hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


Desahan putus asa mengisi ruangan kamar berukuran 3×3. Datangnya langsung dari si pemilik kamar yang tengah dilanda frustasi. Salah sendiri, siapa suruh gegabah menanggapi pesan masuk yang datang langsung dari si manis.

Haruto, si pemeran utama akhirnya melempar ponsel pintarnya di kasur. Kalau dibuang ke lantai tolong, Haruto masih sayang benda persegi panjang itu. Rambutnya diusak hingga berantakan. Meringis sakit tatkala tak sengaja menyenggol luka yang belum mengering.

“Aarrgghh..., Haruto kok lu bego banget sih!” Erangnya frustasi.

Tok... Tok...

“Haru, ini mama.”

Sial, gimana bisa keluar dengan wajah babak belur?

Selama ini Haruto selalu bisa menyembunyikan luka fisik maupun batin dari sikap perundungan anak orang-orang berada di sekolahnya. Menjadi anak paling bahagia di rumah.

Haruto beranjak, membuka pintu kamar untuk mamanya dengan wajah polos. Mama Watanabe yang awalnya memancarkan senyuman merubah ekspresinya secepat kilat melihat rupa anak lanangnya.

“Ayah! Haruto..., sini ini Haruto!” Bukannya tenang, Mamanya malah panik.

Tentu saja, Haruto anak satu-satunya. Sedari dulu dirawat dan dibesarkan penuh afeksi kasih sayang, hingga membentuk pribadi Haruto sekarang. Wajah rupawan yang sejak dahulu dieluh-eluhkan mendadak rusak berantakan.

“Mah-”

“Kenapa? Loh, Haru kenapa muka kamu?”

Haruto menyerah, setelah ini tidak ada jalan untuknya berkilah.


“Ssshh... Ma, pelan-pelan.”

Haruto boleh terlihat pemberani diluar, menjaga harga dirinya agar tidak jatuh meskipun harus dipukuli sedemikian rupa. Namun, jika sudah berhadapan dengan kedua orangtuanya, Haruto hanya sosok anak lemah, cinta akan perhatian dari Mama pun Ayahnya.

Sang kepala rumah tangga tersenyum maklum. Merasa gemas dengan kelakuan anak lelaki yang tengah merasakan hormon remaja. Ingin memukulnya lebih tapi dilihat dari keadaan yang sudah babak belur membuatnya turut prihatin.

“Cie anak Ayah udah gede, udah tau cowok manis..” Goda sang Ayah gemas.

Haruto merengut, bukannya membantu menaikkan mood malah mengacau. “Ayah mah..”

Haruto berhasil, menceritakan setiap kejadian yang terjadiㅡminus segala tindakan perundungan yang Ia dapat sejak kelas satu. Hanya masalah hati, mengejar si pria manis yang ternyata punya pawang galak.

“Emang secakep apa anaknya Sampek kamu rela bonyok kayak gini?” Tanya sang Ayah penasaran.

Haruto tersenyum malu, semburat merah muda hadir menghiasi pipinya, “Nanti kalau Haruto udah dapet dibawa kesini. Ayah sama Mama pasti bangga.”

Sang Mama geram, tadi diobati meringis saat diajak membahas yang katanya calon mantu mendadak jadi orang sehat.

“Iya deh iya gemes, tapi nggak usah sampek berantem gini, mas kan nggak baik. Nih muka anak Mama tadi ganteng terus jadi jelek, emang mau gebetan kamu punya cowok jelek?”

Haruto tersenyum kecut. Teringat kembali kebodohannya berapa menit lalu.

Haduh..., gimana bisa dapetin nomor Junkyu lagi?


`teuhaieyo.


trigger warning// harsh words, violent act.


Haruto menyusuri lorong penghubung gedung B dan gedung utama. Tak memperdulikan bahwa saat ini jam pelajaran telah dimulai kembali. Yoshi memanggilnya, yang mana Ia tidak bisa menolak setelah apa yang terjadi.

Haruto yakin riwayatnya tamat setelah ini. Namun, Haruto harus menghadapi.

Dalam langkah kaki kecilnya bayangan kedua orang tuanya tergambar. Haruto merasa durhaka, bertindak bodoh tanpa memikirkan nasib keluarganya. Siapapun tau, yang berbuat semena-mena dengan Yoshi pasti akan keluar dari sekolah dengan citra buruk.

Hahㅡ gimana nasibnya sekarang.

Haruto benci situasi ini, dimana Ia harus merendahkan tubuhnya, menjual harga dirinya dan menukar dengan ampunan. Beginilah nasib, hidupnya bukan Haruto sendiri yang menentukan melainkan ada dalam genggaman orang lain.

Demi orang tuanya, sebagai bakti pada dua orang tuanya yang saat ini menggantungkan seluruh asa pada anak semata wayangnya.

Disuruh berlutut pun Haruto tiada jalan tuk menolak.


Haruto berbelok menuju bagian belakang gedung utama. Kedua maniknya menangkap siluet dua lelaki dalam ruangan gudang. Berhenti sejenak untuk mengambil napas, lalu Haruto masuk.

Yoshi dan Junghwan disana, dua sifat manusia yang paling Haruto benci. Kasar, arogan, perundung, tanpa ampun.

Keduanya tengah tertawa sembari bertepuk tangan. Cukup kagum dengan keberanian si pemuda yang hampir dua tahun dijadikan budak.

“Berlutut.” Titahnya.

Haruto benci menjadi lemah, tidak punya pilihan selain menurut. Meksipun Ia bisa menjelaskan apa yang terjadi, jika keadaannya sudah seperti ini semua hal akan sia-sia.

Haruto memang berlutut, namun tatapan matanya tajam seolah menantang, enggan menunduk sedikit pun hingga mampu menaikkan seluruh emosi pemuda di depannya.

“Liat apa lo bangsat!”

Bugh

Satu tendangan dilayangkan. Haruto tersungkur bersamaan sepatu mahal Yoshi beradu dengan dadanya. Sesak, hingga Haruto terbatuk hebat.

“BERLUTUT LO SAMPAH!” Perintahnya lagi kali ini emosi sudah mengisi hampir seluruh bagian tubuh Yoshi. Wajah memerah, gigi bergemelatuk dengan tatapan mata seperti pisau yang siap membelah apapun, buku jarinya memutih hingga urat lengannya tergambar jelas di permukaan.

Sedangkan Haruto sudah kembali pada posisi berlutut dengan mimik wajah datar, tak gentar akan apapun. Haruto seolah siap dengan konsekuensi yang dituai.

“Lo yaㅡ” Yoshi mendengus, menatap dengan ekspresi remeh. Telunjuknya diangkat tak santai tepat menyentuh dahi Haruto.

“ㅡbudak nggak tau diri. Lo pikir siapa yang nanggung semua biaya sekolah lo disini, huh? Lo siapa biasa berbuat seenaknya? Lo nggak mikir apa yang bakal gue lakuin nanti bakal bikin orang tua lo kecewa?”

Haruto bergeming, memilih diam menerima semua caci maki menyakitkan.

Yoshi kembali menertawakannya. Puas melihat bagaimana si korban hanya bisa diam dibawah kendalinya.

“Jelasin. Hari ini gue mau liat orang memohon.”

Yoshi berjalan memutari Haruto yang masih bisu. Gudang luas dengan debu menjadi sepi, hanya terdengar gema sol sepatu mahal milik Yoshi.

“Sa-say..., sayaㅡ” Bersamaan satu kata terucap, Yoshi berhenti. Mempersiapkan diri menerima ucapan meminta pengampunan.

“Saya tau apa yang saya lakukan dan saya tidak berbuat suatu hal yang salah. Saya memang disana, berniat sendiri menemui Junkyu.” Jawabnya lantang.

Yoshi yang semula tenang kembali terpancing emosinya. Kesepuluh jarinya lagi-lagi mengerat.

Bugh

Satu bogeman kali ini tepat menyentuh hidung bangirnya. Membuatnya retak hingga mengeluarkan darah.

“Junghwan pegangi si bajingan.”

Junghwan dengan senang hati mengulurkan bantuan. Memaksa tubuh yang telah jatuh kembali berdiri. Kedua tangannya dipegangi kuat di belakang.

“Lo sendiri yang minta, lo sendiri yang bikin ini susah dan gue Yoshi nggak akan segan bikin lo menderita!”

Kejadian selanjutnya adalah hanya suara debuman saat tubuh beradu dengan barang diikuti sejuta umpatan menyakitkan. Memberikan setiap pelajaran melalui emosi menggebu hingga korbannya terkapar lemah tanpa daya.


`teuhaieyo.


trigger warning//harsh words.


Haruto diam diri dalam kelas sepi. Sejak istirahat dimulai tubuhnya tak bergerak sama sekali dari bangku tempat duduknya. Yedam sudah pergi ke kantin bersama teman yang lain.

Helaan napas putus asa lagi-lagi terdengar. Sorot mata dan jari telunjuk fokus pada sosial media. Batin serta pikirannya dibuat kalang kabut akan berita yang satu jam lalu telah disebar. Foto kebersamaannya dengan Junkyu hari kemarin.

Haruto tertawa, menertawakan betapa bodoh dirinya. Dengan angkuh berjalan memasuki gedung utama, lalu berbelok menuju lapangan belakang tanpa rasa was-was. Saat ini kecerobohan yang Ia perbuat menuai kesalahpahaman.

Siapa yang musti disalahkan? Memang begitu rentetan kejadiannya. Namun, apa yang terjadi setelahnya sangat jauh dari fakta. Ciuman? Hampir, tapi Haruto tidak semudah itu mengikuti nafsunya. Kemarin murni hanya menolong.

Hahaha, sial Haruto siapa yang mau percaya?


Haruto mendesah, kali ini lebih memilih meletakkan ponsel pintarnya setelah membalas satu dari puluhan pesan berisi pernyataan. Hanya satu yang bisa Ia percaya, teman-temannya.

Pusing hingga Haruto memijit pelipisnya pelan. Mengucapkan beberapa kalimat penenang untuk dirinya sendiri hingga bel selesai istirahat pun berbunyi.

Kelas mendadak gaduh, teman-temannya satu persatu datang dari kantin. Namun, kali ini seluruh mata tajam membidik Haruto dengan mimik benci.

“Haruto, lo tuh ya. Gue tau lo ganteng tapi tolong dong jaga kelakuan lo.” Satu anak perempuan datang menghampiri bersama dengan ekspresi marah.

“Gara-gara lo anjir, anak sini jadi makin susah buat napas. Sekolah udah anjing ditambahin lagi anak modelan kek lo. Tolong lah ya, gausah banyak tingkah sok ngedeketin anak gedung utama dan bikin masalah. Kita semua mau lulus dengan tenang!” Kali ini ujaran kebencian datang dari bangku depan paling pojok.

Iya tau, Haruto mengaku salah. Tapi apa begini caranya? Apa memang begini nasib si miskin?

Mengejar cinta si kaya pun dilarang. Harus tau diri akan keadaan. Lucu, kehidupan begitu tidak adilnya padahal manusia diciptakan oleh tangan yang sama.

Kali ini Haruto memilih abai, karena semakin dipikirkan semakin membuatnya pening. Benar kata temannya, Haruto setidaknya harus membuat klarifikasi meskipun itu tidak membuahkan hasil. Setidaknya Haruto bukan lari dari masalah.

tiba-tiba ponsel pintarnya bergetar, membuatnya sedikit terkesiap. Dengan hati-hati Haruto mengintip siapa yang menghubungi.

Yoshi is calling...

“Gue pikir masalah ini bakal stuck sampai disini, tapi ternyata ujung tombaknya baru mau nusuk sekarang.”

Haruto, semoga kamu baik-baik saja.


`teuhaieyo.


Junkyu point of view

Thank God i'm finally alone. Berlari sejenak dari rutinitas hidup melelahkan yang terjadi kurang dari seminggu setelah dimulainya semester baru.

Aku Kim Junkyu, anak pemilik yayasan sekolah. Lahir normal ditengah keluarga kaya raya. Menjadi anak tunggal membuatku merasakan kasih sayang luar biasa dari kedua orang tua. Seperti, hidupku akan berjalan dengan baik sampai kapanpun.

