tuan tanah.
cast : Euro as Yuro Son Yuke as Son van Yuken Peter Deriy as Putra
TRIGGER WARNING ; HARSH WORDS, WORDS DEGRADING, SEXUAL CONTENT 🔞
Apartemen rusuh, genteng usang, kayu lapuk, bertebaran debu. Belakang tembok bantaran sungai, tempat warga buang sampah sampai dibuat mampet. Tempat anak kecil adu menyelam bersama mani dan hajat. Bersebrangan dengan rel kereta yang suara deru roda dan lonceng uap bikin pekak semalaman.
Tangga-tangga lawas dari seng yang bolong, entah siapa yang peduli. Temboknya tertutup semen murahan yang habis dibeberapa sisi terkikis jaman. Nampak batu-bata, beberapa hilang diambil penghuni yang butuh ganjal pintu unitnya yang juga sengkleh. Lubangnya cukup untuk tempat sembunyi balita yang suka kabur dari emak yang bawa piring isi nasi dan kuah bakso.
Sudah tidak ada yang bisa tolong apartemen dengan umur bangunan hampir 30 tahun. Rongsokan begini, penghuninya penuh, rukun. Ada yang datang masih culun, gak ngerti tata adab kota besar. Tapi sekarang sudah gendong anak dua. Semua macam manusia ada, semua pejuang rupiah dari kalangan bawah yang uang digitnya gak pernah lebih dari seratus ribu perhari.
Cuma apartemen ini yang bisa nolong badan capek dari shift malam panjang. Cuma apartemen ini yang sedia dibayar lima ratus ribu per bulan. Cuma apartemen ini yang boleh dibayar nunggak, soalnya bisa tiap hari rentenir mampir buat nagih materi ke para penghuni. Cuma apartemen ini, meskipun asal usul absah surat bangunan dipertanyakan. Peduli setan, buktinya sudah puluhan tahun mereka hidup dengan nyaman.
Dok! Dok! Dok!
“Ro! Yuro! Iki aku, Putra!” (Ro! Yuro! Ini aku, Putra!)
Sudah siang, lewat adzan dzuhur. Masjid kampung seberang sungai belum selesai baca doa setelah adzan. Laki-laki jangkung, pakai kutang, celana jeans pendek, sobek-sobek alami karena saking sering dia pakai. Dia lari dari lorong tangga ke unit paling ujung. Suara sandal jepitnya menggema satu lantai saking tipisnya tembok yang terbuat dari triplek untuk sekat.
Berisik, tangan beratnya gak berhenti gedor-gedor pintu kayu tipis. Panik sampai gak peduli ada mbak-mbak cantik, pakai setelan seksi keluar dari balik pintunya sendiri. Baru pulang si mbak dari kerja malam. Matanya masih setengah terpejam, garuk-garuk lehernya sampai merah, marah juga sama kelakuan tetangga sebelah.
“Mas, mbok biasa ae lek ndodok pintu. Aku iku ngantuk, butuh turu!” (Mas, tolong biasa aja kalau ketuk pintu. Aku ini ngantuk, butuh tidur!) Teriaknya geram. Wajah ngantuknya gak bisa nutupi kalau dia juga marah.
“Gak isok, Mbak Devi! Iki penting! Wes sampean lek turu yo turu! Ojok ngurusi aku!” (Gak bisa, Mbak Devi! Ini penting! Sudah, kamu kalau mau tidur ya tidur! Jangan urusi aku!) Putra, nama lelaki jangkung menjawab. Sama pakai suara tinggi, sebab dia sama gak sabarnya, sama sebalnya karena sohib yang dia panggil gak segera menjawab panggilannya.
“Ohh, asu!” (Ohh, anjing!) Mbak Devi menggerutu, kakinya nyentak tanah sampai tali lingerie murahnya turun dari bahu, keliatan separuh payudara yang dari tadi ikut naik turun. Sebelum, dia pasrah dan nutup pintu sembari dibanting keras.
“Lonte.” Gumam Putra kecil. Padahal matanya hampir ngelantur liat buah dada yang dikit lagi utuh bulat. Tapi, prinsipnya masih teguh. Dia datang, lari-lari dari lantai bawah ke lantai 5 buat sampaikan pesan penting. Desas-desus warga yang suara napasnya saja terdengar dari balik pintu kamar mandi pas dia lagi setor harian.
