hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Hans Arbecio Point of View

Hans, aku butuh kamu.

Sekarang gue coba tanya sama hati nurani gue sendiri, apa bisa diem aja? Apa bisa gue nahan lebih lama lagi? Nyoba sabar terus sampai bikin garis batas baru. Jawabannya jelas nggak, gue udah gabisa. Gue capek harus pura-pura ga papa, jadi alpa bego yang sok tegar dan kelihatan ga peduli sama dunia luar. Gue capek harus sok normal jalanin hidup baru gue di tempat kelahiran gue. Gue berusaha? Udah, bahkan pembangunan kafe baru yang bakal jadi mata pencaharian lanjutan gue di sini bakal mulai dibangun minggu depan. Namun, apa gunanya gue bikin rencana resolusi new life tanpa omega gue, suami gue.

Hari ini gue cukup kelimpungan. Pagi ini ga senormal pagi biasanya. Gue bangun dengan keterkejutan akan sebuah berita. Dan gue tau sebabnya.

Gue sangat amat tau bahwa omega gue, mate gue bakal dijodohin paksa sama keluarganya. Orang yang katanya jauh lebih setara daripada gue. Gue paham, gue maklum, gue terima itu sebab dia bilang kalo kita masih punya kesempatan buat cegah berita ini diketahui publik. Tapi, seakan semuanya ga berjalan akhirnya semua orang bisa tau termasuk anak-anak gue.

“Dad, semua ini boong kan?”

Gue sampe bingung mau bales gimana, karena apa yang mereka baca tak lain semuanya fakta.

“Dad, Evander bisa coba ngerti sama keadaan kita, tapi kok yang satu ini sulit ya?”

Ini yang paling gue terpukul, bikin makin rasa bersalah yang udah gue kubur dalam jadi muncul lagi dipermukaan.

Anak gue, alpa sulung gue yang udah gue paksa buat dewasa sebelum waktunya.

Kaki jenjang gue tekuk sampai tinggi kita sejajar. Gue amatin tiap mimik muka dua jagoan gue lamat. Gusar, takut, kecewa semua bisa gue liat. Gue ngerti dan sangat maklum.

Bibir gue terangkat, senyum getir muncul dan yang bisa gue lakuin cuma meluk mereka, gue hisap kekalutan mereka dan gue ganti dengan feromon gue biar mereka tenang.

“Dad janji, kita akan baik-baik aja. Dad janji, sebentar lagi kita akan kembali utuh.”

Setelah itu, gue ambil kunci mobil dan setelan jas. Gue pergi, ninggalin mereka bersama jutaan tanda tanya di sana.


Gue tau apa yang akan terjadi selanjutnya bakal bikin semua skenario jadi buruk. Ga ada pilihan lain, kali ini gue mau egois.

Gue parkir mobil sederhana gue lalu jalan sejenak buat sampai gerbang megah. Gue diem sebentar, mandangin gimana mewahnya istana yang dikasih nama Livadeia palace ini.

Dalam otak gue ditarik ke masa lalu, dimana Hans Arbecio kecil sering mimpi buat jadi salah satu anggota kerajaan Aragon.

Terus lagi-lagi bibir gue keangkat, ketawa getir karena akhirnya mimpi itu sudah berhasil digapai. Harusnya gue terus mimpi aja. Iya, harusnya.

“Hei! Siapa kau berdiri di sana, tuan?”

Mendengar itu, gue balik lagi ke realita. Gue membenarkan sedikit pakaian gue sebelum berjalan lebih dekat.

“Saya Hans Arbecio, saya kemari diminta hadir oleh Your Highness Prince June.”

Penjaga di depan gue natap sanksi, ga percaya. Mungkin gue udah dianggep orang gila yang sok kenal sama pangeran kerajaan. Terus, dia ketawa remeh.

“Komedi apa lagi yang kau tunjukkan tuan. Bertemu dengan Prince June? Kau pikir kau ini siapa?”

Gue yakin cara ini ga bakal berhasil.

Gue akhirnya hirauin dia yang lagi ketawa. Gue ambil ponsel gue dan telpon suami gue.

Aku disini, sayang. Aku datang buat meluk kamu.


Prince June Point of View

Kalau ada yang tanya gimana keadaan gue hari ini, gue dengan tegas bakal jawab kalo gue sedang gak baik. Hari ini buruk, gue merasa kecil dan gak berdaya.

Ini salah gue, ini semua terjadi karena gue.

Batin gue terus menerus menekan diri sendiri atas semua kehebohan yang muncul pagi ini. Berita perjodohan yang lagi coba gue gagalin, mendadak muncul bikin gempar satu dunia.

Gue lega karena gue tau sendiri banyak yang akan bantu gue. Sisi lain, gue langsung jatuh ke palung paling dalam dari rasa percaya diri gue saat gue tau gimana terpukulnya anak-anak gue.

Kata orang gue omega kuat, suami gue, dua alpa gue juga sering angkat diri gue dengan kata demikian. Tapi, khusus hari ini gue akui, gue lemah.

Dengan begitu ego gue mengantarkan jari-jari gue buat ngetik kalau gue butuh suami gue di sini.

Gue gak berharap banyak, gue bahkan mikir kalau permintaan gue sesuatu yang mustahil buat sekarang. Namun, mata gue kembali nemuin binarnya ketika ponsel gue berdering dan suara suami gue menyapa di ujung sana.

“Aku di sini buat kamu.”

Persetan sama semuanya, ponsel gue banting dan gue lari keluar, nyusurin luasnya istana rasa penjara yang gue tinggalin saat ini.

Gue lari sampai gak kerasa kalau air mata kelemahan gue udah mulai jatuh merembes lewat pipi. Gue lari terus, telinga gue mendadak tuli sama semua suara yang panggil nama gue. Gue makin kenceng, gak terkendali saat obsidian gue nangkep bayangan yang sangat gue kenali. Dia ada di sana, berdiri nyata dan gue bisa sentuh setelah ini.

“Hans!” Panggil gue mendramatisir. Mirip sama telenovela dengan thrope cinta terlarang. Gue raih tangannya dari balik pagar besi yang menjulang, terus dia tautkan jemari kita erat. Perasaan ini, udah gak bisa dideskripsikan lagi.

“Sayang...” Bisiknya. Di sini gue akhirnya sadar, bahwa kita berdua udah desperate. Kita berdua diambang gak sanggup buat jalanin sendiri-sendiri. Kita mau berdua, berdiri sampingan sambil pegangan tangan liat kejamnya dunia yang perlahan datang.

Tautan kami lepas, wajah memohon gue pasang meminta dengan amat frustasi sama penjaga untuk buka pagar penghalangnya. Inilah gunanya gue punya title prince, penjaga itu langsung laksanain perintah.

