hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Pria itu menghampiri sosok yang tengah melamun, bibir tipis berwarna merah muda sehat kesukaannya maju seperkian senti membuatnya gemas.

My love?ㅡ” Panggilnya lembut. Diletakkan keranjang berisi macam sayur dan buah hasil panennya. Bunyi berdebum nampaknya berhasil menarik kesadaran si manis.

Yang tengah duduk mendongak, memberikan seulas senyum. Ia menggeser duduknya, memberi ruang untuknya duduk sembari menunggu apa yang akan pria itu ucapkan selanjutnya.

“Apa yang sedang kau pikirkan, hm? Kau tampak tak bersemangat seperti biasanya.”

Helaan nafas kasar terdengar, sorot matanya menatap lurus hamparan hijau disekelilingnya. Swabia, kota kecil tempatnya berpijak belum pernah membuatnya bosan hidup disini, malah kadang Ia bersyukur diasingkan ditempat ini bersama ketiga alpha yang amat Ia sayangi.

“Hari ini tepat 15 tahun kita tinggal disini, saling menjaga, mengasihi, dan melewati jutaan susah dan tawa bersama sebagai keluarga. Anak-anak sudah beranjak dewasa danㅡ” Seketika suaranya tercekat, tak mampu mengutarakan lebih. Hingga tubuhnya direngkuh hangat. Bau petrichor menguar begitu saja guna menenangkan hati yang gundah. Aroma sang alpha memang selalu bisa membuatnya tenang.

“Aku mulai takut mereka akan segera menjemputku. Memisahkanku dengan mu dan anak-anak. Kau ingatkan? Hanya sampai kedua jagoan kita cukup besar.

Sensasi basah terasa dari bibir sang alpha yang mulus mendarat didahi. “Im sorry for being selfish” Ujarnya.

Im sorry for make this situation hard. I shouldn't convinced you to keep the baby.. no, harusnya kita memutus benang merah diantara kita setelah tau kita adalah mate” Lanjutnya dengan nada penuh penyesalan. Situasi rumit hingga mereka berakhir di Swabia; kota kecil seindah surga awalnya memang dari keputusannya.

Sang omega menangkup wajahnya, mengelus rahang gagah sang alpha. “Kamu melakukan hal yang benar, alpha. Apa jadinya jika kau menyetujui saranku untuk melenyapkan dia, aku adalah omega penuh berlumur dosa. Lihat sekarang, aku menikmati peranku sebagai seorang papa dari darah dagingku sendiri hingga aku tak bisa membayangkan jadinya hidup tanpa mereka.”

Rengkuhannya semakin mengerat, keduanya seolah memberikan semangat untuk satu sama lain.

“Ayo hadapi ini bersama. Jika mereka datang untuk memisahkan kita berjanjilah akan selalu mencari jalan untuk kembali bersama.”

cause, we were made to be together.


`teuhaieyo.


Di malam hujan deras Adnan datang, mengetuk pintu rumah itu dengan tak sabar. Dingin, Adnan dengan bodohnya menerjang rintihan langit hanya mengenakan kaus tipis beserta celana jeans selutut. Tubuhnya basah kuyup karena memilih pergi bersama motor kesayangannya.

Lagi, Adnan mengetuk pintu mencoba menarik perhatian pemiliknya didalam. Rumahnya nampak sepi tak berpenghuni, namun Adnan sudah biasa, memang begini adanya.

Ceklek

“Adnan?” Nata terkejut bukan main akan kedatangan Adnan juga karena penampilan berantakannya. Baru saja lewat 15 menit semenjak Ia membalas pesan Adnan dan pria itu sudah berdiri didepan pintu rumahnya. Nata menggeser tubuhnya, memberi Adnan akses masuk.

Saat ini keduanya telah berada dalam kamar Nata. Adnan tengah duduk dipinggiran ranjang lengkap dengan handuk serta hair dryer sedangkan Nata sibuk memilah pakaian kering yang cocok untuk Adnan. Canggung, satu kata yang mempu mendeskripsikan suasana kali ini. Tak seperti biasa, mereka bahkan baru pertama terlibat perasaan semacam ini pun jika mereka bertengkar selalu diutarakan dengan ungkapan, saling emosi, terakhir saling menenangkan satu sama lain.

Degup jantung Nata turut berhenti bersamaan suara berisik hair dryer berangsur menghilang. Nata bukannya sibuk, hanya saja tengah menghindar dari Adnan.

“Nata?” Panggil Adnan dengan suara baritonnya. Berat, rendah membuat bulu kuduk Nata seluruhnya berdiri.

Nata masih acuh, takut dinding kokoh yang telah Ia bangun luluh lantak begitu saja. Setelah mengetahui seluruh fakta yang ada, mendapati sahabat sejak kecilnya melihatnya dengan pandangan berbeda membuat semuanya semakin sulit. Nata bukannya tak sadar, namun Nata menyangkal. Keduanya memilih denial demi utuhnya sebuah ikatan pertemanan.

Nata bergeming ketika kedua lengan milik Adnan melingkar pinggang rampingnya posesif. Nafasnya tercekat, ujung kepala hingga kuku kaki seolah membeku. Adnan menyandarkan dagunya pada bahu Nata, nafas halus menerpa tengkuknya menghadirkan sensasi geli.

Cup

Adnan mengecup kilat kulit putih Nata, wangi buah-buahan manis merasuk indra penciumannya. Si manis menggeliat ingin melarikan diri dari rengkuhan Adnan. Terlambat, Adnan malah membalikkan tubuhnya, mendorong yang lebih kecil hingga menempel pintu lemari.

“Nan..” Lirihnya.

“Berhenti mengacuhkanku. Aku disini, kamu sendiri yang memintaku datang. Jangan lari lagi tidakㅡ larilah bersamaku. Genggam erat jemariku, seperti ini.” Adnan tersenyum, Nata tak sama sekali menolak dirinya bahkan ketika jemarinya ditautkan satu sama lain. Pas, seolah hadirnya Nata didunia memang untuk Adnan. Dikecup punggung tangan itu penuh cinta hingga pesannya mengalir sampai dijiwa.

