FSOTUS ; and his omega.
Alex Point of View.
Sore-sore gini gue udah berdandan rapi. Membawa bunga bak seorang priyayi. Gue sesekali melihat jam tangan terus senyum kayak orang gila. Sebenernya gue sampai lebih awal, gak mau bikin cowok gue nunggu di proper date pertama kita.
Gemerisik dedaunan di belakang gue menjadi sebuah tanda. Mereka juga ada menjadi saksi bagaimana tidak ada kebebasan di dalam kastil meskipun dia seluas samudra. Buktinya kala papan kayu penutup digeser munculah sosok pemuda. Pemuda yang hidup sesak di sana, melangkah keluar butuh udara.
“Oh for god sake this hole!” Umpat dari bibir manisnya menjadi awal daripada sebuah ucapan sapa.
Gue mengamati dengan diam gerak-gerik Henry. Bagaimana dia membersihkan pakaiannya dari debu, lalu mengeluarkan gawainya untuk berkaca. Gue terkekeh kala dia tak sadar memajukan bibirnya, berdecak kesal ketika rambut yang puluhan jam dia tata jadi berantakan.
Ekhem!
Tubuhnya terperanjat kecil mendengar suara gue. Gue menaikkan tangan, berkontribusi membantu benerin rambutnya.
“Ganteng banget sampe rambutnya ditata begini mau ketemu sama siapa sih?” Gue menggoda.
Henry, cowok ini masukin gawainya lagi dalam saku. Terus dia kasih senyum lucu sampai keliatan gigi putihnya yang rapih. “Pacar.” Jawabnya polos. Ini gimana ya maksudnya? Gue yang niat menggoda malah kalah sebab digoda.
“Emang kita pacaran?” Gue counter balik, menyembunyikannya diri gue yang udah salting parah dibilang pacar sama Henry.
“Oh bukan ya?”
Tolong gue gak tau bakal sanggup jalan seharian sama Henry mode pacar gemes kayak gini. “Belum. Orang pacaran waktu ketemu sama pacarnya wajib ciuman dulu.” Gue senyum jahil, mana korbannya geleng-geleng kepala juga terkekeh. Gue sadar Henry nggak sepolos itu.
Tetapi Henry gak menolak, gak menganggap bahwa pernyataan gue cuma akal-akalan anjing gila yang lagi dimabuk cinta. He tilting his head, coming closer to mine where he put his lips wrapping my lower lips and i wrap his upper side. I grab his nape, deepen our kiss while i crushed his sofly.
Gue merasakannya sensasi intim yang kita bangun semakin kokoh ketika salah satu anggota tubuh kita menyentuh satu sama lain. Rasa dari bibirnya yang gue belum rasakan kembali sejak malam penuh birahi masih sama membuat gue gila.
Henry senyum malu-malu, kelihatan banget dari rona pipinya yang berubah dari pucat menuju merah muda, nampak kontras dengan warna kulitnya.
“I- I brought you flowers too.” Memasuki momentum yang bagus, gue berikan juga bunga sederhana yang gue petik sembarangan entah dari kebun punya siapa.
“Thanks!”
“So.. Your Highness, shall we?”
“Of course.”
Satu hari ini gue belajar banyak tentang Henry. Bukan dari cerita sedihnya melainkan sifat-sifat aslinya. Meskipun gue masih pengen nangis waktu dia cerita gimana menyenangkannya sesuatu yang kita anggap itu biasa. Tetapi Henry bisa hidup sampai sekarang karena berpegangan dengan alasan-alasan sederhana.
Salah satunya adalah Henry seneng banget sama buku, dari kecil dia habisin waktu emang mostly di dalam kamar atau perpustakaan palace buat baca. Katanya buku jadi salah satu faktor dia buat tetep waras hidup. Apalagi sama buku-buku yang masih on going yang dia sendiri belum tau akhir ceritanya dan dia juga gak tau kapan si author rilis versi lanjutannya.
Henry juga suka tanaman, apalagi bunga. Mendiang ibunya dulu cuma anak tukang kebun di desa sebelum dia ngejar mimpinya menuju ibu kota dan ketemu ayahnya di universitas. Meskipun ibunya resmi jadi anggota keluarga kerajaan, kesederhanaan masih melekat pada dirinya dan Henry orang yang paling banyak menuruni sifat ibunya. Selama mendiang Lady Catherine hidup, beliau dan Henry berhasil menanam ratusan bunga. Bunga yang sampai saat ini dia jaga dan Henry berjanji akan terus jaga.
Last but not least, Henry itu punya banyak mimpi yang dia tata sedemikian rupa dalam tembok kamar yang tak seluas bumantara. Salah satu mimpinya adalah melihat dunia luar yang belum pernah dia lihat hingga usianya dipaksa tutup di empat belas. Lucunya, dia yang pemilik negara ini belum pernah berkunjung ke Arsene Market.
Waktu kita sampai di jalanan Arsene, Henry gak berhenti senyum. Kepalanya bergerak kesana kemari seolah gak mau terlewat satu scene pun yang terjadi di tengah khalayak. Inilah kali pertama pangeran yang ada ditiadakan melihat sebagian kecil dunia. Kerumunan massa ini yang membuat dirinya hidup sepertinya sedia kala.
“Alex balon sekarang bentuknya aneh-aneh tapi lucu.”
“Alex ada banyak yang jualan ice cream saya sampai bingung mau beli yang mana.”
“Alex yang ini namanya apa? Kalau yang itu apa?”
“Alex ayo lihat kesana!”
Alex, Alex, dan Alex gue suka mendengarkan nama gue diserukan dari bibirnya dengan suara bahagia. Suara ini bukan miliknya yang penuh takut dan duka.
Henry oh Henry gue bukan dewa melainkan manusia biasa. Gue masih pria yang penuh salah dan dosa. Gue masih Alex si anjing gila bukan si sempurna. Serta gue yang mulai saat ini akan terus berusaha buat lo bahagia.
Henry oh Henry bila nanti ada kalanya gagal. Bila nanti ada satu tetes air mata yang tanggal. Gue harap mohon dimaafkan. Sebab Alex punya lo ini yang masih banyak kekurangan.
`hjkscripts.