hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Flowers by Foxes Ham Market St, SH

“Foxes, breakfast is ready!”

Henry meletakkan tentengan pada tangannya di meja. Meja porselen ini biasanya dia gunakan untuk merakit pesanan bunga. Namun, seperti biasa sebelum toko buka di hari Sabtu, yang mana anak-anak selalu ikut membantu, meja ini berfungsi jadi meja makan keluarga.

Derap langkah kaki berantakan terdengar bersama suara gerutuan dan tawa. Henry geleng-geleng pasrah, sudah lelah menasehati anak remaja dengan kosa kata kasar yang mereka anggap biasa. It's Foxes morning routine anyway, berkolaborasi dengan gerutuan Nicholas sebab di dorong bercanda oleh Viscount dan tawa mengejeknya. Dan mereka tidak akan berhenti berargumen hingga makanan ada di depan matanya.

Makan pagi kali ini tak lengkap rasanya jika tidak ditemani acara televisi pagi. Nicholas si pemegang remote sibuk memilah saluran. Biasanya televisi akan sibuk menampilkan kartun Spongebob tetapi hari ini mereka berhenti di acara berita.

Televisi menayangkan sebuah adegan persidangan. Tentu itu bukan film semata, tapi nyata adanya. Kasus rumit tengah dihadapi Amerika Serikat yang sedang menjadi tontonan menarik dunia. Menteri Keuangan tiga kali dituduh melakukan korupsi ratusan triliun namun sulit untuk ditangkap hingga misteri kematian orang-orang yang berusaha mengekspos dirinya. Ini siaran sidang pertama sejak dirinya dilaporkan kembali ke meja hijau. Menggandeng pengacara baru dari sebelumnya.

“SHIT! THAT IS THE WILD DOG?” Nicholas berteriak mengumpat mengagetkan dua orang lainnya yang sedang ikut menyaksikan seksama.

“Nick, language please...” Henry memperingatkan dia untuk menjaga bahasanya.

Nicholas terkekeh, meminta maaf karena terlalu excited melihat siapa yang muncul sebagai pengacara disisi terdakwa. Sebutannya si anjing gila, pengacara liar yang sulit dikendalikan. Pengacara terkenal di Amerika dengan tingkat kemenangan hampir mencapai sempurna yaitu 98% dan kekalahan 2% itu pula sebab klien yang dia bela mundur dari permainannya. Itulah si anjing gila, Alexander Gabriel Claremont-Diaz anak mantan presiden Amerika.

“Siapa anjing gila?” Viscount bertanya bingung sebab di layar kaca hanya ada manusia tidak ada anjing.

“Pengacara itu, dia sebutannya anjing gila. Saking gilanya gak ada yang bisa kontrol argumen yang akan dia bawa. Lawannya tersudut dan dia akan menang lagi. He's Alex Claremont-Diaz.”

Viscount mengangguk saja, dia juga tidak terlalu peduli betul akan dunia kriminal atau apapun yang ada di berita. “Jadi dia bakal menangin koruptor sekarang? Orang yang jelas-jelas merugikan banyak orang?”

Nick mengangguk yakin, “He's going to win this. Dia punya sejuta cara untuk menang.”

“Aneh banget, harusnya lo sukanya sama pengacara baik-baik, yang tolong orang gak bersalah. Lah ini malah bela koruptor, pembunuh juga lagi.”

“There's no good guy or good intention in this tarnish field.” Nick menjawab menirukan suara bariton unik Alex Claremont-Diaz. “I don't like his game. But i still like him anyway, i mean his smart ass brain so amazing. Bayangin lo jadi hebat kayak dia, rumahnya di Austin megahnya kayak gimana, lo bisa ngapain aja. What a life.” Finalnya.

Viscount bergidik ngeri, melempar kentang ke piring Nicholas jijik, “What a creepy stalker you are, mate.”

Dan Henry, tidak ada satupun kata yang sanggup dia keluarkan untuk ikut bergabung dalam diskusi pagi kali ini. Nama itu masih terlalu berat untuk lidah mengeja tiap hurufnya. Memilih bungkam dan mendengarkan adalah jalan terbaik.

Asal kalian berdua tau... Iya, asal kalian berdua mengetahui.


Selesai sudah acara makan pagi, Henry beranjak inisiatif mengumpulkan bekas alat makan yang digunakan. Ada pantry kecil juga tersedia wastafel untuk cuci tangan. Dirinya berdiri di depannya mencuci piring kotor.

Kedua anaknya pun begitu, setelah makan pagi selesai kegiatan selanjutnya adalah membuka keranda pelindung toko. Memperlihatkan kepada orang-orang bahwa sebentar lagi toko boleh mulai beroperasi.

Nicholas sibuk sendiri, dari membalik tanda pintu menuju rak bunga, mengisi yang hampir kosong dengan yang baru dibawa dari kebun belakang rumah. Sedangkan Viscount masih duduk di tempat yang sama, berperang batin dengan diri sendiri mencari cara merayu paling efektif hingga dirinya dilepas untuk menonton konser dengan temannya malam ini.

“Vis?” “VIS?!” “Huh?”

Viscount terlonjak kaget kala mendengar nada tinggi daripada namanya. Dirinya terseret dalam dilema hingga tak mendengar jika sang papa membeberkan tugas pertama hari ini.

“Kamu denger gak tadi aku ngomong apa?” Tanya Henry dibalas gelengan.

“Itu buket yang sudah rapi tolong diantar sesuai alamatnya.” Perintahnya.

Viscount berdiri dengan berat hati. Ragu pula ingin berangkat mengantar namun terbebani pikiran yang belum tersalurkan. Konsernya malam ini dan sampai detik ini Viscount belum mendapatkan izin. Dan izin tidak semudah menulis surat absen sekolah.

“Pa?” Dia memanggil akhirnya. Kalau tidak sekarang kapan lagi waktunya.

