hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Mark Point of View.

Inilah Nakunta dari kacamata sang pengagum rahasia.

Bener kata bapak, manusia itu kadang jadi makhluk paling gak tau diri. Sudah dikasih yang terbaik malah pilih jatuh cinta sama yang belum tentu. Bukan, pepatah satu itu ternyata gak cocok buat keadaan gue. Setelah habiskan jam untuk berpikir, gue yakin sedang tersandung, lalu jatuh tersungkur pada probabilitas kedua. Sedangkan, Nakuntaㅡiya gue akan membahas anak satu ini. Cowok yang lagi terjebak pada penjara tanpa jeruji nomor satu.

Dimana alurnya sangat amat lucu. Pemilik kehidupan dengan penuh keyakinan membalikkan hati milik gue sebagai hambanya, dituntun menuju sebuah pintu yang pada saat itu gue buka menghadirkan sosok Nakunta di baliknya. Gue, untuk saat ini mata gue hanya tertuju pada bidang punggungnya. Sebab di matanya, bukannya balik menatap milik gue, dia malah menatap milik orang lain, dimana milik orang lain itu telah menemukan binarnya sendiri.

Nakunta tengah terperangkap dalam zona pertemanan gunakan penuh perasaan.

Kalo ditanya sejak kapan? Gue akan menjawab layaknya orang baru jatuh cinta lainnya. Klise namun memang begitu adanya. Gue gak tau sejak kapan, yang pasti gue baru sadar bahwa ada getaran aneh muncul ketika gue tengah bersama dia.

Sampai sekarang pun gue masih menganggap diri ini begitu bodo sebab terlambat menyadari meskipun bapak selalu menampik pemikiran satu itu. Gak ada cinta yang datang terlambat, mereka sudah datang, hanya berputar di antara dua manusia yang jadi pilihannya sembari menunggu serta mencari celah waktu yang tepat.

Mungkin ini terjadi sama gue. Sejak kecil gue risih sama bocah yang selalu ngintilin gue. Nakunta, cowok si pemilik arti nama pejuang kebahagiaan, cowok yang selalu didoakan sama orang tuanya agar hidupnya senantiasa bahagia pula membahagiakan orang disekitarnya. Gue ketawa, gimana bisa dia bahagia kalo hobinya nangis perkara gak satu kelas sama gue? Gimana bisa bahagiain orang lain kalo suka banget ngerepotin gue? Kalo aja dia bukan anak temen bapak gue, sorry gue gak peduli.

Nakunta ini kehidupan luar rumah semasa kecil bergantung sama gue. Dia yang sulit bersosialisasi, terlambat paham situasi, yang akhirnya gue jadi kemudi. Ibarat gue penakluk bumi, dia hanya jadi bani. Daripada teman sejawat, hubungan gue dan dia sebatas asuransi. Ketika dia terjebak situasi, gue berakhir beraksi untuk melindungi.

Dulu, yang gue ceritain di atas adalah situasi masa lalu. Sebelum dia kenal sama si bocil. Sosok tetangga yang bikin dia berubah, sosok yang bikin dia punya cita-cita jadi pahlawan super keren.

Awalnya gue mengira bahwa inilah hari kebebasan buat gue. Gue gak perlu khawatir sama orang lain. Hidup ini cukup tentang gue, hanya gue. Namun, beberapa waktu kemudian hampa mulai menyelimuti dan gue kurang terbiasa dengan situasi demikian.

Mungkin jika ditanya berapa skala Nakunta membutuhkan gue saat ini, gue gak bisa sombong. Dikasih 2 dari 10 pun bersyukur. Nakunta gak lagi nyari gue yang lagi menikmati bekal buatan didi di kantin cuma untuk menemani dia ngaduin temen satu kelasnya ke Mam Jeni. Nakunta gak lagi nyari gue buat bagi-bagi jajan yang dia dapet dengan hasil keringatnya sendiri. Nakunta gak lagi datang ke rumah gue cuma buat nemenin bongkar pasang lego.

Sebab Nakunta dewasa kini bisa menjaga dirinya sendiri. Nakunta dewasa kini punya seseorang yang akan tersenyum hanya diberi sebatang coklat atau jajan seharga seribu. Nakunta dewasa kini lebih suka berbagi hobi dengan bapak gue.

Gue baru sadar bahwa rasa kesal yang datang dari sifat Nakunta dewasa bukan karena dia udah gak butuh gue, bukan karena gue udah gak dapet jajan lagi, bukan karena kita gak bakal main bareng lagi. Tetapi karena gue menyesal, merasa kehilangan, dan yang paling besar adalah perasaan cemburu.

Jika Nakunta masih sekecil dulu, mungkin gak bakal serumit ini. Akan lebih muda bagi gue untuk mengungkapkan. Gue akan punya segudang percaya diri akan menerima kembali hatinya untuk gue jaga.


Si bodoh ini gue bingung sama jalan pikirannya. Si bodoh ini yang pilih berdiri di depan venue bersama harap-harap dia akan datang meskipun sejak kemarin ajakannya gak ada janji kepastian. Si bodoh ini adalah gue sendiri.

Gue bohong, dua tiket yang tengah gue pegang memang sengaja gue beli untuk diri sendiri dan cowok satu itu. Bukan punya orang lain yang gagal hadir. Gue tau dia suka fotografi, satu-satunya kesamaan dia dan gue. Tetapi gue salah, gue harusnya sadar bagi orang kasmaran sesuka-sukanya dia dengan fotografi akan sanggup berjalan puluhan menit di mall tanpa tau mau melalukan apa.

Senyum getir menghiasi bibir kala dibombardir kenyataan. Ngapain juga gue capek berdiri kayak orang bego, toh mana mungkin dia dateng. Gue menunduk, tatap lamat ujung sepatu sembari menghembuskan nafas pasrah.

Belum sempat gue mendongak, sebuah sepatu muncul di depan milik gue. Secepat kilat gue pastikan siapa gerangan. Tatkala pasang netra gue berhasil menangkap milik cowok di depan gue, merekah pula senyum seindah dahlia.

“Kok lo kesini? Katanya lagi maen sama bocil?” Dia nyengir, gak tau maksudnya apa.

“Lah lo sendiri ngapain berdiri di sini kek bocah ilang? Bukannya masuk.” Si aneh bukannya jawab pertanyaan gue malah balik nanya.

Gue refleks garuk kepala belakang. Yakali ngaku lagi berharap dia muncul. “Tadinya mau masuk terus seketika gak mood hunting sendirian. Ini gue mau pulang nunggu jemputan bapak.” Bohong gue.

“Si anjir gue udah nyampe sini dianya pulang. Telpon A'Job gih! Ntar pulang sama gue aja. Asal lo tau, gue buru-buru balik ambil kamera terus berangkat kemari.”

“Siapa suruh?!”

“Haha,” Dia ketawa.

Gue sampe kicep denger suaranya. Gue baru tau kalo Nakunta seganteng ini. Celana jeans dipadu kemeja putih yang lengannya dia gulung. Tali kameranya tersampir di leher, sedangkan kameranya dia biarin jatuh menggantung gitu aja.

“Kaga ada yang nyuruh sih.”

Nakunta dengan gak sopannya genggam jemari gue, ditarik begitu perlahan menuntun tubuh gue untuk mengikuti. Kita berjalan bersisihan menuju pintu masuk venue.

“Widih cakep juga yak! Gak sia-sia gue nyusulin elo.” Gumamnya kagum waktu kita udah di dalam. Iya, setuju gue sama lo tempatnya cakep. Tapi mata gue bangsatnya malah lebih suka liat muka lo.

Bahkan ketika sesi hunting objek pun kamera gue lebih suka membidik paras Nakunta dengan berbagai perubahan ekspresinya, ketimbang objek aesthetic yang sengaja dipajang untuk diabadikan. Sebab, gue mana bisa mengulang momen ini kembali. Gue belum tau apakah kita berdua ada cerita berlanjutnya. Yang gue tau adalah mengabadikan setiap detik hari ini sebanyak mungkin untuk dikenang jika memang cerita kita hanya cukup sebatas ini.

“Nih minum!”

Thank you.”

Gue menyesap air dingin dengan rasa jeruk beserta sensasi soda. Mengamati sekitar, menikmati angin sepoi-sepoi yang lewat di ruangan terbuka penuh pilihan jajanan. Bahkan lokasi istirahat ditata begitu unik dan cantik.

“Lo belom jawab pertanyaan gue by the way.” Gue memulai obrolan ketika rasa haus perlahan menghilang.

Cowok di depan gue beri atensi akhirnya setelah minum beberapa tegukan. “Pertanyaan yang mana?”

“Lo tiba-tiba muncul di sini.”

“Oh,” Dia mengangguk, meneguk kembali minumannya sejenak.

“Mau gue jawab jujur apa gimana?” Lanjutnya. Anjir ini bocah beneran bikin gue makin penasaran.

“Senyaman lo aja deh.”

Nakunta senyum kecil, jemarinya sibuk mainin sedotan di gelasnya. “Tadi gue emang pergi nonton sama bocil, berdua aja. Eh, buset ada setan muncul. Mana si bocil jadi ngajakin juga. Parahnya dia ngeiyain, ngerusak ajadah.”

“Oh, gue cuma pelarian ya?”

“Gak gitu. Gue awalnya pulang abis nitipin bocil sama si Jeffano. Pas di rumah tiba-tiba kepikiran lo. Gue langsung cabut tuh kemari. Enak di sini liat objek cakep daripada mukanya si Jeffano gajelas. Mana mukanya dia mirip mantan pap gue yang brengsek lagi.”

“Lah kocak dah!” Gue mau gak mau ketawa geli denger Nakunta ngomel. Lebih ke nutupin ekspresi bodoh gue ketika denger dia tiba-tiba mikirin gue. Gini aja lo berisik woy jantung!

Parah banget gue begini aja udah bahagia. Gak perlu bunga atau batu permata, cuma ditemenin, jalan bersisihan berdua, ngobrol hal gak penting, terus senyum puas ketika hasil potret cakep gak ketolong. Rasanya gue pengen cepet pulang, cerita detail dari awal sampai akhirnya gue turun dari motornya ke bapak. Satu sisi gue gak mau cepet berakhir. Gue masih pengen pegang erat bajunya, nikmatin aroma tubuhnya yang bercampur parfum khas luar negeri, sembari menatap hingar-bingar jalan di malam hari dari atas motor yang dia jadi pemegang kendali.

Cukup begini, hari ini cukup begini. Tetapi gue gak menjamin dilain waktu gue jadi tamak dan meminta lebih banyak dari ini.


`hjkscripts.


Nakunta Point of View.

Saat kali pertama gue membuka dua kelopak pelindung mata adalah tersebesit sebuah kalimat kekecewaan. Oh, gue belum mati ya.

Iya, gue belum boleh. Suratan takdir menyatakan hidup gue belum bisa dihentikan paksa sampai di sini aja. Kalo gue bisa membaca kertas putih berisi perjalanan sebagai bocah kurang tau diri ini mungkin tulisannya adalah.

Malam ini Nakunta dipaksa ikut balapan, dengan harapan dia mati kecelakaan.

Dini hari Nakunta mengalami kecelakaan, tapi masih hidup dan berakhir di rumah sakit dengan berbagai alat bantu penunjang hidup.

