hjkscripts

an ordinary girl with full of dreams.


⚠️trigger warning ⚠️ : act of mental health, rated 🔞, harsh words.


Malaikat berhati dingin, begitu mereka mendeskripsikan sosok Watanabe Haruto. Pria menawan dengan tubuh tinggi, dada bidang, ditambah mata elang mengintimidasi. Siapa yang tak kenal, satu-satunya pewaris perusahaan properti asal Jepang yang berjalan di Korea. Meskipun begitu tak pernah nampak gelagat sombong dari empunya.

Watanabe Haruto pria dominan diantara kedua sahabat manisnya. Membuat siapapun ingin sekali menjadi bagian dari mereka. Namun bagaimana mensejajarkan derajat saja mereka sudah tak mampu. Dimana ada sosok kecil pemilik nama Asahi disana, pangeran pendiam yang juga anak pemilik perusahaan ternama.

Siapa yang menyangka dari banyaknya orang yang memilih mundur ada Junkyu si sederhana yang tak malu mendekatinya. Junkyu yang ceria tiba-tiba datang melengkapi kelompok sewaktu masa orientasi SMA. Bukan, bukannya Junkyu tak memiliki teman, awalnya Junkyu iba memutuskan meninggalkan anggota kelompoknya demi dua pemuda yang tengah linglung. Mereka hanya bertiga meskipun jumlah yang diinginkan harusnya lima. Junkyu yang positif mengucapkan ada aku sudah cukup ramai seperti lima orang.

Sejak saat itu mereka jadi dekat. Entah Junkyu yang kelewat friendly atau Asahi pun Haruto yang malas bergaul. Hingga tak terasa salah satu dari mereka tumbuh benih cinta. Pangeran es Watanabe Haruto menaruh hati pada si ceria Kim Junkyu. Berterima kasih pada malaikat cinta Hamada Asahi keduanya berhasil mengeratkan benang merah hingga 5 tahun lamanya.

Bagi Haruto, Junkyu itu matahari. Hangat, hingga es dalam tubuhnya perlahan mencair. Senyumnya cerah hingga siapapun yang melihat pasti ikut tersenyum. Dan Junkyu memberikan cahayanya menyinari kehidupan abu-abu milik Haruto. Junkyu adalah titik poros dunia Watanabe Haruto.

Mulai hari ini dunia Haruto dilanda kegelapan semenjak perginya sang matahari.

Haruto tersenyum remeh sembari menatap plakat keramik bertuliskan nama serta jabatan barunya. Sungguh lucu mengingat bagaimana dunia membuat sebuah skenario cerita. Beberapa orang diluar bekerja keras demi sepeser won hingga tak terpikir naik pangkat akibat tau akan susahnya. Coba lihat dirinya, hanya dengan menikah sekejap bisa menggenggam dunia.

Masih jelas dalam bayangnya si anak nakal Haruto melarikan diri dari rumah, menghindari papanya yang terus menuntut menjadikan penerus perusahaan. Haruto jelas menolak, kuliahnya belum selesai dan lagi Haruto ingin mandiri. Mengusung usahanya sendiri dari nol tanpa campur tangan papanya. Disanalah mereka, rumah sewa sederhana milik Junkyunya tersimpan tekad bagaimana sosok Haruto mencari jati diri, hidup bersama sang support system tempat hatinya berlabuh.

Masih jelas diingatannya bagaimana sang kekasih tak kenal lelah membantu menulis beratus resume, memberinya pelukan sayang saat melihat tulisan BELUM DITERIMA. Saat pekerjaan itu datang Junkyunya adalah orang pertama yang menangis bahagia. Haruto masih ingat sebulan yang lalu dirinya baru diangkat menjadi supervisor dan itu atas kerja kerasnya. Pulang ke rumah sederhana dengan dua bungkus ayam dan beberapa kaleng beer. Merayakan bersama, begitu bahagia ditengah kesederhanaan, terlampau nyaman hingga tak pernah terbayang akhir cerita cintanya bukan dengan Junkyu.


Asahi berjalan ditengah teriknya mentari. Hari ini entah mengapa matahari sedang ingin memamerkan sinarnya. Membuat siapapun termasuk Asahi agaknya malas berlama-lama diluar. Tidak boleh, malam ini ada acara cukup penting yang harus Ia hadiri. Perayaan pergantian CEO perusahaan yang mana jabatannya telah digantikan suaminya sendiri. Sebagai pasangan sah Watanabe Haruto dirinya harus datang bukan?

Asahi mendorong pintu salah satu toko bunga bernuansa baby blue. Tersenyum, ikut membungkuk saat salah satu karyawan menyapanya.

“Silahkan, Tuan!” Sahut wanita kasir ramah.

Asahi pun mendekat, agaknya heran setahunya sang sahabat yang bekerja dibalik mesin kasir. Apa mungkin Junkyu tak bekerja di shift pagi?

“Kim Junkyu?”

Seolah paham wanita muda itu menunjukkan pintu belakang. Pintu pembatas toko dan tempat dimana bunga-bunga dirawat.

“Apakah boleh?”

“Tentu saja, jika ada bunga yang diinginkan rekan saya Junkyu adalah ahlinya.”

Asahi mengucapkan terima kasih lantas pergi menuju balik pintu. Senyumannya mengembang tipis, tubuhnya mendadak menghadirkan perasaan lega melihat sahabatnya masih kerja dengan baik. Jemari cantiknya yang lihai bermain dengan pot, pupuk dan bibit bunga. Parasnya semakin cantik saat dikelilingi macam warna kupu-kupu yang mampir sesaat untuk melakukan penyerbukan.

“Junkyu?” Panggilnya. Si pemuda yang tengah fokus dengan pekerjaannya sontak menoleh.

“O-oh? Kau kemari? Ada apa?”

Junkyu berdiri dari kursi kecilnya, melepas sarung tangan, membersihkan telapaknya sedikit sebelum berjalan mendekati sahabat kecilnya yang tiba saja datang.

“Lo sehat?” Tanya Asahi basa-basi. Agak canggung sebenarnya bahkan detak jantung Asahi bergerak lebih kencang. Sedang Junkyu hanya tersenyum kecil tanda dirinya baik; atau tidak.

“Butuh bunga? Untuk siapa? Pilih aja biar gue yang hiasin, paling bagus khusus buat lo.” Sahut Junkyu mencoba mencairkan suasana. Sejenak memanggil si ceria Junkyu agar yang lebih kecil berhenti memasang wajah bersalahnya. Junkyu benci dikasihani meskipun rasanya ingin mengemis cintanya kembali.

“Buat Haruto dia diangkat jadi CEO perusahaan. Nanti malem pesta perayaan gitu, gue pengen ngasih bunga.”

“A-ah gi,-tu?”

Kenyataannya sebesar apa sosok Junkyu berusaha. Sang pemilik nama itu selalu bisa meluluhlantakkan perasaannya. Hancur lebur tersisa abu.

“Kayaknya bunga matahari bagus deh, Kyu. Kan jarang ya acara formal gitu ngasih bunga matahari.”

Bunga matahari, memiliki arti kesetiaan pasangan tanpa batas. Warna kuningnya melambangkan kehangatan sama seperti namanya matahari yang selalu memberi kehangatan pada tiap insan. Begitupun sosok Haruto mendeskripsikan seorang Kim Junkyu.

“Kalo aku jadi bunga, menurut kamu cocok jadi bunga apa?” Tanya si manis ditengah kegiatan menanam bunga dengan kekasih.

Sang dominan berpikir sebentar, tak ingin melempar jawaban ngawur. Takut-takut dilempar pupuk, “Bunga matahari?”

“Kenapa?”

Haruto mengendikkan bahu, hanya saja bunga itu yang sedang Ia coba tanam. Sedangkan Junkyu tengah dirundung malu. dua tahun bekerja di toko bunga membuatnya mengenal bunga jauh daripada dirinya sendiri.

“Karna Haruto gabisa hidup tanpa Junkyu. Sama kayak bumi gabisa hidup tanpa matahari. Tapi matahari itu jauh gabisa digapai, jadi digantiin bunga matahari. Ini lagi aku pegang sekarang.”

“JUNKYU?!”

“Eh- iya? Eh.. bentar ya gue siapin.” Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Junkyu bergerak menyibukkan dirinya. Mencoba tetap tenang meskipun hatinya sedikit terguncang.

Sekitar 20 menit Junkyu menghampiri Asahi yang tengah menunggu di depan kasir. Perlahan dan pasti bucket bunga indah berpindah tangan. Asahi tersenyum puas, memasukkan surat kecil di dalamnya dan semuanya sempurna. Namun, kerutan di dahinya muncul saat menangkap dua tangkai bunga lain yang juga telah dibungkus rapih. Sontak kedua maniknya menatap Junkyu.

“Buat lo sama Haruto. Maaf pas itu dateng ga bawa apa-apa. Selamat juga buat Haruto dan kerjaannya. Gue tinggal kebelakang ya ati-ati dijalan!”

Bunga Iris dimana kecantikannya melambangkan harapan. Harapan baik dari Kim Junkyu untuk dua sahabatnya.


Begitu meriah acara perayaan malam ini. Digelar mewah pada ballroom salah satu hotel bintang lima. Seluruh kolega berdatangan dengan berbagai tujuannya. Ada yang datang karena tak sempat hadir saat pernikahan sang CEO atau mencari kesempatan bisnis di dalamnya. Tak terkecuali media massa, berlomba-lomba masuk demi secuil berita picisan untuk disiarkan.

Sang pemilik acara sedang berdiri, berbincang dengan salah satu tamu yang mana sahabat dekat ayahnya sendiri. Sesekali mata elangnya menatap jam tangan bergantian pada pintu utama. Seharusnya Asahi sudah tiba sejak awal acara, sampai hampir penghujung acarapun belum nampak.

“Selamat malam, maaf saya terlambat. Perkenalkan, Hamada Asahi.” Sapa Asahi lantas membungkuk pada tamu yang ada.

Asahi juga tak lupa menyerahkan dua bucket bunga cantik sebagai ucapan selamat. Bunga matahari dan bunga mawar putih. Haruto terkekeh kecil dengan sikap Asahi. Lengan besarnya menarik pinggang ramping suaminya agar lebih mendekat, dikecup pelan puncak kepala yang lebih pendek. Menghadirkan sorak-sorai dari saksi mata yang melihat.

Tak ada gemuruh bahagia dalam diri Asahi, hanya kaget dan malu. Karena Asahi sendiri yang dapat merasakan bahwa tidak ada sedikitpun perasaan Haruto yang tersalur lewat kecupannya.

“Sepertinya pengantin baru butuh space berdua. Kalau begitu kami permisi.”

Tinggalah mereka berdua, dengan Haruto yang mulai meneliti bunga pemberian suaminya. Sedangkan Asahi mendadak dilanda khawatir mengingat dirinya datang ada maksud yang ingin disampaikan. Sepertinya Asahi harus sedikit lebih sabar, tamu masih banyak berdatangan tak enak mengajak suaminya pergi begitu saja.

“Repot banget sampai beli dua. Satu saja harusnya cukup.” Ujar Haruto, fokusnya saat ini sibuk membaca kalimat selamat yang Asahi sampirkan melalui kertas kecil di dalamnya.

“Yang satu titipan, sih.” Balasnya singkat namun cukup membuat Haruto penasaran.

“Baca aja sendiri.”

Haruto mengambil bucket bunga matahari. Alisnya menyatu, sedikit bingung siapa gerangan yang mengirim bunga matahari diacara formal begini. Saat Haruto membuka surat kecil didalamnya Ia tertegun. Tak lama kemudian senyum kecilnya muncul, tak dapat ditahan. Dirinya tak pernah salah menandai sosok dalam kertas kecil itu dengan bunga matahari. Nyatanya hanya coretan nama mampu membuat hatinya kembali hangat. Meskipun raganya tak lagi hadir dalam pandangan, Haruto bersyukur perasaan milik Kim Junkyu padanya masih disini bersamaan dengan datangnya rangkaian bunga ini.

Asahi melihatnya, bagaimana belah bibir milik pria dingin ini perlahan terangkat. Senyuman tulus sosok Haruto setelah bertemu tambatan hatinya. Senyuman yang tak bisa dilihat oleh siapapun kecuali pria manis kesayangannya. Dan itu jelas bukan Asahi. Asahi bukan pemilik penuh Watanabe Haruto diatas status sahnya.

“Haruto, gue mau cerita ke lo, tentang Junkyu.”

Apartemen Haasahi

Keduanya telah di rumah, tepatnya duduk berdua di meja makan dengan segelas teh hangat masing-masing. Haruto tengah sibuk mengusap rambutnya yang basah sehabis mandi. Sedangkan yang lebih kecil termenung, sedikit gelisah memikirkan mulai dari mana Ia menjelaskan.

“Sa, gimana?” Panggil Haruto seperti menarik Asahi kembali dari dunianya menuju realita. Asahi terkesiap, buru-buru mengeluarkan kantung kecil. Diserahkan perlahan agar Haruto dapat melihat dengan jelas.

Haruto memasang wajah tak terdefinisikan. Bingung, pasalnya yang diserahkan Asahi adalah kantung plastik kecil berisi macam obat. Jadi siapa yang sakit?

“Gue nemuin itu jatuh dari saku Junkyu.” Ungkapnya lirih.

Asahi terdiam selama beberapa detik, memberikan kesempatan suaminya untuk menanggapi. Haruto diam seribu bahasa, masih menelisik obat-obatan berbagai warna dan ukuran.

“Gue sebenernya gak mau ganggu privasi dia, but I was too curious. Akhirnya, gue pergi ke rumah sakit itu juga alasan kenapa gue telat dateng...”

“Junkyu sakit,To... dan gue gatau sejak kapan. Dia harusnya gaboleh tinggal sendiri, and now what? Kita temennya gatau apa-apa.”

Asahi kecewa, sejak saat itu hingga resmi menikah mereka memang belum menemui Junkyu untuk sekedar bersua. Berakhir, tak ada yang tau bahwa Junkyu terdiagnosis gangguan depresi sedang. Belum parah, tapi jika empunya tak ada niatan untuk sembuh maka petaka menunggu di depan mata.

“Terus apa, Sa? Dengan nunjukkin ini ke gue emang bisa merubah apa?!” Tukas Haruto dengan nada tinggi, seolah tau kemana alur pembicaraan mereka. Ia kecewa, harapnya Asahi telah menyerah akan usul bodohnya. Nyatanya kesungguhan Asahi tak terganggu gugat.

“Junkyu butuh lo.”

Brak!

Haruto berdiri mendelik tajam ke arah suaminya yang masih duduk. Yang lebih kecil mencoba tegar, tak gentar akan tatapan menghunus milik Haruto yang tengah dilanda amarah. Kali ini Asahi sekeras batu, tujuannya mengembalikan Haruto pada pemilik sebenarnya mutlak seberapa keras Haruto menolak. Kim Junkyu butuh Haruto saat ini and that's all what Asahi can do as a friend.

“Asahi?”

Asahi geram, lantas ikut berdiri. Wajahnya keras juga menatap Haruto. Keduanya berseteru saling melempar emosi.

You sure?” Sekali lagi Haruto memastikan. Ia tak ingin menjadi lebih bajingan tapi jika Asahi mengiyakan dia tak punya pilihan lain selain pergi mendua.

Asahi kaku, sebagian wajahnya memerah. Jujur, Asahi juga mana ingin begini. Fakta bahwa Junkyu sakit karena dunianya telah direnggutnya menumbuhkan perasaan bersalah semakin hebat.

Dengan berat hati, Asahi mengangguk perlahan. Asahi ikhlas berbagi Haruto dengan sahabatnya sendiri, tanpa memikirkan bagaimana hari-harinya kelak.


Pesta meriah digelar pada malam Sabtu (19/06). Perayaan tersebut dilaksanakan untuk menyambut CEO baru perusahaan properti terbesar Watanabe corp.

Junkyu menatap nanar TV dihadapannya. Tubuhnya lemas lelah setelah pulang bekerja akibat banyaknya pesanan bunga hari ini. Ingin merefresh otaknya dengan acara TV malah dihadirkan siaran yang paling dibenci. Bukan siarannya, tapi orang dalam berita. Entah hari ini dunia sedang tenang atau apa hingga seluruh TV menyiarkan acara megah pergantian CEO perusahaan Jepang itu.

Junkyu duduk memeluk lulutnya, masih lurus melihat TV yang sekarang menyorot si wajah baru perusahaan. CEO muda yang digadang memiliki keuletan dalam bidang bisnis. Hatinya berdetak berantakan, perasaannya pada visual itu masih tergambar jelas. Hingga pria kecil itu muncul di layar dengan bucket bunga matahari. Pria tinggi itu menerima dengan tulus, Junkyu bisa merasakannya. Saat adegan romantis disajikan Junkyu tak sanggup.

Dadanya mendadak nyeri hingga batuk mulai mendera. Nafasnya tak beraturan seperti tiada oksigen dalam ruangan. Junkyu memukul dadanya berulang, berharap saluran napasnya kembali normal. Namun nihil, tubuhnya saat ini jatuh merosot diatas lantai.

“Hhhhaaah...aggghh”

Junkyu panik hingga menangis. Menyesal karena gagal mengendalikan tubuhnya. Dokter telah memperingatkan agar selalu tenang sehingga Junkyu tidak butuh lagi obat penenang.

“AAAARRRHHH... Jun-k..yu te..nang...Ti..dak!”

Junkyu bangkit, berjalan tertatih. Satu tangannya meraba apapun yang dapat Ia jadikan tumpuan. Sedangkan yang satunya terus memukul dadanya yang semakin sesak.

“Obat? Mana obat.... Aggghh,”

Junkyu meraih tas kerjanya. Obat penenang yang selalu Ia bawa kemanapun. Junkyu benci jadi seperti ini, seperti bukan dirinya. Sialan, seberapa besar Junkyu mencoba bahagia perasaannya enggan diajak demikian. Seakan seluruh komponen dalam tubuhnya tau sumber kebahagiaannya telah melenggang pergi dan tak akan kembali.

Panik, pikirannya semakin kalut saat tak menemukan bungkusan itu ada disana. Dirinya harus gimana? Itu bungkusan terakhir sampai waktu terapi selanjutnya. Junkyu kesal, kepalanya pusing, pandangan mengabur. Seluruh barang dibanting ke lantai. Perasaannya makin bercampur tak karuan. Semua kenangan pahitnya memutar bak sebuah film membawa Junkyu kedalam ruangan hitam pekat. Junkyu dan kesendiriannya.

“HAAAA... Sssshhh.. Kursi, jam dinding, televi ahhh tidak kursi, tas, buku, Arrggh sialan!”

Junkyu duduk lemah diatas dinginnya lantai tak beralas. Kedua tangannya menutup telinganya ketakutan, badannya bergetar hebat. Bibirnya masih berusaha menyebutkan benda disekitar agar kesadarannya masih ada meskipun sulit. Junkyu pasrah, jika akhir hidupnya memang harus begini. Menjadi sebatang kara dengan gangguan kejiwaan. Ia hanya berharap ada orang yang menemukan jasadnya dan menguburkan dengan layak. Bolehkah untuk satu kali saja sebelum nafasnya semakin direnggut Ia bertemu Haruto. Setidaknya kematian Junkyu tidak begitu mengenaskan. Junkyu ingin melihat wajahnya, mengucapkan betapa Junkyu sangat berterima kasih telah dipertemukan dengan sosoknya. Menerima begitu banyak kasih sayang yang bahkan tak pernah Ia bayangkan.

“Junkyu?”

Dunia seakan berhenti berputar. Sepertinya Junkyu semakin gila, buktinya suara yang Ia sangat rindukan hadir. Yah, Tuhan sangat cepat mengabulkan doa hambanya yang tak memiliki harapan. Menghadirkan sosok itu sejenak berikut malaikat maut.

“Junkyu! Junkyu liat aku, hei!” Tubuhnya lemas diguncang hebat hingga dagunya terangkat. Saat itu pula manik mereka bertemu. Raut khawatir lelaki kecintaannya tergambar jelas dalam pandangnya meskipun begitu tetap menawan seperti biasa. Sedangkan si tampan panik bukan main, bibir merah muda itu pucat, kelopak matanya hanya sedikit terbuka. Tubuhnya banyak lebam.

Ada apa denganmu Junkyu? Kenapa kamu melakukan semua ini?

“Ha-haru..to?” Titahnya lemah.

Hatinya sakit, bunga mataharinya layu hampir gugur.

Tanpa sepatah kata lagi Haruto menarik tubuh kurusnya dalam dekapan hangat. Menyalurkan rindu selama ini terpendam. Tak berkurang sedikitpun rasa cintanya pada sosok dalam dekapannya. Merasa menjadi manusia paling jahat telah menghiraukan si manis demi kebahagiaan orang tuanya.

“Junkyu inhale...” Perintah Haruto sembari mengusap punggung yang sama lebar dengan miliknya.

Junkyu memang tidak melebih-lebihkan saat berkata bahwa seluruh komponen tubuhnya hanya patuh pada satu komando. Terbukti, rasa paniknya mereda, paru-parunya mulai berfungsi. Meskipun jantungnya masih sangat berdebar.

Exhale...”

Haruto ikut menghela napas lega. Junkyunya kembali tenang. Untung dirinya datang tepat waktu. Kalau tidak, Haruto pun Asahi akan dilanda rasa bersalah seumur hidup.

“Haruto?” Bisiknya.

Haruto semakin mengeratkan rengkuhannya, mengecup puncak kepala Junkyu sayang. “Sssshhh... aku disini. Mulai sekarang aku disini sama kamu.”


Junkyu beranjak dari hangatnya rengkuhan Haruto. Sudah 30 menit mereka berada pada posisi saling memberi kehangatan setelah prahara yang terjadi. Ajaib, tanpa obat sialan itu Junkyu cepat tenang. Namun Junkyu sadar ini salah, tak seharusnya Haruto disini, Haruto bukan lagi hak milik Junkyu.

“Aku udah gapapa, kamu pulang.” Cicit Junkyu. Jemari panjangnya Ia gunakan untuk mengusap sisa air mata di wajah. Junkyu beranjak menjauh, tak peduli akan Haruto. Ia memilih untuk menyibukkan diri membereskan istana kecilnya yang kacau.

“Ayo perbaiki hubungan kita. Kembali seperti dulu.”

Junkyu mematung, betapa entengnya lelaki yang telah menorehkan luka. Setelah memaksanya menyerah sekarang ingin memungutnya kembali.

“Aku nggak mau.” Balasnya tegas.

Junkyu mana peduli bahkan jika Asahi mengijinkan pun dirinya menolak. Junkyu lelaki memiliki kehormatan, tak seharusnya Ia mengiyakan ajakan bodoh semacam ini.

“Kamu harus mau!” Suaranya meninggi. Haruto bingung dengan dirinya sendiri. Niat datang hanya melihat keadaan Junkyu agar suaminya puas. Tetapi, melihat masa lalunya selemah ini Haruto ingin menjaganya. Inilah cinta atau sekedar iba?

“Haru, you're married already. Dengan kamu disini aja udah salah. Pulang, your husband there, he's waiting for you.”

“ARRRRRGGG! KAMU ITU GATAU SUSAHNYA JADI AKU. ASAHI DORONG AKU KE KAMU, KAMU DORONG AKU PERGI. MAU KALIAN APA HAH?!”

Haruto capek, dia cuma mau ikutin apa maunya orang-orang. Dia kira dengan diem, nurut bikin semuanya baik-baik aja, tapi nyatanya. Hancur, lebur, berantakan. Nggak ada yang bisa dia selamatkan, sahabatnya, mantan pacarnya, bahkan perasaannya sendiri. Cuma orang tuanya yang seneng, sedangkan mereka bertiga seakan dihukum sakit hingga tak tentu kapan akan berakhir.

Haruto bingung, Asahi nolak dia, diem-diem mau mempersatukan Haruto sama Junkyu lagi. Sedangkan Junkyu juga mukul dia mundur, ingin terbiasa sendiri walaupun nggak kuat. Haruto harus gimana? rumah mana yang menjadi tempatnya pulang sekarang?

“Junkyu kamu butuh aku.”

Haruto mendekati Junkyu, menggenggam erat pundaknya dengan tatapan dingin mengancam. Junkyu takut, menghiraukan pundaknya mulai nyeri. Junkyu sangat tau Haruto yang marah itu menakutkan.

“Haru, please sakit.” Tegurnya lembut.

“Kamu sakit. Dan aku obat yang kamu butuh kan.”

Haruto kalap, menarik paksa Junkyu mendekat. Ditarik pula dagunya, tanpa aba-aba bibir pucat Junkyu diraup habis, dihisap penuh nafsu hingga liurnya meluber. Gerakannya rusuh, tak tentu arah namun ada emosi yang disampaikan disana. Junkyu membeku, membiarkan apapun yang dilakukan Haruto pun saat Haruto menarik paksa tubuh tinggi kurusnya. Dibawa lelaki itu menuju kamar.

Saat itu juga tembok ringkih yang telah dibangun roboh menjadi serpihan tak bertuan.

Haruto benar, Junkyu butuh Haruto. Bahkan tubuhnya tak menolak setiap sentuhannya. Nyaman, seperti dibawa pada masa lalu indahnya. Dimana hanya ada Junkyu dan Haruto menyatukan hasrat mereka. Tak seorangpun dapat menghentikan. Termasuk Asahi sendiri.


Sejak hari itu Haruto berubah. Menjadi sosok hangat seperti semula. Haruto dingin kembali menemukan atap hangat untuk berteduh. Perlahan Haruto meninggalkan kewajiban seharusnya.

Haruto seperti menjauh dari Asahi, nggak salah. Toh Asahi sendiri yang mendorong suaminya pergi. Lupa bahwa Junkyu rumah sebenarnya bagi Haruto. Haruto tetap menafkahi Asahi secara finansial namun raganya jarang nampak. Sekali Haruto pulang akan sangat larut tentunya sudah makan malam di rumah sederhana Junkyu. Jadi jika sudah begini siapa yang jahat?

Pun dihari libur, harusnya menjadi hari keluarga. Yah, they're not in a good way to be called a family but still mereka sah secara hukum dan agama. Asahi tengah sibuk berperang dengan dapur, masak. Meskipun baru liat dari YouTube. Asahi akui dia gak jago masak, dia hidup tidak sepenuhnya mandiri sebelumnya. Tapi Asahi mau nyoba masak buat Haruto.

Telinganya melebar seketika bersamaan suara baritone suaminya menyapa seseorang disebrang panggilan. Detik kemudian, langkah rusuh Haruto berlarian disekitar rumah mengambil kunci mobil dan jaket. Asahi mencuri lihat, ada apa dengan suaminya.

“Mau kemana? Belom sarapan juga.”

Haruto berhenti sejenak menatap Asahi, cowok itu berdiri lucu dengan apron kebesaran.

“Gue ke rumah Junkyu dulu ya, dadanya sesek. Takut kumat.”

Belum Asahi mengijinkan, Haruto melenggang pergi. Well, selalu kayak gini.

