hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Build Point of View

Darah berdesir hebat, tingkatkan debar jantung jadi dua kali lipat, ambyar aku dibuat oleh lelaki yang masih belum lamat.

Lagi aku duduk, pada bangku tegak berisi dua. Sekian kali memijak kaki di alas besi belum pernah sama sekali merasa bosan dan sepi. Setidaknya sebab sosok lelaki.

Hari ini aku putuskan untuk bersaksi atas perasaanku sendiri. Memupuk seluruh takut bersama gengsi di dalam inti bumi. Karena, jika tidak sekarang kesempatan mungkin berlari pergi.

Besok aku kembali ke Malang untuk wisuda di hari Sabtu. Mungkin akan jadi perjalanan terakhir kita berdua turut Penataran.

Kereta melaju, deru berisiknya beradu dengan detak jantungku. Detik demi detik telah aku nanti, hingga saat berhenti dimana aku akan memberikan buah tangan sisipan kasih hati.

Tibalah kini, penantian tak panjang lagi. Kepalaku melongok keluar jendela mengabsen tiap raga berjalan mencari gerbong masing-masing.

Namun, tepat saat ini senyumanku harus luntur sebelum waktunya kalah berperang. Aliran merah seolah berhenti, enggan menebar oksigen hingga sel dalam tubuh perlahan mati. Ketika mereka mati, disitulah organ tubuhku saling salah fungsi.

Dia memang tepati janji, duduk di hadapanku. Hanya saya kali ini tidak seorang diri.

Layaknya dihujam belati, aku bisa mati saat ini.

“Biu, kenalkan ini pemilik hati saya. Dia kali ini ikut karena sabtu hadiri prosesi wisuda.”

Belum sempat aku validasi jawaban atas perasaan yang aku miliki. Jangankan begitu, ingin berkoar saja rasanya lidah kelu.

Benar apa kata bunda, kisah yang dimulai pada sebuah perjalanan akan tamat sesudah sampai tujuan.


Aku meminangmu meskipun dihadapan satu saksi. Terik mentari di luar peraduan tak membuat cinta kita enggan bersemi. Ketika pendeta berujar terakhir kali, mendeklarasikan pada semesta pula negeri. Kamu dan aku resmi sepasang suami.

Aku pun bersaksi, tiada siapapun yang akan bahagiakan kamu jika bukan aku sendiri. Build cintaku, aku menitipkan seluruh jiwa raga serta kuatnya rasa cinta padamu pada sebuah cincin yang kini tersemat di jari. Tak akan aku lepaskan kamu, meskipun harus menghadapi mati.

Yours, ㅡ Bible Wichapas.


`hjkscripts.

a biblebuild au.

FFestivalGelembung ; @gelembungfest


Build Point of View.

Aku duduk, di atas bangku khas milik badan usaha negara yang telah berdiri sejak negeri yang aku jajaki merdeka. Aku mana pernah berhenti kagum kala memasuki gedung tua bergaya Belanda dengan sedikit sentuhan masa kini pada beberapa sisinya.

Kesendirianku membuat memori dalam kepala memutar film dokumenter diri sendiri yang menyangkut tentang lokasi saat kini. Masih ingat dahulu, bagaimana sensasi naik transportasi satu ini. Bahkan hanya mengingat buat oksigen dalam paru-paru mendadak kosong.

Bukan sulap bukan sihir transportasi KAI kian membaik dan banyak berbenah diri sejak sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai pada 1864 oleh gubernur Hindia-Belanda kala itu tepatnya di jalur Semarang-Vorstenlanden atau saat ini jalur Solo-Yogyakarta.

Ah cerita ini jadi kemana-mana. Maklum, aku adalah mahasiswa jurusan ilmu sejarah di salah satu perguruan tinggi yang tanahnya sedang aku tinggali. Kota dingin favorit kawula muda untuk menimba ilmu, kota berjulukan Paris van East Java yaitu Kota Malang.

Nada dering khas stasiun menggema, suara wanita cakap beri informasi terdapat satu kereta masuk melalui peron satu. Aku sontak menengok jam tangan, kemudian mendongak menuju jam dinding, memastikan bahwa yang aku miliki tidak salah. Indra pendengar sekaligus menajam, menyingkirkan suara riuh berceloteh ria agar mendapatkan informasi armada yang datang.

“Kereta Penataran, jurusan Surabaya-Blitar-PP lewat Malang.” Otakku seolah mencatatkan pada buku kecil yang disebut memori. Dan aku bersiap diri, menggendong tas punggung serta menyampirkan tas bahu. Tak lupa, aku benahi letak earphone pun memilah lagu sembari jalan berdesakan dengan khalayak ramai.

Aku terjebak di antara lautan manusia penuh hawa nafsu, menggunakan egoisme masing-masing, tanpa mengindahkan hak orang lain. Bahkan, bapak seragam coklat berpangkat keamanan takut sendiri hadapi ratusan awak.

“Beri hak untuk yang turun dulu bapak, ibu sekalian!” Bicaranya lantang. Pun, suaranya seolah kapas tipis terhempas angin. Melayang menuju awang tanpa hambatan peduli.

Butiran air mengandung asam meluruh di bagian dahi. Aku beberapa kali melakukan gerakan menyeka walau hanya dengan kain kemeja. Jambul tertidur akhirnya mumbul akibat ku sisir helainya mundur.

Sepuluh menit waktu dibutuhkan agar dapat mengajak dua kakiku memijak baja bukan lagi tanah. Kini aku harus menyusuri dengan teliti, nomor kursi yang aku miliki. Aku hanya ingin segera duduk kembali, lelah bak suami pulang menuju istri setelah melawan kejamnya duniawi.

Aku terkadang benci situasi begini, ketika usahaku dikhianati. Ada kalanya aku mengerti mengapa bangku kereta api diberi nomor urutan. Tibalah aku berdiri, mematung pada sela isi dua berhadapan yang telah penuh. Herannya, mereka mendadak bisu, sibuk menggenggam dunianya sendiri.

“Permisi, maaf saya duduk di nomor 20E.” Ujarku menginterupsi. Jujur aku tak apa jika mereka hanyalah sekian dari salah satu orang yang punya tiket berdiri, atau insan dengan sifat pelupanya.

“Permisi, mbak ini nomor kursi saya.” Ulangku sekali lagi. Mereka mana tau mengeluarkan dua kalimat barusan amat menguras energi.

Apalagi setelahnya mendapat jawaban menyulut emosi. “Maaf, mas. Boleh tolong ngalah dulu nggak ya? Kasihan pacar saya ngantuk. Mas-nya kan cowok.”

Gila, mereka kira perjuanganku ini apa? Membuat reminder khusus beli tiket tujuh hari sebelum waktu keberangkatan hanya untuk disuruh mengalah.

“Mas, tau gak gunanya kursi gini dinomerin? Biar kalo keretanya nabrak bisa langsung identifikasi lewat data yang ada. Saya cuma mau hidup atau mati setelah sampai tujuan tetap pulang ke rumah saya kok, bertemu keluarga saya, mama, papa. Memang mas sama mbak mau mayatnya dikirim ke rumah saya? Terus orang tua kalian bingung cariin kalian?”

Patung, manusianya disihir jadi patung oleh tutur kata. Bibir bungkam mana sanggup melawan mereka kalah beranjak pulang. Finalnya, aku pun bisa menaruh barang, istirahatkan badan.

“Mas...” Suara panggilan sembari telapak tangan jatuh tanpa permisi menyentuh ujung celana. Aku hanya jawab bermain mata, sebarkan pandangan penuh tanda tanya.

“Terima kasih.” Ungkap pemuda bertopi yang ternyata si pemilik bangku depan. “Saya tadi mau negur mas yang tadi tapi sungkan.” Lanjutnya.

“Ohh,” lalu, aku tersenyum. “Iya, sama-sama”.


