hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Trigger Warning ; Slightly 🔞

Aou Point of View.

Kaki yang berusaha tegak ini, beserta tarikan napas dalam dan hembusan panjang adalah tanda bahwa gak mudah untuk masuk dalam venue acara bahagia. Harusnya, gw ada di dalam sana, bahkan sejak pagi buta. Biasanya begitu kan? Ketika ada saudara dekat akan mengadakan acara penting.

Namun sayangnya, yang di dalam sana lebih dari sekedar saudara dekat-dekat. Yang di dalam sana lebih dari sekedar kita saudara kandung. Ya, mana ada saudara kandung? Kan gw anak tunggal. Jadi, yang sama-sama berbagi warna merah darah dengan gw tentu... orang tua gw sendiri.

Iya, hari ini mereka yang sudah pernah merasakan perpisahan dan membentuk keluarga masing-masing (lagi), bakal disatuin kembali sama pernikahan. Kalau istilahnya sih namanya rujuk.

Tetapi gw yang disebut anak ini, malah datang di saat matahari udah cukup menyingsing, jauh dari ketika prosesi sakral dimulai. Terakhir kali gw ngecek jam tangan, jarumnya udah nunjukin pukul 12.00. Udah kayak tamu gak tau diri yang nyempetin hadir cuma buat makan siang.

Boom, cowok ini emang ya kapan gw gak bergantung hidup sama dia. Bahkan pas masuk venue aja, tangan basah gw digandeng sama dia. Takut jatuh, enggak takutnya gw kabur. Ini keputusan gw sendiri di menit terakhir waktu pertemuan makan malam hari itu, tapi kayaknya gw bakal menyesal setelah ini.

Waktu gw berdiri di atas selasar karpet merah, dengan jarak hanya beberapa bari orang-orang yang mau gantian ngucapin selamat buat yang kedua kalinya, rasanya gw mau muntah di tempat. Semua-semuanya perasaan melebur jadi satu di dalam hati, meluber kemana-mana penuhin rongga yang kosong. Perut gw tiba-tiba melilit, otak gw pening, sehingga tubuh gw menghasilkan begitu banyak peluh yang bikin kemeja di dalam jas mulai menyerap banyak keringat di bagian punggung.

Gw gak suka ngeliat mereka berdua tertawa bahagia kayak hari-hari sebelumnya adalah jalan indah yang mereka jajaki bersama, membangun semuanya dengan kata cinta. Apalagi alasan kuat yang membuat mereka patuh berdiri di atas sana adalah keinginan untuk membahagiakan gw; sang anak yang ditelantarkan sana-sini.

Sumpah gw beneran mau muntah. Persetan sama nikahan, persetan sama janji, persetan sama Boom, dan gw resmi menjadi seorang pengecut yang lari secepat mungkin menuju toilet. Memuntahkan seluruh isi perut, yang seluruhnya hanya cairan bening juga air. Demi Tuhan gw lemah banget, kaki rasanya berubah jadi jeli. Kalau kedua tangan gw gak bergantung dengan wastafel, tubuh gw jatuh gitu aja.

Gw melihat pantulan diri sendiri di kaca yang banyak noda bekas air. Bahkan kaca blur gak bisa nutupin gimana berantakan gw saat ini. Basah, kuyup, beberapa kali gw cuci wajah gw berharap bisa balikin kewarasan seperti semula. Tetapi yang terjadi adalah, gw kembali mual, muntah kosong, setelah memori masa lalu dan kini bertarung membuat kepala gw pusing karena kebingungan.

Linglung, kayak orang gila. Bahkan, pada detik kemudian tangan gw rasanya juga lemes. Sehingga gak bisa nahan semuanya. Gw jatuh terduduk, terjebak di tengah hiruk pikuk isi pikiran gw sendiri.

Boom datang, menangkup wajah basah gw dalam telapak halus yang menenangkan. Matanya menyala, tersirat khawatir di sana. Sedangkan, gw yang udah lemah makin menunduk.

“Maaf...” Bisik gw kepadanya. “Maaf gw gak bisa.” Final gw.

Boom ngerti, dia ini cowok paling pengertian. Dia dekap kedua bahu gw. Menopang gw buat sekedar kuat berdiri. Bukan buat lanjutkan apa yang harus dilakukan, tetapi untuk pulang.

“It's fine. Kita pulang!”


Apartemen dibuka, menguarkan hawa dingin dari dalamnya. Entah hawanya, atau keadaan mereka yang sudah terhitung satu jam tak ada kata-kata di antaranya. Aou bungkam, sedangkan Boom tau diri.

Boom bukan sosok pemaksa, malah dia ini sosok pemberi. Pemberi segala, dia bisa provides apapun. Namun untuk saat ini, yang dibutuhkan Aou adalah ruang dan sedikit waktu. Boom masuk kamar milih Aou seolah itu adalah ruangan juga. Dia tidak melakukan gerakan tambahan, sok baik, atau sok peduli. Hanya masuk, berdiri bersandar di meja komputer cowok yang lebih muda dari dia. Sembari mengamati gerak-gerik kawannya, hanya memastikan Aou duduk di kasur dengan tenang.

Selepas itu dia beranjak, kala lewat sepuluh menit Aou duduk meratapi lantai. Iya, Aou butuh ruang untuk sendiri.

“Mau kemana?” Sapanya. Ini juga jadi kalimat singkat pertama sejak satu jam tiga puluh menit lalu.

Boom berhenti tepat di depan kepala Aou yang masih belum mau tegar. “Aku gak mau ganggu kamu. Aku keluar aja.” Kata Boom lembut.

Namun, Boom harus membatalkan niatnya setelah sudut matanya menangkap gerakan tepukan lembut di permukaan kasur yang kosong. “Sini! Duduk sini aja!” Pinta Aou.

“Kamu mana pernah ganggu, malah aku yang butuh kamu di sini.” Aou mengungkapkan kata-kata yang terdengar biasa bagi Boom. Clingy, khas Aou sekali. Bahkan, Aou tak segan mengambil kedua tangan Aou untuk diremat lembut. Seolah cowok itu sedang mencari suntikan aliran energi positif yang selalu Boom punya dalam dirinya.

Aou menarik tangan Boom, mengarahkan telapak hangatnya menuju pipinya sendiri bersamaan wajah yang selalu bertatapan dengan tanah, pada akhirnya menatap matanya. Mata penuh kekesalan juga kecewa. Mata penuh sedih juga lelah.

Di mata Boom, Aou hari ini rapuh sekali.

Ekspresi wajah Aou yang penuh kumpulan warna abu-abu menstimulasi empati dalam diri Boom. Dirinya berusaha keras untuk berpikir, afeksi mana lagi yang harus dia keluarkan untuk sekedar menghibur jiwa Aou yang malang. Berpikir, berpikir, dan berpikir disaat begini ternyata tak sama sekali mengeluarkan ide-ide cemerlang. Malah, ada satu hal yang impulsif, dan tanpa Boom sadari dia telah menutup matanya ragu, memajukan wajahnya secepat kilat, dan mendaratkan bibirnya sendiri di atas bibir si cowok sendu.

Satu detik, dua detik, dan detik ketiga adalah waktu penyesalan, mungkin setelah detik kelima nanti persahabatan mereka akan runtuh selanjutnya. Hanya saja, ketika detik keempat, saat Boom mulai sadar akan bodohnya dia, lagi-lagi menciptakan jarak di antara mereka. Pada momen itu, pada detik kelima, Aou menarik tengkuk Boom, menautkan kembali yang baru singgah. Menahan rasa hangat dan basah bersama tekstur kenyal menyenangkan.

Aou menahan diri, berpedoman dengan kata persahabatan. Ketika momen ini muncul, dan cowok yang selalu dia eluh-eluhkan bahkan di dalam bawah sadarnya yang memulai. Aou tidak ada seruan penolakan. Sebab, bibir yang terlalu tersenyum ini, yang selalu terucap kata-kata baik dari didikan orang tuanya ini yang ingin dia cicip sejak lama.

Aou melumatnya, membuat Boom bingung setengah mati di sela-sela terlena pula. Dimana cowok yang kerap dipanggil Bocil belajar bagaimana memperlakukan bibirnya. Bagaimana dia bisa tau kapan harus mengecup bibir Boom, mengutarakan banyak kata-kata yang Aou sulit untuk merangkai kalimatnya. Bagaimana dia melumat dengan ritme konstan, membimbing yang lebih tua dalam permainan baru menyenangkan.

Basah, penuh liur, geli, juga bikin mabuk melayang. Keduanya terlena akan nikmat nafsu dunia. Kewarasannya hilang, nurani lenyap. Hanya ada birahi yang menuntun kedua tubuh bergerak semakin jauh, jauh menuju tilam empuk yang akan menjadi saksi bisu bagaimana liarnya lekuk tubuh kawula muda menduduki teman sebayanya.


`hjkscripts.


First kayaknya harus segera menuju dapur, setelah dia rasa Khaotung menghilang dari pandangannya selama hampir tiga puluh menit. Padahal hidup cuma berdua, padahal sebelum dia pergi bertemu dengan kawannya, dia pastikan wastafel kosong melompong. Tetapi, Khaotung yang permisi mau cuci piring, gak serta keluar kayak ibu-ibu yang lagi kerja di hajatan bagian dapur.

Khaotung lagi bengong, First berhenti sejenak dari langkahnya sembari menghela napas berat. Gimana ya, suaminya berdiri sambil megangin piring bersih dan sponge cuci, sedangkan air mengucur deras dari tap wastafel.

Cowok jangkung itu gak mau langsung memberikan sentuhan yang mungkin sekecil apapun bisa mengagetkan Khaotung. Dia memilih berdisi di sisi yang lebih pendek, diam-diam mematikan keran air, dan mengambil satu persatu barang yang berada di genggaman suaminya. Bersamaan dengan itu juga, Khaotung sadar dari pikiran-pikiran ruwet di kepalanya.

“Eh? Ehㅡ Aduh!” Respon Khaotung sedikit kebingungan. Cowok satu itu menyalahkan kembali keran air sebentar untuk membilas tangannya dari sisa sabun.

First Kanaphan tersenyum maklum. Lengan kirinya, Ia sandarkan di pinggang si suami, mengusap kecil punggungnya seraya menyuruh Khaotung pelan-pelan.

Cowok dengan kaus hijau kebanggaannya tanggap bukan main. Ia menyerahkan dua lembar tisu dapur untuk suaminya mengeringkan tangannya dengan benar. Lucunya, kesadaran Khaotung itu kayak lagi bulak balik pergi dan kembali. Sehingga, langkah yang lelaki itu ambil hanya untuk mencapai tempat sampah saja tidak sepenuhnya sempurna.

Beruntung suaminya ada di sana, badan kecil itu gak perlu timbul memar akibat berinteraksi dengan barang yang sebagian besar berbahaya.

“Sini deh! Sini, kamu berdiri di sini!”

First Kanaphan gemas sendiri. Antara dirinya yang kelewat penasaran dengan Khaotung yang memasukkan semua-muanya dalam pikiran. Cowok yang lebih tua beberapa bulan saja, kini telah memposisikan diri di hadapan Khaotung, mengapit si kecil di antara keramik dapur.

First melakukan sentuhan pertamanya, mengambil dagu milik sang suami agar matanya terangkat, berjajar tepat dengan miliknya. “Kenapa? Hmm?” Dia bertanya, sedang Khaotung masih sibuk memilah-milah isi kepalanya. “Apa? Coba diungkapkan aja!” Pintanya lembut.

“Jane ke sini. Ke rumah ini.” Cicitnya ragu.

“She's weird, you know?” Ungkapnya lagi kali ini dengan kebingungan. “She looked for you, but actually she didn't. And she was happy to met me?” Pungkasnya.

Gongnya adalah, First Kanaphan sendiri gak tau mau jawab gimana, soalnya pernyataan Khaotung tentang kedatangan Jane diluar ekspektasinya. Cowok ini udah nyiapin berbagai silat lidah untuk membuat Khaotung percaya bahwa dia benar-benar tidak berhubungan kembali dengan Jane semenjak hari itu. And he wasn't intended too.

