hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


TRIGGER WARNING ; SEXUAL CONTENT 🔞

Gawin Point of View.

Kejadiannya di parkiran rumah sakit, gak paham juga kenapa kita bisa sampai di rumah sakit. Tepatnya di dalam mobil van yang biasa melalang buana di jalan, nganterin dari satu venue ke lainnya.

Seinget gue, telinga masih berdengung keras sorak-sorai kerumunan orang yang tambah malem makin gak karuan. Gue masih bisa denger Mas Podd di sebelah ikutin Alex Turner lagi merapalkan lagu Mardy Bum. Terus ada letupan kembang api di atas awan hitam legam pada bagian interlude.

Mas Podd semangat banget as if lagu ini yang ditunggu. Dia nyanyi sambil sesekali melempar pandangan ke gue, all flirty and some. Beberapa orang udah mulai liar, ada yang mabok juga. Bingung, tapi konser kayak begini udah biasa harusnya meskipun di poster ada larangan gak boleh bawa minuman keras.

Pas banget lagu selesai ada anak cowok, masih muda jual minuman soft drink. Gue beli satu gelas, jumbo banget. Biasanya gelas kayak gini, khas gelas-gelas ukuran large soft drink di Amerika. Gue terus minum, sekali banyak soalnya udah haus banget. Lantas, mulai detik itu kesadaran gue mulai perlahan memudar.

Dalam hati gue cuma mengumpat. Bangsat! ternyata ini dia penyebab orang pada gila. Kena gue brengsek! Mana segelas gede itu langsung habis setengah. Ancur udah hidup gue, dan apapun yang terjadi besok udah gue serahkan kepada takdir aja.

Kesadaran gue baru balik dua puluh lima persen waktu gue denger suara berisik dari kursi belakang. Gue udah di mobil van, gelap, sunyi juga waktu mesin dimatiin dan First lari keluar buru-buru. Iya, kita cuma bertiga gue juga gak nanya Bang Earth ada di mana dan temen-temen gue sisanya. Pokoknya sepengelihatan mata gue yang kabur ini ada tulisan 'rumah sakit' di depan sana dan kita lagi ada di parkiran.

Namanya orang mabuk ya beda-beda ulahnya. Maka inilah gue, si bodoh yang kalo mabuk suka clingy ke orang terdekat. Gue itu sekarang dalam kondisi bingung. Pikiran kalang kabut jadi gak waras. Gue tau sekarang ada di mana, gue tau sekarang sama siapa, tapi gue gak bisa diem dan kendaliin diri sendiri.

Gue malah mencoba melepas seat belt, dan jaket yang kayaknya dipinjemin Mas Podd. Gue juga impulsif mau buka baju tapi ditahan sama Mas Podd. Terus rasa kantuk menyerang yang membuat gue malah menjatuhkan kepala gue di bahu Mas Podd.

Cuma ada helaan napas masing-masing. Samar pula gue bisa denger debaran jantungnya yang berantakan, badannya dia juga tegang. Pada detik itu hati nurani gue rasanya pengen keluar terus neriakin gue biar bangun, sadar dan berhenti gila. Soalnya, tangan gue mulai bergerak mencari kenyamanan di tubuh yang gue baru tau begitu hangat.

Tangan gue terus membelai, berpindah dari satu titik ke ketitik lain ketika sudah mendingin. Tangan gue dicekal cepat, bersama suara napas berat menghentikan kegilaan gue sebelum jadi liar.

“Kalo lo gak berhenti sekarang, semuanya bakal berantakan.” Mas Podd memperingati.

Namun, gue ini udah mabuk juga mendadak terangsang. Bukannya berhenti malah lanjut menjelajahi. Gue masih ingat gimana gundukan disana makin mengembang, sesak minta dikeluarkan dari dalam celana jeans ketat. Gue juga masih ingat gimana gue ketawa kecil tanda kepuasan setelah berhasil menggoda.

Mas Podd dorong badan gue, menjauh dan menatap wajah gue keliatan berantakan, teler, kayak orang goblok. “Gue bilang berhenti kan?!” Peringatannya sekali lagi. Suaranya udah berat, ada birahi yang terbangun dari tidurnya.

Orang gila ini malah senyum, menggoda kayak mengundang buat dijamah. “Cium gue coba.” Kata gue menantang. “Jangan kayak om-om sangean di luar sana, wajah lo serem tolol!” Lanjut gue. Kalau yang di depan gue bukan Mas Podd, mungkin karir gue detik itu tamat.

“Lo pengen cium gue, kan? Lo pengen nyesepin bibir gue, kan? Wajah lo keliatan banget, mas.”

Sumpah-sumpah demi apapun gue gak mau mabuk lagi. Waktu ingetan tentang malem itu balik satu persatu kayak potongan puzzle, wajah gue kayak ada yang ngegaruk, kulit dikelupas, dan gue gak berani keluar ketemu siapapun.

Gue yakin Mas Podd bukan cowok bijaksana. Dia itu cuma mas-mas pada umumnya yang punya tingkat kesabaran. Tepat kesabarannya habis menghadapi gue, maka yang katanya ketidaksengajaan itu terjadi gitu aja.

Mas Podd narik kasar kaus gue, membuat bibir akhirnya bertemu bibir. Dua-duanya otak kosong, logikanya ilang diganti nafsu. Gak ada definisi cium, melainkan saling mengecap, bergantian melumat, semua dijamah dari bibir hingga lidah, juga saling mencampur saliva. Gak ada permainan lenbut, cuma ada gerakan kasar, seolah-olah kita ini gak bisa lagi ciuman besok hari. Cuma ini kesempatan terakhir. Di atas pangkuan kaki kokoh itu gue hanyut dalam aliran sehat yang gue ciptakan sendiri.


`hjkscripts.


Khaotung Point of View.

Berdiri di depan lobby rumah sakit aku kebingungan. Dada naik turun, meraup kasar udara bebas. Peluh sebesar biji jagung meluncur gitu aja, kepala mendadak pening, dan mata berkunang-kunang.

Otak ini isinya ga ada, kosong. Telinga rasanya berdengung berisik nada-nada berbeda dari mulut orang lalu-lalang. Akhirnya aku baru balik dari alam sadar waktu bahuku ditabrak dari belakang.

Aku masih pakai baju lumayan fancy tapi bentuknya udah ga karuan waktu papap sampai di lobby. Kita jalan agak jauh ke daerah intensif, ga langsung masuk ke ruangannya, cuma bisa lihat badan lemes mama dengan berbagai alat yang udah terpasang di beberapa bagian tubuhnya.

