where the ocean worship its sky.


Cast : Jiang Da Hai as Aheng Li Pei En as A Li

TRIGGER WARNING ; HARSH WORDS, AGE GAP, NON-CONSENSUAL SEXUAL CONTENT 🔞

ACT I. PESISIR MISKIN. Kamar sempit, sumuk bukan main, cat tembok sudah banyak gugur kalah lomba dengan jaman. Mana dalamnya hanya rangkaian kayu, bukan bata atau beton kayak pondasi rumah pada umumnya. Duduk anak muda, laki-laki dibalur keringat di dahi. Menetes pula hingga leher, jatuh pula hingga punggung.

Basah akhirnya kaus coklat muda yang dikenakan. Warnanya jadi coklat tua di punggung. Kain yang menyampir pundak bercampur warna putih bekas keringat semalam mengering juga bolong-bolong. Menandakan kaus belel yang Ia kenakan sudah lelah menghadapi perang dengan air dan matahari.

Belia itu sedang menghadapi buku tebal usang pula koyak halaman. Harus hati-hati jika di balik. Mejanya menghadap jendela yang dibuka setiap pagi, menggantikan bau apek kamar lusuhnya jadi bau asin pesisir. Wajahnya diterpa sinar matahari langsung dari tempatnya muncul peraduan. Rambut depannya bergerak perlahan dihembus kipas angin yang bunyinya kayak tikus sekarat, penuh debu satu serikat, dan banyak karat. Yang penting masih bisa nyala, setidaknya bisa menyeka setengah keringat.

Sederhana, namun sederhana begitu kamarnya serupa cendikiawan. Banyak buku bukan sekedar hiasan, banyak dari tumpukannya selesai dia baca. Tempelan di dinding triplek bukan poster klub sepak bola kesukaan, atau cewek anime seksi dari serial hentai, tetapi kertas catatan penting buku baru yang dia baca, juga informasi dari internet yang boleh dia dapat dari komputer sekolah terbatas yang hanya bisa diakses satu siswa per-30 menitnya. Ia miskin harta tidak miskin ilmu.

“A Li! A Li!” Panggil paruh baya wanita dari luar kamarnya. Muda lelaki empu nama A Li melepaskan empat matanya dari kalimat terakhir halaman yang Ia baca. Tepat sekali selesai.

“Nggih, buk!” (Iya, ibu!) Balasnya sembari merapihkan meja yang semalam suntuk berantakan. Minggu depan sudah ujian akhir kelulusan. Sebentar lagi A Li lulus dari 12 tahun wajib sekolah.

Kacamatanya di lepas, ditaruh hati-hati di atas meja. Gak bisa dilipat, karena gagangnya sudah pakem, dilakban karena jatuh dan patah sekali. A Li berdiri, mata polosnya menyipit kala menatap ufuk yang selalu jadi pemandangannya sejak Ia membuka mata pertama kali. A Li menghirup napasnya dalam-dalam, merasakan bau asin bercampur asap badek, menandakan aktifitas pesisir sudah dimulai sepenuhnya. Jendela yang Ia biarkan terbuka ditutup kembali, jika tidak bau urea yang dihasilkan dari proses pengasapan ikan pe bergumul di dalam kamarnya yang minim sirkulasi.

“A Li! Ayo leh, maem disek!” (A Li, Ayo nak, makan dulu!) Panggil ibu sekali lagi. Ibu ada di belakang rumah, tapi suaranya jelas terdengar saking rumahnya hanya terbuat dari gedek dan triplek.

Bapak sudah ada di kursi ruang tengah waktu A Li keluar kamar. Menikmati satu piring nasi, yang hanya punya lauk ikan asin, oseng daun semanggi, dan sambal. Lahap sekali, sambil nonton tv tabung yang gambarnya tinggal separuh, gak lupa disuguhi kopi. Biasanya bapak cuma pakai kaus kutang dan sarung, tapi hari ini bapak sudah rapih pakai baju batik, satu-satunya di lemari. Biasanya bapak pakai cuma di hari raya atau waktu ke acara juragan kapal.

A Li masuk dapur. Kegiatan pertama waktu masuk dapur rumah pesisir sudah pasti batuk-batuk sebab masaknya masih pakai tungku kayu. Biar hemat, sekalian nyala buat mulai ngasap ikan yang baru dapat dari nelayan yang datang sore kemarin. Kompor gas ada, cuman harus irit. Ada ibuk lagi duduk di meja makan, tangannya sibuk pegang besek isi ikan asin yang hari ini mau dijual. Dipilih yang bagus, dipisahkan dari yang retak, yang cuil. Yang jelek disimpan untuk lauk besok. Begitulah hidup sehari-hari di rumah miskin di pesisir.

“Bapak sampun rapi menika ajeng pundi toh, buk?” (Bapak sudah rapi begitu mau kemana, ibu?) A Li duduk, menyiapkan piringnya untuk sarapan. Isi lauknya sama seperti punya bapak. Tangannya yang bebas masuk ke besek kerupuk ikan yang belum di goreng, kebiasaan.

Ibuk gak berhenti dari kegiatan pilah ikan asin. Hanya tersenyum yang bikin A Li makin curiga. A Li dari tempat duduknya juga belum sadar bahwa ibuk juga sudah rapih pakai jarik dan kebaya merah muda dari jaman beliau masih gadis. Rambutnya juga disanggul sederhana, tapi rapih. Gak seperti ibuk biasanya yang cuma pakai daster, atau jarik lawas, rambutnya dicepol biasa, pakai karet bungkus nasi.

“Buk?! Pripun toh? Kok mboten mangsuli kula. Malah pun mesem mawon loh.” (Ibu?! Gimana sih? Kok gak jawab aku. Malah senyum saja loh.) Tutur A Li kesal.

Selesai ikan asinnya dipisahkan, ibuk baru berikan perhatian pada A Li yang wajahnya merengut. Tangan A Li, ibuk keluarkan dari besek kerupuk ikan, digenggam, diusap penuh kasih sayang. Buat A Li berhenti dari acara menyantap daun semanggi terakhirnya.

“Leh, awakmu kan ajeng lulus sekolah. Anak lanang e bapak sama ibuk, mung siji-sijine. Purun nggih dikenalno juragan e bapak.” (Nak, kamu kan sebentar lagi lulus sekolah. Anak laki-laki bapak sama ibu, hanya satu-satunya. Mau ya dikenalkan juragannya bapak.) Kata ibu dengan suara lembut, hati-hati. Takut anak lanangnya salah arti.

“Maksud ibuk kados pundi, nggih?” (Maksud ibu gimana, ya?)

Nafas berat ibuk hembuskan, jantungnya mulai berdetak gelisah. Keputusan diskusi semalaman dengan bapak berat. Ibuk maupun bapak juga mengerti betul mimpi A Li yang selalu dia jabarkan siang malam. Mimpi yang siapapun gak boleh halangi. Bahkan keadaan hidupnya sekalipun.

“Gini loh, leh. Bapak sama ibu punya rencana buka lapak di pasar besar. Jualan ikan asin, ikan asap, sama kerupuk. Jadi bapak harus pinjam modal untuk buka kios di sana sama Abah Lim. Sebagai gantinya bapak kerja nanti upah hariannya dipotong sampai hutang lunas. Ibuk hitung yo ndak cukup buat kita kebutuhan sehari-hari, hasil jualan kalau di sini cukup buat makanㅡ”

“Terus aku kuliahnya gimana, buk?!” Sahut A Li. Suaranya dibuat tinggi, memotong penjelasan ibuk.

