hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Kita yang berusaha berdiri tegap menghadap ratusan kilat menyambar. Dua pasang mata hanya sanggup menatap datar. Minim ekspresi seolah itu tak membuat jantung lebih cepat berdebar. Setenang mungkin tubuh meskipun dalamnya amat bergetar.

Kita yang dipersilahkan duduk dan menyapa ratusan gemuruh menggelegar. Dua pasang telinga hanya sanggup menerima dengar. Tersenyum kecil seolah itu tak membuat amarahku mulai terbakar. Sedamai mungkin tubuh meskipun dalamnya ingin melawan bagaimana pendekar.

Kita yang diam ditimpa luruh hujan. Basah kuyup kain yang dikenakan. Payung pun dimintai pertolongan juga enggan. Meneduh pula diusir sana sini oleh sang tuan. Beginilah penampakan manusia yang paling bersalah dihadapan Tuhan.

Kita yang bersimpuh pasrah terhadap badai. Terhempas bebas terbawa angin ramai. Hancur pula pondasi yang hanya tersusun dari rangka dan harga diri. Tercecer berantakan di lantai alas permadani.

Sekali lagi, beginilah penampakan manusia yang ingin mencinta dan dicintai.

“Terima kasih kepada rekan-rekan media yang telah datang pada pers conference hari ini. Sebelumnya, saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang dirugikan oleh berita yang beredar di media sosial belakangan ini.”

“Namun, ijinkan saya Khaotung Thanawat dan partner saya First Kanaphan di samping saya ini, menjelaskan sedikit hal agar tidak menjadi salah paham di masa depan.”

Maka cerita kami dimulai dari sini...


`hjkscripts.


Wei Zhiyuan Point of View.

Dimana senyum yang jarang nampak itu? Jangankan tersenyum, merengut saja kamu menawan luar biasa. Dimana suara ocehan yang tak terdengar lagi? Jangankan mengoceh, helaan nafas kecewa milikmu aku rindu tiada tara.

Jahatnya kamu sembunyikan semuanya dari aku. Kamu rampas milikku yang berharga. Jahatnya kamu membiarkan aku merana sendiri. Sedangkan kamu, entah apa yang membuat kamu lebih memilih berada di sana daripada aku yang selalu di sampingmu.

Wei Qian milikku, lelah ya menghadapi duniamu? Bahagia tak sempat disuguhkan terus sengsara. Merana ya menghadapi duniamu? Gembira tak datang diberi terus luka.

Sehingga besar seluruh cinta yang aku miliki tidak cukup untuk membuatmu bertahan.

Wei Qian pusat hidupku, maaf usahaku belum sebanyak apa yang telah kamu beri untukku. Kasih sayangku belum bisa membayar yang telah kamu limpahkan untukku si anak terlantar. Gigihnya aku belum sekuat kamu yang mengusahakan hidupku layak hingga detik ini.

Bahkan detik dimana kamu pergi dari dunia sengsara ini, berdiri melihat damai kelopak indah itu tertutup untuk selamanya aku merasa nyaman.

Wei Qian kasihku, deritamu terbayar sudah. Aku dan Lili dewasa di atas dua kaki kita sendiri. Kamu hebat hidup tertatih, berlumur keringat dan darah. Hingga sakit yang sering tak kau ingin rasa membawamu pergi ikut bersama.

Wei Qian cintaku, sesuai janji kala malam kita bergelung untuk yang terakhir kali. Aku ikhlas apapun yang terjadi. Biarkan aku bersedih sejenak sebelum kembali pada kenyataan bahwa kamu sudah tak berada di dunia yang sama denganku lagi. Aku akan berjalan sendiri di dunia yang semakin kejam nanti.

Aku ikhlas apapun yang terjadi. Karena mungkin hanya itu yang tersisa dari usahaku untuk membuatmu bahagia di sana.

Jika suatu hari nanti kita bisa berjumpa kembali. Aku harap dapat melihat tawamu yang muncul, menyambut tubuhku hangat dalam dekapanmu.


`hjkscripts.


TRIGGER WARNING ; SENSUAL CONTENT 🔞

Mereka adalah kawula putus urat malu yang tengah bercumbu di malam minggu.

Dia adalah si jangkung dengan selera jadul. Turun dari tunggangan tersayang sembari dilepas yang jadi pelindung. Mengaca dia membenarkan rambut dengan sedikit jambul juga bersiul. Muncul senyum menawan, siapa gerangan si lelaki ganteng.

Lihatlah dia berjalan, menyusuri rumput dedaunan dengan dua kaki panjang. Ada aura menyenangkan yang terus mengikuti tiap langkah seringan kapas awan. Dia yang bersenandung lagu kesukaannya kala gembira. Berhenti lantunannya berganti pasang mata berbinar.

Sosok yang berdiri tepat satu garis lurus dari arah pandangnya nampak bersinar. Padahal wajahnya tengah datar, bibirnya sesekali terbuka hanya berisi helaan nafas bosan. Dia yang gesturnya entah sedang apa. Tangannya bergerak di atas gawai dengan pandangan kosong.

Berbenah dia, lalu lanjut melangkah. Sampailah dia bersama bibirnya yang merekah. Bergeming dirinya di depan meja sana. Menunggu perhatian sosok seorang pria dihadapannya. Kala tak dapat maksudnya, jahil perangainya mulai terbuka. Disentil kecil bel berbunyi nyaring. Kaget sang pemilik hingga terperanjat badannya mungil. Kelakar renyah menguar sebab puas dia berhasil.

“Sand!!!” Nadanya merengek tak terima. Tak lupa didorong sedikit tubuh jangkung menjauh dari meja. Lihat itu bibirnya maju hasil ulahnya.

“Gimana mau dapet duit banyak, gak becus gini orang resepsionisnya.” Godanya lagi dengan kalimat mengejek. Aduh! Makin merengut itu wajahnya.

Dia diam menanggapi, dongkol sebenarnya. Sudahlah suasana hatinya buruk sejak ditinggal teman jaganya di malam hari, dikerjai pula sama kekasihnya yang tiba-tiba muncul.

“Oh-” Si lelaki kini menghentikan kegiatannya menata meja dari tumpukan kertas kosong berisi coretan gak jelas. “Lah lo ngapain kesini?” Tanyanya bingung.

Sand akhirnya dapat menangkap dua pasang manik sendu yang tengah membulat. Dia tersenyum lebih ke menyeringai sembari menaik turunkan alisnya.

“Apasih? Ga jelas banget.” Dia melanjutkan kembali kegiatannya.

