hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


“Pak bos jadinya ngapain tadi main ke you punya apartemen, beb?”

Khaotung cuma melayangkan senyum getir. Benar-benar ga paham gimana mau jelasin maksud kedatangan papap ke apartemen yang jatuhnya tiba-tiba sekali. Sebab, Khaotung sama papap hampir ga pernah ada di dalam satu ruangan berdua aja, hampir ga pernah komunikasi intens yang jauh dari kerjaan.

Kejadian beberapa jam lalu, sebelum cowok ini duduk di bangku kafe yang interiornya nyaman, begitu intim namun juga begitu singkat. Ayah dan anak saling ngobrol meskipun harus ada perantara bunyi televisi yang sengaja diputar agar suasana tidak jadi canggung, meskipun tanpa adanya tatapan mata yang berarti. Hanya kalimat berbalas kalimat tentang keadaan masing-masing, lepasnya ditutup dengan makanan cepat saji dan papap pulang begitu aja.

“Ya gitu. Emang papap harus bikin gebrakan apa deh sampe kamu penasaran banget.” Khaotung jawab dengan nada sarkas. Kayak ga menyetujui pembahasan tentang papap berlangsung sampai akar.

Karena bukan tentang papap yang membuat dirinya harus menguatkan tubuhnya yang belakangan ini ga pernah sehat untuk keluar sekedar nongkrong di kafe sama mba manager kesayangan. Karena bukan tentang papap yang membuatnya lebih berantakan sejak ditinggalkan mama pergi selamanya.

Hadirnya dia di sini bukan membahas perubahan dari masa lalu. Bukan pula membahas yang sudah selesai mengabdi. Namun, ini tentang masa depan yang dia lagi cari jalan terbaik. Karena dia mau jadi Khaotung versi apik, dia ga mau kekurangan cinta juga kasih sayang dan dan dia juga mau kasih cinta sebanyak-banyaknya kepada orang yang tepat.

Masalahnya adalah dia kira segala perubahan First Kanaphan; suaminya yang berangsur signifikan ini membawa kesan positif bagi masa depannya. Meskipun diawal banyak bingungnya, timbul pertanyaan. Seiring bertambahnya hari ternyata dia jatuh terlena. Pengaman yang dia pakai sekencang kawat pengikat terkikis akan perhatian, buaian kalimat bak pujangga, juga afeksi yang tiada hentinya.

Khaotung kira semua ini akan berakhir indah. Sampai seluruh sel tubuhnya bergantung akan eksistensi suaminya. Ga apa mama pergi, tetapi kalau Firs ikut pergi Khaotung hancur tanpa sisa. Ya sekali lagi, realita memang tak seindah angan-angan.

“Aku sekarang bingung, mba.” Lirih suaranya memulai.

Tidak ada siapapun di kafe, karena ruangannya khusus reservasi untuk mereka berdua. Pun, Khaotung ga sanggup mengungkapkan kegundahan secara lantang. Dia ragu, tetapi dia juga takut untuk jadi ragu. Dia mau yakin, tetapi dia juga takut keyakinan yang tengah dianut menyakiti lebih dari hari ini.

“Apa yang ada di dalam pikirannya? Apa yang lagi dia ingin lakukan? Apa yang jadi tujuannya? Aku ga tau.” Lanjutnya.

Ciize mendengarkan dengan seksama, ga mau memutus, ga mau mengganggu. Dia kasih waktu sebanyak mungkin untuk Khaotung memilah dan menata kata tiap kata yang ingin dia ungkapkan.

“Dia itu aneh. Once we met and talked like old friends, and then we were strangers again caused by stupid game that i made. Yet recently, he acted like we are years married couple. He's lovely as sweet dreams. His words, things that i can't resist. His affection, one of best thing i ever feels.”

“He made me loved behind all the bad. He mad me the perfect person that God ever made. Tapi artikel iniㅡ” Khaotung membalikkan telfon genggam miliknya. Menampakkan satu buah artikel yang membuat malamnya berubah seketika.

Ciize mengangguk paham, meskipun ga seratus persen. Soalnya dari yang dia tangkap dari pernyataan First ke media beberapa minggu lalu harusnya make sense sama keadaan yang lagi mereka berdua jalanin. Ga mungkin First tiba-tiba harus ngaku kalo dia udah nikah sama model terkenal. Pula, Ciize juga paham sama keadaan Khaotung yang serba capek. Semua yang cowok itu pikirin pasti ga berakhir positif.

“He is such a menace, yeah?”

Khaotung ngangguk setuju. “Sekarang semuanya berkorelasi. Surat perjanjian, mama udah ga ada, pernyataan pentingnya ke media. He just want to leave me good.”

“Hey..” Ciize mengambil kedua tangan Khaotung, menggenggam dalam miliknya yang hangat. Dia mengusap juga melayangkan senyum menenangkan sebelum melanjutkan katanya, “You love him, do you?”

“Atas semua puja puji tentang dia. Yes, i do.


`hjkscripts.


Berada di bangku tamu, duduk diam termenung. Lalu, perasaan bersalah muncul silih berganti. Dia harusnya menjadi penjamu, bukan ikut dijamu. Dia seharusnya ikut menyapa khalayak yang datang dari orang besar, media, hingga kerabat. Dia harusnya yang bertanggung jawab, sebab dia juga salah satu kepala keluarga.

Harusnya, semuanya hanya tentang angan-angan. Hari lalu mereka sedekat helai-helai rambut. Lihat sekarang jauh dipisah keadaan, sembunyi menentang pilu.

First tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya, tatkala suara Khaotung makin bergetar. Hidungnya memerah, matanya yang sudah lelah. Gila, First sungguh mana tega. Sempat tidur kah dia? Makan bagaimana? Beribu pertanyaan seluruhnya berhenti diujung lidah.

Ingin rasanya dia berdiri, persetan dengan pura-pura. Dia akan berlari, secepat mungkin, merentangkan tangannya dan memberikan isyarat untuk suaminya datang dalam pelukannya. Dia akan jadi tempat istirahat singkat terbaik untuknya. Dia akan mulai luncurkan jutaan pertanyaan khawatir sampai dirinya sendiri puas.

Khaotung pasti tidak baik-baik saja. Namun, dia begitu pengecut. Meskipun dia berlinang air mata di samping temannya yang menatap dirinya bingung. Dia sama sakitnya dengan Khaotung yang tengah tergugu tanpa malu dihadapan tamu. Dia ingin berada di sampingnya, setidaknya ada usapan penuh energi yang mengalir dari ketulusannya.

Aduh, First Kanaphan merasa dirinya sekarang penjahat. Sebab, tubuhnya hanya sanggup bergeming kala tubuh lemah Khaotung dipinggirkan karena hilang sudah kesadarannya. Dia khawatir setengah mati.

“Jenazah sebentar lagi akan diberangkatkan ke tanah pemakaman. Tetapi keadaan putranya tidak memungkinkan. Bagaimana, pak?” Sayup-sayup petugas pemakaman meminta kepastian kepada suami mendiang.

Papap nampak berpikir. Keluarga intinya hanya tinggal dirinya dan sang putra. Tidak mungkin meninggalkan Khaotung yang tengah tidak sadar dan menguburkan ibunda begitu saja. Dia dan anaknya pasti ingin menyaksikan untuk terakhir kali.

