hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


TRIGGER WARNING ; SENSUAL CONTENT 🔞

Alex Point of View.

Hari demi hari telah dilalui. Tetes demi tetes air matanya terus mengalir. Bergetar tubuhnya dengan suara isakan yang terus mengalun dari bibir indahnya. Sayangku, sudahi laramu marilah berbahagia denganku.

Tega nian yang membuatmu larut dalam kesedihan. Dia yang membuatmu terpuruk dalam menjalani setengah hidup. Pula mati meninggalkanmu dengan duka dalam ingatan. Sayangku, sudahi sakitmu marilah tertawa denganku.

Aku membelai lembut punggungnya, menepuk pelan bahunya yang masih enggan tegar. Kubalik badannya, mengubah pemandangan jadi menatap wajahnya. Lihatlah dia, begitu hancur dan berantakan.

Jemariku bergerak mengusap basah pipinya yang semakin memerah. Menyibakkan helai rambut penghalang pandang. Nampak rapuh sosoknya pilu.

Dia yang akhirnya membuka kedua kelopak mata, menatap milikku dengan pandangan sedikit kelabu. Satu dua tetes masih memaksa luruh seolah mengadu padaku bagaimana perasaan cintaku. Sakit, aku melihatnya sakit dari mata turun ke hati.

Iya, sayangku aku tahu betapa sakit dirimu. Namun aku ingatkan pula bahwa kamu masih punya aku. Tempatmu berteduh dari kejam dunia menyiksa batinmu. Lelaki yang akan memberikan segala kalimat penenang dan dada untuk mencari kehangatan.

Aku seka bulir air mata, dalam hati menghujatnya agar sudahi berlinang. Aku ingin melihatnya tersenyum dan menatap wajah tampannya memuja. Aku ingin melihatnya tertawa dan ikut tertawa bersamanya.

Aku menahan tengkuknya, bergerak mendekat dan semakin mendekati wajah rupawan yang basah. Aku bisa merasakan napasnya berantakan serta debaran jantung yang sama sekali tidak sesuai ritme. Tersenyum bibirku kala melihat kelopak indahnya menutup, bibir merah lembab yang perlahan membuka memberi akses milikku untuk menyapa.

Selamat malam manisku, aku kecup sesaat dirimu lalu melumat kenyal bagian bawahnya kuat. Maaf aku menekan dirimu tanpa ampun, sebab aku merindukan suara kecipak yang akan hadir ketika melumat keduanya bergantian.

Benar begitu cintaku, naiklah di atas pangkuanku. Menggeliat sensual akan pertarungan antar lidah. Sisihkan sejenak sedihmu dan hilangkan kewarasanmu dan ikuti permainanku.

Gila rasanya aku, memandang wajah sendu bercampur nafsu. Mata itu jangan menatap milikku seperti itu. Begitu polos seolah memohon kepada tuan untuk menjamah seluruh tubuh. Katupkan bibirmu jangan dibiarkan terbuka seperti itu. Mengundang milikku untuk lebih melecehkanmu.

Sepuluh jemari nakal kini membuka pertahanan terakhir satu persatu. Mengusap kulit yang nampak oleh mata mengharapkan imbalan suara yang akan menggugah birahi. Pasrah dirimu dilucuti hingga polos seolah berbisik mempersilahkan untuk dijamu.

Kau dan aku bersenggama di atas duka. Menghilangkan sedikit luka dan diganti dengan desahan manja. Kau dan aku bercumbu liar di atas lara. Menggila saling membalas lolongan serigala liar di luar sana dengan lenguhan lega. Kau dan aku bersetubuh di atas derita. Melekatkan tubuh dengan peluh dan cairan pejuh.

Sayangku sudahi sedihmu, marilah menari denganku di atas ranjang penuh nafsu hingga bulan tak kuasa menyaksikan betapa hebatnya dirimu bergerak mempesona di atas kejantananku. Buatlah dunia tahu betapa mengagumkan seluruh bagian tubuhmu kala mencari jalan menuju langit ketujuh.


`hjkscripts.


Southminster Palace, 2038

Surat ini aku tulis khusus untuk putraku Henry Arthur Hanover-Stuart.

Rubah kecil, begitu keluarga ibumu sangat mencintai kehadiran sosokmu. Putraku yang tampan juga hangat. Putraku yang suka membaca juga bunga. Putraku yang senyumnya seteduh rindang pohon di desa.

Sambutlah surat dariku si raja bijaksana. Bacalah surat dariku si ayah bejat. Mohon ampun padamu putraku maafkan semua khilaf dan dosa sengaja. Cerca saja namaku ketika sudah tiada dengan kalimat menghujat.

Henry putra kedua dari ayah bangsat. Harusnya aku tak merasa malu memiliki putra luar biasa seperti dirimu. Harusnya aku orang pertama yang bisa melindungimu. Harusnya aku tak menganggap lahirnya kamu sebagai cacat martabat.

Henry putraku ampuni bibir ayahmu yang penuh gengsi. Merindukanmu hanya dalam hati bukan malah mengusirmu pergi. Henry putraku ampuni perangai ayahmu yang penuh caci maki. Mencintaimu hanya dalam nurani bukan malah ingin menyakiti.

Henry, oh, Henry mungkin penyakit yang menggerogoti tubuhku dari dalam dan luar adalah bentuk balasan.

Henry, oh Henry dokter menyatakan umurku tinggal sejengkal jemari. Harapku semoga nanti aku bisa melihatmu untuk yang terakhir kali.

Henry, oh Henry mungkin dalam surat ini aku bisa mengatakan padamu untuk yang pertama sejak kata-kata ini keluar sebagai bentuk afeksi. Ayah menyayangi kamu, ayah mencintai kamu, dan ayah merindukan kamu. Tak apa jika kamu membenciku dengan sepenuh hati. Ayah pantas dihardik anak sendiri.

Kepada lelaki yang menjadi takdirmu, tolong sampaikan padanya ucapan maaf dan terima kasih. Juga sampaikan pintaku padanya untuk menjagamu dengan baik, sangat lebih baik dari ayah dahulu.

