hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Gaipa Point of View

Hancur berantakan, yang semula utuh telah melebur. Harapan itu, asa yang masih tersisa habis tiada. Sombong diriku, percaya diri sekali aku, mengira terbukanya dua kelopak mata jadi tanda bahwa semua akan kembali baik-baik saja.

Ya Tuhan, belum cukupkah? Berapa banyak lagi yang akan Kau ambil? Berapa banyak lagi yang harus aku ikhlaskan? Berapa banyak lagi yang harus aku sediakan hingga memenuhi kata cukup dan menyudahi penderitaanku sampai disini.

Aku lelah, air mata hingga enggan meleleh. Pusat tubuhku malfungsi sehingga yang lain ikut mati. Apa arti makan? Berdiri pula susah bukan main. Aku jatuh, terperosok dalam lubang yang digali tanpa ada ujung dasar juga tanpa secercah sinar. Gulita ketika mataku tertutup maupun terbuka.

Seseorang raih ragaku. Sebab berhentinya pusat kendali mendatangkan banyak pikiran semudah menyudahi hidup ini. Aku masih mencari remahan sekecil debu sebagai motivasi. Namun bila tak ada mungkin jawabannya adalah mati.

“Gaipa?” Panggilnya.

Suara itu aku tahu milik siapa. Dari sekian hiruk pikuk sekitar hanya miliknya, yang tengah melantunkan namaku mampu aku dengar.

“Gaipa!” Lagi dendangnya.

Kini tubuhku terguncang, lemah ragaku ada yang menopang. Komponen dalam diri mulai kembali berfungsi dan dingin hawa menyelimuti kini terganti hangat sebab dekap dadanya erat.

“Gaipa...” Lirihnya frustasi.

Iya, aku mendengarmu sekarang. Jelas, amat jelas. Kini aku menatap wajahmu yang penuh kekhawatiran ketimbang milikku yang sudah pasi.

“Alan.” Aku menyebut namanya. Nama sosok yang selama ini sering berkeliaran mengitari dunia sempit milikku.

“Maaf saya terlambat.” Katanya penuh penyesalan.

Kenapa harus minta maaf jika kematian ini aku juga tak tahu siapa yang patut disalahkan.

“Maaf ya saya terlambat.” Kali ini dia berbisik sembari dua lengannya menarik tubuhku lebih dalam pada pelukannya.

Aku akhirnya menyerah, menangis meraung melampiaskan segalanya. Aku lemah, aku tak lagi sanggup jauh melangkah, aku hilang arah, dan entah siapa yang akan memapah.

“Sttt.. it's okay, gak apa nangis aja. Lepaskan semua, saya disini untuk kamu.”

“Bu... Gaipa sendirian, bu...”

“Nggak Gaipa, ada saya. Saya selalu ada di sisi kamu.”

“Bu... Gaipa di sini sendirian.”

“Kamu nggak akan sendirian. Saya yang akan jaga kamu.”

“Mulai sekarang saya yang akan jaga kamu, Gaipa.”


`hjkscripts.


Gaipa Point of View.

Aku mana pernah tau sejak kapan hubungan antara ibu dan pekerja bank ini bisa terjalin begitu erat. Pasalnya hidupku hanya tentang mengikuti kemana kaki paruh baya ini melangkah.

Mungkin sebab pikiranku banyak terbagi untuk memikirkan nasib cinta sepihak yang entah kapan akan bergerak. Mungkin sebab apa yang menjadi topik pembicaraan kita berdua selebihnya hanya tentang aku dan kekaguman akan pria itu. Pria yang bahkan sama sekali tak melihat diriku ada.

Aku pun menyadari bahwa ibu adalah pendengar yang baik namun aku bukan.

Iya ya... kapan terakhir kali aku mendengar ibu bercerita tentang dirinya sendiri. Kapan terakhir kali aku mendengar ibu bercerita tentang hari-hari saat aku tak ada disana. Kemana? Bertemu siapa? Bagaimana penampakannya? Apa yang mereka bicarakan?

Aku merasa berdosa jujur aja. Yang paling membuat aku terpukul ketika ada orang lain yang lebih dipercaya ibu untuk menjaga rahasianya ketimbang berbagi sama anaknya sendiri.

Itulah orangnya. Khun Alan si pekerja bank, yang saat ini tengah begurau layaknya sanak saudara ibu.

Ibu itu cerewet, tapi beliau bisa lebih cerewet kalau nemu orang yang tepat. Buktinya baru tadi siang dinyatakan siuman sekarang udah cerita ngalor ngidul kayak orang sehat. Khun Alan, aku bingung sih mau komen gimana tapi ya he's just perfect, tipe-tipe yang semua ibu-ibu mau jadiin dia mantu.

Senyumnya, binar matanya, ekpresinya. Padahal dia cuma diem sambil ngangguk dengerin cerita ibu tapi bikin ibu semakin nyaman, seolah semua rahasia juga bakal dibongkar sekarang juga. Dia cuma diem tetapi gelagatnya menunjukkan kalau dia penasaran, dia mau tau lebih banyak tentang cerita ibu.

Pendengar yang baik ternyata gak melulu jadi pendengar. Terkadang, mereka butuh seseorang yang mampu juga mendengarkan sedikit kisah mereka.


Aku duduk termenung diantara hiruk pikuk. Berselancar di atas gawai jari jadi begitu piawai. Aku beri sedikit ruang untuk yang bercakap tanpa ujung.

Tubuhku bersandar, rileks pada punggung bangku. Sedikit bersantai meskipun masih banyak nominal yang datang seolah ingin membantai. Setidaknya ada kabar baik ditengah buruk.

Lantas aku semakin mematung kala netra tanpa sengaja bersitatap dengan salah satu potret terpampang dalam media sosial.

Mereka semua bahagia meskipun tanpa diriku disana.

Wajah baru itu juga nampak nyaman meskipun baru habiskan beberapa waktu.

Sedangkan aku dan separuh hidupku hanya untuk sekedar mendambamu.

Kasihan... kasihan sekali si aku.

“Gaipa?”

“Huh?” Kepalaku bergerak berpaling pada sosok yang sudah menyamai posisinya dengan diriku.

“Khun Alan...” Dia tersenyum begitu aku sebut asmanya.

“Kenapa tidak menunggu di dalam saja?” Dia bertanya.

Aku terkekeh, “Saya sungkan sendiri lihat ibu dan Khun Alan ngobrol begitu semangat.”

“Ahh,” Dia ikut tertawa kecil. Aku suka bagaimana giginya nampak ketika dia begitu. Matanya menyipit diikuti kerutan disekitarnya. Dia tampan, dia lelaki tampan.

“Maafkan saya. Sudah lama sejak pertemuan saya dan Bu Hong. Saya rindu suaranya ketika bercerita di ruangan saya.” Lanjutnya.

“Oh ya?”

“Hmm.”

“Biasanya ibu cerita apa?” Kini aku penasaran. Seberapa dekat ibu dengan lelaki ini sampai begitu banyak yang beliau bisa ungkapkan.

Alan nampak menimbang, entah dia berlebihan atau memang sudah terlampau banyak tema yang mereka bicarakan. “Banyak. Paling banyak tentang putranya.”

Aduhh ibu...

“Lalu, Khun Alan nggak bosan memang mendengar cerita tentang putra Bu Hong?”

Kini aku menatapnya dengan senyuman jahil. Melemparkan pertanyaan main-main menggodanya. Ingin sekedar tau jawaban basa-basi apa yang akan dilemparkan lelaki ini.

Alan menghela napas, badannya semula tegak dibuat seluwes mungkin. Dia mensejajarkan wajahnya dengan milikku, balas tatap pula dengan dua manik hitamnya.

“Anehnya saya tidak bosan.” Dia berhenti sejenak. Bola matanya bergerak mengamati tiap jengkal struktur wajahku.

Bibir lelaki ini terangkat kecil seolah berbalik menggoda.

“Malah sekarang saya penasaran bagaimana putra Ibu Hong sebenarnya.”


`hjkscripts.


Gaipa Point of View.

Aku mana pernah tau sejak kapan hubungan antara ibu dan pekerja bank ini bisa terjalin begitu erat. Pasalnya hidupku hanya tentang mengikuti kemana kaki paruh baya ini melangkah.

Mungkin sebab pikiranku banyak terbagi untuk memikirkan nasib cinta sepihak yang entah kapan akan bergerak. Mungkin sebab apa yang menjadi topik pembicaraan kita berdua selebihnya hanya tentang aku dan kekaguman akan pria itu. Pria yang bahkan sama sekali tak melihat diriku ada.

Aku pun menyadari bahwa ibu adalah pendengar yang baik namun aku bukan.

