hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Keesokan hari di rumah duka, Khalil belum lihat kehadiran mamanya. Iya, mama kandung yang sudah lahirkan dia ke dunia. Mama yang sempat rawat dia di waktu kecil.

Hingga waktu masuk ashar akhirnya Khalil ikhlas jenazah sang oma dikebumikan.

Mama, oma sudah ga ada lagi. Raganya sudah masuk melebur bersama tanah. Setelah ini, Iki hanya anak remaja sebatang kara.

Malam hari, tamu masih berdatangan. Khalil hampir tak mengenali siapa-siapa. Khalil serahkan seluruh acara pada Tante Erna dan tetangga lain. Badannya lemas, untuk berbicara pun ga sanggup.

“Sayang...” Panggilan lembut itu diutarakan Chandra. Cowok jangkung berpakaian rapih serba hitam duduk di sebelahnya.

“Aku pergi ke luar sebentar kamu gapapa ya?” Tanya dia dan Khalil hanya mengangguk lemah.

Chandra peluk sebentar tubuh seperti tak bernyawa itu. Dia berikan satu kecupan sebelum beranjak pergi. Khalil berakhir sendiri lagi.

Beberapa menit setelah perginya Chandra, sayup-sayup suara ramai dari luar. Khalil tak peduli, malah semakin melamun di tempatnya.

“Khalil!” Seruan Jihan. Cowok yang sedikit berisi itu berlari dari luar menuju dapur tempat Khalil berada.

Khalil menoleh, tersenyum sendu menyambut hadir kawannya.

“Khalil, maaf gue dateng terlambat.” Katanya sembari memeluk Khalil.

Khalil hanya tertegun menahan tangis yang ingin keluar kembali. Pelukannya makin sesak tatkala satu lelaki yang lain ikut merengkuh.

“Khalil, gue turut berduka cita.” Ujar Elkan.

Lalu, satu persatu teman-temannya yang datang peluk dia beri kekuatan agar lebih tegar.

“Khalil?”

“Amara.”

Amara ga sanggup bendung air matanya. Ada sedikit rasa bersalah atas apa yang menimpa Khalil.

Harusnya dia langsung temui Khalil waktu itu.

Harusnya dia ga perlu punya rasa malu atas perbuatan di masa lalu.

Im sorry.”

“Gue minta maaf dan terima kasih atas baiknya lo ke gue.”

“Mar, udah. Semuanya sudah lewat, gue ikhlas dan gue harap lo bisa ambil yang baik-baik dari hal ini.”

Khalil pandangi wajah sedih semua sahabatnya yang datang. Dia ucapkan terima kasih sudah mampu datang. Khalil sedikit kuat.

Namun, ternyata Tuhan masih berikan kejutan lain. Ketika matanya mengedar, dia menangkap siluet sosok yang masih dia ingat. Sosok yang ga pernah dia bersihkan dari memorinya.

“Mama?!”


kilas balik satu bulan setelah kepergian Papa Khalil

“Bu, saya sudah putuskan kalau saya memilih terima dipindah kerjakan ke Taiwan.”

Kala itu kondisi keluarga sedang tidak baik. Satu minggu setelah papa Khalil meninggal, mereka berdua putuskan pindah ke rumah sang oma. Hari-hari Khalil berubah, mamanya sibuk kerja demi penuhi kebutuhan. Tinggalah Khalil di bawah asuhan sang oma.

“Kamu ini seorang ibu, anak kamu masih kecil, masih butuh kamu buat mendidik. Terlebih, anak ibu satu-satunya sudah pergi. Kamu tetaplah di sini, temani ibu dan Iki.”

Masih ada dalam ingatan Khalil bagaimana hari itu terjadi. Mama yang termakan ambisi meledak di depan oma.

“Saya ini kerja sekeras mungkin cari uang, bu. Untuk penuhi kebutuhan anak saya, untuk ibu juga. Materi yang ditawarkan Taiwan besar, bisa kembalikan hidup kita seperti dulu.”

“Yasmine... tolong dipikirkan lagi.”

“Keputusan saya sudah bulat, bu. Jika ibu tidak merestui pun saya tetap akan pergi bersama Iki.”

Khalil sepuluh tahun waktu itu hanya anak kecil yang polos. Mentalnya sudah hancur beberapa atas meninggalnya sang ayah, mendengar dia akan dipisahkan sang nenek, dia melempar tantrum pada ibundanya.

“Iki mau sama oma!”

“MALIKI!”

“Oma!!!”

“Kamu kalau tidak ikut mama lantas mau makan apa di sini?! Oma sudah tua, tidak sanggup mau rawat kamu!”

Khalil bersimpuh di bawah kaki omanya. Si kecil itu berpegang erat seakan takut dipisahkan.

“Ga mau! Mama jahat! Oma tolong Iki, Iki ga mau pergi!”

“Iki ayo nanti tertinggal pesawat!”

“Omaaa!!! Papa!!!” Tangisnya tergugu.

“Cukup!” Teriak sang oma buat keduanya tersentak.

“Kamu pergi silahkan pergi, ibu yang akan rawat Iki.” Finalnya.

“Bu..”

“Ibu yang akan rawat dia semampu ibu. Ibu janji akan besarkan dia sebaik mungkin.”

Hari itu ternyata hari terakhir dia rasakan keberadaan sang mama. Hari itu sang mama tak pernah lagi hadir di kehidupannya.


Khalil Point of View

Malam ini, untuk yang pertama kali setelah kian tahun berlalu mama kembali. Gue kira setelah lama ga melihat wajahnya gue akan menangis, melimpahkan rasa rindu gue dipelukannya. Ternyata gue salah, hati gue sudah lama mati.

Rasa rindu ini memang ada tapi tidak membuncah.

“Iki!” Mama memeluk gue yang masih bergeming. Rasanya memang hangat, namun tidak amat menyenangkan. Air mata gue kering untuk dia.

Gue ga ngerti kenapa tubuh gue bereaksi seminim ini. Gue ingin meledak, ungkap campur aduk perasaan gue untuk dia. Gue ingin ceritakan banyak kisah yang telah gue lalui bersama oma. Namun, gue ga bisa bibir gue bungkam begitu aja.

“Mama di sini untuk jemput kamu.”

“Ayo pulang ikut dengan mama dan keluarga baru mama.”

Sekujur tubuh gue menegang. Mama datang bukan untuk menyesal. Mama datang bukan karena dia ingin tebus salahnya. Mama datang ingin bawa gue pergi.

Gue amat sangat marah dengan alasan satu ini. Gue menahan diri agar tak melimpahkan penyebab kematian papa atas perbuatannya. Gue masih percaya bahwa malam itu papa memang pergi karena takdir, bukan karena mama yang tertangkap mendua.

Kalau mama tak berbuat itu papa tak akan cari mama.

Kalau papa tak melihat mama dengan lelaki itu papa tak akan hancur.

Kalau papa tak hancur maka papa akan menyetir mobil dengan akal sehat.

Gue enggan meyakini itu. Gue selalu lekatkan kata-kata oma,“Iki, papa meninggal karena sudah takdirnya begitu.”

Tetapi apa balasannya? Mama seperti tak punya beban. Mama hidup bergelimang harta di negara sana. Ketika mama kembali bukannya menyesali, dia malah ingin bawa gue pergi.

“Iki kecewa sama mama.”

Satu kalimat penuh kekecewaan itu gue utarakan. Lantas, ditengah suasana rumah penuh keramaian gue tinggalkan begitu saja.


`hjkscripts.


Sebagai insan yang hidup di bumi kita ga pernah tau bagaimana sebenarnya kehidupan berjalan. Banyak rahasia-rahasia tersimpan dibaliknya yang ga bisa dicapai nalar manusia.

Senang, sedih, jodoh, bahkan umur manusia. Kematian adalah rahasia terbesar yang pasti akan datang tanpa bisa manusia sendiri prediksi. Hanya satu yang tahu, Tuhan pemilik serta penciptanya.

Kematian itu datangnya tiba-tiba, ga peduli tua, muda, kaya, miskin, dan bagaimana prosesnya.

Sama seperti Khalil hari ini. Dua jam yang lalu dia diberi pertanda, pelukan erat yang sempat dirinya sematkan adalah yang terakhir untuk selamanya.

Satu jam yang lalu, bagi Khalil berjalan sangat lamban. Namun, bak kecepatan bintang jatuh kematian seseorang bisa begitu cepat.

Khalil tidak pernah menyangka bahwa perpisahan datang kembali seolah mengejek cerita hidupnya. Oma-nya, sosok yang ajarkan dirinya untuk hidup di dunia keras ini telah tiada untuk selamanya.

Khalil tak pernah menyangka dalam waktu tempuh 15 menit dia bisa kehilangan. Khalil hancur lebur menyerupai debu saksikan tubuh yang terbaring kaku.

Tangisnya, adunya, raungannya tak akan pernah didengar lagi.

Harusnya tadi dia tidak pergi dari sisinya.

Harusnya tadi dia lantunkan kata sayang untuknya.

Harusnya tadi dia tak lepaskan pelukannya.

Harusnya, harusnya, dan harusnya karena hidup memang penuh penyesalan. Karena sekarang yang tersisa hanya ikhlas untuk melepaskan.


Chandra Point of View

Tubuh lemas itu gue peluk erat, dirinya meronta kuat bersamaan raungan pilu yang tak ada hentinya.

Hati gue sakit melihat cintaku hancur begini. Gue masih tahan tubuhnya yang minta dilepaskan, gue dekap dalam balutan tubuh gue beri sedikit kekutan yang tersisa.

Sayangku berantakan, gumamkan ketakutan akan kesendirian. Gue utarakan kata-kata penenang yang sama sekali ga membantu.

Tubuh kaku itu perlahan diangkat, menghilang dari pandangan untuk dimandikan. Khalil makin menjadi berteriak histeris panggil nama omanya.

“Sayang... sayangku...” Gue hanya sanggup rapalkan itu.

Dengar jeritan putus asanya buat diri gue semakin lemah. Gue pun ga sanggup bendung air mata yang telah menumpuk dipelupuk mata.

“Omaaa!!!”

“OMA!!!”

“Iki sendiri! Oma jangan pergi!”

Tangisannya menyayat hati. Gue semakin peluk dia, saling kuatkan hati. Dia, lelaki yang tidak banyak vokalnya kali ini tumpahkan semua. Dia lelaki paling kuat dan tegar akhirnya jatuh juga.

“Omaa...” Seruannya.

“Maaf, maaf sayang.” Balasku meminta maaf entah untuk apa.

“Iki sendiri, Iki takut sendiri.”

“Engga sayang, kamu ga pernah sendiri.” Gue berbisik ditelinganya terbata. Gue kecup puncak kepalanya beberapa kali untuk menenangkan.

Dan akhirnya raga yang ada didekapan gue melemah. Khalil masih bersama tangisannya, meluapkan segala emosi yang ada di dalam dirinya. Gue bisa longgarkan sedikit eratnya dekapan gue, bisa berikan sedikit afeksi untuk menenangkan.

Beberapa menit kemudian suara lelaki satu ini muncul, panggil nama Khalil dengan bingung, “Khalil!”

Hasan jatuh bersimpuh dihadapan Khalil, wajahnya merah, basah oleh air mata.

“Khalil!” Panggilnya sekali lagi dan gue biarkan tubuh Khalil berpindah direngkuh sahabatnya.

“Ipul... Oma...” Pecahnya lagi.

Mereka dua insan yang menjadi saksi bagaimana hidup sang oma. Mereka jadi manusia beruntung yang dapat rasakan kasih sayang dan segala ocehan sang oma.