Sand itu memang gak tau kita jalan pikirnya. Lelaki itu harusnya tengah terlentang menikmati kasur seorang diri. Semenjak dirinya memutuskan untuk tak membagi rumah sewanya dengan siapapun dan keluar dari pekerjaan ilegalnya, semakin jarang pula intensitas keberadaan dirinya di dalam rumah. Sand saat ini hidup bergantung hanya dari satu pekerjaan dan itu karena dia yang tiba-tiba terlintas wajah memohonnya ketika matanya hampir terpejam hilang di alam seberang.

Dia benar dia yang dihadapannya kini biasa dipanggil Ray. Dia benar dia yang dihadapannya kini si pemilik wajah teduh serta sendu. Dia benar dia yang dihadapannya kini lelaki tak diundang, tiba-tiba datang memberantakkan kasur dan juga hatinya. Betul dia benar dia yang dihadapannya kini adalah kekasihnya.

Ray kasihnya ini adalah terburuk dari semua manusia yang datang dan pergi semasa hidupnya. Ekspresi teduh dan sendunya bukan sebab dia memang ditakdirkan begitu melainkan hasil carut marut dunia miliknya. Wajah yang brengseknya sedang Sand puja ini akumulasi dari narkotika candu dan miras yang menggebu. Bibir merah muda basah membara itu Sand dapat membayangkan manis nikotin bercampur pahit ekstasi hingga detik kemudian membuatnya mabuk kepayang.

“Ray...” Sebut namanya. “Hmm?” Kedua pasang mata kini kembali bersitatap. “Ray...” Dia menelan ludah. Ekspresinya mulai panik akibat ulah imajinasi kotor saat tengah menyanjung paras kekasih dalam hati.

“Kamu sudah makan?” Semakin bingung yang diajak komunikasi sebab bahasa tuturnya mulai berantakan. Ray menggeleng pelan meskipun begitu.

“Ayo makan. Kita makan sama-sama.”


Gila lelaki ini yang menutup pintu dengan terburu. Sinting lelaki ini bersama nafas yang memburu. Edan lelaki ini yang mendorong kekasihnya terhimpit daun pintu. Mana akal lelaki ini yang bibirnya bergerak maju mengajak yang lain bercumbu.

Dia yang mendefinisikan makan sebagai permainan birahi. Dia yang jemari panjangnya tak punya kata berhenti kala tengah menggerayangi. Dia yang sebagian sadarnya hilang antara realita dan mimpi. Juga dia yang semakin asik mengecap seluruh tubuh kekasihnya tanpa tertinggal satu sisi.

Malam ini, di dalam kamar yang keduanya tak yakin kedap suara pula terkunci. Terhempas dua tubuh yang hampir tersisa raga kotor dibalut hanya kulit bukan helai baju sendiri. Di atas tilam amburadul yang masih tersisa bekas bercak aneh dan bau pergaulan bebas yang membuatnya kesal hari ini. Namun kini, semua itu mereka anggap sebagai motivasi untuk memenangkan sebuah kompetisi, siapa yang paling hebat dalam hal mengintepretasikan buku kama sutra kini.

Ahhh... Sand-

Kurang ajar betul kawula muda, meninggalkan tanggung jawab demi kenikmatan duniawi. Mendesah liar saling menyerukan nama agar seluruh penghuni alam tahu betapa hebat pasangannya kini menghancurkan titik lemahnya. Mereka yang tenggelam dalam peluh dan cairan mani. Matanya terpejam menghayati tiap sensasi darah berdesir kala dikecup perutnya, membuyarkan ribuan kupu-kupu di dalam sana.

Hilang waras kawula muda, tertawa mereka di atas hiruk pikuk kacau kota sedang mereka saling berbagi liur suka cita bersama suara penuh gelora cinta. Tak ada ruang bagi udara untuk mengisi kekosongan dalam jiwa penuh membuncah. Panas suasana kala kulit semakin berhimpit, menciptakan tegang si pemeran utama dalam penampilan liar di atas panggung birahi. Masuk dia dalam lubang sempit penuh kebebasan, bergerak berlahan melepaskan lantunan merdu dari bibir kacau sang pemilik.

Kurang ajar dan hilang waras kawula muda, mereka yang tak terhalang apa-apa. Dua bibirnya saling sahut, meracau kalimat-kalimat tak akan pernah terselesaikan. Kata-kata penuh puja demi semakin merangsang hasrat. Diiring bunyi kecipak dan tepuk tangan antar senggama, juga nafas berantakan, dua manusia hampir sampai puncaknya.

Ahhh... Hahhh... Hnng...

“Ray, I'm gonna fulfill your slut hole!” “Fill me. Fill me you fucking jerk.”

Hilang sudah ritme yang dijaga. Bersama basah tubuh juga melayang jiwa. Mereka yang tengah saling menghentak penuh ambisi. Mereka yang tengah berhenti sejenak menyapa nirwana, menikmati bagaimana hangat lelehan sperma. Terakhir, mereka yang tengah terjatuh kembali menuju tanah bumi penuh noda, berikan satu dua kecup sebagai bentuk apresiasi akan permainan hebat pada malam ini, sebelum lelah tubuh membawa mereka pergi menuju alam mimpi.


`hjkscripts.


Viscount Point of View

Kali ini aja biarkan gue membenci Nicholas. Nicholas itu gue gak bisa berkata-kata lagi, dari kacamata gue maupun seluruh orang juga setuju bahwa kesempurnaan ada pada dirinya. Gue gak menyangkal soalnya gue sendiri bisa mengerti.

Gue gak apa menjadi saksi bagaimana seluruh insan di bumi memuji Nicholas dari berbagai sisi tapi buat kali ini tolong izinkan gue menjadi haters Nicholas buat sementara.

Nicholas, gue gak suka sama lo. Fakta lo yang tumbuh jadi jauh lebih dewasa daripada gue. Gue gak suka gimana lo merasa punya tanggung jawab atas gue meskipun, mungkin lo begitu karena dididik papa sedemikian rupa. Gue gak suka lo selalu punya cara buat kontrol gue, hidup gue, dan gue benci denger kata-kata bijak dari mulut lo.

Tapi Nicholas, lo tau apalagi yang paling gue benci? Iya, gue benci berantem sama lo. Gue gak suka ada masalah yang bisa memisahkan kita kayak gini. Gue sadar ini bukan lo yang menjauh tapi gue yang butuh ruang lebih. Dan gue juga benci akan fakta semua yang keluar dari mulut lo benar adanya.

Anne sebenarnya gak suka sama gue tapi sama lo dan gue hanya sebagai jembatan. Gue marah sama fakta satu itu sebab kesempatan ini gak dateng berkali-kali bagi anak kayak gue.

Seluruh manusia pasti punya cinta monyetnya sendiri dan gue juga mau merasakan. I want to experience too.

Ini bukan tentang siapa tapi tentang gue yang terlalu bernafsu. Gue gak peduli dengan siapa tapi yang ada saat ini cuma Anne. Maka dari itu gue marah, sebab cuma Anne harapan gue untuk menjadi remaja penggemar cinta-cintaan pada umumnya. Cuma Anne dan ternyata bukan Anne juga orangnya.