Sebelum hari itu keluarga Pak Menteri datang, aku tidak tau perihal apa karena kala itu umurku masih 5 tahun. Dan pada hari itu juga sosok Yoshi mulai hadir dalam hidupku.

Hah...lucu jika diingat kembali. Yoshi yang dulu sepuluh kali lipat lebih menyenangkan dengan Yoshi besar sekarang. Murah senyum, penuh afeksi, dan sisi positif lainnya. Bukan Yoshi dengan tempramen tinggi, perundung, dan yang paling aku benci adalah sifat posesif berlebihannya.

Merubahku menjadi seekor binatang dalam kandang kebun binatang. Keanggunan hanya untuk dilihat bukan disentuh, takut-takut sentuhan akan merusakku. Menjadikan seluruh tubuh hak miliknya seorang. Tidak bebas kesana-kemari dan yang ingin datang menghampiri diberi batas, selalu diawasi.

In the end of the day, aku sendirian dalam sepi.


Srak!

Kelopak cantik Junkyu terbuka, menghentikan sejenak kegiatan merasakan semilir angin tatkala gendang telinganya menangkap suara langkah kaki beradu daun kering.

Disinilah Junkyu menyendiri dengan bayanganya. Duduk di bawah naungan pohon beringin tua yang ditanam pada lapangan tak lagi terpakai. Sebenarnya Junkyu tidak yakin kenapa sekolah tidak menggunakan lapangan ini lagi bahkan enggan merawat. Desas-desus pernah terjadi pembunuhan siswi dan arwahnya gentayangan disini.., yahㅡ cerita klise semua sekolah.

Junkyu mengedarkan pandangan ke depan, sedikit menyipit karena wajah lelaki yang tengah mendekat terpapar teriknya matahari siang. Pandangannya kembali normal saat tubuh jangkung sampai 5 meter tepat di depannya.

“O-oh, Haruto?”

Benar Haruto, awalnya Junkyu bingung kenapa pemuda ini bisa sampai disini namun, saat Haruto menyodorkan lagi kotak susu berwarna merah jambu, Junkyu kembali ingat tentang ajakannya kemarin.

“Terima kasih, sini duduk!” Ajaknya.

Junkyu menepuk rerumputan yang menjadi alasnya duduk. Terkekeh geli saat sudut matanya menyadari betawa lebarnya jarak yang dibuat.

Satu yang menjadi first impressionㅡnya pada pemuda satu ini, Haruto sangat sopan.

Lama mereka diam sendiri, lebih banyak membuat pertanyaan dalam pikiran daripada diutarakan. Sama-sama penakut dalam hal mengungkapkan, pada akhirnya mereka sendiri terjebak dalam lingkaran kecanggungan.

“Eh..,eum.. Junkyu, saya permisi dulu.”

Memilih berlari menjauh daripada mencoba lebih keras tuk mendekat.

Ketika Haruto tegap berdiri meskipun dirundung kecewa akan sikap pengecutnya. Junkyu dengan segenap keberanian mencekal pergelangan tangan si pemuda. Mengambil atensinya kembali hingga kedua pasang manik mereka bertemu.

“Aku boleh minta tolong?”

Haruto memilih diam membiarkan Junkyu mengutarakan maksudnya dalam kata tolong.

“ㅡdisini aja, temenin aku.”


Sekarang Junkyu paham ramai bukan berarti bersama, dan diam bukan berarti kesepian. Junkyu baru tau akan sebuah perasaan. Dimana dia merasa tak lagi sendirian meskipun tanpa sepatah kata.

“Haruto, bagaimana rasanya memiliki teman?” Suara Junkyu akhirnya.

Haruto melirik pada si manis, pemuda yang sedang diusahakan. Wajahnya masih lurus ke depan menerawang entah apa.

“Tidak terdefinisi.” Balasnya penuh kejujuran.

Sejak hari pertama Haruto masuk pikirnya hanya fokus belajar dan bertahan akan tindasan, sampai akhirnya takdir mempertemukan dengan keempat sahabatnya.

Seperti semua rasa bercampur menjadi satu hingga kita bingung sendiri perasaan mana yang tepat untuk mendeskripsikan arti sebuah ikatan persahabatan.

Junkyu tertawa, hambar. Karena Ia belum pernah merasakan salah satunya. Hidupnya hampa, kosong melompong layaknya membawa raga tanpa isi.

Seketika angin berhembus kencang, hingga daun kering ikut terbang.

“Akh-” Junkyu memekik, telapak tangannya nampak menutupi sebelah mata.

Mendengar itu Haruto panik, menggeser tubuh jangkungnya. Menabrak sendiri tembok yang Ia bangun diantara dia dan Junkyu.

“Perih...” Lirih Junkyu, bibirnya mengerucut lucu hingga Haruto ikut gemas sendiri.

“Maafㅡ” Haruto ijin untuk mencekal pergelangan tangan Junkyu, mencegah si manis untuk mengucek bola matanya.

Selanjutnya, jemari Haruto jatuh menyentuh kulit sebersih kapas. Mengusap lembut kelopak mata yang masih tertutup.

Aneh, sentuhan yang dirasa malah membuat Junkyu tenang. Batinnya Haruto hanyalah orang asing tapi Junkyu seakan pasrah menerima setiap belaian yang diberikan pemuda itu. Pikirannya pun begitu, sama sekali lupa akan segala perintah yang Yoshi telah tanam akan bahaya orang baru.

“Buka mata kamu pelan-pelan.” Perintahnya.

Junkyu menurut, mengerjapkan matanya perlahan, membiasakan lagi akan cahaya yang mulai masuk.

Saat keduanya terbuka sempurna, hal yang pertama Ia lihat adalah wajah rupawan Haruto. Sangat dekat, mengamati dengan raut khawatir. Hanya berhadapan seperti ini debaran jantungnya dibuat tak beraturan, baru pertama kali tubuhnya bereaksi demikian.

Mungkin ini salah satu rasa yang tak terdefinisi.

“Maaf saya boleh tiup mata kamu?”

Seperti sebuah perintah padahal hanya sebuah pertanyaan, Junkyu mengangguk pasrah. Membiarkan si pemuda meniup kedua matanya bergantian.

Membiarkan dirinya merasakan lebih lama perasaan aneh namun menyenangkan yang hadir diantara dia dan Haruto.


`teuhaieyo.


trigger warning// harsh words and bullying


Haruto duduk diam, memangku dagu seorang diri. Mata elangnya menatap malas mengamati Yoshi dan kawan-kawan tengah menyantap makan siang. Ia kira Yoshi sudah malas mempermainkannya maka dari itu tiga hari belakangan Haruto hidup bebas berkeliaran di sekolah. Nyatanya, hari ini Yoshi mengirim pesan tiba-tiba.

Kantin cukup sepi, ya mungkin karena nggak ada geng hyunsuk disini. Entah mereka kemana yang pasti sejak bel istirahat berbunyi batang hidungnya belum sama sekali nampak. Juga, Haruto mana berani bermain hp saat terbelenggu dalam permainan Yoshi. Cari mati namanya.

Beberapa menit kemudian satu persatu siswa masuk kantin, padahal jam sudah mendekati masuk. Kiranya mereka memang anak yang pandai, mengerjakan tugas dahulu baru makan. Tapi yang aneh semua anak datang membawa buku dari tipis maupun tebal.

Perpustakaan ada di lantai tiga bukan?

Kedua bola mata Haruto bergerak, bergantian pada gerombolan siswa dan sekarang Yoshi yang berdiri. Seperti tengah menyambut tamu kebangsaan.

Haruto bergidik dibuatnya lantaran Yoshi malah menatap dirinya dengan senyum yang nggak bisa Ia artikan. Jika sudah begini, sesuatu akan terjadi bukan?

“Pangeran Yoshi ini mana yang mau ngerjain tugas kita?” Seruan salah satu gerombolan.

Yoshi cukup diam, mengarahkan telapak tangannya kearah tempat duduk Haruto seperti mempersilahkan.

“Taruh aja disitu, nanti dia yang ngerjain semua. Kalo kalian gak puas sama nilainya hukuman gue serahin ke kalian.”

Sinting, permainan macam apa yang sedang terjadi. Rasanya Haruto sudah menurut dan tidak membuat kesalahan apapun. Ya Tuhan siapapun tolong Haruto!

“Yosh, kamu nggak bisa seenaknya kayak gitu dong!” Junkyu kali ini berdiri, menyampaikan ketidaksukaan pada Yoshi.

Senyuman dibibir tampannya luntur, digantikan kilatan marah. Yoshi nggak habis pikir, selama ini apapun yang dilakukan Yoshi pada si budak Haruto tidak ada yang melarang termasuk Junkyu.

Untuk yang pertama kalinya Yoshi dibuat kecewa. Terlebih orang itu adalah Kim Junkyu sendiri. Lelaki yang selalu Ia jaga sejak kecil.

“Bagus... bagus Kim Junkyu!”

Atmosfer mendingin bersamaan seluruh suara berangsur teredam. Kantin berubah sunyi senyap. Hanya suara tawa kecewa dari sosok pangeran. Bahkan ketiga temannya yang lain hanya diam, enggan peduli.

Yoshi beranjak dari mejanya, berjalan pasti hingga suara ketukan sol sepatu mahalnya menggema. Hingga tujuannya jatuh pada Haruto.

Brak!

Dipukul keras meja terbuat dari kayu import hingga retak bagiannya. Selanjutnya, tanpa persiapan ditarik seragam Haruto sembarangan hingga tubuhnya ikut terangkat.

“YOSHI!” Teriak Junkyu memperingati untuk stop sampai disini.

Haruto takut? Tidak, ini hal yang lumrah kalau Yoshi marah. Kedua pasang obsidian itu beradu, Haruto menatap Yoshi datar sedangkan milik Yoshi telah memerah.

Yoshi mendengus,“Bajinganㅡ” Lirihnya.

“Lo harusnya inget gue siapa dan lo siapa. Anak rendahan kayak lo jangan main-main.” Titahnya datar namun menusuk. Detik kemudian tubuh jangkung Haruto dihempas bebas jatuh di atas lantai dingin.

Haruto memang sudah terbiasa begini, diinjak-injak layaknya sampah tak berguna. Seperti teman sejatinya adalah tanah. Tapi Haruto benci tiap kali Yoshi mengucapkan kalimat itu. Dimana Ia diingatkan tentang sebuah posisi.., gue siapa dan lo siapa?.

Selayaknya Tuhan yang mengatur bahwa hidup tidak diperuntukkan manusia dengan strata sosial rendah.

“KERJAIN SEMUA TUGAS TEMEN-TEMEN GUE!”

Tanpa belas kasihan Yoshi keluar membiarkan Haruto dengan tumpukan buku berisi tugas yang bahkan tidak Ia pelajari.

Jika tiga hari yang lalu adalah keberuntungannya maka hari ini dan entah sampai kapan Haruto akan ditimpa kesialan.


`teuhaieyo


Berbicara tentang Haruto pasti timbul rasa penasaran. Siapa dia? darimana keluarganya? Terlahir dengan wajah rupawan ternyata tidak membuatnya diterima baik dalam lingkup masyarakat khusunya sekolah.

Percuma ganteng tapi nggak kaya. Begitu katanya. Mau gimana lagi? Toh yang terucap memang fakta.

Watanabe Haruto, anak pertama dan satu-satunya dikeluarga kecil Watanabe. Diboyong langsung dari pedesaan kecil Jepang tidak membuatnya spesial.

Ayah ibunya pemilik toko roti biasa, bukan ternama seperti milik artis diluaran. Sejak kecil Haruto dididik secara sederhana lebih ditujukan pada moral dan tata krama hingga membentuk pribadi Haruto sekarang.

Haruto itu ganteng, pinter, pribadinya baik, dan satu lagi Haruto itu gigih bukan main.

Saat tekadnya bulat dengan cara apapun Haruto akan berusaha untuk menggapainya. Termasuk mengejar hati si manis anak pemilik yayasan sekolah, Kim Junkyu.


“Haruto?”

Tubuhnya berjengit, hampir saja menjatuhkan piring berisi makanan pada tangan kanannya.

Beginilah tugasnya sehari-hari, diperbudak oleh yang lebih tinggi. Sekarang Ia tengah menunggu pesanan Yoshi dan Junghwan sebelum suara lembut Junkyu menginterupsi.

