hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


THE BALL ㅡ 2023 SOUTHMINSTER PALACE, MAC

Alex menapaki karpet merah langkah demi langkah. Menebar senyum seindah bunga dahlia, meskipun dalam diri gugup melanda. Dia lelaki berhasil mencuri seluruh atensi hanya dengan gestur membenarkan tata letak kerah. Menjadikan ruangan riuh kata pujian dan cahaya kamera.

Dia Alex yang dengan senang hati mendedikasikan hidupnya berada di depan media. Menerima sorotan dari berbagai penjuru mata angin adalah makanan sehari-hari. Hingar bingar pesta sudah layaknya sahabat lama. Kelap-kelip warna menjadi kain yang melekat pada diri.

“Your Majesty...” “Your Royal Highness...” “Princess Beatrice...”

Alex menyapa satu persatu anggota kerjaan. Memberi jabat tangan yang disambut suka cita. Alex itu pandai berbicara dan mencari muka. Terlihat dari ekspresi Your Majesty Arthur yang tengah tertawa berbincang ringan dengan dirinya. Seolah pesan Alex tentang keluarganya tidak bisa hadir bukan masalah selama ada Alex di sana.

“Sir Alex maaf saya lancang bertanya. Apakah anda datang ke sini dengan pasangan dansa anda?” King Arthur bertanya.

Alex tersenyum miring, senyum andalan yang bisa memikat manusia dalam satu detik. “Tidak Your Majesty. Saya hanya bersama tangan kanan saya.”

“Well... dear,” King Arthur menanggapi informasi Alex dengan ekspresi lega. “Bagaimana kalau malam ini putri saya Beatrice yang akan menemani anda turun ke lantai dansa.” Lanjutnya.

“Dengan senang hati, Your Majesty.”

Melayang kanan maupun kiri, bergerak maju juga mundur. Terakhir, badan berputar hingga gaun mekar seperti angin berhembus menggerakkan kincir. Beatrice mana hilang senyum nampak giginya, kala menjadi pemenang diantara banyak wajah perempuan nestapa mengharapkan perhatian seorang pria.

“Princess Beatrice kamu terlihat sangat indah malam ini.” Cakap rayunya buat tersipu.

Pun jahatnya bibir hanyalah sekedar alat untuk tutur kata, menyuarakan banyak kalimat kosong tak bermakna. Bibir memang boleh berbahana namun hati dan pusat tubuh manusia yang tau dimana dua netra mengincar sebuah cahaya.

Dialah mata setajam anjing penjaga gila. Dua buah yang dapat menggoda sekaligus banyak wanita. Dari yang muda hingga permaisuri milik raja. Semua terkapar di atas awan melalang buana.

Dia adalah mata si anjing gila yang berpendar mencari daging buruan.

“Princess Beatrice boleh saya bertanya sesuatu?” Tanya Alex setelah berhasil menangkap pinggang Beatrice sempurna. Beatrice mengangguk tanpa syarat curiga. “Tentu.” “Apa kamu kenal pria maid istana bernama Henry Fox?”

Beatrice berhenti, seketika mematung membuat Alex makin penasaran. “Jadi?” Dia menuntut jawaban.

“Oh.. ya- henry...” Perempuan itu berbicara gagap masih mempertahankan senyumnya. “Henry fox maid kami.” Suaranya semakin kecil, takut-takut salah kata.

“Dimana dia? Saya tidak melihatnya disekitar sini.” “Henry ya? Dimana henry... mungkin ada disekitar- saya juga kurang yakin.” “Kalau boleh Princess Beatrice saya pamit dahulu.” “Oh.. huh? Tapi Sirㅡ”

Belum selesai Beatrice mencegah karena panik, Alex sudah lebih dahulu mencium punggung tangannya dan melepaskan saat itu juga. Detik demi detik Beatrice menatap punggung tegap Alex hilang ditelan khalayak ramai.


`hjkscripts.


THE BALL ㅡ 2023 SOUTHMINSTER PALACE, MAC

Henry melihatnya dari jauh pelupuk mata memandang ke arah lantai di bawahnya. Bak surga dan dan alam baka, dia tentu berada di alam yang berbeda. Di bawah hingar bingar penuh suara dan warna. Sedangkan lelaki ini hanya berdiri pada satu saja unsur warna.

Dia adalah lelaki yang berdiri pada satu lantai tanpa lampu.

Dia adalah lelaki yang ada pula tak ada.

Dia adalah lelaki yang tersembunyi dalam kopong cahaya remang.

Henry tahu berdirinya dia di lantai tiga istana juga sebuah larangan. Meskipun tubuhnya hilang dilalap gelap. Namun mereka masih khawatir dia berhasil ditangkap. Beginilah nasib pangeran yang ada ditiadakan.

Dia tersenyum kala menemukan Beatrice dengan gaunnya yang menawan. Berwarna emas dengan hiasan kupu dan bulu kapas selembut awan. Semakin lebar ketika binarnya saling bertemu pada garis yang sama. Beatrice akan selalu menjadi pusat dunia.

Ahh! Itu dia si anak presiden amerika. Tujuh detik waktu Henry terbuang hanya untuk menelusur garis wajahnya dari jauh.

Dia terlihat berbeda, bukan seorang pria kekanakan dengan senyum konyol menggoda. Dia adalah lelaki dewasa dengan sejuta pesona. Dia terlihat berbeda, bukan seorang pria minus tata krama. Dia adalah lelaki dengan paras bak seorang dewa.

“Gila!” Henry buang muka. Menyesali pikiran kotor dengan beribu kalimat pujaan untuk Alex semata.

Henry berpaling, memutuskan beranjak dari tempatnya bergeming. Entah mengapa ada perasaan tak nyaman melanda tubuhnya. Dia harus pergi secepatnya dari sana.

