hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Nodt Point of View

Entah apakah ini hanya perasaan gue aja atau pelukan Mas malam ini terasa erat begitu menyesakkan. Rasa ga nyaman ini buat gue beberapa kali sadar dan mengubah posisi. Bagaimana pun gue mencari posisi tidur nyaman, seolah dia masih terjaga lengan besarnya mengikuti.

Ga ini ga bener, ada yang ga beres. Setelah gue pulang ketemu klien, seperti yang anak gue adukan suami gue memang sedikit aneh.

Dia banyak diem, melakukan segala sesuatu tanpa suara. Namun, tubuh besarnya seakan enggan meninggalkan gue sendirian. Kalau ditanya jawabannya adalah sebuah template.

“Ya gak apa, emang gak boleh?” Nyebelin banget.

Gue memutuskan untuk kembali pada posisi awal dengan sedikit merengek, “Eungh... mas, sesek.” Pinta gue dengan suara serak.

Mas tetap bergeming. Dua bola matanya masih tetap bersembunyi dibalik pandunya. Tapi, gue bisa dengar suara napasnya berat dan debaran jantungnya berantakan.

Apa yang tengah dia hadapi? Apa yang membuatnya begitu takut?


`hjkscripts.



Peter Point of View.

Dia melempar ponselnya sembarangan ketika saya baru keluar dari kamar mandi. Saya bisa merasakan bahwa hawa di sini sedang buruk. Rasa kesal, jengkel menyelimuti.

Saya mengambil ponsel yang terlempar hingga berada di ujung kakinya. “Kamu kenapa, sayang?” Saya bertanya meskipun dia gunakan jurus tidur. Padahal kerutan wajahnya masih terpampang jelas.

Ponsel di atas nakas, lampu di matikan, saya pun bergabung masuk dalam selimut yang sama. Biasanya, saya akan memaksa diri untuk selesaikan beberapa pekerjaan kecil, ditemani dia bersama cerita tentang hari ini atau berandai tentang hari nanti. Namun, khusus malam ini mari sejenak lupakan pekerjaan untuk dia, saya kerahkan seluruh perhatian.

“Kalau memang mau tidur ya tidur, jangan sambil berpikir. Kasihan otaknya gak bisa istirahat.” Tutur saya sambil mengusap kerutan di dahi.

Inilah dia mata cantiknya terbuka kembali. Saya siaga di tempat, menyambut dengan senyuman terbaik. Dan dia akan menggeser tubuhnya lebih mendekat, menuntut sebuah dekapan lengkap dengan afeksi untuk membuat dirinya lebih baik lagi.

“Kayaknya planning liburan tahun baru bakal mundur jauh deh.” Mulainya cerita. Suaranya cukup kecil pula menggelitik sebab bibirnya tepat di depan tengkuk saya.

Saya tak menjawab, masih ingin mendengar kekhawatirannya lebih jauh. Napas berat pertanda putus asa membuat tangan ini terus menepuk punggungnya nyaman.

“Kok bisa ya orang limpahin tanggung jawab gitu aja. Ga nanya dulu. Padahal aku udah menuhin jadwal sampai tanggal 29 biar kita sampai sana tepat waktu.”

Saya berikan kecupan kilat pada puncak kepalanya. “Gak apa, tiketnya kan belum di beli. We lost nothing, sayang.”

“No!” Dia menjauh beri jarak di antara kita. Mata kami bersihtatap dengan pandangan berbeda. Dia bersama kekecewaan, dan saya dibuat kebingungan.

“We exactly lost everything. Kita kehilangannya kesempatan, waktu, dan paling penting kepercayaan kakak.”

“Kita kan udah janji mau liburan bareng yang jauh. Aku liat sendiri effort dia whole semester ini gimana, usahain nilainya lulus semua biar ga usah ikut semester antara yang akan ambil waktu libur. Dia semester depan udah mulai magang dan persiapin skripsi dimana liburan itu ga berarti buat dia. Terus kita juga udah janjiin mami.”

“Hei,” Saya menariknya kembali. Memeluknya lebih erat lagi. Tepukan punggung kini berganti dengan belaian lembut. Saya bisa merasakan debaran jantungnya perlahan jadi normal.

“It's ok, it will gonna be ok.”

“It isn't okay.” Cicitnya.

“Hei, kamu kan belum lihat proposal project-nya, atau aku salah?” Dia mengangguk membenarkan.

There you are. Besok kamu minta detailnya, belum tentu kerjaan ini akan ganggu planning liburan kan? Hari ini baru masuk tanggal 2 Desember, sayang. Masih ada kesempatan untuk diskusi lebih banyak. Kalau memang sulit bisa tolak baik-baik. Kalau memang kamu suka tetapi akan ganggu rencana liburan. We will be just alright. Mundur sedikit gak mengurangi kesenangan.”

Hahhh

Terkekeh saya mendengar helaan nafas pasrahnya. Saya baru ini melihat dia kesulitan menghadapi pekerjaannya. Dia si paling percaya diri mengambil setiap keputusan.

Saya menyadari bahwa rencana liburan ini dia yang paling bersemangat. Well, saya juga, Nakunta tentu saja. Namun, dia nomor satunya seolah rencana ini kalau boleh besok harus terlaksana.

Mungkinkah kebersamaan kita mulai berkurang dalam benaknya. Sedikit... sebab seluruh pekerjaan dan kegiatan akan berlomba datang minta diselesaikan jika mendekati akhir tahun. But, we did talk really well. Belum ada kesalahpahaman yang mengakibatkan argumentasi antara saya dan suami belakangan ini.

Atau ini hanya perasaan saya saja?

“Sayang?”

“Hmm...” Oh, dia masih terjaga.

“Memangnya kenapa kalau liburannya kita undur. It is just holiday anyway. You seem worry much about that.”

Basah, tengkuk saya basah kala bibirnya menyematkan kecupan ringan. “I miss you.”

“Huh?”

“I miss you,” Bisiknya.

Lantas, saya jadi tegang ketika jemarinya memaksa masuk melewati batas pertahanan. “Also him too inside me.” Bisiknya seduktif.

Kini saya mengerti betul alasannya. Benar, memang sudah lama milik kami berdua tak menyapa satu sama lain. Rumahnya sering kosong sebab pemiliknya tengah sibuk berkelana. Betapa dia juga rindu akan pulang. Di dalam sana tentu sangat nyaman.

“Besok weekend, aku bisa pastikan tidak ada yang akan menggangu hari libur. How about you, Ai?”

“Aku juga.”

“Then?”

“I serve you all mine, mas. Fuck me, ruin me, pleased me daddy.”

“As you wish, your majesty.”


`hjkscripts.


“Sini, duduk sini!”

Peter menggeser badannya, mengosongkan cukup ruang untuk Nodt bergabung dengannya.

Nodt duduk, dia menyerahkan salah satu gelas bersama uapnya masih mengepul untuk lelaki yang lebih tua. Dia memilih bersandar pada lengan sofa juga menaikkan dua kakinya. Kini dirinya bak seekor kucing yang tengah mencari kehangatan dibalik kakinya.

Dua bola matanya bergantian fokus menempatkan bibirnya di atas teh panas, ditiup perlahan hingga berkurang sedikit demi sedikit suhu. Terkahir, dia menyesap sembari mencuri pandang pada rahang tegas dihadapannya.

Daripada Tom Cruise yang tengah berlaga dalam layar film aksi, paras dewasa milik Peter lebih mencuri perhatian.

Lelaki ini tenang, tiap gerak-geriknya enak dipandang. Bagaimana manik matanya berpendar kagum kala adegan yang tengah diperhatikan semakin seru. Bibirnya, Nodt ingin sekali mengecupnya. Belum pernah tumbuh rasa bosan pada benaknya. Rasanya beragam, Nodt suka mengecap saliva bercampur jejak nikotin pula pahitnya kopi. Namun, dua itu akan kalah telak dengan rasa alami bibirnya. Basah, setetes manis, dan sensasi darah yang akan ikut bercampur kala tak sengaja dia menggigit bibir suaminya.

“Sayang? Hei?!”

Nodt tersadar dari, dia seolah diangkat dari lautan hormonal. Menyahut Peter dengan suara serta ekspresi bodoh khas penipu terbuka kedoknya.

Dia tertawa kikuk, dibalas sang suami senyum. Peter menggeser tubuhnya ke arah Nodt, memindahkan dua kaki yang lebih muda pada pangkuannya.

“Kamu pasti capek banget, sampai melamun begitu.” Tuturnya sembari memberikan pijatan.

“Nggak, mas. Aku sange bukan capek. Kita hanyalah dua lelaki sexually active yang dihadang kesibukan sehingga kegiatan ngewe ga bisa direalisasikan.” Batinnya.

Gerakan mencengkeram lembut kini mampu membuat Nodt rileks. He's stay still, staring his husband affectionately.

Hingga saat ini, dirinya masih belum bisa seratus persen percaya.

“Kok bisa ya, gue punya suami kayak kamu, mas?”


Peter semakin mengeraskan cengkeraman tangannya. Bergantian dari kaki kanan ke kiri. Kini dia fokus, berdedikasi untuk meringankan beban suami.

“How's going?” Dia mulai bertanya ketika film di layar sudah berwarna hitam berhias tulisan putih.

“Apanya?” Balas Nodt pendek. Ini gilirannya untuk memilih tayangan favorit.

“Ya meeting sama klien kamu.”

“Eh iya!”

Nodt seketika bersemangat. Melupakan acara mencari tontonan apik dan menarik kakinya dari pangkuan Peter.