Setelah lulus dari SMA, A Li hanya tau kuliah. Sebab itu anak ini belajar tanpa kenal lelah dari kelas satu. Agar namanya terus menetap di peringkat satu. Diikuti doa dengan harapan suatu saat Tuhan memberinya jalan untuk kuliah dengan biaya minimal bahkan kalau bisa diberi beasiswa. Gak perlu jauh di luar negeri, A Li hanya butuh keluar dari kamarnya yang sumuk juga lembab. A Li mau udara paginya hirup bau lain bukan bau garam. A Li mau baju-bajunya bau wangi detergen bukan bau ikan asap. A Li mau kaki-kakinya berjalan cepat di atas lantai marmer bukan terseok pasir penuh sampah juga luka akibat kulit kerang.

A Li muak bersyukur setiap hari hanya makan lauk ikan asin atau ikan laut kecil yang boleh bapak dapat dari sisa sortir. A Li mau keluar dari neraka yang menurut orang-orang adalah tanah surga. Sebab, A Li tau bukan kehidupan laut ini yang orang-orang mimpikan setelah pensiun, bukan rumah gubuk di pesisir yang bisa hanyut kapan saja kala ombak besar datang jangankan tsunami.

“A Li...” Pinta ibuk memanggil namanya putus asa. Raut wajahnya dibuat sesedih mungkin agar sang anak prihatin dan menyerah. “Ibuk janji, kalau kios di pasar besar berhasil, kamu kuliah. Ibuk sama bapak akan usahakan. Tapi sekarang, kamu tolong bantu ibuk sama bapak dulu yo, leh.” Lanjutnya.

Ya Allah rasanya A Li mau menangis sekarang. Bahkan mata merahnya saja tidak tertutup hanya dengan dia pakai kacamatanya. Mandi sudah wangi, bajunya pakai yang paling bagus dan rapih. A Li juga bingung mengapa hanya untuk bertemu salah satu juragan kapal bapak, mereka bertiga harus berdandan serba ekstra. Padahal ujung-ujungnya A Li kerja jadi anak buah kapal sederhana. Bergumul dengan amis ikan, asin air laut, dan bau kecut teman-teman yang lain.

Rumah hanya ditutup rapat pintunya. Gak ada maling di sekitar sini, maling takut sama pemuda pantai yang hobi mabuk siang bolong. Bawa parang, kadang celurit mereka. Bertiga jalan terburu-buru menuju bibir pantai tempat kapal-kapal pengangkut ikan bersandar, tempat dimana para juragan berkumpul kalau gak layar. Tangan A Li diseret ibuk yang terus-menerus ngomel sebab A Li jalannya lambat sekali, sedangkan bapak fokus pimpin jalan sembari menghisap rokoknya.

Sampai mereka di depan salah satu kapal lumayan besar. A Li dan ibuk disuruh bapak menunggu di bawah, sembari bapak naik ke atas untuk lapor sama juragan. Ibuk benahi posisi jariknya agar jatuh rapih, juga kembennya yang melorot. Ibuk bantu A Li selanjutnya, memastikan kemejanya gak lungset, bebas dari kotoran meskipun warnanya sudah mangkak, menguning. Rambutnya juga ditata lagi agar rapih setelah pakai minyak rambut punya bapak.

A Li tatap lamat-lamat dan Ia jauh mengorek ingatannya, kapal ini asing. A Li belum pernah lihat yang sebesar ini. A Li tau betul kapal kerja bapak, milik Abah Lim. Kapalnya sedang, warnanya dominan hijau, kayu-kayunya hampir lapuk, layarnya beberapa sobek, dan tempat sandarnya ada di ujung selatan tempatnya berdiri. Kapal satu ini harus naik pakai papan kayu cukup tinggi untuk sampai geladak, cat kayunya mulus, warnanya biru-putih, ada sekoci kecil di pinggir badannya. Juragan mana maksud bapak ini?

Kepala bapak muncul dari balik geladak kapal, semakin jelas kala bapak mendekati pintu turunan. Diikuti pria paruh baya tinggi, masih tua bapak-ibuk, tapi gak muda juga. Mungkin masuk umur 40 awal. Badannya bugar, bukan gendut, berkumis seperti juragan-juragan pada umumnya. Hanya topinya saja yang membuat beliau berhak dijuluki juragan.

Suara ketukan sepatu beliau beradu dengan papan kayu, syahdu sekali. Maklum sepatu bukan murah punya. Jelas, mata A Li bersinar terkena pancaran kilau ujung sepatu kulit hitam juragan. Pakaiannya juga A Li pasti gak paham kalau diberitahu merk-nya. Maklum, A Li gak pernah tau mall. Dari bawah, empat mata A Li amati lamat-lamat calon juragannya, terakhir, pandangannya jatuh tepat di kedua mata dewasa juragan yang berdiri di hadapannya.

Tiga detik saja, A Li seketika gugup diberi senyum juragan. Senyuman rupawan, namun ada hint nakal di matanya yang tak memutus tatapannya pada A Li. A Li menunduk, tak sopan menatap juragan seterang itu.

“Juragan, ngapunten kula mengganggu waktunipun kagungan juragan.” (Juragan, mohon maaf saya mengganggu waktu milik juragan.) Bapak bersuara, memakai bahasa sesopan mungkin dihadapan juragan.

Juragan tersenyum, “Halah, koyok karo sopo ae.” (Halah, kayak sama siapa aja.) Balas juragan. Beliau menyalakan satu batang rokok yang beliau ambil dari saku celana kainnya.

“Dados menika, juragan, jaler kula saking ingkang kula sanjang kala wingi. Saking ingkang kula janjikaken dhateng juragan.” (Jadi ini, juragan, anak laki-laki yang saya katakan kemarin. Yang sudah saya janjikan kepada juragan.) Jelas bapak tak dihiraukan juragan.

Juragan masih sibuk berdiri, bersama rokoknya yang makin dihisap semakin kecil, membiarkan abunya jatuh ke atas pasir pantai. Juragan masih sibuk menatap A Li yang menunduk dari ujung rambut sampai pangkal kuku kaki. Telinganya berdengung, membuatnya tuli sejenak, bahkan suara hiruk pikuk aktifitas pesisir, suara debur ombak yang mulai tinggi, maupun teriakan anak-anak yang mulai nampak setelah pulang dari sekolah tak mengganggunya sama sekali.

“Jadi kapan aku isok nggowo anakmu, lik?” (Jadi kapan aku bisa bawa anakmu, pak?) Tanya juragan, tidak ada obrolan lain selayaknya calon pekerja dan pemilik. Cukup dengan diamati, juragan sudah cocok mau bawa A Li naik kapalnya yang besar.

“Laut benjing saged, juragan. Nggih benjing kula siapkaken A Li.” (Melaut besok bisa, juragan. Baik besok saya siapkan A Li.) Jawab bapak mantab, semangat. Namun membuat hati A Li sakit, layaknya ditusuk kail pancing, perih.

