hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.

Nodt terpukau akan asrinya rumah paruh baya yang Ia datangi. Rumah berpondasi batu bata merah nampak menyejukkan dilengkapi interior rotan dan tanaman hias. Bau khas taman tercium kala langkah kaki terus melaju mendekat ke arah pintu.

Diketuk dengan nada sebanyak tiga kali, tak perlu lama menanti pemiliknya hadir menyambut. Wanita bernama Maya kini memeluk Nodt layaknya putra sendiri.

Tubuh jangkung itu dituntun masuk. Nodt sedikit kecewa karena menolak tawaran wanita dermawan untuk tinggal bersama. Rumah ini cocok dengan style-nya, rumah seperti ini masih ada dalam angannya.

“Mau minum apa?” Tawarannya ramah. Nodt tak lupa dipersilahkan duduk.

“Air mineral cukup kok tante.” Jawabnya tak kalah sopan.

“Kamu tuh jauh-jauh kok cuma minta air putih, tante buatin sirup ya? Suka manis apa enggak?”

Nodt tersenyum kikuk, Ia hanya mampu mengangguk lalu berucap terima kasih.

Ketika Tante Maya telah kembali dengan gelas berisi minuman dikedua tangannya, Nodt menyerahkan sepucuk surat yang jadi maksud dirinya bertandang. Nodt perhatikan binar wajah wanita dihadapannya yang tak dapat Ia definisikan.

Butuh waktu setengah jam untuk membaca lembaran kertas berisi tulisan yang Nodt sendiri belum tau apa isinya. Hanya yang Ia tau didalam sana berisi setiap emosi yang mamanya simpan sendiri.

Terakhir, setelah Tante Maya menyelesaikan seluruhnya, beliau beranjak mendekat ke arah Nodt lalu memeluk pemuda itu penuh kasih sayang.


Deru mesin mobil terdengar mendekati rumah. Beberapa detik kemudian riuhnya berganti senyap. Selanjutnya, langkah kaki berat akan sepatu yang beradu tanah mulai berdendang.

Tante Maya tersenyum berarti seolah tau siapa yang datang. Sosok ibu kini berdiri penuh harap menghadap pintu masuk. Ketika dibuka dari luar oleh seseorang, layaknya datang ke acara pesta ulang tahun, sosok itu disambut meriah.

“Nah ini akhirnya datang! Kamu ya mami suruh datang pagi jam segini baru sampai.” Gerutunya sebal sebab beliau memang menunggu kedatangan sang putra.

Peter itu wajahnya datar, minim ekspresi, beda sekali dengan ibunya yang penuh warna. Apalagi dia berdandan layaknya malaikat kematian, serba hitam dari ujung kepala hingga sepatu yang Ia kenakan.

Jujur Nodt tak suka dengan suasana ini, dimana ada orang lain yang tak Ia kenal tiba-tiba datang. Nodt sendiri gak jago pasal bertemu orang baru. Mana kala tubuh Tante Maya sedikit bergeser, Nodt dapat melihat sosok Peter dengan kasat. Ia sempat membeku, bingung harus bagaimana dirinya berlaku.

Senyum kecil dari bibirnya Ia jadikan pilihan, namun dijawab raut datar. Nodt putuskan kontak mata secepat mungkin sebelum Ia semakin terintimidasi. Nodt ingin pulang saat ini.

“Maaf tante, saya izin pamit pulang kebetulan hari sudah sore.” Tutur Nodt sedikit menyela interaksi ibu dan anak.

Tante Maya menatap Nodt dengan raut dibuat kecewa. Belum ada setengah jalan ceritanya dan sang mama sempat diungkapkan kembali. Namun memang, melihat awan dengan semburat ungu mendadakan waktu hampir jadi malam.

“Oh iya, kamu pulang naik apa ganteng?” Tanya beliau. “Tante nggak lihat tuh ada kendaraan pas kamu datang.” Lanjutnya.

“Saya naik taksi online.”

“Kalau gitu, nih mumpung ada anak tante mau ya dianter?”


Nodt ingin pulang, begitu doanya lima menit yang lalu. Tuhan memang benar tak pernah tidur, buktinya doanya langsung terkabul. Dia memang pulang, namun bukan sendiri melainkan bersama orang yang entah mengapa ingin Ia hindari.

Nodt lagi-lagi benci dengan keadaan. Kali ini dia benci karena harus duduk berdampingan di dalam ruangan sempit berbentuk mobil. Peter memang diam, terlampau sunyi malah, pun begitu aura yang dikeluarkan membuat Nodt merasa kecil. Sebutlah Nodt berlebihan sampai harus mengeratkan jemarinya pada sabuk pengaman.

“Rumah duka kemarin, rumah kamu?” Akhirnya, keterdiaman ini usai. Akhirnya, ada kalimat yang terlontar. Harus dirayakan, sebab kalimat yang keluar dari bibir Peter merupakan yang pertama dalam komunikasi yang mereka bangun.

Nodt mengangguk meskipun Peter tak lepas pandang sedikitpun dari jalan, “Betul, itu rumahku.”

Sekian dari mereka berdua, author akan undur diri. Author benci menggambarkan betapa sepinya diantara mereka. Peter sebagai pemilik armada enggan pula menyalakan radionya.

Tunggu, belum waktunya scene ini selesai, sebab detik kemudian Nodt beranikan diri membangun jembatan komunikasi.

“Saya Nutthasid, Nodt Nutthasid.” Celetuknya tiba-tiba. Nodt merasa Ia butuh memperkenalkan diri lebih proper daripada waktu lalu Ia sibuk menangis.

Ungkapan Nodt tak langsung berbalas. Hingga Nodt meruntuki dirinya sendiri karena merasa sok akrab.

“Peter Knight.” Balas si pria dingin singkat.

Nodt tersenyum malu-malu, menurutnya nama itu cocok dengan kepribadiannya, “Right, Kak Peter. Sounds good.”

“Saya bukan kakak kamu.”

What the name of hell?

Nodt pikir inisiatifnya membawa kembali balasan positif. Namun, Ia salah kaprah, Peter Knight bukan manusia yang mudah ditebak.

“Kalau begitu Peter. Just Peter.”

“Saya yakin, saya jauh lebih tua daripada kamu.”

God, Please help Nodt getting out from here asap!

Terakhir, ini akan jadi yang terakhir Nodt berbicara dengan orang satu ini.

“Mas Peter?”

Hening... Nodt beranikan diri menoleh tuk meneliti tiap perubahan rupa lelaki disebelahnya.

“Mas Peter? How is it?” Nodt mengulang sekali lagi.

“Hmm... Whatever suit you.”

Nodt tak pernah tau bahwa jawaban Peter yang satu itu bisa membuatnya amat bahagia.

“Mas Peter it is.”


`hjkscripts.


Nodt Point of View

Ngobrol katanya, dari hati punya hati ujarnya. Aku tak tahu seberapa besar batas kekuatan komunikasi, pun aku menyadari cara itu banyak berhasilnya. Dua kali pasalnya dan aku berakhir semakin jatuh akan pesonanya. Dia dengan mata tajamnya tersirat memohon, dia dengan bibir tebalnya melantunkan kata demi kata berupa penjelasan, dia dengan gestur afeksi lembutnya menjadi penutup, dan aku akan jadi si pendengar yang pada akhirnya mencoba mengerti serta memaafkan.

Aku membawa dua gelas teh hangat dengan kepulan asap masih membumbung di udara. Sebelum kuletakkan di atas meja ruang santai, Peter turut berdiri membantu. Aku menyesap demi sedikit, rasa hangat merasuk dalam tenggorokan. Peter di sampingku, aku tau dia tengah memandangi dari posisinya. Tubuhku terlonjak kala jemari besar nan panjang menyentuh helai rambutku. Ia merapihkan yang berantakan telaten, menyempatkan membelai sebentar, lalu menyampirkan beberapa ke belakang telinga mencegahnya agar tak masuk dalam cangkir.

Derit sofa terdengar sebelum guncangan kecil terjadi akibat raga berisinya bergeser. Aku terhimpit di antara lengan sofa dan dirinya, jarak kami semula selebar lautan, sekarang hanya disekat debu. Aku meletakkan cangkir kembali pada asalnya, kemudian membiarkan fase talked it out mendekati sebuah momentum. Dia melingkarkan satu lengannya mendekap bahuku. Dia menarikku pelan takut-takut jika aku menolak. Aku melemas, aku pasrah, aku lagi-lagi dengan mudah masuk dalam pelukannya.