“Klien aku tuh ternyata CEO dari entertainment yang lagi naik daun. Tau ga sih, film-film mereka selalu booming belakangan ini. Jadi niatnya memang bikin event amal akhir tahun gitu. Undang banyak artis, influencer, dan media. Well mereka janjiin sih nama aku sama kantor juga ikut kena sebut dalam credits.”

Peter memperhatikan seksama, terkadang dia mengangguk tanda antusias akan ceritanya. Nodt tidak pernah bersemangat begini menceritakan sosok kliennya. He was just too professional, keeping his client's informations. Tetapi kali ini dia banyak mengungkapkan detailnya.

Peter kurang nyaman dengan situasi seperti ini.

Ada perasaan aneh datang kala Nodt mendeskripsikan bagaimana sekilas tentang pribadi pria itu. Perasaan aneh itu tumbuh bertahap memenuhi rongga dalam tubuh hingga sulit bernapas. Perasaan aneh itu mengambil alih kewarasan.

Mungkin Peter belum pernah mendengar suaminya bercerita banyak tentang pria lain. Hanya seputar sahabatnya, Nakunta, pula teman Nakunta. Beberapa tahun ini mereka berdua saling memiliki satu sama lain.

Sungguh Peter ingin lari menenangkan diri, sebab dia tak mungkin meminta Nodt berhenti. Ketika telah usai, Peter berhasil normal kembali. Dia kini paham arti perasaan aneh tak terkendali.

Apakah ini namanya perasaan cemburu? Atau bukan?”


`hjkscripts.


I. Pagi Hari Sendu

Saya belum pernah mengalami kejadian seperti hari ini. Dimana saya harus dikagetkan antara hidup dan mati. Suami saya itu sehat, rumah sakit hanya tempat untuk check up. Namun, hari ini untuk pertama kali beliau harus terbaring lemah.

Lega hati dirasa kala dokter menyatakan ini bukan penyakit serius. Demam, tapi saking tingginya sempat sebabkan menggigil hebat. Sebagai tindakan preventif pihak rumah sakit masih lakukan pantauan ulang dan harus dirawat.

Syukurlah kalau begitu. Dan rasa syukur saya mungkin tidak akan hadir jika lelaki dan jangkung dan putranya tak berniat datang ke rumah.

Atau mungkin ini jawaban atas harapku. Seolah semuanya serba kebetulan. Anak pertama saya pergi dan mobil cadangan di rumah rusak. Saya dan Bas panik sampai sama sekali tidak terpikir ada teknologi taksi online. Saya hanya menunggu dengan cemas sampai lelaki itu datang dan membawa kami menuju rumah sakit.

Lelaki itu adalah yang seharusnya saya panggil mantu, dan anaknya yang masuk daftar cucu.

“Mah?”

“Lagi ngelamunin apa?”

Saya sampai tak sadar suami sudah siuman saking larut dalam dunia sendiri. Saya beri senyum dan langsung membantu beliau yang ingin duduk.

“Maaf ya, papa ngerepotin kamu.”

Saya menggelengkan kepala. Sebab, bukan saya yang direpotkan. “Papa nggak ngerepotin, malah aku yang ngerepotin orang lain. Kebetulan tadi si itu datang ke rumah sama anaknya.”

Lihat, saya masih belum bisa memanggil namanya.

“Sudahlah, ma. Ikhlaskan saja didi sama pilihannya. Toh mereka sudah menikah, sudah ada anak yang jadi tanggung jawab. Lupakan saja yang lalu, dimaafkan saja luputnya.”

Benar, harusnya saya bisa semudah itu untuk melupakan dan memaafkan. Saya sedang mencoba dan itu sulit.

“Ma, percaya sama papa didi sudah ada di tangan orang yang tepat. Dia sudah cukup untuk buktikan dan tebus kesalahan. Sekarang gilirannya mama yang ambil keputusan.”


II. Harapan Masih Ada

Beneran deh lu semua seenggaknya sekali ngerasain ada di situasi kayak gue gini. Gue ada di antara bapak dan oma. Literally bertiga, soalnya didi gantian jagain papanya. Kita duduk di salah satu bangku kafetaria rumah sakit karena belom laper.

Gue masih bisa rasain aura tegang yang menguar dari masing-masing dua orang ini. Meskipun sekarang lebih tenang tapi gue masih kebawa banget rasanya dibentak sama beliau di depan gue.

Pun ketika makanan udah pada dateng cuma ada suara bapak yang mempersilahkan makan sebagai tanda kesopanan. Itupun oma gak bales apa-apa.

Sumpah rasanya mau kabur aja makan di tempat lain. Perut gue tiba-tiba mules kena akumulasi hawa tak kasat yang mengitari sekeliling. Mana bete banget sama penjualnya, gue udah bilang rawonnya gak pake kecambah malah dikasih banyak bener.

Gue inisiatif ngumpulin kecambah yang untungnya belum kesebar bebas dan berenang dalam kuah. Seperti biasa yang begini ini tugasnya orang tua.

“Bapak, ada cambahnya.” Ujar gue sedikit merengek. Biasanya bapak sama didi pasrah aja dijadiin pembuangan makanan yang gue kurang srek. Tapi kali ini bapak nolak.

“Jangan dikasih bapak dek, soto ini gak cocok dikasih cambah.”

“Terus gimana? Adek buang aja? Katanya gak boleh buang-buang makan.” Kata gue masih berusaha bikin bapak nampung cambah gue.

“Sini kasih ke oma.”

Gue sama bapak reflek noleh barengan ngeliatin muka oma. Gak salah denger kan? Tangan gue mendadak geter tapi mencoba stabil biar cambahnya gak jatoh-jatoh dan mendarat mulus di piring rawonnya oma.

“Maafin adek ya, ma.” Sahut bapak ngerasa gak enak hati.

“Gak usah minta maaf. Jadi orang tua itu memang gini.”

Serius gue sama bapak masih speechless dan jatohnya bengong denger oma ngomong pake suara yang biasa aja. Gak ada amarah, gak ada emosi. Kita udah kayak keluarga dimana tugasnya saling memahami.

Terus pas sesi sarapan selesai dan bapak udah bayar oma berdiri dari duduknya.

“Makasih.” Ucapnya kepada bapak.

“Jangan makasih, ma. Udah kewajibannya Job. Cuma makanan bukan apa-apa kok.”

“Bukan,” Oma gue perhatiin berhenti sebentar. Beliau seperti menimbang sesuatu, ragu mau mengatakan sesuatu.

Detik kemudian gue akhirnya menjadi saksi waktu oma ngambil tangan bapak buat digenggam. Beliau tatap mata bapak tulus. “Mama terima kasih sudah bantu papa.”

“Sepertinya tugas saya memang harusnya fokus sama papa menata hari tua.

“Kalau begitu saya titipkan Bas sama kamu.”

Hari ini akan gue catat sebagai sejarah paling indah dalam hidup. Bagai matahari kembali terbit membawa harapan baru.


`hjkscripts.


I. Bagian Satu : Pikiran

Sebagai seorang lelaki yang tengah berusaha beginilah langkah gue. Dalam tujuh hari yang ada di kalender, gak ada satu haripun di jadwal gue yang kosong. Setidaknya belakangan ini. Gue yang lima hari disibukkan bekerja, atur komunikasi sama anak, dan dua hari akhir saatnya berubah pake kostum bertuliskan menantu budiman.

Gue gak peduli gimana nasib fisik dan mental gue. Pun, gue sudah sampai ditahap mati rasa. Capek ya tidur, setres ya ngopi, kalo ada anak di rumah kosplay jadi bujang mahasiswa alias ngajak tanding PS. Kalo ditanya menikmati atau gak, gue cuma bisa yaudahlah, mau gimana lagi. Idup ya baiknya emang dijalanin aja.

Pada proses ini gue patutnya bersyukur aja. Tanpa siapapun sadari mama suami gue udah gak sekejam dulu. Masih marah marah, masih pedes mulutnya tapi ya mendingan lah. Senjata yang gue persiapkan tiap tempur cuma wejangan ibu. Harus tahan, gak boleh emosian. Diusir ya bertahan, dicaci dijawab senyuman. Soalnya, kita gak pernah tau mungkin yang sedang gue hadapi cuma sebatas ujian.

Setelah beberapa menit gue habiskan buat desek-desekan sama ibu-ibu di pasar, akhirnya gue berhasil kembali ke mobil dengan keadaan hidup. Buset dah padahal cuma jualan kue basah warna-warni tapi yang beli harus berani mati. Gue si paling tinggi kalah sama ibu yang berani adu belati.

Gak lagi-lagi dah beli di situ. Ntar gue bakal survei dari internet sama temen kantor tempat beli jajan pasar yang antriannya lebih manusiawi.

Sampainya gue di rumah mama, gue lihat beliau lagi senandung sambil siram taneman. Bahagia banget kayaknya hari ini. Tapi pas gue ucapkan salam dahi beliau mengkerut sebel. Gue pede aja tetep senyum walau hati ketar-ketir, kulit kepala keringetan bukan main.

“Mah.” Gue mendekat diikuti Mark buat salim. Beliau langsung nyemprot gue pake kata-kata mutiara.

“Ngapain kalian ke sini? Ngerusak mood saya aja.”

Gak papa, yok semangat yok. Demi dua keluarga yang bakal bersatu kemudian hari.

“Job mau nengokin mama sama papa aja. Mama sama papa gimana keadaannya?” Beliau acuh, lebih fokus sama kegiatannya.

“Ini mah, Job bawain kue basah. Job beli di tempat langganan mama kok, pasti enak.” Mama masih gak peduli.

Namun, gue masih tetap wajib bersyukur. Sebab, apapun yang gue bawa nggak diterima pula gak ditolak begitu aja. Namanya juga proses. Dari pertama kali gue melakukan ini terus sekarang gak diusir dari rumah udah sujud syukur banget. Pun, info dari suami gue jajanan yang gue bawa kadang di makan kok sama beliau tapi pas gak ada gue aja.