First Kanaphan itu kadang impulsif, gak dipikir. Cowok itu berdiri tanpa permisi bergabung dalam diskusi orang-orang dewasa. Dia menyela, “Maaf kalau saya lancang. Mungkin bapak-bapak sekalian bisa berangkat menggiring mobil jenazah. Saya akan menemani anak bapak di sini. Setelah dia sadar, saya yang akan bawa ke lokasi pemakaman.”


Peti mati kini bergerak perlahan, seolah telah selesai tugas di dunia dan saatnya kembali ke pelukan bumi. Disaksikan banyak kerabat yang sedang mengucapkan selamat tinggal juga selingan doa-doa pengantar. Suasana hening, tidak ada riuh tangis, hanya ada kicau burung yang tiba-tiba ikut menjadi saksi juga angin berhembus lembut tanda melepasnya pergi.

First juga menyaksikan, berdiri lebih tegar daripada siapapun. Tubuhnya dipersiapkan untuk menjaga Khaotung yang baru sadar dari mimpi buruk semalam suntuk. Dia akhirnya bisa berdiri tanpa harus takut mata media. Menuntaskan sedikit tanggung jawab sebagai suami yang menjaga pasangannya, pula sebagai menantu dalam keluarga.

Kedua pasang matanya tidak bisa lepas dari kekhawatiran. Padahal Khaotung tepat di sampingnya. Cowok yang lebih pendek tidak lagi menangis, kakinya kuat untuk sekedar berdiri. Tetap saja rasanya masih amat jauh, First mau memberi afeksi lebih dari sekedar menemani.

Dia ingin menggapai tubuh kecilnya. Berkata semua akan baik-baik saja. Karena Khaotung tidak perlu takut akan kehilangan. Sebab, First Kanaphan akan ada selalu bersamanya.


`hjkscripts.


Bagi Khaotung perasaan ini sungguh rasanya baru. Dia kira saat ditinggal orang tersayang, yang pertama dilakukan manusia pasti nangis karena kehilangan. Ternyata, nangis waktu keadaan kayak gini sesusah itu.

Padahal kepala udah pusing, pundak berat banget kayak semua beban lagi dipanggul di sana, terus dada sesek gak karuan. Badan rasanya terus ditekan, dan tekanan ini kayaknya gak akan berhenti sampai semua tulang remuk jadi butiran debu.

Cowok itu kebingungan gimana cara ungkapkan seluruh dukanya. Nangis gak bisa, meraung pilu apalagi. Dia hanya bisa berdiri dan menatap nanar peti terbaring ibu kandungnya yang sudah tidak bernyawa lagi. Wajahnya capek, dia belum tidur atau makan sejak dokter melayangkan vonis terakhir.

Papap harus tetep pergi ke perusahaan dengan sikap profesional, sedangkan Khaotung harus berdiri tegar ngurus dokumen beserta segala persiapan pemakaman seorang diri sambil terseok-seok.

Apa karena ini ya dia gak bisa sedih? Nangis juga gak sanggup. Soalnya kalo dia terpuruk, siapa yang bakal nebus mamanya biar bisa dibawa ke rumah duka? Mamanya bakal ditaruh dimana kalau dia gak berangkat ke pembuat peti mati? Siapa yang pakaikan baju dan riasan ke mama kalau dia gak segera reservasi perias.

Apa mungkin karena dia sudah ikhlas? Air matanya sudah habis seiring berjalannya waktu. Atau mungkin karena dia sendiri, gak ada siapa-siapa yang bisa dia andalkan, jadi tubuhnya beradaptasi biar gak nyusahin, biar semuanya tetap bisa berjalan normal. Karena cuma dia yang sekarang dunianya berantakan.

First ya? First Kanaphan semalam datang. Oh benar, air matanya sudah habis semalam suntuk dia tumpahkan di baju milik suaminya. Namun, kenyataan harus tetap jadi kenyataan bahwa First harus pergi ke sisi lain agar media tidak mengendus hubungan sebenarnya. Pada keadaan seperti ini mereka masih bermain pura-pura.

Setelah ini pun Khaotung belum bisa diam. Dia tidak bisa berleha-leha menerima kenyataan bahwa sekarang tinggal dia dan papap. Dia cepat mengurus hal yang menjadi korelasi dari keadaan mama saat ini. Hubungannya yang sekarang ada di ujung jalan menunggu kepastian.

Apakah bisa dilanjutkan dengan penuh cinta dan kasih sayang sesungguhnya Atau berhenti kandas sampai sini saja sesuai perjanjian.


`hjkscripts.


Khaotung baru tau kalau lagi ada diposisi serba khawatir gini, kedatangan suaminya adalah hadiah terindah yang dia belum pernah rasakan sebelumnya. Meskipun dia gak bisa peluk, dia gak bisa dekap erat sambil menghirup aroma khas tubuhnya. Eksistensinya, aura positifnya membawa perubahan besar memerangi energi negatif yang sedang menari-nari di dalam kepalanya.

Bak seekor kucing, Khaotung menyambutnya, langsung di depan pintu kemegahan tepat setelah deru mobil yang dia kenali masuk dalam pekarangan istananya. Dia menunggu dengan sabar, bersama degup jantungnya yang gak sabaran. Senyum itu merekah tatkala First masuk dengan banyak tentengan dalam genggaman jari-jarinya.

“Mama lagi tidur abis makan siang dan minum obat.” Kata Khaotung sembari tangannya cekatan membantu suaminya mengeluarkan berbagai makanan dari kantong kresek warna-warni.

Cowok matang itu mengangguk paham. Dia memanggil salah satu helper di rumah agar menyampaikan pada yang lain bahwa sejumlah makanan di atas meja ini boleh diambil siapapun. Dia lantas mengambil yang masih utuh dalam balut tas lumayan bagus, dia tuntun pula Khaotung untuk ikut bersamanya menuju beranda kecil belakang rumah.

Pikirannya yang carut marut membuat Khaotung pasrah setengah diseret. Dia bagian yang menerima saja, ya mostly begitu sih. Kayaknya dia ini mulai nyaman jadi penerima, diperlakukan kayak pangeran, dielu elukan namanya menggunakan kata-kata sayang. He is completely falling for his own husband.

Mereka berdua duduk di pinggir kolam renang. Ada sensasi tersendiri memang dari beberapa spot kecil yang tersedia pada minimalis desainnya. Suara gemericik angin yang tengah menerpa dedaunan juga suara air halus sebab ombak kecil yang dibuat angin pecah. Bersama helaan demi helaan nafas juga irama degup jantung jadi pengiringnya pula. Menurutnya, ini adalah terapi setres mudah, menyentuh, dan menenangkan.

Khaotung ketawa gak percaya sama yang dikeluarkan First dari bawaannya. Dari ulang tahun anak siapa dia? Kok bisa mengeluarkan satu paket cepat saji toko ayam lengkap dengan mainan anak-anak.

“Buat aku?” Khaotung masih gak percaya. First ngangguk jahil. Cowok itu mulai melahap bagiannya di porsi dewasa.

Khaotung berdecak sebal, “Emang aku anak kecil apa?” Lanjutnya. Namun, gestur yang ditunjukkan jelas berbeda. Dia dengan telaten membuka hadiah mainan seolah penasaran apa yang dia dapat.

“Gua nurut google ajasih. Katanya, kalo anak gak mau makan kebanyakan minta dibeliin ini.” First menjelaskan.

“Aku bukan anak kamu ya!”