Kepada anak-anak yang lahir sehat dari tubuhmu, tolong sampaikan padanya ucapan menyesal sebab ada akal untuk melukainya dahulu. Juga sampaikan pintaku padanya untuk terus tertawa dan berlari mengisi kesepian dalam rumah kita nanti.

Kepada kamu Henry putraku jika surat ini sampai ditanganmu itu tandanya ayah sudah tidak bersama kamu lagi. Kembalilah meskipun luka tak dapat sembuh seketika. Berbahagialah meskipun duka yang menyelimuti rumah besar kita.

Kembalilah jadikan rumah besar kita hangat seperti sedia kala.

Selamat tinggal Henry putraku,

Dari Arthur ayahmu.


Henry Point of View.

Berlari aku terus berlari. Enam belas tahun hidup aku terus berlari. Aku terus berlari sebab aku takut jika berhenti mereka akan menangkap ku kembali. Aku terus berlari sebab aku takut jika berhenti mereka akan mengurungku lagi.

Berlari aku terus berlari. Meski napas kadang kala tercekat aku tidak bisa berhenti. Meski peluh penuh membahasi aku tidak bisa berhenti. Meski terserang dehidrasi aku tetap tidak bisa berhenti. Aku ingin berlari hingga ujung dunia yang senantiasa menanti. Aku ingin berlari sampai mati.

Berlari aku terus berlari. Namun aku ingin juga berhenti. Berhenti pula aku lebih letih timbang terus berlari.

Kata mereka berhenti adalah sebuah kesempatan untuk diriku memperbaiki. Kata mereka berhenti adalah sebuah harapan untuk masa depan lebih baik untuk hari ini. Kata mereka berhenti adalah sebuah keharusan untuk aku dan kebaikan akal nurani.

Tapi bagaimana jika telah terlambat berhenti? Niat hati memperbaiki malah ditinggal mati. Dia sudah mati, dan kini seperti roda dunia yang berhenti.

Aku bergeming, berdiri menatap kosong. Menatap hampa pemandangan di depan sana. Satu persatu air tanda kelemahan luruh tanpa diminta. Tak ada ekpresi kesakitan atau kesedihan, sebab isi kepala bersih seolah kopong.

Hati menjerit kehilangan, mata panas merah seperti kebakaran namun seluruh organ lemah untuk bereaksi. Otak malfungsi sehingga satu tubuh ikut diam terhenti. Mereka juga ikut aku berkabung. Mereka pula ikut aku terjatuh dalam kelam palung.

Aku benci bukan berarti aku berharap dia pergi. Aku marah bukan berarti aku berharap ingin dia terjarah. Aku berdarah bukan berarti aku berharap dia susah. Aku sakit hati bukan berarti aku berharap dia mati.

Ayah, tega nian engkau pergi tanpa permisi. Tak ingatkah anakmu belum merelakan mu pergi. Ayah, tega nian engkau menutup mata dan mulut bungkam. Begitu enggan kau menungguku berada di sampingmu. Begitu enggan kau mendengar nada ikhlas ku melepas dirimu.

Ayah, mana lantunan maaf untukku yang setengah hidup memenuhi siksa darimu. Ayah, mana ekpresi bersalah untukku yang setengah hidup rela dikubur hidup dengan tanganmu.

Benar ini balasan darimu? Menyiksaku seumur hidup dengan penyesalan yang terus mengikutiku layaknya bayangan. Benar kejam tingkah lakumu, hingga mati pun masih memberi pelajaran untukku, sebuah ketakutan yang terus melayang di atas awan.

Sesak di dada kian gulita yang terus ku pandang. Kebas kaki dan lengan, lelah tubuh terduduk tegang. Aku jatuh, tak berharap siapapun untuk menopang. Aku jatuh, membiarkan fisikku sakit demi mengurangi yang di dalam.

Siapa kamu wahai lelaki yang dengan berani menangkap lemas ragaku. Siapa kamu wahai lelaki yang tidak memiliki tata krama langsung mendekapku. Siapa kamu wahai lelaki yang kurang ajar membisikkan kata penenang di samping dua telingaku.

Dia yang kini berteriak frustasi seolah aku akan ikut pergi. Dia yang kini menggerakkan ragaku berantakan berharap masih ada sisa kewarasan kembali. Dia yang kini meremas sepuluh jemari yang makin dingin setara detik terus bergerak. Dia yang kini mencium keningku, memberi kehangatan miliknya pasrah.

Ketika hangat terserap lalu mengalir cepat mengisi syaraf-syaraf beku, mencairkan otak sehingga berfungsi kembali. Pun ketika kesadaranku kembali hanya raungan depresi yang menyelimuti. Tak ada lagi yang bisa membuat air mata kini berhenti. Kata-kata penenang mana yang ampuh untuk menghapus kesedihan yang aku alami.

Aku jatuh tak berdaya. Aku tersungkur di atas tanah. Aku jatuh tersungkur melebur berantakan.


Inilah kali pertama dalam belasan tahun pelarian, dua kaki memijak tanah penuh nostalgia derita. Pula kali pertama dalam kurun waktu bersembunyi, seluruh raga kini diselimuti pakaian yang akan menyita canda tawa bahagia.

Aku melihatnya dia yang damai dalam peti. Dia yang tidur tanpa peduli keadaan disekitarnya. Dia yang entah melihat atau tidak anaknya yang lama pergi datang untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku melihatnya dia benar ayahku.

“Henry...”

Aku tak peduli akan suara yang memanggil namaku jutaan kali. Aku juga tak peduli akan mereka yang memelukku lega atas hadirnya aku disini. Tidak hanya Beatrice adikku sendiri ataupun raja sang pemimpin negeri.

Harusnya dia juga ikut menyambut kedatanganku. Harusnya dia duduk dengan wajah angkuh. Minus senyum ketika aku menunduk patuh. Harusnya dia dan suaranya yang menggelegar penuh amarah. Harusnya dan harusnya begitulah cerca manusia dengan penyesalan.

Terakhir untuk selamanya aku memahat paras lelah tua dalam hati. Membuang yang membuat sakit hati dan mengganti dengan yang tengah terlelap damai. Setidaknya bukan wajah kecewa yang tersisa, namun wajah tenang yang membuatku mengingat akan ayah yang sebenarnya.