“Ro! Asu! Sek turu jancok iki!” (Ro! Anjing! Masih tidur bajingan ini!) Teriaknya sekali lagi sebelum pintu yang suara deritnya bikin sakit telinga terbuka.
Empunya setengah bugil, matanya sipit khas baru bangun tidur. Ditambah reflek nguap di depan muka temannya, minim adab, hilang sopan santun. Empunya sama, laki-laki muda, gak terlalu pendek, juga gak jangkung seperti Putra, tapi badannya bongsor, otot-otot yang bersemayam dibalik kulit sawo matang membuat lelaki ini sering dilirik penghuni apartemen, apalagi kumis tipis yang memang dia berdayakan, dia cukur biar gak seberapa lebat, menambah daya tariknya.
Putra mengerlingkan matanya, udah males lihat kebiasaan kawannya yang wajib bangun di atas jam 12 siang. Ya siapa suruh jadi orang sok jagoan, minta semua jam shift malam di minimarket stasiun yang buka 24 jam dia yang handle. Yuro, panggilan lelaki belel ini hidupnya sudah menyatu sama kalong, pagi tidur, malam ngeluyur.
Unit punya Yuro ini awalnya gudang. Tipe ruangannya paling kecil, gak ada dapur pribadi. Kamar mandi saja baru dibuatkan sederhana waktu Yuro datang 5 tahun yang lalu. Ventilasi udara minim, jendela boleh dapat dari bobol triplek, diakali pakai sekat kayu sisa, ditutupi kain seadanya. Gak ada kaca, tapi siapa juga yang iseng mau masuk ke kamar Yuro.
Pengap, bau kecut, sisanya campuran dari debu dan sisa makanan, agak pesing juga. Tapi, Putra udah biasa. Bau penghuni di apartemen ini dasarnya sama, bau apek, bau keringat, bau orang-orang susah. Tinggal gimana satu persatu individu berusaha nutupi pakai parfum yang katanya dupe punya pramugari-pramugara Garuda. Pada akhirnya, pulang dari cari nafkah balik ke setelan semula, soalnya cuma parfum harga 30 ribu, gak tahan seharian.
Laki-laki jangkung itu duduk semaunya sendiri, kaki kotornya ikut naik di atas sofa lapuk, satu-satunya barang inventaris apartemen yang gak dibuang waktu gudang dirombak. Diikuti Yuro yang sudah pakai baju lekbong, nemu di lantai. Lelaki itu minum sebentar buat basahi tenggorokannya yang kering kerontang. Terus dia ikutan duduk di kursi kayu buatannya sendiri, gak lupa buat sulut satu batang rokok, dihembuskan napasnya kasar, dibuang tinggi-tinggi asapnya sampai langit-langit.
“Awakmu rene kayak wong gendeng butuh opo?” (Kamu kesini kayak orang gila butuh apa?) Yuro bertanya kepada Putra yang sudah separuh tiduran di sofa sambil petik gitar.
“Apartemen ini mau digusur. Pihak KAI minta tanahnya buat bikin ituloh, jalannya kereta nanti ada dua arah.” Jelasnya pakai nada gusar, sama seperti suara petikan gitar yang nadanya dibuat sesedih mungkin.
“Krungu tekan sopo kon?” (Dengar dari siapa kamu?)
Gitar ditaruh, badan Putra terangkat jadi duduk kembali. Serius dia, hidup dan matinya ini. “Iku awakmu mudun deloken dewe! Ada surat pemberitahuan dari KAI di tempel ndek tembok depan!” (Itu kamu turun lihat sendiri! Ada surat pemberitahuan dari KAI di tempel di tembok depan!) Sahutnya dengan napas memburu, mimik mukanya makin merah tanda dia sebal bukan main.
“Juragan?” Tanya Yuro. Putra menggeleng lemah.
“Belum kelihatan orangnya. Mangkanya aku kesini ini mau minta tolong ke kamu toh, Ro. Kamu kan kenal sama juragan. Tolong tanya gimana solusinya. Kita ini manusia-manusia susah semua. Gak punya tempat tinggal lagi selain apartemen ini. Bertahun-tahun, ngadunya ya di sini.”
Yuro gak jawab, melainkan mematikan putung rokoknya yang sudah di batas ujung. Lalu, tanpa pikir dua kali dia sulut satu batang yang lain.