Manik cantik itu berkilau bersamaan satu tetes air mata jatuh menuruni pipinya. Hatinya menghangat, jika ini mimpi tolong Nata tak ingin kembali. Rasa sakitnya sudah cukup, realita hampir membunuhnya.

“Izinkan aku untuk menghapus rasa sakitnya. Berusaha mengganti dengan kebahagiaan.” Nata mengangguk, sudah tak ada lagi alasan untuk mengelak. Adnan mengucapkannya penuh kejujuran dan keyakinan.

Detik kemudian bibir keduanya menyatu, kali ini tak ada unsur tidak sengaja, tak ada cinta sebelah pihak. Keduanya saling menginginkan satu sama lain.

Adnan takdir untuk Nata, begitu pula sebaliknya.


Hawa ruangan seketika meningkat. Ciuman penuh perasaan berubah menjadi dengan nafsu. Bibir yang sebelumnya hanya menempel satu sama lain saat ini menjadi lumatan kecil. Adnan meraup belah bibir bawah Nata, menyesap, menggigit penuh gemas hingga membengkak. Nata terbuai, jemarinya meremas bahu Adnan sebagai pelampiasan. Kedua pasang mata tertutup, saling menikmati permainan bibir.

Adnan menyudahi, menciptakan benang saliva diantara mereka. Nafasnya memburu, dadanya naik turun meraup banyak-banyak oksigen. Tak ingin berlama-lama Nata menyambar milik Adnan lagi, mengajaknya pada cumbuan liar. Gerakannya abstrak hingga saliva membasahi dagu. Adnan mengangkat tubuh Nata tanpa melepas bibir keduanya. Lalu, Ia membaringkan diatas kasur perlahan.

Tak tinggal diam, jemari Adnan menelusup membelai perut rata Nata. “Eugh..” Desahnya tertahan ketika Adnan tak sengaja menyentuh putingnya.

Nata pasrah, sentuhan Adnan pada tubuhnya penuh perasaan, hati-hati, seolah Nata adalah berlian yang harus Ia jaga. Tak ada paksaan, semuanya Ia lakukan dengan lembut.

“Hhmm..Shh..”

Nata mendesis ketika rasa perih bercambur geli menyerang permukaan kulitnya. Ia mendongak, memberikan seluruh akses bagi Adnan untuk mencumbu tengkuknya. Adnan menjilat, mengecup, serta menghisap kulit seputih susu hingga warnanya berubah keunguan. Sesekali pemuda tampan itu tersenyum, bangga akan hasilnya.

Nata miliknya seorang.

Adnan menjauhkan tubuhnya, mengamati setiap lekuk tubuh separuh telanjang Nata dari atas. Cantik, Nata itu sempurna walau dalam keadaan berantakan. Tatapan sendunya menggairahkan, suara desahannya meningkatkan libido Adnan hingga kepuncak terlebih jika si manis mendesahkan namanya.

Adnan meletakkan jemarinya diatas perut Nata. Bergerak tak tentu arah, menari bebas diatasnya. Selanjutnya, dengan perlahan Ia melepas jeans yang dikenakan Nata. Menariknya dengan gerakan sensual hingga tiada lagi kain yang mampu menghalangi Adnan.

Malu, Nata memilih melihat arah lain asal bukan raut penuh nafsu dominannya. Adnan terkekeh, kembali mengungkung tubuh si manis, mengecup bibirnya lagi sekilas.

“Ahh..”

Desahnya saat kedua benda tak bertulang saling bergesek. Geli seolah ribuan kupu-kupu terbang bergerombol di dalam perutnya. Perlahan Adnan membuka salah satu paha Nata, membuka sendiri akses untuk kepunyaannya.

“AKHH.. Adnahhn..”

Milik Adnan itu besar mengisi penuh lubang Nata. Adnan bergerak, maju mundur perlahan saling membiasakan satu sama lain. Sesekali Adnan menggeram akibat Nata menggenggam milik Adnan begitu erat.

“Hhmmm...” Adnan mendongak, sensasinya luar biasa, sakit, sesak, namun membuatnya melayang.

“Uuhhmm.. Ahhh.. Akh! Ahh...”

Gerakan mereka meliar, tumbukan yang diberikan semakin cepat. Nata pasrah ketika tubuhnya dihentak tanpa henti, hanya bisa mendesah menikmati. Keduanya dikuasahi nafsu birahi, seluruh tubuh penuh peluh membahasi.

“Adnahhnn..” Perut Nata melilit, kakinya bergerak gelisah.

“Adnan.. ahh...”

Lenguhan keduanya menandai akhir dari kegiatan panas di malam dingin berselimut hujan. Saling menghangatkan tubuh satu sama lain dalam sebuah penyatuan. Nata mengatur napasnya, pun Adnan. Sang dominan tersenyum, Ia mengecup dahi penuh keringat si manis dalam kungkungannya. Adnan jatuh disamping Nata, membawa tubuh si manis juga dalam rengkuhannya. Sekali lagi, Adnan mengecup bibir merekah Nata, menyatuhkan dahi mereka sambil merasakan helaan nafas masing-masing.

“Aku mencintaimu, sungguh.”

Nata mengangguk lemah, namun Adnan tau Nata memiliki rasa yang sama.

Adnan dan Nata bertaut dalam sebuah kisah romansa. Saling berjanji akan menghadapi dunia bersama.

The End


`teuhaieyo.


Adnan...

Sekujur tubuhnya bergetar ketika namanya disebut dengan nada lembut. Hasratnya memuncak kala obsidiannya memandangi wajah sendu Nata. Pasrah, Nata pasrah berada dalam kungkungan Adnan. Bibirnya merah merekah sudah bengkak akibat terlalu banyak dijamah. Bibir Nata itu candu, warnanya menggoda, ketika disesap rasa manis dari lipbalm yang si manis kenakan menguar.