First ikut ketawa geli. “What's so different between a kid and anxious hubby?”

“Am I your husband?” Pertanyaan konyol sih. Tapi Khaotung selalu penasaran sama jawabannya. Dia yakin tapi dia juga ragu.

“Coba liat buku nikah di rumah sana! Terus perhatiin lamat-lamat foto cowok yang di sebelah gue, elu apa Ryan Reynolds? Tapi kayaknya elu sih, soalnya Ryan Reynolds udah punya istri.”

Kalah dia, telak. Ngobrol sama First Kanaphan sekarang tuh rasanya pengen meleleh mulu. Tiap hari gak usah pakai pemerah pipi biar muka kelihatan cerah. Ngobrol aja nih sama First Kanaphan lima menit. Kayak segala-galanya yang dia temukan di bumi, dia lempar semuanya ke atas Khaotung. It's an extraordinary pleasant yet bitter. Sebab, Khaotung harus sadar bahwa hubungannya tergantung sama keadaan orang lain.


First ngajak Khaotung pulang setelah beberapa kali meyakinkan suaminya, bahwa di rumah, mama akan baik-baik aja. Bahkan First terkesan buru-buru. Gak biarin Khaotung buat pamit ke mama yang masih tidur.

Sampai di apart yang bikin bingung itu malah First. Khaotung udah mandi, udah rapi pakai baju rumahannya. Tetapi, First ini mondar-mandir di dalam rumah kayak lagi mempersiapkan diri atau dia gak ingin apa yang akan dia lakukan setelah ini terjadi begitu cepat. Cowok jangkung itu kebingungan, menyibukkan dirinya sendiri.

Hal-hal kayak gitu bikin Khaotung makin cemas, makin gak karuan isi kepalanya. Ini pasti bukan sesuatu yang baik. Khaotung kayak dikasih kesempatan juga buat persiapan diri. Maka Khaotung harus bersiap pula.

“Kamu tuh bisa diem ga? Aku capek lihat kamu mondar mandir gitu.” Langkah First berhenti seketika seolah tubuhnya patuh terhadap mandat suara Khaotung.

Dia menghela napas panjang. Inilah saatnya, gak ada yang harus ditunda lebih lama. Sebab, cepat atau lambat semua akan terjadi seiring waktu bertambah. Jika semakin lambat, First tau dampak kecewa yang akan ditimbulkan dan First belum mempersiapkan diri atas reaksi itu nanti.

Keduanya duduk nyaman berhadapan di atas sofa. Televisi seolah menatap mereka diam-diam dengan layar hitam. Dunia seolah mendukung suasana dengan tidak ada suara yang tercipta selain napas dan degup jantung berantakan manusia.

First gak langsung bicara. Dia tatap mata lawan bicaranya lamat, lembut, namun penuh kekhawatiran dan keraguan. Sedangkan mata yang sedang ditatap begitu bergerak tak nyaman.

“First kamuㅡ” Kalimat Khaotung tak pernah selesai, tatkala kedua lengannya diremat halus.

Suaminya kini mengusap lembut, naik turun memberikan banyak banyak kekuatan. Dia akhirnya bersuara, “Kamu tau kan kemarin jadwal mama check up ke dokter?” Mulainya begitu.

Khaotung menelan ludah, gak berniat menyahut juga. Cowok yang lebih kecil itu mau fokus dengerin suaminya yang lagi nata kalimat selanjutnya sambil terbuai sama sentuhan tangan besarnya.

“Dokter bilangㅡ” First lagi-lagi berhenti. Kali ini dia mau pastikan betul gestur yang dibuat Khaotung. “Dokter bilang kanker yang ada di dalam tubuh mama sudah menyebar ke seluruh tubuhnya.”

Khaotung masih diam, sebab dia tau akan hal itu. Kanker yang diderita mama memang sudah parah, menyebar, susah disembuhkan. Mama sampai di sini karena kemauannya buat tetep hidup, maka dari itu mama rajin ke dokter untuk cek kesehatan dan berobat. Lantas apa yang bikin First mendramatisir?

“Dokter juga bilang, treatment apapun yang dilakukan saat ini sudah gak ada gunanya lagi, Khao. Kankernya tumbuh agresif, obat dan kemoterapi udah gak sanggup bikin mereka melambat. Mama memang terlihat sehat, tapi dalamnya sudah hancur, rusak semua. Dokter sudah gak bisa apa-apa selain menyarankan sama semua keluarga buat kasih hari-hari terbaik untuk mama.”

Maka satu butir akumulasi ribuan emosi Khaotung luruh tidak dapat dibendung. Kepalnya yang dari tadi pusing, mendadak berdenyut semakin nyeri. Dadanya sesak, dia gak sanggup bernapas normal. Otaknya malfungsi, sehingga logika saat ini dipendam oleh emosi yang seluruhnya dibuat hati.

Khaotung marah, kecewa, sedih, penuh penyesalah. Semuanya dia kumpulkan, dia konversikan perasaannya sampai tubuhnya bergetar hebat. Lelehan bening yang semula luruh konstan menjadi deras seketika. Dia gak mau nahan-nahan, karena terlalu banyak yang ada di dalam. Dia luapkan semuanya, gak peduli seberapa keras dia berteriak, meraung, dan mengadu betapa dia belum siap kehilangan mama.

Meskipun dia sudah menjalani, sudah diberkahi waktu tambahan. Namun, bagi seorang anak kalau bisa selamanya dia akan usahakan.

Raungan pilu tak membuat First mengambil keputusan. Cowok itu juga sama hancurnya. Terima kasih pada mama, dia jadi punya kesempatan untuk melakukan apa yang harus dia lakukan dulu terhadap ibundanya. Cowok itu juga sama rapuhnya. Jadi dia biarkan suaminya menangis tak terima. Dia tetap duduk di sana, bersama air mata kecil tanda adanya peperangan antara kesedihan dan ketegaran. Harus ada yang lebih kuat, kalau sama jatuhnya siapa yang akan menarik untuk kembali berdiri tegak.

First masih di sana, kali ini berbagai kenyamanan tubuhnya melalui sebuah dekapan hangat. Dia balut tubuh yang semakin lemah, memberikan jutaan tepukan menenangkan pada bahu yang bergetar. Mereka habiskan beberapa jam untuk saling melepaskan sengsara.

Bagi Khaotung, mempunyai First Kanaphan disaat terpuruknya ini dia amat bersyukur. Jika dia sendiri, Khaotung gak akan sanggup. Bisa jadi buruk, depresi, dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya. Mixed feeling hits, perasaan nyaman ini gak sejalan sama keadaan yang dirasakan.

Hal terpenting sekarang ini tentang mama, juga tentang hal yang akan terjadi dengan hubungan mereka.


`hjkscripts.


Khaotung Point of View.

First udah siapin semuanya. Roti lapis yang dia beli dibuka setengah bungkusnya, sedotan tertancap di dalam minuman berkarbonasi, dan ga lupa cookie sebagai pencuci mulut.

Selepas aku duduk, dia keluarin sapu tangannya. Dia buka sampai maksimal berbentuk persegi besar terus di letakkan di atas paha aku. Setelah itu baru dia taruh roti lapis di atasnya. Ada tisu, hand sanitizer, pokoknya lengkap.