Nyaman, hangat, aku sangat suka. Jika keadaan akan lebih baik nantinya, aku ingin lakukan ini seharian, tanpa waktu jeda, sembari menghitung helai rambut halus yang tercetak di dadanya. Entah butuh berapa lama, tak peduli berapa banyak. Karena di sini, dalam rengkuhannya aku merasa dilindungi.

I miss you.” Bisiknya bersamaan nafas lega meluncur begitu saja. Dia mengecup puncak kepalaku beberapa kali, kian detik semakin erat dekapannya seakan takut aku pergi.

I miss you.” Bisiknya sekali lagi.

Apakah benar itu untukku?

Apakah benar penampakanku yang tengah kau lihat saat ini?

I miss-”

“Siapa Thana?” Tembakku langsung, cepat, tepat menembus ulu hati. Belaian menyenangkan pada kepalaku berhenti, Aku bisa rasakan syarafnya menegang hingga raganya kaku.

“Dia...dia-” Tuturnya ragu. Aku bisa rasakan degub jantungnya bertalu.

“Tolong, tolong aku agar bisa lepas dari keraguan ini. Kamu terlalu sulit untuk aku pelajari sebab kamu seputih susu bukan sebening air. Kamu terlalu sulit untuk aku baca bak buku kehilangan beberapa halamannya. Kamu tak terduga, kamu abstrak hingga terlalu sulit bagi aku untuk menebak isinya.”

Peter terpaku akan ucapanku, dia alihkan gugupnya dengan berikan banyak kecupan di dahiku. “Thana masa laluku...” Mulainya. Dia berhenti sejenak, memilah tatanan kata mana yang harus diungkapkan.

“Dia masa laluku, dia yang pertama buat aku.” Lanjutnya. Peter menarik napasnya berat, lalu menghembuskan perlahan. “Dan dia masih jadi yang pertama buat aku, belum terganti sampai detik ini.”

Hancur, hatiku hancur berkeping-keping

Runtuh, duniaku runtuh sisa debu

“Aku minta maaf.”

Tidak, jangan dengar maafnya lagi. Jangan terima begitu mudah kembali. Aku sakit, seluruh badanku seakan dihantam beban berpuluh kilo. Aku ingin lari, menyendiri, tak mau dikenali. Hanya Nodt satu ini bodoh bukan main karena cinta, berakhir selalu bertahan bersama rasa sakitnya.

“Thana sudah pergi jumpa dengan bahagianya. Tapi aku masih terperangkap dalam sumur masa lalu. Aku sendirian dan aku kebingungan cari jalan keluar.”

“Aku butuh seseorang untuk menarikku, untuk jadi cahaya penerang jalanku. Karena aku ingin bebas, karena aku ingin bahagia juga. Maka dari itu aku mengikatmu, tolong aku sayang... selamatkan aku dari penderitaan ini.”

Pada akhirnya, cerita ini kembali selesai dengan aku yang kembali kalah. Aku si lemah akan cinta kembali mencoba mengerti dan memaafkan.


`hjkscripts.


Peter Point of View

Datang dan pergi dalam sudah semestinya terjadi dalam periode siklus kehidupan. Namun saya masih bingung, mengapa datang selalu bawa kegembiraan sedangkan kepergian menimbulkan luka. Saya sebenarnya benci jika harus menghadiri pemakaman meskipun saya tahu yang dikebumikan bukanlah orang terdekat saya.

Kala langkah kaki pertama menginjakkan rumah kediaman, pilu tangis menggema dalam ruangan. Saya tak dapat mengidentifikasi siapapun di sana akibat semuanya berpakaian hitam. Mami menggapai lengan saya, genggamannya erat hingga saya harus menopang tubuhnya. Dahi saya mengernyit, pertanyaan pasal siapa yang ada di dalam peti jenazah mulai menghantui.

Mami mulai terisak sembari kami berjalan mendekat ke arah peti perlahan. Kumpulan manusia di depan beri jalan bak pintu istana terbuka. Bersamaan itu pula, suara raungan menyesakkan kian lantang. Sosok pemuda bersimpuh disamping beku tubuh sang ibunda, Ia mengutarakan kesedihan dan penyesalan berharap itu semua mampu menghidupkan jasadnya kembali.

“Nodt?” Mami menghambur memeluk pemuda yang dipanggil Nodt.

Seolah berada dalam pertandingan lari estafet, kini giliran mami yang menangis. Mimik pemuda itu bingung hingga Ia lupa tangisnya, pun begitu Ia tetap memberikan tempat ternyaman bagi mami dalam dekapannya.

“Nodt, maaf saya baru datang ketika Irene sudah tak lagi di dunia. Maaf saya tak pernah ada untuk Irene waktu dia sakit.”

No, it's ok. Boleh saya tau hubungan anda dengan mama saya?”

Saya tanpa sadar terseret masuk dalam percakapan mereka. Rasa penasaran akan pemuda ini membuka lebar-lebar indra pendengar saya. “Perkenalkan saya Maya, sahabat Irene dari masa SMA.” Mami memperkenalkan dirinya.

“Ini anak saya, Peter. Peter ini anak mendiang teman mami, Nodt.”

Binar sembab itu pertama kali bersitatap dengan milik saya. Sendu, suram, kebahagiaannya hilang entah kemana. Saya mengulas senyum kecil membalasnya dan hanya butuh waktu tiga detik sebelum Ia memutus kontak. Dalam waktu singkat itu, hanya dalam tiga detik itu alam mampu mengetik lembar jalan cerita tak terhingga jumlahnya dengan nama kami berdua menjadi sang pemeran utama.


unexpected letter.


Nodt Point of View

Benar kata desas-desus disana bahwa yang namanya orang tua itu pusat dunia, bahwa orang tua itu segalanya. Aku baru sadari sekarang ketika telah ditinggal keduanya. Nodt sekarang adalah si sendiri, Nodt hari ini dan seterusnya yang akan ditemani sepi.

Aku amati kamar besar yang telah sunyi. Bau pengap bercampur debu jadi penyambut ketika kuberanikan diri membuka pintu kayu. Aku menyusuri tiap sudutnya, aku berjalan kecil beriringan serta tiap kenangan yang berputar dalam memori. Terakhir aku berdiri, dihadapan lemari jati yang nantinya akan menyeretku lebih dalam menuju dunia lama sang mama.

Kubuka perlahan keempat pintu lemari. Telah kusiapkan pula banyak kardus untuk menampung isinya. Aku telah putuskan untuk membagikan segenap memori dalam sebuah benda pada orang lain yang membutuhkan daripada menyimpan sendiri bersama duka.

Satu persatu kain aku pilah. Perlahan namun pasti aku turunkan banyak dokumen di atasnya. Aku duduk diantara dinginnya lantai, detik kemudian aku tersenyum kala album foto tak sengaja mulai kujelajahi.

Mama dulu sangat muda, dia si wanita pecinta olahraga, banyak gunung yang berhasil dia taklukkan. Sekarang aku percaya bahwa ceritanya bukannya dongeng belaka, energi mudanya banyak diturunkan padaku saat ini.

Maya dan Irene sahabat selamanya.

Jemariku mengukir tiap huruf yang ditulis dengan cantik. Aku telah sampai pada album kesekian. Album satu ini unik, kesannya ceria dan menyenangkan ketika membukanya. Aku sontak teringat satu rupa wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Maya.

“She was coming for you, ma.” Gumamku dengan nada lirih.

Aku pun melanjutkan perjalanan mereka berdua. Sungguh benar, buku ini adalah sebuah petualangan dua remaja perempuan yang menyenangkan. Hingga terakhir hatiku dibuat sedih.

Hari terakhir bersama Maya.

Sampai bertemu saat cita-cita kita tercapai nanti!

Begitu mama menulisnya. Foto itu diambil ketika hari wisuda. Mereka mengenakan kebaya dilapisi toga dengan senyum menawan.

Sebelum aku benar-benar menutup kisahnya, sebuah surat tersemat di dalamnya. Aku pun mengambilnya, masih cantik, tersegel dalam amplop. Aku tahu ini mama yang menulisnya, aku hafal sekali tulisan tangannya.

Surat ini untuk sahabatku Maya.


first time talk.

Nodt terpukau akan asrinya rumah paruh baya yang Ia datangi. Rumah berpondasi batu bata merah nampak menyejukkan dilengkapi interior rotan dan tanaman hias. Bau khas taman tercium kala langkah kaki terus melaju mendekat ke arah pintu.

Diketuk dengan nada sebanyak tiga kali, tak perlu lama menanti pemiliknya hadir menyambut. Wanita bernama Maya kini memeluk Nodt layaknya putra sendiri.

Tubuh jangkung itu dituntun masuk. Nodt sedikit kecewa karena menolak tawaran wanita dermawan untuk tinggal bersama. Rumah ini cocok dengan style-nya, rumah seperti ini masih ada dalam angannya.