Ssshh..ughh..

Nata mendesis tatkala syaraf kulitnya menangkap rasa geli bercampur perih. Adnan tengah fokus memberikan setiap tanda kepemilikan dileher hingga dadanya. Nata mendongak, menggigit bibir bawahnya menahan sensasi aneh ketika lidah basah itu bermain dibelakang telinganya. Jemarinya tanpa sadar sudah berada dibelakang kepala Adnan, meremas, mengusak rambut pria itu guna melampiaskan gejolak dalam tubuhnya. Dibawah, kedua kakinya bergerak gelisah rasanya tak nyaman, aneh, tak terdefinisi.

Suhu tubuhnya semakin meningkat, libidonya dibawa menuju puncak. Mereka berdua melayang terlebih Adnan, tubuh Nata benar-benar membuatnya gila.

Ahh.. Adnan!

Adnan tersenyum kemenangan. Suara desahan Nata bak alunan musik, semakin menggairahkan ketika Nata mendesahkan namanya.

Kini keduanya tertaut, bergerak lambat saling membiasakan satu sama lain. Milik Nata begitu sempit, mengurut erat kejantanan Adnan.

Hhmmm... ssshh

Adnan menggeram, rasanya sakit, sesak, namun memuaskan. Adnan menggenggam pinggang ramping Nata, mengajaknya bergerak lebih cepat.

Nata frustasi dibawah bimbingan Adnan, mendesah pasrah setiap benda panjang tak bertulang itu menyentuh titik lemahnya. Nata tak lagi sanggup, Adnan didalamnya semakin besar. Bagian bawahnya perih, gerakannya semakin brutal tak terkendali. Tubuhnya berantakan bercampur keringat dan cairan sperma.

Ahh Nata...Hmm...

Adnan..Eughh...

“HAH?!”

Adnan membuka kelopak matanya, terbaring mematung menatap langit-langit kamar. Adnan melakukannya lagi, menjamah Nata dalam mimpinya.

Pria itu beranjak duduk, mengatur deru napasnya. Seketika suhu tubuh dalam kamar menjadi panas, bajunya basah oleh keringat dan shit celananya sudah basah, adiknya tegang berdiri kokoh.

Adnan melirik satu lagi lelaki dalam kamar yang tengah mengarungi alam mimpi. Wajahnya lelah, matanya bengkak akibat banyak menangis, beberapa bagian tubuhnya... Adnan benci melihat luka-lukanya terlebih mengetahui fakta bahwa Nata tak lagi suci. Harta paling berharganya direnggut paksa.

Adnan beringsut mendekat, membelai wajah damai Nata, mengamati paras sempurna milih lelaki itu. Entah keberanian darimana wajah Adnan semakin mendekat, debaran jantungnya cepat.

Di malam paling mengerikan dalam hidup Nata, Adnan menciumnya, tepat dibibir. Dejavu bibir Nata masih sama seperti dulu.

Ketika Adnan melepaskan kecupannya, pada saat yang bersamaan Nata bangun, bola matanya bergetar tak percaya hingga satu tetes cairan bening ikut turun dari mata cantiknya.

“Nata...Gueㅡ”

“Pulang...”

“Nat, maaf maksㅡ”

“Gue mau pulang...”


`teuhaieyo.


“Adnan!”

Suara lembut menyapa, Adnan selalu suka suara cantik wanitanya. Adnan mengepulkan asap nikotin terakhirnya ke atas, lalu dibuang putung rokok itu ke tanah dan diinjak hingga padam. Adnan menoleh, menyambut Ayana dengan sok sumringah, wajahnya tersirat kelelahan akibat banyak memendam emosi.

Lengan Adnan terbentang lebar meminta Ayana tuk masuk dalam rengkuhannya. Ayana tak bertanya lebih, tersenyum paham lalu berinsut dalam rengkuhan kekasihnya. Beberapa menit mereka berada pada posisi itu, saling menghangatkan ditengah angin malam dingin. Tak ada yang bersuara, Adnan meletakkan kepalanya pada bahu Ayana; menghirup aroma vanilla parfum kesukaannya.

Ayana paham, Adnan sedang kondisi tidak baik-baik saja. Beberapa putung rokok tercecer tepat dibawah mereka berdiri sudah menjelaskan semuanya. Wanita cantik itu turut bungkam sembari memberikan usapan menenangkan.

“Kamu ngerokok lagi? Kalo aku aduin ke Nata pasti diomelin.” Ujarnya. Bibir Adnan mau tak mau membentuk senyum ketika bayangan Nata memarahinya karena merokok. Nata punya sesak napas jadi Adnan sekuat tenaga menghilangkan kebiasaannya.

“Maaf...” Balasnya lirih. Adnan setres hingga tak menemukan pelampiasan selain batang nikotin.

Ayana melepaskan rengkuhan keduanya terlebih dahulu. Matanya bergerak, memindai raga Adnan dari ujung rambut hingga kuku kaki. Lelakinya sempurna dan akan selalu begitu. Ayana mengangkat tanganya, mengusap pipi hingga rahang tegas Adnan. Nyaman, Adnan terbuai.

Memori Ayana dibawah kembali pada dua tahun lalu. Ayana hanya seorang gadis biasa pengagum Adnan Dika. Gadis paling beruntung dalam antrian tak berujung. Adnan itu tak terdefinisi, kendati Ayana tau Adnan menerimanya tanpa dasar cinta namun Adnan begitu perhatian padanya. Ia kira seiring waktu berlalu rasa cinta akan tumbuh sendiri. Nyatanya Ayana salah, sejak awal Ayana tak punya hak atas Adnan, sejak awal Ayana kalah karena seluruh perasaan Adnan sudah diberikan habis pada Nata; sahabatnya sendiri. Adinata Dhamar itu poros kehidupan Adnan dan akan selamanya begitu.

“Ayana...aku cinta sama kamu.” Tuturnya tiba-tiba.

Ayana menatap mata kekasihnya, lantas hanya tersenyum sendu. Tak ada kesungguhan disana.