First tau bahwa masalah yang menyangkut dirinya, Khaotung, dan Jane belum sepenuhnya berakhir. Tidak ada penjelasan secara resmi antara dirinya dan Jane secara empat mata. Bahkan mungkin, satu dunia masih menganggap ada hubungan spesial antara First dan Jane.

Yang First tau dia sedang tidak punya jawaban apapun untuk membalas kebingungan di kepala kecil milik Khaotung. First hanya tau dia butuh ketenangan untuk menenangkan suaminya, menghindarkan pikirannya dari remahan masa lalu yang sedang dia coba untuk sapu bersih menghilang dari tengah rumah yang dia bangun dengan susah payah.

Cowok yang lebih tinggi, kini menarik yang lebih pendek dalam dekapannya. Memberikan suara degup jantungnya yang berdetak konstan, juga suhu tubuh yang dia atur sehangat mungkin.

“Aku gak ada hubungan apapun sama Jane, kamu tau kan?” Kalimat pertamanya yang entah kenapa dia ingin utarakan. Padahal, tidak ada tatapan curiga, tidak ada ungkapan sanki. Hanya saja, traumanya muncul membentuk kalimat itu.

Khaotung tak menjawab di depannya, hanya anggukan kepala tanda percaya.

“Bukan aku yang hubungi Jane, dan suruh dia datangi kamu.” Lagi, kalimat hilang percaya diri membentuk satu lapisan kembali.

Lelaki dalam pelukannya berdehem seraya setuju.

“Aku gak tau kenapa Jane bisa datang keㅡ”

Hingga lapisan-lapisan kurang percaya diri yang dibangun First Kanaphan seketika luluh lantak oleh sebuah kecupan hangat, tidak menuntut, yang diberikan Khaotung sebagai bentuk validasi. Sebab, dirinya akan selalu punya rasa percaya terhadap suaminya, First Kanaphan dan harusnya First juga punya kepercayaan seperti itu.

“Iya, aku percaya. Kalau ini yang ingin kamu dengar.”


`hjkscripts.


Khaotung Point of View.

TRIGGER WARNING ; SEXUAL CONTENT, HARSH WORDS, WORD DEGRADING 🔞

Cowok gila, terkuras nalar, mati otak, bergerak naluri. Begitu yang menyala birahinya. Dia yang menatapku dari tempatnya berdiri. Tidak ada ruang untuk lari karena aku terjebak dengan permainanku sendiri.

Aku hanya mengajaknya bercakap, yang lama-lama menjadi berganti suara syahdu. Tanganku tidak bisa diam, bergerak menyentuh entah berapa banyak bagian tubuhnya. Cerewet sekali sama seperti bibirku yang terus berucap. Banyak cerita yang ingin aku sampaikan, sama dengan tangan ini juga banyak keingintahuan.

Lepas dari dia terhitung mingguan. Sudah kalap tubuh ini ingin merasakan sentuhan. Yang marah adalah aku, yang kecewa adalah hatiku, yang pening adalah pikiranku. Sisanya, berteriak meronta ingin dipuaskan. Sebab, mereka tau ada yang bersedia, mereka tau siapa pemiliknya.

Aku tidak tersenyum malu-malu seperti dulu. Karena ini bukan aku yang lalu. Buat apa aku berlagak tak tau, kalau tatapan mataku ketika melihat gerakannya melepas kancing satu persatu seperti sosok pecandu. Kurang ajar, campur ekspresi goblok, dan penuh nafsu.

Ini adalah puncak dimana aku tidak mampu lagi menahan diri. Kalau bisa kemarin, aku langsung akan loncat ke atas tubuhnya dan bermain dengan hebat seperti besok datang kiamat. Namun, sayang area bermainku diinvasi penuh.

Aku hanya mampu menatapnya yang tertawa terbahak dari kursi ruang makan. Bersama pikiran liar yang terus memutar adegan dewasa, dimana lubangku dihujam terus menerus di atas meja yang harusnya diperuntukkan menyantap makan malam. Aku hanya mampu melipat kedua kakiku. Berharap mata-mata mereka tak terdistraksi atas batang pohon yang mulai tumbuh.

Sudah mati semua syaraf-syaraf waras. Apalagi liur ini juga ikut turun melihat celana panjang yang dia kenakan akhirnya jatuh menyentuh bumi. Aku suka bagaimana dia merangsangku tanpa satu jengkal kulitnya menyentuh badan. Hanya dia yang berdiri dengan wajah kelewat sange, dan jemari-jemari dibuat sok gagah tengah melucuti dirinya sendiri dari lembar pakaian yang melekat.

Dia melepas lapis terakhirnya... dia tersenyum menggoda, oh bukan sekarang rupanya. Dia yang tinggi kakinya, panjang tanganya, bagus bidang dadanya berjalan perlahan mendekat tilam. Cowok mesum! Berani-beraninya dia tak cepat ikut jatuh dalam belenggu sprei yang akan rusak tatanannya. Dia masih disana, berdiri dihadapanku bak penguasa. Sengaja mengeluarkan urat-urat hasilnya mengangkat beban hanya untuk memainkan penisnya dari luar celana.

Kamu itu menggoda ya? Jangan... jangan sampai habis kesabaranku. Jika aku gila, aku tak segan menyobek dalaman mahal hanya untuk menyentuh kontolnya yang murahan itu.

Aku ini masih sabar, duduk layaknya bayi gula penurut menunggu om-om telanjang yang entah kapan akan merusak pertahanan demi tas koleksi baru. Aku harus sabar ya kan? Bukan demi harta, bukan demi paksaan. Tapi demi hasrat dalam tubuh yang sudah kering, kosong melompong minta diisi.

Laki-laki brengsek ini malah mengusak lembaran-lembaran suraiku, bukannya menjamah tubuh dingin yang sudah sepenuhnya telanjang. Tangan itu turun, hangat telapaknya menyentuh pipiku yang merah kedinginan. Dia usap pelan, gerakannya konstan, tak tak lupa sesekali menamparnya.

Makin merah, makin menggila. Aku tidak berteriak kesakitan, malah menatap matanya dari bawah dengan ekspresi tolol. “Mau apa? Coba bilang mau apa?” Dia bertanya. Nadanya aku gak suka, nyatanya nada itu seolah mantra yang membuat mulutku terbuka.

“Apa? Mulutnya mau diisi apa?” Aku terdiam. Kepalaku sudah tak berisik berisi caci maki. Isi kepalaku kopong seperti televisi diujung waktu siaran terakhir. Yang terisi hanya mulutku yang dihujam dua jari panjangnya. Bergerak liar gak karuan, hingga menyentuh tenggorokan. Aku mengulumnya seakan itu adalah permen masa kecil favoritku, menjilatnya posesif agar tak ada orang lain yang ingin mencicipi.

Jemari ini milikku seorang, tiada satupun yang boleh menyentuhnya. Meskipun dia bebas liar dari perangkap bibirku yang kebas dan basah akibat ulahnya.

“Udah kan cuma minta jari. Puas?” Aku menggeleng cepat. Cowok tolol! Tapi, aku lebih tolol sebab mengikuti alur permainannya. Aku lebih tolol sebab inilah keinginanku sebenarnya.

“Cepet jawab! Mulut pelacur kamu ini mau apa? Jangan nganga terus kayak orang bego!”

“Mauㅡ”

“Mau apa, hah?! Mau kontol, iya?”

Aku mengangguk. Akulah si pelacur tolol itu yang isi otaknya hanya ingin bergerak liar bersama batang besar miliknya menekanku dari dalam.

Ketika tubuhku akhirnya jatuh terlentang di atas awan empuk, tak ada keraguan sama sekali. Hanya ada bayangan-bayangan kotor tentang berapa panjang malam ini. Tak ada perlawanan, sebab tubuhku menggeliat pasrah, ada senyuman kemenangan ketika dadaku akhirnya dikecup bibirnya yang sejak tadi sok tidak peduli.

Lelaki ini sama gobloknya denganku. Mengulum puting layaknya bayi yang butuh asupan asi dari seorang ibu. Kanan sudah berganti kiri, sembari ditimang-timang dengan lenguhan yang membuatnya makin gencar bergerak. Bayi besar ini bukannya tertidur, namun menancapkan giginya sesekali menggesek putingku hingga mau putus rasanya.

Hhaaahhggg...

Suara itu tak ku hitung lepas beberapa kali. Rasa geli, darah berdesir membuat kuduk berdiri merinding. Namun tenaga tak lagi mampu mendorongnya menjauh. Aku menikmatinya, dipacu birahi yang makin meninggi, melampiaskan hanya dengan meremat helai rambut-rambut yang sebenarnya makin membuat kepalanya terbenam menginvasi. Bengkak pentil ini aku tak peduli, terpenting malam ini nafusku terpenuhi.

Aku menarik rambutnya, menarik wajahnya yang berantakan. Membimbing bibirnya yang sama basahnya agar bisa sama-sama bercumbu. Kita berdua saling mengecup, tertawa gila setelah kecupan tak hingga. Aku menggodanya dengan menjulur lidah, menarik lidahnya keluar dari rongga. Aku bisa merasakan papila yang kasar namun menggairahkan, aliran ludahnya yang menetes juga tertelan. Miliknya yang dominan mendorong milik sang lawan masuk dalam peraduan, berperang dalam gua kesyahduan, bertukar rasa kenikmatan. Mengecap tiap dinding-dinding pertahanan, mengabsen pasukan penjaga yang kokoh melindungi.

Tubuh habis kesadaran, melayang-layang di atas birahi tak tertahan meninggalkan kewarasan yang tersisa setetes saja. Kita digerogoti nafsu kotor yang kuat tiada tanding. Saling melepaskan ikatan hanya untuk melucuti celana dalam yang ukurannya semakin sesak, membebaskan mara bahaya yang menyenangkan.

Aku yang memekik kegirangan kala badan ditarik paksa mendekat ke ujung batang kegembiraan. Ditekan paksa menuju mulut kebas tanpa perlawanan, layaknya pelacur yang sudah hafal akan tugasnya. Aku mengulumnya seperti ini adalah hidangan yang aku cari-cari sejak seratus tahun lamanya. Menjilat kontol biadab miliknya dengan gerakan sensual sembari mendongak memastikan empunya terbang melayang ke surga. Konstan, sedikit menggoda dan semakin semangat ketika muncul gestur gelisah. Urat-urat ketegangannya muncul, badannya yang bergerak tak nyaman, namun tangan besarnya mendorong kepalaku gak sabaran.

Aku melepasnya, menatap wajah sayunya pasca pelepasan sejajar. Menunjukkan cairan penuh kasih sayang yang dia berikan. Dia harus melihatnya kala ku pastikan semuanya tertelan tanpa sisa. Tersenyum lucu ketika dia yang dadanya masih bergerak naik turun berusah meraih sisa-sisa peju yang mengalir di dagu dengan bibirnya.

“Ini kan yang kamu mau dari tadi? Iya?” Dia bertanya ketika tubuhku kembali dalam pandunya. Dan anggukan berantakanku menjadi tiket masuk langsung dalam tahta tertinggi bersetubuh.

Diriku yang sudah tolol ini, yang sudah kosong melompong otaknya ini cuma tau ngangkang, selebar mungkin. Diriku yang begonya udah gak bisa ditolong ini, merengek frustasi meminta kontol milik si bajingan yang sejak semenit tadi hanya menggesek pintu masuk tanpa mau menerobos langsung.

Hhhhggmmnn... Ahhhhhgg!!!

Ingatkanku untuk menampar wajah bajingan ini nanti, nanti setelah dia selesai mengisi bagian bawahku dengan jutaan pejunya sebab menerobos tanpa aba-aba. Jangan salahkan jemariku yang meninggalkan luka tepat di lengan besarnya. Namun, lelaki brengsek ini seakan tak kenal hari esok, seakan tak peduli aku ini suaminya yang paling dia sayang. Dia dan bersama energinya yang semakin malam datang semakin meluap, menghujam dinding rektum milikku tanpa kenal ampun.