Di sinilah gue, beginilah kondisi terakhir gue sesaat hanya bisa melihat cahaya putih menyilaukan sebelum tubuh gue terombang-ambing di dalam mobil yang tengah melesat cepat.

Gue masih hidup, mata gue masih bisa terbuka lebar, jantung gue masih berdebar, dan darah gue masih berdesir meskipun banyak yang terbuang.

Sejenak gue ingin mengucap syukur, namun mengingat apa yang menjadi alasan gue hingga berakhir seperti ini gue jadi mengurungkan niat.

Apa gunanya sih hidup gue sekarang? Terjebak di dunia antah berantah. Kenyataan ternyata memukul gue gak kalah telak. Kalo malaikat bisa ngomong pasti mereka udah pada noyor kepala gue satu satu.

“Lah kan elo yang minta tukeran orang tua?” Terus mereka nyatet satu dosa lagi bagi gue dibukunya.

Gue mendadak melakonis. Sedih gak tertolong. Gue cuma bisa lanjut nangis, nangis terus tanpa bisa jelasin ke orang-orang yang bertanya alasan kenapa gue jadi cengeng.

Dan gue semakin terpukul, air mata ini makin deras meluncur saat pintu kamar dibuka dan muncul sosok ayah dengan wajah khawatir. Dia memeluk gue, berujar beribu kata maaf sebab lalai jaga gue.

Gue tambah terisak, bukan karena terharu. Namun, karena gue kangen. Gue kangen sama pap dan dad. Mereka pasti begini kalo lihat gue berantakan. Mereka pasti runtuh liat gue rapuh. Disaat-saat begini, di dalam dekapan hangat ayah beserta kepulan kalimat sayang menenangkan gue malah berharap jika yang tengah melakukan ini adalah dua orang tua gue. Gue akan jauh lebih baik jika ini adalah dad dan pap.

Coba aja gue bisa putar ulang waktu...

Coba aja ini cuma mimpi buruk di tengah tidur siang...

Beneran deh, seriusan, gue gak mau ulangin lagi. Cukup ini terakhir kali. Gue gak mau tuker baik atau buruknya keluarga gue buat apapun yang bisa mereka kasih meskipun bintang paling terang di langit.

Gue cuma mau kembali, sekedar bisa mengucap selamat pagi sembari memberi ciuman penuh afeksi. Semua itu, diakhiri doa-doa baik sebelum berjalan menjelajah mimpi.

Entah tubuh gue yang terlalu capek atau mata gue yang terlalu banyak menangis. Gue mendadak ngantuk di tengah keadaan haru. Tanpa mengucap selamat tinggal, tanpa melihat wajah ayah untuk terakhir kalinya gue pun tertidur lelap.


“Kak! Bangun kak!”

Hah?

Gue terkesiap, hampir melompat dari atas kasur. Lantas tercengang bersamaan memeriksa sekitar.

“Kamu kenapa sih, kak?”

Bentar, ini yang ngomong beneran makhluk hidup yang lagi duduk di kasur gue kan? Eh! Kasur gue? Lah, ini beneran kamar gue. Kamar gue, barang-barang gue, itu pap gue!

Gak pake aba-aba gue menyerang pap dengan pelukan maut tanpa peduli air kompresan yang dia bawa jatoh basahin sekitar. Pap teriak ngomel-ngomel tapi gue gak mau lepasin gitu aja. Kangen banget, beneran sekangen itu.

“Aduh kakak! Baju aku basah semua kamu tuh kenapa sih?!”

Terus pintu kamar refleks terbuka, memunculkan lelaki besar yang paling tua di antara kita bertiga. Iya kita bertiga, gue akan pertegas sekali lagi. Hanya ada gueㅡ Nakunta, dad, dan pap. Udah valid, gak ada yang boleh join lagi buat ganggu kebahagiaan kita.

“Ada apa ini?”

Cukup memeluk pap, mendengar suara beratnya gue berganti lari buat memeluk dad. Saking bahagianya gue sampai bergelantung manja ala koala. Badan besar gue bukan masalah, dia tangkap dengan seksama.

“Kamu kenapa, kak?” Tanyanya halus. Rambut gue sambil diusak lembut.

“Aku kangen aja sama kamu, sama pap juga. Maaf ya aku banyak durhaka sama kalian.” Jawab gue tulus.

“Oh,”

“Kalau begitu aku juga minta maaf karena sudah bentak kamu kemarin. Aku lagi capek, kak. Emosinya kurang bisa dikontrol.”

Ahh, jadi ini semua beneran mimpi. Mimpi buruk yang dikirim sebagai pengingat buat anak nakal macem gue.

“Aku mau minta maaf lagi karena bawa-bawa ayah di depan kamu. Seharusnya aku gak begitu.”

“Gak apa nak, wajar kok. Mungkin kamu kangen ayah ya? Nanti kita bertiga ke ayah sama bunda ya.”

Gue mengangguk setuju. Lebih baik memang begitu. Adilnya memang seperti itu. Rasa sayang gue, rasa kangen gue bukan berarti harus disampaikan langsung secara lisan dihadapan manusianya. Katakan sebanyak-banyaknya pada yang masih hidup, selipkan di antara doa-doa untuk yang telah tiada.


`hjkscripts.


Memilih bersama ayah sebagai pelarian adalah keputusan tepat. Gue sadar keberadaan gue di sini tujuannya adalah ayah, menghabiskan waktu bersama dia sebelum gue balik kepada realita. Gue gak ada hak buat ikut campur pasal kehidupan Anan.

Hampir seminggu sudah gue bertukar, syukur belum ada yang mampu membongkar. Meskipun ayah beberapa kali mengkerutkan kening curiga atas perangaiku yang 180° berbeda dengan anak aslinya. Gue baru tau Anan dan ayah koki handal, sedangkan gue gak sama sekali tau dapur selain masak mie, air, dan goreng-goreng naget, ada aplikasi ojek online yang siap beliin makanan dan dianter sampai depan pager. Anan dan ayah suka gym, sedangkan gue paling males diajak gym malah sering jadi pengkhianat alias minta dibeliin skateboard masa kini ke dad tapi mainnya sama A'Job. Anan punya geng balap liar, sedangkan gue cuma remaja yang punya jam malam. Anan jago berantem, liat aja ototnya, sedangkan gue remaja biasa yang ogah berurusan sama kekerasan.

Intinya, semandiri-mandirinya gue di rumah sendiri, masih ada Anan yang lebih mandiri, yang beneran bisa apa-apa ngurus dirinya sendiri. Sedangkan gue masih butuh asupan materi dari dad atau pap.

Ngomongin soal perasaan gue tentang ayah selama seminggu ini, gue bisa jawab bahwa semakin lama serba biasa aja. Euphorianya cuma membuncah diawal. Karena kenyataannya ayah itu sama dengan yang dideskripsikan Anan. Orangnya lebih sibuk dari presiden. Tapi gue bisa paham, ayah itu single parents semua yang dia lakukan demi penuhi kebutuhan Anan.

Ayah ini tipe-tipe gak tau cara lain beri kasih sayang, yang dia tau dalam bentuk uang kertas nominal paling tinggi dan berlembar-lembar. Yang ayah tau cuma gimana melunturkan kasih sayang berupa menuhin kebutuhan hobi anaknya, sebab hobi artinya kesenangan. Padahal, Anan berharap yang lain. Anan berharap kehadiran ayah sesering mungkin dalam jarak pandangnya dan gue pun merasakan hal yang sama meskipun baru hampir seminggu di sini.

Ngomong tentang ayah lagi, gue sekarang lagi di depannya. Kita makan bareng di ruang makan kantor ayah. Makan bareng gini gue jadi inget sama dad, soalnya kita sering banget gini bedanya kita selalu makan di dalam ruangannya. Dad itu orang yang paling suka ditemenin pas makan, katanya selain seru bisa ngobrol juga ada yang bantu ingetin dia kalo ada bahan makanan yang dia gak bisa makan.

Gue mengamati ayah yang lagi nikmatin makanannya. Hari ini random banget menu-nya masakan set menu gitu. Ada nasi, sop yang setau gue bau bahannya dari seafood, terus banyak lauk-lauk. Bedanya ayah sama dad, kalo ayah gak punya alergi jadi semua dia makan dengan lahap. Sedangkan, kalo sama dad, hampir semua pasti dikasih ke gue. Terus, gue menunduk sembari mengaduk makanan gue.

Astaga gue kangen sama pap, sama dad. Mereka kabarnya gimana ya? Gue harap Anan bisa jaga mereka.

Gue tersenyum getir. Terakhir kali gue melihat dad dan pap dalam keadaan yang gak ngenakin. Gue yang bersitegang hebat dengan dia sampai sekarang belum ketemu titik terangnya lagi. Gue malah memilih kabur, melepas beban gue buat bersama ayahㅡ orang yang gak gue kenal dengan baik. Gue kabur, dan menjadikan Anan sebagai kambing hitam untuk menyelesaikan masalah gue di sana. Pasti dad sakit hati lantaran mengungkit ayah ditengah ledakan amarah kita berdua dan gue belum minta maaf.

Parahnya ditengah emosional gue gara-gara keinget dad, seperti di sinetron yang doanya langsung terkabul, maka muncul atasan ayah yang mirip banget sama dad lengkap sosok lelaki lebih muda yang mirip sama pap. Gila sih, gue sampe melongo. Ayah meletakkan alat makannya sejenak, nyapa mereka berdua, terus mempersilahkan duduk di sampingnya.

“Anak kamu ini, Bas?” Tanya beliau pada ayah. Oh iya, nama ayah di sini Baskara.

“Iya, pak. Anak lanang saya satu-satunya.” Balasnya bangga.

“Ganteng, mirip sama ayahnya.”

Ayah mengangguk dan terkekeh bersamaan, lalu tak lupa mengucapkan, “Terima kasih, Pak Peter.”

Shit! Gue udah gak tau mau nangis aja di tempat. Beneran, ini sebenernya gue lagi dikutuk sama alam soalnya jadi anak durhaka ke dad. Gue sedikit banyak tau manusia di lingkungan Anan, pula dengan nama yang berbeda, kecuali dia... dia yang mirip sama dad juga nama yang sama. Kayaknya bener deh, gue harus segera pulang terus ngadain acara sungkem.

Belum berhenti sampai di situ. Mungkin ini efek dari rasa kangen gue sama rumah, gue ngelantur, mabok, tiba-tiba teriak nyetop Pak Peter ini dari kegiatan melahap kuah sopnya.

“Om jangan dimakan!!!”

Orang-orang disekitar sampe berhenti beberapa detik, ayah kaget, apalagi dua orang yang gue sela kegiatan makannya. Detik kemudian orang-orang kembali normal kecuali yang sedang duduk satu meja ini. Lelaki yang mirip pap, yang gue tau sebagai sekertarisnya Pak Peter gak segan buat nyicipin kuah sop dihadapannya. Mereka berdua saling pandang dan ketika si sekertaris ini mengangguk, atensinya kembali kepada gue.

“Kamu gimana bisa tau saya alergi seafood?”

Skakmat! Kelar penyamaran lo Nakunta! Mau jawab apa lo sekarang?