Gue bagaikan si Anna serial Frozen yang gak sabar liat dunia luar. Pintu megah di depan beneran gerak perlahan bikin gue sedikit kesel. Lalu, setelah cukup untuk Hans masuk, gue seret dia.

Dengan semangat menggebu gue peluk raganya. Nyaman, tubuh suami gue emang tempat paling nyaman untuk pulang.

Gue gak bisa buat nahan semuanya. Campur aduk emosi dalam diri keluar semua dalam bentuk air mata. Gue bisa rasain gimana dia juga semakin mengeratkan pelukannya di pinggang gue yang ramping. Sesek, tapi gue gakpapa ini nyaman.

Akhirnya, gue bisa sentuh dia lagi. Gimana jemari gue dengan nyaman bergerak nyentuh tiap lekuk tubuhnya. Ototnya, urat-urat nadi yang muncul, rambut halus yang menggelitik setiap gue sentuh permukaan kulitnya masih sama rasanya. Di sekeliling kita, gue bisa rasain feromon yang sedang bercampur.

Seluruh kekalutan, ketakutan, dan gundah di hati perlahan diselimuti ketenangan.

I miss you so bad, my alpha.

He don't answer but directly kissed my forehead. Basah, entah dari saliva atau air mata.

Detik kemudian, tanpa melepaskan dekapan kita saling memandang. Tepat dari mata ke mata. Kita saling jatuh, terjebak diantara iris masing-masing.

Gue senyum, senyum tulus yang akhirnya hadir lagi disela-sela kebingungan gue dalam menjalani hidup.

Lalu, kelopak mata gue tertutup ketika syaraf di pipi bisa rasain sentuhan telapak besarnya. Dia usap air mata gue di pipi sambil tatap gue intens. Gue bisa rasain angin semilir berhembus seperti alam memang merestui adegan pertemuan kami.

“Aku mau cium kamu, aku takut ga bisa lakuin setelah ini.” Pintanya dengan wajah sendu.

Gue kembali tatap matanya, satu tangan gue pindah dari belakang punggungnya untuk balas membelai rahang dia yang tegas.

“Kamu selalu bisa cium aku, Hans. Karena sampai kapan pun aku bukan milik siapa-siapa selain kamu.”

Detik berikutnya, gue bisa rasain jarak diantara kita berdua semakin sempit. Deru napas dia menerpa halus tepat di wajah gue. Lagi, sensasi basah hadir namun kali ini tepat dibelah bibir.

Pertama, kedua bibir hanya saling menyentuh. Dia berikan tekanan sedikit hasil dari emosi yang sedang membuncah. Kedua, nafsu kali ini hadir, ikut andil mengendalikan jalan pikiran. Ciuman penuh rindu tanpa tuntutan berakhir dengan lumatan penuh sensual.

“Bagaimana bisa aku relakan kamu untuk orang lain, sayang.” Bisiknya di tengah nafas kami yang memburu.

Gue menggeleng, siapa yang mau dipisahkan sama pasangan sendiri. Gue pun menolak.

Take me, my alpha. Jangan biarkan seseorang mengambilku. Lawan mereka meskipun itu keluargaku sendiri.”


`hjkscripts.


seberkas cahaya mentari yang masuk melalui celah jendela kastil megah mengiringi secuil harapan yang muncul dari salah satu penghuninya. June membuka kedua kaca tersebut membiarkan wajahnya diterpa sinar. Pupilnya menyipit karena terlalu terang pun karena senyumnya yang lebar.

Kelopak indah itu menutup, dadanya membusung maju akibat bayak oksigen yang dihirup masuk. Lalu, pria omega berparas bak campuran dewa dewi dengan semangat menghempaskan karbondioksida menuju alam kembali.

“Sepertinya alam memang mendukungku.” Monolognya ceria.

“Terima kasih...” Lanjutnya tulus.

Seperti berkejaran dengan waktu June tak ingin berlama-lama. Piyama putih gading berbahan satin telah berubah seluruhnya serba hitam. Sang pangeran kerajaan telah berubah menjadi June si orang biasa.


June melangkah dengan kecepatan konstan melewati lorong gelap. Orang istana mengenalnya sebagai escape door, lorong bawah tanah yang sengaja dibuat untuk keluarga kerajaan melarikan diri ketika istana diserang. Lorong gelap, panjang, bau berujung tepat pada danau besar Aragon.

Untuk sampai disini bukanlah hal mudah. June harus melewati berbagai negoisasi alot dengan guru kerajaan agar kegiatan dihentikan sejenak. Sukses besar ketika Ia menyebut nama sang kakak. “Aku akan berkunjung ke rumah Prince Adrian, Ia memanggil untuk urusan penting disana.”

Selang 30 menit bertemulah dia dengan pagar tua berkarat. Pintu yang kuncinya telah Ia pegang juga. Gema keramaian seperti menyambutnya, mengucapkan selamat telah berhasil bebas dari belenggu kastil megah.

Ia pasang topinya, tubuh kurusnya keluar perlahan melewati pagar. Lalu Ia masuk, bergaul antar tubuh ditengah hiruk pikuk yang sedang berniaga ikan. Langkahnya ringan, sel tubuhnya rileks seperti tau bahwa mereka sudah bebas, tak lagi dikekang. Entah mengapa Ia suka begini, hidup biasa, berjalan normal dengan tak satupun manusia yang akan berhenti menaruh hormat ketika melihat wajahnya. Manusia sejatinya diciptakan begitu bukan? setara tanpa mengenal tingkatan kasta.

Sampailah kedua kaki jenjang itu pada satu lokasi yang hingga detik ini masih ada dalam bayangnya. 15 tahun memang cukup banyak yang berubah, namun tubuhnya sangat mengenali jalan setapak ini. Tempat dimana si nakal June pertama kali mengenal dunia luar, tempat pertama kali Ia bisa merasakan manis gurihnya jajanan murah, tempat pertama kali jantungnya berdebar ketika maniknya jatuh pada tatapan seorang pria. Inilah tempat asal mula rumit masa lalunya terjadi.

“Papa.” Jantungnya hampir copot sebab bisikan tiba-tiba masuk gendang telinganya. Ia menoleh, yang melakukan malah terkekeh geli.

“Sayang...” Sapanya saat tau yang sedang berdiri disampingnya adalah sang anak. Iya, Arsene Arbecio si bungsu akhirnya bisa dia sentuh lagi. Namun, karena keadaan June akhirnya menahan diri, tidak mau terlalu membuat aksi yang akan menimbulkan atensi sekitar.

“Ayo!” Ajak si alpa muda. Tanpa persetujuan, Ia menarik lengan papanya entah dibawa kemana.

“Pelan-pelan sayang, kamu ini mau bawa papa kemana?”

Arsene terus melangkah, enggan menghiraukan ocehan papanya.

“Ketempat dimana aku bisa peluk papa seharian.”