“Mau minum apa?” Tawarannya ramah. Nodt tak lupa dipersilahkan duduk.

“Air mineral cukup kok tante.” Jawabnya tak kalah sopan.

“Kamu tuh jauh-jauh kok cuma minta air putih, tante buatin sirup ya? Suka manis apa enggak?”

Nodt tersenyum kikuk, Ia hanya mampu mengangguk lalu berucap terima kasih.

Ketika Tante Maya telah kembali dengan gelas berisi minuman dikedua tangannya, Nodt menyerahkan sepucuk surat yang jadi maksud dirinya bertandang. Nodt perhatikan binar wajah wanita dihadapannya yang tak dapat Ia definisikan.

Butuh waktu setengah jam untuk membaca lembaran kertas berisi tulisan yang Nodt sendiri belum tau apa isinya. Hanya yang Ia tau didalam sana berisi setiap emosi yang mamanya simpan sendiri.

Terakhir, setelah Tante Maya menyelesaikan seluruhnya, beliau beranjak mendekat ke arah Nodt lalu memeluk pemuda itu penuh kasih sayang.


Deru mesin mobil terdengar mendekati rumah. Beberapa detik kemudian riuhnya berganti senyap. Selanjutnya, langkah kaki berat akan sepatu yang beradu tanah mulai berdendang.

Tante Maya tersenyum berarti seolah tau siapa yang datang. Sosok ibu kini berdiri penuh harap menghadap pintu masuk. Ketika dibuka dari luar oleh seseorang, layaknya datang ke acara pesta ulang tahun, sosok itu disambut meriah.

“Nah ini akhirnya datang! Kamu ya mami suruh datang pagi jam segini baru sampai.” Gerutunya sebal sebab beliau memang menunggu kedatangan sang putra.

Peter itu wajahnya datar, minim ekspresi, beda sekali dengan ibunya yang penuh warna. Apalagi dia berdandan layaknya malaikat kematian, serba hitam dari ujung kepala hingga sepatu yang Ia kenakan.

Jujur Nodt tak suka dengan suasana ini, dimana ada orang lain yang tak Ia kenal tiba-tiba datang. Nodt sendiri gak jago pasal bertemu orang baru. Mana kala tubuh Tante Maya sedikit bergeser, Nodt dapat melihat sosok Peter dengan kasat. Ia sempat membeku, bingung harus bagaimana dirinya berlaku.

Senyum kecil dari bibirnya Ia jadikan pilihan, namun dijawab raut datar. Nodt putuskan kontak mata secepat mungkin sebelum Ia semakin terintimidasi. Nodt ingin pulang saat ini.

“Maaf tante, saya izin pamit pulang kebetulan hari sudah sore.” Tutur Nodt sedikit menyela interaksi ibu dan anak.

Tante Maya menatap Nodt dengan raut dibuat kecewa. Belum ada setengah jalan ceritanya dan sang mama sempat diungkapkan kembali. Namun memang, melihat awan dengan semburat ungu mendadakan waktu hampir jadi malam.

“Oh iya, kamu pulang naik apa ganteng?” Tanya beliau. “Tante nggak lihat tuh ada kendaraan pas kamu datang.” Lanjutnya.

“Saya naik taksi online.”

“Kalau gitu, nih mumpung ada anak tante mau ya dianter?”


Nodt ingin pulang, begitu doanya lima menit yang lalu. Tuhan memang benar tak pernah tidur, buktinya doanya langsung terkabul. Dia memang pulang, namun bukan sendiri melainkan bersama orang yang entah mengapa ingin Ia hindari.

Nodt lagi-lagi benci dengan keadaan. Kali ini dia benci karena harus duduk berdampingan di dalam ruangan sempit berbentuk mobil. Peter memang diam, terlampau sunyi malah, pun begitu aura yang dikeluarkan membuat Nodt merasa kecil. Sebutlah Nodt berlebihan sampai harus mengeratkan jemarinya pada sabuk pengaman.

“Rumah duka kemarin, rumah kamu?” Akhirnya, keterdiaman ini usai. Akhirnya, ada kalimat yang terlontar. Harus dirayakan, sebab kalimat yang keluar dari bibir Peter merupakan yang pertama dalam komunikasi yang mereka bangun.

Nodt mengangguk meskipun Peter tak lepas pandang sedikitpun dari jalan, “Betul, itu rumahku.”

Sekian dari mereka berdua, author akan undur diri. Author benci menggambarkan betapa sepinya diantara mereka. Peter sebagai pemilik armada enggan pula menyalakan radionya.

Tunggu, belum waktunya scene ini selesai, sebab detik kemudian Nodt beranikan diri membangun jembatan komunikasi.

“Saya Nutthasid, Nodt Nutthasid.” Celetuknya tiba-tiba. Nodt merasa Ia butuh memperkenalkan diri lebih proper daripada waktu lalu Ia sibuk menangis.

Ungkapan Nodt tak langsung berbalas. Hingga Nodt meruntuki dirinya sendiri karena merasa sok akrab.

“Peter Knight.” Balas si pria dingin singkat.

Nodt tersenyum malu-malu, menurutnya nama itu cocok dengan kepribadiannya, “Right, Kak Peter. Sounds good.”

“Saya bukan kakak kamu.”

What the name of hell?

Nodt pikir inisiatifnya membawa kembali balasan positif. Namun, Ia salah kaprah, Peter Knight bukan manusia yang mudah ditebak.

“Kalau begitu Peter. Just Peter.”

“Saya yakin, saya jauh lebih tua daripada kamu.”

God, Please help Nodt getting out from here asap!

Terakhir, ini akan jadi yang terakhir Nodt berbicara dengan orang satu ini.

“Mas Peter?”

Hening... Nodt beranikan diri menoleh tuk meneliti tiap perubahan rupa lelaki disebelahnya.

“Mas Peter? How is it?” Nodt mengulang sekali lagi.

“Hmm... Whatever suit you.”

Nodt tak pernah tau bahwa jawaban Peter yang satu itu bisa membuatnya amat bahagia.

“Mas Peter it is.”



“Gimana kerjaan kamu, Job? Ada peningkatan?” Suara papa interupsi keheningan di atas meja makan. Paruh baya itu meletakkan alat makannya terbalik dan menyilang di atas piring tanda Ia telah selesai.

Job gugup, Ia sesap sedikit air putih untuk bersihkan sisa makanan dalam mulutnya, lalu Ia usap bibirnya dengan serbet sebelum menjawab, “Saya masih dibagian quality control cuma lebih sering di kantor daripada lapangan, pa.”

“Kamu saya lihat sulit sekali berkembang. Coba lihat anak papa ini, padahal umurnya lebih muda daripada kamu sudah jadi kepala.” Balasnya.

“Pa...”

Rengekan Bas enggan digubris, Ia lanjutkan kalimat setajam pisau yang menurutnya adalah sebuah motivasi. “Kalau gini gimana saya bisa percayakan anak saya sama kamu? Saya lebih percaya dia bisa hidup mandiri. Kalau sama kamu, yang ada kamu dihidupi sama dia.”

Ulasan senyum Job nampak getir. Jujur Ia terbiasa, namun terbiasa bukannya tidak menyakitkan. Job ingin keluar dari ruangan ini, Job ingin nyalakan sebatang penuh kesenangan hanya untuk uapkan kusutnya pikiran bersama asap.

Namun, kala telapak halus itu menyentuh permukaan tangannya, hangat menyeruak dalam diri. Job tahu, Ia harus bertahan hingga akhir.


Job Point of View

“Gue udah biasa...” Gumam gue pelan, namun gue yakin Build yang lagi sibuk sama kegiatan nyeduh kopi bisa denger.

Gue terus berucap pada diri gue bahwa hal seperti ini memang sudah biasa. Hal yang selalu menohok hati ini memang jadi konsekuensi si sederhana yang pacaran sama si sempurna.

Tapi tetap aja, hal yang biasa ini gue timbun, menumpuk, dan sekarang jadi kerat di hati, dimana jika gue berusaha buat ngilangin bakal kerasa perih.

“Apa gue nyerah aja yak?” Tawa getir lolos dari bibir gue. Pertanyaan itu selalu muncul ditiap momen keterpurukan gue, namun bisa sirna secepat gue dihadapkan akan senyumnya keesokan hari.

Dia yang punya nama Bas. Kita ketemu waktu kuliah, dia jadi si nerd yang kebetulan gue adalah kakak pembinanya waktu maba. Dia yang selalu manggil gue mas daripada kakak. Dia yang selalu hadir disetiap acara orientasi bahkan ketika temen-temennya bolos berjamaah.