Setidaknya, kepergian Henry dari tempatnya dapat mematahkan sebuah berita tentang misteri lelaki istana yang berdiri berselimut bayangan.


`hjkscripts.


LEE COTTAGE NEW ARSENE, MAC

Henry Point of View.

Tertutup kelopak mata, jatuh aku di lubang tanpa cahaya. Menarik napas lalu dihembuskan hingga tenang melanda. Dua daun telinga diam tanpa gerak menangkap kosong suara. Di atas alas anyaman bambu duduk bersila aku di sana.

Aku memutuskan pergi lagi dari istana. Pengalaman pertama kembali datang kemari membuat aku tak berhenti terpesona. Bisa-bisanya aku tidak fokus dalam membaca. Malah terpikir bunyi damai di pondok meskipun tidak berbuat apa-apa.

Hari ini tepat Main Castle berumur 177 tahun, begitu juga umurku yang bertambah satu menjadi genap seperempat abad aku telah hidup. Sejak jam 12 dini hari aku menetapkan lomba, siapa juara ucapan ulang tahun paling banyak. Apakah aku atau negara? Jawabnya tepat bisa ditebak bahkan sebelum menuju hari selanjutnya.

Pertama yaitu Beatrice dan yang kedua adalah Uncle Lee ketika aku sampai di sini. Hadiah? Ayolah, aku cukup bersyukur ada dua orang yang mengucapkan. Jangan berharap lebih sebab hidup sekarang bukan lagi tentang mengharap melainkan jalani saja apa yang ada.

Tap Tap

Telingaku bergerak, terusik akan suara langkah kaki beradu dengan lantai bambu. Suaranya cukup mengganggu, mereka bergerak gelisah tak tentu arah.

“Pak Lee?!”

Uggh! Aku benci siapapun pemilik suara ini. Seseorang yang juga minim tata krama seolah tak peduli di dalam ruangan ini ada manusia yang mencoba mencari ketenangan.

“Pak Lee!!!”

God Lord!

Aku membuka mata akhirnya. Mengakhiri sesi meditasi sesaat guna menanggapi orang tak tahu diri agar cepat pergi dari sini. Dia yang masih berlalu lalang mengelilingi ruangan utama dari pondok bambu, yaitu rumah Uncle Lee seperti seorang pemilik.

“Uncle Lee sedang keluar sebentar.” Aku menyahuti.

Dia berhenti tepat di hadapanku, bergeming sebentar dengan ekspresi bingung mungkin dilengkapi kaget dan dua tangan berkacak pinggang.

“Lo siapa? Kenapa di sini?” Dia malah bertanya dengan suara angkuh. Aku bungkam malas menanggapi.

“Kamu butuh apa? Bilang aja nanti kalau Uncle Lee sudah datang akan saya sampaikan.” Putusku begitu. Lelaki itu bukannya menjawab pada posisinya, melainkan maju mendekat beberapa langkah. Dia menjelaskan, “Keran air panas di kamar gue macet lagi.” Begitu katanya. “Noted.” Aku mengangguk mengerti.

Dan entah kenapa kita berdua malah terjebak pada situasi canggung. Aku yang gak mengerti harus bagaimana menjawab lagi, sedangkan dia yang kalang kabut sendiri mencari jalan untuk mengakhiri percakapan singkat dan bagaimana tata cara berpamitan pergi.

“Oke.. iya, gitu. Kalo gitu gue keluar sekarang dan biarin lo sendiri di sini.” Kalimatnya gugup. Begitu pula dengan gerak tubuhnya. Kaki yang gak mau sinkron dengan pengendali pusat, buat dia tampak bodoh di depanku. “Hmm.” “Lo beneran gak apa kan gue tinggal sendiri?” “Sure.” “Oke.. right, sorry gue pergi.” Pamitnya entah keberapa kali, namun kakinya membawa tubuh jangkung itu ke arah dalam rumah bukan pintu keluar. “Pintu keluarnya ke arah sana.” Aku memperingatkan dan dia senyum malu sebelum benar-benar keluar.

Kupastikan dia hilang dari pelupuk mata sebelum aku kembali menarik napas kuat dan menghembuskannya sembari menutup mata. Akuㅡ

“Hei, maaf mengganggu lagi,” Sosok itu kembali muncul. “Uhh, jangan lupa sampaikan juga yang membuat laporan bernama Alex dari kamar nomor lima.” Aku terpaksa senyum, berusaha mengontrol emosi. “Alex nomor lima. Done and done.” “Thanks.”

Aku mengulang kembali kegiatanku dari awal. Menarik napas daㅡ

“Kayaknya gue nunggu Pak Lee di sini aja deh sama lo. Bosen banget di kamar gak bisa mandi.”

OH MY GODNESS PLEASE HELP ME.

Kalau begini caranya apa beda riuh lantang di jalan dan di sini. Sama-sama kacau, bahkan parahnya lagi pengacau di tempat ini hanya satu orang. Dan orang itu yang sekarang malah duduk di sampingku seolah kita berada di suatu bilik sempit sesak tanpa ruang sisa.

“So, kalau gak salah liat lo cowok yang kapan hari ke sini kan? Muridnya Pak Lee juga? Sejak kapan?” Terlalu banyak bukan? Ayo sabar, ini adalah ujian. “Yes.” Aku membalas singkat.

“Lo ke sini masuk kelas apa? Setiap hari apa? Kok gue baru ngeliat lo kemarin?” “Meditasi. Kalau kamu mau tau kelasnya, kamu sedang ada di sana. Tepat di atas alas bambu ini khusus untuk meditasi dan berbicara panjang lebar adalah hal utama yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang sedang mengikuti kelasnya.”