“Haruto!” Panggil si manis sekali lagi karena nampak tak mendapat jawaban.

Haruto mengerjapkan mata elangnyaㅡsial, denger suaranya aja bikin bengong. “I-iya saya?”

“Ih kamu dipanggil malah bengong.” Junkyu memukul lengan Haruto pelan, ceritanya ngambek.

Junkyu nggak tau aja dari ujung kepala sampai kaki Haruto udah lemes, pengen pingsan aja. Jantungnya berdegup dua kali lipat hingga peluh mulai menetes. Panas, padahal kantin gedung utama full AC.

Hadeh, Haruto! Lo katanya mau gerak maju, tapi baru dipukul tangan seluruh tubuh mendadak jadi jelly” Batin Haruto pada diri sendiri.

Btw kok tau aku suka minum susu itu?” Tanya Junkyu lagi mencoba membangun komunikasi. Jujur Junkyu tidak dekat dengan Haruto dan sekarang agak canggung.

“Oh..., ah iya- kan saya sering lihat kamu minum itu. Kamu suka?”

Junkyu mengangguk antusias, “Banget, aku suka banget”

Dasar lucu, gemesin. Jangan kasih gue senyum kek gitu nanti gue makin jatuh.

“Iya, saya juga suka kaㅡ” Haruto bungkam, hampir saja meneriakkan bagaimana perasaannya pada si gemes saat ini juga.

“gimana?”

Bodoh, Haruto emang pinter tapi masalah menjaga image di depan gebetan mungkin Jeongwoo lebih unggul.

“ㅡmaksudnya, saya juga suka kalau kamu suka jadi bisa beliin lagi.” Dahi Junkyu mengkerut, matanya memincing. Sedangkan Haruto dibuat semakin tersudut.

“Kamu mau beliin aku lagi?” Helaan napas lega terdengar, ya belum saatnya perjuangan Haruto membuat Junkyu peka berhenti sampai disini. Setidaknya bukan dengan cara konyol yang hampir saja Ia lakukan. Bukannya semakin dekat, Junkyu malah jijik.

Kepalanya mengangguk.., iyain aja biar cepet. Toh Haruto memang berniat memberikan seluruh stok susu stroberi Jepang di rumahnya buat acara PDKT-nya sama Junkyu.

“Be-besok saya bawain lagi.”

Bibir si manis mengembangkan senyum puas. Bola matanya berbinar. Tubuh yang lebih pendek mencondong mendekat, hingga Haruto harus meneguk liurnya keras.

Anjir mau ngapain? Junkyu jangan disini!” Batinnya berteriak.

Sekujur badannya merinding tatkala suara rendah namun manis mengalir masuk tepat menuju gendang telinganya.

“Kalau mau cari aku di perpus atau di lapangan belakang, Yoshi nggak suka dua tempat itu.” Bisiknya.

well, ini tandanya Haruto dapat lampu hijau?


`teuhaieyo.


kantin gedung utama.

Seperti yang telah direncanakan Haruto menyusul Hyunsuk, Jeongwoo, Doyoung, dan Jaehyuk. Kalau dipikir-pikir bagaimana mereka bisa menjadi teman jawabannya gatau sejak kapan dan gimana. Yang mereka inget cuma suatu hari di jaman kelas satu sekitar semester dua Haruto sedang duduk di bangku kosong kantin seorang diri, sedang menunggu Pangeran Yoshi dan kawanan tengah menikmati makan siang.

Karena hari itu ramai, hanya tempat yang Haruto duduki tersisa. Disanalah geng Hyunsuk makan sambil melempar guyonan receh khas Park Jeongwoo. Haruto tak sengaja mendengar dan tertawa akan ceritanya. Bukannya membentak dengan angkuh mereka berlima semakin tertawa ngakak.

Lambat laun mengenal keempat anak orang berada ini nggak bikin Haruto minder, mereka memang nakalㅡ alkohol, rokok, judi tapi juga baik bukan main. Menghormati apapun keputusan Haruto, tak sekalipun memaksa Haruto ikut menuju jalan neraka dunia. Keempat manusia sahabatnya terlampau dewasa, kadang Haruto banyak belajar baik buruk kehidupan luar dari bibir mereka.

“Besok kembaran lah bawa motor. Baru ganti skin nih gue.” Kata Doyoung disela-sela kegiatan makan.

“Lah gue mah emang bawa motor. Ini nih boss geng mana mau.” Sahut Jaehyuk menimpali.

Memang sejak kelas dua Hyunsuk sudah jarang terlihat bawa motor.

“Bukannya kaga mau, gue kalo berdua sama Jihoon trauma bawa motor. Motor gue kan semua yang belakangnya tinggi, itu pantat semok Jihoon masa pernah ditepok orang.”

Yang diceritakan ketawa geli. Mau kasihan tapi mengingat Jihoon garangnya bukan main.

“Tapi emang sih, Suk. gua perhatiin Jihoon makin berisi.” Sahut Jeongwoo.

Hyunsuk mengangguk membenarkan, “Ya gimana jajan keepsi mekdi boba apalah itu. Kaga dikasih raib jatah gue.”

Tawa ketiganya makin menggelegar, sudah biasa apalagi suara Jeongwoo yang emang kalo ketawa harus all out.

Sedangkan Haruto kali ini menatap dalam diam. Bohong kalau nggak iri, bagaimana mendengar Hyunsuk memanjakan Jihoon layaknya permata yang harus benar dijaga.

Apa dirinya bisa?

Membawa diri kemanapun masih pakai angkutan umum. Mereka berempat sering menyuruh Haruto untuk mengambil salah satu motor koleksi mereka. Tapi Haruto gak bisa, menerima belas kasih tanpa keluar setets keringat itu melenceng dari prinsipnya. Nama kedua orangtuanya dijunjung tinggi-tinggi disini.

Selagi masih cukup dan bisa diusahakan ya usahakan. Nggak semua kemauan kamu harus dipenuhi sekarang, ada yang butuh pengorbanan kamu meskipun satu tetes keringat. Begitu kata Ayahnya.

Haruto menengok kebelakang, dimana ada Junkyu disana. Memandang si manis sedang makan sambil meminum susu pemberiannya dengan wajah lucu. Senyum timbul sedikit dibibir gantengnya. Jadi gini ya bahagianya jatuh cinta?

Pun saat Junkyu tak sengaja menetaskan cairan susu disudut bibirnya jemari tegas Yoshi datang secepat kilat membersihkan. Membuat getaran gembira dalam tubuh Haruto luruh seketika.

Dan ini rasa cemburunya dari jatuh cinta?

Sabar ya, Kyu. Hari ini susu dulu. Soalanya aku mau memantaskan diri buat gantiin Yoshi. ㅡHaruto


`teuhaieyo.


Mari kita perjelas apa yang terjadi disini. Pada kawasan sebuah sekolah menengah elit di tengah hingar bingar kota besar.

SMA Treasure dimana mental yang mententukan siswa/i bisa lulus atau berhenti saat pertama kali menginjakkan kaki di tanahnya. Kebejatan sistemnya sudah menjadi rahasia umum, dimana ada dua gedung di dalamnya.

Gedung utama yang mana paling besar, megah, dan mewah diperuntukkan siswa reguler, anak pemegang sendok emas. Isi otaknya? well, siapa yang peduliㅡ uang bebicara banyak disini.

Gedung B yang terlihat berkali lipat lebih kecil, nampak seperti gedung sekolah biasa pada umumnya. Gedung yang diperuntukkan bagi anak beasiswa, anak orang sederhana. Pintar? maaf yang menentukan kelulusan hanyalah sosok mental baja. Menjadi budak siswa gedung utama sudah biasa, memilih menurutㅡmenahan diri agar beasiswa bertahan hingga hari kelulusan.

Hal ini terjadi pada Watanabe Haruto si rupawan dari gedung B, budak utama sang pemegang kasta tertinggi gedung utama, sosok pemuda berambut ash grey Kanemoto Yoshinori.

Siapa gerangan tidak mengenal Yoshi, pemuda tampan dengan tatapan dingin. Julukan pangeran yang tersemat pada tengah namanya sejak kelas satu memang cocok disandang si murid. Hidup sebagai budak pangeran sekolah, membuat Haruto agaknya sedikit mengenal Yoshi beserta jajarannya.

Termasuk dia..., Kim Junkyu. Pemuda manis pecinta susu stroberi buatan negeri Jepang.


Junkyu berjalan, lumayan cepat di lorong sepi., efek sehabis melarikan diri dari godaan geng Hyunsukㅡ rumornya Hyunsuk ini anak mafia jadi siapapun akan segan dekat dengan Hyunsuk.

Di depan sana jejeran loker siswa mulai tampak. Jemari cantiknya meraba-raba permukaan besi sembari kakinya mendekat pada loker penuh dengan sticky notes, nggak perlu dibaca... isinya cuma kata-kata penuh gombalan sampis dari penggemar.

“Hah...” Junkyu menghela napasnya, menatap jengah pegangan lokernya pun tertutup kertas.

Pun saat pintunya dibuka, kepalanya semakin dibuat pusing. Tubuhnya mematung, menatap tumpukan kotak hadiah, coklat, bunga. Inilah alasan Junkyu enggan meletakkan barang penting, pribadi miliknya. Junkyu seperti tidak punya privasi disini.

Kenyataan beberapa siswa menjual informasi kode lokernya.

Kaki jangkung Junkyu tertekuk..., mari bereskan semua sampah ini karena sumpah setelah ini pelajaran matematika yang mana gurunya anti telat.

“Biar saya bantu...”

Sebuah tangan terulur, tanpa meminta persetujuan lebih lanjut bergegas memunguti kotak. Junkyu sampai kaget sendiri darimana pemuda bersuara rendah ini datang, yang Ia tau Junkyu berjalan sendiri.

Junkyu memberanikan diri mendongak, ingin memastikan lebih lanjut siapa gerangan.

“O-oh? Haruto?” Lirihnya. Yang dipanggil namanya ikut mendongak hingga kedua pasang obsidian mereka bertemu satu sama lain.

Junkyu tersenyum geli, wajah Haruto terlihat konyol, “Makasih loh.”

Diucapkan begitu Haruto gemetar hingga keringat dingin mulai terbentuk di dahi. Haruto lebih dulu memutus kontak mata, melirik arah lain mana saja asal bukan Junkyu. Tujuannya kemari memang bertemu Junkyu, lebih tepatnya ke loker si manis. Layaknya pria tidak gentleman lainnya yang hanya bisa menitipkan harapan melalui makanan yang dimasukkan dalam loker si manis. Mana sangka malah bertemu pujaan hati secara langsung, di lorong sepi, hanya berdua.

Iya hanya Haruto bersama Junkyunya.

“I-ini mau ditaruh di..mana?” Tanyanya gugup. Jujur baru kali ini Haruto berbicara dengan Junkyu.

“Ditata aja disamping loker, biar nanti pulang aku sama temen-temen angkut ke mobil. Sekali lagi makasih ya Haruto.”

Aduh, jangan panggil nama Haruto begitu. Jantungnya sudah berdebar tak karuan. Sekali lagi Junkyu mengatakan Haruto bisa-bisa pingsan ditempat.

Setelah menata semua hadiah, Haruto berdiri kaku di depan pintu kamar mandi. Bener, tadi Haruto sembunyi disitu karena anak gedung B seperti dirinya nggak bisa berkeliaran bebas di gedung utama.

Suasana mendadak canggung, tidak ada yang berkeinginan untuk berbicara terlebih dahulu. Begitupun Haruto, bingung sendiri apa sekarang memberikan susu yang telah dibawa atau seperti biasa dimasukkan dalam loker.

Waktu pelajaran telah memasuki jam ke 4.

Beruntung loudspeaker pusat berbunyi, jadi ada alasan untuk Junkyu pergi.

“Aku duluan ya, Har..” Pamitnya, Junkyu melangkah pergi sebelum...,

“Junkyu!” Panggil Haruto kembali, kali ini suaranya tegas meskipun ada getaran sedikit. Kedua tangannya memegang kotak susu stroberi dijulurkan ke depan.

Junkyu berbalik, kaget juga dibuatnya. Namun, detik kemudian senyum manisnya timbul membuat yang ditatap menunduk. Junkyu paham maksudnya, dengan senang hati diambil kotak berwarna merah hati. Meskipun dalam hatinya dirundung bingung, hanya orang-orang terdekatnya yang tau Junkyu minum susu produk asal Jepang.