“Kak, adek!” Udahlah Bas itu ibarat malaikat penolong gue dikala situasi pelik. Buktinya dia dateng saat gue udah bingung mau ngobrolin apa lagi.

“Didi...”

“Adek, anak kesayangan didi kangen banget sama kamu.” Jadilah dipertontonkan adegan teletubbies. Padahal pas tinggal satu atap jarang banget manja begini.

Tapi gue juga gak bisa pungkiri kalo gue juga kangen berat sama suami. Gue sudah gak biasa hidup sendiri. Apalagi perkara jatah sehari-hari. Serius dah, main solo udah gak seenak waktu masih mandiri.

Gue kangen godain sampai pipinya merah, terus bibirnya gue bakal jamah. Dia pasrah, berakhir lepaskan helai kain yang kian basah. Lalu, kita akan bergerak liar sembari mendesah melupakan segenap keluh kesah.

“Kak?!”

Bangsat!

“Iㅡiya?” Reaksi gue bodoh.

“Ayok masuk! Mikirin apa kamu sampe ngelamun gitu?”

Aduh, nggak kok sayang. Gak mikirin apa-apa.


II. Bagian Dua : Pandangan

Sebagai seorang ibu gak ada satupun dari mereka yang ingin anaknya tak hidup dengan baik setelah diri ini menghilang dari dunia. Sama, saya pun begitu. Saya ibu dari dua anak perempuan dan satu lelaki.

Mungkin bagi dua putri, saya adalah satu dari sekian orang tua yang gagal bagi kasih secara rata pada tiga anaknya. Saya akui sedikit begitu, tapi saya lakukan bukan tanpa alasan.

Putri-putri saya itu semua wanita tangguh. Mereka tumbuh dan belajar memandang dunia dengan cara yang sama dengan orang dewasa pada umumnya. Hidup dalam dan luar rumah mereka balance, tau harus bagaimana bertindak, tau bagaimana bersikap atas positif dan negatif yang datang di hidup mereka. Melihat perkembangan mereka saya sedikit punya rasa takut.

Berbeda dengan anak bungsu lelaki saya namanya Bas. Tidak seperti anak lelaki sebayanya dia tipe si pemalu. Hidupnya hanya sebatas rumah dan sekolah. Teman yang dia punya hanya saya, papanya, dan dua kakak perempuan.

Sebagai anak lelaki Bas kecil terlalu polos. Saya ingat jantung pernah hampir copot waktu dia mau dibawa orang gak di kenal hanya karena mengambil bola basket yang tak sengaja terlempar ke luar pagar. Jika saya tidak keluar saat itu, hari ini saya tua bersama rasa penyesalan.

Saya kaget, ketika suatu hari Bas yang tak pernah meminta apapun berbicara kepada kami orang tuanya.

“Didi mau sekolah di luar Jakarta.”

Bas, kalau kamu tau perasaan mama hari itu kamu mungkin gak akan pergi ninggalin mama ke Surabaya. Namun, saya hanya orang tua yang enggan menghalangi keputusan anak saya, saya tak mau jadi ibu kurang support bagi anaknya. Sehingga, ketika semua cara sudah saya lakukan demi membuatnya bertahan gagal, saya pun melepaskan dia.

Tidak ada hal negatif yang harus membuat saya ketakutan semenjak ditinggal Bas ke Surabaya. Dia mulai mendapatkan teman dan saya bahagia sekali waktu liburan semester tiga ada satu lelaki yang dia bawa untuk berlibur di Jakarta. Namanya Job, anak asli Surabaya. Katanya dia ini teman yang paling dekat sama Bas.

Hari itu saya tak sadar bahwa kedekatan mereka sebab ada intensi lain dari lawannya. Di akhir masa studinya, kala Bas sudah dinyatakan lulus kuliah anak itu datang lagi ke rumah saya. Berbekal pekerjaan dan tabungan seadanya dia meminta izin agar diperbolehkan meminang putra saya.

Jujur saya berbohong saat itu mengungkapkan bahwa saya sudah punya jodoh untuk anak saya ataupun ada darah etnis yang harus keluarga saya jaga. Hal itu saya lakukan atas reaksi dari ketakutan saya. Saya akan kehilangan Bas bukan hanya selama empat tahun, namun untuk selamanya. Anak yang saya besarkan bukan putra saya lagi setelah ini.

Wajar bukan aksi saya? Inilah naluri seorang ibu. Saya hanya ingin seseorang yang menjadi pendamping anak saya bisa melindungi dia sama kuat dengan saya. Saya ingin seseorang yang ditakdirkan dengan anak saya sama besar sayangnya dengan saya.

Namun, malah kecewa yang saya terima. Bukannya membuktikan, mereka memilih lari pergi meninggalkan saya sendiri.

Puluhan tahun saya sering berpikir, apasih hebatnya lelaki jawa satu itu hingga anak saya rela melepas ikatan keluarga? Seberapa besar valuenya hingga anak saya terlena?

Maka di sinilah saya berdiri, menjadi saksi bagimana dua insan lelaki itu berkomunikasi. Pasang netranya berbinar ketika bersihtatap satu sama lain. Lengkung bibirnya melontarkan senyum paling manis untuk disuguhkan, dan gestur tubuhnya saling memberi kenyamanan. Mereka tak berbohong dengan narasi buatan mereka Iya kami benar bahagia.

Apakah ini jalanmu untuk menunjukkan bahwa keduanya patut bersama?

Lantas, apa saya punya pilihan tetap pada pendirian saya jika ujung dari kisah ini adalah kebahagiaan anak saya?

Tolong satu kali lagi tunjukkan pada saya apapun, jika memang dia takdir putra saya terlepas dari kesalahan masa lalunya. Sebab, saya tidak mau terjerumus pada lubang penyesalan.


III. Bagian Tiga : Nurani

Aku menggenggam erat pergelangan tangannya. Menarik tubuhnya berdiri agar mengikuti. Dia tak berkata, dia jadi si penurut di atas tanah ini. Akulah yang berkuasa.

Sebelum memasuki ruang lebih sempit, aku memastikan sekitar. Anakku entah ada dimana. Persetan dengan orang, ada tugas yang harus aku selesaikan.

Kala pintu berhasil terkunci, aku mendorongnya hingga terhimpit partisi. Aku berjinjit, setarakan bibir dengan bibir hingga serupa refleksi. Deru napas terdengar bak melodi klasik pembangkit birahi.

“You put it, did you?” Suaranya parau mencoba interogasi.

Tawa licik tak bisa kutahan lagi, “When I said mau cium, it means something more than that.”

“Youㅡ” Aku menciumnya menggoda.

“It's getting hot inside, huh?”

“Hum.”

“Then, i'll write them good reviews and five stars as well.”

“Sure. But, now you tell me how deserve you're for five stars little slut.”

Kami tertawa dalam panas api membara. Aku mencumbu tiap jengkal bibirnya. Oh lord, i miss him so bad that i'm going to fuck him till dawn.

Hahhh Ahhhh.

Dia mulai bersenandung lagu yang paling aku gemari. Bibirku mulai mencari bagian tubuhnya yang belum basah terjamah. Lima jemari tak bisa diam saja, mereka bersatu menembus lapisan kain yang menutup gundukan pembawa bahagia.

Ohh shit, sayang.

Teriaknya kacau saat mereka mulai menggenggam dan bergerak seduktif mengaktivasi merapi yang masih terjebak di alam mimpi.

“It's getting hard down here, dad.”

“Please him, sayang.”

Aku bersimpuh bagai pengawal kerajaan akan menghadap pada baginda. Kala pintu dibuka, aku disambut olehnya yang tengah memamerkan pedang. Aku datang kemari sebagai abdi yang sanggup menuruti setiap instruksi.

Pertama aku menggenggam, penampakannya panjang, kuat, dan kokoh. Lalu, aku mulai membelai, perlahan bagai benda paling berharga. Selanjutnya aku memasukkan pada lubang yang dianggap rumah, kugerakkan maju mundur sebab masih terkesima dengan bentuknya.

Ahhhh Hhmmm

Dia telah basah bermandikan saliva. Terkadang aku juga bermain dengan dua zakarnya.

Shhhh basss

Benar, desiskan namaku begitu. Terpacu, aku menggebu-gebu. Irama bibir dan jariku mulai tak beratur hingga memicu kedutan hebat akan tibanya air serupa susu. Terakhir, lenguhan panjang menjadi tanda puasnya permainan babak satu.

Dia lantas menggendongku, menjamah bibirku meminta berbagi cairan pembangkit energi. Dia meletakkan punggungku di atas singgasana berlapis sutra. Aku adalah seorang tawanan dalam kuat jasmaninya. Aku terperangkap dalam penjara tanpa gengsi.

Lelakiku dengan cepat melucuti kian banyak pelapis diri. Berpendar sangat binar matanya menangkap polos ragaku. Dia pun sama, melepas beban tubuhnya mencari kehangatan. Kini kita tak berinci, melekat kulit berbagi peluh. Saliva meleleh sebab liarnya gerakan cumbu.

“Kak Job, don't playing with me.”

Ughhh Sshhh Hhhh

Aku mendesahkan namanya, memohon kepada baginda agar berhenti bermain dengan lubang senggama. Darah semakin berdesir, tubuh mulai merinding dibuatnya.

AHHHH!

Teriakku akan serangan tiba-tiba. Satu jemari panjangnya berhasil menginvasi. Dia bergerak keluar masuk dengan ritme perlahan. Lubang dihentak, ular memberontak. Semakin dijarah, muncratlah cairan bisa.