Kita bersenggama, menautkan tubuh seraya bercerita. Gerakan-gerakan yang tak memiliki ritme pasti seakan menandakan banyaknya emosi dan perasaan yang belum bisa tersampaikan lewat kata. Kita yang bercumbu, menautkan lidah dan bibir seraya berbicara. Liur dan keringat yang mengalir deras menggantikan jutaan diksi ungkapan rindu juga cinta.

Kita yang sama-sama bergerak mencari kepuasan duniawi. Menautkan kaki-kaki melingakari, memerangkap tubuhnya yang tengah gila melancarkan aksi agar tak pernah lari dan tertancap dalam diri. Tidak ada amnesti, begitupula grasi. Lubang serupa penjara yang aku buat hanya mengampuni jika rasa puasnya terpenuhi.

Jika First Kanaphan adalah manusia bangsat, aku akan jadi iblis yang terus menuntunnya menuju lubang neraka penuh cinta. Jika First Kanaphan adalah iblis tak takut dosa, aku akan menjadi raja kegelapan yang akan menarik dirinya, menutup cela pengeliatannya dan hanya ada aku yang mendesah keenakan, meraung mencari kebebasan, dan berteriak penuh kelegaan di atas api neraka yang kekal.

Kita akan menari lagi menginjak bara-bara yang akan terus membakar kulit dan tulang. Menangis kepayahan dengan mulut menganga atas rasa sakit menyenangkan akibat gesekan kontol lelaki bejat di dalam anal jalang goblok yang tengah duduk di pangkuannya.

Ini dia kemenangan yang kita cari selama ini. Getaran-getaran tubuh pasca pelepasan, juga suara-suara nafas tanda kelelahan. Mata sayu itu, aku mengecupnya. Dia tersenyum, menyingkap helai demi helai lepek yang menutupi mataku. Dia mengecup tiap jengkal titik di wajahku, menyematkan kecupan panjang tanpa lagi nafsu di bibir yang akhirnya bisa berhenti berteriak di malam yang sunyi. Lalu, kita jatuh di atas tilam yang berantakan, berselimut seadanya.

Basah sebab keringat, tubuh panas sebab tipu muslihat. Desir darah yang tak bisa aku perintahkan melambat. Juga, peju yang mengalir hangat. Kita yang berjalan di atas tanah penuh dosa. Pula, kita yang saling menuntut atas kepuasan semata. Terpenting malam ini, bersama bajingan sinar purnama yang mengintip dari celah selambu jendela, kita tertaut menjadi satu, dan akan selamanya begitu.


`hjkscripts.


First point of view.

Gua gak punya persiapan apa-apa, sebab yang gua tau harus berangkat pagi-pagi ke tempat tinggal Mba Ciize. Harusnya gak ada tekanan untuk berangkat jam berapa. Namun, karena menurut gua ini hari yang penting jadi gua ya gak mau buang-buang waktu untuk sekedar nanti-nanti.

Iya, sebab urusan yang menyangkut sama Khaotung itu prioritas wahid. Harus segera, apalagi keadaan kita lagi kurang baik.

Hari ini itu sebenernya sudah gua nanti, bahkan sejak hari pertama Khaotung memutuskan buat mengambil seluruh ruang kosong untuk dirinya sendiri. Gua menahan diri, gak mau gegabah ambil langkah. Kita ini benar manusia-manusia butuh istirahat. Hubungan seumur hidup ini stress levelnya bukan main.

Nikah itu gak seperti orang menjalin hubungan seperti pacaran. Putus dibarengi emosi, kembali turut rindu katanya. Orang menikah prosesnya panjang, sudah bersama ya sulit untuk dipisahkan. Bahkan, orang-orang pengadilan agama, yang gak tau menahu urusan rumah tangga orang lain harus ikut campur buat berusaha mengembalikan harmonisasi keluarga.

Kalau menikah itu gampang, mungkin keadaan kita sekarang lebih baik untuk pisah. Tetapi, resiko pisah rumah tangga itu adalah kehilangan selama-lamanya. Pisah rumah tangga itu gak selamanya bisa kembali hanya karena masih sama-sama cinta. Kalau hanya cinta bisa pusing orang Dispenduk sama Kementerian Agama yang ngurus dokumennya. Yang makmur cuma bapak-bapak calo di luar gedung instansi.

Maka dari itu daripada gua sama Khaotung mencoba bertahan di tengah situasi yang makin hari gak masuk akal. Gua mengiyakan kita istirahat. Mungkin, kalau gua memaksakan pun, jika ada badai sekecil tiupan angin sebelum hujan sore hari. Kita berdua akan kacau berantakan, berpisah tanpa tau jalan untuk kembali.

Gua hanya bermain mata kala Mba Ciize menyapa. Gak mau menghasilkan suara berlebih yang bakal mengganggu eksistensi Khaotung. Rumah yang lebih tepatnya kos-kosan ini lumayan luas. Kayaknya lebih tepat disebut rumah sewa sih karena ini lebih dari sekedar kamar tiga petak.

Mba Ciize mengintruksikan kepada gua buat langsung ke kamar yang tertutup. Khaotung masih belum menampakkan diri katanya, walaupun dapur Mba Ciize sudah mengeluarkan aroma. Well, that's good, gua gak perlu dapet drama terkejut, bertengkar, dan akhirnya diusir.

Mba Ciize pergi kembali ke dapur membawa begitu banyak kresek ditangan gua. Meninggalkan gua dan Khaotung tanpa mau ikut campur lebih banyak.

Ketika gua masuk perlahan ke kamar Khaotung, gua bisa melihat punggungnya. Sedangkan, wajahnya berpaling menatap tembok. Suara dengkuran halus masih terdengar, napasnya juga kasar. Mba Ciize cerita kalau keadaan cowok ini lagi gak baik-baik aja. Terlihat dari selimut yang hampir menutupi satu kepala. Gua tau Khaotung itu cuma pakai selimut sampai di pusar.

Gua gak mau cuma sekedar duduk di tepian kasur dan menunggu kehadiran gua dia rasakan. Karena itu akan membuat nafsu emosi yang udah gua pendam akan bergejolak layaknya gunung tengah erupsi.

Gua singkap selimutnya perlahan, gua beranikan diri berbaring di belakang tubuhnya yang menghantar suhu tinggi di antara kamar dingin. Gak apa untuk ini aja gua menghancurkan perjanjian untuk istirahat sejenak. Sebab, istirahat bagi gua adalah berada di sampingnya meskipun tanpa usaha berlebihan, afeksi, dan kata-kata pemanis.

Istirahat dalam kamus gua adalah kita yang tidur di malam penuh kebingungan dan bangun dengan posisi saling menguatkan. Tanpa cela, tanpa batas, tubuh kita berdua tertaut kulit satu dan lainnya. Gua yang mendekap tubuh tenang, empunya terganggu jadi tegang.

Anehnya, entah mungkin Khaotung masih belum seratus persen sadar, cowok itu bergeming. Padahal, yang gua pikirkan adalah potongan imajinasi negatif di kepala. Entah Khaotung harusnya terperanjat dan berakhir gua babak belur dibuat.

Namun, inilah pagi kita. Agak lain karena yang sedang kita berdua tatap adalah tembok keras bukan jendela yang menampakkan langit juga memancar cahaya matahari. Inilah pagi kita, gua yang memeluk jasadnya yang termenung dengan napas konstan. Inilah pagi kita yang bungkam tanpa suara.

Maka gua, meringkuk semakin mengeratkan dekapan. Menanamkan hidung dicela-cela tengkuknya yang bebas liar. Menghirup candu bau tubuh polosnya yang serupa oksigen buatan Tuhan.

“Khaotung milikku, selama Khaotung milikku, aku akan tetap hidup.”


`hjkscripts.


I. Gawin Caskey dan Amerika. Kalau gue ini adalah Gawin sepuluh tahun lalu, kayaknya gue bakal betah deh jalanin hidup yang makin hari makin gak tau kemana arahnya. Soalnya, Gawin sepuluh tahun lalu penuh ambisi, gak takut gagal, dan persetan sama kerasnya dunia.

Gawin sepuluh tahun lalu itu si pecinta kebebasan. Harusnya, Amerika jadi starting point yang bagus bagi yang mau bebas. Negara penuh diversity itu paling cocok bagi gue yang mau coba hal-hal di luar nalar. Tapi sayang, saking liarnya gue sepuluh tahun lalu, gue terusir dari Amerika.

Bukan Amerika yang usir Gawin muda. Tapi, keluarga dia yang minta Gawin pergi sejauh-jauhnya.

Pindah ke Amerika, tempatnya di jantung Kota New York tuh siapa yang gak pengen. Semua pengen tapi gak semua punya kesempatan. Tapi gue punya seluruh fasilitas yang semua orang impikan. Papa gue THAT AMERICAN OLD MAN nikah sama Elizabeth; she was my mom anyway, dan pindah bawa keluarganya ke kota sebesar dan sebebas ini.

Gak kok, gue gak bercanda perkara Was, karena mau tak terhingga gimanapun hubungan anak sama orang tuanya, bagi gue tetep sama. Semua macam hubungan itu ada temu juga ada akhirnya. Dan akhir itu bagi gua dan orang tua gue, bukan artinya meninggalkan dunia. Tapi, juga bisa putus akan hubungan.

Iya, Elizabeth mutusin hubungan darah kita sepuluh tahun lalu. That was might be lots my fault, but still it is what it is. Kebebasan Kota New York merubah gue dari berbagai sisi. Memulai jadi musisi di kota semegah itu bikin gue terlena sama hingar bingarnya yang gak pernah mati. Meskipun orang tua gue banyak mengingatkan, meskipun orang tua gue mencoba untuk menahan, sampai akhirnya mereka gak betah jadi orang tua gue, dan memilih menyerah.

Kadang ada kok orang tua yang kayak gitu. Buktinya ya si Elizabeth yang pada dini hari natal sepuluh tahun lalu, memutuskan buat berhenti jadi seorang ibu dari anak yang lagi sekarat, baru pulang dari pool party.

Gue yang terlena sama kehidupan New York. Gue yang gak takut sama dunia. Gue yang suka menantang alam semesta. Juga, gue yang hampir mati overdosis obat-obatan terlarang.

Setelah gue sadar di malam 27 Desember, hal yang pertama gue denger bukan kalimat penuh syukur namun tumpah ruah keresahan dan kalimat putus asa. Elizabeth dan Michael mendeklarasikan bahwa mereka turun dari jabatan orang tua.

Emang boleh ya kayak gitu? Emang bisa ya orang tua lepas tangan. Maka, hal itu yang bikin gue sampai sekarang gak bisa nerima keadaannya.

Rasa sakit yang gue bawa dari Amerika sampai rumah eyang gue di Surabaya gak pernah lepas, membekas, diserap semua sel, sampai jadi resisten. Sejak saat itu, apapun yang berhubungan sama Amerika, gue gak pengen tau ceritanya.

Yang ada diingatan gue sampai saat ini gimana eyang yang udah tua, gimana eyang yang marah, gimana eyang yang nangis dan hampir nyerah ngerawat gue, dan eyang yang esok harinya bangun jam lima subuh kembali jadi eyang yang berusaha. Eyang gak pernah nyerah.

“Eyang itu ndak apa kamu nakal, ndak apa kamu bangun siang, ndak apa kamu suka main pulang malam. Tapi kamu ndak sampai sakit, badannya ndak boleh dirusak. Eyang cuma mau Gawin sehat, Gawin sekolah dan lulus. Sudah itu aja.”

Kayaknya, semesta itu paling ngerti sama keadaan umatnya. Gue yang akhirnya percaya sama keadaan Tuhan jadi tau kalau seluruh hal yang lagi gue jalanin emang udah begini jalannya. Kalau gue gak sakit hati dan tetep jadi Gawin yang cinta sama kebebasan New York. Gue akan pergi ke pusat rehabilitasi dan keluar tanpa bawa perubahan apa-apa.

Rumah eyang itu tempat rehabilitasi paling ampuh sepanjang masa. Dengerin eyang yang pagi-pagi nyetel lagu jadul dan tiba-tiba ngajak gue karaoke bikin gue nemuin apa yang sejatinya gue cari di New York. Karena eyang gue jadi punya cita-cita. Dengan tangan eyang yang tiap hari semakin ringkih, beliau anter gue sampai jadi Gawin yang hari ini.

