hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Ini adalah hari pertama sejak Alex menyadari dia telah menemukan apa yang tengah dia cari. Alex lega sebab tak butuh banyak drama untuk melepaskan rindu. Usahanya tidak sia-sia, kerja kerasnya terbayar lunas.

Meskipun begitu, Alex tetap sabar diri. Langkahnya pula terus berhati-hati. Dia tidak bisa ceroboh, menunjukkan letupan kembang api yang muncul begitu pandangannya menangkap keberadaan Nicholas pada berbagai sudut sekolah. Dia tidak bisa ceroboh, berlari bagai anak perempuan yang bahagia bertemu sang ayah yang kembali dari tugas negara di perbatasan.

Saat ini cukup begini, cukup dengan mengetahui bahwa mereka hidup dengan baik meskipun sederhana. Cukup dari jarak ini, setidaknya Alex dapat memberikan sedikit kasih sayang tanpa dianggap orang aneh. Setidaknya Alex dapat memberikan pelukan kecil walau dia menganggap itulah hubungan erat antara guru dan siswa.

Dan setidaknya, Alex bisa menghampiri tanpa sebuah alasan dan duduk mendamping sosoknya yang tengah dilanda gundah.

Alex meletakkan tray makanan di atas meja, memasukkan satu persatu kakinya dan duduk di kursi panjang kantin. Dia berdehem mengambil sedikit atensi dari si anak yang hanya menunduk makan sedikit demi sedikit tak napsu seorang diri.

Dewasa itu tersenyum kecil menyapa pandangan si anak untuk pertama kali.

“Sir Alex.” Nicholas membenahi letak duduknya menjadi tegap. Membalas senyum yang lebih dewasa seadanya.

“Kenapa makanannya? Gak enak?”

Nicholas menggeleng tidak setuju. Tentu itu hanya pertanyaan pembuka. Sedangkan makanan kantin setiap hari pasti disukai anak-anak remaja.

“Gimana kabar Viscount? Kamu ngobrol sama dia?” Alex mengubah arah pembicaraannya menuju inti.

“Dia sempat hubungi saya kemarin dan saya pikir dia lumayan membaik. It's just... katanya boring di rumah mostly sendiri dari pagi sampai sore.”

Alex mengangguk paham, kedua anaknya sudah terbiasa tinggal di asrama bersama teman-temannya. Dia jadi lumayan menyesal, namun hanya itu keputusan yang dia bisa lakukan untuk saat ini. Dirinya tidak ingin timbul amarah dari pihak yang terkapar sebab sekolah seolah enggan mengambil keputusan untuk menghukum terduga pelaku.

Well, he really can't do anything at least for now. Melihat keadaan Viscount yang masih trauma ketakutan. Dia tidak bisa memaksa apalagi menyudutkan Viscount untuk segera berbicara seperti yang dia lakukan pada bajingan di luar sana. Terlebih, Viscount itu putranya sendiri. Terpenting adalah dia sehat secara keseluruhan lalu kita akan lihat hasilnya nanti.

“I'm sorry i couldn't doing much.” Ujar Alex benar menyesal.

Nicholas dan senyum teduhnya, inilah dia. “Sir Alex sudah janji mau bantu pun berarti bagi keluarga saya.” Balasnya.

Asal kamu tahu wahai Nicholas. Sir Alex tentu rela membantu tanpa syarat bukan sebab dia manusia bijaksana. Tetapi dia adalah seorang ayah yang akan melindungi keluarganya sekuat tenaga. Keluarga kamu harusnya dipimpin oleh dia.


“Jadi, yang kemarin itu papa kamu?”

Alex dan Nicholas menyusuri lorong panjang yang menghubungkan bagian depan dan belakang gedung sekolah. Berjalan berdua dengan Alex yang merangkul nyaman bahu lebar seperti miliknya dan tangan bebas keduanya menggenggam satu ice cream stick masing-masing.

Mereka berdua menikmati pemandangan yang hampir seluruhnya hijau dengan aksen warna biru dari langit yang mengintip sedikit sebab di atas mereka ada penutup yang membuat lorong panjang ini teduh. Berhembus sepoi-sepoi angin, mengacuhkan tatapan mata iri dari siswa yang menyadari kedekatan keduanya belakangan ini.

Nicholas itu paling bisa menahan emosi. Bahkan Alex saja kagum. Nicholas pasti mendengar sama percis apa yang dia juga dengar. Banyak siswa berbisik namun terlalu kencang hingga angin membawa kalimat mereka masuk dalam telinga. Bukan kata-kata baik melainkan gunjingan semata.

Jika yang tengah bersama Nicholas adalah Alex enam belas tahun lalu sudah pasti kejadian Viscount terulang lagi hari ini. Sebab Alex yang dulu hanya anjing gila bukan seperti sekarang yang masih si anjing gila juga namun juga seorang ayah.

“Betul, Henry Fox itu papa saya.”

Alex mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Sebagai pintu dibukakan untuk pertanyaan ingin tahu selanjutnya. Inilah kesempatan dia untuk tahu lebih banyak tentang keluarga kecilnya.

“Does he a florist?” Nicholas mengangguk memebenarkan.

“Anything else?”

Kali ini Nicholas menggelengkan kepala dan menjawab, “Tidak ada. Sejauh ini saya mengenal papa saya lihat dia tidak pernah jauh dari pupuk, pot, dan bibit bunga.”

Alex terkekeh, he's so Prince Henry after all. Henry suka berkebun, setidaknya itu kegiatan lain selain membaca buku. Aku bertanya-tanya bagaimana keadaan tamannya di taman istana sekarang. Apakah Henry masih khawatir tentang itu juga?

“Do you guys living just with your papa?” Alex tahu pertanyaan ini terlalu impulsif, namun hati dan otaknya mendadak miskonsepsi sehingga mulut secara refleks memilih kata tanpa melalui proses penyaringan.

Alex melirik Nicholas yang untungnya sama sekali tidak terganggu dengan pertanyaannya. Nicholas masih terpaku dengan pandangan lurus ke depan.

“Betul, sir. Sejak kami lahir hingga sekarang kami tau kalau hanya papa yang kami punya.”

Seolah ini menjadi sebuah kesempatan dalam kesempitan, Alex melancarkan ketidaksopanannya sekali lagi. “Lalu kalian pernah bertanya dimana ayah kalian yang lain?”

Nicholas mengangguk kesekian kali. “Pernah dua kali. Kali pertama kami hanya mengangguk paham sebab kami masih umur enam sejak kami memahami kenapa keluarga mereka ada dua orang dewasa. Bagi Nicholas dan Viscount kecil reasurasi dari kalimat papa yang mengatakan keluarga kita spesial sudah membuat kami puas.”

Nicholas menjeda ceritanya sebentar, menyesap batang ice cream yang hampir meleleh di tangannya. Sedangkan Alex masih menyimak seksama, sesekali tak sengaja malah menguatkan remasan jari-jarinya pada bahu si anak.

“Kedua kali saat kami mulai mengerti situasi bahwa keluarga yang hanya ada omega di rumahnya adalah ketidaksempurnaan. Alpha yang harusnya memimpin kami bukan papa yang omega. Kala itu Nicholas dan Viscount marah mengetahui papanya yang berbohong tentang uniknya keluarga mereka demi menutupi banyak kurang kita. Namun bodohnya, kedua anak ini malah tidak sengaja menyakiti hati papanya. Seseorang yang bisa mati saat melahirkan kami atau mati gila saat berusaha membesarkan dua anaknya seorang diri. Sejak saat itulah kami berjanji untuk tidak peduli, entah bagaimana sempurna keluarga mereka tidak milik kami. Bagi kami papa itu pemimpin paling hebat sampai kapanpun.”


`hjkscripts.


I. Kita yang Bertemu.

Andai saja dia tak berlari kala terdengar jeritan dari luar jendela. Andai saja dia masih egois menjadi Alex yang kurang peka. Mungkin dia tidak berada di ruangan konseling tengah berhadapan bersekat meja dengan muridnya.

Kepalanya dikelilingi dilema, pening harus berpihak pada siapa. Satu sisi yang terkapar dilarikan ke rumah sakit. Orang tuanya jelas kecewa dan mengamuk meminta pertanggung jawaban hukuman paling berat untuk pelakunya. Sisi lain dia iba, berbeda dari satu jam yang lalu kala dia sekuat tenaga memisahkan raga yang berselimut amarah, saat ini dia hanyalah remaja nampak putus asa.

Bajunya lusuh sana sini, menempel bercak darah dan noda tanah. Jari-jarinya bergetar hebat, bermandi keringat juga rasa takut. Bahkan dia masih harus mengontrol napasnya, menyuplai obat berupa oksigen dalam mulutnya.

Hanya penyesalan yang ada ketika Alex mencoba mengulik kembali cerita awalnya. Si anak terus berupaya menjelaskan meskipun kata-kata berantakan. Pandangan kosong, manik matanya bergerak tidak harmonis sebab panik melanda.

Saat ini dia bingung bagaimana menjelaskan, otak normalnya masih dalam keadaan trauma sehingga belum mampu menata kata menjadi kalimat. Hanya melakukan perintah berusaha sekuat tenaga membuat organ tubuh secepatnya berangsur tenang.

Si anak hanya melantur bahwa dia tidak sengaja, bukan dia yang memulai.

Alex dibuat serba bingung padahal dirinya seorang pengacara handal yang mampu menyelesaikan ribuan kasus rumit. Dirinya mampu memahami suatu kasus bahkan dengan membaca puluhan ribu catatan kasus dan mencari cela di dalamnya.

Namun kali ini bukan orang brengsek yang tengah dia hadapi. Ini sekolah tempat pertama anak-anak mendapatkan basis pelajaran. Keduanya punya kesempatan dan hak yang sama. Sebut saja Alex disewa oleh pihak sekolah, maka yang dia harus lalukan adalah mencari kebenaran seadil-adilnya agar reputasi sekolah tetap terjaga.

Setelah urusannya selesai dengan orang tua pihak yang terkapar. Di ruang konseling ini dia tengah menunggu orang tua pihak yang lain. Dari situasi ini Alex baru mengetahui bahwa Nicholas dan Viscount adalah saudara kembar tak seiras. Tak seiras dari segi perilaku, mereka berdua berbeda seratus delapan puluh derajat.