“Aku kangen rumah, sayang.” Bisik suamiku dengan suara bariton. Tak lupa dia mengecup, meniup cuping membuat semakin menggelinjang.

Dengan napas masih memburu, aku terbata memberi validasi. “Then come home.”

Dia tersenyum puas, melumat bibirku singkat lalu membuat banyak tanda tinggalkan bekas.

Aku bagaikan sebuah konstitusi yang ditinggal pemimpin negeri. Sehingga datanglah bangsa lain yang ingin menguasai. Dia masuk, diruntuhkan seluruh bekas kekuasaan. Dia mengoyak hebat, bergerak hingga aku tak berdaya. Hanya erangan pasrah yang menjadi sebuah tanda bahwa aku adalah miliknya.

Ahhhh uuhhhh hhmmm aahhh

“Kamu sempit sayang...”

Gila aku dibuat gila, hingga lubang senggamaku menghimpit besar miliknya di dalam. Lama dia bergerak, memberikan kenikmatan tiada tara. Semua rasa rindu terbayar tuntas dengan persetubuhan.

Kala syaraf miliknya berkedut hebat dan gerakannya semakin kuat. Tangan-tanganku kian mengerat. Lantas, sahut-sahutan erangan panjang dan aliran hangat dalam lubang menjadi obat penyembuh sakit meriang.


`hjkscripts.


Bas Point of View.

Malam temaram begini aku mendadak nggak bisa tidur. Sejak tinggal di rumah mama aku merasa tidur sendirian di kamar seluas itu kurang nyaman dibanding waktu remaja. Mungkin karena kebiasaan itu sudah berubah setelah menikah dengan Kak Job, gak ada satu hari pun kita tidur berpisah. Aku kangen rumah.

Di bawah lampu ruang tamu yang masih menyala aku duduk seorang diri dalam sepi. Atas pangkuan tersedia album potret kenangan yang entah bagaimana juga ikut bersamaku. Kegiatanku mengenang masa lalu harus berhenti kala satu notifikasi sosial media mencuri perhatian.

looking4job mentioning you in a tweet

Lantas aku gak bisa nahan ketawa tiap baca tulisannya. Inget banget dulu kita beneran desperate gimana bangun rumah tangga stabil. Kita sampe harus hemat buat makan sama kebutuhan sebab uang gaji yang gak seberapa dibuat lunasin hutang yang sebenernya bukan punya kita. Tapi pas semuanya kelar, hal-hal baik terus datang sampai sekarang.

Aku tak sadar bahwa tawaku di tengah malam bisa bangunkan seseorang. Mama yang lagi bawa gelas air minum bukannya kembali ke kamar malah nyamperin ikut duduk di ruang tamu.

“Mama? Maaf suaraku bikin bangun, ya?”

Mama senyum maklum, malah heran dan kepo apa sih yang bisa bikin ketawa anaknya. “Seneng banget kamu? Lagi nonton apa?”

“Enggak kok, ma. Cuma ini loh Kak Job ngirim cerita lucu.”

“Oh.”

Terus gak ada sahutan lagi dari mama. Beliau cuma diem dengan ekspresi yang sulit aku artikan. Dia pandangi lamat bentuk tubuhku sampai jatuh pada buku di atas pangku.

“May I?” Izinnya.

Aku sebenarnya ragu untuk mengizinkan. Takut diperdengarkan komentar buruk tentang sosok di dalamnya. Namun, selama lima belas menit mama belum buka suara. Beliau hanya mendunduk, mengamati setiap potret perjalanan hidup keluargaku. Hingga sampai pada halaman penghujung, beliau raba sosok di sana.

“How old is he? Tanyanya sembari menunjuk paras remaja.

“Dua puluh, udah kuliah semester lima sekarang ngambil komunikasi.”

Lagi, beliau diam kembali. Jemarinya masih menari di atas lembar foto yang sama.

“Kenapa dia?” Ucapnya kembali, entah siapa yang dimaksuddia sekarang.

“Namanya Mark soalnya dia punya tanda lahir lucu menyerupai bentuk hati di lengannya. Terus, waktu pertama kali kita datang ke panti cuma dia yang berhasil curi atensiku. Aku tandai dia dalam ingatanku.”

“No, I mean him.”

Oh, maksudnya Kak Job?

Sebentar aku gak langsung menjawab. Pertanyaan kayak gini tuh bikin kita mau gak mau berangkat menuju nostalgia.

“Jatuh cinta itu gak butuh alasan, ma. Kadang dia memang jadi tipe kita atau timbul nyaman tanpa sengaja. Dan aku adalah yang kedua. We communicated that well back then. Kita nyambung dalam banyak hal dan komunikasi itu jadi perantara utama agar sinyal rasa suka bisa saling diterima.”

“Pada saat itu seolah semua serba kebetulan Bas masih sendiri dan Kak Job yang memang punya inisiasi. At first we tried, later we talked so much, and became comfortable to each other. He was simple, easy to pleased, understandable, yet reliable. Pokoknya ya dia cuma cowok biasa yang bisa bikin aku nyaman terus, ketawa terus sama dia.”

“Ma, soal dulu aku sama Kak Job memang salah sama mama. Kak Job tanpa sengaja sakitin hati mama semata dia takut kehilangan aku. We were both too young, aku cuma anak muda yang lagi tergila-gila kenal cinta. Tapi lihat sekarang, aku sama Kak Job udah bertumbuh dewasa, udah punya anak yang harus kita jaga berdua. Ma, harap kita cuma kita jadi keluarga besar yang harmonis. Keluarga aku dan Kak Job bisa jadi satu.”

Selepas panjang lebar aku bertutur kata, Mama gak sama sekali punya komentar apa-apa. Aku gak bisa baca pikirannya. Mama habiskan air dalam gelasnya, dan dia berkata, “Tolong gelas mama di bawa ke dapur ya.” Beliau beranjak, dan aku bisa lihat punggungnya hilang di balik pintu kamar.


`hjkscripts.


Cause no matter how old man gets, he never stops needing his mom.

Lelaki itu melangkah turun dari satu persatu anak tangga. Ketika di ujung hawa sejuk menyambut dirinya. Dia tersenyum hangat, pantas saja rasanya seperti masuk dalam surga sebab di sana duduk sang ibunda.

Tubuh jangkung kini duduk di samping paruh baya yang sedang sibuk menjahit. Rapat, dirinya enggan memberi jarak. Sudah lama dia tidak pernah sedekat ini dengan yang dicinta.

Semalam pemilik nama Job putuskan untuk berlari lagi. Namun, dia berjanji bahwa ini akan jadi terakhir kali. Maksud kepulangan bukan untuk bersembunyi, tetapi mencari motivasi agar kuat hadapi dunia kembali.

Kala masuk pekarangan Job disambut ibu dan bapak yang menunggu di bangku teras. Keduanya tampak serasi, bagai pemuda masih baru mengenal romantisasi. Apa bisa dia dan kasihnya merasa momen itu, dimana nanti hidup berdua di rumah tua dikelilingi pohon cemara. Memandang langit sore saling bersenandung sembari menikmati teh calendula. Memasuki musim libur, berharap suka cita menunggu kedatangan anak serta cucu yang datang dari jauh sana.

“Leh?” Pupus sudah bayangannya atas panggilan sang ibu.

“Lagi mikir apa toh? Kok sampai dipanggil ndak nyaut-nyaut.”

Malu, dia malu mau menjabarkan angan-angan belaka. Sedangkan keadaan sekarang dia pulang sendiri menjinjing buah simalakama.

Job merebahkan tubuh, kepalanya dia letakkan menginvasi pangkuan ibunda tak peduli sisa kaki jenjangnya melayang sebab tubuhnya lebih panjang dari sofa. Dua netranya menatap kosong televisi yang menayangkan sinetron bertema cinta remaja. Seolah satu dunia saat ini sedang menertawakan dirinya.

Persetan apa kata dunia, dirinya sudah berlindung di bawah naungan teraman. Beliau yang terlihat lemah adalah wanita lebih kuat dari pada pahlawan super. Dia adalah seorang ibu, she taught me that fear is not an option. Pun begitu, beliau tak pernah melarang seseorang sesekali menjadi lemah.


Job Point of View.

Ibu tak berkata, namun belaian lembut pada rambut tebal gue jadi penanda bahwa beliau siap menampung keluh kesah anaknya.

Gue jarang nangis, hampir gak pernah malah. Kalo ada masalah pun paling parah ya mabok. Tapi gue gak tau kenapa jatuh di atas pangkuan seorang ibu bisa bikin emosi dalam diri terakumulasi jadi satu di hati. Satu persatu mereka datang, semakin banyak buat tambah sesak. Mereka mencari ruang, berlomba saling mendorong yang lain agar keluar hingga yang kalah harus rela menjelajah lebih jauh sampai bertemu kelenjar air mata. Semakin banyak, seolah sebuah bendungan penuh yang sebentar lagi akan longsor.

Satu tetes air kelemahan tanda gue udah gak sanggup buat menghadapi sendiri. Gue mulai bercerita tanpa ada bumbu yang kurang. Gue bercerita meskipun terbata-bata. Diakhir penutupan kisah, akhirnya lega bisa dirasa.

“Dua orang saling cinta itu memang ndak salah.” Ibu mulai bersuara.

“Dua orang saling cinta memang bener patut kok bahagia.” Lanjutnya.

“Semua orang di dunia boleh cinta sama siapa saja, ndak mandang usia, status sosial, agama, bahkan jenis kelaminnya apa. Hanya aja yang jadi masalah ketika kalian sudah bicarakan pasal menikah. Menikah itu bukan cuma ajang mempersatukan dua orang saling menghasihi. Tapi menikah itu juga jadi ajang mempersatukan dua keluarga. Maka dari itu ada yang namanya restu.”