Satu kegiatan yang mereka lakukan sejak kakinya melangkah masuk dalam gedung sederhana yang agak terbengkalai adalah menangis. June nggak pernah tau bahwa anaknya banyak mempersiapkan untuk pertemuan mereka. Bukan hanya Arsene yang hadir namun Evander si alpa sulung sudah menunggunya disana. They hugs and cries like there's no time tomorrow.

Persetan debu, persetan kotor, June nggak komen apapun tentang tempat kumuh yang anaknya dapatkan at least he can gives all that affection to his boys. Berjuta kosa kata penuh cinta dan kerinduan seolah nggak habis diucapkan mereka.

“Papa, gimana ya aku bisa lanjutin hidup lagi abis ini.” Ungkap Arsene. Sedikit hiperbola memang, tapi jika melihat keadaan sekarang June bisa tau kegundahan hati anaknya.

Papa, can't you just stay with us? Aku udah coba jalanin, jadi alpa dewasa itu gak enak. Aku belum mau, aku belum sanggup, aku bahkan barusan langgar janji aku ke daddy kalau aku akan bantu dia buat ngerti akan semua ini. Aku udah janji buat jadi kuat, aku udah janji buat gak nangis biar Arsene bisa contoh aku. Tapi hari ini, ketika mata aku bisa liat papa lagi, aku baru sadar bahwa aku gak sekuat itu. Berada dipelukan papa kayak gini masih jadi kebutuhan aku. Aku belum kuat jalan sendiri, aku masih haus kata-kata semangat dari papa. Aku capek, pa. I don't want to understand everything that I don't.”

June mengerti bahwa semua ini terlalu tiba-tiba bagi mereka. June paham bahwa semua ini salahnya. Harusnya waktu itu Ia bisa menahan maka semua ini tidak akan terjadi. Harusnya waktu itu dia nggak egois hingga sekarang dia juga nggak akan lihat gimana rapuhnya dua buah hatinya.

Dia cuma mau hidup biasa, bersama keluarga kecilnya jalan bahagia, bukan penuh tangis derita seperti ini.


`hjkscripts.


Holyrood Palace 20.34 p.m

Ketika maniknya bersitatap dengan sosok disebrang, bibirnya terangkat senyum. Lama terdiam, pandangannya semakin kabur akibat air mata terbendung hampir luruh. Sosok gagah 1 meter didepannya mendekat, mengikis jarak yang dibuat sedekat mungkin. Tepat menit ke tiga si jangkung jatuh dalam pelukan yang lebih pendek saat kedua lengan itu terbuka lebar.

Congratulations, kak.” Ungkapnya bangga, lega juga akhirnya bisa menyentuh raga sang kakak sedekat ini.

Pria yang digadang seorang kakak tak lagi mampu berbalas. Perasaan rindu penuh menggumpal dihatinya. 15 tahun, kontak fisiknya harus sengaja dipisahkan oleh kejamnya sistem kerajaan.

Suara deritan pintu menginterupsi adegan penuh haru. Keduanya menoleh memastikan siapa, lalu helaan napas lega hadir ketika sosok pria lain lengkap dengan senyum manisnya masuk.

“Kak Julio.”

“June?”

Yang dipanggil June beranjak dari afeksi sang kakak. Memindahkan pelukannya kali ini pada seorang yang dipanggil Kak Julio.

I miss you. Congratulations for your wedding.” Katanya memberi selamat. Tak mau lama-lama, June memutuskan kontak keduanya membiarkan Julio mendekati Adrian suaminya.

Julio dan Adrian, sepasang mate yang hari ini telah memasuki dunia baru. Dunia dimana mereka akan menjalani harinya hingga akhir hayat berdua.

June menatap keduanya sendu, padahal dihadapannya telah bermain adegan romatis dari sepasang pemilik dunia khusus hari ini. Kedua pangeran Aragon akhirnya menemukan pilihannya, keduanya melangkah ke jenjang serius pernikahan dengan yang disediakan alam. Bedanya, milik June dihalangi oleh hierarki.

“Hey, June?” Tubuhnya sedikit limbung kebelakang, kaget karna sentuhan Julio.

You okay?”

June kembali tersenyum getir. No, he fucked up day by day. Lagi, June tak ingin hari ini ada goresan kesedihan jadi yang sanggup dilakukan hanya berucap bahwa dia baik-baik saja.


Tepat pukul 9 malam kedua pengantin kembali ke dalam riuhnya pesta pernikahan. Baju formal telah berganti dengan baju lain yang lebih mewah. Ini saatnya mereka berdua untuk bersinar. Ritual yang tak bisa dihilangkan dari budaya. Dansa ditengah ballroom yang luas disaksikan ratusan pemirsa.

Pemain musik mulai melantunkan alatnya. Menggesek biola sehalus mungkin menghasilkan suara lembut. Para tamu terpuka dengan bagaimana penampilan pengantin yang telah berlenggok memadu kasih ditengah sana.

“June?” Lagi-lagi dirinya kembali disadarkan, kembali ditarik dari dalam sumur gelap menuju dunia realita. Mom-nya sudah berdiri disana dengan pemuda tinggi berparah menawan dibelakang tubuhnya. June lalu berdiri, membungkuk hormat pada dia yang segera dibalas. Sungguh elegan, dia pasti pangeran.

Layaknya pria sejati, si tampan menjulurkan tangannya ditambah senyum miring nan lembut. “Prince Jaden dari House of Mosbach

June tak mau kalah, dengan ragu Ia mengambil tangannya untuk dijabat. Dingin. “June dari Aragon.”

“Prince June, pangeran kedua dikeluarga saya.” Koreksi sang ibunda.

“Ah, ini dia Prince Jaden yang namanya pernah Ia dengar.” inner June

“Maaf saya lancang, Prince. Kalau boleh tau ada perlu apa dengan saya?”

“Bagini, June. Prince Jaden tidak ada siapa siapa yang menemani jadi bisa kamu temani ya, sayang. Kalian coba berdansalah dibawah sana.” Bukan sang pangeran yang menjawab namun perasaan bahagia yang ibu. June diam, Ia seperti tau jalan ceritanya.

Akhirnya wanita cantik itu meninggalkan keduanya dengan kecanggungan. Berdansa? Haruskah? Memang dibawah sana sudah ramai tamu berdansa dengan kedua pengantin.

June tertegun ketika maniknya tanpa sengaja melirik sosok disebelahnya. Tangannya telah terulur beserta tatapan meminta. “Can we?”

Untuk kesekian kalinya, meskipun ragu June kembali menjawab tangan dingin itu. Pasrah ditarik kebawah, menceburkan diri ditengah liukan insan yang berdansa.

Satu detik, June diam mematung. Detik kedua masih belum ada pergerakan, hingga detik ketiga jemari itu terangkat namun kembali diturunkan.

“Maaf, berikan tanganmu.” Pinta sang pangeran penuh kelembutan, penuh perhatian.