Pun begitu Alex kagum akan hubungan mereka berdua. Nicholas itu dewasa, begitu sayang dan peduli terhadap Viscount. Terbukti dari dia yang enggan meninggalkan sisi Viscount meskipun Alex sudah memaksa untuk dirinya kembali mengikuti pelajaran. Namun anak ini menolak, dia ingin ditempat sampai urusannya selesai. Dia berjanji akan menemani papanya berhadapan dengan Alex sendiri, sebab dia juga yang bertanggung jawab menjaga Viscount selama di sekolah. Sebab, dia adalah kakak dan Viscount adalah adiknya.

Berbicara tentang anak kembar satu ini Alex jadi teringat tentang fakta yang baru dia dapat kala sedang memeriksa buku kerja siswa. Nicholas dan Viscount Fox... Marga mereka berdua sama seperti sebuah nama yang dia kenal sangat siapa pemiliknya. Henry Fox, itulah nama yang digunakan pangeran sang pujaan hati dari awal mereka bertemu.

Apa mungkin ada Fox lain yang tersebar di permukaan negara ini? Atau dia yang baru tahu bahwa marga Fox adalah yang paling umum sama seperti Smith atau John di Amerika.

Mendatangkan orang tua mereka sebenarnya tujuan Alex pula dalam mencari jawaban. Sudah dua centang dia berikan pada daftar yang dia buat sendiri. Satu, anaknya kembar dan dua anak di depannya ini adalah kembar. Dua, marganya Fox dan Henry sering memakai nama itu. Ketiga, Alex masih mencari jawabannya dan dia akan mengetahui dalam beberapa menit saja.

Tok Tok

Alex buru-buru beranjak menghampiri pintu yang diketuk dari luar. Dia menggapai gagangnya, membukanya dengan ceroboh hingga yang dibalik sana terkejut kala daun pintu terbuka.

“Gossh!” “Oh, I'm so sorㅡ”

God Lord.

Dunia berhenti berputar saat itu juga.

Dunia seolah berhenti, maka waktu semakin lambat bergerak dari detik menuju detik. Dua raga dewasa kini bergeming hanya sebab saling memandang. Dua mata memandang dua yang lainnya hingga lupa cara berkedip. Semakin larut, malah terpaku juga tertegun bak orang bodoh mereka jika dilihat.

Belum ada yang sanggup bereaksi. Sebab dunia yang seolah berhenti juga menghentikan laju kinerja pusat tubuh. Otaknya malfungsi maka kacau sudah sebuah koordinasi. Bibir beberapa kali mencoba mengeluarkan suara penuh tanda tanya pula tak terealisasikan segera.

“Henㅡ Henry... you?” Akhirnya sanggup melontarkan beberapa kata meskipun masih gagu.

“God sake finally i found you...”

“Alex?”

Alex mengangguk, ekspresinya seolah berteriak lega, iya benar sayang inilah aku. Alex takdir hidupmu.

Dia bergerak maju, ingin mendekap pujaannya erat dan berjanji tak akan lagi melepaskannya setelah ini. Tak peduli lagi akan marah bahaya masa depan yang akan datang. Apapun dia akan hadapi, apapun itu dia akan bertahan melindungi. Sebab Alex sadar bahwa dunia tidak akan baik di masa depan, dunia akan terus penuh kekejaman dan bersama adalah senjata tajam yang mampu menumpaskan semuanya.

Namun yang membuatnya kian bingung adalah ketika Henry mundur, dia tak mengizinkan Alex menyentuhnya barang satu helai rambut.

Ada apa dengan Henry? Apakah Henry tak merindukan Alex sebagaimana Alex merindukan Henry. Apakah Henry tak lagi mengharapkan Alex sebagaimana Alex berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan Henry kembali dalam pelukannya?

“Kenapa?” Hanya itu yang mampu dia ucapkan.

Henry menjawab, suaranya lirih dengan senyum kecil dari bibirnya, “Tidak sekarang. Bukan di sini.”


II. Henry Fox.

Alex Point of View.

Profesional, oh profesional bisa gak kita yang sedang duduk berhadapan ini langsung melompati banyak tangga dan menuju puncak dari akhir perjalanan. Perjalan Alex dan Henry mencari jalan kembali.

Bisa gak kita yang dibatasi meja yang sialannya pengen gue lempar jauh-jauh langsung masuk kebagian paling bahagia. Can't we skip to the good part? Alex dan Henry yang akhirnya bisa merengkuh raga satu sama lain disaksikan dua buah hati.

Henry sudah punya jawabannya dan mengatakan secara langsung, “Tidak sekarang. Jangan disini.”

Gue tau kenapa? Karena kita bertemu dalam keadaan yang kurang tepat. Mana bisa kita bersuka cita di atas masalah. Maka kita berdua, khusunya gue saling mengerti bahwa sekarang saatnya memainkan peran. Peran sebagai orang yang belum pernah kenal. Hubungan ini hanya sebatas gue menjadi guru penanggung jawab, dan Henry sebagai orang tua.

Disinilah kita, berkumpul bersama sunyi layaknya perkumpulan orang-orang bodoh yang tak tahu harus darimana memulai sebuah komunikasi. Beginilah konyolnya pertemuan sebuah keluarga untuk pertama kalinya, keluarga yang masih belum seutuhnya. Keluarga ini masih terlilit rahasia, belum terbuka tali seluruhnya.

“Jadi anda Mr. Henry?” Pertanyaan bodoh tapi gue tetep bertanya. Ingatkan? Kita tengah bermain peran.

Henry mengangguk, “Betul. Saya Henry Fox, papa dari Viscount dan Nicholas.”

Tidak perlu dijawab sayang, aku ini sudah tau. Bahkan amat sangat mengenalmu. Seluruh bagian tubuhmu dari ujung rambut hingga ujung kuku, dari permukaan kulit hingga sel-sel dalam tubuh. Tak ingatkah kamu bahwa kita sudah bersatu.

Memang aneh bagaimana semesta bekerja, kadang merinding gue dibuatnya. Enam belas tahun lamanya dan pada akhirnya gue dipertemukan kembali pada seseorang yang namanya selalu terselip dalam harapan.

Inilah gue tengah berhadapan dengan Henry dan kedua buah hati. Bodohnya lagi gue terlambat menyadari bahwa seseorang yang menyambut langkah awal menjajaki kota kecil ini adalah Nicholas anak gue sendiri. Selanjutnya, Nicholas seakan menggenggam tangan gue menuntun melintasi jalan yang telah diatur empunya hidup. Nicholas menunjukkan pada suatu pintu yang jika gue buka ada Viscount disana. Terakhir, tangan gue yang bebas digenggam pula oleh Viscount. Mereka berdua bekerjasama seolah mereka malaikat yang diutus untuk menyatukan dunia hati terpisah. Gue dan Henry kembali bersama.

Henry kini masih membuat gue gila. Paras dewasanya, kulit putih pucatnya, dan caranya bertutur kata yang semakin lantang sebab telah bebas berbaur dengan dunia. Pandangannya masih sama, lembut dan teduh. Leganya sudah tidak ada kesedihan, tidak ada syarat ketakutan dan keraguan. Dia Henry lelaki yang masih sama, namun kini raga dan nuraninya sudah bebas sepenuhnya.

Kita sukses berperan meskipun dengan menahan beban. Beban kerinduan mendalam yang semakin sulit dipendam. Rasanya saat ini juga gue mau menyudahi sandiwara, mengungkapkan kebenaran pada khalayak yang ternyata hanya ada dua.

Alex Claremont-Diaz adalah ayah kalian yang lain dan Henry Fox adalah pangeran pemilik negeri juga pemilik hatiku.


III. Alexander Gabriel Claremont-Diaz.

Henry Point of View.

Aku tidak mengerti bagaimana dan ada apa hingga membuatku ikut terseret pada situasi membingungkan seperti ini. Aku tidak mengerti situasi apa yang sedang kuhadapi hingga duduk di antara dua anak-anakku juga berhadapan dengan seseorang yang namanya selalu aku sebut dalam doa di malam hari.

Seluruh tubuhku tegang namun aku berusaha menutupi, berlagak menjadi manusia biasa yang kuat menghadapi. Padahal saat ini tanganku sendiri sudah dingin dan basah, perutku mual ingin muntah, kedua mataku panas ingin tumpah semua air mata.

Alex, bagaimana bisa kamu disini? Berlaku sebagai guru. Alex, bagaimana bisa kamu disini? Begitu santai duduk di sebrang sana berhadapan denganku dan dua buah hatimu. Iya Alex, remaja enam belas tahun yang tengah bersama kita adalah anak-anakmu. Mereka anak-anak kembar yang ikut lari bersamaku. Mereka sudah tumbuh menjadi sebesar ini berkat kamu yang menukar kebebasanmu dengan nyawa mereka berdua. Dua anak ini tumbuh berkat kamu yang menyelamatkan mereka.

Alex, kenalkan ini Nicholas dia yang paling bisa diandalkan. Mata dan senyum teduhnya mirip sepertiku, bahkan orang-orang berkata dia adalah duplikatku. Namun ketenangannya, jiwa pemimpinnya dan bagaimana tutur katanya setiap kali memberikan reasurasi mirip sekali denganmu. Dia yang membantuku, memberikan motivasi sederhana yang selalu dapat menguatkanku. Maka dari itu aku memanggilnya kakak.

Alex, yang ini namanya Viscount. Anak ini yang membuat aku merasa selalu hidup berdampingan denganmu. Rambut hitam ikalnya yang berantakan, bulu mata panjangnya, dan senyumnya yang menggoda. Namun sayang dibalik sifatnya yang sok jagoan dia lemah sepertiku. Dia yang selalu butuh dibantu. Maka dari itu aku memanggilnya adek.

Mereka saling menyayangi, Alex setidaknya itu yang bisa aku banggakan dari membesarkan mereka sejak kecil. Pun, masih banyak kekurangan yang aku tak mampu dan berharap bantuan darimu ketika kita akhirnya bersama.

Aku benci pada kamu, Alex. Kamu sekarang berubah semakin matang. Parasmu tambah rupawan, badanmu semakin sempurna membuatku ingin menyentuhnya saat ini juga.

Tetapi maafkan aku hari ini kita belum bisa merundingkan masa depan dengan tawa. Mungkin nanti saat hati sudah seluruhnya siap tertata. Setidaknya aku tahu kamu ingin memelukku. Setidaknya aku lega kamu ternyata mencariku.

Alex kamu si anjing gila. Aku sama gilanya menginginkan kehadiranmu. Menjadi pemimpin di keluarga kita. Menjadi ayah dari dan orang tua untuk anak-anakmu.


IV. Kita yang Mengadu Rindu.

Kala sudah menemukan sebuah solusi atas konklusi masalah hari ini, mereka semua berdiri. Alex mengulurkan tangan berharap dapat menggenggam tangan Henry lebih lama. Henry membalas sebagai simbol bahwa mereka telah sangat baik dalam berlakon.