Asahi nggak tau ini udah jadi jalan yang bener atau malah menjatuhkannya dalam lubang penyesalan. Asahi seneng Haruto jadi Haruto sebagaimana harusnya. Tapi dalam lubuk hatinya ada yang mengganjal. Ada gejolak amarah, hati kecilnya meronta bahwa ini kesalahan besar.

Namun, Asahi tak lagi bisa mundur.

to be continue....

part 3. Hamada Asahi


by: teuhaieyo


⚠️trigger warning⚠️ : angst, harsh words.


Pagi ini begitu cerah, cocok sekali dengan suasana hati pemuda tinggi nan lucu yang sedang duduk pada salah satu bangku kafe memangku dagunya. Bibirnya menampilkan senyuman malu malu hingga pipi berisinya sedikit terangkat. Pikiran pemuda itu berlari kesana kemari, sudah membayangkan apa yang akan dilakukan hari ini dengan kekasihnya. Terhitung satu minggu tepat mereka tak bersua akibat pekerjaan sang kekasih yang memang baru diangkat menjadi supervisor di perusahaan.

Cling

Lonceng selamat datang berbunyi menandakan ada pelanggan yang datang. Bukti itu diperkuat dengan teriakan salah satu pegawai seraya mempersilahkan. Bola mata si pemuda itu mendelik lucu ke arah pintu masuk. Lalu, senyumannya mengembang semakin lebar saat berhasil menangkap visual sosok kekasih yang ditunggu.

“Haruto, sini!” Teriaknya penuh semangat dengan tangan diangkat tinggi-tinggi. Bahkan siapapun yang melihat menunjukkan ekspresi gemas.

Pemuda Haruto itu tersenyum tipis menanggapi. Kaki jenjangnya Ia bawa mendekat pada bangku kekasih lucunya, tak lupa mencubit sebentar sebelum mendudukkan dirinya pada bangku yang tersedia.

“Junkyu?” Panggilnya dengan suara bassnya, mencoba mengambil seluruh atensi sosok lucu dihadapannya yang masih fokus memainkan tangannya.

Si lucu bernama Junkyu ini nampak sangat merindukan Haruto. Berakhir tangan Haruto dimainkan, sesekali diciumi dan ditempelkan pada pipinya. “Tangan Haruto itu anget, wangi juga” begitu katanya.

Cling

Kegiatan Junkyu memainkan tangan Haruto harus terhenti saat satu lagi pemuda yang lebih kecil perawakannya ikut duduk di bangku mereka. Peluh memenuhi sekitar wajahnya, dadanya masih naik turun sepertinya memang habis berlari.

“Maaf maaf telat.” Ujarnya setelah nafasnya kembali normal.

Junkyu mengernyit bingung, menatap kekasihnya lalu pemuda baru diantara mereka bergantian. Seingatnya Haruto mengajak Junkyu keluar melalui pesan pribadi bukan grup persahabatan mereka yang mana artinya Haruto mengajak Junkyu ngedate, BERDUA.

Iya, pemuda yang baru saja datang ini Asahi. Mereka bertiga sudah jadi sahabat sejak bertemu saat masa orientasi SMA. Jujur, Junkyu bukannya benci akan kedatangan Asahi. Jika harus berterus terang presentase mereka ngedate hanya berdua dan pergi bertiga itu lebih banyak mereka main bertiga. Tapi jika memang begitu harusnya Haruto membicarakan acaranya lewat grup khusus yang hanya ada mereka bertiga disana.

“Loh, ada Asa juga?” Tanya Junkyu hanya dijawabi dengan senyuman kecil. Ada perasaan bersalah dalam diri Asahi.

“Gapapa kok, terus hari ini kita main kemana? Kangen banget main sama kalian!” Junkyu melanjutkan dengan nada penuh semangat. Manik matanya seperti memancarkan binar bahagia menatap dua manusia dihadapannya yang malah diam mengatupkan belah bibirnya.

Junkyu mengerucutkan bibirnya, hal biasa jika mood merajuknya muncul. Kedua alisnya menekuk dibuat marah. Junkyu ngambek, biasanya mereka bertiga bakal rame ngasih rekomendasi tempat main. Namun, kali ini Haruto pun Asahi hanya menatap Junkyu dengan sendu.

Di bawah sana kaki Asahi dan Haruto saling memberi isyarat. Berkelahi dalam diam siapa yang harus mengutarakan maksud kedatangannya berkumpul.

“Kyu kita gabakal kemana-mana buat hari ini. Ada yang mau aku sama Asahi sampein ke kamu. Penting.” Ucap Haruto Akhirnya. Disini air wajah Asahi beranjak memerah, tak sanggup lagi meneliti setiap perubahan raut Junkyu.

Senyum manis Junkyu berangsur pudar. Perasaannya mendadak cemas. Dirinya semakin dibuat penasaran saat kekasihnya mengeluarkan sebuah kertas cantik dari dalam tasnya. Haruto menyerahkan kertas berwarna putih, masih bersampul plastik cantik ke hadapan Junkyu.

“Ini apa?” Tanya Junkyu menatap manik Haruto yang memandangnya sedih. Perasaan Junkyu semakin tak terkendali saat indra pendengarannya menangkap suara isakan pelan milik Asahi. Padahal Asahi sudah menahannya dengan mengeratkan genggaman pada ujung bajunya. Namun, sesak di dadanya jauh lebih kuat hingga sulit bernafas.

“Asahi kok nangis? Kalian kenapa? Ada apasih?” Cerca Junkyu penuh tanya. Sumpah, Junkyu nggak ngira bakal gini akhirnya. Seminggu tak berjumpa memang membuatnya jadi manusia purba yang nggak tau apa-apa.

Mengabaikan Asahi yang terus menunduk dengan terisak. Netra si pria manis itu memfokuskan atensinya pada kertas cantik dari kekasihnya, membaca tiap kata yang telah disusun apik dengan tinta emas.

deg

Junkyu diam tertegun, otaknya masih mencerna setiap kata yang berhasil masuk.

“Ini undangan pernikahan..”

Asahi beranjak mengambil paksa tangan Junkyu dengan wajah sembabnya. “Junkyu, Junkyu please gue minta maaf. Sumpah gue ga mak-”

Ucapan Asahi terhenti saat kedua tangannya dihempaskan begitu saja oleh Junkyu. Asahi hanya sanggup terus menumpahkan air mata bersalahnya sedangkan Haruto masih diam tak tau harus berbuat apa.

“Bentar! Ini gue gasalah ya baca namanya?”

“Haruto... Asahi...?”

“Terus gue gimana?” Tanya Junkyu penuh syarat kekecewaan. Suaranya diangkat, matanya berhasil memerah dengan genangan menenuhi pelupuknya.

“TERUS GUE GIMANA HARUTO? LIMA TAHUN LO KIRA LUCU YA DIMAININ KAYAK GINI?!”

Junkyu menatap nyalang pada sosok dihadapannya yang hanya diam tanpa berusaha menenangkannya. Seperti memang tak ada jalan lain dari masalah ini. Junkyu kecewa dengan keduanya, bagaimana sosok sahabat yang dieluh eluhan menikungnya begini hebat. Sahabat yang berperan menajadi sosok cupid telah berubah tujuan, mengambil paksa kekasihnya, menukar kartu persahabatan demi egonya sendiri.

“Junkyu dengerin aku dulu...” Haruto mengambil jemari Junkyu untuk diusap lembut. Sedangkan empunya mulai mempersilahkan cairan bening jatuh melewati pipi gembilnya, enggan menatap kedua manusia yang telah berubah status menjadi penghianat dihidupnya.

“Ini semua ulah papa sama papa Asahi. Sumpah kita berdua gatau, dan semuanya kejadian gitu aja.”

Junkyu menutup bibirnya yang semakin keras terisak. Sakit, seperti ulu hatinya ditusuk dengan sebilah pisau. Bahunya semakin bergetar saat tubuhnya merasakan bagaimana genggaman sosok dicintainya begitu erat. Otaknya ingin percaya pada Haruto pun Asahi memang tak memiliki jalan keluar lain selain terpaksa menyakitinya. Namun hatinya terlanjur meradang hingga tak ada alasan logis apapun yang mampu menjelaskan keadaan saat ini.

“Perusahaan papanya Asahi lagi dibawah dan dia butuh keluargaku yang bantu. Papa papa kita sepakat agar kontraknya bisa bertahan lama ya dengan...” Lanjutnya.

Junkyu mengambil napas, perlahan mengambil tangannya kembali tak peduli Haruto yang berusaha menggapainya.

“Udah ya, gue capek.” Junkyu berdiri, menyampirkan tasnya. Tanpa mau melihat keduanya Junkyu melepas cincin tanda keseriusan seorang Haruto Watanabe, diletakkan begitu saja. Lalu keluar menandakan dirinya mengalah, memberikan sumber kebahagiaan, dunianya pada sosok yang juga sahabatnya.

“JUNKYU! JUNKYU!” Panggil Asahi meraung putus asa, tanpa peduli pada tiap pandangan mata yang sejak tadi memperhatikan layaknya menonton sinetron murahan di TV.

Haruto menahan tubuh Asahi dalam dekapannya. Tubuhnya juga lelah, hatinya banyak sakit namun tetap memberikan sisa energinya untuk menenangkan Asahi.

“Junkyu, To... Junkyu...”

“Sttt... biarin Junkyu sendiri dulu ya. Udah udah tenang.” Kata-katanya menenangkan, masih dengan kedua maniknya tak melepas pandang pada cincin malang yang dikembalikan oleh pemiliknya.

Kim Junkyu, maaf.


Entah apa yang harus Junkyu lakukan selain mengurung dirinya dalam kamar minimalis tempatnya selama ini tinggal. Sudah tiga hari Junkyu begini, air matanya telah mengering tinggal mata sendunya tersisa dihiasi kantung mata menghitam. Ketukan pintu dari hari ke hari dihiraukannya bahkan tak sesuap nasi-pun masuk dalam perut kosongnya.

Harusnya Junkyu tau diri, sejak awal kedua orang tua Haruto memang kurang menyetujui hubungan mereka. Inilah karma baginya tak mengindahkan tiap larangan yang sering dilontarkan papa atau mama Haruto. Raganya, hatinya hanya patuh pada satu komando yaitu suara rendah nan menghipnotis milik kekasihnya.

Harusnya Junkyu sadar diri, dirinya hanyalah anak yatim piatu sederhana yang tak pantas bahkan hanya jalan bersanding dengan kedua sahabatnya. Hidupnya serba kemalangan, tak seperti Haruto dan Asahi yang lahir sudah diselimuti emas.

Harusnya Junkyu ikhlas dan paham betul bahwa kisah cinta si miskin dan si kaya tak akan berakhir bahagia layaknya sinetron romansa. Junkyu malu, sikap acuhnya pada gunjingan teman sekolahnya dulu tak pernah didengar. Seolah tak peduli, toh Junkyu memang bertakdir dipertemukan dengan Haruto dan Asahi bukan karena harta. Tapi memang catatan Tuhan begitu adanya.

5 hari kemudian

Langit sudah menjadi sore saat Haruto sampai rumahnya. Bahunya turun, langkahnya lesu berjalan menuju taman rumahnya dimana Asahi pun menunggu dengan harap-harap cemas.

Belum sempat Haruto duduk sekedar mengistirahatkan kakinya sudah dicerca cowok mungil itu dengan berbagai pertanyaan yang sama sejak 5 hari belakangan.

“Gimana, udah ketemu Junkyu?” Pertanyaan Asahi sama, juga tetap dihadiahi gelengan lemas yang lebih tinggi.

Lagi-lagi helaan nafas kekecewaan Asahi tunjukkan, kelewat khawatir akan nasib sahabat yang seketika menghilang dari peradaban.

“Maaf ya Sa, aku udah datengin semua tempat yang biasanya dia datengin tapi nihil. Bahkan tiap hari dari pagi pulang sore buat nunggu di toko bunga juga gak muncul. Bibi pemilik nya juga gatau.” Jelas Haruto lirih. Rasanya ingin menyerah, tapi melihat Asahi segigih ini dan hipotesis Junkyu bisa jadi tak baik-baik saja membuat Haruto ikut overthinking dibuatnya.

“Udah ke apartnya?” Haruto mengangguk. Apart Junkyu layaknya rumah tak berpenghuni.

“Bibinya gimana?” Salah satu sanak keluarga milik Junkyu hanyalah keluarga bibinya. Bibi yang mengasuh Junkyu sejak kedua orang tuanya meninggal.

“Udah, Sa. Kata Bibi Kim, Junkyu belum pernah berkunjung satu bulan ini. Kemarin sempet gue minta tolong anterin makan siapa tau dia menghindar dari kita katanya juga masih gantung di pintu besoknya.”

Asahi benar lemas, kakinya mendadak tak sanggup berdiri hingga dirinya jatuh terduduk dilantai dengan mengusap wajahnya frustasi. Kalau begini bakal jadinya rencana pernikahan harus diundur kalau bisa ditiadakan. Apa gunanya berbahagia jika ada satu insan yang sangat menderita akibat pernikahannya.

“Gue gak mau nikah, To kalo keadaannya kek gini. Apa gunanya nikah kalo nyakitin temen sendiri. Gue gabisa kalo harus berdiri diambang iya dan nggaknya Junkyu. At least Junkyu disini, nampar muka gue, maki maki gue sampai dia puas, dan bilang kalo dia benci sama gue.”

Haruto juga sama, masih berharap adanya secercah cahaya dimana ada jalan untuk mereka bertiga. Bayang-bayang wajah lain yang akan mengucapkan janji suci bersamanya membuat hidupnya semakin berantakan. Haruto mau Junkyu, nggak ada yang lain. Cuma Junkyu.


1 bulan kemudian

Hari ini tepat sebulan setelah kejadian pengakuan Asahi dan Haruto pasal perjodohannya. Hari dimana hancurnya 6 tahun persahabatan mereka bertiga. Junkyu berhasil menghindar setidaknya sampai Haruto maupun Asahi lelah mencoba menggapainya. Junkyu bukanlah Junkyu yang dulu, Junkyu yang ceria dan penuh tawa hilang diterpa kegelapan. Kehidupannya berubah 180 derajat seperti dunianya direnggut habis-habisan oleh semesta.

Baiknya Junkyu masih sadar dirinya manusia. Manusia penuh nafsu akan lapar dan dahaga dimana apapun yang dibutuhkan di dunia perlu sepeser uang untuk membelinya. Setelah dirasa tak ada lagi dari oknum pemecah belah hatinya yang menerus datang, Junkyu kembali pada hidup normalnya. Bekerja, meskipun dipindah pada bagian merakit bunga tatkala banyak pengunjung mengajukan komplain akan pelayanan kasir kurang ramah. Junkyu masih bersyukur tak langsung didepak dari pekerjaan yang membuatnya bisa menopang tubuh sebatang karanya.

Ting!

suara satu pesan masuk membuat kegiatan mengepel pemuda jangkung terhenti sejenak.

1 message from Asahi😽

Junkyu tertegun, sungguh dirinya masih tak sanggup bahkan hanya membaca namanya saja membuat dadanya kian sesak. Ibu jarinya bergetar, hatinya bimbang akan membuka atau mengabaikan saja. Tapi Junkyu telah berjanji apapun yang terjadi life must go on sebanyak apapun rasa sakitnya.

Dengan perasaan yang ragu Junkyu membuka pesannya perlahan.

Junkyu, gimana kabar? Baik-baik aja ya kan? Lo ga sakit kan? Ya Tuhan gue kangen banget sama lo. Kyu, besok gue sama Haruto jadi nikah. Gue boleh ga sih berharap lo dateng dan hancurin nikahan gue? Karena sumpah gue sama Haruto juga gamau nikah kek gini. Kyu, dateng ya... gue pengen ketemu sama lo, gue pengen lo nampar gue, marah ke gue, pokoknya gue ikhlas lo lakuin apa aja asal lo nggak diemin gue kayak gini. It's tortured me... Gue bakal tunggu lo dateng dan lo harus tau kalo Haruto bakal tetep cinta dan sayang sama lo :)

Junkyu kembali lemah, kenyataan dirinya masih belum sepenuhnya menerima. Tubuhnya perlahan jatuh, kepalanya pusing terlalu banyak menangis. Junkyu tau nggak cuma dirinya yang tersakiti disini, Junkyu tau gimana kejamnya dunia bisnis. Tapi Junkyu sendirian, He was filled with love before and suddenly they're gone. Tubuhnya kopong, seluruh isinya telah diambil tak tersisa. Bayang-bayang percakapannya dulu dengan Asahi merasuki pikirannya, bagaimana Asahi bersumpah dirinya sendiri yang akan menggandeng lengan Junkyu menghantarkannya pada Haruto di hari bahagia mereka kelak. Sebelum, realita itu sendiri yang memutarbalikkan keadaan.

Scenario alam itu lucu, dimana manusia cuma sanggup halu. Begitupun yang dilakukan pada isi hati manusia. Sempat terpikir Junkyu akan menghancurkan pesta pernikahan mereka, menjadi orang paling gila karena ditinggal cinta. Selepasnya Junkyu sadar, mana tega orang serendah dirinya melakukan itu dihari bahagia sahabatnya. Cukup hidup Junkyu yang sekarang telah menderita, dirinya tak ingin jatuh tersiksa lebih dalam lagi. Soal permohonan Asahi, entahlah apa Junkyu sanggup datang, sekedar mengucapkan selamat, lalu pergi dengan terus tersenyum seolah dirinya ikhlas dan bahagia.

Biarlah besok berlalu sesuai jalannya. Junkyu hanya manusia yang turut hanyut akan alurnya.


Berdirinya Asahi dan Haruto di atas pelaminan menandakan dua insan setara kasta itu sah sebagai pasangan suami. Riuh tamu undangan dibuat terpukau atas pesona keduanya. Bibir ke bibir tak henti memuji pada dua orang tua yang tak malu membanggakan sosok sang anak. Lain di bawah, Haruto hanya berdiri dengan tatapan dinginnya. Tak ada siratan suka sedikitpun, siapapun yang melihat dengan jeli akan tau bahwa pernikahan ini tak pernah ada dalam mimpi indahnya.

Sedangkan sosok kecil disampingnya mencoba ramah sebaik mungkin, menanggapi setiap ucapan selamat yang terlampir. Sesekali fokusnya mengedarkan pada seluruh gedung luas tempat mereka berpijak. Hatinya terus berharap, pemuda sahabatnya akan datang. Setidaknya Asahi tau bagaimana keadaan Junkyu saat ini. Apa sehat? Apa cukup makan dan tidur? Apa sudah kembali bekerja?

Sampai dua jam berlalu dimana pesta resepsi sebentar lagi selesai tak ada tanda tanda manusia lucu itu hadir diantara mereka.

“Junkyu benci banget pasti sama gue.” Monolog Asahi lirih masih bisa di dengar Haruto yang duduk disampingnya.

“Percaya sama gue, Junkyu gabisa benci sama orang apalagi kamu sahabatnya sendiri.”

Haruto mengambil satu tangan Asahi untuk digenggam, memberikan sedikit kekuatan. Asahi sudah cukup lelah melalangbuana mempersiapkan pernikahan sambil setengah jiwanya memikirkan keadaan Junkyu. Bukan, bukan Haruto tak lagi memikirkan Junkyu hanya saja salah satu diantara mereka harus ada yang lebih kuat. Mengesampingkan urusan hatinya Haruto mencoba terus berjalan maju. Memang benar, hidup ditengah perasaan bersalah seperti dibunuh secara perlahan.

Asahi sontak berdiri, matanya membulat dengan degub jantung berdetak tak beraturan. Itu Junkyu, sosok yang ditunggu tengah memberi hormat pada papa dan mama Watanabe.

Haruto hanya sanggup memandang dari kejauhan dengan tatapan sakit juga merindu. Pemuda cantik tambatan hatinya tak nampak bersinar kembali, tubuhnya berangsur kurus, senyum keceriaan yang bisa mempesona siapapun disembunyikan dengan baik. Hanya dari jauh Haruto tak lagi merasakan kehangatan disekitarnya.

Asahi turun pun dengan Haruto setelahnya, menghampiri Junkyu yang juga sedang berjalan ingin menyapa sebentar sang pemilik hari bahagia. Di waktu para sahabat yang akhirnya dipertemukan kembali suasana mendadak sunyi, seluruh atensi tamu tersisa ada pada ketiganya dengan tatapan bertanya siapa pemuda sederhana ini sampai kedua mempelai lebih dulu menghampiri.

“Junkyu...” Satu kata keluar dari bibir Asahi bersamaan setetes air mata turun bebas melewati pipinya yang telah memerah.

Junkyu tersenyum kecil, sahabatnya menangis tersiksa karena dirinya. Junkyu membungkuk sebentar, tak sanggup menatap manik Haruto yang sedang menatapnya penuh kesakitan apalagi Asahi yang tengah dibanjiri air mata. Junkyu sudah lelah menangis, kedatangannya kesini hanya untuk mengikhlaskan.

“Kalian...” Ucap Junkyu tercekat, namun berusaha tersenyum meskipun bibir sialannya mulai bergetar.

“Ss..selamat ya.” Lanjutnya.

“Bahagia terus. Gue gapapa hiks.. sumpah gu-e gapapa HIKS.” Junkyu menyesal, dirinya sosok pria dewasa harusnya tak selemah ini. Kenyataan seberapa kuat tangannya menahan bibirnya yang terus terisak semakin membuat dadanya sesak.

“Junkyu....” Asahi menghambur memeluk Junkyu erat, mengadu bahwa dirinya benar merindukan sosoknya. Mengatakan bahwa sejujurnya Asahi teramat menyesal telah membuat mereka menjadi tersakiti begini.

“Maafin gue sumpah, Yatuhan gue harus gimana biar kita kayak dulu lagi. Maaf maafin gue.” Kata-kata Asahi ditengah tangisnya, tak peduli lagi akan riasan atau tatapan aneh seluruh orang disana. tak peduli seberapa kata maaf yang dikeluarkan bahkan jika Junkyu menyuruhnya untuk berlutut Asahi sanggup melakukannya. Melihat sahabatnya begini rapuhnya membuatnya menjadi manusia paling kejam di dunia. Karena Asahi tau hanya Haruto dunia yang Junkyu punya begitu sebaliknya dan Asahi adalah saksi mata bagaimana benih-benih cinta itu muncul hingga berbunga indah.

Junkyu menjauhkan tautan tubuhnya dengan Asahi, menatap sahabat kecilnya iba. Jemari panjangnya Ia usapkan pada tiap air mata yang terus menetes tak peduli akan rupa miliknya yang tak jauh beda.

“Asahi, gue gapapa. Udah, gue ikhlas.”

Junkyu tersenyum, berusaha meyakinkan keduanya bahwa dirinya tak apa. Junkyu melirik Haruto sejenak, ganteng seperti biasa. Sedangkan yang ditatap memalingkan maniknya ke arah lain. Ingat kan? Harus ada yang lebih kuat diantara mereka. Haruto takut, Haruto tak sanggup menatap netra cantik yang sekarang sendu. Haruto ingin sekali merengkuh tubuh ringkih itu, memberikan tempat istirahat ternyaman seperti yang dilakukan sedari dulu, membiarkan bibir lucu itu terus mengadu tentang hari-harinya dimarahi pelanggan toko bunga atau tangannya hampir disengat lebah. Dimana akhirnya mereka saling memberikan afeksi, mengucap kata-kata penenang seolah hari esok akan lebih baik lagi.

Tubuh tegap Haruto mengang saat syaraf tangannya menerima sentuhan lembut. Junkyu menggenggam tangannya sesekali memberi usapan menenangkan. Tangannya yang lain juga mengambil milik Asahi. Haruto maupun Asahi menatap Junkyu, lebih tepatnya menantikan apa yang akan dilakukan lelaki itu.

Junkyu menyatukan tangan Haruto dan Asahi. Ditatapnya nanar keduanya dimana tersemat cincin cantik yang mana dirinya tak memiliki itu. Junkyu seperti ditampar akan keadaan, sudah tidak ada lagi cela baginya.

Junkyu menatap kedua wajah sahabatnya bergantian. Disematkan senyum paling indah untuk keduanya.

Tepat detik ini Kim Junkyu memilih mundur dan mengikhlaskan sang dunia berputar pada matahari barunya. Haruto untuk Asahi, bukan Haruto untuk Junkyu.


Haruto baru menyelesaikan kegiatan mandinya, mengusap-usap rambut basahnya sejenak. Netranya reflek berubah layaknya mesin scan saat dirasa suasana menjadi sepi. Asahi, terakhir dia melihatnya sedang duduk termenung pada pinggir tempat tidur. Dimana pria mungil yang telah sah menjadi suaminya.

Tujuan terakhir Haruto tepat sasaran, disanalah Asahi, bersandar pada balkon menerawang entah apa sembari memainkan cincin kawinnya.

“Sa? Masuk ayok, disini dingin!” Haruto menyampirkan selimut tebal. Asahi ini bodoh atau apa berdiri menantang cuaca dingin dengan hanya kaus tipis.

“Menurut lo kita jahat banget nggak sih sama Junkyu?”

Haruto menghela napas kuat-kuat, Junkyu lagi. “Sa udah, Junkyu udah ikhlas, dia bakal baik-baik aja kok cuma butuh waktu. Katanya kamu bakal berhenti bersikap kayak gini pas udah ketemu Junkyu. Please, gue gak mau lo malah jatuh sakit.”

Asahi bergeming tak sama sekali mengindahkan kata-kata Haruto yang menurut Asahi hanya sebagai umpan aja biar Asahi bisa lupain semuanya. Padahal jauh dilubuk hatinya Haruto lebih menderita.

“Enggak, To ternyata gue salah. Gue kira dengan datengnya Junkyu bikin gue lega. Tapi ngeliat Junkyu dengan keadaan mencoba baik-baik aja demi kita buat gue semakin merasa bersalah.”

Haruto geram, dirinya memasaksa tubuh Asahi menghadap padanya. Mata elang nan tajam itu menusuk manik lemah milik Asahi. Meskipun begitu Asahi semakin sedih dibuatnya, Haruto itu sosok hangat dibalik gaya dinginnya dan moment ini pertama kali Asahi tak menangkap aura hangat ada pada dalam diri lelaki di depannya.

“Dengerin gue. Hidup gue, hidup lo ga cuma tentang Junkyu. Berhenti mikirin Junkyu, jalanin apa yang ada. Gue sama lo, Junkyu sama dirinya sendiri.” Ungkapnya dengan penuh penekanan.

Asahi meringis, Haruto kelewat emosi hingga meremat bahunya terlalu kuat. Asahi bisa rasain seberapa banyak emosi yang Haruto pendam. Mengesampingkan hatinya demi Asahi, demi kedua orang tua mereka, demi orang banyak di pesta tadi.

“Haruto...” Panggil Asahi lirih. Telapak tangannya yang hangat berhasil menangkup rahang tegas milik suaminya. Obsidiannya menatap lurus hingga masuk dalam iris hitam kelam.

I know how hurt you're. Lepasin jangan ditahan.”

Pertahanan Haruto runtuh, tembok kokoh yang telah dibangunnya sejak satu bulan lalu hancur seiring satu cairan bening yang akhirnya tumpah juga.

To make you better, kalau kamu masih mau lanjutin hubungan kamu sama Junkyu. Aku terima, aku juga gapapa.”