Iya ya... kapan terakhir kali aku mendengar ibu bercerita tentang dirinya sendiri. Kapan terakhir kali aku mendengar ibu bercerita tentang hari-hari saat aku tak ada disana. Kemana? Bertemu siapa? Bagaimana penampakannya? Apa yang mereka bicarakan?

Aku merasa berdosa jujur aja. Yang paling membuat aku terpukul ketika ada orang lain yang lebih dipercaya ibu untuk menjaga rahasianya ketimbang berbagi sama anaknya sendiri.

Itulah orangnya. Khun Alan si pekerja bank, yang saat ini tengah begurau layaknya sanak saudara ibu.

Ibu itu cerewet, tapi beliau bisa lebih cerewet kalau nemu orang yang tepat. Buktinya baru tadi siang dinyatakan siuman sekarang udah cerita ngalor ngidul kayak orang sehat. Khun Alan, aku bingung sih mau komen gimana tapi ya he's just perfect, tipe-tipe yang semua ibu-ibu mau jadiin dia mantu.

Senyumnya, binar matanya, ekpresinya. Padahal dia cuma diem sambil ngangguk dengerin cerita ibu tapi bikin ibu semakin nyaman, seolah semua rahasia juga bakal dibongkar sekarang juga. Dia cuma diem tetapi gelagatnya menunjukkan kalau dia penasaran, dia mau tau lebih banyak tentang cerita ibu.

Pendengar yang baik ternyata gak melulu jadi pendengar. Terkadang, mereka butuh seseorang yang mampu juga mendengarkan sedikit kisah mereka.


Aku duduk ter


Khaotung Point of View

Dia yang dipanggil First adalah lelaki pertama dalam hidupku. Anak pertama daripada garis keturunan ayah dan ibu. Si pemilik absen nomor satu. Lelaki yang hampir selalu menang lomba juara satu.

First itu sempurna setidaknya bagi gue yang biasa aja. Pinter, rajin, segala social butterfly ada dalam dirinya. Gak kayak gue yang lurus aja. Kuliah hanya tentang datang, menyerap wawasan, dan pulang. Paling kenceng, kegiatan kampus yang gue ikutin, yang ada label wajib. Selain itu, waktu seharian habis di dalem kamar ini. Sang saksi bisu bagaimana Thanawat Rattanakitpaisan tumbuh sejak balita hingga remaja.

Dalam sudut pandang seseorang dimabuk cinta, First bagai pujangga. Gue kagum, bagaimana lelaki itu selalu punya banyak diksi tuk ditorehkan. Bagaimana rayunya dapat memenangkan perasaan. Bagaiman pula bibirnya menyusun manis kosa kata tuk diungkapkan demi sebuah senyuman. Dia adalah First, sosok hangat yang mampu melunturkan abu-abu dalam diriku. Dia adalah First Kanaphan, kekasihku.


`hjkscripts.


Bible Point of View

Ketika keponakan gue selesai diperiksa, dokter menyarankan si bayi rawat inap. Katanya demam berdarah dari hasil tes jadi butuh pantauan dari rumah sakit.

Maka gue masih harus terjebak di gedung dengan aroma khas cairan desinfektan. Kakak ipar gue konfirmasi bahwa gue harus menunggu lebih lama.

Wanita cantik berjalan mendekati. Paras menawannya bahkan gak hilang sama sekali meskipun air mukanya nampak pucat pasi.

“Bang Ping bilang ke gue kalo kafenya masih chaos.” Gue menyampaikan informasi setelah menerima pesan lanjutan dari manusia di luar sana.

“Iya, ini chatnya baru masuk di aku.”

“Si adek mana?” Gue bertanya.

Kakak kandung gue satu ini gak langsung jawab melainkan menghela napas lemas. “Tidur di UGD. Ini masih nunggu kamar ranapnya baru bisa dipindahin.” Lirihnya.

“Oh.” Gue paham.

Kita berdua berakhir cuma duduk menunggu sambil ngobrol ringan. Terus gak kerasa kalau udah menunjukan jam makan siang.

“Ke kanti yok! Makan dulu.” Ajak gue dibales gelengan. Jadi ibu itu gini ya, katakan anaknya belum nyaman ya dirinya juga gak bisa nyaman.

“Lo aja dek, gue entar gampang. Takut adek bangun kasihan susternya nyariin.”

“Oke.”

Berjalan, gue berjalan menyusuri lorong tanpa ujung. Aneh banget padahal kantin ada di belakang yang aksesnya cukup mudah di tempuh. Namun, gue memilih untuk berputar-putar sebentar sembari menghirup udara bercampur bau obat-obatan.

Daripada rasa lapar, penasaran ini lebih besar. Gue jarang sakit jadi kurang lebih minim ingatan gue akan rumah sakit. Kalau pilek ya tandanya minta istirahat lebih, cukup tidur satu dua hari. Pun, pas pileknya parah milih jalan cepetnya aja ke klinik terdekat, dikasih resep, nebus di apotek ya udah kelar.

Rumah sakit bagi gue adalah tempat untuk dikunjungi. Nengokin temen, saudara yang lagi sakit. Terakhir gue ke sini pas keponakan gue baru lahir. Intinya gue datang sebagai orang sehat, belum pernah sebagai wali maupun pasien yang harus di rawat.

Dua kaki gue mendadak berhenti seolah punya insting. Lalu dia juga seolah memerintahkan obsidian untuk melihat ke arah depan tepat di bangku tunggu sebuah ruang dokter.

“Biu?”

Gue dengan percaya diri mendekat. Beneran mana ada gue sotoy, jelas-jelas ada Job sama Nodt juga. Mereka lagi ngobrol dengan suara khas mereka. Gue hafal banget.

“Atas nama Build Sumettikul.”

Kayak kesamber petir dibarengi bunyi geluduk gue seketika berhenti. Seluruh tubuh dikeburungi perasaan gak enak.

Hah siapa yang sakit?

“Biu!” Panggil gue.

Empat kepala seketika noleh ke arah sumber suara. Satu raut bingung, sisanya jelas kaget. Oh, ini tuh skenarionya gue gak tau ya?

“Bib...”

“Siapa?” Gue memotong ucapan siapapun yang mau coba jelasin. Gue udah paham pasti mau ngelak dengan segala alasan. Tapi gue gak mau disela, gue mau tau jawabannya.

“Siapa yang sakit?” Meskipun kalimat itu diakhir tanda tanya tetapi suara gue menuntut.

Mereka diem gak ada yang mau jawab. Maka netra gue mengedarkan pandangan untuk cari petunjuk.

Dr. Nattawin Wattanagitiphat, SpKJ.

“Bib akuㅡ”

“Kamu yang sakit? Kamu sakit apa, hah?!”

“Bib, hei!” Suasanya makin hening.

“Dengerin aku. Kalau kamu mau tau aku kenapa ayo ikut aku ke dalam. Tapi, pertama kamu harus tenangin diri kamu dulu.”


Build Point of View

Setelah sesi konsultasi dan mendengarkan diagnosa awal serta segala macem solusi treatmentnya. Aku dan Bible bisa bernapas lega. Enggak, gue bukan langsung sembuh tapi udah gak sanggup nahan sesek pas ceritain kisah gue dari awal sampai akhir.

Sejak awal konsultasi sampai sekarang lagi nunggu obat dia cuma diem. Bengong, kosong, lemes. Sel-sel dalam tubuhnya seakan malfungsi.

Pun setelah obat diambil dan administrasi selesai dia ngajak balik ke rumah. Seberapa besar pun aku ngajak buat ngobrol dia tetep bisu.

Aku beneran gak bisa apa-apa. Wajar banget dia marah, emosi. Gimana ya, dia perannya jadi suami. Terus, pasangannya punya masalah mencoba cari jalan keluar sendiri enggan berbagi. Yaudah pasrah, didiemin sampai hari sudah masuk jam tidur ya pasrah.

Setelah mandi Bible merebahkan tubuhnya di sampingku. Rambutnya setengah basah tanda dia udah gak mood bahkan sekedar ngeringin rambut pakai hairdryer.

Aku masih mau berusaha, at least menjelaskan sedikit mumpung belum jadi masalah gede nantinya. Aku berbalik, mengamati wajah damainya yang sudah tertutup matanya.

“Bib?” Panggilku berbisik.

“Shush..”

Bible merapatkan tubuhnya, dibentangkan satu lengannya sehingga cukup menangkup utuh tubuhku. Aku pun balik memeluk dia. Setidaknya Bible gak mendorong aku menjauh.

“Bib?” Suaraku sekali lagi.

“Tidur, gak usah dibahas sekarang.” Sahutnya pelan.

“Aku lagi marah, aku takut nyakitin kamu kalau tetep mau dibahas. Besok ya, tunggu emosiku reda dulu.”


