dunia didi.


Jika hal buruk terjadi pada Shen Lele. Pertama Shen Wenlang pasti akan menyalahkan dirinya sendiri. Kedua dia akan gila kena depresi. Terakhir, dia akan mati bunuh diri. Terdengar hiperbola, namun baginya, bayaran akan nyawa Gao Tu dan Shen Lele setara dengan kematian.

Gao Tu gak bisa menyuarakan argumen tinggi sebab telinga suami sudah mati. Menelusuri jalan tol ramai kayak orang sinting ke arah Malang. Harusnya Shen Wenlang sadar, jika mereka meninggal kecelakaan maka Shen Lele akan jadi yatim piatu detik ini juga.

Namun, Gao Tu mengerti, Shen Wenlang sangat marah kini. Ketakutan konyol semalam suntuk untuk mengizinkan anaknya pergi ke alam bebas bukan lagi sekedar mimpi buruk. Cukup satu telepon, dan Shen Wenlang seketika henti jantung.

Longsor terjadi tepat setelah cuaca buruk yang tiba-tiba datang di hari cerah menyelimuti kaki Gunung Arjuna. Longsor terjadi tepat di lereng atas lokasi camp, dimana Shen Lele dan sebagian kelompok pendaki berteduh mencari keamanan.

Napas Shen Wenlang memburu, bergerak dengan kakinya yang terburu-buru. Tidak mengindahkan kehadiran Gao Tu yang setia di sisinya, tak acuh bahwa di tengah-tengah suasana mencekam lokasi kejadian bukan dia saja yang gundah dan ketakutan. Gao Tu adalah seorang papa omega, mendengar Shen Lele dalam bahaya jelas menyiksa batinnya berkali-kali lebih berat tak peduli bagaimana dia hampir kehilangan nyawa ketika anak itu mencoba merobek perutnya.

Namun, Shen Wenlang adalah mantan orang gila. Bagi dia, pulangnya Gao Tu dan Shen Lele dalam rumah yang Ia bangun kembali merupakan obat kewarasan. Dan skenario kehilangan kembali tidak ada dalam skripsi yang dia tulis ulang. Janjinya pasti, usahanya tiada henti.

Shen Wenlang badannya sibuk mondar-mandir, mengikuti dari satu orang ke orang lain yang memakai seragam dominan oranye, tak peduli bahwa tim penyelamat sama sibuknya dengan jalan pikirannya. Iblis Shen Wenlang mengambil raganya, berkata hingga memaki pekerja dengan nada tinggi-tinggi. Tak seorang pun dari anggota kepolisian yang mampu menarik tubuhnya menuju zona aman, bahkan Gao Tu menyerah hanya dengan melihatnya.

“Shen Wenlang!” Sistem motorik tubuhnya henti seketika. Seakan dia patuh dengan suara satu itu. Huayong datang, lengkap dengan wajah angkuhnya dan Sheng Shao Yu yang akan selalu bersama dirinya.

Dua lelaki berseragam bisa bekerja kembali, memindahkan tubuh kalut Shen Wenlang menuju pinggir, bergabung dengan keluarga korban yang sama harap-harap sabar. Gao Tu menerima suaminya kembali, memastikan lelaki jangkung kini berdiri tenang di belakang garis polisi.

Kala regu penyelamat datang dari arah gapura pendakian, semua suara serentak senyap. Semua pasang mata tertuju pada rangkaian manusia yang berjalan berurutan di belakang pemandu. Satu detik, dua detik, dan teriakan lega, tangisan haru pecah begitu saja kala hati yang lama terpisah menemukan rumahnya kembali. Shen Wenlang itu tinggi, namun dagunya tak henti-henti terangkat, matanya mengabsen tiap wajah yang turun.

“Papap!”

Dan remaja laki-laki yang berlari menuju arah Shen Wenlang membuat darahnya berdesir, jantungnya berdegup tak beraturan, dan napasnya berantakan. Dua tangannya terangkat, namun sayang remaja laki-laki itu tidak jatuh dalam pelukannya. Dekapannya masih kosong, hampa.

Shen Wenlang gagu, semakin panik, otaknya carut marut. Kupingnya berdengung sakit, kepalanya semakin pusing ketika anak laki-laki itu, Huasheng, memilih menggeleng kala nama Shen Lele disebutkan. Shen Wenlang percaya bahwa Huasheng akan melindungi Shen Lele bagaimana pun caranya. Harusnya Shen Lele berjalan tepat di belakang Huasheng, Harusnya Shen Lele juga sama berdiri di depannya, Harusnya Shen Lele sudah ada bersamanya saat ini. Harusnya... dan bukan rangkaian pendaki yang habis, meninggalkan gapura pendakian kosong melompong.