Bahkan untuk hal seperti ini saja A Li dilarang berpendapat. Bapak yang sudah tentukan. A Li seperti barang yang begitu gampang diserahkan. Ya Allah, A Li ingin kabur nanti malam apa boleh diijinkan?


ACT II. BAHARI SEJAHTERA. Matahari muncul dari peraduan, begitu ayu warna langit dibuat. Gelap perlahan hilang, ditelan sinar. Kicau burung camar menemani hari baru A Li di atas deburan ombak berangsur tenang. Deru kapal masih berisik meskipun hijau pesisir sudah lama tak nampak.

Hanya air yang mengelilingi. Kapal besar yang Ia tumpangi mendadak jadi kecil beradu dengan samudra. Angin kencang berhembus menerpa badannya yang kurus. Membenarkan kacamatanya berkali-kali, takut jatuh, tenggelam dalam palung.

Cuaca hari ini cerah, berbeda sekali dengan suasana hatinya yang tak kunjung membaik. Sakit hatinya masih bersarang, mengetahui di depan matanya sendiri bapak menjualnya terang-terangan pada juragan. Luka di hatinya makin meradang, kala A Li harus pergi dari kamar lusuh, satu-satunya tempat paling aman untuk menggapai mimpi-mimpinya, yang ternyata menjadi tempatnya juga untuk mengubur mimpi sejenak. Dini hari pukul tiga, A Li untuk pertama kali pergi dari rumah. Bukan untuk kuliah, namun menceburkan diri dalam air asin yang senantiasa membuat tubuhnya basah.

Bukan ini yang A Li mau. Harusnya, jemari terampil A Li digunakan untuk meraut pensil bukan memasang kail. Tangan A Li hanya terbiasa merajut halaman buku koyak bukan merajut jala. Otaknya cerdasnya A Li gunakan untuk selesaikan rumus matematika bukan mengukur panjang tali tampar. Bahkan A Li bukan sering lagi terhuyung, sebab berat jaring pukat cincin tak sepadan dengan besar badannya.

A Li ini laki-laki, mau sekali menangis. Namun Ia sadar di atas Kapal 'Bahari Sejahtera' tidak ada ruang untuk menitihkan air mata. Hanya ada ruang untuk keringat dan kerja keras. A Li butuh 3 hari saja untuk bertahan, sebelum Ia bisa kembali bertemu dengan buku ajarnya.

“Li! A Li!” Teriak serang, sang mandor geladak dari kejauhan. Kapal telah tender di tengah laut, manufer propeler, atau baling-baling kapal mati tanda tercapai sudah lokasi tebar pukat.

Hiruk pikuk anak buah kapal yang sibuk memindahkan jaring pukat cincin dalam sekoci membuat A Li minim pendengaran. Serang Bandar mendekat, seperti biasa bersama cerutu yang gak pernah surut. Perut buncit kelebihan gula tak membuatnya terhuyung jalan di atas geladak yang mulai bergoyang akibat ombak besar. Mendatangi A Li yang sibuk di dekat haluan.

“A Li!” Serang Bandar menepuk pundak A Li yang tengah membungkuk. Empunya berjengit kaget.

“Oh- nggih, wonten napa, pak?” (Oh-ya, ada apa, pak?) Balas A Li. Meletakkan jala bagiannya sembari mengelap telapak tangannya yang habis bau amis.

Serang Bandar menggerakkan kepalanya, dagunya maju menunjuk bagian atas anjungan. “Diceluk juragan. Kono diparani disek!” (Dipanggil juragan. Sana didatangi dulu!)

Lelaki berumur kini berpaling, diikuti A Li tepat jalan di belakang. Beda dengan Serang Bandar yang jalan seperti di atas aspal. A Li harus meraih satu demi satu kotak kayu atau apapun yang bisa dipegang untuk membuat badannya tetap tegak. Bau amis segar selalu tercium ketika dirinya melewati geladak tengah, sebab di bawahnya terdapat ruang palka, tempat untuk menyimpan hasil tangkapan. Lalu, baunya berganti dengan campuran oli dan solar ketika melewati ruang mesin di bawah geladak buritan.

Serang Bandar berhenti tepat di bawah tangga buritan. Mempersilahkan A Li melanjutkan perjalanannya sendiri menuju anjungan. A Li naik takut-takut, beberapa kali melihat ke bawah meskipun Serang Bandar telah hilang dari pandangan. Anjungan atas ada dua ruangan, ruangan depan milik awak kapal. Sedangkan, ruangan yang pintunya tepat di ujung tangga adalah ruang pribadi Juragan Aheng.

A Li cukup dibekali dengan sopan santun. Mengetuk pintu ruangan juragan dengan lembut. Masuk suara lantang juragan, berdengung dalam gendang telinga. A Li membuka, membungkukkan badannya sempurna. Duduk bersimpuh di bawah kaki juragan yang tengah menikmati kopi luwak di atas meja kerjanya.

“A Li, juragan.” Kepalanya menunduk, memperkenalkan dirinya, membuat tanda bahwa eksistensinya sudah hadir.

Luput dari pandangan yang muda, Juragan Aheng menghidupkan senyumnya. Meletakkan cangkir kopi sisa letek kembali di lepek, menutup mulut cangkirnya rapih. Beranjak beliau, pindah dari bangku kerja menuju tempat tidur yang berderit ketika di naiki. Pandangannya sekarang lebih jelas nampak A Li yang bersimpuh di depannya.

“Gimana kerja kapal? Berat?” Tanya juragan sembari menyulut satu batang rokok yang A Li gak pernah lihat bungkusnya di warung pesisir. Pasti mahal harganya.

“Mboten, juragan. Inggih dereng terbiasa mawon.” (Tidak, juragan. Ya belum terbiasa saja.) Timpal A Li malu-malu. Berada di ruangan sempit. Hanya berdua mendengarkan deru napas satu sama lain membuat A Li mendadak dadanya sesak, gak nyaman.

Apalagi ketika Juragan Aheng menamatkan satu batang rokoknya. Lalu, beliau beranjak mensejajarkan tubuhnya sama, sederajat dengan A Li. Mengamati pemuda itu dengan intensi tak dapat terdefinisi. Melabuhkan tangan yang uratnya berkontraksi di pipi anyep milih A Li. Menjelajah pada tiap sudut kulitnya yang lain meskipun masih tertutup helai kain.

“Padahal tadi pagi saya sudah bilang kamu ndak usah toh ikut kerja sama anak-anak. Lihat kamu itu, wajah ayune, bagus e dadi lusuh. Bau wangi kamu hilang, jadi bau kecut, amis. Padahal baumu tadi pagi saya sampai melayang dibuatnya.” Dialog Juragan Aheng dideklarasikan dengan suara kecil, saking kecilnya sampai harus mendekatkan bibirnya di depan daun telinga A Li.

Empunya telinga bergidik merinding. Bulu kuduknya naik, darahnya berdesir lebih cepat menghantarkan panas yang membuat badannya mendadak anget. Hingga dua pipinya keluar semburat kemerahan.

Jemari-jemari makin tertaut, meremas satu sama lain di sela-sela selangkangan kala deru napas hangat Juragan Aheng menusuk permukaan tengkuknya. Juragan Aheng lantas menghirup napas dalam-dalam di sana, seolah menggali bau alami A Li yang mungkin masih tersisa di tengah keringat dan amis bergumul.