“Cinta kamu bukan untuk aku, Nan.”

Ayana mengangguk, meskipun dalam hatinya kecewa. “Aku tau...”

Adnan mengusap puncak kepala Ayana, membelai rambut panjang gadis yang telah bersamanya dua tahun belakangan. Lambat namun pasti tangannya telah sampai menangkup pipi tirusnya.

“Boleh aku cium kamu?” Pintanya.

Rasanya Ayana ingin mengangguk, memberi izin seperti biasa. Namun untuk hari ini, malam ini, detik ini Ayana dibuat ragu. Semua kebohongan ini harus berhenti sampai disini.

Sakit, ketika Ayana harus menolak permintaan Adnan.

“Cukup, Nan! Kamu butuh validasi sebanyak apa lagi?ㅡ”

Adnan menunduk seakan tertampar dengan kata validasi. Ia tau harusnya tak sampai sejauh ini, melibatkan perempuan terbaik hanya untuk memastikan perasaan yang menurutnya aneh, tabu, tidak mungkin.

Adnan punya perasaan lebih pada sahabatnya. Sejak awal perasaan yang tumbuh diantara mereka bukan sekedar tali persahabatan, namun mereka berdua saling menanam bibit cinta.

“ㅡsejak awal memang bukan aku kan? Tapi Nata.” Skak mat. Ayana memukulnya telak dengan fakta. Adnan memang memperlakukan Ayana dengan baik, tapi prioritas utamanya hanya Nata seorang.

“Ayㅡ”

“Berhenti bohongi diri kamu sendiri. Berhenti siksa diri kamu sendiri dan berhenti sakitin aku...” Adnan mematung, baru kali ini Ayana lemah dihadapannya. Ayana selama ini sakit, namun Adnan tutup mata.

“Maaf, Ay...” Hanya itu, satu kata maaf yang mampu dikatakan.

“Bukan salah kamu, aku tau keputusan ini pasti berat buat kamu. Pergi, kamu harus genggam Nata dan lepasin aku. Aku juga mau bebas cari kebahagiaanku sendiri. Jangan pernah takut untuk jadi berbeda, semua cinta itu normal karena dewi cinta itu nggak pandang bulu nyatuin hati umatnya.” Kalimat panjang penuh makna itu menjadi akhir dari hubungan Adnan dan Ayana.

Mereka berpisah, memilih untuk berjalan ke arah yang berbeda.


`teuhaieyo.


Nata menemukannya, pemuda bersurai coklat tengah bersandar pada batang beringin tua. Pemuda itu duduk santai diatas rerumput hijau sembari memetik gitarnya. Nata bisa mendengar bagaimana merdu suara Sadewa ketika jarak mereka semakin menipis.

Nata berdiri tepat dihadapan Sadewa yang masih menikmati performanya sendiri dengan mata tertutup. Menyanyi sepenuh hati seolah berada di atas panggung besar. Nata masih enggan mengganggu, Ia memilih ikut menikmati lagu persembahan Sadewa untuk alam.

I hope you're happy but don't be happier.

Nata bertepuk tangan kecil, Sadewa dan musik memang pasangan serasi. Apapun yang cowok itu bawakan tak pernah membuat siapapun kecewa. Sadewa tersipu, ternyata ada satu penonton manis yang entah datang darimana ikut menyaksikan.

“Udah jangan tepuk tangan lama-lama nanti gue besar kepala.” Ujarnya. Sadewa membenahi duduknya agar bisa memperhatikan Nata lebih jelas.

“Suara lo emang gak pernah ngecewain, sayang kalo gak diapresiasi.”

Si manis beringsut mendekat ketika Sadewa memindahkan tasnya agar Nata bisa bersandar pula pada batang pohon.

“Kok tau gue disini?” Nata tersenyum malu-malu, memang siapa sih yang nggak tau tempat singgah seorang Sadewa? Jawabannya sudah pasti di lapangan belakang gedung kesma, dibawah pohon beringin paling besar. Pun Nata sering memperhatikan Sadewa dari kursi taman tepat disebrang.

“Tadi ke kantin mau makan bekel ternyata rame jadi kesini eh nggak sengaja liat lo lagi nyanyi.” Bohongnya. Selesai kelas Nata memandangi bekal masakannya; dibuat khusus untuk Sadewa, menyiapkan hati lalu bergegas menuju lapangan.

Sadewa mengangguk,“Terus mana bekelnya? Gih dimakan keburu nggak enak!” Nata mengeluarkan bekalnya semangat, sedangkan Sadewa kembali fokus dengan gitarnya, memetik tiap senar asal.

“Gue kebetulan bawa dua, ini buat lo aja.” Gerakan jemari Sadewa terhenti, kepalanya terangkat untuk menatap Nata.

Sadewa tersenyum hangat, apalagi ketika sudut matanya menangkap semburan warna merah muda dipipi gembil Nata. Sadewa tak bisa menolak, “Makasih.” Ucapnya sebelum ikut membuka kotak bekal tersebut.

Mereka berdua menikmati masakan Nata, bahkan Sadewa tak ada henti-hentinya memuji betapa pintarnya Nata memasak. Satu fakta dari si kembar Nakula dan Sadewa adalah keduanya mampu menerbangkan siapapun dengan setiap kalimat manisnya.

Sadewa mengintip bekal milik Nata, terkekeh kala sayurnya masih utuh karena sengaja disisihkan. Ahh Nata tidak suka sayur. Sadewa mengambil potong daging, lalu disodorokan tepat dibibir Nata.

Awalnya Nata menatap bingung, kepalanya reflek mundur sembari dahinya membentuk kerutan. Namun, bibir merah muda itu akhirnya terbuka kala menangkap sinyal dari pemuda dihadapannya.