“Papa Tu...” Huasheng bersama rasa bersalahnya masuk ke pelukan Gao Tu yang tersenyum lega. Gao Tu memang rajanya menyembunyikan pesakitan dalam hatinya. Menyambut remaja yang tinggi sudah lebih beberapa centi dari tubuhnya. Gao Tu tidak menuntut petunjuk apapun, bagaimana kejadiannya, bagaimana keadaan anak laki-lakinya. Melainkan memberi dekapan hangat, kalimat syukur penuh lega. Huasheng sama seperti Shen Lele, anaknya.

“Maaf papa, I enggak tau gimana, kejadiannya cepat. I sudah pegang tangan Ah Shen, tapi I enggak tau kenapa Ah Shen udah enggak ada. Iㅡ”

“Ssst... It's okay, sayang. Bukan salah kamu. Kita berdoa terus, supaya Lele cepet ketemu. Kamu tenang, kamu istirahat di sini.”


Butuh waktu tiga tahun bagi Shen Wenlang untuk punya perasaan seorang ayah bagi Shen Lele. Shen Wenlang dan Shen Lele adalah orang asing dengan ikatan darah sebelum jadi ayah dan anak. Bahkan kepulangan Gao Tu dan pernikahannya dengan Gao Tu tidak serta merta mengubah statusnya dengan Shen Lele sebagai orang asing.

Tahun pertama adalah yang tersulit. Shen Lele jelas menolaknya. Bukan salah Gao Tu jika lelaki dewasa itu tak mengenalkan sosok Shen Wenlang dalam dunia Gao Lele. Gao Tu adalah papa, dan Gao Qing lebih dari seorang bibi, dia adalah kepala keluarga di mata Gao Lele. Tahun kedua adalah puncak kebodohannya kembali, mungkin mencintai Gao Tu seutuhnya cukup untuk membuatnya bahagia tak peduli Shen Lele menganggap dirinya apa. Tahun ketiga, Shen Wenlang mulai sadar bahwa dia kurang berusaha, karena keluarganya sekarang sudah lengkap dan harus dipertahankan.

“Didi.”

“Shen Wenlang, Shen Lele itu berbeda.”

“Didi!”

“Thermal blanket! Suhunya terus menurun, detak jantungnya mulai melambat. Cepat!”

“DIDI!”

Rasanya ruh Shen Wenlang ditarik dari ambang kematian dan suara anaknya, Shen Lele, yang menjadi malaikat penyelamat. Sudah dua hari Shen Wenlang duduk di sofa rumah sakit, mendengarkan musik dari monitor pasien yang dia harap tak berubah nadanya. Matanya terpejam namun dia tak pernah tidur. Seolah mati segan, hidup juga tak sanggup.

“Didi...” Suara lemah itu kembali mengalun. Memanggil jabatan yang telah dia anut dan dapatkan dengan susah payah.

Hanya tiga kali alpha Shen Wenlang menangis dalam siksa hidupnya. Pertama, ketika kepala keluarga keji di hidup Shen Wenlang remaja berkata, bahwa papa omeganya pergi meninggalkan dia. Dunia runtuh seketika sebab sumber kasih sayang yang tersisa untuk menopang hidupnya sudah hilang.

Kedua, saat Gao Tu kembali dalam pelukannya, setelah memutuskan untuk pergi menyerah akan cintanya. Membawa seluruh sisa kewarasan Shen Wenlang bersama angin yang menampar wajah bodohnya.

Ketiga, air mata Shen Wenlang jatuh di rumah mewah Sheng Shao Yu. Bersama Huasheng kecil yang coba menenangkan. Shen Wenlang hilang sopan santun, menerobos rumah besar itu bak miliknya sendiri, mengganggu rapat dua perusahaan besar yang tengah berlangsung. Dan untuk pertama kali, Sheng Shao Yu melimpahkan rasa iba, memberikan reasurasi semalam suntuk, bersama Huayong yang diam, tanpa kata kutukan. Seakan semua orang tau bahwa dia sedang jatuh di palung paling dalam, dan Shen Wenlang tidak berharap seseorang mendorongnya sampai inti bumi sekalian.

“Bapak Shen Wenlang, Shen Lele itu berbeda.”

“Keterlambatan dalam tumbuh kembang dari anak Shen Lele ada beberapa kemungkinan, salah satunya dia tidak mendapatkan shooting pheromones sejak dalam kandungan hingga awal kelahiran.”

