hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


I was so straight untill I met you. Mine colored grey before you gave all that rainbow🌈

Sebuah perjalan Adinata Dhamar; seorang gay yang tengah berusaha mencari apa arti cinta sebenarnya bersama Adnan Dika; sahabat kecil yang hidupnya penuh dilema, serta bagaimana keajaiban bisa mempersatukan mereka.


End Of Story: 7 years later.

Pemuda itu tersenyum kecil, menatap pantulan bayangannya pada cermin. Sirat keresahan tergambar jelas diwajah manisnya. Berbagai pertanyaan serta keraguan mulai datang menyapa jalan benaknya.

Setelah 7 tahun masa penantiannya Junkyu akhirnya menyerah. Junkyu memang bodoh, malam itu dirinya menangisi kepergian Haruto hingga larut dan besoknya bangun disiang hari. Ya, Junkyu paham harusnya Ia bisa hidup dengan bebas, berkencan dengan siapapun namun hasratnya mengatakan Ia masih ingin menunggu.

Tepat hari ini rasa lelahnya telah berada diujung. Menunggu kepulangan seseorang tanpa kepastian membuatnya jengah. Ketika Ayahnya menawarkan sebuah lamaran, tanpa penolakan Junkyu mengatakan Ya, pertemukan kami.

Siapapun yang akan datang, tolong bantu Junkyu keluar dari bayang-bayang masa lalunya.

Sayup-sayup terdengar keramaian dari luar kamar. Tampaknya keluarga pelamar telah datang. Seketika Junkyu ragu akan keputusannya.

“Tuan Junkyu sudah ditunggu Tuan besar dan nyonya.” Junkyu acuh, membenahi kembali jas hitamnya. Lalu, sebelum keluar kamar beberapa kali menghembuskan nafas berat.

You can do this! At least coba dulu” Katanya untuk diri sendiri.

Junkyu melangkah keluar, perlahan menuruni tangga bak pangeran kerajaan yang muncul untuk menyapa warganya. Gugup; jari-jarinya mendadak lemas hingga harus berpegang pada pembatas tangga. Setiap langkah yang ia buat dipenuhi kalimat motivasi, takut-takut kecewa ketika sudah bertemu bakal calon suami.

Ketika si manis sampai diujung tangga, seluruh perhatian tertuju padanya. Setiap obrolan yang terjadi beralih senyap, yang ada di ruang tamu berdiri menyambut Junkyu. Junkyu menghampiri, masih menunduk malu-malu hingga keluarga sang calon gemas dibuatnya.

“Selamat datang, saya Kim Junkyu.” Sapa Junkyu.

“Watanabe Haruto.”

deg

Apa katanya? Siapa?

Junkyu mengangkat kepalanya perlahan. Takut, dirinya sangat takut sekarang. Suara itu... suara berat khas pemuda masa lalunya, hanya saja saat ini lebih berat. Junkyu menutup kedua matanya, enggan percaya pada keadaan, berharap ketika Ia membukanya bukan sosok itu yang ada. Mungkin Junkyu kelewat rindu sampai imajinasinya sejauh itu.

Pria seperempat abad itu tersenyum teduh. Ia mengangguk ketika kedua orang tua memutuskan pergi dari ruang tamu diam-diam. Mereka mengerti keadaannya, Haruto maupun Junkyu butuh waktu menyelesaikan urusan hati mereka setelah 7 tahun berpisah.

“Junkyu, kamu nggak lagi mimpi. Ini benar aku, Haruto.”

Junkyu berjengit tatkala syarafnya menangkap sinyal dari sebuah sentuhan. Hangat, tak ada yang berubah dari pria ini. Hanya saja, parasnya semakin tampan, rahangnya tegas, serta penampilannya terlampau dewasa. Kedua bola mata Junkyu bergetar, dalam tubuhnya muncul perasaan membuncah. Rindu, semua tentang Watanabe Haruto membuatnya rindu.

“Ha-bagaimana bisa?” Ucapnya terbata.

Haruto masih tetap pada senyuman tampannya. Junkyu... masih indah seperti masa SMA, bahkan lebih cantik. Pipi kesukaannya dijaga baik oleh pemiliknya. Terima kasih, aku tau kamu setia menunggu.

“Aku kembali seperti janjiku 7 tahun lalu. Orang pertama yang akan aku cari adalah kamu.” Tuturnya lirih.

Tangan Haruto bergerak, berpindah membelai tengkuk Junkyu. Kepalanya mendekat, mengikis jarak diantara mereka tanpa memutus kontak mata keduanya. Junkyu tegang, jantungnya bergerak tak beraturan memompa darah dua kali lebih cepat dari biasanya. Ketika hidung telah bertemu hidung reflek kelompak mata Junkyu menutup manik cantiknya bersamaan satu butir cairan bening turun bebas melewati pipi.

Keduanya bisa merasakan deru nafas masing-masing. Gendang telinganya juga menangkap bagaimana suara debaran seolah menyahuti satu sama lain. Dalam posisi berdiri, hanya berdua ditemani sunyi Haruto mendaratkan bibirnya untuk yang pertama kali diatas bibir semerah ceri milik Junkyu. Bibir yang telah lama diidam-idamkan.

Dengan satu kecupan mereka saling mengirim sejuta perasaan dan pesan yang tak tersampaikan.

Penantian lama penuh drama perihal strata kehidupan mampu mereka lewati bersama waktu. Watanabe Haruto akhirnya dipersatukan dengan Kim Junkyu, cinta pertamanya.

“Kim Junkyu, menikahlah denganku?”

“Aku tak ingin menjawab, karena kamu sudah tau pasti jawabannya. Aku milikmu seutuhnya.”

The End


` teuhaieyo


Pukul 9.30 a.m

“Haruto!” Teriakan terdengar nyaring bersamaan suara langkah kaki dipercepat menggema dalam ruangan bandara yang sedang sepi lenggang.

Geng Hyunsuk akhirnya datang, kali ini ditambah Jihoon dan Asahi.

Haruto berdiri dari duduknya, memutus acara ngobrol dengan kedua orang tuanya. Mereka terlebih dulu menyapa mama Haruto dan bertos ria dengan ayahnya, sudah seperti geng bahkan mereka memanggil ayahnya mas bro. Yah, kecuali Asahi yang baru pertama ikut dalam acara geng yang katanya gak jelas.

“Oh ini toh Asahi-Asahi mu.” Ujar ayah, karena setaunya Jaehyuk memang punya pacar namanya Asahi cuma belum tau parasnya.

“Iyalah, cakepkan! Bisa bisanya anda ngatain saya halu.” Jaehyuk mendengus. Ayah biasanya menggoda Jaehyuk cuma halu karena hanya bisa membual pasal Asahi tapi tak pernah dibawa unjuk seperti Hyunsuk yang mengenalkan Jihoon.

“Kamu kok mau sih sama bocah kayak Jaehyuk.” Asahi tersenyum malu-malu.

Ditengah kekacauan diantara mereka, saling melempar gurauan dan tawa Haruto hanya bisa diam. Kepalanya diangkat tinggi-tinggi, mengedarkan pandangannya pada ruangan luas. Seperti tengah mencari sesuatu.

Hanya Jihoon yang sadar. Paham siapa yang tengah ditunggu-tunggu kehadirannya. “Tadi Junkyu gue chatㅡ”

Mendengar nama Junkyu disebut Haruto menoleh menghadap Jihoon.

“ㅡGue gatau gimana yang pasti doi belum jawab chat gue.”