Tapi semesta itu yang paling tau porsi kehidupan. Eyang cuma buat gue berubah dan antar gue ke gerbang utama dari langkah perubahan. Selanjutnya, eyang cuma duduk-duduk di kursi goyang sambil ngeliat sinar matahari sampai dirinya puas, lelah, dan menutup mata. Sedangkan, gue harus lanjut jalan, pakai kaki sendiri, gak lagi dianter eyang.

Namun, kepergian eyang gak bikin gue sebatang kara. Malah, gue nemu keluarga baru. Eyang tuh paling pinter dan pengertian kalau manusia butuh manusia lain buat hidup. Eyang pasti mikir kalau beliau udah gak ada, gue bakal hidup sama siapa? Mungkin ini jalannya, mungkin ini jawaban dari segala keresahan eyang yang tiap hari pasti tentang gue seorang.

Disinilah gue sekarang, Yogyakarta yang penuh kisah. Kebanyakan orang pasti kalau ditanya tentang Yogyakarta bisa cerita banyak tentang kota ini. Kayaknya, ini waktu gue buat pengalaman itu.

Sialan banget anak-anak, ditambah suasana Kabupaten yang masih ijo kayak ngebangun emosi banget. Kita semua duduk di teras depan rumah kontrakan Bang Earth. Nyantai, gak ada baju formal atau kata-kata pembukaan, gak ada laptop atau layar LCD. Cuma ada teh anget, pisang sama singkong goreng yang asepnya masih ngepul di udara.

Kita setuju buat ngumpul di Yogyakarta dengan penuh kesadaran. Menonaktifkan segala kegilaan, bercandaan, dan seneng-seneng semata. Karena kita harus meluruskan semua salah paham, masalah, dan berakhir harus memutuskan sesuatu yang akan mempengaruhi kehidupan setiap orang yang ada.

Waktu gue cerita semua gak ada yang nyela. Hebat ya semua, biasanya ada aja asbunnya yang bikin kesel. Gue ini emang leader, ya gue gak merasa jadi pemimpin juga sih, tapi gue sadar kenapa gue jadi leader ya simpel karena selain gue, gak ada yang bisa diem.

Malem ini untuk kedua kalinya; pertama kali kita ngobrol serius pas mau debut kayaknya, kita semua diem. Suasana diem menyebalkan ini bikin gue cerita serunut mungkin, semuanya keluar tanpa bisa berhenti.

Bahkan, segala emosi yang gue rasain sekarang gue ungkapkan. Betapa gue sedih, gue bingung, gue takut, gue desperate, gue kecewa sama diri gue sendiri, dan gue feels sorry buat anak-anak semua terutama First Kanaphan yang harus ikut campur nutupin kasus gue.

Gak lupa, gue juga cerita gimana Elizabeth nyuruh gue balik ke Amerika buat sembunyi dan jujur gue gak tau gimana harus nanggepinnya. Gue pengen bertahan, tapi gue juga gak tau apa bertahan itu yang terbaik buat semuanya. Nama baik gue udah rusak beserta seluruh nama yang lagi gue bawa. Mungkin, dengan berhenti dan pulang ke Amerika bikin semuanya balik seperti normal.


II. Mix dan Ketiga Orang Tua. Waktu itu gue umur sebelas tahun dan itu untuk pertama kalinya gue ditampar sama Papi. Gue sebenernya kebingungan, begitu pula dengan lingkungan masa kecil yang most of the time di sekolah, tempat les, atau taman bermain komplek. Pertanyaan yang gak pernah gue tau jawabannya.

“Kok papa kamu ada dua sih?” “Mama kamu dimana? Kok aku gak pernah liat ya?”

Mix kecil gimana ya jawab pertanyaan waktu itu? Simpel aja sih, gue tinggal jawab Gak tau, pokoknya gitu. Kata papi sih keluargaku spesial gitu, gak semua orang bisa dan temen-temen Mix kecil kagum sama keunikan yang gue utarakan. Ya karena mereka masih kecil, perbedaan itu beneran bikin semuanya jadi lebih keliatan hebat.

Tapi nggak dengan Mix ABG. Gak ada satu orang pun yang percaya bahwa keluarga dengan dua papa sebagai orang tua itu spesial, hebat, terbatas. Siapapun yang liat jelas ada kebingungan, ada yang salah, tidak normal, dan tidak sesuai syarat ketentuan.

Keluarga yang normal pada umumnya itu Ayah, Ibu, Anak. Gak ada yang keluarganya Papi, Papa, Anak. Seketika, gue si anak hebat, si anak dari keluarga keren ini berubah jadi samsak tinju. Semua caci maki, semua hinaan, semua sentuhan fisik yang temen-temen gue kasih rasanya kayak pukulan yang terus-menerus gue terima dengan lapang dada.

Pukulan-pukulan itu lama kemudian bikin gue berpikir, bikin gue bertanya-tanya. Oh! gitu ya keluarga yang sebenarnya? Kalau begitu dimana mama gue?

Hari itu gue yang masih baru bisa mikir dateng ke depan papi sama papa yang lagi asik sama film Mission Impossible. Bukannya fokus sama aksinya Tom Cruise, malah harus fokus sama gue yang tantrum, nangis-nangis, meluapkan segala gundah gulana yang asalnya dari pihak luar.

Kalau gue tanya tentang mama, gak tau kenapa selalu papi yang jawab. Papa cuma bisa diem sama satu ekspresi yang gue hapal banget. Papi selalu jawab, gue gak punya mama, keluarga kita dari dulu ya begini adanya, spesial. Menurut lo semua, gue yang udah bisa mikir itu puas? Tentu gak dong, gue malah makin marah karena diperlakukan kayak anak kecil. Gue teriak, gue juga marah sama papa yang diem kayak orang bodoh, dan gongnya gue ditampar sama papi.

Kejadian itu kayaknya jadi pertama dan terakhir gue bakal nanya-nanya tentang silsilah keluarga gue. Toh, orang tua papa juga berkata demikian. Yah, meskipun gue tau kalau semua itu demi gue ABG percaya kalau gue datang dari keluarga yang isinya Papa, Papi, dan gue anaknya.

Tepat pada umur 15 tahun, saat gue mulai belajar hal-hal menuju remaja. Papa sama papi mulai kasih tau semuanya perlahan-lahan. Asal-usul gue, siapa papa, siapa mama, dan gimana kita end up jadi keluarga.

Gue gak bakal cerita runutnya ya, soalnya ceritanya kayak drama korea banget sumpah gak boong. Intinya, mama gue pergi kecantol cowok jamet entah darimana. Ninggalin gue, papa, dan usahanya yang masih dibangun dari bawah.

Papa sama papi ketemu waktu partneran kerja. Papi yang nyediain jasanya, dan papa yang masih belajar ngurus perusahaan orang tuanya yang jadi client papi. Katanya papa, dia tuh kagum sama papi yang gak malu bawa bayi waktu kerja. Papi tuh telaten banget ngurusin gue. Sampai mereka deket, sedeket papa boleh bantuin papi ngurus gue waktu mereka ketemu bahas kerjaan. Semuanya lancar, beneran selancar jalan tol soalnya keluarga papa beneran seterbuka itu sama hubungan yang dianggep aneh sama orang luar. Mereka nerima papi dan gue buat join jadi keluarganya.

Kehidupan gue yang seperti jalan tol ini tiba-tiba macet kayak jalanan tengah Kota Jakarta di jam pulang kerja. Waktu hari itu, di atas kesuksesan gue, dan keharmonisan keluarga gue, dateng seorang wanita, berdua sama cowok yang gue gak familiar siapa ke rumah.

Oh, ini toh mama gue yang udah berani ninggalin gue. Gue kira kebencian itu akan perlahan menghilang atas permintaan maaf untuk kesalahan masa lalu. Nyatanya kebencian itu semakin bertumbuh saat dia bilang pengen hak asuh atas gue, dan kebencian itu mengakar di dalam tubuh gue waktu gue tau motiv di balik layarnya.

Gue yang gak tau jalanan Yogyakarta, beraniin diri buat ke terminal, naik gojek tanpa mempertimbangkan keselamatan gue di jalan nanti. Papi kalau tau, gue sih gak bisa jelasin ya apa yang bakal dia lakuin. Tetapi, memutuskan buat ke Sleman sejenak juga gak salah. Dengerin suara ayam pagi-pagi, minum teh anget dari teko jadul, dan makan nasi pake lauk seadanya. Gila sih, seorang ibu itu harusnya kayak Ibuk.

Oh ya, jangan lupa ingetin gue buat tantrum sama papi yang biarin gue pergi sama mantan istrinya. Meskipun gue tau sekarang dia pasti lagi khawatir dan murka karena gue kabur, karena hape gue mati, karena gue gak mau pulang. Biarin gue tenang di Sleman dulu.

Thank God gue punya temen-temen yang pengertian. Sekarang kita lagi ngobrol-ngobrol serius, gue dengerin kisah mereka satu persatu. Tentang EXIT ke depan, gue sih serahin apa kata Tuhan aja ya.

Eh tapi, kalo papi murka gini, apa iya dia masih mau biarin gue lanjutin karir?


III. Aou dan Sepi Dunia. Berada di Yogyakarta, sebenernya gak bikin gw bisa merasakan yang namanya healing. Berbanding terbalik dari abang-abang yang memang sedang nyari pelarian. Lah gw? Mau lari kemana aja tetep dikejar. Orang yang ngejar ada di handphone. Buset, pengen banget rasanya gw banting aja ini handphone.

Sembari mendengarkan abang-abang yang lagi curcol, gw gak bisa lepas ngeliatin layar gawai yang bunyi gak ada berhentinya. Ya kalo kerjaan, stres sih dikejar klien gak sabaran tapi namanya juga kerja. Kalo mau sukses dijalanin aja dengan khidmat.

Yang lagi kosplai jadi tukang tagih pinjol ini orang tua gw sendiri. Gak, jangan bilang gw anak durhaka karena sesungguhnya orang tua juga bisa durhaka sama anak. Gw gak pernah bilang, sebagai anak gw gak banyak salah. Tapi orang tua gw ini, aduh gw bingung gimana jelasinnya.

Dua puluh empat tahun umur gw hidup gak pernah rasanya tenang menikmati diperlakukan menjadi anak. Orang tua gw dua-duanya kepala batu, mana pinter ngomong. Jadi kalo gak sepaham yaudah tercetus aja itu perang dunia kesekian di rumah gw. Rumah gw rasanya gak ada kenyamanan, gak ada kasih sayang, gak ada cinta. Lo semua tau apa yang terjadi? Ya udah kita bercerai berai menjadi beberapa bagian.

Harusnya sebagai anak satu-satunya, ketika orang tua udah gak sanggup jalan bareng, ada sebuah pilihan. Mau ikut mama apa papa? Namun, yang terjadi sama perpisahan kebanyakan tidak terjadi sama gw. Faktanya adalah gw tidak diinginkan pada kedua sisi. Mama yang terjebak sama puber kedua, dan istri baru papa yang merasa cukup dengan anaknya dan papa yang gak bisa apa-apa.

Aou SMA pada saat itu baru tau apa arti kenyamanan. Gimana rasanya rumah sepi yang dia inginkan sejak kecil. Hidup sendiri, meskipun masih dipangku materi dari dua belah pihak yang punya hidup masing-masing, rasanya gw akan baik-baik aja. Hidup kayak gini adalah mimpinya. Gak ada suara tinggi ketika adu argumentasi, gak ada mama yang pergi pagi dan kembali di larut malam hari. Gak ada suara papa yang melempar emosi. Hanya ada gw sendiri, yang akhirnya bisa tidur tanpa ada tekanan dari rumah sendiri.