Aku tak pernah tau bahwa sosok manusia bisa begini mencuri perhatian. Parasnya, gerak-geriknya, tutur bahasanya. Aku hanyalah perantau kelewat cuek ketika dalam perjalanan transportasi umum. Lelaki ini adalah pengecualian, lelaki dengan topi hitam, berkaca mata, busana mahasiswa lengkap almamater universitasnya tentu berbeda. Jika ditanya apa yang buat perbedaan aku akan jawab tidak tahu, sebab hati punya alasannya tersendiri.

Kupandangi elok lekuk tubuhnya, netraku bak mesin pemindai, nihil sudut dilupakan. Dari mata bukan jatuh ke hati, namun jatuh pada warna biru yang sama dengan milikku. Bibir ini enggan bungkam, diam, sogokan rasa penasaran dari dalam menjadi motivasi menginterupsi.

“Anak almamater biru juga?” Sebuah pertanyaan tanpa pembuka aku layangkan untuknya. Fokusnya pada gawai berhasil aku curi atensinya.

“Iya,” Balasnya singkat langsung kembali lagi pada kegiatan mengetik.

“Jurusan apa?”

“Teknik sipil”

“Ohh,” Aku mengangguk paham. “Saya anak FIS jurusan ilmu sejarah. Oh iya, kenalin saya Build panggil Biu aja.”

Sejenak aku kira lelaki ini tipe si tampan nan angkuh. Melihat jawaban atas pertanyaan yang relatif secukupnya, pun dia membiarkan uluran jabatanku mengawang sekian detik.

Dia menyimpan gawainya, melepas topi hitam, perlihatkan surai panjang ciri anak teknik sebelum akhirnya menjawab dengan senyum manisnya. “Bible,” Ejanya.

“Bukan Bible milik barbie, tapi bahasa lain Alkitab.” Terusnya menjelaskan bagaimana menyebutkan muasal namanya.

“Oke, Bible.”

Kata mereka perkenalan membawa pada dunia baru, membuka lembaran putih bersih yang nantinya akan terukir kisah di antara benang merahnya aku dan dia. Sebab, setelah dia merapalkan namanya pun namaku intensitas dua arah kami meningkat. Hanya dalam waktu singkat, secercah informasi terungkap. Dia yang masuk sebab jatuh pada pilihan kedua, dan dia yang memilih Malang sebab Surabaya panas.

Bible, maksudku Kak Bibleㅡaku sebenarnya malu ketika dia menyatakan telah bergelut dengan berkas pendaftaran yudisium dan wisuda, yang artinya dia kakak tingkat jauh. Meskipun begitu, perangai santainya melingkupi kami berdua hingga nyaman terbentuk. Dia yang kosa katanya mudah dimengerti, dia juga yang diksinya mudah dimaknai. Berdua berceloteh ria tentang apa saja sepanjang jalur kereta api.

Mungkin almamater satukan jiwa kami, membahas lingkungan yang sama kami pijaki. Seringnya aku tak sengaja beramah tamah dengan prajurit Prabu Brawijaya. Mereka yang berdandan ala pemuda masa kini. Membual mengenai berbagai organisasi politik dengan nada menggebu suara tinggi, bercerita tentang gedungnya menjulang tinggi, atau rumputnya seluas negeri, dan membahas rahasia dunia gelap kampus yang mereka miliki.

Bercakap dengan lelaki satu ini, sama dengan membiarkan raga terlalu membuka diri. Kak Bible layaknya magnet bumi, menarik erat gravitasi makhluk yang meninggali. Dan aku bagaikan kaum feromagnetik, membiarkan jatuh hati sesuai intuisi tanpa bisa ditunda lagi.

“Stasiun depan aku turun.” Ucapnya beri informasi sekaligus berpamitan. Kak Bible bangun dari posisi, mengambil barang-barangnya pada bagasi besi.

Sungguh kecewa bertemunya kita akan segera mencapai tamat. Aku baru sadar, banyak bangku telah ditinggal sang pemilik yang turun pada stasiun pemberhentian.

“Kamu turun dimana?” Tanyanya.

Aku pun langsung menjawab, “Stasiun Gubeng. Pemberhentian terakhir.” Senyum getir terulas bersamaan nada bicaranya yang seiring malas.

Aku belum mau cerita tentang kita berhenti ditulis sampai sini. Masih banyak lembar kosong yang ingin aku isi. Aku merasa semakin kecil, gelisah mulai hadir seiring laju roda logam baja karbon tinggi perlahan berhenti.

Hingga akhirnya, aku putuskan untuk beranikan diri.

“Kak?” Seruanku sembari menggapai pergelangan tangannya.

“Ya?”

Gawai ku genggam bergetar, produksi peluh meningkat kali lipat. “Aku ingin kenal kakak lebih dari ini boleh?”

Alis tebalnya menyatu tanda heran nampak gawai yang coba aku serahkan, masih bisa terlihat jelas meskipun tertutup topi hitamnya. Setelah menimbang detik demi detik, aku bisa lepaskan helaan lega.

Masih tetap dengan senyum menawannya dia mengetikkan rentetan angka. “Kabari aku kalau butuh teman ngobrol dalam kereta.”

“Tentu.”

“Sampai bertemu lagi kalau begitu.”

Iya, sampai bertemu lagi.


`hjkscripts.


Bapak Point of view.

Ibarat sebuah kapal, saya tengah melakukan pelayaran. Bedanya, jika mereka ada tujuan tempat berlabuh maka kapal yang tengah saya kendalikan seorang diri pasrah terombang-ambing gelombang laut tanpa tau akan berhenti dimana.

Saya hanyalah seorang pria dewasa yang tengah dibuat pesakitan oleh cinta bak anak remaja.

Jatuhnya, bimbangnya, ledakan euphoria menyenangkan, hingga terakhir rasa sakitnya. Sudah saya lalui semua, kecuali yang terakhir. Ketimbang fase yang lain, yang ini ternyata bertahan lebih lama dan menyiksa. Rasa ini enggan minggir, hingga saatnya ditemukan pengganti.

Saya adalah si manusia yang pernah gagal perkara hati, saya baru tahu ketika dua yang saling mencintai bisa jadi saling melukai kala tak ada lagi letupan menyenangkan yang menggetarkan hati. Dan kami masing-masing akhirnya memilih pergi, mengakhiri kisah cukup sampai disini.

Dahulu, saya adalah nahkoda tamak sok perkasa yang ingin mengendalikan dua kapal sekaligus, memandu dua penumpang yang berbeda menuju pelabuhan tujuan.

Saya baru sadar bahwa ketamakan membawa bala. Dua kapal yang saya bawa sulit dikendalikan, mengakibatkan dua penumpang kecewa, yang berakhir meninggalkan saya.

Di tengah terombang-ambing oleh gelombang memabukkan kadang diterpa badai, diri saya diuji. Saya disuruh memilih salah satu dari delapan arah mata angin.

Disinilah saya, memacu armada dengan kekuatan penuh menuju utara. Pada akhirnya, dermaga pelabuhan ini jadi tempat saya memijak kaki sebagai langkah awal memulai kembali.

Saya berdiri dari balik tembok putih, mematung sekian menit hanya menatap parasnya dari jendela. Rasa rindu seketika menggebu, ingin segera berlari maju mendekapnya. Namun, saya tidak bisa.

Dia yang tengah berdiri di belakang mesin kopinya hanyalah mahasiswa saya yang entah bagaimana dipertemukan kedua kalinya dalam hubungan tabu tak boleh kasat mata. Dia yang sediakan saya rumah kedua, tempat mengadu, lokasi pelarian dari si tua dengan banyak masalah hidupnya.

Perihal perasaan, nyaman adalah titik balik hati saya. Nyaman ini buat saya jatuh, buat saya ingin miliki kamu seutuhnya. Manusia mana yang tak terbuai jika diberikan kenyamanan saat terjerembab pada palung terdalam kehidupan.

