daddy is finally home.


Huayong adalah salah satu korban dari jutaan kasus kerusakan rumah tangga. Keluarganya rumit, sesak, bikin gila. Huayong ini sudah gila, namun psikiater gak ada yang berani diagnosis dirinya.

Papanya sudah terlanjur malu, ketika dokter memutuskan bahwa Huayong ini anomali. Gak ada anak yang lahir sama seperti dia setelah dunia melalui evolusi besar-besaran. Huayong adalah Enigma. Feromon terlampau hebat, mengintimidasi, tidak terkontrol. Jauh dari manusia alpha. Kata mereka Huayong adalah mesin pembunuh.

Huayong tidak paham arti sedih, apa itu menangis? Huayong tidak pernah tau rasa sakit. Huayong tidak punya belas kasih. Bahkan berhadapan dengan makhluk kecil yang wajahnya menyerupai setengah dirinya, tidak ada dalam kamus perjalanan hidup.

Lelaki dewasa ini salah telah belajar sendiri. Mencintai Sheng Shao Yu mengikuti nurani, dia jatuh terlampau dalam. Mencintai Sheng Shao Yu sebagai makhluk anomali berarti membiarkan apapun bisa terjadi, termasuk memunculkan keajaiban di antara keluarga bahagia kecilnya yang hanya berisi dua orang.

“Itu hadiah dari gue, buat lo.” Huayong meletakkan bingkisan rapih, bahkan indah di depan anaknya, Huasheng.

Huasheng meletakkan iPad-nya, memberikan perhatian serta tatapan bingung pada Huayong yang berdiri angkuh di depannya. “Huayong, ini coklat? you beli buat i?” Matanya berbinar, ada rasa bahagia menelusuri hati kecilnya.

“Iyalah, kan gue janji ganti lo punya coklat.”

Satu detik kemudian mimik bersinar milik Huasheng silih berganti dengan perasaan sedih yang muncul tiba-tiba. Huayong bingung, mana lagi sikapnya yang salah.

“Apa yang kurang? Gue beli sama di toko kayak papap lo kemarin. Gue pergi ke HK sendiri. Gue ambil pakai gue punya tangan, bayar gue punya duit. Gue gak suruh orang.” Jelas Huayong panjang lebar.

“Huayong enggak marah lagi sama i? Maaf, Huayong pergi karena i. You jangan pergi seperti kemarin lagi tanpa bilang i. I sedih dan bingung kalau you enggak pulang.”

Lelaki dewasa kini tertegun. Tiada kata yang bisa dia katakan. Shen Wenlang dan Sheng Shao Yu bilang Huasheng sangat mirip dengannya, pembuat drama ulung, dan dia merasa pernyataan satu itu bukan tidak salah.

“This little devil is so damn good, making that dramatic scene.”

Huayong meletakkan telapaknya di atas kepala yang menunduk sedih. Mengusap rambut tebal, bertekstur lembut sama seperti miliknya.

“Udah, lo jangan kayak gini. Gue gak akan pergi. Gue gak akan biarin lo hidup bahagia sama papap lo.” Katanya sombong. Namun, kalimat itu membuat binar si kecil kembali.

“Huayong, terima kasih sudah sayang sama i.

“Ya.”

“I juga sayang sama you.” Tentu saja kalimat satu itu tidak terucap diantara hubungan dua manusia ini.


`hjkscripts.