Haruto menatap Asahi tak suka, bola mata memerahnya menatap nyalang. Bukan begini jalan keluar yang dimaksud. Jujur, ada sebuah euforia menyenangkan dalam hatinya namun tetap dirundung kekecewaan. Bagaimana bisa Haruto menjaga dua hati terlebih dipersilahkan oleh pasangannya sendiri.

“Gila kamu.”

“Engga, Haruto dengerin gue dulu.”

“Diem!”

Asahi tersentak akan suara rendah milik Haruto. Tak pernah tau bahwa Haruto semengerikan ini saat marah.

“Gue tau kita desperate sampek mau gila tapi ga gitu caranya. Mending lo tidur, biar otak lo jernih. Kita ngomong lagi pas kita sama sama udah baik.”

“Haruto!”

“HARUTO!”

BLAM!!!

Asahi paham dirinya gila, tapi jika dengan cara ini mereka bisa bahagia maka Asahi akan lakukan.

to be continue....

Part 2. Watanabe Haruto


by: teuhaieyo


Malam ini sosok tinggi itu tengah bersiap dengan jas hitam formalnya. Haruto Watanabe, pria baru dewasa berumur 25 tahun itu berdiri tepat menghadap standing mirror. Mata elangnya menatap pantulan dirinya tajam, namun pendar cahayanya redup seolah dunianya sedang dilanda prahara. Kesepuluh jari-jarinya bergerak tanpa semangat hingga tepat dua puluh menit dirinya berdiri, dasi merah miliknya belum juga berbentuk.

“Haruto? Sudah?”

Atensinya beralih saat wanita paruh baya berhasil memasuki kamarnya yang memang tak terkunci. Mata elangnya hanya menatap wanita itu dengan tatapan sendu. Wanita yang ternyata menjabat sebagai Ibunda memalingkan pandangannya, takut jika rasa belas kasihannya muncul begitu saja.

“Ma? Haruto beneran gaboleh nolak ya?” Pintanya lirih, sedangkan Ibundanya hanya diam tersenyum sambil membenahi dasi anak semata wayangnya.

Haruto menghela napasnya berat, beberapa kali dirinya bertanya apakah ada cara lain untuk menghindar dari perjodohan dan selalu dijawab dengan keterdiaman. Pikirannya kalut, menjelajah pada skenario setelah malam ini saat dirinya harus memberitahu sang kekasih bahwa hubungannya diharuskan berhenti sampai disini. Rongga dadanya mendadak sesak diikuti ulu hatinya yang sakit saat bayangan wajah sendu Junkyu, kekasihnya hadir dalam pikirannya.

“Ayo! Keluarganya Asahi udah dateng, gabaik bikin mereka nunggu.” Ucap Mama sembari membenahi jas milik putranya.

Jujur, wanita paruh baya itu tak menginginkan ini terjadi. Melihat putranya tak bahagia terpisah dengan dunianya yang telah mereka bina sejak satu SMA. Menurutnya apapun pilihan Haruto asalkan pemuda itu bahagia sudah cukup bagi seorang ibu, namun bagi suaminya keuntungan bisnis adalah yang utama.


“Sa...?” Suara berat menginterupsi sosok kecil yang tengah menatap gejolak kolam didepannya. Maniknya basah meskipun tak ada suara yang keluar.

Pria yang dipanggil lantas berbalik, masuk dalam dekapan dada sang sahabat. “To, maafin gue ya...” Kata pertama yang keluar dari bibir sosok kecil dengan nada yang bergetar.

Haruto tertegun namun tangannya terus memberikan ketenangan pada punggung sempit milik Asahi. “Udah, Sa. Lo gasalah, gaada yang salah.”

“Terus Junkyu gimana? Terus kalian gimana?”

“Ssstt, udah besok kita jelasin semuanya ke Junkyu.” Kata-kata Haruto menenangkan.

Haruto, Asahi, Junkyu. Tiga insan yang dipertemukan lewat takdir. Bertemu pada masa orientasi SMA dan berlanjut menjadi sahabat setia. Haruto si pria idaman, Asahi yang hangat dan pendiam, serta Junkyu si lucu dan sederhana kombinasi cocok membuat siapapun iri dibuatnya. Hingga suatu ketika Haruto menaburkan benih-benih cintanya pada Junkyu dan dengan bantuan Asahi, Junkyu menjadi yakin untuk melabuhkan hatinya pada sosok bermata elang kelahiran Jepang itu.

Dan inilah kisah, tentang bagaimana hubungan suci persahabatan harus beradu dengan takdir keadaan yang tak terduga.


by : teuhaieyo

bahkan saat aku tertidur, bayangmu hadir di bawah alam sadarku.

a poddgawin alternative universe.


Pockey! Write On prompt : dream ⚠️trigger warning⚠️ angst, depression.


Bangkok Health Center BKK, Thailand

“Podd, kamu udah siap?”

Sosok itu bertanya saat kembali menempati kursi yang telah menemani lima tahun dalam berkarir. Sosok jangkung dengan bahu lebar dan rambut yang selalu ditata rapi klimis berbalut jas putih khas profesi dokter. Kacamata bulatnya sesekali Ia benahi letaknya, mata sipitnya masih fokus membaca riwayat kesehatan milik pasien dihadapannya.

Suphakorn Siriphotong, pria dewasa campuran thai-chinese datang jauh dari surga Nakhon Sawan dengan masalah depresinya. Si pria dan kantung mata yang telah menghitam sedang duduk menerawang ruangan serba putih berbau obat-obatan dengan tatapan linglung.

“Apa kau cukup tidur semalam?” Podd terkesiap dengan pertanyaan itu, seperti kesadarannya baru ditarik kembali dari dunia tak terdefinisikan yang terus membuatnya melamun.

Podd menatap sang dokter muda dengan sendu, lalu hanya gelengan yang diberikan. Jujur, terhitung dua hari ini matanya tak terpejam barang satu menit.

Dokter muda beranjak dari kursi kerjanya, kakinya bergerak mengajak pula tubuh jangkung menuju sebuah kursi yang lebih mewah daripada sebelumnya. Meskipun begitu tiada insan di dunia ini yang akan bahagia bisa duduk di atas sana. “Silahkan, buat tubuhmu senyaman mungkin.”

Podd duduk, punggungnya nyaman saat bertemu dengan sandaran empuk. Tubuhnya dibuat serileks mungkin, berharap bahwa tujuannya datang ke tempat ini akan membawanya pada kesembuhan. Podd menarik napas lalu dibuang perlahan, begitu diulang beberapa kali sebelum kedua kelopak lelah itu akhirnya tertutup rapat.

“Tenangkan pikiran dan hati kamu. Fokuskan pendengaran kamu pada satu tujuan, yaitu suara saya. Rasakan tubuhmu mulai lemas, perlahan-lahan kantuk datang. Dalam hitungan ke tiga kamu akan tidur pulas.”

satu

dua

tiga

Suasana berangsur sunyi, hanya detakan jarum jam sebagai pengisi suara. Sang ahli psikis muda itu terus memperhatikan setiap perubahan raut wajah pasiennya dari gelisah hingga beranjak tenang. Kerutan di dahinya memudar dibarengi dengkuran halus khas orang tidur.

“Podd bisa dengar suara saya?”

Senyap, tak ada respon pasti dari gerak-gerik pasiennya.

“Podd kamu bisa dengar suara saya?” Ulangnya sekali lagi.

Kali ini manik sang dokter dapat melihat gerakan mengangguk dari si pasien. Gerakan-gerakan reflek tak nyaman terjadi pria yang berprofesi sebagai dokter memberi jeda sejenak saat dirasa pasiennya telah hidup kembali di alam bawah sadarnya.

“Bisa deskripsikan tidak saat ini kamu sedang dimana?”

Dahi milik Podd mengkerut seraya berfikir, sedangkan raganya yang terjebak di bawah sana sedang berputar pada padang rumput luas tak berujung. Dirinya mencari petunjuk tepatnya dimana kakinya saat ini berpijak. Langit tampak biru cerah ditemani sinar mentari terlewat terik hingga dirinya harus melindungi kedua manik coklat saat hendak menatap. Saat tubuhnya dibawa berbalik sekali lagi baru dirinya punya jawaban ada dimana lokasinya sekarang.

“Nakhon Sawan, ini cabang kafe ketiga saya.” Balasnya pelan.

“Bisa ceritakan tentang kafe kamu di Nakhon Sawan?”

Kembali, tak ada jawaban apapun selain air mata yang mulai turun pelahan dari ujung mata sosok yang tengah tertidur. Entah mulutnya sudah terbuka lalu tertutup rapat kembali seperti ingin mengungkap semua namun enggan mengingat kembali. Kejadian malam itu, akar dari traumanya sekarang. Sulit, tubuhnya lelah harus terus terbangun namun saat tidur seluruh bongkahan kejadian itu terus hadir dalam mimpinya.

“Hiks...” Tubuh Podd mulai bergetar, jari-jarinya telah membentuk genggaman demi menahan seluruhnya agar tak tumpah saat ini juga.

“Semua ini berawal dari hari itu...”

Kilas Balik

“Siang itu harusnya aku tak pergi saat Gawin memintaku tetap tinggal hingga memohon. Gawin, kekasihku yang malang. Hari itu kafe ditutup sejak pagi karena awalnya kami memang ingin pergi ke pesta pernikahan sahabat kami. Namun, Gawinku jatuh sakit maagnya kumat karena terlalu larut bekerja hingga lupa jam makan.”

Podd berhenti sejenak, menarik hampir sebagian oksigen dalam ruangan karena sungguh dadanya jadi sesak. Bulir-bulir bening miliknya menolak untuk membiarkan empunya menyelesaikan cerita musabab dirinya bisa sampai disini.

“Gawin itu sangat manja saat sakit, hari itu sejak pagi hingga siang Gawin tak melepaskan pelukannya. Bahkan dia berkali-kali meminta padaku untuk jangan pergi. Sayang, bagiku dia bukan prioritas di hari itu. Gawin masih bisa sakit dan manja dilain hari tapi pernikahan hanya sekali seumur hidup.”

“Hiks, haa- Ga... win maaf- maafkan aku.” Tangisan Podd hingga tergugu. Dalam tidurnya kilas balik pada malam tragis terputar jelas, rinci layaknya film dalam bioskop. Tapi apa? Podd tak sanggup bangun untuk menyudahi semuanya, sel-sel tubuhnya hanya patuh pada satu komando suara sang dokter. Podd seperti jatuh tepat di neraka, kepingan kejadian yang tersaji tak kalah menyakitkan dari hukum cambuk seribu kali.

Sang dokter hanya sanggup terdiam, tangan kekarnya dengan lihai menorehkan tinta hitam pada tiap kolom catatan di atas pahanya.

“Setelah acara, aku berjanji langsung pulang secepat mungkin. Bodohnya diriku terbuai pada beberapa alkohol hingga larut malam. Aku begitu hancur malam itu, saat sampai kafe telah hancur berantakan. Dan Gawin...”

“Podd, kamu bisa simpan untuk yang satu itu.” Ujar sang dokter muda mulai khawatir.

Podd menggeleng, inilah hukuman yang harus diterima. Tersiksa batin dengan menceritakan sendiri bagaimana mata kepalamu menatap sosok kekasih yang terbujur kaku di atas genangan darahnya sendiri. Kekasih dan sakitnya berusaha mencegah kawanan perampok yang menyerang kafenya. Podd menyesal, harusnya dia disana menahan Gawin dan tangan entengnya untuk merelakan saja daripada bertaruh nyawa.


Dokter muda itu beranjak cepat dari kursi empuknya tatkala tanpa sadar Podd mulai memukuli dirinya sendiri. Kedua bogemnya Ia layangkan pada wajah yang telah tak berupa akibat banyaknya air mata yang Ia kerahkan.

“Podd! Bangun, udah selesai ayo bangun!” Teriakan panik si dokter tak diindahkan. Fokusnya telah hilang arah entah kemana.

“Gawin?”

Satu nama yang terucap dari bibir tebal milik Podd membuat sang dokter tertegun. Tubuh yang semula bergerak rusuh berangsur tenang.

“Gawin?” Panggilnya sekali lagi masih dengan mata terpejam.

“Kamu bertemu Gawin?” Tanya si dokter meyakinkan juga dibalas dengan anggukan mantab.

“Selalu, dia selalu hadir disini... dengan senyum manisnya.”

Di bawah sana Gawin benar tersenyum, duduk pada bangku yang memang mereka sediakan di samping bangunan kafe, tempat mereka melepas segala lelah dan gundah. Saksi bagaimana emosi keduanya terkadang diombang-ambing oleh keadaan.

Gawin menarik lengan berurat milik Podd lembut, diajaknya untuk duduk santai seperti sediakala. Gawin tersenyum, semakin manis ditambah binar cahaya yang mengelilingi tubuhnya.

“Demi Tuhan aku kangen banget sama kamu...” Ucap Podd dengan segala rasa rindunya.

Gawin tersenyum, lucu batinnya melihat sosok kuat dihadapannya jadi rapuh. “Aku gapapa. Aku baik-baik aja disini.”

“But, I'm not okay without you.”

Gawin lagi-lagi terkekeh geli, jemari panjangnya beberapa kali ikut menahan air mata milik dominannya yang turun. “Kamu bakal gapapa, Podd. Kamu sehat, badan kamu gede, kuat juga. All you have to do just set me free.”

Podd mengangguk ribut, seratus persen tidak setuju dengan apa kata-kata yang dilontarkan sang kekasih. Podd masih ingin mengenang Gawin. Menurutnya, masa lalunya bersama pemuda jangkung nan lucu ini terlalu indah untuk dilupakan.

“Aku juga ingin bebas, tapi cuma kamu yang bisa bikin aku bebas. Kamu yang bikin aku terjebak dalam alam sadarmu, bikin diri kamu sendiri tersiksa. I want you to be happy, I want to see your silly smile from there.”

“Enggak, Win... jika suatu saat aku kangen sama kamu aku harus gimana?” Tanyanya penuh keputusasaan.

“Aku selalu ada sama kamu. Bahkan saat kamu menemukan pengganti yang lebih baik, aku akan jadi orang pertama yang tau. Karena aku akan selalu disini sama kamu.”

Pada detik ini Podd yang tangguh hanya sanggup menuaikan jutaan cairan bening. Sekujur tubuhnya lemas, lelah entah terlalu banyak menangis atau memang sudah saatnya beristirahat. Semua yang dikatakan Gawin membuatnya tertampar, Podd terbelenggu dalam penyesalan tanpa tahu Gawin sudah ikhlas dengan nasibnya.

“Bangun ya, pelan-pelan lupain aku biar kamu bisa sembuh.” Ucap Gawin lembut sembari mengelus punggung bergetar kekasihnya perlahan, memberi seluruh kenyamanan yangmana Podd hampir lupa rasanya.

“Please, stay with me.” Balasnya parau. Pikirannya kacau saat tak menemukan satu cara pun untuk mengambil Gawin kembali pulang dalam rengkuhannya.

“I will.”

Detik itu pula Podd terbangun dari tidur singkat yang melelahkan, menyerahkan raganya pada dunia nyata. Podd sadar jauh di bawah alam sadarnya Gawin juga tersiksa. Terkadang, saling melepaskan adalah cara yang paling membahagiakan dalam sebuah tautan romansa. Karena seluruh insan di dunia punya cara tersendiri untuk mencari jalan menuju “tidak apa-apa” sampai bertemu bahagianya.

END


au ini dibuat spesial bagi orang-orang kuat dalam dunia per poddgawin/poddfluke-an.

I'm afraid being alone in the morning. – PP Krit.

a billkinpp alternative universe


a/n : seluruh kilas kejadian pada cerita ini murni fiksi, bukan berdasarkan kejadian sebenarnya.


Dua pemuda itu berlari, saling mengejar diatas hamparan rerumputan hijau dikelilingi bunga. Rautnya bahagia, bak terjebak di negeri dongeng dengan cerita akhir happy ending. Keduanya pun jatuh dengan saling menindih, saat salah satunya berhasil tertangkap. Tak ada erangan sakit, hanya gelak tawa seakan jatuh pada tumpukan kapas lembut. Hanya sekilas menilik, kita dibuat tahu betapa indahnya dunia yang mereka genggam.

Deru napasnya terdengar, kedua manik indah milik keduanya saling bersitatap saling membaca perasaan masing-masing melalui binar netra. Tak berselang lama garis bibirnya melengkung ke atas.

“Apa jadinya diriku tanpa kehadiranmu?”

Ujar yang dibawah sembari membelai anak rambut yang jatuh dipelipis dominannya. Jemari lentiknya bergerak, menjamah setiap sudut rupa menawan nan tegas. Manik matanya pun begitu, terpaku pada mata sendu yang kian bersinar diterpa mentari.

“Masih tetap dirimu. Namun tak sebahagia ini.” Balas si dominan penuh percaya diri. Seakan seluruh sumber kebahagiaan pemuda di bawahnya murni karena dirinya.

Bukan hanya bualan, namun benar itu realitanya. Billkin Assaratanakul adalah penyangga hidupnya, sumber kekuatannya, mataharinya dikala gelap mampir dan PP Krit tak sanggup hidup tanpa sosoknya.

Billkin bergerak turun membuat tubuhnya semakin menghimpit pemuda manis di bawahnya. Satu lengan kekar digunakan untuk menyangga berat tubuhnya, sedangkan yang bebas mencengkram tengkuk pucat milik PP. Dua pahatan paras sempurna itu saling mendekat, beradu deru napas. PP menutup maniknya, tatkalah hidung dan hidung sudah saling menempel. Pemuda manis itu hanya mengalungkan kedua lengan ringkihnya, menunggu sang dominan menjamah si benda kenyal.

Belum sempat milik keduanya bertemu, hembusan angin dasyat melintas. Langit biru berlapis kapas putih telah berganti dengan keabu-abuan. Kilat menyambar disertai hujan lebat tiba-tiba. Rentetan bunga penuh warna disekitarnya berubah menjadi hitam.

“Billkin, aku takut.”

PP bergetar, tubuh kurusnya berlindung meringkuk dibawah kungkungan Billkin. Kedua telinganya ditutup, tak ingin mendengar suara menggelegar dari guntur.

“PP, tolong lihat aku!”

Suara Billkin tinggi nan tegas. Kedua tangannya menarik paksa tubuh lemah itu untuk menghadapnya. PP menggeleng, dirinya kepalang takut hingga tak sanggup menyaksikan kegelapan disekitarnya.

“PP Krit!” Bentakan Billkin mengudara. PP sontak menatap tepat pada mata sendu kesukaannya itu. PP masih bergetar, pandangannya kabur akibat lelehan air mata ditambah derasnya air hujan menerpa kulit lembutnya.

“Aku harus pergi, menghentikan semua ini.” Ujar Billkin perlahan, mencoba meyakinkan sosok dihadapannya.

PP menggeleng ribut, tangisannya pecah menjadi-jadi. “Nggak, Kin. Kamu disini aja. Aku takut sendirian.”

“Kamu harus bisa hidup sendiri.”

“Nggak... Billkin,.”

“I have to go.” Itulah kalimat terakhir yang Billkin sematkan pada PP. Seakan egois, Billkin melepaskan rengkuhannya. Berlari menembus kegelapan tanpa menoleh sedikitpun.

“BILLKIN!...BILLKIN!....”

Tak peduli seberapa hebat PP mencoba untuk menggapainya kembali.


“BILLKIN!”

PP terbangun dari mimpinya dengan napas memburu. Jantungnya berdegup tak karuan dilanjutkan terproduksi peluh sebesar biji jagung ikut memenuhi pelipis putihnya. PP terduduk, bola matanya bergerak kesana kemari. Dia masih di kamar dengan lampu putih terang.

PP menarik napas perlahan, sesekali menutup matanya guna menenangkan. Atensinya lalu menuju pada space disampingnya. Ucapan syukur dirapalkan kala masih mendapati seonggok daging terbungkus bedcover hingga menutupi setengah wajahnya. Billkinnya masih disini.

PP turun menuju dapur. Suasananya sepi, namun seluruh ruangan terang membuat hatinya nyaman. Ya, PP punya gangguan kecemasan saat sendirian dan berada di ruangan gelap. PP benci waktu malam, seluruh ruangan termasuk kamar lampunya menyala saat langit menjadi gelap.

Sebuah lengan melingkar apik pada pinggang ramping PP, membuatnya sedikit tersedak air yang tengah diteguknya.

“Apa terjadi sesuatu?” Tanya Billkin, suami PP dalam suara serak.

PP hanya tersenyum, Billkin selalu peka jika PP butuh penenenang. “Tidak. Hanya mimpi buruk.”

PP memilih untuk tak menceritakan mimpi buruknya kali ini. Terlalu mengerikan.

“Tentang apa? Mau bercerita? Akan kusiapkan teh ha-”

Belum selesai Billkin berucap, PP berbalik. Pemuda manis itu mengecup sekilas rahang tegas milik Billkin. “I'm ok. Ayo tidur, besok kamu penerbangan pagi bukan?”

PP meletakkan gelasnya, menggandeng Billkin yang masih dipenuhi dengan rasa penasaran tuk kembali melanjutkan tidur.

06.00 a.m

Pagi menjelang, langit hari ini benar cerah. Mendung dan hujan nampaknya kalah bersaing dengan panasnya matahari. Udaranya sejuk, sangat pas untuk sekedar duduk ditemani teh hangat.

Seperti yang dilakukan pemilik nama PP Krit. Ia hanya duduk di balik jendela sembari melamun menatap taman kecil miliknya. Tangan dinginnya sibuk mencari kehangatan pada badan cangkir berisi teh hangat. Kulit putih pucatnya sedikit memerah diterpa sinar mentari.

“Sayang.”

Lamunannya buyar seiring suara halus menyapa gendang telinganya. PP tersenyum tipis, perasaannya hari ini tak sebagus cuaca diluaran. Namun, PP dengan sebaik mungkin mengatur mimik wajahnya agar tampak bahagia.

PP meletakkan cangkirnya, secepat kilat berdiri dihadapan sang suami yang telah rapih dengan seragam kebanggaannya. Jemari indah itu dengan cekatan merapihkan kemeja putih hingga lusuhnya tak nampak. Billkin gagah seperti biasa.

“Aku akan pulang dijam seperti biasa, jangan cemberut seperti ini.” Tangan jahil Billkin menarik bibir PP yang memang sedikit maju.

PP menatap lelaki itu tak semangat. Hari ini mood-nya begitu buruk. “Jujur, ada perasaan nggak enak. Aneh gitu.”

Billkin tersenyum, lelaki yang telah dinikahi selama 2 tahun ini kadang memang terlalu khawatir berlebih. “Mungkin karena masih terbawa mimpi buruk semalam. Aku sudah menawarkan untuk cerita tapi kamu menolak. Inilah akibatnya.”

“Haahh...” PP menghela napas berat, berusaha mengeluarkan gundah dalam dirinya.

“Aku mau ikut nganterin kamu ke bandara.” Lanjutnya.

Billkin cukup terkejut dengan kalimat yang baru saja terlontar dari bibir si manis. PP tidak pernah mengantarnya sampai bandara karena itu cukup jauh.

“Kamu yakin? Apa tidak lelah menyetir pulang lalu kembali menjemput di sore hari?”

PP mengangguk tegas. Hari ini dia ingin bersama Billkin lebih lama. Meskipun hanya satu detik tersisa, PP ingin menggenggam tangan hangat milik Billkin.


Suvarnabhumi Airport 09.20

Dua pria itu memasuki kawasan bandara. Bak model profesional, keduanya mencuri atensi hampir seluruh pengunjung. Yang satu gagah berani dibalut kemeja pengemudi kapal terbang, yang tengah digandeng anggun hanya dengan balutan kemeja oversized ditambah celana kain hitam.

Si gagah, Billkin sesekali memamerkan senyum ramahnya pada rekan penerbangan lain yang terlihat telah selesai bertugas.

“Pak Billkin.” Sapa sosok lelaki. Tiba-tiba saja sudah berjalan berdampingan disebelah Billkin.

“Pond. Gimana?”

Fit banget pak hari ini.” Jawab lelaki yang memang terlihat jauh lebih muda daripada Billkin.

Pond ketprapakorn, lulusan termuda sekolah penerbangan yang juga menjadi institusi Billkin. Diumur belia ini Pond sudah menemani Billkin menjadi co pilot, melalang buana membelah langit.

*Pengumuman bagi seluruh pegawai yang bertugas dengan penerbangan Thai Airlines tujuan Chiangmai agar berkumpul untuk pelaksanaan apel keberangkatan*.

Billkin berhenti saat di depannya adalah pintu boarding. Cukup sampai disini saja PP mengantar. Billkin sejenak menghadap suaminya, menggeleng pelan saat rengkuhan jemarinya tak longgar sedikitpun, seperti enggan melepas Billkin pergi. Billkin jadi setengah hati bertugas, namun Ia mana boleh egois. Ada banyak anggota keluarga yang harus diantar pulang ke rumah dengan selamat.

Billkin membawa PP pada sebuah dekapan hangat. Bersentuhan dengan dada bidang Billkin, PP menjadi sedikit nyaman. PP tersenyum kecil saat berhasil menangkap irama degup milik Billkin. PP lantas menutup matanya, menikmati setiap detik yang tersisa. Ia harus yakin, nanti sore Billkin akan kembali memeluknya seperti ini.

“Yaampun kayak masih pengantin baru.” Ujaran Pond menyahuti.

PP melepas terlebih dahulu, dirinya lupa masih ada orang ketiga diantara mereka. Malu. “Pond...”

Pond selain dekat dengan Billkin juga dekat dengan PP.

“Hayuk Pak, ga bakal berangkat kalau kaptennya belum join apel.”

Billkin menatap suaminya lekat sekali lagi. Membelai pipinya yang sedikit memerah jika dipagi hari. Dari sorot mata sosok tegas itu, Ia memberikan pengertian bahwa PP tak perlu khawatir.

Billkin bergerak mendekat. Seakan paham, PP menutup netra cantiknya. Alis berkerut saat merasakan basah pada dahi bukan bibirnya yang suaminya jamah.

“Aku berangkat ya...” Pamitnya.

PP mengangguk tak rela, “Hati-hati, nanti aku jemput.”

“Tunggu aku telpon saja baru otw biar nggak kelamaan nunggu. Soalnya dari Chiangmai suka delay.”

“Iya, udah sana berangkat keburu aku nggak ikhlas lagi.” Balas PP bercanda, pemuda manis itu sedikit mendorong suaminya pergi.

Billkin tergelak, seiring langkahnya menjauh diikuti Pond yang hampir muntah melihat adegan uwu selama lebih dari 15 menit.

“Nanti bibir kamu, aku tagihnya pas pulang!” PP mendelik tak percaya. Bagaimana bisa suaminya tak tahu malu berteriak seperti itu.

PP berhenti melambaikan tangannya saat punggung lebar itu hilang dibalik pintu. “Ya Tuhan, lindungilah dia.”

Sky, 30000 ft.