Apa Haruto memperhatikanku?inner Junkyu.

“Makasih lagi, nanti aku minum.”


`teuhaieyo.


⚠️trigger warning ⚠️ : married life, angst, act of mental illness, suicide attempt.


Membahas mengenai kisah romansa pasti tumbuh keingintahuan. Bagaimana jalan ceritanya? Terpenting bagaimana akhirnya? Bahagia, sedih seluruh rasa turut ikut meramaikan. Jika membahas mengenai kisah romansa, alurnya jatuh pada seni memilih. Sosok yang tepat, tempat yang cocok, dan seluruhnya dirangkum sempurna oleh waktu jatuh yang tepat.

Sebagai seorang insan tak luput dari pilihan hidup. Menimbang secara abstrak mana yang tepat tanpa bisa memprediksi masa depan. Anggaplah pilihanmu sesuai silahkan nikmati kebahagiaan, jika tidak tercebur dalam kesengsaraan jadi takdirnya. Bagaimana jika jalan yang dipilih melalui paksaan?

Jawabannya hanya ada dua, ikuti liku alurnya atau berbalik arah, menerima setiap lara hingga kau menemukan jalan sebenarnya.

Sama seperti sosok Watanabe Haruto yang saat ini sedang berdiri diambang pilihan sulit. Raganya memilih sosok pendamping hidup namun hati dan pikirannya dibawa melayang jauh menuju sang masa lalu.

Tubuh jangkungnya dibuat lega, setelah kekacauan di malam turun hujan kemarin. Dokter menyatakan Hamada Asahi dalam kondisi baik, panas tinggi yang diderita pria kecil itu hanya efek dari pemberontakan sel tubuh akibat kelelahan. Sedikit tenang akan hal itu otaknya seketika bekerja, mengingatkan si pemilik akan panggilan dari pria bunga matahari. Beres mengurus administrasi semalaman disinilah Haruto berdiri.

Kaki panjangnya bergerak ke kanan dan kiri. Tangan kanannya tepat di depan daun telinga memegang ponsel dan tangan yang lain bergerak sembarang tanda dirinya gugup. Air wajahnya tergambar raut khawatir lengkap dengan kerutan di dahi. Pasalnya sepuluh menit lalu panggilan pada pria bunga matahari menghantarkan dirinya pada pihak rumah sakit. Pada waktu yang sama Junkyu juga jatuh, ditemukan tak berdaya dipinggir jalan terpapar hujan deras. Saat ini, Haruto sedang mencoba meraih bibi Junkyu, meminta validasi lebih berharap apa yang didengar sebelumnya adalah informasi palsu.

“Ah Haruto! Maaf bibi lama menjawab panggilanmu.”

Disebrang sana suara Bibi Kim terdengar lelah, nafasnya putus-putus seperti habis diajak berlari.

“Apa bibi bersama Junkyu?”

“Tentu saja, bibi baru saja menyelesaikan prosedur pemindahan rumah sakit.”

Kerutan di dahi semakin menjadi. Pindah rumah sakit? Memangnya separah apa kondisi Junkyu?

“Pindah rumah sakit? Kenapa?”

“Ahh ituㅡ”

Haruto benci jawaban menggantung, membuat debaran jantungnya meningkat, pikiran negatif mulai bersarang. Menerka-nerka keadaan, Haruto tidak suka.

“Bibi Kim?”

“ㅡitu sebenarnya... Begini, jika kau bertanya apa Junkyu sudah sadar, jawabannya adalah sudah. Tapi Junkyu sadar dalam kondisi yang buruk. Haruto, Junkyu harus dibawa ke rumah sakit jiwa untuk pengobatan. Luka sebenarnya bukan pada fisik namun mentalnya.”

Sunyi, dunia mendadak sepi. Hiruk pikuk rumah sakit di pagi hari tak terdengar lagi. Nafasnya tercekat, telinganya tuli sementara. Mendadak kakinya lemas hingga jemarinya meraba mencari tumpuan, apapun yang penting bisa menahan tubuhnya agar tidak ambruk saat itu juga.

Kim Junkyu, apa yang terjadi padamu semalam?


Satu lenguhan terucap dari bibir si pria kecil yang sejak semalam terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit. Tangan putih sehat itu tak lagi mulus, penuh lubang bekas jarum infus. Mata cantiknya mengerjap, seberkas cahaya mentari perlahan mengisi pupil si pria hingga demi sedikit mengecil.

Jutaan syaraf lengan kananya menangkap sebuah sentuhan. Mengirimkan sinyal pada pandunya sehingga si pemilik memberi respon berjengit terkejut. Pada detik kedua pasang obsidian itu bertemu hanya senyum hangat yang dapat dihantarkan keduanya.

“Haruto.” Hanya panggilan memastikan. Si pemilik nama menjawab dengan anggukan semangat.

Hamada Asahi, bahkan dikondisinya terbaring payah parasnya tetap indah. Bagaimana pipi tirusnya menyemburkan warna merah muda saat tersenyum. Bibir yang selalu mengucap kebaikan setiap tutur katanya, bibir yang selama ini masih belum terjamah oleh Haruto.

Asahi memang indah, Haruto tau fakta satu itu. Tetapi hati seorang insan akan selalu pulang menuju rumah yang tepat, masa bodoh serapuh apapun rumahnya. Pada kasus ini milik Watanabe Haruto telah jatuh sempurna dalam belenggu Kim Junkyu, hidup nyaman di dalamnya seakan amnesia akan jalan keluar.

“Ada yang sakit?”

“I'm good and I'm sorry” Balas Asahi, kedua matanya terpejam sejenak menikmati belaian jemari panjang Haruto pada rambutnya.

Dikecup lembut dahi Asahi lembut. Jujur, jauh dalam lubuk hatinya Asahi berharap akan tetap seperti ini. Jika sakit membawa kebahagiaan dalam bina rumah tangganya, maka Asahi minta dibawakan lebih. Egois memang, nafsu dalam diri meronta hebat mulai timbul rasa ingin memiliki Haruto seutuhnya.

Namun, saat Asahi membuka mata disitulah Ia menatap realita. Sepasang obsidian elang Haruto tak pernah memancarkan binar saat menatap kepunyaannya.

“Lo gaperlu minta maaf, gue suami lo kalo lupa udah jadi tanggung jawab gue. Gue panggil dokter ya biar keadaan lo dicek.”

Asahi tertegun diperlakukan baik seperti ini getaran bahagianya hanya sebentar. Haruto, lelaki yang selalu bisa membawanya jauh ke langit tujuh pun membawanya jatuh menghempas tanah.

Gue suami lo

Udah jadi tanggung jawab gue

Seakan ditampar kuat, disadarkan kembali bahwa pernikahan ini pondasinya memang bukan cinta. Alasan Haruto sebaik ini hanya sebagai formalitas tanggung jawab bukannya menyalurkan benih cinta.

Sebelum telunjuk Haruto memencet tombol panggilan dokter Asahi segera mencegah, menimbulkan kerutan tidak mengerti dari suaminya. Diperhatikan Asahi hanya diam beberapa menit, pandangannya jauh menatap langit-langit. Saat helaan napas berhasil dikeluarkan disitu Asahi mulai menatapnya kembali bersamaan senyuman aneh tak terdefinisi.

“Nggak mau dokter, maunya ngobrol berdua sama kamu.”

Suasana berubah menjadi canggung. Haruto kembali duduk, mengulang kembali perlakuannya seperti membelai puncak kepala Asahi.

“Yaudah ayok ngobrol.” Final Haruto akhirnya. Mungkin sakit yang di derita Asahi tiba akibat beban yang dipikul sendiri dan sekarang Asahi mau membaginya.

“Gue kemaren kemarin pulang kemaleman soalnya ada rapat penting.” Jelasnya memulai pembicaraan.

Haruto memilih menyimak, ber-oh ria saat sang suami membeberkan fakta yang belum Ia ketahui.

“Kalo gue bisa lolosin yang satu ini perusahaan kecil gue jadi punya partner perusahaan gede.”

Bahkan sampai detik ini pun Haruto nggak ngerti, alasan ingin mandiri punya penghasilan sendiri harusnya nggak perlu segigih ini kan? Bekerja layaknya punya tubuh sekuat kuda, pada akhirnya jadi terlalu memaksakan.

“Pelan-pelan aja, gigih boleh tapi jangan sampek maksain. Ini kan hasilnya.” Tutur Haruto khawatir. Asahi membalas dengan kekehan geli.

Nggak bisa Haruto, aku ingin segera keluar dari hubungan sia-sia ini.

Aku takut jatuh terlalu dalam akan perasaan cinta yang mulai tumbuh.

“Gue gabisa pelan-pelan lagi. Ada orang yang nunggu lo. Kalo gue kelamaan perasaan yang udah sakit jadi makin kronis danㅡ”

“ㅡAsahi?!”

Belum selesai menjabarkan, sekali lagi Haruto tau akan dibawa kemana percakapan nonsense kali ini. Lagi, lagi, dan lagi apa yang dilakukan Asahi selama ini hanya mencoba mengembalikan Haruto pada Junkyu.

Haruto kecewa, disini dia mulai menjatuhkan pilihan pada putus asa. Memilih mengikuti alur kehidupan romansanya. Meskipun Haruto tidak bahagia setidaknya yang menjadi pasangan hidupnya adalah Asahi. Sahabatnya sendiri.

“Haruto please listen to me, gueㅡ”

“Gue apa? Apa lagi, Sa? Sumpah lo nggak capek? Gue capek! Bahkan didetik ini gue milih buat pasrah, I will try harder to love you. Gue bakal berusaha bikin rumah tangga kita lebih sehat kedepannya.”

Haruto, aku mau tapi aku gak bisa. Meskipun rasa cinta ini berkembang makin besar tapi aku gabakal bahagia hidup digentayangi janji buat jaga kalian, kawal hubungan kamu sama Junkyu.

“Gue juga capek, Haruto. Aku nggak ngerasa bahagia, kita sampai sini bukan karena cinta. Pernikahan kita cacat! Pernikahan kita ada bukan sebagai sumber kebahagiaan tapi jalan buat membunuh kita bertiga secara perlahan.”

Suara Haruto tercekat, sebanyak apapun emosi yang ingin dikeluarkan mendengar seluruh keluh kesah sosok suaminya ini memukul telak egonya. Haruto seakan sadar bagaimana hampir dua tahun pernikahan dirinya abai akan hadirnya Asahi. Haruto penjahat sesungguhnya disiniㅡTidak! karena memang musuh sesungguhnya adalah takdir.

Pun Haruto paham betul, jika dirinya ditanya apakah ada rasa cinta untuk sosok pasangan hidupnya jawabannya adalah tidak sama sekali. Kejam bukan? Tapi hanya Tuhan yang mampu membolak-balikan perasaan umatnya. Sayang, untuk saat ini Tuhan belum mau mengubahnya.

“Asahi...” Hanya itu yang bisa Haruto ungkapkan. Memanggil Asahi seperti meminta tolong untuk berheti bersikap seperti ini.

Dari sorot mata indah yang berkaca-kaca, Haruto jelas tidak punya pilihan. He wants to try again but he already late.

Dengan tenang Asahi kembali tersenyum, berusaha memamerkan senyum yang paling indah khusus untuk suaminya,

“This is the best scenario that I can do for us. We should divorce, you get Junkyu and I will find my own happiness.”


Perceraian, kiranya Asahi hanya bergurau tentang itu. Terlihat masih bersama dan baik-baik saja, nyatanya disinilah capaian hubungan mereka. Berdiri tepat diujung tebing perpisahan.

Seminggu setelah perawatan, kondisi Asahi kembali normal. Saat ini mereka tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit kesehatan jiwa tempat Junkyu dirawat. Tidak terlalu susah mencari ruangan sebab Bibi Kim telah menunggu tepat di depan ruangan.

“Bibi Kim.” Keduanya membungkuk. Dibalas senyum hangat, tiada rasa canggung sebab Bibi Kim sangat mengenal baik Haruto dan Asahi.

“Silahkan masuk, dia masih terjaga setelah sarapan.”