Adnan berada disebrang sana, tepat dalam satu garis lurus dari sepasang pemuda yang tengah menikmati makan siangnya. Adnan memperhatikan semuanya, tiap perubahan gestur sang sahabat. Hatinya diselubungi iri tatkala Nata mengirimkan senyum manis lengkap bersama semburat merah kepada Sadewa, manis, lucu, menggemaskan. Katakan Adnan posesif, namun lelaki ini tidak suka orang lain mendapat senyum itu, Adnan benci ketika senyum itu muncul karena pria lain melainkan dirinya.

Detik kemudian Adnan dibuat terbelalak, dengan secepat kilat bibir kedua anak Adam itu bertemu satu sama lain. Netranya bergetar tak percaya, hatinya sakit seolah dicubit, serta tanpa sadar kedua tangannya telah mengepal keduanya; buku jarinya memutih, urat nadinya tercetak jelas.

Ia kira itu hanyalah sebuah kecupan ringan. Adnan semakin dibuat pusing ketika bibir keduanya mulai bergerak beradu. Sadewa membimbing, kedua tangannya berada dibelakang tengkuk Nata sembari terus menekan maju. Nata terbuai, dibuat terbang ke langit ketujuh, memberikan setiap akses bibir tebal Sadewa menjamah miliknya. Dikecup, dijilat, disesapi belah ceri itu hingga pemiliknya melenguh.

Adnan mana sanggup melihatnya lebih, rasa cemburunya teramat besar hingga ingin maju mengambil Nata untuk dirinya. Namun, Adnan tetaplah Adnan pria penakut juga pengecut. Pada akhirnya, daripada mengakui semua rasa terpendam Adnan memilih pergi.


Nata? Mau lihat kupu-kupu di rumahku? ㅡSadewa Aditya


`teuhaieyo.


Junkyu's birthday from strata universe.

Bibir Haruto tak kenal lelah, tersenyum sembari fokus menatap laptopnya dibawah lampu kamar temaram. Sesekali kepalanya mengangguk, menggeleng; menilai sendiri berbagai produk fashion dalam web e-commerce.

Hari ini tepat tanggal 8 september. Baru saja kedua jarum jam dinding sampai bersamaan menyentuh angka 12. Artinya, besok hari spesial suaminya, Watanabe Junkyu resmi berumur kepala tiga.

Haruto menghela napas, berbagai pakaian mahal dalam toko mereka bagus, mewah, dan berkelas, memangnya baju apa yang tak cocok dikenakan suaminya? Namun lagi, tak ada yang spesial dari sebuah baju mahal, yang ada Haruto diomeli habis-habisan karena menghamburkan uang.

Pria dewasa itu terkekeh, memorinya seketika dibawa ke masa lalu. Harus menabung dengan keras hanya untuk date satu malam. Rela menghindari jajan untuk membeli hadiah kecil yang setidaknya pantas untuk diberikan. Sekarang, semua sudah banyak berubah. Pekerjaan Haruto bagus dan stabil. Haruto benar-benar memegang ucapannya akan membahagiakan keluarganya dalam segi apapun termasuk materi. Hingga kadang suaminya pusing sendiri, malah dicerca dengan berbagai nasihat agar menabung oleh suaminya sendiri.

Mata elangnya meratap kamar gelap, masih ada cahaya sedikit dari sinar bulan serta layar laptop menyala. Pandangannya jatuh pada tas kulit menggantung digagang almari ada gantungan koala abu-abu menandakan tas itu milik sang suami. Haruto jadi ingat beberapa hari lalu Junkyu mengeluh resleting tasnya sering macet. Tak salah lagi, tas itu jadi salah satu seserahan nikah mereka 5 tahun lalu dan Junkyu yang Haruto kenal orangnya setia jika sudah nyaman.

“Eugh...tidur...” Haruto sedikit berjengit, secepat kilat memindah halaman web dengan worksheet-nya ketika telinganya menangkap lenguhan Junkyu.

Junkyu mengangkat kepalanya kendati netra cantiknya belum sepenuhnya terbuka, niatnya mengintip apa yang dilakukan sang suami hingga belum tidur larut malam begini.

“Dikit lagi.” Sahut Haruto sembari mengusap puncak kepala Junkyu.

Si manis berdecak, tak tinggal diam tangannya maju mencoba menutup paksa layar laptop Haruto namun berhasil dicegah. “Udah besok lagi.” Gerutunya.

“Iya iya ini disave dulu, sayang.” Lebih baik Haruto menurut sebelum laptopnya dibanting. Ia benar menyimpan pekerjaannya lalu menekan tombol matikan dan meletakkan laptopnya diatas nakas.

“Habis ini ulang tahun kamu mau apa?” Haruto hanya bertanya asal, yaa siapa tau dapat inspirasi dari jawaban kesayangannya. Junkyu menggeser tubuhnya makin menghilangkan jarak diantara mereka, pun Haruto sigap mendekap tubuh yang lebih kurus.

“Mau kamu.” Jawabnya. Suaranya teramat kecil penuh ketulusan. Haruto tak sanggup untuk menahan gejolak aneh dalam tubuhnya lantas Ia menyalurkan melalui sebuah kecupan sayang pada seluruh wajah cantik Junkyu.


9 September

Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday to my love... Happy birthday to you!

Junkyu berbinar kala mendapati suaminya tengah mendekat, melangkah hati-hati dengan sebuah kue bernuansa putih ditangannya. Lucu, suara bariton Haruto sebenarnya tak cocok dengan lagu seceria Happy birthday. Hatinya tersentuh, tak kuasa menutup mulutnya saking terharu.

Haruto berdiri, tepat dihadapan Junkyu. Masih kokoh memegang kue dengan lilin angka 30 tertancap diatasnya. Junkyu diam sejenak, dalam hati mengucap syukur disertai harapan, bertepuk tangan kecil ketika dirinya berhasil mematikan lilin hanya sekali tiup.

Kuenya diletakkan asal diatas meja makan yang telah tersedia berbagai macam makanan. Junkyu yang berulang tahun, namun Ia sendiri yang berinisiatif memasak untuk pesta kecil-kecilan karena si manis tau suaminya kurang suka masakan diluaran.