Haruto mendadak sendu, Jihoon melihat perubahan raut pemuda yang lebih tinggi jadi sedih sendiri. Melihat Junkyu belum datang mungkin mereka berpisah secara tak baik. Keduanya saling membalas perasaan, namun terhalang oleh strata. Ketika yang satu akan berusaha keadaan malah semakin runyam. Entahlah, Jihoon bingung harus bagaimana hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua.


Pukul 09.45 a.m

Suara pengumuman berkumandang, memanggil seluruh penumpang pesawat tujuan Kota Amsterdam. Haruto mengambil tas kopernya, menyampirkan sligbag juga.

Mendadak suasana jadi haru. Anak semata wajang ikhlas dilepas, sahabat mereka akan pergi jauh.

“Mama, Ayah, mas berangkat ya. Makasih udah jadi orang tua yang baik buat mas. Doain mas lancar kuliah disana.” Mama mana kuasa menahan tangisnya. Wanita yang dikenal dengan senyuman cantik itu begitu rapuh ketika melepas sang putra semata wayang. Pun ayah yang berusaha setegar mungkin, merentangkan lengannya untuk merengkuh sang anak dan istri bersama.

“Ayah bangga punya anak seperti mas. Ayah selalu doain mas yang terbaik. Maaf cuma ini yang ayah sama mama bisa usahakan buat kamu.”

“Kamu hati-hati ya disana, telpon mama atau ayah dalam keadaan apapun. Jangan lupa makan, istirahat. Ayah sama Mama sayang sama kamu.” Ungkap sang mama disela isakannya.

Setelah itu, Haruto balik menatap sahabatnya. Mereka semua sedih tanpa mengurangi rasa bangga pada Haruto. Satu persatu dari mereka saling memeluk Haruto, menyampaikan sepatah dua kata terakhir sebelum benar berpisah.

“Gue berangkat ya...” Semuanya mengangguk. Berdiri ditempat sedangkan Haruto bergerak menjauh.

Hingga punggung tegar itu perlahan menghilang.

Jikalau memang ini pilihanmu, aku menerima. Sampai jumpa lagi, aku berangkat.


`teuhaieyo.


Malam ini para anak akan menuju dewasa. Merayakan detik-detik terakhir masa SMA. Pesta ini sebagai langkah awal, pijakan pertama mereka keluar menantang dunia sesungguhnya. Suka, duka biarlah menjadi kenangan masa lalu. Tersimpan erat hingga akhirnya diceritakan kembali saat keadaan telah berubah menjadi lebih baik.

Tepat pukul 8 malam, lokasi perayaan kelulusan sudah nampak ramai. Kerlap kelip lampu turut menghiasi, menambah kesan meriah dalam ruangan. Makanan, minuman tertata rapih, cantik sesuai dengan tema yang diusung malam ini.

“Selamat malam, siswa Treasure!” Sapa pembawa acara menjadi pertanda susunan acara telah dimulai.

Riuh bincang-bincang serta candaan seketika berhenti kala seluruh atensi tertuju pada panggung besar ditengah mereka. Mereka semua memperhatikan berbagai sambutan serta wejangan dari ketua yayasan hingga perwakilan siswa. Dan acara pun dilanjutkan sesi ramah tamah diiringi persembaban musik dari band sekolah.

Cheers!” Sorak sorai mereka, gelas minuman diangkat bersama, selanjutnya diteguk cairan sirup warna warni dalam gelas.

Disanalah geng Hyunsuk, berdiri tepat dipojok ruangan memperhatikan gerak-gerik temannya dalam pesta. Tengah ngobrol sambil bercanda entah apa yang selalu membuat kebersamaan mereka begitu menyenangkan.

“Eh iya besok jadi jam 10?” Hyunsuk menyenggol lengan Haruto. Mengambil atensi pemuda yang jauh lebih tinggi darinya. Haruto sejak tadi diam, pandangannya terkunci pada satu tujuan; Junkyu, si manis disana sempurna mendamping Papanya.

Haruto membenahi posisi berdirinya, kali ini memperlihatkan lawan bicaranya, “Iya, lu semua jangan pada molor ye!” Kata Haruto memperingatkan.

Haruto sangat ingin diantar oleh sahabatnya, terlebih Junkyu jika hari ini dia berhasil mengambil hatinya kembali. Niat datang menghadiri perayaan kelulusan tak hanya mengucap tinggal pada almamaternya, juga menyelesaikan semua rasa penyesalan.


Langit semakin gelap tanda malam semakin larut. Namun, tak sama sekali menyurutkan semangat siswa yang datang meskipun baju yang dikenakan semakin lusuh atau make up hasil polesnya semakin luntur.

“Guys, bisa minta perhatiannya sebentar?” Lagi-lagi pembawa acara menginterupsi padahal sudah pada sesi bebas. Semua mata memperhatikan penuh sirat tanya.

“Ada yang mau nyumbang suara nih katanya buat confess ke seseorang.” Mendengar kata confess makin dibuat penasaran, semua dibuat bertanya siapa gerangan.

“Oke kita sambut aja pangeran sekolah kita. Prince Yoshi!

Wah gila! seketika semuanya berkerumun di depan panggung. Jarang-jarang pangeran dingin mereka menawarkan diri menjadi pusat perhatian. Lagi, katanya akan confess ke seseorang.

Junkyu, kah? Seolah nama pemuda manis satu itu telah tertanam jika bersangkutan dengan Yoshi. Siswa-siswi bersorak ketika Yoshi sampai diatas panggung, auranya tegasnya menguar, tak ada kesan gugup sama sekali. Sesekali mereka juga mengedarkan pandangan diantara lautan manusia yang datang, mencari keberadaan Junkyu.

“Ekhem, lagu ini saya persembahkan buat kamu yang diujung sana.” Kini banyak kepala ikut menoleh. Hampir berteriak karena mungkin tebakan mereka benar. Junkyu disana, bersama Mashi juga Asahi.

Junkyu terkekeh kecil, malah menimbulkan konklusi dipikiran seluruhnya. Faktanya, Junkyu menertawai cara klise yang Yoshi lakukan untuk mendapatkan pemuda kecil yang tengah mematung disampingnya. Memang klise, yang membuat ini konyol adalah Junkyu tidak tau bahwa Yoshi bisa tunduk begini dihadapan cintanya. Melakukan hal tak pernah terpikirkan dalam benak siapapun.

I know you're somewhere out there Somewhere far away I want you back, I want you back

-

At night, when the stars light up my room I sit by myself Talking to the moon Trying to get to you In hopes you're on the other side talking to me, too Or am I a fool who sits alone talking to the moon?

Deretan lirik usai, suasanya jadi sunyi. Entah mengapa seluruh perasaan yang Yoshi tuangkan dalam lagu yang dibawakan membuat seluruhnya sedih. Kiranya Yoshi akan menyanyikan lagu romantis, berbalik membawakan lagu dengan pesan penyesalan. Yoshi turun dari panggung, suara sepatu mahalnya menggema dalam ruangan, jalannya lurus, obsidiannya terpaku pada pria manisnya.

Wajahnya memerah, air mata menumpuk dipelupuk mata. Mashi; mungkin semua orang pikir lagu itu untuk orang lain, namun Ia paling tau bahwa Yoshi tengah berusah menariknya kembali dan itu berhasil meruntuhkan egonya. Sebelum tetesan air mata pertama jatuh, tubuh kecilnya lebih dahulu ditarik dalam rengkuhan hangat, erat seolah tak ingin lagi kehilangan sosok mungil tersayang.