Haruto masuk setelah Bibi Kim, menoleh bingung tatkala Asahi masih terliat berdiri ditempat.

“Aku mau ke toilet dulu.” Haruto mengangguk, membiarkan Asahi tetap di luar.

Asahi berbohong, kenyataan Ia belum siap bertemu Junkyu setelah apa yang terjadi dua tahun. Asahi butuh waktu sedikit lagi, hari ini jadi yang pertama kali Ia akhirnya berhadapan langsung dengan Junkyu.

Mata cantik itu memandang setiap gerak-geriknya dari kaca pintu. Menjadi saksi mata setiap afeksi yang suaminya bagi pada sang masa lalu. Nampak Junkyu sedikit takut akan kehadiran Haruto, bisa mengerti karena Junkyu jatuh seperti ini akibat ulah Watanabe. Tetapi Asahi kagum bagaimana hanya sebuah dekapan hangat bisa sangat menenangkan ditambah kecupan sayang dialirkan penuh keikhlasan dan..,rasa cinta.

Hatinya berdenyut sakit, Haruto itu suaminya miliknya. Namun Asahi belum pernah mendapatkan afeksi sebegitu tulusnya dari Haruto. Faktanya dari awal Haruto milik Kim Junkyu seorang, terbukti dimana pada fase terpuruknya Junkyu tertawa saat Haruto hadir dan binar sepasang manik Haruto hanya berpendar saat bersitatap dengan milik Junkyu.

“Sepertinya Junkyu sedang memiliki tamu.”

Lamunan Asahi buyar ketika seseorang dari belakang menginterupsi. Asahi menoleh, memastikan siapa.

Tepat disamping berdiri lelaki muda berpakaian khas dokter, lengkap dengan alat pemeriksaan serta kertas berisi catatan kesehatan.

“Maaf dokter, silahkan.” Asahi sedikit memberi ruang, agaknya dokter dihadapannya adalah dokter rawat Junkyu. Bukannya bergerak dokter tersebut hanya tersenyum dengan wajah aneh.

“Saya hanya lewat. Perkenalkan Yoon Jaehyuk, dokter penanggung jawab pasien Kim Junkyu.” Dokter Yoon mengulurkan tangan dibalas lawan bicaranya dengan sikap membungkuk.

Tangan kanannya ditarik kembali, mengusap tengkuknya canggung, “Kenapa tidak masuk?”

“Ah, itu saya mau ke kantin membeli minum.”

Dokter muda membulatkan bibirnya membentuk huruf O. “Kebetulan saya akan kesana, jika tidak keberatan boleh saya mengantar?”

-

Seakan lupa tujuan Asahi dan Dokter Yoon malah duduk pada bangku luar kantin rumah sakit. Semilir angin sejuk berhembus sedang. Rumah sakit ini terletak pada daerah cukup terpencil di kaki gunung. Cocok untuk menenangkan jiwa yang sedang kacau. Pun seorang yang sehat seperti Asahi sangat nyaman berada disini.

Pandangannya jatuh pada sebuah taman hijau rumah sakit tepat di depan. Bagaimana para perawat dengan uletnya merawat pasien. Betapa senangnya, melihat beberapa manusia hidup tanpa beban, berlari bebas tertawa seakan hidup dalam dunia negeri dongeng. Tidak seperti dirinya, bergelimang harta bukan kasih sayang.

“Maaf, kalau boleh saya tau nama anda siapa?” Tanya sang dokter memecah keheningan.

Asahi menyeruput sedikit americano kaleng yang dibeli sebelum menjawab, “Asahi, Hamada Asahi dan tolong jangan terlalu formal berbicara dengan saya.”

“Oh jadi kau Asahi, sahabat yang selalu diceritakan oleh Junkyu dan yang disana pasti Haruto mantan kekasihnya?” Asahi mengangguk membenarkan.

“Jadi dokter, sejak kapan menangani Junkyu?”

Dokter Yoon mengalihkan pandangannya dari menatap Asahi menjadi menerawang ke depan seraya mengulik kembali memorinya. Kapan pertama kali sosok Kim Junkyu datang menjadi pasiennya.

“Hampir dua tahun, dia di rujuk dari rumah sakit umum Seoul. Awalnya saya menjatuhkan vonis depresi sedang hanya minum obat dan sesekali terapi. Dia banyak cerita tentangmu, tentang Haruto juga. Junkyu berterima kasih dipertemukan dengan kalian berdua. Lalu, hari itu dia datang dengan sumringah berteriak gembira bahwa Ia akan sembuh sebentar lagi, obat yang kuresepkan hari itu ditolak. Junkyu sembuh karena Haruto kembaliㅡ”

Asahi tersenyum kecut, sebenarnya usaha yang Ia lakukan bukannya sia-sia. Dalil yang menyatakan Watanabe Haruto adalah dunia Kim Junkyu benar adanya. Datangnya Haruto kembali pada pelukan Junkyu menjadi obat paling mujarab, menyembuhkan mental dan fisik yang lemah seperti semula

“ㅡSayangnya itu tidak berlangsung lama. Entah dihari berapa dia datang dengan tangis, bercerita betapa takutnya dia, betapa semakin tertekannya. Saat itu Junkyu berada pada posisi sulit, melepaskan sakit menahan semakin tersiksa.”

“Lalu, apa yang dokter katakan?”

Dokter Yoon terkekeh, “Tidak ada, aku hanya mendengarkan setiap rentetan keluh kesahnya. Mempersilahkan Junkyu mengambil semua waktuku untuk mendengarkan setiap tangisan pilunya. Setelah puas dia menghapus air matanya, mengucap terima kasih, lalu pergi pulang.”

Lucu bukan dunia yang kita sedang jalani. Mendengar cerita dari Dokter Yoon tentang Kim Junkyu tentu membuat batinnya tertawa. Mereka berdua berusaha saling mengikhlaskan, mendorong Haruto berdiri tepat ditengah drama memuakkan, dibuat bingung oleh keadaan. Asahi kira disini dirinyalah sosok pahlawan, sosok paling tersakiti. Ternyata jauh disebrang, Junkyu lebih menderita. Sejak awal kewarasannya digerus habis oleh berita pernikahan, lalu datanglah ide bodoh Asahi menarik Junkyu pada kesenangan semu hingga Ayah Haruto turut ikut menghantam kejiwaan Junkyu telak, habis tak bersisa wujudnya.

Berkebalikan dari pahlawan, Asahi merasa disini Ialah monster sesungguhnya. Sejak awal Asahi adalah pembuat masalah dan sekarang Asahi telah membuat mereka bertiga jatuh pada jurang neraka hidup paling dalam.


Tepat siang hari keduanya memutuskan pulang. Diantar menuju area parkir oleh Bibi Kim.

“Terima kasih sudah repot hingga datang kemari.” Ungkap wanita paruh baya dengan tulus. Berpisah sejenak dengan keluarga di kota, harus mengurus keponakan pasti beliau sangat lelah.

“Bukan masalah. Kami dan Junkyu sudah seperti saudara.” Balas Asahi tak kalah tulusnya.

Persahabatan mereka sudah sampai taraf seperti saudara sendiri. Kalimat Asahi memang bukan basa-basi semata.

Sorot mata Bibi Kim berbinar menatap kedua sahabat terbaik keponakannya. Meskipun beliau tau kondisi Junkyu begini tak jauh dari masalah cinta segitiga diantara mereka tapi Bibi Kim tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Setiap orang pasti punya alasannya masing-masing pikirnya. Keadaan yang Junkyu alami saat ini beliau anggap murni sebagai cobaan hidup semata dan setiap ujian yang diberikan akan berangsur membaik seiring waktu berjalan.

“Kalian harus bahagia setelah iniㅡ”

Kalimat pendek yang keluar dari bibir wanita paruh baya yang masih terlihat cantik membuat keduanya menatap tidak mengerti.

“Junkyu akan baik-baik saja, kalian berdua tidak perlu berkorban terlalu banyak lagi setelah ini. Apa yang kalian lakukan untuk Junkyu sudah cukup. Pikirkan juga kebahagiaan rumah tangga kalian. Junkyu akan sembuh dengan sendirinya, saat ini yang kalian lihat adalah sebuah proses. Proses seorang Kim Junkyu berdamai dengan dunia.”

Jauh dalam hati kecilnya mereka berdua tertawa. Hubungan sakral pernikahannya akan kandas dalam hitungan hari. Harapan memperbaiki ada di kadar nol persen. Semua sudah sangat terlambat.

Asahi akan mengembalikan sendiri apa yang bukan miliknya.

Apartemen Haasahi

Matahari perlahan menghilang dari ufuk barat, nampak rembulan mulai muncul mengemban tugas menyinari dunia yang menggelap. Sekalian menemani dua makhluk tuhan yang sedang duduk santai pada balkon kamar.

Kapan terakhir kali mereka begini, duduk saling berhadapan tanpa tujuan apapun. Benar-benar sekedar duduk sambil menatap hiruk-pikuk kota dari atas apartemen. Menikmati setiap detik terakhir kebersamaan sebagai sepasang suami yang sah dimata hukum dan agama sebelum dipisahkan oleh tiga kali ketukan palu.

Benar, mereka sudah mantab berpisah. Itu, ditandai akan surat panggilan pengadilan yang datang tepat saat mereka sampai dari kegiatan mengunjungi Junkyu. Seakan dunia ikut mendukung sebuah keputusan pahit yang mereka ambil. Seakan dunia memang mau hal ini cepat terjadi.

“Besok rapat presentasi perusahaan akan dilakukan. Doain gue ya...”

Haruto mengangguk pasti, meletakkan cangkir teh hangat pada tempatnya semula. “Lo pasti bakalan dapet kok, kapan hari nggak sengaja liat hasil akhir powerpoint lo dan udah perfect. Dari pandangan CEO kaya gue sih gak mau mikir kelamaan langsung deal, soalnya proyeknya juga nguntungin secara lifetime.”

Asahi tertawa mendengar jawaban suaminya, iya detik ini Haruto masih suami sahnya. “Makasih.”

“Besok gue yang anter sama jemput, bolehkan?” Tanya Haruto meminta persetujuan.

“Ya boleh dong. Kebetulan lagi males bawa mobil sendiri.”

“Kalo lo dapet kita rayain berdua. Biarin besok jadi tugas gue buat bikin lo seneng.”

Asahi hanya dapat mengangguk meskipun suasanya mulai menjadi canggung dan dingin. Bulu kuduknya dibuat berdiri saat netranya menangkap gerakan Haruto berdiri dari duduknya. Nafasnya semakin tercekat saat dua kaki panjangnya berlutut tepat di depannya, menggenggam kesepuluh jari dingin Asahi, menghantarkan rasa hangat melalui belaiannya.

Detik kemudian obdisian keduanya bertemu, saling menatap tulus.

“Asahi, can I kiss you?

Pada detik yang sama dunia Asahi seakan berhenti. Kedua bola matanya melebar, jantungnya berdebar sepuluh kali lipat kencangnya, serta bibirnya mendadak kelu. Entah akan menjawab apa. Apakah Asahi mengijinkan jawabannya..., tidak tau.

Namun keterdiaman Asahi dianggap Haruto bukan pertanda penolakan. Dalam dinginnya malam bibirnya dihangatkan, bibir tebal milik Haruto menangkup sempurna miliknya. Memberikan kesan basah dan timbul perasaan campur aduk dalam hati. Pada akhirnya Asahi menangis, didetik-detik terakhir perpisahannya Asahi sadar, benih cinta yang Ia tanam atas nama Watanabe Haruto telah berbunga mekar sempurna.

Lewat kecupan yang diberikan malam ini, Haruto mencari kepastian akan keputusan yang diambil sekalian mengucapkan salam perpisahan.


Mobil Haruto berhenti sempurna di depan gedung setinggi lima tingkat tempat Asahi berkerja. Bibirnya menyunggingkan senyum menawan saat netranya menangkap sosok Asahi tengah berdiri pada pelataran kantor, sudah pasti tengah menunggu Haruto datang. Haruto mengambil bucket bunga dibangku samping, menata penampilannya sedikit sebelum keluar menemui sang suami.

Tepat setelah Haruto keluar dari mobil, Asahi sedikit berlari mendekat. Pipinya bersemu merah saat menangkap gestur tangan direntangkan. Seakan mengerti, tanpa ragu Asahi menubrukkan tubuhnya masuk dalam dekapan hangat suaminya.