“Oh, wow haha,” Dia malah tertawa geli. “Peace, okay? Gue cuma lagi excited akhirnya ketemu orang selain Pak Lee yang bisa diajak ngobrol secara langsung. Abis negara lo aneh bro, gue dateng ke sini ngajak temen cewek ya at least gue ada temen ngobrol, ternyata kita gak bisa satu lokasi rumah. Lagi, dibeberapa tempat ada pembedaan secondary gender. Demi mengurangi kejahatan apalah-apalah, di Amerika rumah gue santai aja tuh.” Aku kira dia sudah selesai bicaranya, tapi dia melanjutkan, “Oh iya nama gue Alex. Alex Claremont-diaz. Kalo lo tipe yang rajin nonton berita pasti tau gue siapa.” Tambahnya dengan menyodorkan tangan.

That is so annoying of him. Aku hanya melirik tangan dan rupanya bergantian, memberikan seulas senyum semata. “Nice to meet you.” Aku menjawab singkat.

“Man, you're playing hard to get for what? Look, gue ini lawyer dan anak orang nomor satu di Amerika. Gue bisa jamin gue bukan orang jahat danㅡ”

“Hey... hey- Alex? Right?” Aku potong kalimatnya sebelum dia membual tentang hal diluar nalar. “Kamu mau apa dari saya?” Tanyaku pasrah. “Nggak ada... gue kan cuma mau nunggu Pak Lee di sini.” “Oke baik. Tapi bisa nggak kamu beri saya ruang sedikit. Kita punya tujuan yang berbeda di sini. Kamu bisa tunggu Uncle Lee di meja sebrang sana dan saya harus melakukan yang saya harus lakukan di sini, mengerti?” “Sorry.” Cicitnya.

Lega rasanya dia paham apa yang aku maksud sehingga dia langsung beranjak, menduduki bangku di sisi lain ruangan. Setelah ini siapapun yang akan mengganggu harus siap-siap mati terbunuh.

“What's your name anyㅡ” “SHUSSH!!” Belum ada lima detik, bibir juga belum kering dari liur. “Kalo boleh tau lo tinggal diㅡ”

“OH GOD LORD PLEASE I CAN'T DO THIS AGAIN!” Aku menyerah. Lebih baik pergi dari sini dan pulang melanjutkan chapter buku tersisa.

Pergerakan serta langkahku terburu sepertinya membuat Alex panik. Dia mengayunkan kaki panjangnya, berjalan sama cepatnya mengejar diriku yang hampir mencapai setengah lorong arah keluar.

“Hei! Hei! God, dude gue minta maaf.” Ungkapnya setelah berhasil menahan lenganku. Aku sudah tidak butuh kalimat maafnya. Alex terlalu menyebalkan sebagai seorang manusia. Bahkan telah hilang perasaan sungkan untuk menunjukkan raut kurang bersahabat ketika berbicara menatap wajahnya.

“Sekali lagi, kamu mau apa dari saya, huh?” Suaraku tegas dengan nada suara dibuat sedikit lebih tinggi.

Namun, Alex seperti tidak mengindahkan suasana kaku yang tengah aku bangun. Dia dan wajah menyebalkan dan senyum seolah menggoda. “Nama, gue cuma mau nama lo.” “Henry.” “Henry?” “Fox.” “Beautiful. Henry Fox.” “Rumah lo?” “Palace.” “Secondary gender?” “Pardon?” “Nomor telfon lo berapa?” Gerak tangannya mengeluarkan gawai dari saku, jemarinya siap sedia menangkap angka yang akan keluar dari mulutku.

Belum terdengar apapun, pandangan Alex mendongak memeriksa ekspresi wajahku. Aku bisa melihat bulu matanya yang panjang bergerak mengikuti terbuka-tutup kelopak matanya.

Dan aku tertegun dengan ekspresi yang aku sendiri tak bisa deskripsikan tatkala senyum jahilnya merekah lengkap dengan terbentuk lesung pipit di samping wajahnya.

“I..i am- i'm leaving.” Berpaling, aku ingin cepat pergi dari posisi ini. “Tunggu!” Alex menahan sekali lagi. Merogoh saku lain mengeluarkan kertas persegi panjang kaku dengan beberapa informasi di dalamnya. “Karena lo gak mau ngasih nomor lo sendiri, biar gue yang dengan senang hati ngasih nomor gue buat lo. In case lo butuh temen ngobrol atau temen ya sekedar mungkin ngajak gue jalan-jalan di sekitar sini.”

Dia berhenti sejenak, mengambil napas dan dihembuskan cepat sebelum melanjutkan lagi, “Please, call me Henry.”

Aku buru-buru melanjutkan langkah yang sempat banyak tertunda sebelum Alex menghentikanku lagi. “Anyway Hen!” Teriaknya dari jauh dan bodohnya otak pintarku memerintahkan kerja kedua kaki untuk berhenti. Kedua, dia juga memerintahkan leher untuk menengok dimana Alex berdiri.

“I love your scent by the way. Text me the brand!”


`hjkscripts.


LEE COTTAGE NEW ARSENE, MAC

Henry Point of View.

Aku bebas meskipun hanya sementara. Setidaknya ide Beatrice menyarankan aku pergi sejenak dari istana tidak buruk juga. Melalui lubang kecil di tembok bagian belakang yang tertutup rimbun tanaman. Lubang yang menjadi saksi frustasi dan kelemahan seorang pangeran.

Philip muda yang pertama kali memulai dengan tekad. Mencuri alat berat dari tukang kebun di malam hari. Kala itu aku ketakutan sebab menjadi saksi. Naas dia gagal karena kuat tekad belum sekuat tenaga.

Dua tahun setelah palace mengumumkan kematianku. Hanya trauma yang terus menerus menemani hariku. Berada dalam luas kamar rasa belenggu. Aku tidak puas hanya menikmati waktu kian berlalu.