Terakhir untuk selamanya aku bersujud di depan peti. Membuka yang menghalangi antara dunianya dan dunia milikku. Merasakan kini telapak tangan tekstur kulit tua dengan banyak keriput. Aku membelainya dengan hati-hati seraya nurani membacakan doa penggiring yang akan menemani jasadnya menuju nirwana.

Terakhir untuk selamanya aku mencium keningnya. Mereka yang sering berkerut tanda kecewa kini halus seketika. Lantas aku bangkit, menutup kembali helai kain yang membatasi dunianya dan dunia milikku. Berbalik tubuhku menandakan bahwa aku mengikhlaskan kepergianmu.

Selamat tinggal sang pemanggil hadirnya aku. Kau yang menyambut lahir putramu dengan senyum bangga. Kau yang memberikan gelimang harta dan gelar tak mudah.

Selamat tinggal sang lelaki yang ku sebut ayah. Kau memanglah raja yang bijaksana, namun bukan kepala keluarga baik untuk anak-anaknya. Meskipun begitu, bagiku kau tetaplah seorang ayah. Ayah yang akan ku kenang hingga nafasku terhenti.

Kini berakhir sudah deritamu dan deritaku di bumi. Semoga di atas surga nanti, jika takdir ingin kita lanjut memperbaiki, kita akan bersama menjadi keluarga yang lebih baik lagi.


`hjkscripts.


Lagu selamat ulang tahun dikumandangkan. Meskipun liriknya sederhana. Lagu ini penuh syarat akan makna dan miliaran doa. Doa dari yang tercinta berharap yang terbaik untuk yang juga dicinta.

Lagunya terus disuarakan, berulang sebab doa-doanya panjang. Bersama kedua tangan yang tengah menopang. Tumpuk tiga kue pembawa bahagia. Diletakkan dia, dinyalakan lilin berupa angka tanda bertambah dewasa.

Lihat ekspresinya tidak ada duka hanya suara kelakar tawa dan tepuk tangan meriah. Berhadapan mereka pada suasana ulang tahun sederhana. Hanya ada dad dan papa bersama pemilik hari bahagia. Hari ini mereka yang bertambah angka jelas patut untuk dirayakan.

Menutup dua pasang kelopak mata, bibir mengatup hati yang berbicara. Nurani melantunkan kalimat-kalimat penuh syukur juga cita-cita. Bersyukur tahun ini mereka akhirnya utuh sebagai keluarga. Bercita-cita semoga masa depan tetap begini dan baik-baik saja.

Tidak ada hadiah berupa mainan kesukaan remaja pria. Betul mereka hanya ingin bersyukur bersama. Sebab hadiah yang mereka pinta sudah hadir akhirnya ditengah-tengah mereka.

Ya Tuhan engkau empu alam. Hari ini kami diberi kesempatan. Memulai kembali langkah baru bersama karuniamu. Ya Tuhan engkau empu hidup. Hari ini kami berkumpul bersama. Duduk bersanding saling menggenggam tangan satu sama lain. Ya Tuhan engkau empu akal dan nurani. Terima kasih atas hadiah dariMu ini. Semoga masa depan akan lebih indah daripada detik ini.


`hjkscripts.


Henry Point of View.

Aku berteriak bak anak remaja. Aku menggeram kesal bak anak remaja. Aku marah sebab dicurangi bak anak remaja. Aku pun tertawa terbahak bak anak remaja.

Namun aku bukanlah seorang remaja melainkan lelaki dewasa yang baru merasakan indahnya hidup di dunia.

Kesal aku meletakkan konsol game melihat lagi-lagi karakter yang aku pilih tergeletak tak berdaya. Diejek aku pula oleh lawan main yang wajahnya sombong luar biasa. Papa gak bisa main katanya, papa gak jago serunya dan aku mengerang tak terima. Siklusnya begini sejak selesai sarapan dan diminta duduk di sofa. Bermain, kalah, tak terima, lalu meminta pertandingan ulang yang berakhir tak ada beda.

Meskipun kalah aku tetap tertawa sebab sudah lama kita tidak terjebak dalam situasi menyenangkan. Bermain lawan video game di ruang tamu dengan mengerahkan seluruh tenaga. Lelah kalah jika bermain sportif, tangan jahilku menutup mata Nicholas sang lawan yang unggul lima poin di depan. Meskipun begitu tetap akhirnya aku kecewa sebab aku buruk dalam segala permainan.

“Kamu itu curang tapi masih kalah?” Nicholas menggeleng tak percaya, nadanya seolah mengejek betapa buruknya aku dalam permainan ini.

“Hampir menang kurang hoki aja.” Aku membela diri. “Ayo ulang lagi! Kali ini aku pasti menang!” Ajak seseorang yang masih penasaran.

Nicholas menggeleng, “Nggak ah, lawan kamu gak seru. Gampang dikalahinnya.” Balasnya meremehkan.

Tentu aku tidak terima, aku kalah mungkin karena belum terbiasa. Sepuluh atau dua puluh kali lagi bisa aja aku lebih jago nantinya. Kita terlibat adu mulut, lucu memang dilihat antara orang dewasa dan anak remaja masalah permainan. Aku akui hari ini Nicholas menyebalkan, atau aku yang terlalu emosional?

Pertengkaran kekanakan ini ditutup oleh pintu utama yang terbuka dan masuklah seorang pria dewasa lainnya. Dia meletakkan barang di tangannya lalu menghampiri arena gulat yang masih panas.

“Ayo mulai satu kali lagi!” Teriakku emosi. Sedangkan yang memegang kendali masih menggeleng menggoda. Begitu senang melihatku marah.

“Hey what's wrong?” Dia mencoba menengahi

“Kakak gak mau main sama aku lagi.” Adukku padanya.

“What? Papa yang gak bisa main jadi aku malas main lagi. He even can't control his character to stand on battlefield for five seconds.”

“Oh c'mon!

“Kak ayo sekali lagi!”

“Dad...”