Dia adalah Bas, si perfeksionis, yang akhirnya lulus duluan daripada gue kakak tingkatnya. Dia yang malah nyemangatin gue waktu skripsian sambil ngerintis karir di kantornya. Dia adalah pacar gue.

“Lu kalo putus ama Bas emang ada yang mau sama elu, sob?” Sahut Build sambil nyerahin satu gelas berisi kopi yang masih ngepul asapnya.

Gue senyum lalu menunduk malu karena pertanyaan sekaligus pernyataan Build itu bener.

“Bas mah putus sama elu yang gantiin banyak tinggal milih, bahkan speknya tinggi-tinggi.” Tambahnya.

Asli gue udah mau nangis aja, ngeliat Bas bahagia sama yang lain lewat dikepala gue aja sesek rasanya.

“Tapi itu Bas, sob. Cowok yang cinta matinya elu, dia itu Bas yang menganggap elu nih yang paling hebat di dunia. Dia itu Bas yang melihat elu apa adanya, tanpa embel-embel apapun.”

Bener lagi, dia itu emang Bas yang pernah bilang ke gue rela hidup miskin asalkan sama gue. Sampis emang, tapi gue deg degan. Kata-katanya dia yang satu itu jadi motivasi gue yang sekarang. Job yang dewasa, Job yang bekerja keras, Job yang selalu berusaha.

“Sialan lu!” Gue tonjok kecil lengan sohib gue sebagai tanda terima kasih.

“Besok samperin, ajak ngobrol baik-baik.”

“Siap bos!”


Job Point of View

Gue belum pernah sebaik hari ini. Tadi pagi jemput pacar, ngeboncengin dia sambil dipeluk dari belakang, terus sarapan soto bareng. Ibarat orang ngeliat udah mesra banget. Bahkan kerjaan numpuk di kantor gak bikin semangat gue luntur.

Perut keisi, gue pamit mau melipir ke kafe kantor dulu buat isi energi. Persetan tanggal tua dan harus ngeluarin tiga puluh ribu demi dua shots americano, gue butuh banget.

Saat masuk ke dalam aroma kopi kecium pekat. Gue mengedarkan pandangan untuk mencari pacar gue. Ketika gue kunci wajah manisnya, raut muka gue pun dibuat kesel. Dia nggak sendirian, ada Pak JJ selaku direktur operasional.

Gue mematung diambang pintu hingga tatapan gue dibales sama milik Bas diseberang sana. Dia memandang gue panik, sedangkan gue balas dengan tatapan kecewa dan berlalu menuju toilet.

“Mas?” Suara itu mengalun pelan. Bas ternyata ngikutin gue ke toilet. Gue gak pengen emosi, gue tarik napas dalam terus hembuskan perlahan demi meredam amarah gue.

“Mas...” Suaranya makin lirih dan ada nada ketakutan disana. Dia ngeraih kain lengan baju gue buat digenggam.

Bingung, gue juga gak tau kenapa gue belakangan ini jadi sensitif. Gue yang biasanya pasrah dan legowo jadi sering pengen meronta. Apapun pasal Bas serba nyentil hati kecil gue.

Sekali lagi gue buang nafas kasar, pejamin mata sejenak, lalu begitu aja amarah gue surut. Gue tarik tubuh berisi yang amat lebih pendek dalam pelukan. Dia dengan napas putus-putusnya masih berusaha jelasin kalo gak ada apa-apa bahkan sebelum gue dateng.

Bas itu paling gak suka kesalahpahaman diantara kita. Dia yang selalu gak bisa tidur kalo hari itu kita berantem. Dia si overthinking.

“Iya aku ngerti, maaf gak dengerin kamu dulu.” Kata gue menenangkan. Emang salah gue yang langsung ambil konklusi, emang salah gue dan mood gue yang lagi up and down gak jelas.

“Pak JJ udah balik kok, ayok ngopi berdua aja sama aku.” Cicitnya lucu.

Gue lepas dia, namun gue ganti tautkan jemari tangan kita. Gue gandeng dia posesif buat balik ke meja kafe.


Job Point of View

“Aku aja yang bayar.” Bas beranjak. Sebelum dia berlalu menuju kasir gue lebih dulu menahan tangannya.

“Aku aja.” Ujar gue yang juga ikut berdiri dihadapannya.

“Mas aku aja, tadi pagi kan kamu udah.” Bas bales masih sabar sambil senyum tulus.

Entah kenapa gue agak tersinggung. Semua tentang Bas belakangan ini bikin tingkat sensitivitas gue melambung jauh. Padahal, gue sama dia udah biasa gantian bayar-bayarin gini, malah kadang jadi bercanda aja kalau salah satu gak mau kalah yang akhirnya kita mutusin buat bayar setengahan.

Namun hari ini gue memilih sakit hati. “Kamu kira aku gak bisa bayar?” Celetuk gue dengan nada datar. Bas tentu bergeming sembari menatap gue tak percaya.

“Maksud aku gak gitu, mas.”

“Terus gimana maksud kamu?! Aku bilang aku yang bayar, aku bisa bayar. Aku dominan kamu Bas, jangan mentang-mentang finansial kamu lebih dari aku bisa kayak gini!”

Dan gue tanpa tau lokasi, tanpa tau malu, gue ungkapkan segala pikiran macem-macem dalam kepala gue. Gue ungkapkan segala insecure dalam diri ini yang susah payah gue pendam.

Gue sama Bas gak pernah menentukan siapa lebih dominan siapa karena semua cowok pasti punya pride masing-masing. Cuma, gak tau kenapa menjadi saksi segala kesempurnaan Bas yang semakin hari semakin berkembang bikin gue gak mau kalah. Apalagi ditambah raungan papanya yang seringkali bilang Bas mampu hidup mandiri, Bas yang akan hidupin gue.

No, gue lebih suka Bas yang butuh gue, gue lebih suka Bas yang bergantung sama gue.

Banyak pasang mata yang jadi saksi gak bikin gue gentar. Namun, Bas lebih memilih buat nyerah aja, dia ngalah dan biarin gue bayar. Terakhir, gue yang lagi mode jahat ini ninggalin dia gitu aja.


Job Point of View

Kala gue tau pertama kali gimana keluarga Bas, gue memutuskan perlahan mundur. Gue si anak sederhana yang hanya tinggal sama ibu tau diri kalau hubungan ini bakal gak mungkin.

Bas itu Bas, si cowok gigih. Gue baru menyadari itu, gak salah kantor milih dia jadi kepala pemasaran yang baru. Bas dengan kegigihannya tetep berlari mengejar gua meskipun kecepatan pelarian terus gue tambah. Sampai akhirnya gue lelah dan dia bisa jangkau gue lagi. Dia nangis waktu itu sambil peluk gue. Dia minta maaf karena terlahir dari keluarga berada, dan saat itu dia bilang secara impulsif kalo dia mau miskin asal sama gue.

Gue sadari kalimat itu hanya untaian kata-kata keju belaka. Gue harusnya malu karena gue menagih kalimatnya dibentengi ketidakpercayaan diri. Gue harusnya malu ngajak dia miskin bareng daripada nyoba bangkit bareng.

Mungkin gue dan Bas nantinya mau jatuh dan bangun bersama. Tapi, ketika kita sepakat buat punya anak pasti gak ada orang tua yang mau ngajak anaknya hidup susah. Gue paham, gue akui gue salah.

Pintu kaca itu, gue buka seraya berjalan masuk. Gue langsung jalan mendekati sosoknya karena kafe sedang sepi. Gue duduk dihadapannya yang tengah menunduk.

“Sayang?” Panggil gue selembut mungkin. Dia mendongak, tatapannya lurus sejajar manik mata gue. Dia kasih senyum, kecil, namun mengirimkan jutaan ungkapan penuh kesedihan.

Dia ulurkan kedua tangannya bersama dengan buku kecil. Oh, ini buku tabungan gue yang memang sengaja gue suruh dia simpen. Semua hasil jerih payah gue tercatat disana, semua jerih payah gue yang nantinya bisa wujudin mimpi kita berdua yang pengen bangun rumah impian.

“Kenapa dikembaliin? Kan aku suruh kamu simpen.”

Dia menggeleng, “I don't deserve this.” Balasnya.

“Kamu bisa lebih berkecukupan kalo ga lakuin ini, kamu bisa berkembang seperti yang kamu inginkan kalo ga sisain gaji kamu ke dalam sini, kamu mau kita selesai dan aku rasa ini sudah bukan hak aku untuk nyimpen.” Lanjutnya panjang lebar. Demi apa gue berdosa banget sama dia.