Bergeming, mendadak dada sesek banget. Ada perasaan aneh-aneh muncul yang sedikit demi sedikit meruntuhkan pertahananku. Merasa bersalah, anak ga berguna, egois parah, dan anak durhaka.

Bergeming, panas mulai meraba dua mata. Emosi mulai membuncah, marah bercampur kecewa. Aku dibuat lemas, ga berdaya tetapi mau pingsan pun ga bisa.

Bergeming, biarkan air mata yang berbicara. Sebenernya ini mimpi atau nyata? Sebab aku bingung saat ini hidup dalam dunia apa. Aku saat ini juga mau bangun dari tempat tidurku yang nyaman, memulai hari dengan pesan dari mama yang begitu menyebalkan. Setidaknya beliau masih sibuk mencari celah bercengkrama bukan melalang buana entah di alam mana.

Nyatanya, aku bergeming bersama air mata penuh penyesalan kini bukan mimpi belaka melainkan kisah nyata. Aku yang berantakan ini tengah dihukum dalam neraka dunia sebab menjadi anak durhaka.


`hjkscripts.


Khaotung Point of View.

Aku ini melangkah bersama ketidaktahuan. Menerpa angin kencang menembus besi penghalang. Kaki-kaki ini berjalan menuju haluan semu. Tangan menggandeng pula rasa penasaran apa yang ada di balik pintu.

Inilah aku anak lugu, diperintah datang ke rumah sang ibu. Penurut aku hingga pantas menolak ratusan ribu. Padahal entah apa ganti yang aku akan dapat. Sekecil makan malam bersama pujian pun sudah senang sangat.

Harusnya aku tahu tabiat orang tua. Harusnya aku sadar bahwa inilah yang akan terjadi. Bukan sulap bukan sihir, bukan pula dari pengasihan yang mampir. Bukan makan bukan pujian, adalah laki-laki beserta keluarga lengkap buah tangan yang hadir.

Mama, mama kok ya ga berubah. Aku tahu ini arahnya kemana. Betulkan? Belum juga duduk, tanpa salam basa basi. Baru juga duduk, sudah dikenalkan sembari diagung-agungkan dengan bahasa tinggi.

“Khao, ini calon suami kamu. Mama sudah sempat ngobrol sama mereka, bulan depan pernikahan diadakan.”

Kok bisa ya segampang itu? Oh ya jelas! anak kan permata orang tua. Permata itu indah, dijaga, dipamerkan, ujung-ujungnya ya dijual. Bodo amat sama orang mau beli, asalkan dia bisa kasih harga tinggi.

Menurutku anak ya anak, bukan harta, bukan juga aset belaka. Ga ada nilai, ga bisa diperjualbelikan. Tetapi mungkin mindset yang tertanam di kepala mama adalah aku ini hanyala barang berharga yang dijaga, dirawat sampai besar, hingga pada waktunya bisa ditukar demi nilai kenyamanan juga kebahagiaan dia sendiri.

Gila bukan? Iya gila, tapi aku hari ini akan lebih gila. Sebab, cukup untukku menjadi bola yang bisa ditendang sana-sini. Bahkan pemain bola pun ada istirahatnya, sedangkan aku terus menggelinding dari kaki ke kaki tanpa ada henti.

BRAK!!

Semua sontak sunyi, tak ada pekikan terkejut namun aku tahu mereka semua berjengit. Badan-badan kini tegang, napas tercekat, juga suara pun keluar tak dapat. Mereka semua ini kurang ajar, ga tau tata krama. Memangnya mereka ini siapa bisa atur hidup manusia, Tuhan juga bukan.

“Menikah? Siapa yang mau menikah?” Kataku dengan nada nyaris rendah, menghimpit emosi yang memberontak ingin diluapkan. Masih aku tahan, masih diusahakan tak meledak atau nanti semuanya jadi berantakan.

“Khaotungㅡ”

“Mama itu lancang. Selalu lancang ikut campur atur hidup aku.” Aku memotong langsung suara mama yang akan melayangkan argumentasi. “Aku ini kurang apa sebagai anak? Kurang apa, mam? Sejak lahir selain Tuhan yang bekali aku dengan jalan hidup sampai mati, ada mama yang ikut menentukan kemana arahnya hidup aku. Aku berontak? Apa aku pernah tolak? Ga pernah, mam. Aku ini sudah kayak pendosa yang ga percaya jalan hidup yang Tuhan kasih demi memuaskan hasrat mama. Karena Khaotung ini anak mama satu-satunya.” Lanjutku.

Hari ini semua orang, khususnya mama harus tau gejolak emosi yang bertahun-tahun aku simpan sendiri. Mereka harus rasakan sensasi hidup demi memuaskan egois. Mereka semua harus paham rasanya tertekan. Pula, aku harap mereka mengerti jika ini berlebihan dan tidak bisa ditolerir lagi.

“Mam, bahkan Khaotung seperti berani mengesampingkan Tuhan demi bahagianya mama. Sampai kapan mama mau Khaotung terus jadi pendosa demi ga menjadi anak durhaka? Demi apapun Khaotung capek. Khaotung ini sampai bingung aku ini anak atau tas koleksi mama yang sewaktu-waktu dapat dijual. Huh? Khaotung ini anak mama atau cuma aset mama sekarang mama jawab?!”

“Mama tau Khaotung sering dilecehkan sama anak temen mama. Mereka pandang aku rendah meskipun mama bilang aku harta berharga. Peduli apa mama sama masa depan aku sekedar tanya apa aku baik-baik saja mama ga mampu. Mama ini itu duniaku, milikku sendiri, dan mama atau siapapun ga berhak untuk mengatur. Urusan hidupku tanggung jawabku hanya kepada Tuhan bukan orang lain. Ngerti ga mama?!”

Hingga aku pun tak sadar bahwa sekuat apapun aku menahan konversi emosi yang bersarang dalam diri ini. Pada akhirnya akan mendidih, mereka panas meletup letup dan menciptakan energi yang amat besar sekali mengalahkan tembok kesabaran yang dibangun dengan mengais bahan-bahan sisa. Mereka hancur, berkeping-keping dan ledakan emosi tak dapat dielakkan kembali.

Semuanya yang aku pendam selama ini, tanpa terhalang sungkan dan rasa hormat pada sosok ibu yang aku masih yakin kasihnya sepanjang masa. Tanpa takut akan menjadi anak durhaka. Aku keluarkan semua, bersama isakan parau, kalimat yang semakin lama semakin terbata sebab ada begitu banyak perasaan yang dibawa hingga dada terasa sesak. Sisanya biarkan bulir air mata yang mengatakan segalanya.