“Kenapa?”

Viscount duduk kembali, kali ini disamping Henry yang tengah memulai pekerjaannya.

“Aku- aku boleh gak izin pergi nonton konser?” Tanyanya pelan.

Henry belum menjawab, seluruh bagian tubuhnya fokus pada satu pekerjaan yaitu merangkai bunga. Dirinya belum ingin terdistraksi sebab seluruh bunga harus terorganisir cantik dan sempurna.

Sabar menunggu Viscount masih di samping sang papa. Dia paham betul jika Henry tidak bisa diajak berbicara saat sedang merangkai. Setelah menyelesaikan tahap finishing Henry menyimpan hasil kerjanya, mengosongkan space di meja sejenak memberikan seluruh atensi untuk Viscount melanjutkan kalimatnya.

“Tadi kamu bilang apa?” “Aku boleh gak izin nonton konser?” “Konser apa? Kapan? Dimana? terus sama siapa?” Dan inilah papanya.

“Konser festival band gitu, acaranya malam ini di Ham Central Park sana. Aku pergi sama temen sekolah aku.” Dia menjawab sesuai dengan pertanyaan.

“Terus kamu berangkatnya gimana? Pulangnya juga gimana? Kan rumah kita jauh dari sini. Malam juga selesainya aku yakin.”

“Ya setelah tutup toko aku gak ikut papa sama Nick pulang. Soal pulang gampang aku nginep di rumah temen yang rumahnya sekitar sini, besok aku pulang.”

Henry menghela napas panjang. Bingung juga mau memberi izin tapi terlampau khawatir. Semua pertanyaan yang dilontarkan dijawab yakin seolah dia pergi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Konser di kota ini jarang dan jika ada pastilah amat ramai dan keramaian bukan sahabat baik bagi penyakit asma yang di derita Viscount.

“Dek, aku bukannya gak mau izinkan. Tapi konser itukan nanti banyak orang, panas, dan oksigen di sekitarnya kurang. Kamu itu kan gampang sakit, imunnya kurang stabil. Kalau ada apa-apa aku takut terlambat datangi kamu.”

“Tapi aku pengen datang, pa. Sekali ini aja, aku udah siapin badan supaya hari ini fit dan ini aku bawa inhaler 2 buat jaga-jaga kalau satunya habis. I'll be fine and you have to trust me.”

Ini pilihan sulit bagi Henry. Dia yakin jika melarang pasti akan menimbulkan perang dingin, tetapi mengiyakan pun dirinya juga belum yakin sepenuhnya. Pilihannya adalah meminta bantuan pada Nicholas yang juga memperhatikan mereka berdua. Henry melayangkan tatapan bingung, seolah bertanya tanpa vokal apa yang harus dia lakukan. Ketika anggukan menjadi jawabannya, maka Henry pasrah.

“Ya sudah kamu boleh pergi. Tapi inget handphone kamu harus nyala terus. Aku telpon, aku chat harus dibales.”

“Thanks.”


`hjkscripts.


Ham Market St. Bridge Hampton City, BH

Henry tersenyum pada wanita paruh baya dengan begitu banyak pertanyaan tentang bunga. Dia mengikuti langkah tertatih, menjelaskan dengan sabar artinya satu persatu.

Beginilah Henry sekarang, bukan pewaris istana, bukan juga seorang pangeran. Henry hanyalah rakyat biasa yang hanya punya nama terdiri dari dua kata. Henry kini yang berhasil melewati fase sengsara. Memulai dari merangkak hingga kini kuat berdiri dengan dua kakinya.

Dia adalah lelaki matang dewasa hidup sendiri ditemani dua buah hatinya. Dia yang tak pernah berhenti berusaha untuk memenuhi kebutuhan badan berjumlah tiga. Dia mana tau arti lelah, sebab lelah artinya susah.

Henry Fox bukan yang versi masa kecil atau muda. Bukan pula versi remaja atau remaja baru dewasa. Henry Fox yang ini pembaharuan yang lebih, lebih baik daripada sebelumnya. Terlihat sederhana namun banyak menerima cinta. Henry Fox yang ini kenyang akan pembelajaran dari masa lalu pilu. Maka Henry Fox ini wujud nyata dari dirinya yang amat baru.

Jika bicara dahulu ketika pertama kali dirinya pindah ke kota ini. Bridge Hampton memang tidak pernah berubah, hanya masyarakatnya yang lahir dan mati. Pula Henry yang sudah banyak perubahan.

Henry datang dengan buah hati yang masih berbentuk gumpalan darah bercampur daging ditemani tiga maid utusan palace. Henry beradaptasi dengan lingkungan pun tubuhnya yang berubah drastis. Tiada hari tanpa sakit, tiada hari tanpa kelelahan, tiada hari tanpa mengeluh. Apapun keadaannya, di sini Henry tidak bisa bertingkah seolah dirinya seorang pangeran.

Pagi muntah, bukan bisa istirahat tapi harus belajar memasak. Esok harinya muntah, bukan bisa rehat sejenak harus belajar mencuci pakaian. Lusanya pening, bukan bisa memejam harus belajar bersihkan rumah. Malam terbangun sebab bayinya menangis tak dapat lagi tidur sebab paginya harus mengantar bunga. Bahkan kala ketiganya terserang demam, merawat dua bayinya lebih penting daripada dirinya sendiri.

Semua itu dia lakukan agar bisa mandiri. Semua itu dia lakukan agar bisa pergi dari bayangan keluarga. Henry lelah bergantung, sepeser pun ia tak butuh. Maka saat usahanya berjalan stabil, dia memutuskan untuk benar-benar pergi. Memulangkan maid menuju kerajaan, menjual rumah yang ditinggali dan pindah ke lain daerah, pula memutus kontak pada manusia di hidupnya terdahulu sehingga tiada satupun mereka yang dapat menghubungi.