`hjkscripts.


TRIGGER WARNING ⚠️ MENTAL HEALTH DISORDER, ACCIDENT


Bagi Build menghadari sebuah pesta adalah kegemarannya. Bertemu dengan banyak orang, ngobrol sana sini. Ketawa berusaha mengisi kekosongan diri. Meskipun pulang nanti hati kembali hampa.

Build melatih dirinya sebelum membuka pintu mobil. Berkali-kali menatap figurnya dari cermin. Berapa banyak tipe senyum yang telah diperlihatkan.

“Sudah?” Bible bertanya. Lelaki itu dengan sabar menunggu Build yang tengah bersiap.

“Yuk!”

Kala memasuki taman, wajahnya mendadak masam. Harusnya dia sadar, ini bukan pesta anak muda melainkan sebuah perkumpulan orang tua. Tidak ada musik yang akan memimpin degup jantung. Hanya ada lagu berbahasa tionghoa dengan musik mendayu.

Bukan, bukannya dia sekarang jadi membenci pesta pun dia hanya membenci akan yang hadir di dalamnya.

“Kak Biu!”

Bagai tombol otomatis, senyum Build mengembang apik menyambut anak pemilik acara.

“Bas.”

“Berdua aja? Mama papa-nya Kak Biu sama Kak Bible mana?” Bas mengedarkan pandangannya terhadap sekitar. Nihil, sepasang lelaki hadir bersama bayangannya saja.

Bible menanggapi, “Maaf ya, Bas bunda sama ayah gak bisa dateng. Terus orang tuanya Biu juga sibuk.” Katanya sungkan.

“Oh,”

“Yuk, aku anter ketemu mama!”

Inilah momen paling tak disukai. Ketemu orang tua tuh kayak ketemu non player dalam game. Apa yang mereka ucapkan sudah sesuai setting pabrik. Sekali kalian bakal dengerin, kedua, ketiga, hingga seterusnya bikin kesel yang akhirnya memilih tombol skip.

“Ma, ini Kak Biu sama Kak Bible.” Bas memperkenalkan.

“Selamat ulang tahun ya, Ai. Semoga sehat selalu panjang umur.”

“Makasih loh udah mau dateng di acara sederhananya Ai.”

Pertama, beliau bakal senyum sambil memperhatikan paras si muda. Kedua, beliau bakal nanya pertanyaan dasar kayak umur, alamat, dan kerjaan. Terakhir, inilah saatnya.

“Biu sama Bible anaknya mana kok gak dibawa?”

Build senyum kagok, serba salah kalau udah terjebak di situasi demikian. Diam bukan solusi, jawab nanti balasannya nyakitin hati.

“Belum ada, Ai.” Bible menyahut pelan.

Ditanggapi begitu tentu menghasilkan raut wajah tak puas dari wanita yang kini menginjak 85 tahun.

“Loh kok belum? Kenapa? Ini cucunya Ai aja sudah ada yang menikah. Lihat itu Mark, harusnya anak kalian sudah sebesar itu.” Nah kan dibilang juga apa.

“Ma, gak boleh ngurusin hidup orang ah.” Bas nyoba menengahi, namun apa daya kalau orang tua sudah berbicara. Gak ada cela diantara kita.

“Punya anak itu penting loh. Sumber kebahagiaan, sumber berkah. Nanti siapa yang temani waktu udah tua kayak Ai kalau bukan anak.”

“Iya, Ai. Makasih wejangannya.”

“Nah gitu. Mulai dipikirkan terus ambil keputusan segera.” Keduanya mengangguk pasrah.

“Sudah sana sekarang dicobain resep masakan rumahnya Ai. Dijamin enak, yang masak kepercayaan Ai semua.”

“Sekali lagi makasih ya, Ai. Saya sama suami permisi kesana dulu.”


Menyendiri, kali ini Build memilih memisahkan diri dari kerumunan bersama minuman entah namanya. Ia harap ada alkohol di sini. Setidaknya ruwet di dalam pikiran bisa hilang teratasi.

Berkali-kali hembusan napas berat gak bisa dia tahan untuk lepas begitu saja. Pemandangan dihadapannya sungguh membahagiakan pula menyiksa. Kenapa ya manusia punya budaya mendandani anaknya segemerlap mungkin hanya untuk bertemu dengan seseorang yang asing bagi mereka.

Ketika di lokasi, yang mereka lakukan hanya cukup diam memasang senyum menawan. Sementara, dua pasang orang tua sedang beradu melempar bakat anaknya masing-masing dengan nada dibuat seramah mungkin meskipun dalam hati merapalkan banyak makian. Begitu menyebalkan.

“Kak Biu! Aku cariin di sini ternyata.” Build berbalik, menyerahkan seluruh atensi pada lelaki pemilik senyum terbaik.

“Kak Biu kok gak gabung sama Kak Bible di sana? Udah ngumpul tuh ada Kak Nodt sama suami aku.”

Bas, bas kok bisa malaikat secakep kamu jadi jodohnya Job. Batinnya dalam hati.

“Kak?”

“Ehㅡ”

“Iya... Iyaa nanti aku ikut gabung.”

Bas masih di sana, berdiri entah untuk apa. Bingung juga mau ngobrol apa sama temen baik suaminya ini. Dia belum pernah ada di situasi benar-benar sendiri dengan Build ataupun Nodt.

By the way kak?”

“Hm?” Build berdeham meski dua netranya melalang buana. Lebih tertarik memperhatikan balita yang tengah bermain balon.

“Aku minta maaf ya soal omongan mama tadi.” Cicitnya kecil, takut-takut Build begini akibat tersinggung.

Build nampaknya abai, well dia mendadak lupa aja lebih asyik mengisi memorinya dengan gerak-gerik lucu.

“Kak Biu, ayok main bola!”

Ia mendadak sendu. Kata-kata terakhirnya Build dengar ketika dia sebesar badan anak itu. Terakhir Build melihatnya dia masih sebesar itu.

Build kini bangkit dari alam sadar. Menyadari netranya telah kosong kehilangan objek penelihatan.

“Kemana?” Dirinya panik. Mengedarkan hanya dua miliknya seksama.

Sialan, hasilnya nihil. Anak itu entah ada dimana. Build tanpa sadar beranjak dari tempatnya berdiri. Berjalan panik menabrak apapun seperti orang mabuk.

Orang disekelilingnya memperhatikan Build aneh. Beberapa marah sebab setelan mahal berubah jadi basah tanpa sengaja. Namun, Build tak berhenti. Semakin panik kesetanan kala belum menemukan sosok kecil yang dia perhatikan.

Lalai, lagi-lagi Ia lalai. Menjaga satu anak kecil saja gak becus. Menjaga anak orang lain saja gak bisa, gimana mau rawat anak sendiri.

“MINGGIR! SEMUA MINGGIR!” Teriaknya kala akal sehat mulai hilang ditimpa emosi. Build menangis histeris sembari sibuk mencari. Bahkan Beberapa teman yang coba menahannya ditepis begitu saja.

“Dimana?! Kamu dimana? Jangan pergi! Jangan tinggalin aku!”

“Biu!”

“Lepas! Lepas nanti dia mati!”

“Biu! Hei! Lihat aku!”

Nggak, Build menolak. Menggunakan sisa tenaganya keluar dari dekapan Bible.

TIN! TIN!

Lelaki kacau kini berlari, sekuat tenaga secepat yang dia bisa.

“MAMA!!!!!”

Adegan selanjutnya semua yang ada di sana bahkan tak ingin menyaksikan. Hingga mobil tak tau diri melintas dengan kecepatan tak terbatas lewat tanpa hambatan.

Bible jadi orang pertama yang berlari menuju sebrang. Membantu Build dan si anak berdiri serta meneliti bagian tubuh keduanya.

“Bib?” Build memanggil terbata. Ia kosong, bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

“Gakpapa, udah gakpapa. Kamu tenang aja. Kita pulang, nanti aku obatin lukanya”

Hanya kalimat itu yang mampu Bible utarakan.


`hjkscripts.


Kelambu di hadapanku, aku dekati dengan perasaan sendu. Dua penunjang hidup mengayun bergantian mendekat penasaran. Aku sentuh, lalu ku genggam kain berbahan beludru. Membuka celahnya, aku melangkah maju berakhir tersungkur pada penjara penuh penyesalan.

“Kak Biu ayo main bola!” Jeritan si kecil dari kejauhan. Ia melambai tangan gembira berusaha mencari perhatian.

Namun, aku hanyalah sosok manusia pemalas. Aku bergeming, enggan mengindahkan ajakannya bermandi panas. Ia pun bermain sendiri dengan raut memelas.