Sama seperti Philip, aku memulai satu langkah dengan tekad. Namun aku yakin kemauanku lebih kuat. Tukang kebun tidak pernah belajar, masih sama meletakkan berbagai alat berat di tempat serupa.

Aku berjalan ditengah kacau gemericik hujan. Tetesan besar tak terasa sakit walau mereka berlomba saling menampar wajah.

Aku tak gentar, walau tau apa yang nanti harus aku bayar. Malam itu aku berhasil keluar, berlari, menari diiringi irama musik gemuruh yang hampir membuat bumi bergetar. Terakhir aku terkapar, di atas permukaan tanah kotor dan basah sembari menikmati bulan yang bersinar.

Kali ini jelas berbeda. Aku pergi karena butuh sebuah kedamaian. Berjalan menunduk dengan cukup pakaian yang setidaknya menutup identitas. Memasuki kerumunan senatural mungkin sembari mengingat jalan samar. Sudah lama aku belum keluar lagi sejak malam itu.

Pondok Uncle Lee. Hanya beberapa kali aku pernah bertandang selebihnya beliau yang datang.

Siapa yang tidak kenal Uncle Lee, si saudagar china yang memutuskan untuk menua di negara ini. Dia yang menghabiskan masa emasnya dengan berjualan barang-barang hasil kekayaan luar negeri.

Sekarang hanya ada beliau, jenggot putih, tongkat, dan pondok bambu bergaya tradisional yang berhasil beliau bangun sendiri sebagai penginapan turis juga sebagai kelas refleksi diri. Hanya dia dan kemampuan spiritualnya yang terkenal hingga penjuru negeri.

Kaki ini pertama kali menapak pada tangga bambu paling ujung pertanda beberapa langkah lagi kita memasuki rumah tujuan. Dejavu melanda kala dua kaki bergerak bergantian menitih langkah demi langkah hingga sampai pada gapura kokoh meskipun umur pemiliknya terus dimakan jaman.

Hal pertama terasa ketika berada di pondok ini adalah sunyi, mungkin tak begitu sunyi sebab masih ada suara daun bambu saling bergesek dihembus angin konstan serta gemericik aliran air dari miniatur air terjun yang beliau buat untuk tempat hidup ikan koi.

“Permisi! Uncle Lee!” Sapaku terlebih dahulu.

Nihil tak ada sahutan. Aku memutuskan untuk masuk lebih dalam. Menelusuri pondok sederhana mengikuti tiap lika-liku lorong yang ada hingga mendapati lirih suara.

Itu Uncle Lee sedang mondar-mandir dengan tongkatnya di tengah pendopo yang terletak di bagian belakang pondok bersama sosok jangkung lelaki yang jauh lebih tinggi dan muda dari beliau.

“Kuda-kudamu kurang kokoh anak muda!” “Lebih turun lagi! Lagi!” Beliau dan aksen lantangnya. Tak lupa tangan bebasnya menggenggam tujuh buah daun pandan untuk dipukulkan pada bagian tubuh yang menurutnya kurang sesuai dengan gerakan.

“Aku bilang kurang turun, kakimu masih terlalu panjang!” Teriaknya lagi. Yang lebih muda wajahnya tergambar frustasi seolah ingin cepat kabur dari rumah ini. “Lagi!” “Jangan salahkan kakiku pak tua! Mereka memang sudah panjang sejak lahir!” “Kamu harus berhenti mengoceh dan perbaiki kuda kudamu kalau mau sesi hari ini cepat berakhir! Dasar anak amerika liar.”

Well aku rasa membantunya sedikit bukan masalah. “Uncle Lee!” Aku memanggil beliau, menghentikan sejenak sesi entah kelas refleksi yang berubah jadi kelas debat.

Uncle Lee mendapati diriku berdiri beberapa meter dihadapannya seolah kaget tak percaya.

“Hen-Henry?” “Apa kabarmu, Uncle?” “Henry! God Lord, how do you get here?” Beliau memelukku erat seperti seorang kakek yang lama belum bertemu dengan cucunya dari jauh. “Escaping.” Balasku berbisik sambil bercanda. “Boy, C'mon! Ikuti aku ke dalam sini!” Ajaknya.

“Dan kamu, Alex!” Beliau berhenti sejenak menghadap pemuda yang beliau panggil Alex. “Istirahat sampai aku kembali!” Putusnya. “Great job, old man!”

Ketika kembali melanjutkan langkah, dua pasang mata tak sengaja beradu tatap. Ketika mata tengah bertatap, sang bibir refleks melengkung melempar senyum. TERIMA KASIH aku berhasil membaca gerak bibirnya. Aku pun mengangguk seraya beranjak memutus kontak akhirnya.


`hjkscripts.


LEE COTTAGE NEW ARSENE, MAC

Henry Point of View.

Aku bebas meskipun hanya sementara. Setidaknya ide Beatrice menyarankan aku pergi sejenak dari istana tidak buruk juga. Melalui lubang kecil di tembok bagian belakang yang tertutup rimbun tanaman. Lubang yang menjadi saksi frustasi dan kelemahan seorang pangeran.

Philip muda yang pertama kali memulai dengan tekad. Mencuri alat berat dari tukang kebun di malam hari. Kala itu aku ketakutan sebab menjadi saksi. Naas dia gagal karena kuat tekad belum sekuat tenaga.

Dua tahun setelah palace mengumumkan kematianku. Hanya trauma yang terus menerus menemani hariku. Berada dalam luas kamar rasa belenggu. Aku tidak puas hanya menikmati waktu kian berlalu.

Sama seperti Philip, aku memulai satu langkah dengan tekad. Namun aku yakin kemauanku lebih kuat. Tukang kebun tidak pernah belajar, masih sama meletakkan berbagai alat berat di tempat serupa.

