hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Cast : Jiang Da Hai as Aheng Li Pei En as A Li

TRIGGER WARNING ; HARSH WORDS, AGE GAP, NON-CONSENSUAL SEXUAL CONTENT 🔞

ACT I. PESISIR MISKIN. Kamar sempit, sumuk bukan main, cat tembok sudah banyak gugur kalah lomba dengan jaman. Mana dalamnya hanya rangkaian kayu, bukan bata atau beton kayak pondasi rumah pada umumnya. Duduk anak muda, laki-laki dibalur keringat di dahi. Menetes pula hingga leher, jatuh pula hingga punggung.

Basah akhirnya kaus coklat muda yang dikenakan. Warnanya jadi coklat tua di punggung. Kain yang menyampir pundak bercampur warna putih bekas keringat semalam mengering juga bolong-bolong. Menandakan kaus belel yang Ia kenakan sudah lelah menghadapi perang dengan air dan matahari.

Belia itu sedang menghadapi buku tebal usang pula koyak halaman. Harus hati-hati jika di balik. Mejanya menghadap jendela yang dibuka setiap pagi, menggantikan bau apek kamar lusuhnya jadi bau asin pesisir. Wajahnya diterpa sinar matahari langsung dari tempatnya muncul peraduan. Rambut depannya bergerak perlahan dihembus kipas angin yang bunyinya kayak tikus sekarat, penuh debu satu serikat, dan banyak karat. Yang penting masih bisa nyala, setidaknya bisa menyeka setengah keringat.

Sederhana, namun sederhana begitu kamarnya serupa cendikiawan. Banyak buku bukan sekedar hiasan, banyak dari tumpukannya selesai dia baca. Tempelan di dinding triplek bukan poster klub sepak bola kesukaan, atau cewek anime seksi dari serial hentai, tetapi kertas catatan penting buku baru yang dia baca, juga informasi dari internet yang boleh dia dapat dari komputer sekolah terbatas yang hanya bisa diakses satu siswa per-30 menitnya. Ia miskin harta tidak miskin ilmu.

“A Li! A Li!” Panggil paruh baya wanita dari luar kamarnya. Muda lelaki empu nama A Li melepaskan empat matanya dari kalimat terakhir halaman yang Ia baca. Tepat sekali selesai.

“Nggih, buk!” (Iya, ibu!) Balasnya sembari merapihkan meja yang semalam suntuk berantakan. Minggu depan sudah ujian akhir kelulusan. Sebentar lagi A Li lulus dari 12 tahun wajib sekolah.

Kacamatanya di lepas, ditaruh hati-hati di atas meja. Gak bisa dilipat, karena gagangnya sudah pakem, dilakban karena jatuh dan patah sekali. A Li berdiri, mata polosnya menyipit kala menatap ufuk yang selalu jadi pemandangannya sejak Ia membuka mata pertama kali. A Li menghirup napasnya dalam-dalam, merasakan bau asin bercampur asap badek, menandakan aktifitas pesisir sudah dimulai sepenuhnya. Jendela yang Ia biarkan terbuka ditutup kembali, jika tidak bau urea yang dihasilkan dari proses pengasapan ikan pe bergumul di dalam kamarnya yang minim sirkulasi.

“A Li! Ayo leh, maem disek!” (A Li, Ayo nak, makan dulu!) Panggil ibu sekali lagi. Ibu ada di belakang rumah, tapi suaranya jelas terdengar saking rumahnya hanya terbuat dari gedek dan triplek.

Bapak sudah ada di kursi ruang tengah waktu A Li keluar kamar. Menikmati satu piring nasi, yang hanya punya lauk ikan asin, oseng daun semanggi, dan sambal. Lahap sekali, sambil nonton tv tabung yang gambarnya tinggal separuh, gak lupa disuguhi kopi. Biasanya bapak cuma pakai kaus kutang dan sarung, tapi hari ini bapak sudah rapih pakai baju batik, satu-satunya di lemari. Biasanya bapak pakai cuma di hari raya atau waktu ke acara juragan kapal.

A Li masuk dapur. Kegiatan pertama waktu masuk dapur rumah pesisir sudah pasti batuk-batuk sebab masaknya masih pakai tungku kayu. Biar hemat, sekalian nyala buat mulai ngasap ikan yang baru dapat dari nelayan yang datang sore kemarin. Kompor gas ada, cuman harus irit. Ada ibuk lagi duduk di meja makan, tangannya sibuk pegang besek isi ikan asin yang hari ini mau dijual. Dipilih yang bagus, dipisahkan dari yang retak, yang cuil. Yang jelek disimpan untuk lauk besok. Begitulah hidup sehari-hari di rumah miskin di pesisir.

“Bapak sampun rapi menika ajeng pundi toh, buk?” (Bapak sudah rapi begitu mau kemana, ibu?) A Li duduk, menyiapkan piringnya untuk sarapan. Isi lauknya sama seperti punya bapak. Tangannya yang bebas masuk ke besek kerupuk ikan yang belum di goreng, kebiasaan.

Ibuk gak berhenti dari kegiatan pilah ikan asin. Hanya tersenyum yang bikin A Li makin curiga. A Li dari tempat duduknya juga belum sadar bahwa ibuk juga sudah rapih pakai jarik dan kebaya merah muda dari jaman beliau masih gadis. Rambutnya juga disanggul sederhana, tapi rapih. Gak seperti ibuk biasanya yang cuma pakai daster, atau jarik lawas, rambutnya dicepol biasa, pakai karet bungkus nasi.

“Buk?! Pripun toh? Kok mboten mangsuli kula. Malah pun mesem mawon loh.” (Ibu?! Gimana sih? Kok gak jawab aku. Malah senyum saja loh.) Tutur A Li kesal.

Selesai ikan asinnya dipisahkan, ibuk baru berikan perhatian pada A Li yang wajahnya merengut. Tangan A Li, ibuk keluarkan dari besek kerupuk ikan, digenggam, diusap penuh kasih sayang. Buat A Li berhenti dari acara menyantap daun semanggi terakhirnya.

“Leh, awakmu kan ajeng lulus sekolah. Anak lanang e bapak sama ibuk, mung siji-sijine. Purun nggih dikenalno juragan e bapak.” (Nak, kamu kan sebentar lagi lulus sekolah. Anak laki-laki bapak sama ibu, hanya satu-satunya. Mau ya dikenalkan juragannya bapak.) Kata ibu dengan suara lembut, hati-hati. Takut anak lanangnya salah arti.

“Maksud ibuk kados pundi, nggih?” (Maksud ibu gimana, ya?)