“Selamat ya, kan gue udah ramal kalo lo pasti dapet partnernya.”

Asahi memukul punggung Haruto gemas, “Dih kepedean banget!”

Keduanya tertawa seakan tak pernah melewati lika liku hidup yang terjadi belakang ini.

Menyudahi pelukannya, Haruto masih menangkap lamat paras cantik dihadapannya. Haruto salut dengan kegigihan Asahi, bisa mendirikan sebuah perusahaan dengan keringatnya sendiri. Harusnya ini yang Haruto lakukan dua tahun lalu. Bukannya pasrah menerima setiap keadaan yang dibuat oleh Ayahnya. Harusnya Haruto lebih berani memperjuangkan kisah cintanya dengan Junkyu, memperjuangkan kedudukan supervisornya dahulu. Hidup mandiri tanpa pengaruh Ayahnya.

Iya ibarat nasi sudah menjadi bubur. Sikap pengecutnya menyeret orang tersayangnya ikut menempuh kesengsaraan.

Ditengah kegiatan saling memandang dering ponsel Haruto menginterupsi. Haruto merogoh sakunya, menerima panggilan tanpa perlu melihat siapa yang berani mengganggu.

“Ha-haru..to?”

Mendengar suara seorang perempuan bergetar membuat Haruto menjauhkan ponsel dari telinga. Sejenak dilihat siapa yang tengah menelpon dengan suara panik bukan main.

Bibi Kim

“Halo, Bibi ada apa?”

“Junkyu.. Jun-kyu!”

Terucap nama Junkyu menjadikan keduanya panik. Mengabaikan perayaan kesuksesan Asahi mereka memilih pergi menuju Junkyu.

-

Panik, satu kata yang tepat untuk mendeskripsikan suasana malam ini. Satu dokter, dua perawat, dan tiga orang tengah berlari mendorong brangkar pasien dengan raut ketakutan.

Disana terbaring lemah sosok Kim Junkyu dengan wajah pucat pasi. Mata indahnya bersembunyi dibalik kelopak mata yang tertutup, enggan terusik dengan suara tangisan, panggilan penuh asa dari orang-orang disekitarnya.

Disana Haruto, berlari sembari memegangi pergelangan yang terus mengucurkan darah. Kulit wajahnya merah sempurna, rahangnya mengeras hingga uratnya mencuat memanggil si pemilik nama Kim Junkyu sekuat tenaga seakan tiada hari esok.

Terakhir, disanalah Asahi berjalan cepat sambil memegangi tubuh lemah Bibi Kim, turut menangis sendu. Dalam benaknya masih tersimpan sejuta pertanyaan. Apa yang terjadi pada Kim Junkyu?

Bibi Kim pun bingung, entah menjelaskan bagaimana. Pasalnya wanita paruh baya hanya mengantarkan Junkyu pulang setelah hampir 9 hari dirawat. Kejadiannya sangat cepat, beliau keluar membeli sesuatu dan kembali hanya untuk menonton sang keponakan telah jatuh di atas genangan darahnya sendiri. Sebuah cutter berada dalam genggaman tangan yang lain menjadi bukti bahwa Junkyu sedang melakukan percobaan bunuh diri.

01.00 a.m

Tepat pukul satu dini hari Junkyu akhirnya sadarkan diri. Beratus kalimat syukur dihaturkan ketiga manusia yang masih betah terjaga dalam ruang perawatan. Sebenarnya Bibi Kim sudah meminta keduanya pulang sebab kemeja yang dikenakan Haruto penuh dengan darah, namun tak diindahkan. Kenyataan kondisi Bibi Kim yang masih syok dan tidak stabil malah membuatnya khawatir.

Ketika kedua manik Junkyu mulai nampak, hal pertama yang dilakukannya adalah menangis.

“Hiks.. Haruto? Asahi? Aku minta maaf hiks! Aku minta maaf karena masih hidup. Harusnya aku mati aja biar kalian berhenti khawatirin aku hiks... Harusnya aku mati... aku mau mati hiks...”

Tak ada yang bisa dilakukan Haruto dan Asahi selain menggenggam kedua tangan Junkyu, membisikkan kata-kata penenang.

“Ssttt... Junkyu please jangan ngomong gitu, semuanya bukan salah kamu.” Bisik Haruto tepat di samping telinga Junkyu. Sejak tadi Haruto paling menghindari pandangan pada pergelangan kiri Junkyu yang dibalut perban. Hatinya seperti dicubit keras meskipun bukan dirinya yang menorehkan luka.

Asahi masih berdiri disisi lain brangkar, masih juga menautkan jemarinya pada Junkyu erat. Sorot matanya sendu, merekam setiap sikap keputusasaan, setiap penumpahan penyesalan yang terjadi selama kurun waktu dua tahun. Menumpahkan seluruh keluh kesah dengan jujur, enggan dibendung lebih lama.

Hari ini untuk yang kedua kalinya Asahi menjadi saksi betapa rapuhnya Watanabe Haruto jika itu mengenai Kim Junkyu.

Dihadapan Junkyu dan dirinya punggung tegap Haruto bergetar hebat, menandakan pemiliknya pun menangis. Menghaturkan ribuan kata maaf atas apa yang terjadi.

Tepat hari ini dan malam ini, Aku Hamada Asahi bersedia mundur. Mencari tempat yang tepat untuk berdiri, kembali menjadi saksi bagaimana kedua sahabatnya menjalin kasih.

Hamada Asahi secara resmi mengembalikan Watanabe Haruto pada rumah seharusnya yaitu Kim Junkyu.


Epilogue: 10 years later.

Sepasang manik cantik nampak menyipit tatkala pendar cahaya matahari sore menyorot langsung masuk dalam pupilnya. Meskipun begitu iris berwarna karamel memancarkan binar serta refleksi gerakan deburan ombak di depannya. Indah, suaranya pun menenangkan hingga merasuk jiwa. Bagaimana ombak kecil disana pecah terantuk batu pembatas, tepat di atas langit jingga burung perandai berbondong-bondong menuju arah pulang.

Meskipun begitu jauh di depan sana dua sosok manusia yang tak luput dari pengelihatannya sejak tadi enggan beranjak. Berdiri beriringan, membiarkan kaki-kakinya basah dihempas sisa ombak. Terhitung empat jam mereka disana namun tak mengurangi setiap afeksi pun perhatian pada masing-masing, sang dominan tanpa malu mencumbu setiap pahatan sempurna yang telah diciptakan Tuhan seperti tiada hari esok. Seperti dunia yang diciptakan khusus untuk mereka berdua.

Lamunannya buyar ketika lagi-lagi dering ponsel menginterupsi. Si paras manis pemilik nama Hamada Asahi mengembangkan sebuah senyuman geli saat sebuah nama muncul pada layar ponselnya. Kepalanya mendongak, sedikit terkejut bahwa dua insan jauh disana tengah menatapnya. Asahi mengangkat ponselnya tinggi, digoyangkan tanda Ia ijin untuk pergi terlebih dahulu. Hingga lambaian tangan disana sebagai balasan ucapan selamat tinggal.

Berjalan sedikit menuju pintu keluar dirinya dihadapkan pada sosok pria. Berpakaian kemeja cukup sederhana namun wajah tampannya menambah kesan mahal.

“Katanya nggak bisa jemput.” Titah Asahi sambil mendecak.

Si pria terkekeh, masih dengan khas wajah anehnya. Dicubit sedikit pipi tirus Asahi gemas, “Tadi langsung cepet-cepet ngisi data pasiennya.”

Asahi tak habis pikir dengan manusia satu ini. Bukan sekali Ia mengesampingkan pekerjaannya hanya untuk menemuinya.

Keduanya mulai berjalan, menyusuri jalan setapak menuju parkiran kendaraan. Sudah sore, pantai juga telah sepi.

“Kerja tuh yang bener, teliti. Ntar dipecat baru tau rasa.”

“Ya gapapa, asal bukan lisensi dokterku yang dicabut. Kerjaan bisa dicari, tapi kalo kamu kenapa-napa nggak ada gantinya.” Balasnya enteng.

Asahi bukannya tak senang, hanya saja Ia belum terbiasa. Baru kali ini Asahi diperlakukan begitu spesial, berada pada strata tertinggi prioritas si pria dokter yang telah mengubah hidupnya selama 5 tahun belakangan. Baru kali ini Asahi merasa kehadirannya di muka bumi begitu penting.

“Dokter Yoon!”

“Asahi!”

Panggil mereka bersamaan. Saking terkejutnya tanpa sadar langkah keduanya juga berhenti. Di jalan setapak yang sepi dengan langit yang semakin gelap keduanya saling berhadapan. Bola mata keduanya saling menatap memancarkan binar-binar penuh kekaguman.

Jantungnya berdebar, perutnya geli, seperti ada jutaan kupu-kupu bergerak di dalamnya. Selalu seperti ini saat ditatap dengan wajah penuh keseriusan. Asahi mematung, meneguk ludahnya kasar, menunggu dengan cemas kejutan apalagi yang sedang pria ini siapkan untuknya. Dua tahun masa pendekatan dilanjut tiga tahun berkomitmen dengan pria dokter ini tidak membuat Asahi terbiasa dengan seluruh tingkah lakunya.

Yoon Jaehyuk memang sederhana, namun penuh kejutan.

“Tada!”

Asahi semakin dibuat terkejut. Jari manisnya tersemat cincin perak cantik, dipasangkan begitu saja tanpa mengucap kata-kata manis sebagai pembukaan. Dipandangi tangan seputih susu yang sedang disinari lampu penerang, dikecup cepat punggung tangan Asahi. Hanya melalui kecupan ada sejuta perasaan tulus dihaturkan.

“Dengan ini aku mengajakmu melangkah lebih jauh, naik satu tingkat lebih serius daripada sebelumnya.”

Yoon Jaehyuk, pria dengan seribu guyonan sampis. Tetapi keseriusannya selalu terbukti benar bukan bualan semata.

Tepat hari ini, disaksikan jalan setapak diiringi suara deburan ombak. Hamada Asahi siap berdamai dengan rasa sakitnya. Siap mengikhlaskan masa lalunya yang telah bahagia dengan dunianya sendiri. Yakin secara lahir dan batin memulai lembaran baru dengan Yoon Jaehyuk.

Untuk Watanabe Haruto dan Kim Junkyu, sahabatku. Aku harap kalian pun bersama selamanya.

Seperti inilah akhir dari kisah romansa. Terkadang melepaskan adalah jalan terbaik. Karena Tuhan telah menyiapkan akhir bahagia sesuai porsinya masing-masing.

FIN.


by: teuhaieyo


⚠️trigger warning⚠️: act of mental illness, angst, harsh words.


kilas balik

“Sa, kira-kira hubungan gue sama Haruto bakal langgeng nggak sih?”

Ditengah kegiatan menulis laporannya pemuda Asahi itu berhenti sejenak. Angin berhembus lumayan kencang hingga jarinya bergerak reflek menyampirkan rambut yang sedikit panjang kebelakang telinga. Perhatiannya saat ini fokus pada sosok manis tak lain adalah Junkyu, sahabatnya. Hanya berdua, tanpa sosok Haruto.

Asahi menunduk lalu terkekeh geli. Pasalnya Junkyu bukannya mengerjakan laporan yang sama malah terbaring santai di atas rumput lapangan kampus. Bibirnya mengerucut, matanya memandang langit biru yang sedikit terhalang dedaunan pohon beringin. Pemuda jangkung itu pun tak terganggu oleh terik matahari menghempas paras manisnya.

“Hari ini gue dapet lima death note...” Adunya, dilanjutkan tawa garing. Sedangkan Asahi tengah menunjukkan kerutan di kening.

”... Fansnya Haruto tuh bar-bar bener. Apa gue segapantes itu ya?” Lanjutnya.

“Ih tapikan Haruto yang ngejar-ngejar gue. Kok jadi gue yang diteror.” Kedua tangannya bersendekap di dada. Mengingat hari-hari kisah cintanya yang jauh dari kata tenang, Junkyu mendadak marah.

“Tapi lu cinta juga kan sama Haruto?” Asahi kembali fokus menulis deratan kata pada laporan yang sempat ditunda sejenak. Giliran Junkyu mengalihka pandangan pada sahabat kecilnya.