“Gapapa, Lil. Oma udah ga sakit.”

“Lu pernah bilang kan..” Ucapan Hasan patah, “Lu pernah bilang ingin oma sehat lagi, senyum lagi, lincah lagi. Doa lu dikabulin, Lil. Cuman ga di sini, ga di dunia yang kejam ini.” Lanjutnya.

“Gue sendirian, Pul... Semua ninggalin gue, gue ga punya siapa-siapa.” Adunya pilu.

Hasan menggeleng ribut, masih rengkuh tubuh Khalil erat. Masih belum usai air matanya berderai.

“Enggak, Lu ga sendirian. Ada gue, bunda, ada cowok lu, ada Jihan, Elkan. Semuanya bakal ada buat lu. Kita semua di sini berdiri di samping lu.”

Gue beranjak, kuatkan hati lagi sejenak. Gue raih raga keduanya, lalu gue peluk. Gue dan Hasan satukan kekuatan yang masih tersisa untuk lelaki yang sedang payah.

Cintaku, tumpahkan sedihmu khusus untuk malam ini. Pakailah ragaku untuk luapkan perasaanmu. Aku harap jika esok hari datang, tak ada lagi dirimu yang begini. Karena jika kamu hancur, maka hancur pula aku.


`hjkscripts.


Khalil Point of View

Minggu pagi biasa aja ini gue telah dihadapkan oleh sesuatu yang cukup membuat gue kaget. Satu pesan muncul dari notifikasi bikin gue cengo sesaat.

Amararina send you a message

Gue mencerna beberapa saat, gue mengerjap beberapa kali memeriksa apakah hanya halu atau memang kenyataan. Ternyata benar, cewek populer yang pernah gue selamatkan akhirnya meraih gue.

Khalil, bisa ketemu ga?

Perlu dua kali diri ini membaca pesan ini dalam hati.

Mau apalagi?” Begitu dalam benak gue. Gue tentu dikelilingi hal-hal negatif jika mengingat satu nama cewek ini. Tentu bukan tanpa alasan, tetapi karena memang gue punya banyak alasan yang buat gue memilih ga berurusan sama dia terlebih setelah kejadian waktu itu.

Namun, pesan setelahnya berhasil buat gue terenyuh. Cewek ini mau ucapkan kata maaf dan mau ucapkan terima kasih. Maka apa yang harus gue lakukan? Ya, tentunya gue langsung menyanggupi.

Gue bersiap diri, berdandan rapih sesekali melatih ekspresi wajah seperti apa yang akan gue perlihatkan nanti. Well, let's try it out.

Bunyi klakson di depan rumah seakan memberi sinyal bahwa gue harus cepat keluar. Cowok gue menunggu di depan tanpa berniat turun mengikuti kata gue. Namun, gue terlebih dahulu berpamitan dengan oma.

“Oma?” Gue mengintip ke dalam kamar. Oma masih terbaring ga ada perubahan signifikan dari hari kemarin.

Gue pun berlutut, sejajarkan tinggi badan gue dan oma. Oma bangun hanya bisa menatap gue dari posisinya.

“Oma? Iki keluar sebentar ya sama Chandra. Oma sudah Iki titipkan sama Tante Erna ya, nanti beliau ke sini bantu oma makan sama minum obat.” Pamit gue. Gue letakkan telapak tangan di berbagai permukaan tubuh oma. Panas yang terasa sempat bikin gue khawatir. “Oma gapapa?” Tanya gue melanjutkan.

Oma menggeleng, “Oma gapapa, Iki.” Katanya yang memegang kuat jemari gue.

Diri gue pun ragu untuk pergi, perasaan ga enak mulai muncul menggelanyuti hati.

“Oma...”

“Iki...”

Panggil kita diwaktu yang sama. Gue pun diam, membiarkan oma berbicara.

“Iki, oma minta maaf jika susahkan kamu begini.” Lirihnya terbata.

Enggak oma jangan berkata seperti itu.

“Iki yang baik, Iki yang pintar, Iki yang sayang oma. Harusnya oma yang rawat Iki hingga dewasa nanti seperti janji oma pada mama kamu.” Lanjutnya.

Gue masih menatap oma yang tengah menangis. Tiap inci wajah gue disentuh seperti ada ketakutan di sana. Oma, Iki ga akan kemana-mana, Iki akan ada di sini sama oma.

“Iki, maafkan oma yang belum cukup ini. Maafkan anak oma yang telah tinggalkan kamu terlebih dahulu, dan maafkan oma jika nanti oma pilih pergi bersamanya.”

Oma? Oma ini ngomong apa? Ga ada yang akan tinggalkan Iki setelah ini.”

“Oma...” Gue memeluknya, erat sekali seakan besok gue ga bisa rengkuh lagi. Gue ga menangis, karena gue pernah berjanji ga akan nangis dihadapan oma.

“Iki terima kasih ya sudah hadir jadi pelengkap keluarga meskipun keluarga yang sesungguhnya telah tiada. Terima kasih Iki jadi anak baik yang mengerti keadaan. Terima kasih Iki sudah sudi jadi cucu oma yang biasa ini.”

“Iki cucu oma yang ganteng, tetap jadi Iki yang seperti ini. Iki yang pemaaf, Iki yang enggan simpan dendam, Iki yang lembut dan ceria. Iki jaga diri ya, hati-hati di jalan. Doa oma selalu menyertai Iki kapanpun.”


Khalil berakhir termenung menunggu Amara dan Elkan yang katanya mau hadir. Hanya saja suasana hatinya tidak sebaik di awal.

Cukup lama dengarkan petuah oma buat dirinya berat hati. Namun, melihat Chandra yang telah ada di depan ruma dia memutuskan untuk tetap berangkat.

Jujur saja, Khalil saat ini layaknya mayat hidup. Ada raganya, hilang ruh-nya. Satu persatu kalimat oma terus menyerang titik lemahnya bikin dirinya terus ga berdaya.

Apakah omanya baik?

Apakah omanya masih tidur tenang?

Apakah omanya sudah bangun, makan, dan minum obat?

Saat ini seakan dunia memperlambat gerakannya untuk berputar. Semua yang dia rasakan sangat pelan padahal dia sudah ingin lari pulang.

Drrt... drrt...

Dering ponsel di saku nyadarin Khalil dari lamunan. Dengan sigap cowok itu mengecek ponselnya diikuti Chandra yang juga kepo.

“Siapa, yang?” Tanya Chandra.

Khalil baca nama pengirim dari notifikasi barnya.

“Tante Erna yang jaga oma.” Jawab gue tanpa mengalihkan pandangan. Khalil langsung memencet tombol buka aplikasi dan bawa pesannya.

Dan, boom! Layaknya mesin waktu meledak dunia Khalil berhenti berputar.

“Chan, anterin gue pulang sekarang juga!”


`hjkscripts.


Khalil Point of View

Ketika gue melihat oma hanya bisa terbaring lemah, hati gue amat hancur. Seperti kembali ke masa lalu, dimana oma dipaksa untuk berubah dari beliau yang sehat jadi beliau yang lemah. Deja Vu menghampiri gue saat ini.

Gue hanya bisa genggam jemari ringkih dengan hiasan jarum infus sambil mengusapnya. Dalam hati, gue rapalkan doa-doa apapun yang gue mampu. Satu pengharapan gue yaitu oma cepet kembali sembuh. Asal oma bisa membuka mata, gue menjauh dari ambang kehancuran. Hidup gue tergantung akan sehatnya oma.

Derit engsel pintu mengusik ketenangan ruang rawat inap. Gue pun mendongak memastikan siapa. Senyum sendu yang hanya bisa gue sajikan dibalas miliknya yang lebih bersahaja. Dia berjalan mendekat, pelan, minim suara. Dia gunakan tangannya yang bebas dari begitu banyak kantung untuk membelai surai gue yang sedikit berantakan.

“Hai, sayang!” Sapanya berbisik.

Cowok itu menunduk sedikit, menyematkan kecupan sayang di puncak kepala gue. Hangat, kehadirannya selalu berhasil menghangatkan tubuh gue. Gue pun meraih tangannya, gue tautkan jemari kita, dan gue cium punggung tangannya beberapa kali.

“Oma baru tidur.” Kata gue sesaat dia duduk di kursi yang kosong.

Dia yang bernama Chandra ini hanya pandangi oma dari tempatnya tanpa berniat menganggu. “Ga usah dibangunin, yang.” Ujarnya seperti tau isi kepala gue.

Lantas dia berpaling memperhatikan gue. “Udah makan kamu?” Tanya dia dan gue hanya bisa menggeleng.

Gimana bisa makan ketika bernapas saja rasanya sulit.

“Oma dititipkan ke suster dulu gapapa yang? Aku temenin kamu makan.” Ajaknya.

Gue pun menyanggupi, setidaknya gue butuh udara segar di luar, gue butuh melihat pemandangan supaya otak gue fresh. Berdiam diri sembari memandang oma yang begitu lemah bikin rasa takut itu terus menerus muncul.

Kami memutuskan taman rumah sakit sebagai persinggahan. Di bawah pandu langit jingga gue dan dia menikmati sebungkus nasi campur dan sebotol air putih dingin.

“Makan yang banyak!” Suruhnya.

Thanks.” Gue berterima kasih atas apa yang dilakukan cowok gue. Dia yang selalu ada, dia yang perhatian luar biasa ga pernah absen bikin hati kecil ini tersentuh.

Senyap terasa ketika tak satupun suara terdengar. Sayup-sayup kicauan burung perandai yang terbang ke arah pulang jadi pengiring satu-satunya.

Gue terdiam, makanan dipangkuan gue ga sama sekali membangun selera. Jadilah nasi putih berisi sayur dan bihun itu hanya gue aduk.

Tubuh gue berjengit sebab merasakan sebuah sentuhan lembut. Chandra mengusap punggung lebar gue sambil terus memakan, makanan miliknya.

“Oma gapapa.” Ujarnya.

Gue mengangguk, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa oma memang akan baik-baik saja. Pun, entah kenapa dalam diri gue sulit dikendalikan. Perasaan takut tak henti-hentinya diproduksi.

Gimana kalau oma kenapa-napa?

Gimana kalau oma menyerah saat ini?

Gimana kalau oma ga ada?

Narasi-narasi kepergian itu terus mengelilingi tubuh gue. Rasanya sesak, gue ga tahan hanya sebatas bayanginnya. Gue sedih, ga bisa dibendung. Gue mau percaya, gue ga bakal berhenti berdoa dan berharap kesembuhan, namun mengingat setiap kejadian ada sebuah kemungkinan buat gue jadi ga percaya diri.

“Iki...” Chandra menyerukan nama gue.

Gue menunduk sebentar kuatkan hati sebelum akhirnya sanggup menatap wajahnya. Chandra menangkup pipi gue, memandang wajah gue sembari menguatkan.

“Gapapa.” Katanya sekali lagi.

Dan gue kali ini ga setuju. Gue lemah, gue kenapa-napa, gue gak baik-baik aja.

“Aku takut.” Lirih gue bersamaan air mata ini luruh.

“Kalo oma ga ada-” Gue tercekat, ga sanggup ungkapkan kelanjutan yang akan lebih menyakitkan. Dada gue sesak, tangis gue semakin keras.

Chandra mengikis jarak di antara kami, dia rengkuh tubuh gue tanpa bersuara apapun.

Gue meremas bajunya hingga kusut, gue meraung, gue buat basah kaus putih itu.

“Aku takut sendiri.” Hanya itu yang sanggup gue utarakan.

Gue takut sendiri, gue ga sanggup ditinggal untuk kesekian kalinya. Gue benci ungkapan selamat tinggal.