June memberikannya, lalu ditarik pelan tangan kurusnya dibawah menuju bahu gagah. Lalu, June melirik sisi lain sebab serangan dingin kembali terasa. Jemarinya yang bebas telah digenggam kuat oleh sang pangeran.

Pertama mereka hanya bergerak kekanan kekiri, langkah kakinya sesuai menikmati alunan musik. June menunduk, jujur jantungnya berdegup tak nyaman. Dia nggak seharusnya ada dipelukan lelaki lain, seerat dan seintim ini.

Diantara perang batinnya ada sosok Jaden yang tak bisa melepaskan tatapannya barang sebentar saja. Menikmati setiap pahatan indah makhluk didekapnya.

“June?” Bisiknya, lalu obsidian mereka bertemu.

Jaden menatapnya, namun bukan keindahan yang didapat, bukan getaran penuh semangat yang dirasakan. Hanya kesedihan.

You happy?

June menduduk lagi, tertawa. Bukan, bukan karena Ia bahagia. Ia sedang menertawakan dirinya sendiri karena nggak mampu buat jawab pertanyaan sesederhana itu. Are you happy? harusnya, Ia bisa langsung menjawab Yes, i am. Today my brother's wedding how supposed i dont?. Namun, segalanya sudah berbeda.

Yes.” Jawabnya singkat.

“Jangan bohong, kasihan diri kamu.”

Dengan satu kalimat yang keluar dari bibirnya, June akhirnya jatuh. Duduk dilantai dingin, ditengah tawa bahagia orang-orang sekitar bersama air matanya.


“Ini Hans, my husband. Kalau dua yang lucu ini Evander dan Arsene anak aku.” Jelasnya dengan tenang, masih ada raut sedih tapi sudah bisa senyum sedikit. Jaden jadi lega.

Mereka berdua memutuskan keluar dari hiruk pikuk dalam kastil. Duduk ditempat sepi dimana cuma ada mereka berdua ditemani bulan purnama yang lagi bersinar diatas.

“Mereka lucu, anak-anak kamu.” June mengangguk setuju.

Terus, suasana sepi lagi. Nggak ada canggung seperti pertama kali. June jadi sedikit nyaman setelah bercerita panjang lebar tentang perjalanan hidupnya.

“Maaf,...”

“Hm?”

“Maaf karena asal nerima perjodohan begitu saja. Harusnya aku cari tau dulu siapa kamu dan siapa kamu sebenarnya. Pasti sulit ya hidup dipisahkan begini.”

Iya, hidup memang sulit. Terima kasih karena kamu tak membuatnya lebih sulit.

It's ok. We promised to gettin back together kok. Cuma nunggu waktunya.”

“Alam ternyata nggak main-main waktu jadiin kalian mate. And i know the reason.”

June tersenyum, kali ini lebih tulus. Pangeran Jaden hampir jatuh dibuatnya. “Thanks

I can make it work kalau kamu mau aku bisa bantu, apapun.”

“Jaden, mate kamu nanti bakal beruntung dapet kamu. Terima kasih banyak dan aku minta maaf.”


`hjkscripts.


Kembali ke rutinitas June hari Jum'at dimana harus menuju kota tepatnya Academy of Swabia tempat Evander dan Arsene menimba ilmu. Biasanya hari menjemput tak luput dari daftar kegiatan sang alpa, namun kali ini pria dewasa itu absen.

Raut khawatir terus terpatri di wajah rupawan milik sang omega. Jemarinya menggenggam erat kemudi bundar diiringi suarana penenang dari alpa kedua di keluarga. Arsene sakit demam, itulah alasannya. Harusnya ketika sampai June menyambut kedua buah hatinya dengan senyum hangat. Hari ini lagi-lagi pengecualian, Arsene berjalan gontai dipapah sang kakak adalah pemandangan yang Ia dapat tadi.

“Pah, tarik nafas pelan terus buang. Papa yang tenang, Arsene dibelakang udah tidur kok. gapapa dia.” Tutur Evander disebelahnya. June memelankan laju mobilnya, lalu mengintip si bongsor dari kaca sejenak. Anak itu memang tidur namun nafasnya berantakan.

“Papa fokus kok, kamu pegangan ini papa rada ngebut biar cepet sampe rumah.”

Evander memilih bungkam, menggenggam erat sabuk pengaman sembari dalam hati berdoa agar mereka selamat sampai rumah.


Semerbak wangi masakan memenuhi udara rumah. Ketiganya juga siap berkumpul memulai makan malam. June mengambil mangkuk kedua anaknya bergantian, diisi cream soup hingga setengah penuh.

You okay, Arsene?” Tanya June. Mimik wajahnya tergambar jelas kekhawatiran penuh disana. Kerutan didahi tak juga berangsur hilang meskipun anggukan lemah alpa terakhir diperlihatkan.

“Pa, makan!” Sahut Evander tiba-tiba sejak acara makan malam tak cepat dimulai.

Malam itu benar sepi, dentingan alat makan seolah menjadi alunan musik menenuhi.


Dok dok dok

Jantung kedua pria berbeda umur itu hampir melonjak keluar. Mereka berpandangan sejenak sebelum kaget kembali akan suara gedoran yang semakin tak terkendali. Siapapun yang ada diluar, sudah pasti bukan Hans.

June menyelipkan telunjuknya dibelah bibir, memberi isyarat Evander agar diam. Tanpa melihat sekitar, tangannya meraih remot TV dan dimatikan dengan cepat.

“Kamu ke kamar adek, ya.” Bisiknya. Suaranya ada getaran tanda si omega sedang takut.

Evander menggeleng ragu, namun June mengangguk lebih tegas. Evander beranjak, meninggalkan sang papa dengan perasaan gusar. Maaf Dad, Evander harus jadi pengecut lagi.

Kembali ke June, omega itu berjalan perlahan. Tangannya meraih pintu kayu dengan halus.

“Siapa?” Tanyanya.

Your Highness.” Sapa gerombolan dihadapannya sembari membungkuk patuh. Nafas June tercekat, mereka ada banyak yang semakin membuat dirinya bergidik.

“Selamat malam, Your Highness.” Kali ini suara wanita menyapa gendang telinganya. Ia tau siapa, sang tangan kanan Ibunda.

“Bukankah aku belum mengatakan apa-apa? Ada maksud apa kalian kemari?” Tegasnya.

“Kami kemari akan menjemput anda Your Highness. Saya sudah peringatan bahwa waktu yang saya beri sudah habis, maka Your Majesty memerintahkan kami untuk menjemput. Juga, pernikahan Your Highness Crown Prince Adrian sudah didepan mata.”

June diam sejenak, entah mau berkata apa lagi Ia tak sanggup. Berlari? Namun sang anak masih di dalam. Melawan? Sungguh? Bagaimana bisa melawan 30 pria alpa besar seorang diri. Kekuatannya tak sebesar itu.