Rujuk? Jatuh cinta lagi? Gak make sense, akal-akalan neraka. Kok bisa ya orang begitu dangkal mikirin perasaan pasangannya. Terserah, gw udah gak peduli maunya kayak gimana. Tapi bisa tolong jangan usik hidup gw, gak usah sok berubah mau jadi orang tua yang baik kalo ujungnya waktu dititik jenuh mereka gak bisa saling menguatkan.

Gw sesap teh hangat yang sudah berangsur dingin. Lalu, sentuhan lembut di punggung, membuat gw berpaling. Gw gak punya waktu buat sekedar ngelucu, atau bilang terima kasih. Gw bisa baca isyarat bibirnya yang bertanya ada apa, namun gw hanya sanggup tersenyum. Boom paham, gak ada satu pun masalah gw yang Boom gak paham.

Boom itu udah kayak rumah. Boom itu bukan sekedar rekanan, bukan sekedar abang-abangan. Boom itu keluarga, satu-satunya yang gw miliki sekarang. Boom dan EXIT ngajarin gimana isi rumah yang sebenarnya. Rumah yang ramai tapi gak bikin sesek, rumah yang penuh suara tinggi dan makian tapi gak bikin sakit telinga dan trauma.

Mereka itu ngajarin gw gimana rumah yang ramai bisa bikin betah seharian. Rumah yang penuh argumen tapi hangat jika dilihat. Rumah ini yang bisa bikin gw tidur tanpa takut kebangun karena suara keras.

Mendengar Bang Earth ngomongin tentang gimana nasib EXIT besok hari bikin gw lupa tentang berisiknya perang dalam gawai. Gw jadi mikir gimana kalau akhirnya semua abang-abang pada nyerah? Kemana gw akan pergi ketika semua orang memilih pergi dari rumah?

Sebab, gw yang sekarang gak sanggup buat bayangin kembali mandiri. Gw yang sekarang butuh manusia buat mendampingi. Gw yang sekarang udah gak terbiasa akan sepi.


IV. Boom dan Serba Sempurna. Rasanya kurang adil, aku duduk di antara mereka yang tengah nggak baik perasaannya. Rasanya kurang adil, aku terlihat paling sehat di antara mata lelah dan pundak yang kurang kokoh adanya. Rasanya kurang adil, aku jadi yang paling sempurna di antara mereka yang tengah menghadapi cacatnya dunia.

Tapi harus gimana ya? Kalau minta dibebankan masalah biar adil, rasanya juga aku jadi manusia kurang bersyukur. Padahal, dengan kehidupanku yang serba cukup dan seluruhnya bekerja secara harmonis, aku nggak pernah berhenti untuk bersyukur.

Aku nggak akan cerita tentang diriku, sebab kurang etis dan menurutku hal apasih yang harus aku eluhkan di depan mereka-mereka ini? Nggak ada. Maka kehadiranku di sini cukup jadi pendengar, suporter, dan membuka persewaan bahu untuk siapapun yang mau bersandar.

Mendengar satu per satu cerita mereka, hatiku tumpah ruah isinya. Ya sedih, ya marah, ya kecewa. Kok bisa ya anak semuda mereka dikasih kehidupan yang sulit? Padahal, anak muda kayak kita harusnya seneng-seneng nikmatin indahnya dunia, nyobain seluruh hal yang tersedia di sini. Nyatanya memang kehidupan itu nggak semuanya sempurna.

Tapi aku salut sih berada di antara mereka yang cerita dengan lapang dada. Nggak ada satupun emosi marah yang menggebu-gebu, nggak ada satupun yang menyalahkan keadaan, asal-usul, dan bobroknya lingkungan. Mereka yang lagi bercerita ini layaknya sudah lelah bertengkar, sudah habis tenaga untuk berteriak mencari jawaban. Mereka di sini untuk berbagai, mencari solusi, gimana caranya bisa terus jalani hidup di depan nanti.

Aku cukup lega, malam hari ini nggak melihat satu tetes pun air mata. Mungkin bendungan emosinya sudah kering kerontang hingga yang bersisa adalah jalan pikir rasional. Ya bagus, artinya masih ada ambisi untuk jadi lebih baik. Ada ikhlas yang harus dikeluarkan untuk taraf kehidupan yang lebih daripada sebelumnya. Ada karakter manusia yang harus di-upgrade levelnya.

Aku di sini masih mau melihat bagaimana kita akan berkembang bersama. Meskipun faktanya, habis kontrak di waktu yang tepat ini masih membuat siapapun kebingungan. Namun aku yakin, teman-teman aku di sini masih punya begitu banyak mimpi, begitu banyak janji, begitu banyak ekspektasi yang harus dipenuhi.

Maka aku akan tetap di sini, membantu mereka sebagai tenaga terakhir untuk menjaga kita tetap berdiri. Aku akan tetap di sini, menjadi Boom yang nggak pernah habis kata-kata positif. Karena kalau bukan aku, siapa lagi kalau bukan aku.


V. Earth dan Manusia Sederhana. Aku tuh paham banget kok, kenapa aku gak dipilih jadi pemimpin. Aku ini paling tua, tapi aku juga yang gak bisa apa-apa waktu grup ketimpa berbagai masalah. Aku ini paling tua, tapi aku kadang masih egois mikir diri sendiri. Aku ini paling tua, ya memang aku paling tua.

Waktu Gawin kena masalah, dipasrahin buat tanggung jawab rasanya berat sekali. Aku gak bisa tidur, tiap hari telapak tanganku rasanya basah mengingat di belakangku lagi gak ada orang buat di jadikan tumpuan.

Aku ini orangnya gak pandai ngomong kata-kata bijak. Aku gak punya seribu kata-kata mutiara. Aku kosong dari kata-kata penyemangat. Maka ketika kita lagi jatuh, gak ada yang bisa pemimpin ini lakukan selain diem dan masukkan semuanya dalam pikiran.

Bahkan aku gak bisa jawab waktu Aou sama Boom datang ke apartemen buat nanyain masalah Gawin. Bahkan kalaupun aku gak bisa jawab harusnya aku bisa kasih kata-kata penenang biar mereka berhenti panik. Namun, hari itu aku juga ikutan linglung, napasku turut berantakan, dan pikiranku carut marut isinya. Kita bertiga gelisah bersama-sama.

Waktu First terseret untuk menutupi kasus Gawin. Sebagai pemimpin pengganti aku gak bisa berbuat banyak. Meskipun hari itu dia coba hubungin aku untuk minta solusi. Tapi, saking banyaknya yang lagi aku simpan di dalam pikiran, aku dengan berat hati gak bisa bantu banyak.

Aku ini cuma manusia yang punya umur tua aja. Aku ini cuma manusia sederhana yang menjalani hidup gimana mustinya. Aku ini bukan pemimpin. Aku gak punya karakter menarik. Aku ini cuma Earth Pirapat, anak dari desa, yang udah pakai seluruh keberuntungannya buat duduk di belakang bangku drum bersama orang-orang yang punya karakter unik masing-masing.

Lihat, bahkan orang sederhana ini masih gak punya malu waktu dapat giliran ngobrol malah bawa-bawa kontrak EXIT yang udah diujung tanduk. Orang sederhana ini gak mau grupnya bubar, harus tetep jalan. Karena tanpa EXIT, aku bukan siapa-siapa. Tanpa EXIT, aku kembali jadi anak desa yang amat sederhana.

Karena cuma jadi bagian dari EXIT, aku bisa bikin ibuk bangga. Meskipun tinggal di kontrakan, ibuk punya harta yaitu anaknya yang bisa dia terus-menerus banggakan di depan gerobak sayur. Karena cuma jadi bagian dari EXIT, aku bisa lihat ibuk ceria nyiapin teh hangat dan makanan waktu temen-temen mutusin buat sowan ke kontrakan.

Karena EXIT, aku jadi punya banyak energi buat kerja lebih keras biar bisa bangun rumah. Biar ibuk nyaman, biar rumahku juga bisa jadi tempat pulang yang nyaman buat temen-temen. Nggak kayak sekarang kita harus dempet-dempetan tidur di ruang keluarga.

“Dan aku yakin, selain aku sendiri masih ada banyak alasan buat kita tetep jalan bersama-sama.”

Aku tau alasanku terlalu egois. Karena, aku gak tau lagi alasan apa yang akan membuat mereka luluh dan terus bertahan.


VI. First dan Seluruh Rahasia. Giliran gua buat bersuara, akhirnya datang juga. Udah ya, gak ada waktu buat mundur. Sebab, kedatangan gua sampai di Jogja udah jelas adab dan tujuannya. Kita semua udah gak ada yang nyimpen rahasia. Maka, gua pun harus begitu.

Jauh dari Jakarta ada benda yang gua jaga keselamatannya. Gelisah, khawatir semua ada membuat gua gak bisa tenang selama perjalan sampai detik ini. Seluruh perhatian mengarah ke gua yang tiba-tiba mengeluarkan berbagai barang. Udah kayak satuan intel yang lagi nyerahin barang bukti untuk pelaporan.

Gua ngeluarin cincin, selembar foto, dan secarik kertas non resmi tanda ada sebuah ikatan yang lagi gua jalani dengan seseorang. Ada satu rahasia besar yang perlu gua ungkap untuk membuat semuanya menjadi benar.

Gua ambil cincin kawin gua dan gua pasang di jari manis tangan kanan gua. Setelah itu, gua angkat, gua pamerkan pada mata-mata yang menatap penuh tanda tanya. Gua lalu mengangguk seakan mengerti sedang dituntut sebuah penjelasan.

“Lu semua lihat ini apa? Iya, ini cincin kawin. Resmi, gua yang beli, gua yang design. Semuanya gua lakukan dengan sadar. Gua udah nikah.”

Tatapan tidak mengerti itu, seakan semakin bertanya-tanya. Sialnya, gak ada reaksi berlebihan yang udah gua prediksikan. Malam penuh suara jangkrik, masih sama sunyinya meskipun ada fakta besar yang masuk seketika. Gua gak bisa nilai satu-satunya ekspresi wajah temen-temen gua, karena pada saat ini pun mereka punya ekspresi yang gak bisa gua definisikan artinya.

Kecewa kah? Marah kah? Terkejut kah. Hanya geming dengan sorot mata kosong melompong. Gua lalu gunakan kesempatan ini buat cerita kronologi lengkapnya. Dari awal sampai akhirnya gua dan Khaotung milih tetep jadi pasangan dan gongnya kita yang lagi istirahat.

Semua kesalahpahaman, semua benang merah, semua sebab dan akibat terjawab sudah. Temen-temen gua makin gak berisik, bahkan suara napasnya aja gua hampir gak mendengar. Sekarang mereka lagi coba menghindar, matanya melihat sekitar asal bukan gua. Kecewa ya? Marah ya? Ya gak apa, gua udah siap semua konsekuensinya.

Bahkan Bang Earth tiba-tiba beranjak dari posisinya sambil bawa gelas bekas tehnya yang kosong. Izin buat ke belakang tapi nyatanya dia gak balik lagi. Satu persatu begitu, hingga menyisakan Gawin sama Mas Podd yang duduk di atas bangku rotan dengan posisi yang sama sejak forum di mulai.

Mas Podd gak punya banyak kata-kata, seluruh wejangannya sudah habis buat gua yang kemarin minta izin buat mengungkapkan segalanya. Segala konsekuensinya kita gak pernah tau, dan apapun itu kita gak boleh emosi, kita harus terima, begitu katanya.

Sedangkan Gawin sebagai pemimpin kayaknya butuh waktu lebih banyak buat ngurusin masalah gua. Ada beberapa problem yang harus dia sorting di kepalanya.

Begitu, keheningan di waktu yang udah masuk tengah malam ini gua habiskan untuk ikhlas, membuang semua penyesalan, membuang semua pikiran-pikiran negatif. Tanpa rokok, tanpa alkohol, hanya ada cincin yang melingkar dingin di jari manisnya. Memikirkan apa yang terjadi dengan pasangannya.

Gua ambil selembar foto di meja. Gak ada yang sudi buat sekedar ngeliat gambar di dalamnya. Gak ada yang tau gimana tuxedo ala kadar yang gua sama dia pakai waktu acara nikahan yang gak kalah ala kadarnya. Semakin gua pandangi, semakin gua masuk dalam memori tentang perjalanan gua dan dia sampai detik ini.