Di atas hamparan langit biru yang luas, burung besar itu melayang. Membelah setiap gumpalan putih tak pantang takut. Pengemudinya pun begitu, penuh konsentrasi dan keseriusan. Tak ada sedetik mata jelinya beralih menatap yang lain selain jalan biru di depannya.

“Mulus Pak.” Puji Pond saat pesawat berhasil naik diketinggian 30000 kaki dengan cantik.

Billkin bisa lega sekarang, armadanya telah terbang stabil dan cuaca masih mendukung.

Pond menyerahkan sebungkus permen jeli tepat di depan mulut Billkin yang tertutup rapat. Billkin melirik sedikit, lantas membuka mulut. Segar, saat rasa manis berhasil dikecap lidahnya.

“Santai, Pak. Cuaca kayaknya dengerin doa suami bapak biar cepet pulang.”

Billkin terkekeh, tetapi maniknya masih menatap lurus ke depan. “Bagus kalau begitu. Saya juga sudah kangen sama dia.”

Pond menanggapi dengan gestur ingin muntah. Senior di sampingnya ini bualannya seperti orang tua. “Jadi pengen nikah juga.”

“Sudah ada calonnya?” Billkin bertanya sembari jemarinya bermain pada alat kendali.

“Belum, tapi mau yang bucin kayak suami bapak.”

“Waktu saya dibucinin tinggal sedikit lagi.” Balasan Billkin membuat Pond sontak menengok, menatap seniornya dengan pandangan horor.

“Bapak ada masalah sama...” Tanyanya dengan nada lirih.

“Iya, abis ini dia bucinin anaknya bukan saya lagi.”

Pond mendelik, kabar bahagia lagi-lagi dihaturkan. Sepertinya dunia sedang ada di titik terbahagiannya.

Tower pada kapten TA 065, ganti.”

Pond mengambil alat komunikasi dengan secepat kilat, mendekatkan bibirnya sambil memencet tombol disebelah kanan. Co-pilot masuk, silahkan bicara.”

Belum selesai menyampaikan, burung besi terbang itu seketika dikelilingi warna abu-abu. Bak masuk di negeri antah berantah yang tadinya berwarna seketika menjadi suram.

“Ba..,ha-ti., naik 10-...”

Panik melanda, namun Pond dan Billkin masih berusaha tenang. Lengan kekar Billkin menggenggam erat kendali hingga uratnya mencuat.

“Halo.. halo... Co-Pilot pada tower, ganti.”

Tak ada jawaban, hanya suara gemerisik disebrang sana.

“Tenang, sepertinya sinyal agak terganggu karena mendung.” Ujar Billkin menenangkan, meskipun dirinya sendiri bingung memilah-milah pengalaman memegang kendali guna menemukan tindakan yang tepat. Menghindari badai tanpa bantuan tower lalu lintas sangat sulit dan riskan.

Zzzzsaaassszzz

Hujan datang menerjang tubuh kokoh berlapis besi, seluruh debu yang menempel mendadak luntur. Suara gemuruh mulai terdengar ribut, kilatan-kilatan cahaya nampak seperti berada di tengah-tengah jutaan flash kamera, memotret betapa ketakutannya raut wajah yang tersampir.

Co-pilot pada tower, ganti.”

“Kita naik menghindari badai. Beri pengumuman pada penumpang akan terjadi turbulensi.” Putus Billkin.

“Riskan, Pak. Nggak ada panduan dari tower untuk naik.”

“Tidak ada pilihan lain, kita di tengah-tengah samudra, pendaratan darurat sama dengan bunuh diri.”

Pond mengambil napas perlahan seraya berdoa semoga pilihan mereka kali ini benar. Pond mengambil mikrofon pengumuman, mengaktifkannya lalu memberi pengumuman dengan suara tenang.

Billkin lebih fokus, begitupula dengan Pond yang siap mengikuti apapun keputusan seniornya. Billkin mulai menarik kemudinya erat, menghiraukan guncangan yang terjadi. Telapak tangannya berkeringat, namun tak bisa dilepaskan meskipun urat nadinya putus begitu saja.

Jdarrr

Pesawat terbang miring ke kiri, teriakan panik dan memilukan terdengar hingga kursi kendali pilot. Tangisan bayi diikuti rapalan doa-doa dilantunkan dalam berbagai keyakinan. Suara nafas tercekik dari orang-orang tua ikut meriuhkan suasana.

“Pak sayap kanan patah sebagian. Kita jatuh Pak!” Pond menangis, entah mengapa jalan pikirannya keruh. Lembaran ilmu yang Ia berhasil serap dalam waktu singkat hilang begitu saja.

Billkin masih kukuh memegang kendali, tubuhnya basah kuyup diterjang keringat dingin. Nafasnya sesak akibat saturasi oksigen mulai menurun. Pesawat hilang kendali, namun tak satu jarinya pun sempat mengambil kantung oksigen.

“PAK! GUNUNG!”

Terlambat, apapun tindakan yang akan dilakukannya tiada guna. Percobaan pendaratan pada hamparan air samudra untuk menaikkan angka kelulusan hidup tak pernah terjadi. Badan besi kokoh itu rusak remuk terbelah menabrak kokohnya gunung di ujung samudra.

Keadaan sunyi senyap, tak ada teriakan kepanikan disana selain suara debuman berkali-kali dari mesin yang meledak. Kobaran merah dari api bercampur darah menjadi pemandangan paling tragis.

“Sh.. sakit...”

“Billkin?”

Sebuah suara masuk dalam dunia gelapnya. Seonggok daging yang tak lengkap lagi bagiannya masih dibiarkan hidup pada ambang kematian.

“Billkin”

“P..p., a-akh-u pu-l-a..ng.”

Ke rumah yang lebih indah dimana aku akan menunggumu disana.


Epilogue

Matahari perlahan naik ke permukaan. Kilaunya memancar tanpa malu-malu menghapus kegelapan yang sebelumnya ada. Hembusan angin disertai suara deburan ombak begitu mencerminkan bagaimana indahnya suasana pantai.

Dua sosok lelaki itu saling bercengkrama, di asta tebing sepi menghadap pada hamparan air biru seperti tiada ujung. Suara candaan sesekali terdengar meskipun kecil akibat diredam angin kencang.

“Kok pesawatnya warna hijau sih.” Ujar sosok yang lebih dewasa diantara mereka.

“Ini pesawatnya pasukan perang, Pah.” Sosok kecil itu membalas, namun konsentrasinya penuh pada buku gambar dipangkuannya.

PP, sosok dewasa itu membelai surai lebat, mencium puncak kepala kecilnya. Menghirup aroma sampo khas anak-anak.

“Pah..” Panggil si kecil, saat ini tangan si kecil bergerak mencoretkan warna kuning pada gambar matahari.

“Kenapa namaku Arthit? Arthit kan matahari ya, Pah?”

PP menerawang ke depan, kulit putihnya diterpa sinar mentari. “Karena Papa suka matahari. Papa nggak suka gelap dan kamu yang jadi mataharinya Papa.”

Kepala kecil itu mengangguk lucu. Tangan yang sedari tadi sibuk jadi berhenti. Binar mata indah mirip milik seseorang di masa lalunya menatap milik PP lamat. “Kalau Papa jadi bumi, terus Arthit jadi matahari, berarti Ayah yang jadi bulan ya Pah?”

PP Tertegun, hanya menatap dalam pada manik si kecil sudah cukup untuk memutar kenangan-kenangan indah beberapa tahun lalu. Suaminya seperti terlahir kembali menjadi sosok Arthit.

“Bukan. Ayah juga mataharinya Papa, tapi dulu sebelum kamu lahir.” PP tersenyum melihat raut yang sepertinya tak mengerti satupun yang dijelaskan PP.

“Berarti Arthit sekarang gantiin Ayah ya, Pah?”

PP mau tak mau tergelak. Anak semata wayangnya ini tingkat keingintahuannya tinggi. Dia akan menanyakan pertanyaan sampai akarnya, terkadang membuat PP pusing sendiri.

“Iya, Arthit gantian Ayah jagain Papah ya?”

Arthit tersenyum, mengangguk dengan semangat lalu memeluk Papanya erat. “Aku janji sama Ayah akan jaga Papa.”

Phrathity Assaratanakul, matahari terbit ditengah gelapnya dunia PP Krit.

Kepada Billkin matahariku yang telah pergi, terima kasih karena telah menitipkan sosok pengganti untuk terus menerangi duniaku. Si kecil yang selalu ingin tahu kehidupanmu di masa lalu. Malaikat kecil obat penenang PP Krit yang rapuh. ㅡ PP Krit

END


Selalu berterima kasih kepada mbak 𝙘𝙞𝙣 @scintillaaa00, karena dia yang selalu ngingetin aku tentang Billkinpp.

SAN

“siapa gerangan si rupawan itu, sekali memandang jatuh hatiku dibuatnya.”

a billkinpp alternative universe

Image


a/n : cerita ini dibuat untuk kebutuhan hiburan semata. segala kesamaan nama cast, nama tempat, kesalahan penulisan, atau ada hal yang offensive, dll kritik saran di dm akan selalu terbuka :)


Kya kya, Surabaya Billkin point of view

Langkah demi langkah kaki panjang ini beradu dengan aspal kasar. Teriknya sang mentari menjadi pengiring setia sejak raga ini memasuki pilar besar berukir naga. Kya kya, sebuah lokasi pecinan tua ditengah Kota Surabaya. Maksud saya bertandang kemari tak lain demi memenuhi catatan nilai tugas. Biasalah, apa lagi yang dikerjakan oleh mahasiswa semester 4 jurusan seni selain menjadi budak project.

Kemeja santai berwarna dasar merah dengan celana kain selutut menjadi pelapis kulit kecoklatan khas pemuda jawa. Menambah kesan modis pada diri ini dengan menggantung gagah kamera analog kesayangan pada leher jenjang yang bebas terlihat.

Sesekali kamera kuangkat, membidik objek apapun yang tertangkap iris legam. Terkadang senyum dibibir muncul saat hasil yang didapat memuaskan.

Tepat pukul 12 siang aku memutuskan tuk menyerah melawan terik matahari. Mendekat pada gerobak kecil penjual es gudir. Gerobaknya tua sama dengan pemiliknya, namun si mbah tetap memberi senyum terbaiknya hingga mau tak mau bibir ini membalas miliknya yang telah keriput.

Matur nuwun.” Ujarku bersamaan dengan menyerahkan selembar lima ribu.

Kakiku sedikit berlari kembali pada pelataran toko mencari pelindung teduh. Berjalan sedikit terlambat sesekali memperhatikan jualan toko. Bau khas pecinan berlomba-lomba ingin menunjukkan eksistensinya pada indra penciuman. Langkahku akhirnya berakhir pada pemberhentiannya saat mendapat sebuah kursi kayu lawas kosong diantara dua toko. Seakan tak sabar, bokongku telah mendarat sempurna dibarengi bunyi berdecit.

Tatapanku terpaku pada lalu lalang sibuk di jalanan sebrang. Hawa dingin menyapa saat es gudir berhasil melewati tenggorokan. Tangan bebas sesekali terangkat tatkala keringat bercucuran memenuhi dahi sembari hidung lapar ini tergoda akan bau harum restoran sederhana disebelah.

Ér zi, guò lái!

Hampir copot jantung satu-satunya, tubuh juga terperanjat kaget. Suara wanita paruh baya yang entah berkata apa menggelegar luar biasa. Tak henti sampai disitu, alisnya menukik dan bibir tebalnya terus bergerak, dagunya terangkat tinggi hingga arah netranya tertuju pada balkon yang lebih tinggi di atas.

Berselang sekian detik tatapan penuh kilat kekesalan menatap lurus ke dalam restoran. Kedua tangan sosok wanita oriental itu malang kerik dipinggang.

“Nah, tidur terus pekerjaanmu. Punya anak lanang kok ga isa disuruh-suruh.” Tanpa sadar aku terkikik. Ucapannya percis milik ibu di rumah.

Sosok pria muda itu muncul dengan gaya acak-acakan khas bangun tidur. Rambutnya morat-marit dengan bekas peta Pulau Jawa tersampir putih di pipi sedikit bersemunya. Pria manis, bentuk matanya lebar tak seperti chinese kebanyakan ditambah alis lentiknya nampak dari jauh. Bibir merah muda yang mengerucut menambah pesona lucunya.

Atensiku semakin direnggutnya tatkala si pria muda berjalan dengan menghentakkan kakinya, menyalurkan kekesalannya pada bumi yang tak bersalah. Tatapanku lamat, memperhatikan bagaimana jemari lentiknya menyiapkan dupa. Mimiknya merengut sebab korek api ditanggankan tak segera menyala.

Bagaimana bisa menghadap Tuhanmu dengan wajah kesal itu.” Pikirku lucu saat sosok disana mulai merapalkan doa-doa namun disisipi cebikan.

Aku baru tahu bahwa memandang dengan netra asli jauh lebih menyenangkan daripada melalui lensa kamera.


Kedai Chénggōng PP point of view

PP Krit, manusia yang tampan dan juga terkenal. Begitulah kedua orang tuaku memberi nama. Sosok pemuda oriental yang hadir ditengah-tengah keluargaku 21 tahun yang lalu. Hidup di pecinan tepatnya di atas kedai makanan Tionghoa usaha kedua orang tua. Baba telah tiada dan hanya kedai tua ini harta berharga yang beliau tinggalkan padaku dan Mama.

Ér zi! untuk meja 5.” Teriak Mama dari balik dapur kecilnya.

Ya, beginilah keseharianku, membantu jalannya kedai dari buka hingga tutup di malam hari. Tak ada pelayan, maka Mama memperkerjakan aku.

Hari yang cukup melelahkan. Tentu, ini akhir pekan dan kedai tua kami memiliki banyak pengunjung. Aku duduk bersantai dibalik meja kasir. Mengamati satu-satu pengunjung yang dengan santai memakan menu pilihan masing-masing. Tak ada yang berbeda, hampir semua pengunjung aku pernah melihatnya. Iya, kebanyakan yang makan disini pekerja atau pemilik toko di pecinan.

Tanpa sadar senyuman mengembang, merasa puas melihat pelanggan yang nampak menikmati resep masakan Mama. Suasana hangat pun menyelimuti seiring samar-samar terdengar berbagai obrolan orang tua mengenai cerita hidupnya.

Aku tertegun, saat tak sengaja menangkap objek sosok pemuda di kursi paling belakang. Seketika, otakku seperti membuka seluruh memori tentang orang-orang yang selama ini kukenal. Nihil, seberapapun mencoba mengingat paras pemuda itu, aku tak dapat menemukannya.

“Mungkin pelanggan baru.” Ujarku lirih.

Aku menumpukan dagu diatas kedua telapak tangan. Seluruh atensi ini telah direnggut dengan tingkah konyolnya. Aku terkikik melihat betapa frustasinya air wajah itu saat mencoba menggapai satu helai kwetiau dengan sumpit. Pegangannya kaku, aku yakin pemuda itu tak pernah memakai sumpit sebelumnya. Kenapa tak minta? Padahal ada banyak garpu di dapur.

Cukup, kwetiau akan jadi tidak enak jika terlalu lama dibiarkan dalam kuah kaldu.

“Mama, tolong ambilkan garpu dan sendok.”

Setelah itu, aku membawa tubuhku mendekati sosoknya. Sudah cukup menyerah sepertinya, si dia hanya bermain dengan ponsel pintar sambil menyeruput gelas berisi teh tawar dingin.

Aku meletakkan garpu dan sendok tepat disebelah mangkuk kwetiau yang isinya sudah berantakan. Kedatanganku nampaknya menyita minatnya dan detik itu juga kedua iris kami bertemu. Aku menyunggingkan senyum terbaik sedangkan pemuda ini malah menatapku tertegun.

“Kedai kami punya banyak garpu jika kau merasa kesulitan.”

Pemuda itu meletakkan ponselnya keras. Ia menegakkan duduknya, lalu merapikan sedikit kemeja yang dikenakan.

“Te-terima kasih.” Jawabnya gugup.

Aku kembali ke tempat asal, namun hasrat untuk memandangnya masih besar bersarang di dada. Pemuda itu nampak bahagia, seperti garpu dan sendok adalah sobat lamanya. Pandangan kami lagi-lagi bertemu, kali ini dari jarak yang cukup jauh. Boleh jujur, si pemuda itu diberkati dengan wajah rupawan dengan mata legam sendunya.

Hào chī ma?” Tanyaku tanpa suara yang ditanggapi dengan kerutan di dahi.

Enak? Ulangku sekali lagi.

“MANTAP JIWA”

Dua jempolnya terangkat keatas membiarkan atensi seluruh pengunjung menuju arahnya. Aku tertawa, bagaimana ada sosok semenggelikan ini.

Kalau boleh, Aku ingin mengenalnya lebih jauh.


1 bulan kemudian Billkin point of view

Nĭ hăo, wò shì Billkin.”

Hanya itu kata yang mampu teringat dalam semalam. Entah otakku sudah dititik overload karena seminggu lalu menghadapi Ujian Tengah Semester.

Aku tengah berdiri, 20 meter dari tempat yang akhir-akhir ini sering kusinggahi. Sudah satu bulan, tak sekalipun aku absen datang kemari. Entah bodoh atau terlampau goblok yang kulakukan hanya datang, pesan kwetiau, duduk di bangku paling ujung dan memandangi si manis anak pemilik kedai, selalu lupa menanyakan sekedar nama. Jika ditanya apa menu favorit disini dengan tegas aku menjawab 'kwetiau basah topping senyuman mas kasir.'

“Eh, kalo nanya siapa namamu gimana ya...” Monologku sambil mengingat kata dalam buku bahasa mandarin yang dibeli seminggu yang lalu.

”.... Ah masa sopo jenengmu?”

Bodo amat, yang terpenting sekarang masuk ke sana dulu. Aku merapihkan sedikit kemeja merah dengan parfum khas toko alias baru beli kemarin.

“Ini sudah yang ke lima kalinya kamu kemari.” Sebuah suara segera menginterupsi bersamaan dengan langkah pertama kakiku memasuki kedai.

Aku tersenyum kikuk, menghampiri meja kasir yang disana sudah dijaga makhluk manis.

“A-ah...”

Lihat dia tersenyum, Aku suka bagaimana benda kenyal berwarna merah muda itu terangkat ke atas.“Pesan apa hari ini?”

“Tolong, seperti biasa.” Pintaku.

“Dengan garpu dan sendok.” Ujarnya menyakinkan.

Aku mengangguk sembari terkekeh geli, “Tepat sekali.”

Pemuda manis itu mengarahkan lengannya seraya mempersilahkanku duduk. Seperti biasa, bangku paling belakang akan selalu kosong saat Aku tiba.

Pelajaran paling berharga pada hari ini adalah Aku lagi-lagi lupa menanyakan nama si manis. Iras menawan itu seolah memanipulasi isi pikiran. Memandangi parasnya tanpa mengenal bosan seperti tak ada hal yang lebih indah dibanding dirinya. Lalu, raga ini bergerak pergi dengan membawa berbagai macam bunga dengan banyak warna.

Tolong, ingatkan si bodoh ini untuk menanyakan namanya lain kali.


Chinese New Year Festival PP point of view

Gema keramaian terdengar nyaring dari jalanan sekitar. Suara petasan diiringi musik menandakan bahwa pertunjukkan utama sedang berlangsung. Lampu-lampu dominasi warna merah tertata apik dari ujung gapura naga hingga ujung gapura yang lain. Kepulan asap berbagai bau tercium sedap hingga ke hidung. Hari ini tepat malam perayaan Tahun Baru China dan Aku hanya menopang dagu memperhatikan hingar bingar dari balkon kamar.

Aku tidak punya alasan khusus untuk tak ikut menceburkan diri di tengah keramaian. Hanya saja, melakukan semua sendiri itu tidak menyenangkan.

“TOLONG KWETIAU BASAH SATU!” Teriak sosok pemuda dari bawah. Sangat memekikkan telinga, namun langsung tau siapa pelakunya.

Pemuda gila, apa yang dilakukannya pada malam hari disini? Apa dia sudah menentukan untuk pindah di salah satu ruko?

“Kedai tidak buka sejak siang. Apa yang kamu lakukan disini?!” Tanyaku dengan suara yang tak kalah tinggi.

Pemuda itu hanya menunjukkan senyum konyolnya. Memberikan gestur menyuruhku menemuinya dengan lambaian tangan. Aku masih menatapnya ragu, hanya saja detik kemudian rasa penasaran itu semakin besar.

Zǒu!” Katanya tepat ketika Aku telah berdiri dihadapannya.

Aku menatapnya curiga.“Kemana?”

Pemuda itu menatapku gemas. Seperti tak ingin mengulangi ajakannya sekali lagi, dia langsung mengambil pergelangan tanganku. Ditarik lembut menuju lautan manusia.

Aku masih setia disampingnya. Berjalan dengan tempo sedang menuju pelan. Tanpa sadar jemariku sejak tadi berpegangan pada ujung bajunya. Takut terpisah, walau suasana masih kondusif meskipun ramai padat. Manik milikku tak henti mengedar pada keindahan malam hari ini, terlalu kagum hingga kedua telinga mendadak tuli.

“Hei, aku mengajakmu kesini bukan hanya untuk melihat-lihat. Ayo rekomendasikan jajanan selain kwetiau.”

Aku terkesiap, namun dengan cepat meneliti satu persatu stan penjual makan.

“Apa ada makanan yang tidak kamu suka atau kamu tidak boleh makan? Eum.. Seperti babi?” Entah mengapa pertanyaan itu muncul. Tak ada salahnya kan? Kami berada di suku bangsa yang berbeda, mungkin juga berbeda dikepercayaan...

Dia menatapku, tepat di mata dengan manik sendunya. “Aku suka...”

Suka kamu.” Inner Billkin

“Suka... Babi.”

“Serius?!” Aku cukup terkejut dengan jawabannya. Puluhan ribu kunang-kungan seperti keluar mengelilingi tubuhku dengan cahayanya. Ada rasa lega dan bahagia membuncah dalam raga.

Aku punya banyak kesempatan kan?

Author point of view

Billkin mengantar PP kembali pulang. Hampir tengah malam namun populasi manusia semakin meningkat. Sayang jikalau bukan perutnya yang hampir meledak kekenyangan mereka masih berada di tengah khalayak.

PP melepaskan genggaman nyamannya pada ujung kemeja Billkin. Kusut dibuatnya sebab tak dilepas sedetikpun saat berada disana. Suasana mendadak canggung. PP mengulum bibirnya, bingung. Billkin masih berdiam tanpa berniat untuk mengucap selamat tinggal.

“Aku-”

“Eh..”

Ucap mereka bersamaan.

“Kamu dulu.” Billkin menengahi.

PP berfikir sejenak, “Eum.. Aku masuk ya?” Katanya canggung.

Billkin hanya tersenyum sambil mengusap tengkuknya. Ada suatu hal yang masih tertahan, tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Saat langkah PP sudah mulai menjauh, Billkin kelabakan. Bagaimana jika Ia akan menyesal dikemudian hari?

“Hey!” Panggilnya. Lalu si pemuda manis berhenti.

Wò., Wò shì Billkin. Nǐ jiào.. shén-me míngzì?” Ucap Billkin dengan nada terbata.

PP tertawa, betapa lucunya lelaki dihadapannya.

“PP. Wò shì PP.”


Epilogue

Kedua lelaki itu menutup masing-masing bukunya saat telah sampai pada lembar terakhir. Kedua buku yang tanpa sengaja digunakan untuk mencurahkan hati yang masih terpisah berpuluh-puluh tahun lalu. Tak ada yang spesial, hanya berisi pujian-pujian berlebihan, saling mengangumi satu sama lain.

Mereka lantas menyimpan buku lusuh yang sebagian lembarnya telah menguning di atas nakas. Hari sudah larut, dan keduanya masih terjaga ditengah kamar temaram. Padahal 30 menit yang lalu masih berisik ocehan sosok lelaki kecil.

PP dan Billkin saling menatap. Detik kemudian kekehan pelan keluar begitu saja melihat gumpalan daging tertidur pulas dengan posisi meringkuk diantara mereka. Billkin mengusap kepala kecilnya sayang, lalu menaikkan selimut lebih keatas diikuti PP dan Billkin setelahnya.

“Dia tidur sangat pulas, padahal tadi terserang mimpi buruk.” PP memainkan bibir kecil yang sedikit terbuka gemas.

“Dia hanya mencari alasan untuk tidur bersamamu.” Billkin menanggapi. Malaikat kecil penyempurna kehidupan mereka memang lebih menempel pada PP.

PP mengangguk setuju. “Tutup matamu, besok bukannya launching pameran pertamamu?”

“Huum...”

Dua puluh tahun hidup sebagai seniman fotografi, besok adalah achievement terbesarnya.

“Maaf aku tak bisa menyematkan sebuah kecupan lagi. Selamat malam, aku mencintaimu.”

“Aku juga...”

Sangat mencintaimu.

END


special thanks to mbak cin alias @scintillaaa00 atas asupannya tiap hari perkara BillkinPP.

SAN

“Yang namanya jodoh itu nggak tau siapa, dateng darimana, kapan waktunya, dan jagat raya ini punya beribu cara unik untuk mempertemukan insannya.”

a poddgawin alternative universe


Pockey! Write On Prompt : Soulmate ⚠️trigger warning⚠️ : harsh word, implicit mpreg, slight angst.


Oktober, 2016 ㅡ 07.30 a.m

Mari kita buka cerita ini pada suatu pagi yang cerah di hari Senin. Hari dimana seluruh umat manusia punya setidaknya satu kesibukan yang wajib dikerjakan. Hiruk pikuknya terasa dari sebuah kampung kecil, perumahan mewah, jalan raya, sampai kita pada salah satu titik paling ramai di ibukota ini. Iya, kampus.

Kampus itu jadi lingkungan yang memang ramai kalau hari Senin. Banyak dari mereka mahasiswa/i mengambil mata kuliah di hari ini, bahkan seluruh civitas akademiknya datang untuk mengajar, rapat, atau sekedar absen muka.

Seperti biasa di salah satu jurusan kampus terbesar di Ibukota Jawa Timur ini sedang dihadapkan akan suasana panas. Ini layaknya sarapan bagi mahasiswa/i disini. Melihat dua remaja pria yang sedang adu mulut setiap mereka berpapasan. Entah sudah berapa kosa kata kotor yang keluar dari bibir mereka yang pasti ini sudah terjadi sejak 10 menit yang lalu.

Kita bisa manggil mereka Podd&Gawin, nggak seperti Galih&Ratna yang mengikat janji untuk setia selamanya, hubungan keduanya ini layaknya api merah dan biru. Sama-sama keras kepala, sama-sama kompor sumbu pendek, dan pastinya nggak ada yang mau ngalah. Podd ini anak beken di departemen teknik mesin, gayanya berandal, otot besi, pokoknya kalian bisa langsung nebak kalau liat parasnya Podd. Sedangkan si wajah bule ini dambaan cewek-cewek industri, alis menukik yang nggak pernah ngasih kesan baik malah digandrungi apalagi proporsi tubuhnya yang oke banget plus dia kapten basket.