Selama kaki-kaki masih sanggup berdiri tegak. Selama pusat hidup manusia masih sanggup diajak berkolaborasi dengan lainnya. Aku menjadi defensif dan egois. Semua orang yang ada disini salah, aku korban, maka tolong dengar suara piluku untuk kali ini saja.

Tanpa ada argumentasi. Tanpa ada solusi. Pula, tanpa ada konklusi.

Terakhir aku berbalik dan pergi membiarkan semua orang mencarna dan aku harap mereka semua akan mengerti. Iya, aku harap.


`hjkscripts.


Khaotung Point of View.

Kebingungan ini buat pusing kepala. Kebingungan ini mengacaukan segalanya. Kebingungan ini dipikir hilang logika. Kebingungan ini aku tak tau mana nyata atau maya.

Kayaknya udah lebih satu dua bulan berlalu. Kejadian hari itu, dimana tiba saatnya aku bawa; yang katanya tambatan hati pulang ke rumah. Pertama kali dalam hidup, bukan pilihan mama, bukan anak teman mama. Bukan juga kolega sana sini, tetapi dia pilihanku sendiri, meskipun ada bercampur drama duniawi.

Aku pulang membawa kabar suka menutup perjanjian dibaliknya. Aku pulang membawa ikatan dusta. Aku penipu, aku durhaka, aku anak penuh dosa. Terus ya ini balesannya, langsung kena karma.

Ga boleh, hubungan tipu-tipu ini ga disetujui. Tapi anehnya aku ini masih kekeh. Padahal pihak kedua juga kayaknya ga peduli-peduli amat. Emang niatnya nolong doang, emang akunya yang lagi dilema.

Aku ini terjebak entah ada di dunia nyata atau maya. Sulit bedain lagi menjalani kehidupan sesungguhnya atau main drama. Harusnya sejak penolakan dilemparkan, meskipun ada debat kusir setelah First Kanaphan keluar dari pintu semua selesai sudah.

Toh mama maunya hubungan disudahi, begitupun juga papap. Ga ngomong apa-apa cuman gesturnya amat menentang. Sedangkan aku, kayaknya ga sadar masih main peran, masih kelilit sama skrip yang dibuat otakku sendiri.

First Kanaphan itu adalah pacarku. Orang yang aku pilih sendiri. Orang yang aku sayang, orang yang aku cinta, dan orang yang mau aku ajak hidup selama-lamanya.

Harusnya aku berhenti. Harusnya aku sadar. Tapi otak sama hati ini kayak ga mau berkolaborasi. Mereka ga mau berdiskusi, jadilah dua oposisi. Otak bilang sudahi, tapi hati terus berteriak jangan berhenti sampai disini.

Maka aku dan carut marut dalam diri terus mengeluarkan doktrin kepada papap dan mama kalau First itu masih jadi pilihan, ga bisa diganti, ga ada dua, dan harus dia seorang.


`hjkscripts.


“Saya nggak setuju.”

Satu kata penolakan yang menjadi akhir drama bersandiwara. Tidak ada kata maaf, artikulasinya tegas. Gesturnya tanpa sungkan mendorong kembali buah tangan pada pemilik pertama.

Beliau tidak menerima apapun, walaupun hanya sekedar basa-basi. Seluruh upaya, panjang cerita tentang dirinya ditolak mentah-mentah akhirnya. First tersenyum, ya pasrah memang harus gimana lagi. Apapun keputusannya bukan jadi masalah.

Khaotung gak demikian. Dia tegang, dia kecewa, dia kebingungan. Kalau First ditolak maka artinya tidak ada jalan yang terbuka. Waktu yang dia harapkan, ketenangan duniawi sementara yang dia impikan hilang begitu saja. Setelah ini masih ada daftar nama-nama manusia yang harus dia temui dan ajak basa-basi.

Enggak, dia gak mau. Kerja itu capek, tetapi daripada harus menghadapi ngobrol yang gak jauh dari nama sama background keluarga kerja jadi tampak kegiatan menyenangkan.

“Mam, ya ga bisa begitu dong!” Khaotung berdiri, mendadak emosi, juga suaranya jadi tinggi.

“Sayangnya mama, dia itu gak pantas buat kamu. Dia gak pantas buat keluarga kita.”

Orang kaya kenapa template banget ya jawabannya. Emang kriterianya gimana yang pantas? Padahal dihadapan Tuhan semua manusia sama. Manusia-manusia macem gini aja yang suka mengkotak-kotakkan derajat manusia.

Giliran First diem, sakit hati sih dikit, bukan karena ditolak melainkan ada harga diri yang lagi diinjak meskipun ini cuma sandiwara. Kok ya kenapa gak nanti aja ngomong begitu waktu dia udah gak ada. Kayak sengaja banget biar First tahu dia seharusnya gak lagi duduk di sofa import rumah mewah. Harusnya dia tidur aja di apartemen, dengerin lagu sambil scroll sosial media. Membanjiri dirinya sama pujian-pujian yang penggemar di luar sana bagi buat dirinya.

“Pantas itu bagi mama yang seperti apa?” Khaotung menyahut kembali, suaranya geter mulai panik. “First itu pantas buat aku. Cuma dia yang pantas, ga ada lagi. First ini yang terbaik, pilihanku sendiri.” Lanjutnya.

Hanya saja seberapa keras argumentasi yang dia lontarkan, selalu dimentahkan sama mamanya. Ada banyak alasan kenapa First gak cocok dan First sadar akan hal itu. Khaotung cuma gak mau nyerah, sebab kalau hari ini gagal habis sudah hidupnya.

Suara makin tinggi, hawa juga tak terkendali. Kalimat-kalimat yang semula masih ada unsur hormat, telah berubah kasar menjadi-jadi. First gak bisa diem terus disini, sebab semakin lama dia bertahan, semakin habis harga diri.

Maka First berdiri, memotong debat kusir antar ibu dan anak dan pamit undur diri. “Nyonya, Tuan maaf kedatangan saya menbuat keadaan semula nyaman jadi runyam. Jika memang anda berdua sudah tidak berkenan akan kehadiran saya, saya pamit pulang sekarang.”

“Tapi... First?!” Lengan First dicekal sebelum dirinya menginjak langkah ketiga. Ada ekspresi sedih dan juga bingung dari empunya.

Namun First tersenyum getir, yang ini First yakin bukan sandiwara. Ini adalah akumulasi dari emosi miliknya yang valid.

“Khao, udah ya. Gak apa, aku pergi aja.” Katanya sembari melepaskan genggaman di lengannya.