Gua mengusap parasnya dari permukaan gambar, berharap rasa bersalah dan rindu yang ada di dalam diri tersalurkan begitu saja. Gua tau keadaan kita sekarang gak baik-baik aja. Namun, inilah gua dan perjalanan meluruskan salah paham. Inilah gua yang lagi berusaha. Inilah gua dan segala cara menebus dosa.

Pelan-pelan, gua mau kasih tau ke seluruh dunia bahwa gua milik Khaotung dan dia miliki First Kanaphan.


`hjkscripts.


First Point of View.

Hari ini rasanya gua udah gak punya semangat apa-apa lagi buat jalanin segenap kerjaan yang sebenarnya gak bisa gua bilang sebagai pekerjaan. Iya, lagi-lagi gua terjebak dalam skenario bodoh dalam rangka ngeboongin orang. Catet! Kali ini bukan satu dua pihak, melainkan banyak pihak. Publik yang lagi gua boongin.

Rasa bersalah, rasa dongkol terus merayap di tubuh gua setiap gua melakukan arahan para crew. Gila, kerjaan giring public wave gini aja bikin gua gak bisa hidup tenang. Kok bisa wakil rakyat bejat yang ada di parlemen masih bisa ketiduran waktu rapat paripurna. Gua aja, dikasih silent treatment sama suami gua karena jarang balik udah gak bisa merem dengan nyenyak.

Tapi Khaotung itu lucu. Maksudnya, daripada yang dulu-dulu, masalah kita sekarang ini lebih ke cobaan orang lagi rumah tangga. Ya ada ketawanya, ada sisi romantisnya, ada sisi cemburunya. Seneng sih, suami gua sekarang udah berani ngomong, udah berani berdiri buat apa yang dia miliki. Gua meresa dimiliki, gua merasa dicintai, artinya suami gua sayang sama gua.

Sikap dia yang kayak gini jadi pertanda bahwa hubungan kita ini lagi berkembang dan gua gak boleh banyak ngecewain dia lagi. Cuma kayaknya, karena udah berbulan-bulan menekuni kerjaan ini, gua sebagai manusia banyak celah tentu kebawa suasana. Mungkin semua ini ada faktor tuntutan. Gua yang merasa jadi kepala keluarga wajib penuhi kebutuhan rumah, tapi karena cuma ini kerjaan yang ada, gua jadi berusaha keras sampai lupa tujuan awalnya.

It's been months, damn! Pantes Khaotung marah dan untungnya dia marah. Kalau gak bisa-bisa gua makin jauh terlibat, gua makin buta arah. Sekarang, tepat hari ini gua sadar dan kesadaran gua ini membawa sebuah keputusan yang harus diambil sebelum semuanya malah jadi menghancurkan semua sisi. Gua mau udahan ngelakuin kerjaan ini.

Selesai prosesi pengambilan gambar, media yang jadi partner agensi undang kita buat nongkrong sambil makan malam. Biasalah, yang kayak gini artinya mereka mau ucapin rasa terima kasih karena proyeknya sukses, atau abis ketiban duit segepok dari langit.

Kita lagi duduk sambil nikmatin minum-minum dan hampir semua menu makanan disajikan di atas meja. Beberapa kru udah ada yang teler, beberapa masih melek meskipun obrolannya udah ngelantur kesana kemari. Momennya udah pas banget, tapi tinggal nunggu si pak bos yang masih sibuk cerita sama Mas Podd yang sebenarnya lagi cari celah buat gua ngomong.

Tapi belum sempet momen itu terjadi, Jane yang ada di sebelah gua; half tipsy ngajak gua buat keluar cari angin. Gua ayo aja, toh di dalem rasanya sesek banget, bau alkohol, bercampur sama suara orang ngelantur, ketawa terbahak-bahak, pula asap dari masakan. Gua harus ngisi diri gua sama angin segar sambil nunggu waktu.

Jane ngajak gua buat duduk di salah satu bangku outdoor restoran. Hari udah makin malem, pengunjung di luar sama sekali gak ada, udara juga semakin dingin. Gua inisiatif buat lepasin jaket milik gua, meninggal tubuh ini bersisa kaus tipis, sebab Jane masih kelihatan menggigil.

“Ngapain ngajakin keluar kalo gak tahan dingin?” Jane diem aja waktu gua dengan tanpa permisi membalut jaket gua buat dia.

Jane bukannya jawab malah ngeluarin napas panjang. Mungkin dia juga sama sesaknya, dan gak bisa bernapas selega ini di dalam sana.

“It's been... 3 months, isn't it?” Katanya mengingat-ingat.

Gua mengangguk tau maksudnya. Emang gak nyangka sih, yang awalnya cuma buat mengalihkan perhatian publik malah jadi kegiatan sehari-hari. Kayaknya ya emang udah cukup. Toh kalau masih mau diteruskan bisa pakai foto-foto sebanyak yang udah mereka himpun selama berbulan-bulan. Tapi, gua pribadi mau mundur sekarang.

“Gua mau mundur, Jane.” Gua berkata dengan lugas.

Jane senyum, juga ngangguk kecil seolah-olah dia tau hari ini terakhir kita bakal kerja. “Aku tau, kak. Kamu dari tadi diem pasti mau cari momen buat ngobrol sama mereka.”

“Thanks ya, buat kerja samanya.” Tentu, gua sebenernya bingung, apa yang lebih cocok diucapkan daripada terima kasih buat cewek satu ini. Sebab, pengorbanan Jane itu lebih dari apapun. Gak semua publik figur mau merelakan nama baiknya diseret kasus-kasus gak penting.

“Hmm..” Jane menjawab singkat. Gak ada kata-kata layaknya pidato perpisahan. Cewek ini mengayunkan-ayunkan kakinya gelisah. Maka, gua tugasnya cuma nunggu kalimat apa yang bakal dia ungkapkan sebenarnya.

“Kak?” Panggilnya. Gua berpaling dari pemandangan lampu-lampu menatap wajah Jane yang sudah tinggal beberapa senti.

Gua bisa rasakan napasnya yang berantakan. Raut wajahnya yang dia sendiri gak bisa kontrol. Serta, gelagatnya yang terkesan kaku karena nafsu. Gua menelan air liur ketika tau kejadian apa yang lagi menimpa diri gua. Suasana mendadak sensitif juga ditambah angin yang berhembus konstan menambah kesan intim.

“Hm?” Gua gak bisa jawab, bergeming gitu aja.

“Aku boleh cium kamu gak? Aku gak tau perasaan apa yang lagi aku alami saat bersama kamu. Aku bingung mau ungkapin pakai kata-kata. Jadi...” Jane berhenti sejenak, menarik napas juga mengeluarkan seluruh keberaniannya. “Biarin aku cium bibir kamu, sekali ini aja.”

Dan kita semakin mendekat, hingga ujung hidung saling menyentuh satu sama lain. “Jane?” Gua panggil namanya. Gua panggil namanya biar kesadarannya kembali.

Maka kita kembali dibatasi jarak, yang bersentuhan, lepas jadi menjauh.

“Meskipun lu yakin atas perasaan itu setelah cium gua, rasanya lu gak akan dapat apapun dari gua. Karena apa yang ada di dalam diri gua, ujung rambut sampai kuku kaki. Bagian dalam maupun jaket yang lagi lu pakai sekarang ini udah jadi milik orang lain. Orang yang gua suruh buat jaga gua, dan gua juga lagi jaga milik dia. Gua gak bisa dimiliki siapapun, dan gua gak bisa memiliki siapapun kalau bukan dia orangnya.”


`hjkscripts.


TRIGGER WARNING ; CONTAIN SEXUAL ABUSE 🔞

First Kanaphan jelas pulang dalam keadaan emosi masih di puncak. Napasnya berat, tidak beraturan, selalu dihempas kasar. Amarahnya menggebu-gebu, seakan semua yang ada pada jarak pandangnya adalah samsak tinju.

Namun, sayang dia bukan seorang kriminal. Cowok itu juga bukan ahli pemilik tempramen buruk. First Kanaphan mau lampiaskan semuanya, sekarang juga. Tetapi, ada etika yang harus dia jaga. Ada tata krama yang harus dia jalankan. Karena dia juga bukan pusat dunia, semua orang yang tidak terlibat gak boleh ikut merasakan hawa panasnya.

Pintu apartemen dibuka dengan tergesa. Dunia itu apa-apa rasanya jadi lambat, sesak, dan semua menyebalkan. Dia jadi kesulitan buka password pintu apartnya, waktu udah terbuka pintu rasanya berat. Di dalam apart sepatu yang dia kenakan jadi susah buat dilepas. Pendingin ruangan terasa hampa, terus panas mengelilingi tubuhnya hingga sulit bernapas.

Kenapa sih semuanya jadi kayak gini? Salah apa dia? Pertama kali tubuh First Kanaphan akhirnya bisa duduk bersandar pada sofa yang lima tahun ini menemaninya. Cowok itu menutup mata, mencoba mengatur napasnya, dan memilah carut marut isi pikirannya. Pada saat bersamaan, memori yang baru saja dia dapatkan berputar jelas layaknya mata dan otak merekam tiap adegan yang terjadi di sana.

Matanya terbuka sempurna, ini jadi sebuah tanda kegagalan dalam menenangkan diri. Dia masih marah luar biasa, hingga bantal yang tidak punya dosa pun di lempar kuat entah mengenai apa. First Kanaphan berdiri, disaat begini dimana Khaotung berada? Gila, iya dia gila. Dia butuh Khaotung seperti makhluk butuh oksigen.

Kedua kaki panjang itu berjalan menghentak menuju kamar yang kini mempunyai dua kepemilikan. Buka lagi kamar mu atau aku, namun menjadi kamar milik kita. Dia membuka cepat, mendapati Khaotung dengan headphone juga ipad ditangannya.

Dikuasai emosi emang bikin manusia bisa lupa diri. Kayak First kali ini, cowok itu gak mikir apa perasaan Khaotung setelah melihat tingkat lakunya. Terpenting, apa yang menjadi nafsu impulsif yang terbesit dalam pikirannya dia harus lakukan. Maka, First Kanaphan menyingkirkan paksa ipad milik Khaotung, membuangnya sembarangan gak mikir berapa biayanya, atau seberapa penting isinya.

First melempar tubuh Khaotung, menghempaskan hingga terlentang di atas kasur yang baru mereka beli minggu lalu. Cowok yang pikirannya udah gak rasional sama sekali menghimpit tubuh Khaotung di bawahnya. Hal pertama yang dia lakukan adalah, mengecup bibir Khaotung.

Kedua tangannya dia tempatkan menangkup dua sisi pipi Khaotung yang belakangan ini tampak lebih gembil daripada biasanya. Dia menyesap, juga menghisap seperti ada candu yang membuat dirinya terbang melayang-layang. First Kanaphan gak peduli sama perasaan Khaotung setelah ini, sebab jika dia peduli, First akan meminta bibir Khaotung bermain melayani bibirnya.

Khaotung bergeming, tubuhnya gak punya ruang banyak untuk memberontak. Bahkan ketika tangan bebasnya mencoba menghentikan perbuatan bejat First di siang hari, dua lengannya dicengkram lalu ditarik ke atas kepalanya. Khaotung tidak sama sekali menjawab kecupan demi cumbuan yang semakin intens juga liar. Karena, cowok yang tengah mematung pasrah ini sedang memproses perasaan kecewa.

Bukan gini caranya. Maksudnya gak kayak gini. Bahkan First Kanaphan dengan kurang ajarnya berani memasukkan jemari panjang dalam sweater milik Khaotung, mengusap permukaan perut suaminya yang tegang. Khaotung marah, dirinya berontak melawan dominasi First dilanda gila. Persetan kakinya menendang wajah suaminya yang tengah mencoba melucuti celananya. Terpenting, kejadian ini harus segera diluruskan kalau gak mau terjadi peristiwa yang gak akan menyenangkan bila diingat esok hari.

“Keluar kamu!” Hardik Khaotung tegas. Cowok yang lebih kecil itu melompat dari atas kasur, memberi jarak sejauh mungkin hingga punggungnya menempel pada tembok di belakangnya.