Juragan yang disebut Putra ini panggilan dari penghuni kepada laki-laki hampir setengah abad, pemilik apartemen. Lelaki dewasa kaya yang sepertinya sudah enggan membawa sepatu puluhan juta menginjakkan kakinya di tanah kumuh. Lelaki yang mungkin sudah tidak peduli akan keadaan apartemen, berapa penghuninya, berapa penghasilan biaya sewa. Namun, bagi penghuni yang belum bertemu secara langsung degan Juragan, dia adalah dewa penyelamat.
Satu kali Yuro bertatap langsung dengan Juragan, yang mana tidak semua penghuni seberuntung dia. Kala itu Yuro baru datang dari kabupaten, pertama kali jadi anak rantau. Jauh-jauh ke Surabaya cuma demi bekerja di minimarket yang mungkin di kabupatennya ada. Tapi kata ibuk, namanya rezeki memang gak tau datang darimana, harus dikejar.
Yuro capek, bajunya basah dari keringat, hawa kota metropolitan gak mendukung meskipun sayup-sayup remaja masjid mulai ngaji hampir menginjak maghrib. Remaja yang dulu kurus hampir pingsan karena lelah juga lapar. Kayak film-film romansa, di penghujung kepalanya yang mendadak pening, juga mandi keringat dingin, dia nabrak paruh baya yang lagi hisap rokok linting.
Lokasinya di depan rumah makan khas nusantara besar. Tempatnya disewa untuk acara yang gak tau tujuannya apa. Singkat cerita Yuro ditolong sama lelaki dengan setelan jas, kalau di film-film hollywood, yang seperti itu tugasnya kalau gak bodyguard ya agen rahasia. Yuro dikasih minum, dikasih rokok yang bikin semangatnya kembali bugar. Layaknya hubungan laki-laki dengan sesamanya, Yuro cerita banyak. Lagi cari tempat tinggal buat tunjang hidupnya yang baru dimulai kembali.
Dipertemukan mereka, kayak nganten yang baru naik pelaminan. Yuro diantar ketemu Juragan. Masuk ke dalam pesta dengan pakaian kusut juga muka kumuh. Sampailah dia dengan suatu persetujuan, gak perlu adegan drama, gak perlu syarat, gak perlu jual diri. Yuro dapat sisa ruangan di apartemen lawas, mana kebetulan dekat dengan tempat kerjanya.
Satu kali, dan Putra menganggap pertemuan tidak sengaja dengan Juragan adalah sebuah kedekatan yang patut disyukuri.
[Kula nuwun, Juragan. Sugeng siang, kula menika Yuro.]
[(Permisi, Juragan. Selamat siang, ini Yuro.)]
Pagi ini cerah, hari Sabtu pula. Yuro rela buka mata dari shift malamnya, gak tidur demi kehidupannya bisa berlangsung. Siapa yang sangka, Putra saya terkaget menganga. Nomor Juragan yang Yuro simpan bertahun-tahun di gawai jadulnya menuai jawab dan harap. Juragan ingat Yuro entah bagaimana memori lelaki berumur itu bekerja. Yuro diundang datang kediaman Juragan.
Lima tahun bagi Yuro, baru kali ini matanya lihat luas Kota Surabaya yang katanya orang indah. Tau sendiri dia bentuk bunga tabebuya yang bisa tumbuh di bulan tertentu. Jalannya rapih, gedungnya elit juga tinggi, lingkungannya bersih, gak seperti daerah apartemen yang dia lihat. Injak tai kucing termasuk beruntung daripada injak tai manusia. Sayangnya Yuro gak ada waktu kayak anak muda skena yang hobinya nongkrong-nongkrong minum kopi dari pagi buta. Hidup Yuro isinya ya kerja malam, tidur siang buat hemat pengeluaran makan. Biar cukup hidupi ibuk di kabupaten.
Sudah sepuluh menit lamanya Yuro berdiri di depan pagar besi tinggi. Sudah sepuluh menit juga Yuro sampai di kediaman Juragan, namun dia belum siap masuk. Memilih sulut satu batang rokok dulu, dia habiskan, buang putungnya sembarangan, sebelum dia panggil satpam dan dipersilahkan masuk.