Sekali lagi dia berikan ucapan terima kasih sebagai bentuk kesopanan sebelum dirinya pergi menghilang dari balik pintu jati bersama hati yang harus dilindungi.


`hjkscripts.


Laki-laki yang turun dari jok penumpang melepas helm dari kepala. Dia kasih helm kembali ke empunya motor gak lupa sama beberapa lembar uang pas. Dia ditinggal gitu aja, tepat di depan rumah mewah bergaya klasik yang bikin matanya tak berkedip beberapa detik.

Padahal matahari sudah terik di pagi hari, panasnya menyengat kulit, tetapi lelaki yang kerap dipanggil First Kanaphan; si artis baru yang lagi dielu-elukan namanya belum mau beranjak mendekat ke arah pagar. Dia malah taruh barang tentengannya di beton sebatas pinggang.

First benerin tatanan rambutnya yang acak-acakan karna hari ini dia milih gak pakai gel rambut. Dia gak lupa juga kebas-kebasin bajunya dari debu jalanan. Terakhir, semprot parfum di titik-titik tertentu, sebab dia merasa bau parfumnya sudah tersapu angin. Laki-laki ini gak menyangka kalau alamat yang dia dapat ada di salah satu perumahan elit dan rumahnya juga gak kalah besar bikin perutnya mendadak melilit.

Ini sih rumah biasa muncul di sinetron. Rumah orang kaya yang tiap pagi makannya mana pernah diabisin. Tapi bedanya dia belum lihat satpam atau si mbok jawa lugu dengan pakaian super sederhana menyambut kedatangannya di depan pagar. Rumahnya terkesan sepi, malah dia jadi ragu apa bener alamatnya disini.

Kaget, dia kaget juga lega ketika pagar tinggi yang jadi pelindung pertama rumah mewah itu terbuka otomatis dan yang bikin lega dia ternyata gak salah. First sabar menunggu pagarnya bergerak perlahan, kayak tirai acara super deal yang kalau lagi dibuka bikin deg degan. Bedanya disini yang bikin jantungnya tiba-tiba berdegup kencang adalah kala sedikit demi sedikit terbukanya pagar mengungkap paras lelaki yang dia amat kenal tengah tersenyum tepat di seberang dirinya berdiri kini.

Oh, bener berarti ini rumahnya.

First menyambar barang bawaannya setelah dipersilahkan empunya rumah masuk lebih dalam. Dia baru tau kalau rumah kayak gini, kadang ya pemiliknya langsung bukain tamunya. Eh atau Khaotung memang terlalu down to earth orangnya. Mereka melewati taman kecil, ada pancuran juga, berfungsi baik pertanda kalau rumah ini dijaga betul keindahannya. Akhirnya mereka sampai di depan pintu.

Khaotung bergeming, belum mau bukain pintu dominan putih yang di baliknya ada surprise yang akan mereka hadapi hari ini. Di balik pintu jati ini ada misi tersembunyi, ada pikiran dan hati yang akan dibolak-balikkan. Kayak, di balik pintu ini adalah akses masuk dalam permainan yang akan mereka mainkan. Permainan yang disebut sandiwara.

Khaotung berbalik, menghadap pada First. Ekspresinya berubah total dari hangat menjadi penuh khawatir. Dua manik matanya bergerak gelisah mencari kepastian dari milik lawan dihadapannya. Ketika mereka bersitatap, ada pesan yang disampaikan tegas sorot matanya. Jika First ingin mundur, inilah waktunya, gak apa. Jika First ragu inilah saatnya. Sebab, jika pintu telat dibuka, dan sandiwara sudah mulai, tidak ada jalan untuk mundur melainkan selesaikan naskahnya sampai tuntas.

Anggukan First jadi pertanda, senyumannya jadi sebuah respon cepat yang hanya itu sanggup dirinya bagi untuk insan gelisah. First masih pada pendiriannya, lelaki ini masih pada satu tujuannya. Menolong Khaotung, mencarikan lebih banyak waktu. Karena First Kanaphan ini adalah sosok teman yang bisa diajak kompromi. Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja.

Hembusan angin kecil melintas secepat kilat menyapu pipinya kala pintu besar dibuka lebar-lebar. Ada sambutan, dua orang paruh baya. Ada pekikan hangat juga senyum kelewat ramah. Pula, ada raut wajah dipenuhi tanda tanya.

First saat ini seolah tengah diinspeksi, mata tua dari wanita yang tersenyum hangat tidak hanya sekedar menyambut juga memindai parasnya dari ujung rambut hingga kuku kaki.

First Kanaphan hari ini menjadi dirinya sendiri. Mengusung sopan dan sederhana. Rambutnya dia biarkan turun agar tampak lugu, hanya memakai kaos putih dilapisi blazer tipis, juga celana jeans minimalis.

First Kanaphan hari ini menjadi dirinya sendiri. Bingung juga mau berubah menjadi siapa, sebab dia sendiri sebenarnya belum pernah mengalami hal sepenting ini dalam hidupnya. Ini adalah salah satu tingkah nekat, impulsif khas tabiat kawula muda.


Duduk berdampingan dengan pasangan tuh kayak gini ya rasanya. Nervous dikit, padahal pura-pura. Kayaknya berhadapan sama hakim lebih mudah daripada ditatap sama orang tua. Orang tua yang penuh harapan, penuh tuntutan, juga banyak cita-cita.

Terakhir kali First bergaul sama cinta-cintaan tuh waktu SMA, cinta monyet gitu. Isinya cuma gombalan sampis, bucin sana-sini. Pastinya mereka berdua yakin betul kalau cintanya gak serius, bisa putus kapan aja. Waktu kuliah, First jauh banget sama romansa. Belajar, lari proyek satu ke proyek satu lagi, ngumpulin duit, gak sempet sekedar hanging around sama seseorang. Soalnya, dia kuliah sambil kejar-kejaran sama durasi maksimal tahun beasiswa. Empat tahun doang, lebih dari itu dia mana punya materi buat nunjang.

Waktu First ditanya tentang kerjaan, dia gak gugup jawab, “Saya musisi.”

Selanjutnya adalah keheningan yang sudah dia harapkan akan terjadi. Bukan pertanyaan ingin tahu lebih dalam, bukan juga pekikan bangga. Raut wajah nyonya berakhir sama dengan Tuan. Mereka gak jawab, ekspresinya datar menuju kecewa, orang kaya itu gampang dibaca.

Padahal gak semua musisi itu bergantung sama cerita cinta-cintaan remaja. Ada karya inspirasi dari kehidupan. Tetapi mindset orang banyak bilang caranya jadi musisi itu gampang, tinggal jatuh cinta atau pas lagi diputusin pacarnya.