“Enggak sayang, kamu ga akan sendirian. Ga ada yang mau meninggalkan kamu.” Ungkapnya dengan nada ga kalah bergetar.

Gue ingin yakini semuanya, gue ingin serakah.

Dalam dekapannya di sore hari ini, gue rapalkan sekali lagi doa tanda keputusasaan gue. Gue serahkan semua keputusan hidup mati manusia pada pemiliknya.


`hjkscripts.


Chandra akhirnya tiba di rumah Khalil setelah 30 menit lebih memacu motornya membelah jalanan ibu kota. Sayup-sayup adzan masjid terdekat berkumandang menadakan waktu isya’.

Chandra menutup pagar rumah sederhana itu kembali, dia lalu berjalan mendekati pintu masuk yang terbuka dengan tangan penuh kantung keresek berbagai warna.

Tok tok tok

Assalamualaikum.” Chandra mengucap salam. Kepalanya setengah masuk mengintip ruang tamu.

Khalil tersenyum melihat siapa yang datang, cowok yang tengah berkutat dengan tugasnya memberi isyarat Chandra untuk masuk.

Chandra pun melepas sepatu sneakersnya, melangkah masuk mendekati oma yang juga berada di sana. Dia merunduk sejajarkan tingginya dengan wanita renta yang tengah merajut untuk disalimi.

Assalamualaikum, Oma. Apa kabar?” Salamnya lagi dihadapan oma. Oma meletakkan sejenak pekerjaannya, menatap pemuda ganteng lamat-lamat, lalu memberikan tangannya untuk disalimi.

Waalaikumsalam. Siapa ya?” Chandra hanya bisa balas senyum. Dia maklum sekali dengan keadaan oma.

“Chandra oma, pacarnya Iki.” Jawabnya.

Oma termenung sebentar, sebelum beri senyum lembut keibuan, “Eh iya, oma inget pacar Iki ya? Ganteng.” Oma tangkup kedua rahang tegas Chandra, beliau kecup bergantian sisinya juga diusap-usap sayang.

“Iki ini pacar kamu.” Oma lalu menatap Khalil yang juga perhatian interaksi dua orang berbeda umur dari posisinya. Hangat, haru, bahagia saat ini penuhi hatinya.

“Iya oma, dia kesini mau kasih oma makanan. Enak, mamanya yang masak. Mau cobain ga?” Oma pun mengangguk.

Khalil beranjak, dia terima kresek dari Chandra. Cowok itu yang bantu tuntun langkah tertatih oma menuju dapur. Sedangkan, Khalil mempersiapkan alat makan untuk oma.

“Lu makan lagi ga?” Tanya Khalil ketika Chandra telah berhasil mendudukkan oma di salah satu bangku.

“Ga usah yang, kenyang. Kamu aja sama oma.” Khalil mengangguk mengerti. Cowok itu hanya ambil satu set alat makan untuk oma. Dengan telaten dia siapkan semua, air minum, obat harian telah tersedia.

“Oma, Iki sama Chandra ke kamar dulu ya? Kalau udah ditinggal aja nanti Iki yang beresin.”

Setelah dapat anggukan setuju dua cowok remaja itu meninggalkan oma.


Tiba di kamar keduanya tengah asik dengan posisinya masing-masing. Chandra dengan nyaman tidur beralaskan karpet bulu dan menjadikan paha pacarnya sebagai bantal.

Belum ada yang mulai ngobrol, Khalil sibuk gonta-ganti cari channel tv yang sekiranya asik sedangkan Chandra udah merem nikmatin belaian di kepalanya.

“Tadi pergi mancing sampe jam berapa? Capek banget keliatannya.” Khalil milih matiin tvnya, dia ngeraih bantal dan diletakkan di bawah kepala Chandra biar nyaman.

“Jam berapa ya?” Chandra berguman, matanya masih merem karena emang udah capek banget. “Pokoknya dari pagi sampe sore.” Lanjutnya.

Khalil jadi ngerasa bersalah udah minta Chandra stay agak lama sama dia malam ini. Ya gimana namanya kangen susah dibendung, mereka jarang ketemu belakangan ini sebab Chandra dihadapkan latihan rutin untuk turnamen renang antar sekolah.

“Abis ini langsung pulang aja, istirahat.” Suruhnya setengah hati.

Chandra buka kedua matanya, dari bawah dia bisa amati gantengnya rupa sang pacar. “Gapapa, pas ketemu kamu sama oma capeknya ilang.”

Cowok itu ketawa, dia pukul pelan dahi pacarnya, “Gombal abis!”

“Seriusan aku yang.”

“Iyadeh.”

Chandra tiba-tiba duduk, memposisikan tubuhnya menghadap Khalil yang lagi natap dia penuh tanya.

“Apa?”

Tanpa menjawab, Chandra buka lengannya lebar-lebar. Dia undang secara tersirat agar pacarnya masuk dalam dekapannya. Khalil singkirkan bantal di paha, dia beringsut mendekat jatuh dalam pelukan Chandra. Keduanya saling merengkuh erat, hirup banyak-banyak wangi tubuh masing-masing.

“Aku kangen sama kamu sayang.” Ujar Chandra berbisik. Khalil balas dengan dehaman setuju. Si manis tak sanggup berkata, namun rematan yang semakin terasa sesak dapat ungkapkan semua.

Melewati menit ketiga, akhirnya rengkuhan itu terlepas, menyisakan kontak mata yang enggan terputus. Keduanya saling tersenyum, seakan berkomunikasi.

Melalui telepati jarak mereka dikikis kembali. Dua pasang lengan melingkar apik pada tengkuk masing-masing. Mereka salurkan, rasa rindu yang tersisa lewat sebuah kecupan.

Pertama, kedua belah itu hanya saling menempel dalam tanpa nafsu belaka.

Kedua, milik Chandra menuntun pasangannya dalam sebuah gerakan memanggut hingga bunyi kecipak hadir di tengah mereka.

Ketiga, tensi menjadi panas, gerakan semakin liar. Chandra meraup bibir bawah Khalil dan dihisap kuat, pun Khalil meraup belah atas Chandra tak kalah kuat mengimbangi permainan pacarnya. Lenguhan tipis tak sengaja meluncur entah suara milik siapa.

Terakhir, dua bibir bengkak terlepas tautannya hingga benang saliva menjuntai seolah sebuah jembatan penghubung. Mereka terkekeh sembari mengisi tabung oksigen yang telah dikuras habis.

“Gue sayang sama lo, Chan” Ucap Khalil.

Chandra membeku, ga salah denger kan? Tiga bulan jalani hubungan sama cowok satu ini baru beberapa kali dia dengar ungkapan vokal dari bibirnya. Chandra memeluk lagi pacarnya, ga lupa dikecup dahinya berulang kali.

I love you too, sayang” Balasnya tak kalah tulus.

Mereka sudahi kegiatan melepas rindu. Chandra kembali pada posisi semula menginvasi paha berisi Khalil untuk dijadikan sanggahan kepalanya. Chandra ambil tangan Khalil, dia kecup sebentar sebelum ditautkan.

“Besok pas aku lomba kamu dateng ya? Nanti aku pilihin tempat yang aman, yang agak jauh dari kolam biar kamu nyaman.”

Khalil ga pernah berhenti terpesona sama cowok satu ini. Tutur katanya, perilakunya, perhatiannya, semuanya.

“Aku pasti dateng, duduk di paling depan teriakin nama kamu.”


`hjkscripts.


Sebuah pajero hitam berhenti menutupi pagar rumah sederhana diikuti satu hrv merah terparkir di belakangnya. Di dalam sana tengah duduk rapi ketujuh cowok SMA 14 dengan dandanan super necis khas orang berlibur. Ujian tengah semester telah mereka lewati dua hari lalu dan sesuai janji yang sudah direncanakan mereka berangkat liburan.

Chandra; supir pajero mengambil ponselnya. Dia tak menghiraukan godaan-godaan yang dilayangkan ketiga cowok lain dan tetap mencoba meraih Khalil yang masih bersiap diri di dalam rumah.

Beberapa menit menunggu akhirnya senyum Chandra merekah, lalu cowok itu tertawa geli memperhatikan raut merengut Khalil melalui kaca dalam mobil. Wajahnya khas bangun tidur, rambutnya masih mencuat kesana-sini, matanya sipit, serta sesekali mulutnya menguap. Chandra menekan tombol kunci agar gebetannya bisa masuk.

“Hai.” Sapa Chandra lengkap senyum tiga jari secerah matahari. Khalil tak menjawab, cowok itu memasukkan barang-barangnya terlebih dahulu dibantu Chandra.

“Kenapa sih pagi-pagi merengut aja.” Godanya ketika Khalil telah duduk di kursi sebelahnya. Chandra ga lupa nyubit pipi Khalil yang hari ini nampak lebih berisi. Kemudian, dengan penuh perhatian Chandra bantu rapihkan tatanan rambut gebetannya agar lebih rapih.

Chandra ga sadar bahwa di kursi belakang masih ada tiga sohibnya yang memperhatikan dengan raut tak terdefinisi. “Ekhem!” Sahut Arsa menginterupsi.

“Hehehe,”

“Lupa gue kalo banyak jomblo di mari.” Jawabnya dihadiahi satu toyoran oleh Yohan.

“Ngaca bos, emang situ berdua statusnya apaan.” Serang Yohan.

Chandra diem aja karena malu. Dia lanjut bantuin Khalil masang seatbelt dan siap-siap nyetir. “Ah! Bacot lu, Yoh!”

“Bicit li, Yih!” Ulang Yohan pake nada ngeselin bikin Arsa sama Jonathan ketawa ngakak.

Akhirnya kedua mobil itu lanjut perjalanan sebelum hari makin terang yang nantinya bakal menghambat estimasi waktu karena macet. Tujuan mereka kali ini mau ke danau di kaki gunung maka dari itu mereka memutuskan buat berangkat jam 1 pagi biar sampai sana masih kekejar matahari terbit.

Di tengah perjalanan cuma kedengeran alunan musik random berasal dari spotify Chandra buat isi keheningan. Chandra intip dari kaca ternyata tiga temennya udah pada lanjut ngorok, sisa dia berdua sama Khalil. Khalil masih betah diem, mungkin karena cowok ini juga masih ngantuk. Ya gak salah sih mereka berdua baru selesai telponan jam 9 malem kemarin padahal janjinya cuma ngobrol sebentar terus tidur.

“Tidur lagi aja kalo masih ngantuk.” Ujar Chandra sambil matanya fokus merhatiin jalan tol.

“Engga, entar lu ga ada temennya ngobrol ikutan ngantuk.” Jawabnya dengan suara serak khas orang ngantuk.

Chandra mau ga mau jadi mesem-mesem sendiri, padahal dia beneran ga papa kalo ditinggal tidur. Badannya fit dan seger. “Ngobrol apaan orang daritadi gue didiemin.” Sarkasnya.

Khalil benahi posisi duduknya jadi lebih tegak, kepalanya juga berpaling ngeliatin Chandra bukan lagi jalanan. “Ya udah ayok ngobrol.”

Pada akhirnya yang mereka lakuin hanya diam, ga ada obrolan yang tercipta. Bagi Chandra, denger suara napas halus Khalil di sampingnya udah cukup, denger cowok di sampingnya lagi humming lagu udah merubah suasana jadi ga sepi. Intinya, Chandra hanya butuh eksistensi Khalil berada di dekatnya.

“Mau makan jajan ga?” Ujar Khalil menawarkan. Ketika mendapat anggukan dari Chandra, Khalil beringsut ngambil sesuatu dari dalam tasnya.