Sehingga inilah Henry Fox masa kini. Dewasa berusia awal empat puluh dengan toko bunga kecil hasil keringatnya sendiri.


Henry Point of View.

“Ini kembaliannya dan ini barangnya. Terima kasih sudah datang, Nyonya.”

Aku menghela napas, menatap nanar punggung wanita paruh baya yang akhirnya pergi dengan satu kantong berisi bunga. Kepergiannya menandakan bahwa itu adalah pelanggan terakhir di Hari Jum'at.

Pukul tiga sore, toko tutup lebih awal di hari Jum'at. Aku bergegas membalikkan tanda toko buka menjadi tutup. Tidak lupa membersihkan kekacauan di hari ini juga menutup keranda pelindung toko. Semuanya aku kerjakan sendiri, berusaha secepat mungkin sebab tidak mau terlambat menjemput anak-anak dari boarding school-nya.

Bridge Hampton Boarding School adalah tempat yang cocok bagi papa tunggal dengan dua anak seperti diriku. Seorang papa yang harus bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup namun tidak ingin melewatkan perkembangan anak-anaknya. Menitipkan mereka dari Senin hingga Jum'at dan menghabiskan waktu saat Weekend datang.

Awalnya aku khawatir sejak mereka lahir, kedua tanganku sendiri yang merawatnya. Tidak ada satu hari pun terlewat aku mengetahui pertumbuhan dan perkembangannya. Namun, kehidupan manusia sederhana terus berjalan. Segala keperluan tidak instant tersedia dengan sendirinya jika tidak dibeli dengan uang dan uang tidak bisa datang jika tidak menghasilkan keringat untuk mencarinya.

Tin!

Aku membunyikan klakson mobil yang suaranya sudah hampir tak terdengar. Memberi tanda kedatangan, mengambil sedikit atensi dari dua remaja yang tengah seru bercanda tawa dengan kawannya.

Itu yang sedang berjalan beriringan adalah kedua putra yang aku amat sayang. Ini Nicholas, yang dengan sendirinya masuk ke pelukan kala kedua lengan ku rentangkan.

“Hi, pa! How are you?” Selalu begitu kalimat pertamanya.

“Fine. How are you, kak?” Kita berpelukan erat, saling menyalurkan kerinduan.

“I'm good. Glad you too.”

And he kissed me affectionally while i did the same but many times. Because Nicholas love affection.

Kedua adalah Viscount. Mereka berdua kembar, lahir dari orang yang sama di hari dan tempat yang sama dengan watak jauh berbeda. Viscount seratus delapan puluh derajat berbeda dari Nicholas.

Jika Nicholas menyerahkan dirinya sendiri, maka Viscount memilih untuk didatangi. Dia bergeming ketika aku ganti memeluknya.

“Papa kangen kamu, kamu kangen papa juga nggak?” “Hmm.” Dia itu tipe yang berlagak sok dewasa when actually he's such a crybaby.

Viscount maybe looks tough, all independen, whatever about skinship but i know he love me.

Mereka berdua membutuhkan dan menunjukkan afeksi dengan cara yang berbeda.


`hjkscripts.

Mulai hari ini aku akhirnya bebas. Keluar dari penjara terbuka yang penuh sesak napas. Aku pergi meninggalkan kisah sedih di tempat ini. Aku pergi mencari kebahagiaan yang yang masih terus berlari.

Setidaknya aku tidak terbatas. Setidaknya aku bisa melihat hamparan hijau dan biru begitu luas. Inilah jalan terbaik yang aku tempuh. Meskipun harus memulai semua dari angka satu.

Selamat datang aku di kehidupan baru. Kuatlah aku menghadapi hari susah dan pilu. Mulai menata cita-cita tanpa ragu. Berharap masa depan lebih indah daripada masa lalu.

Henry Fox, Bridge Hampton.


Gue pulang menapak tanah yang menjadi mimpi sejuta manusia. Gue kembali meninggalkan asa yang tersisa. Gue sampai di sini tanpa membawa apa-apa selain derita.

Mana buktinya jikalau Alex adalah manusia beruntung dikelilingi suka. Berikan buktinya jikalau Alex adalah manusia tanpa duka. Ini buktinya jikalau Alex masihlah seorang manusia biasa. Lihat buktinya Alex yang satu ini sudah hancur lebur seketika.

Pelukan tak menenangkan, untaian kata semangat tak diindahkan. Beginilah rasanya kehilangan.

Selamat datang Alex yang penuh luka. Kuatlah gue untuk mencari secerca bahagia. Berpegangan erat pada harapan atas nama cinta. Berharap pada alam yang akan mencarikan jalannya.

Alexander G. Claremont-Diaz, Washington DC.



Alex Point of View.

Mendekam di penjara tentu bagi gue bukan sesuatu yang menakutkan. Penjara, tempat ini kalau bisa disebut rumah kedua gue akan sebut seperti itu saja. Sahabat-sahabat lapangan gue yang kurang beruntung banyak yang mendekam di penjara. Sedangkan gue, sebenernya sering tapi seperti dewi fortuna berada di belakang bayangan gue.

Lagi-lagi penjara, dari sekian banyak alasan kenapa gue pantas masuk penjara yang satu ini paling gak masuk akal. Gila! Manusia mana yang mencoba menjebak gue sebagai pembunuh. Mencari dan terus mencari dalam memori rasanya tidak ada alasan yang tepat bagi mereka untuk menjebloskan Alexander Gabriel Claremont-Diaz ke penjara di negara ini.

Sampai pertanyaan yang sudah berjam-jam melayang di kepala gue akhirnya terjawab akan kedatangan Your Highness Prince Philip. Oh! Kayaknya gue bisa menebak ini ada apa.