Gue pengen pipis di celana saking paniknya. Pun, lagi-lagi hoki gue segede gaban, lagi-lagi diselamatkan keadaan. Terima kasih mas sekertaris ganteng yang udah alihkan pembicaraan gue jadi gak perlu jawab. Sekertaris yang sesuai name tag bernama Nata Adjie ini nawarin makanan kantor buat dituker sama bekalnya aja.

Hadeh kalo pap sama dad di sini dan bisa lihat mereka pasti selamanya gak bakal pernah berantem gak jelas lagi. Mau di univers manapun yang mukanya mirip pap sama dad ditakdirkan sama-sama meskipun bukan sebagai pasangan. They destined to take care and understand each other.

Gue ini emang anak gak tau diri, kurang bersyukur. Di dunia gue pengennya ketemu ayah yang jelas-jelas udah meninggal. Terus, di dunia ini bersama ayah pun rasanya gak cukup, rasa kangen gue terhadap kedua orang tua di sana amat sangat besar.

Dan gue menyadari bahwa yang namanya keluarga gak ada satupun yang sempurna. Iya, gak ada yang sempurna kalo kita merasa gak pernah puas atau cukup sama yang kita punya.

Alam sebaik itu mengambil ayah dan bunda, lalu diganti dengan dad dan pap yang senantiasa ikhlas merawat gue dari bayi sampai segede ini.

Ya Tuhan, Nakunta mau kembali...


Nakunta dan Pak Peter

Terima kasih, berkat kamu saya masih bisa lanjut bekerja bukan malah masuk rumah sakit.

Gak masalah kok, om.

Saya mau kasih kamu hadiah boleh? Bentuk apresiasi dan rasa terima kasih saja. Apapun bilang sama saya kamu mau apa?

Kalau saya minta kurangi waktu lembur ayah saya boleh? Saya mau jalan-jalan quality time rasanya sulit soalnya ayah sering pulang malem.

Kamu harusnya yang ajari ayah kamu untuk menolak. Permintaan saya selalu ada dua opsi jawaban kok. Ayah kamu yang berhak tentukan pilihannya. Lagi, saya bukan tipe yang suka potong gaji kalau permintaan saya ditolak.

Nanti saya usahakan ya gak minta bantuan ke ayah kamu. Ini ada kue dari cafe di sana, untuk kamu saja.

Terima kasih, Om Peter.


`hjkscripts.


Ketika putaran film pasal kehidupan itu berhenti, cermin kembali seperti semula. Menampilkan bayangan diri sendiri. Hanya saja dibilang diri sendiri nyatanya tetap aneh.

Keduanya mengernyit kala saling memandang. Struktur wajahnya memang sama, namun dengan beberapa perbedaan.

Nakunta rambutnya turun, sedangkan yang dia saksikan adalah dirinya yang lain juga menatapnya bingung, pula rambutnya tersampir ke belakang. Anan memakai pakaian tanpa lengan sedang memegang putung rokok yang masih panjang. Namun, dihadapannya adalah dirinya versi sederhana.

Nakunta mencoba gerakkan tangannya. Dia berharap pantulan di sebrang mengikuti. Nihil, yang di sana malah menghisap penuh rokok di tangan dan mengepulkan asapnya kuat-kuat.

“Halo?” Panggil Nakunta, menguji apakah sosok yang di sana bisa mendengarnya.

“Halo!” Panggilnya lagi sebab tidak berbalas.

Dia mengulurkan tangannya berusaha menggapai sosok yang nampak. Seolah tengah bermain papan jumanji, tubuhnya perlahan dihisap, melewati lorong aneh yang menyebabkan perasaan mual. Hingga, dirinya sampai pada dunia yang sama pun berbeda. Nakunta jatuh di depan mobil milik sosok yang dia lihat sebelumnya.

“Anjing!” Anan keluar dari duduk tenangnya.

“Gue gak apa-apa!”

“Hehe...”


“Lu siapa? Ini maksudnya apa? Gimana bisa lu keluar dari cahaya?”

Keduanya termenung dalam penerangan dalam mobil. Malam semakin larut, tak ada kendaraan lalu lalang.

Nakunta yang dicecar pertanyaan juga bingung akan menjawabnya. Dirinya juga bingung bagaimana bisa sampai di sini. Terlebih, sekarang dia bingung bagaimana harus kembali.

“Pertama-tama nama gue Nakunta.”

“Oh,”

“Kenapa?”

Anan menggeleng, “Syukur nama lu beda sama gue. Gue kira lu beneran kembaran manusia gue. Gue Anan by the way.”

Oke.”

Selanjutnya adalah keheningan panjang, dengan pemandangan Anan yang tengah menghabiskan batang nikotinnya.

“Anan? Gue boleh tanya sesuatu?”

Anan mengangguk sembari membuang putung rokoknya. “Apa aja, jangan susah-susah.”

“Sebelum gue ngeliat elo, gue ditunjukin film yang sekarang gue yakini adalah elo dan ada satu cowok lebih tua lagi.”

Lelaki itu mengambil sebuah foto lusuh yang dia simpan pada dompetnya. “Dia?” Nakunta mengangguk hebat.

“Ayah gue itu. Ada yang salah?”

“Dia ini juga ayah gue, tapi ayah udah meninggal bareng sama bunda waktu gue bayi.”

“Haha,”

“Gila juga ya, masa gue ngeliat lu sama bos ayah gue yang katanya super demanding. Tapi dia keliatan bahagia, nggak seserem yang biasanya diceritain ayah gue.”

“Hah?” Nakunta turut terkejut, dia mengeluarkan ponsel yang sempat dia bawa, mencari dengan gestur tergesa. Ketemu, ditunjukkan tiba-tiba di hadapan Anan.

“Jangan bilang mereka?!”

Anan hanya mampu mengangguk membenarkan.

“Ini orang tua gue!”

“Aneh...”

Nakunta setuju, memang aneh. Sungguh aneh tapi nyata. “Iya aneh, maka dari itu gue mau pulang. Gue gak mau lama-lama di sini” Pintanya.

“Emang lu tadi dateng ke sini gimana?”

“Lewat cermin di kamar gue.”

“Di kamar gue juga ada cermin. It's ridiculous tapi kalau lu mau coba, kita bisa pulang ke sana.”

“Apapun, apapun itu.”


`hjkscripts.


Nakunta.

Pagi hari datang gue sebenernya masih amat ngantuk. Kemarin adalah malam panjang yang menjadi sebab gue tertidur di kamar minimalis ini. Kamar yang gak cukup familiar, kamar yang jauh lebih sederhana dari milik gue, kamar yang punya queen bed cukup buat menampung besar badan gue.

Tetapi gue mana ada waktu buat berleha-leha, sebab bunga mekar dalam hati gue lebih menyenangkan daripada lanjut tidur.

Berdoa merupakan hal pertama sebelum gue membuka pintu kamar. Debaran jantung gue cepet banget menandakan gue amat sangat menunggu hari ini terjadi. A bit nervous tapi gue mana bisa mundur lagi.

Ketika pintu kamar terbuka gue berpikir bahwa rumah ini vibes-nya gak jauh beda dari rumah di dunia gue. Bau masakan tercium, lebih pekat malah. Gak perlu berjalan lama, gue bisa langsung saksikan figur orang dewasa tengah berkutat dengan bahan dapur. Dia profesional, cekatan, semua dilakuin sendiri tanpa hambatan.

Gue cukup tertegun, terlalu amaze sama pemandangan di depan gue. Akhirnya, gue bisa melihat sosok ayah yang selama ini gue lihat fotonya. Ayah yang gak cuma punya satu gaya, namun bisa bergerak, bisa dilihat wujud aslinya, dan bisa disentuh selama gue mau. Dan gue tanpa sadar jatuhkan beberapa tetes air mata saking terharunya.

“Abang udah bangun?” Lamunan gue sadar atas suara yang sebenarnya belum familiar. Gue meresapi sejenak, mengingat-ingat suara ini karena masih sadar bahwa ini gak terjadi selamanya.

“Abang, sini! Ngapain berdiri di situ?” Panggilan kedua sepenuhnya menyadarkan gue bahwa yang sedang dilihat bukan mimpi belaka.

Gue secepat kilat mengusap jejak rasa haru dan berjalan sedikit tergesa meraih Ayah. Sampai sedekat ini, bisa cium parfumnya, bisa rasakan hangat suhu tubuhnya gue masih gak percaya. Lalu, gue dengan semangat menghambur memeluk dia gak peduli sedang menata piring kaca.

Ayah membeku, gue bisa rasain badannya kaku. Butuh waktu beberapa menit untuk mencair dan mengerti situasinya. Gerakan ayah lumayan kagok saat membalas pelukan gue. Mungkin ayah bukan sosok penggila afeksi atau sosok yang murah pemberi afeksi. Gue bisa mengerti hanya dari perangai Anan.

“A-abang?” Tuturnya gugup.

Oh! Gini ya rasanya tubuh ayah.

Oh! Gini ya suara detak jantung ayah.

Satu kata yang sanggup gambarkan perasaan gue sekarang adalah gue amat sangat bahagia.


`hjkscripts.


Anan.

Hari minggu jadi kali pertama gue gak menikmati masa libur di rumah tercinta. Gak ada orang yang bangunin di pagi buta buat olahraga. Gak ada orang yang nyuruh bantuin beberes rumah. Gak ada kegiatan masak bareng setelahnya. Gue bangun pada pukul tujuh bak seorang pangeran di negeri dongeng.

Satu hal yang gue dapati saat pintu kamar gue buka adalah suara mengalun merdu dari tuts piano. Gue bertanya-tanya siapa yang pandai main piano. Satu langkah, dua langkah rumah gue susuri mengikuti asal suara. Dalam hati terus menerus mengumpat nama-nama hewan setiap ngelewatin berbagi interior rumah yang unik dan tertata rapih.

Oh, jadi begini nih hidupnya Nakunta.

Selanjutnya gue bingung, kok dia mau tukeran sejenak hidupnya sama milik gue, padahal dia punya dunia sebagus ini. Iya juga ya, gue jadi inget sama beberapa sinetron yang sering seliweran di tv. Anak orang kaya biasanya korban broken home, anak orang kaya biasanya lebih materil kurang kasih sayang.

Gak terasa suara dentingan pianonya terdengar lebih keras menandakan gue sudah sampai pada sumbernya. Lagi-lagi gue dibuat takjub, udah beneran kayak masuk surga lantaran bisa melihat sosok bidadara. Kulitnya putih, bersih, makin bersinar akibat terpapar mentari pagi. Tangannya cekatan menari di atas tuts piano memainkan lagu yang punya nada lembut. Belum lagi dibelakangnya berhias tanaman hijau apik. Tapi gue mana boleh jatuh cinta sama cowok satu ini, bisa-bisa digibeng sama sang suami.

“Kak? Tumben jam segini udah bangun kamu.” Lihat senyumnya sembari menyapa gue...aduh, adem bener.

Gue pun menuruti lambaian tangannya yang meminta aku mendekat. Cowok yang jadi salah satu bapak gue alias orang tua gue meraih tangan lalu ditarik agar duduk di dekatnya. Dia sejenak amati wajah gue lamat, wajahnya berubah sendu, khawatir juga. Pipi gue dibelai, telapak tangannya lembut banget. Terus gue dipeluk, erat, sampai gue susah buat napas.

Anjing, sekali lagi gue ngumpat dalam hati. Gue gak bisa boong, pelukannya hangat, nyaman, bahkan bikin gue rileks dan akhirnya menjatuhkan beban tubuh gue dalam dekapannya.