Selanjutnya, Alex mempersilahkan Henry pergi diikuti kedua putra mereka dan juga Alex yang mengantar hingga pintu.

Semakin jauh jarak antara mereka semakin pusing Alex dibuat. Alex tidak ingin hari ini berjalan sangat cepat. Alex tidak ingin momen ini berakhir begitu saja. Setidaknya ada satu dua kata yang dapat meyakinkan dirinya bahwa keputusannya datang dari negeri sebrang melewati samudra benar adanya. Setidaknya ada tiga empat kata lainnya yang dapat meyakinkan bahwa nanti mereka akan bertemu lagi dikeadaan yang lebih baik. Sebagai Alex dan Henry dan sebagai orang tua Nicholas dan Viscount.

“Mr. Henry?” Mereka bertiga serentak berhenti bersamaan pintu telah dibuka sedikit. Menatap bingung apakah ada yang masih perlu dibicarakan lagi.

Kedua manik Alex bergerak gugup mencari alasan atau dia yang tengah mengirim sinyal pada milik Henry untuk diberikan waktu hanya berdua.

Pun Henry paham, mungkin sedikit saja waktunya untuk menjelaskan secara singkat, setidaknya memberikan Alex pengertian bahwa tentang mereka tidak bisa dibahas hari ini. Maka Henry memerintahkan kedua putranya melalui gestur yang berkata, “Kalian keluarlah terlebih dahulu, papa yang akan mengurus ini berdua dengan Sir Alex.” Dan keduanya setuju untuk memberi orang dewasa ini waktu.

“Henry.” Alex menyerukan namanya dengan suara yang paling dia rindukan. Suara bariton ini tak lagi menjadi senandung semu dalam kepalanya, namun nyata dapat didengar seksama.

“Henry.” Serunya sekali lagi dan Henry tak ingin bersandiwara lagi. Henry juga ingin menyerukan nama lelaki satu ini. Memanggil namanya bukan dalam doa, namun tepat di hadapan raganya.

“Henry.” “Sstt..” Henry mendekat membungkam bibir Alex dengan jemarinya.

Alex kecup satu persatu jemari itu, hal yang paling dia inginkan sejak pertama kali mereka bertemu.

Kini keduanya saling berhadapan, bukan lagi disekat meja namun hanya dibatasi satu butir debu. Sekarang raga mereka hanya berjarak udara bukan lagi benua. Selanjutnya mereka mengikis tembok udara di antara, menghempaskan seluruhnya agar dua raga dapat merapat seluruhnya.

Dahi bertemu dahi, dua mata tertutup mempertemukan bulu mata yang seolah saling merengkuh. Hidung beradu hidung, hingga saling menghirup napas satu sama lain. Terakhir, Henry melingkarkan lengannya, mengistirahatkan sejenak pada leher kokoh milik Alex sedangkan Alex merengkuh pinggang Henry yang masih sama rasanya seperti di masa lalu.

“I miss you. I really do.” Bisik Alex menyampaikan apa yang hatinya ingin ungkapkan. Enam kata berjuta emosi terpendam dari enam belas tahun lamanya.

Henry menghela napas lega, lega jika Alex dan dirinya masih punya perasaan yang sama. Henry pun tidak punya kalimat panjang yang dapat mendeskripsikan bagaimana campur aduk perasaannya detik ini selain, “I miss you too, Alex. Everyday every night always.” Bersama bulir bening yang menandakan kalimat itu juga merupakan akumulasi emosinya.

Pertemuan hari ini memang terlalu tiba-tiba, namun setidaknya ini membuka jalan semakin lebar untuk masa depan.

Terakhir dari cerita hari ini adalah mereka yang mencinta menyalurkan miliaran rasa yang terpendam dalam palung paling dalam, meledakkan semuanya dengan satu kecupan panjang dan beberapa detik lumatan tanpa nafsu. Hanya ada kasih sayang dan juga rindu.

Jika suratan takdir telah menghendaki, jauh berlari engkau mengelilingi bumi. Pada akhir ceritanya nanti cinta kita akan bersemi kembali. Kini kita berdiri, saling berhadapan dengan pandangan terkunci. Melampiaskan berjuta molekul tercampur berbagai macam emosi.

Dan kita akan diam sebelum akhirnya saling menarik dalam dekapan. Merasakan juga hangat bibir yang bersentuhan. Menjadikan kecipak sebagai alunan melodi. Memberikan tepuk tangan paling meriah sebab kita berhasil menyatukan kembali sebuah koneksi.

Ini semua kenyataan bahwa saat ini hanya ada aku dan kamu. Bersama perasaan merindu yang terkikis menjadi abu. Pertemuannya bukan sebatas angan bayangan semu. Kini yang terpisah kembali menjadi satu.


`hjkscripts.


Viscount Point of View.

Hari kamis waktunya penyegaran tubuh. Pelajaran olahraga di pagi hari membuat gue gak semangat. Gue itu paling anti sama yang namanya olahraga atau gerak-gerak berlebihan. Lebih senang melakukan hal-hal yang diam di tempat kayak dengerin lagu atau gambar.

Orang sering salah sangka hanya dengan menilai senyum dan cakap jahil yang keluar dari bibir. Viscount pasti anaknya gak bisa diem, petakilan. Tentu salah, gue lebih suka melakukan kenakalan tanpa mengeluarkan banyak tenaga, kayak nongkrong di suatu tempat sepi. Sebab anak nakal ini sadar dia tetap lemah di dalam.

Gue punya banyak rencana jahil tapi gue gak punya tenaga. Pokoknya masalah gerak badan jadi milik si tenang Nicholas. Lihat aja badannya dia, berotot dimana-mana dibandingkan gue yang tinggal tulang diselimuti kulit.

Tepat hari ini pun badan gue baru terasa sehat sejak kena hukum si anjing gila di hari pertama sekolah. Bayangin langsung disuruh push up bersama seratus kali tapi kalau ada yang menyerah sebelum itu diulang dari satu. Jelas, jagoan ini hanya bertahan lima belas menit sebelum dadanya sakit diikuti napasnya yang putus-putus. Lewat dari itu gue udah gak inget apa-apa selain bangun dari klinik sekolah.

Keesokan harinya gue udah gak apa, tapi istirahat nakal lebih lama jadi keputusan. Selasa, rabu menjadi full time bayangan Nicholas. Kamis ini pun masih sama, terbukti dari gue yang duduk dipinggir lapangan dengan bosan bersama cewek-cewek yang lagi zinah mata nonton anak cowok kelas lagi main pertandingan rugby sederhana.

Nick jelas jadi pemain utama, maka dari itu gue ada di pinggir menunggu dia.

Lama banget sampai sisi lapangan tergerus panas karena gak ada penutup di atas kepala. Gue berpindah mundur terus mundur sampai akhirnya menempel pada tembok. Aman kalau di sini, di atas kepala ada payung penutup yang menempel di sepanjang tembok bangunan.

Beberapa menit kemudian lewat lah segerombolan anak laki-laki. Gue kenal, satu angkatan cuman bukan temen sekelas gue. Dibilang musuh ya bukan, dibilang temen kadang pengen nonjok sebab mulutnya yang mirip sampah. Seringnya gue hampir tersulut, inget ya HAMPIR.

“Weh Vis! Udah sehat lo? Kemarin gue denger lo pingsan abis dihukum guru baru.”

Gue menjawab dengan senyum kecil seadanya, asal dia mengerti artinya adalah iya. Gue males banget nanggepin obrolan mereka. Pertama cuma basa-basi selebihnya ada aja yang menyulut emosi.

“Oh iya lo kenapa gak join main? Itu Nicholas sama temen lo yang lain main. Malah ngadem disini kayak anak cewek aja.”

Denger sendiri kan? Emang paling bener gak usah ditanggepin. Cuman kalau gak ditanggepin bakal ngoceh terus sampai kita marah dan mereka ketawa puas berhasil mempermainkan tingkat kesabaran kita.

“Gimana mau main kan ada penyakit dia. Ntar pingsan lo mau gendong?” Mereka ketawa geli. Mau counter balik yang ada bikin ribut.

“Yaelah, gue juga ada penyakit gitu tapi santai aja. Kalau emang cowok mah. Kata papi gue alpha gak ada yang lemah. Lemah cuma punya omega.”

“Oh apa jangan-jangan lo omega kali, Vis. Dokternya salah ketik hasil tesnya.”

“Iya bener, lo omega kali kan papa lo omega juga. Mana mungkin papa lo omega terus punya anak alpha.”

“Siapa tau papanya satu lagi alpha...”

Papanya begini, papanya begitu, papanya berbuat salah dengan alpha yang bukan miliknya lalu diusir karena hamil gue dan Nicholas. Berapa kali gue denger kalimat omong kosong seperti itu. Muak gue dengernya.

Papa juga tahu, kita bertiga tahu desas-desus di belakang kita oleh orang yang tetap menyapa dengan senyum paling ramah. Papa tahu tapi papa memilih diam dan mengajarkan kami bungkam. “It's not worth it.” Katanya.

“It's not worth it while they don't even know the truth is.”

The truth is either they and usㅡ me and nicholas are also clueless about that. About papa and his past life. But, i choose to believe him that the truth is way far from whatever people say.

Maka dengan kepercayaan ini, dengan rasa percaya yang amat mendalam ini muncul reaksi panas dari sakit hati. Reaksi panas itu mendidihkan seluruh darah dalam tubuh mengaktivasi emosi. Emosi kini terus meningkat sebab tak ada satu alasan dalam pikiran untuk meredam.

Berakhir satu pukulan menjadi awal dari langkah melampiaskan. Satu pukulan ini menjadi banyak, terus menerus membabi buta. Otak kopong diselimuti dendam, telinga bolong namun tak menerima suara yang masuk berteriak memperingatkan.

Mata gue merah sebab nafsu mengambil alih. Tak peduli dada sakit dan napas tanda kelemahannya mulai muncul.

Ditarik tubuhnya, memberontak dia. Siapa yang mengendalikan anak ini? Gue sendiri gak mengenali. Apa yang dia tahan selama ini? Sampai pukulannya setajam belati. Lawannya terkapar berlumuran darah mungkin jika lebih lama bisa langsung mati.


Alex Point of View.

Empat hari sudah terhitung gue mengajar di sekolah ini. Selain hari senin, selanjutnya berjalan seperti biasa. Gue mengajar materi dari kelas ke kelas menghadapi wajar tabiat remaja.