Gue buta, gue menepis fakta yang harusnya berhasil menampar pipi gue berkali-kali biar sadar. Woy Viscount, gak ada pilihan satupun buat lo! Tetapi Viscount ini penuh ambisi.

Gak ada yang bisa bikin gue berhenti, sampai Nicholas menyeret gue naik mobil, ngebut banget gak peduliin papa yang teriak coba berhentiin mobil yang udah melaju begitu cepat membelah jalanan.

Dan fakta yang sudah ada, gue biarkan terus menampar pipi hingga kemerahan semakin ditambah berubah menjadi tali cambuk yang siap dihentakkan. Tali cambuk itu akhirnya melayang tepat ke arah punggung gue, melukai juga membangunkan diri ini yang jatuh terlalu dalam di lubang penuh mantra cinta. Bersamaan suaranya yang menggelegar dan serangan rasa sakit yang langsung terasa bersamaan gue akhirnya sadar bahwa cinta monyet ini gak bisa diteruskan.

Bukan dia, bukan juga dia buat Nicholas. Tapi tetep rasa sakitnya bikin lumayan gila sampai mau muntah lihat Anne dan cowok yang gue gak kenal lagi ciuman mesra di pinggir jalanan kota.

“Gue mau pulang.”


Gue memutuskan berlari setelah turun dari mobil. Berlari tanpa henti dan menepi di depan danau kecil.

Tempat ini danau kecil yang biasa gue sama Nicholas buat berenang waktu kecil dan tempat ini juga bersama kesunyiannya gue biasa menemukan Nicholas dengan berbagai pikiran.

Gue berdiam, gak sama sekali nangis meskipun dada rasanya mau meledak. Gue hanya duduk di tepi, menatap air yang masih jernih nanar sehingga refleksi paras gue tergambar dengan baik bak berkaca. Setelah itu, tupai atau kucing liar hutan akan mencoba mendekat, mencari perhatian dan berharap diberi sisa makanan.

Tapi kayaknya dunia emang lagi gak berpihak sama kesedihan gue. Kayak mereka lagi seneng-seneng dan gue merana sendirian. Bahkan gak ada satupun binatang liar yang mau deket, sekedar nemenin manusia satu ini.

Ternyata ya dunia gak sejahat itu, sebab doa gue dikabulkan. Butuh temen kan? Nih gue hadirkan sosok temen yang paling pengertian. Dan munculah Nicholas di sana.

Tolong, gue masih gak suka sama Nicholas apalagi waktu dia memutuskan duduk di samping gue. Gue benci karena dia gak cuma duduk tapi menarik tubuh gue dalam miliknya. Dia dan tangannya yang begitu lembut memaksa kepala gue jatuh di atas pundak kokohnya. Lagi-lagi gue benci karena dia melayangkan satu kecupan di atas kepala gue.

Gue benci sebab keberadaan Nicholas selalu membuat gue dengan gamblang menunjukkan sisi paling lemah dalam diri.

Gue menangis, sedih, kecewa, marah, bercampur lega sebab semua emosi sedikit demi sedikit dilepaskan. Tangisan gue semakin kencang dan pilu mengingat gak ada yang perlu gue takutkan selama tangan lembut ini masih membelai bahu gue yang terus bergetar. Gak ada yang perlu gue takutkan selama bibir miliknya ini terus membisikkan kalimat penenang. Gue juga gak perlu malu kelemahan gue dijadikan tontonan atau suara merana dari raungan nestapa ini didengarkan khalayak luas.

Biarkan kegagalan pasal romansa ini menjadi rahasia antara gue, Nicholas, dan Alam.


`hjkscripts.


Henry Point of View.

Selamat pagi dari Texas dimana sebagian dunia empat musim udara masih dingin, tapi kalau disini lebih banyak panas yet still bearable at least. Aku bisa melihat matahari bersinar menerangi bumi kapanpun sebab lingkungan terbuka disini definisi terbuka tanpa dilindungi pohon-pohon besar. Tempat nyaman berteduh dari panas hanya atap rumah.

Sekarang aku paham darimana suamiku bisa dapat kulit tan seindah itu. He's burning, fresh from the oven. Well i love him anyway, more while he dominate me and ruin me over and over untill we reached Himalaya.

But guys, look kita tidak tiba di Austin hanya untuk mencari suasana baru atau tempat baru untuk membangkitkan nafsu birahi. Namun kita sampai disini untuk mempertemukan yang sudah lama menanti. Dua orang tua dan dua cucunya yang datangnya sudah lama diharapkan sejak kemarin hari.

Pagi kedua di Texas, pagi kedua juga aku harus memaksakan tubuhku bangun meskipun diikuti rasa sakit sana sini. Salahkan lelaki gila dengan penis tidak beradab yang bodohnya luar biasa, menganggap rumah besar ini hanya milik berdua. Dia yang tengah tertawa, duduk santai di pekarangan belakang dengan ayahnya dan morning coffee-nya.

Rasanya pengen aku pukul sampai dia minta ampun. Tetapi, mengingat sekarang lagi di rumah mom dan dad harus diurungkan niat buruk sejenak. Apalagi badan capek ini harus bergerak cepat memindahkan sarapan dari alat masak ke piring saji dan menghidangkan di meja makan dimana sudah ditunggu oleh beberapa penghuni rumah.

“Breakfast ready!!!” Aku sedikit meninggikan suara agar yang tengah berbincang di luar segera ikut bergabung untuk sarapan yang sepertinya tidak dihiraukan entah seberapa penting pembahasan pagi dua alpha dewasa.

Aku duduk setelah menghidangkan masing-masing piring berisi full breakfast pada mom dan anak-anak yang sejak tadi menunggu di meja makan.

“Thank you, honey. That is so sweet of you.” Mom tersenyum hangat. Beberapa kali memuji hidangan sederhana yang kubuat.

“Henry, sweetheart maaf gara-gara mom kalian jadi batal honeymoon ke Greece.”

“Alex cerita ke mom ya?” Ellen mengangguk. Henry tersenyum maklum. “Henry sebenarnya juga bingung kok waktu Alex bilang dia bisa ambil cuti. Greece atau Texas, dua duanya Henry belum pernah datang. Di Greece Henry hanya jadi turis asing, tapi di Texas Henry punya keluarga. Mom dan dad seneng, anak-anak juga seneng, apalagi Henry sama Alex. This is honeymoon that i've been dreaming of.” Aku melanjutkan.

Memang benar dasarnya bulan madu bukan tentang tempat tapi bagaimana kita membuat banyak-banyak memori bahagia untuk dikenang selamanya.