Mashi membalasnya, juga menumpahkan seluruh rasa kesal, kecewa, haru, rindu, dicampur rata dengan bumbu kasih sayang melalui tangisan.

I'm sorry...” Hanya itu yang sanggup Yoshi katakan. Seluruh pidato panjang yang sudah Ia siapkan luntur begitu saja dalam otaknya.

Manusia disana tercengang dibuatnya. Masih tak percaya bahwa pemilik hati si pangeran dingin sebenarnya adalah sosok bukan siapa-siapa. Masih tak percaya bahwa pangeran yang mereka eluh-eluhkan begitu lemah dihadapan cintanya.

Junkyu tersenyum, tulus. Satu masalah hari ini selesai sudah. Tinggal dirinya, masih menunggu waktu hingga hatinya siap.

Apa bisa?


Haaahhh...

Beberapa kali desahan kasar dilancarkan si manis sembari maniknya tertuju pada langit gelap penuh sebaran bintang.

Si manis tengah menyendiri, menghiraukan hingar bingar pesta di dalam yang makin runyam akibat jajaran guru sudah pulang. Memilih keluar dengan beban, mencari angin segar ketimbang botol alkohol.

Srak

Junkyu; si manis terkesiap tatkala gendang telingan menangkap langkah seseorang mendekat. Tatapan sendunya berubah gemetar ketika bertemu dengan milik pria tinggi dihadapannya.

“Aku boleh duduk disini?” Tanyanya meminta izin.

Junkyu ragu, tujuannya menyendiri juga tengah menyiapkan hati untuk mengajak pria ini berbicara. Maksud Junkyu nanti biarkan Ia sendiri yang datang, buka lebih dulu dihampiri. Tapi, Ia tak punya waktu untuk menolak. Jadi Junkyu akhirnya mengangguk.

“Aku besok berangkat.” Tuturnya to the point.

Junkyu lagi-lagi mengehela napas, menunduk lalu mengusap wajahnya frustasi. Maksud kamu apa, Haruto?

“Aku mau lihat kamu di bandara, boleh?”

Senyuman miring tergambar pada bibir si manis. Tak habis pikir dengan kata-kata Haruto yang menurutnya nggak sopan, egois. Setelah apa yang terjadi daripada menjelaskan pria ini memilih bungkam.

“Bukannya kamu terlalu egois ya, Har? Aku minta penjelasan bukan hanya kalimat perpisahan.” Kali ini Junkyu berani menatap matanya. Menyampaikan betapa takut serta kecewanya.

Haruto mengangguk paham, “Sejujurnya aku juga takut hal kayak gini terjadi. Aku takut lihat ekspresi kamu yang kayak gini, bikin aku gak mau pergi dari kamu.”

Maaf, tapi aku memang takut kamu pergi...

Satu tetes air mata akhir lolos dari mata cantik Junkyu. Haruto dengan secepat kilat mengangkat tangannya, ingin mengusap namun ditahan.

Tidak... tolong jangan menangis.

“Kamu tau nggak sih sikap kamu yang kayak gitu malah bikin aku jadi orang bodoh hiks!” Tangisnya. Junkyu rapuh, Ia bingung harus bagaimana selain menangis. Seluruh tubuh bergetar dibuatnya. Lelah, tapi lega bisa ungkap kegundahan hatinya langsung dihadapan Haruto.

Haruto menggeser duduknya mendekat, mengambil raga yang tengah menangis dalam sebuah dekapan. Haruto tau apapun keputusannya, memberitahu Junkyu cepat atau lambat Ia harus dihadapkan dengan situasi seperti ini. Bodoh, jika sudah begini apapun hasilnya Haruto mau tak mau meninggalkan. Tak sempat memberikan kesan terindah pada pujaan hatinya.

“Aku takut, Har... aku takut kehilangan kamu hiks. Aku tuh udah terlanjur jatuh, aku jatuh cinta sama kamu dan aku pikir kamu punya rasa yang sama, tapi melihat aku nggak tau apa-apa tentang kamu...I'm a stranger to you.”

Dekapannya semakin erat seakan takut Junkyu melepaskan, Haruto menggeleng tak setuju. Kenyataan bahwa Haruto yang pertama kali menaruh hati pada si manis, jauh...jauh sebelum si manis mengenal dirinya.

“Enggak.. enggak, Kyu kamu bukan orang lain. Kamu spesial, kamu berharga, kamu adalah salah satu manusia di bumi yang ingin aku bahagiakan setelah orang tuaku. Tapi aku memang harus pergi melakukan ini semua.”

Dengan sangat terpaksa Junkyu melepaskan pelukannya. Ia menghapus sendiri sisa-sisa tangisnya. Diambil kedua tangan yang lebih besar, diremas, diusap penuh perhatian lalu dipertemukan kedua obsidian mereka.

“Jawab aku dengan jujur, sebenernya kamu melakukan ini buat siapa? Demi Tuhan kalau kamu melakukan ini karena omongan papa, gunjingan Yoshi, dan segala betuk insecure dalam diri kamu please stop. I want you because it's you, i don't care about your strata, where your family came from, or how much money inside your bank. I fall for you though we do nothing but at least we are together.” Ungkap Junkyu menjelaskan. Jelas Junkyu akhirnya paham dimana duduk perkaranya, apa yang sebenernya jadi penghambat hubungan mereka.

Haruto melepaskan genggaman tangan Junkyu. Memindahkan keduanya menangkup wajah si manis. Haruto semakin menatap matanya, intens. “Junkyu denger. Aku melakukan ini karena memang ini salah satu mimpiku. Papa kamu, Yoshi mereka semua nggak ada korelasinya. Meskipun mereka begitu baik sama aku, aku tetap akan ambil kesempatan ini. Aku ingin banggain ayah sama mama, berharap kedepannya punya pekerjaan bagus, kalian hidup dengan baik nggak kelaperan, nggak mikir dua kali buat beli sesuatuㅡ”

Seakan terhipnotis Junkyu sama sekali tak menyela, hanya diam mendengar seluruh lantunan kalimat yang diungkapkan dengan suara rendahnya.

“Aku akan kembali dan kamu orang pertama yang akan aku cari. Apapun keadaannya nanti aku akan terima. Entah kita akan berjodoh atau aku hanya sekedar berkunjung mengucapkan selamat untuk hidup baru kamu dengan sosok selain aku.” Lagi, Junkyu tak mampu membendung air matanya.

Junkyu percaya pada Haruto, tapi Junkyu tak percaya dengan hatinya. Karena Tuhan satu-satunya yang mampu membolak-balikkan isi hati manusia, karena hanya Tuhan yang tau dengan siapa hambanya akan berjodoh nantinya.

“Jadi, apa kamu mau nunggu aku pulang?”

“Aku nggak tau...”


`teuhaieyo.


Bersama alunan musik menenangkan mereka saling merengkuh. Mengerat membagi rasa kasih sayang tak terhingga. Satunya tengah dirundung tangis, enggan berhenti sedangkan yang lain memberikan tempat mengadu paling nyaman.

I fall for him.” Katanya parau; berusaha mengeluarkan segala keresahan dihati meskipun sesenggukan.

Tak ada tanggapan, namun belaian pada punggung yang tengah bergetar hebat tidak berhenti. Si pemuda tak masalah berada diposisi begini, bahkan tak berusaha menghentikan suara raungan pilunya. Terima kasih, seakan dunia tau hari ini si manis dalam rengkuhnya sedang butuh ruang pelampiasan, kafe yang mereka kunjungi sepi.