Buat First beda, dia jadi musisi karena cuma itu yang dia bisa. Dia pinter sosialisasi, gampang banget bikin orang terhibur, sebab caranya bertahan hidup cuma mengandalkan kepuasan pelanggan aja dan hiburan jadi jalannya. First mutusin jadi anak band karena cuma gitar tua jadi temennya, cuma gitar itu yang bikin dia tetep inget kalau pernah punya ayah. Bikin dia tetep bangga kalau darah musisi yang mengalir di dalam dirinya berasal dari ayahnya si komposer gak terkenal. Terus, seperempat masa hidupnya dihabiskan dengan menyumpal telinganya, dengerin lagu band indie favoritnya buat hilangin sakit kepala, buat hilangin suara-suara parau ibunya yang sekarat, juga lupain gimana nyarinya suara mesin elektrokardiogram untuk terakhir kali.

Hari ini lebih banyak nyonya rumah yang berbicara, tanya-jawab masalah hidup sehari-hari. Kadang kata-katanya nusuk juga mengetahui fakta kalau First memang belum punya apa-apa. Sedangkan Tuan cuma bisa diem, mungkin shock, gak percaya kalau yang di depannya ini salah satu artis naungannya. Tapi First bodo amat, toh ya ini bukan temu calon beneran. Kewarasannya terus mengingatkan, sekarang ini mereka berdua lagi pura-pura, lagi main peran, lagi sandiwara. Apasih yang harus ditakutkan dari ekspektasi? Setelah hari ini berakhir, gak ada sama sekali harapan yang harus dipenuhi. Gak ada cita-cita yang harus diraih.

Sebab dari pertemuan hari ini tidak akan ada masa depan yang akan terjadi.


`hjkscripts.


TRIGGER WARNING ; Manipulatif behavior, rape 🔞

Khaotung Point of View.

Ternyata dia itu cowok. Jangkung, atletis, potongan rambutnya cepak, juga cara berpakaiannya yang nunjukkin dia orang berada. Parfum mahal, kenal banget baunya, soalnya di rumah kayaknya ada masuk koleksi. Kemeja warna soft pink ketat membentuk badan sampai otot-ototnya, celana pun gitu, cuma berhenti di atas mata kaki bersambung dengan sepatu kulit warna hitam mengkilap. Oh iya, jangan lupa dia jinjing pouch channel yang aku tebak isinya ipad lengkap aksesorisnya.

Pertama kali aku menyadari ini orangnya, ada banyak good first impression di kepala. Suka sama senyumnya yang adem. Makin deket jarak kita makin lebar sampai nampak gigi putih sejajar rapih. Wajahnya putih mulus, nilai tambahan soalnya aku suka orang yang jaga penampilannya.

Gestur tubuhnya lembut, ga kaku atau awkward. Antara dia kerja orang Human Resources atau Marketing. Kita ngalir aja, jabat tangan, terus duduk, dan mulai bangun percakapan. Dia ini ga pernah abis topik, pinter mancing obrolan juga jadi kita berdua jarang diem dieman. Diem sebentar buat minum terus ada lagi topik yang muncul. Mana orangnya bikin nyaman, ngobrolnya sesuatu yang intimate hanya saja ga kelebihan batas. Orang ini ngorek apapun dari aku tanpa perlu meminta persetujuan tapi aku dengan ikhlas memperkenalkan diri lebih lanjut.

Benerkan, kerjaannya mostly jadi marketing salah satu corporate. Lumayan besar, kantornya ga jauh dari tempat ketemuan. Pantesan dia tuh pinter bikin nyaman, dengerin semua tentang dia kayak dia ini adalah produk bernilai jual tinggi, high value. Apapun yang dia pamerin malah bikin orang melongo bukan ilfeel. Berkarisma, berwibawa, pinter banget bawa diri. Nilai lebihnya lagi, dia tuh tau kapan waktunya dia, kapan waktunya kita yang ngobrol. Ga pernah kita ditinggal jauh jadi nyambung, bersusun, ga berantakan.

Parah sih, salah tingkah mulu. Kayaknya ya pipi udah merah. Gimana ga ya, tiap kali giliran ngobrol dia diem, meskipun begitu antusiasmenya ada. Dia dengerin kita, sambil sorot matanya lurus kunci punya kita, sembari otaknya bikin rangkuman dan mikir harus ditanggapi bagaimana.

Pertemuan malam ini atas dasar tekad dan gila. Makin menggila kala dingin yang menggelitik kulit-kulit tanpa pelindung diusir paksa oleh telapak hangat. Dia pegang tanganku, diremas pelan. Aku ga berjingkat, berarti sistem pertahanan tubuh belum mencium bau-bau ketidaknyamanan. Dan aku seperti dihipnotis, perut geli menggelitik, dan dada sesak akibat akumulasi rasa menyenangkan ingin dilontarkan semua.

Pikiran serta harapan liar sekelebat muncul. Kalau akhirnya aku jatuh cinta di tengah persetujuan yang berjalan di antara kita, aku ga apa. Aku ga apa kalau dia orangnya.


Maka kita berakhir di kamar hotel, duduk berdampingan di atas kasur empuk. Masih bercengkrama, masih dengan tawa, tanpa ada rasa curiga.

Aku ga tau gimana bisa kita yang semula duduk berhadapan di meja kafe, ada sekat di antara kita menjadi di atas kasur hotel, tanpa sekat, hanya sejengkal jarak. Perasaan nyaman yang muncul membuat afeksi fisik kecil yang dia berikan tak menganggu sama sekali. Aku malah tersipu, kayak orang gila baru tau cinta.

Debaran jantung semakin ga karuan, apalagi telinga diperdendangkan pujian pujian. Aku cantik, aku manis, aku ganteng, aku hebat, aku luar biasa. Manis betul suara yang keluar, hingga kepala pusing kepayang. Terlalu banyak yang aku terima, terlalu berat beban yang aku pikul, sampai otak ini ga mampu buat berpikir.

Intinya di kepala cuma berdengung suaranya. Mata hanya memandang tiap gestur tubuhnya. Hidung menghirup bau tubuh yang pekat tercium dari dekat. Juga telinga yang menangkap hanya nafas teraturnya.

Aku mendadak tolol, malfungsi semua hati sama otak udah ga sinkron. Ga ada penolakan, ga ada gerakan defensif. Akhirnya badanku apa adanya, didorong lembut terbaring di atas kasur, pasrah.