Rumah Juragan kelewatan apik, bangunan masih asli bekas milik kompeni dari jaman Belanda. Kokoh, kuat, tahan banting, sama seperti pemiliknya, Juragan Son van Yuken. Hampir 50 tahun, tubuhnya gagah, dadanya bidang, rambutnya lebat ditata klimis pakai belah kanan, lengkap dengan kulitnya yang pucat khas turunan londo. Yang kurang cuma kakinya, harus sangga pakai tongkat. Tongkatnya juga gak mungkin biasa, dasarnya jati, pernis mulus, ujung pegangannya pakai muncung burung rangkong Kalimantan, asli. Entah bagaimana cara beliau dapat. Kedatangan Yuro menghadap tuan bukan mau jadi KPK, melainkan tamu yang minta belas kasihan.
Rumah sebesar ini, bikin Yuro celingak-celinguk. Merasa gak pantes sama dandannya yang kayak mau datang wawancara kerja. Padahal ya kemejanya sudah minta di setrika sama Mbak Devi, tapi tetep gak bisa menutupi aura susah yang sudah jadi akar hidupnya. Semakin ke dalam Yuro semakin penasaran, rumah sebesar ini isinya cuma suara napas sama debar jantungnya yang berantakan. Gak ada suara wanita atau anak kecil lagi lari-lari bahagia. Yuro dihadapkan sama ruang tamu, ada sofa hadap televisi, juga satu sofa yang beda sendiri. Letaknya membelakangi lukisan besar gambar lelaki yang menyerupai pemilik rumah.
Yuro mendadak kagok, dua tangannya menangkup, menempel di depan pahanya. “Juragan, sugeng enjing. Kula menika Yuro, ingkang menyurati Juragan saking ndalu.” (Juragan, selamat pagi. Ini saya Yuro, yang menghubungi Juragan semalam.)
Juragan Yuken tersenyum. Senyum yang melintas dari memori jauh milik Yuro. Senyum wibawa, sanggup tanpa nampak gigi satupun, menambah kesan bijaksana dan betapa baik juragan satu ini. Senyum yang Yuro ingat, Ia dapatkan lima tahun lalu, kala pertama kali mereka saling adu tatap.
“Juragan..” Juragan terkekeh geli sembari melepas cerutu mahal yang habis dihisap.
“Nggih. Ngapunten Juragan Yuken.” (Iya, mohon maaf Juragan Yuken.)
“Ada apa kamu kemari? Siapa namamu? Sudah lama toh? Masih simpan nomor saya? Tapi saya ini ingatannya luas. Ingat saya sama kamu itu.”
Yuro diam begitu lama, gugup juga dia yang badannya berotot kayak preman. Berdiri tegap, kepalanya lebih sering menunduk, menghitung berapa luas satu lantai keramik rumah Belanda itu. Tidak berani langsung bersitatap dengan Juragan Yuken yang kini perhatian penuh sama pemuda lusuh dari kursi kebesarannya.
“Ngapunten, Juragan. Kulanipun mriki kagungan maksud mundhutaken priksa sabab penggusuran apartemen dening KAI. Leres napa mboten, nggih? Penghunipun menika resah mangke mboten kagungan dalem malih.” (Mohon maaf, Juragan. Saya kesini punya maksud menanyakan perihal penggusuran apartemen oleh KAI. Benar atau tidak, ya? Para penghuni jadi resah nanti tidak punya rumah lagi.) Jelas Yuro panjang lebar, sehalus mungkin, sehati-hati mungkin dari pemilihan bahasa yang diambil. Takut salah, takut menyinggung Juragan Yuken yang sangat beradab dan penuh tata krama.
Bukan jawaban, melainkan Juragan Yuken mengambil tongkatnya lalu berdiri. Berdendang begitu lantai berketuk dengan tongkat dan sepatu kulit buaya. Hingga mata Yuro yang menunduk dapat melihat kilau sepatu pantofel milik Juragan sampai di depan sepatu ala kadarnya.
Juragan Yuken mengangkat tongkatnya, membiarkan tubuhnya ditopang dengan dua kakinya saja. Dingin rasanya kala ujung muncung rangkong Kalimantan tiba mengambil dagu Yuro yang jatuh di lantai. Diangkat dia, hingga wajahnya sejajar dengan milik Juragan, agak menengadah sedikit sebab tinggi Juragan Yuken. Meninggalkan hanya kastanya saja yang berbeda jauh.
Senyum itu kembali lagi, kali ini tepat pandangan manik mata Yuro menangkap tiap detik bibir itu diangkat dengan sengaja. Ada ribuan wibawa, namun dari dekat begini membuat manik Yuro bergetar sebab dicecar dengan satu gestur angkuh yang ikut menguar.