Cowok di samping aku ini belum ngomong satu katapun. Bahkan pas aku masuk ke mobil, dia cuma kasih sekilas senyum terus sibuk sendiri. Sekarang dia lagi nyalain mesin mobil, atur-atur posisi AC biar ga kepanasan. Terus, yaudah ga dilanjutkan basa-basi, dia malah meluk setir dan ngelamun liatin jalan di depan.

Di dalem mobil sunyi banget. Cuma ada suara deru mobil dan dari mulutku yang lagi kunyah makanan. First itu suara hati dan pikirannya aja yang lantang. Tapi bibirnya masih sama, bungkam. Well, that's okay though terpenting dia ini udah banyak berubah.

“Mama tadi telfon gua.” Akhirnya, satu kalimat pemecah keheningan. Sebenernya ga ada rasa canggung dalam suasana kayak gini. Mungkin pertama kali, waktu keadaan belum kembali jadi sedekat ini.

“Hmm..” Aku jawab seadaanya aja. Lagi proses ngunyah jadi susah ngomong. Ada jeda lumayan lama, ada wajah yang juga berpaling, pun ada binar kedua mata yang saling bertemu. “Emang mama ada butuh apa?” Aku melanjutkan setelah makanan hilang dari dalam mulut.

“Minta ditemenin kontrol bulan ini.”

“Ohh. Kapan?”

“Kamis...” Dia jawab ragu. “Kalo gak salah denger. Nanti gua tanya mama lagi.”

Aku menimbang sesuatu, mencari berkas-berkas jadwal kerja yang masuk dalam ingatan. “Kamis ya?”

“Kayaknya ga bisa deh.”

Dia ngangguk paham. “Gak apa, gua bisa. Nanti gua yang nganter sendirian.”

Terus dia tetep pada posisinya. Matanya ga berpaling liatin jalan lagi. Kayak udah di kunci permanen jadi ngeliatin aku lanjut makan. Mau ga mau aku ketawa kecil, nutupin muka yang ga bisa terkontrol sebab salting mampus. Kayak orang bego, kayak anak baru gede tau cinta-cintaan.

Padahal cuma dilihat, cuma diperhatikan. Rasanya pengen terbang. Jangan gitu tolong! Perutku rasanya geli, kayak ada yang bergerak di dalem terus bikin mual. Sumpah takut banget tiba-tiba muntah. Biarin aja, semaunya dia aja, aku lanjut makan sampai habis ga bersisa.

First buru-buru ambil paper bag. Pokoknya dia dengan cekatan bantu banyak banget. Sehingga aku bisa makan dengan nyaman, mudah, ga ribet. Duduk di mobil rasanya udah kayak reservasi di restoran bintang lima. Rasanya kayak jadi raja.

“Makasih udah kesini.” Kata aku. Dia kayak pahlawan kesiangan yang berhasil memecahkan masalah menu makan siang. Ga perlu mikir, tinggal duduk aja terima apa adanya.

“Hmm..”

“Makasih udah dibawain makanan.”

“Iya.” Dia jawab singkat. Tangannya maju, refleks mungkin bersihin ujung bibirku yang aku sendiri ga kerasa kalau kotor.

“Aku balik kerja lagi ya!”

“Oke. Gua juga balik ke rumah.” Dia senyum, aku pun begitu. “Maaf gak bisa bukain pintunya.” Lanjutnya, bikin aku terkekeh.

“Iya ga apa. Kan bisa sendiri. Hati-hati di jalan!”

“Oke.”

Aku keluar dari mobil, jalan pelan-pelan sambil nungguin Land Rover pergi ngelewatin. Apa ya? Ada banyak emosi positif yang pengen aku luapkan, tapi ga bisa. Dia tuh nyebelin, dia tuh susah dibaca. Aku tuh masih ga paham tujuannya dia kasih seluruh atensi dan afeksi ini apa. Sayangnya aku ga bisa tanya, sebab aku suka, aku nyaman, dan aku pasrah terima segala perlakuan yang dia kasih.

Aku suka perhatian. Aku suka diliatin sampai salah tingkah. Aku suka dipanggil pakai nama-nama kesayangan. Aku suka disayang. Sebab hal-hal yang berkaitan sama romansa ini yang aku mimpikan sejak lama. Karena itu aku merasa dicintai.


`hjkscripts.


First Point of View.

Seinget gua, awalnya itu dari hari kunjungan ke rumah mama akhir tahun lalu. Kalau gak salah, hari itu giliran gua sama Khaotung yang anterin mama buat check up bulanan. Kita bertiga termasuk papap udah bikin jadwal ke rumah sakit. Intinya biar semua yang lagi usahain kesembuhan mama jadi tau perkembangannya gimana, atau ada masalah apa.

Turns out setelah pulang dari rumah sakit, gua sama Khaotung dikejutkan sama masakan yang luar biasa banyak dan gak biasa di meja makan. Lampu agak dibuat temaram, ada lilin-lilin yang dinyalakan mengelilingi meja bikin visual masakan yang udah cantik kelihatan makin menggugah.

Mama nyuruh gua gak berhenti dorong kursi rodanya. Kita bertiga jalan sampai ruang makan dan beliau minta dipindahkan ke salah satu kursi. Terus, gua sama suami disuruh gabung masih dengan kebingungan. Mama cuma senyum-senyum kecil, belum sama sekali mau ungkapin semua ini untuk apa. Pastinya kita semua diem beberapa menit sampai papa datang dan jadi orang terakhir yang bergabung.

Makanan hari itu enak, saking enaknya sampai lupa udah berapa kali nambah. Sebab, selama makan malam suasananya dibuat nyaman dengan diisi obrolan-obrolan ringan menghangatkan. Gua si gak punya keluarga jadi bisa inget rasanya punya keluarga. Gua si gak punya keluarga jadi punya lagi memori tentang gimana rasanya jadi seorang anak dari orang tua. Meskipun gua tau yang lagi bersama gua ini cuma mertua.

Ah, shit! Hal-hal menyentuh hati gini ini yang selalu gua hindari selama empat tahun main rumah-rumahan sama suami gua. Hal-hal menyenangkan kayak gini bikin gua selalu jatuh dalam rasa bersalah seumur hidup. Karena kita ini lagi bohong, dan mereka berdua yang berakhir baik, menerima gua sebagai bagian dari keluarga mereka adalah korban dari tindak penipuan.

Empat tahun ya? Oh, gua baru inget kalau hari ini tepat empat tahun gua sama Khaotung bertahan jadi lakon di sinetron kita sendiri. Sekarang semuanya jadi make sense, masakan dan dekorasinya. Orang nikah boongan mana paham sih konsep perayaan anniversary. Mangkanya sama-sama kelihatan bodoh, mukanya clueless banget. Sebab selama ini kita berdua masih berputar sendiri di dalam lingkaran hidup masing-masing. Gak ada campur tangan, gak ada berbagi, gak ada cerita-cerita. Kita itu temen yang makin jauh bahkan setelah menikah.

Mungkin hari ini udah waktunya deh, kebohongan terungkap. Ketahuan banget apalagi waktu ditanyain ada rencana apa buat rayain tahun pernikahan. Cuman ya bagusnya ini, hasil dari bertahun-tahun jadi pembohong. Sudah handal, sudah lebih tenang hadapi situasi kayak gini. Maka hari ini kita masih selamat.

Setelah makan malam, kita gak bisa langsung pulang. Karena papap manggil suami gua ke ruangan kerjanya buat diskusi sesuatu. Lama banget, makan waktu berjam-jam. Sampai akhirnya mama keluar lagi dari kamar di anter sama suster jaganya.