Dia di atasku bersama senyumnya yang masih teduh, menenangkan. Dia juga membelai setiap helai rambutku, pipiku, tak luput bibirku yang sedikit terbuka. Ditarik gemas, dia terkekeh. Aku menunjukkan pergerakan ga nyaman, namun dia dengan cepat melantunkan kata-kata bahwa apa yang akan dia lakukan ga berbahaya, under control, dan baik-baik aja.

Dia ga suka aku yang mulai merengut, maka jemarinya mengusap kerutan di dahi. Napasnya berat, terasa menyapu kulit di pipi. Debaran jantungnya berantakan. Ekspresinya ini berubah, dari lelaki penuh wibawa jadi hewan liar hilang kewarasan. Hanya ada nafsu, birahi memuncak. Aku ini cuma mangsa yang tiap hari dia cari untuk disantap demi menyeimbangkan hidupnya.

Dia itu bukan lelaki berkarisma, melainkan biadab kurang ajar. Wajah tampan hanya topeng, suara lembut sebagi penopang, dan tubuh gagah sebagai tameng.

Aku bergerak ketika waras kembali, otak mati telah berfungsi mendengarkan teriakan hati nurasi. Aku harus berdiri, melawan tubuhnya yang makin liar dikuasai birahi. Dia yang mulai pakai emosi, bukan manusia berhati-hati.

Ada gerakan kasar akumulasi dari frustasi. Ada amarah sebab mangsanya tak lagi menuruti. Sebelum tubuhku mulai dijamah kembali, aku berontak menguatkan diri. Menendang entah apa yang penting detik aku bisa berdiri, aku harus secepatnya lari.

Aku ditampar, hingga tubuh yang berhasil dikuasai terhempas lagi di ata kasur. Ada beberapa detik baginya beranjak dan melucuti pakaian. Tapi bagiku detik ini adalah waktu emas, ga ada waktu lain lagi. Kalau bukan ini, aku ga akan selamat.

Aku bangun kepayahan. Aku tendang bagian intim yang hanya tertutup satu lapis kain. Persetan barang-barang, apapun yang bisa tangan gapai, aku bawa. Cuma handphone dan kartu kamar. Terakhir, aku terus berlari, kesetanan menyelamatkan diri. Ga bisa mikir jalan, kalau ada pintu yang terbuka dari banyaknya pintu aku masuk untuk mengurung diri.

Aku ini anak durhaka. Jelas dapat ganjaran. Aku ga apa, aku ikhlas, aku terima. Ini seperti mimpi, tetapi ini kenyataan. Ini seperti doa yang terkabul menjadi nyata.


`hjkscripts.


Khaotung Point of View.

Biasanya seorang anak kalau ngomongin orang tua perempuan atau biasa disebut mama pasti yang bikin terharu. Mama itu banyak yang bisa dijadiin topik nangis-nangis. Kebaikan hatinya seluas samudra, jasanya ga bisa dibalas dengan benda paling berharga di dunia.

Kok ada ya orang diciptakan untuk jadi superhero. Padahal manusia kan diciptakan untuk hidup, bertahan hidup, dan menyembah Maha Pencipta. Sama semua derajatnya, ga ada beda.

Tetapi perempuan, diciptakan ga cuma jadi manusia dengan tugas-tugas pada umumnya. Ada kodrat yang harus dijalani. Ya hamil dan melahirkan. Meskipun jaman sekarang perempuan sudah punya banyak pilihan, masih banyak kejadian di lingkup bermasyarakat yang memilih untuk ninggalin prinsip bertahan hidupnya.

Menikah, ninggalin dunia kerjanya, ninggalin keluarganya, jadi ibu rumah tangga. Bayangin nih, hidup kayak menukar dunia bebasnya demi urus orang lain, suaminya. Hidup bergantung sama dunia milik suami, hamil, dan melahirkan. Ga sampai situ dong, sebab katanya ibu itu guru pertama bagi anaknya.

Pantesan kalau ngomongin tentang mama, ibu, dan apapun panggilan sayang buat orang tua perempuan bisa jadi menyedihkan, merasa kecil, merasa apa yang kita sebagai anak lakukan sampai detik ini ga ada apa-apanya.

Tapi bagi aku, ngomongin tentang mama selalu bikin kurang nyaman. Ga bisa nangis lagi pas inget-inget tentang jasa mama. Cuma ada sebel, keinget terus kelakuannya akhir-akhir ini.

Tau kok dosa besar, durhaka kata orang-orang. Hanya saja, mama dan ambisi belakangan ini beneran bikin aku pusing, setres, dan under pressure.

Mama itu bagi aku ya ibu-ibu pada umumnya aja. Memutuskan untuk pensiun di umur hampir menginjak empat puluh, hamil, dan mengurus aku si anak semata wayang. Mama itu ibu-ibu pada umumnya, ikut arisan, ikut line dance, ke gereja tiap minggu. Normal kan? Sampai beliau catching up sama temen-temen lamanya di SMA.

Kayaknya lingkungan pengaruh banget. Tapi setau aku mama pandai membatasi diri. Dia sosialita tapi tau mana barang mewah yang butuh dibeli mana yang nanti dulu aja. Cuman ga tau kenapa akhir-akhir ini jadi nyebelin. Mama jadi mabok ceramah agama dan penikmat mitos mitos legenda duniawi. Terutama masalah pasangan hidup buat anaknya.

Ketakutan atas mitos perjaka dan perawan beneran makan kewarasan mama. Ditambah pressure publik dimana hampir semua temen masa lalu mama pada ngomongin cucunya gini begitu. Semua faktor itu dibungkus rapih dengan fakta kalau mama umurnya udah tua dibanding mama lain yang anaknya baru menginjak fase dewasa. Umurku belum genap tiga puluh, tetapi mama udah jalan injak enam puluh.

Banyak resiko yang mereka harus hadapi waktu memutuskan untuk punya anak di umur kurang produktif. Pastinya harapan sebesar gunung himalaya hanya akan terkabul dari sisiku. Ga ada harapan di pundak kakak atau adik. Serta, mimpi atau harapan itu harus terkabul secepat mungkin kejar-kejaran sama durasi manusia hidup.

Siapa anak yang ga mau penuhi harapan orang tuanya. Meskipun sebel minta ampun, aku tetep berusaha. Buktinya meskipun minim semangat tetep dateng ke blind date yang udah beliau setting sekian rupa. Entah kenalan berapa cowok atau berapa cewek. Masalahnya ya cuma satu memang bisa hati dipaksain cinta? Akunya juga salah sih, kemakan propaganda kisah romansa.