Menangislah sesuka hati, keluarkan semuanya.

“Aku bukannya kecewa, aku bangga banget sama dia. But, I don't want him to leave.”

No no no he won't leave you, Kyu. I may hate him tapi aku nggak mau menyangkal kalo dia juga punya rasa yang sama kekamu.”

Seketika tangisan itu berhenti, dekapannya dilepas. Junkyu; si manis yang hampir seluruh wajahnya memerah karena tangis tengah menatap lawan bicaranya, Yoshi dengan tatapan tajam.

Yoshi tersenyum, senyuman lembut yang hanya Ia perlihatkan pada sang terkasih juga Junkyu. Pemuda tampan itu segera mengusap air mata yang masih senantiasa mengalir.

“Kalau kita memang punya perasaan yang sama, kita sudah lama saling memiliki.” Tuturnya.

Yoshi menggeleng maklum, “Love needs time.”

“Berapa lama lagi aku harus nunggu?” Tegasnya sekali lagi. Junkyu sangat lelah, terus berharap pada sosok tak pasti. Bermain tarik ulur tanpa ujung.

Haruto membuatnya jatuh cinta akan segala pesonanya. Saat Junkyu berhasil terjebak, Haruto pula yang ragu akan perasaannya.

“Selama yang kamu bisa, Kyu. I hate to say, I believe him but what happen next it's all on you”.

Junkyu menunduk, mulai ragu akan semuanya. Yoshi memandang sendu, kembali mengulurkan telapak hangat mengusap punggung lebar Junkyu.

“Kalau kamu ragu, kamu bisa bicara berdua sama dia. Tanya apa alasannya, terlebih tanya apa hubungannya yang terjadi diantara kalian.”


“Ma, mas beli minum di kafe sebelah ya? Mau nitip nggak?” Pemuda Haruto itu tengah mengelap peluhnya. Selesai sudah pekerjaan hari ini. Haruto mengisi waktu liburnya untuk membantu kedua orang tua di toko kue, jarang-jarang Haruto melakukan ini.

“Ayah americano dong mas!” Teriak sang ayah yang baru keluar dari bagian dapur.

Haruto mengerlingkan bola matanya, “Mas nawarin mama kok ayah yang nitip sih.*

Mendengar keributan antara ayah dan anak tak sama sekali mengusik kegiatan wanita cantik yang dengan cekatan menghitung penghasilan hari ini.

Haruto melangkah keluar toko, berjalan beberapa langkah. Tepat 2 langkah sebelum sampai tubuhnya seolah dipaksa berhenti. Berdiri tegak menatap nanar dua pemuda dalam kafe.

Malam itu Haruto tak pernah melangkah lebih jauh, membiarkan seluruh kejadian yang Ia lihat sebagai sebuah jawaban. Haruto sekarang paham bahwa kepergiaannya adalah keputusan yang tepat. Pergi untuk dirinya, kedua orang tuanya, bukan untuk mengejar cintanya.


`teuhaieyo.


Kediaman Keluarga Kim.

Deru mesin motor berhenti ketika sampai di depan rumah megah. Pemiliknya celingukan, mencari posisi enak guna memarkir motor matic sederhana pemberian sang orang tua. Jalan depan rumah penuh mobil, ada 3 lebih tepatnya. Tak seperti biasa yang selalu lenggang ketika si pemuda mampir kesana.

Watanabe Haruto, si ganteng yang datang sesuai janji dengan si manis pemilik rumah. Berpakaian rapih khas pergi kondangan formal, rambutnya Ia tata dengan pomade lengkap poninya diangkat hingga dahi yang jarang terlihat, tak lupa menambahkan parfum milik sang ayah. Pas, siap menaklukan calon mertua.

Langkahnya pelan-pelan, meskipun beberapa kali mampir menurunkan sang pujaan hati namun percayalah hari ini baru pertama akan masuk hingga lebih dari sekedar pelataran. Deg degan? Pasti, Haruto tak pernah tau akan apa yang terjadi setelah ini.

“Cari siapa, mas?” Sapa leleaki 30 tahunan, menginterupsi kegiatan celingak-celinguk. Haruto ini bingung, rumah sebesar ini bagaimana kata permisinya.

Si pemuda tersenyum canggung, “Sa-saya temennya Junkyu...”

Paruh baya berseragam sekuriti dihadapannya mengamati sejenak. Bibirnya mendekat pada mikrofon yang memang terpasang pada telinganya, berbicara kecil pada seseorang disebrang.

“Haruto!” Belum selesai mendapat konfirmasi, pemilik rumah alias si manis muncul terlebih dahulu. Menyapa Haruto beserta lengkungan bibir cantiknya. Junkyu itu memang semanis madu, namun hari ini lebih manis daripada biasanya.

Si manis berlari mendekati pagar, malah jadi yang membukakan pagar.

“Yuk masuk, udah ditunggu sama papa mama!” Ajaknya.

Mendengar kata papa dan mama, darahnya berdesir lebih cepat. Perasaan aneh menyelimuti dirinya. Rasa percaya diri yang telah disiapkan setinggi awan seakan jatuh menyentuh tanah. Tolong, jadikan hari ini lancar.


Dentingan alat makan beradu nafas halus menjadi satu-satunya suara dalam ruangan. Tak ada canda tawa, eluhan, atau hanya sekedar basa basi seperti di rumahnya. Jelas, setiap keluarga pasti berbeda dalam menanggapi suatu kebiasaan. Sebagian menganggap meja makan adalah tempat untuk berbagi masakan, dilain tempat meja makan adalah arena untuk membangun percakapan.

Kalau boleh memilih, Haruto inginnya pulang. Rasanya tak sama sekali nyaman meskipun kursi yang sedang diduduki sepuluh kali lebih empuk daripada kasur di kamarnya. Auranya dingin, mengintimidasi meskipun belum ada satu kata yang keluar. Baru masuk, belum sempat mengucapkan halo om, tante saya Watanabe Haruto. sudah dipersilahkan duduk dan makanan dihidangkan. Lebih parahnya lagi, ternyata undangan makan hari ini bukan hanya ada orang tua Junkyu melainkan Yoshi pun datang.

Dua puluh menit berlalu, piring-piring kotor telah diangkat dari meja makan, digantikan dengan banyak potongan buah segar, kue, juga es krim untuk cuci mulutnya.

“Ekhem...” Semua kepala yang menunduk reflek terangkat. Seluruh mata fokus satu tujuan pada kepala rumah tangga diujung meja.

Haruto mendadak gemetar, dalam pikirannya tersemat kata-kata penenang entah itu berhasil atau tidak, yang pasti dirinya benci terjebak disini.

“Jadi nama kamu Watanabe Haruto?” Kata sang kepala keluarga, menjadikan itu sebagai kalimat pembuka disesi obrolan kali ini.

Haruto meletakkan sendoknya, segera berdiri lalu membungkuk hormat setara 90°. “Benar, Tuan saya Watanabe Haruto.” Lalu pemuda tinggi itu kembali duduk.

“Satu sekolah dengan anak saya?” Tanyanya lagi. Menurut Haruto lebih tepat seperti pertanyaan introgasi karena nadanya tak tersampir kelembutan. Lebih ke nada monoton semacam melakukan interview.

“Benar, Tuan. Saya salah satu murid beasiswa di sekolah yang Tuan pimpin.”