Aku berjalan ditengah kacau gemericik hujan. Tetesan besar tak terasa sakit walau mereka berlomba saling menampar wajah.

Aku tak gentar, walau tau apa yang nanti harus aku bayar. Malam itu aku berhasil keluar, berlari, menari diiringi irama musik gemuruh yang hampir membuat bumi bergetar. Terakhir aku terkapar, di atas permukaan tanah kotor dan basah sembari menikmati bulan yang bersinar.

Kali ini jelas berbeda. Aku pergi karena butuh sebuah kedamaian. Berjalan menunduk dengan cukup pakaian yang setidaknya menutup identitas. Memasuki kerumunan senatural mungkin sembari mengingat jalan samar. Sudah lama aku belum keluar lagi sejak malam itu.

Pondok Uncle Lee. Hanya beberapa kali aku pernah bertandang selebihnya beliau yang datang.

Siapa yang tidak kenal Uncle Lee, si saudagar china yang memutuskan untuk menua di negara ini. Dia yang menghabiskan masa emasnya dengan berjualan barang-barang hasil kekayaan luar negeri.

Sekarang hanya ada beliau, jenggot putih, tongkat, dan pondok bambu bergaya tradisional yang berhasil beliau bangun sendiri sebagai penginapan turis juga sebagai kelas refleksi diri. Hanya dia dan kemampuan spiritualnya yang terkenal hingga penjuru negeri.

Kaki ini pertama kali menapak pada tangga bambu paling ujung pertanda beberapa langkah lagi kita memasuki rumah tujuan. Dejavu melanda kala dua kaki bergerak bergantian menitih langkah demi langkah hingga sampai pada gapura kokoh meskipun umur pemiliknya terus dimakan jaman.

Hal pertama terasa ketika berada di pondok ini adalah sunyi, mungkin tak begitu sunyi sebab masih ada suara daun bambu saling bergesek dihembus angin konstan serta gemericik aliran air dari miniatur air terjun yang beliau buat untuk tempat hidup ikan koi.

“Permisi! Uncle Lee!” Sapaku terlebih dahulu.

Nihil tak ada sahutan. Aku memutuskan untuk masuk lebih dalam. Menelusuri pondok sederhana mengikuti tiap lika-liku lorong yang ada hingga mendapati lirih suara.

Itu Uncle Lee sedang mondar-mandir dengan tongkatnya di tengah pendopo yang terletak di bagian belakang pondok bersama sosok jangkung lelaki yang jauh lebih tinggi dan muda dari beliau.

“Kuda-kudamu kurang kokoh anak muda!” “Lebih turun lagi! Lagi!” Beliau dan aksen lantangnya. Tak lupa tangan bebasnya menggenggam tujuh buah daun pandan untuk dipukulkan pada bagian tubuh yang menurutnya kurang sesuai dengan gerakan.

“Aku bilang kurang turun, kakimu masih terlalu panjang!” Teriaknya lagi. Yang lebih muda wajahnya tergambar frustasi seolah ingin cepat kabur dari rumah ini. “Lagi!” “Jangan salahkan kakiku pak tua! Mereka memang sudah panjang sejak lahir!” “Kamu harus berhenti mengoceh dan perbaiki kuda kudamu kalau mau sesi hari ini cepat berakhir! Dasar anak amerika liar.”

Well aku rasa membantunya sedikit bukan masalah. “Uncle Lee!” Aku memanggil beliau, menghentikan sejenak sesi entah kelas refleksi yang berubah jadi kelas debat.

Uncle Lee mendapati diriku berdiri beberapa meter dihadapannya seolah kaget tak percaya.

“Hen-Henry?” “Apa kabarmu, Uncle?” “Henry! God Lord, how do you get here?” Beliau memelukku erat seperti seorang kakek yang lama belum bertemu dengan cucunya dari jauh. “Escaping.” Balasku berbisik sambil bercanda. “Boy, C'mon! Ikuti aku ke dalam sini.” Ajaknya.

“Dan kamu, Alex!” Beliau berhenti sejenak menghadap pemuda yang beliau panggil Alex. “Istirahat sampai aku kembali!” Putusnya. “Great job, old man!”

Ketika kembali melanjutkan langkah, dua pasang mata tak sengaja beradu tatap. Ketika mata tengah bertatap, sang bibir refleks melengkung melempar senyum. TERIMA KASIH aku berhasil membaca gerak bibirnya. Aku pun mengangguk seraya beranjak memutus kontak akhirnya.


`hjkscripts.


Henry Point of View.

Aku menutup lembar usang buku yang sering kali kubaca. Beberapa halaman telah lepas sebab benang pemersatu kurang kuat adanya. Aku selalu tersenyum akan cerita yang tertulis di dalamnya. Inilah kisah tentang pangeran kedua yang mati akibat malaria.

Pangeran itu lucunya tak pergi seperti di cerita, dia tak lari kemana-mana pula tak bermain dengan bidadari dan ibunya di surga.

Pangeran itu adalah diriku yang masih ada di dunia.

Aku suka kala membaca buku ini, buku biografi milikku sendiri yang telah resmi berhenti ditulis sejak kerajaan menyatakan tanggal kematianku sepuluh tahun lalu. Sebab Henry ini sudah banyak tak mengingat masa lalu.

Henry fox adalah versi baru diriku. Jauh berbeda dari dahulu. Henry ini yang akhirnya memutuskan menanggalkan nama resmi anggota kerajaan dan mengubahnya dengan sebuah julukan.

Henry Arthur Hanover-Stuart si dia yang banyak perlu kasih sayang. Si dia ini yang dibesarkan dengan iba oleh kakek dari ibunya.