Cinta itu ga bisa dipaksakan. Cinta itu nanti dateng sendiri kalau waktu dan tempatnya udah tepat. Belum lagi cerita cinta-cintaan gagal di media sosial.

Pokoknya kalau udah jodoh nanti kita tau sendiri. Bagi aku, cinta itu ga bisa tumbuh dengan seiring waktu. Dua orang bisa bersatu ya karna ada cinta di antara mereka.

Kalau udah begitu gimana caranya tepati janji ke mama buat baca pacar secepatnya. Terlalu goblok, impulsif. Pada dasarnya aku ini cuma mau mama berhenti maksa, tapi malah jadi senjata makan tuan.

Tuhan yang punya hidup, kalau boleh hamba yang banyak dosa ini mau minta sesuatu. Semoga jodoh bisa dateng secepatnya. Biar aku bisa meruntuhkan mama dan segala ambisinya.


`hjkscripts.


Berdua yang sedang duduk bersekat meja. Berdua yang sedang bercerita kisah tentang dirinya. Berdua yang sedang saling mendengar dengan seksama. Berdua yang sedang duduk saling menghadap adalah teman lama.

Inilah kita yang tengah bercengkrama.

First masih pada posisi rileks, punggung menempel pada sandaran kursi kayu senada warna jaketnya. Sesekali senyum kecil muncul kala cerita yang dilontarkan mengandung kekonyolan. Bola matanya bergerak, namun pada satu tujuan yaitu memperhatikan gestur lawan bicara.

Tangan-tangan bebas itu salah satunya bermain embun luruh dari minuman dingin dalam gelas kaca yang isinya masih seperempat. Minuman itu baru diminum sedikit meskipun terhitung tiga puluh menit sudah mereka duduk. Menandakan betapa intens tingkat obrolan yang sedang mereka bangun.

Secara topik yang diangkat sebenarnya begitu dasar. Memori kuliah, perjalanan karir, kisah keluarga, semuanya dibahas dari intonasi menyenangkan hingga menuju nada sendu. Memang ya hidup nggak melulu naik juga turun, ada aja kayak naik wahana rollercoaster.

Sisi First Kanaphan sendiri jujur dianya juga kaget. Kok bisa ya cowok di depannya, cowok yang lagi ngobrol ngalor ngidul langsung hadir diingatan cuma dalam tiga detik dia tatap matanya waktu insiden lorong kemarin. Padahal seingatnya, Khaotung itu gak setinggi sekarang, kurang berisi badannya, terus kacamata ikonik juga udah gak bertengger di hidungnya yang mancung. Beda banget pokoknya.

Juga, anehnya dia sama cowok satu ini bukan temen deket, bukan temen satu prodi satu jurusan. First bukannya mau sombong ya, tapi dia sadar sih waktu kuliah emang jadi masa jayanya. Kayaknya dia terkenal banget sampai tiga angkatan di atasnya, bahkan anak fakultas lain pula dosen-dosen soalnya sering bantuin bikin konten acara mereka. Sedangkan Khaotung cuma temen yang dia senyumin waktu ketemu di lorong. Jarang dia ajak basa basi malah.

Hanya saja, waktu insiden kemarin, tepat pada kedua pasang mata mereka saling menatap, memori kayak potongan puzzle itu berterbangan dari alam bawah sadar terus nari-nari di dalam otaknya yang sempet kopong dan membentuk suatu kilas balik cerita di masa lalu.

First Kanaphan dan Khaotung Thanawat yang masih pake baju putih item kedodoran, gak lupa name tag segede gaban, mukanya penuh coret-coretan lagi tiduran di atas lapangan basket fakultas bareng temen-temen maba yang lain lagi garap tugas ospek buat besok hari. Hari itu udah capek, kedengeran takmir masjid besar kampus lagi ngaji, diikuti warna langit yang perlahan berganti, juga terik panas matahari yang bikin badan lengket seharian perlahan pergi.

Mereka berdua nyisih sendiri dari temen satu kelompok gak inget kenapa. Terus waktu adzan maghrib berkumandang, temen-temen pada bubar istirahat, mereka berdua malah rebahan di atas lapangan. Hawanya adem, semilir angin berhembus, mata sibuk ngitungin titik-titik di awan yang belom pasti bintang, sambil dengerin adzan.

“Capek banget sumpah. Kating kaga jelas anjir ngasih tugas gak pake otak!” First ngedumel pelan.

“Sstt... Udah ah dijalanin aja.” Khaotung buru-buru potong omongan First. Takut kedengeran kating panitia terus malah dijadiin bulan-bulanan selama ospek.

First hirup udara sore yang lewat di depan mukanya dalam, dihembuskan lagi dengan kasar. “Gak pengen ospek. Gak betah gua dibeniginiin selama seminggu. Pengen cepet kerja aja.”

Khaotung ketawa ngejek, sumpah temen barunya ini kocak banget jalan pikirannya. Baru aja masuk kuliah udah kepikiran kerja. “Emang mau kerja apasih?” Khaotung menimpali. Ikut aja alur obrolannya.

“Jadi artis. Jalur anak band keren kali yak. Hehe.” Dia jawab ga serius. “Kalo elu gimana?” First malah balik tanya. Suasananya tiba-tiba jadi serius bener.

“Hmm..” “Belom kepikiran.”

“Jadi artis jugalah biar ketemu gua terus. Abis itu bikin skandal.”

“Hush! Ngawur!”

First sama Khaotung ketawa atas obrolan spontan mereka sendiri. Tetapi jauh dalam pikiran masing-masing mereka mendoakan satu sama lain.

Mungkin ini jawaban atas doa serius yang disampaikan dulu. Mereka yang sama-sama bergelut di dunia hiburan. Mereka yang akan terus berusaha melakukan yang terbaik.


`hjkscripts.


Khaotung Point of View.

Menapaki satu persatu anak tangga sebenarnya bikin semangat makin turun. Dari ribuan pekerjaan yang aku alami selama menggeluti dunia entertainment, hari ini paling bikin males.

Kita especially aku, sebagai model memang sudah tugasnya pura-pura jadi seseorang. Jadi atlet untuk majalah life and health, jadi businessman untuk representasi dunia bisnis, jadi nelayan atau petani juga bisa. Tapi ini, kesannya terlalu gimmick banget.

Keran air aku matikan setelah sabun di tangan hilang semua. Melipir ke kamar mandi juga bukan inisiatif dan profesionalitas untuk siap-siap tampil di hadapan kamera, melainkan usaha dari ngulur waktu semata. Intinya tidak ada kesiapan, maunya batal aja. Apa sekalian gak usah keluar dari bilik kamar kecil. Menghilang aja gitu di telan bumi.