“Mom bersyukur sekali kamu jodoh yang tepat untuk anak mom. Lebih lagi mom masih hidup, jadi bisa menyambut kalian di rumah mom ini.”

“Mom masih bisa ketemu Henry sama cucu-cucu mom bahkan berpuluh-puluh tahun kedepan asal selalu minum obat dan cek kesehatan.”

“Iya, kalau begini kan mom jadi semangat mau cek bulanan.”

Kita tertawa akan manis dunia juga dari alami gula. Memasukkan satu persatu potong pancake dalam mulut dengan obrolan seringan awan. Hingga aku berdiri juga mom yang berjalan beriringan menuju wastafel untuk meletakkan piring yang nampak bersih seolah belum dipakai sebab habis tak bersisa hidangan di atasnya.

Aku berdiri menetap, ingin membereskan lebih dahulu perkakas kotor sebelum melanjutkan kegiatan lain. Sedangkan mom hanya berdiam di samping mengamati dengan seksama bagaimana ragaku bergerak.

“Henry sayang?” Panggilnya.

Aku meletakkan piring bersih terakhir, mencuci tangan sebelum mematikan keran wastafel dan mengusap dua tangan dengan serbet kering.

“Ya, mom?” Jawabku memperhatikan beliau.

“Ada yang sebenarnya ingin sekali mom tanyakan ke kamu tapi selalu ragu.” Beliau mengusap lenganku lembut, wajahnya terpancar ekpresi khawatir.

“Ada apa?”

“Have your husband tells you about he was taking vasectomy before? I mean, Henry your husband have good intention andㅡ”

“Mom, gak ada yang Henry gak tahu tentang Alex maupun sebaliknya. Alex sudah cerita ke Henry waktu akhirnya kita ketemu lagi dan Henry malah terharu dengernya.”

“Suami kamu cuma laki-laki biasa. Dia hampir gila di tahun-tahun pertama kalian berpisah. Setiap hari keluar masuk tempat minum. Namun dalam hatinya dia takut berbuat kesalahan lagi, dia takut menyakiti kalian, dia sadar jauh disana ada kamu dan anak-anaknya. He was taking it for good. He believe in you but he was too reckless for himself.”

“Mom, I get him. I'm proud of him and i will always love him just the way he is.”


Author Point of View.

“Ini foto dad kamu waktu grandma pertama kali ikut pemilu. Masih polos, dia baru lulus sekolah menengah akhir waktu itu.”

Viscount selalu terkekeh geli setiap lembar-lembar kehidupan tentang dadnya dibuka satu persatu. Berbeda dari milik papanya yang terkesan sangat sakral dan kaku, buku kenangan masa lalu milik Alex lebih fleksibel seperti buku kenangan pada umumnya.

Pesta ulang tahun sederhana hanya dikerubungi ayah dan ibu. Pesta perayaan keberhasilan yang diambil dengan baju seadanya tapi dengan senyum luar biasa sempurna.

“Dad dulu kenapa keliatan anak nakal banget.” Celetuk Viscount membuahkan kelakar dari neneknya.

“He was indeed. Dad kamu itu nakal sampai grandpa sama grandma pusing sama kelakuannya.”

“Mirip banget dong sama papa aku. Papa juga sering bilang gak tau lah dek papa pusing sama kamu soalnya aku nakal.” Balasnya. “Ternyata sekarang aku tau, aku nakal turunannya siapa.” Lanjutnya.

“Oh, keluarga kita gak akan semeriah ini tanpa anak seperti kamu sayang.” Ellen memeluk cucunya gemas, memberikan serangan ciuman hingga cucunya menggeliat geli.

Yang basah dan berkeringat akhirnya datang menghampiri. Mereka duduk di bangku seberang yang kosong dengan napas tak beraturan apalagi yang jauh lebih tua.

“Hufft! Anak remaja ini tenaganya luar biasa.”

“Hei, kenapa kamu gak ikut main sama grandpa dan kakak?”

“Enggak ah, grandpa kan aku gak boleh capek. Nanti kalau kambuh dimarahin sama papa. Katanya rumah sakit jauh.” Jawab yang paling kecil.

Di rumah seluas ini penghuninya hanya tinggal empat sebab dua orang dewasa lainnya berhasil diusir sejak pagi dari dalam rumah. Yah, setidaknya satu hari benar-benar terasa seperti liburan bulan madu bagi mereka. Jika tidak begitu, mereka berdua akan terus memikirkan kesehatan orang tua dan kesenangan anak-anaknya saja.

Itupun sangat sulit membuat mereka pergi berdua. Takut merepotkan lah mom dan dad lah, takut anak-anaknya nakal lah. Dua orang itu benar-benar diusir dengan ancaman kekanakan yang dibuat oleh Ellen sehingga akhirnya menurut. Jadilah tersisa kakek nenek dan dua cucunya.

Semakin lama menghabiskan waktu, Oscar dan Ellen semakin yakin bahwa mereka anak-anak Alex dan Henry. Nicholas secara fisik luar nampak sangat Henry tetapi banyak menuruni perangai Alex. Viscount dengan senyum tengil dan cara bicara nakal seperti Alex tetapi dalamnya serapuh Henry. Alex dan Henry membuat mereka seolah bukan tidak sengaja tetapi sudah diperhitungkan dengan matang.

“Grandpa bersyukur kalian dengan dewasa mau menerima kehadiran anak Granpa dan Grandma satu-satunya.” Oscar membelai satu persatu rambut cucu-cucunya.

“He was very convincing terus papa sama dad kayak lega akhirnya bisa ketemu satu sama lain. Meskipun dad yang memilih mereka harus berpisah, tapi papa gak ada sedikit pun dendam. Jadi, apalagi yang membuat kita harus benci sama dad.” Nicholas yang pertama meyakinkan bahwa semua penderitaan dan kekhawatiran sudah berakhir. Tidak boleh ada yang mengganjal di hati, biarlah yang sudah terjadi berlalu begitu saja.

Viscount mengangguk setuju, “Dad tuh dad yang paling baik. Dia tegas tapi gampang lunaknya. Dia kadang nyebelin sih tapi dia seru juga. Pokoknya aku seneng punya dad sama papa.”

Ya sudah memang hari buruk mereka telah berlalu. Tidak ada lagi sengsara hanya tinggal menjalani saja yang ada di depan selanjutnya. Setidaknya, mereka sekarang bersama sebagai keluarga besar bukan bercerai berai seperti dahulu.


`hjkscripts.


Lihatlah mereka adalah keluarga. Harmonisnya terasa sampai relung jiwa. Dua dewasa yang tengah duduk di atas bangku menatap bangga. Melihat dua putra yang tengah bermain dengan kebebasan tiada tara.

Lihatlah mereka adalah keluarga. Nampak sempurna hanya dengan ditatap dengan mata. Saling melengkapi akan kekurangan masing-masing sifat manusia. Bagaimana bisa membentuknya begitu tanpa cela?