Kita duduk berhadapan, berbeda dari ketika gue berbicara dengan Katharina ruangan ini hanya diisi oleh gue dan Pangeran Philip tanpa ada orang ketiga.

“It's my father, The King.” Tuduhnya yakin. Philip langsung berbicara pada intinya, tanpa ada preambule atau sekedar basa-basi.

“Tiga orang itu pasti suruhannya. Salah satu yang mati pasti rakyat yang tak berdaya mengharapkan keluarganya mendapat kenikmatan dari palace asal dia melakukan apa yang diperintahkan. Ini ulah father sebab beliau marah mengetahui hubunganmu dan Henry.” Jelasnya.

Gue sudah menduganya, betulkan? Cepat atau lambat, sekarang atau nanti. Namun tetap masih ada banyak pertanyaan dibenak gue yang harus dijelaskan secara rinci.

“Ayah sudah banyak menipu rakyat, Alex. Menyatakan Henry sudah meninggal itu keputusan luar biasa beresiko bagi kerajaan. Mengetahui kamu sebagai anak presiden yang semua mata dunia tertuju padamu... father tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Cara ini dilakukan agar palace punya alasan untuk mendeportasi kamu dari Main Castle. Kamu sengaja atau tidak sengaja membunuh adalah alasan yang bersih bagi palace untuk mengusir kamu tanpa ada pertanyaan dari rakyat.”

Sekarang gue mulai paham hubungan benang merahnya. Mengusir gue agar Henry tetap terkurung dalam palace. Kedatangan gue sebagai mate Henry merupakan ancaman terbesar jika keberadaan Henry mulai tercium media.

Namun jelas gue gak bisa pergi terdeportasi begitu saja. Gue punya Henry, pasangan yang tentu gue berharap kita bakal bersama sampai tua. Kita saling mencintai dan punya cita-cita bersama. Gue gak akan pergi meninggalkan Henry terpuruk dengan nasib buruk.

“What if i won't go? Gimana kalau gue bisa meyakinkan Henry bahwa bersama, kita bisa melawan palace dan menghadapi pertanyaan rakyat selama ini.” Gue mendesak, menantang Philip sebagai seorang calon raja yang akan menghadapi kacaunya masa depan jika memang kebusukan palace bisa dibongkar.

Philip menghela napas berat, punggungnya bersandar pada bantalan kursi bersedekap dada. “Maka kamu harus memilih, Alex.” Kedua matanya menatap milik gue serius.

Maksud kedatangannya bukan hanya menjelaskan titik mulai cerita tetapi juga menawarkan sebuah pilihan sulit yang pada ujungnya gue harus memilih apapun itu.

“Hidup bersama Henry dan melihat mereka berdua menderita, hidup dihantui rasa takut sebab father punya seribu cara untuk menyiksa. Atau kamu pergi membiarkan Henry hidup seperti pada semestinya tidakㅡ”

“Tunggu!” Gue memotong kalimat Philip kala mendengar ada kata yang janggal. “Apa maksud lo mereka?” Gue bertanya.

“Dokter menyatakan Henry sedang mengandung sudah dua minggu lamanya.”

Untuk sekali lagi muka gue ada yang nyembur SURPRISE MOTHERFUCKER! tapi kali ini sensasinya lebih menegangkan karena gue adalah calon ayah, dan calon ayah ini bisa kehilangan keduanya jika dia salah mengambil pilihan.

“Fuck...” Gue sekarang lemah.

Gue udah bilang Alexander Gabriel Claremont-Diaz itu gak punya rasa takut dan kelemahan selain orang tua gue, sahabat gue, dan Henry sekarang ditambah calon buah hati gue. I can't afford to be reckless.

“Jadi kamu tinggal untuk melihat mereka satu persatu mati atau pergi dan memastikan kehidupan ini berjalan seperti semula.”

“Can-not.. Can't they just come with me to US? Gue bisa beli tanah di tempat terpencil dimana mereka gak ada satupun yang kenal Henry. Gue bisa menjamin kepergian gue dan Henry gak lagi menimbulkan ancaman bagi palace kedepannya.”

Philip menggeleng yakin. “Dia akan membunuhmu terlebih dahulu sebelum satu jari kakimu menginjak rumput di halaman palace.”

Shit!

“Oke. Kalau gue memilih pergi apa lo bisa menjamin keselamatan mereka berdua di palace?”

Melihat dari dua pilihannya bagi orang yang mencintai tentu bukan pilihan sulit. Bertahan melihat belahan jiwamu mati atau pergi. Tentu pilihannya adalah pergi, sebenarnya jawaban itu yang mereka mau bawa untuk dilaporkan. Sebenernya jawaban itulah yang membuat Philip diam di bangkunya dan tak memberikan waktu untuk gue berpikir lebih panjang. Sebab hanya ada jawaban itu yang bisa gue pilih sebagai jawaban paling benar dari keduanya.

Hanya saja gue ingin memastikan apakah ada jaminan jika memilih jawaban tersedia. Dan jawaban Philip adalah, “Saya bisa menjamin Henry tetapi untuk calon anak kalian saya takut menjanjikan sesuatu yang saya sendiri tidak bisa menebaknyaㅡ”

“ㅡtentu kedatangan saya kemari bukan hanya untuk menawarkan pilihan melainkan juga menawarkan sebuah solusi. Sebab melihat situasi seperti ini saya juga sanksi apakah nyawa adik saya aman jika terus berada di palace.”

“I need to call him. I need to talk to Henry.”

Apapun yang akan terjadi, apapun resiko yang akan datang dari pilihan yang gue ambil setidaknya mungkin untuk yang terakhir kali gue mau denger suaranya. Gue mau dia tau bahwa gue tau akan keberadaan calon anak kita dan gue akan mengusahakan yang terbaik untuk kebahagiaan kita di masa depan apapun akhirnya, bersama atau berjalan sendiri-sendiri.


`hjkscripts.