Junkyu merengut, ini Asahi lagi meragukan perasaannya sama Haruto?

“Ya cinta lah, udah cinta mati.”

“Nah, yaudah sih terima aja anceman gajelas gitu. Udah jadi resiko jalan sama prince kampus.” Ujar Asahi; masih tetap fokus pada pekerjaannya.

“Tapi kan- AW!”

Sebelum Junkyu mulai mengeluh kembali Asahi memukul dahi Junkyu dengan bolpoin digenggamannya. Nggak fokus juga makin lama.

“Gapake tapi, selama ada gue hubungan kalian aman sampe nikah. Gue sendiri yang bakal gandeng tangan lo ke Haruto pas acara nikahan. Sekarang kerjain laporannya biar cepet lulus!”

Kalimat itu dahulunya hanya sebuah ancaman agar Kim Junkyu segera mengerjakan laporannya. Kendati begitu tetap membuat pemuda manis bahagia, melekatkan pada hati serta dalam pikirannya. Tanpa sadar ekspektasi hidup kadang tak bekerja sesuai kehendak manusia. Dimana realita yang terjadi bisa berbalik dari apa yang diharapkan.


Dalam sepi sosok manis itu berkutat dengan laptopnya. Hanya suara mengetik bertarung dengan detak jam dinding memenuhi ruangan. Sesekali desahan kecewa terdengar bersamaan jarinya mengetuk tombol backspace dengan ganas.

Tubuh tegaknya Ia jatuhkan pada sandaran kursi. Menatap frustasi layar laptop dengan worksheet terlihat masih bersih, putih. Manik cantik itu berlalu pada jam dinding lalu bergantian mengintip beberapa piring tertata rapih berisi makanan yang telah dingin.

Pukul 10 malam dan suaminya belum juga pulang.

Sudah hampir satu tahun, Asahi hidup dengan kesendirian. Tugasnya sebagai seorang suami dari Watanabe Haruto hanya bangun, sarapan, dan memastikan pria itu pulang walau hingga larut malam. Bahkan terkadang hanya denting ponselnya tanda pesan masuk, pria itu meminta ijin tidak pulang. Terkadang penantian Asahi adalah sebuah kegiatan sia-sia.

Yah beginilah resiko. Tidak menyangka bahwa permainan yang dibuat menjebak dirinya sendiri. Menjadi sosok pahlawan dengan menyerahkan sang suami pada masa lalunya, orang yang sampai sekarang pun lebih membuatnya bahagia ketimbang dirinya.

Ceklek

Lamunannya tersadar saat suara pintu apartemen dibuka. Haruto nampak menghampiri Asahi dengan raut heran.

“Belum tidur? Tadi kan udah kirim pesan kalau gue pulang telat.”

Asahi tertegun, hatinya begitu hangat saat tanpa dosa tangan Haruto membelai rambutnya. Entah apa nama perasaan ini.

Haruto duduk pada salah satu kursi terdekat, meletakkan tas kerjanya hingga menimbulkan suara cukup keras yang mana mengembalikan kesadaran Asahi.

“Eh iya- ya ga liat hp, lagi fokus ini dari tadi.” Elaknya.

Haruto mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat apa yang ada di layar laptop.

“Ngerjain apa? Kan bisa besok aja.”

Asahi tersenyum kecut, bingung ingin memberi tahu suaminya pasal keputusannya atau nanti saja. Toh dirinya masih dalam proses mencari.

“Kalo misalnya gue pengen kerja boleh ga sih?” Ungkap Asahi akhirnya. Meskipun ada rasa takut dan ragu setidaknya Haruto mungkin punya advice.

Haruto menatap Asahi bingung, “Gausah, aku aja yang kerja.”

Miris. Jawaban Haruto seolah menyanjung Asahi layaknya pangeran yang harus Ia jaga. Tidak boleh keluar melakukan hal yang membuatnya kelelahan. Padahal kenyataannya Asahi tak lebih dari anjing penjaga rumah. Menunggu tuannya pulang meskipun waktu menunjukkan dini hari.

“Gue udah kelamaan di rumah, bosen terus mikir sayang banget punya ijazah S1 tapi gak dibuat kerja.”

“Lo tuh emang mau kerja buat apaan? Kalo emang buat kebutuhan, duit yang gue kasih kurang tinggal bilang, gue masih suami lo, Sa jangan sungkan.”

Asahi mengusap tengkuknya canggung. Sebenarnya ada rencana gila yang ingin Ia buat dan mungkin setelah satu tahun lamanya keberanian baru muncul. Memulai hidup mandiri merupakan langkah awal dari semuanya.

“Gue pengen ngumpulin duit, terus merintis usaha sendiri dari nol yah beli saham siapa kek pokoknya pengen usaha, pengen ngehasilin duit sendiri.”

“Sa, ini lo ga lagi bikin rencana aneh-aneh kan?”

Si manis tertawa, lebih dibuat-buat demi menutupi raut yang tegang. Watanabe Haruto ini rupanya sosok cenayang.

“Enggaklah...”

“Kenapa ga minta papa ajasih, pasti dikasih gausah capek-capek kerja analisis sana sini. Atau lu mau kerja sama gue, jadi sekertaris pribadi?”

“Haruto... Untuk yang satu ini aku punya tujuan. Satu aku ingin mandiri dan satu lagi aku gabisa kasih tau sekarang. Pertanyaanku masih di awal aku boleh kerja atau nggak?”

Haruto tertegun. Kedua obsidiannya dikunci si manis dengan kesungguhan. Ada perasaan tak nyaman hadir dalam tubuhnya, inginnya tetap teguh melarang namun yang satu ini Haruto sungguh tidak tahu.

“Kayaknya gue gabisa bilang nggak ya, Sa?”

Dengan begitu Asahi mendesah lega dilanjutkan oleh senyum kemenangan.

“Makasih ya.”

Semenjak keputusan hari itu apartemen menjadi kosong hampir setiap harinya. Haruto yang semakin sibuk ditambah Asahi baru merintis usaha barunya. Asahi bersyukur dirinya begini juga berkat bantuan Haruto. Tak perlu bersusah payah bekerja, Haruto membantu menopang usaha yang masih baru. Memberi saran perusahaan mana yang bagus untuk dijadikan partner bisnis.

Kendati keduanya sibuk, Asahi lebih senang karena punya banyak topik untuk dibahas dengan sang suami saat bersama. Apakah ini menjadi titik awal perjalanan cinta mereka, apa memang begini takdirnya. Entahlah biarkan waktu yang melanjutkan alkisah ini hingga seluruhnya menyentuh titik bahagia sesuai porsinya masing-masing.


Malam ini kota diguyur hujan. Saking lebatnya hingga suara gemuruh dan petir ikut meramaikan. Cuaca mendadak dingin, hawanya cocok dimanfaatkan untuk menempel dengan yang terkasih. Berbagi suhu tubuh, saling menghangatkan.

Tapi tidak dengan Kim Junkyu. Sosok manis itu sedang menatap nanar televisi yang menyala. Menayangkan acara komedi malam hingga guyonannya mampu menghadirkan cairan bening yang terus turun dari kedua binar cantiknya. Tubuh jangkungnya dibungkus hangat dengan selimut, takut-takut ada yang melihat betapa rapuh batinnya saat ini.

Junkyu muak menjadi lemah, terus dikasihani oleh orang disekitarnya. Disamping itu Ia tak kuat berdiri sendiri. Junkyu suka perhatian, masa bodoh tulus atau sekedar iba tapi hatinya menjadi tenang.

Seketika tubuhnya menegang saat deheman berat menyapa indra pendengarnya. Punggungnya diusap lembut, perasaan yang coba dikirimkan sampai walau terbatasi selimut tebal. Setelah itu, pundaknya jadi berat. Beberapa helai rambut sosok disampingnya berhasil menggelitik geli bagian yang tak tertutup selimut.

“Selimutnya lebih hangat hingga enggan memelukku?” Suaranya lebih terdengar seperti geraman. Ditambah alunan rintik hujan membuat semakin merinding.

“Kyu?”

“Kamu ngapain kesini? Pulang aja kemaren kan udah kesini.” Ucapnya dengan nada menahan tangis.

Sosok kamu mengangkat seluruh beban tubuhnya. Menarik paksa selimut yang membungkus cintanya. Menatap Junkyu sedikit jengkel karena malah mendapat tatapan sendu.

“Kamu kenapa? Hmm?” Tanyanya lembut, jemari panjang lelaki Haruto digunakan untuk mengusap air mata yang masih terus mengalir.

Junkyu menggeleng, memilih bungkam. “Kamu pulang aja ya. Aku mau sendiri dulu.”

“Nggak! Aku gak mau pergi sebelum denger alesannya. You need me, Kim Junkyu!”

Nadanya tinggi cukup membuat Junkyu menciut takut. Kedua bahunya digenggam kuat. Jika sudah begini mana ada jalan lain untuk tetap sembunyi.

“Aku udah nggak kuat, Haru. I feel safe when you're around me, tapi pas kamu nggak ada hidup aku gak nyaman. Papa kamu neror aku terus. Aku pengen sembuh, Haru. Aku capek minum obat tapi kalo gini caranya aku makin gabisa bebas.”

Genggaman itu mengendur seiring hatinya muncul rasa tercubit. Perih, belahan jiwanya ternyata lebih sakit daripada sebelumnya. Haruto benci, lebih memilih tutup mata akan setiap ancaman yang ayahnya bagi. Tanpa mengingat ada Junkyu yang harus benar Ia jaga. Ayahnya itu bajingan Ia kira Haruto bisa bebas setelah keinginannya dikabulkan? Tentu tidak. Seluruh gerak giriknya dipantau detail 24/7.

“Aku udah disini aku bisa jaga kamu sekarang.”

“Kamu gabisa, tanggung jawab kamu yang sebenernya bukan aku. Asahi di rumah nungguin kamu, so please go home. You don't need to worry about me, waktu yang bakal bantu aku sembuh dan kamu, aku harap kamu belajar cinta sama Asahi.”

“Maaf yaa... maaf Junkyu...” Tanpa banyak kata pembelaaan Haruto menarik bunga mataharinya dalam sebuah dekapan hangat. Haruto gagal, menjaga dua hati memang tak semudah hanya dibayang.

Sejak awal kisahnya salah, penempatan tokohnya terlampau acak. Pada akhirnya semua yang terlibat harus merasakan sakit, bingung, dan lelah bersamaan. Saling dorong menuju tata letak yang diinginkan dengan menyalahi garis takdir membuat keadaannya runyam.

Haruto memang kaya, dapat menggenggam dunia. Tapi untuk jalan takdirnya sendiri...

Maaf, Haruto tak punya andil untuk itu.


2 bulan kemudian

Bolehkah membenci sebuah perpisahan?

Sebuah perpisahan adalah sebuah konsekuensi perjumpaan. Jika sudah berpisah selalu ada rindu yang sulit ditenangkan.

Beginikah keadaan yang tepat dengan Watanabe Haruto. Ditalak habis-habisan dengan belahan jiwanya membuat hidup agaknya berantakan. Berusaha membenahi barang rusak namun makin menghancurkan, sekarang Ia didorong semakin menjauh.

Haruto marah dengan dunia. Pada ayahnya yang membuat ini terjadi, pada Junkyu yang memaksanya pergi, pada Asahi yang selalu diam. Kenapa begini? Kenapa tak ada satupun yang bisa dijadikan tempatnya pulang, tempatnya mengadu. Haruto itu korban, tapi kenapa rasanya seperti dihukum telak seperti pelaku kejahatan.

“AAAAAAA!!!! AHAHAHAHA HIKS....”

Tubuhnya menggila, seluruh rasa sakit seketika datang menyerang. Batinnya lemah, Watanabe Haruto lemah. Berlagak baik-baik saja saat diluar dan terkapar tak berdaya saat sendiri bersama sepi.

“WATANABE ANJING- HAMADA... FUCK! KIM JUNKYU....” Teriaknya kesetanan. Apapun barang dalam jangkauan dilempar sebagai bentuk pelampiasan.

“Haruto! Haruto! Lo kenapa?”

