikiran rasionalnya. Dia tak serta merta menanggapi Gawin yang lagi naik birahinya. Sebegitu kangennya kah?

“By... tung- tunggu, by?!” Mas Podd panggil Gawin pakai nama kesayangannya. Mendorong lembut badan Gawin yang besarnya hampir sama dengan dia.

Gawin kesal, Podd tau itu dari kerutan dahinya yang bikin alis pacarnya menukik. Tapi, Gawin masih berusaha maju, memojokkan Podd yang hampir tak punya ruang bernapas sama sekali. Podd itu capek, tenaganya habis di luar sana. Mengimbangi Gawin dengan nafsu liar tentu dia gak sanggup.

“Pelan-pelan, by..” Titahnya lirih. Cowok yang lebih tua mengatur nafasnya, mengusap kedua lengan kekar Gawin yang tegang dengan ibu jarinya. “Pelan-pelan. Aku gak kemana-mana.” Diperingatkan seperti itu, Gawin jadi rileks. Terus Podd senyum kemenangan.

“Iya-iya kita ngewe hari ini.” Batinnya.

Kali ini Gawin mematung, berdiri dihadapan Podd tanpa tindakan. Harap-harap sabar pacarnya bakal sentuh dia. Tangan Podd itu selalu kurang ajar bisa membangkitkan gairah seksual dalam dirinya. Pelan, penuh perhatian, berjuta kenyamanan, menyentuh tiap inti permukaan kulitnya. Rasa aneh selalu menjalar kala jemari nakal berputar sesekali di area yang membuatnya bergidik, melepaskan napas berat, dan suara maksiat.

Dari lengan menuju punggung, dari punggung menuju tengkuk, diremat pelan, menggoda Gawin yang patuh buka mulut minta bibirnya dijamah. Tapi Mas Podd itu juga jahat, mulut Gawin dibiarin menganga sampai liurnya jatuh menetes ke lantai. Cowok matang sialan itu malah tersenyum, terkekeh bak iblis saat jejak tangan besarnya tercipta jelas, merah, panas, di pipi gembil Gawin yang baru saja dia tampar.

“Berani-beraninya kamu maksa cium begitu. Diajarin siapa?” Tanya Podd dengan nada dingin. Dua jemari cowok itu masukkan dalam mulutnya yang basah, terbuka, mengabsen tiap gigi, rongga, juga bermain dengan lidah bercampur saliva. “JAWAB! KAMU DIAJARIN SIAPA?!” Ulangnya sekali lagi. Suaranya tegas, mendominasi, mengaktifkan adrenalin dalam tubuh Gawin.

Cowok goblok! Gimana Gawin bisa jawab kalau bibirnya disiksa begitu. Matanya merem melek, air matanya mulai jatuh satu persatu, perutnya mual, mau muntah, kepalanya pusing, dan tenggorokannya sakit. Masih jari, belum kontol, tapi Gawin sudah dibuat gila.

“Mas.. Kan mau puasin Mas..” Gawin jawab terbata, mulutnya masih kebas, liurnya meleleh sampai lehernya.

Gawin udah pasrah, egonya turun sampai tanah. Otaknya kosong, linglung, yang ada dalam pikirannya cuma dia mau disiksa pakai kenikmatan yang Podd udah lama gak kasih ke dia. Gawin udah lama nunggu, udah ratusan kalimat sabar.

Detik itu juga Podd puas denger jawaban Gawin. Bangga karna pacar juteknya memohon pakai matanya yang berlinang putus asa. Cowok jangkung itu kasih kecupan, baru kecupan tapi Gawin sudah mengerang kegirangan. Gawin mau coba mendominasi kecupan, tapi Podd nahan lehernya, hampir seperti mencekik. Namun, Gawin malah terkekeh, menjulurkan lidahnya tanpa disuruh, bak pelacur yang tugasnya memang menggoda tuannya.

Siksa aku sampai terbang melayang. Siksa aku sampai kaki lemas sebab lama melenggang di awan. Siksa aku sampai syaraf tegang. Siksa aku sampai suaraku tak sanggup sekedar memohon ampunan.

Di mata Podd Supakorn, laki-laki setengah abad ini lebih terlihat sebagai pelacur. Pakaiannya minim, sudah dipersiapkan untuk disobek. Celananya ketat, sengaja agar kontolnya yang tegang dapat terasa di sela-sela kulit paha lawan mainnya.

Bajingan, badan Gawin gak bisa diem, sehingga gundukan dibalik celana sialan terus menggesek miliknya hingga bangun dan basah. Podd masih sibuk mengulum bibir pacarnya yang sudah bengkak, merah, tak ada rupa. Sembari tangannya melucuti celananya sendiri. Lelaki itu memijat sebentar, batang panjang yang akhirnya lepas menegang.

Podd melepas kecupannya, mengusap bibir Gawin dari saliva, menampung ditangannya. Cowok yang sama-sama dimabuk cinta melumasi kontolnya, sebelum menarik paksa pacarnya buat jongkok. Mensejajarkan mulut pacarnya yang masih terbuka dihadapan kontolnya yang menggantung bebas.