“Selamat bertambah umur, sayang. Terima kasih sudah hadir di dunia dan sudi menerima aku sebagai pendamping hidup kamu. Bahagia terus ya, cantik.” Haruto merengkuhnya, erat dan hangat. Ia menghaturkan beribu kasih sayang. Ada banyak untaian kata yang terdengar seperti buaya namun hanya itu yang mampu disampaikan. Tujuannya sejak awal hanya satu Junkyu selalu bahagia menjadi pasangan hidupnya.

Junkyu hampir menangis dibuatnya. Haruto sejak dulu hingga saat ini masih sama, selalu menjadikan dirinya merasa spesial. Haruto itu sebuah anugrah paling indah.

“Aku mau nangis boleh gak sih?” Junkyu merengek dalam dekapan suaminya.

Yang lebih tinggi gemas bukan main, “Gak boleh, khusus hari ini gak boleh.”

“Eh?!ㅡ” Haruto melepaskan dekapannya. Sedangkan Junkyu menatap dengan ekspresi tanda tanya.

“ㅡaku punya hadiah buat kamu.” Lelaki jangkung itu berlari menuju kamar. Detik kemudian Ia keluar lagi, tangannya memegang sesuatu dibelakang punggung.

Junkyu terkekeh heran, Haruto itu kadang masih kayak anak ABG kasmaran. Lalu, pria itu menyerahkan sebuah bungkusan yang nampak elegan.

Junkyu membukanya, di dalamnya ada sebuah tas. Design-nya sederhana, berwarna hitam terbuat dari kulit asli.

“Mulai sekarang pake yang ini aja, yang lama dibuang.” Junkyu mendongak menatap suaminya.

“Haru.. ini harganyaㅡ” Belum sempat Junkyu melayangkan suara, bibir semerah ceri itu disambar oleh suaminya. Tak hanya dikecup juga sesekali disesap hingga rasa manisnya terasa.

“Gak usah protes kenapasih kalau dibeliin suaminya.”

Bibir Junkyu mengerucut, kesal karena Haruto tak sopan menjamah bibirnya tiba-tiba. “Bukan protes, tapi ini harganya mahal banget pasti. Terus yang tas aku juga masih bagus apalagi itu ada makna spesial didalamnya.”

Haruto sedikit membungkuk nyamakan tinggi badannya, hingga mata sejajar dengan mata. Kedua tangannya menangkup pipi gembil suami manisnya, mengalihkan seluruh atensi agar tertuju hanya padanya.

“Aku pernah bilang tujuanku memantaskan diri bukan semata menyamakan derajat sosial antara keluargaku dengan keluargamu. Namun sebagai bentuk tanggungjawabku karena aku berani meminang kamu. Sebagai seorang kepala keluarga aku hanya ingin membahagiakan pasanganku sendiri.”

Junkyu tersenyum, Haruto memang penuh tanggungjawab. Terlebih Ia adalah pria yang selalu memenuhi janjinya.

“Iya nanti tasnya aku pake, aku pamerin sama semua orang kalo ini dibeliin Watanabe Haruto, suami kesayanganku.”

Mereka berdua tertawa, pun Haruto lega, bersyukur Junkyu tak menolak pemberiannya. Terakhir, Haruto tak lupa menyematkan sebuah kecupan lembut didahi Junkyu bersama doa-doa ketulusannya.

Sekali lagi, selamat ulang tahun kepada Watanabe Junkyu. Aku memang lelaki penuh kekurangan, namun hadirnya kamu disisiku mampu menyempurnakan segalanya. Aku selalu mencintaimu.


`teuhaieyo.


Elite lambang kesunyian dan ketenangan bagi sebuah kelompok. Dimana mereka tak lagi sembunyi, saling berbagi tanpa harus menutupi, jadi diri sendiri tanpa takut gunjingan sana sini. Bagi mereka elite bukan sekedar tempat untuk duduk dan bersantai, namun rumah tempat mengadu dari segala kesesakan hidup dihimpit masyarakat tabu.

Dentingan mulut gelas terdengar, malam ini elite cukup sepi hanya beberapa meja terisi. Nata menerawang seluruh ruang, sudah lama Ia tak datang kemari. Kuliahnya padat terlebih Adnan jarang memberi ijin.

Nata itu hebat, tapi ceroboh luar biasa. Jika sudah mabuk amat sangat merepotkan. Nata sebenarnya muak hidup dibawah perlindungan Adnan, namun Nata sadar Ia masih banyak membutuhkan Adnan.

Can we go where no one else goes? Can I know what no one else knows? Can we fall in love in the moonlight?

Netra berbinar Nata seketika jatuh pandang pada pemilik suara di depannya. Suhu badannya mendadak naik, darahnya berdesir tanpa adanya sentuhan. Nata menopang kepalanya, masih fokus akan paras pria yang lihai dalam memetik gitar. Kedua pasang obsidian itu bertemu ketika tanpa sengaja lirikan sang penyanyi tertuju pada milik Nata. Ia mengalihkan pandangnya. Terlambat, pipi Nata bersemu merah, malu bukan kepalang.

Sambutlah dia Sadewa Aditya, pujaan hati seluruh jiwa.

“Loh, itu Sadewa kan temen jurusan lu?”

Nata menyesap alkoholnya guna menutupi rasa malu. Lalu, Ia melirik Adnan dan mengangguk mengiyakan.

Sadewa Aditya, suara merdunya menjadi favorit anak kampus khususnya cewek-cewek jurusannya. Dibalut senyum teduhnya menambahkan kesan ramah. Bak jungkat-jungkit sifatnya berbeda jauh dengan sang saudara kembar; Nakula Aditya.

Sadewa itu tipikal tipe ideal hampir semua orang, termasuk Nata.

Poetry and handpicked flowers Say you'll meet me at the altar Can we fall in love in the moonlight?