“Kak Biu-”

Harusnya aku membiarkan kalimatnya selesai.

Harusnya aku mendengarkan dia bukan menaikkan lebih besar volume radio.

Harusnya aku tak menghardiknya, meskipun tubuhku diguncang hebat.

“Kamu tuh bisa gak sih jangan ganggu kakak sehari aja? Punya tangan, punya kaki, punya banyak mainan ya sana mainin sendiri. Aku gak mau main sama kamu. Sana-sana pergi!”

Si kecil kini berjalan menjauh, sejauh hingga aku tak bisa melihat bayangannya. Bukan itu maksudku pergi. Aku maunya kamu tetap di sana, bermain dengan bola merah tua. Bukannya berlari keluar mencari yang telah hilang pasti.

Jahatnya kamu menghukum aku begini. Diperdengarkan suara dentuman keras dan jeritan pilu seorang diri. Kamu menang, kamu dapat semua perhatian, lihat aku sudah berdiri di sini. Tetapi, tubuh kecilmu kaku bersama bisik-bisik orang yang berkata kamu telah mati.

Aku terbangun selalu pada sepertiga malam berbaur peluh. Masih ada harapku bahwa dahulu hanyalah sekedar bunga tidur. Sayangnya, puluhan tahun aku telah hidup. Bertahan bersama derita masa lalu yang terus menggerogoti kewarasanku perlahan.


`hjkscripts.


Build Point of View

Sebagai orang biasa kehidupanku ya begini. Bangun tidur, cek jadwal apa harus pergi untuk ngisi kerjaan. Kalau gak ada diem di rumah, gangguin dua kucing yang udah aku anggep anak sendiri.

Moment yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah ketika bangun pagi dan menerima panggilan buat kerja. Ketemu sama orang baru dengan berbagai karakter, apalagi ada temen ngobrol sampe hangout bareng. Bisa dibilang gue paling suka sosialisasi. Menjalani hidup sebagai Build adalah mencari manusia untuk disimpan dalam buku catatannya.

Maka, ketika aku tidak bisa bergantung dengan satu orang, aku bisa bergantung dengan orang lain.

Keluarga lengkap, punya suami perhatian, dan dua sahabat dekat belum cukup untuk memenuhi dunia yang kubuat sendiri. Aku perlu banyak, kalau bisa seluruh dunia jadi temanku.

Kata orang-orang yang namanya Build itu dimana-mana. Muncul di banyak ekstrakulikuler sekolah atau organisasi ketika kuliah udah biasa.

“Lo lagi lo lagi.”

“Anjir lo, Biu lagi yang gue liat!”

Aku begini tentu bukan tanpa alasan. Banyak yang ngomongin di belakang he's pathetic dan gue gak bisa marah. Sebab, memang begitu faktanya.

Aku lah sang lelaki menyedihkan. Si beken namun juga kesepian. Bersahabat denga orang tua dibuat tertekan, Bergantung pada suami yang gila akan pekerjaan, serta mengandalkan dua sahabat untuk menemani saja banyak sungkan.

Aku si lelaki kesepian tak ada jalan lain untuk mengisi kehampaan dalam diri dengan belari dari satu ke lain teman.

Sore ini pun aku beruntung, dua sahabat terbaik sepanjang masa bisa kuambil sedikit waktunya untuk menemani si gundah gulana.

“Bapak, nasi goreng adek ada taugenya.”

“Terus bapak harus gimana, dek? Kan gak tau yak bukan bapak yang masak.”

Selalu, emang kalo ketemu Job sama anaknya meja makan udah jadi acara kuis debat. Kata kuncinya gak pernah ganti. Tauge, Mark anaknya Job paling ga suka tauge dan apapun makanan bapaknya, mau cocok atau gak disitulah tempat pembuangannya. Soalnya percuma itu tauge dikasih ke Bas, bisa-bisa meja makan jadi acara siraman rohani.

“Semua makanan yang ciptain Tuhan, dek. Kalau kamu gak makan bukan cuma yang masak sedih, Tuhan juga sedih liatnya. Sana dimakan, bikin sehat. Kamu harus bersyukur...” Berakhir Bas minimal bacain satu ayat sesuai situasi.

“Pap, udang goreng kamu kok enak ya?”

“Kak, stop ganggu aku makan! Itu makanan kamu masih ada.”

Kalo yang satu ini juga aneh. Semua yang ada dalam pandangan Nakunta; anaknya Pap Nodt enak. Maka dari itu ini bocah badannya bongsor. Makanan papnya sering diambil, sobat satu ini mau marah juga gak bisa.

Begitulah dinamikanya jadi orang tua. Makan gak pernah tenang, harus rela dijadiin tempat sampah, ngabisin, bahkan makanannya diambil.

Kata dua sobatku jadi orang tua gak melulu tentang ngalah dan pasrah. Sebab, bukan anak aja yang butuh kasih sayang dua orang tua, namun mereka juga berharap disayang sama anaknya.

Ditemenin di rumah, diajak ngobrol, diajarin pakai teknologi masa kini, diceritain tentang kehidupan muda sembari nostalgia, ada yang bakal nyicip masakannya, dan banyak lagi.

Testimoni tersebut buat aku termotivasi meskipun paham sendiri tubuh ini sedang gak baik-baik aja. Mungkin suatu saat, apakah akan ada kesempatan itu?


`hjkscripts.


Build menangis dalam tidurnya yang damai. Entah apa yang tengah terjadi di bawah alam sadar. Ia tergugu, gumamkan ratapan pilu, jangan... tolong jangan lagi. Mencoba bangun pun rasanya sukar.

Lelaki ini paling benci kala jatuh selalu disambut kelambu. Sekuat tenaga enggan membuka, seolah tubuh ditarik paksa. Hingga akhirnya, Build harus terima diperlihatkan masa lalu.

“Kak Biu, ayo main bola!”

“Biu?”

“BIU!”

Kelopak mata sembab kini terbuka. Terbelalak sejenak kemudian kembali kabur akibat banjir air mata. Malam ini dirinya selamat. Ditarik keluar sebelum ceritanya berakhir tamat.

“Kenapa?” Bible dengan suara lirih serak bertanya pada Build. Dua tangannya sibuk, menghapus bulir tersisa dan mengusap bahu tersayangnya.

Build menggeleng meskipun wajahnya masih tegang. “Nggak.” Jawabnya singkat.

“Aku gak apa-apa.” Lanjutnya.

Belum waktunya dia bercerita. Mungkin sampai akhir hayat pun dia tidak akan pernah membagi kenangan buruknya pada siapun selain untuk disimpan sendiri. Biarlah penderitaan ini nantinya terkubur bersama jasad dirinya ketika hilang sudah nyawa.


`hjkscripts.


Build Point of View.

Selamat datang kalian pada dunia masa lalu. Sepi sekali, sebab yang akan kalian sapa bukan wujud yang akan membalas sapa senyummu. Dia ada di dalam sana, tidur bak membeku. Temannya hanya beberapa, mungkin hanya tanah dan batu.

Aku bersimpuh, tatap kosong nisan pilu. Ku usap pelahan, bergerak dari satu huruf ke huruf lainnya. Memahat namanya, mengutarakan ribuan kalimat rindu.

“Hi, maaf kakak baru datang.” Aku menyapa.

Dua lelaki dewasa masih betah berdiri, tak berani mengungkap apa yang terganjal di nurani. Menahan diri untuk sekedar mencari informasi.

Kini aku mendongak, netra bersua dengan milik keduanya. “Sorry gue baru sempet ngajakin kalian kemari.” Ujarku.

Lantas, dua sahabatku ikut bersimpuh mengelilingi rumah terakhir bagi seluruh umat.

“Ini makam adek gue yang beberapa kali gue ceritain.”

Aku mulai membersihkan rumput kecil di atas tanah. Lalu, satu ikat bunga aku letakkan apik berdampingan dengan pusaranya.

Air mata meleleh tanpa siapapun bisa menahan. Tumpah ruah meluapkan beban derita. Bahkan banyak usapan yang aku terima belum cukup untuk kembali kuat bertahan. Aku jatuh sedalam-dalamnya pada sakitnya luka.

“Dia meninggal,” Ujarku sembari tergugu.

“Dia meninggal karena kakaknya gak becus jagain. Kakaknya goblok, dan kakaknya adalah gue.”

Kini aku bersujud, memohon ampun sebanyak-banyaknya. Aku memohon, minta untuk dilepaskan dari ikatan kasat mata yang begitu menyesakkan. Sebab aku masih ingin hidup, bertahan selama mungkin tanpa menanggung beban dalam jiwa.


`hjkscripts.


Bible Point of View

Malam ini untuk yang pertama; entah kapan kita terakhir kali makan bareng di meja makan rumah sendiri. Meja ini udah kayak pajangan doang, paling maksimal isinya satu set alat makan saking jarang makan di rumah.