Berapa lama ya gue gak pernah dipeluk gini

Berapa lama ya gue memendam diri, jadi manusia anti afeksi?

Padahal dalam diri gue selalu meronta, berteriak ingin sedikit diberi. Setidaknya pelukan kilat yang mampu menenangkan hati. Dan memori gue akhirnya berputar mundur, menggali informasi yang harusnya gak perlu gue inget-inget lagi. Terakhir kali gue dipeluk oleh sosok bunda sekalian selamat pergi selama-lamanya dari dunia ini.

Menangis, air mata gak sanggup gue bendung. Dia mengusapnya pelan-pelan bersamaan bisikan menenangkan yang bahkan gue gak tau dimaksudkan untuk apa.

“Gapapa kak, gapapa...semuanya baik-baik aja kok. Gapapa ya, jangan sedih.”

“Maafin dad ya, dad kemarin lagi banyak pikiran jadinya emosi.”

Seketika gue menarik sebuah konklusi bahwa Nakunta bukan anak yang kekurangan kasih sayang. Bukan juga anak orang kaya broken home. Tapi kenapa? Kenapa dia rela tukar keluarganya yang luar biasa hanya untuk bertemu dengan sosok yang mirip mendiang ayahnya?

Tapi Nakunta, kalau kita tukerannya agak lama boleh? Gue masih pengen dipeluk gini, gue masih pengen diberi afeksi, sebelum kembali ke dunia gue sebagai sosok yang bersahabat dengan sepi.


`hjkscripts.


Baru satu hari gue pindah dunia udah kemalangan. Mungkin nasib gue aja yang gak pernah bisa mujur. Mungkin nasib gue aja yang ditulis bersamaan dengan kekerasan. Pokoknya hal-hal negatif itu jadi bayangan gue entah sampai kapan.

Malam ini gue pulang ke rumah dengan keadaan gak baik. Sialnya juga gue belum sempet nyobain masakan mamahnya tetangga sebelah Nakunta. Emang sialan itu brandal, title-nya doang mahasiswa aslinya gak lebih dari manusia bajingan.

Kata Barcode mereka yang tiba-tiba ketemu di kolam renang adalah kakak tingkatnya. Kelakuannya emang suka gatel kalau liat orang lemah, bawaannya pengen menindas sampai terkubur dalam tanah. Gue minta maap nih, yang ketemu sama lu pada hari ini bukan Nakunta.

Tapi gue! Abis lu semua sama gue!

Kaki melangkah ke dalam rumah, gue disambut sama dua orang tua nakunta.

“Kak! Kamu itu kemana aja sih jam segini baru pulang? Pap telpon ga diangkat!”

Hah? Bentar-bentar, gue ambil ponsel yang ada di saku melirik jam yang masih menunjukkan pukul delapan malam. Ini bahkan masih terlalu sore bagi gue berangkat nongkrong, tapi mereka berdua paniknya bukan main.

“Muka kamu kenapa lagi, kak?” Kali ini suara berat mengintimidasi ikut interupsi.

Wajah gue diangkat, diamati lamat-lamat. “Berantem lagi kamu?” Lanjutnya.

“Abangㅡeh maksudnya kakak nolongin Barcode. Tadi ada anak-anak rese.” Ini bener kek gini ya Nakunta kalau ngobrol sama bapak-bapaknya?

Dad menghela napasnya kasar. Namun, gak ada tanda-tanda gue bakal diomelin kayak biasanya di rumah.

“Perlu dad bantuin gak, kak? Biar Barcodenya tenang kamu juga gak perlu sakit dipukulin terus gini?”

Tunggu, emang bisa ya?

“Emang bisa, om?ㅡeh dad? Memang kalau dibantu sama dad apa yang bakal terjadi?”

“Kamu yang pilih aja kak, dad takut salah pengertian sama kamu. Tapi kalau dad ya maunya dia drop out

Anjing?! Nakunta bapak lu serem amat bisa ngehancurin masa depan anak orang?

Pun gue memilih senyum, lalu menggeleng. “Gak perlu, dad. Kakak udah beresin semuanya.”

“Oke, sana lukanya dibersihkan dulu sama pap.”

Nakunta oh Nakunta... rugi banget lu ninggalin keluarga sesempurna ini.


`hjkscripts.


Hidup sebagai Nakunta ada plus and minus-nya. Orang tua bak malaikat, rumah gedongan, dan apa yang lu inginkan sekali jentikan jari langsung di depan mata.

Nakunta oh Nakunta...

Kenapa sih lu mau tukeran sama kehidupan gue yang super membosankan?

Kenapa juga ayah gue gak bisa seperti orang tua Nakunta yang bisa kasih perhatian cukup meskipun mereka sedang tak disekitar?

Pertama, gue mengira kalau pap orangnya freak. Yakali random ngechat lu dengan alesan bosen. Pun gue sadar, sebenernya itu sebuah bentuk perhatian. Beliau tau gue sendirian di rumah, takut gue kesepian. Kedua, dad yang suka merintahin gue beli makanan di luar buat makan bareng sama dia di kantornya. Aneh kan? Padahal di dunia gue sendiri, gue mana tau kantor ayah yang mana? Beliau kerja sebagai apa? Dan dad akan ngajak ngobrol apapun selama kita makan. Intinya keluarga ini penuh afeksi.

Pap sama dad itu isi kepalanya membingungkan. Bagi gue mereka belum terlalu dewasa buat menyelesaikan masalahnya sendiri. Masih suka berantem, ngambek, diem-dieman. Gak serem, pula cukup membuat gue kelimpungan sendiri. Gue bingung kok Nakunta bisa tahan hidup sama mereka berdua.

Gue menyadari bahwa kesempurnaan itu gak ada di muka bumi. Termasuk keluarga Nakunta. Meskipun lu dapet segalanya, namun ada harga yang harus dibayar, ada peraturan dari orang tua yang harus ditepati.

Mereka menerapkan jam malam yang tentu aja bukan gue banget. Malam hari adalah dunia sesungguhnya bagi anak kayak gue. Gue sampai dijemput gini, diomelin, gak seserem ayah tapi ya cukup bikin kuping gue berdengung.

Mendeskripsikan sampai di sini gue akhirnya mengerti terkadang rasa bosan, muak, itu memang akan terjadi. Tetapi hingga menukar kehidupan layaknya dengan milik gue yang biasa aja adalah kesalahan besar.

Sebab serumit-rumitnya rumah tangga ini, gue pasti bisa hadapi. dan gue gak mau pulang ke negeri sendiri. Terima kasih Nakunta atas hadiah paling berharga yang lu kasih ke gue. Gue akan jaga dua orang tua lu sebanyak afeksi yang mereka bagi untuk gue. Gue akan bahagia, sebanyak mereka bahagiakan gue.


`hjkscripts.


Mereka berdua berdiri menghadap kaca masing-masing. Bersitatap dengan ekspresi yang siapapun sulit untuk membaca. Nakunta dan ketakuan, serta Anan dan rasa sungkan.

Berdua ini masih bisa melihat paras sama namun berbeda.

“Abang?” Panggil Nakunta dengan senyuman meskipun dibalas geming. Pasalnya, sosok diseberang sana mana suka disebut demikian.

“Abang?” Kicaunya sekali lagi.

Nakunta mengulurkan lengannya hingga masuk setengah melewati kaca. Dia berharap Anan disana juga melakukan hal yang sama, menggapainya, menyambut telapak tangannya, hingga mereka bisa bertukar dunia.

“Ta? Gue minta maaf.” Anan berucap, sedangkan Nakunta tersenyum getir.

Apa maksudnya? Kenapa minta maaf? Dimana yang salah? Siapa yang harus disalahkan? Mengapa semuanya harus terjadi?

“Abang...” Lirihnya. Dia hanya sanggup mengalunkan nama panggilannya.

“Gue suka ada disini, Nakunta. Gue minta maaf karena ternyata lu salah percaya sama orang kayak gue.”

Tenggorokannya kering, bibirnya kelu entah kalimat apalagi yang mampu dia utarakan untuk mengambil hidupnya kembali. Mungkin inilah hukuman bagi anak durhaka seperti dia, mungkin inilah harga yang harus dibayar atas keserakahannya.

“Abang gue takut...”

Terakhir kata abang itu meluncur dari mulutnya. Setelah itu suara kaca hancur berkeping-keping dia dengar menyisakan utuh tubuhnya sembari menatap kaca yang kali ini menampilkan refleksi nyata. Nakunta yang tidak berbeda, Nakunta yang benar-benar dirinya, Nakunta dengan seribu satu bentuk penyesalannya.

“Jaga ayah gue Nakunta, gue yang bakal jaga dua orang tua lu di sini.”


`hjkscripts.


Nakunta meraung, menangis bukan sebab tubuhnya ditarik anarkis oleh dua lelaki yang bukan diciptakan untuk dirinya. Dia hanyut dalam kesedihan akan kehilangan hingar bingar bahagia yang dengan bodohnya dia lepas begitu saja.

Pasrah, bersama lelehan air mata Nakunta duduk dibalik kemudi dikerubungi sorak sorai menyerukan nama Anan. Jika memang kembali adalah mustahil, maka mati mungkin adalah jalannya.


Anan Lawana, setiap kali gue nanya sama ayah apa arti nama gue? Kenapa gue dinamai demikian? Jawaban ayah nggak pernah berubah.

Anan artinya cakrawala, langit dan Lawana artinya samudera. Ayah harap kamu jadi lelaki yang selalu punya cita-cita, pendirian, kehormatan setinggi langit sehingga orang disekitar kamu segan. Ayah juga berharap kamu diberkahi hati yang lapang seluas samudera apapun cobaan yang akan kamu hadapi.

Gue nggak tau apa ini efek dari doa yang diselipkan pada nama gue. Kalau bener gitu doanya mujarab.

Diumur belia kelapangan hati gue udah diuji akan meninggalnya bunda. Wanita cantik nan baik hati yang dengan ikhlas melahirkan gue ke dunia. Entah mengapa, pada hari kematian bunda gue nggak nangis, sedih tapi tanpa air mata. Gue ikhlas bunda pergi, sebab gue sudah cukup tersiksa melihat bunda sakit menahun. Habis air mata yang banyak gue tumpahkan selama merawat bunda. Berakhir, gue menjalani hidup berdua dengan ayah hingga kini.

Doa selanjutnya yang terkabul ada bersama nama panggilan gue yaitu Anan. Diumur yang baru menginjak 21 Tahun, gue banyak disegani temen-temen sekitar lingkungan. Gue nggak tau apakah doa memang harusnya spesifik. Sebab gue yang biasa dipanggil Nan ini udah jadi ketua geng yang dimata orang-orang hal negatif.

Akibat yang harus gue tanggung kali ini adalah tempat nongkrong kena razia dan siapapun yang ketangkep harus masuk penjara. Butuh orang tua buat ngeluarin dengan bayar denda.

Akhirnya gue bisa bernapas lega setelah mendongak lalu mendapati ayah yang berdiri dengan tatapan begitu kecewa di luar jeruji besi.