Asahi baru saja masuk dalam apartemen, sudah menyaksikan tayangan paling epic selama Haruto di rumah. Ya, Haruto belakangan ini sering berada di rumah. Hanya diam seperti semangat hidupnya direnggut habis-habisan. Auranya mendingin, mata tajamnya kembali hingga Asahi sendiri takut tuk sekedar mendekat.

“Haruto please dong kalo ada apa-apa cerita sama gue.”

Bagai bertemu tiang sandaran Haruto memeluk Asahi dengan lemah. Menuntaskan seluruh air matanya dalam dekapan hangat sang suami. Asahi khawatir baru kali ini nampak Haruto begitu tertekan. Mungkin inilah sebuah puncak, Asahi tau Haruto hanyalah manusia yang punya batas kesabaran.

Mau tak mau Asahi ikut larut dalam sedih. Suaminya begini juga akibat campur tangan orang tuanya. Disini Asahi yang paling bersalah.

“Tolong Haruto bertahanlah sebentar lagi. Gue bakal balikin keadaan seperti seharusnya.”

Belum cukup sampai disitu pintu apartemen terbuka paksa. Sosok pria paruh baya berjalan mendekat dengan gaya angkuh. Sepasang manik Asahi membulat dibuatnya.

“Papa Watanabe?”

“Oh, di rumah kau rupanya anak keras kepala.” Tuturnya dengan nada angku.

Haruto membuang muka, muak dengan wajah Ayahnya. Mau apalagi si tua sampai sudi berkunjung.

Obsidian sang ayah berkilat marah. Telapaknya terbuka seperti meminta sesuatu. Si sekertaris yang tengah berdiri dibelakang menyerahkan berkas dokumen. Dengan sedikit tenaga dilemparkan begitu saja dihadapan sang putra

“Kembali ke kantor, kau membuatku rugi ratusan juta.” Titahnya. Nadanya datar nan dingin, Asahi jadi mengerti Haruto pun punya sifat demikian turunan sang ayah.

“Cukup. Aku tidak mau berurusan denganmu.” Balas Haruto, masih enggan menatap ayahnya.

“Anak tak tau diri!”

Tuan Watanabe geram, dengan kedua tangannya kaos kumal Haruto ditarik hingga tubuhnya terangkat. Kedua pasang netra saling menatap sengit.

“Apa? Papa mau pukul Haruto lagi? Pukul Pa! Ayo jatuhin harga diri Haruto dihadapan suami Haruto sendiri...”

”...Kenapa diem? Kemaren enteng aja tuh bikin muka memar. Papa takut harga diri Haruto jatuh di depan menantu Papa atau Papa takut kelakuan busuk Papa terbongkar dihadapan anak kolega Papa?!”

“Diam kamu!” Tubuh Haruto dihempas begitu saja di atas tanah.

Baik Asahi maupun pemuda sekertaris tak ada yang berani bersuara. Anggaplah Asahi pengecut tapi dengan diam setidaknya tak memperkeruh suasana.

“Inilah kenapa Papa tidak merestui hubungan kamu dengan anak gelandangan itu. Pembangkang!”

“APA PAPA BILANG? HARUTO BEGINI ITU KARNA PAPA! PAPA SADAR NGGAK KALO PAPA ITU EGOIS!”

“TERSERAH KAMU MAU BILANG PAPA KEJAM. PAPA MAU KAMU BESOK KERJA.”

“NGGAK! Cukup ya Pa, Haruto capek nurutin semua maunya Papa. Sampai masalah jodoh pun Haruto ikhlas. Haruto udah nikah sama Asahi dan ini akan jadi permintaan terakhir Papa yang bisa Haruto kabulkan sebagai seorang anak. Mulai detik ini Haruto mau hidup sesuai keinginan Haruto, mau sampai Papa nggak anggep Haruto anak pun Haruto udah gak peduli. Silahkan keluar!”

Tuan Watanabe tertawa sarkas lebih kearah meremehkan. Tuan Watanabe membenarkan posisi jas mahalnya yang sedikit berantakan. Bibirnya tersungging senyum kemenangan.

“Haruto.. Haruto... Kamu lupa ya nak, Papa ini orang tua kandung kamu, yang paling ngerti titik terlemah kamu. Kamu berani begini dengan Papa apa tidak takut pacarmu akan terluka?”

Haruto maju mendekat layaknya menantang. Emosinya kembali menggebu. Haruto nggak bodoh, Haruto mengerti betul siapa yang sedang dibicarakan sekarang. Kim Junkyu, memang benar titik lemah bagi Watanabe Haruto.

“Jangan sentuh Junkyu. Junkyu udah jauhin Haruto. Haruto udah nggak ada hubungan apa-apa sama Junkyu.” Jujur Haruto takut; ingatkan Papanya orang paling kejam juga nekat.

Tuan Watanabe tersenyum. Menepuk kedua pundak putranya yang terangkat ke atas. Lantas pergi tanpa patah kata terakhir.


Keesokan paginya kembali menjadi normal. Sepasang suami menikmati sarapan sederhana meskipun dalam suasana cukup awkward lengkap dengan pakaian formal khas orang kantoran. Haruto melirik Asahi dari sudut matanya. Si manis diam sejak kemarin, Haruto juga sempat melihat tubuh kecilnya hampir limbung beberapa kali.

“Asahi?” Panggilnya lembut.

Asahi dipanggil begitu jadi berdebar, menoleh lengkap dengan senyum manis. “Iya?”

“Lo pucet. Lagi sakit ya?”

Pipi putih itu mendadak memerah saat menerima belaian dari jari panjang sang suami. Jujur, satu setengah tahun hidup dengan Haruto pastilah timbul perasaan cinta. Sedikit, perhatian kecil pria itu membuatnya nyaman. Pun Asahi sadar sifat lembut Haruto buah tangan dari sosok masa lalunya.

“Gue nggak papa kok. Lagian hari ini rapat penting gabisa ninggal.”

“Gue anter ya, nanti pulangnya juga gue jemput.”

“Nggak usah, kan kantornya beda arah banget. Gue baik kok jangan khawatir.”

Keadaan diam sejenak, hanya ada suara alat makan sebelum Asahi mengeluarkan suaranya lagi.

“Haruto, kalo lo sama gue udah ga sibuk main yuk, aja Junkyu juga. Kangen main kayak dulu lagi.”

Hampir Haruto tersedak. Tiba-tiba? Main bertiga? Asahi ini gila atau gak waras? Gimana bisa pasangan hidup dan mantan pacar main bersama. Asahi we were far away from the past.

“Nanti gue pikirin lagi ya.”

“Lo sama Junkyu ada masalah ya?” Tanya Asahi penuh hati-hati. Takut malah menyakiti perasaan suaminya.

Haruto menghela napasnya berat, “Maaf ya, Sa. Gue sama dia kayaknya gabisa sama-sama lagi seperti yang lo pengen.”

“Papa nyakitin Junkyu ya? Maafin gue ya karna keluarga gue kita kayak gini.”

“Sa udah ya... Anggep aja gue gini juga karna gue peduli sama Junkyu.”

Masalah kali ini pengecualian, Mereka harus cari jalan keluarnya masing-masing. Jika dengan tak bersama membuatnya jadi baik-baik saja maka lakukan.

Toko Bunga

Malam hari kembali hujan cukup deras hingga pemuda jangkung memilih menunggu di depan tempatnya bekerja. Seluruh toko di daerah satu persatu menjadi gelap. Tiada orang lewat selain si pemuda akibat hujan begitu lebat. Lengan si jangkung diulurkan hingga tiap tetesan menabrak permukaan kulit. Perasaan tenang muncul ketika hidungnya dimanjakan dengan bau petrichor dari tanah. Pemuda Junkyu mengingat sudah berapa lama hidupnya berantakan, tak lagi menganggap kegiatan kecil ini kebahagiaan. Junkyu ingin seperti dahulu, bersenang-senang walaupun hanya ada bayangnya sendiri.

Salahkan sang dewa cinta. Mempertemukan hatinya dengan si pria dingin. Hingga jiwa dan raganya jatuh ke palung paling dasar dalam perasaan yang mereka buat. Hingga Junkyu yang mandiri dibuat tergantung oleh sosoknya.

“Apa kamu bahagia seperti ini?”

Tanpa perlu dilirik pun Junkyu tau suara siapa. Sosok yang sangat dihormati sekaligus sosok yang sangat ditakuti. Pria paruh baya yang menjadi momok dalam hidup percintaannya.

“Apa kamu bahagia hidup berlimpah belas kasih orang-orang?”

Tidak. Junkyu tidak memilih hidup seperti ini.

“Pergilah, kasihani anak dan menantuku. Biarkan mereka hidup dalam ketenangan.”

Cairan bening menetes tanpa berhasil dicegah. Mengalir deras layaknya air hujan yang jatuh dari langit hitam.

Apa kehadirannya benar-benar tak berguna? Sekalipun sampah Ia rasa lebih dihormati daripada harga dirinya. Apa Junkyu benar tidak memiliki hak atas kehidupannya? Apa lagi yang diinginkan orang kaya? Membuatnya menyerah akan cinta pun kurang cukup. Bagaikan Tuhan yang mampu membolak balikkan nasib manusia.

“Aku akan pergi, jauh... jauh dari sini.”

“Pergi jauh sampai ujung dunia pun tak membuat anakku berhenti mengejarmu.”

Dadanya sesak, pandangan mata mendadak kabur. Tubuh yang selama ini telah mampu bangkit jatuh terkulai lemah di atas pelataran toko. Seluruh bagian tubuhnya diserang sakit hingga pikirannya tak mampu lagi diajak kompromi. Kewarasannya direnggut semua. Terima kasih suara hujan, setidaknya tangisan pilu meraung teredam sempurna. Junkyu tak perlu takut seseorang datang dengan rasa iba.

Jika mati adalah pergi yang dimaksud, maka Junkyu janji sebentar lagi malaikat maut datang menghampiri.


Dalam apartemen yang hangat Haruto lari kalang kabut. Hari memasuki tengah malam ditambah hujan enggan berhenti membuat sang suami jatuh sakit. Langkah kaki panjang berjalan masuk keluar kamar dengan panik mengambil obat atau mengganti air kompres. Mengupayakan agar suhu tubuh suaminya turun hingga besok bisa dibawa ke rumah sakit.

“H..ha..ru..to?” Cicitnya lirih dengan mata tertutup. Tangannya coba diangkat seolah ingin meraih sesuatu.

Haruto meletakkan baskom di bawah tempat tidur, mengambil jemari mungil yang terasa panas. Menggenggamnya erat dengan perasaan khawatir.

“Iya kenapa mau apa?”

“Aku.. m..mau.. ngomong..sst..sesuatu..” Ujarnya dengan susah payah.

“Nanti aja ya, Sa. Lo lagi sakit gini ke rumah sakit yuk! Aku takut kamu kenapa-napa.”

“Junkyu... junkyu?” Bisiknya memanggil-manggil.

Asahi ini sudah sakit masih memikirkan orang lain.

“Junkyu baik-baik aja. Ayok udah ke rumah sakit kita.”

Masa bodoh hujan, daripada terjadi sesuatu yang tidak diingkan lebih baik bergerak sekarang. Haruto memposisikan kedua lengannya dibawah tengkuk dan celah lutut Asahi. Menggendongnya ala bridal style, berlari secepat kijang hingga tiada satupun yang dapat menghentikan langkahnya.

Sunflower🌻 is calling...

Gerakannya berhenti sejenak setelah berhasil menancapkan kunci mobil. Menggaruk rambutnya frustasi melihat siapa yang menelepon. Kim Junkyu tolong jangan sekarang.

“Halo?”

“Halo apa benar Tuan-”

“Nanti ya, Kyu. Asahi harus buru-buru dibawa ke rumah sakit. Nanti aku telpon lagi yaa, kamu minum obat dulu. Okey?”

“Halo? Tuan?”

Melempar ponselnya ke bangku belakang, tangan Haruto bergerak cepat mengubah haluan kunci mobil. Kaki panjangnya menekan gas dengan kasar hingga mobil hitam itu berlari menembus hujan.

Sunflower🌻 is calling...

tut..

tut..

tut..

Nomor yang anda tuju sedang sibuk, silahkan coba lagi.

Kepada Junkyu, untuk kali ini Watanabe Haruto harus memilih Asahi.

to be continue....

Part 4. End of Our Story


by: teuhaieyo