Badannya berjengkat kecil, atas afeksi tiba-tiba yang disalurkan tangan nakal sang juragan. Sepasang matanya menutup rapat, membiarkan pasang kacamata terbuka, menjadi saksi bisu perlakuan bejat sang juragan terhadap tubuhnya. Seluruh syarafnya kaku, otaknya melambat beku. Padahal, jemari juragan sudah sampai di atas kancing bajunya. Membuka satu persatu penuh nafsu. Mengusap permukaan dadanya yang nampak, tak tertutup kutang. Punggung terhimpit dengan besi dingin, tidak ada celah untuk lari.

“A Li..” Panggil juragan. Kepalanya pusing, suara juragan makin samar dalam pendengarannya. A Li takut, bahkan air matanya sudah tergenang di pelupuk, siap jatuh untuk mohon ampun.

“A Li.. tubuh kurus begini mana cocok kerja keras jadi anak buah kapal saya. Kulit halus, tanpa cacat begini cocok berdiri di samping saya. Jadi pendamping saya, layani saya, warisi keturunan saya, harta saya.” Demi Tuhan A Li makin dibuat pening dengan maksud juragan.

A Li hanya anak laki-laki dari keluarga miskin yang dijual bapak ke juragan untuk jadi anak buah kapal. Namun, perlakuan juragan sejak pertama kali bertemu seolah ada niat lain. Bapak berhutang kepada Abang Lim, anehnya A Li harus bekerja untuk Juragan Aheng. Kedatangan A Li dini hari tadi disambut langsung oleh Juragan Aheng, diperkenalkan kapalnya, layaknya A Li adalah pemilik selanjutnya. Juragan bilang A Li hanya perlu naik kapal dalam tiga hari, tidak perlu ikut bekerja siapkan pukat. Lantas ini, sentuhan Juragan Aheng sebebas, seolah beliau adalah pemilik A Li.

“A Li.. buka matamu!” Dagu si pemuda diangkat. Iri sekali Juragan Aheng dengan lantai besi bisa lihat wajah rupawan A Li meskipun kotor sana sini akibat kerja kasar.

A Li membuka matanya, dua bagian yang Juragan Aheng suka sejak pertama kali melihatnya. Mata sendu, bulat malu-malu. Mata yang selalu bergerak enggan menatap mata tajamnya. Juragan Aheng tau dirinya tak kalah rupawan di atas umurnya yang hampir 40. Mata polos seperti milik A Li pasti jatuh jua terpesona akan parasnya. Maka dari itu mereka selalu ingin lari. Namun di sini, di kamarnya sendiri, hanya berdua di ruangan sempit minim udara, dua bola mata A Li tertangkap bulat-bulat, terkurung dalam pandangan milik Juragan Aheng.

“A Li,” Panggil juragan. Jantung A Li berhenti dibuat suara lembutnya. Juragan bisa nampak bagaimana A Li susah susah menelan air liurnya sendiri. “Memaksa kamu menerima mani saya dalam tubuh kamu bukan cara saya buat kamu jadi milik saya. Bapakmu memang sepakat dengan saya, tetapi saya tetap beri kamu kebebasan untuk lari dari saya. Saya ingin lihat seberapa jauh kamu bisa lari dari saya. Pula saya yakin, kamu pasti kembali ke saya. Saya yakin kamu akan cari saya, inginkan saya sebesar saya inginkan kamu.”

Keluar dari ruangan neraka juragan, A Li berlari. Seperti kata juragan A Li terus berlari, sejauh mungkin menghilangkan ingatannya akan wajah juragan, suara-suara menggoda juragan yang masih menari dalam gendang telinga. Berlari, dan A Li hanya dapat berhenti hingga capai ujung buritan. Kabur tidak mungkin, menceburkan dirinya ditelan samudra adalah pilihan konyol.

A Li hanya mampu mengeratkan genggamannya pada besi di sekitarnya. Menahan guncangan emosi dalam dirinya yang tengah meledak-ledak ingin diletuskan. Mengakumulasi sebagian dalam rupa butiran air mata yang akhirnya luruh di pipinya yang merah merekah. A Li ingin teriak, mengadukan amarahnya kepada ombak yang terus pecah saat menabrak badan kapal. Seolah mereka tau bagaimana kalutnya A Li saat ini. Pada faktanya, A Li hanya sanggup menyimpan gumpalan rasa sakit dalam hatinya sendiri, membuatnya sesak, penuh, sampai napasnya hilang. Memukul dadanya sendiri berharap gumpalan itu hilang bersama aliran darah.

Maka A Li terjebak dalam kesedihan yang mungkin akan menggerogoti tubuh kurusnya. Diselimuti suara ombak, dan beralaskan langit yang bisa hilang kala malam, mengambil satu persatu mimpi dan harapan. Meninggalkan A Li sendirian, yang tersisa untuknya hanya raga.


ACT III. SASI PURNAMA. Dinginnya malam, hembus angin kencang seolah menampar wajah rupawan berkali-kali. Membuatnya tetap sadar, berada di dalam realita membingungkan. Harus di jalani, meskipun semakin dipikir membuat pening. Semakin dirasa membuat hatinya berdarah.

Jutaan cara pilihan mati, berada di kapal perikanan, terguncang badan di tengah haluan ombak samudra. A Li hanya cukup memilih satu saja. Dari yang paling sakit, mengenaskan, atau membunuh perlahan, lambat, menidurkan dirinya selama-lamanya.

Namun, suhu laut yang makin turun derajat. Angin laut yang terus menyentuh permukaan kulitnya. Menyadarkan bahwa masih ada sisa kewarasan milik A Li. Meskipun hanya secerca, sedikit saja yang membuat A Li memilih tidak tidur. Duduk di kursi tepat di atas palka, tanpa alas kaki, tanpa jaket. Hanya dirinya yang polos dengan satu lapis pakaian dan kacamata yang senantiasa bertengger di hidung bangirnya.

A Li memang belum mau mati. Hanya saja mempertahankan sisa kewarasannya membuat dirinya jadi gila. Syaraf tubuh layak surup. Padahal suhu tubuhnya menurun banyak. Bahkan telapak kaki polos yang menempel tepat di kayu palka yang berisi ton ikan segar dan es batu tak Ia rasa.

Mata sendunya tetap begitu sejak siang. Kantungnya semakin dalam sebab kurang istirahat. Air matanya telah banyak keluar, hingga betapa pedih sakit di hati mereka tak ingin keluar lagi. Hanya basah, menggenang di pelupuk, membuat bola matanya merah, hidungnya pun begitu.

Memandang kosong matanya ke laut kelam. Bergantian menatap langit legam bertabur bintang, juga bulan purnama yang hadir. Mereka seolah memanggil-panggil A Li untuk berdoa tambah giat. Menjadi penyemangat bahwa harapan hidup A Li masih ada. Mimpi-mimpinya masih tersimpan jauh di sana dan A Li harus hidup untuk menggapainya.

Namun, kala kepalanya lelah melongok ke atas dan beralih ke depan, A Li kembali pada dunianya yang mendadak kopong. Gelap di depan sana, A Li gak bisa nampak apapun selain gulita. Memberi kesempatan bagi memori untuk memutar potongan puzzle di otak. Bagaimana struktur wajah Juragan Aheng dengan berbagai ekspresi menggoda. Bagaimana beliau berbisik tentang sebuah fakta. Bagaimana wajah bapak dan ibuk hadir tersisa. Maka A Li mulai sendu kembali, menutup matanya sebelum kepalanya semakin pusing, mengambil napas dalam-dalam dan dihembuskan sekeras mungkin.