First seketika sadar akan perilaku bodohnya. Dia lepas kendali, dia kesetanan, dan dia sungguh menyesal. “Sayang.. aku-” Dia coba menjelaskan.

“Aku gak mau denger penjelasan kamu dulu.” Ucap Khaotung dingin. Cowok itu telah memutuskan bahwa dirinya masih trauma dan belum siap mendengar segala alasan. Nanti, dia butuh ruang sendiri. Mereka berdua butuh ruang sendiri-sendiri.

“Aku takut. Kamu bikin aku ketakutan.”

Kalimat terakhir Khaotung layaknya belati tajam yang menancap tepat di ulu hati. Kalimat itu seperti kapak yang dapat menghancurkan mimpi-mimpi. Kalimat itu seperti bom penghancur pondasi yang lagi dia coba bangun. First Kenaphan, habis hidup kamu setelah ini.

First Kanaphan gak mau rusak rumah yang lagi dia coba bangun perlahan bersama Khaotung. Naas, emosi memang sumber kekacauan jika dia lepas kendali. Maka, dia gak bisa apa-apa lagi selain pasrah dan berlalu pergi.


`hjkscripts.


First melamun bersama hembusan angin bertekanan tinggi. Cowok itu gak tau kenapa lagi pengen menapaki balkon apartemen yang hampir gak pernah dibuka pintunya sejak pertama kali ditinggali. Dia cuma diem, ngelamun ngeliatin gedung gedung yang beberapa lampunya masih menyala. Dari atas sini semuanya terlihat tenang.

Rasanya gak adil, kok bisa dunia sesunyi ini? Kayak mereka emang gak bingung mikir ya? Gak pada punya beban ya? Dunia yang ada di hadapannya sekarang sepi, gak kayak pikirannya yang lagi berisik, kacau balau. Sampai, kotak yang harusnya dia jatah sebulan maksimal dua aja, untuk hari ini hampir habis sudah satu kotak.

First tutup pintu yang jadi pembatas antara rumahnya dan balkon. Dia gak mau di dalam jadi bau tembakau. Biarkan aja dia sesap juga hirup semuanya seperti bau aromaterapi yang dipasang Khaotung di beberapa ruangan.

Terus cowok itu cuma menyesap lalu dihempaskan kasar. Seolah tiap asap kenikmatan yang keluar bersama nafas panjangnya sekaligus mengeluarkan beban di dalam kepalanya tanpa harus dia mengungkapkan. Karena dia gak tau kepada siapa lagi harus mengadu. Ini bukan masalahnya; secara tidak langsung. Namun, segala hal ini menyangkut masa depannya, menyangkut mimpinya. Bukan miliknya sendiri, namun mimpi anak-anak yang udah bareng-bareng lewati susahnya di jalan masing-masing.

Dia sendiri mungkin gak perlu bingung kalau nasib buruk bakal menimpa mimpinya di hari esok. Karena hidupnya sudah terikat dengan milik sang suami. Rumah punya, kendaraan punya, uang bisa dicari, dan karir, mengikat Khaotung sama saja dengan mengikat karir cemerlang yang akan terus berjalan layaknya bayangan.

Tetapi bagaimana sama temen-temennya? Gimana sama Bang Earth yang harus nabung biar ibunya gak susah di masa tua? Bahkan uang hasil kerja kerasnya masih dia sisihkan buat bayar kontrakan minimalis tempat ibunya tinggal. Gimana sama Aou dengan ceritanya yang selalu dilempar sana sini sama keluarga mama dan papanya? Dia secara harfiah gak punya rumah. Gawin lagi...cowok yang cara ngomongnya kayak cewek lagi mens tahunan itu emang suka defensif. Cara ngomongnya buat ngelindungi dirinya dari mara bahaya. Karena dia gak punya siapa-siapa, keluarganya tidak menginginkan kehadirannya.

Suara pintu digeser gak membuat First bereaksi dari posisinya. Namun, ujung matanya masih peduli, melirik sosok yang sudah bergabung bersama menikmati angin yang datang layaknya menampar wajah tanpa ampun. Rambutnya berantakan, matanya jadi sayu.

Khaotung merebut batang yang tinggal seperempat dari tangan First. First sendiri sudah pasrah, batang itu mau dibuang atau diinjek. Tetapi First salah, terheran pula melihat suaminya menyesap batang penuh nikotin itu dengan lihai. Tiga kali dia hisap, lalu dihembuskan dengan gaya yang seakan dia sudah biasa.

“I don't know you smoke.” Ungkap First heran.

Khaotung terkekeh sembari menghembuskan asap terakhir sebelum mematikan sisa apinya sembarangan. “You just don't see me enough.” Balasnya dengan tatapan mengejek.

“Ketauan banget gak pernah merhatiin aku selama ini.” Khaotung mengejek First sekali lagi.

“Iya ya. Masih banyak yang harus dipelajari berarti.” First mengaku menyerah. Cowok itu ubah arah tubuhnya menghadap Khaotung seratus persen. “Habis ini jangan risih kalau aku perhatiin kamu terus. Soalnya aku mau tau tiap detik kamu ngapain. Meskipun kamu cuma bernapas, aku harus tau gimana caranya kamu bernapas. Aku mau denger suara napas kamu, aku pengen denger suara detak jantung kamu. Karena, kayaknya sekarang cuma hal itu yang bikin aku tetep waras.”

First gak lagi bercanda dilihat dari tatapan matanya yang intens dan penuh keseriusan. First gak lagi adu gombal, Khaotung bisa lihat gimana mimik wajah penuh kesedihannya. First gak bohong tentang penyemangat hidupnya saat ini. Sebab kalau saat ini Khaotung gak ada di sampingnya, dia pasti udah panik, emosi, dan lama-lama gila.

Khaotung rasanya menghangat. Dia juga ingin tersenyum centil layaknya remaja masih baru kenal cinta. Namun, First malam ini lagi butuh support, suaminya ini lagi nyari tempat pegangan buat nopang badannya yang bentar lagi mau ambruk. Maka, Khaotung usap lengan besarnya lembut, hati-hati, penuh cinta dan kasih, tak lupa pula perhatian. Lalu, telapaknya bergerak naik mengusap pipi First yang sudah dingin dikuasai suhu udara luar. Memberikan kehangatan sebisa mungkin.

First menutup matanya, bersama pula jatuh butir kelemahan yang dia tahan-tahan biar gak keluar, kalau bisa jangan pernah keluar. Karena kalau sampai keluar, tandanya First kalah. Tapi kayaknya, First bakal pasrah kalah kalau itu di depan suaminya sendiri. Dia gak apa lemah asal dihadapan Khaotung. Khaotung gak mungkin ngejek, dia gak mungkin anggep dirinya lemah.

Buktinya, Khaotung semakin gencar melepaskan afeksi berupa sentuhan lembut miliknya. Gak ada suara, gak ada kata-kata mutiara. Saat menurutnya semua sentuhannya kurang, Khaotung menarik tubuh First yang jauh lebih tinggi untuk menunduk, meletakkan kepalanya yang penuh dan berat di atas pundak sempit milik Khaotung.

“Ssttt... It's okay, husband. Everything is going to be okay.” Bisiknya kecil.

First gak nangis sampai meraung, tanpa suara, tapi derasnya seolah mengeluarkan semua kekhawatiran dan sajak-sajak negatif yang lagi dia pendam. Kayaknya, First harus banyak-banyak cerita tentang suka dukanya sama Khaotung. Sebab, mulai sekarang First butuh Khaotung, dia mulai ketergantungan sama Khaotung.

Khaotung Thanawat itu kunci kehidupan buat First Kanaphan.


`hjkscripts.


TRIGGER WARNING ; SEXUAL CONTENT 🔞

First Point of View.

Berbekal informasi dari orang mabuk, gua berangkat juga ke salah satu pantai di kota. Bukan pantai yang gede, juga gak bagus banget. Pantainya rame dan sempet viral sejak dilakukan revitalisasi sama pemerintah daerah setempat. Sekarang ya penuh lampu-lampu berlagak aesthetic juga banyak anak muda lagi nongkrong.

Hari ini tepat malam minggu. Gilak! Sumpek banget liat orang lalu-lalang. Gua sebagai anak band yang harusnya punya jiwa sosial yang tinggi, ngeliatnya capek juga. Mending di rumah, genjreng gitar.

Kedatangan gua di sini ya karna kelakuan siapa lagi kalo bukan suami gua. Cowok itu pamit berangkat kerja, tapi gak pulang-pulang. Biasanya dia bakal langsung pulang, bawa tentengan makanan banyak banget. Apa-apa semua dibeli, soalnya dia lagi seneng belakangan ini. Khusus hari ini, gua dikagetkan dengan drunk text yang dia kirim.

Oh, pantesan! Ternyata anaknya lagi nongkrong juga sama temen-temennya. Liat tuh! Udah pada teler semua. Gua datang, disambut sama mas-mas yang gua taunya dia orang wardrobe. Dia orang yang paling sober daripada yang lain, meskipun berdiri aja sempoyongan. Gua panik dikit, takut diinterogasi. Ternyata dia jalan aja gitu ke arah toilet.

Gua gak bisa lama-lama di sini. Apalagi niat gua buat jemput Khaotung yang bakal bikin asumsi orang-orang yang sadar. Pelan-pelan gua angkat badan Khaotung yang lumayan berat. Cowok gua udah gak punya effort buat bantu ngurangin beban. Gua bawa dia menuju mobil sambil harap-harap orang sebanyak itu gak ada yang ngenalin kita.

Di rumah, gak ada suara yang tercipta kecuali helaan napas gua yang berantakan. Juga, berkolaborasi sama erangan-erangan khas orang mabuk. Minum berapa botol coba ini anak? Karena jujur, gua belum pernah liat Khaotung mabuk segininya. Dia selalu minum in moderate amount meskipun minum sama gua di ruang tamu.

Gua jadi penasaran kenapa dia gak mau minum sampe gila waktu di rumah. Padahal dari segala tempat, rumah yang paling aman dan minim resiko. Seberapa gila gua dalam meneguk kaleng-kaleng alkohol, Khaotung lebih milih minum satu kalengnya dan disesap pelan-pelan. Entah apa yang lagi cowok itu coba tahan?

Khaotung akhirnya bangun, masih linglung, masih mabuk juga. Dia senyum waktu buka matanya, gua reflek jawab senyumannya karena he's so damn cute... and tempting.

“I know you will found me.” Dia ngomong dengan suaranya berat juga serak.

“Aku kan udah bilang bakal cari kamu. Sekarang udah ketemu, bakal aku kekepin sampek besok pagi.” Jawab gua dibales kekehan.

“Sini kekepin!” Gua asli kaget dengan gestur genitnya yang merentangkan tangannya kayak minta gua buat meluk dia erat-erat. Pula, dengan suaranya yang gua gak tau karna alkohol atau dibuat-buat menggoda.

Gua nanggepin dia cuma bercanda, tapi gerakan tangannya yang melambai-lambai gak sabaran bikin insting gua tergerak. Gua genggam pergelangan tangannya, meletakkan di belakangan tengkuk gua. Sedangkan tubuh gua perlahan masuk dalam dekapannya. Anget, gua hirup aroma tubuh dia lewat ceruk lehernya. Wangi parfumnya masih ada, melekat kuat bikin gua malah mabuk kepayang.

Khaotung itu entah gila atau apa, si anak baik berubah total jadi sosok penggoda. Dia tiup belakang telinga gua, menghantarkan sensasi geli yang membangkitkan syaraf-syaraf. Terus, ada sensasi dingin juga basah bersamaan bunyi-bunyi kecipak di sana.

“Sayang, kamu ngapain?” Gua menggoyangkan tubuhnya dalam dekapan gua.

Otak gua yang lagi panik juga kebingungan harus kirim respon apa. Gua diam cukup lama, mikir sembari nikmatin tiap kecup yang dia bagi. Naasnya, otak gua yang bisa mikir ini gak berfungsi layak biasanya. Dalam pikiran-pikiran gua isinya cuma hal-hal kotor yang bakal terjadi kalau gua memberi respon yang sama.