Raga saya beku, seperti ada rantai belenggu yang mengikat dua kaki saya kala senyum manisnya muncul. Senyuman itu saya belum pernah lihat sebelumnya. Dan saya yakin ada alasan mengapa dia enggan tunjukkan untuk saya.

Dia tidak bahagia bersama saya.

Ada sensasi perih ketika senyumnya makin lebar. Perih ini semakin meradang ketika saya mendengar tawanya hadir sembari menanggapi guyonan teman sejawatnya.

Saya ingin sapa kamu sekali lagi, setidaknya punya kesempatan satu lagi untuk berbicara dengan nada itu meskipun harus mengulang semuanya kembali.

Apa bisa? Apa kamu akan persilahkan? Jawabannya hanya ada di kamu dan aku akan menunggu itu.


`hjkscripts.


Nodt Point of View.

Gue gak pernah tau bagaimana prosesnya. Satu yang hanya gue tau, kini gue ada di sebuah kafe sepi bersama Nakunta dan bahu tegapnya yang sedang gue jadikan sandaran kepala.

Nyaman terasa ketika pertama kali kepala gue jatuh di atasnya. Gue ga pernah menyadari bahwa bocah kecil yang sedari dulu sering minta gendong sudah jadi sebesar ini. Bahkan, tingginya melampaui gue sendiri.

Bocah kecil yang dulu sering pulang nangis kala teman sebayanya menggoda dia. Bocah kecil yang hobi mengadukan perbuatan nakal temannya. Bocah kecil yang seringkali minta bantuan gue dan mas-nya untuk memarahi si nakal. Bocah kecil yang terbiasa mengharapkan sebuah perlindungan. Saat ini, dia mampu berdiri dengan kakinya sendiri, berjalan hanya berdua dengan bayangannya tanpa takut.

Bocah yang telah berubah jadi remaja SMA ini yang sekarang mampu jadi pelindung. Dia benar bisa diandalkan, jalan satu langkah lebih maju menjadikan tubuh besarnya sebagai perisai anti peluru.

“Mas lo apa kabar? Benci ke gue sebanyak apa? Pasti dia marah banget sama gue.” Gue bertanya dengan nada lemah. Dua manik gue meratapi lalu lalang kendaraan dari balik jendela kaca.

Nakunta merentangkan lengannya, melingkarkan pada sekitar bahu gue. Dia tarik tubuh ini agar semakin merekat dengan miliknya. Tak lupa, dia usap perlahan lengan atas gue berikan sedikit kekuatan beserta rasa hangat. “Gue juga marah sama lu, bukan cuma Mas JJ. Segitu nggak pentingnya kata-kata gue buat lu selama ini. Butuh berapa lama lagi gue jadi anak remaja dimata lu, Mas? Butuh berapa lama lagi sampai tiap kata gue valid?” Ujarnya dengan nada kesal. Namun, kepalanya ikut jatuh menimpa puncak kepala gue.

“Gue minta maaf...” Gue akhirnya menyesal. “Terus gue harus gimana?” Ucapan gue kali ini adalah sebuah bentuk kepasrahan. Pertanda gue kini ada dititik paling dasar dan gue menjulurkan tangan, berharap seseorang menarik gue keluar.

“Lu maunya gimana, mas?” Tanya dia balik yang pasti dapat jawaban berupa gelengan kepala.

“Gue maunya berhenti, tapi masih butuh dia. Kalo gue berhenti JJ bakal ga marah lagi sama gue, rumor yang lagi beredar akan reda, dan mantan bajingan gue ga akan nyiram minyak di atas bara api yang lagi berkobar. Tapi gue harus siap kehilangan mama gue.”

“Tolol.” Dahi gue kena sentil bocah. “Emang lu Tuhan bisa nentuin kapan waktu meninggalnya manusia!” Lanjutnya.

Bener, gue emang bukan Tuhan yang apapun dalam hidup gue adalah sepenuhnya kehendak gue. Tapi, gue cuma manusia biasa. Laki-laki yang sedang jaga mamanya yang punya cancer stadium akhir. Bisa apa selain terus menurunkan ekspektasi. Bisa apa selain berdoa pun menyiapkan diri.

“Gue mau nanya deh mas?”

“Hmm?”

“Lu sama pak dosen sejauh apa?”

Pertanyaan yang mendadak muncul dari bibir cowok SMA ini sebenarnya cukup mudah untuk dijawab. Entah gue yang udah jadi bego, sehingga otak gue mengalami perlambatan daya kerja sampai susah mau kasih respon.

“Ya disitu-situ aja. Sebatas kupu-kupu butuh nektar tanaman buat makan, dan bunga yang pengen dibantu penyerbukannya.”

“Disitu-situ aja tuh maksudnya udah jalan dari Surabaya, tapi nggak sadar udah sampai Amerika? Mas, lu sama dia udah bukan lagi kategori simbiosis. Jatuhnya udah main pake perasaan.”

Demi apa ini anak ngelantur kejauhan. Gue tarik kepala gue dari sandaran nyaman bahunya. “Kok ini jadi kemana-mana sih? Gue lagi cari solusi bukan perkara hati.” Gue tatap muka sebel.

“Oke, mas dengerin gue.”

Tolong gue mulai takut! Apalagi ketika dia atur posisi kursi dan tubuhnya menghadap ke gue penuh. Wajahnya serius, gue bisa tau dari dua alis tebalnya yang hampir menyatu.

“Solusinya cuma milih. Dan pilihannya ada tiga.” Tuturnya. Gue makin gugup kala netra sipitnya mencoba mengunci milik gue.

“Banyak amat tiga?!” Gue tertawa hambar, coba cairkan suasana yang mendadak sunyi, senyap. “Terus mana yang paling banyak benefitnya buat gue?”

“Lu pilih mantan lu lah mas!” Jawabnya enteng.

Gue ga bisa buat ga reflek geplak kepalanya. Gila apa yak harus balikan sama cowok bajingan kayak dia. Definitely no!.

“Kalo gitu pilih gue, mas.”

Harusnya gue bisa ketawa geli seperti biasa saat anak ini umpankan pernyataan cinta. Berapa kali sudah bibirnya lantunkan kalimat demikian yang tentu bagi gue hanya modus sampis belaka.

Namun, khusus hari ini gue akhirnya bisa lihat betapa seriusnya dia. Bagaimana raut wajahnya penuh harap menunggu jawaban dari gue.

Kali ini gue beneran cuma bisa diem. Apalagi, masih bersemayam dipikiran gue bahwa apapun yang terlontar dari cakapnya adalah valid. Gue takut buat jawab, karena apapun itu gue akan jadi belati yang tega menggores hatinya.

Atas keterdiaman gue, akhirnya timbul ulasan senyum getir. Dia telah memilih menjadikan bungkam sebagai sebuah jawaban final atas pertanyaannya.

“Kalau bukan gue orangnya, lantas harusnya yang terakhir. Pak dosen...”

Kala kata 'Pak dosen' disebutkan, gue merasakan satu degupan kencang. Seolah gue adalah mayat yang diberi kesempatan hidup kembali dari mati.

Gue ingin berteriak saat ini juga bahwa Iya! gue mau lelaki satu itu!.

“Jangan ngarang, gue ini mau lepas dari dia. Lagi pula dia sudah punya suami.” Dan akhirnya...gue memilih mengelak.

“Maka jalan terakhir adalah adil, mas. Jangan pilih semua dan coba jadi kuat, berdiri dengan kaki mas sendiri. Bisa?”

Gue ga tau, apa gue bisa?


`hjkscripts.


Nodt Point of View.

Berjalan bersisihan dengan bapak adalah hal paling menyenangkan dalam hidup. Gue bisa menjabarkan mengapa hanya merasakan eksistensinya perasaan nyaman itu muncul.

Satu, bapak suka tiba-tiba menautkan jemarinya dengan milik gue, seolah gue adalah benda paling berharga yang ga boleh hilang dari penjagaannya. Tautan kita akan terayun sesuai ritme langkah kaki.

dua, bapak akan berjalan di sisi bahaya, dan ketika gue refleks ada di sisi sana bapak dengan cekatannya pindahkan tubuh gue ke zona aman.