Berteman dengan malam pula sunyi, setidaknya A Li masih punya ruang sendiri. Seperti di kamarnya, kamar reot miliknya. Tetapi A Li sadar, di atas kapal ini, yang bukan miliknya, Ia tidak sendiri. Akan ada seseorang yang datang mengusik ketenangan.

Hadir dalam telinganya suara langkah. Seseorang dengan sepatu, bukan anak buah kapal, bukan pula Serang Bandar, atau para awak. Suara merdu ketukan sepatu yang beradu dengan kayu geladak, A Li hafal sekali. A Li enggan menoleh, membiarkan egoisme memakannya hidup-hidup. Habis sudah rasa sungkan, rasa hormat terhadap manusia ini.

Bahkan, hingga tersampir selimut tebal membungkus badan kurus dinginnya, A Li tetap pada pendirian. Bulan purnama hari ini lebih indah daripada biasanya yang Ia saksikan di pesisir.

Tetapi sayang, A Li berhadapan dengan Juragan Aheng. Saudagar cerdik yang habis beliau dikupas tuntas mengenai bisnis jual beli. Proses tarik-ulur, tawar-menawar menurutnya menyenangkan dan menyebalkan dalam satu prosesi. Membuat hatinya berdebar gak karuan. Kepalanya keliling tujuh putaran, memikirkan strategi apa yang akan digunakan untuk memerangkap targetnya.

“Malam ini lebih dingin dari biasanya. Hebat sekali kamu duduk termenung di sini sendiri menentang alam.” Dialog tak terjawab. Juragan Aheng hanya mampu tersenyum maklum. Berlutut dirinya, membuat tubuh jangkung sejajar dengan wajah kosong A Li yang masih dengan sengaja tak mengindahkan kehadiran juragan.

Kaki A Li disentuh, hati-hati sekali. Meskipun begitu tubuhnya bereaksi, terperanjat kecil akibat telapak tangan hangat menyentuh kulitnya yang hampir mati beku. A Li menunduk, kaget jelas melihat Juragan Aheng, pemilik kapal, pemegang kekuasaan tertinggi telah berlutut di bawah kakinya, menyentuh kaki-kaki kurusnya yang kotor.

Juragan mendongak, bertemu akhirnya dengan mata sendu paling disuka. Beliau tersenyum, semakin lebar lihat wajah bodoh A Li. Memastikan pula A Li tidak berontak pun menolak kaki-kakinya disentuh tanpa permisi. Dipakaikan kaki A Li, sepatu milik juragan jarang beliau pakai. Terlalu besar, tapi asal kaki kurus itu tidak beradu dengan dingin, juragan jadi tenang.

“Masih dua hari lagi. Di tengah laut tidak ada mantri. Jangan sakit saya nanti susah hati.” Ujar juragan sembari beranjak.

Juragan tidak pergi, melainkan duduk di samping A Li. Dibenahi sedikit, selimut yang beliau sampirkan sendiri agar maksimal fungsinya. A Li menggeliat, menggeser badannya memenuhi ruang kosong tersisa. Menghadirkan gelak tawa dari juragan yang menangkap gestur A Li menggemaskan. Juragan tidak marah, Ia mengerti betul A Li masih syok atas pernyataannya siang tadi.

Kedatangan juragan duduk di sini jelas bukan hanya untuk menggoda A Li. Membuat pemuda yang baru berusia legal semakin takut dan membencinya. Juragan mengeluarkan secarik kertas, diberikan kepada A Li dan berkata, “Pegang erat-erat, nanti terbang tertiup angin.”

Atensi A Li mulai terbeli. Kini tubuhnya memutar, menghadap juragan yang duduk di sebelahnya. Menatap secarik kertas di tangan juragan dan wajah rupawan bergantian. A Li tetap mengambilnya, tanpa ragu-ragu. Ia buka, Ia baca seksama. Mencari jawaban, kepingan terakhir untuk menyelesaikan puzzle paling susah dalam hidupnya.

“Itu surat perjanjian antara bapakmu dan Abah Lim.” Juragan bersuara, menjelaskan kepada A Li agar tidak ada salah paham lagi. “Abah Lim itu paklik saya, adiknya bapak. Saya dulu melaut di pantai selatan, sebelum usaha saya bergeser hingga pantai utara, rumahmu. Saya yakin kamu baru melihat saya.” Lanjutnya.

“Lantas napa inggih, juragan, hubungan bapak dan juragan? Napa inggih, juragan, saya dumugi dipunsade bapak dhateng juragan?” (Lantas apa, juragan, hubungan bapak dan juragan? Kenapa, juragan, saya sampai dijual bapak kepada juragan?)

“Saya dengar cerita tentang bapakmu dari Abah Lim. Pekerja paling lama ikut beliau. Rajin sekali, kata beliau anak lanangnya ingin kuliah di kota. Tapi akhir-akhir ini bapakmu salah kaprah, suka ambil jalan pintas. Waktu saya datang pertama kali di pantai utara, saya lihat bapakmu bermandi miras, terjerembab judi di gubuk pemuda. Beliau makin banyak hutang, uangnya habis sampai Abah Lim bingung beri nasehatnya. Akhir cerita hutangnya menggunung, Abah Lim ndak bisa bantu.”

“Saya bilang bisa bantu, tapi beliau bingung bagaimana kembalikan hutangnya nanti. Beliau kasih kamu dan surat itu sebagai jaminan. Beliau jual kamu untuk kerja, diperas keringatnya. Namun, ketika saya melihat kamu pertama kali, saya ndak ingin kamu bekerja layaknya anak buah kapal. Tanganmu halus, wajahmu dirawat apik, bau tubuhmu wangi, bersih, tanpa cacat, kamu nurut sekali. Tidak pantas jadi pesuruh, pantasnya duduk cantik jadi permaisuri. Saya rawat, saya manjakan, saya bahagiakan. Saya sudah jadi bujangan, lama sekali sampai hampir 40 tahun. Jika saya tidak gunakan sedikit kekuasaan, kapan saya punya pendamping?”

A Li tergugu lagi. Matanya memerah lagi, hidungnya mengeluarkan isakan kembali. Menghadapi surat di genggaman, beserta fakta yang baru saja Ia serap bak jatuh tertimpa tangga pula. Bapak yang membuatnya jadi begitu. Namun dalam pikiran A Li saat ini hanya ada rasa bersalah. Egoisme A Li yang ingin menjadi elite membuat bapak harus bekerja keras, sampai stres, dan akhirnya terjatuh dalam lubang kelam kehidupan.

Harusnya A Li sama saja dengan teman-temannya. Memupuk mimpi serendah mungkin. Sekolah, main, lulus, dan ikut kapal juragan. Bukan ambisi, dapat nilai tertinggi, sebab dia pasang mimpi jauh di atas langit. A Li harusnya sadar diri, keluarganya miskin. Bukan orang berada yang selalu punya jalan menuju angkasa. A Li hanya punya kaki, yang bisa digunakan untuk naik ke kapal. Kapal yang hanya berjalan lurus mengikuti arah ombak, berapa lama pun berputar hanya jutaan air yang Ia dapat genggam. A Li tidak punya pesawat, atau roket untuk terbang menggapai mimpinya.