“Kalian pulang, saya akan datang kesana sendiri jika sudah waktunya. Saya tidak mengijinkan kalian untuk menyentuh saya!” Lagi, June mencoba mengukuhkan tubuhnya, melantangkan suaranya.

“Tidak bisa, Your Highness. Hari ini juga secara halus atau paksa kami harus membawa anda kembali menuju Aragon.”

“Sialan! Kalian kira kalian ini siapa bisa memaksaku?! Saya akan datang sendiri, apa kurang jelas, hah!” Teriaknya kali ini.

Margarete juga tak gentar, Ia meminggirkan badannya lalu menjentikkan jari tanda “laksanakan tugasmu” pada penjaga dibelakangnya.

Sungguh June takut, Ia berjalan mundur. Namun, pasukan itu dengan cepat mengelilinginya.

Tak ada cara lain

Iris coklat muda itu berganti violet. Tubuh tinggi ramping seketika mencuat urat, wajah moleknya berubah semakin merah hingga taring tajam muncul. Beberapa detik, bulu emas lebat menghiasi tubuhnya. Sosok manusia sudah berganti rupa jadi serigala.

“Tangkap dia dengan tangan kosong, ingat! Jangan sampai ada luka.” Perintah Margarete.

Suasana gaduh yang terjadi setelahnya, tubuh manusia kekar terpental kesana kemari bergantian dengan si bulu emas. Bagaimanapun usahanya, manusia alpa bangkit lagi dan lagi makin memojokkan dirinya.

Apakah ini adalah jalannya? Jika memang iya, maka June pasrah. Namun hatinya memohon, mengirim pesan untuk yang jauh disana disela pertarungannya.

Aku ingin melihatmu, setidaknya sekali sebelum aku pergi. Pintanya pada Hans Arbecio.


`hjkscripts.


Hari sudah masuk larut malem, June masih setia numpang dagu diatas meja makan minimalis ditemani 4 kursi senada yang sedang kosong. Hans sudah bilang kalau akan pulang larut karena kafe ramai, lelaki alpa itu telah meninggalkan pesan jangan tunggu aku namun apa daya kedua mata indah sang omega betah terjaga akibat sistem otaknya masih bekerja.

June akhirnya berdiri, meratap sejenak ruang tamu kosong dengan mata sendunya seakan sebuah memori sedang berputar dihadapannya. Sebelum, lamunannya buyar akibat suara retakan ranting serta daun diinjak ban mobil. Hans-nya telah kembali.

Kaki kurus nan jenjang itu berlalu menuju dapur. Jemari telaten itu dengan sigap memasang sebuah colokan kettle menuju stop contact didekatnya. Sembari menunggu air panas, Ia menyiapkan gelas beserta kantung teh sesekali melirik pintu utama.

Senyuman menawan kini muncul, ringan dan dibalas manis oleh sosok lebih jangkung yang baru saja memasuki rumah. Aroma tanah setelah hujan menyeruak bercampur sempurna dengan miliknya, saling menyapa dan menenangkan.

“Belum tidur?” Ujarnya mendekat. Semakin intens seketika terdengar bunyi bibir bertemu bibir saling berbagi basah sejenak. Tautan itu terlepas akan bunyi pemanas air menginterupsi.

“Mau teh, nggak?” Tawarnya basa basi.

“Mau. Mau yang bikinin aja.”

Kekehan dari bibir ceri milik June tak mampu dibendung. Terdengar keju namun tak juga menyangkal perutnya terasa sensasi menggelitik.

“Sana mandi dulu, otak kamu tuh butuh diguyur.”

“Yah, gagal ya gombalannya?”

June abai, memilih fokus menuangkan air panas dalam cangkir. Mengamati detik-detik warna bening berubah kecoklatan.

“Sayang?” Panggilnya, karena ucapannya tanpa jawaban. Sang omega sedikit berjengit. Memang akhir-akhir ini dirinya susah mengontrol diri, diam sedikit jadinya melamun.

“Eh? Oh- itu sana duduk, aku bawain tehnya ke meja makan.”

Hans bergeming, menahan suaminya sebelum melangkah meninggalkan dapur. “Banyak pikiran ya?” Tebakan tepat, akurat sampai June sendiri bingung mau mulai darimana. Alhasil, dia cuma senyum.

“Aku kasih tau semuanya pelan-pelan ya, sambil minum.” Finalnya.


Bilangnya akan cerita sambil minum teh, biar pikirannya tenang dan gak banyak salah paham. Kenyataannya, sepasang alpa dan omega dewasa kini enggan memulai. Bukan enggan, jujur si omega dengan segudang overthinking-nya bingung harus memulai darimana.

Hans meletakkan cangkirnya. Isinya sudah tandas tersisa kantung ampas teh. Ia berdehem ketika dirasa sudah cukup lama mereka bungkam. Hari hampir tengah malam, besok adalah hari Senin yang mana aktifitas harus dimulai lebih pagi. Lagi, Hans sebenarnya juga sudah lelah dimanipulasi sang anak bermain basket dan urusan kafe seharian.

“Aku mau bilang makasih karna kamu ngasih space buat nggak nanya tentang tangan kanan mom yang dateng kemarin. Aku seharian ini terus mikir dan mikir sampe pusing sendiri gimana keputusan baiknya. Aku belum siap, Hans dan gak akan pernah siap buat ngambil keputusan apapun.”

Paham, Hans paham betul kemana arah pembicaraan ini. Keluarga June sepertinya telah melempar tantrum berupa tekanan pada sang omega agar segera meninggalkannya dan kembali ke istana.

Hans benci ketika harus disadarkan bahwa keluarga kecilnya tidak untuk dimiliki selamanya. Hans benci betapa lemah dirinya jika berhadapan dengan keluarga sang suami. Hans benci karena dia tak bisa memilih, sebab apapun yang akan dipilih berdasarkan egonya semua punya resiko besar bukan main.

“Akuㅡ”

“ㅡAku dijodohin, Hans.”

Bak waktu dihentikan, seluruh gestur tubuh Hans mendadak terhenti, kaku, nafasnya tercekat diantara tenggorokan. Gimana? Apa maksudnya dijodohin?

Tak mendapat respon dari sang lawan bicara, June melanjutka bersamaan ketakutannya. “Ini bukan lagi aku sama kamu dipisihkan secara fisik, dipisahkan secara secara status. Tapi kita akan dipisah secara batin, ikatan takdir yang dibuat oleh alam mau dirusak paksa. Kamu gak akan bisa tau gimana perasaan aku lagi, kamu gak akan bisa ngirim pesan manis lewat telepati, feromon kamu udah gabisa bikin aku tenang lagi. Dan aku... gimana aku bisa hidup tanpa ikatan batin sama kamu, sama anak-anak?”

Keduanya nampak lusuh, kalut jadi satu. Dipermainkan oleh keadaan memang gak seru.