Haha gue dalam hati ketawa, kesindir banget sama omongan ibu.

“Orang tua itu sifatnya beda-beda loh, Le. Kalau ibu dan bapak manut sama keputusan kamu. Kamu bilang bahagia sama Bas, dan Bas juga bahagia sama kamu ya ibu ndak ada hak lagi untuk sangsi. Mertua kamu ya tentu beda sama ibu. Tapi apapun itu tujuan orang tua semua sama kok, Le. Kita mau yang terbaik untuk anaknya.”

“Mamanya Bas itu bukan jahat, dia hanya takut anaknya dapat jodoh yang ndak baik. Beliau mungkin melarang kamu semata-mata ingin melihat usaha kamu buat pinang anaknya. Sudah kamu berusaha sekeras itu?”

Anjir, lagi-lagi gue ketampar.

“Belum, buk.” Tentu saja belum. Job itu si pengecut, Job dulu gak segigih itu. Dia malah jadi ular berbisa yang menebar racun dalam otak pacarnya. Dia si pria manipulatif yang ngajak kabur pacarnya dan ninggalin keluarga.

“Dari masalah ini kamu bukan dihukum, ibu yakin sekali ini bukan akhir cerita rumah tangga kamu. Melainkan kamu diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan dua keluarga.”


`hjkscripts.


Mark Point of View

Masa paling bahagia dalam hidup gue ketika jadi salah satu dari jutaan bayi yang dibuang akibat bejat orang tuanya dan dipilih untuk diadopsi. Gue mungkin gak akan inget gimana waktu pertama kali bapak dan didi datang ke panti asuhan tempat gue bernaung. Terpenting saat dewasa kini gue bisa tinggal di rumah bagus, serba kecukupan bersama dua orang tua yang sayang tak terhingga.

Bahkan saking bersyukurnya, tatkala orang tua gue memberitahu fakta asal-usul gue, bukan kecewa yang hadir bersarang melainkan kelegaan. Gue lega sebab ditakdirkan ketemu mereka. Hingga saat ini gue pun dua orang tua gue gak ada terbangun tembok tinggi yang membatasi.

Kita setuju bahwa darah yang mengalir di tubuh masing-masing berasal dari sumber yang sama. Darah gue adalah percampuran kasih sayang bapak dan didi yang telah mereka bangun. Gue juga sebagai peran utama dari kisah perjalan cinta mereka.

Sedikit yang gue ceritakan di atas mungkin bisa jadi kisah menyentuh hati. Kalo ada award buat keluarga terharmonis, gue yakin nama bapak akan dipanggil buat nerima penghargaan. Tetapi, yang namanya hidup berumah tangga gak ada yang sempurna. Sebagus apapun rumah tampak luar, mau dibangun sekokoh apapun dengan menghadirkan perancang paling kompeten dibidangnya, pas lu masuk ke dalam pasti ada cacatnya. Entah ruang tamunya berantakan, entah dapurnya terciprat noda, atau ada lubang kecil di dinding bekas paku penyangga pigura.

Sama keluarga gue juga gitu kok. Gue pernah diceritakan bahwa dinamika cinta bapak dan didi gak seindah omongan orang. Gampangnya mereka berdua kehalang sama etnis. Bapak yang asli orang Jawa dan didi punya darah china. Akibatnya gue juga jadi korban. Gue cukup mengerti dan paham buat maklumin, seenggaknya orang tua gue beneran udah resmi menikah. Jujur gue juga pengen disayang sama oma dan opa, pun ketimbang begitu gue mencoba untuk mengurangi nafsu. Bagi gue sayangnya bapak dan didi sudah cukup.

Baru gue ketahui tentang fakta sesungguhnya bahwa perkara ini lebih rumit daripada keliatannya. Menjadi saksi orang tua gue berantem selepas dari acara bikin gue kaget bukan main. Cerita masa lalu itu gak sependek apa yang pernah gue dengar. Cerita masa lalu itu gak berhenti sampai di situ. Kisah itu masih diputar hingga detik ini. Bapak dan didi memang menikah, namun mereka juga berlari meninggalkan masalah.

Dan setelah gue telaah lebih jauh, sebagai anaknya pun gue bingung gimana cara atasinya.


Beranjak sejenak dari atas tempat tidur mungkin bukan satu solusi buat nyelesein perkara. Tapi beranjak dari kasur buat duduk di boncengan motor cowok satu ini mampu menghilangkan sejenak beban derita. Wajah dan kepala gue yang tak terlindung apapun, diterpa angin malam yang tengah bergerak konstan seakan mereka juga membawa pikiran buruk di dalamnya.

Gue melingkarkan dua lengan dipinggang cowok yang lagi fokus liat jalan. Selanjutnya, kepala gue mendadak berat yang membuat gue mau gak mau membagi beban di atas bahunya. Biasanya cowok ini bakal ngomel, terus lengan gue diceples, paling ngeselin dia gerak-gerakin badannya biar gue mau ngelepas. Namun hari ini, seolah dia sadar lantas dengan sengaja menawarkan diri untuk bahunya dipinjam.

“Jangan tidur!” Katanya kenceng. Bahunya dia gerakkan sedikit takut gue ngantuk.

“Enggak,”

Gue merubah posisi kepala sedikit. “Gue gak tidur.”

“Abis ini nyampe rumah!” Sahutnya gak nyambung. Yakin dia gak denger jawaban gue.

“Gue gak mau pulang.”

“HAH?!” Beneran deh, dengerin musik rock kelamaan gak bagus buat pendengaran.

“Gue gak mau pulang, Nakunta!” Kata gue lebih keceng.

“Pulang aja, udah malem takut didi lo khawatir. Besok gue ajak keluar lagi kalo masih suntuk.”

Ya udahlah gue pasrah. Toh mau ngajak keluar sobat kampus gue juga lagi mager buat motoran sendiri. Bisa jadi gue sama bapak gak ada bedanya, lari dari masalah. Paling parah nanti ditambah mabok.

Sampai di depan pager, Nakunta langsung pamit balik. Rasanya hampa ketika melihat motor dan pemiliknya perlahan menjauh. Gue menghela napas sebentar, persiapkan mental buat masuk ke rumah.

Bangsat!

Gue mengurungkan buat buka pintu ketika ada suara bapak dan didi yang lagi ngobrol pakai suara tinggi di dalem. Doa beserta harapan gue di jalan mungkin ikut kebawa angin atau jatuh kelindes mobil. Gue berharap bapak udah pulang ke rumah. Iya bapak udah pulang tapi maksud gue bukan gini. Gue maunya disambut, ditanya abis darimana sama siapa? Ditanyain udah makan apa belum? Enak atau nggak makanannya yang akan berakhir sebuah ajakan.

malam minggu kesana bertiga, yuk!

Pupus sudah angan gue. Hancur sudah rasa percaya diri yang sekuat tenaga gue bangun. Sekarang ketakutan itu datang lagi, mengitari diri gue yang berakhir terduduk di lantai teras. Pertanyaan itu menghantui gue kembali.

Apakah keluarga gue akan baik-baik saja?


Job Point of View

Gue sudah ada di rumah sebelum Bas kembali dari healing sejenak. Dia pasti kepikiran, gue kenapa bocil banget yak pake kabur segala.

Bas dateng, gue patut berterima kasih sama dua sobat terbaek sepanjang masa yang udah bantu jagain suami gue. Seenggaknya masih ada sedikit senyum yang tersisa. Waktu dia masuk dalam rumah dan lihat gue hal pertama yang dia lakuin adalah memanggil nama gue gak percaya. Selanjutnya ada gue yang inisiatif peluk dia juga minta maaf.

Kita akhirnya baik.

Masalahnya hari ini gak cukup sampai di pelukan sayang. Setelah keadaan cukup tenang, gue rasa inilah saatnya untuk mengutarakan. Gue ajak dia duduk gak lupa sama teh anget.

Biasanya situasi nyaman kayak gini persen berhasil dan maksud tersampaikan jadi besar. Tapi, realita belum tentu mengijinkan. Ternyata, masalah keluarga gue belum boleh finish digaris ini.

“Aku boleh ngomong sesuatu ya, sayang?” Bas mengangguk mempersilahkan.

Gue tentu masih inget jelas ketidaksengajaan tadi pagi. Ketemu kakaknya Bas juga menjadi kunci pembuka jalan pikiran gue. Setelah gue merenung, gue baru menyadari kalo penjahat utamanya di sini adalah gue.

Gue yang tanpa sengaja mengambil seorang anak dari dekapan sayang mamanya. Bertahun-tahun mereka gak bisa ketemu sebab anaknya gue bawa jauh dari jangkauan.

“Aku tadi ketemu Kak Clara,” Gue berhenti sejenak, tatap lamat perubahan ekspresi suami gue.

Setelah gak ada tanggapan berarti gue lanjutkan, “Kakak kamu cerita banyak tentang kamu sama mama. Aku yang jahat ya, sayang?”

“Maksud kamu?”

Gue angkat tangan kanan, gue belai pipi berisinya perlahan. Obsidiannya bergerak seolah sedang mencari jawaban pada punya gue. “Aku yang jahat udah pisahin kamu sama mama bertahun-tahun.”

“Huh,”

“Aku masih gak paham sama kalimat kamu, kak.”

Dari pipi turun menuju bibir. Gue usap ranum daging merah muda itu perlahan.

“Mama sampai pindah ke Surabaya demi kamu. Mama cuma kangen sama kamu.”

Lalu dari bibir, gue menggenggam kedua tangannya. Gue selipkan jari-jari gue disela milik dia. Gue patri tiap lekuk wajahnya, gue pahat dalam memori.