Namanya juga pikiran, lebih dari setengahnya ya berakhir jadi pikiran liar aja. Aku berakhir menarik satu dua helai tisu toilet untuk keringkan tetes air di tangan dengan malas. Meremas mereka jadi buntalan abstrak dan memasukkan dalam tong sampah hati-hati, mengambil hampir seluruh waktu yang biasanya dibutuhkan seseorang di dalam toilet umum. Mumpung sepi, mumpung sendiri.

Di luar, aku langsung disambut khalayak. Bukan mata-mata yang mandang dengan penuh kagum dan puja. Hanya mereka dengan berbagai intonasi suara juga gestur berbeda-beda. What a busy chaos day sampai lorong panjang yang muat dua tiga manusia keliatan sesak.

Ramai sibuk kayak gini, aku pun maklum. Dibanding lokasi runway fashion week atau pagelaran sederhana ini ga ada apa-apanya. Masalahnya adalah aku udah banyak kehilangan energi untuk datang dan harus jalan macem pinguin buat hindarin manusia sibuk ada aja sebelnya.

Bruk!!!

Tuhkan! Emang yang begini begini ada aja apesnya. Minimal nabrak atau malah ditabrak orang. Bersyukur aja gerakannya minimalis, badan bergeser sedikit ga sampai jatuh tersungkur yang pastinya bikin suasana berhenti saat itu juga.

“Sorry, sorry! Gak sengaja!” Penabrak inisiatif minta maaf dengan cepat. Terus, dia bertanggung jawab banget, ga langsung lari tapi mastiin lawannya baik.

Responnya sih yang bikin aku linglung, bergeming gitu aja merhatiin gimana after care terkesan berlebihan buat kasus kesenggol dikit doang. Si penabrak ini cowok, jangkung, kira-kira sekitar sepuluh centi dari aku. Postur badannya pas, ga terlalu kurus, ga berisi juga. Parfumnya sih, ikut berperan penting.

Well... anywayă…ˇ

“Gak apa kan ya?” Tanya cowok itu setelah badan pendekku main diputer kanan kiri. Kemeja kasual yang aku pakai dikebas kecil biar ga ada kotoran yang nempel soalnya cowok itu bawa kopi cup.

“Ohㅡ” Aku masih bingung. Baru balik dari kesadaran. “I'm fine.” Lanjutku singkat.

Dan detik itu jadi detik pertama dua pasang mata milik kita ada di satu garis lurus. Saling memandang dengan miliknya yang khawatir dan milikku sendiri yang bergerak canggung.

Pada detik kelima muncul situasi tenang, nyaman, dan yang pasti lebih waras dari sebelumnya untuk kita berdua saling berbagi memori atas paras masing-masing. Senyum malu milikku dibalas senyum ragu dari wajahnya.

Ragu? Kenapa ya? Tepat detik ketujuh, detik akhirnya otak cukup punya waktu untuk bekerja, mereka mengeluarkan memori samar yang membuat perasaan meluncurkan perasaan familiar.

Hanya saja sebelum menatap parasnya lebih intens, aku memilih untuk memutus pandang terhadap milik dia, melayangkan senyum kecil sekali lagi, dan berlalu ke arah yang berbeda meninggalkan dia beserta tanda tanya.

“Siapa sih?” Dari mata proses di otak, dari memori turun ke hati aku bertanya-tanya. Perasaan ini tuh bukan yang menggelitik, tapi lebih ke ada orang yang mukul dada sampai punya deg, sebesar itu.

“Khaotung!” Namaku dipanggil dari arah yang baru aku tinggalkan. Terus kedengeran suara sepatu bergesekan sama lantai berat. Kayak orang ini jalan cepet-cepet.

“Khaotung kan ya?” Lengan tanganku dicekal tanpa permisi bikin aku mau ga mau berhenti dan berbalik. “Iya! Bener Khaotung!” Cowok itu, cowok yang masih sama tapi kali ini dia ga lagi asing.

Aku diam, bikin dia agak kecewa. Padahal setelah suaranya berdengung menyebut namaku, saat itu pula aku akhirnya tau siapa dia. Aku ingat suara itu, aku ingat cowok satu ini.

“Ini gua, First Kanaphan! Masa lupa sih?” Katanya. Nadanya semangat terkesan nuntut aku harus inget dia, kayak aku adalah orang yang pengen banget dia temuin setelah sekian lama.

Aku akhirnya nyerah main sok hard to get. Aku menggeleng, lalu senyum lebih lebar dari sebelumnya. “Iya! Inget kok First Kanaphan.” Balasku.

“Emang siapa? Huh?” Dia goda pakai nada bercanda. Ga percaya kalau aku beneran inget betul dia siapa.

“First Kanaphan ketemu waktu ospek kampus, ternyata dia anak satu fakultas. Satu kelompok lagi pas ospek fakultas.” Aku menjelaskan dengan diakhiri nada bangga. Terkekeh ketika lihat dia senyum makin sumringah.

“Bener.”

Siapa sih yang gak kenal dia? First Kanaphan. Setidaknya satu fakultas. Anak jurusan periklanan kreatif yang jasanya tersohor satu kampus. Pokoknya jam terbangnya tinggi, sering diajak bikin konten iklan edukasi dari tingkat prodi sampai kampus. Mana anaknya aktif juga kegiatan band kampus.

Terakhir, setelah kegiatan perkuliahan mangikis semangat bersosialisasi tiap individu. Berita tentang First Kanaphan yang aku denger adalah dia yang mulai merintis karir entertainment lewat satu agensi kecil dan debut jadi anak band. Namun, itu semua ga berakhir mulus kayak jalan ceritanya semasa kuliah dan band yang dia coba bangun harus bubar.

First Kanaphan ya... hal yang paling bikin aku hangat ketika setelah sekian tahun ketemu lagi sama sosoknya adalah senyumnya. Masih selebar waktu dulu dan juga memori tentang kita berdua bersama mimpi-mimpi besar yang sedang kita usahakan jalan ceritnnya.

Akulah si sempit Khaotung Thanawat yang kala itu tanpa malu membeberkan seluruh angan pada sosok seluas First Kanaphan. Kita berdua yang tertawa geli sembari melontarkan kata-kata semangat pada usaha satu sama lain. Juga, kita berdua yang berakhir saling mendoakan jalan masing-masing.

Cerita ini, kita yang tengah berdiri didesak hiruk pikuk kehidupan yang masih berjalan di atas angan bersama doa-doa yang masih menyertai.


`hjkscripts.