Hans mengusap air wajahnya kasar. Tubuhnya yang lelah semakin ringkih, kepalanya pusing.

“Jangan..” Bisiknya lirih.

“Aku mungkin sanggup berpisah jarak sama kamu. Aku siap gabisa raba raga kamu. Tapi aku gabisa kehilangan hati kamu. Aku nggak sanggup, berpisah perasaan sama kamu, sayang.” Hans mencengkeram kuat, teramat kuat hingga dirasa sang suami tidak bisa diambil siapapun.

“Bilang sama aku, sayang. Aku harus apa? Aku siap lepas segalanya yang aku punya didepan orang tua kamu asal gak gini jalannya.” Satu kata, mereka pasrah. Apapun, apapun akan dilakukan yang penting mereka selalu utuh.

“Bukan kamu yang harus lakuin apapun, tapi aku. Aku harus ke Aragon, aku yang harus selesaiin semuanya. Aku yang bakal bikin keluarga kita tetep utuh sampai kapanpun. Tugas kamu, cukup restuin aku, doain aku ya?”

Dan baru detik ini kedua pasang obsidian penuh putus asa bertemu. Mengirimkan sinyal akan saling percaya.

Hans menggeleng, Ia menolak.

“Bukan kamu sendiri yang berusaha, bukan juga aku. Kita lakuin bareng. Kamu dengan caramu, aku dengan caraku, ya?”

Malam itu, detik itu senyum lega kembali hadir disela bibir keduanya. Benar, bukan kamu, bukan cuma aku. Tapi kita yang bareng-bareng mempertahankan takdir.


`hjkscripts.


“I wish papa never met your daddyㅡ”

“ㅡTapi, ketemu seorang Hans Arbecio itu memang seindah itu.”

Itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir sang putra mahkota terbuang dihadapan kedua putranya. Mata para alpha kecil itu fokus, meneliti setiap perubahan ekspresi yang dibuat omega paling tua disana. Rasa penyesalan itu ada sedikit, banyak bahagianya.

“Hari itu entah mengapa jiwa muda papa sangat meronta. Suntuk harus belajar hanya berdua dengan paman Adrian sejak kecil karena diri ini seorang anak raja. Papa nekat kaburㅡ” June berhenti sejenak, tersenyum tipis mengingat bagaimana dulu dirinya kabur dan membuat satu Aragon panik.

“Kemana?” Suara kecil lebih seperti gumaman tak sengaja tertangkap gendang telinga sang omega. June terkekeh ketika mencuri pandang pada kedua putranya, wajah serius dengan berbagi pertanyaan tergambar jelas didahi mereka.

“Pasar kota. Papa suka banget jajan dan pasar tempat yang tepat buat beli semua itu.”

Masih jelas terasa euphoria ketika dirinya untuk pertama kali merasakan angin bebas dunia luar beserta keramaiannya. Baginya, lingkungan luar istana tak seburuk sebagaimana yang diceritakan kedua orangtuanya. Hanya saja, bagi seorang omega apalagi mendadak heat dunia bisa mendadak berubah jadi neraka.

“Disitulah daddy datang, layaknya pemeran superhero.”

Lengkungan bahagia itu berangsur memudar. Cahaya putih yang nampak memancar disekeliling paras menawan khas omega itu juga lantas meredup.

“Kalau hari itu yang bertemu Hans Arbecio hanya seorang June ceritanya akan teramat cheesy. Harusnya setelah pandangan pertama kita bertemu, setelah kita berdua sama-sama tau bahwa ada benang merah dari alam yang mengikat... harusnya...”

Iya, semua kilas kejadian telah terjadi. Harusnya mereka langsung memutuskan untuk memisahkan takdir mate diantara keduanya, bukan malah saling jatuh cinta. Malam itu, ketika Hans Arbecio masih dapat menahan hasratnya, June harusnya membiarkannya menghubungi anggota kerajaan bukannya menautkan setiap jemari mereka lalu berbagi nafsu.

“Lalu keluarga kerajaan gimana?“Lagi, pertanyaan muncul dari yang paling kecil Arsene Arbecio.

“Kamu tau jawabannya anak muda.” Baru June membuka mulut, pertanyaan sang anak telah dijawab. Disana baru berdiri, sosok alpha dewasa lengkap dengan handuk dan bau segara menyeruak khas orang setelah mandi.

Kedua alpha kecil itu mengerti, mereka diasingkan oleh keluarga sang papa.

“Bukan papa yang dibuang, lebih tepatnya daddy dan kakak Evan. Harusnya setelah bayi Evan hadir di dunia, papa harus segera kembali ke Aragon, meninggalkan daddy dan kakak. Tapi, papa seorang omega bagaimana bisa meninggalkan keluarganya terlebih bersama bayi kecil yang masih merah.”

June kembali menatap mata kedua putranya, mencuri cubit dipipi Evander yang sedari tadi diam.

“Akhir cerita keluarga papa mengijinkan untuk sekedar merawat bayi alpha kami berdua hingga umur 15 tahun.”

Begitulah June menyudahi kisah hubungan cinta terlarangnya. Masih menimbulkan berbagai pertanyaan, namun bocah-bocah alpha ini sepertinya sulit untuk merangkai sebuah kalimat.

“Setelah 15 tahun akan terjadi apa?” Akhirnya, bibir Evander; alpha kecil tertua akhirnya terbuka.

Namun, pertanyaan itu yang juga selama ini menjadi ketakutannya. Ia dan suami juga tak tahu menahu akan jawaban pastinya. June menegak gelas dihadapannya, Ia meletakkan setelah cukup lalu menggeleng lemah sebagai jawabannya.

June akhirnya beranjak, mengangkut gelas kosong ke arah dapur. Keluarganya sudah lengkap berkumpul berarti waktunya makan malam. Suara percakapan kecil terdengar, hanya ada dua suara milik Hans dan Evander membahas satu minggu disekolah.

“Papa?!” Mendadak Arsene memanggil, ruangan yang tadinya agak berisik jadi kembali senyap.

“Dalam cerita papa tadi hanya menyebutkan dad dan kak Evan terus Arsene ada dibagian mana?”

June tak bisa menahan tawanya. Apalagi dari arah dapur ia bisa melihat raut wajah si bungsu menjadi sedih.

“Kamu mah ditemuin daddy di tengah hutan pas lagi nyari kayu bakar. Tiba-tiba ndusel dibawah kaki daddy, karna kasihan yaudah daddy pungut.”

“Masa sih? Udah bapak-bapak gaboleh boong!”

Evander memasang wajah datar, Ayahnya dan Arsene memang seperti ini.

“Papa?! Masa kata daddy, Arsene nemu di hutan?”

“Terus kamu percaya kata daddy?” June meletakkan piring pertamanya di tengah meja. Sedangkan Arsene menggeleng dengan mimik hampir nangis.

“Yaudah gak usah percaya. Kamu tuh pinter tapi diboongin gini mau-mau aja.”