Aku tersenyum kemenangan. Setidaknya aku menang dalam pertandingan mengadu pada alpha dewasa yang saat ini mengambil spot di samping Nicholas. Yang membuat aku tidak percaya adalah Alex duduk di sampingnya tanpa membuat cela, dia malah menyamankan duduknya, mengistirahatkan tangan panjangnya di bahu si anak enteng.

Am i missing some moments? Since when? And what did Nicholas calling him? Dad?

Memikirkan hal-hal lucu juga menakjubkan membuatku makin tidak berkonsentrasi dan terlambat memulai permainan hingga aku kalah tanpa perlawanan berarti. Baik, sepertinya memang permainan bukan passionku sejak dulu. Aku menyerah dan beranjak, namun sebelum itu menyerahkan konsol pada Alex yang sepertinya sudah siap bermain juga.

Inilah passionku sebenarnya, berada di dapur dan melihat apa yang si alpha bawa dari luar. Menata yang bisa dimakan saat ini juga di atas piring dan menyimpan yang lain di dalam kulkas. Sambil mencuri dengar percakapan ayah dan anak yang sampai detik ini pun aku belum tau bagaimana mereka bisa kulit dan nadi, bahkan kemarin masih sejauh neraka dan nirvana.

“Where's your brother?” Sang alpha bertanya. Hanya mulutnya saja yang bekerja sedangkan tangan sibuk menekan tombol konsol dan mata fokus pada layar televisi. “Mandi.” “Have you eat?” “I have. You?” “I left home early, so...” “Nanti makan aja bareng sama Vis.” “Oh, oke. Papa masak apa?” “Such as english breakfast..” “There's beans in it?” “Kamu gak suka bake beans?” “Suka aja but, beans in english breakfast kinda.. yucks?” “Nanti aku makan. Aku suka itu.”

Aku tidak bisa berhenti tersenyum haru atas percakapan sederhana. Well, secara tidak langsung mereka saling mempelajari masing-masing. Apa yang dia suka apa yang lainnya tidak suka. Aku lega bahwa semakin hari apa yang harus diperbaiki semakin baik adanya.

Setelah itu suara langkah kaki yang beradu dengan tangga kayu terdengar. Muncul satu lagi remaja dengan wajah masih penuh kantuk. Baunya wangi berasal dari sabun mandi dan pelembut pakaian. Bak turun dari kahyangan dia mendapat perhatian dari seluruh pemirsa.

Dia meletakkan handuknya pada besi tempat menggantung kain handuk. Berjalan gontai menuju ruang tamu tepatnya pada sofa lumayan panjang satu lagi yang kosong. Dihempaskan tubuh kurusnya disana, memperhatikan kakak dan ayahnya yang sudah bersemangat dengan mata malasnya.

“Hey kid? Mana semangat liburannya?!” Celetuk Alex diiringi kekehan. Sedangkan yang tengah terlentang di atas sofa mulai menutup lagi kedua matanya.

“C'mon beat me in the game!” Ajak yang dewasa. Yang muda membalas dengan gelengan malas.

Kakaknya beranjak tiba-tiba, melempar konsolnya sembarangan hingga mendarat tepat di perut adiknya. Menghampiri aku yang tengah menata berbagai jenis makanan ringan di atas meja.

Viscount bangun dengan malas, berpindah tempat dari sofa yang lebih kecil menuju samping ayahnya, menggantikan posisi kakaknya yang belum lama pergi dari sana.

Aku memperhatikan gerak geriknya dan menganga ketika Viscount duduk menempel pada bahu Alex. Lebih dari itu dia juga meletakkan beban kepalnya di atas bahu sang ayah.

Jujur saja melihat kedekatan kecil Nicholas sudah membuatku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Tapi dia adalah Nicholas, aku tahu sendiri sejak awal mereka berhubungan layaknya teman lama. Namun, ini Viscount yang seperti punya masalah pribadi bahkan pengalaman buruk pertama kali dirinya bertemu Alex.

Look at them both right now! Sudah seperti ayah dan anak yang dekat sejak hari kelahirannya.

Sukar terbayang dalam benak maupun pikiran bahwa hari ini akan datang. Hari dimana semua doa dan harapan terkabul dalam pandang. Sebuah keluarga yang sengsara, bertahun masing-masing berpetualang. Sebuah keluarga yang akhirnya dapat bersatu di bawah atap yang sama sembari bertukar cerita hingga tercipta kelakar senang.

Terima kasih Yang Maha Pencipta. Setidaknya hari ini menjadi awal dari hari panjang selanjutnya. Patutlah kita mensyukuri. Besar kecil hal yang terjadi dalam hidup kini.

Maka inilah sebuah keluarga yang terikat pada tali darah yang sama. Inilah sebuah keluarga yang mengenali lahir batin kehadirannya. Inilah sebuah keluarga yang saling mendekap dalam susah maupun duka. Dan akhirnya inilah sebuah keluarga yang telah berkumpul seutuhnya bersama.


`hjkscripts.


Nicholas Point of View.

Melihat rumah sepi di hari minggu begini tentu gue gak terbiasa. Hari minggu itu adalah hari keluarga, hanya ada papa, gue, dan Viscount. Entah kita yang nonton televisi bersama, entah kita akan bermain permainan papan dan papa jadi pupuk bawang yang akan kalah pertama kali sebab dicurangi. Pun kita hanya akan berdiam diri, menikmati kegiatan masing-masing tanpa suara. Terpenting kita akan bersama di satu atap rumah sederhana.

Ini kali pertama dalam seumur hidup. Kala kaki menyentuh lantai bawah tidak ada sapaan selamat pagi melainkan sunyi. Rumah bersih tertata rapi seperti tidak ada penghuni sejak semalam. Hanya ada tumpukan makanan cepat saji yang ada di atas meja.

Gue menyentuh dan melihat isinya satu per satu. Sudah dingin menandakan makanannya sudah ada sejak lama. Gue memanaskan beberapa potong pizza, satu kotak pasta dan mengeluarkan dua soft drink juga kue brownies kukus dari dalam kulkas. Menyingkirkan kotak yang tersisa dan menata yang masih hangat di atas meja makan.