Ada yang memperhatikan ada pula yang enggan. Ada yang bertanya senang ada pula yang sungkan. Ada yang matanya terbuka ada pula yang sulit terjaga. Ada yang langsung mengerti ada pula yang menoleh kanan kiri.

Mereka semua dalam proses belajar begitupun dewasa seperti gue ini.

Gue memandangi anak-anak yang lagi bersorak-sorai. Sebagian anak perempuan tak mengenal panas terus berteriak menyemangati anak laki-laki kelasnya yang saling bertanding rugby di lapangan.

Ahh, Nicholas bermain sangat apik, hampir bolanya didekap sendiri dari ujung menuju gawang lawan. Seruan namanya juga terus berkumandang semakin lantang kala anak itu menyeka keringat dengan bajunya sehingga tubuh maskulinnya terekspos oleh mata.

Gue tersenyum kala mengingat cerita anak itu Minggu lalu kala dia menceritakan betapa menyenangkan rugby namun papanya sering jengkel sebab baju olahraga sering terkena lumpur. Nyatanya benar begitu, pakaian Nicholas tak nampak warna daripada baju kawannya.

Menelusuri sekitar jatuh pandang pada sosok anak lelaki yang tau akan bahaya matahari. Dia tengah duduk tenang di bawah bayangan payung.

Gue sudahi kegiatan memandang, sejenak mengistirahatkan mata dari kegiatan memeriksa buku tugas siswa. Gue kembali lagi pada pekerjaan yang tak ada henti. Mengambil buku tulis paling atas dan membuka lembarannya. Gue mengarahkan bolpoin merah, membaca kata demi kata, memberikan nilai sempurna tanpa coretan tinta. Gue tutup bukunya membaca nama empunya,

Nicholas Fox.

Gue melakukan hal yang sama pada tumpukan tepat di bawahnya. Kali ini bolpoin yang gue bawa cukup berguna, menandai nomor yang kurang tepat serta memberikan bantuan untuk jawaban yang salah dengan yang sebenarnya. Terakhir menorehkan angka delapan puluh, lalu menutup buku sesudahnya.

Satu ini milik... Viscount Fox.

Nicholas Fox... Viscount Fox... Nicholas and Viscount Fox... Fox...? I know Fox from somewhere.

Fox Fox Shit... Henry Fox?!

Belum sempat gue menghubungkan helai benang merah dari titik ujung menuju titik temu ketika mendengar teriakan dari luar jendela. Gue beranjak mengintip sebentar ada apa. Gila perangai para remaja, baru ditinggal sebentar sudah lain situasinya. Lebih gilanya lagi mana ada guru melintas.

Gue berlari, meninggalkan ruang guru yang nampak kosong sebab ini masih jam pelajaran bagi kelas lain. Tiba di lokasi kejadian gue bergerak cepat menarik Viscount dan amarah membara. Anak ini berontak, entah siapa yang mengendalikan.

“ADA APA INI?!” Teriak gue kepada banyak saksi mata. Kedua lengan sekuat tenaga menahan Viscount yang masih meronta.

Mereka semua menggeleng bersalah sebab tidak tahu jawabannya. Nicholas membelah kerumunan, menghampiri gue dan Viscount.

“Nicholas tolong saya bawa Viscount ke ruang konseling. Saya masih harus membawa anak ini ke klinik.”

“Baik, sir!”

Dua kali sudah gue menggendong anak remaja menuju klinik. Tentu hari ini bukan hari yang mudah lagi. Mungkin bener kata Katharina karma comes all the way to me dan gue cuma bisa pasrah menjalani sisa hari.


`hjkscripts.


Henry Point of View.

Terpuruk bagiku ketika aku tidak bisa melakukan apa-apa. Pada kondisi tubuh jatuh di paling titik terendah. Dulu masa heat apa yang berbeda dengan hari biasa? Tidak ada sebab selamanya hidup dalam kamar istana. Sekarang hati rasanya enggan tenang, sebab saat ini aku telah akrab dengan dunia luar.

Mendengar lagi dan lagi Viscount berbuat ulah, pusing kepala mendera. Anakku satu itu paling bisa menghadirkan khawatir. Ditambah kabar sakitnya kambuh akibat dihukum si guru baru. Makin lemas ragaku.

Aku mana bisa menyalahkan gurunya. Konsekuensi sudah si anak yang tingkahnya diluar nalar. Aku mana bisa protes, menghardik sang guru kenapa bisa sampai tega menghukum murid dengan kondisi imunitas lemah. Malu aku malah dibuatnya hanya bisa pasrah menerima.

Pada titik ini, hanya dengan diri sendiri dan bayangan serta ruang tidur sederhana aku merasakan. Perasaan yang bertahun-tahun aku coba untuk sisihkan sejenak. Menyibukkan diri hingga lupa pada masa lalu, hingga lupa bahwa sampai saat ini pun aku dan kakiku berlari selalu.

Aku melarikan diri dari masalah yang aku tinggalkan entah dimana. Membohongi diri sendiri juga dua buah hati bahwa aku ini manusia terlahir biasa. Bukan orang tinggi, apalagi bangsawan. Hanya Henry Fox si pemilik toko bunga kecil.

Kubuka laci di samping ranjang tidur. Kini aku memegangnya alat komunikasi yang menyimpan kenangan. Aku menyalakannya, membuka satu persatu kenangan seolah membuka lembar demi lembar diari kisah hidupku.

Tepat pada satu nama aku berhenti. Nama yang sampai saat ini aku nanti. Dia yang entah kapan akan kembali. Masih ingatkah dia dengan sebuah janji?

Alex apa kabarmu saat ini? Sehatkah kamu? Aku selalu ingin tahu meskipun aku bisa menyaksikan tubuh tegapmu dalam layar televisi. Bahagiakah kamu? Aku juga ingin tahu satu itu meskipun aku bisa melihat banyak materi yang diumbar dalam berita.

Alex oh Alex, tak rindukah kamu akan dua buah hatimu? Semoga kamu tak kecewa aku membesarkan mereka secara sederhana. Banyak kurang daripada lebihnya.

Alex oh Alex, tak rindukah kamu padaku juga? Sebab aku sangat merindukanmu, mendamba hadirmu walau hanya dalam mimpi.

Alex oh Alex, tolong katakan kamu merindukan diriku. Cepat datanglah ragamu menemuiku. Jemputlah aku pulang dalam pandumu.


Alex Point of View.

Gue membuang napas panjang. Mengusap wajah gue kasar frustasi. Masih hari pertama dan seluruh syaraf gue berteriak kesakitan. Terpaksa istirahat tidur adalah jalan keluarnya.

Di atas ranjang ini gue menatap langit-langit. Seakan mereka sedang memutar film yang berasal dari memori.

Film pertama yaitu tentang pesan dari pusat pelayanan guru yang menegurnya sebab menghukum fisik anak yang nakal. Gue cukup dibuat bingung, menghukum fisik boleh dilakukan tanpa ada sentuhan antara murid dan pengajar. Hukuman fisik jelas tertulis hukuman yang dapat mengeluarkan keringat, bermanfaat bagi tubuh atau lingkungan sekitar, dan ada efek jera. Dimana letak salahnya gue memberikan hukuman berupa seratus kali push up?

Sekolah itu aneh, peraturan dibuat seharusnya untuk diimplementasikan. Tapi ya sudahlah anggep aja gue hari ini ada minusnya sebagai guru baru. Gak bisa satu kali coba langsung dapat seratus.

Film kedua gue merasa bersalah memang. Masih lanjutan yang pertama, namun ini tepat saat kejadian. Dimana gue kalang kabut gendong siswa gue yang tiba-tiba drop sambil megang dadanya.

Gimana gue gak ketakutan, napasnya putus-putus dan harus pakai oksigen di klinik sekolah. Gue baru tahu ketika perawat klinik memberikan rekap riwayatnya yang memang anak ini menjadi prioritas klinik. Tubuhnya dia sangat lemah dibanding pola pikir remaja yang kuat.

Mungkin besok, ingatkan diri gue sendiri untuk minta maaf tentang hukumannya.

Ketiga, inilah concern utama. Menapaki kaki di kota yang sama tidak sama sekali membuat proses pencarian ini berlangsung mudah. Kota ini kecil, ujung ke ujung hanya menghabiskan waktu paling lama satu setengah jam pun begitu belum ada tanda-tanda aku bisa menemukan keberadaan mereka.

Atau sudah? Cuma gue yang kurang peka. Katharina bilang kadang nyari sesuatu ga cuma pakai mata juga pakai hati.

Ya Tuhan, rasa rindu kini kian membengkak. Bertambah besar dan berat setiap harinya. Hambamu hanya takut kalau ini akan meledak sebentar lagi. Jika meledak maka gue dan seluruh raga gue akan hancur berantakan menjadi abu. Gue akan gila karena merindu dan gue akan mati sesak membawa kerinduan serta penyesalan dalam kubur.

Henry oh Henry, teganya kamu menutup akses koneksi, menghentikan sinyal perasaan agar aku tak mengetahui bagaimana keadaanmu.

Henry oh Henry, tolonglah aku buka hatimu kembali, tuntunlah diriku agar aku bisa menemukan keberadaanmu.

Henry oh Henry, amat rindu tubuhku memelukmu. Merasakan dingin kulitmu yang membutuhkan kehangatan dariku. Tak sabar pula aku memeluk bukan hanya kamu melainkan dua buah hati kita.


`hjkscripts.


Alex Point of View.

Hari pertama banting setir menurut gue masih berjalan lancar. Anak-anak berpakaian rapih sejauh mata memandang. Gak ada wajah menjengkelkan ada tabiat remaja. Semuanya senyum, semuanya membalas sapa.

Gue sudahi senyum yang jarang keluar bertahun-tahun ini. Apalagi bagi pekerjaan gue yang lama senyum itu dipergunakan untuk menyapa lawan di meja hijau, tentu saja senyum bukan berarti ramah. Sebab yang diberi senyum akan kecut raut mukanya. Senyum di sana berarti mendapatkan kemenangan dan uang. Sedangkan di sini dibagikan secara percuma tanpa mengharapkan imbalan apa-apa.

Di depan pintu yang tentunya sudah gue periksa papan tulisan penanda kelas, gue berdiri sejenak. Kelas 3-1 gue pandangi tulisannya lalu beralih memastikan kembali tepat dengan yang tertera di buku presensi. Gue menghembuskan napas panjang, lumayan nervous karena ini pertama kali gue bekerja berhadapan dengan remaja, which gue agak takut dengan kelakuan remaja. Gimana nggak, orang tua gue aja pernah hampir menyerah hanya dengan punya satu anak. Gue akui, remaja gue cukup liar pada kala itu.