“A Li..” Panggil Juragan Aheng lembut. Mengulurkan dua telapaknya, membekap pipi merah sedingin kutub utara milik A Li. Kepalanya yang tertunduk, diarahkan untuk menatap mata juragan.

“Ikutlah bersama saya! Jadi pendamping saya. Saya akan wujudkan mimpi-mimpi kamu bahkan yang tak pernah kamu mimpikan.”

Malam itu, kalimat terakhir Juragan Aheng seolah menyihir nurani dan pikiran A Li. Mencuci otaknya dari banyak memori buruk yang menerobos masuk terus menerus. Suara tulusnya seolah menjadi obat mujarab yang menyembuhkan luka di hati. Terakhir, bibir hangat sang juragan yang bersarang di dahinya, menjadi sebuah energi baru yang menguatkan tekad harapan hidup bagi A Li.


ACT IV. KALA OMBAK MENERJANG. A Li layaknya perawan terserang sihir. Tatapan kosong, isi kepala melayang tinggal melompong, kaki-kaki jalan nyelonong. Hati tidak berontak, syaraf nurut kayak orang gak punya otak.

Bercakap dengan Juragan Aheng, kewarasannya sedikit kembali menuju permukaan. Meskipun, fakta yang beliau beberkan membuat lukanya semakin dalam. Namun, kalimat reasurasi setelahnya sekilas menenangkan. Bagi si miskin seperti A Li, diiming-imingi kebesaran dunia siapa yang tak suka.

Pemuda ini baru sadar berada di luar kapal tengah malam dingin luar biasa. Jari-jari tangan sampai kaki kaku, hampir tersandung dia baru sadar kaki polosnya sudah nyaman dalam pelukan sepatu. Dan ajakan Juragan Aheng untuk ikut masuk dalam ruang istirahat dituruti tanpa syarat. A Li bahkan tak masalah, ketika jemarinya tertaut dengan milik juragan yang lebih besar. Merasakan bagaimana aliran darah hangat yang menjalar membuat miliknya ikut nyaman.

A Li kira juragan hanya mengantarnya sampai ruangan awak. Merelakan tubuh kurusnya dihimpit dengan badan bau kecut dan abab getir pula amis sebab jarang sikat gigi. Seperti sebuah janji, A Li pantas jadi permaisuri, yang harus dipuja puji layaknya dewa dewi. Maka A Li ditarik kembali, berjalan beberapa langkah hingga sampai pintu yang tadinya memulai derita.

Jantungnya amat berdebar. Kuduknya berdiri, menari-nari meskipun kepalnya menunduk lagi-lagi. Di ruangan sempit ini seolah A Li dilarang lancang melihat benda-benda pribadi juragan. Banyak dosa ketika dia menelusuri kehidupan juragan. Kamarnya hangat, ada mesin pemanas, beda sekali dengan ruangan awak yang dingin seperti palka. Tidak ada bedanya antara ruangan manusia dan penyimpanan ikan. Tubuh A Li seolah mencair, selamat dari hipotermia.

Satu badan tegap, mengkaku lagi. Kepalanya semakin tertunduk sampai hampir terbentur alas baja kala si pemuda merasakan kemeja katun mahal juragan jatuh menyentuh ujung kakinya. Menyisahkan kulit punggungnya yang dapat A Li saksikan dari ujung mata. Matanya terkatup, kala pula ujung matanya menangkap tangan berurat juragan mulai melucuti celana bahan dari pinggangnya. Menyisahkan hanya kekar polos juga celana dalam.

Juragan duduk di atas dipan, suara deritnya bikin pekak telinga. Beliau diam di sana, telanjang bulat juga telanjang pengelihatan. Juragan saat ini adalah satu persona yang berbeda. Butuh waktu tiga menit saja, dari geladak hingga anjungan. Kini beliau menatap A Li yang masih berdiri di depannya. Bukan dengan mata iba tapi dengan pandangan memuja. Dibekali senyum nakal juga birahi yang membuncah.

“Sini! Jangan takut!” Pintanya seduktif. Menepuk ruang kosong dipan yang tersisa.

A Li meneguk liurnya, entah berapa kali sudah. Beruntung memang juragan, bagus nian pilihan juragan. A Li mendekat meskipun dengan ragu-ragu, tetapi pemuda itu mendekat, duduk, nurut. Dipan kecil berderit, bersamaan dengan senyum bangga Juragan Aheng muncul. Sempit, dua pasang paha saling bersentuhan, namun juragan tak sama sekali keberatan.

Juragan memutar tubuh polosnya, menghadap A Li seluruhnya. Memberikan setiap afeksi dan tutur reasurasi bahwa malam ini mereka akan bersenang-senang dan hari esok akan merubah hidup A Li. Tangan beliau terulur, jatuh di atas puncak kepala A Li yang masih belum mau tegap. Diusap kepalanya, lalu disisir rambut A Li yang tebal, masih halus pintar pemiliknya merawat diri. Telapak besarnya bergerilya turun ke pipi, terakhir ke dagu. Diangkat, ibu jarinya bisa menggapai bibir ranum bentuk hati. Diusap belah bibir bawah, kenyal seperti jeli. Juragan Aheng semakin tak sabar mencicipi.

Juragan Aheng adalah orang baik-baik. Bukan manusia cabul minim tata krama. Ibadahnya dijamin belum pernah bolong. Tetapi beliau juga lelaki, bujang lapuk pula. Ditawari laki-laki, menawan, dan nurut begini mana bisa dia tolak. Urusan cinta biarkan Tuhan yang atur bagaimana. Urusan puas birahi, ijinkan dia berkawan dengan setan yang senantiasa membisikkan kegilaan semalam.

Dalam benak pemuda, gerakan sensual di bibirnya sangat aneh. Anomali yang mungkin tidak pernah muncul dalam mimpinya. Ibu jari asing perlahan mengusap, konstan, detik kemudian bibirnya ditekan, membuatnya menganga. A Li mangap kayak orang goblok menyambut ibu jari sebesar indukan tongkol menginvasi dalam mulutnya. Memijat gusi juga pipinya dari dalam. Menekan lidahnya menghadirkan rasa asin yang membuatnya ketagihan. Liurnya luruh, mata Juragan Aheng mengikuti tanpa berkedip bagaimana tetesan kini berhenti tepat di tengkuk A Li.

Tengkuk si pemuda ditarik mendekat. Mensejajarkan bibir yang senyumnya membuat A Li banyak terpikat. Bibir yang baru-baru ini berhasil memanipulasi satu set organ tubuh A Li sehingga pemuda itu patuh menyerahkan dirinya pada laki-laki yang akan membawanya ke awan. Dicium tengkuknya, disesap luruh air liurnya, tidak jijik, bahkan Juragan Aheng mengulurkan lidahnya, menggelitik tengkuk A Li hingga empunya bergidik geli.

Bunyi kecipak berkali-kali menjadi satu-satunya suara yang masuk dalam gendang telinga masing-masing. Sebab A Li adalah remaja malu-malu yang menyimpan suara indahnya, sekuat tenaga Ia tahan berhenti di dada. Menggigit bibirnya, membiarkan matanya merem melek akibat sensasi sentuhan.