Sampai di rumah, ayah belum mengucap satu kata pun. Masih beliau dengan wajah kecutnya. Gue melihat ayah keluar dari kamarnya dengan kaus putih tipis dan bawahan celana training panjang. Tanpa pedulikan sekitar dia segera buang baju kerjanya ke rak cuci, lalu dia ambil handuk mandi dan segera memasuki kamar mandi. Lima belas menit ayah keluar dengan wajah segar, dia gantung kembali handuk biru yang entah sejak kapan dia pakai. Ayah menuju kulkas, mengambil beberapa bahan masakan dan memproses semuanya sendiri, tanpa suara. Biasanya, gue akan menawarkan diri untuk membantu. Namun, untuk yang satu ini gue harus paham bahwa semua yang ayah lakukan adalah bentuk coping mechanism beliau.

Setelah masakan sederhananya mendarat di meja, satu kata pertama muncul.

“Makan, bang!”

Seperti janji ayah beberapa waktu lalu, ayah bakal masak buat quality time hari ini. Meksipun tanpa obrolan ringan, meskipun tanpa pertanyaan random ayah tentang gue, meskipun tanpa cerita dia tentang bosnya yang banyak demanding.


Ayah akan ngobrolin semuanya saat dia dan gue sudah tenang. Beliau itu paling pinter cari timing, beliau belum pernah meleset, kelepasan emosi membumbung tinggi saat hadapi gue yang beranjak remaja.

Mungkin, malam ini segalanya jadi serba salah. Perhitungannya kurang tepat, gue yang sedang dipuncak kenakalan remaja, dan ayah yang udah kelewat muak sama pergaulan gue.

“Abang, kalau ayah minta tolong berhenti bergaul sama teman-teman abang boleh nggak?” Kalimat pertamanya dengan lantunan tenang.

Tapi maaf ayah, anak lanangmu ini bukan yang punya banyak teman. Gue bukan yang pintar bergaul. Gue dengan berbagai title kehormatan di lingkungan gue, nggak akan semudah itu untuk ngundurin diri.

“Maaf, abang nggak bisa.”

“Bang, teman kamu itu gak baik. Lihat kamu barusan gimana. Bukan sekali dua kali ayah dilaporin begini.”

Ayah nggak salah, tapi gue juga nggak mau nurut semudah itu. Ini dunia gue, ini kenyamanan gue.

“Ayah gak pernah kekang kamu, bang. Tapi kamu udah keterlaluan, ayah capek, ayah banyak pikiran.”

Dan gue beranjak kasar hingga kursi yang gue duduki terdorong kebelakang dan jatuh, menimbulkan suara gebrakan kuat.

“Abang juga capek, yah. Capek nungguin janji-janji ayah. Capek dengerin ayah bikin janji yang sampai sekarang nggak ada buktinya. Abang kesepian, ini dunia abang, ini kesenangan terakhir abang. Ayah pikir siapa yang akhirnya nemenin abang ketika ayah ingkar sama janji sendiri. Mereka yah! Temen-temen abang! Ayah pikir siapa yang bikin abang nggak punya keputusan lain buat join sama mereka?! Abang sendirian yah, abang cuma punya ayah, tapi ayah nggak ada waktu buat abang!”

“Anan!!!”

Dan upaya dari mengatur emosi beliau hancur lebur seketika.

“Kamu pikir ayah kerja mati-matian untuk siapa? Hah? Ayah gak punya waktu itu kerja bukan main-main. Ayah punya tanggung jawab buat nafkahi kamu! Buat cukupi kebutuhan kamu!”

“Tapi Abang cuma minta waktu ayah sedikit... nggak bisa kah? Abang cuma minta sedikit buat abang ngajuin pertanyaan abstrak yang abang belum paham tentang jadi dewasa. Abang juga nggak mau tersesat, tapi abang nggak ada pilihan.”

Gue pergi, ninggalin ayah dengan beban pikirannya. Ninggalin ayah dengan emosi yang belum beliau ungkapkan.


Di hari penuh tekanan seperti ini yang paling gue pikirkan adalah sosok bunda. Gue berharap bunda ada di antara kita. Gue masih berharap keluarga gue sekarang lengkap.

Kalau bunda masih ada, akan seharmonis apa keluar gue?

Kalau bunda masih ada, akan menjadi apa gue sekarang?

Yang pasti ketidakhadiran bunda bikin gue jadi anak yang emosinya nggak stabil. Anak yang kalau emosi memilih keluar rumah, night drive ngebut-ngebutan, terakhir berhenti di antah berantah sambil nyalain batang penuh kenikmatan.

Ketika mencoba menyalakan korek api, gue dikagetkan dengan kobaran berlebihan. Mata gue sontak menutup sebab takut api. Ketika insting gue berkata aman, perlahan gue buka kembali. Aneh, dunia jadi silau. Dua netra gue menyipit berusaha menyesuaikan keadaan.

Anjing! Lampu mobil bajingan mana yang sesilau ini?!

Gue akhirnya bisa melihat setelah cukup lama beradaptasi. Dari kaca spion gue cukup kaget diperlihatkan sebuah video kehidupan. Mereka adalah dua sosok lelaki dewasa, tengah bercerita dengan tawa bahagia.

“Siapa?” Gumam dalam hati.

Lalu, di antara mereka sosok remaja ikut hadir, disambut hangat oleh keduanya. Keluarga ini seperti yang gue impikan.

Gue hanya bisa terbelalak ketika wajah remaja itu berhasil diperlihatkan... Itu, gue?!


`hjkscripts.


“Dari mana aja kamu?!”

Ketika gue tiba di rumah tepat pukul sepuluh, gak ada benda seberat apapun yang mampu meruntuhkan tembok ketegangan di antara kita bertiga. Gue, dad, dan tentu aja pap.

Inilah keluarga gue, si paling peduli dengan waktu. Si paling menjunjung tinggi quality time. Peraturan ini sebenarnya gak ada, gak tertulis. Namun, ini adalah sebuah komitmen keluarga yang harus dijaga.

Pap yang buat, dad dan gue sebisa mungkin tepati. Pun sebagai remaja, apalagi anak cowok berjalan menuju dewasa tentu butuh waktu tambahan lebih banyak daripada jam delapan malam.

Gue paham suara keras yang dad layangkan ketika kaki melangkah masuk bukan sebab larutnya dunia yang sedang menyelimuti. Namun, ketika dua bola matanya disajikan babak belur di atas permukaan wajah anak lanangnya.

“Kenapa sama muka kamu? Habis berantem? Iya?” Cecarnya dengan nada tinggi.

Gue geming, memilih bungkam. Gue bisa denger nada khawatir meskipun tatapannya mengintimidasi. Tetapi dad hari ini pilih jadi sekeras batu. Dia pilih meluapkan sedikit emosi daripada bertahan dengan ketenangan.

“Nakunta jawab!” Badan gue berjengit sebagai reaksi suara dad yang menggelegar hebat.

Pap berdiri di depan anak tangga terakhir. Gue menatapnya, mengirim sinyal bala bantuan. Lelaki itu menggeleng tanda ini bukan hari gue, lelaki itu agaknya juga ingin dengar segala alasan yang jadi latar belakang adanya diri ini sekarang.

“Aku gak berantem...” Jawabku akhirnya. Hari ini, malam ini bukan waktu yang tepat buat mengelak. Sebab, gue tidak sedikit pun menemukan ruang untuk pergi menyudahi.

“Barcode dirundung sama kating satu jurusannya. Aku lihat dan aku bantu.” Iya, ini Barcode yang sama dengan tetangga sebelah gue. Barcode yang gue panggil bocil.

Sesaat gue menjelaskan, hanya sunyi yang jadi iringan adegan menegangkan. Dad buang napas panjang dan berat sembari pijat pelipisnya.

“Tapi gak begini, kak cara mengatasinya. Kekerasan gak dibalas dengan kekerasan juga.”

“Terus aku harus gimana? Aku harus diem aja gitu lihat temen aku dirundung. Dad, aku tau gimana rasanya.”

Dan pembelaan gue bukan sebagai argumen yang akan menjadi closing party malam hari ini. Akan tetapi jadi topik perdebatan penuh emosi selanjutnya.

“Kamu bisa lapor keamanan kampus. Kamu bisa lapor aku, aku yang akan urus semua.”

Lihat, kan... dad dan segala kemampuannya. Gue tuh cuma ingin mereka berhenti kok. Gue juga gak ingin lihat dengan mata gue sendiri masa depannya direnggut semudah itu.

Lagi, gue ini cowok remaja. Cowok yang punya pride begitu tinggi, cowok yang seharusnya bisa berdiri bersama dua kakinya sendiri, cowok yang ingin dihormati karena aksi mandiri. Bukan, anak kecil yang terus menerus bersembunyi di bawah pandu orang tua bergelimang koneksi.

Kata pap, Nakunta kecil gak pernah tau konsep punya dad. Dad adalah orang asing dan pap adalah pusat semesta. Namun, seiring gue beranjak dewasa gue menjadikan dad sebagai role model juga partner in crime. Dia itu sosok paling rasional, ketimbang pap yang ternyata susah dimengerti. Gue paling jarang berantem kayak gini sama dad, gue paling jarang berbeda pendapat sama dia.

“I can handle it alone! Aku bisa bela diri aku sendiri. Aku gak butuh kamu untuk urus segala masalahku!” Suara gue semakin tinggi, penuh penekanan berharap lelaki yang jauh tua di hadapan gue mengerti.

“Mana buktinya kamu bisa bela sendiri?!”

“Memang kamu menang? Memang kamu berhasil lindungi teman kamu?!”

Shit!

Gue refleks mengumpat dalam hati. Gue memang kalah. Aksi heroik gue tadi diakhiri dengan gue yang dikeroyok tiga orang. Gue kalah, telak. Kabar gembiranya, si bocil gapapa, gak ada luka. Mau gimana lagi, gue bukan cowok yang menguasai jurus bela diri.

“Aku memang kalah, aku memang bukan kamu yang punya privilege yang mana kamu akan dihormati di manapun kamu berpijak. But, at least I'm trying to defend myself and Barcode with my own power. Seperti cerita ayah yang selamatin bunda dari orang jahat meskipun dia gak jago berantem.”

Shit! Lagi-lagi gue harus mengumpat, kali ini diikuti terkejut. Bukan hanya gue, juga pap sama dad. Gue gak tau datang darimana bisa bawa-bawa ayah dalam perdebatan gue dan dad. Iya, ayah gue yang hanya gue kenal dari banyak cerita yang dad bagi.

Gue bukannya menyadari kesalahan, malah semakin menyiram bensin dalam api berkobar.

“Ayah pasti akan bangga sama aku. Ayah pasti akan belain aku bukan marah seperti kamu sekarang.”

“NAKUNTA!”

“Mas?!”

Kedua mata gue sontak bersembunyi di balik kelopaknya ketika gestur tubuh dad bergerak maju mendekat. Gue belum pernah dihadapkan murka besarnya dad. Detik kemudian, gue sanggup buka mata sebab bukan pukulan melainkan pelukan pap yang gue rasakan. Padahal, sesungguhnya gue gak perlu khawatir, dad gak akan pernah main tangan semarah apapun, kedua tangannya akan dia sembunyikan di belakang punggungnya.

“Kamu masuk kamar sekarang.” Pap berkata dengan suara bergetar, dia nampak ketakutan. Gue mana sempat bertanya. Gue memutuskan nurut dan pergi ke kamar. Acuh dengan teriakkan emosi yang masih coba dad layangkan.