Little fox, begitu beliau memanggilku. Satu-satunya suara yang dapat membuatku tersenyum bahagia. Henry kecil yang tengah bermain dengan rubah liar di pekarangan belakang rumah sang kakek akan berlari sekencang mungkin karena dia tau bahwa makan siang telah siap.

See you later, little fox, adalah kalimat paling menyedihkan karena waktunya bersenang-senang di dunia sesungguhnya sudah habis dan akan kembali terkurung dalam istana.

Henry Fox dewasa ini merupakan versi terbaru yang berhasil keluar dari segala trauma masa kecilnya. Aku adalah versi terbaik yang berhasil menerima keadaan dengan lapang dada.

“Hen, look!” Aku menyesap sedikit teh manis dari cangkir sebelum memberikan perhatian pada Beatrice yang tengah tersenyum menatap layar gawainya.

“Hot isn't he?” Katanya sekali lagi. Kali ini matanya menatapku dengan binar centil khas remaja dan aku tersenyum kecil setuju.

“Siapa dia?” Tanyaku.

Beatrice fokus kembali berselancar pada gawainya. Jemari cantik itu dengan cepat menekan-tekan layar. “Alexander Gabriel Claremont-diaz. Orang-orang biasanya sebut dia ACD dan paling gilanya lagi ada yang sebut dia anjing liar.” Jelasnya.

“Ahh.” Aku mengangguk serta menjalankan memori untuk bekerja mencari berkas pada ingatan tentang nama tersebut. “That famous mad lawyer?” Timpalku saat menemukan.

“Yup! dan dia juga anak dari presiden amerika.” “Is he?” “Hmm,” “Dan dia lagi ada di sini. The White House kirim dia ke sini sebagai bentuk hukuman. He lacks of control sometimes.”

“Pity. But let's not talk about someone. How was the charity today?” “Henry, bisa gak kamu stop bahas sesuatu yang gak menyenangkan!”

Henry tertawa geli melihat ekspresi Beatrice yang berubah total kala dia merubah topik yang menyenangkan menjadi lebih serius.

Well ini adalah Henry Fox masa kini.


`hjkscripts.


AUTUMN ㅡ 2023 SOUTHMINSTER PALACE, MAC

Aku adalah lelaki yang hidup bertarung dengan bayanganku sendiri.

Mereka memanggil bukan hanya Henry, melainkan menyebutnya diikuti kata-kata penuh pujaan. Henry pangeran yang dilahirkan untuk dicintai masyarakat negeri. Setidaknya begitu mereka menyoraki hadirnya ditengah-tengah kerumunan.

Bagi Ia sendiri Henry hanyalah lengkap sosoknya sendiri. Lelaki jangkung, rambut hampir pirang tertata rapi, lengkap dengan pipi gembil yang acap kali merah terkena sinar matahari, dan juga lesung pipi. Henry ini bukanlah pemilik seluruh hati. Pun, Henry hanya sosok putra yang setiap tahunnya semakin tergeser menuju sisi.

Hari lahirnya memang banyak ditunggu. Saat kali pertama mata menemukan warna dunia, disambut dia dengan penuh suka cita. Dibelai penuh kasih dan canda tawa dari keluarga. Henry kecil tumbuh bersama utuh orang tua, lengkap dengan saudara laki-laki juga adik perempuannya.

Tiba saatnya kala henry beranjak dewasa. Keadilan seolah meninggalkan bahu kanannya. Atensi pusat dunia juga berpaling dari bahu kirinya. Kala itu Henry seolah jatuh dari bangun tidur mimpi buruk belaka. Begitu semua terjadi adalah murni salah satu manusia.

Henry benci seorang dokter, Henry benci rumah sakit. Sebab kepulangannya dari sana membuat istana jadi sesuram hutan terlarang. Dingin udara bak turun salju meskipun baru memasuki musim panas.

Henry Arthur Hanover-Stuart dinyatakan seorang OMEGA.

Sejak kecil ayah dan kakeknya selalu menanamkan bahwa Philip dan Henry adalah masa depan tahta kerajaan dan pemimpin kerajaan adalah lelaki alpha yang kuat menahan benteng untuk melindungi rakyatnya. Philip memang yang pertama, namun Henry harus selalu siap sedia. Sebab masa depan belum tau bagaimana kalimat akhirnya.

Philip dahulu, Henry selalu mengingat ocehannya. Kakak tertuanya itu paling anti dalam pelajaran mengenai kerajaan. Dia dan akal liciknya selalu bisa kabur menghindari kelas tersedia. Namun Henry sebaliknya, dia mencintai Main Castle dan segala sejarah yang tertuai sejak dahulu. Beatrice pernah berkata, Henry adalah kamus sejarah berjalan. Tata kramanya lebih anggun dari pada dirinya yang perempuan.

“Kelas silsilah keluarga akan dimulai sepuluh menit lagi. Sampai kapan kamu mau bertengger di ranting pohon seperti itu?” Henry sepuluh tahun berbicara sembari mendongak. Napasnya masih memburu sebab dia berlari mengelilingi palace untuk mencari Philip yang lagi-lagi menghilang.

“Sampai mereka mencabut title dalam namaku dan dipindahkan saja untukmu. I don't want to be a king.”

Maka sejak saat itu Henry selalu bersiap. Mungkin suatu saat keinginan Philip dikabulkan dan tahta akan berpindah pada pangkuannya. Nyatanya, Henry harus mengubur mimpinya sedalam Palung Mariana.

Philip adalah masa depan satu-satunya. Seluruh civitas istana dikerahkan untuk melindungi dan menuruti kemauannya bak seorang raja. Termasuk cinta dan atensi dari kedua orang tua.

Henry memang nomor dua, pun semenjak surat resmi itu hadir keberadaan Henry terus bergeser seiring bertambahnya hari. Lambat laun Henry seolah hilang dari pelupuk mata.