“Katanya kangen mas?” Godanya dengan suara frustasi. Bangsatnya dia sengaja mengocok penisnya, pula ditamparkan berkali-kali ke pipi Gawin.

Gawin itu paling benci nyepong kontol orang. Sebab, mulutnya lebih berharga daripada dimasukin kontol kotor, bau, dan gak beradab. Tapi, Podd hari ini menang banyak. Gawin udah kepalang sange, kepalanya kopong, gak bisa mikir kayak orang tolol, bego. Maka, Gawin gak ada waktu buat jual mahal, ngatur posisi ngewe harus begini begitu, biar dia cepet dijajah, biar lubangnya yang gatel cepet diisi kontol pacarnya.

Podd ketawa jahat, puas banget waktu kontolnya dibawa masuk ke dalam mulut Gawin. Mulutnya penuh, ekspresinya lucu, antara sebel, marah, sama kelabakan gerak maju mundur ngasih kuluman. Emang bener, Gawin gak pinter nyepong. Namun, gerakan alakadarnya yang berantakan malah bikin penisnya dapet sensasi yang berbeda. Podd mendongak, ngasih apresiasi pake suara-suara geraman rancau sembari tangannya dia pake buat nyiksa mulut Gawin lebih kacau kala getaran penuh suka cita akan dekat.

Cairan precum-nya keluar, bikin Gawin kaget, mau keluarin aja itu kontol yang makin sesak dalam mulutnya. Namun, tangan Podd nahan kepalanya, maksa masukin semua kepala sampai ujung batangnya masuk. Gawin batuk-batuk saat kepala kontol bangsat nyodok tenggorokannya, tapi Podd gak punya ampun. Cowok itu pengen semua cairan spermanya ditelan pacarnya. Soalnya, kapan lagi Gawin sudi mengecap spermanya.

Gawin lemes terduduk di lantai, air liurnya netes bercampur sperma. Dia masih proses semua kejadian gila yang mungkin dia mulai sesali. Hanya saja, pacarnya udah mabuk kepayang, sange terbang melayang. Jadi, Podd gak segan berlaku kasar, angkat badan Gawin yang masih ambil napas.

Ruang tamu apartemen sepi itu jadi saksi gimana Podd kerasukan setan kamasutra. Gawin dibanting tengkurap di atas sofa IKEA harga belasan juta. Empuk, dia terhimpit pasrah, tenaganya cuma sanggup buat gerakin jari cari pegangan. Soalnya, dia juga makin pusing, makin tolol diperdaya brengsek yang kontolnya dia pengen banget.

Podd gak kaget waktu dia lucuti celana boxer Gawin. Gak pake celana, langsung disuguhi pantat bersih, mulus, kenyal waktu Podd tampar pipinya. “AGHHHH!!!” Suaranya putus asa. Cuma bisa desah, teriak, dan nikmatin sensasinya.

Podd gak main-main lagi, takut ada yang ganggu sebelum dia bantai lubang anal yang sembunyi malu-malu di tengah belahan pantat Gawin. Tanpa ampun, tanpa belas kasih, cuma dibubuhi air liur yang baunya udah kecampur peju sebagai pelicin. Podd memasukkan semuanya tanpa tersisa.

“AASGHHHHHMM... SHHHH...” Rancau pacarnya kacau balau. Rasanya sakit, perih, tapi telinga, mata, dan nurani Podd udah ditutupi birahi. Dia gak peduli Gawin di bawah tumpuannya lagi merancau kesakitan dan sibuk melenguh.

Rasanya bingung, sakit, kasar, Gawin mau protes. Tapi di dalam benaknya ada adrenalin yang bikin dia menikmati tiap hujaman biadab. Sensasi kontol besar pacarnya yang lagi dia himpit erat-erat dalam lubangnya bikin dia teriak kesakitan bersamaan dengan kepuasan.

Ini yang Gawin mau, digenjot habis-habisan tanpa ampun. Pasrah badannya dibalik, dibanting, diewe sampek goblok. Bukan cuma dianggurin kayak minggu-minggu lalu, bukan cuma ditemenin tidur sambil disayang-sayang.

Film bokep homo yang dia tonton gak ada apa-apanya ketimbang dia sendiri yang jadi artisnya. Dia pengen ngerasain kayak gini, kakinya ngangkang kasih akses seluruhnya mas pacar yang sibuk muasin diri dan dirinya. Sensasi kakinya yang geter-geter waktu pelepasan yang gak ada abisnya, liat badannya dan mas pacar yang basah sama pipisnya.

Terakhir, Podd akan semakin kencang menghujam penisnya, hingga Gawin teriak bak serigala melolong di tengah hutan. Menyisakan helaan napas berat kala cairan hangat mengisi bagian bawahnya. Dan mereka berdua akan tergeletak, telanjang di atas alas bayang-bayang kelegaan. Satu kecup, dua kecup terakhir sebelum kantuk datang.


`hjkscripts.