“Suapin tapi, Ik.”

“Kayak ga punya tangan lu!”

Khalil buka bungkusan ciki di tangannya, lalu dia lipet bagian atasnya biar isinya gampang di ambil, terus cowok itu taruh bungkusan ciki di cup holder mobil. “Nih makan, ambil sendiri!”

Suara mengecap mulai penuhi mobil, sesekali diselingi obrolan santai dari bangku depan. Memang saat makan itu jadi waktu terbaik buat buka percakapan.

“Lu sama mama papa gimana dah, Chan? Kok gue ga pernah denger lu cerita lagi ya?” Tanya Khalil membuka komunikasi.

Chandra masukkan beberapa ciki ke mulutnya, dia kunyah sebentar sebelum jawab, “Baik kok. Ini tadi sore gue pulang ke rumah ngambil mobil.”

“Ijin langsung ke mereka?”

“Iya, Iki. Sempet diajak makan rawon juga, mama yang masak.”

Jujur Khalil ikut seneng banget hubungan orang tua dan anak ini perlahan melebur es dinginnya. Dia sempet sedih denger cerita Chandra, namun waktu lihat mamanya sampe nangis pas Chandra pulang dia berpikir ada usaha perbaikan diri. Akui kesalahan masa lalu memang sulit, pun dia lebih bangga ke cowok satu ini yang super hebat mau memaafkan meskipun secara perlahan. Khalil ga mau cowok ini menyesal dikemudian hari, nahan rindu ke orang yang disayang tanpa kepastian seperti dirinya.

“Gue ikut seneng, Chan dan gue doain biar kalian harmonis terus.”

“Kalo ga karena lu ya gue masih stuck sampe sekarang,” Balasnya sambil masukin lagi beberapa ciki. “Makasih ya.” Finalnya sembari ngusap kepala Khalil sayang.

“Anjing tanganlu bekas megang ciki!!!” Khalil nepis tangan Chandra terus bersihin rambutnya sendiri. Sedangkan empunya tangan ketawa seneng banget liat ekspresi sebel Khalil.

“Udah dibersihin dulu padahal.”

“Jorok! Gue tau bersihinnya diemut pake mulut. Ah rambut gue dah wangi dikasih bau jigong.” Khalil sibuk ngomel sembari aplikasiin parfum yang dia bawa ke rambutnya.

“Ngomelnya jangan kenceng-kenceng, Ik. Ntar pada bangun”

“Ya elu abisnya!”

“Iyaa, gue yang salah. Sorry ya.”

Khalil tetep acuh sama permintaan maaf dari Chandra. Cowok ganteng banyak manisnya ini masih ngedumel entah apa Chandra ga denger semuanya bikin tingkat gemesinnya bertambah.

“Udah apa ngomelnya, masa kudu dicium dulu biar diem.”

Denger kata cium yang keluar dari bibir Chandra berhasil bikin Khalil kicep. Chandra ini emang ga tau apa pura-pura ga tau kalo Khalil lemah sama yang namanya cium mencium.

Nih orang brengsek apa gimana, yang kemaren aja masih terngiang-ngiang di otak ini lagi mau nambahin. Bisa gila gue.” Monolognya dalam hati. Terus, mereka terjebak dalam ruangan sunyi kembali.


Tepat pukul 4.45 pagi mereka udah sampai di lokasi setelah mendaki hampir 1 jam lebih. Guratan oranye mulai nampak di atas kepala mereka, suara kicauan burung menyapa disertai sahut menyahut suara yang dihasilkan alam.

Ketujuh cowok itu berdiri berjejer menikmati angin dingin yang menyapu permukaan kulitnya. Dihirup kuat-kuat seolah membersihkan polusi dalam paru-paru yang mereka bawa dari ibu kota. Matanya dimanjakan oleh kabut tebal yang perlahan menipis bersama datangnya cahaya matahari pagi. Bak panggung pertunjukan, tirai hitam yang menyambut mereka pertama kali saat ini terbuka menampilkan hamparan air biru nan luas lengkap hijau mengelilingi.

“Alig, manteb banget di sini.” Seruan Hendra. Dia jinjit-jinjit sambil meregangkan otot.

Sejenak melepas penat, ketika matahari telah bersinar sempurna mereka baru melanjutkan aktivitas menyusun tiga tenda untuk bernaung. Ga butuh waktu lama tenda mereka akhirnya berdiri kokoh.

Mereka berangkat tanpa agenda pasti. Jadi setelah sampai di atas ga ada yang pusing acara selanjutnya apa, ya pokoknya menikmati waktu sesuka hati yang penting masih di area itu.

Khalil ngajuin diri jadi penunggu kompor, dia ngeratin jaketnya sembari nunggu Chandra ngambil beberapa bungkus makanan kaleng. Sedangkan temen-temen yang lain ada yang jalan di deket danau juga ada yang genjreng di dalem tenda.

Khalil jadinya termenung natap pergerakan air danau yang termasuk lambat. Entah kenapa perasaannya mendadak gelisah. Namun, dia berusaha buat nepis semuanya. Tujuannya ke sini mau seneng-seneng aja lepas capek dari hiruk pikuk kota.

“Mau makan bubur apa mie instan?” Chandra dateng, duduk di samping Khalil nyerahin banyak bungkusan makanan instan di hadapannya.

Khalil tersentak ketika kesadarannya ditarik kembali menuju realita, dia bergeming sebentar meneliti bungkusan warna-warni dan akhirnya memutuskan buat ngambil dua bubur instan buat sarapan.

“Bubur aja, bosen mie.”

Sure.”

Chandra bantu Khalil buat nuang air panas dari ketel ke dalam mangkoknya. Terus, cowok itu bergegas mengaduk bubur dan bumbunya. Sudah tercampur, dia kasih satu mangkok untuk Chandra.

“Makasih.”

Bubur yang masih mengeluarkan kepulan asap ditiup agar mendingin. Rasa hangat mengalir ketika masuk tenggorokan.

“Abis ini mau jalan ga?” Tanya Chandra ditengah kegiatan makan buburnya.

“Bahaya ga sih kalo terlalu deket sama danau?” Khalil tanya balik.

“Hah?” Chandra cukup bingung dibuatnya. “Engga lah kalo ada jarak, ga yang deket-deket pinggirnya banget.” Timpalnya.

“Ohh.”

“Mau ga?”

“Hmm, boleh”


Khalil Point of View

Gue berjalan terus berjalan di atas hamparan luas beralas hijau. Gue melihat ke belakang ternyata sudah cukup jauh kaki ini melangkah. Di depan gue ada pemandangan danau luas yang gue sama sekali ga kepo bagaimana rasanya, dingin kah? hangat kah? Satu-satunya yang gue yakini akan danau ini adalah itu kumpulan air.

Air itu ga jahat, mereka bisa bikin badan kita bersih, bikin kita ga dehidrasi, pokoknya air ini jadi salah satu sumber kehidupan di bumi. Namun, di satu sisi dalam diri ini terus berseru bahwa air bisa jadi pembunuh terkejam.

Lupakan sejenak tentang hubungan gue dan kumpulan air. Gue sudah berjanji bahwa yah... ini jadi hari berlibur, dan berlibur itu yang dibawa hanya kesenangan. Maka gue dedikasikan diri gue untuk hari ini.

Kesadaran gue lagi-lagi harus ditarik dari alam tak terdefinisi. Gue menoleh dan mendapati jemari gue telah tertaut erat dengan milik Chandra. Kaki-kaki yang tadi terus berjalan tanpa arah seketika berhenti.

Chandra menarik tangan gue lebih mendekat dengan ujung danau. Gendang telinga gue lebih banyak mendengar suara angin diikuti binatang khas hutan daripada gurauan manusia. Di tempat ini lebih sunyi, sepi, dan tenang. Tapi ga bagi gue, bersama langkah yang semakin mendekat rasa cemas dalam diri gue berteriak minta tolong.

Gue meremas tangan Chandra, cowok itu berhenti menarik gue. “Kenapa?” Tanyanya. Terus tangannya yang bebas menyampirkan poni gue yang berantakan diterpa angin ke belakang teling.

“Jangan ke sana, bahaya! Di sini aja.” Pinta gue.

Chandra tentu menangkap raut ekspresi aneh yang gue tampilkan. Cowok itu ikut kasih raut ga kalah khawatirnya. Namun, bibirnya ga bisa keluarkan pertanyaan yang mungkin mengganjal di hatinya dan setuju untuk berhenti di jarak ini.

Gue dan Chandra berdiri bersisihan. Raga gue semakin ditarik mendekat sebab genggaman tangan kita di masukkan dalam saku jaket boomber yang dipakainya. Syaraf gue menangkap beberapa kali ibu jari besarnya mengusap punggung tangan gue di dalam sana, buat gue sedikit rileks.

“Lu suka nggak di sini?” Tanya dia tanpa melepas pandangan akan lukisan nyata di depan sana.

“Hmm...”

“Bohong, muka lu pucet gitu.” Chandra terkekeh pelan.

Gue mengambil napas dalam, lalu gue hembuskan sebelum menjawab, “I do like here. Tapi sepertinya gue punya pengalaman buruk sama air sebanyak ini.” Gue tersenyum pahit.

Memori itu, memori yang gue coba timbun di dunia gelap antah berantah dalam ingatan gue berlomba-lomba merayap keluar. Memori yang gue ga mau inget-inget lagi.

“Maaf gue ga tau.” Chandra pun menunduk, buat rasa ga enak muncul.

“Ga papa. Kan ga tau,” Gue lepas tarik tangan gue yang sedang digenggam. Gue berlari menuju pinggir danau, lalu gue berjongkok di depannya.

Gue melihatnya, refleksi wajah sendu gue sendiri dan di belakang gue ada Chandra yang berdiri tetap dengan raut khawatir. Gue menyunggingkan bibir, gue ratapi sekali lagi bayangan di permukaan air, meneliti apakah wajah gue telah nampak bahagia. Lalu, gue lanjut berbicara,

“Kalo gue ga mau, gue pasti nolak. Lagian, air ini ga semengerikan itu. Gue yakin ada yang jagain gue. Lihat wajah lu tuh khawatir berlebihan. I feel safe around you, Chan.”

Chandra ikut berjongkok di samping gue. Dia ambil tangan gue lagi. Dia letakkan telapak tangan gue di atasnya dengan dengan posisi terbuka. Lalu, dengan lembut dan perlahan dia celupkan tangan kami ke permukaan air danau yang dingin.

How is it?” Dia memastikan.

Gue tersenyum haru. Ah beginikah rasanya dingin namun menyejukkan.

“Dingin.”

It is.”

Dan ya, suasana ini akhirnya kembali bisa gue rasakan. Perasaan menegangkan pun menyenangkan hadir kembali percis seperti momen kencan pertama kali dulu.

Chandra yang menatap gue dengan manik elangnya seakan menghipnotis milik gue agar jatuh ke dalam sana. Gue seakan dibawa ke tempat sepi dimana hanya ada suara degup jantung dan napas halus yang bisa gue dengar.

Momen ini yang gue tunggu,

momen ini yang gue mau,

dan momen ini juga yang gue nantikan.

Ayo bawa gue melayang, bawa gue berkelana menuju angkasa dan mendarat di nirwana.

Gue janji dengan sebuah kecupan yang akan kami bagi nanti jadi satu momen dimana hubungan ini akan memiliki suatu kejelasan.

Chandra mulai mengikis, jarak kami semakin intens. Debaran yang gue rasakan semakin kencang dipacu waktu.