LEE COTTAGE NEW ARSENE, MAC

Katharina sampai dua puluh menit kemudian. Membelah jalan sepi dengan bau petrichor dipandu cahaya remang dari bulan. Katharina berlari, ingin tiba secepatnya melihat keadaan yang sebenarnya.

Sesampainya di pondok Katharina kebingungan. Berlarinya dia sambil merapal doa, berharap kawannya hanya membuat tipuan bodoh entah untuk merayakan apa. Seolah dipukul palu, doa yang dia simpan dalam kaleng kaca retak remuk menjadi pasir kala terparkir mobil ambulan dan banyak mobil polisi.

“Itu pasti bukan Alex.” Pintanya lagi.

Sayang sekali, hari ini meskipun hujan turun dengan deras bukan doanya yang didengar. Bukan pula doanya yang dikabulkan. Dua manik matanya menatap nanar kala tiga orang turun dari tangga bambu. Dua adalah petugas polisi dan yang satu adalah sahabatnya sendiri.

“ALEX!!!” Teriaknya histeris. Semua mata tertuju padanya.

“ALEX!!!” Katharina tak peduli, mengerahkan seluruh tenaganya untuk menembus pagar manusia yang membatasi kerumunan dan lokasi tempat kejadian.

“FUCK! ALEX!” Dia masih berteriak, mengeluarkan seluruh suara yang dia punya. Mereka gak boleh menangkap Alex.


Katharina Point of View.

Ya Tuhan tolong hambamu

Gue mengusap wajah yang udah berminyak ini entah berapa kali. Gue ngantuk, capek, kebingungan, khawatir pokoknya gue gak bisa jelasin gimana mixed feeling-nya di dalam.

Bayangin aja dalam waktu detik gue membuka mata karena nada dering ponsel gue udah melihat pesan Alex yang isinya dia menginformasikan kalau habis bunuh orang. Gila nggak? Gila nggak menurut lo kalo jadi gue? Terus gue harus lari dari pondok ngikutin mobil polisi sampai kantor polisi daerah setempat.

Sudah berjam-jam gue menunggu Alex yang masih diperiksa dengan linglung. Gue gak tau harus melakukan apa. Gue bahkan gak sempet ngabarin orang-orang di Amerika sebab gue sendiri gak tau gimana kronologinya. Mendengar dari desas desus katanya ada rampok.

Sumpah aneh banget. Kalau dipikir-pikir sudah tiga bulan gue dan Alex tinggal di sini dan tempat ini lebih safety daripada Amerika. Di Amerika bahkan bernapas di pagi hari aja lo harus awas, tapi di sini gue merasa aman. Bahkan waktu harus keluar tempat tinggal di tengah malam.

“Keluarga Tuan Claremont-Diaz?” Lamunan gue dibuyarkan begitu saja oleh suara salah satu petugas yang keluar dari ruangan.

“Silahkan anda bisa mengunjungi Tuan Claremont-Diaz.” Gue mengangguk dan dia pergi aja menjauh dari pintu.

Gue masuk ke ruangan kecil cuma ada Alex dan salah satu petugas yang berjaga beberapa meter di belakang Alex. Gue bisa nebak gimana ekpresi anak ini dan bener aja kita berdua sama-sama linglung.

“Alex.” Gue lega banget ketika bisa sentuh tangannya lagi. Gue raba beberapa bagian tubuhnya memastikan gak ada luka selain goresan panjang di lengannya. Gue raba wajah lelahnya seraya menguatkan akan keadaan yang belum kita tau seperti apa.

“Alex.” “Kath.”

Gue nangis, udah bodo amat gue jarang nangis di depan dia. Seinget gue udah dua kali gue nangisinin ini orang di keadaan yang sama. Iya sama-sama di kantor polisi dan dia sebagai pelakunya. Semoga saja yang kali ini dia bukan pelakunya.

“Gimana bisa sih Alex? Gimana kejadiannya lo bisa sampai kayak gini?” Gue akhirnya bertanya.

“Gue gak tau, intinya gue denger pintu kamar gue berisik banget dan ada tiga orang bawa senjata tajam pakai topeng. Gue yakin mereka gak mau harta gue melainkan nyawa gue. Mereka bertiga nyerang gue, sampai salah satu dari mereka medekat ke gue kayak mau nusuk gue pakai pisau tapi tiba-tiba orang itu tergeletak dengan pisaunya nancep di abdomen dan setelahnya dua orang yang lain kabur.”

“Maksud lo orang orang itu berniat ngejebak lo?”

“Kalau ceritanya begitu emang lo percaya?” Tanya Alex. Sebagai orang yang bertahun-tahun jalan bareng Alex gak ada yang gak bisa dipercaya di dunia. Kalo Alex bilang dia dijebak maka gue percaya meskipun gue belum paham motifnya.

Sayangnya gak ada satupun saksi mata selain dua orang komplotan yang kabur dan Alex sendiri. Meskipun kejadiannya bisa disimpulkan sebagai usaha pertahanan diri dari perampok bersenjata tajam, di negara ini siapapun yang membunuh apapun alasannya tetap akan menjadi tersangka.

Yang membuat gue berkurang paniknya adalah dia Alexander Gabriel Claremont-Diaz, lawyer yang biasa menghadapi seluk beluk kejahatan. Semoga... semoga masalah ini bukan masalah besar dan Alex dapat dengan mudah menghadapinya.


`hjkscripts.


Henry Point of View.

Alex, dengarkah kamu saat aku menyebut namamu. Bisakah kamu rasakan bahwa aku merindukan kamu. Tahukan kamu detik ini aku membutuhkan kamu. Sayangnya aku mulai sekarang harus diubah menjadi kita. Karena aku tidak lagi sendirian. Aku bukanlah Henry seorang. Ada bagian dari dirimu yang akan ada terus bersamaku.