Kepala keluarga Kim berhenti sejenak, menyesap teh herbal yang telah tersedia di meja. Sembari menunggu pertanyaan selanjutnya, obsidian Haruto berpendar kesana-kemari. Junkyu yang terkenal ceria jadi seperti patung, Yoshi nampak fokus mendengarkan, dan sedikit melegakan saat matanya bertemu dengan Mama Kim yang tengah tersenyum. Cantik, sekarang Haruto tau darimana paras Junkyu berasal.

“Saya dengar kamu banyak bergaul dengan anak-anak gedung utama?”

Haruto terkesiap, segera fokus kembali pada alur percakapan yang tengah berjalan. Ia mengangguk setuju, satu satunya anak beasiswa yang punya banyak kenalan dengan anak gedung baru ya hanya dirinya.

Tuan Kim tersenyum miring, tepatnya senyum merendahkan. Dalam pandangnya Haruto hanya sosok pemuda biasa, nothing special both inside and outside. Masih tak percaya, bagaimana auranya memang dirasa bisa memikat banyak orang dari berbagai kalangan. Jika Haruto sedikit saja sombong, menunjukkan segala kegigihannya mungkin Tuan Kim bisa digoyahkan.

“Punya apa kamu sampai bisa mudah diterima dalam lingkup anak-anak gedung utama.”

“Jujur, saya belum punya apa-apa saat ini.” Jawabnya. Tuan Kim terbahak pun Yoshi tersenyum miring.

“Lihat Yosh teman kamu lucu sekali.” Dalam suara tawa menggelegar, hawa ruang makan semakin ditekan. Haruto tau sekarang, kedatangannya bukan hanya untuk makan, tapi menjadi ajang penilaian.

Seberapa pantas Haruto bagi keluarga ini.

Jika sesuai standar akan dieluh-eluhkan. Jika tidak, dipermalukan sebelum dipersilahkan angkat kaki.

Disinilah Haruto sekarang, menjadi kandidat pada daftar pemuda yang harus dicoret namanya.

“Yoshi ini anaknya pak menteriㅡ” Disesap lagi teh herbal yang tinggal sedikit. Setelahnya mengusap bibirnya dengan sapu tangan. Sangat hati-hati.

“ㅡkendati anaknya pak menteri tidak membuat dia malas-malasan, foya-foya. Gimana Yosh perusahaan kamu di Amerika?”

Yoshi menegakkan bahunya ketika namanya jadi ikut terseret, “Baik, om.. sedikit demi sedikit sudah berkembang.”

Lagi, fakta baru dari Yoshi yang memukul telak rasa percaya diri Haruto. Yoshi itu bukan hanya kaya, berkelas, intelektual, namun juga mapan. Lihat dandannya, sama berpakaian kemeja, tapi siapapun tau bahwa harganya berbeda jauh. Yoshi itu perfeksionis, nggak salah kemejanya saja luput dari kerutan, parfumnya wangi segar tak seperti miliknya sudah bercampur keringat dengan debu jalan.

Apakah Haruto akan tertekan? ya tingkat percaya dirinya memang jatuh pun bersama harga dirinya. Ingat, Haruto adalah Haruto pemuda penuh kegigihan. Dimulut bilangnya mundur, lain dihati inginnya mendapatkan segalanya termasuk Junkyu.

“Baiklah jika kamu belum punya apa-apa, saya masih maklum. Lantas kuliah setelah ini bagaimana? Kuliah dimana? Jangan bilang tidak melanjutkan kuliahㅡ”

“Papa udahㅡ” Junkyu baru angkat suara ketika perkataan papanya mulai melewati garis batas. Junkyu tau betul sifat papanya. Daripada dilanjut menimbulkan sakit hati lebih baik berhenti.

Namun, sebelum itu terjadi Junkyu malah dihadapkan dengan telapak tangan papanya. Dipaksa diam, dilarang melanjutkan lebih.

“ㅡJadi Haruto saya ini menjunjung tinggi pendidikan. Saya percaya harta bisa didapat dari pendidikan setinggi-tingginya. Ya itu tergantung, kalau institusinya biasa sajaㅡ”

“Tuan Kim yang terhormat, kedatangan saya kesini pun ingin memberi kabar jika saya sudah diterima pada salah satu universitas ternama di Belanda. Saya sadar jika keluarga saya sederhana, tapi orang tua saya juga ingin yang terbaik. Beasiswa yang saya dapat hasil dukungan dari orang tua.” Jelasnya.

Seketika ruangan jauh lebih sunyi. Seluruh pandangan tepat menatap pada Haruto, kecuali Yoshi yang memang sudah tau informasi ini. Sisanya terkejut, apalagi Junkyu.

“Har... ini kamu serius?” Ujar Junkyu memastikan. Entah mengapa tubuhnya tak memproduksi perasaan bangga, banyak rasa tak suka akan informasi mengejutkan dari pemuda disebelahnya.

Junkyu mungkin bukan siapa- siapa bagi Haruto. Tapi, Junkyu yakin setidaknya Haruto akan bercerita tentang suatu keputusan besar yang akan pria itu ambil.

“Ini temen-temen kamu tau?” Lanjutnya lagi dengan nada menuntut. Sedangkan Haruto tak sama sekali mengelak.

Bukan, bukan Haruto ingin menyembunyikan. Hanya saja sedang mencari waktu yang pas.

“Kamu nggak ngasih tau aku?” Lagi, kali ini matanya menatap nanar; tersirat ungkapan kekecewaan.

“Aku kesini niatnya juga mau kasih tau, Kyu. Maaf.”

Junkyu menggeleng, Ia tau pasti proses mengejar beasiswa. Rumit, penuh lika-liku, penuh kalimat mengeluh. Disini Junkyu merasa dirinya hanya orang bodoh, hanya sosok asing yang tak berhak apapun dalam kehidupan Haruto. Lantas apalah arti tiap kebersamaan?.

“Haruto, Belanda itu jauh. Kamu tuh mikir gak sih?!” Junkyu beranjak, menunjuk Haruto dengan teriakan kecewa. Ingin mengungkap segalanya namun hanya sampai pada ujung lidah.

Junkyu kira, menunggu sebentar lagi hubungan mereka bisa melanjut pada satu tingkat. Junkyu percaya Haruto bisa melangkahi keras kepalanya sang papa. Junkyu salah, dirinya terlalu geer, Haruto datang untuk pamit pergi. Menjelaskan secara detail bahwa kedekatan mereka bukan apa-apa, Haruto akan meninggalkan Junkyu jadi keluarga Kim tak perlu khawatir mengusir Haruto pergi.

“Kyu aku bisa jelasin, maksud aku ituㅡ”

“Aku kecewa sama kamu, selamat ya atas pencapaian kamu.” Junkyu pergi diikuti sang mama yang bingung ada apa sebenarnya.

Setelah itu, kepala keluarga Kim juga ikut beranjak. Entah kemana, yang pasti meninggalkan Haruto dan Yoshi berdua.

Tak lama kemudian, Yoshi ikut bangkit. Langkahnya mendekat sejenak kearah Haruto, memberikan tepukan penghantar semangat dibahu pemuda yang dulunya dijadikan pesuruh.

“Gue nggak tau niat dalam hati lu gimana. Tapi, Junkyu berharap banyak ke lu.”

Haruto pun ditinggal sendiri, jatuh dalam lubang penyesalan.


`teuhaieyo.