“Ayah kamu sudah gak ada! Aku yang punya kuasa di sini!”


Perasaan gue tentu campur aduk. Marah, sedih, bersalah, kesal. Semua itu berkolaborasi jadi satu dan gue konversikan mereka jadi satu bentuk bulir bening yang menetes deras, terus menerus bersama isakan emosional.

Gue menangis, sendiri, dalam sepi. Gue pandangi sosok ayah pada pigura kecil yang berdiri di atas meja belajar gue. Kangen, gue kangen akan sosok yang gak pernah gue kenal baik sebelumnya.

Kalau ayah masih ada, akan jadi keluarga seperti apa kita?

Kalau ayah masih ada, akan jadi ayah seperti apa dia?

Kemilau dari cermin memantul hingga butakan pandangan netra sejenak. Gue beranjak, dengan mata menyipit mendekati titik lokasi. Cahayanya kini berpendar minim hingga gue akhirnya bisa melihat lagi.

Cermin di depan gue bukan cermin yang biasanya memantulkan persis diri ini. Cerminnya kini memutar sebuah video yang belum pernah gue lihat sebelumnya.

“Ayah?” Gumamku ketika muncul sosok yang hebatnya percis seperti ayah dalam foto.

Begitu merindu kah diriku?

“Ayah!” Aku reflek memanggil, dibalas nihil.

Ayah di sana berjalan masuk rumah, masih lengkap dengan pakaian rapih. Dia terus melangkah hingga tiba di ruang tamu sederhana. Berdiri dengan senyuman dihadapan sosok anak lelaki.

Anak lelaki itu adalah... Aku?


`hjkscripts.


a biblebuild au

FFestivalGelembung ; @gelembungfest


Build Point of View.

Masih basah dalam ingatan akan kedatanganmu di malam hari. Nyanyian jangkrik terdengar hebat sebab diiringi musik sunyi. Kubuka pintu pagar yang mana menjadi pembatas antara kita berdiri. Kamu berkata ada hal yang harus diselesaikan sebelum datangnya mentari.

Aku kikuk, dengan bodoh berdiri geming menunggu sebuah kebiasaan. Tanganmu kala itu enggan terentang lebar. Seolah itu sebuah pintu tertutup menolak kehadiran. Setidaknya bibirmu, aku tidak berharap ciuman, cukup ungkapan sapa beserta senyum manis terumbar.

Tubuh besarku refleks menyingkir ke kiri, memberi izin bagimu untuk menginvasi. Lantas pagar kembali aku tutup, mengikuti langkahnya menuju dalam masih bersama bibir mengatup.

Hari sudah masuk dini, namun kita malah duduk berhadapan bukannya berpeluk mesra di bawah temaran lampu menjelajah mimpi. Bersama perangaimu yang tak sehangat biasanya, bersama aku... aku dan seribu kalimat tanya yang sulit mengudara.

Harusnya aku tak perlu gugup, harusnya percaya diriku membumbung tinggi menyambut hadirnya kamu penuh suka cita. Menciptakan suasana seceria mungkin, menangkis hawa dingin di antara kita. Kali ini ternyata dilematis, aku memilih pasrah. Mempersilahkan kamu duduk gunakan gerak raga pun menyajikan air mineral dingin bak sosok tuna wicara.

Dini hari harusnya jadi waktu paling sunyi. Pengecualian untuk diriku, untuk segala gemerisik rusuh dalam pikiranku sendiri.

“Biu...” Dia memanggilku. Gelanyar aneh selalu hadir diikuti suara lembut berisi namaku.

“Biu...” Ulangnya sekali lagi.

Cukup, jangan panggil begitu jika tujuanmu bukan untuk memanggil senyumku. Jangan panggil begitu jika tujuanmu bukan untuk merangsang debaran jantungku.

“Kamu baik, Biu.” Lanjutnya. Aku masih ragu, menolak menerka-terka ujung dari dialog dini hari. Masih terlalu abu mengarah pada negatif, pula terlalu takut menginjak konklusi positif. Bible, lelaki yang tengah duduk berhadapan denganku. Lelaki yang telah menggenggam jemariku selama hampir lima tahun sukar dibaca.

Aku tersenyum getir, “Maksud kamu apa?” Akhirnya, aku sanggup berkata-kata. “Maksud kamu apa bilang begitu?” Cecarku menuntut. Build kamu ini bukan lelaki dengan batasan sabar tinggi.

“Kamu baik, sampai terlalu baik untuk aku.”

Kini aku seolah bermain puzzle, mengumpulkan potongan-potongan pasal maksud dan tujuan. Bagai puzzle milik anak taman kanak-kanak, dimana hanya cukup tiga untai kalimat aku semakin tau kemana arahnya dia membawaku. Dia memakai sayap, menopang tubuhku untuk dibawa terbang menuju langit ke tujuh. Perlahan kepakannya semakin berat, hingga tibalah diakhir hayat cerita kita menuju tamat.

“Kamu pasti bisa temukan lelaki lain yang banyak lebihnya daripada aku.” Lirihnya.

Aku dijatuhkan dari gagah lengannya. Aku terjun, bebas tanpa hambatan, dihempas kuat ditambah hembusan pawana menuju bentala. Aku kembali, menapak kaki bersama raga diri. Pun dalamnya kosong, semuanya ada hanya saja rasanya kopong. Pikirannya, hatinya, debaran jantungnya dirampas raib semua.

“Kita berakhir sampai sini, ya?” Kini potongan puzzle itu lengkap. Bagai dihujam belati, Bagai tertusuk jutaan duri bunga paling indah di bumi. Hatiku sakit, sakit sekali siapa yang bisa obati?

Bible, aku mohon jangan begini.

Beraninya kamu masih bertanya jika tak ada pilihan jawaban selain iya. Beraninya kamu mengambil keputusan sendiri dan menyudutkan aku dipojok begini. Aku harus apa? Aku harus bagaimana?

“Biu...” Ini adalah terakhir kalinya dia memanggil namaku dengan suaranya yang syahdu.

Aku mana punya pilihan, iyakan? Bahkan melontar tanya pun rasanya sia-sia. Maka aku mengangguk, silih berganti dengan air mata yang entah sejak kapan luruh.

Iya, kita selesai sampai di sini. Kisah cinta kita selesai dalam dialog dini hari.


`hjkscripts.


a biblebuild au

FFestivalGelembung ; @gelembungfest


Museum Ambarawa, Jawa Tengah

Bible Point of View.

Entah apa yang dipikirkan pasang delamak kaki hingga berakhir berdiri di tempat ini. Aku hanyalah pria si patah hati yang tengah mencari konsolasi. Tadinya aku menginjak tanah Semarang, kini raga telah berdiri di atas tanah penuh cerita, Ambarawa si kota sebrang.

Kemarin malam aku terlibat obrolan ringan dengan pakdhe. Lengkap kopi hitam pahit ditambah gorengan sukun dan pisang. Aku haturkan maksud bertandang, berangkat jauh dari Surabaya tak peduli banyak yang menghadang.

Masih terasa punggung dibelai, masih terngiang berbagai wejangan yang beliau bagi. Hingga terakhir aku bertanya, “Pakdhe, kalau mau cari wisata yang enak dimana, nggih?”

Di sinilah aku saat ini, ikuti sebuah instruksi. Berangkat pagi sekali hingga dua netra bisa nampak kereta api.

“Untuk berapa orang, mas?” Aku pun menunduk. Sejajarkan kepala dengan lubang kecil jalur tiket yang terlahir.

“Setunggal, pak.”

Satu tiket muncul dari dalam, ditukar uang kertas seharga sepadan. “Monggo, mas. Selamat menikmati.”

“Nggih, matur nuwun.”

Sepi menghadang, sejauh selayang pandang. Maklum, aku datang bukan pada musim berlibur. Aku melangkah, sedikit demi sedikit, perlahan begitu pasti sambil amati peninggalan masa lalu pasal kereta api.

Aku juga bertanya-tanya pada diri mengapa memilih museum sebagai tempat untuk sejenak menepi dari hingar-bingar duniawi. Bukan eling bening atau rawa pening, bukan juga saloka atau monumen terkenal Ambarawa. Aku hanya mengikuti nurani, juga berdasar memori.

“Stasiun Ambarawa dulunya diberi nama Stasiun Willem I sesuai dengan nama penguasa Belanda kala itu. Stasiun ini dibangun agar mobilisasi logistik dan keperluan tentara KNIL tercukupi. Jalur Ambarawa terhubung hingga Semarang resmi selesai dibangun pada tahun 21 Mei 1873.”

Masih sibuk mengamati, bekas lokomotif berbahan besi. Saking terasa sepi, suara pemandu mengalun merdu bak seekor burung kenari. Tata bahasanya rapi, cakap sehingga mudah dimengerti.

Aku jadi teringat seseorang, hampir tiga tahun lalu yang tak sengaja bersinggungan di atas gerbong kereta. Lelaki yang memutuskan untuk terus pulang-pergi bersama menuju tanah rantau. Lelaki yang akan bercerita tentang dinamika masa lalu seolah dia ikut terlibat di dalamnya.

Tawa geli pun muncul, ditambah penasaran pula ikut timbul. Iya juga ya, Biu gimana kabarnya sekarang?


Mulai berkelana bersama, berjanji menua hingga tiba pada ujung dunia. Belum juga jalan sepertiga, genggaman erat akhirnya dilepas jua. Kisahku memang mendatangkan iba, dan aku bersaksi memang sedang tidak baik-baik saja.

Jatuh air dari pelupuk mata, bukan sebab menonton keindahan semesta. Aku tengah duduk, membiarkan luka yang telah lama dipaksa tutup agar terbuka, menganga hingga darah mengucur ria. Aku enggan menahan lagi, banyak waktu panjang terbuang akibat terlalu banyak aku belari. Kini, di dalam gerbong sepur uap yang tengah beroperasi, akan menjadi akhir destinasi manusia dengan lara hati.

Cuap-cuap manusia, lelaki tidak boleh lemah menderita. Pula realita berkata sebaliknya. Rasa sakit datang tanpa memandang, rasa sakit tak bisa menghitung berapa kadar penyiksaannya sebelum menginfeksi jadi radang. Lihat aku saat ini, lelaki penyendiri yang sedang meratapi suratan takdir.

Kilas sinetron akhirnya terputus akan improvisasi mengejutkan yang datang dari sebuah lengan tengah menyodorkan sapu tangan. Aku melirik dari ujung mata basah, menghapus dulu jejak air mata sebelum sambut sosok remaja.

Aku sanggupnya melongo akan sosok yang hadir di tengah gerbong kosong.

“Ternyata aku nggak salah orang. Kak Bible, apa kabarnya?” Remaja itu ikut duduk, mengambil posisi di hadapanku, masih percis seperti beberapa tahun lalu.

“Biu? Biu ya?”

Aku mengamati almamater biru yang dulu masih sering tersampir di pundakku. Tag nama di dada sebelah kiri menjadi validasi bahwa dia orang yang memang pernah aku temui.

“Dunia itu aneh ya kak. Dari sekian kota besar yang banyak dikunjungi orang, kok bisa ketemu lagi di sini. Ini Ambarawa loh kak, bukan Semarang atau Yogyakarta.”