Bener kata Build dan Kak Tong. Gue jadiininsecure gue buat alat nyakitin pacar gue.

Gue gak peduli sama buku tabungan, gue ambil kedua tangannya buat digenggam. Gue bahkan gak lepasin sedetik pun ketika gue pindah buat bersimpuh dihadapannya. Tinggi kita jadi sejajar, gue jadi gampang amati wajah gantengnya yang lagi kusut. Gue gak suka, gue lebih suka lihat dia senyum, lebih suka lihat semburat merah muda yang muncul karena malu.

Bibirnya perlahan melengkung ke bawah. Matanya mendadak berkilau, pelupuknya berusaha membendung air mata agar tak luruh.

“Aku minta maaf.” Ungkap gue tulus.

Bendungan air mata dalam pelupuknya gak mampu buat nahan lebih banyak lagi. Dia nangis, tanpa malu-malu seolah melepaskan bebannya.

Gue senyum kecil, karna demi apapun Bas lucu banget kalo nangis. Gue bawa dia dalam pelukan gue, gue usap lembut punggungnya biarin dia nangis sepuas yang dia mau.

Gue tuh emang orang paling gak bersyukur. Harusnya gue jaga dia sepenuh hati, bukan bikin dia sedih begini.

“Mas, jangan tinggalin aku... nanti aku sedih...” Gue gak tahan buat gak ketawa. Pasalnya dia ngomong sambil sesenggukan.

Nggak Bas, harusnya aku yang minta begitu. Harusnya aku yang takut ditinggal sama kamu. Karena kamu itu segalanya buat aku. Terakhir, gue mengangguk yakin, gue sematkan kecupan penuh kata cinta di puncak kepalanya.


ft. tabarcode


Baris kata diatas sanggup deskripsikan betapa indahnya sebuah ikatan yang disebut keluarga.

Namun, semuanya sudah berlalu. Apa yang terjadi telah disebut dahulu. Ikatan yang dipertahankan menjadi kendur, entah kapan waktu yang tepat hingga akhirnya akan lepas.


3 weeks ago Ta Point of View

Aku gak tau apa yang membuat beberapa hari kebelakang sedingin ini. Entah musim yang memang mulai memasuki waktu penghujan, atau memang rumahku yang gak sehangat dulu.

Ketika gorden kamar aku sibakkan, sendunya dunia menyapaku. Aku meraba tetes demi tetes air hujan dari balik kaca jendela, dingin.

Jemariku tanpa sadar mengikuti kecepatan satu luruhan air hujan, gerakannya seirama dengan jatuhnya air mataku yang meluncur hebat dari pelupuk mata.

Aku benci kamarku yang kedap akan suara dari luar. Telingaku lebih baik diperdendangkan derasnya suara air yang turun menghantam tanah, daripada harus mendengarkan lantunan caci maki dari bibir yang biasa mengumbar nada cinta.

Dan aku ingin sekali lari, menjauh dari rumah yang perlahan berubah jadi neraka.

“Ok! Sekarang kamu maunya apa?!”

Let's end this shit, Mas. Kamu sama aku sampai disini aja.”

Aku takut... Dari jutaan ujaran kebencian diantara mereka, aku paling takut yang satu itu. Tolong, tolong aku terjebak disini.


Present day Ta Point of View

Sekarang aku terbiasa, bak menjadi jembatan penghubung antara dua kota mati. Kota sunyi yang enggan berdiplomasi satu sama lain. Aku berdiri di tengah, tanpa bisa memilih akan berpihak pada siapa.


Ta Point of View

Aku menatap jauh langit biru perlahan pudar tergantikan keunguan. Matahari turun bersamaan senyumku yang perlahan ikut pergi. Malam hari sudah tak seindah yang pernah aku bayangkan. Aku benci hari harus usai, aku benci kenyataan bahwa aku harus pulang.

“Bang, ayok balik!” Barcode; si kecil yang sedari dulu mengekoriku berucap.

“Pulang ke rumah gue deh bang kalo males balik rumah sendiri.” Katanya sekali lagi ketika aku sama sekali enggan beranjak.

Aku menghirup udara malam banyak-banyak sebelum dihempaskan kasar.

“Ayok balik, ah dasar bocil lu!” Aku beranjak, tak lupa menggoda Barcode yang selalu punya ekspresi pasrah.


The wedding 07.00 p.m

Malam itu hanyalah malam biasa tanpa ada istimewa. Malam itu berubah jadi luar biasa cantik dengan gemerlap lampu serta dekorasi pernikahan masa kini. Musik lembut, dentingan alat makan beradu, dan gelak tawa jadi pengisi sunyi.

Kala itu, Peter masih setia merengkuh pinggang ramping sang suami. Dibawa menuju sana-sini bak memamerkan berlian terindah di dunia yang Ia miliki. Peter dengan bangga memperkenalkan Nodt pada koleganya.

“Capek?” Peter menyerahkan segelas sirup manis sedangkan dirinya menyesap champagnenya.

“Pernikahan kolega kamu emang yang paling juara, Mas. Mana aku ga sempet keliling nyicip menu gubuknya.” Keduanya terkekeh. Memang sejak tadi mereka berdua lebih sibuk menyapa tamu daripada pemilik acara.

Peter membelai surai sehalus sutra milik prianya. Pun, tak lupa lelaki berusia hampir 40 tahun itu menyampirkan rambut sang suami ke belakang telinga.

“Peter? Is that you?

“Oh-Hei!”

Pria ini, si pemilik suara ceria. Pria dewasa dengan segudang sihir menawannya, hingga siapapun yang ada disekitar akan terpaku padanya. Siapapun, tanpa terkecuali, termasuk Peter sendiri.


Nodt Point of View

Aku memeluk tubuh Ta yang semakin bertambah tingginya. Dulu, aku bisa menggendongnya dengan satu tangan. Namun saat ini, hanya memeluknya sembari terbaring cukup sulit.

Sejak prahara yang terjadi di rumah ini, aku jarang memperhatikannya. Bukan, aku nggak lupa, salahkan hormon remajanya dan salahkan aku karena tak mencoba meraihnya.

Khusus hari ini, dia datang ke kamarku bersama dirinya yang manja.

Awalnya, aku enggan bercerita. Sakit, semua rasa sakitnya keluar menjamahi tubuhku. Aku benci dikhianati, cukup Nodt muda nan bodoh yang merasakan laranya dulu.

I was okay that night, kak. Meskipun banyak fakta yang diungkap yang mana pap ga pernah tau tentang dad.” Kataku mulai bersuara.

He's dad past. His lovely yet hurt relationship. You know kak, pap sama dad untuk capai dititik ini ga mudah. We were just no one to each other. Nothing special other than your grandmas old friendship.” Aku tersenyum getir setelahnya.

You both did it anyway. Aku bisa rasain gimana kuat cintanya kalian, buat aku, buat satu sama lain.”

We did. But, insecurity hit you that hard till we lost our mind. I hate myself for being ignorant yet obidient. Your dad said to forgot who he was and i was like sure! Turns out, im being jealous with that man. The one that know him well.”

“Dan kamu tau apa yang bikin Pap akhirnya milih nyerah? Pap liat mereka...”

Ta menggeleng tentu saja. Anak ini mendongak mengunci pandangan kami berdua. “Pap liat mereka lakuin sesuatu yang pasti kamu sendiri ga mau tau.”


Ta Point of View

“Enak?”

Aku mengangguk semangat ketika manis asin rasa keju menyentuh permukaan lidahku. Pap membelai suraiku yang telah panjang. Lelaki dewasa itu tersenyum dengan ekspresi geli.

Kulirik sejenak parasnya, bagaimana dia dengan gestur santainya sedang menyesap air putih yang selalu Ia bawa dalam botol tumblr yang sisinya kini telah banyak goresan. Pandangannya jatuh jauh ke depan mengamati lalu lalang pelanggan kafe bak air mengalir tiada henti.

Satu menit kemudian, ekspresinya berubah. Dahi mengkerut dihiasi tatapan bingung. Bola matanya bergerak sesuai langkah kaki pria dewasa yang tengah berjalan menuju kafe.

“Kamu ajak dia kesini?!” Desisnya. Aku sedikit terperanjat tatkala pap tiba-tiba menatapku geram.

“Pap, please...” Kataku dengan mimik memohon. “Calm down, alright.” Lanjutku ketika pap akan mengeluarkan satu kata lagi.

Derit kursi ditarik sudahi perdebatan kecilku dan pap. Dad duduk canggung seolah dirinya orang asing dan pap memilih alihkan pandangan kepenjuru lain.