Gue menutup mata ketika hembusan napas halus menerpa pipi gue yang dingin berikan sapuan hangat. Dalam hitungan detik bibir akan bertemu bibir yang lain.

Satu

Dua

Ti-

“AAAAH!”

Gagal, ruangan solid yang gue dan dia bangun sedemikian rupa runtuh seketika akan suara teriakan.

Gue dan dia sama-sama menoleh dengan wajah kesal.

“Amara?!” Ucapan kami bebarengan.

Gue tentu kaget tiba-tiba mendapati Amara dan cowok yang gue tuduh sebagai selingkuhannya juga berada di sini. Wah, kebetulan macam apa yang sedang dirangkai empunya hidup.

Amara berdiri beberapa meter di sana. Namun, gue bisa pastikan bahwa keduanya tengah bersitegang. Amara meledak pun si cowok tak dikenal. Kobaran api seperti saling menyulut mengelilingi mereka.

Gue dan Chandra berdiri, niatnya ingin bantu tengahi. Gue berjalan setengah lari dan skenario setelahnya buat gue kaget setengah mati.

“Aahh! Tol- tolong!” Teriakan putus asa Amara sembari tangannya meraih udara. Amara jatuh tercebur danau.

Gue berhenti lari dengan napas tersengal-sengal. Gue bingung, takut, kesal karena ga ada satupun orang yang berani menolong. Mata gue memerah dan panas. Di saat genting seperti ini bayangan kesakitan yang terus mencoba mendobrak pertahanan gue perlahan hadir.

Papa!!!

PAPA!

Berkat dorongan dari dalam diri, gue pun memutuskan berlari dan menceburkan diri.

“IKI!”

Di dalam sini semuanya warna biru. Sunyi, senyap, sepi, hanya terdengar sayup-sayup riuh manusia di permukaan yang terus panggil nama gue.

Tubuh gue kaku, mata gue berat untuk terbuka. Gue biarkan tubuh jangkung ini diseret semakin dalam menuju dasar. Ketika sampai cukup dalam gue ga lagi dengar suara.

Mata gue akhirnya mau terbuka. Pandangan masih kabur hanya biru disertai gelembung. Perlahan namun pasti semakin jelas. Gue beberapa mengerjap, ketika apa yang gue lihat terasa jelas dan nyata gue semakin kaku.

Dari jauh sesuatu mendekat. Dari sini nampak setitik putih dikelilingi cahaya. Sesuatu itu terus mendekat, jadi semakin jelas dan tergambar tegas. Dan ketika sampai di hadapan gue di situ kepala gue pening seakan dilempar beton dari ketinggian. Gue refleks menutup daun telinga gue saat bunyi mengdenging terasa menusuk gendang telinga.

Memori itu, yang paling gue benci berhasil menerobos keluar bersamaan jumlah air yang tubuh gue serap. Mereka mengapung bebas di sekitar gue dan sosok yang tiba-tiba muncul di hadapan gue.

Papa?” Sebut gue dalam hati.

Gue akhirnya dapat kendali atas diri ini. Gue amati sosok lelaki paruh baya yang telah lama pergi dari hidup gue. Sosok itu hanya bergeming, melayang dalam air sambil tersenyum.

Papa!” Gue lagi-lagi memanggil dalam hati. Bibir gue mengatup tanpa bisa dibuka. Gue hanya dapat melihat, memahat wajahnya di hati kecil gue.

Lelehan air mata terus berlomba turun tanpa bisa gue cegah. Semua kejadian di masa lalu berputar layaknya film bertema tragedi. Gue bisa mengingat lagi, bagaimana malam itu bisa terjadi. Teriakan mama dan papa di suatu apartemen sepi. Gue ga inget pasti kata-katanya saking melengkingnya suara mereka. Hanya satu yang gue inget, papa terus meneriaki mama dengan sebutan tukang selingkuh.

Gue si anak kecil nan polos, digendong pergi meninggalkan mama gue masih tergugu di dalam sana. Gue bingung, ga paham dengan semuanya. Kenapa papa tinggalkan mama? Harusnya kita pulang bertiga. Kenapa papa malam itu terlihat begitu hancur dan kesakitan?

Papa?” Malam itu kata papa adalah satu-satunya kata yang gue sebut. Papa yang memeluk gue dengan senyum palsunya, berkata bahwa kita akan baik-baik saja. Papa yang kecup puncak kepala gue dan memacu mobil dengan kecepatan tinggi.

Gue takut, tapi gue ga nangis. Gue hanya anak kecil yang takut diajak ngebut-ngebutan. Naas, ketika melintasi sebuah jembatan papa harus rela banting setir menghindari kendaraan dari arah berlawanan dan mobil yang gue tumpangi jatuh menembus sungai.

Gue akhirnya menangis melihat perlahan air mulai memasuki. Papa berusaha keras buka pintu, dan ketika terbuka dia langsung peluk gue erat. Papa bawa gue menuju dasar, berusaha sebisa mungkin menaikkan tubuh gue di permukaan yang agak tinggi. Ketika gue selamat di situ tragedi terjadi. Papa berhasil menyelamatkan gue tapi gak untuk dirinya sendiri. Di malam yang dingin kala itu gue menjerit memanggil kata papa sembari menyaksikan tubuh dewasa itu perlahan jatuh menuju dasar.

Sekarang, saat ini, dan detik ini gue dipertemukan kembali. Gue ingin meluk raganya lagi, gue ingin meminta maaf karen gue dulu hanya sosok anak kecil yang lemah. Jika ingin mengulang waktu gue mau kembali ke sana, jadi Maliki Khalil Jafran yang kuat seperti sekarang, yang sanggup genggam tangan itu sebelum menghilang dari permukaan.

Sosok papa mendekat, beliau kasih senyum paling tulus yang pernah gue lihat. Beliau tepuk dada gue, tanpa mengucap satu kata pun, dan menghilang.

Gue kalut, tubuh gue ga lagi beku, sekarang gue mampu bergerak seakan ingin meraih sesuatu. Kala kekalutan gue, bola mata ini bertemu dengan tubuh yang terus ditarik ke bawah. Gue mengerahkan semua tenaga, gue anak kecil yang dulu gagal saat ini telah berubah menjadi cowok yang lebih mampu.

Gue raih tubuh itu, gue tarik dengan tenaga tersisa. Gue rengkuh wajah yang telah pucat pasi dan gue berenang menuju dasar. Gue kembali mendengar sayup-sayup ramai manusia.

“Maliki!” Itu adalah suara pertama yang gue tangkap.

Gue serahkan tubuh lemah dipelukan gue pada polisi yang telah datang. Lalu, gue ambil tangan cowok yang selalu hangat ini. Dia tarik tubuh basah gue.

Dia memeluk gue dengan mimik khawatirnya. Wajahnya merah dengan genangan air mata di pelupuk yang siap luruh kapan saja. Dia peluk erat tubuh gue, hangat. Dia kecup helaian rambut basah gue berkali-kali sembari ucapkan rasa syukur atas kembalinya gue.

Gue bergeming, suara ramai di sekitar gue berubah jadi dengungan. Gue ga bisa membalas semua perlakuan Chandra. Gue hanya mampu menatap tiap gerak-geriknya.

“Iki kamu gapapa kan?” Chandra mengguncang badan gue.

Kita berdua saling menatap dan saat air mata gue luruh miliknya pun begitu.

Detik kemudian gue merasa lelah. Tubuh gue jatuh menghempas tanah hijau dan awan biru yang gue lihat dari bawah sini perlahan menggelap.


Chandra Point of View

Gue sama sekali ga mengerti dengan apa yang ada dipikiran Maliki Khalil Jafran. Menceburkan diri di danau yang katanya bikin takut bener-bener gila, diluar nalar.

Namun, gue bersyukur lega setelah liat dia muncul lagi di permukaan bersama tubuh lemah Amara.

Di sinilah gue, duduk meratapi raga cowok yang terlentang pingsan di atas kasur. Wajahnya pucat, meskipun begitu napasnya masih ada teratur. Bajunya sudah terganti yang baru. Gue memutuskan buat bawa Khalil ke pusat kesehatan terdekat, meninggalkan temen-temen gue.

“Eungh..” Lenguhan halus itu tertangkap telinga gue. Dengan sigap gue genggam tangannya yang dingin.

“Iki? Bisa kenalin gue gak?” Pertanyaan pertama yang gue layangkan ketika mata cantik itu mulai terbuka. Dia mengangguk lemah dan gue bisa lega.

Khalil menggeliat minta bangun, gue bantu dengan sigap. Gue letakkan bantal untuk menyangga badannya yang lemes.

“Hei.” Gue mengusap kepalanya pelan. Dia tatap mata gue lengkap dengan senyuman kecil.

Sorry.” Lirihnya.

No, It's ok. Everything is fine. Ga usah dipikirin ya.” Gue lanjut mengusap kedua tangan dinginnya. Gue berikan usapan agar suhunya perlahan naik. “Let's talk about you instead, Iki.” Lanjut gue.

Dia pun bergeming, menatap nanar kedua tangannya yang berada digenggaman gue. Setelah satu tarikan napas dia bercerita semuanya. Gue ikut tampung bebannya, air matanya. Diakhir kisahnya, gue dekap dia, pinjamkan dada gue untuk tempatnya bersandar.

“Papa kamu senyum di sana sekarang. Anaknya, yang beliau selamatkan dengan nyawa jadi setangguh ini.” Ujar gue sembari menepuk punggungnya.

Gue lepas rengkuhan kami, gue merunduk menyetarakan tinggi kami. Gue tatap wajah sembabnya dan gue usap lelehan air matanya dengan ibu jari.

“Kamu berhasil, tebus yang kamu anggap sebuah penyesalan dimasa lalu. Sekarang papa akan pergi dengan perasaan tenang dan aku yakin beliau juga inginnya kamu di sini bahagia, lepas dari rasa bersalah kamu,jalani hidup kamu sebagai pemuda yang punya mimpi untuk diraih.”

“Kamu gak sendiri, di dunia kamu ga hanya ada kamu dan oma. Sekarang ada aku, ada aku yang tawarkan duniaku untuk kamu nikmati juga. Jika kamu ijinkan, biarkan aku masuk lebih dalam, jadikan aku tempat bagi susah senang sedihnya kamu. Jadikan aku teman, saudara, dan kekasih yang selalu ada untuk kamu. Bolehkah?”

Dia masih menatap gue dengan lamat. Jemarinya yang ada pundak gue mencengkram dengan erat. Dia menunduk, menangis, dan gue masih belum bisa pastikan jenis tangisannya. Ketika dia kembali menunjukkan wajahnya ada senyuman manis di sana.

Kesepuluh jemarinya telah bertengger manis melingkari tengkuk gue. Dia mendorong kepala gue mendekat mengikis jarak. Detik kemudian, bibir kemerahan basah itu berlabuh di atas milik gue, bergerak lembut tanpa nafsu, hanya ungkapan penuh cinta yang ga bisa disampaikan dengan kata.

Gue balas memanggut, gue kecup belah bibirnya. Gue lumat bagian bawahnya dan gue berikan gigitan kecil tanda gemas. Gue tersenyum dia pun begitu ditengah saling memanggut.

Lantas gue umumkan kepada dunia bahwa cowok manis ini resmi menjadi milik gue. Gue Chandra Pramudya kekasih dari Maliki Khalil Jafran.


`hjkscripts.


Satu hal yang dibutuhkan dari menjalin hubungan adalah sebuah progres. Sesuai dengan janji mereka satu sama lain bahwa keduanya setuju untuk memulai, mau untuk belajar, dan bersedia berkembang. Ya, begitulah ceritanya hingga mereka tiba, duduk bersisihan di atas rumput taman di bawah pandu lampu jalan sebagai penerang.