Ketiga, ini akan jadi posisi favorit gue. Ketika netra jadi saksi paras tegasnya perlahan mendekat dan tubuh gue akan berubah jadi aneh namun menyenangkan, berakhir kelopak mata tertutup sembari harap-harap cemas menunggu momen itu terjadi.

Lima senti...

Tiga senti...

Dua senti...

Satu...

“Ada bini doi, nikahnya di Belanda.”

Dan kali ini, gue memilih menghindar...

Gue gugup, kepala ini mendadak pening. Sedangkan, bapak menatap gue bingung. “Kamu kenapa?”

Apakah ini waktu yang tepat untuk mengais kebenaran? Atau menunggu nanti, ketika kami berdua telah duduk santai di rumah tanpa jaminan gue ga tenggelam lagi dalam pesonanya.

“Pak, tolong jawab pertanyaanku dengan jujur.” Gue beri jeda sebelum bertanya, tenggorokan gue seketika kering hingga harus meneguk ludah sendiri agar basah kembali.

“Kamu udah punya suami?”


Nodt Point of View.

Lagi-lagi gue menertawakan diri sendiri. Pada dini hari yang amat tenang, gue dibuat panik sama mama yang tiba-tiba drop. Panik, bahkan buat panggil dokter pun otak gue butuh waktu buat jalan. Yang bisa gue lakukan hanya manggil kata mama hingga perawat datangi kamar inap.

Puncak komedi dari sitkom ini adalah gue si kalut butuh pegangan. Bukan tembok bata, apalagi tiang bendera. Tetapi dia adalah sosok yang tubuhnya mampu gue buat bersandar. Dari sekian manusia yang punya relasi dengan gue, paras dewasanya sekelebat unjuk diri.

Dia dan gue seolah saudara kembar punya koneksi batin. Di saat gue butuh dia, di sana dia sedang mencari keberadaan gue. Di sinilah dia, duduk temani gue tanpa kata. Aneh, keberadaannya buat gue tenang. Wangi tubuh yang bisa gue cium bak aromaterapi yang mampu usir kelabu menyelimuti tubuh.

“Saya sudah lunasi biaya pengobatan mama kamu. Kenapa kamu gak bilang ke saya?”

Karena aku ingin perlahan lepas dari kamu.

Pada kenyataannya, dia yang gue cari pertama kali ketika gue butuh, dia yang gue panggil ketika gue sedang ditekan keadaan. Dan gue, gue bergantung sama dia.

“Bapak kenapa malem-malem cari aku?” Gue balik bertanya, lebih tepatnya mengalihkan pembicaraan.

Dia mendengus, tersenyum miring seakan pertanyaan gue lelucon. “Kamu alihkan pembicaraan.” Ujarnya.

“Pak, berantem dalam rumah tangga itu bisa kok dihindari. Bapak tuh harus kurangi ego-”

“Saya digugat cerai sama suami.”


Nodt Point of View.

Pilihannya hanya memilih, gue mana boleh tamak. Pun, gue tau setiap pilihan pasti ada konsekuensi yang akan gue hadapi. Meskipun itu adalah kematian.

Dan pilihan gue jatuh pada berhenti serta meninggalkan. Bener kata Nakunta, kalau gue ga bisa memilih maka jalannya tidak ada yang boleh dipilih. Sebagai konsekuensi, gue jadi sosok lemah yang tiap hari nangis sebab rasa bersalah terus hadir lihat mama terus memburuk. Sepeser uang yang berhasil gue himpun dari keringat gue ga akan pernah cukup untuk tunjang hidupnya. Terakhir, gue akan terus menurunkan ekspektasi dan bersiap diri hingga kini, kepergiannya hanya tinggalkan sedikit sakit di hati.

Katanya tujuh langkah orang terakhir yang meninggalkan makam, malaikat akan datang. Kini hanya gue sendirian, meratapi makam yang masih basah dan akan bertambah semakin basah seiring datangnya gerimis.

“Ma, udah ya. Aku titipin mama sama malaikat aja.” Batinku merana. Gue udah ga bisa bedain yang luruh dari pelupuk mata adalah air hujan atau air mata.

“Mama mah enak, pas aku pergi nanti ada yang bakal temenin. Lah aku? Aku sekarang sendirian di sini. Tapi gapapa, aku lega malah kalo mama ga sendirian. Nodt pamit ya, ma. Mama bahagia di sana.” Monolog terakhir sembari mengusap rupa gue yang makin kacau.

Gue berbalik, gue baru tau makam pagi ini amat sunyi. Ada kabut dan rintik air semakin deras yang bikin jarak pandang semakin menipis.

Satu...dua...tiga...

Empat...lima...enam...

Gue berjalan menunduk, seraya menghitung tiap langkah dalam hati

“Tu-” Dan gue berhenti kala ujung sandal gue bersentuhan dengan ujung sepatu hitam.

Netra gue layaknya mesin pemindai. Gue ikuti lekuk tubuhnya dari bawah hingga atas. Ketika bertemu dengan pandangannya, gue mendadak lemas, tangis gue semakin keras, dan biarkan tubuh gue jatuh dalam dekapannya.

Sorry, sorry gue telat.” Dia berbisik sembari mengusap tubuh gue.

Gue jatuh, dia menangkap gue, ga peduli sekarang dua raga kami dihantam air hingga kuyup.

“Jey, gue harus gimana sekarang. Gue sendirian, gue ga punya apa-apa.” Gue mengadu bersama isakan yang udah ga bisa gue tahan.

“Lu punya gue, lu akan selalu punya gue. Gue akan selalu ada buat lu.” Katanya berbisik. Ucapnya bagai obat penenang yang mampu sembuhkan kegelisahan.

“Bawa gue pergi...kemana pun asal ga disini. Gue mau pergi.”

Gue akhirnya putuskan untuk melarikan diri sejenak daripada berdiri sok tegar menghadapi.



Nodt Point of View.

Bener kata sobat gue, perkara akademisi otak gue boleh diadu tapi buat perkara romansa auto jadi orang goblok.

Perth ini udah jadi mantan, ga bisa bilang terindah sebab gue hampir trauma jalan sama dia. Dia si egois, kepala batu, dan lumayan abusive kalo emosinya dipuncak. Katanya, gue orang paling beruntung, bisa lepas dari lapas tak kasat matanya bersih, mulus, sehat jasmani dan rohani. Mantannya dulu minimal ada tiga plester buat nutupin luka.

Pun, katanya lagi Perth memang lagi agak kalem, waras psikisnya ketika jadi sama gue. Dia yang matanya pancarkan binar ketika ngobrol sama gue, dia yang senyumnya semanis larutan gula, dan dia yang perilakunya lembut hanya untuk gue.

Gue ga bisa ngelak, kalau memang disuruh bikin testimoni rasanya pacaran sama Perth, gue akan mengaku bahwa nilai value-nya dia memang setinggi itu.

Namun, dalam pencarian cinta untuk diri gue sangat mengajukan kenyamanan, dan hal itu ga bisa gue dapat dari sosok lelaki berdarah campuran Australia ini. Selalu ada ketakutan saat berada di dekatnya.

Kepala gue menengadah, hari nampaknya telah jadi semakin gelap hingga serbuk berlian berpendar kilaunya di angkasa. Angin berkecepatan konstan terus berhembus menemani gue.

Pandangan gue lurus ke atas, kelihatannya kosong. Siapa yang tau bahwa dalam pikiran gue penuh sesak. Rasanya gue mau sewa jasa gulung benang, sebab yang ada di dalam sana bagaikan benang jahit kusut tak berujung.

Deru mesin mobil jadi pengacau ketenangan. Gue yang udah sampai tahap bikin fake scenario kehidupan diri sendiri sebagai pangeran di negeri barbie harus berhenti sampai di sini. Mobil warna item itu berhenti tepat di depan rumah gue. Selanjutnya, suara berdebam terdengar diikuti langkah kaki seseorang mendekat pintu pagar.