Aku adu tatap dengan dad, memberikan dia sedikit support melalui sebuah kedipan. He's nervous, i know aku belum pernah melihat sisi dad yang nampak kurang percaya diri. Dad adalah orang paling tenang sedunia, tapi dihadapan pap dia diselimuti keringat.

“Pap, dad aku ke toilet ya! Have fun, ok?” Aku beranjak, “And please do remember ini tempat umum.” Aku berbisik memperingatkan.

Let's just watch how great my dad with this kind of situation!


Peter Point of View

Saya akui, hal-hal romantis dan keju bukan diciptakan untuk orang seperti saya. Namun, Ta bilang anak muda jaman sekarang semua melakukannya. Termasuk, bagaimana cara membuat orang yang kita sayangi berhenti marah.

Saya kelimpungan sebentar mencari-cari sebuah kertas. Ketemu, saya buka diatas meja.

“Hei, kenalin gue Peter Knight.”

Shit!

What are you playing?” Dia menatap saya jengkel. Saya cukup kaget dibuatnya. Dia mulai mengepak barangnya dan saya semakin panik. Dan ketika dia beranjak, saya dengan cekatan menahan lengannya.

“Jangan pergi, kasih satu kesempatan untuk aku memulai kembali dari awal. I beg you.”

Saya tahu, dia tak setega itu meninggalkan saya disini. Ketika dia kembali duduk dihadapan saya, maka kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan.

“Peter Knight. May i have yours?”

“Nutthasid. Nodt Nutthasid. Oh, kamu anak temen mama itukan?” Saya sedikit tersenyum lega karena dia memilih untuk mengikuti permainan konyol ini meskipun nada suaranya terdengar ketus.

Saya menggeleng menanggapi pertanyaannya. Jika dulu, saya memang datang menemui dia disini atas perintah mama saya.

“Saya hanya Peter Knight. Pria dewasa biasa yang menghampiri karena kamu menarik dimata saya. Senyuman kamu yang buat saya berani duduk disini.”

“Jika saya boleh serakah dan percaya diri, izinkan saya untuk mengenal kamu. Jauh, jauh lebih banyak dari yang saya tau.”


Peter Point of View 05.00 a.m

Saya berdiri tegang di dalam kamar bernuansa medis dengan bau obat-obatan berlomba menghantam indra penciuman.

Helaan nafas halus yang keluar konstan dari hidung Ta sedikit meringankan beban khawatir. Di sampingnya, Nodt belum mau beranjak barang sebentar. Ia masih bergeming sembari menautkan jemarinya pada milik Ta.

“Anak bapak hanya mengalami shock pasca kecelakaan. Hasil medical check up tidak ada luka dalam dan hanya goresan pada lengannya akibat beradu dengan badan motor.”

Saya cukup terperanjat ketika permukaan lengan saya terasa dingin. “Mas?” Suaranya lirih. Bola mata saya bergantian menatap wajah sendu dan genggaman jemarinya.

“Ya?”

“Ayo bicara. Aku dan kamu.”


“Say it, Mas. Spit it out whatever you called it misunderstood. I'm all ears.”

Kantin rumah sakit begitu sepi pada dini hari. Nodt bahkan tak pusing untuk mengatur nada bicaranya. Hanya mereka berdua, hanya ada Peter dan Nodt beserta perkaranya.

“We did kiss. not a bad angle, i don't wanted to denied anymore...”

Nodt tercekat, entah apa ini keputusan yang tepat untuk kembali membuka luka. Nodt bersumpah, jika Peter masih tetap pada pendiriannya, bad angle whatever it means dirinya akan lebih mudah untuk berikan maaf.

“Aku belum selesai.” Peter bersuara secepat mungkin takut-takut Nodt pergi.

Nodt pikir satu kalimat pengakuan itu sudah cukup. He doesn't want to hear the rest bullshit. He's just fucking coward to get hurt. Namun, sedikit nuraninya ingin mendengar lebih, si sedikit itu masih berharap bahwa ini bukan hal yang lebih buruk.

“Aku masih disini.” Balasnya seraya mempersilahkan (masih) suaminya melanjutkan.

“We did kiss...”

Stop with that kiss, you dumbass!

”...like i said before, by accident. You knew it, sayang. That crazy drunk man bumped into random people.”

Peter meraih dua tangan Nodt untuk dia genggam. Ia meremas sambil mengusap punggung tangannya lembut menyampaikan sinyal bahwa Peter ingin dipercaya, Peter ingin dimaafkan, dan Peter ingin Nodt kembali padanya.

Nodt seketika bergeming, Ia pilih menatap gerai-gerai yang masih ditutup besi abu-abu.

Detik kemudian jantung Peter rasanya terjun dari tempatnya menggantung. Gendang telinganya menangkap isakan lirih milik Nodt.

“I'm hurt...” Ungkapnya disela tangisnya.

“Semua ini konyol karena fakta yang kamu ungkapkan barusan gak cukup untuk sakiti aku. Aku teramat sakit mengingat dia tau lebih banyak tentang kamu. He knows your past, he knows your pain back then. You shared anything about you to him not me. Bahkan aku sekarang gak bisa berpikir jernih akan dalil kamu yang ingin mulai lembaran baru bersama aku dan Ta. Was it real you? Or did you do that because your papa said so before he died? Mas, i want to love you in a good and bad of you. I want to know how's your day rather than your sweet smile saying everything was okay but it wasn't. I'm supposed to be your husband, right?”

Peter bungkam, Peter kehabisan kata-kata. Peter hanya mampu duduk bersimpuh dihadapan suaminya tanpa berhenti mengutarakan setiap kata bermakna maaf. Terakhir, Peter menarik Nodt perlahan dalam rengkuhnya. Peter biarkan sang kekasih hati menangisi kebodohannya hingga puas.


Peter Point of View

Dunia akan menjadi tempat yang lebih baik katanya. Tidak, saat inipun dunia masih jadi tempat terbaik bagi saya jika bersama dengan dia.

Dia yang yang masih mengguggat cerai saya, dia yang punya rasa sakit hati karena saya, dia yang masih perhatian pada saya, dan dia yang sedang berdiri di depan kompor, memasak dengan celemek merah jambu kekecilan.

Ketika saya buka pintu rumah aroma masakan khas china menyambut kedatangan saya, dan ketika saya berjalan lebih jauh disitu saya izin mengumpat dalam hati.

He's so damn cute and sexy.

He prepare me food, but in my eyes he cosplay himself being food.

Nah! Calm down, stay in progress, Peter!

Dari belakang sini saya tertegun. Jika dulu saya bisa langsung hampiri dia, peluk dia dari belakang, mencium tengkuknya buat dia bergidik geli, selanjutnya saya akan mematikan kompor lalu memutar tubuhnya dan tak lupa menjamah bibir ranumnya.

I would have kissed him deeply, fondly, and paid me off with his sweet moans consisted my name. Terakhir, kami akan terjerembab dalam hingar bingar senandung yang kami buat sendiri.

“Mas?” Panggilnya sadarkan dari nuansa pikiran jorok saya. Dia telah berdiri dihadapan saya, paras anggunnya nampak jelas berkali-kali lipat.

Dan saya tidak mau sadar. Saya rengkuh pinggang kecilnya dan saya tarik dia mendekat. Tubuhnya menegang, namun tak sama sekali terasa penolakan. Saya belai punggungnya sensual membuat nafasnya tercekat.

“Let it out, your little moan.” Ujar saya memprovokasi.

Tangan saya kali ini menjamah wajah tampannya. Rahang tegas dibalut kulit pucat lembut. Saya mulao belai bibirnya perlahan sebelum saya dekatkan pada milik saya.

“Mass... ada kakak.” Balasnya susah payah.

“I miss you, sayang. Bukakah Ta akan senang melihat kedua orang tuanya berciuman?”

Dia tak lagi menjawab, dia pasrah saat tengkuknya saya tekan maju. Pertama, saya kecup kecil permukaan bibirnya. Kedua, saya beranikan diri untuk melumat sebentar. Ketiga, dia sembunyikan mata cantiknya dibalik kelopak matanya. Keempat, dia biarkan lengannya melingkar apik di leher saya. Kelima dia berkata,

“Kiss me, mas. Kiss me more.”


Peter Point of View Where Ta ask his dad 'How much you can tell about pap?'

He is young, passionate, positive, lovely, and sexy man that I ever know.

I love his sweet smiles, his cute giggles, his natural pink blush whenever he shy.

Kita berdua mungkin dijodohkan. Tetapi kita belajar untuk menemukan satu sama lain dalam labirin rumit rumah tangga. Ketika sampai dipenghujung pintu keluar, kami bertemu kembali dan diberi hadiah yang berharga tak ternilai meskipun nilai di dunia perlahan dimakan jaman.