Gak ada yang bisa menghentikan kegiatan kita bagaimana pun output-nya hari esok. Persetan canggung, otak gua udah gak bisa mikir sampek sana. Otak ini cuma bisa mencari dan mengirim informasi terkait langkah-langkah beradegan dewasa dari gaya satu ke gaya seribu.

Gua angkat tubuh Khaotung dari posisi rileks di atas sofa. Menjadikan paha gua sebagai tumpuan badan kurang tenaga miliknya. Di pangkuan gua, wajah Khaotung makin kurang ajar. Pipi dan hidungnya merah pengaruh alkohol, tapi mulutnya terbuka celanya dan basah. Gak ada larangan baik-baik untuk tidak menjamah bibirnya. Semua yang ada di tubuh Khaotung malam ini mengundang birahi datang.

“Kamu gila ya?” Gua bertanya. Lebih ke emosi soalnya yang gila adalah gua. Gua gila karena suami gua sendiri.

“Aku mau cium kamu, boleh?” Gua sekali lagi bertanya. Meskipun udah jadi goblok, gua gak mau meninggalkan rukun pertama ngewe, yaitu consent.

Khaotung gak jawab, mukanya tolol banget minta dilecehin sekarang juga. Gua mendekap pinggangnya, menarik dia lebih dekat sampai dua gundukan punya kita bergesekan. Gak ada penolakan sampai sini, sampai jemari-jemari gua meraba setiap inci di wajahnya pun dia bergeming. Khaotung menutup matanya bersama dengan helaan napas berat kala gua menarik kecil rambut belakangnya. Maka menurut insting lelaki gua, ini adalah jawaban mempersilahkan.

Pertama, gua kecup bibirnya ringan, gak ada tekanan. Lalu, gua kecup untuk yang kedua kalinya. Lebih khidmat, lebih lama, sebagai perkenalan untuk disimpan sebagai memori. Khaotung yang mutus pertama kali, mata sayunya terbuka dengan binar-binar kebingungan.

Khaotung akhirnya sadar dari mimpi indah yang membawanya kepada realita. Di atas pangkuan gua, berada dalam komando gua, penuh hati-hati juga tanggung jawab. Kita berbagi kecupan di bawah lampu ruang tamu, beralaskan sofa, disaksikan benda-benda mati. Dilindungi kasih sayang, bersama juga cinta.

Dan gua kecup lagi bibirnya untuk yang ketiga. Kali ini diikuti lumatan konstan. Saling memanggut, merasakan eksistensi, juga merekatkan garis-garis takdir yang awalnya jauh menjadi sedekat kulit bertemu kain katun. Malam ini, gua sangat menikmati. Mengisi tiap memori dengan tekstur kenyal bercampur basah liur. Mengingat bagaimana rasa manis bercampur sisa alkohol yang memabukkan. Merekam suara kecipak seolah alunan melodi indah yang gua ciptakan.

Gak ada penyesalan, yang ada hanya rasa yang datang semakin besar. Rasa ini semakin menumpuk, membuncah, dan perlu dilampiaskan. Cinta baru yang datang berbondong-bondong ini adalah perasaan baru buat gua kepada Khaotung.

Cinta ini bukan untuk siapa-siapa. Bukan bentuk tanggung jawab gua kepada siapapun. Melainkan, cinta ini untuk Khaotung, karena dia Khaotung. Gua, First Kanaphan yang bakal bertanggung jawab atas perasaan milik gua sendiri.


`hjkscripts.


Hari itu lagi panas-panasnya. Ada kali suhu capai 34 derajat celcius, dan mereka memutuskan untuk tetap melaksanakan agenda yang sudah dipersiapkan baru semalam.

Dateng ke tempat dengan konsep rustics gini ternyata gak buruk juga. Malah Khaotung berdua sibuk lihat-lihat furnitur yang pihak kafe pasang acak. Sesekali mereka ngefotoin juga sekiranya enak dipandang. Sedangkan First, dia kurang tertarik sama interior kayak gini. Bagi dia semua kafe tuh sama, yaitu tempat ngopi. Malah, kepalanya lagi penuh tentang skenario yang mau dia amalkan pas nanti udah duduk.

Kafe hari itu sepi banget. Gimana gak sepi ya kalo datengnya siang bolong di hari orang-orang masih pada gawe. Cuma ada beberapa staf sama dua orang yang kayaknya lagi work from cafe. Ini sih yang namanya keberuntungan, pas banget sama intensi mereka.

Gawin tuh ternyata pinter banget milihin tempat. First sama Khaotung milih duduk di kursi outdoor yang ternyata sama sejuknya dari indoor. Bedanya, di sini sejuk karena tepat di atasnya pohon gede yang lagi bergerak sebab ditiup angin.

Dalam keadaan kayak gini, keadaan dimana untuk pertama kali mereka mau saling buka suara, First gak bisa langsung paksain Khaotung buat fokus sama tujuannya. Di hadapannya, Khaotung lagi duduk namun pandangannya masih asik sama fasilitas yang dikasih kafe. Entah dia lagi ngeliatin apa, yang pasti First kasih waktu sebanyak yang Khaotung butuh. Gak ada buru-buru.

Toh, First bodohnya juga malah mandangin suaminya. Rasanya adem gitu, wajah tenang Khaotung juga rambutnya yang lagi bergerak dihempas angin sepoi-sepoi yang gak berhenti lewat. Indah, begitu kata batinnya. Terus, badan First mendadak tegak kala Khaotung telah berpaling dari kegiatan memandang dan malah bersitatap dengan mata First Kanaphan yang tengah memuja.

Khaotung tersipu malu, menyembunyikannya dengan senyuman kecil. First yang kepergok ganti menatap sekitar canggung yang berakhir dia tertawa geli sebab dia tau dirinya bersikap bodoh.

“Puas ngeliatinnya?” Goda Khaotung.

First mengangkat bahunya, membuat gestur untuk menenangkan rasa malunya. “Sorry, can't help it.” Dia mengakui.

Mereka berdua yang lagi berhadapan ini gak bisa gambarin perasaannya sendiri. Mixed feelings banget dan penuh pertanyaan. Dalam pikirannya yang lagi coba disembunyikan erat-erat pakai gerakan menyesap minuman masing-masing ada harapan tersendiri dari hasil ngobrol hari ini.

First yang mulai. Cowok itu merasa dia yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah di antara merekaă…ˇ yang mana, dia sendiri sebenarnya masih menerka mana yang jadi titik retak komunikasi mereka yang telah membaik belakangan. First merasa dia sudah mengawali dengan dia yang mengoreksi diri. Pula, dia rasa feedback yang diberikan Khaotung cukup baik meskipun di awal, suaminya masih banyak sanksi. Namun, semua usahanya seperti hancur sia-sia dalam satu malam pada peristiwa perginya mama.

First Kanaphan membuat debaran jantung Khaotung meningkat. Seperti cowok ini benar jodohnya yang bisa membaca jalan pikirannya yang rumit. Bergeming, kaku, dan ekspresi terkejut tidak percaya atas keluarnya surat perjanjian tertulis yang mereka setujui hampir lima tahun lalu ada di atas meja kafe, di tengah-tengah keduanya. Seperti dejavu satu malam itu, tepat setelah acara pernikahan selesai, surat berisi gambaran ego keduanya disepakati.

Khaotung mau lari aja, sejauh mungkin yang pasti dia mendadak gak mau bahas apapun yang berkaitan dengan surat ini. Hanya ada satu kemungkinan dengan habisnya masa berlaku dari surat tersebut, yaitu perpisahan. Surat ini dibuat pada hari pertama mereka bersama dan berakhir saat mereka memutuskan untuk berpisah.

“Waktu berjalan begitu cepat bukan?” Khaotung bergumam, masih bisa didengar suaranya yang kecil sebab kafe semakin sepi. First mengangguk setuju, memang waktu semakin bergerak lebih cepat.

Tangan Khaotung bergerak lembut, mengambil surat bertulis tangan yang sama sekali gak lecek menandakan dijaga betul-betul oleh suaminya. Dia membaca satu persatu poin kalimat yang menurutnya gak masuk akal sama hubungan mereka menuju akhir.

Cowok itu mengangguk seolah kerumitan di kepalnya mulai membentuk gulungan rapih yang membuat dirinya perlahan paham.

“Now it's all makes sense.” Katanya.

Namun, First sama sekali gak paham sama kalimat Khaotung barusan. “Aku gak paham. Apanya yang make sense?” Dia bertanya.

Khaotung yang sekarang gak paham. Bukannya mereka di sini satu pemikiran ya? Terus, emosi Khaotung mendadak meningkat liat muka bingung bodoh suaminya. Dia menganggap bahwa First gak serius, padahal udah jelas surat perjanjian ini dia yang keluarkan.

“Kamu mau kita selesai, kan? Ya udah ayo kita selesai!”

First makin bingung dengan kesimpulan yang keluar dari mulut Khaotung. Dia juga kurang suka nadanya yang terkesan memojokkan dirinya. Lalu, First berkata membela diri sekaligus meluruskan, “Bentar Khao, maksud aku ngajak kamu kesini bukan ituㅡ”

“Terus apa? Kamu ga perlu merasa bersalah buat punya pikiran pergi ninggalin aku dalam kondisi aku yang lagi kayak gini. Semuanya udah disepakati. Aku paham kok. Ga apa, kalau mau pergi ga apa.” Suaranya lantang, namun berangsur kecil seiring dengan getaran yang menandakan bahwa emosinya berantakan di dalam.

“Mama udah pergi, udah saatnya kamu juga ikut pergi. Aku ga mau jadi beban kamu juga buat terus tutup-tutupi. Hidup kamu ga tenang kalo terus bertahan sama aku. Kamu punya karir cemerlang, penggemar yang nunggu kamu. Aku juga ga mau kamu bohong terus sama media. Surat iniㅡ” Khaotung mengangkat surat perjanjian sekali lagi. Lalu, dia menyobeknya jadi beberapa bagian.

“ㅡ Surat ini, dengan surat ini aku melepas kamu pergi.” Pamungkasnya bersama tetes pertama air mata merelakan.

Sekarang First paham kenapa Khaotung menjadi diam. Berapa banyak jumlah pemikiran-pemikiran negatif yang dipaksa masuk bersamaan yang seharusnya dia fokus mengenang mamanya. First merasa semakin bersalah, harusnya dia lebih cepat peka. Harusnya masa-masa berduka, dia sudah melompati batasan yang mereka buat. Harusnya dia tidak menahan diri dan banyak-banyak menyediakan tempat ternyaman untuk suaminya.

“Sayang dengarkan aku!” First cepat-cepat mengambil kedua tangan Khaotung. Persetan dengan surat yang sudah gak berbentuk. Toh, memang ini tujuannya.

“Aku ajak kamu kesini memang karena surat ini. Tujuanku memang untuk membuat surat ini menghilangkan di antara kita. Iya, suratnya harus menghilang kalau mau memulai semuanya dari nol. Sayang, aku mau kita jadi individu baru, menjadi pasangan yang sehat karena perjalanan kita dimulai dari hal baik. Aku ingin kita melupakan masa lalu yang menyatukan kita. Lupakan hari itu, ingat saja tentang hari ini, anggap hari ini, di jam ini, menit ini, detik ini, di tempat ini, menjadi awal pertemuan kita dan kita yang menjalani hari selanjutnya bersama sampai takdir yang memisahkan.”

First Kanaphan salah karena baru sadar bahwa rasa tanggung jawabnya sedikit demi sedikit terkonversi jadi rasa cinta.

First Kanaphan ingin lepas dari tanggungjawab karena janjinya pada mama. Menjadikan dia mandiri yang bisa mengurus perasaannya sendiri. First Kanaphan ingin mulai menyayangi Khaotung karena dirinya sendiri. First Kanaphan ingin mencintai Khaotung karena tanggung jawabnya kepada Tuhan semata sebab Khaotung Thanawat adalah makhluk yang Dia ciptakan dengan rasa cinta.


`hjkscripts.