Gue beranjak, rapihin sedikit piyama tidur yang gue kenakan. Ga ada ragu, malah penuh penasaran akan siapa yang bertandang malam begini.

“Loh, bapak?” Gue tentu terkejut. Dari sekian banyak probabilitas yang ada, sosok pertengahan tiga puluhan ini yang muncul.

Gue buka pagar lebih lebar, gue berdiri menyamping tanda persilahkan laki-laki ini masuk.

“Saya kira kamu sudah tidur, beberapa kali saya telpon gak terjawab.” Ujarnya sembari gue persilahkan duduk. Gue pun begitu, refleks cari posisi terdekat dengan bapak.

Gue tersenyum malu, “Iya tadi lagi sibuk.” Elak gue. Sibuk, sibuk jadi pemimpi.

“Ini, buat kamu.” Gue tau dia memang bawa beberapa tentengan tas belanja dan keresek. Tetapi, gue adalah si anti kepedean. “Kamu kelihatan banyak terdistraksi belakangan ini.” Lanjutnya.

Sebelum gue berhasil melayangkan somasi, dia berhasil bungkam bibir gue dengan salah satu jarinya.

“Jangan ditolak, saya mohon.” Pintanya putus asa. “Anggap saja hasil kerja keras kamu.” Finalnya.

Melihat bapak sampai memohon bikin perasaan gue terenyuh. Gue ga lagi sanggup buat keluarkan senjata penuh penolakan. Gue hanya sanggup terdiam, amati raut wajahnya, bidik dua manik matanya tepat dengan milik gue. Dia itu paling hebat buat gue luluh dan jatuh akan perintahnya. Gue dibikin ga bisa ambil keputusan lain.

Bahkan ketika belah bibir gue diusap perlahan pun tak ada suatu reaksi penolakan pasti. Seluruh tubuh ini beku, otak mati fungsi akibatkan kinerja yang lain mendadak ga karuan kala dia memegang kendali atas dagu gue. Dari jarak sedekat ini, gue dapat saksikan bagaimana perlahan wajahnya maju hingga hembusan nafas penuh nafsu kini menerpa permukaan wajah.

Aneh, perasaan ini selalu muncul ketika bapak memperlakukan gue demikian. Perasaan menggelitik dalam perut yang mereka definisikan sebagai butterfly effect, perasaan berdesir kala darah mengalir cepat melewati tiap pembuluhnya akibat meningkatnya kinerja jantung.

Jujur...gue suka perasaan ini, gue selalu suka euphoria detik-detik dua bibir saling bertemu.

Saat keduanya saling melingkupi satu sama lain, terciptalah birahi. Mereka bergerak dari bawah, berlari melawan gravitasi bersama tiap lumatan, hisapan, dan peraduan dua benda lunak menuju pusat kendali yang tengah menghadapi hilangnya konstitusi.

Jika mereka berhasil, kesadaran dan kewarasan akan duniawi diambil alih. Keduanya diasingkan, disubstitusi dengan erotisme. Hingga dua manusia jadi liar, tak terkendali. Dua tubuh berjarak perlahan menjadi satu, bergerak anarkis mencari puncak pelepasan hingga sorak-sorai berupa desisan lega dilayangkan.

Terakhir, dua manusia ini akan terengah dalam balutan basah oleh campuran peluh dan si putih.


`hjkscripts.


Nodt Point of View.

Gue emosi, gimana ngga kalau temen satu kelompok modelnya begini. Dibanding harus dibantu dua orang, gue akan mendeklarasikan bahwa diri ini mampu bekerja sendiri.

Cowok di samping gue ini namanya JJ biasanya gue panggil Jey soalnya dia paling ga suka dipanggil Je. Lanjut, yang ada di sebrang gue dan Jey adalah kakak tingkat gue. Dia sama anak-anak sering dipanggil memble karena emang bibirnya jarang mingkem, terus kalau jalan petentang-petenteng sambil senyum ga jelas. Dia ini kating semester sebelas alias juru kunci kampus dimana angkatannya semua udah lulus ninggalin dia sendiri yang masih lantang-lantung kuliah.

Kalo di kampus ini kaga ada alaska malamute juga gue udah lulus.

Begini lah jawaban setiap ditanyain kapan lulus?.

Iya, alaska malamute itu julukan 'yang katanyasugar daddy' gue. Namanya Pak Peter, dosen yang paling banyak ngajar mata kuliah. Mulai dari semester tiga sampai enam ga ada yang bisa lolos dari diajar beliau. Pak Peter itu salah satu dari sekian dosen yang masuk dalam blacklist mahasiswa. Dari yang ogah jadi anak bimbingan akademiknya, ogah jadi anak bimbingan magang atau skripsinya, dan lebih ogah lagi dapet penguji ujian skripsi.

Pak Peter ini menurut gue pribadi memang bukan tipe dosen yang nyebelin dan banyak mau, bukan tipe si bikin perjanjian di awal semester, dan bukan juga si banyak aturan. Julukan alaska malamute emang paling cocok buat si bapak, badannya gede, wajahnya datar, orangnya dingin, tegas, dan disiplin. Intinya diem-diem mematikan, bodo amat mahasiswa ngerjain tugasnya atau engga konsekuensinya ditanggung pas akhir semester. Lihat nilai D dan E udah biasa, bisa dapet C sujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Anjing! Tugas apaan coba kaga ada jurnalnya begini.” Seruan frustasi ga berhenti dilayangkan sobat gue satu ini. Gue perhatiin layar laptop yang bergerak ke atas, ke bawah yang mana tulisan lamannya berubah jadi warna ungu tanda pernah dikunjungi semua.

“Au yak, bapaknya si Nodt noh!” Sahut Bang Ping yang ga jauh beda, lagi mantengin laptopnya juga.

“Tuh orang udah punya bini belum sih, bang? Perangainya kayak kaga pernah dimanjain bininya.”

Ini nih, yang begini nih jadi awal perghibahan duniawi. Gue jadi pengamat aja deh, pun denger pertanyaan sobat gue juga ikut penasaran. Satu tahun ini, pengetahuan gue tentang bapak adalah nihil. Gue hanya jadi seseorang yang mampu provide apa yang dia butuhkan tanpa campur tangan kehidupannya.

Bang Ping humming sebentar, coba kais satu per satu memori tentang manusia satu kampus. “Ada dia, tapi bukan bini anying. Homoan.” Jawabnya enteng.

Gue tertegun, jemari gue sampai ragu mau lanjut ngetik. Sedangkan, Jey udah melotot kaget, detik itu juga dia ga peduli sama tugasnya. Enakan ghibah aja, mana topiknya setara hot gossip acara silet.

“Hush! Homoan banget bang bahasa lu.”

Cowok dihadapan gue garuk-garuk kepala terus benerin tatanan rambut kriwilnya, “Yee, sorry sorry. Maksud gue tuh suami. Udah nikah beliaunya di Belanda.”

Penjelasan si abang ditanggepin sekedar guyonan belaka sama sobat gue. Percaya ga percaya aja udah. “Sokab anying lu, bang. Emang lu tau itu Belanda dari mananya?”

“Yeu, bocah ngeremehin gue!” Jey kena geplak tepat di kepalanya. “Gue pernah jadi ketua kelas dulu, terus ngumpulin tugas ke rumahnya. Ada noh cowok cakep suguhin minum, mukanya sama kek difoto kawinan yang dipajang. Gini-gini gue juga tau bangsat Eiffel di Paris, terus yang kincir-kincir begitu di Belanda, kalo Borobudur di Jogja.”

Jey makin ngakak tawanya, emang ga jelas banget abang-abang satu ini. “Tolol lu, bang!” Katanya ngeledekin.

“Mana ada Borobudur di Jogja, bang. Bikin geografi sendiri.” Gue ikut nimpalin.