Berbeda dari 'yang disebut' kencan hari sebelumnya, kali ini semuanya telah direncanakan. Mereka punya waktu bersiap, pakai baju dan berdandan sebaik mungkin bukan dengan seragam sekolah masing-masing. Wangi parfum menguar, melebur jadi satu menambah kesan romantis.

Malam ini, hanya berbekal kata aku dan kamu mereka lakukan pendekatan diri.

“Gimana menurut lu alun-alun?” Tanya Chandra memulai sebab sedari tadi hening tanpa kata.

Jujur saja dibalik kata aku dan kamu menyimpan beban berat. Dihadapkan dengan kencan sungguhan buat keduanya banyak diam. Canggung, malu, takut jadi satu. Mereka bukan tipe makhluk penuh keseriusan. Keduanya nyaman satu sama lain dalam konteks hari biasa, namun berdasarkan judul khusus yaitu kencan pergerakan dan tuturnya seolah dibatasi.

“Seru,” Khalil mengangguk. Jika dilihat dari sisi selain waktu weekend, alun-alun bukan tempat yang buruk. Ramai, namun masih buat nyaman.

“Gue ga terlalu suka sama tempat rame juga terlalu sepi.” Lanjutnya.

Chandra menghela napas lega. Cowok ini sempat kebingungan mau bawa Khalil kemana selain warmindo. Pun, setelah melihat Khalil duduk nyaman meskipun beralas tikar tipis yang dia pinjam dari Yohan, dia bisa bernapas bebas.

Malam kian larut, hiruk pikuknya turut meningkat. Hanya saja, mereka berdua layaknya diselimuti kabut tebal anti tembus. Sepasang daun telinganya enggan menangkap suara lain selain deru napas beserta degup jantung yang saling bersahutan. Kedua netranya hanya tunduk pada paras yang ada di depannya.

Chandra menggeser duduknya hingga gelanyar aneh muncul ketika kulit bersentuh kulit. Tangannya, perlahan dengan pasti mengambil milik Khalil yang tengah bebas. Digenggam erat jarinya, diremas, lalu diusap memberikan sensasi hangat.

Khalil menatap lekat rupa tampan itu dari sisinya. Garis rahang lurus nan keras seolah bisa melukai jarinya ketika disentuh. Lalu, maniknya merubah haluan ke arah tangannya yang tengah digenggam. Rasa hangat begitu pelan, menjalar terangkut peredaran darahnya.

Dia tersipu, rasa ini baru. Khalil, si dingin dan antiromantis dibuat tergelitik akan sebuah getaran aneh yang diberikan oleh Chandra.

Weird, isn't it?” Ujar Chandra dibalas kerutan di dahi. “Piknik malem-malem rada aneh.” Lanjutnya dibarengi tawa geli.

Bibir Khalil turut dibuat tersungging, “Engga aneh, cuma unik.”

“Jadi, mulai darimana? Ga ada hal baru dan menarik tentang gue yang bisa gue bagi ke lu.” Khalil ubah posisi badannya jadi menyender pada batang pohon sedang di belakangnya. Mereka berhadapan, jemarinya masih berada dalam genggaman milik Chandra.

Chandra menyamankan duduknya, teliti lagi paras sekelas dewa kesukaannya. Tangannya melepas lima jemari panjang itu sejenak sebelum ditautkan kembali. “Gue juga bingung mau mulai darimana,” Balasnya.

Can we just like this? Do nothing but admire each other appearance and let the silence bring us closer?” Pintanya.

Khalil tertegun akan setiap tutur kata yang keluar dari bibir Chandra. Dia lagi-lagi hanya memperhatikan jemarinya dan miliknya bertaut serta bergerak bebas mengikuti kemana angin berhembus.

Of course.”

Berselimut pembatas tak kasat mata mereka menikmati kehadiran satu sama lain. Mereka semakin ditarik mendekat oleh keadaan, oleh cerita yang dibagikan, oleh setiap sentuhan yang diberikan. Hanya melalui tatapan, mereka tak perlu ungkapkan cinta.

Keduanya sama-sama tau bahwa debaran yang dihasilkan jantungnya kian lantang menjawab panggilan penuh gelora milik satu sama lain.


Khalil ditinggal seorang diri, memori beberapa menit lalu masih berputar hebat di kepalanya. Sentuhan lembutnya masih terasa di permukaan kulitnya.

Cowok rupawan ini tersenyum malu sembari menatap khalayak ramai tersaji dalam pandangnya. Gimana bisa hidup monotonnya seketika dijungkir balikkan dalam satu jentikan oleh cowok yang dengan kurang ajarnya menerobos masuk hidupnya.

Shit! Tadi itu gila, jujur gue takut meledak dibuatnya.” Batinnya.

Khalil mengedarkan pandangannya, tak sulit untuk menemukan Chandra si jangkung yang lagi antri jajanan. Khalil terkikik geli ketika sadar Chandra melambaikan tangannya dari sana.

Tunggu ya!” Katanya yang bisa Khalil tangkap berdasarkan gerakan bibir. Lalu, Khalil mengangguk.

Khalil berpindah arah menikmati lalu lalang kendaraan melintas kota besar, kemudian perhatiannya berpaling pada sekumpulan komunitas skateboard yang tengah beraksi. Dan matanya dikagetkan oleh pemandangan ganjil. Sosok wanita yang dikenal namun bersama lelaki yang tak dikenal.

“Hei!” Khalil terkesiap akan tepukan di pundaknya. Ia kembali ke posisi semula bersamaan Chandra yang juga duduk kembali.

“Liatin apa sampe ga kedip gitu?” Tanya Chandra sembari meletakkan satu persatu bungkusan camilan yang dia beli. Diambilnya beberapa untuk taruh di atas telapak Khalil yang masih diam. “Diminum!” Suruhnya.

Setelah kepergiannya Khalil mendadak diam. Minum, makan pun enggan bersuara.

Khalil layangkan kembali tatapannya pada dua sejoli yang berjalan menuju sekitarnya. Chandra turut ikuti kemana dua obsidian cantik itu berlabuh.

“Siapa?” Selidiknya penasaran.

“Amara,”

Ah, jadi itu rupa wanita bernama Amara. Wanita yang sempat mengusik hari-hari cowok satu ini. Wanita yang buat senyum cowok ini sempat menghilang kemarin.

Khalil enggan putuskan kontak matanya, makin terbelalak ketika cowok tak dikenal dengan berani mengecup pipi Amara. It's supposed to be you, Elkan.

“Dia sama cowok lain, bukan Elkan temen gue.” Lirihnya.

Sedih, Khalil seketika kepikiran perasaan Elkan di waktu begini. Temennya yang rela lepas sesaat tali persahabatan demi cewek satu itu harus mengalami pengkhianatan.

“Iki...” Panggil Chandra namun dihiraukan.

Khalil sibuk mengambil ponselnya, membuka aplikasi kamera untuk mengambil sebuah bukti, “Gue harus kasih tau El-”

“IKI?!” Kali ini Chandra pakai sedikit nada tinggi. Dia remas kedua lengan cowok yang sedang kalut untuk agar berhadapan dengannya.

Chandra tatap matanya tajam, dia pun mulai bersuara, “Inget nggak, hari ini tentang kita. Aku maupun kamu.” Tuturnya lembut.

Khalil diambang bingung, dia masih gigih alihkan fokusnya pada dua orang yang beranjak menjauh. “Tapi Elkan-”

Chandra menyentuh dagu Khalil lembut, Dia gerakkan sepelan mungkin agar bersitatap kembali dengan dirinya.

“Iki...” Panggilnya seduktif. Napas halusnya menyapu permukaan wajah putih yang kian menggoda dari jarak tiga senti.

Chandra kunci kedua matanya, pastikan fokus cowok ini hanya padanya. Lalu, si mata elang itu bergerak mengamati hidung bak seluncur. Terakhir, pandangannya jatuh pada bibir kemerahan yang sedikit terbuka.

Dia pandangi terus bagaimana benda kenyal itu bergerak. Chandra meneguk ludahnya sendiri ketika tanpa sadar Khalil membasahi permbukaan merah dengan lidahnya, membuat belah bibir itu berkilau di matanya.

Can I?” Chandra berbisik masih di posisi yang sama.

Tak mendengar penolakan maka kepalanya perlahan maju, miring, dan detik berikutnya mendarat mulut di atas landasan merah muda bertekstur kenyal nan basah.

Khalil terkejut hingga reflek memundurkan kepalanya, namun Chandra dengan seperkian nafsunya melayangkan kedua tangannya menahan, menekan tengkuk Khalil memperdalam ciumannya.

Keduanya terbuai, ditandai dengan bersembunyinya iris indah di belakang kelopak mata. Rematan jemari Khalil pada pundak Chandra perlahan mengendur.

Chandra melepaskan senjenak tautan antar bibir itu, memberikan jeda sejenak untuk mengambil sedikit oksigen. Tak ingin berlama-lama sifat adiktif yang ditimbulkan bibir Khalil telah mengundang kembali milik Chandra. Kali ini bukan hanya tempel belaka, namun ada nafsu yang membuat gerakan melumat, menghisap, bahkan menggigit kecil-kecil menghasilkan bunyi kecipak diikuti lenguhan halus.

Sekali lagi, keduanya tak perlu ungkapkan. Hanya dengan tatapan, sentuhan, serta beberapa detik kecupan berhasil sampaikan jutaan pesan dari lubuk hati terdalam.


`hjkscripts.


Chandra Point of View

Nanti, kita bicarain lagi

Satu kalimat itu terus berputar di kepala gue. Gue si manusia ceroboh yang sok-sokan mengungkapkan perasaan yang telah gue pendam untuk cowok satu ini. Perasaan yang masih sedikit rumit berwarna keabuan sebab belum ada keyakinan di sana. Perasaan menyenangkan, berdebar, sakit, cemburu, sedih, yang katanya disebut cinta.

Ada dua keadaan tubuh gue saat ini. Satu sisi gue meruntuki, sedangkan yang lain begitu lega. Namun, ketika gue sadar bahwa pembicaraan tentang satu topik berdasar cinta belum diputuskan maka gue ketakutan.

Itu Khalil yang sedang melangkahkan kaki masuk warmindo. Dia dengan cepat pula menemukan posisi duduk gue. Dia yang biasanya menyapa dengan sumringah kali ini duduk ragu bercampur malu.

“Hai! Gimana hari ini, Iki?” Sapa gue dengan kalimat seperti biasa. Nada bicara gue atur sedemikian mungkin agar ga nampak bergetar. Gugup? Tentu ada, jantung gue rasanya pengen misah aja.

“Hari ini gue lagi seneng,” Balasnya. Kepalanya beberapa kali nunduk, pun jika terangkat netranya enggan menatap milik gue dengan nyaman. “Awalnya begitu sampai gue dikejutkan oleh sebuah apa ya...confession?” Tambahnya.

Gue, si cowok yang lagi mencoba terlihat santai dan keren akhirnya menyerah juga. Ketika terdengar satu kata itu disebutkan gue refleks memajang wajah bego. Aduhh...beneran dibahas.

So...” Kedua tangan gue menggenggam erat dua lengan kursi, benahi posisi duduk yang semakin merosot.

“Tolong jujur sama gue, lu bercanda kan?” Lagi, pertanyaan satu ini yang terus dilemparkan.

Gue menghembuskan nafas kasar, harus gimana lagi menyakinkan juga udah kehabisan kata. “Apakah gue terlihat lagi bercanda, Ik?” Gue pun menjawab begitu, lengkap dengan ekspresi serius.