Lantas leher A Li ditinggalkan saat kanvas polos kini sudah penuh dengan maha karya abstrak monokromatik. Juragan tegap, menatap A Li dengan dadanya yang masih naik turun. Nafas beliau berantakan, mata dikuasai nafsu kini mengunci milik A Li. Memancarkan sebuah pernyataan bahwa malam ini A Li akan menjadi miliknya dan A Li tidak bisa kabur dari sisinya.

Ujung kaus tipis A Li diremat hingga tak berbentuk. Seolah juragan meminta ijin untuk membukanya, mengenal A Li sampai akar. A Li bergeming polos, jatuh sudah dia tercebur dalam iris legam milik juragan yang tak berkedip menatap dirinya. Pelan-pelan, menahan nafsu juragan melucuti kaus belel A Li, menyajikan Juragan Aheng tubuh polos tanpa cacat.

Juragan mendorong A Li, hati-hati sekali. Dikelabui setan begini, juragan masih menyisakan sedikit akal nurani. Menegakkan prinsip bahwa yang berada di bawah kungkungannya kini bukan sekedar pelacur yang cuma mau dipuaskan. Di bawahnya kini bukan lonte yang jago dalam urusan ranjang. A Li adalah calon pendampingnya. Seseorang yang akan dia rawat sepenuh hati, seseorang yang mungkin suatu saat bisa dia cintai.

“A Li cantikku, manisku..” Tutur Juragan Aheng kala menyaksikan A Li terlentang dalam pandunya. Mata bulat sendu yang menatap polos. Tubuh tanpa cacat yang mulai diselimuti keringat. Kalau malam masih amat panjang, Juragan Aheng akan membacakan seluruh kata-kata pujian untuk memuja paras A Li saat itu juga.

“Boleh mas cium bibir indahmu?”

Maka detik itu juga dunia A Li hancur lebur. Kurus badan itu menggeliat akan sentuhan. Tak menolak kala bibir bentuk hati dikecup lamat, ditekan nikmat, dicumbu maha dasyat. A Li bukan ahli maksiat, namun naluri hasrat menyeretnya untuk menjadi liar gak karuan. Naluri muda mudi yang tak akan pernah bisa diartikan dalam semua bahasa. Bagaimana tangan A Li terangkat, bergelung manja mengapit leher juragan. Hilang warasnya sebab bisa-bisanya Ia menekan tengkuk juragan tanpa permisi, seolah juragan adalah makan malamnya hari ini.

Jemari liar juragan tak pernah diam. Bukan menghitung nilai uang tapi memelintir puting yang lebih berharga daripada berlian. Menarik gemas hingga tegang empunya. Mencoba memacu desah indah yang beliau belum dengar suaranya. Lepas juga tautan, menyisahkan benang panjang persatuan. Juragan turun, mencumbu tiap detail lekuk tubuh yang diciptakan sempurna dari Tuhan yang sedang bahagia.

UUUHHHHMM... AHHHHH...

Lidah menjulur, menyapa pucuk gundukan yang mengaktifkan suara bangsat. Patah pula prinsip laki-laki saudagar terjerembab dalam laknat. Juragan menggigit nakal pentil A Li, dibalas gestur menggeliat yang terlihat seperti ajakan untuk dicumbu. Suhu hangat dalam ruangan sempit tidak membantu, keringat banyak turun bergumul jadi satu.

Tegang bukan main ketika Juragan Aheng sampai pada tubuh inti. Diperhatikan sejenak bentuknya tanpa berkedip. Miliknya juga sama, ngaceng hebat di bawah sana. Tak perlu disentuh siapa-siapa. Hanya melihat tubuh telanjang A Li yang sebentar lagi akan disetubuhi.

Juragan meraba, dari pangkal hingga ujungnya. Memunculkan suara desisan yang menjadi melodi penyemangat. Juragan pula menggenggam batang kontol tegang. mengusap jahil kepalanya yang memancar merah muda. Sudah basah, banyak cairan keluar dari lubang kecil yang kini disapa dengan papila. Rasanya khas, dikecap nikmat tanpa jijik juragan. A Li sampai mematung, pipinya merah merona. Terlentang di antara dunia dan neraka sebab surga tidak menerima manusia penuh nafsu bangsat seperti dirinya.

A Li hanya mampu berpegang erat dengan kain yang menjadi alasnya bersetubuh. Meremasnya kasar melampiaskan tiap getaran aneh yang baru Ia rasakan tatkala disentuh juragan. A Li memekik tatkala syarafnya merasakan adanya sengatan listrik akibat ulah lidah brengsek juragan yang menari membasahi lubang senggama sang pemuda.

Berkedut dia, memanggil-panggil yang seharusnya menyapa Ia. Juragan beranjak, sejajar kembali dua pasang matanya dengan juragan. “Mas masuk boleh?” Bisiknya. A Li beruntung sebab masih bisa mendengar meskipun kewarasan telah diambil alih setan.

A Li mengangguk, yakin sekali, tanpa ragu. Karena setelah apa yang terjadi malam ini pun tidak ada yang akan mengambilnya lebih dari ini. A Li tidak punya harta untuk ditukar, tidak punya keterampilan untuk diperas, A Li hanya punya dirinya sendiri. Hatinya sakit karena juragan, maka juraganlah yang harus bertanggung jawab. Menjadi obat penawar yang akan menyembuhkan utuh sosoknya.

Jika juragan mampu memberikan segalanya untuk A Li. Jika juragan berjanji akan menghidupkan mimpi-mimpinya. Maka A Li akan serahkan sisa hidupnya mengabdi pada juragan.

Meskipun A Li harus memekik kesakitan saat kontol biadab Juragan Aheng mencoba menerobos sisa harga diri yang Ia jaga. Meskipun A Li harus tersedu saat digenjot tanpa tata krama, mengorbankan tetes darah senggama. Meskipun A Li harus pasrah membuka kakinya saat juragan mendorong tubuh mereka dalam kesatuan tanpa celah. Meskipun A Li harus mendesah antara nikmat dan derita dihajar tanpa punya belas kasih.

AHHHHH.. HHMMNN.. SHHH.. AHHH.

“Ju- jura.. gan.. ssa...kit..”

“Am..pun.. ju.. ju-juragan.”

Pintanya pasrah. Pun begitu A Li kadang menganga membiarkan juragan menginvasi mulutnya, memerangi lidahnya, menggigit daerah kekuasaannya. A Li hilang arah, sebab semakin panjang malam tubuhnya semakin panas. Lubang senggamanya seakan menikmati tiap dorongan. Juragan Aheng gila, dan beliau menambatkan kontolnya, membawa A Li pula menari-nari di atas api neraka kekal.

Menghujani A Li dengan jutaan kalimat bualan, memastikan A Li tetap bersamanya. Meskipun birahi sudah mencapai puncak, hingga tubuh lengketnya bangun dari kematian. Lengan-lengan berurat semakin mencuat, menggenggam pinggang A Li rapat. Menggerakkan pinggulnya semakin hebat. Memompa sesuatu yang meronta ingin keluar dari lubang kecil diujung penis yang tertanam di lubang senggama.