Yaitu, kamu... Kamu dihadirkan untuk dad dan pap sebagai permulaan lembaran baru.

We confused and lost at the same time before.

Tapi pap, sosok yang mencintai dunia bebasnya, rela lepas semuanya untuk kamu untuk dad.

Pap, si manusia paling independen pertama kali mengulurkan tangannya. Dia butuh dad buat melakukan bersama, rawat kamu, didik kamu, besarkan kamu.

Sampai sekarang pun, dad gak punya alasan untuk berpaling dari pap. Dia yang paling sempurna untuk dad.


Peter masuk dalam kamarnya, udara dingin dataran tinggi masuk bebas akibat pintu balkon dibiarkan ternganga. Peter menghampiri, tampak suaminya disana bersandar sembari menatap langit.

“Kamu lagi apa? Masuk! Dingin sekali di luar.” Peter mendekap bahu Nodt dengan lengannya, berharap suhu tubuhnya mampu menetralisir rasa dingin.

“Aku nunggu kembang api.” Balasnya.

Peter dan Nodt masih dalam posisi yang sama. Bahkan Nodt makin menyamakan dirinya. Sayup-sayup suara kembang api terdengar ribut bersahutan dengan binatang malam.

“Mas?” “Hmm?” “Aku udah bilang ke pengacaraku buat cabut gugatannya.”

Jantung Peter rasanya berhenti sejenak. Otaknya mati fungsi saking sulitnya untuk menerjemahkan.

“Sayang?” Bisik Peter.

Nodt mengangguk semangat, “Yes, please. Panggil aku sayang karena aku suka disayang sama kamu.”

“Sayang...” Tutur Peter sekali lagi. Peter semakin mengeratkan pelukannya. Dia kecup berkali-kali puncak kepala sang suami.

“Terima kasih... terima kasih, sayang.”

Hanya kata terima kasih yang sanggup Ia utarakan hingga suaranya hilang ditelan lantangnya kembang api berlomba menyentuh langit.



gemuruh telapak tangan saling beradu memenuhi ruangan aula luas. Sorak-sorai bangga mengiringi sosok pria dewasa dengan setelan formal serba hitam perlahan menaiki anak tangga menuju panggung.

Senyum gusi menawan, kulit seputih susu, tinggi semampai ditambah dahinya yang terpampang jelas akibat rambut depannya ditata sedemikian rupa membuat suara riuh enggan jadi senyap.

Pria yang kini berdiri gagah diatas panggung menerima plakat kaca serta berbagai bingkisan; sebuah hadiah atas kerja keras dan loyalitasnya pada perusahaan. Selanjutnya, kilau kamera dari berbagai sudut bak berlomba-lomba menangkap momen dihadapannya.

“Silahkan pada kepala departemen pemasaran kita yang baru Pak Asavapatr Ponpiboon untuk sepatah dua patah katanya.” Ujar si pemimpin acara hari ini.

Jauh, jauh disudut ruangan sosok tinggi nampak memperhatikan. Tubuh jangkungnya menempel lemah pada dinding ruangan sambil sesekali lidahnya dimanjakan minuman dingin dengan rasa manis.

“Gak papa lu, Job?”

“Biu.”

Build; si lelaki manis sobat karibnya ini datang dengan tangan penuh kue manis warna-warni. Ia tawarkan miliknya pada pemilik nama Job yang entah mengapa jadi muram.

Job menolak, bukannya tak suka hanya dirinya tak nafsu dengan apapun yang tersaji dihadapannya. Pikirannya penuh, kusut.

“Gue cabut keluar duluan!” Job berlalu menjauh, tak lupa menepuk pundak Build.

“Lah? Acaranya beloman bubar!”

“Butuh sebat.”

Build menyerah, menahan Job mode sensitif itu sulit. Dia biarkan sohibnya semakin menjauh hingga hilang dari pandangannya.


`hjkscripts.


“Biu...”

Suara rengekan seorang pria dewasa terus mengalun dalam sebuah ruangan persegi. Sosok yang dipanggil Biu tak lagi bisa menghitung berapa kali dirinya menghela napas sambil mengerlingkan bola matanya jengah. Tangan cekatannya terus melipat dan menata pasang baju warna-warni untuk dimasukkan dalam koper besar.

“Biu... aku butuh kamu na.” Rengeknya tanpa ingin mengakhiri. Kali ini, pria dewasa yang mengenakan baju tanpa lengan dipadu dengan celana pendek hingga otot-ototnya terekspos duduk dihadapannya. Tak hanya itu, lengan Biu dicekal berharap Ia memberikan sedikit atensi padanya.

Biu menyerah, mengabaikan pria yang menyandang gelar sebagai kekasihnya memang acap kali gagal. Biu hentikan sejenak kegiatannya, lalu jatuhkan seluruh atensi dan sisa kesabaran yang masih Ia miliki untuk si dominan.

“Katakan apa maumu? Aku mendengarkan.” Katanya dengan nada lemah.

Wichapas Sumettikul; atau yang kerap kali disapa Bible kini menghadirkan senyum miring liciknya.

“Bisakah kamu batalkan liburan ke Korea? Tidak! Maksudku... setidaknya diundur hingga acara soloku usai.” Ujar Bible dengan wajah sok polos berharap dikasihani.

Biu melepaskan pergelangan tangannya yang tengah digenggam Bible, “Lagi???” Balasnya sembari beranjak menuju kamar mandi. Bible buru-buru berdiri, menguntit kekasihnya kesana-sini seperti anak ayam.

“Kamu sudah bilang sendiri dengan mulutmu kalau kamu ijinkan aku untuk menemani Nong Us seminggu yang lalu. Kamu sendiri yang berubah pikiran.”

Dua minggu yang lalu, Biu mendapat ajakan berlibur untuk menemani adik tingkat sekaligus sobat dekatnya semasa kuliah. Singkat cerita Biu meminta ijin pada kekasihnya karena mereka telah tinggal satu atap, namun sesuai dugaan Bible enggan melepaskannya. Hingga, satu minggu kemudian entah udara bersih darimana Bible akhirnya merelakan Biu pergi.

“Kamu boleh pergi, hitung-hitung waktu beristirahat. Aku gapapa ditinggal sendiri.”

Gapapa my ass! -Build Jakapan.

“Biu, aku butuh support di acara individuku. Aku gugup, aku takut menghadapinya sendiri.”

“Jangan lebay! Ada Apo juga disana!” Balas Biu sambil menamparkan satu fakta. Lelakinya ini terkadang bertingkah kekanakan dan berlebihan.

Bible tertegun, tetapi Ia tak gentar. “Biuuu... na krub?”.

“Setelah acara itu aku akan menemani kamu dan P'Us ke Korea. Aku yang akan tanggung semua sebagai gantinya.” Lanjutnya.

Suara desahan berat dari bibir Biu menghentikan upaya Bible. Langkah kakinya bergerak maju menyisakan beberapa senti jarak diantar mereka. Biu mengangkat tangannya, Ia letakkan telapak halus itu pada permukaan pipi Bible. Ibu jarinya bergerak, mengusap kulit wajah lelaki itu hingga menghadirkan sensasi menggelitik akibat kumis tipis yang belum sempat dicukur beberapa hari.

Bible menunduk, kelopak mata sipitnya menutup. Ia mengangguk paham bahwa kali ini dirinya tidak bisa menahan Biu pergi. Ia tarik lelaki lucu yang ternyata jauh lebih tua darinya dalam sebuah dekapan hangat. Bible kerahkan indra penciumannya khusus diatas tengkuk sang kekasih, dihirup kuat aroma tubuhnya, menyematkan dalam dirinya, berharap wangi Biu melekat padanya hingga 2 minggu kedepan.

“Aku akan merindukanmu, Biu.” Gumamnya.

“Hmm... aku juga.”

“Kamu pasti bisa melakukannya dengan baik na, Bee. Aku akan nonton, memberikan support meskipun dari jauh.” Ujarnya terakhir.


`hjkscripts.


Tanah Aragon 3 years later


“Permisi, kak. Perkenalkan nama saya Watanabe Haruto dari gugus kupu-kupu. Boleh minta tanda tangannya?”

Hari itu aku pertama kali melihatnya. Perutku rasanya tergelitik ketika mendengar lantunan nada bicaranya. Ia hanya bocah lelaki dengan suara baritone rendah diumur 13 tahun.

Aku menyerahkan kembali buku saku yang telah terisi beberapa tanda tangan. Bibirnya tersungging sumringah begitu semangat. Aura positifnya terpancar hingga diriku mau tak mau ikut tersenyum.