Viscount turun tepat ketika gue telah selesai menyiapkan brunch seadanya. Rambut masih basah, wajah lesu bukan segar khas orang selesai mandi. Gue meletakkan piring berisi dua potong pizza dan setengah porsi pasta juga minuman berkarbonasi. Gak lupa membuka penutupnya agar bisa diteguk.

Viscount makan dengan tenang, pelan gak seperti biasanya yang sampai diomelin papa soalnya belum habis di mulut sudah dimasukkan lagi satu sendok. Melihat rambutnya masih meneteskan air gue berinisiatif mengambil handuk kecil yang menggantung di pundaknya, mulai mengusap rambut dan kepalanya telaten hingga setengah kering, juga menata rambutnya sedikit agar lebih rapi.

Kita makan tanpa suara, terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Mungkin terlalu bingung darimana harus memulai atas informasi yang diterima. Terlalu banyak, terlalu berat daripada memahami berita politik dari sosial media.

Kita berdua duduk berjajar di depan televisi yang menayangkan cerita tentang keluarga bahagia. Menontonnya dengan pandangan kosong tidak seperti biasanya yang akan ikut berimajinasi bagaimana kalau kita yang berada di sisi mereka.

Ternyata memang gak mudah, sebab kita berdua telah terbiasa hidup dengan papa dan kedatangan dad sebagai pelengkap... apa benar kita butuh pelengkap? Apa benar hidup sebagai keluarga yang kata mereka sempurna itu yang kita butuhkan?

Pangkuan gue mendadak berat oleh sebuah kepala yang dilimpahkan empunya di sana. Viscount menggeliat menyamankan tubuhnya bergelung di sofa. Paha gue terasa basah atas satu tetes air mata yang meluncur begitu saja. Mereka diseka kala gue mencoba mengintip memastikan apa benar mereka datang dari mata nakalnya.

I know... I understand... It is too overwhelming for us. Semuanya tiba-tiba dan serba mendadak.

“You like him, do you?” Akhirnya dia bersuara meskipun dengan dana serak. Gue paham siapa dia dalam percakapan kali ini.

Jujur gue membalas, “Gak ada alasan yang bikin gue gak suka sama dia dan gue yakin lo juga.”

Bukan tanpa alasan gue berkata demikian. Bukan maksud gue membuat keputusan jika Viscount gak bisa membenci Sir Alex. Namun, gue sebenernya tahu di dalam hati nuraninya dia menyukai Sir Alex sebesar kita semua menyukai beliau.

Viscount mengangguk, tandanya dia setuju atas pernyataan gue. “I don't want to hate him. I do not hate him either. Tapi fakta bahwa dia ninggalin kita, membiarkan papa hidup sendiri, membesarkan kita sendiri. Gue gak bisa.” Jelasnya semakin tergugu.

Iya gue juga mengerti alasan yang satu itu. Viscount adalah satu-satunya dari kita yang kurang memiliki sabar. Dia yang akan selalu melindungi papa dari gunjingan buruk yang sebenarnya kita gak tahu keabsahannya.

Gue pun sama, gue gak bisa benci tetapi gue butuh banyak waktu untuk memproses semua informasi. Papa adalah pangeran, mantan raja yang tengah sakit di ibu kota adalah kakek kita, raja saat ini pula adalah kakak dari papa, juga mengetahui bahwa si anjing gila anak mantan presiden amerika itu adalah ayah kita yang lain. Wah, kepala gue mau pecah mikirinya.

Masih banyak pertanyaan yang ingin gue tau daripada apa yang kemarin dijelaskan. Masih banyak yang ingin gue mengerti. Setidaknya semakin banyak gue tau ceritanya, gue akan cepat paham dan mengerti tentang keadaan yang akan gue jalani.


`hjkscripts.


Adalah keluarga jika seluruhnya mengenal satu sama lain secara lahir batin. Adalah keluarga jika seluruhnya mengakui keberadaan satu sama lain. Adalah keluarga jika seluruhnya terkoneksi. Adalah keluarga jika seluruhnya punya perasaan saling memiliki.

Apakah keluarga jika salah satunya hidup di luar lingkaran? Apakah keluarga jika salah satunya tak dikenali keberadaan? Apakah keluarga jika salah satunya putus ikatan? Apakah masih bisa disebut keluarga jika salah satunya tak lekat dalam ingatan?

Inilah keluarga yang masih mengusahakan kata sempurna. Meskipun sempurna hanyalah milik sang kuasa. Inilah keluarga yang masih mengumpulkan rasa percaya. Setidaknya mengatakan jika salah satunya masih ada.

Keluarga ini memanglah kurang sempurna. Kepalanya berada jauh dari raga. Anaknya hidup dan tumbuh bersama sang papa. Apalah arti kosa kata daddy? Itu tak tercatat dalam kamus hidupnya.

Keluarga ini tengah berusaha. Datanglah sang kepala menemui raga. Menerobos masuk dalam hidup anaknya yang hanya tahu keberadaan sang papa. Mengajarkan mereka ada satu lagi kata untuk menyebut dirinya.

Namun apa daya kepala dan raga yang telah lekat seutuhnya ragu mengungkapkan siapa sebenarnya mereka. Inilah konflik antara keluarga yang hidup memikul rahasia. Entah apa nanti reaksinya, setidaknya tak ada dusta lagi di antara mereka.

Sang kepala duduk tegang di atas kursi kayu. Telapak tangannya dingin meskipun di depannya terdapat masakan yang baru keluar dari perapian. Masakan yang dibuat dengan cinta dan harapan. Berharap hari ini mereka kembali menjadi satu.

Dipanggilnya kedua putra, bunyi langkah berantakan sama dengan degub jantung keduanya. Semakin bertalu hebat bersamaan suara kelakar yang sampai pada gendang telinga. Ketika kaki-kakinya menyentuh lantai bawah, ketika antar mata saling memandang, diam mulut seketika.

Tamu katanya, padahal selama hidup siapa yang mau bertamu ke rumah yang katanya duda beranak dua. Inilah kali pertama ada orang asing yang ikut duduk bersama mengisi meja makan yang selama ini kosong.

Apa ini artinya mengapa sang papa membeli empat kursi bambu? Apa ini artinya mengapa sang papa membeli masing-masing empat alat makan kayu? Apa ini artinya mengapa sang papa membeli ranjang besar untuk dirinya sendiri? Dan apa ini artinya mengapa sang papa membeli sofa keluarga lengkap untuk menonton televisi?