Sayup-sayup terdengar dari luar kelas berisik. Ketika gue buka pintunya mendadak senyap detik itu juga. Seluruh atensi tertuju pada kedatangan gue. Well gue biasa sama atensi, atensi itu teman sejak kecil. Namun sekali lagi, yang ada dihadapan gue adalah segerombolan remaja yang saat ini resmi menjadi murid gue.

Gue berdiri di depan papan tulis lebih tepatnya di belakang meja kayu jati yang sudah pasti akan menjadi meja gue selama di kelas. Gue amati satu-persatu wajah-wajah mereka yang cukup unik. Harusnya yang tegang kan gue, tetapi seolah kehadiran gue seperti momok bagi mereka.

Satu anak berdiri atas inisiatifnya memecah suasana canggung. Ohhh dia, gue tau dia siapa.

“Attention class! Good morning, sir!” Serunya.

“Good morning, sir” Lalu seluruh kelas serentak membuka mulut, mengulang apa yang dikatakan oleh si pemimpin.

Benar gue tau dia siapa, si anak yang gue kenal sejak pertama kaki menginjak kota. Nicholas anak si pemilik toko bunga. Agak lucu, heran juga sebenarnya seperti pertemuan gue dan Nicholas kayak takdir. Dari banyak kelas di sekolah elit ini, gue dipertemukan dengan Nicholas.

Beruntung gue bisa bertemu dengan dia. Seorang remaja luar biasa yang membuat gue memberikan poin positif tentang anak muda di kota ini. Meskipun kota ini masih tertinggal dalam banyak sistem dan teknologi daripada kota di luar sana. Tetapi pemikiran anak satu ini cukup menarik.

Banyak masyarakat sekitar yang acuh dengan dunia luar. Namun, Nicholas membuka diri dan terus mencari tentangnya. Nicholas dan rasa ingin tau yang tinggi mengingatkanku akan optimisme seorang pangeran yang terkurung dalam istana. Pangeran yang melihat dunia dari sosial media dan buku semata.

Bahkan senyum teduhnya, gerak-geriknya percis dengan si pangeran di masa lalu. His brown hair, red cheeks caused by sun burn, and his accent. Pantas aja gue langsung klop dengan remaja satu ini.

“Selamat pagi anak-anak. Sebelumnya perkenalkan saya Alexander Gabriel Claremont-Diaz. Panggil saja Sir Alex. Beberapa dari kalian mungkin kenal dengan saya melalui berita di saluran luar negeri. Baru saja datang dari Texas Amerika, datang kemari untuk memenuhi panggilan mengisi spot kosong yang tersedia yaitu, menggantikan Mrs. Ellie sebagai homeroom teacher dan pengajar mata pelajaran bahasa inggris. Sebelum memulai ada yang ingin ditanyakan?”

Gue memberi jeda sebentar, memberi waktu bagi siswa untuk bertanya sekedar mengenal gue lebih dari yang gue sampaikan. Hening, sejauh mata memandang banyak dari mereka yang masih malu-malu. Bukan masalah sebab ini masih hari pertama.

“Sir!” Gue menunjuk, mempersilahkan anak laki-laki yang mengangkat tangan dari bangku paling belakang untuk berbicara.

Dia tersenyum miring khas remaja nakal. Tampilannya pun gue bisa menilai, rambut sengaja dibuat acak-acakan, dasi kendur, dan seragamnya yang tak serapih milik temannya.

“Apa benar Sir Alex seorang pengacara terkenal di Amerika?” Tanya dia.

Well, gue sejak awal gak mau bragging tentang gue di luar sana. Tetapi kalau ditanya gue tentu bisa menjawab, “Yes, i am.”

“Apa benar julukan Sir Alex adalah si anjing gila?” Dia melanjutkan. Mendengar pertanyaannya sebagian murid mulai tertawa.

“Satu poin untuk...?”

“Viscount, sir.”

“Sir?” Satu anak lagi dari sisi yang lain mengangkat tangan. Nah, ini baru namanya suasana kelas.

“Silahkan.”

“Kenapa Sir Alex bisa dipanggil anjing gila?” Tanyanya.

Belum sempat gue menjelaskan, yang bernama Viscount menginterupsi tanpa permisi.

“Soalnya beliau banyak bela orang yang salah dengan argumen-argumen tak terbantahkan dan menyudutkan pihak lawan terus menang meskipun ada bukti yang kuat dari pihak pengadu. Benarkan, sir?”

Gue menyeringai, anak ini tidak buruk juga. Gue mengakui lebih banyak orang-orang bangsat yang meminta gue sebagai pendamping saat mereka jatuh. Ayolah, itu memang tugas pengacara. Mereka yang punya kuasa dan harta, kita hanya mampu membela. Gue bukan jaksa yang memutuskan, Gue bukan jaksa yang harus netral. Lagi, bukan semua orang jahat yang gue bantu. Tetapi gue membantu orang-orang yang punya barang satu persen cela dirinya bisa dinyatakan tidak bersalah.

Gue memang si anjing gila, semakin gila harta sebab ada yang harus diusahakan. Jika orang-orang baik mampu membayar lebih gue dengan senang hati maju. Tapi sayang, di dunia ini orang-orang bejat yang lebih mampu.

“Thank you, Viscount. Saya tidak bisa bilang jawaban kamu itu salah, namun lebih suka mengatakan itu kurang tepat.” Gue berjalan meninggalkan belakang meja sampai akhirnya berdiri di paling belakang kelas.

“Hukum di dunia ini tidak serta merta menilai mana yang baik dan buruk. Terlalu naif bagi orang-orang yang menganggap hukum harus membela kebaikan.” Berada tepat di belakang punggung Viscount tangan gue gak bisa diem aja. Tangan bebas gue terangkat untuk merapihkan rambutnya yang mencuat kemana-mana.

“Jika hukum bagi kalian adalah menegakkan keadilan. Pun bagi saya lebih ke sebuah kesempatan, dan semua orang punya kesempatan. Saya sebagai pengacara yang bertugas memanfaatkan kesempatan klien yang membutuhkan bantuan saya.”

“Contohnya seperti sekarang,” Kita berdua bertatapan kala gue berdiri di sisi depan bangkunya. Gue mengambil dasinya yang kendur, menarik tali kecil di belakangnya hingga yang utama naik melingkari kerahnya dengan benar. “Kamu seorang pelanggar peraturan sekolah nomor 2 tentang aturan berseragam yang tepat. Anggap kamu meminta bantuan pada saya dan saya memberikan kamu kesempatan untuk merapihkan pakaian kamu seperti aturan. Akhirnya kamu bebas dari hukuman ringan paling tidak pengurangan dua puluh point belajar.”

Terakhir gue tersenyum, senyum yang gue selalu tunjukkan kepada lawan. Senyum kemenangan yang membuat mereka geram pun terdiam.

“Bagaimana? Paham semuanya?”

“Paham, sir!”

“Baik, kalau begitu kita mulai pelajaran hari ini. Keluarkan modul bahasa inggris, buka halaman sepuluh!”


`hjkscripts.


Viscount Point of View.

Selama gue diperjalanan gak pernah hilang dari pikiran akan sebuah pertanyaan. Hanya satu yang sampai sekarang membuat gue terus menerka-nerka. Kemana? Dengan siapa? dan ada urusan apa Nicholas pergi ke kota seorang diri?

Bayangin aja, seorang Nicholas yang amat homebody dan dijuluki Henry Fox 24/7 protector berakhir izin keluar. Literally keluar untuk bersenang-senang, bukan hanya olahraga mempertahankan fisiknya yang nampak semakin mapan.

Gue benci sebenernya sama dua orang ini, semua yang gue tanya gak mau jawab. Entah yang bersangkutan sendiri atau yang memberi izin.

Tunggu... tunggu... kalau kalian berpikir gue bersikap begini karena gue gak diajak atau gue yang katanya adeknya kakak banget, jelas itu sebuah kesalahan. Gue begini karena gue khawatir, ya takut Nicholas digangguin orang gak jelas aja di kota, secara kan dia orangnya nerd as fuck meskipun perawakannya semua orang juga kadang takut duluan. But, all that biceps just for rugby things anyway.

Sampai di kota, mobil menepi di pinggir jalan yang gak jauh dari pintu masuk kawasan pertokoan. Pasrah sih ini gue beneran dibiarkan clueless. Nicholas keluar mobil setelah berpamitan dengan papa terus dia juga gak lupa nengok ke bangku belakang dimana gue dan muka badmood berada. Gue gak memperhatikan dia, buang muka aja gitu ngeliatin jalan.

“Lo nanti mau nitip apa?” Gue sampai gak denger dia ngajak gue ngobrol sebab earphone bertengger menutup dua telinga dengan volume yang lumayan memisahkan dunia musik dan dunia realita.

“Vis? Dek? ADEK?!”

Fuck sake! Gue paling benci dipanggil adek. Gak masalah kalau yang manggil papa, tapi kalau dia gue gak suka. Gue gak suka akan fakta gue butuh banget dia. Seakan-akan panggilan adek bikin gue orang paling lemah yang gak bisa apa-apa. Panggilan adek dari mulutnya itu kayak mantra yang seketika gue jadi malfungsi, udah bodoh banget bahkan cuma buka penutup stoples selai yang masih baru.

“Hmm.” Gue merespon seadanya.

“Lo nanti mau nitip apa?” Ulangnya sekali lagi. Gue gak serta merta menjawab. Kedua mata menatap jalanan yang lumayan padat di luar kaca.

“Terserah lo aja.” Jawab gue yang artinya sudah pasti Nicholas akan membawakan kue brownies kukus favorit gue.

“Ok. Gue jalan sekarang ya. Lo jangan nakal di sana, jangan jauh-jauh dari papa juga. Have fun!” Terus Nicholas keluar dari mobil.

Lihat kan Nicholas and his wise words. Padahal kita semua sama-sama tau kalau kita lahir di hari, tanggal, bulan yang sama.

Nicholas... Nicholas... gue tau lo paling bisa jaga diri. Tapi dalam hati gue juga mau doain, gue harap lo hati-hati dan have fun juga main tanpa gue.


Ham Central Park. Bridge Hampton City, BH.

Central Park hari ini ramai banget. Gak salah sih, bazar ini sebagai bentuk perayaan atas dilantiknya pemimpin baru Main Castle. King Philip dilantik menjadi raja baru sebelum raja yang lama meninggal.