Menunya adalah salad, bukan buatan tangan suami gue tetapi terpenting adalah momentnya. Tenang kok, kita berdua gak cuma makan jenis sayur dicampur potongan dada ayam yang udah dikasih dressing. Build pula inisiatif pan-grilled daging di kulkas.

Dari tempat gue duduk, gue bisa sepenuhnya perhatiin muka suami gue seksama. Oh, ternyata dia jauh terlihat berbeda tanpa gue sadari. Badannya lebih kurus, bawah matanya mulai menghitam, bibirnya agak pucat, dan sorot matanya sendu. Namun, gue cukup bisa lega sebab pipi gembilnya masih ada belum berubah tirus drastis.

Iya, juga ya gue jarang perhatiin Build secara langsung begini. Seringnya gue cuma kirim pesan nanya lagi apa? Baik nggak dia? Perasaannya lagi ditahap apa? Ketika dijawab tidak apa-apa atau baik-baik aja gue puas seketika. Ungkapan seseorang itu bisa dimanipulasi. Padahal kalau dilihat langsung begini gue bisa merasakan sendiri gimana hawa sebenarnya.

“Bib.” Dia manggil ditengah acara makan. Gue merespon cepat gak mau bikin dia nunggu

“Iya.”

“Aku resign dari management.” Mulainya.

Gue gak bisa menanggapi banyak, sebab diumur yang udah lumayan ini apalagi di bidang entertainment bukan kabar mengejutkan.

“Oh, oke. Terus mereka ada bilang sesuatu gak?”

Not much, mungkin liat aku udah lama sama mereka dan mikirnya sudah saatnya buat mundur.”

“Kamunya sendiri gimana? Ikhlas gak?”

Build menimbang sebentar sebelum mengangguk. “Harus ikhlas soalnya kan mau sembuh. Harus pilih salah satu mau fokus yang mana, ya ini aku fokus berobat aja terus ngurangin beban pikiran sama badan. Mau banyak-banyak di rumah, belajar masak mungkin biar kita gak hidup bergantung sama makanan di jalan.”

Gue refleks ketawa dia pun begitu. Lucu emang fakta satu ini, sekecil goreng telur aja beli di warteg. Pengen mie nyetoknya yang tinggal diseduh pake air panas. Beruntung masih dikasih hidup sehat.

Setelah mendengar isi kepala dari sisi Build gue mulai ketampar. Dalam kurun waktu setelah kejadian rumah sakit dia bisa mikir dan ambil keputusan sejauh itu. Sedangkan gue yang posisinya kepala rumah tangga masih bingung kadang nyari tempat buat lari.

Kayaknya bener apa kata orang-orang yang telah berbaik hati kasih saran. Intinya masalah apapun yang lagi terjadi itu selalu ada momennya asal ada komunikasi. Komunikasi terbaik emang sembari duduk, berdua, tukar pikiran.

“Biu, aku minta maaf ya kalau jarang perhatian sama kamu. Setelah ini aku bakal berusaha. Kita berusaha bareng.”

Gue lega Build ikutan senyum tanda dia setuju.

“Bib, soal anakㅡ”

“Sayang, udah jangan dipikirin. Aku gak papa meskipun nunggu sampai kapan. Bahkan gak ada anak di antara kita juga gak masalah.”

“Hei, dengerin aku dulu.”

Build meraih jemari gue yang bebas di atas permukaan meja. Pula, gue mengeratkan tautan kita. Dia mengunci netra gue dengan miliknya. Ada binar indah terpancar di sana berhias senyum lembut dari belah bibirnya.

“We will have them in a little while. Your wait have been answered. Tapi pertama, bantu aku sembuh dulu dan aku janji ini nggak makan waktu yang lama.”


`hjkscripts.


Build Point of View

Dua hari sudah terhitung adek tinggal di rumahku. Rumah yang belum pernah ada bayi atau anak kecil. Meskipun bagi aku mengurus bayi bukan hal baru. Sebab sebelum ini sudah banyak belajar.

Aku tuh suka sama anak kecil, suka banget malah despite keadaanku yang kurang memungkinkan. Aku bukannya trauma berdekatan dengan anak kecil. Hanya saja ada sebuah ketakutan dan rasa protektif luar biasa akan anak di sekitarku.

Jadi orang tua memang membuat diri semakin awas akan anaknya. Namun, aku yakin segala sesuatu yang berlebihan akan berakhir tidak baik. Terkadang, sifat protektif berlebihan itu malah buat anak aku di masa depan jadi sakit.

Beruntungnya dalam dua hari ini kayak kita bekerjasama dengan baik. Bener kata Dokter Nattawin, penyakit yang sedang aku derita ya hanya aku yang bisa kontrol. Well, I thought imma doing good dan alam serta orang sekitar mendukung.

Awalnya satu keluarga gak ada yang percaya. Mereka bahkan convince kakak ipar buat panggil babysitter. Namun, dia percaya dan aku gak akan mengecewakan kepercayaannya.

“Sayang, aku berangkat kerja dulu.” Bible keluar dari kamar terburu. Dia mendekatiku, menggoda adek yang tengah terlentang menunggu didandani.

“Itu jangan lupa bekel dibawa.”

“Kamu yang masak?”

“Bunda yang masak, aku jadi asistennya doang.” Aku dan dia terkekeh geli.

“Makasih sayang. Nanti pasti aku abisin.”

Bible sempat menyematkan kecupan di dahi. Lalu, meninggalkanku untuk berpamitan dengan bunda. Terakhir, eksistensinya menghilangkan dari balik pintu.

Wow, what a beautiful day to start.


`hjkscripts.


Bible Point of View

Sebagai lelaki yang sudah menikah memang benar salah satu momen paling membahagiakan adalah ini. Ketika kita membuka pintu rumah disambut pemandangan pasangan kita tengah duduk santai di ruang tamu sedang berbicara dengan anak kita.

Well, setidaknya begitu testimoni dari Job dan Pak Peter. Setidaknya juga, gue saat ini sedang mengalami untuk yang pertama dalam hidup. Meskipun anak yang tengah tertawa khas bayi dalam dekapan Build bukan anak kita sendiri.

Sebentar lagi, Bible... Sebentar lagi. Gue bisa kembali senyum dan bersabar mengingat kalimat Build, Your wait has been answered.

“Biu.” Gue datang menginterupsi. Masih lengkap kemeja kerja duduk di sampingnya.

“Et! Kamu udah cuci tangan belum?”

Tawa bodoh menguar. Gue langsung berlari ke dapur buat cuci tangan. Build mengekor dari belakang sembari tangannya sibuk memegangi si bayi. Lucu banget, kayak induk panda lagi gendong anaknya.

“Tolong gendongin dulu dong adeknya. Aku mau angetin makanan.”

Gue menerima si adek, beberapa detik mengatur posisinya agar dia nyaman. Beneran ini anak udah berat banget padahal umurnya baru hampir masuk dua tahun. Pertama kali dia lahir kayaknya enteng banget gue gendong.

“Bunda daritadi sibuk banget di dapur. Yakali kita dimasakin banyak kayak mau ditinggal seminggu. Kulkas penuh kontainer nih liat!”

“Haha,” Gue cuma ketawa nanggepin Build lagi cerita. “Hemat duit makan seminggu kita.” Lanjut gue.

This is home

Inilah rumah sebenarnya. Gue semakin bersyukur mahal-mahal beli meja makan dan kursinya akhirnya kepake juga. Padahal dulu pernah mikir, meja makan mending di jual aja biar nambah space di rumah. Toh, jarang dipake. Kayaknya mulai hari ini kita bakal makan bareng gini terus.

“Sini adeknya, kamu makan dulu.”

Gak kerasa meja makan penuh sama beberapa lauk. Build mengulurkan tangan menyambut adek kembali.

“Kamu udah makan?” Tanya gue dibalas gelengan. Dia menjawab, “Kamu duluan, aku pegangin adek dulu.” sembari senyum ngalah.

Biasanya si adek udah tidur pas jam-jam segini dan bakal bangun lagi sekitar jam sembilan buat nagih dot susunya. Hari ini gak tau kenapa dia masih bangun dengan mata segernya. Mana kakak gue gak nitipin stroller, jadi mau gak mau dipangku gini.

Gue makan, menikmati banget soalnya udah jarang makan masakan rumah gini. Sesekali gue nyuapin Build meskipun dianya kadang nolak.

“Besok bunda ke batu kamu udah tau?” Build bersuara setelah menelan makanan di mulutnya.

“Tau. Kamu beneran gakpapa ngurus adek sendirian?”

“Sure.”