Gue takut, keputusan yang telah gue buat bikin dia membenci gue dan gue gak akan bisa ngelihat dia lagi.

“Kamu,” Gue senyum meskipun sulit mengungkapkan kata-kata.

“Kamu kembali ya ke mama. Kembali ke keluarga kamu.” Ucapku putus asa dibarengi satu bulir bening luruh dari pipinya.

Belum sempat gue usap, genggam tangan kita dia hempaskan begitu aja. Dia berdiri, menatap gue dengan begitu kecewa.

“BERANINYA KAMU!”

“BERANINYA KAMU ANGGAP PENGORBANANKU SELAMA INI SEPELE!”

Gue ikut berdiri, mencoba meraih jemarinya lagi. Gue masih ingin ungkapkan beberapa kata lagi. Namun, Bas terlanjur banyak kecewa.

“Cuma ini caraku buat tebus dosa ke orang tua kamu.” Gue membela diri.

“Pengecut! Brengsek kamu! Aku kira dengan kamu pergi, dengan banyak waktu untuk berpikir di luar sana bikin kamu paham maksud aku. Ternyata aku salah, aku salah ikuti kata-kata dari lelaki pengecut kayak kamu.”

“Aku seneng banget kamu pulang. Aku kira kita akan ngobrol dengan hati tenang. Aku kira ngobrol kita akan saling nguatin satu sama lain. Aku kira setelah acara sakral ini kita akan setuju buat berhenti lari dan menghadapi. Apa ini? Dari sekian banyak opsi kamu pilih menyerah.”

“Bas denger duluㅡ”

STOP!” Sunyi senyap jadi soundtrack utama dari adegan menegangkan.

“Aku muak,” Katanya. “Kamu mau aku pulang kan? Fine, aku bisa pulang sendiri tanpa kamu anter.”

Malam ini sekali lagi gue hancur.


`hjkscripts.


Bas Point of View

Tertawa, gelaknya terdengar bahagia. Takut aku takut melangkah maju dan merusak binarnya. Aku mampunya berdiri dari jarak jauh begini, daripada memaksa masuk yang pasti akan disambut kicauan sepi.

Aku gagal bersembunyi setelah sepasang netra mampu identifikasi kehadiranku di sini.

“Bas!” Celetuknya. Semua pandangan berbeda ekspresi terpancar dari tiap paras manusia. Dengarkan, dunia jadi mendadak sunyi.

Dari sekian banyak orang hanya satu yang berani menghampiriku. Dia berlari bersama senyum menawan tanpa henti dan berakhir memelukku sekuat hati.

“Akhirnya kamu mau dateng juga. Aku kangen banget sama adek kecil aku.” Bisiknya tulus.

Perasaanku campur aduk. Salah satunya adalah lega. Lega, setidaknya aku tak benar-benar tersisihkan. Lega, sebab aku masih ada yang menginginkan.

Kala dekapannya terlepas, aku merasa kehilangan. Bisakah aku minta dipeluk lebih lama agar aku dapat merasakan perasaan itu kembali.

“Kak, maaf aku baru bisa dateng ke acara ini.” Iya, ini adalah acara pertamaku sejak kejadian dulu. Acara pertama yang diberikan surat undangan resmi terukir nama lengkapku, bukan hanya sebuah pesan ajakan dari kakakku.

“Gapapa, aku tau kamu sibuk.” Balasnya. Lalu, perhatiannya jatuh pada anak lelaki muda di sampingku. “Ini anak kamu?” Aku mengangguk.

Mark sumringah ketika pipinya dicubit kecil tanpa aba-aba. “Mark ya? Udah gede keponakan aku! Inget ga dulu kamu masih kecil banget pas pertama kali ketemu aku.”

“Inget, tante.”

“Eh, yuk kita ke sana! Acaranya mau dimulai.”

Satu kali, dua kali nafas ku hirup dan dihembus sebagai langkah mempersiapkan diri. Apapun yang terjadi hari ini, aku hanya cukup menjalani. Biarkan masa lalu jadi sebuah memori.


Memasuki dalam lokasi acara aku disambut merah menyala. Bagi etnis kami merah melambangkan keberuntungan, pembawa nasib baik, dan suka cita. Namun bagiku ada dua kemungkinan, entah memang ini hari keberuntungan atau kobaran api tanda memasuki neraka.

Semakin mengerat genggamanku hingga beberapa kali bisa kurasa belaian menenangkan datang dari anakku. Dia setenang air di hilir, daripada aliran darahku yang berdesir sederas hulu.

“Mama, selamat ulang tahun ya. Semoga sehat selalu, semua doa baik aku harap melimpah untuk mama.” Pelukanku hanya dibalas geming. Ucapanku hanya dibalas gugu. Doa-doaku tak dibalas amin. Bahkan, sapaan penuh hormat dari anakku berakhir ditepis lalu.

Aku kunci pandang netra sendunya yang juga balik menatapku. Dia tersenyum getir, sakit batinku sebenarnya.

Gapapa ya, dek.

Pun suasana abu dibalik seketika jadi haru. “Sini salam ke opa aja!”

“Papa!”

Beliau yang baru keluar dari kamarnya adalah papa. Beliau ini yang sejak dulu mendukung setiap keputusan anaknya. Pula, beliau ini yang juga tak dapat mengambil keputusan apa-apa.

“Datang sama siapa kamu, di?”

“Sama anak aku aja.”

“Eummㅡ” Mark ragu akan memulai obrolan atau lebih baik diam.

“Opa, ini hadiah oma Mark titipkan ke opa aja ya. Maaf hadiahnya sederhana soalnya uang tabunganku belum banyak. Semoga oma seneng ya.”

Papa mengusap rambut Mark gemas, “Pinternya. Nanti opa kasih ke oma ya, nak.”

“Kalau bukan karena kakak kamu yang paksa mama. Kamu selamanya gak akan injakkan kaki di rumah ini.” Bak bom atom yang tengah meledak akhirnya sebuah ucapan mampu beri kesakitan. Mama yang sejak tadi diam bisu mampu bersuara.

“Ini ulang tahun mama. Mama hanya mau didatangi keluarga. Kamu malah bawa gak tau ini anak siapa. Asal-usulnya gak jelas! Mama gak terima dia masuk rumah ini, mama gak mau dia ada di sini! Merusak acara aja.”

Gak, gak ada satupun yang berani bantah ucapan mama saking speechless-nya. Aku sakit hati, namun lidah mendadak kelu. Kejadiannya masih sama percis seperti pertama kali aku beranikan diri datang membawa Mark untuk diperkenalkan. Mark yang saat itu masih berusia lima harus mendengarkan caci maki bahkan hingga sebesar ini.

Sebelum mama beranjak pergi beliau berucap, “Kamu pilih ikut acara ini sendiri atau pulang sama dia!”

Dan aku terperangkap dalam lubang dilema.


`hjkscripts.


Terhempas, tubuh gue dihempas. Ditarik kembali, gue pasrah dan lemas. Gue mana bisa melawan? Hilang sudah tatanan paras yang telah gue buat menawan. Kacau, batin serta fisik gue ancur berantakan.

Terombang-ambing raga tinggi dibuatnya. Gue hanya mampu terima dengan ikhlas. Sakit, bukan untuk deskripsikan badan. Raungannya, tangisannya, masih terdengar bersemayam lekat dalam telinga, pikiran, dan dalam nurani.

“Manusia jahat! Penculik! Beraninya kamu injakkan kaki kotor kamu di rumah saya!” Teriaknya lantang keluarkan beribu emosi yang enggan lebih lama dibendung.

Kalo mau tau cara bangun rumah tangga harmonis, konsultasi ke Job

Job tuh idupnya lurus kayak jalan tol, gak banyak neko-neko

Kalian lihat sendiri, Job si pemilik hidup sempurna, Job si penuh keberuntungan. Lelaki ini akan selalu jadi si paling menyedihkan ketika dihadapkan dengan keluarga suaminya. Lelaki ini akan jatuh, bertekuk lutut ketika dihadapkan dengan masalah cintanya.

Kala gue berhentikan mobil di depan rumah mewah bergaya china, gak perlu waktu puluhan menit untuk bikin gue hati gue meraung. Jantung gue mau copot gitu aja diperlihatkan lelaki remaja yang lagi duduk di pelataran jalan ditemani angin malam.

“Adek...” Panggil gue memastikan. Kepalanya terangkat, pipinya basah kuyup dibarengi matanya yang masih merah.

Pada saat dua maniknya bisa menangkap raga gue di depannya dia gak sanggup buat nahan semuanya. Dia berdiri, berjalan tertatih dengan dua lengannya terulur seraya meminta bantuan.

“Bapak.” Seruannya parau. Tubuhnya langsung gue dekap, gue biarin dia nangis meluapkan rasa sakitnya.

“Kita pulang. Gak apa dek, ada bapak di sini. Kamu punya bapak di sini.” Bisik gue menenangkan.

Mark menggeleng, kepalanya mendongak. “Nanti dulu, kita nunggu didi.” Katanya.

“Bapak udah bilang didi bakal jemput kamu.”

Dia tetep menggeleng. “Pulang bareng didi ya, pak. Adek juga belum pamit opa sama Tante Clara. Bapak nanti juga sekalian temenin adek pamit.”

Bener, gue gak bisa jadi menantu kurang ajar yang dateng gitu aja tanpa sapa keluarga suami gue. Cerita selanjutnya adalah gue jadi lelaki yang gak punya pilihan selain membiarkan harga diri diinjek sesuka hati di depan banyak mata yang memandang.