Henry ada di depan manik mata, tetapi mereka seolah buta akan kehadirannya.

Dunia sang orang tua hanya tentang Philip yang menjadi raja, serta rasa khawatir berlebih tentang Beatrice yang seorang omega wanita.

Bagi negara omega wanita menjadi prioritas utama, sebab omega pria kecil jumlahnya pun setidaknya mereka masih seorang pria.

Tega sekali lagi kala istana membuat keputusan bahwa mereka setuju untuk sekali saja menipu rakyat. Mengumumkan dengan lantang bahwa Pangeran Henry tentunya sosok alpha yang sehat dan kuat. Guna menutupi kebohongannya istana dibuat seolah penjara dengan pintu terbuka.

“Mulai hari ini semua keperluan kamu ada yang memenuhi. Tinggal kamu sebutkan saja dan tunggu mereka datang di depan pintu kamar kamu karena mulai detik ini juga kamu tidak boleh keluar dari palace.”

“Tapi ayah..”

“Kerajaan sudah membuat protokol sendiri untuk menjaga kamu. Ini demi kebaikan kamu, Henry. Dunia luar terlalu bahaya untuk omega male seperti kamu.”

Ini adalah permainan petak umpet terbesar yang pernah dia lakukan, dengan rakyat jadi penjaganya, kerajaan menjadi pengadanya, dan dia yang akan terus menerus berlari bersembunyi dari satu lemari ke lemari lain berharap tiada satupun yang akan berhasil menemukan. Sebab dalam kaidah permainan tersebut, siapa yang bersembunyi paling lama dialah juaranya.

Apakah Henry atau rakyat yang berakhir menang dalam permainan tersebut? Jawabnya adalah tidak keduanya.

Kala rakyat telah lelah ikut bermain, mereka satu persatu mulai menyerah, mengambil jalan terakhir dengan bertanya pada sang pengada dimana Pangeran Henry selama ini berada?

Mereka tanpa tahu malu menjawab. Pangeran Henry dinyatakan meninggal dunia menyusul ibundanya Lady Catherine, akibat penyakit malaria.

Maka sejarah mengumumkan untuk berhenti menulis kisah hidup sosok pangeran. Menerbitkan lembar perkamen menjadi sebuah bacaan penuh kenangan.

RIP Prince Henry Arthur Hanover-Stuart🥀 May your young soul always found happiness beside your mother and God's love.


`hjkscripts.


AUTUMN ㅡ 2023 NEW ARSENE, MAC

“Welcome to New Arsene capital of Main Castle.” Ujar pria berkulit tan. Ia menyambut dua tamu kebesaran yang telah dijadwalkan datang hari ini meskipun tanpa mobil iring-iringan.

Dia pria dengan perawakan tinggi, ramping dari leher hingga mata kaki. Berpakaian jas hitam rapih, celana kain, dan juga bermandi minyak wangi. Perilakunya membuat kian detik seolah berhenti. Terpesona akan protokol tata krama yang diterapkan sesuai dan amat mumpuni.

“Shaan Srivastava. Royal family equerry.” Sebutnya memperkenalkan diri. Artikulasinya lugas, gerak geriknya tegas, genggam erat tangannya buat sedikit kebas.

Senyum canggung muncul dari kedua wajah asing di sana, “Alex Claremont-diaz, Sir. Putra Presiden Amerika Ellen Claremont.” Gilirannya memperkenalkan diri.

“I've heard so much about madam president. And you are?”

“Oh, yes.. hi, no.. i mean i am Katharina. Saya tidak yakin nama apa yang bisa menjelaskan hubungan saya dan Alex, but mari kita anggap saya adalah tangan kanannya.”

“Pleasure, Miss Kath.” “Jadi begini,” Shaan memberi sedikit ruang untuk Alex dan Kath berjalan mengikuti sembari dirinya menjelaskan lebih lanjut mengenai Main Castle dan segala protokol dalam lingkungan kerajaan.

“Saya mewakili keluarga kerajaan telah membuat kesepakatan dengan madam presiden tentang kelas tata krama dan pengaturan emosi yang akan anda berdua ikuti. Sebelum staf kerajaan mengantarkan anda pada kediaman tinggal selama di sini, izinkan saya memandu dan menjelaskan sedikit tentang negara kami tercinta dan segala protokol yang ada sehingga dapat dipatuhi dengan baik.”

Mereka berdua mengikuti setiap langkah Shaan. Mendengarkan seluruh penjelasannya tentang peraturan kerajaan yang sebenarnya sulit di pahami daripada mata kuliah hukum negara Amerika, imagine you being a lawyer here. Bahkan Alex, seolah pendengarannya hilang sejak peraturan nomor tiga dari dua puluh satu disebutkan. Ia lebih tertarik mengamati interior dalam palace yang begitu unik dengan penataan yang juga menakjubkan.

Istana kerajaan tempat paling luar biasa, dibanding rumah nomor satu di Amerika yaitu The White House yang mana dari luar nampak megah bagi kalangan umum. But this palace is just another level. Bahkan ini, kalau Alex tidak salah dengar baru satu sisi gedung istana dimana sisi ini bisa dikunjungi wisatawan.

“Hell, what a bucks to spend.” Gumamnya. “Ya, Sir Alex? Ada pertanyaan?” “Oh,” Alex terdiam canggung, tidak ingin persepsi aneh di kepalanya terdengar oleh orang kerajaan. “No...pe...” Balasnya dengan senyum konyol.

Shaan menghentikan langkahnya tepat di hadapan dinding berhias banyak pigura. Terdapat satu yang paling besar dan sisanya sebesar wajah satu individu. Mereka ditata serapi mungkin, mengambil pose terbaik sehingga pengunjung disuguhkan dengan pengalaman seolah berkeliling dalam museum Louvre di Perancis.