“Ini terus gimana baju gue kena oli. Mata lo dimana sih, jalan pake pantat?!” Teriak Gawin yang bisa di dengar orang satu gedung. Bukannya takut, anak-anak yang lain cuma lewat dengan raut tenangnya, sama sekali nggak keganggu dengan pertengkaran keduanya karena emang udah biasa.

“Ya lo halangin jalan gue, bangsat! Gue udah teriak air panas... air panas nggak diwaro.” Balas Podd yang emosinya udah bener-bener kesulut. Padahal dia lagi buru-buru karena mau praktek pagi.

“Pokoknya gamau tau ya jancok. CUCI KEMEJA GUE SAMPE BERSIH!” Sahut Gawin lagi dengan penekanan dibeberapa katanya. Cowok itu dengan cepat melepaskan kemeja flanel pelapis kaus tipis coklatnya dan dilempar tepat kena muka Podd. Gawin pun melangkah dengan kesal sembari menghentak-hentakkan sepatunya pada lantai.

Podd mengambil napas dalam lalu dihembuskan perlahan. Sumpah, sebel banget dia diginiin. “GAWIN WEDHUS!”

See? begitulah kejadian tiap harinya. Selalu ganti-ganti topik dari masalah penting sampai masalah kuku mereka nggak sengaja bersentuhan waktu ngantri di kantin. Anehnya tak ada satupun yang tahu asal muasal masalah mereka, padahal dari rumor yang tersebar mereka udah jadi temen sejak SD. Kata temen-temennya mereka itu udah jodoh, cuman belum ada titik terangnya aja.

Ruang Kelas ㅡ 08.00 a.m

Gawin sudah sampai dalam ruang kelasnya, pantat bulatnya telah duduk nyaman pada salah satu bangku paling belakang. Sekarang cowok bule jadi bingung, pasalnya mata kuliah pertama hari ini rekayasa sistem kerja yang mana dosennya Pak Tawan, si manusia paling mengedepankan disiplin apalagi soal pakaian. Gawin udah chat sohibnya, Bright buat bawain kemeja berkerah. Baginya ini semua salah anak mesin paling ngeselin. Jangan lupa ingatkan Gawin buat bikin perhitungan pas selesai kelas.

Ey-yo whatsapp gengs!”

Satu lagi hal lazim yang ada di fakultas teknik. Kelakuan jamet satu ini, si Bright. Dia ini masuk jajaran ganteng industri dan julukan khusus buat cowok ini gamet (ganteng tapi jamet). Nggak tau juga gimana tapi Gawin sama Bright ini sohib banget. Kemana-mana berdua meskipun Gawin suka ikutan nanggung malu sama kelakuan Bright.

Whatsapps aplikasi goblok! Cengengesan gitu bawa nggak tuh pesenan gue.” Gawin ini memang terkenal sama sifat sengaknya, dan cuma Bright manusia tahan banting digalakin tiap hari.

Sudah biasa, hadapi dengan senyuman – Bright, 2016.

“Bawalah. Asu lu emang, gue udah setengah jalan jadi balik ke kos untung ga telat.” Bright mengeluarkan kemeja sesuai suruhan Gawin, dilempar gitu aja karna kesel sama cowok bule sohibnya. Lalu Bright ngambil bangku tepat disebelah Gawin.

“Lagian udah tau kelas Pak Tawan malah pake kaus belel. Bosen idup emang.”

Raut Gawin mendadak merengut, dia nggak suka inget kejadian tadi pagi. “Gara-gara Podd tuh, anak anjing.”

“Podd lagi, Podd lagi. Nggak bosen? Nih, gue yang dengerin bacotan kalian aja bosen banget. Udahan, duduk yang enak sambil ngopi, diselesaiin baik-baik.”

Bright itu nggak sekali dua kali ngomong hal itu tapi cuma dianggap angin lalu. Batu ketemu batu yaudah sama-sama keras.

“Gabisa! Ketemu dia aja udah eneg, gimana mau empat mata.” Jawab Gawin nyolot.

“Gue doain jodoh lu berdua biar mampus, biar puas cakar-cakaran di atas ranjang.”

Tubuh Gawin menegak, matanya melotot sampai bola matanya mau keluar. Dia kesel banget sama mulutnya si jamet yang anti filter-filter club. Buku modul 300 halamannya mendarat sempurna di atas kepala Bright. Belum sempat mereka gelut untungnya Pak Tawan dan temen-temennya yang lain udah masuk jadinya ditunda dulu.


Kantin ㅡ 11.10 a.m

Suasana kantin detik ini masih aman terkendali. Benar saja, sepanjang mata memandang cuma bisa liat Gawin yang lagi anteng makan berdua sama Bright. Belum kecium hawa Podd ada disekitaran, biasanya kantin pasti ribut perkara rebutan donat gula yang emang laris banget, gatau kenapa pas PoddGawin mau beli donat gulanya pasti tinggal satu, bikin gelut, berakhir ibu yang punya warung ngebagi dua donat bulet itu terus dijejelin dimulut mereka biar diem.

Tiba-tiba tensi suasana jadi naik, anak-anak di kantin bisa liat dari jauh Podd dengan tubuh gagahnya lagi jalan ke arah kantin. Helaan nafas berat terdengar dari beberapa mata yang melihat. Bener aja, Podd jalan deketin meja Gawin sama Bright, lalu cowok itu ngelempar kemeja basah tepat diatas piring kosong bekas Gawin makan.

Seluruh tubuh Gawin kaku, otaknya masih memproses kepingan kejadian ini. Pas kesadarannya sudah kembali, dia ketawa. Wajahnya merah sampai air mata menggenang di pelupuk tanda dia nahan emosi yang udah sampe diubun.

“Maksud lo apa?” Tanyanya dengan nada dingin. Gawin mendongak sedikit biar dia bisa liat muka nyebelin musuh bebuyutannya. Mata mereka ketemu tapi dengan kondisi yang sama-sama nggak enak.

“Udah gue cuci. BERSIH.” Balas Podd dengan senyuman miring. Puas banget hatinya bikin emosi Gawin tersulut.

Memang benar Podd mencuci baju Gawin yang terciprat oli, tapi Podd nggak jemur baju itu sampai kering langsung di balikin ke empunya.

“Lo kalo mau ngajak berantem, ayo ke lapangan. Jangan kek anak kecil gini.” Ucapan Gawin dengan nada mengintimidasi. Jemarinya sudah mengenggam erat kerah kemeja yang dipakai Podd.

Podd tersenyum remeh. “Kan bener tuan putri. Lo minta gue nyuci baju bukan cuci kering. Makan tuh baju bersih.”

Kali ini suasana lagi panas-panasnya sampai nggak ada satupun yang berani melerai, bahkan Bright diem ga ngeluarin jurus guyonan sampisnya. Semua insan di kantin takut, buat kali ini kayaknya emang masalah serius.

Gawin bener-bener ga habis pikir sama manusia ngeselin di depannya ini. Udah, emosinya harus sekali-kali dilampiasin dia mau buktiin kalau saat ini lagi nggak mau diganggu. Tangan yang bebas itu sudah membentuk genggaman, buku jarinya sampai memutih, urat nadinya mencuat. Detik kemudian bogemnya udah di udara. Sampai...

“Baba! Ayah!”

Sosok anak kecil berlari semangat dengan kaki mungilnya menuju area kantin yang sebentar lagi akan berubah menjadi arena tinju. Seakan tak memilik dosa, anak kecil itu beringsut memeluk kaki Podd dan Gawin bergantian. Senyum khas anak kecil juga ikut tersampir dibibirnya.

Suasana yang tadinya hening mendadak lebih hening, seakan waktu dihentikan seperkian detik tak ada tubuh yang bergerak. Mereka semua masih pada posisi masing-masing.

“Hah?”

Gawin sama Podd berucap bersamaan memecah keheningan yang terjadi. Bingung juga ini bocil dateng gatau darimana seenaknya manggil dia layaknya bapaknya.

Penduduk kantin seakan dibuat bingung tujuh keliling, namun beberapa dari mereka mikir kalau ini anak dosennya yang nyasar dan asal manggil siapapun. Namanya juga anak kecil.

Daripada mendadak jadi keong, Bright memilih mendekati bocah itu. Bright menyamakan tingginya terus dicubit bentar pipi gembil milik si bocah. Bright tersenyum ramah.

“Kamu anaknya siapa? Nyasar ya kesini?”

Si anak menatap sosok di hadapannya bingung. Dahinya mengkerut dan bibirnya mengerucut tanda tak setuju kalau dirinya dibilang anak nyasar.

“Aku anaknya Baba sama Ayah.” Ujar anak itu sambil menunjuk Podd sama Gawin yang berdiri tepat dibelakang Bright.

Bright ketawa, gemes banget sumpah. “Yuk kakak anterin nyari mamah sama papah kamu.”

Bright berdiri, dia ngambil jemari mungil si anak buat dituntun keluar area kantin. Bright sendiri yakin kalo ini bocil anak dari salah satu dosennya. Dia makin kaget pas tangan besarnya disentak kuat. Bocah sekitar 6 tahun ini lari lantas beringsut memeluk Gawin seakan meminta pertolongan.

“Baba, Mumu takut. Kakaknya mau bawa Mumu pergi.” Adunya dengan raut sendu. Mata bulatnya beradu dengan milik Gawin. Gawin tertegun saat jatuh pada tatapan lucu itu, ada gelanyar aneh dalam dirinya. Hatinya tenang saat mendekap bocah kecil ini.

“Udah Bright nanti aja kita cari orang tuanya lewat informasi. Kita jagain dulu.” Putus Gawin.

Gawin menggiring anak itu ke bangku makannya, mendudukkan pantat kecilnya percis disebelahnya. Dia seakan lupa kalau mau berantem sama Podd. Poddnya juga kayak mau pergi gitu aja.

“Ayah mau kemana?” Panggil anak yang menyebut dirinya dengan nama Mumu saat Podd akan beranjak dari posisinya.

Podd reflek kembali memberi atensinya pada anak itu. Yang dimaksud ayah itu dirinya kan?

Gawin kaget pas Mumu ini manggil Podd biar nggak pergi, mana manggilnya Ayah. Podd jalan kaku mendekat kembali ke meja Gawin, dia tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya tanda cowok itu lagi gugup.

“Sini aja, duduk sama Mumu, sama Baba, sama kakak ini juga.” Katanya dengan tata bahasa yang berbelit khas anak kecil.

“Eh?”

Podd speechless, bingung juga mau jawab gimana. Dia malah mirip patung berdiri.

“Ayo Ayah!, duduk situ.” Mumu memaksa Podd buat duduk di bangku kosong depan dia.

“Eh-eh.. Iya iya.”

Akhirnya Podd duduk, buat wajah bocah Mumu ini bahagia banget. Gawin sama Bright mau nggak mau ikutan senyum, gemes banget ini anak siapa mau culik aja. Sedangkan Podd ada diperangkap suasana awkward.


Selesai dari drama di kantin, mereka berempat lagi di bagian pusat informasi kampus. Anak kecil yang akhirnya dipanggil Mumu ini lagi tidur sambil ngempeng jempolnya digendongan Podd. Di kantin dia dibeliin sembarang jajanan sama makan nasi goreng sampai dia kenyang terus tidur. Tiga orang remaja cowok ini niatnya nyari orang tua si anak. Pengumuman sudah ada diulang tiga kali dan waktu sudah masuk sore namun tak ada satupun sosok paruh baya yang menghampiri mereka.

“Laporin ke polisi aja dek. Takutnya emang anak nyasar di jalan terus masuk ke kampus.” Saran dari bagian informasi.

Podd menatap wajah damai dalam dekapannya iba. Kasian pasti orang tuanya kalang kabut nyariin.

Ketiga remaja itu pun saling bertatapan. Secara tidak langsung mereka berkomunikasi melalui kedua mata masing-masing. Detik kemudian mereka menghela napas berat. Keputusannya Podd sama Gawin bakal bawa anak ini ke kantor polisi buat bikin laporan anak hilang.

Kantor Polisi ㅡ 18.14 p.m

“Baik data-datanya sudah kami rekap, kami akan salurkan data ini kebagian orang hilang. Jika ada perkembangan kedepannya saya akan informasikan ke salah satu nomor adek.”

Gawin tersenyum tipis, mengucapkan terima kasih lantas Ia bangkit dari bangku pelaporan. Dari jauh dia memperhatikan Podd yang sedang mengusap dahi anak kecil yang sedang tertidur itu sayang. Masalah satu selesai, sekarang masalah selanjutnya anak ini mau dibawa siapa? Mereka berdua anak kos di ibukota ini dan kegiatannya sebagai mahasiswa gak bisa dibarengi ngurus anak sampai orang tuanya ketemu.

“Heh, ayok keluar.” Ajak Gawin pada Podd.

“Udah?”

Gawin hanya mengangguk. Sebelum mereka keluar, Gawin nawarin diri buat gantian gendong Mumu. Podd udah gendong si bocil hampir 2 jam dan ada sedikit... sedikit rasa prihatin akan tangan Podd pegal.

“Gue anter pulang.” Ujar Podd menawari saat mereka telah diparkiran kantor polisi. Mereka ke kantor polisi tarik tiga pake motor Podd sedangkan motor Gawin ditinggal di kampus. Gawin terpaksa mau soalnya Mumu tidur dan mereka ga tega ngebangunin dan hal lain mereka takut si bocil jatuh pas dibonceng.

“Ga..gitu...” Balas Gawin lirih.

“Ha? Gimana?” Tanya Podd soalnya dia agak nggak denger Gawin ngomong apa.

Gawin menatap Podd dengan mimik khawatirnya lalu arah pandangnya jatuh menuju sosok kecil digendongannya.

“Nitip di kos lo dulu deh.” Putusnya singkat.

Gawin menyela dengan suara tingginya. “EH MANA BISA GITU?!”

Si kecil bergerak gelisah, Gawin yang merasakan pergerakan di dadanya jadi panik terus segera puk-pukin pantat Mumu biar tenang lagi.

“Besok gue kelas jam pertama, masa iya gue tinggal di kosan sendiri.” Kali ini nada bicara Gawin diturunkan.

“Gini deh kita gantian jaga dia sampai orang tuanya ketemu. Malem ini giliran lu dulu. Sekarang lu, gue anter pulang besok gue jemput biar gue yang jagain dulu selama lu kuliah. Kebetulan besok kuliah gue siang.”

Ada perasaan tak suka dalam diri Gawin. Kalau kayak gini caranya dia harus rela deketan sama musuh paling dibenci dalam hidupnya. Dia jadi pengen marah sama keadaan, kenapa harus dia, kenapa nggak Bright atau temennya yang lain.Tugas kuliahnya sebagai mahasiswa semester 5 udah berat dan sekarang ditambah makhluk kecil dari antah berantah malah nambahin bebannya. Dia sampai mikir, apa di kehidupan sebelumnya dia cowok brengsek yang suka bikin onar mangkanya sekarang dia kayak dihukum gini. Gawin cuma punya satu permintaan, semoga orang tua anak ini cepetan jemput.

Kos Gawin ㅡ 21.07 p.m

Gawin meregangkan otot-otot tubuhnya yang pegal akibat terlalu lama menggendong si kecil. Sedangkan si bocah sudah Ia letakkan di kasur berukuran 1 orang miliknya.

Setelah 20 menit melakukan ritual malamnya membersihkan diri Gawin beranjak menuju kasur empuknya. Tubuhnya sudah lelah untuk sekedar diajak begadangan mengerjakan tugas. Gawin menggeser tubuh si kecil dan merebahkan diri disebelahnya.

Pergerakan Gawin ternyata cukup menganggu mimpi anak kecil itu. Membuatnya terbangung, lalu tubuhnya beringsut mendekati dada bidang Gawin, mendusel mencari kehangatan. Lengan besar Gawin reflek memeluknya, menepuk pelan punggung sempit itu agar kembali tertidur.

“Baba?” Panggilnya dengan suara khas baru bangun.

“Hm...”

“Drake seneng deh bisa tidur dipeluk Baba gini. Drake suka liat Baba meluk kakak pas tidur.” Celotehnya dengan suara lirih.

Dahi Gawin mengkerut. “Kakak? Kakak yang mana lagi? Terus Drake itu siapa?” Batinnya.

“Dek? Kamu itu... sebenernya siapa?” Tanya Gawin. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mendapat informasi lebih mengenai asal usul sang anak.

“Aku Drake. Anak kedua dari Ayah Podd sama Baba Gawin. Umurku 5 bulan. Ayah itu suka manggil aku Mumu tapi nggak tau kenapa. Aku asalnya dari jauh disana, Ba.”

Gawin tersenyum geli, ternyata ini waktu yang tepat tapi yang diajak ngomong bocil jadi ya jawabannya ngelantur gitu. Kayaknya emang mending nunggu kemajuan dari polisi.

“Yuk tidur lagi.” Gawin semakin merapatkan tubuhnya dengan si kecil sembari mengusap punggungnya pelan.

“Besok main sama Ayah ya, Ba?”

“Hm. Besok main sama Ay- iya pokoknya tidur dulu udah malem.” Dia nggak terbiasa manggil nama “Podd” kecuali diselipin kata maksiat yang lain sekarang malah manggil “Ayah”.


November, 2016 ㅡ 06.30 a.m

Satu bulan berlalu, namun belum ada kabar kemajuan mengenai keberadaan orang tua anak bernama Drake ini. Sampai saat ini pun Drake bergantian tidur di rumah Podd atau Gawin. Awalnya merawat anak kecil ini memang sulit, Drake butuh perhatian penuh padahal Gawin atau Podd sedang mengerjakan deadline tugasnya. Lambat laun hal itu menjadi biasa dan mereka berdua sangat menikmati perannya hingga lupa menanyakan kabar dari kantor polisi. Drake itu sudah seperti adik mereka.

Lucunya anak sejurusan sudah mengenal Drake dan mereka bersedia menjaga Drake saat Podd dan Gawin ada kelas. Drake itu lucu, dia bukan tipe anak kecil yang mood-nya random. Drake nggak masalah ada disituasi keramaian pokoknya dibeliin jajanan dia bakal diem.

Pagi ini Drake ada di rumah Podd. Mereka lagi disituasi menegangkan alias Podd lagi ngejar Drake yang nggak mau mandi. Dia ngambek soalnya udah satu minggu nggak ketemu Baba alias Gawin. Masalahnya si Gawin lagi ngerjain proyek kelompok dan takut Drake bakal ngerusuhin maketnya.

“Heh sini mandi! Ini udah mau jam 7 kamu nggak kangen sama temen-temenmu di sekolah?”

Iya, Gawin sama Podd setuju patungan duit buat biaya nitipin Drake di daycare. Mereka berdua sungkan kalau terus-terusan minta tolong sama anak jurusan buat jagain si bocil. Lucunya disitu Drake jadi kayak penguasa soalnya badannya gede sendiri daripada anak yang lain.

“Gamau! Mau mandi sama Baba.” Katanya tegas, valid, no debat.

“Iya tapi kamu udah telanjang. Itu burung parkitnya dikandangin dulu.”

“Ga!”

Podd menepuk dahinya, susah udah urusan sama bocil ngambek.

“Yaudah mau kamu apa? Ayah nurut.” Satu lagi Podd sama Gawin udah biasa dipanggil Ayah, Baba dan menyebut diri mereka demikian saat berbicara dengan bocah satu ini.

“Mandi sama Baba.”

“Selain itu?”

Terjadilah aksi tawar menawar antara kongsi dagang Belanda dan pedagang domestik.

“Beliin donat gula di tempat Ayah yang biasanya.”

“Tolong dong, bro itu lebih susah daripada bawa Babamu kesini.” Podd udah satu kali bener-bener ikutan antri donat pas donatnya baru banget dateng dan lawannya lebih serem daripada Gawin, yaitu cewek-cewek teknik. Alhasil dia cuma dapet satu ditambah merah-merah bekas cakar. Meskipun ada perasaan bahagia banget pas si bocil makan donatnya dengan lahap tapi ampun dia gamau ulangin lagi.

“Yaudah Baba kesini.”

“Cilok deh.”

Drake terkesiap, dia baru tau ada jajanan namanya cilok. Otaknya bekerja menyuruh mulutnya berkata setuju.

“Oke, Ayah.”

Dua lelaki besar dan kecil itupun akhirnya bersalaman tanda perjanjian disetujui. Drake akhirnya nurut sama Podd.

16.00 p.m

Tepat pukul 4 sore hari Podd akan menjemput Drake a.k.a Mumu di daycare. Tempatnya dekat dengan kampus, hanya di gang sebrang gerbang utama kampus. Drake sudah naik lengkap dengan helm kuning gambar pororo. Posisinya dia berdiri pada alas motor matic sembari menikmati semilir angin yang menerpa pipi gembilnya. Podd sudah janji akan membelikan cilok kampus, dan cilok paling enak itu yang biasa mangkal di Fakultas Perikanan, letakknya emang agak jauh dari gerbang utama.

Banyak mahasiswa/i yang salfok ke sosok yang sedang memacu motornya dengan kecepatan sedang menjurus pelan. Lucu, apalagi Drake ini suka bikin wajah ngeselin ke pengendara yang lain, udah mirip bocil di jalan raya pas lampu merah.

Mereka akhirnya berhenti pas udah nemuin abang ciloknya. Beli masing-masing 5 ribu dan makan sambil duduk di trotoar yang biasanya dibuat lewat sama pejalan kaki.

“Lebih enak kan daripada donat gula.”

Drake nggak jawab, mulutnya sibuk ngunyah cilok juga kepanasan. Tapi dia juga setuju apa yang dibilang Ayahnya. Cilok rasa micin lebih enak daripada donat gula.

“Makasih Ayah.” Ucapan Drake tulus membuat jantung Podd berdegub kencang. Ada perasaan bangga disana, cowok itu senyum terus noyor kepala kecil itu pelan.

“Nanti Ayah pulangin ke rumah Baba ya.”

Drake terkejut, bola mata bulat lucu itu menatap Ayahnya berbinar. Akhirnya dia bisa ketemu sama Babanya lagi. Kadang dia itu bingung, setaunya Ayah sama Babanya itu hidup satu rumah tapi sekarang dia udah kayak bola dioper sana sini. Tapi dia udah seneng kok karna Ayah dan Babanya tetep baik sama dia.

“Yah, Kalau Ayah sama Baba libur. Ajak Drake main dong kayak kakak.”

Sampai sekarang yang bikin Podd sama Gawin bingung adalah saat Drake menyebut Kakak. Siapa sosok kakak dihidup anak ini?, seolah Kakak ini adalah orang paling beruntung di dunia. Setiap si kecil ingin mencoba hal baru dia selalu berkata Kayak Kakak. Apakah firasatnya benar selama ini kalau Drake nggak diinginkan sama kedua orang tuanya, dia sengaja dibuang sebab sampai sekarang nggak ada kabar apapun dari polisi.

“Iya, besok ya.”

Kalau Tuhan mengijinkan Podd ingin sekali merawat Drake seperti anaknya sendiri.


Sabtu ㅡ 10.56 a.m

Janji adalah janji, mereka bertiga sebut saja Ayah, Baba, dan bocil yang tengah bahagia ini sudah menginjakkan kakinya di Jatim Park, Batu. Mereka berangkat dari Surabaya dengan segala kehebohan di subuh hari. Drake susah banget bangun pagi apalagi subuh mana barang-barangnya dia banyak jadi pas mobil Podd udah di depan kosan Gawin masih harus nunggu lama. Akhirnya Podd ngangkut Drake yang masih ileran dan dimandiin di pom bensin pas udah bangun.

Rencana liburan ini Podd sendiri yang atur, dari nyiapin mental buat ngajak Gawin dengan cara baik-baik sampai segala ngambil mobil di rumah keluarganya yang emang agak jauh dari kosannya. Semua ini dilakukan biar bocilnya seneng.

Di Jatim Park nggak jauh dari suasana chaos. Drake sebahagia itu sampai Podd capek sendiri jagain sedangkan Gawin cuma duduk ngeliatin. Sesekali juga Podd sama Gawin layaknya remaja biasa yang masih pengen main, mereka berantem yang satu pengen roller coaster yang satu masuk rumah hantu bikin Drake kesel sendiri. Pada Akhirnya mereka cuma nungguin berdiri di luar pager pembatas, liat sambil ngefotoin Drake yang lagi main wahana anak-anak.

Tak terasa hari sudah mulai sore. Mereka bertiga mutusin buat makan siang dulu meskipun telat. Mereka milih makan di foodcourt dalam area karena udah capek kalau mau makan di luar, ya meskipun harganya pricey buat anak kuliahan.

“Ini punya gue.” Ucap Gawin memulai arena gelut. Drake udah tenang banget nyemilin set kid bento yang di pesen.

“Enak aja, itu mulut lu masih penuh udah nyabet lagi. Ini bagian gue kan belinya 4 gembul!”

Gawin makin ngamuk pas dikatain gembul. Nggak ya dia nggak gembul. “Mulut lo gue tusuk ya pake garpu!.”

Sumpah, pengunjung yang lain sampe geleng-geleng sama nutupin telinga anaknya. Mereka itu kok ya gak nyadar kalo ditengah-tengah juga ada anak kecil.

“Lu udah makan dua yaelah, Win.” Podd masih melindungi hak miliknya, tak akan dilepaskan barang sedikit pun.

“Ba, Yah.”

Drake ini seperti dewa pembawa ketenangan selalu dapat mengakhiri pertikaian paling nggak penting dari kedua lelaki yang dianggapnya orang tua. Lantas perhatian keduanya terpusat pada bocah 6 tahun itu.”

“Kenapa? Mau pipis?”

“Kenapa, dek?”

Drake cuma ketawa, rasanya dia jadi anak paling bahagia karena atensi kedua orang yang disayang hanya menjadi miiknya.

“Setau Mumu Ayah itu selalu ngalah sama Baba kalau Baba mau makan-makanan yang tinggal satu kaya gini.”

Gawin bersorak kemenangan. “Tapi Baba akhirnya ngebagi dua makanannya biar Ayah bisa ngerasain juga.” Lanjut bocah itu.

Senyum Podd muncul, giliran Gawin yang mengerucut. Dengan tidak ikhlas Gawin membagi dua gorengan udang yang tengah menjadi topik pertengkaran hari ini, membiarkan Podd makan bagiannya dengan tenang.

19.41 p.m

Malam telah tiba seiring tibanya mereka pada salah satu homestay yang dipesan. Mereka memutuskan untuk menginap di Malang buat semalam karena Podd sudah tak sanggup untuk menyetir lebih lama. Drake sudah rewel dan Gawin juga nggak bisa nyetir mobil.

Setelah menidurkan Drake, Gawin berbenah diri. Tubuhnya lengket dan dia harus mandi. Setelah itu dia ke dapur, tak ada tanda-tanda Podd disekitarnya. Gawin membuat teh hangat karena cuaca Batu memang dingin saat dunia menjadi gelap. Entah mengapa dua gelas sudah tersaji tanpa Ia sadari. Gawin memegang lengan cangkir dengan kuat, berjalan mengitari homestay cukup luas, sampai netranya menangkap kepulan asap dan bau tembakau menusuk penciumannya.