“Kalau gak yakin aku bisa cuti sehari.”

“Bib?” Panggilnya.

“Hm?”

“Kamu percaya sama aku gak?” Dia bertanya. Gue dengan yakin mengangguk dan membalas ucapannya, “Banget.”

“Kalau aku bilang aku bisa. Aku pasti bisa kok.”

Terakhir gue tersenyum lega. Beneran deh gue perlu mengurangi khawatir akan ini itu. Tugas gue hanya support dan percaya dia bisa.

“Ok. Tapi kalo ada apa-apa jangan panik terus segera hubungi aku.”

“Yup!”


`hjkscripts.


Bible Point of View

Bib, penantian kamu udah ada di depan mata.

Kalimat satu itu terus muncul, terngiang di dalam kepala gue. Apalagi, ketika gue tiba di rumah Build menyambut dengan gestur yang jarang gue temukan dalam dirinya.

Berdiri tepat di belakang pintu, menyambut gue dengan senyum yang sukar diuraikan dalam kalimat padu. Dia hanya menunggu, hingga atribut di badan tanggal, berganti kaus santai nampak bahu.

Kala gue keluar dari kamar, Build sudah menunggu di atas kursi makan. Dua kakinya bergerak berantakan, mendandakan dia tengah dilanda gugup.

“Sini! Duduk sini deh!” Pintanya sambil menepuk kursi kosong beberapa kali.

Gue pun menuruti, menaruh seluru atensi menunggu Build mulai bersuara.

Meja makan malam ini kosong, tapi gue bisa lihat mesin microwave bekerja menghangatkan makanan.

Oh, oke. We will talk first and have dinner later.

Merasa gue perhatikan, Build sepertinya enggan membuat gue menunggu lama. Dia geser satu amplop cokat yang gue gak tau kapan udah ada di situ.

“Apa ini?” Tanya gue penasaran.

Build senyum kecil sebelum menjawab, “Buka aja.”

Dengan tidak sabar gue membuka penutupnya, mengeluarkan begitu banyak kertas di dalamnya.

“Dua bulan terakhir ini aku gencar cari-cari informasi. Terus aku nemu tempat ini terus beberapa kali dateng buat sekedar berkunjung dan bagiin sedikit dari apa yang aku punya.” Build bercerita, lumayan panjang sebagai penjelasan awal dari dokumen yang sedang gue cermati isinya.

“Then, I see him. Terus, kayak baru jatuh cinta buat pertama kali sampai aku pengen milikin dia seutuhnya. Aku pengen jaga dia, sayangi dia, dan bahagiain dia.”

Dalam genggaman gue ada sebuah foto. Anak kecil lucu yang lagi senyum polos lagi makan jajan.

“Ketika aku pertama kali liat dia, kamu seketika lewat melintas dipikiran aku. Aku lihat kamu dalam mata polos bulatnya. Dan aku mulai mikir, apa ini ya takdir yang akan jawab permohonan kamu, doa-doa kamu, doa semua keluarga kita, dan mungkin jalan terang buat aku kedepannya.”

Gue semakin mengeratkan genggaman pada foto tersebut. Gemuruh emosional dalam diri gak bisa lagi gue bendung. Mereka berlomba, memerintahkan otak untuk membangunkan kelenjar air mata. Sebab, hari ini dia dibutuhkan.

Menangis, entah kapan terakhir kali mata ini basah akan air mata. Pun, gue bersyukur bahwa ini adalah air mata bahagia.

“Keputusan finalnya aku serahin ke kamu lengkap bersama seluruh consent yang aku punya.”

“Kamu bisa isi berkasnya kalau memang setuju. Cause you're the dad, and captain in our household.”

Maka, gue gak ada satu persen pun ragu. Gak ada jawaban yang paling meyakinkan selain.

Ya, aku setuju.


`hjkscripts.


Happy birthday to you Happy birthday to you Happy birthday dear Venice. Happy birthday to you~

Sorak-sorai telapak tangan beradu. Membangkitkan senyum dari si kecil yang semanis madu. Binar matanya berpendar luar biasa. Mengingat hari ini adalah momen paling bahagia.

“Venice, selamat ulang tahun ya. Semoga jadi anak pinter, baik, dan berbakti sama ayah papa.” Begitulah doa-doanya sembari menghaturkan beragam bentuk hadiah.

“Yah liat! Aku dapat ini gede banget.” Pekiknya bahagia meskipun tengah kepayahan menggenggam kado.

Sang ayah berjongkok, menyamaratakan tingginya dan sang anak. Dia turut senang, tersenyum kebapakan sambil mengusap kecil kepalanya.

“Venice?”

Keduanya sontak menoleh bebarengan pada sosok yang memanggil namanya.

Lelaki itu ikut berjongkok, mengapit dirinya ditengah-tengah.

“Yuk berdoa dulu. Nanti Venice juga bisa mohon apa aja.” Katanya.

Dia mengambil tangan kecil sang anak, menempatkan pada gestur ketika berdoa.

“Nih ikutin Pa Biu, tangannya gini.”

Papanya tersenyum bangga kala sang anak berhasil mengikuti percis gayanya.

“Sekarang Venice bisa mulai minta apa aja yang kamu mau.”

“Ya Tuhan, terima kasih sudah kasih Venice ayah sama papa yang baik. Venice bingung mau minta apa soalnya Venice udah punya semuanya. Jadi, Venice cuma mau minta jagain ayah sama papa Venice ya, biar bisa bareng lama-lama sampai Venice dewasa. Venice juga mau bilang, kalau Venice sayang banget sama ayah dan papa.”

Amen.


`hjkscripts.


NSFW CONTENT🔞


New York 31 Desember ; 23.45

Lelaki itu santai berdiri mempercayakan tubuhnya ditahan balkon terbuat dari besi. Dia memandangi, langit legam dihiasi bunga api. Tiupan lirih udara dingin tak menghentikan aksinya sama sekali. Dibalut kain tipis dan ulasan senyum manis, dia menikmati hari paling menenangkan hati.

Dia bergeming meskipun daun telinganya menangkap suara gerakan pintu dan derap kaki. Seolah dia sudah tau siapa yang telah kembali. Tegap tubuh sosok lelaki dewasa berjalan menghampiri setelah meletakkan seluruh bawaan diri. Dari belakang lengannya tanpa ragu merengkuh pinggang berisi.

“Nodt.” Panggilnya sebelum meletakkan dagu di pundak yang lebih pendek.

Sang pemilik asma berjengit sedikit kala dipanggil hanya nama. Sudah lama dia tak mendengar namanya dipanggil dengan artikulasi sempurna. Nodt Nutthasid benar itulah namanya.

Nodt berbalik, namun perangkap lengan besar di samping tubuhnya masih kokoh. Dia terhimpit antara balkon dan dada bidang yang tercetak begitu jelas meskipun ditutup dengan benar.

“Kenapa manggil aku gitu?” Dahinya mengernyit bingung, suaranya lebih tinggi sedikit sok sebal.

Lelaki dihadapannya tersenyum miring, mencuri kecup nakal dari bibir yang telah merah sebab hawa dingin.

“Hanya ingin.” Jawabnya singkat.

“You sneaky thief.”

“Well, I am.”

Nodt menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli. Detik kemudian tawanya pergi terganti tatapan sulit diartikan. Netranya tajam memindai detail paras tampan tersuguh di depannya. Senyuman puas terpatri kala tak menemukan sedikit pun cacat di sana. Tangan kanannya diangkat, telapak dingin itu kini bergerak lembut pada permukaan wajah si lelaki.

“You bought them, did you?” Ujarnya to the point.

“Sorry, too many people have joined this party. I bet we should go without wearing anything.”

Nodt memukul dada bidang lelakinya. Suaranya kenapa harus dibuat begitu menggoda.

“Kamu sih ga beli sebelum ke sini.”

“I did, sayang.”

“Terus mana buktinya?”

“They don't sell my size so...”

Nodt mendecak sebal. “You confident ass!”

Keduanya lagi-lagi terjebak dalam warna iris satu sama lain. Mereka jatuh tebuai akan kagum masing-masing. Lama dalam keadaan demikian sebab mereka menikmati euphoria menyenangkan dari saling berkomunikasi hanya melalui pancaran netra.

Kemudian, fase itu harus ditutup ketika beribu kembang api berlomba unjuk diri memperebutkan nominasi paling tinggi, paling besar, dan paling cantik. Dimulainya hiasan langit menandakan pula berakhirnya perjalanan manusia menempuh sebuah tahun menuju tahun selanjutnya.

Cukup melihat keindahan semata, Nodt kembali pada pemandangan favoritnya. Dia adalah Peter Knight, sosok lelaki dewasa yang dengan sabar membimbing dirinya.