Beliau membuat gestur yang mengajak gua berpindah tempat dari ruang keluarga ke beranda kecil di belakang rumah. Kita berdua disekat meja yang di atasnya sudah tersedia teh hangat kesukaan mama. Kita berdua yang larut dalam suara binatang malam. Kita berdua yang dihempas halus hembusan angin. Juga, kita berdua yang melebur bersama pancaran sinar bulan.

Malam itu mama bersuara lebih lembut daripada biasanya. Inilah beliau yang menerima keberadaan gua apa adanya. Malam itu gua bisa lihat sisi lain mama yang hanya seorang ibu dari satu putra. Seorang ibu yang tulus, banyak cinta kasih agar sematawayangnya bahagia.

Khaotung sejak kecil cuma punya sedikit cinta. Sedikit sekali dibandingkan lengkap dua orang tua. Papanya cuma tau bisnis, anak hanya sekedar ini anak saya. Sedangkan, ibunya gila kerja demi terlihat sepadan dia berdampingan dengan suaminya. Rumahnya terlalu besar untuk Khaotung kecil. Orang tuanya hanya berpikir Khaotung bisa bermain lari-larian, bisa berenang, atau main bola di sana, sehingga dia tetap jadi anak yang terpenuhi masa kecilnya.

Ternyata orang tuanya salah. Ruangan yang cukup belum tentu dapat memenuhi kebutuhannya. Gimana bisa lari-lari jika tidak ada yang menjadi pengejar? Gimana bisa berenang tanpa ada yang menjaga dari tenggelam? Gimana bisa bola bergerak maju jika tidak ada yang mengumpan?

Khaotung sendirian dan anak itu amat kesepian.

Puncaknya adalah ketika Khaotung menang dalam lomba tingkat SMA yang menghantarkan dia bisa kuliah di universitasnya. Orang tuanya udah janji, dan Khaotung yang saat itu begitu positif dia percaya mereka akan datang lihat dia naik panggung. Khaotung ingin kasih tau, kalau yang lagi dia lakukan itu adalah bagian perjalanan mimpinya. Dia juga ingin buktikan ke semua orang kalau bakatnya di bidang entertainment berasal dari papapnya yang banyak kasih dia pelajaran.

Namun anak itu terlalu percaya diri. Berharap pada manusia itu tempatnya sakit hati. Dan Khaotung terjebak dalam perangkap yang ia buat sendiri.

Kata mama, malam itu Khaotung meledak sebab banyak kecewa. Semua emosi yang entah sejak kapan dipupuk meluap semua. Mama terlambat sadar, dan papap sampai sekarang masih kuat terjebak. Meskipun mama ikhlas melepas semua yang beliau punya. Tetapi, Khaotung sudah lepas lebih dahulu dari dekapannya.

Khaotung pergi dari rumah, memilih tinggal sendiri. Setidaknya dia tinggal sendiri. Setidaknya dia gak perlu tunggu anggota keluarga yang gak pasti bergabung waktu makan malam. Setidaknya dia gak perlu tunggu orang tuanya pulang cuma buat pamer achievement yang dia dapat di luar sana. Setidaknya dia gak perlu tunggu untuk memejamkan mata hanya untuk sebuah kecupan dan ucapan selamat malam. Setidaknya dia gak perlu berharap-harap kehadiran manusia yang menawarkan kasih sayang ataupun cinta.

Mama nangis, intinya mama menyesal dan penyesalan itu sekarang cuma bisa buat dikenang aja. Gak bisa diubah karena banyak terlambat. Khaotung sudah bertumbuh sebagaimana orang tuanya membesarkan dia. Banyak kurang, banyak celah, banyak cacatnya. Bahkan, mama itu terlalu sombong. Melepaskan seluruh yang dia punya demi memperbaiki hubungan dengan anaknya malah jadi ajang balas dendam. Khaotung harus bisa mengabulkan seluruh permintaan mama, Khaotung harus nurut atas apa kata mama sebab mama sudah rela jadi seorang ibu tanpa apa-apa. Tidak punya pekerjaan, gak ada karir yang dikejar, ada mimpir yang harus dihentikan. Untuk melunasi itu semua, Khaotung yang harus bayar dengan hidupnya.

“Harusnya mama itu ikhlas. Karena jadi seorang ibu kuncinya ya cuma ikhlas. Ikhlas kasih semuanya, tidak terhingga. Cintanya, kasihnya, sayangnya. Tetapi mama ini yang nggak paham konsep jadi orang tua. Mama ini belum siap, dan ketidaksiapan ini merusak anak mama. Umur mama sudah nggak lama, nggak cukup lagi untuk perbaiki kesalahan mama yang begitu banyak untuk anak mama.”

Mama cuma bisa pegang kedua tangan gua. Pegangannya lemah sekali hampir gak terasa. Tetapi, ada getaran hebat dari keluarnya air mata. Ada banyak penyesalan yang sedang coba diikhlaskan.

“Umur mama sudah nggak lama, sayang. Hanya dengan ini, merestui hubungan kalian yang sempat mama tentang berharap kalian bahagia. Sebab, Khaotung yang bilang kamu orangnya. Kamu yang anak mama pilih sendiri untuk temani melanjutkan hidupnya sama-sama. Mama yakin kamu bisa kasih cinta ke anak mama yang nggak sempat mama tunjukkan. Mama yakin kamu bisa sayangi anak mama yang nggak sempat mama berikan.”

“Anak mama itu rapuh dalamnya. Sebab rapuh tolong dipegang erat-erat. Jangan jatuh, sebab jatuh nanti dia hancur berantakan.”

Gua baru sadar kalau kita ini salah, ya emang salah. Sebab salah harusnya kita bukan malah memperburuk. Kita itu kenal sebagai temen, bisa ngobrol ngalor ngidul, ketawa bareng. Harusnya kita tetep jadi temen, bukan bergerak mundur semakin asing. Harusnya nikah bikin kita makin deket, seenggaknya satu tingkat di atas jadi sekedar temen. Meskipun ada kontrak yang jadi batasan.

Sejak saat itu, entah kenapa gua jadi ingin bergerak. Ada perasaan meletup-letup yang membuat gua ingin membuat intensi-intensi kecil saat ada didekatnya. Mulai dari kita yang duduk di satu ruang, berakhir sarapan bareng. Mulai dari kita yang saling lempar percakapan gak penting, berakhir kita yang saling cerita apapun. Ternyata semuanya cuma butuh dimulai, dari hal-hal kecil timbul hal yang lebih besar dan lebih besar lagi.

Mulai dari permintaan, menjadi rasa kasihan, dan berakhir jadi kebiasaan. Yang kayak gini tuh namanya apa ya? Perasaan-perasaan aneh yang mulai muncul karena kebiasaan. Apa ya ini yang orang-orang bilang kalau cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa?


`hjkscripts.


Khaotung Point of View.

Dia beneran cuma tidur dan itu di samping aku. Aku bisa dengar nafas tenangnya, dengkuran halusnya, juga gestur kebiasaan waktu kesadarannya hilang seratus persen.

Dia terlentang dengan satu tangan menutup sebagian matanya. Sedangkan, tangan yang lain istirahat di atas permukaan perut. Dia itu tenang, minim berantakan. Aku tau sejak kali pertama dia yang lagi tipsy tiba-tiba mengetuk pintu kamar dan menginvasi kasur milikku seolah itu miliknya.