Alex, dengarkan aku seorang. Aku minta maaf sebab tidak menyadari kedatangannya. Harusnya aku tahu lebih cepat dan aku bisa mengumumkan padamu. Aku bisa bayangkan senyum kamu, aku bisa rasakan bahagia. Kita berdua sekarang lengkap sebagai keluarga. Aku, kamu, dan anak kita.

Alex, dia ada di dalam sini. Tumbuh di dalam perutku yang masih rata kini. Pantas saja aku suka berdekatan dengan kamu hari lalu. Mereka pintar bukan, tau jika itu feromon ayahnya dan mereka nyaman akan sentuhan tanganmu yang bermain di permukaan perutku malam itu.

Alex, harapanku kamu ada di sini dan dengarkan detak jantung kita berdua. Gumamkan kalimat sayang penguat rasa gelisah. Sebab kami ingin tidur bersama rasa aman yang kamu pasti bisa hadirkan. Bukannya menghadapi kecemasan menebak atas apa yang akan datang.


`hjkscripts.


Philip Point of View.

Aku berjalan gontai menyusuri keramik berkilau. Pandangan kosong, pikiran tertuju hanya pada satu. Bukan kamarku, bukan pula meminta pandu pada istriku. Melainkan seseorang dibalik pintu itu.

Lemas tanganku membukanya, disambut tegang oleh dua orang yang menunggu di dalam. Aku masuk, terseret menuju entah ini ruangan kamar atau jiwaku hampir dibawa pergi alam bawa sadar.

Yang pasti adalah kala aku berdiri sejajar dengan mereka, mereka yang menatapku dengan raut wajah iba. Bertanya dengan nada khawatir apa yang terjadi hingga aku datang dengan keadaan kacau. Maka aku tidak sanggup lagi untuk berdiri, tubuhku enggan untuk berpura-pura lagi. Aku tidak kuat, aku terkadang lemah, aku tidak baik-baik saja, dan aku terjatuh di dalam dua pasangan lengan mereka.

Keduanya menangkapku, tak peduli aku lelaki sebesar apa. Kita masih keluarga, aku bisa rasakan hangat dekapannya. Kita masih keluarga, aku bisa dengar suara tangis salah satunya. Kita masih keluarga, ya setidaknya kita yang masih bisa disebut keluarga.

Tubuhku merosot hingga dengkul terantuk lantai. Dari posisi bersimpuh begini aku meraung, meminta maaf akan ketidakmampuan. Aku tidak mampu menjadi menjadi manusia yang baik, aku tidak mampu menjadi pemimpin yang baik, dan aku tidak mampu menjadi kakak yang baik. Aku Philip anak pertama yang gagal.

Aku manusia beribu dosa, tak tahu malu hidup seperti tak ada beban. Aku pemimpin tak tahu adil, selalu mengesampingkan kebahagiaan keluarga demi kerakyatan. Aku kakak tak tahu terima kasih, hanya mengungkapkan janji bila Henry akan terus hidup bahagia meskipun telah menyerahkan hidupnya untuk menutupi kebodohannya.

Maafkan Philip muda yang marah melampiaskan emosi sebab harus menjadi raja. Maafkan Philip muda yang bodoh cinta yang bukan miliknya. Maafkan Philip muda yang egois saat hanya diam ketika hidupmu harus digantikan untuk menutupi kotor bajuku.

Sebab jika bukan pengorbanan kamu aku tidak bisa berdiri menunggu tahta.

Sebab kita adalah keluarga, dan keluarga mampu memberikan seluruh hidupnya agar yang lain bebas dari sengsara. ㅡ Henry Fox (14 Tahun).


`hjkscripts.


TRIGGER WARNING ; PHYSICAL ABUSE , FAMILY ISSUES🔞

Southminster Palace

Apakah definisi keluarga? Terdiri dari ayah, ibu, dan putra putri. Apakah definisi keluarga? Yang mana asing disatukan oleh cinta. Apakah definisi keluarga? Hanya akan kokoh jika dibangun oleh kasih sayang. Maka apakah definisi keluarga sesungguhnya? Mana ada yang pasti sebab setiap keluarga punya arti berbeda-beda.

Jika begitu apakah ini bisa disebut keluarga? Tertinggal ayah, dua putra, dan satu putri. Apakah ini bisa disebut keluarga? Jika kata cinta diungkapkan dengan pukulan berakhir luka. Apakah ini bisa disebut keluarga? Dibangun dengan fondasi umpatan kasar. Maka bagi mereka yang dinamakan keluarga adalah bertahan dengan hawa dingin dan ribuan air mata.

Sebab keluarganya lebih rapuh daripada cangkang telur burung puyuh.

Inilah tabiat asli sang raja yang namanya tercantum dalam nyanyian penuh puja. Inilah tabiat asli sang raja yang tangannya seringan kapas. Inilah tabiat asli sang raja yang suaranya menggelegar ketika berbicara dengan sang putra. Inilah tabiat asli sang raja yang membawa cambuk siap untuk menebas.

Harusnya ayah yang harusnya sekuat baja melindungi anak-anaknya. Meskipun tak selembut seorang ibu, sebab dia yang paling tau kerasnya jalan. Harusnya ayah yang memberi banyak kekuatan, mengajarkan banyak hal. Harusnya ayah yang tegas memberitahu anaknya mana yang baik dan mana yang buruk dengan cara bijaksana.

Bukan seperti ini ayah yang menatap sang putra dengan mata kecewa. Beribu amarah bersarang menjadi kerak dalam hatinya. Bukan seperti ini ayah yang menarik kerah sang putra, mengajaknya menari dalam lantai penuh belati. Ia menghempaskan tubuh manusia seolah itu adalah karung berisi biji kenari. Bukan seperti ini ayah yang menebaskan cambuknya pada tubuh polos. Mengungkapkan betapa menyesal dia membesarkan mereka.

