nakoenta asher knight.


Mark Point of View.

Inilah Nakunta dari kacamata sang pengagum rahasia.

Bener kata bapak, manusia itu kadang jadi makhluk paling gak tau diri. Sudah dikasih yang terbaik malah pilih jatuh cinta sama yang belum tentu. Bukan, pepatah satu itu ternyata gak cocok buat keadaan gue. Setelah habiskan jam untuk berpikir, gue yakin sedang tersandung, lalu jatuh tersungkur pada probabilitas kedua. Sedangkan, Nakuntaㅡiya gue akan membahas anak satu ini. Cowok yang lagi terjebak pada penjara tanpa jeruji nomor satu.

Dimana alurnya sangat amat lucu. Pemilik kehidupan dengan penuh keyakinan membalikkan hati milik gue sebagai hambanya, dituntun menuju sebuah pintu yang pada saat itu gue buka menghadirkan sosok Nakunta di baliknya. Gue, untuk saat ini mata gue hanya tertuju pada bidang punggungnya. Sebab di matanya, bukannya balik menatap milik gue, dia malah menatap milik orang lain, dimana milik orang lain itu telah menemukan binarnya sendiri.

Nakunta tengah terperangkap dalam zona pertemanan gunakan penuh perasaan.

Kalo ditanya sejak kapan? Gue akan menjawab layaknya orang baru jatuh cinta lainnya. Klise namun memang begitu adanya. Gue gak tau sejak kapan, yang pasti gue baru sadar bahwa ada getaran aneh muncul ketika gue tengah bersama dia.

Sampai sekarang pun gue masih menganggap diri ini begitu bodo sebab terlambat menyadari meskipun bapak selalu menampik pemikiran satu itu. Gak ada cinta yang datang terlambat, mereka sudah datang, hanya berputar di antara dua manusia yang jadi pilihannya sembari menunggu serta mencari celah waktu yang tepat.

Mungkin ini terjadi sama gue. Sejak kecil gue risih sama bocah yang selalu ngintilin gue. Nakunta, cowok si pemilik arti nama pejuang kebahagiaan, cowok yang selalu didoakan sama orang tuanya agar hidupnya senantiasa bahagia pula membahagiakan orang disekitarnya. Gue ketawa, gimana bisa dia bahagia kalo hobinya nangis perkara gak satu kelas sama gue? Gimana bisa bahagiain orang lain kalo suka banget ngerepotin gue? Kalo aja dia bukan anak temen bapak gue, sorry gue gak peduli.

Nakunta ini kehidupan luar rumah semasa kecil bergantung sama gue. Dia yang sulit bersosialisasi, terlambat paham situasi, yang akhirnya gue jadi kemudi. Ibarat gue penakluk bumi, dia hanya jadi bani. Daripada teman sejawat, hubungan gue dan dia sebatas asuransi. Ketika dia terjebak situasi, gue berakhir beraksi untuk melindungi.

Dulu, yang gue ceritain di atas adalah situasi masa lalu. Sebelum dia kenal sama si bocil. Sosok tetangga yang bikin dia berubah, sosok yang bikin dia punya cita-cita jadi pahlawan super keren.

Awalnya gue mengira bahwa inilah hari kebebasan buat gue. Gue gak perlu khawatir sama orang lain. Hidup ini cukup tentang gue, hanya gue. Namun, beberapa waktu kemudian hampa mulai menyelimuti dan gue kurang terbiasa dengan situasi demikian.

Mungkin jika ditanya berapa skala Nakunta membutuhkan gue saat ini, gue gak bisa sombong. Dikasih 2 dari 10 pun bersyukur. Nakunta gak lagi nyari gue yang lagi menikmati bekal buatan didi di kantin cuma untuk menemani dia ngaduin temen satu kelasnya ke Mam Jeni. Nakunta gak lagi nyari gue buat bagi-bagi jajan yang dia dapet dengan hasil keringatnya sendiri. Nakunta gak lagi datang ke rumah gue cuma buat nemenin bongkar pasang lego.

Sebab Nakunta dewasa kini bisa menjaga dirinya sendiri. Nakunta dewasa kini punya seseorang yang akan tersenyum hanya diberi sebatang coklat atau jajan seharga seribu. Nakunta dewasa kini lebih suka berbagi hobi dengan bapak gue.

Gue baru sadar bahwa rasa kesal yang datang dari sifat Nakunta dewasa bukan karena dia udah gak butuh gue, bukan karena gue udah gak dapet jajan lagi, bukan karena kita gak bakal main bareng lagi. Tetapi karena gue menyesal, merasa kehilangan, dan yang paling besar adalah perasaan cemburu.

Jika Nakunta masih sekecil dulu, mungkin gak bakal serumit ini. Akan lebih muda bagi gue untuk mengungkapkan. Gue akan punya segudang percaya diri akan menerima kembali hatinya untuk gue jaga.


Si bodoh ini gue bingung sama jalan pikirannya. Si bodoh ini yang pilih berdiri di depan venue bersama harap-harap dia akan datang meskipun sejak kemarin ajakannya gak ada janji kepastian. Si bodoh ini adalah gue sendiri.

Gue bohong, dua tiket yang tengah gue pegang memang sengaja gue beli untuk diri sendiri dan cowok satu itu. Bukan punya orang lain yang gagal hadir. Gue tau dia suka fotografi, satu-satunya kesamaan dia dan gue. Tetapi gue salah, gue harusnya sadar bagi orang kasmaran sesuka-sukanya dia dengan fotografi akan sanggup berjalan puluhan menit di mall tanpa tau mau melalukan apa.