Anehnya hari ini mereka tidak saling menyapa, seperti hari biasa yang bisa bergurau layaknya kawan lama. Ada banyak pertanyaan dalam benak keduanya mengapa sang guru yang datang bertamu. Pula mereka tahu bahwa ini beliau datang bukan sebagai pak guru.

Hanya beberapa basa basi dijawab singkat. Pertanyaan retoris untuk mencairkan suasana yang tak kunjung meleleh. Meskipun makan tak ada suara hanya dentingan alat makan. Selesai juga hanya tangan cekatan belum ada kata.

Diminta menetap keduanya sebelum berhasil berlari dengan ribuan tanda tanya. Duduk berhadapan mereka diikuti kebingungan. Semakin membingungkan ketika salah satu dewasa menyerahkan satu lembar foto lawas penuh kenangan.

Itulah potret keluarga yang juga tak sempurna. Banyak kurang dan bobroknya. Ibunya mati hanya tinggal ayah dan tiga anaknya. Selanjutnya mereka membuat cerita, membohongi sebagian dunia bahwa ikut mati anak yang kedua demi menutupi yang katanya aib keluarga.

Itulah potret keluarga yang juga tak sempurna. Pemimpin nomor satu negeri. Bergelimang harta mereka juga sorakan puja puji. Namun tidak dengan kasih sayang dan cinta.

Itulah potret keluarga yang juga tak sempurna. Ayahnya raja yang bijaksana. Punya dua pangeran dan satu puteri. Ayahnya merawat kesejahteraan rakyat. Pun ayahnya tega menyakiti buah hati sendiri.

Adalah fakta bahwa sang papa adalah pangeran yang diumumkan mati. Pangeran yang hidup dalam sangkar seperti burung kenari. Adalah fakta bahwa sang papa adalah pangeran yang diambil hak dan kewajiban. Hidup mendekam dalam penjara terbuka tanpa kebebasan.

Beruntung sangat sang pangeran dipertemukan takdir kala hidup telah sampai di ujung tebing. Beruntung sangat sang pangeran dipertemukan lelaki yang mengulurkan tangan gagahnya kala terpeleset dirinya hampir terjun menuju jurang. Betul beruntung sang pangeran untuk pertama kali matanya menyaksikan hingar bingar dunia luar. Betul beruntung sang pangeran untuk pertama kali hidupnya merasa aman telah menemukan jantung yang sama berdebar.

Mereka bahagia bahkan dibawah guyuran hujan mereka tertawa. Naas hanya sementara, sebab mereka terlalu percaya bahwa bersatu adalah jalan untuk bersama. Menitipkan benih ternyata bukan jawaban melainkan malapetaka. Hukumannya salah satu mati atau semuanya. Maka berpisah adalah jalannya.

Begitulah kisah tentang pangeran ada ditiadakan dengan sang pujangga cinta. Pangeran yang tengah duduk bersebelahan dengan belahan jiwa di bawah atap rumah sederhana. Pangeran dan pujaan hati berhadapan dengan dua buah hati.

“Papa adalah Prince Henry Arthur Hanover-Stuart dan Alexander Gabriel Claremont-Diaz ini adalah daddy kalian. Alpha yang menjadi takdir pangeran omega.”

Bukan tangis haru atau teriak makian. Bukan pernyataan menyangkal atau kebingungan. Bukan pula aksi dramatis atau tamparan. Melainkan ekspresi kosong tak terbaca pula dua bibir yang saling bungkam. Salah satunya berdiri melenggang tanpa permisi. Berakhir yang lainnya juga berdiri menghilang dari pandangan ikut pergi.


`hjkscripts.


Mereka yang tengah terlentang di atas tilam. Sejajar mata melempar pandangan memuja. Para jemari bergerilya saling memberi usapan lembut. Membuat iri air yang masih terus turun di luar sana. Hingga langit kadang marah mengirim kilat cahaya.

Mereka yang bertelanjang dada dengan bau khas setelah berjam-jam melakukan adegan dewasa. Seluruh posisi dalam panduan buku kama sutra telah dicoba. Masih sanggup melumat bibir yang merah membengkak.

Mereka yang tengah dikelilingi jutaan peri cinta. Terkekeh geli melempar guyonan penuh keju dan gula. Mengungkapkan betapa beruntung keduanya dihadiahkan Tuhan pasangan sempurna. Berharap pada dewa dewi agar dikaruniai selalu bahagia.

Kini mereka berdua tengah berdelebrasi langkah yang akan dituju selanjutnya. Sebab berdua belum sempurna seluruhnya. Masih ada koneksi yang harus dihubungkan segera. Antara dia, buah hatinya, dan juga sebuah rahasia.

“Kita harus beritahu mereka secepatnya. Aku bisa semakin gila hanya bisa memandang mereka dan berbicara dengan sebuah alasan.” Ujarnya dengan suara lemah. Mengadu pada sang omega dia sudah sangat sengsara.

Sang omega mengangguk setuju. Sebab dia sama sengsaranya, hidup berlari memanggul kebenaran yang dia sembunyikan dibalik tubuhnya.

“Datanglah ke rumah akhir pekan nanti. Kita beritahu mereka yang sebenarnya.”

Dan bukan keraguan yang muncul dari binar matanya. Namun percikan api dan gemuruh dadanya membuncah bahagia. Inilah akhirnya, akhir sebuah penantian. Setidaknya tidak ada rahasia diantara mereka. Apapun yang akan terjadi nanti biarlah waktu dan takdir yang akan menentukan.


`hjkscripts.


TRIGGER WARNING ; SENSUAL CONTENT 🔞

Tetesan air dari langit pada pagi hari membuat rasa kesepian di dalam pandu rumah megah nyaman semakin merasuk dalam dada. Bau khas hujan tercium pekat entah ini memang dari alam atau feromon sang alpha yang tengah membumbung bebas berikat dengan udara.