Gawin meletakkan satu cangkirnya di meja. Cowok itu mendudukkan dirinya di bangku kayu sembari menyesap sedikit demi sedikit teh hangat di cangkir. Pandangannya lurus ke depan, tiba-tiba jantungnya berdetak nggak karuan ada disuasana sunyi kayak gini sama Podd. Podd juga lagi sibuk sebat, isapannya kuat seolah dia kangen banget sama benda panjang yang bisa ngeluarin asap.

“Kalo dipikir-pikir dulu gimana sih kita bisa berantem?” Podd yang akhirnya buka suara.

Gawin menengadah, iris karamelnya menatap legamnya langit bertaburan titik putih. Ingatannya dibawa kembali ke beberapa tahun lalu tepatnya pas mereka masih satu SMP di Jakarta.

Gawin ingat betul waktu itu dia lagi bawa robot ultraman baru yang dibeliin langsung sama papanya di Jepang ke sekolah, biasalah buat pamer. Pas istirahat Podd sama dia main di bawah pohon besar dibelakang sekolah. Gawin ingetnya Podd lagi kasmaran sama kakak kelas cewek dan dia cerita ke Gawin. Sialnya Gawin terlalu sibuk sama ultramennya. Podd ngambek dan akhirnya ngambil paksa robot punya Gawin sampai tangannya patah. Disitu cekcok terjadi, Gawin marah besar tapi Podd lebih emosi.

Berhari-hari mereka marahan dan pada suatu hari Gawin di kabarkan pindah ke Surabaya. Disaat hari itu Podd udah nyesel ngerusakin mainan Gawin, dia mau minta maaf tapi udah terlambat. Gawin milih pergi tanpa ngabarin dia.

“Terus kita akhirnya ketemu lagi pas ospek SMA...”

Podd mengangguk setuju, dia juga ingat kejadian tak mengenakkan itu.

“Lucu juga ternyata...” Podd terkikik saat sadar bahwa kejadian kekanakan akan menjadi masalah besar sampai mereka udah semester 5 di kuliah.

Gawin ikut ketawa. Bodoh juga selama ini ngabisin tenaga buat adu bacot selama 6 tahun. Ternyata bener apa kata Bright, mending duduk sambil nyeduh teh terus diomongin baik-baik. Semuanya bakal selesai dengan mudah. Tapi sayang, ego keduanya setinggi Semeru dan Merapi. Susah digapai.

“Gue... minta maaf kalo gitu. Atas semua yang tejadi di masa lalu sampai hari ini kita rebutan makanan.”

Gawin tertegun, perasaan hangat menyelimuti dirinya di malam yang super dingin ini. Sekilas bibirnya terangkat, dalam tubuhnya plong kayak tali yang selama ini membelenggunya akhirnya lepas, nggak bikin sesak lagi.

Gawin menunduk, namun Podd bisa lihat kepala cowok bule itu mengangguk. “Iya, maafin gue juga ya.”

“Baba, Ayah.”

Lingkup canggung diantara dua lelaki dewasa ini lagi-lagi dipecahkan oleh datangnya sosok lucu yang sudah bersama mereka selama 1 bulan. Sambil berjalan gontai dia mencoba meraih siapapun yang bisa Ia gapai.

“Mumu mimpi buruk terus nggak bisa bobok lagi.” Adunya dengan nada parau.

“Yaudah ayo Baba puk-pukin.” Seakan tau tabiat bocah ini Gawin langsung menyerahkan diri menemani sang anak tidur.

“Sama Ayah juga.”

Waduhhhh...”

Kedua lelaki dewasa ini saling menatap. Yang bikin Podd kaget, Gawin malah senyum sambil ngangguk seraya berucap melalui matanya. “Iyain aja daripada rewel.”

Kamar homestay ㅡ 21.00 p.m

Nuansa temaram mengiringi mata berangsur terlelap. Namun tidak dengan sosok tegap satu ini. Bibirnya tak ada henti terus melengkung ke atas. Obsidian tegas itu menatap pemandangan paling indah yang tersaji tepat dihadapannya. Padahal hanya sosok lelaki muda yang tengah memeluk sosok kecil dalam dekapnya, telapak besarnya tak henti menepuk punggung kecil itu meskipun ruhnya telah jatuh dalam dunia mimpi.

Dia baru tahu, mengamati lelaki bule ini tidur dengan damai akan semenarik ini. Hati kecilnya menjerit ingin membelai pipi gembil itu, pipi yang hampir sama dengan milik si kecil. Kalau diperhatikan Drake itu hampir mirip Gawin.

Sudah cukup, atensinya Ia layangkan pada buntalan daging yang sedang tidur memunggunginya. Padahal janji si kecil ingin tidur juga dengan dirinya. Menurutnya Drake ini cukup sableng, pasalnya saat tidur di rumahnya akan berakhir Podd bangun dengan kaki kecil di wajahnya atau pantat di depan matanya. Berbeda sekali saat tidur dengan Gawin, dia lebih anteng.

Podd menyudahi acara pengamatan malam ini. Tak lupa mengusap rambut halus milik si kecil yang selama ini memanggilnya Ayah dan menciumnya singkat.


Desember, 2016 ㅡ 07.15 a.m

“Dek, ayo dong makan dulu. Ini Baba udah telat, Baba mau ujian.”

Terhitung dua bulan Drake hidup dengan Podd atau Gawin. Hari ini tepatnya bulan Desember dimana waktu ujian akhir semester bagi seluruh mahasiswa/i. Hari ini pula entah mengapa Drake mendadak rewel dan susah di atur. Ini ujian hari terakhir dan Gawin sudah janji akan memberikan atensi yang banyak direnggutnya akibat belajar materi ujian.

“Kan Drake udah bilang sama Baba dari semalem kalau sarapan makan nasi goreng.”

Iya, Gawin mengaku salah. Dirinya bangun kesiangan karena belajar tengah malam sesudah menidurkan Drake. “Baba minta maaf ya, nanti setelah pulang dari sekolah Baba masakin nasi goreng. Makan ini dulu sekarang.”

Tok..Tok

“Tuh, Ayah udah jemput. Ayo makan dulu nanti dimarahin Ayah.”

Drake mencebik kesal, dia itu ngidam banget nasi goreng sampai kebawa mimpi, tapi yang tersaji di depanya cuma nasi sama telur dadar.

Gawin membuka pintu. Bener, yang dateng Podd dengan senyum sumringahnya. Dia juga bawa tentengan kresek isi cilok soalnya tadi Gawin sempet ngechat pesen cilok karena si bocil ngambek gamau makan.

“Tuh, di dalem. Bibirnya udah kek menthok.”

Akhirnya Gawin ke kamar, biarin Podd yang ngurusin Drake makan. Mood-nya lagi gak enak, auranya mendung. Gatau kenapa perasaannya sendu terus padahal dia udah yakin bisa sama materi ujian hari ini. Mungkin cuma gugup aja karena abis ini dia bisa liburan. Iya, iya cuma gugup.

15.34 p.m

Podd sama Gawin udah goncengan buat jemput anaknya di daycare. Suasana hatinya sedikit membaik karena udah berhasil menyelesaikan studinya di semester 5 dan Drake akhirnya udah gak ngambek karena dijanjiin Podd belanja ke supermarket dan bakal masak nasi goreng bareng. Senyum si bocil bikin kedua lelaki dewasa itu juga ikutan lega.

Pas motor mereka mau nyebrang mata keduanya bisa liat sosok kecil yang mereka kenal banget. Itu... Drake, kan?

“Dek!” Teriak Podd yang mendapat atensi dari si kecil disebrang. Si kecil melambaikan tangan semangat.

“TUNGGU DISANA!” Pas Podd teriak lagi ada truk gede melintas jadi yang disebrang gabisa denger.

Memang dijam pulang kerja gini jalanan depan kampusnya ramai. Apalagi jam segini mahasiswa/i serentak keluar selesai ujian jadilah semakin riuh.

Gawin khawatir banget liat dari tadi kendaraan melintas. Dia turun aja buat nyebrang datengin anaknya karena motor aja susah buat nyari cela.

Drake dengan wajah sumringahnya semakin semangat pas Babanya berdiri di halte depan gerbang kampus. Dia bisa baca gerakan bibir Gawin dari jauh.

“Nanti...”

Mobil melintas. ”... Tunggu Baba!”

Yang Drake baca bahwa Gawin mengucapkan Sini.

Dengan langkah tegas kaki kecil itu menyentuh jalan raya. Pandangannya hanya lurus menatap Babanya, senyuman tak hilang barang sedetikpun.

BRAK!

“DRAKE!!!!”

Tubuh kecil itu terpental layaknya bulu ringan diterpa angin sedang. Sorot mata bulatnya masih terpaku menatap lamat wajah rupawan milik kedua orang tuanya. Seakan waktu berhenti, kedua bola mata lucu itu tengah memahat wajah Gawin dan Podd bersamaan, menyimpannya dalam hati agar selalu mengingatnya.

Tubuh Gawin jatuh seiring dengan sosok kecil itu sampai kembali bersentuhan dengan aspal kasar. Kakinya lemas, wajahnya shock dan air mata jatuh satu persatu menuruni bukit gembilnya. Podd membanting motornya, berlari layaknya kesetanan membelah kerumunan.

“Dek... ini Ayah, bangun...” Podd memangku tubuh lemas itu. Memanggil-manggil namanya dengan suara gemetar. Akal sehatnya entah hilang kemana, dirinya bingung setelah ini harus berbuat apa selain mencoba menganggapi kesadaran sosok kecil dalam dekapnya.

“Pan-Pang, gil ambulan.. CEPET! DEK bangun... Ayah disini.” Podd menangis meraung, kemeja biru cerahnya telah berubah menjadi lautan darah. Tangan besarnya mencoba memberi kehangatan pada jemari kecil yang seakan mendingin.

“A...ah-yahh..” Bibir si kecil bergerak kesulitan. Tangan yang lain berusaha Ia angkat untuk menghapus aliran sungai dipipi sosok Ayahnya.

Rumah Sakit ㅡ 16.30 p.m

Tepat pukul 16.30 dokter menyatakan bahwa sosok malaikat kecil itu meninggal dunia. Kain putih yang tadinya hanya untuk menutupi sebagian tubuhnya, kini dibentangkan dari ujung rambut sampai ujung jari kaki.

Dokter beserta jajarannya keluar untuk menyampaikan kabar duka.

“Bagaimana anak saya, dok?” Tanya Podd dengan suara seraknya. Rautnya dipenuhi kekhawatiran, ada sedikit harap-harap doa dalam benaknya.

Dan gelengan lesu dari dokter menghancurkan pertahannya. Tubuh kokoh dokter itu menggeser sedikit, memberikan cela bagi keluarga untuk masuk.

Podd mengangkat tubuh Gawin yang lemas. Menggiringnya perlahan masuk. Bau obat-obatan semakin tercium. Namun yang membuat hatinya hancur berkeping adalah kain putih dengan bercak darah membentang menutupi tubuh kecil yang telah kaku.

Gawin berjalan terseok dengan tenaganya yang tersisa, tinggal sedikit. Tanganya bergetar membuka perlahan kain sialan yang menutupi wajah lucu si kecil. Saat tersingkap, tubuh Gawin jatuh. Netranya menangkap wajah damai putra kecilnya, tak ada helaan nafas halus seperti setiap malam saat dirinya mendekap si kecil. Bola mata lucu itu tertutup dan sampai kapanpun Gawin tak akan bisa melihatnya lagi.

“Waaaaaaa.....” Tangisnya pilu, dadanya sesak beberapa kalipun kepalan tangannya dipukulkan.

“Dek... Ayah disini.” Panggil Podd frustasi. Tubuh bergeming itu dibawa masuk dalam pelukan hangatnya. Merapalkan doa doa yang tak terkabulkan.

Gawin menggenggam erat jemari kecil itu. Merasakan betapa lembutnya tangan si kecil, Ia masih ingin menggenggamnya seperti ini merasakan suhu hangat yang menguar dari tubuh kecilnya.

“Podd, dia belum sempet makan nasi goreng.” Ujar Gawin lirih, suaranya pun hampir tak di dengar.

“Dia- dia bahagia banget waktu kamu bilang mau masak nasi goreng bareng.”

“Dia pengen banget makan nasi goreng sejak semalem sampe kebawa mimpi. Dengan bodohnya tadi pagi aku ga sempet masakin dia makanan terakhirnya.”

Podd menangkap tubuh Gawin, kali ini memberikan sedikit kekuatan yang masih tersisa dalam dirinya. Mereka berdua kehilangan, sosok malaikat anta berantah yang datang mengubah hidupnya sudah pergi diambil kembali menuju firdaus nan jauh disana.


10 tahun kemudian

Sosok pria dewasa itu duduk dipinggir kasur tidurnya. Kedua tangannya memegang secarik kertas lusuh. Kedua obsidian sendunya menatap lamat lukisan khas anak kecil di atas kertas putih itu. Bibirnya sesekali menunjukkan senyum walaupun terasa pahit jika dilihat.

Tok Tok

Ketukan ringan di pintu yang terbuka mengalihkan atensinya. Diambang pintu muncul sosok pria dewasa, kali ini lebih tegas. Pria yang di dalam tersenyum kecil.

“Udah siap?” Tanyanya lembut.

Si pria yang lebih manis meletakkan kertas lusuh itu diatas nakas. Mengambil tasnya lalu berjalan mendekat tubuh tegap itu.

You, Okay?” Yang lebih tinggi membelai surai si manis dan hanya di jawab dengan senyum tipis.

Merek berjalan beriringan menuruni tangga. Sampai diujungnya, sosok pria kecil berumur 6 tahun mendekati mereka dengan semangat.

“Baba sama Ayah lama pol!” Si pria kecil merengut sebal.

Pria kecil ini namanya Bright. Sosok malaikat penyelamat kehidupan sendu pasangan Podd dan Gawin. Setelah lulus dari universitas, Podd meminta Gawin menjadi pendamping hidupnya. Podd ingin menjadi support system si pria yang sebagian hidupnya seperti direnggut hilang setelah kepergian bocah lucu itu. Selama itupun Podd bertahan dengan Gawin menghadapi depresinya. Berjalan dua tahun, sosok Bright datang. Sedikit demi sedikit hati kosongnya terisi dengan tawa sang bayi.

Podd itu sebenarnya gondok sama Gawin waktu memberi nama bayi laki-laki anak pertama mereka dengan Bright. Tapi Podd juga nggak menyangkal kalau wajah Bright itu mirip Bright si gamet teknik sohibnya Gawin. Padahal Podd yakin 100% kalau dia yang nanem bibit. Ini pasti Gawin kebanyakan main sama Bright jamet.

Dua tahun berjalan, Gawin dinyatakan positif lagi. Tapi kali ini masanya sulit. Setelah sekian tahun, Gawin nemuin kertas gambaran punya Drake. Di gambar itu ada sosok dua orang dewasa, satu anak kecil, dan sosok kupu-kupu. Gambar itu menutup kewarasannya, dia kembali ke beberapa tahun lalu, depresinya kembali dia cuma mau makan nasi goreng dengan alasan bawaan bayi. Saat memasuki bulan ke 5 tubuhnya drop dan dokter bilang kalau mereka kehilangan bayinya.

“Kak, barangnya udah semua?” Tanya Podd saat mereka sudah siap di posisi duduk masing-masing.

Hari ini mereka mau jalan-jalan. Bright udah libur sekolah dan nodong Ayahnya buat liburan. Setelah menunggu satu minggu karena Podd harus nyelesaiin kerjaan, mereka akhirnya pergi. Hari ini juga menjadi hari pertama Gawin buat merasakan udara bebas setelah beberapa tahun terpuruk dalam dunia gelapnya.

“Udah, Yah. Barang-barang Baba juga udah Kakak masukin.” Jawabnya Bangga.

Gawin tersenyum, menoleh kebelakang hanya sekedar mengusak gemas surai legam anaknya. “Pinternya, makasih ya Kak.”

“Baba sehat-sehat ya. Nanti kalau sakit Kakak sama Ayah sedih.” Ujar Bright sambil mencuri kecupan di pipi tirus Babanya.

Setidaknya Gawin bersyukur ada sosok yang selalu setia di sampingnya dalam keadaan apapun. Ada sosok kuat yang selalu menyemangatinya. Dan Gawin sadar bahwa masih banyak alasan untuknya menjadi sosok lebih kuat, ada banyak alasan untuk tetap hidup. Menerima banyak cinta dari dua kesayangannya.

Sang pencipta disana, tolong jaga mereka yang telah meninggalkanku.


Epilog

“BABA!!!!” Teriakan Bright dari luar. Tubuh kecilnya berlari terburu beringsut memeluk Gawin yang tengah memasak makan malam. Hari masih sore terang dan sepertinya Podd, mas suami sudah sampai rumah.

Bright ketakutan, tubuhnya bergetar, dan wajahnya pusat pasi.

“Kenapa sih, Kak? Ini Baba susah masak kalo kamu kayak gini.”

“Itu...ituloh, Ayah.” Adunya dengan suara terbata.

“Iya Ayah udah sampai rumah, sana ambilin minum dulu.” Suruh Gawin yang risih ditempeli anaknya.

“Gamau, takut...”

Bentar... Takut? Podd berubah jadi setan kah? Gawin itu kadang suka gapaham sama suaminya yang absurd padahal dia tambah tua. Podd pernah berubah jadi hantu-hantuan cuma buat nakut-nakutin anaknya. Waktu itu Podd cosplay jadi hantu kolong tempat tidur. Pas Bright tidur tangan sama kakinya ditarikin dari bawah. Akhirnya dikagetin sampe Bright sawan 7 hari 7 malem soalnya Podd totalitas beli cat khusus muka.

Gawin geram, dia matiin kompornya terus menuju luar rumah. Dia lihat suaminya lagi jongkok di taman kecil depan teras sambil godain sesuatu pokoknya mirip kayak bapak-bapak pake wadimor lagi mandiin atau nyuruh burungnya berkicau.

“Kamu apain si Bright sampe takut gini.” Tanya Gawin, kedua lengannya bersendekap di dada sambil bersandar pada pintu utama.

“Orang ga diapa-apain.” Balas Podd yang masih sibuk punggungin Gawin.

Gawin jadi kepo apa yang lagi dilakuin si suami. “Bawa apalagi? Aneh-aneh banget deh.”

“INI!!” Podd berbalik, kedua tangannya menggendong kayak kadal tapi lebih serem. Sumpah mana wajahnya sumringah banget. Gawin sampe pengen teriak aja, pantesan anaknya udah kaya mau nangis.

“Kenalin ini Moo Moo.”

BRAK!

Gawin banting pintu, terus dikunci. Ninggalin Podd sama peliharaan yang baru aja dia tangkep di depan komplek.

“GAUSAH MASUK SAMPE KAMU BUANG TERUS MANDI KEMBANG TUJUH RUPA!”

Dibalik tawa dan tangis yang mengiringi perjalanan hidup. Disitu alam ikut berperan, karena mereka punya berjuta cara unik untuk mempersatukan tiap insannya.

END


au ini dibuat spesial bagi orang-orang kuat dalam dunia per poddgawin/poddfluke-an.

was saninasaja

“being with you, I regret nothing” -anonymous

a poddgawin alternative universe


warning : cerita ini dibuat untuk kebutuhan hiburan semata, fiksi. segala kesamaan nama cast, nama tempat, legenda daerah, dll hanya meminjam untuk kebutuhan jalan cerita. kesalahan penulisan kata/tanda anggep aja bonus


Soekarno-Hatta International Airport, Tanggerang.

Perhatian, para penumpang pesawat AirFrance dengan nomor penerbangan AF259 tujuan Paris Charles de Gaulle Airport dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12.

“Mah, Pah, Podd berangkat ya.”

Seorang pemuda dengan perawakan tinggi tengah memeluk sepasang suami-istri paruh baya. Seakan tak sanggup air matanya terus lolos dari pelupuk mata meskipun masih ada usaha untuk terus tersenyum. Sang lelaki paruh baya terlebih dulu menyudahi acara paling menyedihkan selama membesarkan seorang putra, pergi melepaskannya ke khalayak luas. Sang istri pun mengikuti sembari mengusap air matanya juga mencoba untuk memberikan senyum terbaiknya pada sang putra.

“Hati-hati. Langsung telfon Mamah kalo udah sampai. Jangan lupa buka chat Mamah di whatsapp, udah dikirim sama gambarnya biar kamu nggak salah beli model tasnya.”

Sang anak yang tadinya menatap ibundanya iba malah tertawa geli. Namanya juga ibu-ibu sosialita.

“Mah, Podd kesana mau belajar loh bukan liburan atau belanja.” Balasnya. Ia mengingatkan sekali lagi bahwa tujuannya ke Perancis untuk mengikuti pertukaran mahasiswa selama 6 bulan.

Pria jangkung pemilik nama Podd itu lekas menggenggam erat pada pegangan koper. Ia menyeret perlahan menuju pintu boarding, sesekali menengok ke arah orang tuanya yang terus menerus mengiringinya dengan lambaian tangan.

Dalam hatinya terus menyemangati diri bahwa Perancis adalah tempat yang tepat sebagai langkah pertama menuju pendewasaan.

“Perancis, please be kind with me.”


Panthéon-Sorbonne University, Paris ㅡ 08.45 am

Perancis. Negeri sejuta mimpi, sejuta mode fashion, tak lupa akan kisah romantisme yang didamba para pendatangnya. Disinilah lelaki Podd itu berada, tepatnya pada jantung negeri Kota Paris itu sendiri. Langkah panjangnya bergerak cepat menyusuri riuhnya jalanan ibukota, menyebrang dari satu sisi ke sisi yang lain hingga tubuhnya mematung sejenak memperhatikan betapa indahnya bangunan kuno tempatnya akan menimba ilmu untuk 6 bulan kedepan.

Podd menatap gerbang tinggi nan tua itu penuh bangga. Aksi pengamatannya terganggu akibat alarm jam tangannya telah menunjukkan pukul 9 waktu Paris yang mana artinya Ia harus segera berkumpul bersama rombongan students exchange yang lain guna menjalankan masa orientasi. Tenang, orientasi disini bermaksud untuk menunjukkan betapa besar dan megahnya bangunan yang telah beroperasi sejak tahun 1971.

Podd menegakkan tubuhnya mantap, melangkahkan kaki kanannya terlebih dahulu melewati gerbang kampus. Ia sangat mengingat tata krama yang diajarkan ibunya bahwa saat memasuki tempat baru alangkah baiknya menggunakan kaki kanan terlebih dahulu agar urusannya dilancarkan. Kali ini Podd memilih sedikit berlari pasalnya jarum panjang sudah menunjuk angka 5 dan Ia benar-benar tak ingin tertinggal rombongan berkeliling kampus untuk kebaikan dirinya selama berkuliah kedepan. Setidaknya harus mengingat letak ruangan penting dan ruang kelas.

BRUKK!

“Désolé...”

Bak datang dari negeri antah berantah, sosok pria seketika muncul menabrak tubuh Podd hingga jatuh terduduk. Demi Tuhan, Podd sangat ingat kaki kanannya yang melangkah lebih dulu, tapi kenapa malah sesial ini. Podd meringis pelan sambil memegangi bagian tulang ekornya yang nyeri, sedangkan pria yang menabraknya merapihkan buku tebal bawaannya terburu.

“Vous allez bien?” Ujar pria itu yang sudah berhasil berdiri tak lupa menjulurkan telapak tangannya berniat membantunya berdiri. Podd yang tengah kesakitan pun mengambil bantuan si pria dengan senang hati.

“Aku sungguh-sungguh meminta maaf atas apa yang terjadi. Aku sibuk dan harus cepat pergi, tolong maafkan aku.” Lanjut pria itu setelah berhasil mengangkat tubuh Podd. Mengoceh cepat dengan Bahasa Perancis dan raut wajah bersalahnya.

Sejujurnya Podd tak mengerti apapun yang dikatakan si pria dihadapannya selain désolé yang berarti maaf. Bagi Podd Bahasa Perancis itu susah. Aneh bukan? Dia datang ke Perancis tanpa mempelajari bahasannya dengan benar hanya tau sebatas meminta tolong, membeli barang, berterima kasih, meminta maaf, memperkenalkan diri, dan sapaan ringan. Setidaknya nilai toefl dan ielts nya hampir sempurna, hanya itu modal utamanya.

I'm ok.” Balas Podd. Hanya dua buah kata namun mampu membuat pria asing ini menghela napas lega.

“Aku akan mentraktirmu makan jika ada kesempatan bertemu lagi. Aku pergi dulu, selamat tinggal!” Tanpa Podd ketahui artinya, pria itu bergegas pergi.

12.30 pm

Podd berjalan dengan tak bersemangat, jika diperhatikan punggung tegap itu sudah berada pada posisi terendah menandakan pemiliknya sedang susah hati. Ingatkan Podd untuk melakukan protes pada sang ibunda, pasalnya wejangan melangkah dengan kaki kanan tak berlaku di Paris. Keterlambatannya hari ini benar manjadi titik awal kacaunya hari pertama Podd. Tepat pukul 9.20 dirinya sudah tak melihat rombongan students exchange di aula utama yang artinya mereka meninggalkan Podd. Berbekal brosur peta kampus Podd berusaha mencari rombongannya. Sialnya, Podd tak menyadari betapa luasnya bangunan kuno ini, sudah berkali-kali juga dirinya terkena semprot civitas yang ada disetiap ruangan yang Podd buka tanpa sopan santun.

Akhir pertemuan mereka adalah saat Podd berhasil menjumpai rombongan telah kembali ke aula utama. Bukannya lega, dirinya malah terkena amukan staf pembimbing. Yah, eropa bukan tempat yang tepat untuk terlambat dan ini murni salahnya.

BRUK!

Sungguh Podd sangat lelah dan dia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya pada bangku taman dan sekarang Ia kembali terduduk di tanah. Jika tulang ekornya bisa berbicara pastinya tengah mengomel akibat rasa sakit yang di derita terus-menerus dalam satu hari.

“ARGH! ANJINGLAH.” Teriak Podd geram hingga tanpa sadar mengumpat dalam bahasa ibunya.

Pria yang berhasil menabraknya berjengit kaget mendengarnya. Terlebih saat si pria menengok guna memastikan siapa lagi orang yang sudah ditabraknya hari ini malah lebih mengejutkan. Pria itu lagi?

“You? Again?”

“Orang Indonesia?”

Ucap mereka hampir bersamaan. Podd tertegun saat lawan bicaranya juga melemparkan kosa kata dalam Bahasa Indonesia.

“Eh?”

Lelaki dihadapannya pun tersenyum, lagi-lagi mengulurkan tangannya untuk membantu Podd berdiri. “Gawin, Gawin Caskey.”

“Podd.. Aduh-duh.” Jawabanya sambil berusaha untuk berdiri dibarengi rasa sakit saat tubuhnya ditarik ke atas.

Gawin menuntun Podd perlahan menuju bangku terdekat, mendudukan cowok yang sedang kesakitan itu sebelum duduk tepat disebelahnya.

“Sakit banget ya? Maaf...” Tanyanya dengan nada khawatir yang mana malah membuat Podd jadi merasa bersalah.

“Orang Indonesia juga? Asal mana?”

”....”

Gawin tak menjawab sebab melamun. Podd mengikuti arah pandang netra lelaki itu, masih menatap tangan Podd yang sedang memegangi pinggangnya.