Lihatlah mereka adalah keluarga. Utuhnya mereka dapatkan dengan korban darah dan jutaan air mata. Begitu banyak duka dan pesakitan sebelum dinyatakan lolos menuju fase bahagia. Mereka orang-orang hebat yang berhasil menempuh berbagai ujian dengan berbagai harapan dan doa.

Terakhir lihatlah mereka adalah keluarga. Mereka yang tengah berbagi afeksi tanpa takut akan kejam dunia. Sebab mereka ini insan-insani percaya akan kekuatan cinta. Kacau bumi akan terasa seperti melewati permainan ektrem pada taman bermain, asal mereka tetap bersama, saling menggenggam dan menguatan satu sama lain mereka akan baik-baik saja.

Terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas begitu banyak kesempatan sehingga mereka yang disebut keluarga bisa berjalan berdampingan sembari bercerita masa duka dengan lapang dada.

Terima kasih juga kepada para pembaca yang terus memberikan kesan dan pesan menarik atas perjalanan kisah mereka. Mari kita menghatarkan satu kalimat terakhir untuk melepas keluarga ini bebas hidup dalam dunianya.

Kepada Alex, Henry, Nicholas, dan Viscount sampai jumpa.


`hjkscripts.


Denting piano mengalun mengantarkan kaki-kaki menapak di atas tanah di pijak. Tanah ini penuh cerita, duka lara canda tawa bahagia. Mereka yang berpisah diberi kesempatan untuk kembali bersama. Merajut asa, satu persatu langkah kecil hingga mencapai titik yang menjadi tujuan.

Hari ini tentu bukan jadi hari terakhir tentang kisah mereka, namun menjadi langkah baru membuka lembaran putih pada buru anyar belum tersentuh tinta. Mereka akan menulis kembali dinamika kehidupan sebuah keluarga utuh dimulai dari sini.

Lelaki yang berjalan bergandengan tangan membawa sebuket bunga akan syarat dan makna yang dia petik dan rakit sendiri dari halaman rumah sederhana. Pandangannya lurus tepat kepada lelaki beraroma menenangkan yang tengah berdiri menanti di ujung sana. Sorak-sorai suka cita, tebaran kelopak bunga ada pula tangis serta kelakar tawa mengiringi langkahnya hingga sampai dia diserahkan pada pemilik sesungguhnya.

Mereka yang melempar senyum, tersipu malu hanya dengan bersitatap begitu. Mereka yang saling menggenggam, berhadapan di depan pemuka agama yang tengah membaca untaian doa. Mereka yang bertarung dengan sunyi, hanya debaran jantung masing-masing yang menambah suasana semakin khidmat. Mereka yang luruh air matanya kala bergantian mengucap ikrar suci pernikahan.

Pada akhirnya suara khalayak datang kembali menyambut benang tak kasat mata yang akhirnya mengikat mereka secara resmi menjadi pasangan sehidup semati.

Cincin dihantarkan oleh kedua buah hati. Diambil mereka dari rumah sementara secara hati-hati. Alex dan Henry bergantian mengambil jemari manis kanan sang suami, melekatkan simbolis cinta mereka melingkar pada rumahnya masing-masing. Inilah yang harus dijaga jangan sampai lepas seperti menjaga janji kepada pemilik bumi bahwa cinta mereka akan lekang abadi.

Tiba saatnya prosesi ditutup, diakhiri dengan mereka yang saling menggenggam, kedua kepala yang semakin bergerak mendekat, dan dua pasang kelopak mata yang kian menutup. Hingga bertemu sepasang dua bibir yang saling menyentuh, bergerak lembut tanpa nafsu. Dalam hati keduanya terukir harapan demi harapan tentang jalannya masa depan.

Dua manusia ini yang bersatu sebab ada takdir. Berakhir pada satu tempat paling romantis di atas altar dikelilingi berkat dari teman sejawat dan keluarga. Mereka yang berhasil menggapai mimpi dari buah kerja keras tanpa kenal letih. Datang dengan lara lalu disembuhkan oleh bahagia. Bersatu dalam raga maupun dalam jiwa. Berharap masa depan akan sama baiknya menyambut mereka yang telah lengkap menjadi keluarga.


`hjkscripts.


Bridge Hampton ㅡ 24 Desember 2039

Salju turun layaknya hujan ketika mobil hitam berhenti di depan halaman rumah sederhana. Dibenahi sebentar mantel tebal yang membungkus tubuh serta syal yang melilit leher. Lelaki itu turun, menapakkan sepatu hitamnya membiarkan tubuhnya dijatuhi butiran putih lembut.

Pintu kemudi juga terbuka, turun perempuan anggun bukan manusia biasa. Dia yang berjalan memutar, menghampiri lelaki yang sibuk mengambil barang-barang dari bagasi. Tangan cantiknya refleks mengangkat satu tas kecil terakhir yang sanggup dibawa olehnya.

Belum juga langkah selesai melintasi jalan setapak minimalis yang lurus dengan pintu utama. Terbuka daun pintu, keluar tiga lelaki dengan sesumbar pekikan senang menyambut siapa yang datang akhirnya.

“PAPA!!!” Begitu teriaknya. Anak remaja kini berlari tak takut akan tergelincir di atas salju licin.

Si remaja ini yang paling minim afeksi membuka lebar lengannya, mendekap sang papa yang juga melakukan hal sama. Dikecup permukaan wajahnya yang pucat akibat suhu luar yang dingin. Lalu berganti, menyambut tubuh yang lain kali ini lebih berisi sebab remaja ini adalah idola rugby. Bergantian mereka saling mengecup pipi, melayangkan kalimat rindu mengingat terakhir kali mereka bertemu. Terakhir, dia yang didekap oleh lelaki yang lebih dewasa. Lelaki yang melingkarkan seluruh lengannya membungkus kasihnya dalam hangat tubuhnya.

“I miss you, mi amor.” “I miss you too, love.”

Tak lupa menyematkan sebuah kecupan kecil tanpa malu dihadapan mata-mata yang memandang mereka penuh bahagia.

“Your Majesty...” Lelaki dewasa kini berganti memeluk wanita satu-satunya di antara mereka. Dia yang tertawa geli dipanggil dengan gelar di depan nama.

“Oh, Alex apa kabar kamu?” Sang ratu bertanya.

“Baik tapi sering pusing karena harus menghadapi dua anak-anak ini.” Jawab Alex bercanda berakibat menutup kedua daun telinga sebab dua anak-anak yang dimaksud berteriak tak terima.

“Aunty Beatrice ayo masuk! Disini dingin.”