“Saya sudah ndak peduli apartemen itu lagi, kalau mereka mau, kenapa saya harus halangi?” Titahnya dengan suara halus, pelan, namun menekan. Dagu Yuro dilepas dari muncung rangkong Kalimantan, membiarkannya kembali jatuh menatap bumi.
“Nyuwun Ngapunten, Juragan Yuken. Kami butuh tempat tinggal, saya butuh tempat tinggal.” Yuro memohon takut-takut.
“Kalau itu saya ndak peduli toh. Saya ini tuan tanah, pebisnis. Saya bukan dermawan atau pengurus panti sosial.”
Hening, Yuro kalah telak dalam lomba adu argumen. Kali ini pribumi kalah dilindas. Memang bisa apa orang miskin seperti dirinya dihadapan si tuan tanah yang dipuja-puji pejabat. Tanah itu jelas ilegal, sebuah fakta tak terelakkan kalau pemilik mau ambil, harusnya mereka-mereka yang menumpang pasrah dihempaskan jua.
Detik-detik berlangsung, Yuro hanya tinggal menunggu waktu suara tegas Juragan Yuken yang memerintahkan si rakyat jelata dibawa keluar oleh pengawal. Namun, hingga menit berlalu tidak terjadi apa-apa. Yuro tak berani melihat ke depan. Dimana Juragan Yuken masih setia berdiri dihadapannya, jarak 10 meter saja.
Juragan Yuken asik sekali, menggerakkan bola matanya dari atas ke bawah, dari ujung kaki, hingga helai rambut milik Yuro. Juragan Yuken suka sekali dengan manusia-manusia seperti Yuro. Baunya menyenangkan, dia sudah cium dari si pemuda masih di depan pagar rumah besarnya. Pemuda lugu, dengan tatapan pasrah, yang dibenaknya cuma tau minta-minta, dikasihani tuan. Juragan Yuken suka menolong, tetapi beliau bukan Tuhan yang hanya butuh dibalas doa-doa pujian terhadap namanya.
“Saya tau kalian semua butuh tempat tinggal, namun masalahnya hanya satu. Rumah saya hanya sisa satu kamar. Kalau hanya kamu, saya sanggup jadi Tuhan Maha Penolong.” Kata Juragan Yuken. Matanya masih sama, berbinar semakin cerah menatap lelaki di hadapannya yang dia tau gestur sedikit rileks.
“Tapi ya saya sama seperti Gusti Pangeran yang butuh imbal balik. Sanggup kamu beri kepada saya?”
Yang Yuro tau hanya dia yang tidak menolak pula tidak mengiyakan. Yang Yuro tau jantungnya berdegup berantakan, darahnya berdesir hebat melewati nadi-nadinya yang mencuat. Yang Yuro sadar bahwa hatinya ternyata sudah punya pilihan. Yang Yuro sadar otaknya mulai patuh terhadap pilihan hatinya. Dan Yuro tau juga sadar bahwa tubuhnya bergerak mengikuti Juragan Yuken yang berjalan sembari mengetuk-ketuk tongkat seirama dengan detak jantungnya, menuju semakin dalam rumah bangunan Belanda. Seperti mangsa bodoh yang masuk dalam kandang harimau secara sukarela.
Yuro dibawa ke ruangan, kamar lebih tepatnya. Namun kecil, luasnya hampir sama dengan seluruh bagian apartemen miliknya. Gelap, minim cahaya. Bau debu terhempas masuk dalam indra penciuman Yuro yang tidak terganggu sama sekali. Sudah biasa, malah lebih parah unit apartemennya daripada kamar kecil ini.
Juragan Yuken meraih saklar lampu. Bukan putih terang yang memancar, tetapi kuning remang. Mirip sama suasana rumahnya di kabupaten waktu malam. Ruangan kecil ini hanya dihiasi satu bohlam, membuat matanya mengerjap, membantu pupilnya menyesuaikan cahaya yang masuk. Meskipun kecil, kamar ini dihiasi perabotan serba jati, bukan seperti miliknya, kayu lapuk. Dipannya juga ditutupi kelambu, kainnya halus tidak ada lubang.
Ada bau wangi menyengat menganggu hidung Yuro, tatkala Juragan Yuken selesai mematikan pemantik api di atas dupa dikelilingi kembang tujuh rupa yang telah menyala. Sangat tradisional, kalau di kabupaten, pejabat kaya raya seperti Juragan Yuken sudah pasti dipercaya memelihara Gundik, istri tak kasat mata yang mampu berikan dia harta dan tahta.