Terima saja hukuman bagi calon raja yang tak memenuhi keinginan. Menjaga dua adik tak becus bagaimana membina kerakyatan. Membangun rasa percaya dengan sebuah kebohongan.

Memang begini hukuman bagi calon raja yang dididik dengan rasa ketakutan.


`hjkscripts.


Henry Point of View

Beginilah cerita tentang pangeran yang akhirnya bisa merasakan kehangatan keluarga.

Henry... Henry... Henry...

Panggilku pada hati nurani, meminta pertolongan agar diri ini tenang. Aku ingin hari ini lancar berjalan, memberikan banyak kesan. Namun sebelumnya, aku ingin diriku tenang, seluruh organ dalam tubuh berinteraksi secara normal.

Hanya saja tidak semudah membalik telapak tangan. Bahkan menyumpal mulut agar tak berteriak frustasi susah bukan main. Ada apa dengan diriku? Ada apa dengan tubuhku pun aku susah pula menjelaskan.

Satu bulan lalu rasanya kematian hampir saja datang menjemput. Demam biasa yang aku alami berlanjut hingga sepuluh hari lamanya. Dokter berkata tak apa, imun tubuhku tak sekuat manusia di luar sebab mereka juga ikut terkurung puluhan tahun di dalam diriku. Lagi dan lagi aku disalahkan sebab nekat melihat dunia luar.

Setelah penderitaan sepuluh hari berakhir, tubuhku layaknya berevolusi tidak menjadi baik namun semakin jadi lemah. Bangun pagi dengan keadaan pusing dan perut terkocok yang akhirnya keluar hanya cairan. Kadang begitu kadang juga baik seperti manusia pada umumnya dan keadaan itu berlangsung sampai sekarang.

Hanya saja aku tidak berharap keadaanku terjadi hari ini. Mungkin besok tak apa yang penting jangan hari ini. Sebab, malam ini adalah malam penting dimana untuk pertama kali setelah satu bulan aku bertemu dengan Alex kembali, bukan hanya alex melainkan anggota keluarga kecilnya.

Mungkin kondisi tubuhku telah membaik, aku pikir. Karena sudah tiga hari berturut-turut bangun tidur dengan keadaan sehat. Namun hari ini naas, pagi-pagi aku bangun dan berlari menuju kamar mandi. Sial, setidaknya Alex memberitahu tentang kedatangan orang tuanya satu minggu sebelum hari ini bukannya kemarin. Dalam tubuhku pasti stres dan tertekan. Tetapi tiada hari lain lagi untuk lari, maka aku berusaha membuat tubuhku sehat hanya dalam beberapa jam istirahat singkat.


Kehadirannya adalah obat paling mujarab. Berjalan gontai kala sendiri, semangat terbang bak burung merpati kala entitasnya hadir mendekati. Aku begitu tenang, merasa aman kala hanya feromonnya saja yang mengelilingi. Sekarang sehat sedia kala seolah lupa cerita sakit.

Kala dia memelukku ada rasa hangat menjalar. Rasa hangat itu memberikan kenyamanan, mereka seolah memberikan reasurasi pada syaraf agar disampaikan seluruh organ bahwa hari ini akan berjalan lancar jika semuanya berkoordinasi.

Alex memandangku lamat, terheran-heran hingga aku ikut kebingungan ada apa yang salah.

“Ada yang aneh ya sama aku?” Aku bertanya terlebih dahulu. Sebab jika memang betul masih ada kesempatan untuk membenahi yang salah.

Alex menggeleng, senyum miringnya terulas kecil. “Ini perasaanku aja atau kamu tambah manis, huh?” Dia dan kata-kata manisnya.

Aku memukul bahunya pelan. Alex selalu bisa membuat darahku berdesir tanpa irama hingga membuat warna merahnya muncul di dua pipi.

“Kamu tuh bisa aja.” Aku berdecak, melepaskan diri seutuhnya dari rengkuhannya.

“Nggak. Bentar-bentar lihat deh...” Alex memegang dagu milikku, diangkatnya lembut sembari menikmati acara mengamati wajahku yang katanya terlihat berbeda dari yang lalu.

“Kamu kalau mau cium aku bilang aja gak usah sok memuji begitu.” Aku menembak tanpa aba-aba dan dia menyerah ketika tawa konyolnya keluar begitu saja.

“Jangan langsung dibongkar gitu lah. Harus bangun momen dulu.” “You got the moment you need and my permission as well.” “Damn, you really are most wonderful man tonight, Your Highness”

Alex cupped my face as he lean his lips to mine. We kissed gently at first and passionate later and forget the reason we here at this place for a while.

Kita tertawa setelah yang lama tak berjumpa memisah. Menertawakan kebodohan sebab hampir saja merusak tatanan sebelum acara di mulai.

“Shall we?” Ajaknya. Mengulurkan tangan juga dan aku menyambutnya suka cita.

“Sure, let's meet them.”


Alex Point of View.

Gue rasa malam ini akan berjalan baik-baik aja. Lihat sekarang, sejak acara dimulai satu jam yang lalu sampai saat ini makan malam disajikan gak ada adegan tegang atau orang tua nyiram wine ke muka calon menantunya. Malah keduanya sedang ngobrol especially my mom and Henry yang lagi bahas perbedaan antara Amerika dan Main Castle.

Hal-hal baik yang terus terjaga seperti menjawab kegugupan gue pun Henry dihari lalu. Sempat panik juga dengar kabar Henry hari ini kurang sehat karena tekanan mau ketemu orang tua gue.

Gue bisa mengerti sih, bahkan kemarin malam rasanya gue udah mau mempermalukan diri sendiri di depan keluarganya Henry meskipun judul acaranya bukan secara resmi gue menemui keluarga kerajaan sebagai orang tua Henry. Tetep aja ya kan, gue harus membuat first impression yang lebih baik dan terus baik biar nanti waktu bom atom meledak image gue dan keluarga didepannya akan tetap baik.

