daddy is play nice.


Sheng Shao Yu mempersiapkan dirinya ketika suara ceria dari anak laki-laki tunggalnya terdengar dari luar pintu utama. Diikuti langkah berat juga suara angkuh, yang isinya cuma tau berdebat. Huasheng dan Huayong telah tiba di rumah.

“Papap!” Pekik Huasheng senang kala melihat sang papap sudah duduk manis di sofa ruang keluarga, tidak fokus pada laptop atau gawainya.

“Huayong, turun! Turun!” Pinta si kecil pada Huayong yang masih setia menopang badan Huasheng dalam peluknya. Mata Huayong mengerling jengkel, sudah biasa. Ini bukan tanda tidak cinta, namun tanda kasih luar biasa.

Xiao Huasheng berlari ke arah Sheng Shao Yu. Menunjukkan medali perak yang dia dapatkan dari lomba lari estafet di sekolah dasar, dalam rangka memperingati hari anak bersama orang tua. Hanya medali perak, tapi senyum Huasheng tidak ada hentinya.

“Papap lihat! I sama Huayong dapat medali perak!” Tunjuknya bangga.

Lelaki dewasa mengamati medalinya, ikut senang tentu saja. “Wahh hebat, juara berapa?” Sheng Shao Yu menanggapi.

“Juara dua!” Sahut Huasheng dengan nada sedikit memekik. Jemarinya ikut maju menunjukkan angka dua. “I sama Huayong juara dua. Ah Shen sama Didi Wenlang juara satu! I senang sekali papap.” Jelasnya lucu.

Sudah berapa kali Huayong mengerlingkan matanya jengkel. Mendengarkan putra semata wayangnya juga musuhnya bangga dapat juara dua. Sangat melukai jati dirinya sebagai pemegang puncak rantai manusia saja.

“Huayong, you kalau lari biasa aja, enggak usah pakai kekuatan. Kata guru i kalau lomba harus adil. I tau you hebat sekali dan cepat sekali tapi kasihan orang tua teman-teman i enggak ada yang sekuat you.”

“Harusnya bisa gue juara satu. Lo aja gak mau diajak menang.” Huayong menyerah. Berjalan melewati Huasheng sembari mengusap rambut anaknya gemas. Menempatkan badannya di sebelah suaminya yang masih berinteraksi dengan sang anak.

“Enggak apa-apa, Huayong. Ini namanya menang adil. Lebih menyenangkan.” Memang kalau Huasheng, lebih memilih kalah dalam apapun tapi tidak dengan mendebat Huayong.

“Papap, tadi seru sekali. Teman-teman i yang enggak dapat juara juga senang.”

“Oh yaa?? Kenapa bisa begitu?”

“Iya, karena Huayong. Huayong bikin mereka senang. Huayong panggil ice cream, coklat, dan balon. Semua dapat, enggak ada yang kalah.”

Sheng Shao Yu tersenyum mendengarnya. Menengok ke arah suaminya yang masih duduk dengan wajah sok dingin, namun juga malu karena dapat pujian dari musuh bebuyutan yang dia buat sendiri. Dua pasang mata keduanya bertemu, milik Sheng Shao Yu berbinar bangga seolah mengatakan good job, baby kepada Huayong.

Karena Sheng Shao Yu dan hanya Sheng Shao Yu juga Xiao Huasheng yang tau bahwa Huayong hebat. Huayong bukan si manusia cepat, kuat, menakutkan seperti monster kata orang-orang. Huayong juga punya hati yang hangat. Huayong mencintai keluarga kecilnya seperti dia menjaga nyawanya sendiri.


`hjkscripts.