“Durhaka banget nih emang bapak-bapak.”

“Udah pada makan cepet!”


`teuhaieyo.


Mereka berdua berada dalam mobil yang sedang melaju konstan. Hans fokus sama jalanan didepannya, meskipun lenggang tetap saja harus hati-hati. Sedangkan June lagi nikmatin semilir angin yang menyapa wajahnya karena jendela mobil dibuka. Swabia itu kota sejuk, bisa dibilang masih kuno sebab lebih banyak hutan daripada rumah penduduk. Apalah arti pendingin mobil jika bisa menghirup oksigen segar gratis.

June tersentak ketika pahanya merasakan getaran ringan dari ponsel pintarnya. Ada pesan masuk. Omega manis itu segera mengecek pesannya, takut-takut seorang pembeli.

Hans melirik sang omega dengan ujung matanya. Mengamati setiap perubahan ekspresi si manis. Tak nampak jelas, namun Hans tau bahwa June; suaminya sedang tak nyaman.

“Siapa?” Suara bariton itu muncul akibat tak lagi tahan. Mau tau banget siapa yang lagi berkirim pesan dengan suaminya.

June seperti biasa, tak langsung menjawab. Kebiasaan overthinking, mikir harus ngasih tau atau nggak ke alpanya.

Dan untuk kali June menutup kolom chat-nya, memasukkan ponsel dalam saku dan membenarkan ekspresi wajahnya senetral mungkin.

“Biasa, orang komplain. Nothing serious, kok.” June mengusap lengan berisi suaminya, menyalurkan afeksi dengan pesan 'nggak papa, semua baik kok' biar alpanya berhenti khawatir.

“Perasaan sebelum aku kirim udah dicek satu-satu loh dan semua baik.” Sahut Hans masih tak terima. Hans itu profesional dan perfeksionis meskipun belum sampai tahap maniak. He always doing his jobs perfectly, kadang dia suka nggak terima kalau dikomplain.

“Hei, kerjaan itu nggak melulu penuh pujian, bahkan komplain kayak gini yang bikin makin maju.”

Setelah ngomong gitu mereka diem lagi, Hans lagi sibuk mainin kopling. Mobil bergerak makin lambat karena udah masuk area sekolah.

June sendiri? dia lagi-lagi dibawa jauh sama lamunannya. Pesan tadi tentunya bukan masalah kerjaan, tapi masalah lebih besar daripada itu yang dengan gak sopannya dateng, numpuk begitu aja diatas masalah kemarin yang bahkan belum ketemu pasti jawabannya.

Bener kata kakaknya beberapa jam yang lalu, kabur mungkin jadi jalan terbaik.


`teuhaieyo.


Satu hari lagi terlewati, beribu beban yang teremban dipundak harus dihiraukan kembali. Mencoba peruntungan hari esok untuk sekedar memikirkan langkah selanjutnya. June meletakkan ponselnya, iris karamel itu terbuka dalam ruangan kamar temaram, pandangannya lurus tepat menatap langit-langit. Sorotnya kosong, namun dalam pikirannya penuh masalah rumit belum terpecahkan. Pusing, beruntunglah suara nyanyian jangkrik beserta dedaunan kering diterpa angin sedikit membuatnya tenang.

June mengubah posisinya, kesamping agar wajah damai sang alpha bisa Ia lihat. Tanpa lampu, hanya bermodal sinar dari bulan yang mengintip masuk dalam kamar sepasang mate, paras menawan sang alpha masih jelas terlihat.

Bibir tipisnya menyungging kecil, telapak tangannya sepelan mungkin mengusap rahang tegas sang alpa. Lalu, dibenarkan posisi selimut mereka berdua.

“Hm..” Gumam sang alpha tiba-tiba. Pemilik aroma tanah setelah hujan kini ikut memposisikan tubuh bongsornya kesamping. Lengan besar penuh urat jatuh dipinggang sang omega, juga mengusap punggungnya sayang. June mengerti, alphanya ini terbangun meskipun matanya masih terpejam.

“Maaf jadi bangun..” Bisiknya sembari lebih menempel pada dada bidang dominannya.

“Mikir apa?” June sedikit merinding, bulu kuduknya berdiri kala suara bariton khas bangun tidur menyapa gendang telinganya.

Sang omega sejenak diam, memilih mengusapkan hidung bangirnya pada permukaan kulit leher sang alpa hingga sensasi basah juga bisa dirasa. Bibir semerah bunga mawar itu juga sesekali mengecup kilat leher sang alpa.

“Ini itu...banyak.” Balasnya kemudian.

Hans akhirnya membuka obsidian setajam elang. Meneliti sebentar air wajah omeganya yang beberapa hari ini sinarnya meredup. Hans tau banyak sekali beban yang dipikul, enggan bercerita, berlagak baik-baik saja dihadapannya. Si manis dibuat lupa bahwa mereka telah terikat satu sama lain. Perubahan suasana June Arbecio; omeganya, dapat Ia rasakan juga.

Manik cantik itu terpejam. Hangat, basah sensasi bibir sang alpa didahinya. Kerutannya berangsur menghilang, juga gundah dihati. Hans Arbecio selalu punya sejuta cara manis untuk menenangkan suaminya.

Alpa tampan itu menyudahi kecupannya, mendekap tubuh kecil omega sembari menepuk-tepuk punggung lebar suaminya pelan. “Tidur, kamu capek. Rileks, lepasin semuanya.”

“Hans?” Panggilnya.

“Hum?”

“Kakakku mau menikah dan dia maksa aku dateng, tapi aku takut... aku takut terjebak disana kalau aku pulang ke Aragon.”

Tepukan dipunggung sang omega sejenak berhenti, namun setelah mendengar semua kalimatnya Hans kembali melakukannya lagi.

“Besok, besok kita bahas lagi ya. Selamat tidur, duniaku.”

June terkikik geli, alpanya juga selalu punya jutaan sebutan manis untuk memuja dirinya.

“Eung.. selamat tidur juga.”


`teuhaieyo.


tw// kisses

Senin pagi hari mendadak sepi. Rumah sederhana penuh suara jadi sunyi, hanya suara napas halus dari hidungnya bersamaan dengan gunting ditangan.

June meletakkan guntingnya ketika tali yang melingkar pada karangan bunga sudah cukup panjangnya. Jemari lentik itu dengan telaten menyimpulkan membentuk pita. Cantik, akhirnya pesanan terakhir berhasil Ia selesaian. June tak langsung bergerak, Ia memilih melamun memperhatikan punggung tegap berlapis baju kotak-kotak yang tengah duduk membelakanginya.

Bau tanah setelah hujan mengusik hidungnya. Hari ini sedang panas, namun rumah mereka selalu dingin menenangkan akibat feromon sang alpha. Feromon pria itu semakin pekat ketika jarak yang dibuat semakin sempit. Dengan tangan penuh dua pot bunga, sang alpha mendekat.