Khalil yang awalnya sudah berani menatap mata gue sontak menunduk. “Why me? Kenapa gue dari sekian banyak?” Bisiknya.

“Kalau gue jawab karena itu elu kedengerannya terlalu menstrem ya.” Gue terkekeh sembari menelisik tiap gerak-gerik canggung yang dibuat cowok di depan gue.

“Alasan hmm..,”

“Karena lu terlalu familiar buat gue. Otak gue mungkin terlambat mengenali lu, tapi hati gue mengenali keberadaan lu sejak awal. Gue manusia dengan beribu rasa penasaran sebenarnya juga bingung dan bertanya-tanya kenapa elu? Dan gue tau jawabannya. Seiring berjalannya waktu gue tanpa sadar menebar benih hingga tumbuh disirami terbiasa. Gue menikmati hadirnya lu di samping gue dan akhirnya seluruh raga gue terbuai jadi nyaman.”

Lama hening, baik gue maupun Khalil belum ada yang bersuara. Gue dan dia layaknya berada di kota mati yang hanya kita berdua. Seolah kita dibuat lupa jika disekeliling ada suara Mas Edi yang bersenda gurau dengan pelanggan yang lain.

Jantung gue berdebar lebih hebat dari biasanya ketika dua obsidian kami lagi bertemu. Gue tentu menunggu sebuah jawaban. Bohong kalau gue ga peduli, bohong kalau gue ga berharap. Jangan dipikirkan perasaan ini milik gue, itu semua hanya basa-basi.

Gue ga bisa menilai tatapan yang tengah dilayangkan oleh cowok manis satu ini. Satu yang pasti dia sedang bingung. Apakah dia punya rasa yang sama? Gue harap iya meskipun masih seujung kuku.

“Chandra...” Dia panggil nama gue.

“Gue gatau,” Lanjutnya. Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Gue sedikitnya merasakan hal yang sama tapi gue belum berani ngartiinnya. Gue takut gabisa kasih apa yang lu minta.”

Kedua bahu tegang gue perlahan melorot. Gue terlalu berharap, ekspektasi gue ketinggian. Sekarang rasanya badan gue seenteng kardus indomie yang bisa dihempaskan begitu saja dan gue kecewa.

It’s ok, Iki kal-”

“Ssst!”

Gue mengatupkan bibir.

“Gue belum selesai ngomong, Chan.” Katanya. Gue pun mengangguk, mempersilahkan kembali dia untuk bersuara.

“Jujur sekarang memang gue sedang bingung tentang ini harus gimana. Gue memang takut gabisa balesnya. Tetapi, gue... gue ga pernah takut untuk mulai mencoba.”

“Pelan-pelan ya, Chan. Sanggupnya gue cuma segini. Gue persilahkan lu masuk untuk kasih afeksi berlebih sembari gue belajar mengenai tentang hati.” Ujarnya final.


`hjkscripts.


Chandra Point of View

Kata banyak orang di luar sana rumah paling berharga adalah keluarga. Bagi gue sebuah kalimat yang menyentuh hati itu hanya omong kosong belaka. Keluarga gue masih utuh, harmonis, masalahnya ada di gue. Gue si anak kurang afeksi.

Gue memang nampak seperti anak biasa pada umumnya. Hampir nihil kegundahan dalam hidup gue tutupi. Jika gue berkata gue bahagia, maka gue benar begitu. Jika gue merasa sedih, maka gue akan ungkapkan. Gue bukan sosok pendendam, gue cukup tau diri bahwa tumbuh kembang gue selama ini tercukupi karena ya kerja keras orang tua. Hanya saja, untuk berada di satu atap gue merasa ga nyaman.

Hari ini, untuk yang sekian kali dan pertama kali bersama cowok satu ini gue mencoba lagi. Jujur, gue lakukan ini ga ikhlas. Namun berkat kata-kata cowok ini kemarin berhasil nyihir hati dan pikiran gue.

Gimana kalau mereka mau perbaiki ga sempurnanya dulu?

Terakhir kali gue datang penuhi panggilannya, yang gue dapat hanya amarah. Papa gue yang emosi tau alasan gue kabur, pun gue yang kesulut sebab dapet amukan. Sejak detik itu gue bertekad enggan datang lagi meskipun mereka memohon.

Motor gue melaju kencang belah jalanan kota yang cukup ramai. Sesekali gue ngintip Khalil melalui spion. Cowok itu keliatan excited daripada gue. Dalam hati terus merapalkan doa semoga apa yang diucapkan Khalil benar adanya.

Tiga puluh menit berada di jalan raya utama, sekarang laju motor gue melambat saat gapura sebuah perumahan elit mulai nampak. Ini perasaan gue aja atau gimana bahu gue diremes lumayan kenceng sama Khalil.

Gue lagi-lagi mengintip lewat kaca spion. Di situ Khalil udah buka kaca helmnya, mandangin rumah-rumah gede yang ada. Namun, raut wajahnya bukan penasaran melainkan sedih dan ketakutan.

Gue menarik pegas rem tepat di depan rumah modern berpager kayu coklat. Khalil turun masih dengan pandangannya yang ga lepas dari sebuah rumah.

Helm gue sampirkan di spion, nata rambut sejenak dan buka jaket, “Iki?” Panggil gue.

Khalil tersentak ketika tangan gue nyentuh pundaknya.

“Eh?”

Are you ok?”

Khalil gelagapan, seluruh gerak-gerik canggungnya ketangkep sama obsidian gue.

Dia senyum, “Nervous dikit.”

Take your time,Ik.”

“Gapapa, ayok!”

Gue mendekat berdampingan ke arah pager yang menjulang. Gue narik napas dalam, lalu hembuskan kasar.

“Apapun yang terjadi hari ini gue harap ga bikin lu hilang nyaman ada di dekat gue.” Celetuk gue. Gue hanya mewanti-wanti takut kedatangan ini ga sesuai ekspektasi. Gue jelas ga bisa menjanjikan pertemuan ini akan berjalan mulus, penuh haru. Gue takut jika emosi gue akhirnya meledak bakal buat Khalil punya side thought negatif tentang gue.

We're in this together.”

Ok.” Gue berakhir memencet bel.

Sekali lagi gue hanya mampu berharap yang terbaik. Biar yang punya hidup tentukan jalan pilihan yang tepat.


Khalil Point of View

Gue teramat gelisah. Hari ini gue akan temani Chandra buat pulang ke rumahnya. Gue yang merasa punya banyak hutang budi ke cowok ini jadi menawarkan diri untuk menemani.

Awalnya perjalanan terasa asik, terpaan angin dan mata yang dimanjakan gedung tinggi pencakar langit jadi healing sesaat dari segala pemikiran keruh yang sedang gue alami.

Hingga, gue melihat gapura perumahan elit yang sangat gue kenali. Dulu gapuranya tidak setinggi ini dan ga sebagus ini. Namun, gue masih mengenali betul di mana lokasi gue berada saat ini.

Bener, perumahan ini tempat gue tumbuh. Tempat di mana gue habiskan masa kecil gue bersama dua orang tua.

Perasaan gue menjadi sendu. Gue ga nyaman, memori itu perlahan balik lagi satu persatu tanpa bisa dicegah. Jantung gue rasanya mau copot ketika motor yang kami tumpangi berhenti di salah satu rumah. Mata gue terbelalak saat melihat satu rumah yang ada di sampingnya. Sudah lebih bagus, namun pondasinya masih mirip dulu.

Kebetulan macem apa ini? Rumah lama gue berada tepat di sebelah rumah orang tua Chandra.

Ketika pintu dibuka, gue mempersiapkan diri. Meskipun seluruh badan mulai keringetan, gue harus tampil profesional. Bayang-bayang dari masa lalu gue tepis dahulu.

“Adek?”

Gue tersenyum lebar saat muncul wanita paruh baya. Wajahnya mulai keriput namun masih ayu. Pakaiannya pun cantik, gue bisa menyimpulkan oh.. ini mamanya Chandra?

Gue hanya berdiri mengawasi. Menjadi saksi bagaimana seorang ibu memeluk anaknya dengan derai air mata. Sedangkan yang dipeluk hanya mampu bisu dengan pandangan tak percaya.

“Adek ke mana aja? Mama kangen sekali. Mama minta maaf ya kalau banyak salah sama adek.” Tuturnya sang mama terbata. Penyesalan sungguh terasa jelas disetiap katanya.

Pelukan itu dilepas, sang ibunda masih menatap lekat sembari merasakan garis-garis wajah tegas sang buah hati. Melihat sang anak masih baik, gue bisa melihat bahwa beliau merasa lega.

“Ayo masuk, papa nunggu kamu,” Ajaknya. “Eh maaf ini siapa ya? Ganteng.” Mama Chandra akhirnya bisa melihat sosok gue.

“Saya Iki temannya Chandra.” Gue sapa lembut sambil memperkenalkan. Gue serahkan buah tangan yang sempet kita beli di tengah perjalanan menuju ke mari.

Lalu, beliau mempersilahkan masuk. Gue duduk menyamankan diri di ruang tamu sembari ngobrol sama mamanya. Sedangkan, Chandra masuk lebih dalam ga tau mau ke mana.


Chandra dan Khalil berakhir termenung di sebuah bangku taman perumahan. Sebenernya Khalil dibuat bingung, setelah menampakkan diri kembali di ruang tamu Chandra langsung narik paksa Khalil pergi. Mereka ga langsung pulang melainkan duduk di sini.

Chandra sejak tadi diem, wajahnya ga menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. Pun Khalil ga berani ngucap satu kata. Khalil cuma bisa perhatikan setiap gerak-gerik cowok itu yang dari awal langsung ngeluarin satu batang rokok dan korek.

Chandra sesap batang rokoknya dalam lalu dihembuskan bersamaan dengan beban di pundaknya. Gerakannya cepat, Khalil ga bisa nyegah. Chandra kesetanan, dalam satu duduk sisa rokok dalam wadahnya habis tak bersisa.

“Ayo pulang udah abis kan?”

Shit!” Chandra buang putung kecil terakhir. Dia usap wajahnya yang berantakan.

“Gue udah coba ngerti semuanya, Ik. Gue coba terima semua penjelasan logis yang bisa mereka utarakan sebagai anak yang lahir di waktu yang ga tepat. Susah, bagi hati nurani gue apapun alasannya sulit diterima.” Ungkapnya tiba-tiba.

Chandra menunduk, dia lemah, dia jatuh, dan dia akhirnya tumpah. Pundak kokohnya bergetar hebat bersamaan suara isakan kuat.

“Mereka meluk gue, mereka nangis di depan gue minta ampunan. Tapi gue terlanjur mati rasa.”

Khalil ga tau harus berbuat apa. Khalil ga pandai merakit kata menenangkan. Maka, dia menggeser duduknya, mengikis jarak antara mereka. Khalil rengkuh tubuh besar nan rapuh dalam dekapannya. Dia berikan tempat ternyaman untuk Chandra serukan sedihnya.

“Gapapa, keluarin semuanya.” Bisiknya. Jemari panjang sekaligus cantik itu tak pernah berhenti untuk memberi belaian lembut pada rambut yang sedang sedih.

“Gue belum bisa kasih kata maaf untuk mereka.”

“Ssttt,”

“Gapapa, sekarang masih sulit gapapa. Nanti coba dimengerti lagi, dipahami lagi sampai lu udah siap waktunya untuk memaafkan.”

Detik itu giliran Khalil yang menjadi saksi bagaimana Chandra si manusia biasanya tunjukkan kerapuhannya.


`hjkscripts.