Junkyu berjalan menuruni tangga setelah salah satu maid-nya menyampaikan pesan bahwa kedua tuan besar memanggil sang putra. Jika ditanya pasal hubungannya dengan orang tuanya, Junkyu bingung bakal menjelaskan seperti apa. Hubungannya sederhana, layaknya orang tua dan anak hanya saja lebih formal.

Sejak kecil Junkyu ditinggal melalang buana mengurus bisnis. Tak ada rasa membuncah ketika mendapat kabar mereka pulang setelah berminggu-minggu dari negri orang.

Hahhh...

Helaan napas kasar dihembuskan tatkala dihadapannya, mama dan papa telah duduk lengkap dengan berkas, laptop, dan kopi. Serius deh, Junkyu seperti datang pada wawancara kerja.

“Mah, Pah..” Panggil Junkyu; mencoba menunjukkan eksistensinya.

Hi, sweetheart.” Wanita cantik, nampak masih begitu muda padahal umurnya telah melewati 40 tahun. Senyumnya menawan, sama percis seperti milik Junkyu.

“Udah makan malam? Mau mama masakin apa?”

Junkyu tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya menolak, “Junkyu kenyang.”

“Tadi kamu habis darimana? Sama siapa?” Si pria manis mengerlingkan bola matanya jengah. Papanya selalu begini.

“Temen.” Balasnya singkat.

“Ajak kesini papa mau ketemu.”

Deg

Bentar, bentar papanya ini kenapa? Kan Junkyu sudah katakan kalau Watanabe Haruto itu cuma temen.

“Apaan sih, Pa orang cuma temen.” Junkyu mencebik, kesal namun terlihat menggemaskan.

“Kamu pikir papa nggak di rumah jadi mengabaikan anak papa. Kamu pikir papa nggak tau kalau kamu udah jarang sama Yoshi. Temen? tiap papa nerima laporan kamu selalu dengan anak yang sama.”

Inilah yang Junkyu benci menjadi anak tunggal. Orang tuanya pergi, namun matanya ada dimana-mana. Lebih memilih menerima laporan dari tangan kanannya ketimbang meluangkan waktu 1 menit tuk menelepon putranya sendiri. Setres!

“Anak mana? Siapa orang tuanya? Bagaimana latar belakangnya?”

Bagi papa Junkyu strata kehidupan diatas segalanya.

“Papa, udah dong Junkyu kan bilang cuma temen. Biarinlah mau berteman sama siapa aja.” Ungkap sang mama, mencoba menengahi sebelum terjadi perang mulut antar keduanya.

“Nggak bisa gitu, Ma. Anak ini masih terlalu polos, naif belum saja dibodohi oleh orangㅡ”

Brak

“Pa, Haruto tidak seperti itu ya!”

Keduanya saling melempar tatapan sengit. Seluruh tubuh dilingkupi ego masing-masing.

“Pokoknya kamu bawa anak itu kemari, papa yang bakal menilai sendiri apa dia cocok untuk kamu.” Perintah sang papa tegas dan valid. Tidak boleh ada yang menggugatnya lagi. Setelah itu, sang papa membereskan berkasnya, berlalu pergi dari meja makan yang suasananya sudah berubah jadi lokasi bertempur.

Junkyu memejamkan mata cantiknya, pusing sama kelakuan papanya sendiri. Orang tua itu-.

“Jadi... Haruto namanya? Cowok yang kamu buatin kue kering waktu itu?”

Junkyu mengangguk, tak ada celah untuk berkilah. Sebenarnya, sang mama adalah tempat yang cocok untuk mengadu. Sejak dulu hanya wanita cantik ini yang selalu menyalurkan sifat baik yang Junkyu punya sekarang. Kendati demikian seluruh keputusan tetap ada ditangan sang papa.

“Mama sebenernya nggak masalah kamu mau dekat dengan siapapun, dari taraf hidup manapun. Tapi maaf sayang, lagi-lagi papa harus ikut campur.”

Iya, Junkyu sangat mengerti meskipun tidak juga(?)

Apa boleh buat, sekarang mari kita cari bagaimana cara untuk mengajak Haruto datang menghadap papanya.


`teuhaieyo.


Tepat pukul 19.00 kedua pemuda itu keluar dari gedung bioskop. Junkyu pun Haruto meregangkan otot-ototnya. Film horor dengan sentuhan cerita romantisㅡ well, interesting.

Haruto menengok kesamping, mendapati Junkyu yang juga tengah menatapnya penuh harap.

“Kenapa?” Pemuda jangkung dengan rupa manis itu meringis. Sorot matanya diarahkan pada daerah perut hingga Haruto menggeleng dibuatnya.

“Laper...” Lirihnya. Malu, pasalnya saat film tengah memutar scene sunyi perutnya dengan kurang ajar berbunyi keras.

Yang lebih tinggi mengambil tangan Junkyu, mengeratkan jemarinya erat. Sampai saat ini pun Haruto masih tak percaya, tangan cantik milik Junkyu sangat pas dalam genggamnya.

“Mau makan dimana?” Sembari berjalan bersisihan, mereka juga mengamati resto ala mall dengan segala keramaian di dalamnya.

Junkyu menggeleng, bibirnya maju dua senti. Makanan dalam mall itu membosankan.

“Pengen angkringan deh.” Gumamnya. Pelan, namun masih tertangkap gendang telinga pemuda disampingnya.

“Hah?! Serius?”

Ketika obsidian elang itu menangkap anggukan yakin dari lawan bicaranya, maka mereka putuskan makan malam hari ini lesehan di angkringan.


Haruto pikir Junkyu pernah makan di angkringan. Nyatanya, pengalaman si manis akan warung sederhana dengan tema khas lesehannya itu adalah 0. Junkyu tau nama angkringan dari mulut ke mulut, namun belum tau bagaimana rupa sesungguhnya. Berbeda dengan Haruto, angkringan itu teman nostalgianya.

“Ini apa?” Tanya Junkyu untuk yang kesepuluh kali pada makanan tusuk berwarna dasar coklat.

“Itu namanya sate telur puyuh, enak.” Si manis mengangguk, mengambil satu tusuk lalu dicicip satu. Reaksinya selalu sama, dahinya mengernyit saat lidahnya diperkenalkan oleh rasa baru. Jika sudah begitu, piring nasi goreng Haruto jadi sasarannya.

“Nggak enak.”

Makanan yang malang, padahal sate telur itu paling dicari jika sedang nongkrong di angkringan.

“Kalo ini apa?”

Haruto menghela napas kasar, piring nasi gorengnya penuh hingga nasinya tak nampak. Lebih banyak lauknya ketimbang nasi. Haruto bukannya melarang Junkyu untuk mencoba semua, harga makanan angkringan sebanyak apapun Haruto sangat sanggup membayar. Hanya saja membuang makanan, hal paling tak terpuji menurutnya.

“Itu ceker pedes. Udah gausah dicobain kalo nggak mau. Tunggu mie goreng kamu jadi aja.” Baik, kali ini Junkyu memilih diam. Meskipun instingnya masih berkelana kesana kemari ingin mencicip seluruh makanan kecil di depannya

20 menit kemudian

Hari semakin malam, cuaca semakin dingin. Inilah nikmatnya makan diangkringan, angin berhembus lirih, nuansa remang-remang ditambah nyanyian jangkrik. Memang sederhana, namun nyaman berlama-lama.

Haruto meletakkan piring kosongnya. Perutnya begah akibat memaksakan seluruh sate-satean milik Junkyu, mengambil gelas berisi jeruk nipis hangat, lalu diteguk perlahan sembari manik tampannya mengintip si manis.