Still doubtful about certain rumors around tapi kata papa, “Kita itu rakyat biasa namanya cuma terdiri dari dua kata.”

Ngomong-ngomong tentang papa, kita hari ini nikmati waktunya berdua aja. Jalan-jalan sambil bergandengan tangan layaknya pasangan kekasih. Gak nolak juga sih kalau dibilang gitu sama lirikan mata iri khalayak ramai. Papa itu ganteng, baik hati kata banyak orang tapi bagi gue papa agak cerewet. Gue lebih seneng dia cerewet, kayak ada sensasinya gitu waktu mendebat kalimat-kalimatnya.

Paling puas pas dia udah keluar kata andalannya, terserah kamu dek, papa pusing. Dua kali lebih seru lagi pas dia ngomong kayak gitu waktu kita debat kusir empat mata. Gemes banget wajahnya.

Berjalan-jalan pagi sambil cobain jajanan yang mostly tradisional ini sama papa emang rasanya sungguh menyenangkan, gak ada dua. Gue jadi bisa ngerasain rasanya jadi Nicholas.

Papa itu pernah bilang sama gue kalau dia sama Nicholas mau minta izin beberapa jam atau satu hari penuh waktunya untuk dikosongkan. Tanpa ada gue, hanya papa dan Nicholas.

Gue gak iri, malah gue ngerti. Soalnya dari kecil sampai sekarang gue kayak pusat dunia di rumah. Gue sadar kalau gue masih belum mandiri, gue masih butuh papa, juga Nicholas. Sedangkan posisi Nicholas yang memang jauh lebih dewasa ketimbang gue. But in the end of the day seberapa dewasa Nicholas ya masih butuh papa at least buat jadi tempat curhat. Sekali lagi gue betul gak iri, sebab gue sadar diri aja kadang gak paham sama masalah hidupnya Nicholas jadi biarkan papa yang menampung dan memberikan saran terbaik.

Balik lagi dengan kebersamaan gue dan papa. Papa hari ini keliatan seneng banget. Banyak senyumnya yang bikin gue semakin bahagia dan berpikir ajakan gue yang rada memaksa kemarin gak ada salahnya.

Hampir semua jajan dia mau beli, tapi cuma dicoba sedikit sisanya gue yang harus makan. Mungkin efek papa capek, kerja terus, kadang kala waktu libur begini dia udah nyerah duluan diajak jalan. Paksaan emang gak baik, tapi dibeberapa kasus dibutuhkan juga.

Menyaksikan senyum papa waktu main game sederhana begini membuat keinginan nakal gue sejenak pergi. Gue mau dewasa, gue mau gak ngerepotin papa terus. Gue mau cepet gede dan pinter biar bisa kerja enak terus dapet duit banyak. Semuanya biar papa bisa istirahat, dari senin sampai minggu duduk-duduk di depan televisi.

Pokoknya papa itu segalanya, kesayangan gue banget pun Nicholas pasti punya cita-cita yang sama kayak punya gue.

Pa, papa sehat terus ya, tetep awet muda, ganteng gini. Terpenting, papa bahagia secukupnya bisa senyum kayak gini. Viscount janji kurang-kurangi nakal, maaf ya pa belum bisa hilang soalnya kalau Viscount gak nakal rumahnya jadi hening.

Viscount sayang papa.


Nicholas Point of View.

Belum ada tiga detik mobil papa melenggang pergi melintas jalanan kota, sebuah mobil apik berhenti di depan kaki gue berdiri.

Gue tersenyum masih dengan perasaan kagum yang sama ketika melihat dewasa dia di layar kaca atau ketika pertemuan pertama kami di rumah hampir bukit. Dia lelaki yang perawakannya hampir sempurna dengan kulit tan yang cocok melapisi otot-otot di seluruh tubuhnya.

Senyumnya tak kalah menawan, sedikit menyeringai dilengkapi lesung pipit tercetak jelas pada tulang pipi serta bulu mata lentik seolah ikut tersenyum kala empunya begitu. Semua mata yang bertatap dengannya pasti berburuk sangka bahwa lelaki dewasa ini berniat menggoda. Padahal tidak, itulah pesona si anjing gila, Alexander G. Claremont-Diaz.

Dialah sosok idola juga pria yang semakin matang diusia yang tidak lagi muda. Bergelar mantan putra presiden perempuan pertama Amerika juga bibir romantisnya kala mengungkapkan betapa setia dia pada pujaan hatinya. Meskipun hingga saat ini masih sebuah rahasia.

Gue gak bisa berhenti berdecak kagum kala satu kalimat tertata keluar dari mulutnya. Vulgar kosa katanya membuat dia semakin menakjubkan kala membahas tentang bidang pekerjaan. Dia menjelaskan hukum dari sisi yang berbeda.

Sampai hati ini terus bertanya-tanya manusia macam apa dia, kok susah terlihat kurangnya. Manusia macam apa dia, kok tak nampak sama sekali lubangnya.

Banyak sekali teka-teki yang ingin gue selesaikan dalam satu kali duduk. Mengenalnya lebih jauh daripada ini. Namun, mendengarkan alunan bariton kala mengungkap kebrengsekan manusia membuatku lupa dan terus menganga.

Apa yang membuat dia datang kemari?

Apa yang membuat orang hebat ini melepaskan pekerjaannya untuk menjadi guru sekolah di sini?

Apa yang sedang dia ingin ketahui dan dia cari?

Belum berani gue belum sampai hati bertanya lebih melewati batas menghormati.

“Jadi saya sudah banyak cerita tentang saya dan pekerjaan saya di sana. Giliran kamu kalau diperkenankan. Anggap saja kamu sekarang murid kepercayaan saya.”

Gue tentu tersipu malu-malu dianggap begitu. Yang di depan gue ini bukan orang biasa di luar sana.

“Saya di kelas sebagai ketuanya. Mereka yang tiba-tiba mengajukan tanpa peduli saya mau atau tidak. Fine, being headboy ain't horrible. That is fun though. Saya juga masuk dalam tim rugby, I love rugby so much, tapi papa agak benci karena baju saya selalu kotor karena lumpur.” Gue terkekeh, Sir Alex pun begitu. Mengingat papa selalu ngomel waktu lihat baju kotor gue setiap hari Jum'at mau gak mau bikin ketawa.

“Kamu anak pemilik toko bunga kan? Maaf saya dengar dari Mrs. Tina kemarin.”

Gue mengangguk, “Yup. Itu toko papa saya bangun pakai keringat dia sendiri. Papa saya itu orang tua tunggal jadi dia harus kerja keras.”

“Cool. That was amazing. Berarti kamu paham banyak ya tentang bunga?”

“Not really.” Gue menggeleng. Memang betul gue kurang paham tentang bunga. “Papa yang paling paham karena dia rawat sendiri dari bibit hingga mekar di kebun belakang rumah.” Gue melanjutkan.

“Saya bisa bayangkan rumah kamu indahnya seperti apa. Wanginya bahkan menempel di badan kamu Feromon kamu baunya kuat dan familiar, saya bisa cium dari jauh. Kamu alpha benar kan?”

“Betul. Semua orang yang pertama kali bertemu saya pasti berkomentar yang sama tentang feromon saya.” Gue mengangkat gelas berisi *Iced Mocha, menyesap sedikit kala terlibat hampa di antara gue dan Sir Alex.

“Berbicara tentang rumah saya,” Gue melontarkan satu kalimat tawaran, mumpung teringat di pikirinan. “Sir Alex kapan-kapan bisa main ke rumah saya kalau sir mau.”

“Of course. Sure, i'd loved to.”

Menghabiskan satu hari dengan Sir Alex menyenangkan tanpa ada seruan bosan. Selain papa yang pengertian, gue baru sadar bahwa membutuhkan orang seperti Sir Alex dalam hidup gue.

Gue berharap dia seseorang yang akan deket dengan gue sampai kapanpun. Namun dengan menjadi guru di sekolah rasanya patut bersyukur. Setidaknya gue bisa bertemu dia kapan pun.


`hjkscripts.


From : papa

Nicholas atau Viscount siapapun yang free tolong antarkan welcome flowers ke rumah Mrs. Tina. Alamatnya ada dicatatan. Terima kasih sayangnya papa.

Sepeda dikayuh, berjatuhan seribu peluh. Berisik napasnya terengah, suara desah pula keluar dari mulutnya yang tak pandai mengeluh.

Matanya menyipit menghalangi kejamnya sinar surya pada siang hari. Kuyup bajunya basah, sebab badannya pula seperti setelah mandi. Terkadang dia menyeka keringat yang menetes seperti air mata. Perih dirasa membuat pandangan kabur seketika.

Dia menepi sebentar, mencari pinggiran jalan yang terdapat pohon rindang. Dijagang sepedanya, berdiri di bawah bayangan pokok menikmati sejuk semilir angin. Dia merentangkan tangannya ke atas, menarik ribuan syaraf dan puas mendengar suara sendi. Memeriksa barang bawaan, memastikan bunga dalam keranjang masih cantik rupawan.

Kakinya terus mengayuh menembus jalanan berbatu. Tibalah dia pada titik awal alamat yang dituju. Terkadang santai, seringnya sampai berdiri kerahkan tenaga agar sampai sepedanya menanjak bukit. Maka sampai akhirnya dia di depan rumah yang atapnya hampir menyentuh langit.

“Permisi! Permisi Nyonya Tina!” Seruan si remaja laki dari ambang pintu kayu terbuka. Bersin berkali-kali sebab debu ada dimana-mana.

Siapa gerangan sang pemilik rumah. Pemandangan indah tapi tidak dengan kondisinya. Siapa gerangan sang pemilih rumah. Megah bentuknya tapi tidak elok baunya. Apek, banyak serangga mati, dan tai tikus. Bersyukur dia yang datang bukan adiknya, bisa mati paru-parunya tersiksa.

“Permisi!” Serunya sekali lagi. Sayup-sayup suara dua orang bercakap dari dalam dia interupsi.

Selanjutnya langkah kaki cepat terdengar, beradu dengan lantai terbuat dari kayu. Pintu sedikit terbuka akhirnya dibuka lebar, ruangan yang gelap jadi benderang.

“Nyonya Tina.” Sapanya ramah.

Perempuan paruh baya kini juga menghaturkan senyum ramah. “Nicholas, akhirnya kamu datang juga. Ayo masuk bunganya sudah ditunggu.” Jawabnya begitu.

Nicholas kini mengikuti sang wanita yang berjalan sembari membenarkan letak gelang-gelang emasnya di lengan. Siapapun yang melirik pandai menebak beliau ini bukan orang kampungan. Siapa yang tak mengenal ibu satu ini? Seantero kota banyak yang menyewa dia punya properti.