Khaotung gak bisa nahan matanya yang udah tinggal beberapa watt lagi. Udah mau ilang aja kalau dia gak inget lagi bersandar di dada suaminya yang lagi yapping sejak 20 menit yang lalu. Basa basi such, yang sekedar ditanggapi Khaotung singkat juga kadang deheman.

Otaknya udah gak jalan, mode istirahat. Gak inget juga apa-apa aja yang dari tadi diomongin. Yang dia rasa cuma perasaan nyaman. Ya salahkan aja si suami malah sayang-sayang dia. Lengannya, pahanya, hingga perutnya diusap-usap lembut.

“Nyaa..” Panggil First Kanaphan bikin bulu kuduknya di sekitar lehernya berdiri. Suaranya serak basah, mendayu, lirih namun jelas masuk langsung di gendang telinganya yang tepat di depan bibirnya. First gak bisa lihat, namun Khaotung sampai mengernyitkan dahinya dipanggil begitu tiba-tiba.

“Nyaa?? Tidur ya kamu? Dibahas besok aja apa?” Sumpah sebenernya Khaotung tuh mau rewel aja tiap dipanggil 'Nya', kesannya dia kayak ibu-ibu pake kebaya khas butik mahal terus pake sanggul. Dia kan cowok! Tapi suaminya itu selalu mengelak kalo panggilan 'Nya' itu kepedekan dari 'Nyaong', soalnya Khaotung mirip kucing. Alesan aja!

Khaotung ngasih gerakan kecil juga respon minimalis buat ngasih alarm bahwa dia masih terjaga. Posisinya masih dia buat sama, menghadap ke arah jendela, memunggungi First yang tangannya berganti mainin rambutnya. Matanya kali ini terjaga.

“Nyaa?” Panggilnya sekali lagi, memastikan Khaotung benar masih terjaga.

“Hmm?” Khaotung terjaga, kelopak matanya berkedip dengan lambat, mengais sisa-sisa tenaga. Nafasnya teratur, tak sama sekali terganggu atas suara ritme detak jantung First Kanaphan yang entah mengapa mulai berantakan.

First tarik nafasnya dalam, dihembuskan hingga menyapu tengkuk Khaotung yang dingin. “Kamu tau kan aku sayang sama kamu?” Kalimat pertamanya. It's getting serious, Khaotung paham banget.

“Aku akan jaga kamu, aku akan lindungi kamu. Tapi di dunia kita, aku gak bisa cuma jaga kamu waktu kita cuma berdua. Aku mau jaga kamu dimanapun, karena itu kewajibanku. Karena kamu berhak aku lindungi. I want to set boundaries to that nasty hands, eager eyes, filthy mouth. I want to make sure you work comfortably, and i want to make myself rest assure when we have that distance.”

Khaotung kaget jujur, masih belum mau kasih ekspresi berlebihan. Masih mau dengerin sampai laki-laki yang merengkuh tubuhnya menyelesaikan kalimatnya, ketegasan yang berasal dari dalam dirinya.

“I want to declare, officially statement, as soon as possible about what happen to us yesterday and now. Aku bukan mau kekang kamu, aku hanya ingin dimanapun kamu berada, dimanapun aku berada, meskipun kita sibuk dengan dunia kita sendiri, di mata orang-orang, mereka lihat eksistensiku selalu dibelakang kamu, pun kamu di belakangku. Tentu aku gak mau gegabah, aku mau realiasasikan atas dasar persetujuan kamu juga.”

Khaotung menghela napasnya, panjang sekali. Sebab, kalimat demi kalimat penuh pengharapan dan tanggung jawab seorang First Kanaphan bikin dadanya membuncah sesak, tenggorokannya kering tercekat. Hingga kalimatnya selesai baru dia bisa lega.

Lelaki yang lebih kecil akhirnya melepas rasa malunya, bergerak perlahan menantang mata sayu yang akan membuatnya meleleh saat itu juga. Kalau Khaotung melihat mata berbinar itu lebih awal, First tidak akan selesai dengan penjelasannya, sebab Khaotung akan menangis detik itu pula.

Tidak ada jawaban verbal dari pernyataan panjang yang First tuangkan. Hanya dua pasang mata yang saling berbicara satu sama lain. Lalu, Khaotung kalah telak bersama semburat merah mudah yang menguar samar dari balik permukaan pipinya.

Jangan, jangan ditatap lagi. Khaotung beralih sembunyi dalam dada sang suami, diterima dengan penuh sayang. Dengan begini First Kanaphan nampaknya gak perlu jawaban lebih jauh, ia tak perlu menanyakan detailnya. Yang pasti hari besok dia akan jadi laki-laki yang berdiri, mendeklarasikan kisah cinta rumitnya kepada dunia.

Malam ini mereka hanyut, dalam bayang-bayang akan reaksi dunia ketika hari itu tiba. Ada rasa tak sabar, sedikit angkuh, dan sombong ingin segera berdiri di atas mata-mata penasaran. Mungkin mereka akan teriak, dengan perasaan suka dan lega bahwa mereka saling memiliki. Persetan manusia menghujat, terpenting adalah dunia indah ada depan mata, dunia cerah adalah milih mereka berdua.


`hjkscripts.