“Intinya begitu lah, ada bojo doi. Tapi masalah jatah rumah tangga ya kaga tau lah.”

Jujur, gue baru tau fakta satu itu dan perasaan gue layaknya sedang terombang-ambing. Gue yang datang ke kampus dengan mood di langit ke tujuh mendadak terjun bebas tanpa hambatan menabrak tanah. Sakit, ga enak, ada perasaan pengen muntah.

Gue harusnya bodo amat sama fakta satu itu. Namun sekali lagi, gue cuma manusia biasa. Bukan si profesional dalam bidang ini yang bisa pisahin mana porsi hati untuk diri sendiri dan kerjaan. Saat ini, gue punya perasaan seperti anak muda yang tengah patah hati.

Nodt, ke ruangan saya sekarang.

Speaking of the devil, setannya beneran muncul. Belum juga kelar nata perasaan nyelekit yang mendadak hadir. Ibarat gue jatuh, luka, terus ada orang gila random yang bawa irisan jeruk nipis dan diperes tepat diluka yang masih basah. Makin perih, gue ga mau dulu lihat wajahnya.

Pertanyaannya adalah, emang bisa? Bener, jawabannya tentu ga bisa. Nodt Nutthasid ini yang akhirnya pamit undur diri lebih dulu sama sobat dan kakak tingkatnya.


`hjkscripts.


Nodt Point of View.

Gue meletakkan ponsel sembari buang napas panjang. Hembusannya berat dan juga pasrah. Iya, gue bisa apa memang sama keadaan ini selain duduk, terima, dan bilang makasih.

Fokus gue sejenak ilang, kesadaran gue dihisap menuju alam bawah. Pandangan gue kosong, pikiran kosong, alias gue ngelamun natap apalagi selain tembok di ruangan penuh bau obat-obatan satu ini.

Lengan gue mendadak hangat akan sebuah sentuhan. Rasa itu mensinyalir kinerja sel-sel dalam tubuh gue untuk kembali aktif. Gue akhirnya kembali menghadap kepada realita. Dimana saat bingung pun gue dipaksa untuk tetap tersenyum.

“Iya, ma?” Sahut gue merespon sentuhan perempuan yang paling gue cinta.

Perempuan satu ini dulunya yang paling tangguh. Manusia paling legowo yang pernah gue temui. Perempuan satu ini yang bikin hidup gue tetep gapapa meskipun dihadapkan fakta punya bapak bajingan yang hobinya main daun muda. Perempuan ini yang paling semangat bangun pagi buat kerja biar bisa hidup dan sekolahin gue.

Namun, semuanya hanya tentang dulu. Sebelum mama sering merasakan gejala aneh yang timbul dalam tubuhnya. Tanpa siapa pun sadari, bidadari gue yang terkenal cantik dan sehat ini punya sel kanker yang hobi makan sel baik dalam tubuhnya. Mama yang ceria, mama yang semangat, mama yang selalu punya cerita lucu tentang temen satu kantornya perlahan jadi lemah hingga tak berdaya.

“Mama butuh apa?” Gue kembali bertanya sebab mama hanya tersenyum lemah. Jemari ringkih yang tengah menyentuh permukaan tangan gue mengerat.

Mama menggeleng, tangan gue beliau tarik dan digenggam kuat. “Kuliahnya gimana? Lagi ada kesulitan ya?” Dia kembali bertanya meskipun suaranya terbata.

“Biasalah, ma. Sekolah kan memang tiap hari makin susah.” Gue mengiyakan aja meskipun masalah gue bukan perkara kuliah.

“Kamu istirahat aja, mama gak apa. Udah makan belum?” Gue menggeleng. “Makan dulu sana!” Perintahnya.

“Iya sebentar lagi.”

Pas banget, ketika gue baru akan cek notifikasi yang masuk, ada satu yang curi atensi gue sepenuhnya.

Saya sudah sampai.

Maka, gue putuskan untuk pamit tinggalkan mama sejenak.


Jika diperintahkan untuk menceritakan secara runtut proses pertemuan gue dan yang ternyata bapak dosen mata kuliah program studi. Gue akan jadi bingung dan berakhir menjawab...

ga tau juga gue bingung.

Itupun kalau ada yang nanya, duduk perkaranya sekarang adalah apakah ada yang tau pasal hubungan gue dan pak dosen? Tentu tidak. Sebutlah hubungan kita ini tabu, terlarang atau banyak dari mereka menyebutnya sugar baby-sugar daddy relationship. Apapun itu gue ga peduli, karena tujuan gue adalah tentang uang.

Gue tau kok, pekerjaan yang sedang gue jalani ini negatif dimata khalayak umum. Namun gue, si pemilik nama Nodt Nutthasid adalah sosok yang pola pikirnya udah pergi ga tau kemana kala mama dinyatakan sakit stadium empat dan harus menjalani pengobatan dengan biaya yang ga murah.

Gue si Nodt Nutthasid ini, selain udah hilang kewarasan berubah layaknya superhero jadi insan impulsif yang terima apapun, bagaimana pun caranya untuk dapatkan puluhan juta dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Di sanalah, sosok itu dimunculkan dalam skenario film kehidupan gue. Si sederhana yang sekarang hidup layaknya sultan lengkap tawa luwesnya sembari ongkang kaki. Si sederhana yang tak lagi punya rasa takut akan kekurangan meskipun banyak harta telah dihamburkan. Peran itu dimainkan oleh teman satu angkatan gue, Pong Pongsakorn.

Dari Pong ini gue akhirnya menemukan benang merah baru, dimana ketika gue ikuti sembari menggulung, diujungnya ada seorang pria. Pria yang jauh lebih dewasa dan tua dari gue, yang mana adalah dosen gue sendiri.

Pria yang gue maksud ini, yang lagi berdiri berhadapan dengan jarak ga lebih dari seratus meter dengan gue. Pria yang perlahan kikis jarak di antara kita.

Semakin dekat...semakin dekat...sampai gue hanya bisa menangkap ketukan sol sepatu mahalnya tengah beradu dengan lantai, suaranya senada dengan degup jantung milik gue. Kala akhirnya gue jatuh dalam perangkap tubuhnya, bau parfum khas miliknya selalu buat diri ini terbuai, nyaman. Pelukannya mana pernah gagal buat tempat peraduan.

“Saya rindu, amat rindu sama kamu.” Tuturnya berbisik.

Dia semakin menarik tubuh gue dalam pandunya. Dia jatuhnya bobot kepalanya di atas bahu gue, seakan dia tengah melepaskan segala beban penat yang sudah lama dipikul. Dan gue yang akan berikan usapan lembut penenang.

Inilah tugas gue, sebagai pelarian, menyediakan rumah kedua bagi dia, sebagai tempat pembuangan keluh kesahnya. Sebagai gantinya, uanglah yang berbicara selanjutnya.


`hjkscripts.

a peternodt alternative universe 🔞


Peter Point of View

Malam ini teramat dingin, begitu kata kulitku jika mereka punya mulut. Suasana sunyi meskipun jam masih menunjukkan waktu sibuk, kubiarkan pula angin berhembus menerpa permukaan wajahku. Rasanya pas sekali, mendukung mendung dalam pikiran yang sebentar lagi jadi badai.

Aku menerawang hamparan bangunan di depan sana. Gemerlap lampu berlomba-lomba jadi paling benderang. Detik selanjutnya entah datang dari mana letupan bunga api membumbung apik hiasi awan gelap. Pun, keceriaannya tak mampu hibur diriku yang tengah sendu.

Rasa heran masih menyelimuti, tega nian aku dijadikan kambing hitam dalam gagalnya sebuah proyek besar. Aku memang pemimpinnya, namun bukan berarti jika salah harus aku yang disalahkan atas segalanya. Mereka semua punya tanggung jawab, dan ini terjadi sebab mereka lalai dalam menjalankan.