“Gawin!” Seruan Podd menyadarkan.

“Eh- Iya.”

Sedetik kemudian kedua manik mereka bersitatap, saling mengunci satu sama lain. Kalau boleh jujur, Podd pikir mata Gawin sangat indah. Iris karamelnya sangat cocok ditambah hiasan bulu mata lentik miliknya. Entah mengapa jantungnya berdebar, ada perasaan membuncah dalam dirinya. Podd menebak dalam benaknya, orang Indo asal mana yang memiliki rupa seindah pria ini. Jikalau Gawin menjawab asalnya dari surga, Podd tak akan menyangkalnya.

“Semarang.”

“Hah?”

“Aku asli Semarang. Kalau kamu?”

Podd mengusap tengkuknya tanda dirinya sedang gugup. “Jakarta.”

“Oiya, tadi mau kemana?” Tanya Gawin mengingat mereka pasti punya tujuan masing-masing sebelum terjebak dalam situasi ini.

“Ke taman kampus.”

“Nggak mau ke kantin aja?” Tawar Gawin. Kebetulan dia bertemu kembali dengan sosok yang ditabrak tadi pagi dan Ia telah berjanji akan mentraktirnya jajanan.

Podd menggeleng. “Nggak tau tempatnya.”

“Ohh, anak students exchange? Bukannya tadi kalian keliling kampus ya? Soalnya sempet ketemu rombongan gitu di gedung fakultasku.”

Podd tersenyum kecut, “Iya tadi telat, udah ditinggal hehehe.”

Gawin merangkul pundak Podd, menariknya semangat layaknya teman dekat. Podd diperlakukan seperti itu hanya menurut dan mengikuti kemana tujuan langkah kaki si lelaki jangkung akan membawanya. Setidaknya untuk hari ini dia tak khawatir, bertemu seseorang yang datang dari kampung halamannya sudah cukup menjadi anugrah ditengah hari sialnya.


at cafetaria ㅡ 13.00 p.m

Setiap kantin memang menjadi tempat spesial bagi anak sekolahan entah di belahan dunia manapun. Tak ada kantin yang sepi bahkan di Paris. Binar bahagia tertampang pada setiap siswa meskipun tersirat masih ada raut kelelahan disana. Seperti Podd, pria yang seharian ini tertimpa sial tengah memasukkan makanan dengan lahap. Padahal sekiranya 10 menit yang lalu tengah berpikir makanan apa yang cocok untuk perut Indonesianya.

Sekali lagi Podd harus bersyukur karena bertemu dengan Gawin, meskipun harus merelakan bokongnya berciuman dengan tanah sebanyak dua kali. Gawin sangat membantunya dalam berkomunikasi, menjelaskan berbagai bahan makanan yang tersedia sehingga Podd tak perlu merasa kecewa saat menikmati hidangannya. Gawin bahkan bercerita banyak tentang tata letak gedung tua ini layaknya kakak pembimbing. Terpenting, Gawin dengan senang hati mengantar Podd kemanapun di penjuru kampus.

By the way, lo anak jurusan mana?” Tanya Podd yang kali ini terlihat lebih santai. Mereka berdua sepakat untuk menjadi teman dan menurunkan rasa canggung diantara mereka.

“Ekonomi dan bisnis.”

Podd tersenyum senang, “Sama kalo gitu, gila sih kayak takdir banget gue ketemu lo.”

“Departemen matematika.” Gawin sekali lagi menegaskan.

Podd terbatuk saat mendengarkan penuturan Gawin, “Pardon?”

Gawin terkekeh geli seraya mengendikkan bahu, sudah biasa baginya ditatap aneh saat memberitahu departemen yang diambilnya. Memang universitas ini terkenal dengan ilmu sosial dan humanioranya bahkan mahasiswa jurusan yang lain lebih sedikit dibanding jurusan humaniora. Mahasiswa jurusan matematikalah yang paling terendah jumlahnya.

“Serius? Matematika?”

“Iya, emang kenapa sih...”

“Gapapa, cuma yang gue denger kalau ngambil matematika disini katanya salah kampus.”

Gawin mengangguk menyetujui, banyak sekali rumor yang beredar tentang jurusan matematika Sorbonne. “Aku suka desain bangunannya. Kuno tapi elegan, tempatnya luas juga di ibukota dan yang aku bisa cuma matematika.”

Podd tak menjawab selain hanya menatap penuh kagum. Jarang-jarang Ia menemukan sosok pecinta matematika. Bahkan dalam kamusnya matematika tak lagi ditemukan. Padahal saat ini namanya telah tercantum dalam departemen manajemen bisnis dimana perhitungan akan sangat dibutuhkan.

“Kamu, kenapa Perancis?” Sekarang giliran Gawin yang mengintrogasi lelaki di depannya.

Podd berfikir sejenak, nggak ada alasan khusus kenapa negeri fashion ini menjadi tujuannya selain... “Pengen nyoba ratatouille

“Hah?”

Gawin menatap lawan bicaranya aneh. Gawin tau film disney satu itu, tentang tikus yang bisa memasak. Tapi menurutnya itu hanya film, tak pernah terpikir pun ada insan di dunia yang datang ke Perancis hanya karena film.

“Beneran... pengen banget ke restoran Gusteau

Gawin mengangguk awkward. “Iyain aja biar cepet.” Begitu kata batinnya.


3 month in Paris

Hari ini tepat 3 bulan Podd hidup di Perancis seorang diri. Syukurlah dirinya adalah tipe yang cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Yah, walaupun masih dibantu dengan hadirnya Gawin, anggap saja sahabat karibnya disini. Fakta baru yang diketahui dari Gawin adalah pria itu suka dengan fotografi sama dengan dirinya, bedanya cuma kalau Gawin niat pake kamera mahal kalau Podd cuma bekal handphone model paling baru yang kameranya ada bobanya 4.

Hal paling menyenangkan dalam kehidupan mandirinya adalah saat bersama Gawin. Entahlah, pemuda bule yang ternyata asli Semarang itu sangat cerewet namun membuatnya nyaman hanya dengan mendengar ocehannya. Setiap pertemuan mereka, Gawin akan menceritakan segala hal yang dilakukannya selama mereka tak bersama dari hal yang penting sampai hal sampis sekalipun.

“Podd!”

Gawin keluar dari pintu besar penghubung gedung dan taman. Mimiknya kesal, wajahnya merah padam. Setelah jarak mereka sudah dekat, Gawin menjatuhkan badan gembulnya ke Tanah. Paha empuk milik Podd dijadikan bantalan kepalanya, Gawin tak lupa menarik tangan besar Podd, meletakkan di atas wajahnya agar matanya tak bersitatap langsung dengan matahari. Oiya, Gawin itu anaknya juga seclingy itu.

“Kenapa? Prof. Giselle lagi?”

Tak terdengar jawaban menjadikan Podd yakin bahwa penyebab buruknya mood si pemuda ini adalah dosen cantik pengajar mata kuliah matematika pemrograman. Podd ingat bahwa Gawin sangat buruk dalam menggunakan komputer, hanya sekedar bisa yang dasar saja.

“Nanti sore hunting, yuk?” Ajakan Podd yang satu ini langsung ditanggapi dengan binar kebahagiaan pemuda di bawahnya. Sudah terhitung lama mereka tidak hunting foto bersama sebab Podd yang sibuk dengan laporan belakangan ini.

Gawin dengan cepat memasang wajah berpikirnya. Dalam kepalanya telah berputar mencari lokasi yang belum pernah Ia datangi selama 2 tahun hidup di Paris.

“Ke Eiffel lah kita.” Podd menyerukan saran.

Gawin menolak mentah-mentah saran dari pria di atasnya. Hey, Perancis bukan hanya tentang Eiffel. “Aku tau tempat yang lebih cantik daripada Eiffel”.

Your lead then, baby.” Podd mencubit gemas hidung mancung milik Gawin hingga empunya merajuk sebal.

Podd bisa apa selain menuruti kemana langkah kaki jangkung pemuda sahabatnya. Mengikuti Gawin adalah hobinya sejak 3 bulan ini dan Gawin memang tak pernah mengecewakan.


Sacré-Cœur ㅡ 17.42 p.m

Image


Disinilah mereka berdiri, di puncak paling tinggi menara Sacré-Cœur. Sebuah gereja yang menjadi titik tertinggi Kota Paris setelah menara kebanggaan Eiffel. Lokasi yang lebih tenang dimana masih dapat melihat pemandangan penjuru Paris di sore hari.

Gawin sedang sibuk dengan kameranya, membidik dengan serius pemandangan Kota Paris disertai langit jingga nan cantik. Sesekali bibirnya terangkat mendadakan Ia puas dengan hasil karyanya. Sedangkan Podd hanya bersandar pada pembatas, membiarkan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya sesekali melirik Gawin yang sibuk mondar-mandir dengan semangat.

20 menit berlalu, Podd merasakan sebuah gesekan pada lengannya, setelah itu bahunya yang menjadi berat. Adakala kepalanya menoleh ingin memastikan hidungnya bertabrakan terlebih dahulu dengan helai rambut Gawin yang terangkat terkena angin. Tak sangka Podd tersenyum tipis saat hidungnya bisa mencium aroma vanila dari sampo milik Gawin, ringan namun menenangkan.

“Capek?” Tanya Podd. Tatapan matanya sudah beralih pada pemandangan sang surya yang beranjak pergi.

“Banget. Tapi seneng...”

I was so lonely back then.” Lanjutnya. Iris karamelnya bersembunyi dibalik kelopak yang sedang menutup. Menikmati hembusan angin dingin di wajahnya.

Jemari Podd terangkat, hanya sebatas membenarkan poni milik pemuda disebelahnya. Rambutnya halus seperti rambut bayi, kulitnya putih pucat, hidung mancung yang menjadi favoritnya belakangangan ini. Jemari panjang itupun turun pada benda kenyal berwarna pink pucat, entah keberanian darimana hingga berani menjamahnya. Toh si pemilik hanya diam tak terusik sama sekali. Tanpa sadar kepalanya mendekat, ada bisikan dari hati nuraninya untuk sekedar mencicip bibir mungil itu. Bibir yang selama ini menjadi jembatan antara cerita milik si pemuda, bibir yang lebih sering mengerucut ketimbang tersenyum.

Saat jarak hanya dibatasi hidung ke hidung, netra indah itu terbuka. Obsidian mereka bertemu, nafas keduanya tercekat. Ada perasaan gugup akibat suasana mendadak jadi dingin.

Gawin menarik kepalanya menjauh dari bahu nyaman milik sahabat 3 bulannya itu. Bola matanya bergerak gelisah mencari objek apa saja asal jangan milik si pria itu.

“Ehh-uhh...” Mendadak lidahnya kelu, sulit sekali bahkan mengeluarkan alasan apapun.

“Gawin?”

“Aku mau pulang.”

Ucapan mereka bersamaan. Namun, belum sempat Podd menahan lengan pemuda jangkung itu, Gawin lebih dulu beranjak turun dari menara tinggi tersebut. Meninggalkan Podd dengan segala rasa penyesalannya. Meninggalkan Podd tanpa mendengar satupun pembelaan.

Podd's place ㅡ 23.59 p.m

Podd terduduk di depan notebook-nya, tak melakukan apa-apa hanya duduk dengan pandangan kosong menatap layar. Ruangannya gelap sebab sudah waktunya jam tidur, bahkan ini sudah masuk tengah malam di Paris.

Niatan awal dirinya akan menyelesaikan satu lagi laporan wajib bagi perserta students exchange. Namun, apadaya pikirannya terbang jauh pada peristiwa beberapa jam lalu. Imajinasinya dipenuhi bayang-bayang wajah kecewa Gawin. Memikirkan betapa bodoh tindakannya saat tadi, sekarang bagaimana dia akan menemui Gawin keesokan hari.

Ting

1 message from saninasaja@gmail.com

100 days without you

Selamat pagi, kesayangan Nggak kerasa ya udah 3 bulan kita nggak ketemu. Aku kangen banget sama kamu, kangen guyonan kamu yang gak mutu. Kangen gimana kamu suka bikin aku sebel tiap hari.

Podd, kamu sehat-sehat ya disana. Aku juga bakal jaga diri aku disini. Fyi hari ini aku punya firasat ga enak, kenapa ya? Mungkin karena aku capek ngerjain tugas hehehe. Tapi, aku lebih berharap nggak terjadi apa-apa disana?

Podd, aku mendadak cuma mau bilang kalau kamu sengaja atau nggak sengaja kepincut cewek bule yang cantik banget disana, please, let me know. Okay?.

I love you 7200

Podd mengusap wajahnya kasar. 3 bulan telah mengubahnya menjadi sosok tak bertanggung jawab. Jauh di negara kelahirannya ada sosok yang menantinya. Kekasih baik hati yang setia menunggunya kembali. Cewek yang tanpa sengaja ikut terseret dalam drama dilema cinta yang sedang dibuatnya.

“Maaf...” Lirihnya.


5 month 28 days in Paris

Seiring bumi berputar mengelilingi matahari ada waktu yang terus bergerak maju. Tak ada satupun insan yang dapat menghentikan barang sedetik. Dan hari ini, tepat hari terakhir lelaki itu menginjakkan kaki di Paris.

Dalam sebuah bilik minimalis, sosok tinggi nampak berdiri menghadap luasnya Kota Paris dari balik teralis balkonnya. Hari masih pagi dan ini akhir pekan namun hasrat untuk melakukan sebuah kegiatan tak ada yang bersarang. Dari tempatnya berdiri terdengar bunyi lonceng gereja Sacré-Cœur memanggil jemaatnya untuk beribadah. Menara tinggi yang muncul dalam bidang pandangnya mengembalikan ingatanya pada hari itu. Hari dimana dirinya terakhir berinteraksi dengan si pecinta ratatouille.

Jika mengingat momen dimana mereka menginjakkan kaki pada restoran Perancis dengan akhir memesan masakan penuh sayur itu benar-benar lucu. Pria bertubuh atletis yang terus menggerutu akibat bentuk sayuran yang dipotong abstrak membuatnya kecewa, dia hanya ingin ratatouille yang dipotong helai demi helai percis seperti yang di film. Dan hari itu berakhir Gawin yang memasak ratatouille sesuai imajinasi sang sahabat. Kalau boleh jujur dia sedikit merindukan sosok itu.

Gawin bukannya egois. Dia hanya takut, setiap pria itu mendekat dadanya merasa sesak. Jantungnya berdegup cepat, aliran darahnya mengalir tak karuan hingga membuatnya pusing. Jalan terbaik adalah menghindarinya, entah sampai kapan hingga tanpa sadar hari ini adalah hari terakhirnya disini. Fakta lain, Gawin akan kembali sendiri seperti kehidupannya sedia kala.

Ting

1 Message from Podd


Ponts des Amours, Annecy, Perancis

Image


Semilir angin malam menerpa kulit tipis tanpa balutan kain tebal. Dirinya lupa kalau tempat ini dikelilingi sungai luas yang pasti angin disekitarny juga kencang. Perjalanan selama kurang lebih 6 jam dari Paris hanya ditemani celana boyfriend jeans dan sweater tipis.

Gawin berjalan santai melintasi pohon rindang berwarna kehijauan. Suasana hari ini nampak sepi sebab langit telah berubah menjadi gelap. Namun, beberapa pasangan masih tertarik menikmati air lampu-lampu cantik disekeliling mereka.

Gawin sendiri bingung, manakala dirinya menerima pesan foto dari pria yang dirindukannya langsung gegabah menemuinya tanpa memastikan bahwa pria itu benar berdiri di tanah yang saat ini juga dipijaknya. Hati dan otaknya bersatu membuat suara-suara yang menjadi pendukungnya untuk berangkat ke Annecy, tepatnya ke Ponts de Amours atau yang mereka biasa bilang jembatan cinta.

Gawin sampai pada puncak jembatan. Kedua lengannya bertumpu pada besi pembatas jembatan. Jauh disana, matanya memandang aliran air tenang dengan berbagai cahaya warna-warni dari lampu diatasnya. Indah, tapi Ia lupa membawa kamera.

“Mereka bilang, setiap pasangan yang berciuman tepat di puncak jembatan, kisah cintanya akan abadi.”

Gawin terlonjak kaget kala mendengar suara yang amat sangat dia kenal. Pria itu betul ada disini.

“Kamu kesini nyusul aku karena takut aku ilang?” Tanya pria itu.

Gawin terdiam sejenak. Ia sendiri juga bingung jawaban mana yang tepat untuk pertanyaan itu. “Aku juga nggak tau.”

Podd kali ini ikut menumpukkan lengannya di sebelah Gawin. Obsidian teduhnya tak menyisahkan sedetikpun untuk berpaling melihat objek lain. Podd ingin memahat rupa manis lelaki disebelahnya dengan benar, Podd ingin mengingat setiap garis wajah milik Gawin, agar suatu hari nanti dia diberi ijin bertemu Podd akan langsung mengenali pemuda ini.

“Podd...”

Suara Gawin memanggil namanya, kali ini lebih lembut seperti biasa. Semenjak kejadian hari itu, ini adalah kata pertama yang keluar dari bibir favoritnya. Suhu tubuhnya memanas dan jantungnya mulai berdetak saat suara manis itu ditangkap gendang telinganya.

Im truly sorry for what happened all this time.” Gawin menatap iris hitam legam itu lamat. Ia hanya ingin semuanya berakhir dengan benar tanpa menyisakan penyesalan apapun.

Podd tersenyum lega. “Me too...

Seperti aliran sungai yang tenang, jemari panjang milik Podd terulur mengusap pipi gembil itu. Memberikan kehangatan pada kulit dingin itu. Rasanya sangat sesak, nafsu ingin memiliki pemuda ini semakin besar bersarang di dalam tubuhnya.

”....I'm sorry that i fall for you.” Ucapannya lirih.

Seperti terjebak dalam negeri dongeng, Gawin dapat merasakan jutaan kupu-kupu berbagai warna terbang mengiringi tiap kata yang terucap. Gawin sadar, detik ini bukan waktunya untuk menjadi keras kepala.

Gawin melepaskan telapak hangat yang masih setia mengusap pipinya, menarik cowok dihadapannya yang tengah menatapnya sendu dalam sebuah pelukan hangat. Keputusan akhirnya, Gawin juga ingin terikat dengan ciptaan Tuhan satu ini.

Masih dalam posisi saling berhimpit, mereka berdua saling mendekatkan wajah. Kedua netranya telah terkunci satu sama lain. Alunan musik dari penyanyi jalanan turut serta memberi kesan romantis seperti halnya di film romansa Perancis. Saat jarak terlampau tipis, keduanya memberikan senyum terbaik lantas menyatukan perasaannya dengan lumatan pada masing-masing bibir.

Dalam hatinya berdoa, entah apa yang akan terjadi keesokan hari biarlah legenda jembatan cinta ini yang menjadi penghubung hati keduannya.

Quand il me prend dans ses bras Il me parle tout bas Je vois la vie en rose.


Epilog ㅡ Podd POV

Soekarno-Hatta International Airport, Tanggerang.

“Podd!”

Suara melengking yang sangat aku kenali. Aku langsung menerawang seluruh penjuru bandara yang ramai sampai mataku menemukan senyumnya. Mau tak mau aku ikut tersenyum hingga terkekeh geli melihatnya berteriak girang menyambut kepulanganku. Tanpa babibu aku langsung menghampirinya.

Saat jarak kami tinggal 1 meter, cewek manis ini langsung memelukku. Akupun begitu, sangat merindukannya. Pelukannya terlampau erat, seperti takut kehilangan. Akupun menepuk punggungnya lembut seraya menenangkan bahwa aku tak lagi pergi dari sisinya.

Pelukan kami terlepas, akupun menangkup kedua pipinya. Dia menangis, meskipun masih berusaha tersenyum manis saat kedua mata cantiknya saling menatap dengan milikku. Tuhan, rasa bersalah ini kembali muncul. Kutukan apa yang akan menimpaku kelak karena menyakiti sosok baik ini, aku akan menerimanya dengan lapang dada,I deserve it.

Aku menggerakkan ibu jariku untuk menghapus jejak air matanya yang masih nampak disana. Memeluknya sekali lagi dengan erat.

“Aku minta maaf.” Bisikku lirih tepat disebelah telinganya.

Suara isakannya terdengar cukup keras. Tangisnya pecah seperti mengadu betapa sakit hatinya dia. Jari-jari kecilnya menggengam erat jaket yang membalut tubuhku.

“Aku gapapa.” Ucapnya masih dengan nada yang bergetar. Ia juga tak lupa menyelipkan senyum tipis seakan memberi tanda kalau dia benar baik-baik saja.

“Ayo pulang.” Sosok cantik itu mengusap air matanya kasar. Mengenggam tanganku erat sembari menyeret tubuh besarku pergi meninggalkan kawasan bandara.


6 bulan kemudian

Sosok tegap melangkahkan kedua kakinya dengan santai diatas lantai putih ditengah hiruk pikuknya bandara. Senyum bahagia tak luput dari bibirnya sejak naik dari pesawat sampai turun sebab hidungnya kembali menghirup aroma rumah.

I'm home.”

END


au ini dibuat spesial bagi orang-orang kuat dalam dunia per poddgawin/poddfluke-an.

was saninasaja

“Karena hukum alam nggak sebercanda itu. Kamu lepas aku saat itu juga kamu nggak akan pernah lihat aku lagi.”

a poddgawin alternative universe


Surabaya, 2018

Dunia ini begitu aneh, selayaknya penjara namun dengan batasan tak berujung. Dimana kisah cinta setiap insannya ikut diatur oleh hukum alam yang berlaku. Siapa yang menentang bersiaplah dikirim karma. Untuk apa lantas melalangbuana hidup jika tubuh ini bergerak tak bebas. Sesak, bahkan untuk bernapas sudah sangat sulit. Banyak manusia yang lahir menentang hukum satu ini, namun setelah mendengar desas desus orang yang lebih tua mereka hanya mampu menerima. Ikhlas hidup tanpa diberi pilihan.

Anggaplah 99,99% makhluk bumi ini menerima takdir tapi masih ada 00,01% yang menentang. Salah satunya pria ini, pemuda tinggi berperawakan bongsor dengan gaya ala rocker-nya. Pemuda tampan dengan obsidian dingin dambaan seluruh mahasiswa/i di kampusnya. Gawin namanya, mahasiswa tahun ke 3 jurusan seni musik juga anggota band kampus paling beken dimana setiap petikan gitar mampu menggetarkan pendengarnya.

You're just too good to be true Can't take my eyes off of you

Baru dua kalimat semenjak lagu mulai dinyanyikan, pekikan dari bawah stage terdengar hingga melebihi sound system yang ada. Berlomba-lomba siapa yang paling kencang, siapa paling gila untuk setidaknya dilirik oleh sang idola kampus.

I need you baby, if it's quite all right, I love you baby, you warm a lonely night, I love you baby. Trust in me when I say....

Gawin melempar senyum tipisnya saat menyebut lirik diakhir nada. Penonton yang sebagian besar adalah cewek-cewek fanclub Gawin semakin panas dibuatnya. Berteriak hingga menangis memanggil nama sang idola. Beberapa pria jengah akibat mbak pacar lebih fokus pada penampilan pria keturunan campuran amerika-thai yang sudah sangat lama menetap di Indonesia ini. Kasihan, padahal niat datang ke festival tahunan kampus ya ngedate cari jajan.

Anyway makasih yang udah dateng.” Satu kalimat terlontar dari bibir Gawin saat selesai menyanyikan lagu terakhir buat malam ini. Tak lupa pemuda tinggi itu menyematkan senyum pada penonton dibawahnya sebelum berlalu ke belakang panggung dimana bisa langsung terdengar desahan kecewa penggemar.

Gawin bergegas mengemasi barang bawaannya, memasukkan gitar kesayangannya ke dalam tas gitar pemberian papanya.

“Loh mau kemana?” Tanya Bright, si good looking drummer band kampus saat gitar telah tersampir pada pundak kokoh Gawin.

“Pulang.” Balasnya singkat.

“Lah, kan rencananya mau party dulu abis beres acara.” Cegahnya lagi.

“Duluan.” Gawin sama sekali tak mengindahkan ajakan Bright. Pemuda itu lebih memilih berjalan cepat keluar lokasi menuju motor sport kesayangannya.


Gawin's place – 22.00 p.m

Sampai pada rumah sewanya, Gawin langsung menjatuhkan diri pada kasur empuk miliknya tanpa beberes terlebih dahulu. Iya, Gawin itu sewa rumah alias kos. Keluarganya ada di Jakarta sedangkan dia kuliah di Surabaya. Pengen bebas katanya, kalo di rumah tiap hari ditanyain perkara soulmate.

Gawin itu satu dari puluhan juta manusia di bumi yang nggak pernah paham sama konsep soulmate. Katanya cinta itu nggak ada batasan, bebas memilih siapapun. Buktinya, cinta itu udah ditakdirkan sejak kita lahir. Sebuah legenda menyatakan barang siapa yang menolak soulmate maka yang ditolak akan mati. Entahlah, itu hanya desas-desus dikalangan masyarakat.

“ARRRGGHH”

Gawin mengusak rambutnya kasar hingga berantakan. Lalu, dirinya berlari menuju wastafel dalam kamar mandi mencoba memuntahkan sesuatu dalam perutnya. Sejak satu bulan lamanya siklus ini berlangsung dan Gawin masih belum menemukan alasannya. Rasa manis dari coklat beberapa kali terasa pada indra pengecapnya terkadang lidahnya terasa terbakar tiba-tiba. Gawin ini juga salah satu dari sekian juta manusia yang anti dengan makanan manis. Trauma kecil yang dideritanya saat muntah hebat setelah memakan bolu kukus coklat buatan mamanya. Semenjak kejadian itu makanan manis adalah musuh yang harus dihindari.

“Kenapa sih?” Tanyanya pada diri sendiri sambil memperhatikan raut berantakan di depan cermin.

Sepintas terbesit perkataan mamanya. Salah satu contoh dirimu sudah bertemu dengan soulmate adalah dapat merasakan hal-hal favoritnya seperti makanan, minuman atau perasaannya pada saat itu.

“Ah nggak mungkin.” Ucapnya menertawakan pikiran konyolnya.

Gawin akhirnya memutuskan untuk mandi dan beristirahat karena besok adalah hari senin. Hari aktif kuliah dan dirinya memiliki kelas pagi, harus cepat tidur jika tidak mau terlambat.


Kampus X Surabaya – 09.10 a.m

Gawin menurunkan standar motor sport merah yang diberi nama Anya itu. Ia melepas helm lalu diletakkan di atas kaca spion. Gawin turun dari atas Anya, mengelus sebentar body mulus nan kinclong bak cermin.

“Baik-baik ya, Nya gue kelas dulu.”

Gawin kembali pada raut dingin seperti biasa. Raut tak bersabahat namun menjadi kesayangan teman-temannya. Keringat terus muncul menemani setiap langkah kaki jenjang milik Gawin. Keadaannya sejak semalam memang tak kunjung baik, malah semakin parah. Sialnya hari senin bukan hari yang tepat untuk bolos meskipun hanya ada satu mata kuliah.