Kata-kata itu muncul dari psikolog yang dia bayar sendiri atas kesadarannya. Semenjak datang, hubungan ayah dan anak sangat sulit. Shen Lele enggan mengerti posisi Shen Wenlang, dan Shen Wenlang yang bingung memposisikan diri menjadi seorang ayah dalam satu malam.

Tembok asing di antara keduanya sudah sulit ditembus, ditambah anomali yang muncul di tubuh Shen Lele menambah tingkat kesulitannya. Shen Lele punya lack pheromones disorder yang membuatnya lebih lemah berkembang daripada alpha tingkat tinggi seharusnya. Shen Lele tidak punya percaya diri, emosinya tidak terkontrol, badannya tidak sekuat alpha pada umumnya.

Shen Wenlang adalah korban runtuh keluarganya sendiri. Maka sejak dia mendengar Shen Lele memanggilnya Didi di tahun ketiga mereka berusaha, Shen Wenlang berjanji, seluruh dunia akan dia berikan untuk Ndoro. Shen Wenlang akan memastikan hidup Ndoro dalam asupan cinta selalu.

“Ndoro..”

“Didi.. Papa..”

Empat kali air mata Shen Wenlang tumpah dan itu terjadi dini hari. Mata sayu Shen Lele yang kembali terbuka, menuntun Shen Wenlang kembali ke dunia. Shen Wenlang jatuh bersimpuh di samping ranjang, tangannya menggenggam erat-erat milik Shen Lele hingga sang anak mampu merasakan basah butiran bahagia.

Shen Lele ditemukan 3 jam pasca evakuasi, hampir tertimbun tanah seluruhnya. Kalau saja pada waktu itu Shen Lele tak sadar dari hipotermia yang membuatnya kehilangan kesadaran, tim penyelamat akan menghentikan sejenak proses evakuasi karena bumi Arjuna kembali diguyur hujan.

“Didi, Lele bikin didi sama papa khawatir ya? Harusnya aku dengerin didi ya? Harusnya aku gak usah ikut pergi ya? Didi harusnya aku sadar kalau kondisi aku beda ya?” Terlalu banyak sebenarnya kata-kata yang diungkapkan Shen Lele dalam satu tarikan napas. Yang hanya anak itu tau, ketika doa-doa yang dihaturkan dalam nada sesak, sebelum kepalanya kembali berat, dan matanya menutup rapat, kalimat didi dan wajah papa muncul di dalam kepalanya. Shen Lele berjanji, kala matanya terbuka dan melihat kedua orang tuanya lagi, dia harus minta maaf.

“Didi, papa, Lele minta maaf ya.” Katanya lirih.

“Ndoro..” Sahut Shen Wenlang serak di sela-sela tangis. “Didi gak tau harus apa waktu ndoro belum muncul sama yang lain. Didi takut sekali ndoro gak pulang ke rumah. Didi gak menyesal kasih ndoro izin untuk pergi. Tapi didi bingung gimana caranya sembuh setelah ini.”

Shen Wenlang sudah pernah ditinggalkan oleh papanya. Shen Wenlang sudah pernah ditinggalkan Gao Tu, cintanya. Tetapi, Shen Wenlang gak pernah kebal dengan perasaan takut akan ditinggalkan. Shen Wenlang benci sendirian.

“Didi, kan anaknya sudah kembali. Baik-baik saja, bisa bareng-bareng sama kamu terus setelah ini. Kejadian hari ini kan musibah, gak ada yang tau kapan dan gimana datangnya.” Gao Tu jelas sama kalutnya, sama takutnya, sama copot jantungnya ketika Shen Lele digotong tak sadarkan diri. Tetapi, jika bukan dia yang mencoba untuk teguh, keluarganya bisa hancur hari ini.

Shen Wenlang berdiri, mengusap hidungnya yang merah sekali. Mata sembabnya bergantian menatap Ndoro dan si Cintaku lamat-lamat. Kepala keluarga yang masih banyak belajar kini mengambil tangan Gao Tu, membawanya bersatu dengan milik anaknya yang lemas. Dia usap satu persatu, merasakan bagaimana hangat suhu dan nadinya yang berdenyut konstan, menandakan bahwa dunianya masih berputar.

“Ndoro... Cintaku... tolong temani didi sampai kapanpun ya. Didi manusia banyak kurangnya, tapi didi berusaha terus untuk bahagianya keluarga didi. Didi sayang sekali sama Ndoro dan Cintaku. Karena Ndoro dan Cintaku satu-satunya dunia yang didi punya.”


`hjkscripts.