Refleks, jemari Haruto terulur, mengusap pipi semirip mandu perlahan. “Pelan-pelan.”

“Hahh..kenyang.” Ungkapnya penuh ceria.

Pada waktu ini entah mengapa suasana jatuh menuju canggung, ditambah pengunjung angkringan semakin berkurang tak seperti biasanya semakin malam semakin ramai.

“Nggak kerasa udah tinggal bentar sekolahnya, besok-besok udah pada sibuk ngisi nilai kelulusan.” Bener, biasanya setelah ujian tengah semester siswa/i masih bisa berleha-leha sejenak. Tapi tidak bagi murid kelas akhir. Jadwal ujian praktik hingga ujian kelulusan sudah di depan mata.

Haruto turut mengangguk setuju, “Iya...”

“Kamu lanjut kuliah?” Lanjut Junkyu, kembali dihadiahi anggukan kecil. Haruto masih ragu jujur saja.

“Oh ya?”

“Masih belum nentuin sih, niatnya nyari beasiswa disekitar sini tapi kan belum tau lagi.” Haruto kembali menyeruput sedikit minuman yang telah mendingin. Kerongkongannya mendadak kering, niat awal hingga duduk disini adalah untuk meminta pendapat tentang rencana mengejar beasiswa ke luar negri

“Kalau akuㅡ” Belum selesai melanjutkan, keheningan yang terjadi dibuyarkan oleh nada dering ponsel Junkyu.

Oke nggak sekarang...

Haruto membiarkan Junkyu bercakap sejenak.

“Siapa?” Tanya Haruto setelah Junkyu kembali memasukkan ponselnya pada saku celananya.

“Oh, Yoshi dia ngasih tau kalo papa sama mama pulang. Tadi kamu mau ngomong apa?”

Pemuda dengan visual rupawan itu tersenyum, “Nggak kok, udah semua kan? Ayo aku anter pulang.”


Junkyu merapatkan dadanya pada punggung tegap. Lengannya memeluk erat pinggang sedikit berisi sosok yang tengah fokus jalan raya.

Lagi-lagi begini, posisi paling favorit saat sedang bersama Watanabe Haruto. Junkyu suka tatkala aroma maskulin Haruto sampai pada hidungnya samar. Tanpa patah katapun Junkyu selalu nyaman dibuatnya.

“Kyu!” Panggil Haruto tiba-tiba, sedikit menggoyangkan bahu kiri tempat dagu si manis selalu bertumpu.

“Iya, Har kenapa?” Balasnya juga dengan nada tinggi karena harus beradu dengan angin malam.

“Yoshi itu memangnya siapa kamu?”

Hah? Tiba-tiba?

Gak tau kenapa tubuh Junkyu mendadak merinding, darahnya berdesir hingga jantungnya berdebar.

Ini Haruto lagi mastiin gue free?inner Junkyu.

“Dia itu temen dari kecil, yang ngenalin ya papa. He's quite kind loh aku hampir tiap hari ketemu dia, main sama dia, dan aku bisa ngerti sih kenapa dia jadi overprotektif gitu. Biasalah anak kecil cerobohㅡ”

Mau tak mau bibir Haruto ikut menyunggingkan senyum tipis, “Sampai sekarang pun kamu ceroboh.”

“ㅡwaktu itu lagi main terus pas lari keserempet. Padahal nggak ada yang nyalahin, tapi emang orangnya suka nyalahin diri sendiri. Yoshi tuh kalo dikasih tugas harus perfect, keluarganya perfeksionis jadi ya gitu deh. He promised in the name of my father to always protect me tapi kayaknya jadi goes wrong deh.”

Mendengar semua makin membuat Haruto nggak nyaman. Yah, salahnya sendiri harus membawa topik Yoshi ditengah adegan peluk mesra diatas motor, tapi rasa penasaran mengenai fakta hubungan Junkyu dan Yoshi lebih besar. For him, everything about Yoshi is just perfection and once again Haruto comes down to the bottom of his confidence.

Haruto termenung dibuatnya, menatap jalan senggang dengan tatapan kosong, enggan bertanya lebih. Mendengarkan tiap penuturan Junkyu tentang Yoshi mengusik hatinya. Junkyu mengenal Yoshi dengan baik pun sebaliknya. Jika begini adanya, Haruto terlihat bukan siapa-siapa. Hanya orang asing sederhana dengan tanpa tau diri masuk ditengah keduanya.

“HAR! HARUTO?!” Dipukul keras pundak Haruto hingga kesadarannya kembali.

“Eh-iya.. maaf.”

“Emang kenapa sih kok jadi bahas Yoshi?”

Junkyu dapat menangkap gerakan gelengan dari lawan bicaranya, “gapapa cuma mau memastikan seberapa kuat lawan aku.”

Junkyu dibuat semakin bingung, maksudnya?

“Terus kalo kamu kalah kuat? Kalah dong!”

“Bukan kalah tapi ngalah sejenak, mundur sejenak buat memantaskan diri terus lanjut maju lagi.”


`teuhaieyo.


Bagi mereka berlima Redlight itu surga. Berbeda seperti bar lainnya dengan berbagai riuh ricuhnya muda mudi bergerak sensual, Redlight lebih menawarkan tempat bercengkrama. Ketimbang musik memekakkan telinga, Hyunsuk; pemilik bar skala kecil ini lebih memilih memutar musik Jazz yang menenangkan.

Terkadang guna melampiaskan rasa sesak di dada akan masalah dunia. Tempat tenang dengan segelas alkohol lebih dibutuhkan daripada lokasi ramai.

Cheers!” Ucap kelima pemuda bersamaan. Dentingan gelas kaca terdengar saat ujung-ujungnya saling bertemu. Warna-warni cairan alkohol menjadi saksi betapa bebasnya kehidupan mereka saat ini.

“Anjir lega banget dah selesai ujian.” Pemuda dengan headband dikepalanya menyandarkan punggung sempitnya pada sofa sesekali menyesap cairan bening dalam gelasnya. Meskipun after taste yang dirasakan adalah tenggorokan panas terbakar, namun rasanya lega bukan main.

“Sekarang lega, tapi kalo dipikir-pikir lagi malah semakin deket sama ujian-ujian menuju kelulusan.” Sahut pemilik nama Jeongwoo. Sorot tajamnya bergerak kesana-kemari mendapati gerombolan wanita tak jauh dari tempatnya duduk.

Keempatnya mengangguk setuju. Ternyata begitu cepat waktu berjalan hingga tak terasa telah sampai dipenghujung masa SMA.

“Pada lanjut kuliah kan?” Kali ini Hyunsuk yang bertanya. Mereka boleh dikata bandel, hobi menghamburkan uang keluarga tanpa takut besok kemalangan.

Jauh... jauh dari pikiran orang mereka concern akan pendidikan. Mereka hanya pemuda pemilik mimpi yang harus dikejar. Biarlah orang berkata halah, abis lulus ya kerja di perusahaan papanya.

“Iyalah, kaga kuliah bokap gua mencak-mencak anjing.” Sahut Doyoung sembari membenahi headband-nya.

“Bener, gue kaga kuliah gimana mau ngajak anak orang nikah. Lu tau sendiri bokapnya Asahi gelarnya profesor.” Tutur Jaehyuk; masih terus fokus dengan ponsel pintarnya.

Semua tertawa, kecuali pemilik mata elang yang sedang bergelut dengan batin serta pikirannya. Jari telunjuknya berputar di atas bibir gelas kaca berisi cola. Satu-satunya pemuda yang tak pernah mabuk disini.