Temperatur di luar berangsur menurun namun tidak di dalam tubuhnya yang semakin melonjak atas reaksi ilmiah yang terjadi satu bulan sekali. Empunya raga menggeram karena panas menyebabkan bagian sensitifnya tegang hingga mengeluarkan cairan. Siapa gerangan yang mau datang di pagi hari dengan riuh air hujan? Menyerahkan tubuh pada dirinya untuk dijadikan bahan pelampiasan.

Sang alpha juga dirinya butuh asupan, enam belas tahun menahan hasrat yang tak tertahankan.

Siapapun dia orang yang rela dijadikan pelampiasan. Siapapun dia yang akhirnya menjawab doa-doa dilantunkan pada saat terendahnya. Siapapun dia dan suara deru kendaraan teredam suara ramai sang hujan yang berhenti tepat di depan taman. Inilah dia lelaki yang berdiri, lelaki yang menyerah terhadap keadaan hingga sanggup melangkah masuk dalam jeratan marah bahaya.

Raganya sedingin samudra antartika bergelayut manja mencari kehangatan pada kulit tan sepanas gurun sahara. Dia yang masuk tanpa permisi juga basa basi. Mendorong sang empu tanpa sungkan seperti lelaki minus tata krama. Duduk dipangkuan menikmati bibir milik tuan bukan hangat teh melati.

Bunyi kecipak mengalun mengisi ruang kosong telinga, menggantikan amarah kilatan cahaya yang membawa guntur bersamanya. Lenguhan tak pantas meluncur begitu saja menjadi pengiring pembukaan kegiatan dewasa.

“HAAHHH AHHHH...” Teriaknya mengadu pada sang alam. Memamerkan suara indahnya seolah memberitahu pada seluruh dunia lelaki yang tengah memberikan ribuan tanda sungguh luar biasa.

Basah bibirnya pula bengkak berwarna merah tengah menganga, meracau entah kata atau hanya desahan semata. Kepalanya menengadah matanya berlinang air mata. Pasrah dia dibuatnya, membiarkan sang alpha bermain dengan dadanya.

Alex... Alex...

Seruan bibirnya memanggil kasihnya. Suara paraunya seolah semakin memberi motivasi pada pemilik nama untuk melancarkan terus aksinya. Membuka akses tanpa permisi, menggerayangi tubuh polos tanpa sehelai sutra. Diletakkan dia sejenak, lembut punggung menyentuh sofa.

Pengelihatannya kabur, namun dari bawah sini pun dia masih bisa menyaksikan bagaimana sensualnya sang lelaki dalam menelanjangi diri sendiri. Refleks membulat matanya kala perisai kain lepas dari kaki-kakinya melihat miliknya yang tegak berdiri.

Sang omega mengulurkan tangannya, meminta dibantu duduk kembali. Sejajar sekarang wajahnya dengan batang tegang milik si lelaki. Ini seperti sebuah reuni. Antara si panjang dengan lubang hangat ditengah nafsu birahi.

Sensasinya masih sama seperti masa lalu. Hangat dan basah juga rasa ngilu. Pusing di kepala seiring berantakan gerakan mundur dan maju. Lalu, bergetar tubuh dan berkedut batang dahulu sebelum lepas cairan peju.

Mereka berdua bagai orang gila yang kewarasannya telah dikeluarkan paksa. Kelakar tawa sembari bercumbu menyesap kentalnya cairan peju bercampur liur dan asin peluh. Memompa nafsu hingga puncak jika ditambah bumbu manis dari sari alami bibir masing-masing.

Di dorongnya tubuh sang tuan, merebut kuasanya naik di atas tahta dia. Tersenyum binal sebab dia yang menjadi rajanya. Dimasukkan pedang dalam sarungnya agar tak berlari kemana-mana. Bergerak pelan menggoda sang tuan yang menggeram frustasi.

Enam belas tahun dan berakhir sebuah reuni. Bukan hanya hati namun juga birahi. Dia yang setiap hari melengkung lemah sebab hilang arah dari sang rumah. Kini menggembung sempurna memenuhi. Berperilaku sesuka hati meluluh lantakkan pemiliknya hingga kacau seperti lelaki gila.

Terkikisnya jarak antar permukaan, antar kulit dibatasi peluh. Berantakan sudah gerakan, cepat maju mundur dengan teriakan juga desahan. Dilanjutkan lenguhan amat panjang tanda kelegaan. Juga sebuah kecupan tanda kepuasan. Ditemani rintik suara hujan dan bau persetubuhan. Dua jiwa yang melalang kembali bersama dalam satu tubuh.


`hjkscripts.


Alex Point of View.

Bukan kali pertama sebenernya gue menjelajahi daerah kecil ini. Lingkup kecil hanya dihuni beberapa rumah itupun jarak antar rumah lumayan. Rumah-rumah di sini dibangun sederhana, menyisakan banyak lahan untuk ditanami pokok atau biji-bijian membuat daerahnya nampak asri dan enak dipandang.

Gue memarkirkan mobil di samping rumah. Turun darinya dan disambut oleh bau rumput dan tanah yang khas. Langit berwarna nila, lampu-lampu rumah satu per satu bergantian menyala. Sehingga, lingkup kecil ini berubah menjadi daerah dengan syarat estetika.

Langkah demi langkah sepatu beradu dengan tanah. Menelusuri jalan setapak yang lurus dengan pintu utama. Disambut pula oleh lampu taman yang baru dinyalakan oleh empunya dari dalam. Selanjutnya pintu dibuka, gue gak perlu susah payah mengetuk sebab penghuni rumah sepertinya sudah menyadari kehadiran gue di tengah mereka.

“Hei.” Henry menyapa dari ambang pintu. Lelaki itu nampak hangat dengan balutan sweater rajut yang sangat pas dengan bentuk tubuhnya.

Gue mendekat, lumayan tersipu akan bayangan yang tiba-tiba masuk dalam pikiran. Ini seperti gue disambut oleh suami setelah pulang bekerja. Ini seperti kehidupan yang sulit gue bayangkan dalam enam belas tahun belakangan. Gue akhirnya bisa merasakan, meskipun skenarionya berbeda dari apa yang diharapkan.