Nicholas memecah tawa, menyudahi percakapan di luar rumah agar dilanjutkan saja di dalam sembari mengelilingi perapian yang menyala. Namun, Beatrice menggeleng menolak halus sebab kedatangannya hanya untuk mengantar Henry saudaranya. Masih banyak pekerjaan di ibukota, mungkin lain kali mereka bisa berkumpul bersama layaknya pertemuan keluarga besar.

Maka Beatrice masuk dalam mobil, memutar arah dan mengucapkan selamat tinggal sekali lagi sebelum mobil hitam melenggang meninggalkan halaman.

Henry dituntun masuk layaknya dia masih seorang raja. Berjalan di tengah prajurit yang akan senantiasa melindungi dirinya. Tangannya kosong, karena ketiga alpha memaksa membawakan barang-barang milik dia.

Dibukakan pintu kayu sederhana, dipersilahkan dia seolah tamu kenegaraan. Sedikit menunduk, pula dapat merasakan bagaimana perubahan suhu antara luar dan di dalam. Betapa tercengang kala rumahnya telah berubah menjadi rumah santa. Begitu meriah pada setiap sudut dihiasi pernak-pernik natal. Bahkan pohon cemara kecil telah berdiri kokoh bersama aksesoris, lampu kelip, tak lupa menyala bintang di puncaknya.

“Kapan kalian buat semua ini?” Ungkap Henry, berjalan kesana-kemari meneliti satu persatu sudut rumah sederhana.

“Kemarin kita ke kota terus belanja banyak banget buat hias rumah.” Jawab Viscount bersemangat.

“Iya, soalnya kapan lagi kita bisa rayain natal kayak gini.” Nicholas menambahi.

Lalu Alex mendekapnya dari belakang kala Henry sibuk menikmati gemerlap lampu yang melingkar apik di pohon natal. Dia berkata, “Anak-anak bilang kamu punya mimpi merayakan natal secara proper kalau kita akhirnya jadi keluarga utuh seperti ini. Kamu mau pohon natal dengan berbagai hiasan seperti ini.”

Henry tersenyum, betul itulah mimpinya merayakan natal dengan hiasan, hadiah, hangat dekapan keluarga, dan tawa membahana. Dia mengistirahatkan kepalanya pada pundak Alex, mendengar debaran jantung sembari matanya hampir tak berkedip melihat pohon natal yang amat cantik.

Alex mengambil tangan kanan Henry membawanya melayang tepat di depan pancaran lampu warna-warni. Henry terpaku, memperhatikan detik-detik benda bulat yang tak kalah binarnya dari hiasan pohon natal. Alex memasangnya pada jari manis tangan kanan. Tersenyum puas sebab ukurannya pas meskipun dia memesan tanpa membawa empunya.

“Alex?” Henry berbalik, masih membiarkan tangannya kini digenggam oleh Alex.

“Alex?” Panggil pada asma sang alpha sekali lagi. Sulit kalimat bahkan satu kata yang keluar dari bibir kecuali Alex.

Bola matanya bergerak kebingungan, entah bagaimana pula dia mengekspresikan maha kejadian ini. Hingga, putih bola mata kian memerah membentuk bendungan air di dalam pelupuknya.

Satu tetes jatuh kala Alex mengecup tepat di atas cincin yang terpakai ayu melingkari jemari. Tetes lainnya jatuh kala sang alpha memandangnya dengan tatapan jatuh cinta luar biasa.

“Henry Arthur Hanover-Stuart, menikahlah denganku. Lengkapi banyak kurangnya diriku, menitih sedikit demi sedikit sisa hidup kita bersama.”

Percaya diri benar lelaki satu ini. Bukan mengutarakan kalimat tanya namun sebuah ajakan paksa.

“Menikahlah denganku.” Aku tersenyum geli bersama air mata yang masih sibuk terjatuh, melihat dua remaja yang berharap jawaban yang sama dengan lelaki yang sedang berusaha.

“Baik, pangeran ini akan menikah denganmu wahai si anjing gila.”


`hjkscripts.


TRIGGER WARNING ; SENSUAL CONTENT🔞

Bunyi kerincing menggema dalam ruangan luas dihiasi lampu kuning temaram. Ada tawa yang tercipta disela-sela napas memburu. Bunyi kecipak turut ikut campur sebab dua bibir yang tak sabar ingin juga melepas rindu.

Satu persatu lencana kenegaraan jatuh tergeletak tak berharga. Satu persatu pula luruh kain sutra berharga jutaan dalam segala jenis mata uang seperti kain keset belaka. Seolah dua lelaki ini mengajarkan kepada khalayak bahwa yang berharga akan menjadi satu dengan tanah pada akhirnya.

Dua lelaki ini sedang gila, bertelanjang bulat melempar senyum saling menggoda. Sang alpha berdiri tepat dihadapan omeganya, menatap lamat dari ujung berlian pertama hingga ujung kuku kakinya. Dia yang bertelanjang dihadapannya bukan sekedar pangeran, bukan juga Henry rakyat biasa. Namun, lelaki ini telah resmi menjadi raja.

Raja ini pemimpin yang menguasai seluk beluk negeri. Raja ini yang akan memimpin rakyat mulai saat ini. Namun, raja ini tetap manusia biasa dengan nafsu birahi. Raja ini yang tengah memerintahkan jemarinya menggerayangi seluruh tubuh polos tanpa pelindung baju besi.

Mereka yang berjarak kini semakin mendekat. Menempelkan dahi juga permukaan kulit. Saling merasakan nafas dan getaran sebab gesekan yang terjadi. Napasnya berhenti kala bibir membekap bibir, perang melumat terjadi memperebutkan kepemilikan atas bibir satu sama lain.

Kini pertahanan sang raja roboh begitu tengkuknya ditarik kuat sebab sang alpha menerobos paksa, menginvasi lebih dari sekedar bibir namun juga rongga mulut yang terjaga hanya lidah. Dia menjilat, menyesap ujungnya berantakan mengakibatkan tetesan air liur turun deras membasahi dagu dan bergerak sensual melewati leher.

“Hhhggg...Sshhh...” Desahnya pelan.

Bagi sang alpha nada itu adalah tanda kemenangan. Sebuah melodi yang memacu keliarannya muncul sampai ambang maksimal. Lelaki itu kini mengecupi tengkuk sang raja, membuatnya bergidik geli sebab tiupan nakal dan gigitan kecil pada bagian cupingnya. Dia bergerak turun berlakon menjadi Van Gogh dengan lukisan abstrak merah keunguan pada leher jenjang seputih kanvas anyar.

Di dorongnya sang raja yang kini semakin kalah terjajah. Mahkota bertabur sumber daya alam mahal jatuh seolah tak ada harga mengikuti sang empu yang pasrah menyerahkan harga dirinya diinjak sang alpha minus tata krama.