“Terima kasih, kak?”

Ucapnya terhenti sejenak. Manik kami bertemu tatap seperkian detik. Sosok ini memandangku dengan tatapan seolah menunggu sebuah jawaban.

“Junkyu. Namaku Kim Junkyu.”

Anak ini mengangguk setelahnya, Ia menuliskan namaku pada baris dibukunya.

“Terima kasih, Kak Junkyu.”

Aku teringat bahwa diri ini hanyalah manusia yang diciptakan untuk meninggali bumi. Tanah yang kupijak, menyimpan berbagai rahasia yang tak bisa diraih nalar manusia. Termasuk bagaimana konsep takdir berkerja.

“Kak Junkyu!” Sapa anak ini pada satu hari yang panas.

Mendengar namaku diserukan dengan nada rendahnya, aku sangat suka.

Mataku terbelalak kaget, kepalaku bergerak meneliti sekitar lingkungan komplek. Ia seorang diri, berdiri dihadapanku dengan wajah berseri.

“Kamu ngapain di sini?” Tanyaku penasaran.

Ia membenahi tas slempangnya sekalian jas hitam yang digunakan. Kami berjalan menyusuri komplek bersisian.

“Baru pulang kerja kelompok, kak. Ini jalan menuju rumah. Tuh rumahku yang diujung sana.”

Aku pun terbahak dalam hati akan skenario semesta yang suka bercanda.

“Kak Junkyu, Haruto suka sama kamu.”

Tubuhku rasanya kaku, pikiranku dibawa ke beberapa minggu lalu ketika kami terlentang di atas rumput hijau, di tengah lapangan luas, dan di bawah pandu langit gelap bertabur bubuk bintang.

“Kalau aku jadi lulusan terbaik, aku mau ungkapkan perasaanku untuk seseorang.”

Dan seseorang itu adalah Aku

“Maaf, Haruto.”

Aku, Kim Junkyu hanya memandangi sebuah pesan perpisahan yang Ia kirim tanpa berani membalasnya.

Aku hanya mampu meringkuk dalam kamar, enggan mengantar atau setidaknya memberikan pelukan selamat tinggal.

“Kak, aku dapat kuliah di luar.”

Katakan Haruto, katakan bagaimana bisa aku baik-baik saja melihat ragamu diam di atas kasur putih. Kulit putih nan halus yang sering menyentuhku telah kacau dengan luka dan tertancap alat-alat yang entah apa namanya.

Maafkan aku yang tak jujur akan perasaan milikku sendiri. Maafkan aku yang kurang percaya diri ini. Maafkan aku yang terlambat menyadari bahwa jauh darimu aku kehilangan separuh hidupku.

“Tuan Kim Junkyu?”

“Ya?”

“Kami dari pihak rumah sakit mengabarkan bahwa Tuan Watanabe Haruto mengalami kecelakaan dan telah dilarikan ke rumah sakit.”

Mendengar kabar dirimu jatuh, membawa seluruh kewarasanku.

“Jangan... jangan pergi!”

“Kak Junkyu?”

Aku sudah pernah bilang bukan, aku sangat menyukai ketika namaku dipanggil dengan lantunan nadanya. Degup jantungku berdebar lebih cepat dari normalnya.

“Kak Junkyu, sudah jangan menangis. Aku gapapa.”

Ketika obsidian elangnya terbuka kembali. Ketika aku bisa menangkap senyum kecil dibibirnya kembali, aku pun memeluknya, erat sembari menumpahkan segala kelegaan dalam diri melalu air mata bahagia.

“Haruto... Haruto.” Aku gumamkan namanya sembari mengukir setiap hurufnya di hatiku.

“Haruto... Haruto... aku mau jadi milikmu.”

Terakhir, aku balas permintaannya. Kuberikan separuh hatiku untuknya sebagaimana dia berikan miliknya padaku.

5 April

Aku tak sanggup menahan bulir bening yang luruh melewati pipi. Kupandangi benda bulat berwarna silver menawan yang resmi melingkar apik pada jari manis tangan kiri.

Haruto, sosok gagah dihadapanku kini menatapku penuh harap akan sebuah jawaban percis seperti dirinya ketika pertama kali bertemu.

Aku berucap, “Ya, aku mau.” Sebagai hadiah yang bisa kuberikan dihari bahagiamu.


Chandra dan Khalil awalnya hanya manusia tak saling mengenal satu sama lain. Mereka bertemu tanpa sengaja oleh sebuah keadaan. Keadaan tak terduga ini yang orang sering sebut dengan takdir.

Tiga kali terhitung mereka bertemu secara tak terduga. Semuanya diawali dari sebuah sepakan kaki tak sengaja, lalu diikuti oleh galaknya Khalil terhadap Chandra, dan terakhir mereka dekat sebagai kawan.

Tak ada yang salah dengan berkawan, yang jadi masalah adalah ketika perasaan sebenarnya memang bukan ditujukan untuk itu. Arti kata 'kawan' dikamus kedekatan mereka hampir tidak ada. Tiba saatnya Chandra putuskan untuk menaruh hatinya pada Khalil dan berharap sebuah balasan.

Khalil awalnya ragu, tetapi Chandra tak pernah malu untuk tetap maju. Chandra usahakan segenap yang dia punya sampai Khalil akhirnya jatuh dalam pelukannya.

Mereka tak pernah sadar, banyak lika-liku kehidupan yang telah mereka tempuh bersama. Banyak tawa, tangis, marah, salah paham, bahkan perpisahan yang mereka telah lewati.

“Jika suatu saat perasaan kalian mulai meragu, maka jalannya hanya ada dua. Antara hubungan kalian akan dieratkan dikemudian hari atau memang kalian bukan jodoh masing-masing.”

Kalimat itu yang terus menjadi dasar mereka disamping percaya.

Lantas di sinilah mereka berada. Bertahan dari badai ujian selama lima tahun tanpa ada kata perpisahan, tanpa melepas ikatan.

Jika lelah beri waktu sendiri sebentar. Jika marah dipikirkan dulu sejenak. Ketika rasa rindu mulai lagi menyeruak, disitulah titik ungkapkan segalanya.

Dua insan ini telah lulus dari sebuah permainan yang mereka ciptakan sendiri. Mereka sebut itu permainan menahan rindu. Chandra yang punya mimpi akhirnya berhasil menepati. Tepat hari ini mereka dipertemukan lagi.

Bunyi kecipak antar bibir jadi pertanda seberapa besar hasrat yang mereka miliki untuk satu sama lain. Lima tahun tanpa afeksi membuat rindu yang dihantarkan susah untuk habis.

Chandra menggerakkan bibirnya, menghisap kuat dan dalam cherry merah milik Khalil yang tak pernah dia jamah. Dia memanggut, menyesap rasa manis milik kekasihnya tanpa ada rasa bosan.

Chandra terus menekan tengkuk Khalil mendekatkan tubuh mereka semakin intim tanpa peduli ada di ruangan tebuka.

Hhh..

Khalil melenguh, mabuk dibuatnya. Kepalanya pusing, kakinya seperti melayang dibawa ke atas nirwana. Khalil terus mendesak maju, meminta lebih dari yang bisa Chandra beri.

Terakhir, bengkak kedua bibir mereka. Kedua dahinya menempel satu sama lain, dua pasang obsidiannya bersembunyi di balik eloknya kelopak mata. Dadanya naik turun, raup sebanyak mungkin oksigen yang sempat hilang.

Kekehan mereka muncul begitu sadari betapa liarnya panggutan tadi.

“Kalimat apa yang mampu aku utarakan untuk ungkapkan rindu luar biasa ini, sayang? Aku pikir aku rindu padamu aja ga cukup buat deskripsiinnya.”

Khalil tertawa dibuatnya. Cowok itu pukul pelan dada Chandra, “Lebay deh.” Katanya.

“Rinduku seluas samudra. Cintaku tumpah ruah penuhi angkasa.” Ungkapnya.

Khalil makin tertawa bahagia, kalimat yang diutarakan Chandra kelewat kuno. Namun, Khalil bisa rasakan bahwa tak ada kebohongan dari tutur katanya.

“Gimana bisa aku jawab ungkapan kamu?”

Chandra menggeleng, mengecup cepat belah bibir yang hampir mengering, “Ga usah sayang. Tanpa diungkapkan aku bisa rasakan dari sini.”

Khalil menarik Chandra dalam peluknya. Mereka nikamati waktu panjang yang ada.

“Mencintai kamu adalah kesempatan berharga yang pernah aku dapat dalam hidup aku.” Khalil membalas.

“Terima kasih.” Lanjutnya.

“Terima kasih kembali, sayangku.”


`hjkscripts.