Pemuda jangkung itu berdecak tak suka saat hampir sampai pada kelasnya malah dihadapkan kerumuman mahasiswi. Wanita-wanita itu seolah tak peduli teriakannya menganggu kegiatan belajar. Entah, kali ini pria populer mana lagi yang sedang digandrungi sampai tak sadar bahwa idola dengan strata tertinggi berdiri mematung di belakang mereka.

“Waduh kayaknya punya saingan lu...” Bright muncul mengagetkan Gawin yang masih termenung berdiri.

“Hah? Siapa?”

“Itu si Podd, anak laki satu-satunya di jurusan tata boga.”

Gawin menatap Bright sinis, “Nggak nanya.”

“Kali aja kepo gitu.”

Gawin menghela napas berat lebih memilih berjalan memutar meninggalkan Bright yang ternyata pengen ikut antri nyobain kue kering buatan Podd. Podd itu tiap Senin emang suka bawain banyak kue kering hasil bikinannya di rumah terus dibagi-bagi ke anak kampus. Kalo ditanya kenapa nggak waktu hari Jum'at biar jadinya Jum'at berkah cowok itu jawab kalo dia dapet wangsitnya disuruh hari Senin.

“Masih dapet nggak tuh buat gue?” Tanya Bright pas udah berhadapan sama Podd. Kedua tangan Bright ditangkupkan seperti anak kecil minta jajan ke orang tuannya.

Podd ketawa konyol pas tau siapa yang ikutan antri. Terus pemuda yang cukup atletis itu ngasih dua bungkus cookies coklat ditambah susu UHT rasa moka. Alis Bright bertaut tanda bingung, sejak kapan Podd juga bagi-bagi susu, kok cuma dia yang dapat.

“Kasih ke sohib lu tuh, titip salam jangan kebanyakan minum susu moka sumpah eneg banget di mulut.” Podd cuma melempar senyum terus berlalu gitu aja karena dia memang ada kelas setelah ini.

11.00 a.m

Gawin beranjak terburu setelah Bu Alice selaku dosen filsafat dan sejarah seni yang terkenal ditaktor itu keluar dari kelas. Selama mata kuliah berlangsung tak ada satupun kata penting yang masuk dalam otaknya. Perutnya seperti diaduk hingga isinya tercampur menimbulkan rasa mual luar biasa. Gawin pengen sampe kosan terus tidur sebelum langkahnya dihadang kali ini sama Bright.

“Minggir.” Suruhnya dengan tenang namun bernada dingin.

“Bentar, ada titipan buat lu.” Bright memberikan gestur dengan telunjuknya seraya menggeledah isi tasnya selempang hitam yang di dalemnya nggak ada apa-apa kecuali bolpoin satu sama buku tulis buluk nan tipis, udah dari semester 1 nggak pernah ganti.

Raut Gawin berubah jadi bertanya-tanya saat Bright menyerahkan satu bungkus cookie coklat ditemani susu kesukaannya sejak kecil. Gawin bingung, setaunya nggak ada satu orangpun yang tau kalau dia suka banget minum susu moka kecuali keluarganya.

“Dari siapa?”

“Nah nah itu orangnya.” Tunjuk Bright semangat waktu kebetulan ngeliat Podd lagi jalan sendiri di area lapangan. Yakin sih Podd juga baru selesai kelas dan dilihat dari arahnya dia mau ke parkiran mobil.

“Katanya juga jangan keseringan minum susu moka, eneg.” Lanjut Bright.

Gawin nggak bodoh buat paham apa yang dimaksud Bright. Eneg? Ternyata nggak cuma dirinya yang tersiksa sama konsep soulmate. Gawin sebenarnya kenal nggak kenal sama Podd, yang dia inget kalau sekber ukm band sebelahan sama ukm anak fotografi dimana Podd gabung di dalamnya, cuma sekali mereka ngomong berdua. Waktu itu udah larut malam, Gawin lagi capek-capeknya latihan buat acara festival dan dia mutusin buat ngisep satu batang dan minum susu moka buat tenangin diri. Disitu Gawin kesel, udah menjauh dari area ukm malah koreknya ketinggalan untung ada Podd yang gatau dateng darimana udah nyalain api di depan matanya. Obrolannya terlampau basa basi sebatas kenalan sama bicarain masalah kerjaan kampus atau acara festival.

Ditengah ngobrol Podd ngeluarin cookie coklat, dia bilang itu buatannya sendiri dan Gawin disuruh nyoba tapi dianya nolak. Anehnya pas Podd lagi sibuk ngunyah lidah Gawin bisa rasain coklat padahal yang lagi dia minum susu moka. Semenjak pertemuan malam itu Gawin memilih buat menjauhi Podd berharap lidahnya kembali normal yang nyatanya malah bikin dia tersiksa hari-harinya.

Gawin sudah berdiri di depan Podd, Ia mencekal kuat lengan yang kurang lebih sama besarnya dengan miliknya. Podd merasa telapaknya lebih berat saat menerima kembali kue dan susu pemberiannya. Podd tersenyum miris, dia nggak bohong kalau hatinya sedikit sakit. Lalu Podd menatap pemuda dihadapannya tenang, sedang yang ditatap hanya menampilkan wajah datar.

“Aku kira kamu nggak sepeka itu.” Ujar Podd masih memandangi pria dihadapannya.

Please, gue cuma ingin hidup tenang.”

“Yaudah kalau kayak gitu ayo mulai dari awal. Kita jalanin pelan-pelan.”

Podd sudah lama sekali ingin membahas masalah ini bersama Gawin. Namun Gawin nampak selalu menghindar dan acuh padanya. Podd menganggap bahwa Gawin belum peka terhadap apa yang juga lagi dia rasakan.

Gawin memiringkan kepalanya, menatap lelaki yang sedikit lebih tinggi itu penuh pertanyaan. “Kita itu nggak kenal. Lagian aneh nggak sih cuma gegara ngobrol bareng bisa jadi soulmate

“Kita itu takdir, pertemuan malam itu cuma salah satu cara semesta mempertemukan kita.”

“Hah... nonsense

Gawin berpaling meninggalkan Podd sendiri. Terlalu sulit nalarnya menerima semua ini.

“Takdir katanya. Jalani takdirmu aku akan mengurus diriku sendiri.” Batinnya.


Semenjak pembicaraan itu hidup tenang Gawin mulai terusik. Tak ada lagi kata ketenangan dalam nama tengahnya. Kemana netra karamel itu bergerak hanya satu senyuman yang dapat Ia tangkap. Senyum lelaki yang belakangan ini terus mengganggunya.

Gawin tak menyangka bahwa lelaki jangkung bernama Podd itu cukup gigih dan terlampau keras kepala. Ia kira Podd hanyalah sosok pria soft yang akan menyerah dalam satu kali tolak. Namun, hingga detik ini Podd terus mencoba meraihnya, mengajaknya untuk memulai dari awal yang menurut Gawin hal paling nggak mungkin.

“Gawin, sampai kapan kamu terus menjauh?” Tanya Podd saat berhasil menyamakan langkah kakinya dengan Gawin.

“Sampai lo capek.” Balasnya ketus seperti hari-hari biasa.

“Semua yang kamu lakuin itu percuma. Kita itu takdir...”

Gawin berhenti, lalu menatap lelaki itu dengan jengkel. “Takdir, takdir, takdir. Lo nggak liat gue tertekan banget sama takdir paling aneh yang pernah ada ini. Please, let me breath. I want to be free as what I am before.”

“Kenyataannya nggak bisa, Win. We were meant to be.” Podd mencoba terus meyakinkan Gawin.

”.... Sekali aja, aku ingin nunjukin sesuatu ke kamu.” Pintanya tulus. Podd natap lamat iris karamel yang semakin bersinar saat cahaya menerpa sebagian rupa tampan itu.

Gawin menyerah, mungkin dengan menyetujui ajakan cowok itu dia akan bebas setelahnya.

Oke, whatever” Jawabnya tak ikhlas namun bisa Ia lihat raut cowok dihadapannya kembali cerah.

“Besok malem, jam 7 aku jemput ke kosan.” Podd mengusak rambut hitam bergelombang milik Gawin gemas.

Sesuai janji Podd datang dengan Range Rover Black miliknya. Daripada dandanan kampus, Podd terlihat jauh lebih nyaman dengan t-shirt hitam dan ripped jeans sedikit longgar. Rambutnya dibiarkan turun namun tetap terlihat tampan. Podd melebarkan bibirnya saat Gawin mengetuk kaca mobil tanda minta dibukakan. Podd lantas mempersilahkan Gawin masuk, duduk tepat disebelahnya.

Tak banyak topik yang terjadi malah terkesan sunyi. Gawin sendiri merasa aneh, sebab Podd yang Ia tau itu cerewet, selalu ada saja yang ingin diketahuinya. Melihat rahang tegas itu terus mengarah ke jalanan di depan membuatnya sedikit tidak nyaman.

Saat mobil itu berhenti, perasaan Gawin mulai tak enak. Pasalnya hanya sebuah lapangan luas sepi tak beratap apapun. Malam ini Surabaya sedang dingin, tak dapat dipungkiri bahwa langit di atasnya sangat cerah bulan dan bintang tampak tak malu untuk menunjukkan sinarnya. Angin kencang yang berhembus membuatnya menyesal tak membawa jaket tebalnya hanya kaus tipis dibalut kemeja flanel dan jeans hitam.

Gawin sibuk menatap sekitar, ini seperti stadion lama tak terpakai. dihadapannya adalah bangku penonton yang telah usang, gelap memberi kesan mengerikan. Gawin menatap ke bawah saat tangannya ditarik untuk ikut berbaring, dengan sedikit kaku Gawin ikut menghempaskan tubuhnya diatas karpet rumput hijau. Matanya berbinar, baru tau jika langit Surabaya akan seindah ini di malam hari. Untuk pertama kalinya Gawin ingin mengucapkan terima kasih pada lelaki di sampingnya.

“Kenapa kesini?” Dua kata terlontar dari bibir Gawin.

“Pengen liat bintang aja.”

Gawin memilih diam saat mendengar jawaban yang tidak memuaskan.

“Katanya, kalo mata kita bisa nangkep bintang yang paling bersinar bintang itu representasi orang yang kita sayang, dia juga lagi kangen sama kita dan dia dikasih ijin sama Tuhan buat ketemu sama kita.”

“Lo kan anak tata boga mana tau pasal astronomi.” Sahut Gawin judes yang mana malah membuat Podd terkikik geli.

“Kan katanya...” Bela Podd untuk dirinya sendiri.

“Terus lo percaya?”

Podd mengangguk meskipun Gawin nggak bisa lihat itu, “Hmm...”

“Nggak salah lagi, lo adalah salah satu dari jutaan manusia yang percaya sama konsep takhayul kayak soulmate.”

Podd mengubah posisi tubuhnya tidak lagi menatap luasnya hamparan bintang di langit. Ia menyangga kepalanya dengan sikunya agar bisa menatap Gawin yang sedang tenang memperhatikan langit. Podd jadi paham alasan seluruh mahasiswa/i di kampusnya sangat mengeluhkan pemuda ini. Memang ganteng, tapi di mata Podd juga manis. Bibir merah muda kecil yang jarang tersenyum itu, Podd sangat ingin mencobanya.

“Aku pernah denger legenda kalau sepasang soulmate sudah ditakdirkan bersama, jika salah satunya menentang maka alam akan mengambil pasangannya.” Podd berucap sambil menatap Gawin lamat, memperhatikan setiap gerakan kecil yang pemuda ini buat.

“Terus alam mau bawa mereka kemana?”

“Gatau, mungkin ke tempat dimana dia bisa bahagia dengan dirinya sendiri. Tempat dimana dia merasa dicintai walau tanpa kata cinta atau afeksi dari pasangannya.”

Gawin bangun dari kegiatan star gazing-nya. Menurutnya percakapan tadi cukup membuatnya kurang nyaman. Entah jantungnya terus berdegup kencang seiring kata demi kata yang disampaikan pria itu. Sungguh, kalau tujuannya mengajak Gawin kemari hanya untuk membuat Gawin menerimanya maka jawabannya masih belum bisa. Hatinya masih ragu walau raganya nampak mulai nyaman dengan kehadiran pria dengan sejuta senyum ini.

“Aku mau pergi, Win.” Ucapnya pria itu tiba-tiba.

Tubuh Gawin mendadak tegang, bulu kuduknya berdiri akibat angin tiba-tiba berhembus semakin kencang. Ada perasaan tak terima dalam hatinya mendengar kata pergi langsung dari bibir tebalnya. Gawin jujur kecewa dengan pria itu, beberapa bulan terus mengusik hidupnya, menganggu hari-harinya, membuat raga tubuhnya mulai terbiasa dalam satu detik dibuat kecewa dengan keputusannya untuk berhenti, dengan tak tahu dirinya meninggalkannya pergi.

“Kemana?” Tanyanya lirih. Banyak pertanyan mulai terkumpul dalam benaknya namun suaranya tercekat.

“Aussie.”

“Kenapa?”

“Orang tuaku pindah kerja kesana.”

“Kapan?” Gawin menunduk, menyembunyikan butiran bening tanda kelemahannya.

“Secepatnya.”

Podd ikut mendudukkan dirinya. Melihat bentuk tubuh Gawin sedikit membuatnya khawatir. Podd menyentuh pundak Gawin yang semakin turun, punggungnya sedih telinganya memerah entah karena suhu memang semakin dingin. Podd melebarkan lengannya, membawa pemuda soulmate-nya itu dalam sebuah rengkuhan hangat. Gawin membalas, jemari panjang miliknya menggenggam erat kaus tipis milik Podd. Baru kali ini sebuah pelukan dari seseorang bisa sangat nyaman. Terlambatkah Gawin untuk menahan sosok ini, memulainya dari awal seperti yang pria ini selalu lantunkan. Gawin ingin egois, Gawin ingin memiliki pria ini untuk dirinya sendiri, Gawin ingin belajar percaya bahwa konsep soulmate tak layak hanya sebuah legenda belaka.

Deru napas saling menerpa kulit satu sama lain seraya gerakan kepala yang semakin mendekat. Degup jantung berirama tak beraturan dapat ditangkap oleh masing-masing gendang telinga.

Can I?” Bisik Podd meminta ijin.

Tak ada balasan selain netra karamel favoritnya itu mulai bersembunyi dalam kelopak dihiasi bulu mata lentik milik Gawin. Podd tersenyum sebelum menjamah bibir merah muda idamannya. Tak ada lumatan, hanya kedua bibir saling bertemu.

Setitik cairan bening turun dari pelupuk mata milik Podd. Tak ada secerca kebahagiaan meskipun bibir milik pemuda kesayangannya telah dimiliki. Rasanya ada yang mengganjal, seperti kau mampu menggenggam raganya namun bukan hatinya. Tepat detik ini, pilihannya untuk pergi meninggalkan pemuda dingin namun manis ini adalah pilihan yang tepat.


Surabaya, 2021

Hari ini mendung, setetes demi tetes air hujan mulai turun membasahi kota yang terkenal dekat dengan matahari. Beruntung pemuda tinggi dengan wajah khas bule itu terjebak ditempat yang tepat, dalam salah satu kafe cantik ditemani moccachino sebagai minuman yang paling dipujinya.

Perhatiannya teralihkan saat bunyi bel pada pintu masuk kafe berbunyi nyaring. Rautnya tegang saat seseorang dengan seenaknya duduk pada kursi kosong dihadapannya. Memang, niatnya kemari akan bertemu dengan seseorang. Mungkinkah...

“Kak Gawin ya?” Sapa sosok di depannya ceria. Senyumnya mirip milik seseorang yang teramat dirindukannya.

“Betul, Drake?”

Lelaki muda di depanya ini mengangguk dengan semangat hingga rambut basah terkena air hujan bergerak dan airnya tercecer kemana-mana.

“Maaf ya bikin kamu repot sampai kemari. Gimana Indonesia? Aku denger dari Podd kamu tinggal di Aussie.”

Mendengar nama Podd, mimik bahagianya mendadak pudar.

“Kak Gawin maafin Kak Podd ya.” Drake tersenyum kecil. Tatapannya bisa Gawin lihat jadi sendu.

“Sebenernya nggak ada keluarga kita yang tinggal di Aussie...” Drake berhenti sejenak, memperhatikan lamat gerak-gerik ekspresi soulmate kakaknya Podd.

”... Kita sekeluarga pindah ke Belanda, Kak Podd udah janji mau diajak berobat kesana. Cancer, Kak Podd itu cowok yang paling kuat bisa bertahan punya cancer selama 4 tahun, padahal dokter cuma bisa prediksi umur dia nggak selama itu. Dia bertahan hidup demi ketemu sama soulmate-nya, yaitu Kak Gawin.”

Gawin yang daritadi dengerin masih nggak ngerti sama arah pembicaraan yang menurutnya ngawur plus nggak masuk akal. Jelas-jelas Podd bilang cuma mau pindah kesana sebentar dan balik buat nemuin dia lagi. Jelas-jelas Podd nyuruh dia buat take time dimana saat cowok itu balik nanti cerita mereka bisa happy ending.

Drake mengeluarkan sepucuk surat yang masih rapih dengan perangko negara kincir angin tersebut. “Aku cuma mau ngasih ini, ada alamat juga di dalamnya. Jika Kak Gawin udah siap kakak bisa nemuin Kak Podd disana.”

Den Haag, 31 Desember 2021

Suara langkah kaki beradu dengan rerumputan menjadi pengiring sosok pria jangkung yang tengah berjalan menyusuri padang tanah indah. Pakaiannya rapih dengan jas hitam membalut bahu lebar nan tegap miliknya. Senyum titip tak pernah tertinggal sejak dirinya melangkah memasuki pekarangan. Digenggamannya terdapat bunga edelweis, salah satu permintaan pria kesayangannya yang akhirnya bisa ditemui setelah 3 tahun lamanya tak bersua.

Gawin semakin mengangkat bibirnya kala obsidian karamel itu menangkap sebuah ukiran tertulis nama lelaki yang banyak dirindukannya.

“Podd, aku dateng...” Ujarnya seraya mengelus batu yang terdapat ukiran “Podd” di atasnya.

”... Maaf ya telat banget. Maaf kalo aku selama itu buat nerima kalo kamu udah nggak ada sama aku lagi.” Gawin menutup mulutnya yang mulai mengeluarkan isakan. Demi Podd, Ia menguatkan hatinya. Podd melarangnya datang jika Gawin akhirnya hanya menangisi dirinya.

“Aku udah bahagia, hiks. Aku udah ikhlas. Maaf kalo kamu masih sering liat aku nangis, aku bukannya sedih. Aku cuma kangen sama kamu.”

“Kamu tau nggak sih, tiap malem suka merhatiin langit. Kadang suka sebel karna tinggal di Surabaya hehehe, banyak polusinya jadi nggak keliatan bintangnya. But, I will always stares above the sky. Aku mau buktiin kalo kata-kata kamu beneran, aku mau percaya buat yang satu itu karena disini aku nggak tau lagi gimana caranya bisa ketemu sama kamu.”

”... Kamu bahagia ya disana. Doain aku biar sukses, biar bisa pindah kesini. Aku mau jagain kamu sampai akhir hari nanti. Podd... Aku sayang kamu juga.”

END

Hi, Gawin Soulmateku…

Jika kamu menerima surat ini berarti hari ini kamu berada dipemberhentian terakhir dalam misi mencari Podd si pelengkap tulang rusukmu. Aku bisa bahagia kalo gitu hehehe.

Sebelum kamu baca surat ini lebih jauh aku mau ngucapin selamat kamu berhasil nemuin aku, we were indeed meant to be.

Maaf kalau selama ini aku ngusik hidup kamu, bikin kamu kesel disetiap napas yang keluar dari hidung kamu. Maaf dengan adanya aku disisimu kala itu membuatmu merasa hidup layaknya terkekang akan takdir. Ketiga kalinya aku minta maaf bahwa pada akhirnya aku meninggalkan kamu.

Gawin, aku harap kamu bisa hidup bebas seperti apa yang kamu impikan selama ini. Makan makanan yang kamu suka, beli susu moka sebanyak yang kamu mau, meminumnya tanpa harus memikirkan aku. Terpenting kamu bisa memilih kepada siapa hatimu akan berlabuh.

Gawin tolong jangan nangis, I am ok now cancer nggak sesakit itu, Aku bahagia disini, dari atas sini you looks so damn beautiful. Aku berharap aku bisa liat senyum kamu suatu saat nanti. Kalo boleh request aku mau kamu bawain bunga edelweis, bunga lambang keabadian tapi kalo susah kembang tujuh rupa juga udah cukup kok :)

Makasih ya Gawin, aku nggak pernah nyesel bahwa kamu soulmateku. Aku nggak pernah nyesel pernah kecup bibir manis kamu meskipun aku tau kamu tidak akan bisa menerimaku.

Aku pamit, Win. Tuhan udah manggil namaku. Aku sayang kamu

Den Haag, 31 Desember 2019

Plapodd


au ini dibuat spesial bagi orang-orang kuat dalam dunia per poddgawin/poddfluke-an. buat kalian yang pernah kenal aku, i am truly sorry for being coward and left ya'll alone than being stronger than anyone.

was saninasaja

Special chapter

“Selamat siang, Mumu Drake dan Kakak Bright. Makasih banget nih udah bagi waktu buat di interview seputar How to be Sibling Goals versi kalian berdua. Wawancara kali ini kalian cuma butuh jawab sejujur-jujurnya dari pertanyaan yang dilontarkan ya.” Mumu dan Kakak mengangguk paham. Nervous, karna ini baru pertama kalinya di wawancarai. Udah kayak artis terkenal. Padahal cuma buat bahan penelitian skripsi. “Pertama-pertama bisa perkenalan dulu ya.” “A-anu… Name saya Bright Setyono, biasanya called Kakak Bright.” “Halo, Namaku Drake Setyono, call me Mumu yo kalo ndak call Mumu yo ndak noleh.” “Aduh… susah ya ngomongnya campur aduk gitu hehehe.”

“Pertanyaan pertama buat Mumu dulu deh. Dari @naljoahe, kenapa sih kok di panggil Mumu? Asal mulanya darimana?” “Mumu yo don’t know, tapi semua orang pada calling Mumu..Mumu from cilik.” “Apa Kakak Bright tau ceritanya?” “So gini, once upon a time pas Mumu sek bayi. Kita se family goes to Yogyakarta, desanya Ayah. There kan ada tambak fish, beside tambaknya ada genangan lumayan big. Nah kan disitu there is water, waternya color coklat ya soalnya ada tanahnya mix sama air. Ayah said di dalam genangan e ada pet kesayangan ayah dari kecil, namenya MooMoo. Grandma said, pas Ayah lahir, mommynya MooMoo lagi bertelur MooMoo.” “Terus hubungannya sama Mumu Drake apa ya?” “Ya ayah gabut aja. He said melihara Mumu bikin kangen MooMoo.” “Kalo boleh tau MooMoo ini hewan peliharaan jenis apa ya?” “Sek yo mbak, Kakak searching first.” 1 detik… 2 detik… 3! “AYAH KOK MEAN TOH WITH MUMU. IKI LOH LIZARD, KADAL!”

“Pertanyaan kedua dari @azeru_nuuna, Mumu sama Kakak Bright pernah berantem nggak?” “TIAP HARI IKI MBAK BERANTEM E, AKU SAMPEK PUSING” Tiba-tiba Baba main nyaut aja, bikin kaget semua orang. “Hehehe, maaf ya. Lanjutkan biar babanya saya yang urus.” Ayah menengahi, membawa Gawin pergi keluar. “Biasanya berantem perkara apa?” “Yesterday sih kita berantem because ayam pok-pok. Ayah udah bought dua, mumu juga wes melakukan tindakan preventif, tapi tetep ae pitik e mumu gone satu pieces.” “Loh kan kalo ayam pok-pok udah di guntingin jadi kecil-kecil, kok bisa tau ilang?” “Ya before maem tuh Mumu count dulu, setelah itu berdoa baru diemplok. But sayang sekali, pas Mumu lagi peeing udah gone satu biji.” “Kamu wrong ngitung e.” “Eh ndak mungkin, mumu count e bareng baba with ayah.” “Terus, ada nggak sih momen kalian berantem sampe di hukum?” “Kalo kakak not yet sampai di hukum ya, but mumu sering di hukum baba because ndablek banget.” “Ish, Mumu lazy kalo inget-inget. Padahal Mumu lagi mood potong bawang merahnya bulat-bulat, but baba pengennya belah ketupat biar cute. Finally mumu dihukum cuma boleh take sayur sopnya satu spoon aja.” “Sabar ya mumu, hidup itu penuh ujian.” Mengelus pundak Mumu yang sedang menangis.

“Pertanyaan ketiga dari @dynamitekiss dan @poddcaskey, Gimana perasaan Kakak Bright punya adek semacam Mumu? Terus kalo mau ganti adek, pengennya yang gimana?” “Feeling e Kakak sih nano nano yo. Kakak can’t jelasin. Kakak wants to nampar, wants to invite mumu gulat, nyebelin, make kakak lazy banget. Sometimes kakak pengen jadi only anak. But, mumu bikin kangen. He’s best bro ever till I don’t want anybody to replace mumu.” “Mumu baper ngga sih denger kakak ngomong gitu?” “A bit, tapi mumu want Nanon sih yang jadi sibling mumu hehehe.” PLAK! Suara apa? Iya Kakak mukul kepala mumu pake sandal. ”HUAAAAA BABA!!! SAKIT!!!”

“Pertanyaan keempat datang dari @arumwull, kenakalan apa yang kalian lakuin tapi baba sama ayah gatau?” “Iki actually gak boleh di ceritain.” “Iyo we can’t cerita loh mbak kalo mumu with kakak ever buang kutang warna pinknya ayah, bcs baba don’t like it. Terus yo suka use wak doyok oilnya baba biar alisnya bisa thick kayak saiki.” “Kalo kakak gimana?” “Hmm… pas at bathroom sering nyenggol sikat giginya ayah until plung at closet sih, but kakak lazy nyuci. Jadi yaa hehehe” Semua orang di ruang tamu “hehehehe”

“Pertanyaan terakhir dari @cookybite, Kakak sama mumu coba deskripsiin kedua orang tuanya?” “Pakde Podd alias Ayah is orang paling crazy,gabut,gjls, blury. But, dia most caring di keluarga. Paling sabar, pasrah if kena amuk Baba palingan nyengir doang. For Baba Gawin, sosok baba paling galak,likes ngomel, but isi ngomelnya 50 berguna 50 nggak. Pokoknya we love Ayah dan Baba wes.” “Mumu Drake gimana?” “Podd setyono is ayahnya mumu, Gawin soehartono is babanya mumu. Both ayah dan baba badannya tinggi pol. Pokok e sayang baba and ayah, kakak and nanon jug awes.” “Yowislah apa kata mumu ae.”

“Terima kasih kalian udah mau diajak sesi wawancara dadakan yang gajelas ini. Buat Drake sama Bright tolong yang akur sampe gede ya. Titip salam sama Ayah dan Baba, makasih udah bikin anak-anak ganteng (tapi ngeselin hehehe) kayak kalian.”