Empat tahun dan tingkahnya makin aneh belakangan ini.

Jika hubungan ini ditarik ke belakang tentu menjadi salah satu hal di luar nalar. Nikah kontrak ya? Kita menyebutnya begitu aja. Semua kejadiannya begitu cepat, bahkan aku sendiri belum sempat banyak berpikir dan ketika aku sadar, kami berdua sudah hidup dalam satu atap dengan sebuah ikatan yang bukan main-main pentingnya.

Kita ini adalah pasangan menikah yang lagi mencoba main bangun rumah tangga. Namun, rumah tangga memang susah dibangun sebab tanpa cinta. Aku kira kita cukup hanya jadi teman, kita cukup punya komitmen, dan kita cukup punya surat perjanjian. Tetapi menikah itu hal yang lebih besar dari sebuah perjalan hidup.

Kita berdua adalah orang asing yang semakin asing setelah ada status yang melingkar di masing-masing jari manis. Aku kira dengan keputusan yang kita buat, kita akan tetap menjadi teman, kita akan tetap bisa lebih banyak hangout bareng, ngobrol banyak, dan mengakhiri hari dengan ucapan selamat malam untuk mengantarkan tubuh lelah ke kamar masing-masing.

Faktanya, pada tahun pertama kita tidak berbeda dari sekedar individu. Rumah hanyalah tempat untuk tidur. Tidak ada komunikasi, tidak ada saling berkontribusi, serta argumentasi. Rumah ini selalu sunyi, hanya ada suara langkah kaki dari dua manusia terlalu mandiri. First itu memang teman terbaik, namun dia bukan suami yang baik. Bahkan aku juga demikian.

Ya gak apa, kan memang tujuan kita bukan untuk bangun rumah tangga harmonis. Kita ini lagi main pura-pura jadi pasangan suami. Cukup di depan orang yang butuh status kita, di luar itu urusan masing-masing lebih penting.

Toh apa yang kita butuhin sih? Apa-apa bisa sendiri. Dari dulu juga gitu. Kenapa harus panik waktu kompor ga bisa nyala? Kenapa harus bingung waktu pipa kamar mandi bocor? Tinggal panggil tenaga ahli semua beres. Kan ga perlu ya panggil suami dan ngadu biar diakalin dulu.

Hal-hal yang kayak gitu bikin hubungan kita semakin jauh dan jauh seiring berjalannya tahun-tahun pernikahan. Kita itu kayak bukan siapa-siapa melainkan orang yang sharing rumah.

But, we are here for damn four years! Aku tuh ga paham mau bersyukur atau gimana. Cancer yang diderita mama perkembangannya cukup lambat selama pengobatan rutin terus jalan. Meskipun, aku tau kondisi kesehatan mama terus turun karena faktor usia. Hanya saja, melihat mama masih sehat, masih bisa duduk, masih bisa ngobrol bikin aku mau sujud syukur berkali-kali untuk Tuhan.

Aku kira nikah boong-boongan ini ga akan bertahan lama, sebab aku sudah pasrah dan ikhlas kalau mama akan pergi begitu cepat setelah vonis dokter yang aku sendiri enggan bertanya kurang berapa lama. Yang pasti, di tahun kedua pengobatan mama berjalan, dokter cukup kagum dengan kegigihan mama, kegigihan kita juga yang nemenin mama sehingga beliau bisa lewatin masa vonis yang diprediksikan menurut kondisinya pada saat itu.

Kondisi yang membuat kita berdua terjebak dalam hubungan penuh kebingungan.

It's fucking four years dan kita mulai perlahan berubah. Entah sejak kapan, entah karena apa yang bikin komunikasi di antara kita bisa terkoneksi. First yang pertama mulai sih, aku kaget bentar tapi selebihnya nurut aja. Pokoknya dia yang waktu itu baru bangun tidur tiba-tiba duduk di sampingku, beneran cuma duduk sambil ngumpulin nyawa. Rambutnya berantakan dengan muka bantalnya, matanya yang masih sayu natap lurus ke arah televisi yang lagi nyiarin acara berita pagi dan aku di sampingnya lagi makan sarapan.

Jujur itu kali pertama kita bisa duduk bareng, ada percakapan timbal balik yang terjadi. Cukup panjang yang berakhir aku siapin dia semangkuk sereal lengkap sama segelas air putih. Sejak pagi itu juga, mulai ada pesan masuk berisi basa-basi yang selalu aku tunggu. Pesan masuk kurang penting yang menghilangkan rasa kaku dan membuat bibir kadang melengkung senyum. Intensi-intensi menyenangkan itu datang dan berkembang hingga kita ada di posisi ini.

Selalu dia yang memulai, dan aku bersyukur sebab dia memulai. Aku bisa menatapnya yang tengah terlelap. Aku bisa merasakan kehadirannya amat dekat. Aku bisa sentuh eksistensinya amat nyata. Aku, bukan aku yang memaksa, tetapi dia yang meminta.

Dia ini membuat diriku merasa berguna. Dia yang melihatku ada sebagai seorang manusia. Dia yang menjadikanku zona nyaman. Kita kini yang akhirnya saling berbagi ruang. Pula aku yang menunggu kejutan selanjutnya di masa yang akan datang.


`hjkscripts.


Christmas Eve December, 2024

Apakah ini yang namanya pernikahan? Tidak ada kawan maupun keluarga. Tidak ada lantunan musik mendayu mengudara. Tidak ada sorak-sorai tawa tamu tengah bercengkrama. Tidak ada tangis haru yang tercipta daripada saksi mata.

Apakah ini yang namanya pernikahan? Tidak ada perasaan membuncah tentang berbagai kata bermakna bahagia. Tidak ada dekorasi mewah bertema bunga-bunga. Tidak ada pakaian mewah yang mengundang binar para mata.

Kita yang tengah dipeluk hangat gereja kecil di pinggiran kota. Kita yang tengah berdiri di atas altar suci bersama harapan dan doa. Kita yang tengah dikerumuni segelintir jiwa. Pula, kita yang tengah bersama menghadap Tuhan diwakili pendeta.

Dua manusia berantakan yang akhirnya menjadi satu kesatuan. Mereka datang untuk disatukan dengan momen sakral yaitu pernikahan. Entah bagaimana awal dan akhiran. Juga, carut marut yang ada di balik bayangan.

Kini mereka saling mengucap, janji suci yang sebenarnya mengharukan. Tepat satu kali dalam tarikan napas dengan berbagai emosi yang melebur jadi satu. Akhirnya, mereka yang sudah sah di mata para saksi saling berciuman atas dasar kehausan. Mereka yang sudah sah mulai kini harus berjalan bersama menyusuri jalan yang tak tahu mana yang akan dituju.


`hjkscripts.


First Point of View.

Hari ini tepat beberapa bulan tenggat waktu berpikir. Harusnya sudah ada keputusan, harusnya udah gak ada lagi kebingungan. Hari ini apapun yang terjadi kita harus hadapi, kita gak bisa lagi mengulur waktu dan lari.

Dua dari empat yang ada di sini sebenarnya hanya korban dari ulah kita si anak muda impulsif. Si anak muda sok tau yang main-main sama kebohongan. Harusnya gua dan Khaotung mengaku lebih awal, mencegah segalanya terlambat jadi runyam. Tetapi si anak muda sok tau ini gampangin waktu, jadilah terbuang sia-sia dan yang lagi kita hadapi ini adalah konsekuensi dari keterlambatan.