Yuro baru sadar dan menyesal. Kamar kosong pula bersih terawat, dupa juga kembang tujuh rupa, harta dan tahta yang entah datang darimana.
Apakah ini yang dimaksud imbal balik, dengan nyawa, sebagai tumbal?
Juragan Yuken melempar tongkat kebanggaannya. Memasukkan tangannya pada dua saku celana satin jatuh yang membuat kakinya semakin nampak jenjang. Dia berjalan, mendekati Yuro yang mematung ketakutan. Tegap, tidak gontai, menjelaskan bahwa tongkat muncung rangkong Kalimantan itu hanya sebagai hiasan kewibawaan, penanda bahwa dia adalah sang penguasa. Baik di luar sana, apalagi di dalam kamar temaram hanya berisi dua insan yang napasnya mulai tak beraturan.
Merinding bulu kuduk Yuro, badannya sampai terjengkat kala pundaknya disentuh oleh jemari hangat milik sang Juragan. Bersemayam mereka, berkelana menjajaki leher hingga tengkuk menggoda lawan. Yuro terpaku, seperti boneka mainan. Bibir bungkam, mata terpejam, kaki tangan seolah dijerat sehingga dia tidak bisa melawan.
Ada alasan mengapa Yuro seperti manusia lumpuh. Pertama, sabuk isi belati Juragan Yuken yang masih menggantung di pinggang tuan. Kedua, dekorasi kamar yang berhias celurit dan selaras seolah mengancam nyawanya. Terakhir, rasa penasaran miliknya sendiri.
Juragan Yuken berhenti tepat di belakang punggung tegang Yuro. Meletakkan dagunya tepat di pundaknya yang kokoh terlatih. Juragan Yuken suka aroma pemuda ini. Aroma keringat ketakutan, bercampur dengan jejak asap tembakau murahan yang menempel, bergaul menjadi satu. Pemuda patuh, pemuda yang tak menolak, pemuda yang akan menjadi miliknya.
Dibalikkan badan Yuro, meninggalkan lengan besarnya bersandar di pinggang berisi empu pemuda. Bergerilya jemarinya, mengelus punggung milik pemuda, juga melintas di atas puncak gunung yang membuat yang lebih muda mengernyit. Naik dua jemarinya, menangkup pipi merah Yuro. Diangkat kepalanya yang sejak tadi beradu tanah, memaksa Yuro membuka mata dan menghadapi takdirnya.
Dua belah bibir bersatu, ringan, hanya dikecup yang dewasa, memancarkan sinyal defensif milik si pemuda. Refleks tubuhnya membalas, lompat melepaskan diri dari kungkungan tangan buas. Dua matanya terbuka, menatap milik Juragan Yuken dengan ekspresi goblok. Otaknya kosong, sehingga syaraf tubuhnya mati kaku.
Hati Yuro menjerit sakit, kala tubuhnya disentuh tanpa persetujuan. Namun, kamar temaram kurang sirkulasi ini bikin kepalanya pusing, bikin pikirannya lumpuh. Yuro patuh atas ajakan Juragan Yuken yang lagi-lagi menautkan dadanya, bergesekan tanpa ruang udara dengan miliknya. Hanya dibatasi kain yang masih menempel berantakan. Yuro menutup matanya kembali kala wajah bajingan milik Juragan Yuken mendekat, membagi napas hangat dengan dirinya sebelum menjamah bibir pucat yang bangsatnya malah menganga.
Terbahak sang Juragan dalam benaknya, merayakan kemenangan. Hari ini akan berlangsung sangat panjang dan penuh erangan.
Bukan main usahanya waktu muda, sekolah sampai dapat dua gelar sarjana. Bersakit-sakit dahulu, sebelum jadi saudagar kaya yang punya kuasa kemudian. Sebab Yuken tumbuh dengan ambisi, manusia ini tidak suka penolakan. Sebab itu Yuken harus sukses, biar dirinya bisa atur sesuka hatinya, dapat semua yang Ia inginkan. Yuken suka orang miskin, mudah didapatkan, mudah diatur, mudah dimanipulasi.