Raja ini gila, bukannya takut malah tertawa menggoda. Merengek minta disetubuhi oleh sang penguasa hingga dirinya lemas tak berdaya. Terkungkung tubuhnya, Henry benci dikekang atau dikurung bak burung penghibur lara. Namun jika dikungkung begini dia tak apa.

“Ya Tuhan bagaimana bisa engkau membuat lelaki seindah dirinya. Tak bosan dua mataku memandang parasnya. Enggan melengos wajahku mematri lekuk tubuhnya.” Puji sang alpha.

Debaran jantung berisik mengundang begitu banyak hormon pembangkit nafsu. Mereka menyebar rasa panas dan pusing melanda syaraf pusat sehingga dia susah membuat komando. Yang hanya dia tahu saat ini adalah bagaimana cara menghilangkan rasa panas dan sesak dalam tubuh, mengeluarkan cairan yang telah berkumpul di batang dan merasakan lenguhan panjang tanda kelegaan.

Henry menengadah kala bibir basah sang alpha bermain di atas buah dadanya. Dia yang mengecup, menjilatnya berputar membuat kepalanya pening tujuh keliling. Alex menggigit putingnya bergantian menyesap layaknya bayi kelaparan. Bukan mengharapkan susu namun desisan frustasi dari sang empu.

Sepuluh jemarinya sibuk mencari pegangan hidup sebab hidupnya sebentar lagi hancur oleh ulah lelaki tak beradap yang mencoba membasahi sekujur tubunya dengan liur dan peluh.

“AHHH!” Teriaknya.

Berpegang erat dia pada kain seprei hingga kusut dibuat bersamaan dengan tangan besar sang alpha kini menggenggam penis yang telah lama menegang. Dikocok dia naik turun kadang pula hanya diurut perlahan seolah menguji kesebaran si empu. Dua pahanya sering kali tertutup kala gelanyar aneh menyelimuti tubuhnya akibat permainan di bawah sana, apalagi kala rasa hangat juga basah menyelimuti permukaan kulitnya.

Bunyi kecipaknya membuat Henry gila, berteriak memanggil sang penguasa agar berhenti menjajahnya secara perlahan. Alex tersenyum atas ekpresi kebingungan sang pemilik kejantanan, masih mengulumnya perlahan dengan satu tangan sedang yang lainnya mencoba menahan paha sang omega agar tetap terbuka.

Berkedut dia tanda detik peluncuran semakin dekat, bukannya pelana sang alpha malah mengocoknya tanpa ampun hingga batang sepenuhnya tegang menggembung. Keluarlah dia si cairan pejuh, membasahi sekujur kaki juga tangan sang alpha. Dibawa sebagian dia naik menyapa pemiliknya kembali yang mulutnya telah terbuka sukarela. Dijilati jemari demi jemari seperti tengah menikmati makanan paling lezat sedunia.

Alex meraup bibir omeganya yang telah berantakan. Dikecup hingga dilumat berusaha mencari rasa dari alami bibir bercampur liur dan pejuhnya sendiri. Henry mendorong tubuh sang penguasa, menggantikan kuasa atas tubuhnya menjadi dia yang memerintah.

Ya, dia adalah sang raja yang berhak atas tubuh rakyatnya. Dia yang berhak menciumi dan memberi tanda kepemilikan pada sekujur kulit tan seindah coklat dari Belgia. Dia yang berhak mengulum dua puting dan bermain dengan rimbun bulu dada sang alpha.

Tubuhnya merosot semakin ke bawa sembari matanya tak lepas dari ekspresi kepuasan sang alpha. Telinganya terbuka menyapa segala bentuk nada baritone yang datang entah desahan puas, entah geraman ketidakwarasan. Dia yang masih mencengang bagaimana perbedaan tangannya kala menggenggam penis sang alpha. Bagaimana bisa dia selama ini menerima benda sebesar ini masuk menembus lubangnya begitu saja.

Diludahi ujung batangnya, liur mengalir menuju tengah ditahan oleh telapak yang mulai meratakan seluruh permukaan, menjadikan itu sebagai pelumas alami. Henry bergerak perlahan, konstan seperti lelaki yang telah berpengalaman memuaskan hasrat lelaki lain. Gerakannya tidak berantakan, ritmenya rapih dari konstan hingga kencang membuat pemiliknya kalang kabut. Mulutnya merancau dengan nada berat kadang Henry tersipu dipuji bagaimana hebat tangannya membelai miliknya yang berharga.

Henry memang luwes dengan tangan. Namun, kala dia coba memasukkan penis tegang dalam rongga mulutnya, berkali-kali tersedak dia sebab ujungnya menyentuh tenggorokan saat dipaksa masuk semakin dalam.

“Hhmnm... Huhhh.. Hen-” “FUCK YOU KING SLUT!”

Kacau sang alpha, tak sabar akan gerakan mengulum yang rasanya semakin pelan. Alex menahan kepala Henry, mengakat pinggulnya dan digerakan mandiri secara brutal. Gila sang alpha, kala kedua mata sang omega hanya sanggup terbuka hingga keluar air mata.

“UHHHH SHIT!”

Juntaian benang liur tercipta bersama cairan putih turun dari bibirnya. Henry jatuh terduduk di bawah lantai, mengumpulkan napas untuk mengisi rongganya yang hampir kosong melompong akibat ulah sang alpha yang kurang ajar.

Ya akulah sang raja, namun kaulah sang penguasa sebenarnya

Alex beranjak, mengambil tubuh Henry kembali berdiri. Ditarik lembut dia sembari mengucap maaf melalui sorot matanya yang berpendar khawatir. Henry tersenyum, dia tak selemah itu sebab alphanya adalah bajingan dengan kontol panjang besar beserta birahinya yang luar biasa.

Naik kembali sang raja di atas tubuh penguasa. Saling pandang mereka meminta izin hanya dari dua pasang mata turun pada suara degub jantung yang sama gila.

Alex mengusap bibir Henry, melesakkan dua jari sekaligus untuk dibasahi. Jari dikeluarkan diganti dengan bibir, ciumannya penuh cinta juga nafsu tak terhingga. Satu tangan mengangkat pantat sang raja, yang basah bergerak memutari lubang senggama. Dimasukkan perlahan satu dan lainnya ikut bertamu kala tak ada suara protes dari empunya.

Sudah basah lubang senggama, tanpa melepaskan lumatan di bibir, Alex mengarahkan penis tegang dalam lubang. Kaku tubuh sang raja, digigit pula sang alpha kala batang tegang kini menerobos masuk lubang senggama. Diam di dalam sana sebentar hingga dapat izin dari empu untuk kembali melanjutkan.

Hilang waras orang dewasa yang satu bergerak dari atas dan lainnya menusuk dari bawah. Gerakannya seirama menggambarkan memang mereka adalah takdir dari sang kuasa. Merancau bibir-bibir itu saling memanggil nama pemiliknya memuji betapa hebat permainan mereka malam ini.