Kita gak lagi duduk di kafe dengan santai seperti awal akhirnya kita bisa terbuka. Kita sekarang lagi duduk berempat di ruangan kantor yang dipesan khusus untuk bahas keberlanjutan masalah ini. Semua orang gak boleh tau, semua orang gak boleh dengar. Hanya ada kita dan Tuhan sebagai saksi mata.

Gua di sini duduk santai mengamati dua manager yang lagi serius bahas surat kontrak, dan segala macem yang gua gak paham betul. Mereka ngobrol pakai bahasa hukum, gua mah apa cuma tau main musik. Intinya mereka lagi cari kata-kata terbaik, alasan terbaik yang akan digunakan untuk ngobrol sama orang-orang termasuk atasan, staf, partner, dan penggemar.

Mereka berdua lagi cari cara terbaik untuk meminimalisir damage yang akan terjadi. Itupun kalau gua sama Khaotung memutuskan untuk menikah beneran.

Sedangkan Khaotung yang duduk di seberang gua nih kelihatan banget gelisah. Dia tenang, tapi gua tau percis isi kepalanya pasti penuh, carut marut. Dia yang datang langsung duduk, gak nyapa gua, gak sekedar basa-basi. Gua dibiarkan nganggur begini meskipun ini perbuatan bersama.

Harusnya gua marah sama Khaotung. Karena dia yang bikin gua terjebak di dalam dilema. Dia penyebab awal yang punya masalah sama mama. Tapi ya udah nasi lembek jadi bubur, toh gua juga mengajukan diri buat ikut campur. Sudah berdiri dititik ini ya gak usah ada adegan tunjuk menunjuk.

Gua yang duduk di sini bersama ide gila yang lagi menunggu untuk dilontarkan. Lagi-lagi impulsif, tapi seenggaknya cuman ini yang bisa gua bantu pikirin. Menurut gua cuma ini win win solution yang adil.


Khaotung Point of View.

Ini perasaanku aja apa ruangan yang lagi kita isi jadi lebih dingin. Aku sampai ga sanggup mau ngomong, saking takut gemetar. Badan udah menggigil semua, bahkan sweater tebal handmade dari salah satu designer terkenal yang lagi aku kenakan ga bisa mengimbangi.

Sesekali aku pandang kaca yang sedikit terbuka. Mulai ada titik-titik air yang datang membilas kotoran yang menempel pada permukaannya. Menuju akhir tahun, musim hujan telah tiba.

Bulan ini tepatnya November. Bukan waktu yang sebentar dari jarak pertemuan pertama kita. Akhirnya kita dipertemukan lagi disaat terpenting. Kita ini bukan lagi bahas rapat proyek biasa. Ini itu lagi ngobrolin tentang hidup dan mati. Salah sedikit karir orang dan punyaku sendiri bisa berakhir selesai sampai di sini.

Menyesal ya? Jangan tanya. Sampai air mata aja males keluar saking menurut mereka kita ini menyesali hal yang bodoh. Salah sendiri ga mikir, yaudah terima aja itu hubungan pura-pura yang mungkin sebentar lagi dikabulkan jadi hubungan yang sebenarnya.

Menikah ya? Bagi aku menikah itu suatu achievement penting dalam hidup yang harus dirayakan dengan gembira bersama orang-orang yang kita cinta. Menikah itu bukan sebuah perjalan yang bisa dibuat permainan. Menikah itu ibadah seumur hidup, ajang mencari kebaikan juga kebahagiaan dan menebar kasih sayang.

Lantas gimana kalau menikah dilandasi terpaksa. Lantas gimana kalau menikah diawali dari pura-pura. Tanpa kasih sayang atau cinta. Bukannya mengais pahala malah bermandi dosa.

Namun, aku belum tahu akhirnya. Rapat masih berjalan dan aku berdoa hasilnya yang terbaik.


Ciize menyudahi diskusi alot penuh argumentasi dengan Podd. Dia gak langsung ngomong melainkan menegak americano pahit dalam satu teguk habis. Kepalanya pening, seumur-umur dia belum pernah kedapatan harus mengurus skandal. Masalahnya Khaotung ini sifatnya luar biasa terpuji.

Ini memang bukan tentang sifat manusia yang merusak citra. Namun, kecerobohan yang membawa bencana. Gak apa harusnya, manusia kan gak sempurna. Hidup gak selalu berjalan lancar, pasti ada saatnya kena celaka.

Ya udahlah ya, Ciize maupun Podd mungkin lagi diuji atas gaji dan bonus-bonus yang mereka dapat dengan mudah selama ini. Soalnya artis yang mereka bawahi bukan tipe problematik, jadi belum pernah ada kesusahan. Anggap aja mereka sekarang lagi kerja lebih keras buat dapat yang lebih banyak.

Podd mempersilahkan Ciize aja yang ngobrol. Ciize tuh pinter banget maintain emosinya. Kalo dia yang ngomong takut kesulut. Hebat sih, Podd besok-besok harus berguru lebih sama Ciize, soalnya dia yakin akan banyak cobaan yang dia akan hadapi semenjak dia ditunjuk buat pegang EXIT.

Ciize pertama jelasin perkara kontrak kerja. Regulasi awalnya, mana yang masih aman dilanggar, mana yang gak boleh sama sekali dilanggar. Biar mereka ngerti baiknya gimana. Ini tuh langkah meminimalisir hukuman yang akan mereka dapat selain mulut sosial.

Tentu aja gak ada yang bisa lepas dari sanksi apapun keputusan yang diambil. Jika mereka pilih menikah jelas ada regulasi yang dilanggar dan ada denda materi juga pemberhentian sementara. Jika mereka pilih sudahi saja ada yang harus dibayar lebih mahal dari sekedar materi. Yaitu berhadapan dengan mama yang akan tau tentang kebohongan yang dibuat anaknya.

Mana yang lebih sulit diterima? Jawabannya semua akan ada konsekuensinya.

Ciize dan Podd ternyata mikir sejauh itu. Mereka sudah sampai bikin statement yang akan diluncurkan jika keputusannya mereka melanjutkan hubungan. Dan ini semakin membuat pelakunya dilema.

“Itu aja semua yang sudah i paparkan. Menurut i udah jelas ya. Inimah yang namanya maju kena mundur kena. Semua ada konsekuensinya, akan ada kerusakan yang ditimbulkan. I sama Mas Podd belum bisa memutuskan harus begini dan begitu. Kita cuma bisa kasih opsi. Sekarang kita tanya dan jawaban cuma kalian yang menentukan.” Ciize menutup akhir pemaparannya. Cukup sampai di sini dia bisa bantu.

“Jadi kalian ini mau kabulkan permintaan mama atau mengaku kesalahan kalian sama mama?”

Ini sih yang bikin males, pertanyaan yang sebenarnya masih ada keraguan dalam jawabannya.

First apalagi, kepalanya udah penuh sama bayang-bayang ekspresi mama yang nangis kepayahan. Beliau yang seperti meminta First buat jaga anaknya kalau beliau udah gak ada. Karena Khaotung memilih First. Karena mama percaya Khaotung, First adalah orangnya.