“Happy new year, Mas Peter.”

Maka Nodt menciumnya, bukan sebatas kecupan ringan melainkan lumatan penuh nafsu. Dia bergerak, menuntut seolah menunjukkan bahwa dia yang berkuasa. Namun dia salah, suaminya itu adalah kasta tertinggi dari segala lelaki. Betapa keras Nodt berusaha mendominasi, aura tegasnya selalu bisa memukul mundur mengambil alih.

“You want me to fuck you here?” Tuturnya terbata karena sembari mengatur napas.

“It's cold here you jerk.”

Peter terkekeh tak percaya. Ibu jarinya menyusap bibir basah milik Nodt gemas. “Bagaimana bisa bibir manis ini bisa berkata buruk?” Dia menyesap daging kenyal itu kembali.

“Then what are you going to do, sir?”

“Just wait and see. Which punishment worth your filthy lips.”


Nodt dijatuhkan dari kewarasannya menuju dunia berjuta nafsu. Helai kain jatuh satu persatu menunjukkan lekuk tubuhnya tanpa ada rasa malu. Lalu, dia menyambut sosok tak pula berbaju yang menjanjikan hukuman syahdu. Seluruh tubuhnya dia serahkan tanpa ragu.

Peter menjamah merah muda ranum, dia mengecup, disesap erat hingga pemiliknya mendesis. Selanjutnya dia akan menggigit kecil, gemas sendiri dengan benda kenyal secandu butir ekstasi yang mampu membuatnya mabuk kepayang.

Yang lebih muda tak kalah kuat, menghadapi tentara perang yang menyerang peraduannya. Dia memanggut, menyesap daging merah muda yang sedari tadi menganggu miliknya. Tanpa ragu dia menelan entah saliva milik siapa bercampur jutaan rasa. Tapi inilah favoritnya, rasa alami dari manis, basah, bercampur sedikit darah akibat semangatnya permainan mereka.

Lalu, Nodt dengan tenaganya membalikkan posisi sehingga dirinya kini berada di atas sang suami memandu jalannya kisah panas di atas ranjang. Dia sudahi acara bersama bibir Peter, beralih mencicipi tiap jengkal tubuh besar suaminya. Bergerak perlahan namun pasti, memberikan sedikit tanda kepemilikan. Tubuhnya beringsut turun, bermain sebentar dengan dua puting yang sering dia lihat.

Sampailah pada tujuan utama. Bak pendaki gunung telah sampai pada puncaknya. Nodt menyentuhnya perlahan, lembut, memberikan stimulasi agar tegak terbangun.

“Shh... Shit!” Peter mendesis ketika satu tubuhnya merinding. Birahinya semakin menjadi, menjajah akal sehat dan hati nurani. Kini yang dia tau hanyalah kepuasan untuk dirinya dan suami.

“Pleased him, sayang.” Titahnya.

Nodt tersenyum ringan, bola matanya melirik Peter seduktif sembari meludahi telapak tangannya sendiri. Kemudian, tangan basahnya menyentuh permukaan kulit benda favoritnya. Nodt menggenggam, bergerak naik turun perlahan hingga semakin besar dan tegang.

Hhaahhh

Peter mendesah lega kala miliknya masuk dalam rumah pertama. Rasa basah dan hangat ini yang telah ditunggu sejak sekian lama. Bagaimana Nodt dengan telaten memanjakannya. Bagaimana bibir bengkak itu bergerak liar menghisap penis juga dua buah zakarnya. Hingga akhirnya datang sebuah kedutan tanda mani siap untuk ditembakkan.

Ahhhh Hmmm

“You good, babe.”

Peter bangkit, menarik Nodt agar duduk di atas pangkuannya. Dirinya menyambar bibir sang suami yang masih sibuk menelan sisa-sisa sperma. Jemari panjangnya tak tinggal diam, bergerak ke bawah tubuh pasangannya. Diraba dahulu, lalu diremas bantalan pantat empuk sumber bahagia.

Belahannya dibuka, memberikan jalan bagi Peter menjamah senggama.

hhgghn

Lelaki yang lebih tua senyum kemenangan. Dia memasukkan satu jari telunjuk ke dalam agar pemiliknya terbiasa. Tubuh suaminya tegang, genggaman pada otot bisepnya mengerat, serta kaki-kakinya bergerak gelisah.

“Aku boleh masuk ya?” Bisiknya sensual meminta izin.

“Hmm,” Anggukannya pasrah. “Tapi pelan-pelan ya mas.”

Berbekal sebuah perizinan dua raga individu kini bersatu. Berbagi suhu tubuh juga peluh. Berseru memanggil nama sang pemuas nafsu. Bergerak tanpa ritme, berlomba naik turun menyentak keluar masuk hingga mencapai langit ketujuh. Terakhir, mereka akan terjatuh dalam kenikmatan tiada tara bermandi cairan pejuh.


Keesokan pagi, dua tubuh lelah tanpa busana harus terbangun dari arena bertarung yang telah runtuh.

Ketika dua pasang obsidian terbuka yang tampak adalah dominan putih dari luar jendela.

“Salju turun semalam.” Gumam Nodt memperhatikan salju berjatuhan dengan cepat.

“Funny kita gak merasa kedinginan sama sekali.” Peter beringsut lebih rapat, memeluk suaminya dari belakang kala dingin mulai menyerang permukaan kulit.

Ting

Bunyi pesan masuk menginterupsi kegiatan pagi. Nodt memeriksa pesan masuk dari gawainya. Netra indah itu bergerak serius membaca runtutan kalimat pada layar.

Hingga pada akhir kalimat senyum yang terulas pada bibir manisnya.

“Kenapa?”

“Baca sendiri.” Menerima gawai tersebut kelopak matanya menyipit sebab faktor umur melanda.

“You...” Suaranya tercekat.

“Kamu serius resign dari kantor?”

“Iya. Aku sebenernya udah ngajuin lama tapi mereka mohon-mohon biar aku stay sampai akhir tahun. Dan ya, sepertinya mereka gak bohong.”

Peter bangun dari posisinya, dirinya ingin melihat wajah Nodt dengan seksama memastikan bahwa keputusannya diambil secara matang.

“Is it really ok for you?”

“Hmm,” Dia mengangguk semangat. “Aku kayaknya udah siap buat males-malesan di rumah deh. Nonton netflix, beres-beres, terus jadi welcome fairy buat kamu sama kakak.”

“Aku seneng dengernya.”

“Meskipun ini tandanya kamu harus kerja lebih keras?”

“Aku gak masalah. Buat kamu sama kakak aku bisa kerja lebih keras dari siapapun.”

Peter merentangkan tangannya, mau tak mau Nodt bangun kepayahan untuk membalas sebuah pelukan.

Pagi itu mereka berjalan satu langkah lebih jauh lagi. Berjanji menghadapi apapun yang akan mereka temui suatu hari nanti. Melayang tinggi bersama bagai kembang api di langit sepi, pun jatuh kembali bagai salju putih di pagi hari.


`hjkscripts.


Nodt Point of View

Setiap kisah yang kita jalani bagaikan mengikuti lomba estafet lari. Pertama, lo bakal berlari sendiri membawa beban yang lo ga tau dapet dari mana. Selanjutnya, lo akan terus berlari namun kali ini mencari insani yang dianggap bisa meringankan beban itu. Beban itu akan terus dipindahtangankan entah sampai berapa orang yang akan ikut terlibat. Hingga, ketika itu telah menemukan orang yang tepat, dia yang harus lari sekenceng mungkin menuju garis akhir.

Ya sama kayak keadaan gue. Kemunculan Pak Podd sebagai klien yang awalnya meminta bantuan untuk dekorasi acara amal, gue ga pernah tau asal-usulnya darimana. Serta, gue juga ga tau kenapa keberadaan Pak Podd bisa mengusik ketenangan seorang Peter Knight si sempurna.

Lantas dia mulai berlari untuk mencari yang ternyata ga jauh-jauh temen gue sendiri. Terakhir, tibalah saatnya giliran gue. Sampai saat ini pun dua kaki ini masih belum berhenti. Bergerak maju pun belum terlihat apakah diujung gue disambut orang lain lagi atau sebuah garis finish.

Jawabannya gue akan tau setelah ini.

Lucunya buat perlombaan satu ini gue ga ngerasa capek, malah makin semangat. Beban yang telah gue bawa semua hanya sedikit berat. Mungkin karena kini jemari-jemari gue digenggam begitu erat sama kesayangan gue.

Jujur gue takut buat dateng sekedar cari jawaban. Beruntungnya, orang yang berstatus sebagai pasangan sehidup semati mau menemani.

“Everything gonna be alright.” Ungkapnya. Meskipun kalimat demikian terdengar mainstream tapi untaian kata itu yang tengah gue harapkan.

