daddy ain't home.


Bagi Little Peanut, kepulangan Sheng Shao Yu adalah kebahagiaan. Sheng Shao Yu bukan hanya orang tua, namun dia adalah tiga per empat hidupnya, dunia indahnya, bagian tiap hembusan napasnya. Sheng Shao Yu adalah alasan dia bisa berjalan setiap hari. Alasan dia bisa makan dengan lahap, tidur dengan nyenyak, dan berangkat sekolah dengan semangat.

Seluruh badan kecil kini dia kerahkan seluruhnya. Menghujani sang papap dengan berjuta afeksi, seolah lelaki dewasa ini takut hilang lagi. Sheng Shao Yu bahkan tidak diberi kesempatan untuk menurunkan kopernya. Larangan bibi untuk tidak menggangu sang papap ogah diindahkan.

“Oh, my Little Peanut.” Gumam yang dewasa, sembari mengangkat tubuh kecil dalam gendongannya.

“Papap, i kangen sekali sama you. I enggak bisa tidur, mau dibacakan cerita sama you. Makanannya enggak enak kalau bukan you yang suapi i.”

Oh, that little dramatic brat.

Namun, semakin diucapkan, Huasheng semakin yakin bahwa kedatangan Sheng Shao Yu seperti sebuah kesalahan. Dunia si anak kecil tidak mungkin setenang ini. Tidak ada yang mencubit pipinya hingga merah. Tidak ada yang menanggapi kata-katanya dengan nada angkuh. Tidak ada yang menatap tingkah lakunya dengan mata jengkel.

“Mana Huayong?” Mata si kecil terangkat, meneliti setiap celah di antara dua bodyguard sibuk yang tengah membawa barang-barang papap-nya.

“Your dad ain't coming home.” Sheng Shao Yu menjelaskan. Menggantung, tidak ada alasan panjang lebar.

Huasheng menggerakkan otaknya, mengais berbagai macam opsi dalam memori kecilnya, menyusun hipotesa tentang alasan absensi Hua Yong setelah kepergiannya sejak minggu lalu. Hua Yong tidak pernah sibuk, selain menyibukkan diri bertengkar dengan dirinya, memperebutkan papap.

“Kenapa enggak pulang?” Cicit Huasheng mulai takut. Bagi Huasheng, Hua Yong adalah musuh dalam selimut paling menyebalkan. Namun Hua Yong bukan seseorang yang harus dia singkirkan keberadaannya.

“He didn't say a word. Aku disuruh pulang sendiri.” Sheng Shao Yu menanggapi. Menurunkan putranya yang semakin berat, setelah mereka masuk kamar utama. “Why don't you call him? Satisfy your curiosity.” Lanjutnya.

Pernyataan yang dibuat Sheng Shao Yu tidak membantu. Merusak susunan hipotesa positif, menjadi kekhawatiran tidak berdasar dari pikiran si kecil. Carut marut, isinya adalah salah dan menyalahkan.

Hua Yong marah atas insiden coklat adalah hipotesa paling cocok yang bisa menguatkan lembaran paper-nya saat ini. Kemarahan pasal coklat memang valid menurut si kecil. Namun, kehilangan Hua Yong bukan balasan yang dia inginkan.

Hua Yong, where are you?


`hjkscripts.