Rintik hujan turun seketika mengguyur ibu kota yang sejak seminggu ini ditemani mentari. Bersama pancaran kilat serta gemuruh, pun suhu udara dibuat agak dingin.

Sedingin apapun, bahkan hingga buat tubuh tanpa helai jadi menggigil tak dapat memerangi situasi panas antara dua lelaki dewasa.

“Kak?” Panggil yang lebih mudah pun diabaikan.

“Kak aku mau ngomong.” Sekali lagi masih enggan digubris.

Job beranjak, kaki jenjangnya mengambil keputusan untuk melangkah pergi. Dia ingin sendiri, setidaknya hingga emosinya pergi.

STOP! DIEM KAMU DI SITU!”

“Masalah hari ini kita bahas lain kali.” Ujar Job lirih. Hembusan napasnya seberat seolah tengah mengeluarkan batu.

Baru satu langkah kakinya akan bergerak kembali, suara putus asa Bas menghentikan. “Aku harus apa kak?” Utaranya lirih. Ada getaran pada setiap suaranya yang tengah mengalun.

“Kamu minta aku ikut ke Surabaya, ninggalin keluargaku, relakan status anak yang sampai sekarang pun aku gak peduli masih dianggap apa sama orang tua aku. Aku iyakan, peduli apa sama dosa dan durhaka. Kamu minta aku untuk menikah, aku nangis hari itu. Antara bahagia dan sedih sebab cuma satu keluargaku yang hadir. Aku buang semua konsep wedding dream di kepala aku, aku buang semua anganku buat menikah dianterin papa aku jalan di atas altar. Bahkan aku hapus harapku buat lihat mama nangis terharu lihat anaknya dicium sama pasangan pilihannya.”

“Aku bilang aku mau bertahan sama kamu, aku mau lewati beratnya sama kamu buat cari restu. Tapi apa? Kamu inginnya kita lari akan ketidaksiapan kamu. Gapapa, aku sanggup hidup begini sama kamu. Kamu tau gak tiap hari aku menunggu, aku nunggu kesiapan kamu. Kapan pun, aku akan siap. Aku kira hari akan jadi awal baik buat kita, buat dua keluarga kita. Kamu suruh aku pergi buat temui orang tua aku. Lalu Ini apa? Kamu diem, seolah malam ini aku penjahatnya. Sejak awal cuma kamu, cuma suara kamu yang aku percaya, cuma suara kamu yang aku dengar.”

Bas mengatur napasnya, habis sudah sabarnya. Satu langkah, dua langkah dia berdiri di hadapan lelaki jangkung yang tengah menunduk tanpa suara.

“Kamu itu pengecut.” Desisnya terakhir sebelum pergi menjauh.


`hjkscripts.


Job Point of View

Semalem akhirnya gue mencapai titik terendah dalam menjalani kewajiban jadi manusia. Kacau, hancur, berantakan entah apalagi kosa kata yang mampu deskripsikan keadaan gue saat ini. Gue hanya bersama dompet, satu unit mobil, dan baju bekas kemarin lantang-lantung cari distraksi di luar.

Gue yang sedang duduk ngopi di cafe elite bak pejabat lagi mempersiapkan Senin pagi. Padahal di dalam sini, pikiran gue isinya semrawut kayak benang ruwet. Kepala gue nyut-nyutan dan kopi tanpa gula yang sedikit demi sedikit gue sesap bagai pemberi rasa atas apa yang terjadi sama gue. Pahit, hidup gue rasanya lagi pahit banget.

Ditengah lamunan, gue ketawa miris. Kamu pengecut katanya. Valid, kalo dipikir-pikir emang gak bisa gue sangkal. Buktinya gue sekarang lagi lari untuk yang kesekian kali. Gue memilih jalan kabur dari masalah daripada menghadapi. Beneran kasus gue pernah kelilit hutang puluhan juta kalah pelik dari yang satu ini.

“Job?”

“Eh? Kakㅡ” Gue terperanjat akan sentuhan. Gue refleks benerin penampilan biar agak enak dipandang. Bekas gelas kopi dan piring kosong gue pinggirin biar ada ruang buat wanita cantik taruh barangnya.

“Job, kamu kerja disekitar sini?” Si cantik mulai buka obrolan, dia duduk anggun ambil kursi kosong tepat di depan gue.

Gue senyum, bingung juga jawabnya. Daerah sini bukan jangkauan main gue. “Kak Clara kok bisa di sini?” Bukannya jawab gue balik lempar pertanyaan.

“Kantor aku deket sini.”

“Oh.” Gue mengangguk.

“Job?” Panggilan itu suaranya halus sama seperti suara suami gue. Kadang gue mikir apa suara mama mertua gue juga selembut ini? Apa bisa gue jawab rasa penasaran gue kalo setiap beliau lihat gue hanya ada suara tinggi penuh amarah dan caci maki.

Selain suara, sentuhannya gak kalah lembut. Ada rasa hangat yang dialirkan dari telapak tangannya merasuk dalam permukaan kulit gue. Rasa hangat itu menjalar, bagi energi penguat biar tubuh kembali semangat.

Gue mau gak mau tatap mata kakak suami gue. Binar matanya jadi redup, rautnya ada khawatir. “Aku minta maaf ya ngewakilin mama atas kejadian semalam. Maaf aku belum bisa bantu kamu banyak.” Tuturnya bersalah.

“Nggak,” Gue coba senyum meskipun pahit.

“Gak papa, kak. Saya maklum, saya ngerti.”

“Job, It's okay to feeling hurt. Semalam memang mama berlebihan. Tapi aku mohon kamu jangan nyerah ya? Kasih mama sedikit lagi waktu sama sabar kamu, will you?”

Jujur gue gak bisa jawab bahkan sekedar meng-iya-kan. Sebab gue gak tau setelah ini akan jadi apa, apa yang terjadi. Mungkin, saat waktunya tiba gue pulang ke rumah, gue siap menerima resikonya dengan lapang dada.

Dari tempat gue duduk, gue hanya mampu memandang wajahnya. Gue amati gerik tubuhnya sejak minumannya disajikan hingga disesap sedikit cappucino dalam cangkir. Obsidian gue gak fokus, cuma andalkan dua telinga dengerin tiap cerita yang dia lontarkan. Sesekali gue tanggapi dengan sedikit senyuman dan anggukan.

“Kamu tau gak sih, Bas itu anak bungsu kesayangan mama. Saking sayangnya kadang aku sama Talia kadang cemburu. Aku bisa paham sih, Bas anak rumahan banget. Setiap papa sama mama butuh selalu ada dia yang bisa diandelin daripada aku sama Talia yang lebih suka sama dunia luar. Bas deket banget sama papa terlebih mama. Lucunya lagi, waktu Talia adek aku keterima sekolah di London mama gak komentar apa-apa. Langsung aja di kasih duit terus dianter ke bandara. Tapi waktu Bas si introvert akhirnya ambil keputusan buat kuliah di Surabaya, mama nangis-nangis.”

Clara ketawa kecil sambil cerita. Tanpa sadar dia kais kembali memori beberapa tahun lalu tentang keluarganya. Masih bisa dia ingat bagaimana suportif kedua orang tuanya akan keputusan dua putrinya. Namun, ketika itu berhubungan dengan lelaki bungsunya semua akan berubah jadi penuh pertimbangan.

Mama sampai rela bayar universitas paling bagus di Jakarta biar Bas urungkan niat sekolah jauh dari rumah. Masih bisa dia ingat bagaimana beliau nangis tiap nganter Bas di bandara setelah habis masa liburnya.

“Bahkan setelah mama putuskan buat pensiun dari bisnisnya dia pindah ke Surabaya. Ya ini alasan kita semua pindah ke Surabaya. Mama mau deket sama anaknya, seenggaknya kalo Bas gak bisa dilihat, mama tau kalo anaknya ada di dekat dia. Job, ini bukan sebab ada darah yang harus keluarga kita jaga kok. Mama sama papa gak peduli mau kamu orang Jawa, Sunda, atau manapun. Ini cuma tentang mama dan nalurinya sebagai seorang ibu.”

It might be sounds closed minded. But, a mom could be irrational when it comes to her child.


`hjkscripts.


“Nakunta”

Gue panggil namanya lirih. Cepet lihat gue, sebab gue udah gak sanggup nahan semuanya. Gue mau jatuh, tapi takut rasakan sakit. Tangkap gue, tahan gue, dekap gue.

“Nakunta”

Panggil gue sekali lagi, hanya saja kali ini dengan suara serak. Gue udah gak bisa nahan lagi air mata yang sejak tadi membendung di pelupuk mata. Jemari ini meraba sekitar, mencari apa saja yang penting kuat buat nahan beban tubuh gue, karena dua kaki yang bertugas untuk menopang tubuh mendadak lemah tak berdaya.

Lelaki itu akhirnya sadar, dia lari dari tempatnya berdiri sambil nenteng keresek nasi goreng, gak peduli beberapa orang di sana lagi manggil-manggil buat ngasih kembalian.

Gue akhirnya bisa jatuh duduk di tanah dengan lega kala lengan gue berhasil meraih ujung jemarinya. Gue aman, gue akan gak apa-apa.

“Lo kenapa, Mark? Siapa yang bikin lo begini?”

Bungkam, gue enggan menjawab. Gue masih punya rasa malu buat nangis di muka umum meskipun dada gue rasanya mau meledak saking nyeseknya ditambah kepala mendadak nyut-nyutan.

“Gue anter lo balik.”

Gue menggeleng kuat, sebisa mungkin meyakinkan Nakunta lewat pancaran mata memohon. Jangan pulang, gue belum mau masuk neraka.

“Lo ikut ke rumah gue kalo gitu.”