Lagi, Nata memberanikan diri untuk menatap Sadewa. Membawa dirinya masuk dalam dunia sepi, ditempat ini hanya ada Nata yang mengamati Sadewa. Seolah dunia Nata didedikasikan hanya untuknya seorang. Nata tertegun ketika lagu yang dinyanyikan Sadewa mendadak berhenti, diletakkan gitar itu pada posisi berdiri sebelum beranjak turun. Sadewa berjalan, pelan namun pasti sesuai irama debaran jantung milik Nata.

“Nata...” Panggilnya lirih.

Tatapannya terpaku, dibuat terbuai akan senyum menawannya. Nata merinding tatkala syaraf kulitnya merasakan sebuah sentuhan. Sadewa menggenggam lengan Nata, ditarik perlahan sampai empunya ikut berdiri.

“Hakh..!” Nata terkejut, bola matanya hampir keluar ketika Sadewa menarik mendekat hingga tubuh keduanya berhimpit. Jemari Nata sontak meremas kemeja Sadewa, menahan tubuhnya agar tak jatuh begitu saja.

Sadewa tersenyum kecil, wajah mereka hanya berjarak 5 senti. Perlahan namun pasti Sadewa mulai mengikis.

4 senti...

3 senti...

2...

“Nata!” Nata terperanjat, seolah tubuhnya ditarik paksa dari dunia tak terdefinisi menuju realita.

Tampangnya konyol akibat terkejut, dadanya masih sulit untuk bernapas. Namun, Adnan dapat melihat bagaimana kulit putih itu semerah kepiting rebus.

“Lu udah mabuk ya? Pulㅡ”

Ayana ia calling...

“ㅡeh bentar Ayana nelpon lu tungㅡ.”

“Gue ke kamar mandi dulu.” Nata linglung, bayang-bayang imajinasinya masih berlarian dalam pikirannya. Tanpa menunggu ijin Adnan, Ia segera melarikan diri ke kamar mandi. Pun, Adnan enggan ambil pusing memilih menyendiri sejenak untuk mengangkat panggilan kekasihnya.


`teuhaieyo.


Deru mesin mobil terdengar, amat cepat membelah jalan sepi. Pengemudinya seakan tak takut akan celaka, dibelakang kemudi dengan hati kalut. Malam tiba, memilih terjaga setelah pergi keluar bersama kekasih. Perasaannya tak tenang, dia juga dibuat bingung akan apa.

Beberapa menit lalu Adnan Dika duduk pada meja belajarnya, terlihat seolah mengerjakan tugas namun pikirannya melalang buana. Langit gelap yang nampak dari jendela kamarnya membuat hatinya semakin gelisah.

Adinata Dhamar

Adnan tertegun akan coretan abstrak yang dibuatnya sendiri. Menulis nama sang sahabat entah datang darimana. Adnan seketika khawatir berlebih, mengambil ponselnya agar bayangan wajah Nata pergi dari pikirannya.

Jarinya reflek berhenti pada salah satu postingan terbaru.

Dingin... Tulis Nata dari jauh disana.

Ketika pesan Adnan dibalas oleh Nata detik itu juga Adnan kalang kabut layaknya orang gila. Rasa khawatirnya berdasar, dan pelakunya selalu sosok yang sama. Bak terikat oleh benang merah, perasaan Adnan terhubung dengan Nata.

“Nata!” Panggil Adnan lega ketika bola matanya menemukan sahabat kecilnya. Ia mengatur deru napasnya sebelum bergerak mendekat.

Nata tersenyum sendu, binar kesedihan menyambut kedatangan Adnan. Nata kali ini tak menangis seperti biasa, namun Adnan tau nata begitu tersakiti. Pipinya, merah merekah meskipun dalam gelap. Bajingan mana yang berani menyentuh Nata?.

Adnan duduk, mendamping Nata namun diberi jarak sedikit. Adnan mengambil napas dalam, ditahan sebentar lalu dihembus kasar. Pandangannya jauh disana, meratap langit hitam bersih bertabur serbuk bintang.

“Sakit?” Tanya Adnan tanpa mengalihkan pandang sedikitpun.

“Perih, panas, tapi udah biasa. Temen lo Nakula tuh brengsek ya apalagi cewek-ceweknya. Yang buaya cowoknya yang ditampar gue.”

Nata itu kadang sekuat baja, kadang pula selemah kapas. Nata tak pernah menangis jika hanya dipukul; sudah biasa, makanannya sehari-hari. Fisik Nata kuat, namun lain perasaannya.

“Harusnya hari itu gue gak emosi, Nat. Jadi lu gak perlu sampe teriak ngakuin siapa sebenernya diri lu. Biar rahasia ini cuma kita yang tau.” Jika memutar memori jauh kebelakang, apa yang sedang terjadi pada Nata sebagian besar Adnan ikut andil. Bagaimana dirinya emosi ketika memergoki Nata dicumbu dalam kamar mandi kampus.

Adnan hilang akal, dadanya sesak, matanya nyalang memerah. Kiranya Adnan marah akan kelakuan Nata, secara sadar menyerahkan diri pada orang tak dikenal. Jauh dalam lubuk hatinya, Adnan terbakar api cemburu.

“Semua efek samping yang gue dapet emang berat, Nan. Tapi gue gak pernah nyesel. Seenggaknya gue jadi tau sebrengsek apa orang-orang kampusㅡ”

“Lu udah tau semua anak kampus brengsek, tapi dengan naifnya lu terima setiap orang yang dateng mau manfaatin lu.”

“ㅡgue cuma gay bukan orang yang punya catatan kriminal, ngapain juga gue nyesel ngungkap semuanya.” Jelasnya enteng.

Nata itu boleh terlihat polos, naif, selemah bayi baru lahir. Namun, Adnan paling tau diantara mereka berdua Nata yang paling kuat, Nata yang paling berani menantang segalanya meskipun dia harus kehilangan semua, nanggung rasa sakitnya.

“Bahkan kalo emang takdirnya semua orang bakal ninggalin gue, gue gapapa.” Terakhir, ucap Nata bersama senyum tipisnya.