“Ini adalah silsilah keluarga kerajaan. Terlalu banyak memang, namun saya hanya meminta anda menghafal wajah yang akan sering ditemui nanti.”

“Sebelah sini ada Your Majesty King Arthur, pemimpin paling tinggi pada saat ini. Sadly, our queen consort has passed away years ago. Selanjutnya, Your Highness The Crown Prince Philip and his beloved spouse Lady Martha, and last Princess Beatrice.”

Ada yang aneh memang kala Shaan menyebutkan nama keturunan raja. Suaranya tidak lagi sama lantang layak sebelumnya. Nadanya tersirat keraguan dan penyesalan. Seperti anak sekolah yang menyesal sebab tak menyebutkan sesuatu informasi penting yang sudah ditulisnya dalam esai untuk dibacakan di depan kelas.

Shaan menggerakkan dua bola matanya bergantian, mengamati ekspresi Katharina dan Alex yang tengah memahat wajah manusia penting di negara ini. Bersama napas memburunya, buah adam yang bergerak cepat tak berirama, Ia berharap kedua pemuda dihadapannya tak bertanya sesuatu berarti.

Berdoalah dia semakin keras setelah ini, sebab salah satu pemuda di depannya bukan hanya remaja minus tata krama yang dikirim orang tua untuk dilatih sedemikian rupa. Tetapi, pria berpakaian terlalu santai dan kurang sopan ini adalah Alex Claremont-diaz, seorang anak orang nomor satu di negara pusat dunia dan lawyer ternama di Amerika.

Alexander Gabriel Claremont-diaz melihat dunia dengan mata serta mindset yang berbeda.

“Hei Shaan.” Alex bersuara setelah kian detik sibuk mengamati pigura. Dan rasanya dunia Shaan berhenti berputar saat ini juga. “Yes, Sir Alex?” Jawabnya hati-hati.

“Boleh saya bertanya sesuatu?” “Absolutely.” “Sepertinya anda lupa menyebutkan seseorang, am i right?”

What on earth do you mean, Alex

“Seseorang yang mana, yang anda maksud, Sir?” Alex tanpa ragu menunjuk, mengarahkan jemari panjangnya pada sebuah foto sosok pria kecil dengan senyum menawannya. “Siapa anak ini?” Tanyanya lagi.

“It is...” Shaan meneguk ludahnya berkali-kali sebelum kembali mengatur dirinya untuk menjawab seinformatif mungkin. “Prince Henry, Sir. Dia adalah putra kedua King Arthur dan mendiang Lady Catherine. Sebelum anda bertanya lebih jauh, saya dengan menyesal juga mengumumkan bahwa Prince Henry telah bahagia bersama sang ibunda akibat malaria.”

“Ohh, such a cutie little boi.” Katharina menanggapi dramatis.

“Yes, miss.” “So, saya rasa sudah cukup jauh sampai di sini dan sepertinya kendaraan pengantar juga sudah siap membawa anda berdua ke kediaman. Mari ikuti saya!”

Untill the end of the day, Alex still learn and understand this and that about his new home. Well, let's his journey begin.


`hjkscripts.


AUTUMN ㅡ 2038 BRIDGE HAMPTON, MAC

Happy birthday to you Happy birthday to you Happy birthday dear twins foxes

Bibir dua pemuda merekah hebat kala pasang mata mereka mulai membuka. Melalui ruang gulita secercah cahaya menerangi sosok pria yang tengah membawa tumpuk tiga kue manis pembawa bahagia. Bersama suara baritonnya dia berjalan mendekat, bersenandung lagu yang di dalamnya terdapat berbagai doa.

Happy birthday... to... you!

Selesai begitu, kue sederhana berhias bunga diletakkan dihadapan yang lebih muda. Lilin rupa angka satu dan tujuh berkobar konstan menambah kesan sakral.

“Now make a wish.” Suruhnya.

Dua pemuda saling menatap, menghantarkan juga senyum hangat pada sesama. Salah satunya mengangguk seolah mempercayakan kalimatnya diwakilkan saja. Selepasnya dia menatap pada pandangan dua lelaki paruh baya yang tengah dilanda beribu tanya.

“Sebelum kita minta sesuatu, aku mau bersyukur sebanyak-banyaknya kita akhirnya bersatu utuh sebagai keluarga. Satu pinta kita yaitu ingin diperdengarkan awal mula kisah kalian berdua. Sebab rasanya sulit untuk sayang kala belum saling mengenal.”

Maka di malam spesial dua pemuda beranjak dewasa, untuk pertama kalinya sang orang tua menggelar sebuah cerita tentang lika-liku takdir sebagai yang tak dianggap di tanah monarki.


`hjkscripts.

akhirnya aku dan kamu.


Gaipa Point of View.

Kita akhirnya di sini, berdiri menghadap sorak-sorai. Mana bisa aku bendung senyum tanpa menampilkan deretan gigi. Aku tersipu ketika akhirnya aku dapat melihat jelas paras tampanmu. Kamu genggam seluruh jemariku, membawa ragaku dalam pandu.

Hening semua ketika dua lututmu menyentuh tanah. Kamu haturkan berbagai kalimat cinta bertabur mutiara. Indah, aku semakin haru dibuatnya. Hingga beludru merah pembawa cincin permata yang keluar dari peraduan menjadi akhirnya.

Dengan ini disaksikan perwakilan insan di bumi beserta sinar cahaya mentari, bersediakah kamu menjadi pendamping hidupku?

Aku menangis, bukan karena bersedih. Aku menangis semata berucap syukur sekali lagi, berterima kasih telah dihadirkan sosok lelaki ini.

Maka jawaban apalagi yang mereka tunggu? Pastilah aku dengan tanpa ragu berkata.

Iya, aku mau.


`hjkscripts.