Berbicara tentang Henry, gue gak bohong pasal yang dia kelihatan lebih manis dan ganteng daripada sebelumnya. Sebelumnya dia udah unreal banget tapi hari ini dia lebih dari itu. Mungkin ini karena gue yang udah satu bulanan gak ketemu dan terus menerus worried sama keadaannya tetapi ya sekali lagi naas gue gak bisa jenguk dia dan berbuat apapun.

Terakhir kali gue melihat wajahnya dari video call aja dan gue udah bisa lihat gimana tirus pipinya. Wajahnya mostly pucat dan untungnya dia gak pernah bohong tentang keadaan dia. Dia selalu cerita kalau hari ini dia muntah, dia makan tapi keluar semua, dia udah minum obat. Setidaknya dikabari begitu gue jadi less worried daripada dia bilang gak apa tapi wajahnya lemes.

Tetapi hari ini gue bisa cukup tenang. Lihat dia banyak senyum, menerima banyak afeksi dan dorongan positif yang dilontarkan mom dan dad. Seperti betapa hebatnya Henry bisa bertahan selama ini, betapa mandirinya dia bisa merawat dirinya terus tumbuh jadi lelaki luar biasa baik dan ganteng seperti sekarang, betapa kuatnya Henry dan usahanya untuk selalu mencari alasan agar tetap bahagia dan hidup sehingga percakapan mereka berakhir pada orang tua gue berterima kasih banyak-banyak sama Henry.

Sebab kalau Henry yang mereka lihat sekarang bukan manusia yang luar biasa kuat, gue anaknya gak bakal bisa ketemu sama mate-nya.

Orang tua gue, terutama dad kelihatan juga suka banget sama Henry. Apalagi Henry itu meskipun gak jago masak tapi dia pinter banget komentarin masakan. Buat dad gue yang orang Texas makanan dan masak itu kebanggaannya dia banget. Dad suka masak buat orang yang datang ke rumah, apalagi orang itu lahap banget makannya. Kayak Henry sekarang yang dengan senang hati masukin semua makanan yang dad gue taruh di atas piringnya.

Malam ini dia makan banyak banget memang tapi gue gak bisa melarang karena gue inget Henry punya masalah makan beberapa hari kebelakang. Mumpung perutnya baik jadi biarlah dia makan sepuasnya.

Melihat bagaimana keduanya orang tua gue dan Henry berinteraksi inimah fix setelah ini entah gue masih dianggap anaknya apa bukan. They love Henry and i do. Henry sepertinya lahir ketika Tuhan sedang sayang-sayangnya dengan hambanya. Seolah hari itu tak ada bencana, tak ada yang tengah dihukum, sebab Dia sedang menakdirkan Henry lahir ke dunia.

Henry diciptakan memang untuk disayang dan dicintai sepenuh hati.


`hjkscripts.


TRIGGER WARNING ; 18+ SENSUAL CONTENT 🔞

Alex, Alex, dan Alex begitu bibirnya yang basah menyerukan namanya. Kala jemari panjang sang lelaki bergerak suka cita. Dia dan cara memandunya menuju nirwana. Maka pengikutnya hanya sanggup mengagungkan bagaimana kepemimpinannya.

“Alex shh...” Satu lagi lepas nada kepuasan. Menjadi melodi indah yang mendengarkan. Desahan penuh kenikmatan menjadi motivasi, menjadi tanda ini bukan sembarang permainan.

Gila tabiat si kawula muda, tak mungkin merayu jika tak ada maksudnya. Di bawah atap bambu yang mana berhias remang lampu, kala langit belum mau menunjukkan warna biru. Ayam juga masih pulas tidur, bahkan manusia lain bersuara dengkur.

Mana ada peduli pada waktu kala yang bawah tegang tak tau masa. Mada ada peduli pada telinga tetangga jika ada yang berniat meremasnya, bukan hanya itu saja tangan lihainya bergerak naik turun lantas dimasukkannya dalam rongga mulut tanpa ragu. Mana ada peduli pada dunia jika rangsangan yang diberikan sudah cukup membawanya terbang sampai pintu surga. Semakin basah batang dibalut liur, berkedut kuat dari pangkal hingga ujung, dilepaskan benih putih yang disebut peju.

Semakin liar tabiat si kawula muda, bunyi kecipak tersohor dimana-mana. Alex menekannya, dibalas Henry tuntas serupa. Saling beradu bibir mana yang paling kuat, menghisap rasa alami bercampur darah. Semakin dalam, jatuh semakin dalam saling tarik menarik lidah.

Semakin gila dan liar tabiat si kawula muda, kala sang omega mengambil alih dari pangkuan sang alpha. Henry bak seorang penjajah, merebut paksa kewarasan dari dalam diri dominannya. Mengosongkan pikiran pasal konstitusi menjadi nafsu birahi. Membungkam demokrasi menjadi monarki dan Henry adalah rajanya kali ini.

Alex melenguh hebat kala yang tegang dimasukkan lubang. Mendukung aktif gerakan demonstrasi menjadi aksi anarkis. Henry boleh menjadi raja, namun tetap Alex adalah penguasa. Jika sudah begitu sang raja akan turun dari tahta memberikan seluruh hidupnya pada kendalinya.

Sang raja dijatuhkan dari kursi emas megah. Dikunci tangannya hingga jadi merah. Namun bukannya semakin marah. Hanya desahan berisi nama penguasa dengan nada pasrah.

Sang penguasa bergerak, cepat mencari kenikmatan. Ditemani peluh tanda begitu kerasnya sebuah perjuangan. Maka sebuah teriakan dan terasa sebuah getaran aneh menyenangkan. Menjadi tanda sebuah kemenangan.


`hjkscripts.