Adnan akhirnya melepas kontak matanya dengan langit. Menghentikan aksi menghitung sebaran bintang. Atensinya jatuh pada pipi gembil milik Nata. Tangannya terangkat, mengambil jemari kanannya, dingin...

“Lu gak bakal ngejalanin semuanya sendiri selama gue masih ada disini, Natㅡ” Nata dengar, hanya acuh. Batinnya tertawa remeh akan kalimat Adnan. Adnan pria normal, punya harta dan wanita pujaannya. Pada akhir cerita nanti mereka akan berpisah juga.

“ㅡtapi gue butuh waktu buat proses semuanya. Buat cari tau apa yang gue sebenernya mau dari dalam diri lu. Untuk saat ini, gue cuma cowok brengsek yang tiap malem datengin raga lu dalam mimpi gue buat dicumbu.”

Perasaan Adnan pada Nata layaknya taburan bintang di langit, banyak dan abstrak. Namun, jika berhasil menghubungkan satu dengan lainnya akan menggambarkan suatu rasi bintang lengkap bersama makna didalamnya.


`teuhaieyo.


Adnan bersama Nata tiba, melangkah bersisian menuju pintu utama sebuah restoran franchise. Menuju dekat, Adnan jalan lebih cepat membuka pintu terlebih dahulu; mempersilahkan Nata masuk layaknya pangeran kerajaan datang berkunjung. Sifat alami Adnan selalu bisa menggoyahkan hati siapapun.

“Adnan!” Panggil pemuda disana. Adnan mengangkat tangannya, membimbing Nata mendekat meja paling ujung.

Adnan menggeser sebuah kursi untuk Nata duduk lalu dirinya pamit memesan.

Lengkungan bibir menawan itu mengembang kala kedua pandang saling bertemu. Nata malu, mengetahui sejak dirinya datang diperhatikan seperti itu sedangkan yang duduk dihadapannya tak sungkan sama sekali menaruh minat pada sosok yang juga lelaki.

“Nakula, anak gizi.” Celetuknya tiba-tiba.

Canggung, Nata itu jarang berinteraksi dengan temannya, apalagi semenjak insiden orientasi seksualnya terungkap. Mereka jauh, Nata ditinggal menyendiri.

“Adinata. Saya anak kesma.” Balasnya lirih namun disambut dengan suara kekehan.

Nakula kagum, sejak tadi punya segudang pertanyaan tentang sosok manis di depannya. Bagaimana bisa seorang lelaki memiliki paras cantik layaknya perempuan.

Kulitnya seputih susu, Sadewa yakin teksturnya pasti selembut permadani bulu. Matanya, cantik lengkap hiasan bulu mata lentik. Bibirnya... Nakula gila tatkala Nata melakukan gestur membasahi belah merah muda kenyal itu. Terakhir, Nakula terpukau akan gerak-gerik tubuh Nata, tak terkecuali ketika Ia sedang menyampirkan rambut yang sedikit panjang ke belakang telinga.

Nata itu indah layaknya kumpulan bunga mekar di atas tanah gersang.

“Nata, sunggu tak sopan hadirmu mengusik ketenangan jiwaku.”

Nakula Aditya jatuh, terjerembab dalam sebuah keadaan. Cinta pandang pertama begitu orang-orang menamainya dan Nakula hanya punya satu prinsip apapun yang menarik perhatianku harus menjadi milikku.


`teuhaieyo.


Adnan Dika point of view

Aku melihatnya meskipun dibawah langit gelap bercahaya bulan. Tubuh itu bergerak lembut sesuai iringan musik, sedikit kaku karena aku tau dia paling enggan diajak menari.

Senyumnya, sebuah karya paling menawan yang pernah tercipta. Tak pernah sedetik pun aku tak membayangkannya. Adinata Dhamar, pemilik paras manis juga sahabat sedari kecil. Sosok polos dengan keceriaannya, menebar berbagai warna dalam hidup hitam putih ini.

Dia balik menatapku dengan tawa bahagianya. Kedua pasang manik kami saling berkomunikasi, Ia menyampaikan pesan bahwa dirinya baik-baik saja bersama dengan pria barunya.

Namun tak bisa dipungkiri rasa khawatir dalam diriku terus muncul tak terkendali.


Adnan berpaling ketika gerakan tari persembahan Nata untuk Asad bertambah liar. Ia tak sanggup memperhatikan lebih lama bagaimana Asad mulai berani menyentuh lekuk tubuh Nata. Selalu begini, dikerubungi rasa cemburu membuat Adnan muak.

“Adnan...” Suara lembut menyapa gendang telinganya. Adnan balik menyapa dengan senyum.

Adnan meletakkan gelas plastik berisi minuman asal, menarik pinggang ramping kekasihnya; Ayana menuju khalayak ramai yang tengah meliuk. Perempuan cantik itu tertawa, cantik Adnan selalu suka nadanya. Adnan membimbingnya dengan gerakan sederhana, diikuti Ayana terlihat malu-malu.

Musik berhenti, diganti dengan lagu berirama lembut. Kesan romantis hadir ditengah-tengah mereka. Gerakan liar penuh erotis berubah menjadi damai. Kekasih saling memeluk, berdansa kanan-kiri dibawah lampu temaram. Bulan pun seakan tersenyum merasakan hawa penuh kasih dari sana.

“Kamu cantik.” Bisik Adnan, jemarinya naik membelai rambut perempuan cantik yang telah menemaninya hampir 2 tahun.

Semburat merah muncul, jemari Adnan langsung mengambil kesempatan itu untuk mencubitnya gemas. Obsidian mereka bertemu, saling menatap dalam lama, hingga Ayana menutup mata cantiknya.

Basah, satu kata yang mampu mendeskripsikan ketika dua bibir menyatu. Adnan dapat menangkap suara debaran jantung milik Ayana. Kekasihnya terbuai, namun...

Seluruh perhatian Adnan selalu tertuju padanya. Obsidian Adnan menerawang jauh kearah dua pemuda yang juga tengah bercumbu diujung sana.

“Ayana, aku minta maaf.”


`teuhaieyo.