Gue mau semuanya selesai. Gue harap semuanya baik-baik saja.

Ketika jemari gue dilepas, dia sematkan kecupan lembut di puncak kepala gue. Lalu, dia sempat berpesan, “Semangat ya sayangku. Kalau dia macam-macam I'll kick his ass real hard.”

Yuk, bisa yuk! Semoga ini cuma ajakan makan malam biasa tanpa intensi apapun.


Malam temaram diiringi suasana tentram. Kita bertiga tidur di atas bongkahan kapas empuk di bawah atap kuat. Iya, bertiga... ga tau kenapa tiba-tiba anak baru remaja yang badannya lebih tinggi dari dua orang tuanya merengek seolah balita dilanda mimpi buruk.

Nakunta telah bergabung, amblas bablas tak peduli datang hujan setelah mendung. Dia bergelung, mencari pelindung.

Emang dasar, harusnya kan gue yang ada dipelukan mas. Tau aja dia mana tempat paling anget di antara gue atau dad-nya.

Mas Peter tepuk-tepuk punggung Nakunta sedangkan gue mainin rambut panjang kebanggaanya. Udah sebulan lebih gue debat kusir nyuruh dia potong rambut biar rapih, tapi namanya juga melawan remaja.

Gue sama mas ga sengaja bertemu tatap dan kita senyum geli tanpa suara.

“Udah gede juga masih minta dikelonin.” Monolog gue pelan sembari nyubit pipinya gemes.

“Kamu malah tiap hari aku kelonin.” Sahut mas yang ternyata denger. Yah, pak jangan dibongkar gitu juga lah.

Kita lagi-lagi ketawa kecil. Terus perlahan pudar menyisakan dua obsidian saling menatap satu sama lain. “Go on.” Titahnya.

Gue menarik napas, bergerak mencari posisi nyaman. Gue diam sejenak, mengais kepingan memori beberapa jam lalu.

Awalnya acara tadi nampak seperti makan malam biasa penuh basa basi. Lalu, ketika keluar sebuah kotak dengan isi tujuannya tidak sama lagi.

“Dia kasih aku kotak berisi setel baju mahal dan undangan, ngajak aku dateng ke acaranya. Bukan sebagai partner penanggung jawab tapi sebagai partnernya.”

“Huh, that jerk.”

Gue menolak tentu saja, gimana gue bisa dateng kalo hari itu gue pasti udah ada di hotel amerika, lagi ngerasain jet lag sambil pelukan biar anget.

Di situ gue memberanikan diri bertanya alasan pasti kenapa dia segigih ini.

“Dia mau aku, dia mau milikin aku untuk dirinya sendiri. He loves me at first sight.”

Gue diem sebentar, mengingat ketika kalimat itu keluar semudah itu dari bibirnya gue sempet tremor ketakutan. Gue ngeblank, gue takut dikendalikan. Detik itu rasanya gue pengen berdiri, lari keluar minta dibawa pergi sejauh mungkin.

Tetapi gue ga boleh gitu. Masalah itu pantang bagi gue dibiarkan menggantung begitu saja. Sebab, mungkin keesokan harinya akan muncul sebagai petaka.

Kala tidak ada sama sekali suara tanggapan terdengar gue pun melanjutkan.

“Aku jawab kalo itu bukan cinta melainkan obsesi. Karena cinta itu artinya bukan ingin sekedar memiliki untuk penuhi hasrat diri. Love is a consent. Bukan kamu jaga hatiku ya, tetapi bersediakah kamu juga hatiku? Bukan kamu jangan pergi dari aku ya, tapi aku boleh minta tolong jangan pergi dari aku? Maka, ketika salah satunya sudah ga punya alasan untuk bertahan meskipun betapa sulitnya itu, mereka bisa saling melepaskan.”

Sebab mencintai seseorang itu bukan cuma tentang memiliki, tapi belajar bagaimana melepasnya pergi.


`hjkscripts.


Nodt Point of View

Segala kesusahan itu memang paling enak ya diobrolin. Ngobrol itu juga kalau ketemu orang yang bener, semua masalah akan gampang teratasi. Gue harus bersyukur sebab orang itu suami gue, Peter Knight udah ga ada duanya.

Sekarang ini kalau gue bisa ngomong, mau ditawarin sebanyak-banyaknya harta di dunia buat dituker sama keberadaan suami gue, tentu akan gue tolak.

He's just everything

Manusia itu ga ada yang sempurna. Tetapi manusia bisa merasakan segala sesuatunya jadi sempurna ketika bertemu orang yang tepat.

Kayak sore ini, setelah seharian dirundung badai dalam diri akhirnya gue bisa senyum lagi. Nyetir mobil sambil dengerin lagu jatuh hati.

Sampai di rumah gue dengan semangat, turun dari mobil sembari meraih satu ikat bunga cantik. Gue mau lihat lelaki mana yang berani memikat.

“Aku pulang!” Teriak gue menyapa orang rumah.

Seketika gue ketawa geli. Lo semua harus liat kelakuan dua kesayangan gue. Ralat, jadinya tiga ternyata mami udah ikut bergabung di rumah.

Mereka bertiga berdandan american winter style lengkap sama koper dan paper bag kosong udah kecium bau liburannya.

“Welcome to New York, sir.”

“Kalian ngapain deh?” Gue akhirnya masuk lebih dalam, taruh semua barang bawaan dan ga lupa menyapa mami.

“Hi Mami! Kapan nyampe?” Kita berdua pelukan kayak jarang ketemu. Padahal sebulan bisa ketemu 2-3 kali.

Mami lepasin pelukan lebih dulu, beliau nyubit pipi cucunya gemes. “Nih, tiba-tiba dijemput sama dia nih.”

“Pake motor?!” Gue kaget.

“Gila aja aku gonceng oma mami pake motor.”

“Dia bawa mobil aku, sayang.” Akhirnya dia bersuara. Suara mas tuh ibarat air pegunungan yang akan selalu adem. Cocok banget buat gue yang agak emosian apalagi kalau ketemu Nakunta yang lagi beranjak dewasa.

Mas melepas properti yang ada di badannya. Udah jelas ini idenya Nakunta. Dia merentangkan tangannya, dan gue paham maksudnya. Gue cukup diam, pasrah direngkuh erat, membiarkan wajah gue diinvasi sesuka hati.

“Oma mami aku juga mau dipeluk terus dicium gitu.” Rengek Nakunta.

Gue seneng banget, coba aja kalo perkara kemaren ga selesai apa gue bisa ngerasain hangatnya kumpul keluarga.

“Mas?”

“Hm?

By the way makasih ya bunganya. Cantik deh, aku suka.”

Dan ungkapan gue ga mendapatkan balasan yang seharusnya gue terima. Mas malah nunjukkin raut bingung. “Bunga apa?” Dia nanya balik.

“Itu bucket bunga dari kamu kan? Aku sampai cross check dua kali loh sama kurirnya. Beneran ditujukan buat aku.”

Oh shit

Nakunta angkat tangan ketika dia merasakan hawa hangat berubah jadi kurang mengenakkan. Dia menuntun mami yang juga lagi bingung ga paham situasi keluar dari ruang tamu yang akan berubah jadi arena tarung.

“Aku gak ngirim kamu bunga. Ini dari siapa?”

“Ya aku ga tau, aku kiranya dari kamu.”

“Ini dari CEO itu kan?”

Bangsat suaranya Mas Peter agak lebih tinggi. Gue benci banget dengernya.

“Aku udah bilang aku ga tau.” Gue menjawab juga menekankan tiap katanya.

“Shit”

“Ya udah, kalo bukan dari kamu tinggal dibuang. I don't mind kok.” Final gue. Soalnya emang mau gimana lagi coba.

Tetapi mas ga puas sampe di situ. Dia jalan ke arah kunci mobilnya dan gue lari buat nahan dia.

“Kamu tuh mau kemana?” Dia bergeming. Napasnya berantakan tanda emosi lagi di puncak.

“Katanya kamu percaya sama aku? Hum?” Dia nutup mata, berusaha kontrol gejolak panas di dalam dirinya.

“Sorry...” Gue membelai punggungnya sambil menenangkan, “Gapapa. Maaf juga aku asal bawa pulang ga konfirmasi ke kamu dulu.”

“Aku takut...” Suaranya lirih.

Ngga sayang, ga ada yang perlu kamu takutin.

“Aku takut dia ambil kamu. Aku takut kamu pergi ninggalin aku.”

“Ga ada yang mau ambil aku dari kamu selama aku maunya sama kamu.”

Terakhir, atas kejadian ga terduga malam ini gue berjanji bakal selesaiin masalah ini.


`hjkscripts.