Benar, dunia itu aneh. Namun, keanehan ini mampu menjawab rasa penasaran Mengapa hati nurani berunding dengan pusat kendali tubuh manusia dan memerintahkan mereka bergerak menuju Ambarawa. Ternyata ini alasannya, ternyata dia alasannya. Pun aku sadar, pertemuanku dengan Build kali ini bukan sekedar kebetulan semata. Aku yakin ada maksud dibaliknya, dan maksud itu masih menjadi lanjutan kisah jumpa tiga tahun lalu yang sebenarnya belum usai.

“Kamu ngapain di sini?” Tanyaku, mengutarakan satu persatu rasa ingin tahu.

Build belum berhenti tersenyum, kenapa anak ini begitu bahagia berbanding terbalik dengan suasana diriku. “Aku magang kak di sini. Kadang jaga loket tiket, kadang jadi tour guide gini. Kalo Kak Bible gimana? Pasti udah kerja ya? Kok kakak gak pernah hubungi aku lagi sih?” Benar ternyata, suara yang tadi aku dengar memang berasal dari seekor burung kenari yang tengah berbagi informasi.

“Satu-satu, Biu.”

“Hehehe,” Tawanya menguar, masih lucu sama seperti dulu.

“Abisnya aku seneng banget bisa ketemu kakak lagi. Terakhir aku chat gak ada balesan.”

“Maaf,” Ujarku pertama-tama. Lalu aku menjelaskan, kejadian konyol di Nusa Dua. “Nomorku ganti, Biu. Hapenya jatuh dua tahun lalu waktu liburan di Nusa Dua. Naas, jatuhnya ke laut bukan kolam renang.” Singkat kisah lawas dibalas kelakar, menertawakan betapa konyolnya aku dihari itu.

Kemudian obrolannya berlanjut, sebagian besar berisi pertanyaan retoris. Hingga, tiba juga pada sebuah lingkup pertanyaan yang harus siap aku hadapi. Pertanyaan terduga, juga sepanas bara api.

“Kak Bible, apa sudah menikah dengan pacarnya yang dulu sempat dikenalkan ke aku?”

Aku tau Build tak bermaksud menyinggung, toh dia belum tau pasal kejadian satu itu. Kejadian yang membuat Bible berakhir lemah di atas kereta wisata yang tengah membawa manusia penuh suka cita. Build berhak atas pertanyaannya, karena dia pula sempat kukenalkan dengan sombongnya.

“Satu minggu sebelum acara pernikahan kami, dia bilang rasa cintanya hilang ditelan bumi. Rasa sayangnya buat saya habis terkikis. Hari itu dia berseru, orangnya bukan lagi aku.”

“Kak,” Build meletakkan telapaknya di atas paha berlapis kain jeans. Sebuah gestur kebiasaan milik Build jika sedang tertawa, terkejut, atau memulai konversesi. Kali ini gerakannya membelai, pertanda tengah menenangkan. Ada nada sungkan dan khawatir melalui tutur katanya.

“Maaf, kak. Aku gak bermaksud-”

“Gak apa-apa,”

Iya aku gak apa-apa.

“Gak apa-apa kok, Biu. Aku baik-baik aja.”

Iya, aku yakin sudah baik-baik aja.

Tepat kereta berhenti, kami berasamaan turun tapaki bumi kembali. Sebelum berpisah, tiba-tiba ada kalimatnya muncul di atas tumpukan beragam memori.

“Biu,” Aku lancang memanggilnya di tengah gerombolan pribumi.

“Ya?”

“Tentang hadiah wisuda yang dulu ingin kamu beri, apa masih bisa aku ambil? Kamu bilang, harus aku yang datang sendiri.”


Stasiun Tawang, Semarang

Aku bersaksi tiada siapapun yang bisa membikin rumit skenario kehidupan selain Tuhan sang penguasa umat manusia. Tiada siapapun yang sanggup bolak balikan hati selain sentuhan-Nya sendiri.

Aku masih sulit percaya bisa duduk berdampingan dengan Build seperti cerita lama. Pembedanya adalah, jika dulu aku menunggu seorang diri, menunggu Build dan Penataran bergerak dari peraduannya. Kini aku telah bertemu kembali dan akan pulang bersamanya lagi.

“Ini, kak.” Build menyerahkan kotak sedang berpita. Masih tetap cantik meskipun warna kertasnya mulai memudar lusuh.

“Apa ini?”

“Itu, itu yang kamu tanyakan kemarin. Hadiah wisuda yang belum sempat aku anter ke kamu. Aku selalu bawa kemanapun tempat aku berpijak.”

Hangat telapak tangannya menembus kulit, mengalir cepat melalui syaraf lalu menenangkan hati. “Jangan dibuka sekarang,” Pintanya.

Lantas Build tersenyum ditengah raut kebingunganku, “Nanti aja di atas gerbong. Tapi kalau sudah tau isinya jangan buru gegabah cari aku di gerbong lain. Kakak yang putuskan, aku serahkan semuanya ke Kak Bible.”


Untuk Kak Bible, Si pemilik kursi 21E

Sebelum secarik kertas ini mengumbar pengakuan atas diriku izinkan dahulu kata maaf muncul sebagai pembuka atas kelancanganku. Kak Bible, aku haturkan beribu terima kasih atas waktu yang kamu bagi untuk hadapi aku yang berlagak seperti bayi. Terima kasih sudah menemani pulangku hingga pergiku turut Penataran bersama segala sifat baikmu. Seluruh ceritaku kamu dengar dengan baik, candaku kamu kembalikan tepat pada tempatnya, dan sedihku kamu tampung dengan sabar sembari beberkan berbagai nasehat pula jalan keluar.

Sekali lagi maaf jika aku lancang sebab diriku nyaman. Kalau boleh, bersama torehan tinta di atas putih, serta sepasang sandang untuk memperingati hari bahagiamu, aku titipkan hatiku untuk ditukar dengan milikmu.

ㅡ Build Jakapan.


`hjkscripts.


Peter and Nakunta time

Peter baru menyadari bahwa anak lanangnya sudah sebesar ini. Anak yang dulu sering tidur di tengahnya dan suami, anak yang dulu sering tiba-tiba menyusup di antaranya ketika dikerubungi mimpi. Keputusan Peter agaknya tak membuatnya menyesal sama sekali.

Pun Nakunta, anak itu merengut kala dad-nya datang sudah lengkap berbalut kaus putih celana piyama. Mengomel tanpa henti, terkadang menjadi pedagang sawi yang tengah negoisasi dengan pembeli. Dia tak ingin tidur ditemani, maunya sendiri.

Tutur memang pandai bercakap, namun hati yang paling tau bagaimana diri harus bersikap. Menit berikutnya, Nakunta telah jatuhkan sirah di atas lengan sang ayah. Dua maniknya mengatup, sebab surainya dibelai. Terkadang bibirnya bergumam tanggapi cerita panjang yang tersaji.

Selesai sudah Peter haturkan liku kisah masa lalu. Kini hanya bersisa hembusan nafas ilu dari sang pengadu.

“Aku kalo jadi pap ya marah.” Si pendengar menanggapi.

“Gitu ya?”

Si anak mengangguk, dia membetulkan posisi tidurnya semakin merapat, mencari hangat dalam dekap. Menurut Nakunta, tidur dengan dad-nya ternyata bukan hal yang buruk. Dia jadi ingat bagaimana dulu sering merengek dibacakan buku cerita pengantar tidur oleh dad-nya atau diusap punggungnya hingga tidur oleh pap-nya.

“Tapi kamu gak salah juga sih. Kamu kan mengajak, ada persetujuan dan pap jawab iya.”

“Pinter kamu.” Puji Peter. Nakunta itu pendengar yang baik. Dia bahkan ingat detail cerita seseorang meskipun nampak tak peduli.

“Aku harus gimana, kak?”

“Saran aku ya kita tidur aja dulu, aku ngantuk gak bisa mikir. Besok kita cari caranya.”

“Dasar!”

“Hehe,” Nakunta ketawa. Lalu, dia lanjut berkata, “Good night, dad. Everything will be fine kok. Soalnya kamu punya aku.”

Mau tak mau bibir Peter menyungging senyum. Dia sematkan satu kecupan selamat malam di dahi putranya. “Makasih ya, kak. Tidur yang nyenyak anakku.”


Nodt Point of View.

Aku melangkah, sepuluh jari menyangga tampah berisi berbagai seserah. Aku mengetuk daun pintu, lalu berseru memanggil sang empu. Begitu aku masuk, dilanjutkan duduk, gugup seketika merasuk.

Egoisku seluas samudera, pula congkak setinggi bumantara. Namun kini diriku kecil, daripada kerikil. Hancur sudah rupaku sebab rasa malu, bak kapur yang tengah dihantam alu.

Mulai kusajikan di atas permukaan meja, secangkir teh hangat ditemani biskuit 'selamat'. Getir bibir tersungging, satu kata cukup buat tersinggung. Selamat ini apakah bagai ucapan semangat, atau olokan semata sebab kehadiranku sejak tadi dianggap angin lewat.

Lara hatiku nyeri, kala yang di depanku beranjak pergi. Aku tak sanggup lagi, ingin segera gapai dia meminta sebuah absolusi. Lantas aku pula berdiri, mengikuti tiap gerik sana-sini seperti seekor meri.

“Mas...” Lirih kupanggil dirinya. Pun, suaraku tak berguna.

“Mas?!” Seruanku keras, kali ini aku peluk dari belakang punggungnya yang nampak tegas.

Rengkuhanku mengerat, bisa kurasakan raganya geming juga terkejut. Enggan dilepas tautan rapat, hingga bahunya yang terangkat perlahan turun.

I- I was shocked,” Aku mulai menjelaskan. “Aku ga pernah tau kejadiannya begitu- no, sorry aku akui aku bodoh memilih bersikap begini. it wasn't a big deal, they were our past.” Aku pasrah, masalah ini memang aku yang salah. Padanan kata yang disusun anakku di atas pisau tajam adalah sahih. Mereka dilempar bukan untuk menusuk, namun datang membuka hati beku agar mudah merasuk.

Dua kaki ini mendadak lemas, kala punggung besar kini berganti dada bidang. Kini bukan hanya aku yang mendekap, namun aku juga tengah diperangkap.

“Gak apa sayang.” tuturnya lembut. Nodt tolol gimana bisa kamu ga sayang sama manusia satu ini. Mana bisa kamu ga jatuh cinta sama orang satu ini.

“Aku ga pernah menyesal terima ajakan kamu, mas. Tolong percaya sama aku.”

“Iya. aku tau,” Balasnya. “Dan aku juga percaya sama kamu.”

“Rasa yang aku punya untuk kamu bertahun lalu sampai sekarang benar adanya.”

“Aku bisa rasakan.”

“Aku-”

Ssshh!”

Bibirku telah dibungkam, dipaksa diam oleh sebuah kecupan ringan. Afeksinya begitu menenangkan, beranjak dari bibir menuju dahi. Dijamah lama seolah sedang mengungkapkan kata tersirat yang hanya bisa ditangkap nurani.

“Kamu gak perlu pamerkan semuanya melalui lisan. Sebab yang kamu berikan aku bisa rasakan. Sampai kapanpun, kamu akan selalu jadi pilihan.”


`hjkscripts.


mainan baru.


Nakunta Point of View.