“Maaf membuat anda menunggu, Sir.” Bicaranya yang pasti bukan dengan si pengantar bunga.

Ahh, sekarang dia mengerti kenapa harus melawan terik matahari hingga mengayuh menuju hampir ujung bukit. Rumah ini akan ada pemiliknya.

Nicholas meletakkan rangkaian bunga di lantai sembari menunggu perintah dimana mereka akan dipajang. Penasaran juga ada siapa yang akan menjadi warga baru di kota.

“Jadi seperti itu ya, Sir Alex. Untuk masalah kebersihan saya bisa bawakan orang untuk membantu, tetapi tentu tidak bisa hari ini juga. Paling cepat besok dan paling lambat dua hari lagi.”

Sir siapa? Alex?

Nicholas masuk semakin dalam mengikuti rasa penasaran. Lupa akan sopan santun dan juga amarah hukuman. Namun saat matanya melihat langsung pada orang asing yang baginya bukan asing, miliknya berbinar.

“Sir Alex? Alex Claremont-Diaz si anjingㅡ”

“ㅡmaksud saya pengacara terkenal Amerika. Benar kan?”

Hampir saja berhasil mengumpat seseorang dalam pertemuan pertamanya. Kedua dewasa itu bingung, namun si pengacara lebih dahulu paham akan situasi dan membalas si remaja dengan anggukan serta senyum maklum.

“Oh! Nicholas kamu tau beliau ini ya?”

“Tentu, saya banyak lihat Sir Alex di saluran luar negeri.”

“Nah kalau begitu saya kenalkan. Sir Alex ini Nicholas anak pemilik toko bunga di pasar kota. Dia yang akan jadi salah satu anak didik anda di sekolah nanti. Dan Nicholas, ini Sir Alex yang akan menggantikan guru baru di sekolah kamu Senin besok.”

Sadar bahwa Nicholas tak menunjukkan reaksi apapun selain geming dengan wajah kagum, Alex mengambil aksi terlebih dahulu. Dia tersenyum, dan menyapa lebih ramah dari sebelumnya mengetahui bahwa anak ini adalah salah satu calon muridnya.

“Panggil saja Sir Alex. Sampai bertemu di sekolah besok.” Dia memperkenalkan diri, mengajukan tangannya berniat disalami kembali.

Nicholas buru-buru menyeka telapak tangannya. Memastikan bersih dari keringat, tanah, atau serbuk bunga. Dia membalas, “Nicholas, sir. Dari kelas tiga.” Hampir meremas kuat tangan si pengacara.

“Kalau begitu Sir Alex bisa saya tinggalkan di sini untuk beristirahat.” Perempuan bernama Tina memberikan satu gantungan berisi kunci, menandakan bahwa rumah resmi jadi milik si pengacara. “Ini kuncinya. Kalau Sir Alex butuh bantuan bisa hubungi saya kapanpun.”

“Untuk kamu Nicholas.” Tubuh anggun yang sudah hampir mencapai setengah jalan menuju pintu berbalik. “Letakkan bunganya di tempat kosong sebelah televisi ya. Uangnya sudah saya transfer ke papa kamu. Terima kasih ya, saya permisi dulu.” Akhirannya sebelum menghilang dari balik pintu.

Kini hanya tinggal Nicholas dan Alex dibatasi butiran debu. Nicholas pun mengangkat rangkaian bunga, memindahkan di atas buffet samping televisi.

“Saya lupa kalau saya memesan bunga sebelum datang kemari.” Alex mendekat, menghampiri Nicholas yang tengah menata letak vas bunga. Dia mengamati bunga seperti apa yang datang sebab seingatnya dia tidak memesan apapun.

“It's our old tradition, Sir. Namanya welcome flowers, buket bunga yang diletakkan dalam vas dan ditaruh di dalam rumah yang baru ditinggali.” Nicholas menjelaskan.

“Kenapa harus bunga?”

“Masyarakat sekitar meyakini bahwa bunga segar seperti ini bisa meneyerap hawa negatif dari rumah yang masih baru ditinggali. Layunya bunga-bunga ini dalam beberapa hari menandakan hal-hal negatif sudah berhasil diserap dan tugas pemilik adalah membakar bunga yang sudah layu nanti.”

Sekarang Alex memahami. Benar kata Katharina dan orang-orang di luar, Bridge Hampton masih kental dalam hal tradisi. Alex tak punya kuasa untuk menyangkal selain menerima dan mengerti.

“Tugas saya sudah selesai, saya permisi dulu, Sir Alex.” Nicholas mengundurkankan diri setelah bunga yang dia bawa telah bertengger apik di atas sana. Mana senang pula bisa bertemu salah satu idola. Dia tak sabar pulang untuk membagikan berita pada sang saudara. Juga tak sabar masuk sekolah dan melihat si pengacara akan mengajar apa.

Namun belum jauh Nicholas melangkah, Alex menahannya, “Tunggu!” Serunya. “Nicholas benarkan? Saya boleh tolong dibantu dengan sesuatu?” Tanyanya.

Nicholas mematung dengan wajah bingung. “Maaf?” Balasnya singkat.

“Begini, saya butuh bantuan untuk bersihkan rumah ini sedikit terutama di bagian kamar tidur. Saya tidak bisa menunggu besok.” Jelasnya. Belum sempat Nicholas menjawab Alex meneruskan katanya, “Tenang kamu saya bayar nanti sebagai tanda terima kasih sudah mengantarkan bunga juga.” Tawarnya.

“Tentu. Tetapi saya izin mengirimkan pesan pada papa saya dulu apa boleh?”

“Take your time, kid. I'll wait you upstairs.”


`hjkscripts.


From : Beatrice Charlotte Hanover-Stuart

Hi, Hen! Apa kabar kamu? Aku harap kamu, kedua keponakanku baik-baik saja dan aku juga berharap kamu masih memakai akun email yang sama. Hen, father sakit, kamu tau kan jantungnya. Itu semakin parah dari hari ke hari. Hen, dokter mengatakan father punya harapan hidup yang singkat.

Maksud dari aku mengirim pesan ini adalah bisakah kamu datang ke rumah sakit? Kita selalu berharap yang terbaik untuk kesembuhannya tetapi kita juga mengusahakan yang terbaik untuk akhir terburuknya. We are all missing you, darling.

With love, Your Bea.


Henry Point of View.

Friday should be a friyay, bagi sebagian orang mungkin tetapi khusus Hari Jum'at ini tidak untukku. Mereka enggan bersahabat denganku. Pagi hari hujan, mendung terus memandu. Hari ini aku dibuat sendu.

Bukan hanya aku, seluruh lapisan masyarakat tahu pasal beritanya. Tentang sang raja yang bijaksana tengah jatuh sakit lemah. Itulah sang baginda yang beranjak tua. Si penguasa yang aku panggil ayah.

Jika bertanya apa aku baik-baik saja tentu dilema. Sebagai Henry Fox rakyat biasa mungkin hal ini yang terbaik untuk sang raja. Namun, sebagai Henry Arthur Hanover-Stuart yang menyandang dia punya marga, sebagai anak aku tidak baik-baik saja.

Kejam begitu dia tetap seorang ayah. Keras begitu dia tetap yang mengajarkan tentang dunia bekerja. Tega begitu dia tetap yang membuatku lahir menjadi pangeran.

Ayah itu raja yang bijaksana dan menyayangi rakyatnya. Aku bisa bersaksi bila ada yang bilang tidak. Sebagian hidupnya dia dedikasikan untuk kemakmuran rakyat hingga lupa tentang keluarganya.

He maybe not a good father but he a wonderful king for this country. yet he still a father.

“Pa? Kamu kenapa?” Bahuku berjengit kala merespon sentuhan tiba-tiba. Ah, aku sampai gak sadar bahwa anak-anak sudah ada di dalam mobil dan menungguku melamun.

“Oh, kalian udah di sini. Maaf papa ngelamun.”

“Mikirin apasih kesayanganku? Kok kayaknya berat gitu.” Celetuk Viscount dari bangku belakang.

“Bukan apa-apa. Cuma mikir mau masak apa hari ini.” Elakku. “Udah masuk semua barangnya? Gak ada yang ketinggalan di kamar?” Tanyaku kembali memastikan barang bawaan tidak ada yang tertinggal sebab mulai besok akan menjalani libur semester.

Jawaban berupa anggukan menjadi tanda bahwa kita bersiap untuk meninggalkan lingkungan sekolah. Namun aku masih belum bisa meninggalkan beban pikiran yang baru datang.


`hjkscripts.


Henry Point of View.

Tidak ada hari tanpa kekacauan jika putramu adalah Viscount Fox. Diberi ketenangan dunia oleh hadirnya Nicholas tetapi tujuh menit kemudian diberi pelengkapnya. Tidak ada ketenangan sebelum ada kekacauan. Ketenangan itu tercipta kala yang kacau berdelebrasi setuju untuk saling berdamai.

Well, the world has its way to balanced everything.

Jika aku punya Nicholas yang memiliki senyum seteduh semilir angin malam, maka aku juga punya Viscount dengan senyum secerah matahari pagi. Dia lahir di dunia sebagai pembawa keceriaan. Leluconnya, tingkah anehnya membuat aku dan kakaknya ikut tertawa.

Berbeda dari Nicholas, Viscount sejak kecil dapat perhatian berlebihan dariku. Sebab Viscount kecil tidak tumbuh secepat Nicholas. Viscount tumbuh sebagaimana anak kecil lainnya yang butuh perhatian ekstra. Viscount kecil itu suka menangis akan hal kecil yang menyakiti dirinya. Viscount kecil hobi merengek jika dia tak dapat yang dia mau. Viscount kecil butuh bantuan setiap kegiatan yang dia lakukan.

Dan Viscount Fox tumbuh sebagai remaja yang suka perhatian. Dia adalah si pusat dunia.

It's kinda my fault though tetapi aku begitu bukan tanpa alasan meskipun ini tidak bisa dibenarkan. Viscount kecil didiagnosis asma sejak dini, imun tubuhnya tak sekuat penampilannya yang sok jagoan. Mungkin penyakit ini datang dari trauma masa lalu yang aku derita dan itu menurun pada Viscount.

Viscount tidak boleh capek, Viscount tidak boleh makan makanan sembarangan, Viscount tidak boleh setres. He's so weak young Henry after all.

Tetapi Viscount adalah Viscount, anak muda yang sedang terbawa arus menuju fase remaja. Remaja yang menganggap semua keputusan adalah tepat tanpa berpikir akan dampaknya.