Liur jatuh bercampur peluh menambah intim tubuh mereka yang menempel satu sama lain tampa perekat. Keduanya bersetubuh, melolong bersama decitan kasur mahal yang entah akan bertahan berapa jam lagi.

Mereka berteriak seiring gerakannya makin berantakan. Hanya puncak dan kepuasan yang dicari. Semakin gila, entah orang di luar sana mendengar suaranya atau tidak.

Semakin cepat gerakannya mengguncang tilam. Semakin kencang teriakannya menjadi pertanda bahwa apa yang dituju akan datang saat ini juta. Bergetar tubuhnya, berdesir darah keduanya, disambung rasa aneh yang datang. Penuh lubang senggama, lalu diikuti hangat perutnya menjadi akhir cerita bersetubuh dua pria.

Mereka yang melenguh panjang kelegaan telah mencapai puncak angan. Mereka yang terlentang lemas saling mendekap telah menyentuh ambang nirwana. Mereka yang saling bertukar kecup manja sebab dipenuhi serbuk cinta. Inilah akhir cerita dewasa antara raja dan penguasa sebenarnya.


`hjkscripts.


“Aku mau diangkat jadi raja.”

Tak ada kata yang terucap hanya mata yang membola dan mulut ikut menganga. Tak ada ribuan komentar atau reaksi luar biasa. Hanya ada keterdiaman dan helaan napas panjang semata.

Henry tak bisa menjelaskan lebih panjang lagi sebab ketiga orang yang tengah duduk di sekitarnya belum sepenuhnya mengerti satu kalimat kontroversial yang baru saja dia umumkan.

Raja? Raja ya? How supposed that happened?

Henry juga dilema. Menjadi raja pada kosa kata ini bukanlah permainan bukan juga sedang berlaga dalam film bertema kerajaan melainkan menjalankan tugas dengan nyata. Ada istana yang harus ditinggali, ada tahta yang harus di duduki, ada keluarga yang harus dihormati, dan ada rakyat yang harus dipenuhi.

Dia tidak yakin apa dia bisa. Mungkin dulu, jika kejadiannya tidak begini masih ada kesanggupan yang dia miliki sebab henry belia hingga muda paling gencar belajar tentang monarki dan kekuasaan negara.

Namun, Henry muda dimatikan namanya, disembunyikan paksa dia hingga membuat pelajaran tentang memimpin dipelajari pun sia-sia. Henry ini tidak pernah punya angan bahwa hari ini akan tiba. Setelah itu, Henry remaja hingga dewasa hanyalah seorang ayah tunggal. Tiap-tiap hari belajar mengurus rumah tangga dan dua anaknya. Jangankan terpikir jadi raja, bagaimana bisa dia tidak langsung tumbang melihat kesusahan rakyatnya jika kala itu melihat anaknya jatuh sakit dia kelimpungan. Lagi, Henry ini juga hanya pemilik toko bunga kecil, rumah yang juga kecil.

Henry ini pangeran kecil bukan pangeran yang disiapkan untuk membangun negeri.

“Maksud.. Maksudnya diangkat menjadi raja apa?” Nicholas jadi yang pertama sadar dan menanggapi obrolan yang tidak santai ini.

Henry menyandarkan punggungnya, kepalanya tertunduk dengan raut wajah juga bingung. “Philip mundur dari kekuasaan dan dia juga tidak menghendaki putranya jadi penerus. Lagi, dia dapat wasiat dari father bahwa tahta ini tidak boleh jatuh ditangan keluarga kedua atau ketiga karena memang mereka bukan orang yang lebih baik daripada father. Jadilah tidak ada pilihan lain selain aku?”

“What about Princess Beatrice?”

“Oh dear, the king can't be a woman. Itu jelas tertulis di buku.”

Kami kembali terdiam, hanya suara alam yang terdengar hingga dalam rumah saking sunyinya. Dia usap kabar wajahnya, berpikir bahwa mungkin besok atau lusa ada solusi untuk ini. Sebelum suara Alex yang terakhir menginterupsi.

“What about you?” “Me?” Henry membalas, maksudnya bagaimana denganku?

Alex mengangguk, mereka saling bersitatap penuh tanya. “Tanpa memikirkan semua faktor, jika kamu adalah Prince Henry bagaimana menurutnya jika ditunjuk jadi pemimpin selanjutnya?” Dia melanjutkan.

Henry sebenarnya tidak mengharapkan pertanyaan ini muncul. Pertanyaan yang membuat jantungnya berdebar entah karena apa. Pertanyaan yang membuat dia takut untuk menjawab karena ada dua pilihan.

Jikalau dia adalah Prince Henry jelas jawabannya, “Iya aku mau. Jadi raja adalah keinginan Prince Henry muda. Tapi melihat diriku sekarang tentu aku tidak bisa. Aku bukan orang yang tepat untuk jadi raja. Aku tidak tau dunia luar, aku tidak tau keinginan rakyat, aku kurang mengerti konstitusi masa kini. He said i can but i called myself unable.. I'm not capable. Aku cuma papa dari dua anak-anakku, aku cuma pasangan hidup kamu, aku cuma si pemilik toko bunga.”

Bahkan rasa percaya diriku sudah habis terkikis oleh waktu. Aku bukan raja melainkan rakyat biasa.

“Sayang, dengarkan aku!” Alex menarik bahu Henry. Menuntut tubuhnya agar tegak. Lelaki itu juga tak lupa mengarahkan wajah si omega agar menatap dirinya kembali, mengunci dua bola mata yang bergerak gelisah agar tidak lari kemana-mana.

Dua alpha remaja lainnya juga ikut patuh pada sang pemimpin dewasa. Terpaku akan suara titahnya sehingga mereka berdua turut mendengarkan.

“Saat ini kekuasaan kosong. Semakin lama kosong adalah celah bagi siapapun untuk berebut menguasai. Kamu mau satu kursi itu berlumuran darah?” Henry menggeleng keras. Tentu saja tidak.

“Bagus.” Tanggapannya. “Maka, jika pilihannya adalah kosong dan kamu harusnya kamu sendiri tahu jawabannya. Betul, kursi itu menjadi hak kamu.” Alex melanjutkan. Henry masih kurang mengerti maksud alphanya yang seolah mendukung dia untuk menjadi raja.

“Dengarkan aku, saat ini hanya yang menjadi raja yang bisa membuat perubahan dan kamu adalah orangnya. Kamu harus menjadi raja untuk membuat perubahan, kamu harus berkuasa untuk membuat aturan. Mengerti?”

Henry polos menggeleng dan Alex tersenyum geli melihatnya. “Putuskan jawabanmu, terima atau tidak menduduki tahta. Nanti aku beri tahu maksudnya.”


`hjkscripts.