Jadi anak di keluarga gue tuh susah-susah gampang. Ini gue sendiri yang merasakan atau memang nasib tiap anak begini? Gue menyadari setelah banyak lakukan observasi mandiri, beberapa faktor jadi mempengaruhi.

Salah satunya perbedaan umur. Dad sama pap beda umurnya jauh, meskipun pap sudah terbilang dewasa diumurnya menginjak angka empat puluh tapi dibanding dad ya tetap ada celah besar. Pap yang setiap ada masalah inginya dimengerti, dan dad yang sudah terlalu tua buat belajar cinta-cintaan jadi bingung sendiri.

Begitulah dinamika yang harus gue hadapi sebagai satu-satunya kawula muda di rumah ini.

Kini posisinya lagi-lagi gue harus jadi wasit pertarungan dingin. Kadang capek sendiri sih, jadi jembatan itu gak enak, rela diinjek biar objek di bumi bisa tetap terkoneksi dari satu sisi ke sisi lainnya.

Skenarionya sama, sudah biasa. Dad bikin pap kesel yang membuat pap akhirnya acuh sama dad. Gue yakin hasil akhirnya emosi mereka akan bergejolak, meledak, setelah itu ngobrol dan baikan. Tugas gue adalah bagaimana mencari seribu satu solusi biar mereka akhirnya ngobrol.

Buat masalah hari ini gue sepertinya gak usah repot cari solusi, sebab solusi itu akhirnya datang sendiri.

Di sinilah gue, ngintilin pap dan langkah super cepatnya. Diikuti banyak khawatir setelah denger dad masuk rumah sakit perkara gak sengaja makan seafood. Iya, dad itu punya alergi, udah parah banget. He maybe looks cool, but actually kinda careless. Mungkin pikirannya rada kacau, jadi gak sempat cek makanannya.

And, yup! Here we go the damn drama. Pap masuk ke ruang rawat inap dad dengan wajahnya udah merah, penuh rasa bersalah. Dad hanya pamer senyum teduh, masih tiduran di atas brangkar dengan tangannya diinfus.

“Hi, dad! Sorry I can't help to not tell him.” Gue sapa dad sembari taruh tas dan jaket di sofa. Gue lebih dulu mendekat, bantuin dad bangun dari posisi tidurnya. How are you?” Tanya gue lagi. Kali ini dengan pelukan, dad cium puncak kepala gue.

“I'm ok kok, kak.” Balasnya sok kuat. Padahal gue bisa lihat betapa lemesnya dia.

Gue perlahan mundur, kasih space buat pap yang berdiri layaknya patung. Matanya udah jadi bendungan air rapuh, siap longsor biarin airnya meluncur bebas.

“Your turn, pap.” Ujar gue lirih.

Dad senyum penuh kasih sayang, penuh cinta yang sama sejak dulu. Dia tepuk-tepuk kasurnya, suruh pap duduk dekat dia. Pap tentu aja nurut, dia duduk namun wajahnya tertunduk sembunyikan perasaan malu.

“Hei?” Dad angkat dagu pap agar bisa pandang wajahnya. Dia sedikit terkejut waktu jemarinya basah. Pap seratus persen udah nangis.

Gue tadi bilang bahwa keluarga gue cukup complicated, tapi percayalah gue gak pernah sekalipun menyesal jadi anak mereka.

Gue bisa lihat gimana mereka cinta satu sama lain. Gimana dad dengan begitu telaten dan lembut usap lelehan air mata milik pap. Gimana dad bikin pap tenang dengan self diagnosenya bilang he's now fine, he's okay, pap doesn't need to worry, it isn't pap fault. Sebagai gantinya, pap dari lubuk hati terdalam terus menyuarakan penyesalan, dan dia berikan sebuah pelukan hangat penuh ungkapan semangat biar dad cepet sehat.

Bagian yang jadi kesukaan gue adalah ketika dad menyampirkan helai rambut panjang pap ke belakang telinganya, lalu dad cium kening pap bersama jutaan runtutan kalimat cinta yang gak sanggup dia utarakan dengan tutur kata. Well, they're so sweet, way too sweet malah.

Terakhir, satu kecupan ringan diperankan belah bibir mereka, diiringi tawa kecil keduanya jadi konklusi masalah kali ini. Gueㅡ Nakunta akan berlari, menyisipkan badan besar gue di antara keduanya bak anak bayi.


`hjkscripts.


a biblebuild au🔞

FFestivalGelembung ; @gelembungfest


Bible Point of View.

Pernah tidak kalian mendengar susunan kata membentuk pepatah berbunyi hidup adalah tentang pilihan?

Batinku bersuara, betapa hidup akan lebih baik jika benar begitu. Sebelum fakta memaksa merasuk bahwa keadaan sesungguhnya adalah perjalan satu insan memang didasarkan pilihan, kecuali pasal perasaan.

Aku benci, mengetahui bahwa mencintai seseorang telah ditentukan. Bukan kita ingin jatuh hati dengan siapa, bukan kita ingin berkolaborasi menulis kisah manis dengan siapa, bukan juga kita ingin mati nanti dipangkuan siapa.

Sebab dunia punya cara alaminya sendiri untuk mengatur takdir dua manusia mencinta. Dunia ini pula punya karma sendiri untuk menghukum manusia yang abai dengan sengaja. Sakit bukan hal luar biasa, dan mati bahkan sering jadi finalnya.

Perkenalkan, aku Bible Wichapas calon pemimpin kerajaan utara. Pria yang baru melewati usia delapan belas. Pria yang telah menemui dermaga untuk kapalnya berlabuh namun hatinya harus dipatahkan akan tanda soulmate yang tak seiras.

Fenomena ini disebut dengan Soulmate, dimana makhluk hidup telah dipasangkan menurut tanda yang muncul pada tubuh. Mau tak mau, suka tak suka, kita hanya bisa terima. Sebab perbuatan ingkar, pesakitan akan jadi imbalannya.

Aku adalah Bible Wichapas, pemuda yang memutuskan untuk pergi melepas singgasana demi jantung hati. Pemuda yang tengah berlari dari kejaran para abdi. Pemuda yang memilih bersembunyi di gubuk tengah hutan sunyi.

“Mereka gak akan bisa temukan kita di sini.” Aku menutup selambu, menyudahi kegiatan mengamati. Hijau sejauh mata memandang juga diperdendangkan nyanyian malam persembahan kumbang.

Petang datang ditandai bulan muncul benderang. Bias cahayanya mengisi kelam dalam ruang. Aku menyalakan lampu berbahan dasar minyak tanah, lantas senyum mengulas kala paras rupawannya sekarang semakin apik dalam pandang.

“Malam ini kita singgah di sini dulu. Baru besok kita akan pergi menyusup kapal ke luar negeri sesuai janji.” Tuturku persuasif sebab perangai yang lelaki ini tunjukkan nampak gusar pula khawatir.

Lelaki ini jadi satu-satunya yang menarik pada sebuah pesta dansa petinggi tiga tahun lalu. Lelaki yang datang bersama ayahnya sang pemimpin selatan, dan kedua saudaranya. Lelaki si pemilik nama Build, yang sering kupanggil Biu. Lelaki yang ternyata bukanlah milikku, melainkan milik sahabatku.

Cinta itu buta, padanan kata itu cocok gambarkan diriku saat ini. Aku memilih buta, asalkan bersama dia. Toh aku percaya, dia jatuh pada pilihan yang sama pula.


“Biu...” Suara Bible memanggil. Bible mengambil alih dagu si manis yang sedari tadi enggan menatapnya walau raga lelaki itu eksis di sampingnya. “Lihat aku.” Titah selanjutnya. Tipis bibirnya bergerak membentuk lengkung ke bawah kala mata sejajar dengan mata.

Lelaki itu sematkan kecupan ringan pada permukaan dahi si manis, sembari terus memberikan kalimat penuh afeksi. “Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Kamu milikku seutuhnya begitu sebaliknya.” Skenario selanjutnya adalah Build yang jatuh pasrah dalam dekapannya.

“Berpelukan seperti ini memang hangat. Siapa yang tau dada mereka berdua sakit seakan tersengat.” Gumam Build.

Bible bukan tak paham kalimat yang dilontarkan kekasihnya. Pasangan bukan soulmate memang seharusnya tak bersama, atau soulmatenya akan menanggung luka sebesar perbuatan pasangannya. Lagi, Bible adalah lelaki buta mata dan hati akan magis kisah romansa.

“Bayangkan, tubuh hangat yang sedang kamu peluk ini menghangatkan tubuh selain milik kamu. Rela kah?”

Build paling benci disudutkan begini. Sebab dia paling tau jawaban apa yang akan keluar setelah ini.

Bible hanyalah sosok lelaki dengan banyak testimoni manipulatif. Seringai licik muncul bersamaan gelengan kuat tanda penolakan. Build tidak rela, Build tidak mau, karena egoisnya berseru Bible Wichapas adalah milikku seorang. Pada akhirnya, Bible mampu mengendalikan akal sehatnya.

Iklim romantis datang layaknya tamu tanpa diundang. Berhembus pelan bersama angin konstan yang bertandang melalui cela bilik bambu. Hawa dingin ikut serta, buat dua raga semakin erat. Merinding bulu kuduk mencuat, kini indra peraba saling melekat.

Helaian nafas Build kian memburu seiring belaian lembut jemari Bible mengeksplorasi paras rupawannya. Dari pipi, berekspansi menuju dahi, beralih menyusur jembatan cingur, dan berakhir pada dua belah yang suka bertutur.

Belah merah muda kini dijamah hebat. Kecipaknya penuhi ruang bak sedang mengadakan pertandingan gulat. Pasang kelopak indah keduanya mengatup, memilih bergerak andalkan insting nurani.

Build tertindas di bawah kungkungan tegas lengan Bible. Tubuhnya dikunci rapat bagai penjahat kelas kakap yang tak boleh kabur dari rumah pidana. Peluh merambat di antara hawa dingin hebat sebab hari semakin gelap. Helai kain mereka tanggal, sisakan sampul pemberian Yang Maha Esa.

“Bib” Bisik Build memanggil dalam nada serak.

“Biu” Balas Bible tak lupa mengecup bibir lelaki di bawahnya cepat.

“Kamu punyaku.” Titahnya tegas. “Kamu punyaku.” Ulangnya sekali lagi, mendeklarasikan pada angin bahwa lelaki di atasnya adalah hak paten miliknya.

“Saat aku di dalammu, gak akan ada jalan lain selain maju.” Ujarnya menegaskan, meyakinkan Build bahwa apa yang terjadi selanjutnya bukan untuk disesali kemudian hari.

Dan Bible tersenyum bagai manusia paling beruntung ketika dua kaki Build memilih melingkar apik pada pinggulnya. Mempersilahkan Bible menginvasi lebih properti miliknya, menghasilkan lenguhan sakit bercampur lega.

Tubuh bertaut itu bergerak, pertama konstan lambat laun tak beraturan. Keduanya sama-sama punya tujuan, mencari sebuah kepuasan. Kala dalamnya semakin bergejolak, desisan berubah jadi berteriak. Maka kisah ini, berakhir pada sebuah puncak. Melepaskan putih yang nantinya berbuah anak.

“Biu, menghitung hari musim panas akan datang.”

“Lalu?”

“Ayo menikah, ayo kabulkan mimpimu untuk menikah di musim panas.”


`hjkscripts.