Jemariku merogoh saku celana. Benda persegi panjang berisi lintingan penghilang penat jadi pilihan kala gundah. Aku mengamati isinya yang tersisa dua batang, pikirku untuk mampir membeli lagi segera. Kuambil satu dari wadahnya dan segera memantik api agar menyala.

Aku menghisap kuat-kuat hingga rongga dada jadi kopong sesaat. Kemudian, kepulan asap membumbung tinggi ku lepaskan bersamaan beban dipundak. Lagi aku hisap, kali ini membawa pergi sejenak kecemasan akan hari esok. Hisapan terakhir, ada ketenangan yang turut hadir.

Satu batang bukanlah perkara sulit. Tubuhku belum puas, aku masih mau lebih. Jadi, aku ambil kotak dengan hiasan gambar menyeramkan dari saku kembali. Jariku menyentuh yang terakhir, satu-satunya linting tersisa namun tak segera aku lakukan. Perasaanku berat, pergelangan tanganku seperti ada penahannya, otakku pun berkata tidak dan mensinyalir syaraf untuk memainkan sebuah rekaman.

“Rokok itu kata guru aku gak baik loh, dad. Bikin batuk, bikin sakit. Gak cuma kamu yang sakit, tapi aku dan pap juga. Gak apa aku dan pap kalau sakit kan ada kamu yang bayar rumah sakitnya. Tapi, kalau kamu yang sakit aku dan pap gak bisa bayar karena nggak bekerja, nggak ada uang kita.”

Itu suara anakku, si kecil yang dulu buat aku dan suami kelimpungan cari cara agar dia bisa berbicara. Sekarang bicaranya melebihi bijaknya pemimpin negara. Senyumku pun terulas, dalam benakku bertanya-tanya sedang apa dia sekarang? Sudah makan atau belum? Sudahkah dia kerjakan tugas yang katanya lebih sulit daripada dokumen kantor?

Aku rindu rumah dan seharusnya memang begitu.

Aku mengurungkan niat untuk mengisi ragaku dengan lebih banyak nikotin. Baru aku sadar bahwa telah berdiri selama dua jam lebih. Aku harus pulang, mengisi daya energi untuk hadapi hari esok.


Nodt Point of View.

Hei mas! It's 9 p.m. pulang ga kamu?

Menunggu, entah berapa lama pun penantian ku, aku akan tetap menunggu. Aku menopang dagu dengan kedua lengan terlipat di atas meja makan. Netra ini bergantian melirik arah tudung saji pelindung makanan, dan sebuah pesan. Gendang telinga ini jadi lebih sensitif dengan sebuah suara. Harapannya hanya satu, terdengar dibukanya pintu kayu.

Pukul sepuluh tepat suara mesin berderu. Aku tak menyangka menanti kehadiran seseorang bisa semenyenangkan ini. Seperti menang perlombaan di bulan Agustus, kala jantung enggan melambat berdebar ketika namamu disebut untuk menerima hadiah sebagai juara utama dihadapan massa.

Aku menyingkirkan tudung saji. Asap tak lagi mengepul menandakan olahan ini telah dingin. Aku bawa satu persatu menuju dapur untuk dipanaskan kembali, sembari menunggu lelaki itu muncul.

Derit kaki kursi beradu lantai keramik mengganggu aktifitas sejenak. Dari celah dapur nampak lelaki diawal empat puluh tahun telah duduk termenung di atasnya.

He definitely not in a good mood. Seperti, dirinya baru saja melintasi jalanan penuh rintangan untuk mencapai rumah.

Dia yang menghela napas berat beberapa kali. Dia yang wajahnya lebih dingin daripada biasanya. Dia yang tengah menopang kepala dengan dua tangannya. Dia juga yang tengah memijat dua sisi pelipisnya. He's having a hard day.

Aku menghampirinya, membawa piring lauk terakhir dan sebuah teh hangat dalam cangkir. Aku sajikan di depannya sembari mendudukkan diri pada kursi kosong tepat di samping dirinya.

Inisiatif ku berkata untuk mengusap punggungnya. Aku bisa rasakan ketegangan menyelimuti tubuhnya. Aku selanjutnya mengambil lengan kirinya. Melepaskan pengait kemeja pada pergelangan tangan, lalu membantu menggulung ke atas.

Senyum kemenangan muncul kala atensinya berhasil aku rebut seutuhnya. Dia menyerahkan lengan satunya untuk diperlakukan sama. Dia membiarkanku pula untuk membebaskan lehernya dari belenggu kain dasi.

“You okay?” Tanyaku sambil merapihkan tatanan rambutnya.

Mendengar lagi helaan napas berat itu menjadi sebuah jawaban yang cukup bagiku untuk mendeskripsikan keadaannya.

“Have you eat?” Dia menggeleng.

“Nafsu ga kalo makan sekarang? Ini semua makanan kesukaan kamu.” Lanjutku yang akhirnya berbuah jawaban verbal dari bibirnya, “I don't think so. I'm sorry.”

Aku cukup mengerti untuk memahami kondisinya. Tak apalah makanan di atas meja kali ini jadi penonton belaka.

“It's ok, mas. Mau ngobrol ga? Apapun, ga harus tentang hari ini. I'm yours.”

Dia mengambil kesepuluh jariku dalam genggamannya. Dia mainkan sebentar layaknya anak kecil yang tengah memohon maaf pada ibunya. Dia itu lucu, terkadang aku suka dia yang lemah begini, aku suka dia yang bergantung padaku, aku suka mendominasi.

“Ta, is he sleeping?” Cicitnya.

“Hum”

“Syukurlah, jadi dia gak perlu lihat dad-nya pulang dengan keadaan berantakan seperti ini.”

“Dia tunggu kamu, tapi baru ucapkan niat lima menit kemudian menguap.”

Dia lepaskan tawa, kecil namun aku suka melihatnya. Harusnya Ta masih terjaga, aku yakin dia bisa jadi obat penat paling mujarab bagi dad-nya.

“Aku tadinya belum ingin pulang, pikiranku terlalu bercabang, emosiku gak stabil. Tapi wajah kamu dan Ta terlintas di pikiranku. Aku rasa benar adanya, rumah adalah tempat yang tepat untuk mengisi daya tenaga. Melihat senyum kamu menyambut kedatanganku, rasanya besok aku sanggup melawan kejamnya dunia.”

Aku tersipu, gila lelaki satu ini. Mulutnya kadang terlampau manis bak habis menelan madu. Mungkin bagi anak muda masa kini, tutur menggodanya cukup kuno dan terkesan menjijikkan. Tetapi bagiku, kata-kata itu bagai mantra ajaib yang mampu menggetarkan hati.

“Mengisi daya itu makan nasi, mas. Bukan godain suaminya.” Aku memukul pahanya ringan melampiaskan rasa malu yang belum mau pergi.

Tawa renyahnya kembali hadir kala sukses menggodaku. Dia membelai bibirku yang sedikit mengerucut sebal, lalu memainkan pipi yang belakangan ini nampak berisi gemas. Jemarinya bergerak mengunci tengkukku, ditariknya maju perlahan, mendekatkan daun telingaku pada bibir tebalnya.

Perasaan merinding ketika hembusan napasnya menerpa daerah sensitifku. Aku meneguk gumpalan air liur tanda mulai gugup.

Dia berbisik, pelan, gunakan suara bariton mencoba pamerkan dominasinya. “I'm not craving rice or any food, sayang.”

Namaku Nodt, aku hanyalah manusia biasa bukanlah dewa suci yang bodoh akan syarat yang dilantunkan. Dia memintaku, segalanya yang jadi milikku.

Sayang seribu sayang, hari ini aku bukanlah Nodt si penurut. Aku bilang suka melihatmu bergantung padaku. Khusus malam ini, aku yang jadi rajanya.


Nodt beranjak, memindahkan pantatnya dari alas kayu keras ke atas pangkuan paha kokoh sang suami. Peter menyeringai penuh kemenangan kala dua lengannya dapat merengkuh pinggang ramping lelaki awal tiga puluh ini.