Lihat Yuro, pemuda yang semakin terlena akan sentuhan di bibirnya. Yuro tidak lagi menolak, pasrah kala bibirnya ditekan kuat, digigit manja, dan sesap nikmat. Juragan Yuken gak peduli asal usul bibir orang miskin yang entah apa masuk dalam mulutnya. Juragan Yuken hanya suka bagaimana dia menuntun si pemuda untuk membuka bibirnya lebih lebar, menuntut si pemuda membalas jamahnya, menginvasi lidah hingga rongga-rongga mulut dalamnya.
Juragan Yuken suka orang miskin, sebab Yuro pasrah ketika bibirnya dibikin menganga hanya untuk diludahi. Pula, ibu jari yang kali ini ikut berdiskusi, menerobos masuk dalam rongga mulut Yuro, berinteraksi dengan lidah si pemuda, hingga luruh air ludah sampai lewat telinga.
Yuro tau ini semua anomali, kesalahan besar jika dia tidak berteriak minta berhenti. Namun, sebagian tubuhnya merasa nyaman. Sentuhan kurang ajar Juragan Yuken memancing kegilaannya. Bahkan Yuro terhempas pasrah, seolah tubuhnya seringan kapas tatkala Juragan Yuken melemparnya ke atas kasur empuk beralas dipan jati. Kainnya bersih, wangi, yang mana Yuro gak pernah dapati seumur hidup. Badannya nyaman terlentang, meskipun jemari bangsat sang Juragan mulai melucuti satu persatu helai kain yang melapisi tubuhnya.
Pikirannya melayang, warasnya hilang digantikan angan-angan menjadi putra kerajaan yang hidup nyaman dalam semalam. Biarkan Yuro menikmati perannya, menikmati mimpi indah yang belum tentu hari esok dia dapatkan kembali. Meskipun tubuhnya harus ditunggangi Juragan yang sama tanggalnya Ia punya pakaian. Di atas alas sutra, di atas kokoh jati yang menopang dua lelaki yang tengah bercumbu manja, mereka setara. Lepas derajat, tidak ada baju yang harganya berbeda, sepatu yang lebih berkilau, tidak ada aksesoris tanda kejayaan. Hanya ada tubuh telanjang, dilapisi kulit yang datang dari sama Sang Pencipta.
Ahhh..Hhhh..Shh..
Suara bangsat mulai mengalun, tidak ada ketakutan, tidak ada ancaman. Semua dilakukan murni atas pilihan.
“Kamu milik siapa?” Juragan Yuken bertanya, mengisi tangki kepercayaan dirinya. Meskipun telinganya sudah turun menari-nari diiringi musik syahdu yang keluar dari napas Yuro. Meskipun tatapan sange milik Juragan telah menangkap potret ekspresi goblok Yuro yang membuat birahinya semakin meningkat. Meskipun tangan nakalnya terus bergerak meremas pantat Yuro. Meskipun bibir dan lidahnya enggan berhenti menggoda kontol si pemuda yang basah karena maninya sendiri. Juragan Yuken tumbuh dengan rasa tidak puas.
“Lacur goblok! Taunya cuma desah! Jawab, kamu punya siapa?!” Satu tangan Juragan Yuken mendarat di pipi Yuro. Memancarkan warna merah menyala. Yuro gak kesakitan, seolah tamparan itu adalah pemantik yang menghidupkan nafsu dalam dirinya.
“Mi.. mi-milik Juragan Yuken. Sahaya milik Juragan seorang.” Cicitnya malu-malu. Nafasnya juga tercekat sebab Juragan Yuken menambah gerakan mengurut di batang penis Yuro semakin berantakan.
Yuro hilang ditelan birahi, kepalanya kosong, yang dia tau hanya cari kepuasan, cari pelepasan. Satu badannya menjadi hangat, lubang senggamanya mendadak gatal, kedat kedut minta digagahi segera. Yang dia tau badannya lagi-lagi basah sama pipisnya sendiri, dadanya naik turun. Yuro menggigit bibirnya malu. Malu sekali apalagi Juragan Yuken gak segan kulum kontolnya yang masih tegang, membersihkan maninya yang menetes. Dari pangkal penis, naik ke perutnya yang penuh lekuk tegas dari hasil kerja kerasnya, menelusuri belah dadanya, terakhir Juragan Yuken lagi-lagi menjamah bibirnya, menggoda kumis tipis kebanggaan Yuro yang masih bisa dia bawa saat bercinta.