“Woy ngelamun mulu!”

“Anjr-”

Haruto bersumpah akan membalas siapapun pelaku pemukulan terhadap dirinya saat mood-nya kembali baik.

Ditatap keempat sohibnya yang tengah cekikikan dengan tatapan sebal. Terlebih Yoon Jaehyuk yang berhasil menggeplak kepalanya tadi.

“Apaan anjeng, mukul pala bikin bego!” Sungutnya marah.

“Ya abisnya kita lagi ngobrol situ diem ae. Kenapa nih ada masalah apalagi? Sini cerita sama abang Jae!”

Haruto mendengus menanggapi. Abang Jae? Sial ngeri banget.

“Gimana, To? Lu kuliah kan? Jangan bilang lagi mikir nyari sugar mommy buat bayar biaya kuliah?”

“Sialan lu, otak gue cerdas gini yakali kaga dipake daftar beasiswa.” Jawabnya sombong, namun memang bukan rahasia lagi bahwa Haruto begitu pintar.

“Wissh, sombong. Kuliah dimane lu? Atre lagi?”

Pemuda ganteng itu diam sejenak. Maunya sih memang mencari beasiswa disana, masih dekat dengan orang tua, teman-temannya. Entah mengapa tawaran ke Belanda mulai mengusik hati kecilnya.

Bayangkan gelar sarjana bisnis universitas terbaik di Belanda tersemat dibelakang namanya. Orang tuanya dibuat bangga luar biasa, taraf hidupnya mungkin bisa diangkat karena diterima pada perusahaan ternama, dan yah... jodoh mana bisa menolaknya.

“Ada pendaftaran beasiswa. Tapi sekolahnya kudu ke luar negri... Belanda, universitasnya bagus. Tapi gue masih ragu.”

Mendengar penuturan Haruto suasana mendadak canggung. Baru beberapa detik Jeongwoo bersuara.

“Bagus dong! Belanda cuy gila kaga tuh kalo lord Haruto kita keterima?”

Haruto tersenyum kecut. Tergambar jelas hidupnya sedang diambang dilema.

“Emang apa yang bikin lo ragu?”

“Banyak, orang tua gue bakal sendirian disini, kalian, sama. .. Junkyu.”

Doyoung menepuk pundak sobatnya beberapa kali. Mengelusnya perlahan seraya menengangkan.

Begitupun Hyunsuk, tersenyum paham layaknya seorang bapak yang mengerti kegundahan hati anaknya.

“Pertama, orang tua lu pasti bakal bangga banget kalo lu bisa dapetin beasiswanya, toh mereka yang rekomendasiin. Keduanya, kita berempat dukung lu 100% meskipun sedih anjir udah kaga bisa fullteam ngumpul. Ketiga, keknya lu harus ajak ngomong Junkyu perihal rencana masa depan lu. Urusan diterima atau nggak, Junkyu juga perlu tau.”

Jaehyuk meletakkan ponselnya, perhatiannya saat ini ikut terpaku pada sahabatnya. “Kalo kata gue sih gas aja ikut. Pikirin cita-cita lu yang katanya mau bahagiain mas bro sama mama. Kalo entar pulang lu sukses jangankan Junkyu. Yang lebih baik dari dia aja dapetinnya gampang.”

Bener, nggak ada satupun yang salah dari penuturan Hyunsuk pun Jaehyuk. Haruto memang menginginkan Junkyu, namun dirinya sadar bahwa setelah Tuhan, orang tuanya lah yang patut dibahagiakan terlebih dahulu.

“Bener, gue emang sayang sama Junkyu tapi gue lebih sayang sama orang tua gue.”

Dari sini Haruto mulai sadar, mungkin jalannya menuju Junkyu tidak semudah itu. Mungkin dewa cinta diantara mereka masih ingin bukti seberapa Haruto pun Junkyu berkorban waktu untuk kebersamaannya dihari esok. Masih mungkin, karena kita tak pernah tau dengan siapa tiap insan akan berjodoh.


`teuhaieyo.


Pemuda Watanabe itu tengah terkekeh geli. Kedua mata elang bergerak sinkron dengan ibu jarinya yang tengah menari di atas keyboar ponsel pintar. Dandanannya telah rapih, khas anak muda yang akan keluar untuk sekedar bermain. Tanpa Ia sadari kegiatannya sedang menjadi perhatian kedua paruh baya yang juga duduk di depannya.

“Mas, kamu beneran nggak mau makan dulu?” Tanya yang paling cantik sembari mengambilkan nasi untuk suaminya.

“Enggak, Mah nanti mas makan disana aja. Maaf yah.” Balas sang anak. Haruto menatap ibundanya dengan tatapan penuh rasa bersalah.

Jennie; wanita sederhana dengan segudang kepintaran hanya tersenyum maklum. “Ngapain minta maaf sih, kan Mama cuma mastiin soalnya ini cuma masak dikit, takut mas mau juga.”

“Oh- enggak kok. Mama sama Ayah aja makan yang banyak.” Haruto lanjut menunduk menatap layar ponselnya.

Pandangan kedua orangtuanya tak sengaja bertemu. Namun, mereka seakan tau apa yang sedang ada difikiran masing-masing. Han; Ayah Haruto menggeser kursi tempatnya duduk kebelakang, lalu beranjak menuju kamar.

Tak berselang lama Ayah kembali duduk. Alih-alih menyentuh makanan, malah membelai lembut lengan anaknya.

“Mas lihat, Ayah sama Mama punya apa.”

Haruto mengintip sebentar. Dilihat Ayah dan Mamanya tengah menatap dengan pandangan serius. Haruto pun seolah mengerti, meletakkan ponselnya dan memberi seluruh atensi pada kedua orang yang paling Ia sayangi.

“Habis ini mas udah mau lulus ya?” Tanya sang Mama. Perjalanan masa SMA-nya masih panjang, tetapi jika dibilang sebentar lagi juga tidak salah. Tinggal setengah semester.

“Kenapa, Mah? Yah?” Haruto bingung, jam hampir menunjukkan pukul setengah 7 malam yang artinya Ia mau berangkat main, malah dihadang diskusi serius dengan orang tuanya.

Sang Ayah menyerahkan sebuah dokumen, isinya formulir pendaftaran beasiswa kuliah jurusan bisnis. “Katanya mas mau kuliah jurusan bisnis.”

Haruto tertegun sejenak, Belanda? Jauh banget.

“Ini kalau mas keterima sekolahnya di Belanda?” Jennie maupun Han mengangguk.

Haruto jujur belum berpikir untuk sekolah sejauh itu. Maunya hanya mencari beasiswa disekitaran, kuliah seperti biasa kalau bisa sambil menjadi part timer. “Mas nggak tau apa mas siap.”

Lagi-lagi Mamanya tersenyum maklum, “Sambil dipikirkan ya, Mas. Kalau kamu memang nggak mau Mama sama Ayah nggak maksa kok.”

Ayahnya pun mengangguk setuju, mereka berdua memang ingin memberikan yang terbaik. Namun, jika yang terbaik adalah anaknya tetap bersekolah disini ya dia bisa apa selain mendukung. Toh, sekolah bagus hingga keluar negeri jika tidak dilakukan dengan ikhlas sama saja membuang waktu.

“Ayah sama Mama ini maunya ya yang terbaik mas buat kamu. Tapi, Ayah yakin apapun yang menjadi keputusan kamu nanti pasti itu yang terbaik untuk kita.”


`teuhaieyo.