Maka disinilah aku selalu, berhadapan dengan guru penanggung jawab kelas yang sebenarnya mungkin sudah bosan melihat wajahku. Hanya ada dua maksud kedatanganku bertemu beliau. Entah kabar presentasi Nicholas yang semakin meningkat atau kabar perilaku Viscount yang semakin diluar nalar. Untuk hari ini Viscount adalah pemeran utamanya.

“Pertama-tama saya mohon maaf harus memanggil anda kemari, Sir Henry. Tetapi, seperti yang telah dijelaskan dari pesan singkat putra anda Viscount terlibat dalam pelanggaran kecil. Dia ketahuan membolos jam pelajaran dan berdiam diri di rooftop sendiri. Maksud saya mengundang Sir Henry untuk bertanya dan memberikan sedikit saran.”

“Sir, apakah Viscount sedang ada masalah di rumah? Maaf jika pertanyaannya terlalu personal, namun hal ini dapat mengganggu konsentrasi kegiatan pembelajaran. Saya sarankan dengan kedatangan Sir Henry kemari dapat menyelesaikan apapun itu saat ini juga. Saya cukup menyayangkan jika masalah ini terlambat untuk diatasi dan akan menghambat proses pembelajaran hingga lima hari kedepan.”

Sure, sure we have problems unsolved. Tetapi untuk yang satu itu aku masih lelah. Bukan semua masalah harus diselesaikan saat itu juga, ada fase lelah, ada fase belajar, dan ada fase akhir yaitu berbicara empat mata.

Ini bukan tentang aku enggan mengerti. Ini bukan tentang aku enggan memaklumi. Ini adalah aku dan caraku untuk membuatnya sekedar tahu diri. Ini adalah aku dan caraku untuk membuatnya mencari solusi.

Viscount adalah Viscount solusi yang diambil selalu diluar nalar. Inilah solusi yang dia ambil, si pencari atensi handal.

“Aku kayak gini ya sengaja biar kamu dateng. Abis kamu di rumah diemin aku terus.”

“Tapi gak gini caranya. Kamu kan bisa panggil aku, kita bisa duduk sambil ngobrol. Papa itu cuma perlu kamu ngerti kalau kamu salah dan minta maaf. Papa diemin kamu biar kamu mikir, Viscount.”

“Papa itu bukan gak mau kamu seneng-seneng sama teman kamu. Tapi papa mau kamu tau batasan kamu. Kamu itu tubuhnya gak sehat dan papa khawatir. Papa cuma mau kamu dengerin papa. Papa itu peduli sama kamu, kakak juga gitu. Papa begini karena papa sayang sama kamu.”

Memiliki Viscount sebagai anakmu memang sulit. It's tiring yet it's challenging.

“I'm so sorry.” Lirihnya pasrah. Dia memelukku dengan perasaan bersalah.

“Maaf Viscount gak bisa jadi kayak Nicholas.”

“No, you don't have to be. I want you to be yourself. Like this Viscount but more responsibilities. Can you?”

“I'll try.”

In the end of the day memiliki Viscount berarti menyediakan banyak waktu untuk dirinya terus berusaha. Memberikan banyak kesempatan lebih dari sekedar dua. Sebab Viscount berbeda, bukan berarti tak bisa.


`hjkscripts.


Henry Point of View.

Jika berbicara tentang ketenangan maka Nicholas Fox jawabannya. Jika mencari kedamaian maka Nicholas Fox temukanlah dia. Inilah dia Nicholas Fox yang sejuk seperti pagi di desa. Hanya menatap wajahnya nyaman bisa dirasa.

Nick panggilannya, dia suka disebut begitu. Namun aku sering memanggilnya kakak, panggilan yang dia suka terkadang juga membencinya.

Sejak awal, sebenarnya aku tidak menentukan Nicholas adalah kakak, Viscount adiknya atau sebaliknya. Sebab mereka lahir dari orang yang sama di tempat yang sama, di hari, bulan, dan tahun yang sama. Yang membedakan hanya sekian menit jarak keluarnya.

Sekali lagi, aku tidak bukan yang memaksa Nicholas adalah seorang kakak dan Viscount adalah adik. Mereka tumbuh bersama, diberi kasih sayang dan dicintai dengan jumlah yang sama. Hanya saja, seiring berjalannya waktu dua kembar tak seiras ini menunjukkan watak dan kebiasaan yang berbeda.

Nicholas tumbuh sebagai anak yang luar biasa. Dibalik wajah teduhnya, dibalik senyum lembutnya ada kekuatan yang besar dalam dirinya. Nicholas itu mandiri, inisiatif tinggi, dan peka terhadap sekitar.

Nicholas kecil jarang menangis, malah dia yang sering menenangkan Viscount. Nicholas kecil itu suka bantu papanya hanya dari sekali melihat apa yang papanya kerjakan. Jadilah Nicholas yang menjadi tangan kanan kepercayaanku sejak kecil. Nicholas yang membantu menjaga adik yang sama besar dengan dirinya waktu sang papa sibuk mengurus sesuatu. Nicholas yang memarahi waktu adiknya rewel. Nicholas yang menasehati waktu adiknya berbuat kesalahan.

Intinya Nicholas itu bisa melakukan segalanya. Anakku Nicholas itu bisa diandalkan dan paling mengerti dalam menghadapi kehidupan papanya juga kesusahan. Nicholas itu bagaikan malaikat kecil penolongku. Sebab itulah Nicholas bertindak seperti seorang kakak untuk adiknya yang hanya berselisih umur 7 menit.

Anak ini tumbuh dewasa jauh sebelum waktunya.

Terkadang mandirinya Nicholas membuatku mau tak mau terus merasa bersalah setiap saat. Hal yang paling sulit dalam pelajaran kehidupan adalah berlaku adil. Mandirinya dia membuatku sedikit kurang khawatir dan khawatir berlebihan untuk Viscount. Sebab aku tau dia bisa melakukannya sedangkan Viscount tidak.

Aku jarang membantunya mandi, tapi aku membantu Viscount untuk menggosok bagian punggungnya. Aku jarang menemani dia belajar, tapi aku menjawab banyak pertanyaan pada tugas Viscount. Aku jarang membantunya menata buku untuk sekolah, tapi aku memeriksa tas Viscount sebelum berangkat. Aku jarang memakaikan kaos kakinya, tapi aku membantu Viscount hingga sepatunya terpasang dengan baik.

Aku begitu yakin dia bisa melakukannya sebab aku sangat yakin dia bisa. Aku lupa bertanya apa dia bisa atau apa yang bisa dibantu meskipun aku tau dia bisa.

Puncaknya, puncak dari diriku yang menjadi orang tua paling bodoh adalah ketika Viscount jatuh sakit dan aku panik berlari menuju rumah sakit kota dan tanpa sadar meninggalkan Nicholas di rumah.

Aku tidak ingin mengingat hari itu, tapi aku tidak bisa melupakan sebagai hukumannya. Orang tua bodoh yang pulang ke rumah malah menuruti emosi ketika melihat stoples selai pecah. Orang tua bodoh itu bukannya panik melihat sang anak andalannya meringis kesakitan, malah mengoceh frustasi dan kecewa sebab begitu ceroboh si anak bisa menjatuhkan stoplesnya.

Dia bisa sebab dia ingin membantu bukan berarti dia tidak bisa jadi ceroboh. Dia bisa sebab ingin mengurangi beban sang papa yang mengurus dua anak kecil sendirian bukan berarti dia tidak bisa berbuat salah. Aku detik itu sadar Nicholas masih sama kecilnya seperti Viscount, sama membutuhkan papanya sebesar Viscount.

Malam itu marahnya si anak yang bisa diandalkan menampar kesadaran sang papa yang hampir melenggang sangat jauh dari batas keadilan di antara keduanya.

“Nicholas banyak yang belum bisa, Nicholas tingginya belum sampai untuk mengambil stoples yang diletakkan di tempat tinggi, Nicholas berusaha ambil pakai kursi tapi stoplesnya berat dan jatuh. Maaf ya, pa Nicholas bikin papa susah.”

“Kenapa kamu gak tunggu papa?”

“Papa kan urus adek. Nicholas kan kakak jadi harus bisa apa-apa sendiri.”

Demi Tuhan, nak maafin papa yang bodoh ini.

Karena kebodohan orang tua tunggal ini Nicholas tumbuh jadi remaja yang hebat. Namun juga kebiasaan menyimpan kekhawatiran. Maka sejak kejadian hari itu aku belajar lebih banyak, memiliki dua anak bukan berarti mendidiknya dengan cara yang sama. Tapi dengan caranya masing-masing menuju tujuan yang sama.

Saat ini aku dan Nicholas tidur terlentang berdampingan. Sengaja aku membeli kasur yang lebih besar agar muat untuk dua orang. Nicholas itu suka cerita, tapi tidak untuk didengarkan bersama.

Inilah yang aku lakukan, aku menyebutnya Nick Corner, kegiatan yang aku buat untuk belajar lebih banyak tentang dunia Nicholas. Dimana aku selalu mengosongkan beberapa jam atau seharian penuh hanya untuk Nicholas dan dirinya sendiri, hanya ada Nicholas dan makanan atau kegiatan kesukaannya. Hanya Nick dan aku, tidak ada Viscount di antara kita.

Terkadang pun aku masih miris mendengarkan sebagian ceritanya selalu ada Viscount di dalamnya. Sebab dia seorang kakak yang bertanggung jawab menjaga adiknya. Diakhiri sesi aku selalu berterima kasih dan memujinya betapa bangga aku punya dia di sampingku dan di samping Viscount. Pula, aku meminta maaf jika sampai detik ini masih kurang adil dan khawatir berlebihan untuk Viscount sebab aku tau terkadang ada rasa iri dan sakit hati bila aku berlaku demikian.

Namun aku lega ketika dia berani mengungkapkan bahwa untuk beberapa saat ini dan kedepannya dia ingin mengurus dirinya sendiri dan agak lelah jadi seorang kakak.

“It's ok, dear. Kalau memang kamu capek, waktu Vis nakal atau berbuat salah biar dia hadapi masalahnya sendiri. Kamu cukup temani, jangan carikan jalan keluar biar dia yang cari solusinya sendiri.”

“Dia terlalu attached sama kamu karena kamu itu hebat, you're a wonderful and sweet boy in this world. I'm very grateful papa to have you in my life and proud of you for who you are.”

“Terima kasih ya, nak. Papa minta maaf belum bisa jadi papa yang baik buat kamu. I love you so much, darling.”

“I love you too, pa.”


`hjkscripts.