Yuro gila, maka Juragan Yuken layaknya iblis yang membisikkan kata-kata yang membuat Yuro jadi gila. Yuro hilang arah, maka Juragan Yuken adalah setan yang menyesatkannya. Yuro masuk neraka, maka Juragan Yuken adalah dajjal yang menyambutnya di dalam neraka.
Juragan Yuken adalah dajjal yang menyeretnya masuk dalam api kekal. Juragan Yuken akan tertawa, menyajikan sentuhan-sentuhan bajingan yang membuat tubuh Yuro terbakar. Juragan Yuken akan terbahak, menghujani isi kepala kopong yang membuat tubuh Yuro meleleh. Juragan Yuken akan terpingkal, menghujam senggama milik Yuro, membiarkan pemuda itu melebur jadi satu bersamanya. Menemaninya menjadi raja iblis yang selalu patuh akan perintahnya.
Dibalik tubuh Yuro yang lengket bukan main. Bermandi entah peluh milik siapa. Juragan Yuken siap pada posisinya, meludahi tangan bangsatnya sedikit, dioles sensual di atas kelopak bunga yang masih mengatup, membasahi agar mekar dengan sempurna, berbinar matanya kala temu tatap dengan lubang senggama si pemuda yang masih belum ada pemiliknya. Bahkan empunya saja belum tentu pernah melihat bagaimana lubang itu masih rapat, berkedut memanggil-panggil laras bajingan yang ingin memuaskannya.
AHHH SHHHH
“Tenang, tenang. Kamu milik saya.” Juragan Yuken sampaikan kalimat reasurasi penuh nada egois tinggi.
Lengannya yang bebas mengangkat pinggang Yuro, memastikan lubangnya nampak jelas. Lelaki paruh baya kini mengurut kontol tegangnya sendiri, diputar menggoda sedikit membuat empunya lubang bergidik geli. Kepala Yuro semakin pusing, jari-jarinya meremas kuat-kuat alas sutra hingga kusut. Bibirnya meringis, menyuarakan rasa sakit yang belum pernah Ia bayangkan hingga detik ini. Detik dimana kontol tegang sempurna milik Juragan Yuken meruntuhkan lubang senggama si bujang lapuk.
Sakit sekali, tetapi rektum miliknya malah berkedut, menghisap kontol tanpa pengaman Juragan Yuken dalam lubangnya yang hangat. Memastikan milik sang Tuan nyaman di dalam pandunya.
Pantas saja Yuro tak tergoda payudara Mbak Devi yang sering sengaja wanita itu umbar untuk dirinya. Pantas saja kontolnya gak mau ngaceng meskipun dengar suara desahan Mbak Devi yang lagi digenjot pelanggan di siang bolong. Sebab bukan itu yang Yuro mau. Bukan payudara Mbak Devi, tapi tangan berurat sang Juragan yang sedang meremas pinggangnya. Bukan memek Mbak Devi, tapi kontol panjang besar milik Juragan yang menghujam lubang senggamanya.
Yuro meraung, patuh digagahi sang Juragan ternyata bukan jalan sesat, melainkan pilihan hidup yang dia cari selama jadi bujang lapuk. Dorongan penuh nafsu sang Juragan yang tengah menghajar lubangnya sampai lecet adalah jawaban dari pikiran-pikiran remaja Yuro yang mulai masuk fase dewasa. Dan hentakan terakhir kontol sang Juragan yang membiarkan pejuhnya memenuhi rektumnya yang menganga adalah Yuro yang menemukan jati diri sesungguhnya.
Bibir Yuro terangkat kala lemas tubuhnya jatuh menyentuh alas sutra. Dihimpit pula punggungnya dengan dada milik Juragan yang masih enggan membiarkan lubangnya bebas. Di dalam kamar remang-remang, di hari yang masih jatuh siang bolong, bersama sayup-sayup napas yang saling bersahutan, dengan peluh juga basah pejuh, dua lelaki sampai pada tujuannya.
“Yuro..” Panggil Juragan Yuken. Baru ini, setelah melalui ritual persetubuhan, Juragan Yuken sudi menyebut namanya.
“Tinggalah di sini bersama saya.” Pintanya.
Yuro tersenyum di sela-sela matanya yang mulai berat. Napasnya sudah kembali teratur, tinggal bau khas persetubuhan yang masih bergumul hebat dengan wangi dupa milik Juragan.
“Tinggal di sini bersama saya. Karena kamu mulai detik ini adalah milik saya.”
`hjkscripts.