Chandra seperti biasa nunggu di warung kecil depan SMA 16. Nunggu siapa lagi kalau bukan si Iki alias si Khalil. Sambil nyedot nutrisari jambu biji dia ngamatin satu persatu siswa yang mulai keluar dari gerbang.

Lama Chandra di posisi begitu, cowok yang ditunggu enggan menampakkan batang hidungnya. Hingga dia dibuat berdiri ketika gerombolan anak futsal yang juga baru keluar nyamperin dia.

“Yo!” Sekitar lima motor menepi. Chandra nyambut mereka satu satu pake fist bump.

“Ngapain sob di mari?” Jeno yang motornya berada paling depan nanyain. Cowok dengan badan gede itu refleks nyari anak 14 lain. Nihil, Chandra cuma seorang diri.

“Nungguin temen gue,” Jawab Chandra. “Mau maen lu pada?” Chandra kembali melempar tanya, dia ngabsen wajah-wajah yang cukup familiar.

Sampai di motor paling belakang, dia ga sengaja berselisih tatap sama Hasan. Si cowok yang sering dipanggil Ipul sama Khalil.

Cowok yang lagi diusahain maafnya sama Khalil.

Chandra ngelempar senyum ramah dan balesannya Hasan cukup bikin dia tertegun. Hasan cuma natap Chandra dengan ekspresi datar, ga seramah biasanya. Chandra udah denger semuanya dari Khalil kalau fotonya waktu jemput si cowok itu kesebar di akun base SMA 16.

“Ya udah bro duluan gue sama bocahan, keburu sorean!”

Rombongan tim futsal berlalu pergi ninggalin Chandra sendiri lagi. Ga lama kemudian senyum Chandra ngembang, ganteng, ketika nangkep paras cowok tinggi yang lagi ditunggu.

Cowok manis ini mendekat, sedikit berlari sebab ga mau Chandra kelamaan nunggu.

“Kaga usah lari ngapa! Kaga ditinggal juga.” Chandra ngangkat tangannya, bergumam permisi lantas ngerapihin rambut Khalil yang jadi berantakan.

“Nunggu lama ga? Sorry tadi ketemu sama anak ekskul jadinya ngobrol.”

Chandra geleng, “Engga. Ayok lah kita gas. Ga enak diliatin mulu.”

Ucapan Chandra bikin gerakan kepala Khalil nengok sekitar. Bener aja dia jadi bahan tontonan.

Hadeh.. Masih aje.” Batinnya. Terus, Khalil mutusin buat bodo amat. Si cowok ini ngekorin Chandra menuju motornya.


Hal pertama yang Khalil lakuin saat sampai di rumah kos adalah turun dan bantu bukain pager biar motor Chandra bisa masuk. Khalil udah pakai baju kasual, kaus biru dengan celana sekolah karena sempet pulang.

Khalil ngikutin cowok itu dari belakang menuju kamarnya. Sesekali menerawang rumah kos yang lumayan besar. Tampak dari bentuk kosnya, Khalil jadi bisa sedikit memastikan kalau Chandra bukan orang sederhana seperti yang dia kira.

“Taruh aja sandal lu di rak!” Suruhnya sambil coba buka pintu kamar nomor 5. Kamarnya ada di lantai bawah depan ruang tamu.

Khalil ngelepas sandalnya lalu ditata sesuai perintah yang punya kamar. Dia masuk sambil celingukan. Kamarnya luas, bersih, tertata rapih, baunya wangi khas bau badan si cowok. Chandra bukan tipe yang suka nempelin poster idolanya di tembok. Kebukti sama temboknya yang masih putih bersih. Kalau Khalil boleh sotoy Chandra suka sama karakter superhero, sebab ada banyak action figure dari series marvel tertata rapih di lemari kaca bawah TV. Selebihnya kamar ini cuma kamar anak cowok pada umumnya lengkap sama gitar yang tergeletak di atas kasur.

“Cakep juga kosan lu.”

“Mayan lah.”

“Kenapa milih ngekos? Lu bukan asli orang sini?” Khalil duduk di atas karpet bulu, merhatiin Chandra yang sibuk mondar-mandir bikin minum.

“Asli gue, cuman ya pengen bebas aje Iki.”

“Orang tua lu?” Khalil ga sadar udah terlalu kepo.

Chandra duduk pelan-pelan, nuangin air warna merah di dua gelas, “Makasih.”

“Papa mama gue ada kok. Mereka tinggal sama kakak gue. Cuman gue aje yang ga betah tiap hari diomelin, tau sendiri kan gue suka ngayap begini hahaha.”

Khalil cuma ngangguk sambil nge-oh. Dia nyeruput air sirup yang disediain.

“Maaf gue ga maksud ngorek privasi lu.” Lirihnya.

Si Chandra ketawa ringan, dia merasa ga keberatan sama sekali. Dia bukan orang yang suka menutup diri, malah seneng kalo orang yang jadi temennya pengen tau lebih dalam tentang dia. Pokoknya asal ga berlebihan dan melampaui batas dia dengan senang hati cerita.

“Santai, Iki...”

Chandra beringsut ke kanan. Manfaatin tangannya yang panjang buat narik stick psnya.

“Main sekarang?”

Khalil geleng, semenjak duduk di sini dia jadi kehilangan selera buat ngegame. Dia jadi nyaman cuma dengan duduk. Apa mungkin karena dia ga sendirian? Yang dia butuhin sekarang hanya temen. Dengan presensi Chandra di deketnya sudah lebih dari cukup.

“Ntar aja, masih pewe begini.”

“Oh, yaudah. Ngobrol-ngobrol aja ya kita.”

Setelah itu mereka jadi asik ngobrol. Mereka tanpa sengaja memperkenalkan diri lebih dalam. Dari yang awalnya bahas hal umum berakhir nyerempet privasi. Sekarang mereka sama-sama tau kalau makanan favorit Chandra bukan nasi goreng melainkan nasi kuning pake ayam, mie bihun, sama sambel. Khalil masuk jurusan IPA sebab nurutin mendiang ayahnya jadi dokter, sekarang cowok ini udah punya target fakultas sesuai minatnya meskipun harus lintas minat.

Saking banyaknya yang dibahas, mereka jadi lupa tujuan utama. Hingga, ga terasa di luar udah mulai gelap.

Obrolan mereka terpaksa berhenti sama dering ponsel milik Chandra. Chandra permisi sebentar masuk kamar mandi buat ngangkat telepon. Khalil bisa denger suara si cowok nadanya tinggi. What happened?

Ketika panggilan itu berhenti Chandra keluar dari sana. Dia ngeliat Maliki pake wajah ramah yang terkesan dibuat-buat.

“Mau indomie ga?” Tawarnya tiba-tiba.

“Hah?”

“Ma-mau..”

“Oke”

Suasananya berubah jadi ga enak. Chandra milih diem sambil menyibukkan diri bikin indomie, cowok itu seakan enggan bersitatap sama Khalil. Raut wajahnya ga setenang tadi, udah berganti sama kesal(?). Khalil ga bisa deskripsiin.

Chandra duduk lagi, nyerahin mangkok berisi mie kuah kare. Bibirnya tanpa sadar keangkat. Namun, waktu dia natap Chandra mau mengucap terima kasih, senyumnya pudar gitu aja.

“Selesai ngabisin mie gue balik ya?” Chandra seketika nengok pake tatapan penuh tanya.

“Katanya sampe malem?”

“Lu-nya lagi badmood mungkin butuh waktu sendiri.”

Chandra gelagapan sendiri, ga sadar sama perubahan perilakunya. “Sorry sorry gue kebawa suasana.”

“Gapapa kalo lu mau sendiri.”

“Nggak, lu tetep di sini aja lanjutin ngobrol.”

“Yeah?”

“Hm..”

“Oke.”

Dentingan alat makan yang mengisi kamar seluas 6×6 meter itu. Ga ada obrolan dikarenakan belum ada yang mau memulai. Masih ga enak satu sama lain.

Lalu, ditengah keheningan yang terjadi Chandra mulai bersuara.

“Tadi papa gue yang nelpon. He asked me to coming home.”

Chandra kasih jeda, dua obsidian mereka bertemu.

Go on”. Khalil mempersilahkan.

“Gue kabur dari rumah, Ik. Orang tua gue ga pernah tau di mana gue berada. Gue hidup di sini semua dibiayain kakak gue. Gue yang minta dia rahasiain semuanya. Belakangan ini semua orang meminta gue pulang dan gue tentu menolak.” Chandra buang napas kasar. Dua netranya kosong natap entah apa.

“Kenapa nolak?”

My home doesn't feel like home, Iki. Gue ga pernah nemu kenyamanan di dalemnya.”

“Gue anak hasil kecolongan yang lahir di tengah ketidaksiapan both mentally and physically kedua orang tua gue. Saat itu orang tua gue yang baru ngerasain bahagia punya anak pertama harus dihadapkan dengan kehamilan kedua yang ga pernah mereka duga dan rencanakan sebelumnya. Saat itu orang tua gue masih hidup sederhana, mampunya biayai hidup mereka bertiga, harus putar otak untuk penuhi kehadiran gue. Dan gue hanya jadi anak bayi yang sering berada digendongan tetangga gue karena mama gue memilih bekerja lagi. Gue anak balita yang merengek minta hak afeksi dihadapkan jawaban akan pengandaian.”

Coba aja kamu ga ada, mama ga bakal bekerja.

Coba kamu hadirnya di waktu yang tepat, jadi mama bisa urus kamu.

Kamu jangan manja, kamu ngertiin mama sama papa yang bekerja buat penuhi perut kamu.

“Gue si anak yang ga pernah merasakan bagaimana perhatian orang tua. Bagaimana hangatnya sentuhan ibu. Bagaimana bijaksananya bapak dalam membimbing anaknya. Lucu ga sih, mereka yang ngewe pake consent, memutuskan buat nanggalin kondom tapi pas hamil bilangnya ga siap punya anak lagi.”

Chandra ketawa pahit, ngetawain begitu lucu perjalanan hidupnya sampai kini.

“Emang apa anjing yang mereka bakal dapet dari kegiatan pemenuhan biologis diantara suami dan istri yang saling mencintai kalo ga anak? Ya kali abis ngewe keluar emas. Sekarang, waktu mereka udah kaya dihadapkan hilangnya gue kelimpungan sendiri. Mohon mohon nyuruh pulang. Bangsat!”

Chandra neguk air minumnya yang udah ga dingin. Selalu capek waktu nyeritain kisah keluarganya. Bagi Chandra kisahnya yang ini bukan privasi yang dia pendam. Sohib-sohibnya tau semua mangkanya dia keliatan biasa aja waktu cerita.

Khalil dibuat tertegun sama cerita panjang si cowok. Sampai dia ga tau mau nanggepin gimana. Satu-satunya yang dia lakuin adalah nepuk punggung cowok itu biar tenang.

What if?” Celetuk Khalil tiba-tiba.

“Hm?”

“Gimana kalo orang tua lu udah merasa bersalah. Dia mau lu pulang buat nebus ga sempurnanya dulu? Emang lu ga pengen ngerasain afeksi yang ga pernah lu dapet dulu?”

“Udah telat-”

“Ga ada kata telat buat kata maaf, Chan. Percaya sama gue.”

“Gue takut sendirian, gue takut meledak di sana, Ik.” Chandra nunduk. Sebenernya Chandra udah pernah pulang beberapa kali berakir dia yang emosi.

“Kalau gue temenin apa bisa ngurangin rasa takut lu?”

“Hah?”

“Kalau lu ijinin, gue mau ikut nemenin lu pulang ke rumah. Seperti sekarang lu yang nemenin gue.”


`hjkscripts.