Senyum getir menghiasi bibir kala dibombardir kenyataan. Ngapain juga gue capek berdiri kayak orang bego, toh mana mungkin dia dateng. Gue menunduk, tatap lamat ujung sepatu sembari menghembuskan nafas pasrah.

Belum sempat gue mendongak, sebuah sepatu muncul di depan milik gue. Secepat kilat gue pastikan siapa gerangan. Tatkala pasang netra gue berhasil menangkap milik cowok di depan gue, merekah pula senyum seindah dahlia.

“Kok lo kesini? Katanya lagi maen sama bocil?” Dia nyengir, gak tau maksudnya apa.

“Lah lo sendiri ngapain berdiri di sini kek bocah ilang? Bukannya masuk.” Si aneh bukannya jawab pertanyaan gue malah balik nanya.

Gue refleks garuk kepala belakang. Yakali ngaku lagi berharap dia muncul. “Tadinya mau masuk terus seketika gak mood hunting sendirian. Ini gue mau pulang nunggu jemputan bapak.” Bohong gue.

“Si anjir gue udah nyampe sini dianya pulang. Telpon A'Job gih! Ntar pulang sama gue aja. Asal lo tau, gue buru-buru balik ambil kamera terus berangkat kemari.”

“Siapa suruh?!”

“Haha,” Dia ketawa.

Gue sampe kicep denger suaranya. Gue baru tau kalo Nakunta seganteng ini. Celana jeans dipadu kemeja putih yang lengannya dia gulung. Tali kameranya tersampir di leher, sedangkan kameranya dia biarin jatuh menggantung gitu aja.

“Kaga ada yang nyuruh sih.”

Nakunta dengan gak sopannya genggam jemari gue, ditarik begitu perlahan menuntun tubuh gue untuk mengikuti. Kita berjalan bersisihan menuju pintu masuk venue.

“Widih cakep juga yak! Gak sia-sia gue nyusulin elo.” Gumamnya kagum waktu kita udah di dalam. Iya, setuju gue sama lo tempatnya cakep. Tapi mata gue bangsatnya malah lebih suka liat muka lo.

Bahkan ketika sesi hunting objek pun kamera gue lebih suka membidik paras Nakunta dengan berbagai perubahan ekspresinya, ketimbang objek aesthetic yang sengaja dipajang untuk diabadikan. Sebab, gue mana bisa mengulang momen ini kembali. Gue belum tau apakah kita berdua ada cerita berlanjutnya. Yang gue tau adalah mengabadikan setiap detik hari ini sebanyak mungkin untuk dikenang jika memang cerita kita hanya cukup sebatas ini.

“Nih minum!”

Thank you.”

Gue menyesap air dingin dengan rasa jeruk beserta sensasi soda. Mengamati sekitar, menikmati angin sepoi-sepoi yang lewat di ruangan terbuka penuh pilihan jajanan. Bahkan lokasi istirahat ditata begitu unik dan cantik.

“Lo belom jawab pertanyaan gue by the way.” Gue memulai obrolan ketika rasa haus perlahan menghilang.

Cowok di depan gue beri atensi akhirnya setelah minum beberapa tegukan. “Pertanyaan yang mana?”

“Lo tiba-tiba muncul di sini.”

“Oh,” Dia mengangguk, meneguk kembali minumannya sejenak.

“Mau gue jawab jujur apa gimana?” Lanjutnya. Anjir ini bocah beneran bikin gue makin penasaran.

“Senyaman lo aja deh.”

Nakunta senyum kecil, jemarinya sibuk mainin sedotan di gelasnya. “Tadi gue emang pergi nonton sama bocil, berdua aja. Eh, buset ada setan muncul. Mana si bocil jadi ngajakin juga. Parahnya dia ngeiyain, ngerusak ajadah.”

“Oh, gue cuma pelarian ya?”

“Gak gitu. Gue awalnya pulang abis nitipin bocil sama si Jeffano. Pas di rumah tiba-tiba kepikiran lo. Gue langsung cabut tuh kemari. Enak di sini liat objek cakep daripada mukanya si Jeffano gajelas. Mana mukanya dia mirip mantan pap gue yang brengsek lagi.”

“Lah kocak dah!” Gue mau gak mau ketawa geli denger Nakunta ngomel. Lebih ke nutupin ekspresi bodoh gue ketika denger dia tiba-tiba mikirin gue. Gini aja lo berisik woy jantung!

Parah banget gue begini aja udah bahagia. Gak perlu bunga atau batu permata, cuma ditemenin, jalan bersisihan berdua, ngobrol hal gak penting, terus senyum puas ketika hasil potret cakep gak ketolong. Rasanya gue pengen cepet pulang, cerita detail dari awal sampai akhirnya gue turun dari motornya ke bapak. Satu sisi gue gak mau cepet berakhir. Gue masih pengen pegang erat bajunya, nikmatin aroma tubuhnya yang bercampur parfum khas luar negeri, sembari menatap hingar-bingar jalan di malam hari dari atas motor yang dia jadi pemegang kendali.

Cukup begini, hari ini cukup begini. Tetapi gue gak menjamin dilain waktu gue jadi tamak dan meminta lebih banyak dari ini.


`hjkscripts.