Iya, bawa gue pergi. Kalo bisa yang jauh sampai gak ada orang yang nemuin gue lagi. Rasanya gue mau menghilang dahulu dari muka bumi.


Bas Point of View.

Malam temaram begini aku mendadak nggak bisa tidur. Sejak tinggal di rumah mama aku merasa tidur sendirian di kamar seluas itu kurang nyaman dibanding waktu remaja. Mungkin karena kebiasaan itu sudah berubah setelah menikah dengan Kak Job, gak ada satu hari pun kita tidur berpisah. Aku kangen rumah.

Di bawah lampu ruang tamu yang masih menyala aku duduk seorang diri dalam sepi. Atas pangkuan tersedia album potret kenangan yang entah bagaimana juga ikut bersamaku. Kegiatanku mengenang masa lalu harus berhenti kala satu notifikasi sosial media mencuri perhatian.

looking4job mentioning you in a tweet

Lantas aku gak bisa nahan ketawa tiap baca tulisannya. Inget banget dulu kita beneran desperate gimana bangun rumah tangga stabil. Kita sampe harus hemat buat makan sama kebutuhan sebab uang gaji yang gak seberapa dibuat lunasin hutang yang sebenernya bukan punya kita. Tapi pas semuanya kelar, hal-hal baik terus datang sampai sekarang.

Aku tak sadar bahwa tawaku di tengah malam bisa bangunkan seseorang. Mama yang lagi bawa gelas air minum bukannya kembali ke kamar malah nyamperin ikut duduk di ruang tamu.

“Mama? Maaf suaraku bikin bangun, ya?”

Mama senyum maklum, malah heran dan kepo apa sih yang bisa bikin ketawa anaknya. “Seneng banget kamu? Lagi nonton apa?”

“Enggak kok, ma. Cuma ini loh Kak Job ngirim cerita lucu.”

“Oh.”

Terus gak ada sahutan lagi dari mama. Beliau cuma diem dengan ekspresi yang sulit aku artikan. Dia pandangi lamat bentuk tubuhku sampai jatuh pada buku di atas pangku.

“May I?” Izinnya.

Aku sebenarnya ragu untuk mengizinkan. Takut diperdengarkan komentar buruk tentang sosok di dalamnya. Namun, selama lima belas menit mama belum buka suara. Beliau hanya mendunduk, mengamati setiap potret perjalanan hidup keluargaku. Hingga sampai pada halaman penghujung, beliau raba sosok di sana.

“How old is he? Tanyanya sembari menunjuk paras remaja.

“Dua puluh, udah kuliah semester lima sekarang ngambil komunikasi.”

Lagi, beliau diam kembali. Jemarinya masih menari di atas lembar foto yang sama.

“Kenapa dia?” Ucapnya kembali, entah siapa yang dimaksuddia sekarang.

“Namanya Mark soalnya dia punya tanda lahir lucu menyerupai bentuk hati di lengannya. Terus, waktu pertama kali kita datang ke panti cuma dia yang berhasil curi atensiku. Aku tandai dia dalam ingatanku.”

“No, I mean him.”

Oh, maksudnya Kak Job?

Sebentar aku gak langsung menjawab. Pertanyaan kayak gini tuh bikin kita mau gak mau berangkat menuju nostalgia.

“Jatuh cinta itu gak butuh alasan, ma. Kadang dia memang jadi tipe kita atau timbul nyaman tanpa sengaja. Dan aku adalah yang kedua. We communicated that well back then. Kita nyambung dalam banyak hal dan komunikasi itu jadi perantara utama agar sinyal rasa suka bisa saling diterima.”

“Pada saat itu seolah semua serba kebetulan Bas masih sendiri dan Kak Job yang memang punya inisiasi. At first we tried, later we talked so much, and became comfortable to each other. He was simple, easy to pleased, understandable, yet reliable. Pokoknya ya dia cuma cowok biasa yang bisa bikin aku nyaman terus, ketawa terus sama dia.”

“Ma, soal dulu aku sama Kak Job memang salah sama mama. Kak Job tanpa sengaja sakitin hati mama semata dia takut kehilangan aku. We were both too young, aku cuma anak muda yang lagi tergila-gila kenal cinta. Tapi lihat sekarang, aku sama Kak Job udah bertumbuh dewasa, udah punya anak yang harus kita jaga berdua. Ma, harap kita cuma kita jadi keluarga besar yang harmonis. Keluarga aku dan Kak Job bisa jadi satu.”

Selepas panjang lebar aku bertutur kata, Mama gak sama sekali punya komentar apa-apa. Aku gak bisa baca pikirannya. Mama habiskan air dalam gelasnya, dan dia berkata, “Tolong gelas mama di bawa ke dapur ya.” Beliau beranjak, dan aku bisa lihat punggungnya hilang di balik pintu kamar.


`hjkscripts. —

Kita akhirnya sampai di sini. Pada ujung garis para pelari berhenti. Lalu, kita menari di atas permadani disaksikan ribuan penduduk bumi. Mereka menjadi saksi bahwa cinta kita kembali bersemi.

Memang harusnya begini, dua keluarga bersatu dalam ikatan pernikahan. Kita akan berbagi tawa bukan tangisan. Kita akan berbagi kebahagiaan bukan kata penyesalan.

Sebab pernikahan bukan hanya mempersatukan dua hati yang saling mengasihi

Kala restu sudah diberi, maka biarkan kami pamit undur diri.


`hjkscripts.


Job Point of View

Berlari adalah tingkatan teratas dari fenomena perkembangan makhluk hidup. Berlari jadi salah satu dasar langkah menyehatkan tubuh. Berlari jadi kegiatan paling menyenangkan bagi gue. Namun, terlalu lama berlari buat terkuras habis banyak energi. Maka dari itu tercipta kegiatan yang disebut beristirahat.

Gue saat ini tengah di fase itu. Istirahat panjang hasil kompensasi waktu pelarian bertahun yang telah gue jalani. Gue berlari bukan sekedar berlari. Gue lakukan untuk kabur dari kenyataan.

Sabda banyak insan jikalau mau punya hubungan cinta romantis bergurulah ke gue. Jikalau ingin miliki rumah tangga harmonis dengarlah tiap petuah gue. Di dalam dunia yang seluruhnya tiada kekal banyak kekurangan, nasib hidup gue katanya paling sempurna.

Manusia memang boleh berkomentar sesuka hati, meskipun bahwasanya itu semua serba berlebihan. Hidup yang tengah gue jalani sekilas nampak sempurna. Pendidikan lancar, jodoh tepat bidikan, bekerja hingga keputusan untuk punya anak. Pun, gue ingin berteriak kalau dibelakang canda tawa yang gue bagi ada banyak ketakutan yang tengah gue simpan. Ketakutan ini berasal dari dia yang amat gue cinta.

Siapa sih gue? Dulu cuma mahasiswa biasa yang punya niat cuma cari title berharap dapet kerja gampang di masa depan. Cuma si sederhana yang mau angkat derajat orang tua berpendidikan akhir sekolah menengah. Gue si anak pertama dan satu-satunya harapan keluarga. Gue anak laki-laki yang dilahirkan dan dibesarkan mungkin sebagai alat peraih cita-cita orang tua yang belum sempet kesampaian. Inilah hidup sederhana gue. Dalam mindset gue tertanam demikian. Tujuan hidup gue ya bahagianya bapak sama ibu.

Masalah cinta-cintaan gue gak pernah mikir sampai sana. Namun, kalo lu pada nanya siapa cinta pertama gue. Jawaban gue akan jatuh pada sahabat gue sendiri. Nodt Nutthasid yang sekarang udah jadi suami bapak pejabat. Tapi gue gak akan bahas kisah gue sama dia. Gue akan bercerita tentang jatuh cinta pertama gue, dia si cowok keturunan chinese dari UKM wirausaha.

Gue harus cukup beruntung sebab berapa pun usaha gue dan Nodt dalam membangun hubungan percintaan berakhir jatuh dalam lubang pengertian. Gue dan dia menyadari di antara kita berdua gak ada status paling cocok daripada ikatan sahabat. Terlebih dewi fortuna kayaknya emang kesemsem sama gue, nempelin gue mulu sampe pendekatan sampis yang gue layangkan ke cowok pemilik nama Bas diterima baik sama dia. Kita pun berjalan, melangkah pelan dan pasti hingga tahap serius yaitu pernikahan.

Peliknya, ketika pertama kali gue bertandang ke rumahnya di Jakarta sebagai sosok teman baik, keluarga menyambut dengan ceria. Kedua kali, ketika maksud kedatangan gue untuk izin menikahi anak bungsunya disitu perhelatan sulit terjadi.

“Anak saya sudah ada jodohnya. Keluarga saya darahnya harus dijaga kemurniannya.”

Gak butuh banyak waktu buat menginterpretasikan bahwa gue ditolak sama keluarganya. Lelaki jawa kental seperti gue gak boleh jadi jodoh buat anaknya. Gue secara tegas dipukul mundur dari tatanan konstitusinya.

“Bas, aku mundur gak apa ya?” Pasrah gue kala itu. Gue tetep senyum, meskipun pahit. Gue tetep berusaha tegar, meskipun pengen nangis lihat cowok gue sesenggukan. Gue pengen peluk dia, tapi gue takut bakal sulit melepas dia.

Sampai sekarang gue masih bingung. Malam hari itu pelet apa yang lagi gue pake sehingga Bas punya pikiran akan terus bertahan sama gue.

Kala itu gue berdiri di atas garis start, ketika hitungan mencapai tiga, gue genggam tangannya, lekatkan jemarinya. Kita mulai berlari. Jalani hidup baru, menikah dengan sedikit tamu. Dia diwakilkan kakak tertuanya, sebab kami dimulai tanpa restu.


`hjkscripts.