Lelaki yang lebih muda kini membiarkan lengannya bertumpu pada sisi pundak Peter. Dia mainkan helai rambut sang suami, padahal dia sendiri yang rapihkan tadi.

“So, what do you want to eat for tonight, sir?” Tanyanya dengan nada seduktif.

Peter gemas sendiri, sepuluh jemarinya tak tahan hingga meremas dua buah persik kesukaan, menimbulkan pekikan lucu dari si pemilik. “Anything you serve, your majesty.”

“It's friday night, mas. You know exactly what's going on after this.”

“Friday night, satan party time.”

“Yep, they're partying in here. Whispering to me to serve myself for you.” Nodt mengecup bibir Peter, Ia gigit sedikit hingga robek keluarkan cairan merah.

Peter terkekeh, Ia usap bercak darah yang menempel di bibirnya. “How kind they're.”

“Right...” Nodt mengangguk setuju, “They're kind, but I'm not. Tonight I'm not yours, instead you're mine.” Finalnya.

“Please, your majesty... lead me.” Pintanya pasrah.

Kecupannya dimulai tanpa ada kelembutan. Salahkan nafsu birahi yang telah berada di puncak mencoba mencuri seluruh kewarasan.

Nodt terus menekan bibirnya, Ia raup bibir bawah milik Peter penuh semangat. Ia lumat, Ia hisap bak mengkonsumsi pil ekstasi dimana tiap penikmatnya akan terjerembab dalam candu.

Ia melayang, kala kegiatan saling memanggut itu bersamaan tubuhnya dimanjakan. Peter menyusupkan dua tangannya dalam kemeja longgar yang Nodt kenakan. Dalamnya polos, sebab lelaki di atas pangkuannya bukan pecinta kaus dalam. Pertama, Peter berikan usapan lembut pada punggung halusnya, Ia salurkan rasa aman dalam rengkuhannya. Selanjutnya, Peter meraba lekuk perut ratanya, Peter selalu suka proporsinya, tidak berlebihan, cantik sehingga cocok di badannya. Terkahir, Peter dengan instingnya bergerak ke atas, perlahan hingga...

Ahhh!

Ia tersenyum akan respon dari tubuh suaminya. Ia ulangi sekali lagi, sekali lagi, hingga dirinya putuskan untuk bermain sejenak dengan dua gundukan mungil di dadanya.

Ughh...

Ahh...Ssshh...

“I just know that you wear my shirt.” Ucap Peter ditengah dadanya yang naik turun.

“Aku sengaja...” Balas Nodt minim kata sebab terbata. Dirinya masih sibuk raup oksigen untuk mengisi kekosongan paru-parunya. “It's yours, the finest, the pricey one. Your birthday gift from me, so you would thinking twice to rip it.”

“Then rip mine, your majesty. Show your power over me.” Ujarnya menggoda. Peter menjilat, mengecup gemas pahatan tato bertuliskan 'HUMBLE' pada ujung bisep milik Nodt. Pemiliknya tak ayal tersipu malu hingga pipinya bertabur bubuk merah muda.

Lelaki di atas pangkuannya kini tertawa puas, Ia berikan sebuah kecupan di tiap titik parasnya sebagai kompensasi atas kesediaannya untuk mengabdi.

“Tapi jangan di sini, mas. Tomorrow is Friday, I don't want to get back pain after this.”

“Sure, sayang...Let's move to our real battlefield, we fight, we die, and fly to nirvana together.”

Benar apa kata mereka, bahwa kita dan rumah bagaikan ponsel lemah baterai bertemu pengisi daya. Lelah kita pulang, siapkan diri untuk esok kembali melalang.


`hjkscripts.


Peter Point of View

Mas, have something to talk to. See you later at home.

Semenjak kepergianmu, saya merasa kosong. Seakan hati saya dilubangi paksa sehingga isinya banyak keluar, saat ini tinggal lah kopong. Saya hampa, saya tak dapat rasakan apa-apa. Saya seolah hidup, tapi mati juga belum ingin menerima.

Hidup saya sunyi, jauh lebih sunyi daripada sebelumnya. Saya layaknya berjalan sendirian di ruangan gelap, langkah sepatu beradu lantai dasar yang menggema jadi pendamping saya.

Kesiapan ini, kesendirian ini, saya mana sanggup. Saya butuh dengar hingar bingar dunia. Maka, tujuan saya bukanlah rumah, melainkan tempat hiburan malam jadi pilihan.

02.10

I'm completely being drunk crazy man.Saya tak peduli berapa lama suami menunggu kedatangan saya. Saya tak peduli seberapa percikan emosi yang akan dilontarkan dia kepada saya. Karena saya ingin berjalan sendiri, tanpa bimbingan, tak peduli jika nantinya tersesat.

Kaki lemah ini terus melangkah, terseok namun pasti sembari jemari bergetar selalu mencari pegangan untuk menopang saya berdiri.

Rumah gelap sepi, lagi-lagi kesepian ini saya benci. Saya sampai dalam ruangan penuh debu. Saya nyalakan lampunya, menampilkan kenangan terdahulu.

Ruangan ini, kamar ini adalah sebuah museum tentang saya dan masa lalu. Saya jatuh tersandung, tersungkur di atas dinginnya lantai. Lalu saya menangis, mengerang kesakitan tatkala film dari lampau terputar kembali.

“Kenapa? Kenapa kalian meninggalkan saya sendiri?”

“Thana, teganya kamu pergi. JJ sudah tiada lantas aku sendiri.”

“Harusnya kamu di sini, harus kita berada di sini. Rumah ini aku usahakan untukmu, untuk menemaniku hingga masa tua nanti.”


Nodt Point of View

Pukul dua dini hari aku terbangun akan sebuah mimpi buruk. Ragaku basah kuyup bak diterjang banjir bandang. Aku mengatur napasku sejenak, “Tuhan pertanda apa lagi ini?”

Ketenangan kembali merasuki jiwaku. Aku mulai bisa mengontrol semua gerak tubuhku. Pertama, aku memastikan Ta masih terlelap.

He's quiet and soundly.

Kedua, aku meraba samping kiri dan mendapati bagian kosong. He's not coming home yet?

Harusnya saat ini aku kembali tidur saja

Harusnya aku menjadi sosok si tidak peduli

Harusnya aku tak melangkah keluar kamar untuk mencari

Harusnya, harusnya, dan harusnya. Semua sudah terlambat, sebab aku mendengar semuanya. Karena aku akhir tau segalanya.

Katakanlah kamu berubah, nyatanya kamu masih terjebak. Katakanlah kamu ingin dibimbing keluar, nyatanya kamu masih ingin terperangkap.

Bagimu, bagi hati nuramu, bagi jiwa dan ragamu, aku ini apa? Aku adalah manusia biasa yang punya batas kesabaran, aku hanyalah manusia biasa yang punya berjuta emosi. Aku bukanlah robot yang diciptakan tanpa perasaan dan pikiran. Aku bukanlah sosok hewan peliharaan yang akan senantiasa menjadi hiburan dikala kamu terpuruk tak peduli karena apa.

“Kenapa? Kenapa kalian meninggalkan saya sendiri?”

Aku di sini, setia berada di sampingmu. Kamu tidak lagi sendiri.

“Thana, teganya kamu pergi. JJ sudah tiada lantas aku sendiri.”

Aku bilang, aku di sini menemani kamu. Hanya saja aku bukanlah Thana.

“Harusnya kamu di sini, harus kita berada di sini. Rumah ini aku usahakan untukmu, untuk menemaniku hingga masa tua nanti.”

Aku...aku sakit hati. Batas sabarku mengatakan aku harus berhenti dan mulai berlari. Nuraniku menjerit enggan disakiti lebih dari ini.

Aku pamit, jika kamu terbangun dan tak menemukanku ada di sampingmu lagi. Itu karena aku yang memilih pergi.


`hjkscripts.