“Kenapa cemberut gitu?” Tanya sang alpha; Ia meletakkan dua bibit bunga baru tepat disebelah sang omega.

“Feromon kamu ganggu tau nggak. Lagi seneng banget, emang ada apa?”

Hans mengendikkan bahunya, bingung juga mau jawab gimana. Suasana hatinya memang sedang baik, tak ada alasan khusus. “Aku setiap hari memang begini bukan?”

Alpha itu duduk berhadapan dengan suaminya. Ia mengamati setiap rangkaian bunga yang berhasil sang omega selesaikan. Perfect, omeganya memang terbaik jika tentang bunga sesuai dengan bau tubuhnya.

“Sepi...” Cicit si manis tiba-tiba. Sudut mata sang alpha mengintip perubahan ekspresi omeganya yang semakin tak bersemangat.

“Hm?”

“Kalau nggak ada anak-anak sepiㅡ” Lanjutnya. June pada awalnya berpikir bahwa kecelakan yang terjadi sungguh membuatnya pening. Punya satu bayi dalam satu jentikan diusianya yang baru saja menginjak dewasa menekan kejiwaannya. Namun, setelah 15 tahun hidup bersama Ia sangat menikmati perannya hingga perasaan rindu selalu muncul ketika dua buah hatinya tak ada disekitarnya. Eksistensi Evander dan Arsene Arbecio sangat penting dalam hidupnya.

Hans terkekeh, mencubit pipi yang setiap hari semakin mengembang, gemas. Anak-anaknya baru beberapa jam meninggalkan rumah kembali menuju asrama.

“ㅡAku kangen sama anak-anak. Gimana kalau besok keluargaku bener-bener misahin aku sama mereka.”

Hans dengan cepat merengkuhnya, sembari mengusap punggung sang omega lembut, menguarkan seluruh feromonnya agar omeganya tenang. Ia tau betapa gundahnya June pun dirinya juga.

“Aku sudah bilang padamu, my love. Kita berempat akan baik-baik saja.”

Hans menarik June menjauh, kedua pasang binar netra mereka saling mengisi satu sama lain. Lalu, sensasi basah hinggap pada bibir semerah mawar. Hans mengecup bibir suaminya lembut, hanya kecupan singkat dan tidak menuntut.

June tersenyum kecil, bersyukur alam memberinya mate seorang Hans Arbecio.

“Lagipula aku punya cara agar rumah ini bisa ramai hanya dengan kita berdua.” Ujar sang alpha lengkap dengan senyum jahil.

“Bagaimana caranya?”

Dahi si manis mengkerut, menunggu lanjutan dari sang suami. “Dengan suaramu, ketika kamu berada dalam kungkunganku.”

Hans tertawa sedangkan June menatapnya galak meskipun semburat merah muda muncul pada kedua pipi gembulnya. June beranjak sembari menghentakan kakinya di tanah.

“Dalam mimpimu, Tuan Hans!”


`teuhaieyo.


Dok! Dok! Dok!

Pintu kayu rumah sederhana diketuk dengan tempo konstan mencoba meraih atensi sang pemilik. Pria paruh baya itu berdiri tegang menunggu pemiliknya muncul sembari menerawang sekitar. Rumah sederhana satu-satunya diantara pepohonan pinus nampak berbeda semenjak terakhir kali Ia mendatangi lokasi ini.

Perasaan lega muncul, rumah kecil yang dulunya lusuh tertutup lumut dan debu telah disulap menjadi cantik. Diantara gelapnya hutan pinus, rumah ini sangat bersinar karena lampu hias yang tertempel ditembok dan masing-masing lahan kebun. Mereka hidup dengan baik.

Ceklek

Dunia seakan berhenti berputar kala pintu kayu dihadapan Yang Mulia Raja Aragon dibuka. Sosok lelaki jangkung muncul beserta senyum ramah yang saat ini perlahan memudar digantikan raut bingung serta ketakutan.

Dad...?” Cicitnya.

“Prince Juneㅡ” Telapak tangan diangkat, memotong ucapan si juru bicara.

“Sebuah kehormatan pemimpin Aragon sampai datang kemari, tetapi maaf jika hambamu yang penuh dosa ini menolak untuk menjamu. Silahkan meninggalkan kediaman tak layak saya.” Ujar June merendah, ungkapannya memang sopan namun cukup menusuk relung hati.

June melangkah mundur perlahan, akan menutup pintu sebelum ketiga alphanya menyadari kedatangan rombongan kerajaan. Takut-takut anaknya bertanya lebih yang berakhir membongkar kejadian dimasa lalu.

“Tunggu Prince June?!”

“June Arbecio, bukankah berlebihan memanggil saya Prince?”

“Dad datang kemari sebagai ayahmuㅡ” Hening kembali, akhirnya King Victor berani bersuara setelah sibuk berdebat dengan batin pun pikirannya.

“ㅡbukankah tidak sopan membiarkan orang tuamu berdiri disini?”

June menatapnya jengah, mengerlingkan kedua bola matanya lantas mendengus.

“Pria tua ini masih saja arogan.” Batinnya.

“Sayang dimana kamu meletakkan bubuk oregano.. uh? Your Highness, maaf silahkan masuk.”

“Hans!” Omeganya menahan lengan sang alpha yang akan membuka pintu lebih lebar. June menatap kedua mata elang sang alpha, menyalurkan perasaan gundah dalam hatinya. Lalu, June menggeleng.

“Haahhh... sudah sudah Dad tidak akan lama disini. Terimalah seluruh pemberian ini, beberapa ada dari Mommy.”

Setelah itu rombongan King Victor pergi, meninggalkan anak keduanya yang telah diasingkan selama 15 tahun lamanya.

Pintu kayu itu kembali ditutup. Mimik wajah keras yang sejak tadi ditunjukkan sang omega perlahan berubah menjadi raut sedih. June lemah, sekuat apapun menahan diri Ia hanya sosok omega yang perasaannya sangat sensitif.

Namun ditengah rasa sedihnya tersirat rasa kecewa akan tindakan ramah sang suami. “Harusnya kau mengusir orang tua itu, kenapa malah bersikap baik.”

Hans; sang alpha mengusap rambutnya perlahan lantas tersenyum. “He's your parent after all and my father in law”.

“Kamu tuh sadar nggak sih kita seperti ini karena siapa? Dia buang kita, he almost kill you and our baby back then!”

My love..”

“Hans, kamu tau kadang aku membencimu.”

Mendengar ungkapan itu Hans malah tertawa geli yang mana makin membuat omeganya kesal. Pemilik aroma bunga gardenia itu berlalu menuju kamar, menutup pintunya dengan kasar dan terakhir suara kuncian terdengar.

Hans Arbecio selamat, kamu tidur diluar malam ini.


`teuhaieyo.