Ibunya dulu juga kanker, sudah terlambat waktu ketahuan. Udah parah, dokter udah minta dipasrahkan aja. Tapi First mau rawat, dia kerja keras. Saking kerasnya dia cari biaya sampai dia gak ada di sisi ibu waktu jantungnya untuk terakhir kali berdegup. Ibu gak ninggalin wasiat apa-apa, tetapi First yakin ibu pasti mau bilang sesuatu. Cuma First terlambat datang, dia gak di sana, dia cuma bisa denger suara alat yang nyaring waktu masuk ke ruangannya.

First gak mau hal itu terjadi sama Khaotung, sama dia juga untuk kedua kalinya. Sampai di sini aja banyak waktu yang terbuang. Kita semua gak ada yang tau sampai berapa lama mama bertahan sama penyakitnya. Namun di sisi lain, First belum mau mengakhiri masa jayanya sebagai musisi, artis yang mulai naik derajat di mata publik.

“Gimana kalau kita nikah kontrak aja.” Dan cuma ini yang ada di dalam pikiran-pikiran putus asa.

“Nikah kontrak, maksudnya?”

“Ya kita nikah, sah hukum dan agama. Cuman dibelakang itu ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Gak ada yang boleh tau kita nikah selain pihak tertentu. Asalkan mama tau kita nikah, asalkan keinginan mama sudah terpenuhi. Kita harus saling jaga biar hubungannya tetap seperti ini sampai...” First berhenti, gak sanggup mau ngomong.

“Sampai umur mama udah berhenti.”

Mereka masih menjadi manusia-manusia yang hidup di balik kebohongan.


`hjkscripts.


Ciize tentu mematung waktu pintu ruang rawat inap yang dia udah yakin banget milik siapa dibuka lebar-lebar. Wajahnya yang semula sumringah, ingin terlihat baik banget di depan mama sekaligus istri pemilik agensi tempatnya bekerja.

Bagaimana tidak, ketika pintunya dibuka ternyata di dalam sudah ramai. Bukan cuma keluarga kecil bosnya tapi juga ada satu cowok yang dia yakin cuma temen udah ada di sana. Suasananya gak meriah, lebih ke sunyi ada sedih-sedihnya. Keliatan banget ada jejak air mata yang udah mulai kering di pipi mama. Matanya sembab, juga suaranya masih parau.

Namanya First, Ciize cuma sekedar tau. Dia gak ngorek lebih karena Ciize bukan tipe manager yang kayak gitu. Maka dari itu Khaotung seneng banget sama Ciize, nyaman orangnya. Ciize tuh bakal nunggu sampai Khaotung ngomong sendiri. Biasanya pasti ajak ke kafe ala kadarnya, yang sepi gak mentingin rasa. Pokoknya cuma ada mereka berdua yang ngobrol dari hati ke hati. Menyalurkan satu rahasia dari rahasia.

Akhirnya Ciize paham topik ngobrol hati ke hati hari ini. Ini orangnya juga ada, masalahnya dateng di depan mukanya sendiri. Benang merahnya kayak punya pikiran buat nyari jalan biar gak ruwet satu sama lain.

Maka mereka bertiga akhirnya duduk melingkar di kafe bawah rumah sakit. Kafe sempit cuma tersedia lima meja yang lagi kosong semua. Sisa mereka sama barista yang entah sibuk apa.

Diskusi meja itu berlangsung lama. Gak ada suara keras, gak ada gebrakan meja ala sinetron, gak ada kaget lebay yang sampai melotot-melotot dan harus nyiram air putih ke muka lawannya. Karena mereka bertiga sekuat tenaga jaga emosi, mereka bertiga pakai otak dingin biar bisa cerna runut ceritanya.

Mostly Khaotung yang cerita, dari awal ketemu sampai kejadian kayak gini bisa tercetus. First kadang cuma jawab alakadarnya, elaborasi Ciize lebih lanjut tentang detail yang tertinggal. Mereka berdua pastikan ceritanya fakta, gak ada rekayasa, gak ada bumbu perasa. Sebab mereka gak mau ada salah langkah lagi yang nantinya akan tambah runyam.

“Mama awalnya menentang, mba. Begitupun papa, beliau gak vokal tapi gesturnya satu suara. Aku kaget waktu mama bangun dan pertama yang dibahas sama aku tentang kita. Mama nangis, katanya dia takut ga bangun, ga lihat aku bahagia dulu. Terus mama bilang, beliau ikhlas apapun yang jadi kebahagiaan aku itu juga jadi impian beliau yang akhirnya tercapai. Asalkan aku menikah, asalkan aku yakin sama pilihanku sendiri. Kalau memang First orangnya, mama akan restui.” Khaotung bercerita, sambil mengingat kata mama di malam dia akhirnya siuman.

Mama yang Khaotung tahu beneran beda dari yang biasanya. Mama lemah, gak berdaya, pikirannya udah kemana-mana. Jalan hidupnya sekarang diisi sama permintaan-permintaan yang dia belum capai, minim ambisi. Semuanya diserahkan pelakunya asal terlaksana sebelum waktunya tiba. Mama sekarang adalah paruh baya yang hidup sambil kejar-kejaran sama waktu.

Ciize awalnya gak paham, ada kecewa juga. Secara personal dia bisa bantu paham, dia ngerti juga gimana tertekannya hidup sebagai Khaotung. Dia sama pusingnya waktu Khaotung marah, jengkel, dan putus asa secara bersamaan karena tingkah mamanya yang gak udah-udah.

Tetapi sebagai seorang profesional manager, ini adalah ancaman besar. Masalah menyangkut hati yang dimulai dari keputusan impulsif ini gak bisa ditangani dengan gegabah. Harus dipikir dengan matang, harus dicari jalan keluar yang akurat. Kalau salah pilih jalan akan jadi tersesat dalam kerumunan hujatan. Citra yang dibentuk, karir yang dibangun, akan hancur lebur seketika.

Inilah yang biasa disebut dengan skandal. Ciize yakin gak ada orang dalam industri ini mau ketimpa kasus apapun bentuknya.

Menikah ya... kalau boleh Ciize mau sujud aja. Minta keringanan sama ibu bos buat mereka pacaran dulu. Setidaknya kalau media berhasil mengendus ceritanya gak gempar-gempar amat, gak ada alasan orang buat pacaran, saling suka. Tim juga gampang mau bikin statement. Hater gonna be hate anyway.

Beda lagi kalau masalahnya menikah. Apalagi tiba-tiba, iya kalau memang hubungannya terjadi dibelakang lah ini yang menjalani juga kebingungan, gak siap. Ciize lagi mikir worst case yang akan dia hadapi nanti kalau pernikahan ini beneran terjadi. Gimana dia sama tim bikin statement, gimana dia sama manager lainnya adjust kehidupan artisnya. Karena menikah itu gak semudah mengajak, tapi dia mengubah hidup seseorang.

Mereka bertiga akhirnya sadar waktu melihat jam dinding kafe sudah menunjukkan waktu sore. Makan waktu tiga jam lebih buat diskusi dan hasilnya nihil. Mereka sadar bahwa masalah yang lagi dihadapi bukan hal biasa, tapi luar biasa bikin pusing. Jalan terbaik adalah berdoa semoga yang diberi sakit umurnya dipanjangkan agar memberi mereka yang berpikir lebih lama. Jalan terbaik pula adalah pulang dan mencerna.

Semoga hari esok akan bersinar cerah memberi petunjuk pada jiwa-jiwa yang tengah tersesat.


`hjkscripts.