Beliau meraung, kepalanya menengadah ke atas. Memamerkan suara dominan, jumawa terhadap langit semesta bahwa malam ini adalah puncak pesta kemenangannya. Dan luruhnya cairan putih yang disebut pejuh dalam lubang A Li, diikuti getaran kenikmatan dan desahan penuh kelegaan, menjadi penutup malam sebelum matahari terbit dari peraduan.


ACT V. ARAH JALAN PULANG. Burung camar terbang di atas Bahari Sejahtera. Seperti pengawal kendaraan kerajaan. Mesin kapal berdengung memecah satu persatu ombak yang datang menghadang. Tak membiarkan adanya penghalang kapal yang bergerak menuju arah pulang.

Sinar matahari sore memancar. Semburat jingga menyelimuti langit. Udara berhembus kencang meskipun intensitasnya mulai berkurang kala mata memandang sudah nampak dermaga pelabuhan.

Tiga hari sudah hidup mengadu pada lautan. Mengumpulkan ton ikan-ikan. Pula mengungkap cerita rumit yang berakhir dengan jeritan. Patut bersyukur pada Tuhan, bahwa A Li masih hidup bertahan.

Pemuda kini berdiri di haluan. Bersandar lengannya pada besi yang agak karatan. Menatap di depannya yang mulai nampak daratan. Ingin menjadi yang pertama untuk berlari menuju peraduan.

Akhirnya dia bisa pulang. Menjemput serpihan akhir yang hilang. Kini akhirnya A Li punya kesempatan untuk bertemu bapak dan ibuk, menagih keseluruhan cerita, menepis salah paham, dan mungkin setelah ini hidupnya akan lebih baik daripada sebelumnya.

A Li masih berdiri di haluan. Mengisi memorinya yang sempat melayang dengan pemandangan matahari terbenam. Menyibukkan dirinya dengan menghitung detik-detik matahari mulai hilang dari pandangan. Tak peduli kawan-kawan tengah sibuk bersiap menurunkan muatan. A Li hanya ingin pulang.

Sedangkan juragan berdiri di anjungan. Sejajar dengan A Li di bawah sana. Memperhatikan pemuda yang kini menjadi miliknya. Menghidupkan satu batang cerutu tanpa memalingkan satu detik pun pandangnya dari A Li. Seolah takut A Li punya pikiran konyol di detik terakhir mereka akan sampai daratan.

Juragan Aheng bisa saja mendekat, tanpa rasa malu menjadi bincang-bincang hangat. Toh suara desahannya juga siapapun bisa dengar. Lantunan persetubuhannya dengan A Li memang sengaja dia sebarkan, memberi tanda A Li tidak boleh diganggu, dipegang, atau dimiliki siapapun. Namun, Juragan Aheng tau A Li butuh waktu sendiri. Menjernihkan otak ruwet berisi bobrok rumah tangga juga kontol besar yang memenuhi senggama semalam suntuk.

Kapal sandar dengan selamat selama kurang lebih 1 jam harus berputar menunggu slot parkiran. Hari sudah hampir gelap ketika muatan terakhir telah diturunkan. A Li kini beranjak, membuang napas terakhirnya di atas Bahari Sejahtera. Menuju pintu geladak yang sudah terpasang papan, siap turun menapak pasir pantai yang Ia rindukan.

Dua langkah terakhir, A Li berhenti sejenak. Menunggu di bawah sudah Juragan Aheng mengulurkan tangan panjang. A Li tersenyum di bawah sinar matahari yang tinggal sedikit lagi benar-benar hilang. Buat hati sang juragan menghangat sebab ini pertama kali senyum tulus A Li diberikan hanya untuknya.

A Li menerima uluran telapak tangan Juragan Aheng yang tidak pernah dingin. Menggamit lengannya kala kakinya telah seluruhnya jatuh di atas pasir. Juragan Aheng pamit, menitipkan bisnisnya sebentar pada Serang Bandar yang sibuk berniaga dengan pengepul yang datang berkerumun. Menghantarkan A Li pulang pada orang tuanya, menyelesaikan masalah hingga selesai sampai akarnya. Sebelum, A Li resmi menjadi miliknya.

Tibalah A Li sampai depan rumah. Gubuk tempatnya lahir aneh. Lampunya padam, pintunya tertutup depan belakang. Tidak ada cahaya, tidak ada uap yang mengepul dari arah dapur, temboknya dingin, lantainya kotor. A Li mendekat, meninggalkan juragan yang memilih bergeming membiarkan A Li bernostalgia dengan tanah kelahiran. Namun, selama apapun A Li mengetuk pintunya, seberapa kencang A Li berteriak memanggil penghuninya, tetap kehampaan yang menjawab.

“A Li, leh!” Sosok ibu, rumahnya tepat beberapa meter di samping rumah. Beliau berlari cepat-cepat. Terengah-engah tatkala berhasil sejajar dengan A Li sebelum berbicara, “Akhirnya kamu pulang juga. Ini, ibuk nyuruh budhe antar ini kalau kamu kembali dari melaut.” Finalnya.

Sebuah surat, sudah lusuh. A Li baca di tempat, hati-hati sekali. Mencerna satu persatu kata yang ditulis sedikit berantakan, sebab ibuk sama bapak tidak ada yang lulus sekolah dasar. Namun A Li sangat paham apa yang coba mereka utarakan, rasakan, dan keputusan apa yang mereka akhirnya lakukan.

A Li berbalik, menatap Juragan Aheng yang senantiasa berdiri menunggunya di bawah lampu jalan. Satu-satunya cahaya yang menyinari rumahnya selain rembulan. Menarik A Li berjalan kembali menuju dekap pelukan dadanya yang bidang.

Ibuk dan bapak pergi, meninggalkan A Li sendiri. Ibuk dan bapak ingkar janji, bukan mau dirikan kios ikan asin tetapi melarikan diri. Ibuk dan bapak berhenti bertanggung jawab terhadap A Li.

“Tega bapak ibuk sama saya, mas. Saya ditinggal sendirian, tidak punya rumah untuk pulang.” Adunya disela tangis.

Juragan mengusap punggung A Li yang bergetar, merapatkan bahunya, mendekap tubuh kurus A Li semakin dalam. “Kamu tidak sendiri, kan ada mas. Kamu bukan tunawisma, kan ada mas.”

Dihapus air mata A Li menyisakan isakan lucu. Dicubit pelan pipinya oleh juragan hingga semburat merah muncul menggemaskan.

“Sudah jangan menangis. Biarkan mas yang bikin kamu tersenyum. Biarkan mas yang bantu wujudkan cita-cita kamu. Biarkan mas yang jadi rumah kamu, tempat kamu pulang.”

Assalamualaikum, A Li.

Bersama surat yang ibuk tulis, bapak dan ibuk haturkan banyak kata maaf kepada A Li, anakku tersayang. Maafkan kami berdua yang dosa ini telah memilih menelantarkan, lepas tanggung jawab. Maafkan ibuk bapak yang memilih mundur dan ingkar terhadap janji untuk penuhi cita-cita. Kami titipkan A Li pada saudagar yang mampu membahagiakan kamu. Biarkan ibuk dan bapak menanggung semua dosanya. Semoga A Li senantiasa dilindungi Allah dan para pemujanya.

Bapak & Ibuk.


`hjkscripts.