Henry membuka pintu lebih lebar, memberikan ruang bagi tubuh besar gue lewat. Pintunya kecil, sederhana, muat untuk satu orang saja itupun tingginya terbatas hingga gue harus menunduk ketika melewati.

Rumah sederhana ini terlihat nyaman dari luar dan terlihat lebih nyaman di dalam. Jika diperhatikan interiornya lebih seksama sangat menggambarkan Henry sebagai pemilik. Lampunya berwarna kuning temaram sehingga nampak hangat, sebagian besar furniture di dalamnya terbuat dari kayu atau bambu. Meskipun nampak kecil ternyata ada dua lantai. Dari ruangan ke ruangan jaraknya tidak sampai sepuluh langkah.

“Kamar anak-anak di atas semua, terus kamar aku di bawah. Itu ruang keluarga jadi satu sama ruang tamu. Di belakang ada dapur kecil terus pintu belakang menuju kebun bunga.” Begitu Henry menjelaskan sedikit tentang rumah ini.

Rumah ini bukan sembarang rumah melainkan tanda kebebasan Henry yang terlepas dari belenggu bayangan kerajaan. Henry membangunnya dengan keringatnya sendiri bersama harapan dan cinta.

“Coffee or tea?” Henry bertanya ketika gue masih asyik meneliti detail dari ruangan kecil ini.

“Coffee then.” Balas gue.

Henry mengangguk lalu meminta gue melepaskan jaket yang gue pakai. Anggep aja rumah sendiri, begitu katanya dan meminta gue langsung ke atas menuju kamar dengan tag pintu bertuliskan Viscount.

Sedetik gue ragu, ya emang boleh langsung gue yang tiba-tiba dateng tanpa basa-basi juga tanpa Henry. Mengingat gue dan Viscount belum punya cukup koneksi baik daripada gue dan Nicholas. Pun Henry tetap bersikeras kalau gue yang harus menemui sedangkan Henry akan menyusul nanti.

“Aku berharap kamu datang kesini bukan sebagai guru atau pengacaranya. Aku harap kamu datang sebagai dad-nya. Kamu dad-nya, Alex. Kenapa harus ragu?”

Bener, kenapa gue harus ragu kalau yang akan gue temui adalah darah daging gue sendiri. Harusnya kesempatan ini gue manfaatkan dengan baik demi secercah nilai positif yang gue harap dari bagaimana Viscount akan melihat gue melalui sudut pandangnya.

“You can do it, dad!”

Satu kalimat semangat lucu sedikit mengurangi kegugupan yang tengah melanda diri gue. Lantas Henry menghilang dari pandangan meninggalkan gue seorang diri di ujung tangga. Gue naiki satu persatu diiringi bunyi deritan khas dari tangga yang terbuat dari kayu meranti. Sayup-sayup suara kekehan dari dua remaja yang berada dalam satu ruangan menyambut kedatangan gue di lantai atas.

Tok Tok

Gue tanpa ragu lagi mengetuk daun pintu menghentikan nyanyian di tengah lagu. Dibuka segera menampilkan dua remaja dengan rambut berantakan dan sisa tawa. Lucu dipandang gue mendapatkan dua reaksi yang berbeda. Satu terkejut senang, dua terkejut penuh tanya.

“Sir Alex!!!” Seruan Nicholas menyambut hadirnya gue. Anak ini selalu menyapa gue dengar nada yang sama.

“HEI KID!!!” Gue menyapanya tak kalah heboh. Udah kayak temen yang lama gak ketemu. Bonding gue dengan Nicholas berjalan dengan baik dari pertama dan sepertinya akan semakin baik sampai nanti saatnya.

“How was your weekend?”

“Papa hari ini tidak buka toko jadi kita seharian di rumah. Yours?”

“Fine.”

Lalu gue dan Nicholas saling melempar basa-basi sebentar. Setelahnya, gue menjelaskan maksud kedatangan gue sore menjelang malam ke rumahnya. Nicholas mengangguk paham, memberikan space yang gue butuhkan untuk berbicara empat mata dengan Viscount seorang.

Viscount kini seperti dilema atas kehadiran gue di kamarnya. Ada ragu, dan juga rasa takut berasal dari pancaran matanya. Yang bikin gue geleng-geleng kepala, dikeadaan dia yang tersudut masih ada lirikan sangsi dan gengsi atas bantuan yang gue tawarkan tanpa syarat.

“Kenapa kamu tidak mau percaya sama saya?”

Viscount bungkam, entah apa yang ada dalam benaknya sehingga membuatkan dirinya sebuah perisai yang akan melindungi dirinya dari khalayak luar. Apa yang gue perbuat sampai anak ini begitu keras kepala. Padahal gue cuma butuh satu yaitu, cerita selengkapnya.

“Vis dengarkan saya. Kamu itu dilaporkan ke pengadilan sekarang, dan diam akan membuat kamu lebih cepat dibawa ke persidangan. Saya tahu kamu dan saya punya hubungan yang buruk. Saya tahu kamu mungkin punya dendam kepada saya atas apa yang saya pernah lakukan. Jadi tolong jika kamu tidak percaya dengan saya setidaknya percaya dengan papa kamu yang sudah melakukan terbaik untuk kamu dan masa depan kamu.”

Setelah keterdiaman yang cukup lama diantara kita. Setelah keterdiaman yang lebih lama lagi dari dirinya. Viscount beranjak dari hadapan gue, mengambil gawainya dan berselancar sebentar di dalam sana. Dia menyerahkan gawainya tanpa suara, menunjukkan kalimat pesan yang sebagian isinya berisi tekanan dan ancaman. Salah satunya adalah omong kosong yang mengatakan gue ada di pihak mereka.

Then it's enough for me. Memulai permainan dengan keluarga gue yang berarti gue akan maju sebagai pemain utamanya.

“Aku takut papa dalam bahaya kalau aku buka mulut sedikit.”

Oh, you won't kid. We are all going to be okay.

Terakhir, gue gak bisa menyembunyikan rasa bangga atas usaha anak gue satu ini untuk melindungi keluarganya meskipun hampir menukar masa depannya dengan sebuah pelukan. Terlebih lagi atas keberanian dia yang akhirnya mau membuka suara demi keadilannya sendiri.


`hjkscripts.